Anda di halaman 1dari 5

Laporan Praktikum Fisika

LAPORAN PRAKTIKUM
FISIKA

DISUSUN
Oleh : Adinda Dwi Putri
Kelas: XII MIA 2

PROGRAM STUDI IPA


KELAS XII
2016

PERCOBAAN :
Pembiasan pada Kaca Plan Paralel

SMA NEGERI 26 JAKARTA


Jln. Tebet Barat IV Jakarta Selatan

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang atas perkenan-Nya kami
telah menyelesaikan penyusunan laporan pratikum Fisika tentang pembiasan pada kaca
plan paralel.
Laporan praktikum ini dibuat dengan tujuan untuk memenuhi tugas pelajaran Fisika dan
membuat pembaca mengetahui tentang pembiasan pada kaca plan paralel.
Masukan dari berbagai pihak atas segala kekurangan yang masih terdapat dalam
laporan praktikum ini akan sangat bermanfaat bagi pengembangan dan perbaikannya di
kemudian hari.

Jakarta, November 2016

Penyusun

I.

JUDUL
Pembiasan pada Kaca Plan Paralel

II.

TUJUAN
a. Untuk mengetahui letak bayangan pada kaca plan paralel
b. Untuk mengetahui jalannya sinar pada kaca plan paralel
c. Untuk menghitung pergeseran sinar datang dengan sinar yang keluar dari
kaca plan paralel

III.

DASAR TEORI
Pembiasan cahaya adalah peristiwa penyimpangan atau pembelokan
cahaya karena melalui dua medium yang berbeda kerapatan optiknya. Arah
pembiasan cahaya dibedakan menjadi dua macam yaitu :
a. Mendekati garis normal
Cahaya dibiaskan mendekati garis normal jika cahaya merambat dari
medium optik kurang rapat ke medium optik lebih rapat, contohnya
cahaya merambat dari udara ke dalam air.
b. Menjauhi garis normal
Cahaya dibiaskan menjauhi garis normal jika cahaya merambat dari
medium optik lebih rapat ke medium optik kurang rapat, contohnya
cahaya merambat dari dalam air ke udara.
Syarat-syarat terjadinya pembiasan :
1) Cahaya melalui dua medium yang berbeda kerapatan optiknya;
2) Cahaya datang tidak tegaklurus terhadap bidang batas (sudut
datang lebih kecil dari 90o)
Hukum Snell
Pada sekitar tahun 1621, ilmuwan Belanda bernama Willebrord Snell
(1591 1626) melakukan eksperimen untuk mencari hubungan antara sudut
datang dengan sudut bias. Hasil eksperimen ini dikenal dengan nama hukum
Snell yang berbunyi :
1) Sinar datang, garis normal, dan sinar bias terletak pada satu bidang
datar.
2) Hasil bagi sinus sudut datang dengan sinus sudut bias merupakan
bilangan tetap dan disebut indeks bias.
Ketika cahaya melintas dari suatu medium ke medium lainnya, sebagian
cahaya datang dipantulkan pada perbatasan. Sisanya lewat ke medium yang
baru. Jika seberkas cahaya datang membentuk sudut terhadap permukaan (bukan
hanya tegak lurus), berkas tersebut dibelokkan pada waktu memasuki medium
yang baru. Pembelokan ini disebut Pembiasan.

Sudut bias bergantung pada laju cahaya kedua media dan pada sudut datang.
Hubungan analitis antara q1 dan q2 ditemukan secara eksperimental pada sekitar tahun
1621 oleh Willebrord Snell .
Hubungan ini dikenal sebagai Hukum Snell dan dituliskan:
n1 sin q1 = n2 sin q2
q1 adalah sudut datang, dan q2 adalah sudut bias (keduanya diukur
terhadap
garis
yang
tegak
lurus
permukaan
antara
kedua
media). n1 dan n2 adalah indeks-indeks bias materi tersebut. Berkas-berkas
datang dan bias berada pada bidang yang sama, yang juga termasuk garis tegak
lurus terhadap permukaan. Hukum Snell merupakan dasar Hukum pembiasan.
Jelas dari hukum Snell bahwa jika n2 > n1, maka q2 > q1, artinya jika
cahaya memasuki medium dimana n lebih besar (dan lajunya lebih kecil), maka
berkas cahaya dibelokkan menuju normal. Dan jika n2 > n1, maka q2 > q1,
sehingga berkas dibelokkan menjauhi normal
Sinar yang masuk bidang pembias I akan sejajar dengan sinar yang
keluar dari bidang pembias II dan mengalami pergeseran. Pergeseran sinar
tersebut dirumuskan :
t = d sin (i-r)/cos r
IV.

LEMBAR KERJA SISWA


ALAT DAN BAHAN
1. Balok kaca (plan paralel)
2. Kertas grafik
3. Jarum pentul
4. Softboard
5. Penggaris
6. Pensil
7. Busur derajat
8. Kalkulator
LANGKAH KERJA
1. Lukis sumbu XY dan garis L yang membentuk sudut i terhadap garis
normal (N)
2. Menempatkan balok kaca pada kertas millimeter blok
3. Tancapkan jarum pentul pada titik T1 dan T2
4. Amati jarum pada arah yang berlawanan
5. Tancapkan jarum pentul pada titik T3 dan T4
6. Lepaskan balok kaca, tarik garis T3 dan T4 memotong bidang dengan
membuat garis Normal (N2)
7. Tarik garis pembentuk sudut r

HASIL PRAKTIKUM
1.
No.
1
2
3
4
5

Sin i

Sin r

24o
30o
45o
53o
60o

17
23
31
37
40

0,406
0,5
0,7
0,8
0,86

0,292
0,39
0,51
0,6
0,64

n=

sin i
sinr
1,39
1,28
1,37
1,33
1,35

2. Harga indeks bias rata-rata kaca plan paralel adalah n = 1,34


PERTANYAAN
1. Bandingkan sudut datang (i) dengan sudut r!
a) Manakah yang lebih besar?
Yang lebih besar adalah sudut datang (i)
b) Apakah sudut r menjauhi garis normal? Jelaskan!
Ya, karena terjadi pembiasan dari kaca plan paralel sehingga sudut r
menjauhi garis normal
2. Berapa besar indeks bias kaca plan paralel yang diperoleh dari hasil
percobaan?
Besar indeks bias kaca plan paralel yang diperoleh sebesar 1,34
3. Berapa besar nilai t? (pergeseran sinar yang terjadi) (d = 6 cm)
No
.
1
2
3
4
5

24o
30o
45o
53o
60o

17
23
31
37
40

0,764 cm
0,744 cm
1,693 cm
2,07 cm
2,678 cm

KESIMPULAN
Semakin kecil sudut sinar datang maka pergeseran sinarnya kecil, dan apabila
semakin besar sudut sinar datang maka pergeseran sinarnya akan besar pula.
Apabila kerapatannya lebih tinggi dari udara, maka sinar mengalami pembiasan
mendekati garis normal. Sebaliknya, ketika sinar dari kaca keluar menuju
medium yang tingkat kerapatannya lebih rendah juga mengalami pembiasan,
tetapi pembiasannya menjauhi garis normal.