Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PENDAHULUAN

KISTA OVARIUM

OLEH

NUR RAHMI
NIM. 201520461011092

PROGRAM PROFESI S.I KEPERAWATAN


UNIVERSITAS MUHAMMMADIYAH MALANG
2016
LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN
PASIEN DENGAN DIAGNOSA KISTA OVARIUM
A. Pengertian
Kistoma adalah tumor berupa kantong berisi cairan atau setengah cairan
(Mardiana, 2000).
Ovarium adalah organ dalam reproduksi wanita yang menghasilkan sel
telur atau ovum (Prawiroharjo, 1999).
Berdasarkan pengertian tersebut dapat di ambil kesimpulan kistoma
ovary merupakan jaringan yang terdapat pada organ ovarium yang dapat
mengganggu fungsi normal dari ovarium maupun saluran reproduksi
lainya.
Kista ovarium adalah tumor ovarium yang bersifat neoplastik dan non
neoplastik. (Wiknjosastro, 2005)
Ovarium merupakan sumber hormonal wanita yang paling utama,
sehingga

mempunyai

dampak

kewanitaan

dalam

pengatur

proses

menstruasi. Ovarium terletak antara rahim dan dinding panggul, dan


digantung ke rahim oleh ligamentum ovari propium dan ke dinding
panggul oleh ligamentum infudibulo-pelvikum.Fungsinya sebagai tempat
folikel, menghasilkan dan mensekresi estrogen dan progesteron. Fungsi
ovarium dapat terganggu oleh penyakit akut dan kronis. Salah satu
penyakit yang dapat terjadi adalah kista ovarium. (Tambayong, 2002)
Ovarektomi adalah tindakan operatif untuk dilakukan pengangkatan
ovarium. (Wiknjosastro, 2005)
Jadi, dapat disimpulkan ovarektomi dextra atas indikasi kista ovarium
adalah suatu keadaan dimana pasien dilakukan operasi pengangkatan
ovarium bagian kanan karena adanya neoplasma jinak.

B. Anatomi Fisiologi
Sistem reproduksi wanita terdiri atas organ reproduksi eksterna dan organ
reproduksi interna.
1.

Organ genetalia eksterna

Organ reproduksi wanita eksterna sering disebut sebagai vulva


yang mencakup semua organ yang dapat dilihat dari luar, yaitu yang
dimulai dari mons pubis, labia mayora, labia minora, klitoris, himen,
vestibulum, kelenjar bartholini dan berbagai kelenjar serta pembuluh
darah
a. Mons veneris

Disebut juga gunung venus, menonjol ke bagian depan menutup


tulang kemaluan. Setelah pubertas, kulit monsveneris tertutup oleh
rambut ikal yang membentuk pola distribusi tertentu yaitu pada
wanita berbentuk segitiga.
b. Labia Mayora

Berasal dari monsveneris, bentuknya lonjong menjurus ke bawah


dan bersatu dibagian bawah. Bagian luar labia mayora terdiri dari
kulit berambut, kelenjar lemak, dan kelenjar keringat, bagian
didalamnya tidak berambut dan mengandung kelenjar lemak,
bagian ini mengandung banyak ujung saraf sehingga sensitive saat
hubungan seks.
c. Labia minora

Merupakan lipatan kecil dibagian dalam labia mayora. Bagian


depannya

mengelilingi

klitoris.

Kedua

labia

ini

mempunyai

pembuluh darah, sehingga dapat menjadi besar saat keinginan seks


bertambah. Labia ini analog dengan kulit skrotum pada pria.
d. Klitoris

Merupakan

bagian

yang

erektil,

seperti

penis

pada

pria.

Mengandung banyak pembuluh darah dan serat saraf, sehingga


sangat sensitif saat hubungan seks
e. Hymen

Merupakan selaput yang menutupi bagian lubang vagina luar. Pada


umumnya hymen berlubang sehingga menjadi saluran aliran darah
menstruasi atau cairan yang dikeluarkan oleh kelenjar rahim dan
kelenjar endometrium (lapisan dalam rahim)

f.

Vestibulum

Bagian kelamin yang dibasahi oleh kedua labia kanan kiri dan
bagian atas oleh klitoris serta bagian belakang pertemuan labia
minora. Pada bagian vestibulum terdapat muara vagina (liang
senggama), saluran kencing, kelenjar Bartholini, dan kelenjar Skene.
g. Orifisium Uretra

Lubang atau meatus uretra terletak pada garis tengah vestibulum, 1


sampai 1,5 cm di bawah arkus pubis dan dekat bagian atas liang
vagina. Meatus uretra terletak di dua pertiga bagian bawah uretra
terletak tepat di atas dinding anterior vagina.
h. Orifisium Vagina

Terletak dibagian bawah vestibulum. Pada gadis (virgo) tertutup


lapisan tipis bermukosa yaitu selaput dara / hymen, utuh tanpa
robekan
i.

Vagina

Vagina atau liang kemaluan merupakan suatu tabung yang dilapisi


membran dari jenis epithelium bergaris khusus, dialiri banyak
pembuluh darah dan serabut saraf. Panjang vagina dari vestibulum
sampai uterus adalah 7,5 cm. Bagian ini merupakan penghubung
antara introitus vagina dan uterus. Pada puncak vagina menonjol

leher rahim yang disebut porsio. Bentuk vagina sebelah dalam


berlipat lipat disebut rugae. Vagina mempunyai banyak fungsi
yaitu sebagai saluran luar dari uterus yang dilalui secret uterus dan
aliran menstruasi, sebagai organ kopulasi wanita dan sebagai jalan
lahir.
j.

Perinium

Perineum terletak diantara vulva dan anus, panjang perineum


kurang lebih 4 cm. Jaringan utama yang menopang perineum
adalah diafragma pelvis dan urogenital
2.

Alat Kelamin Dalam (Genetalian Interna)

Genetalia interna adalah alat reproduksi yang berada didalam dan


tidak dapat dilihat kecuali dengan cara pembedahan. Organ genetalia
terdiri dari :
a. Rahim (Uterus)

Bentuk rahim seperti buah pir, dengan berat sekitar 30 gr. Terletak
di panggul kecil diantara rectum (bagian usus sebelum dubur) dan
di depannya terletak kandung kemih. Hanya bagian bawahnya
disangga oleh ligament yang kuat, sehingga bebas untuk tumbuh
dan

berkembang

saat

kehamilan.

Ruangan

rahim

berbentuk

segitiga, dengan bagian besarnya di atas. Dari bagian atas rahim


(fundus) terdapat ligament menuju lipatan paha (kanalis inguinalis),
sehingga kedudukan rahim menjadi kearah depan. Rahim juga
merupakan jalan lahir yang penting dan mempunyai kemampuan
untuk mendorong jalan lahir. Uterus terdiri dari :
1) Fundus uteri (dasar rahim)

Bagian uterus yang terletak antara pangkal saluran telur. Pada


pemeriksaan

kehamilan,

perabaan

memperkirakan usia kehamilan


2) Korpus uteri

fundus

uteri

dapat

Bagian

uterus

yang

terbesar

pada

kehamilan,

bagian

ini

berfungsi sebagai tempat janin berkembang. Rongga yang


terdapat pada korpus uteri disebut kavum uteri atau rongga
rahim.
3) Serviks uteri

Ujung serviks yang menuju puncak vagina disebut porsio,


hubungan antara kavum uteri dan kanalis servikalis disebut
ostium

uteri

internum.

Lapisan

lapisan

uterus

meliputi

endometrium, myometrium, parametrium.


b. Tuba Fallopi

Tuba fallopi berasal dari ujung ligamentum latum berjalan kearah


lateral, dengan panjang sekitar 12cm. Tuba fallopi merupakan
bagian yang paling sensitif terhadap infeksi dan menjadi penyebab
utama terjadinya kemandulan (infertilitas). Fungsi tuba fallopi
sangat vital dalam proses kehamilan, yaitu menjadi saluran
spermatozoa dan ovum, mempunyai fungsi penangkap ovum,
tempat terjadinya pembuahan (fertilitas), menjadi saluran dan
tempat

pertumbuhan

hasil

pembuahan

sebelum

mampu

menanamkan diri pada lapisan dalam rahim.


c. Indung Telur (Ovarium)

Indung telur terletak antara rahim dan dinding panggul, dan


digantung ke rahim oleh ligamentum ovari proprium dan ke dinding
panggul

oleh

ligamentum

infundibulopelvicum.

Indung

telur

merupakan sumber hormonal wanita yang paling utama, sehingga


mempunyai

dampak

kewanitaan

dalam

pengatur

proses

menstruasi. Indung telur mengeluarkan telur (ovum) setiap bulan


silih berganti kanan dan kiri.
d. Parametrium (Penyangga Rahim)

Merupakan lipatan peritoneum dengan berbagai penebalan, yang


menghubungkan rahim dengan tulang panggul, lipatan atasnya

mengandung tuba fallopi dan ikut serta menyangga indung telur.


Bagian ini sensitif tehadap infeksi sehingga mengganggu fungsinya
Hampir keseluruhan alat reproduksi wanita berada di rongga
panggul. Setiap individu wanita mempunyai bentuk dan ukuran rongga
panggul (pelvis) yang berbeda satu sama lain. Bentuk dan ukuran ini
mempengaruhi kemudahan suatu proses persalinan. (Tambayong,
2002)
C. Klasifikasi
Berdasarkan posisi mioma uteri terdapat lapisan-lapisan uterus, dapat
dibagi dalam 3 jenis :
1.

Mioma Submukosa
Tumbuhnya tepat di bawah endometrium. Paling sering menyebabkan
perdarahan yang banyak, sehingga memerlukan histerektomi, wlaupun
ukurannya kecil. Adanya mioma submukosa dapat dirasakan sebagai
suatu curet bump (benjolan waktu kuret). Kemungkinan terjadinya
degenerasi sarcoma juga lebih besar pada jenis ini. Sering mempunyai
tangkai yang panjang sehingga menonjol melalui cervix atau vagina,
disebut mioma submucosa bertangkai yang dapat menimbulkan
miomgeburt, sering mengalami nekrose atau ulcerasi.

2.

Interstinal atau intramural


Terletak

pada

miometrium.

Kalau

lebar

atau

multipel

dapat

menyebabkan pembesaran uterus dan berbenjol-benjol.


3.

Subserosa atau subperitoneal


Letaknya di bawah lapisan tunica serosa, kadang-kadang vena yang
ada di bawah permukaan pecah dan menyebabkan perdarahan intra
abdominal. Kadang-kadang mioma subserosa timbul diantara dua
ligalatum, merupakan mioma intraligamenter, yang dapat menekan
uterus dan A. Iliaca. Ada kalanya tumor ini mendapat vascularisasi
yang lebih banyak dari omentum sehingga lambat laun terlepas dari

uterus, disebut sebagai parasitic mioma.

Mioma subserosa yang

bertangkai dapat mengalami torsi. (Sastrawinata S:154)


D. Etiologi
Kista ovarium merupakan jenis yang paling sering terjadi terutama
yang bersifat non neoplastik, seperti kista retensi yang berasal dari
korpus luteum. Tetapi di samping itu ditemukan pula jenis yang
merupakan neoplasma. Oleh karena itu kista ovarium dibagi dalam 2
golongan:
1.

Non-neoplastik (fungsional)
a. Kista folikel

Kista ini berasal dari folikel yang menjadi besar semasa proses
atresia foliculi. Setiap bulan, sejumlah besar folikel menjadi mati,
disertai kematian ovum disusul dengan degenerasi dari epitel
folikel. Pada masa ini tampaknya sebagai kista-kista kecil. Tidak
jarang ruangan folikel diisi dengan cairan yang banyak, sehingga
terbentuklah kista yang besar, yang dapat ditemukan pada
pemeriksaan klinis. Tidak jarang terjadi perdarahan yang masuk ke
dalam rongga kista, sehingga terjadi suatu haematoma folikuler.
b. Kista lutein

Kista ini dapat terjadi pada kehamilan, lebih jarang di luar


kehamilan. Kista lutein yang sesungguhnya, umumnya berasal
darcorpus luteum haematoma. Perdarahan ke dalam ruang corpus
selalu terjadi pada masa vascularisasi. Bila perdarahan ini sangat
banyak jumlahnya, terjadilah corpus luteum haematoma, yang
berdinding tipis dan berwarna kekuning-kuningan. Secara perlahanlahan terjadi reabsorpsi dari unsur-unsur darah, sehingga akhirnya
tinggalah cairan yang jernih atau sedikit bercampur darah. Pada
saat yang sama dibentuklah jaringan fibroblast pada bagiandalam
lapisan lutein sehingga pada kista corpus lutein yang tua, sel-sel
lutein terbenam dalam jaringan-jaringan perut.

2.

Neoplastik Yang termasuk golongan ini ada 3 jenis:


a. Cystadenoma mucinosum

Jenis ini dapat mencapai ukuran yang besar. Ukuran yang terbesar
yang pernah dilaporkan adalah 328 pound. Tumor ini mempunyai
bentuk bulat, ovoid atau bentuk tidak teratur, dengan permukaan
yang rata dan berwarna putih atau putih kebiru-biruan.
b. Cystadenoma serosum

Jenis ini lebih sering terjadi bila dibandingkan dengan mucinosum,


tetapi ukurannya jarang sampai besar sekali. Dinding luarnya dapat
menyerupai kista mucinosum. Pada umumnya kista ini berasal dari
epitel permukaan ovarium (germinal ephitelium)
c. Kista dermoid

Tumor ini merupakan bagian dari teratoma ovary bedanya ialah


bahwa tumor ini bersifat kistik, jinak dan elemen yang menonjol
ialah eksodermal. Sel-selnya pada tumor ini sudah matang. Kista ini
jarang mencapai ukuran yang besar.
Penyebabnya saat ini belum diketahui secara pasti. Namun ada salah satu
pencetusnya yaitu faktor hormonal, kemungkinan faktor resiko yaitu:
1. Faktor genetik/ mempunyai riwayat keluarga dengan kanker ovarium dan
payudara.
2. Faktor lingkungan (polutan zat radio aktif)
3. Gaya hidup yang tidak sehat
4. Ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron, misalnya akibat
penggunaan obat-obatan yang merangsang ovulasi dan obat pelangsing
tubuh yang bersifat diuretik.
5. Kebiasaan menggunakan bedak tabur di daerah vagina

(Wiknjosastro, 2005)

E. Manifestasi Klinis
Kebanyakan wanita yang memiliki kista ovarium tidak memiliki gejala.
Namun kadang kadang kista dapat menyebabkan beberapa masalah
seperti :
1.
2.
3.

Bermasalah dalam pengeluaran urin secara komplit


Nyeri selama hubungan seksual
Masa di perut bagian bawah dan biasanya bagian bagian organ tubuh
lainnya sudah terkena.
4.
Nyeri hebat saat menstruasi dan gangguan siklus menstruasi
5.
Wanita post monopouse : nyeri pada daerah pelvik, disuria, konstipasi
atau diare, obstruksi usus dan asietas

F. Patofisiologi
Setiap hari, ovarium normal akan membentuk beberapa kista kecil
yang disebut Folikel de Graff. Pada pertengahan siklus, folikel dominan
dengan diameter lebih dari 2.8 cm akan melepaskan oosit mature. Folikel
yang rupture akan menjadi korpus luteum, yang pada saat matang
memiliki struktur 1,5 2 cm dengan kista ditengah-tengah. Bila tidak
terjadi fertilisasi pada oosit, korpus luteum akan mengalami fibrosis dan
pengerutan secara progresif. Namun bila terjadi fertilisasi, korpus luteum
mula-mula akan membesar kemudian secara gradual akan mengecil
selama kehamilan.
Kista ovari yang berasal dari proses ovulasi normal disebut kista
fungsional dan selalu jinak. Kista dapat berupa folikular dan luteal yang
kadang-kadang disebut kista theca-lutein. Kista tersebut dapat distimulasi
oleh gonadotropin, termasuk FSH dan HCG. Kista fungsional multiple
dapat terbentuk karena stimulasi gonadotropin atau sensitivitas terhadap
gonadotropin yang berlebih. Pada neoplasia tropoblastik gestasional
(hydatidiform mole dan choriocarcinoma) dan kadang-kadang pada
kehamilan multiple dengan diabetes, HCg menyebabkan kondisi yang
disebut hiperreaktif lutein. Pasien dalam terapi infertilitas, induksi ovulasi
dengan menggunakan gonadotropin (FSH dan LH) atau terkadang
clomiphene citrate, dapat menyebabkan sindrom hiperstimulasi ovari,
terutama bila disertai dengan pemberian HCG.

Kista neoplasia dapat tumbuh dari proliferasi sel yang berlebih dan
tidak terkontrol dalam ovarium serta dapat bersifat ganas atau jinak.
Neoplasia yang ganas dapat berasal dari semua jenis sel dan jaringan
ovarium.

Sejauh

ini,

keganasan

paling

sering

berasal

dari

epitel

permukaan (mesotelium) dan sebagian besar lesi kistik parsial. Jenis kista
jinak yang serupa dengan keganasan ini adalah kistadenoma serosa dan
mucinous. Tumor ovari ganas yang lain dapat terdiri dari area kistik,
termasuk jenis ini adalah tumor sel granulosa dari sex cord sel dan germ
cel tumor dari germ sel primordial. Teratoma berasal dari tumor germ sel
yang berisi elemen dari 3 lapisan germinal embrional; ektodermal,
endodermal,

dan

mesodermal.

Endometrioma adalah kista berisi darah dari endometrium ektopik. Pada


sindroma ovari pilokistik, ovarium biasanya terdiri folikel-folikel dengan
multipel kistik berdiameter 2-5 mm, seperti terlihat dalam sonogram.
Kista-kista itu sendiri bukan menjadi problem utama dan diskusi tentang
penyakit tersebut diluar cakupan artikel ini.
G. Pemeriksaan Penunjang
1.

Laparaskopi

Pemeriksaan ini sangat berguna untuk mengetahui apakah sebuah


tumor berasal dari ovarium atau tidak, dan untuk menentukan sifatsifat tumor itu.
2.

Ultrasonografi

Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan letak dan batas tumor


apakah tumor berasal dari uterus, ovarium, atau kandung kencing,
apakah tumor kistik atau solid, dan dapatkah dibedakan pula antara
cairan dalam rongga perut yang bebas dan yang tidak
3.

Foto Rontgen

Pemeriksaan ini berguna untuk menentukan adanya hidrotoraks.


Selanjutnya, pada kista dermoid kadang-kadang dapat dilihat gigi
dalam tumor.
4.

Parasentesis

Telah disebut bahwa fungsi pada asites berguna menentukan sebab


asites. Perlu diingatkan bahwa tindakan tersebut dapat mencemari
cavum

peritonei

dengan

isi

kista

bila

dinding

kista

tertusuk(Wiknjosastro, 2005)
H. Penatalaksanaan
1.

Pengangkatan kista ovarium yang besar biasanya adalah melalui


tindakan bedah, misal laparatomi, kistektomi atau laparatomi
salpingooforektomi.
2.
Kontrasepsi oral dapat digunakan untuk menekan aktivitas ovarium
dan menghilangkan kista.
3.
Perawatan pasca operasi setelah pembedahan untuk mengangkat kista
ovarium adalah serupa dengan perawatan setelah pembedahan abdomen
dengan satu pengecualian penurunan tekanan intra abdomen yang
diakibatkan oleh pengangkatan kista yang besar biasanya mengarah pada
distensi abdomen yang berat. Hal ini dapat dicegah dengan memberikan
gurita abdomen sebagai penyangga
4.
Tindakan keperawatan berikut pada pendidikan kepada klien tentang
pilihan pengobatan dan manajemen nyeri dengan analgetik / tindakan
kenyamanan seperti kompres hangat pada abdomen atau teknik relaksasi
napas dalam, informasikan tentang perubahan yang akan terjadi seperti
tanda tanda infeksi, perawatan insisi luka operasi

( Lowdermilk.dkk. 2005)

I. Pengkajian
1.

Identitas klien

Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, agama dan


alamat, serta data penanggung jawab
2.

Keluhan klien saat masuk rumah sakit

Biasanya klien merasa nyeri pada daerah perut dan terasa ada massa
di daerah abdomen, menstruasi yang tidak berhenti-henti.
3.

Riwayat Kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang

Keluhan yang dirasakan klien adalah nyeri pada daerah abdomen


bawah, ada pembengkakan pada daerah perut, menstruasi yang
tidak berhenti, rasa mual dan muntah.
b. Riwayat kesehatan dahulu

Sebelumnya tidak ada keluhan.


c. Riwayat kesehatan keluarga

Kista ovarium bukan penyakit menular/keturunan.


d. Riwayat perkawinan

Kawin/tidak kawin ini tidak memberi pengaruh terhadap timbulnya


kista ovarium.
4.

Riwayat kehamilan dan persalinan

Dengan kehamilan dan persalinan/tidak, hal ini tidak mempengaruhi


untuk tumbuh/tidaknya suatu kista ovarium.
5.

Riwayat menstruasi

Klien dengan kista ovarium kadang-kadang terjadi digumenorhea dan


bahkan sampai amenorhea.
6.

Pemeriksaan Fisik

Dilakukan mulai dari kepala sampai ekstremitas bawah secara


sistematis.
a. Kepala
1) Hygiene rambut
2) Keadaan rambut
b. Mata
1) Sklera
: ikterik/tidak
2) Konjungtiva
: anemis/tidak
3) Mata
: simetris/tidak
c. Leher
1) pembengkakan kelenjer tyroid

2) Tekanan vena jugolaris.


d. Dada

Pernapasan
1) Jenis pernapasan
2) Bunyi napas
3) Penarikan sela iga
e. Abdomen
1) Nyeri tekan pada abdomen.
2) Teraba massa pada abdomen.
f. Ekstremitas
1) Nyeri panggul saat beraktivitas.
2) Tidak ada kelemahan.
g. Eliminasi, urinasi
1) Adanya konstipasi
2) Susah BAK
7.
Data Sosial Ekonomi

Kista ovarium dapat terjadi pada semua golongan masyarakat dan


berbagai tingkat umur, baik sebelum masa pubertas maupun sebelum
menopause.
8.

Data Spritual

Klien

menjalankan

kegiatan

keagamaannya

sesuai

dengan

kepercayaannya.
9.

Data Psikologis

Ovarium merupakan bagian dari organ reproduksi wanita, dimana


ovarium sebagai penghasil ovum, mengingat fungsi dari ovarium
tersebut sementara pada klien dengan kista ovarium yang ovariumnya
diangkat maka hal ini akan mempengaruhi mental klien yang ingin
hamil/punya keturunan.
10.

Pola kebiasaan Sehari-hari

Biasanya klien dengan kista ovarium mengalami gangguan dalam


aktivitas, dan tidur karena merasa nyeri

11.

Pemeriksaan Penunjang

Data laboratorium

a. Pemeriksaan Hb
b. Ultrasonografi

Untuk mengetahui letak batas kista.


J. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.
a.
b.
c.
2.
a.
b.
c.

Preoperasi
Nyeri kronis b/d ageninjuri biologi
Cemas b/d diagnosis dan rencana pembedahan
PK perdarahan
Post operasi
Nyeri akut b/d agen injuri fisik
Resiko infeksi b/d tindakan invasif dan pembedahan
Deficit perawatan diri b.d imobilitas (nyeri paska pembedahan)

K. RENCANA KEPERAWATAN
Pre Operasi
NO
1.

DIANGOSA
KEPERAWATAN
DAN
KOLABORASI
Nyeri akut b.d
agen injuri biologi

TUJUAN (NOC)

INTERVENSI (NIC)

Setelah dilakukan asuhan


keperawatan selama 3x24
jam
diharapkan
nyeri Pain Management
1. Lakukan pengkajian nyeri secara
pasien berkurang
komprehensif termasuk lokasi,
NOC :
karakteristik, durasi, frekuensi,
1. Pain Level,
kualitas dan faktor presipitasi
2. Pain control,
2. Observasi reaksi nonverbal dari
3. Comfort level
ketidaknyamanan
Kriteria Hasil :
3. Gunakan teknik komunikasi terapeutik
1. Mampu mengontrol
untuk mengetahui pengalaman nyeri
nyeri (tahu penyebab
pasien
nyeri, mampu
4. Kaji kultur yang mempengaruhi respon
menggunakan tehnik
nyeri
nonfarmakologi untuk
5. Evaluasi pengalaman nyeri masa
mengurangi nyeri,
lampau
mencari bantuan)
6. Evaluasi bersama pasien dan tim
2. Melaporkan bahwa nyeri
kesehatan lain tentang
berkurang dengan
ketidakefektifan kontrol nyeri masa
menggunakan
lampau
manajemen nyeri
7. Bantu pasien dan keluarga untuk
3. Mampu mengenali nyeri
mencari dan menemukan dukungan
(skala, intensitas,
8. Kontrol lingkungan yang dapat
frekuensi dan tanda
mempengaruhi nyeri seperti suhu
nyeri)
ruangan, pencahayaan dan kebisingan

4. Menyatakan rasa
nyaman setelah nyeri
berkurang
5. Tanda vital dalam
rentang normal

9. Kurangi faktor presipitasi nyeri


10.Pilih dan lakukan penanganan nyeri
(farmakologi, non farmakologi dan
inter personal)
11.Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
menentukan intervensi
12.Ajarkan tentang teknik non
farmakologi
13.Berikan analgetik untuk mengurangi
nyeri
14.Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
15.Tingkatkan istirahat
16.Kolaborasikan dengan dokter jika ada
keluhan dan tindakan nyeri tidak
berhasil

2.

Kecemasan
bd
diagnosis
dan
pembedahan

Setelah dilakukan asuhan NIC :


keperawatan selama 3x 24 Anxiety
Reduction
(penurunan
jam diharapakan cemasi kecemasan)
terkontrol
1. Gunakan pendekatan yang
NOC :
menenangkan
1. Anxiety control
2. Nyatakan dengan jelas harapan
2. Coping
terhadap pelaku pasien
3. Jelaskan semua prosedur dan apa
Kriteria Hasil :
yang dirasakan selama prosedur
1. Klien mampu
4. Temani pasien untuk memberikan
mengidentifikasi dan
keamanan dan mengurangi takut
mengungkapkan gejala
5. Berikan informasi faktual mengenai
cemas
diagnosis, tindakan prognosis
2. Mengidentifikasi,
6. Dorong keluarga untuk menemani
mengungkapkan dan
anak
menunjukkan tehnik
7. Lakukan back / neck rub
untuk mengontol cemas 8. Dengarkan dengan penuh perhatian
3. Vital sign dalam batas
9. Identifikasi tingkat kecemasan
normal
10.Bantu pasien mengenal situasi yang
4. Postur tubuh, ekspresi
menimbulkan kecemasan
wajah, bahasa tubuh
11.Dorong pasien untuk mengungkapkan
dan tingkat aktivitas
perasaan, ketakutan, persepsi
menunjukkan
12.Instruksikan pasien menggunakan
berkurangnya
teknik relaksasi
kecemasan
13.Barikan obat untuk mengurangi
kecemasan

3.

PK: Perdarahan

Setelah dilakukan asuhan 1. Monitor tanda-tanda perdarahan


keperawatan selama 3x24
gastrointestinal
jam diharapakan pasien 2. Awasi petheciae, ekimosis,
menunjukkan
perdarahan
perdarahan dari suatu tempat
dapat diminimalkan
3. Monitor vital sign
4. Catat perubahan mental
5. Hindari aspirin

6. Awasi HB dan factor pembekuan


7. Berikan vitamin tambahan dan
pelunan feses

Post Operasi
NO
1.

DIANGOSA
KEPERAWATAN
DAN
KOLABORASI
Nyeri
akut
b.d
agen injuri fisik

TUJUAN (NOC)
Setelah dilakukan asuhan
keperawatan selama 3x24
jam
diharapkan
nyeri
pasien berkurang
NOC :
1. Pain Level,
2. Pain control,
3. Comfort level
Kriteria Hasil :
1. Mampu mengontrol nyeri
(tahu penyebab nyeri,
mampu menggunakan
tehnik nonfarmakologi
untuk mengurangi nyeri,
mencari bantuan)
2. Melaporkan bahwa nyeri
berkurang dengan
menggunakan
manajemen nyeri
3. Mampu mengenali nyeri
(skala, intensitas,
frekuensi dan tanda
nyeri)
4. Menyatakan rasa
nyaman setelah nyeri
berkurang
5. Tanda vital dalam
rentang normal

INTERVENSI (NIC)

Pain Management
1. Lakukan pengkajian nyeri secara
komprehensif termasuk lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi,
kualitas dan faktor presipitasi
2. Observasi reaksi nonverbal dari
ketidaknyamanan
3. Gunakan teknik komunikasi terapeutik
untuk mengetahui pengalaman nyeri
pasien
4. Kaji kultur yang mempengaruhi respon
nyeri
5. Evaluasi pengalaman nyeri masa
lampau
6. Evaluasi bersama pasien dan tim
kesehatan lain tentang
ketidakefektifan kontrol nyeri masa
lampau
7. Bantu pasien dan keluarga untuk
mencari dan menemukan dukungan
8. Kontrol lingkungan yang dapat
mempengaruhi nyeri seperti suhu
ruangan, pencahayaan dan kebisingan
9. Kurangi faktor presipitasi nyeri
10.Pilih dan lakukan penanganan nyeri
(farmakologi, non farmakologi dan
inter personal)
11.Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
menentukan intervensi
12.Ajarkan tentang teknik non
farmakologi
13.Berikan analgetik untuk mengurangi

nyeri
14.Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
15.Tingkatkan istirahat
16.Kolaborasikan dengan dokter jika ada
keluhan dan tindakan nyeri tidak
berhasil
2.

Resiko infeksi b.d


penurunan
pertahanan primer

Setelah dilakukan asuhan


keperawatan selama 3x 24
jam diharapakan infeksi
terkontrol
NOC :
1. Immune Status
2. Knowledge : Infection
control
3. Risk control
Kriteria Hasil :
1. Klien bebas dari tanda
dan gejala infeksi
2. Mendeskripsikan proses
penularan penyakit,
factor yang
mempengaruhi
penularan serta
penatalaksanaannya,
3. Menunjukkan
kemampuan untuk
mencegah timbulnya
infeksi
4. Jumlah leukosit dalam
batas normal
5. Menunjukkan perilaku
hidup sehat

Infection Control (Kontrol infeksi)


1. Bersihkan lingkungan setelah dipakai
pasien lain
2. Pertahankan teknik isolasi
3. Batasi pengunjung bila perlu
4. Instruksikan pada pengunjung untuk
mencuci tangan saat berkunjung dan
setelah berkunjung meninggalkan
pasien
5. Gunakan sabun antimikrobia untuk
cuci tangan
6. Cuci tangan setiap sebelum dan
sesudah tindakan kperawtan
7. Gunakan baju, sarung tangan sebagai
alat pelindung
8. Pertahankan lingkungan aseptik
selama pemasangan alat
9. Ganti letak IV perifer dan line central
dan dressing sesuai dengan petunjuk
umum
10.Gunakan kateter intermiten untuk
menurunkan infeksi kandung kencing
11.Tingktkan intake nutrisi
12.Berikan terapi antibiotik bila perlu
Infection
Protection
(proteksi
terhadap infeksi)
1. Monitor tanda dan gejala infeksi
sistemik dan lokal
2. Monitor hitung granulosit, WBC
3. Monitor kerentanan terhadap infeksi
4. Batasi pengunjung
5. Saring pengunjung terhadap penyakit
menular
6. Partahankan teknik aspesis pada
pasien yang beresiko
7. Pertahankan teknik isolasi k/p
8. Berikan perawatan kuliat pada area
epidema
9. Inspeksi kulit dan membran mukosa
terhadap kemerahan, panas, drainase

10.Ispeksi kondisi luka / insisi bedah


11.Dorong masukkan nutrisi yang cukup
12.Dorong masukan cairan
13.Dorong istirahat
14.Instruksikan pasien untuk minum
antibiotik sesuai resep
15.Ajarkan pasien dan keluarga tanda
dan gejala infeksi
16.Ajarkan cara menghindari infeksi
17.Laporkan kecurigaan infeksi
18.Laporkan kultur positif
3.

Deficit
personal
hyegene
b.d
imobilitas
(nyeri
pembedahan)

Setelah dilakukan asuhan


keperawatan selama 3x24
jam diharapakan pasien
menunjukkan
kebersihan
diri
NOC :
1. Kowlwdge : disease
process
2. Kowledge : health
Behavior

Personal hyegene managemen


1. Kaji keterbatasan pasien dalam
perawatan diri
2. Berikan kenyamanan pada pasien
dengan membersihkan tubuh pasien
(oral,tubuh,genital)
3. Ajarkan kepada pasien pentingnya
menjaga kebersihan diri
4. Ajarkan kepada keluarga pasien dalam
menjaga kebersihan pasien

Kriteria Hasil :
1. Pasien bebas dari bau
2. Pasien tampak
menunjukkan kebersihan
3. Pasien nyaman

DAFTAR PUSTAKA
A.Price, Sylvia. 2006. Patofisiologi, kosep klinis proses-proses penyakit. Jakarta : EGC.
Lowdermil, Perta. 2005. Maternity Womens Health Care. Seventh edit.
Mansjoer, Arief dkk. (2001). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapus.
Manuaba. (2008). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana. Jakarta:EGC.
Mc Closky & Bulechek. (2000). Nursing Intervention Classification (NIC). United States of
America:Mosby.
Meidian, JM. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC). United States of America:Mosby.
William Helm, C. Ovarian Cysts. 2005. American College of Obstetricians and Gynecologists
( cited 2005 September 16 ). Available at http://emedicine.com
Winknjosastro, Hanifa. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka

http://lpkeperawatan.blogspot.co.id/2013/11/laporan-pendahuluan-kistaovarium.html
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/135/jtptunimus-gdl-ikamerdeka-6744-2babii.pdf
http://eprints.ums.ac.id/16773/2/BAB_I.pdf

PATHWAY

22