Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PENDAHULUAN

MYOMA UTERI

OLEH

NUR RAHMI
NIM. 201520461011092

PROGRAM PROFESI S.I KEPERAWATAN


UNIVERSITAS MUHAMMMADIYAH MALANG
2016
LAPORAN PENDAHULUAN
1

ASUHAN KEPERAWATAN
PASIEN DENGAN DIAGNOSA MYOMA UTERI
A. Pengertian
Mioma Uteri adalah suatu pertumbuhan jinak dari sel-sel otot polos,
sedangkan untuk otot-otot rahim disebut dengan mioma uteri. (Achadiat,
Chrisdiono M., 2004)
Mioma Uteri adalah tumor jinak otot rahim, disertaijaringan ikatnya.
(www. Infomedika. htm, 2004).
Mioma Uteri adalah neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus dan
jaringan ikat sehingga dalam kepustakaan disebut juga leiomioma,
fibromioma, atau fibroid. (Mansjoer, Arif , 2001)
Dari berbagai pengertian dapat disimpulkan bahwa Mioma Uteri adalah
suatu pertumbuhan jinak dari otot-otot polos, tumor jinak otot rahim,
disertai jaringan ikat, neoplasma yang berasal dari otot uterus yang
merupakan jenis tumor uterus yang paling sering, dapat bersifat tunggal,
ganda, dapat mencapai ukuran besar, biasanya mioma uteri banyak
terdapat pada wanita usia reproduksi terutama pada usia 35 tahun Mioma
uteri adalah neoplasma jinak berasal dari otot uterus, yang dalam
kepustakaan ginekologi juga terkenal dengan istilah-istilah fibrimioma
uteri, leiomyoma uteri atau uterine fibroid. (Prawirohardjo,1996:281)
Mioma uteri adalah tumor jinak uterus yang berbatas tegas yang
terdiri dari otot polos dan jaringan fibrosa (Sylvia A.P, 1994:241)
B. Anatomi Fisiologi
1.

Anatomi Organ Reproduksi Wanita


Secara umum alat reproduksi wanita dibagi atas organ eksterna
dan interna. Organ interna yang terletak di dalam rongga pelvis dan
ditopang oleh lantai pelvis, dan genital eksterna yang terletak di
perineum.

a. Organ Eksterna
1) Mons veneris / mons pubis
Adalah bantalan berisi lemak subkutan berbentuk bulat yang
lunak dan padat yang terletak di permukaan anterior simphisis
pubis.

Mons

pubis

mengandung

banyak

kelenjar

sebasea

(minyak) berfungsi sebagai bantal pada waktu melakukan


hubungan seks
2) Labia mayora
Merupakan dua buah lipatan bulat dengan jaringan lemak yang
ditutupi kulit dari rektum. Panjang labia mayora 7-8 cm, lebar 2-3
cm dan agak meruncing pada ujung bawah. Labia mayora
melindungi memanjang ke bawah dan ke belakang dari mons
pubis sampai sekitar satu inci labia minora, meatus urinarius,
dan introitus vagina (muara vagina).
3) Labia minora
Labia minora terletak diantara dua labia mayora, merupakan
lipatan kulit yang panjang, sempit dan tidak berambut yang
memanjang kearah bawah dari bawah klitoris dan menyatu
dengan fourchette, sementara bagian lateral dan anterior labia
biasanya mengandung pigmen, permukaan medial labia minora
sama dengan mukosa vagina merah muda dan basah. Pembuluh
darah yang sangat banyak membuat labia berwarna merah
kemerahan dan memungkinkan labia minora membengkak.
4) Klitoris
adalah jaringan yang homolog dengan penis, bentuknya kecil,
silinder, erektik dan letaknya dekat ujung superior vulva. Organ
ini menonjol kebawah diantara ujung labia minora. Fungsi utama
klitoris adalah menstimulasi dan meningkatkan ketegangan
seksual.
3

5) Vulva
Berbentuk lonjong dengan ukuran panjang darimuka kebelakng
dan dibatasi di muka oleh klitoris, kanandan kiri oleh ke dua bibir
kecil, dan di belakang oleh perineum, embriologik sesuai dengan
sinus urogenitalis. Di vulva 1-1,5 cmdi bawah klitoris ditemukan
orifisium uretra eksternum (lubang kemih) berbentuk membujur
4-5 mm dan tidak jarang sukar ditemukan oleh karena tertutup
oleh lipatan-lipatan selaput vagina.
6) Vestibulum
Merupakan daerah yang berbentuk seperti perahu atau lonjong,
terletak

di

antara

labia

minora,

klitoris

dan

fourchette.

Vestibulum terdiri dari muara uretra, kelenjar para uretra, vagina,


dan kelenjar paravagina. Permukaan vestibulum yang tipis dan
agak berlendir mudah teriritasi oleh bahan kimia (deodoran
semprot, garam-garaman, busa sabun), panas, dan friksi (celana
jins yang ketat).
7) Perineum
Merupakan daerah muskular yang ditutupi kulit antara introitus
vagina dan anus. Perineum membentuk dasar badan perineum.
Penggunaan istilah vulva dan perineum kadang-kadang tertukar,
tetapi secara tidak tepat.
8) Fourchette
Merupakan lipatan jaringan transversal yang pipih dan tipis,
terletak pada pertemuan ujung bawah labia mayora dalabia
minora di garis tengah di bawah orifisium vagina. Suatu
cekungan kecil dan fosa navikularis terletak di antara fourchette
dan himen. (Bobak, Lowdermilk, Jensen, 2004)
b. Organ Interna
1) Vagina
Vagina, suatu struktur tubular yang terletakdi depan rektum dan
di belakang kandung kemih dan uretra, memanjang dari introitus
4

(muara eksterna di vestibulum di antara labia minora vulva)


sampai serviks. Vagina adalah suatu tuba berdinding tipis yang
dapat melipat dan mampu meregang secara luas. Karena
tonjolan serviks ke bagian atas vagina, panjang dinding anterior
vagina hanya sekitar 7,5 cm, sedangkan panjang dinding
posterior 9 cm. Ceruk yang terbentuk di sekeliling serviks yang
menonjol tersebut disebut forniks, kanan, kiri, anterior dan
posterior. Mukosa vagina berespons dengan cepat terhadap
stimulasi estrogen dan progesteron. Sel-sel mukosa tanggal
terutama selama siklus menstruasi dan selama masa hamil. Selsel yang diambil dari mukosa vagina dapat digunakan untuk
mengukur kadar hormon seks steroid. Cairan vagina berasal dari
traktus genitaliaatas atau bawah. Cairan sedikit asam. Interaksi
antara

laktobasilus

vagina

dan

glikogen

mempertahankan

keasaman. Apabila PH naik di atas lima, insiden infeksi vagina


meningkat.
2) Uterus
Uterus merupakan organ berdinding tebal, muskular, pipih,
cekung yang tampak mirip buah pir terbalik. Pada wanita dewasa
yang belum pernah hamil, berat uterus adalah 60 gram (2 ons).
Uterus normal memiliki bentuk simetris, nyeri bila ditekan, licin
dan teraba padat. Derajat kepadatan ini bervariasi bergantung
kepada

beberapa

faktor.

Misalnya,

uterus

lebih

banyak

mengandung rongga selama fase sekresi, siklus menstruasi,


lebih lunak selama masa hamil, dan lebih padat setelah
menopause.
Uterus terdiri dari tiga bagian: Fundus yang merupakan tonjolan
bulat di bagian atas dan terletak di atas insersi tuba falopi,
korpusyang merupakan bagian utama yang mengelilingi kavum
uteri, dan istmus merupakan bagian sedikit konstriksi yang
menghubungkan korpus dengan serviks dan dikenal sebagai
5

segmen uterus bagian bawah pada masa hamil. Tiga fungsi


uterus

adalah

endometrium,
esensial

siklus

menstruasi

kehamilan

untuk

dan

reproduksi,

dengan

persalinan.

tetapi

tidak

peremajaan

Fungsi-fungsi
diperlukan

ini

untuk

kelangsungan fisiologis wanita.


3) Tuba Fallopi
Tuba fallopi merupakan saluran ovum yang terentang antara
kornu

uterine

hingga

suatu

tempat

dekat

ovarium

dan

merupakan jalan ovum mencapai rongga uterus. Panjang tuba


fallopi antara 8-14 cm, tuba tertutup oleh peritoneum dan
lumennya dilapisi oleh membran mukosa.
Tuba fallopi terdiri atas:
a) Pars intersisialis
Bagian yang terdapat di dinding uterus
b) Pars ismika
Merupakan bagian medial tuba yang sempit seluruhnya.
c) Pars ampularis
Bagian yang terbentuk agak lebar tempat konsepsi terjadi
d) Pars infundibulum
Bagian ujung tuba yang terbuka ke arah abdomen dan
mempunyai fimbria
4) Ovarium
Ovarium

merupakan

organ

yang

berbentuk

seperti

buah

amandel, fungsinya untuk perkembangan dan pelepasanovum.


Serta sintesis dan sekresi hormon steroid. Ukuran ovarium,
panjang 2,5-5 cm, lebar 1,5-3cm, dan tebal 0,6-1cm. Ovarium
terletak di setiap sisi uterus, di bawah dan di belakang tuba
falopi. Dua ligamen mengikat ovarium pada tempatnya, yakni
bagian mesovarium ligamen lebar uterus, yang memisahkan
ovarium dari sisi dinding pelvis lateral kira-kira setinggi kristal
6

iliaka anterior superior, dan ligamentum ovari proprium. (Bobak,


Lowdermilk, Jensen, 2004)
C. Klasifikasi
Berdasarkan posisi mioma uteri terdapat lapisan-lapisan uterus, dapat
dibagi dalam 3 jenis :
1.

Mioma Submukosa
Tumbuhnya tepat di bawah endometrium. Paling sering menyebabkan
perdarahan yang banyak, sehingga memerlukan histerektomi, wlaupun
ukurannya kecil. Adanya mioma submukosa dapat dirasakan sebagai
suatu curet bump (benjolan waktu kuret). Kemungkinan terjadinya
degenerasi sarcoma juga lebih besar pada jenis ini. Sering mempunyai
tangkai yang panjang sehingga menonjol melalui cervix atau vagina,
disebut mioma submucosa bertangkai yang dapat menimbulkan
miomgeburt, sering mengalami nekrose atau ulcerasi.

2.

Interstinal atau intramural


Terletak

pada

miometrium.

Kalau

lebar

atau

multipel

dapat

menyebabkan pembesaran uterus dan berbenjol-benjol.


3.

Subserosa atau subperitoneal


Letaknya di bawah lapisan tunica serosa, kadang-kadang vena yang
ada di bawah permukaan pecah dan menyebabkan perdarahan intra
abdominal. Kadang-kadang mioma subserosa timbul diantara dua
ligalatum, merupakan mioma intraligamenter, yang dapat menekan
uterus dan A. Iliaca. Ada kalanya tumor ini mendapat vascularisasi
yang lebih banyak dari omentum sehingga lambat laun terlepas dari
uterus, disebut sebagai parasitic mioma.

Mioma subserosa yang

bertangkai dapat mengalami torsi. (Sastrawinata S:154)

D. Etiologi
Walaupun mioma uteri ditemukan terjadi tanpapenyebab yang pasti,
namun dari hasil penelitian Miller dan Lipschlutz dikatakan bahwa mioma
uteri terjadi tergantung pada sel-sel otot imatur yang terdapat pada Cell
Nest yang selanjutnya dapat dirangsang terus menerus oleh hormon
estrogen. Namun demikian, beberapa faktor yang dapat menjadi faktor
pendukung terjadinya mioma adalah: wanita usia 35-45 tahun, hamil
pada usia muda, genetik, zat-zat karsinogenik, sedangkan yang menjadi
faktor pencetus dari terjadinya mioma uteri adalah adanya sel yang
imatur.
Sampai saat ini belum diketahui penyebab pasti mioma uteri dan
diduga merupakan penyakit multifaktorial. Dipercayai bahwamioma
merupakan sebuah tumor monoklonal yang dihasilkan dari mutasisomatik
dari

sebuah

sel

neoplastik

tunggal.

Sel-sel

tumor

mempunyai

abnormalitas kromosom, khususnya pada kromosom lengan. Faktor-faktor


yang mempengaruhi pertumbuhan tumor, di samping faktor predisposisi
genetik, adalah estrogen, progesteron dan human growth hormone.
1. Estrogen.
Mioma

Uteri

dijumpai

setelah

menarke.

Seringkali

terdapat

pertumbuhan tumor yang cepat selama kehamilan dan terapi estrogen


eksogen. Mioma uteri akan mengecil pada saat menopause dan
pengangkatan ovarium. Adanya hubungan dengan kelainan lainnya
yang tergantung estrogen seperti endometriosis (50%), perubahan
fibrosistik dari payudara (14,8%), adenomyosis (16,5%) dan hiperplasia
endometrium (9,3%). Mioma uteri banyak ditemukan bersamaan
dengan

anovulasi

ovarium

dan

wanita

dengan

sterilitas.

17B

hidroxydesidrogenase: enzim ini mengubah estradiol (sebuah estrogen


kuat) menjadi estron (estrogen lemah). Aktivitas enzim ini berkurang
pada jaringan miomatous, yang juga mempunyai jumlah reseptor
estrogen yang lebih banyak daripada miometrium normal.

2. Progesteron
Progesteron merupakan antagonis natural dari estrogen. Progesteron
menghambat

pertumbuhan

tumor

dengan

dua

cara

yaitu:mengaktifkan 17B hidroxydesidrogenase dan menurunkan jumlah


reseptorestrogen pada tumor.
3. Hormon Pertumbuhan
Level hormon pertumbuhan menurun selama kehamilan, tetapi hormon
yang mempunyai struktur dan aktivitas biologik serupa yaitu HPL,
terlihat pada periode ini, memberi kesan bahwa pertumbuhan yang
cepat dari leiomioma selama kehamilan mungkin merupakan hasil dari
aksi sinergistik antara HPL dan Estrogen. Dalam Jeffcoates Principles of
Gynecology, ada beberapa faktor yang diduga kuat sebagai faktor
predisposisi terjadinya mioma uteri, yaitu :
a. Umur
Mioma Uteri jarang terjadi pada usia kurang dari 20 tahun,
ditemukan sekitar 10% pada wanita berusia lebih dari 40 tahun.
Tumor ini paling sering memberikan gejala klinis antara 35 45
tahun.
b. Paritas
Lebih sering terjadi pada nulipara atau pada wanita yang relatif
infertil, tetapi sampai saat ini belum diketahui apakan infertilitas
menyebabkan mioma uteri atau sebaliknya mioma uteri yang
menyebabkan infertilitas, atau apakah kedua keadaan ini saling
mempengaruhi.
c. Faktor ras dan Genetik
Pada wanita ras tertentu, khususnya wanita berkulit hitam, angka
kejadian mioma uteri tinggi. Terlepas dari faktor ras, kejadian tumor
ini tinggi pada wanita dengan riwayat keluarga, ada yang menderita
mioma. ( Manuaba, 1998 )
9

Belum diketahui secara pasti, tetapi asalnya disangka dari sel-sel


otot yang belum matang. Disangka bahwa estrogen mempunyai
peranan penting, tetapi dengan teori ini sukar diterangkan apa
sebabnya pada seorang wanita estrogen pada nuli para, faktor
keturunan juga berperan mioma uteri terdiri dari otot polos dan
jaringan ikat yang tersusun seperti konde diliputi pseudokapsul.
Perubahan sekunder pada mioma uteri sebagian besar bersifat
degeneratif karena berkurangnya aliran darah ke mioma uteri.
Perubahan sekunnder meliputi atrofi, degenerasi hialin, degenerasi
kistik, degenerasi membantu, marah, lemak. (Mansjoer, Arif, 1999)
E. Manifestasi Klinis
Gejala

dan

tanda

kasus

mioma

uteri

secara

kebetulan

pada

pemeriksaan pelvik uteri, penderita tidak mempunyai keluhan dan tidak


sadar bahwa mereka mengandung satu tumor dalam uterus.
Gejala-gejala

tergantung

dari

lokasi

mioma

uteri

(cervikal,

intramural,submucous) digolongkan sebagai berikut :


1. Perdarahan tidak normal
Perdarahan ini serng bersifat hipermenore; mekanisme perdarahan ini
tidak

diketahui

benar,

akan

tetapi

faktor-faktor

yang

kiranya

memegang peranan dalam hal ini adalah telah meluasnya permukaan


endometrium dan gangguan dalam kontraktibilitas miometrium.
2. Rasa nyeri pada pinggang dan perut bagian bawah
Dapat terjadi jika :
a. Mioma menyempitkan kanalis servikalis
b. Mioma submukosum sedang dikeluarkan dari rongga rahim
c. Adanya penyakit adneks, seperti adneksitis, salpingitis, ooforitis
d. Terjadi degenerasi merah
3. Tanda-tanda penekanan
Terdapat tanda-tanda penekanan tergantung dari besar dan lokasi
mioma uteri. Tekanan bisa terjadi pada traktus urinarius, pada usus,
10

dan

pada

pembuluh-pembuluh

darah.

Akibat

tekanan

terhadap

kandung kencing ialah distorsi dengan gangguan miksi dan terhadap


uretes bisa menyebabkan hidro uretre
4. Infertilitas dan abortus
Infertilitas bisa terajdi jika mioma intramural menutup atau menekan
pors interstisialis tubae; mioma submukosum memudahkan terjadinya
abortus. (Prawirohardjo,1996: 288)
5. Kongesti vena, disebabkan oleh kompresi tumor yang menyebabkan
edema ekstremitas bawah, hemorrhoid, nyeri dan dyspareunia.
6. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan kehamilan.
7. Abortus spontan.
Biasanya

mioma

akan

mengalami

involusi

yang

nyata

setelah

kelahiran. Pengaruh kehamilan dan persalinan pada mioma uteri :


a. Cepat

bertambah

besar,

mungkin

karena

pengaruh

hormon

estrogen yang meningkat dalam kehamilan.


b. Degenerasi merah dan degenerasi karnosa : tumor menjadi lebih
lunak, berubah bentuk, dan berwarna merah. Bisa terjadi gangguan
sirkulasi sehingga terjadi perdarahan.
c. Mioma subserosum yang bertangkai oleh desakan uterus yang
membesar atau setelah bayi lahir, terjadi torsi (terpelintir) pada
tangkainya, torsi menyebabkan gangguan sirkulasi dan nekrosis
pada tumor. Wanita hamil merasakan nyeri yang hebat pada perut
(abdoment akut).
d. Kehamilan dapat mengalami keguguran.
e. Persalinan prematuritas.
f. Gangguan proses persalinan.
g. Tertutupnya saluran indung telur sehingga menimbulkan infertilitas.
h. Pada kala II dapat terjadi gangguan pelepasan plasenta dan
perdarahan
i. Mioma yang lokasinya dibelakang dapat terdesak kedalam kavum
douglasi dan terjadi inkarserasi.
11

j. Subfertil (agak mandul) sampai fertil (mandul) dan kadang- kadang


hanya punya anak satu. Terutama pada mioma uteri sub mukosum.
k. Sering terjadi abortus. Akibat adanya distorsirongga uterus.
l. Terjadi kelainan letak janin dalam rahim, terutama pada mioma
yang besar dan letak sub serus.
m. Distosia tumor yang menghalangi jalan lahir, terutama pada mioma
yang letaknya diservix.
n. Atonia

uteri

terutama

pasca

persalinan,

perdarahan

banyak,

terutama pada mioma yang letaknya di dalam dinding rahim.


o. Kelainan letak plasenta.
p. Plasenta sukar lepas (retensio plasenta), terutama pada mioma
yang sub mukus dengan intramural.
F. Patofisiologi
Mioma uteri mulai tumbuh sebagai bibit yang kecil di dalam
miometrium dan lambat laun membesar karena pertumbuhan itu
miometrium terdesak menyusun semacam pseudekapsula atau simpai
semu yang mengelilingi tumor di dalam uterus mungkin terdapat satu
mioma,akan tetapi mioma biasanya banyak. Jika ada satu mioma yang
tumbuh intramural dalam korpus uteri maka korpus ini tampak bundar
dan konstipasi padat. Bilaterletak pada dinding depan uterus, uterus
mioma dapat menonjol ke depan sehingga menekan dan mendorong
kandung kencing ke atas sehingga sering menimbulkan keluhan miksi
Tetapi masalah akan timbul jika terjadi: berkurangnya pemberian darah
pada mioma uteri yang menyebabkan tumor membesar, sehingga
menimbulkan rasa nyeri dan mual. Selain itu masalah dapat timbul lagi
jika terjadi perdarahan abnormal pada uterus yang berlebihan sehingga
terjadi anemia. Anemia ini bisa mengakibatkan kelemahan fisik, kondisi
tubuh lemah, sehingga kebutuhan perawatan diri tidak dapat terpenuhi.
Selain

itu

dengan

perdarahan

yang

banyak

bisa

mengakibatkan

seseorang mengalami kekurangan volume cairan. (Sastrawinata S: 151)

12

G. Pemeriksaan Penunjang
1.

Laporoskopi : untuk mengetahui ukuran dan lokasi tumor

2.

USG abdominal dan transvaginal

3.

Biopsi : untuk mengetahui adanya keganasan

4.

Dilatasi serviks dan kuretase akan mendeteksi adanya fibroid


subserous. (Kapita Selekta, 1999)

H. Penatalaksanaan
1. Penanganan mioma menurut usia, paritas, lokasi dan ukuran
tumor
Penanganan mioma uteri tergantung pada usia, paritas, lokasi dan
ukuran tumor, dan terbagi atas :
a. Penanganan konservatif
Cara penanganan konservatif dapat dilakukan sebagai berikut :
1) Observasi dengan pemeriksaan pelvis secara periodik setiap 3-6
bulan.
2) Monitor keadaan Hb
3) Pemberian zat besi
4) Penggunaan agonis GnRH untuk mengurangi ukuran mioma
b. Penanganan operatif
Intervensi operasi atau pembedahan pada penderita mioma uteri
adalah :
1) Perdarahan uterus abnormal yang menyebabkan penderita
anemia
2) Nyeri pelvis yang hebat
3) Ketidakmampuan untuk mengevaluasi adneksa (biasanya karena
mioma berukuran kehamilan 12 minggu atau sebesar tinju
dewasa)
4) Gangguan buang air kecil (retensi urin)
5) Pertumbuhan mioma setelah menopause
6) Infertilitas
13

7) Meningkatnya pertumbuhan mioma (Moore, 2001).


Jenis operasi yang dilakukan pada mioma uteri dapat berupa :
a. Miomektomi
Miomektomi

adalah

pengambilan

sarang

mioma

tanpa

pengangkatan rahim/uterus (Rayburn, 2001). Miomektomi lebih


sering di lakukan pada penderita mioma uteri secara umum.
Penatalaksanaan ini paling disarankan kepada wanita yang belum
memiliki

keturunan

setelah

penyebab

lain

disingkirkan

(Chelmow, 2005).
b. Histerektomi
Histerektomi

adalah

tindakan

operatif

yang

dilakukan

untuk

mengangkat rahim, baik sebagian (subtotal) tanpa serviks uteri


ataupun seluruhnya (total) berikut serviks uteri (Prawirohardjo,
2001). Histerektomi dapat dilakukan bila pasien tidak menginginkan
anak

lagi,

dan

pada

penderita

yang

memiliki

mioma

yang

simptomatik atau yang sudah bergejala. Ada dua cara histerektomi,


yaitu :
1) Histerektomi abdominal, dilakukan bila tumor besar terutama
mioma intraligamenter, torsi dan akan dilakukan ooforektomi
2) Histerektomi vaginal, dilakukan bila tumor kecil (ukuran < uterus
gravid 12 minggu) atau disertai dengan kelainan di vagina
misalnya rektokel, sistokel atau enterokel (Callahan, 2005).
Kriteria menurut American College of Obstetricians Gynecologists
(ACOG) untuk histerektomi adalah sebagai berikut :
1) Terdapatnya 1 sampai 3 mioma asimptomatik atau yang dapat
teraba dari luar dan dikeluhkan oleh pasien.
2) Perdarahan uterus berlebihan, meliputi perdarahan yang banyak
dan bergumpal-gumpal atau berulang-ulang selama lebih dari 8
hari dan anemia akibat kehilangan darah akut atau kronis.

14

3) Rasa tidak nyaman di pelvis akibat mioma uteri meliputi nyeri


hebat dan akut, rasa tertekan punggung bawah atau perut
bagian bawah yang kronis dan penekanan pada vesika urinaria
mengakibatkan frekuensi miksi yang sering (Chelmow, 2005).
2. Penatalaksanaan mioma uteri pada wanita hamil
Selama kehamilan, terapi awal yang memadai adalah tirah
baring, analgesia dan observasi terhadap mioma. Penatalaksanaan
konservatif selalu lebih disukai apabila janin imatur. Seksio sesarea
merupakan indikasi untuk kelahiran apabila mioma uteri menimbulkan
kelainan letak janin, inersia uteri atau obstruksi mekanik.
I. Pengkajian
1.

Data biografi pasien


a. Riwayat kesehatan saat ini, meliputi : keluhan utama masuk RS,
faktor pencetus, lamanya keluhan, timbulnya keluhan, faktor yang
memperberat,

upaya

yang

dilakukan

untuk

mengatasi,

dan

diagnosis medik.
b. Riwayat kesehatan masa lalu, meliputi : penyakit yang pernah
dialami, riwayat alergi, imunisasi, kebiasaan merokok,minum kopi,
obat-obatan dan alkohol
c. Riwayat kesehatan keluarga
d. Pemeriksaan fisik umum dan keluhan yang dialami. Untuk pasien
dengan kanker servik, pemeriksaan fisik dan pengkajian keluhan
lebih spesifik ke arah pengkajian obstretri dan ginekologi, meliputi :
1) Riwayat kehamilan, meliputi : gangguan kehamilan, proses
persalinan,

lama

persalinan,

tempat

persalinan,

masalah

persalinan, masalah nifas serta laktasi, masalah bayi dan


keadaan anak saat ini
2) Pemeriksaan genetalia
3) Pemeriksaan payudara
4) Riwayat operasi ginekologi
15

5) Pemeriksaan pap smear


6) Usia menarche
7) Menopause
8) Masalah yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi
e. Kesehatan lingkungan/higiene
f. Aspek psikososial meliputi : pola pikir, persepsi diri, suasana hati,
hubungan/komunikasi,

kebiasaan

seksual,

pertahanan

koping,

sistem nilai dan kepercayaan dan tingkat perkembangan.


g. Data laboratorium dan pemeriksaan-pemeriksaan penunjang lain
h. Terapi medis yang diberikan
i. Efek samping dan respon pasien terhadap terapi
j. Persepsi klien terhadap penyakitnya
J. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologis (kanker serviks)
dan agen injuri fisik (jika dilakukan terapi pembedahan)
2. PK : Anemia
3. Cemas b.d krisis situasional (histerektomi atau kemoterapi), ancaman
terhadap konsep diri, perubahan dalam status kesehatan, stres,
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan faktor biologis (status hipermatebolik berkenaan dengan
kanker) dan faktor psikososial
5. Resiko infeksi dengan faktor resiko ketidakadekuatan pertahanan
sekunder; ketidakadekuatan pertahanan imun tubuh; imunosupresi
(kemoterapi), dan prosedur invasi
6. Kurang

pengetahuan

tentang

penyakit;

berhubungan
keterbatasan

dengan
kognitif

kurangnya
(dilihat

dari

informasi
tingkat

pendidikan); misinterpretasi dengan informasi yang diberikan ; dan


tidak familiar dengan sumber informasi
7. Gangguan

citra

tubuh

berhubungan

perubahan perkembangan penyakit


16

dengan

pembedahan

dan

8. Gangguan eliminasi fekal : Konstipasi b.d menurunnya mobilitas


intestinal
9. Retensi urin b.d penekanan yang keras pada uretra
K. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

17

DIANGOSA
KEPERAWATAN
Nyeri akut
berhubungan
dengan agen injuri
biologis (kanker
serviks) dan agen
injuri fisik (jika
dilakukan terapi
pembedahan)

PK : Anemia

TUJUAN (NOC)

INTERVENSI (NIC)

NOC : Kontrol Nyeri


NIC
Setelah dilakukan
1. Manajemen Nyeri
pemberian asuhan
a. Kaji secara komphrehensif
keperawatan selama ..x
tentang nyeri, meliputi:
24 jam, diharapkan
lokasi, karakteristik, durasi,
respon nyeri pasien dapat
frekuensi, kualitas,
terkontrol dengan kriteria
intensitas/beratnya nyeri,
hasil sebagai berikut :
dan faktor-faktor pencetus
1. Klien mampu mengenal
b. observasi isyarat-isyarat
faktor-faktor penyebab
verbal dan non verbal dari
nyeri, beratnya
ketidaknyamanan, meliputi
ringannya nyeri, durasi
ekspresi wajah, pola tidur,
nyeri, frekuensi dan
nasfu makan, aktitas dan
letak bagian tubuh yang
hubungan sosial.
nyeri
c. Kolaborasi pemberian
2. Klien mampu melakukan
analgetik sesuai dengan
tindakan pertolongan
anjuran. Pemberian
non-analgetik, seperti
analgetik harus
napas dalam, relaksasi
memperhatikan hal-hal
dan distraksi
sebagai berikut : prinsip
3. Klien melaporkan gejalapemberian obat 6 benar
gejala kepada tim
(benar nama, benar obat,
kesehatan
benar dosis, benar cara,
4. Klien mampu
benar waktu pemberian,
mengontrol nyeri
dan benar dokumentasi)
5. Ekspresi wajah klien
d. Gunakan komunikiasi
rileks
terapeutik agar pasien
6. Klien melaporkan
dapat mengekspresikan
adanya penurunan
nyeri
tingkat nyeri dalam
e. Kaji pengalaman masa lalu
rentang sedang (skala
individu tentang nyeri
nyeri: 4 sampai 6)
f. Evaluasi tentang
hingga nyeri ringan
keefektifan dari tindakan
(skala nyeri : 1 sampai
mengontrol nyeri yang
3)
telah digunakan
7. Klien melaporkan dapat
g. Berikan dukungan terhadap
beristirahan dengan
pasien dan keluarga
nyaman
h. Berikan informasi tentang
8. Nadi klien dalam batas
nyeri, seperti: penyebab,
normal (80-100x/menit)
berapa lama terjadi, dan
9. Tekanan darah klien
tindakan pencegahan
dalam batas normal
i. Ajarkan penggunaan teknik
(120/80 mmHG)
non-farmakologi (seperti:
10.Frekuensi pernafasan
relaksasi, guided imagery,
klien dalam batas
terapi musik, dan distraksi)
normal (12 20 x/menit) j. Modifikasi tindakan
mengontrol nyeri
berdasarkan respon pasien
k. Anjurkan klien untuk
meningkatkan
tidur/istirahat
l. Anjurkan klien untuk
melaporkan kepada tenaga
kesehatan jika tindakan
tidak berhasil atau terjadi
18
keluhan lain
Setelah dilakukan

1. Kaji gejala-gejala anemia

DAFTAR PUSTAKA

Achadiat CM. 2004. Prosedur tetap Obstetri dan ginekologi. Jakarta : EGC
Manuaba IBG. 2003. Penuntun Kepaniteraan Klinik Obstetric dan Ginekologi.
Edisi 2. Jakarta : EGC
Moore JG. 2001. Essensial obstetri dan ginekologi. Edisi 2. Jakarta :
Hipokrates
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/103/jtptunimus-gdl-srirahayug-5147-2bab2.pdf
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/105/jtptunimus-gdl-ariastuti0-5245-1babi.pdf
http://lpkeperawatan.blogspot.co.id/2013/11/laporan-pendahuluan-mioma
uteri.html#.VwIvgNh8shA
www. Infomedika. htm, 2004
Arif Mansjoer, 2001, Kapita selekta Kedokteran 1, Buku Kedokteran, EGC,
Jakarta 2001
Prawirohardjo, Sarwono, 1996, Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal,
Jakarta : YBP-SP
Price, Sylvia Anderson, (1996) Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit, Jakarta : EGC
Bobak, Lowdermik, Jensen, 2004, Buku Ajar Keperawatan Maternitas /
Maternity Nursing (Edisi 4), Alih Bahasa Maria A. Wijayati, Peter l.
Anugerah, Jakarta : EGC
Sastrawinata, S., 2004. Obsetri Patologi Ilmu Kesehatan Reproduksi, ed.2.
Jakarta: EGC

PATHWAY