Anda di halaman 1dari 2

Digitalisasi Naskah

Oleh: M. Ilhamul Qolbi


Naskah merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang sangat berharga. Hal itu ditandai
dengan pencarian yang sangat mendalam tentang pusaka Nusantara tersebut. Dalam kejadian
tsunami yang terjadi di Aceh pada tahun 2004, kepedulian masyarakat Indonesia terhadap
bencana tersebut sangat besar. Donasi datang dari manapun untuk menyelamatkan nyawa dan
kehidupan korban tsunami. Di sisi lain, Prof. Oman beserta sahabatnya dari Jepang, melihat
kondisi tersebut sebagai bencana terhadap naskah juga. Oleh karena itu, mereka melakukan
upaya penyelamatan naskah kuno. Jadi, yang dicari bukan korban jiwa, tetapi mereka mencari
naskah-naskah yang sekiranya masih bisa diselamatkan. Luar biasa!
Namun, setelah penyelamatan tersebut, apakah naskah secara serta merta langsung bisa
dibaca dan dibiarkan begitu saja? Tentu tidak. Setelah kejadian yang menimpa naskah-naskah
tersebut, benda-benda pusaka itu selanjutnya diselamatkan atau dalam ilmu filologi disebut
preservasi naskah. Preservasi naskah merupakan upaya pelestarian naskah-naskah kuno.
Preservasi dibagi menjadi dua ranah, yaitu pelestarian fisik naskah dan pelestarian teks dalam
naskah. Ranah fisik naskah, dibagi lagi menjadi konservasi dan restorasi. Perbedaan keduanya
terletak pada kerusakan fisik naskah. Konservasi dilakukan ketika kondisi naskah masih baikbaik saja, hanya membutuhkan perlindungan dan perawatan. Namun, restorasi dilakukan ketika
kondisi naskah sudah dalam keadaan rusak atau tidak bisa dibaca. Jadi, restorasi lebih condong
ke arah perbaikan.
Berbeda halnya dengan fisik naskah, preservasi terhadap teks dalam naskah mencakup
digitalisasi, katalogisasi, perpustakaan digital, dan riset. Dari keempat ranah tersebut, penulis
akan membahas digitalisasi dan keterkaitannya dengan riset dan perpustakaan digital. Dilihat
dari pengertiannya, digitalisasi naskah merupakan proses pengalihan manuskrip dari bentuk
aslinya ke dalam bentuk digital atau menyalinnya dengan melakukan scanning (dengan scanner)
atau fotografi (dengan kamera digital). Jadi, tujuan digitalisasi adalah untuk memelihara teks
yang terdapat dalam naskah untuk mengantisapasi berbagai macam kemungkinan yang tidak
diinginkan muncul. Seperti halnya melihat tragedi di Aceh, faktor alam seperti itu tidak ada yang
menduga. Oleh karena itu, perlu adanya digitalisasi untuk memelihara teks yang terkandung
dalam naskah.
Dengan berkembangnya jaman, proses digitalisasi naskah tidak serumit dulu yang
menggunakan film dan cuci film. Saat ini, ada dua pilihan, antara fotografi dan scanner. Namun,
kedua cara tersebut pada intinya sama, yaitu proses pengalihan bentuk aslinya ke dalam digital.
Setelah menjadi bentuk digital, perlu adanya pengunggahan dengan mode dalam jaringan untuk
memudahkan para peneliti mengakses teks naskah kuno di mana pun berada. Hal ini berkaitan
dengan peningkatan riset terhadap naskah kuno, dikarenakan kemudahan akses yang diberikan
oleh perpustakaan digital yang menghimpun naskah-naskah kuno dalam bentuk digital untuk

diakses di manapun kita berada, tanpa kesulitan mencari secara manual. Oleh karena itu, perlu
kiranya ditingkatkan lagi proses digitalisasi naskah kuno yang terdapat di Indonesia, untuk
menjaga kelestarian budaya Indonesia dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui
riset-riset yang dilakukan.