Anda di halaman 1dari 16

FUNGSI KAWASAN HUTAN LINDUNG

Manajemen Sumberdaya

Disusun oleh :
Khumaydi
150610140038

JURUSAN AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hutan adalah bentuk kehidupan yang tersebar di seluruh dunia. sebuah
kawasan yang ditumbuhi dengan lebat oleh pepohonan dan tumbuhan lainnya,hutan
adalah salah satu aspek biosfera Bumi yang paling penting. Suatu kumpulan
pepohonan dianggap hutan jika mampu menciptakan iklim dan kondisi lingkungan
yang khas setempat, yang berbeda daripada daerah di luarnya. Jika kita berada di
hutan hujan tropis, rasanya seperti masuk ke dalam ruang sauna yang hangat dan
lembab, yang berbeda daripada daerah perladangan sekitarnya. Pemandangannya pun
berlainan. Ini berarti segala tumbuhan lain dan hewan (hingga yang sekecil-kecilnya),
serta beraneka unsur tak hidup lain termasuk bagian-bagian penyusun yang tidak
terpisahkan dari hutan.
Tidak hanya memberikan sumber daya alam, hutan juga memberi
perlindungan kepada organisme yang tinggal di dalamnya, serta yang ada di
sekitarnya, yaitu menyimpan air. Hutan disebut sebagai paru-paru dunia karena
hutan terdiri dari ribuan pohon yang menyimpan berbagai manfaat untuk kehidupan
manusia, antara lain:
1. Pepohonan yang berfungsi untuk mengonsumsi air. Sehingga, apabila
terjadi hujan lebat, air yang turun tidak akan menggenang di atas tanah
melainkan diolah oleh tumbuhan-tumbuhan yang ada di sana sebagai media
penyimpan air.
2. Pepohonan berfungsi untuk menghasilkan oksigen. Karbon dioksida
adalah bahan utama dalam fotosintesis tumbuhan. Pohon-pohon di hutan akan
menyaring udara kotor tersebut menjadi udara bersih nan sejuk yaitu oksigen.

3. Hutan memberikan sejumlah barang guna. Barang guna yang dihasilkan


hutan seperti hewan buruan, kayu, makanan nabati, dan sebagainya. Sehingga
tidak heran hutan disebut sebagai paru-paru dunia, serta jantung dunia.
Indonesia adalah Negara yang kaya akan sumber daya alamnya, contohnya
seperti hutan hujan tropis yang lebat dan kaya akan fauna dan flora langka.
Karakteristik Hutan Hujan Tropis Hutan hujan tropika terbentuk di wilayah-wilayah
beriklim tropis, dengan curah hujan tahunan minimum berkisar antara 1.750
millimetre (69 in) dan 2.000 millimetre (79 in). Sedangkan rata-rata temperatur
bulanan berada di atas 18 C (64 F) di sepanjang tahun Hutan basah ini tumbuh di
dataran rendah hingga ketinggian sekitar 1.200 m dpl., di atas tanah-tanah yang subur
atau relatif subur, kering (tidak tergenang air dalam waktu lama), dan tidak memiliki
musim kemarau yang nyata (jumlah bulan kering) Hutan hujan tropika merupakan
vegetasi yang paling kaya, baik dalam arti jumlah jenis makhluk hidup yang
membentuknya, maupun dalam tingginya nilai sumberdaya lahan (tanah, air, cahaya
matahari) yang dimilikinya.
Saat ini kawasan hutan di Indonesia mencapai 129 juta hektar. Kawasan hutan
tersebut terbagi ke dalam hutan konservasi seluas 27 juta hektar, hutan lindung 30
juta hektar dan sisanya hutan produksi. Dengan kawasan hutan yang mencapai 129
juta hektar Indonesia didaulat sebagai Negara dengan predikat paru-paru dunia
setelah Brasil.
Sulawesi merupakan salah satu pulau terbesar di Indonesia dengan populasi
kawasan hutan yang luas. Dipulau ini masih banyak kawasan hutan yang terbentang
disetiap provinsi yang ada dipulau ini. Untuk ekosistem hutan, luas hutan di Sulawesi
berada pada urutan ke empat di Indonesia, setelah Papua, Kalimantan dan Sumatera.
Dari perbandingan data tahun 1993 dengan tahun 2001 tampak bahwa hutan
konservasi, hutan lindung dan hutan produksi tetap (HP) mengalami pertambahan
luas. Hutan konservasi luasnya 863.145 ha, hutan lindung 362.041 ha, serta hutan
produksi 3417 ha. Sementara penyusutan terjadi pada hutan produksi terbatas (HPT)

dan hutan produksi yang dapat dikonversi (HPK), berturut-turut menjadi 1.400.140 ha
dan 893.151 ha. Dalam kurun waktu 1993 2001 terjadi penyusutan hutan Sulawesi
sekitar 1 juta hektar.
Dari luas hutan itu sebagian besar hutan di Sulawesi merupakan hutan dataran
rendah, yaitu seluas 8.721.244,62 ha yang tersebar di Sulawesi Tengah (3.172.740,41
ha), Sulawesi Tenggara (2.298.944,68 ha), Sulawesi Selatan (1.900.308,42 ha) serta
Sulawesi Utara dan Gorontalo (1.349.251,11 ha). Sementara untuk hutan dataran
tinggi yang terluas ditemukan di Sulawesi Selatan (1.038.046,97 ha) dan Sulawesi
Tengah (1.035.988,43 ha).
Namun sebenarnya kawasan hutan ini memiliki banyak permasalahan didalam
negeri. Mulai dari sengketa lahan dengan masyarakat, alih fungsi lahan yang tidak
sesuai ketentuan. Penyalahgunaan jabatan untuk penggunaan kawasan hutan. Namun
sebenarnya dalam makalah ini kita akan membahas tentang apa sebenarnya fungsi
dari kawasan hutan lindung di wilayah provinsi Sulawesi Tenggara serta beberapa
permasalahan yang terjadi.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan kawasan hutan?
2. Apa fungsi dari kawasan hutan lindung?
3. Permasalahan yang terjadi di wilayah Sulawesi Tenggara?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui tentang kawasan hutan.
2. Mengetahui fungsi-fungsi penting kawasan hutan lindung.
3. Mengetahui permasalahan yang muncul di Sulawesi Tenggara.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi kawasan hutan


Hutan adalah suatu kawasan yang memiliki berbagai macam tumbuhan hijau
antara lain pohon, semak, paku-pakuan, jamur, rumput, dan masih banyak lagi serta
terdapat di wilayah yang cukup luas. Hutan berfungsi sebagai paru-paru bumi, habitat
makhluk hidup, hingga melestarikan tanah. Selain itu, hutan merupakan bentuk
kehidupan yang tersebar di berbagai belahan bumi. Menurut ahli kehutanan,
menjelaskan hutan sebagai

Suatu komunitas biologi yang didominasi oleh

tumbuhan pepohonan keras.


Sedangkan

jika

dilihat

dari

Undang-Undang

Kehutanan

Indonesia

menjelaskan jika hutan adalah suatu area perkembangan dan pertumbuhan pohon
secara menyeluruh merupakan persekutuan hidup alam hayati dengan alam
lingkungan disekitarnya.
Menurut (Pasal 1 Angka 4 Undang-Undang No 5 Tahun 1967) menjelaskan
jika kawasan hutan merupakan wilayah-wilayah tertentu yang ditetapkan oleh
Menteri untuk dipertahankan sebagai hutan tetap. Pasal 4 Undang-Undang No 5
Tahun 1967 menjelaskan jika kawasan hutan ialah wilayah yang sudah berhutan atau
tidak berhutan yang telah ditetapkan untuk dijadikan hutan. Pasal 1 Angka 3 UndangUndang No 41 Tahun 1999 menjelaskan jika kawasan hutan merupakan suatu area
tertentu yang ditetapkan dan ditunjuk oleh pemerintah agar dipertahankan
keberadaannya sebagai hutan tetap, dan (Pasal 1 Angka 7 Undang-Undang No 17
Tahun 2006) menjelaskan jika kawasan hutan adalah suatu area yang ditunjuk dan
ditetapkan oleh pemerintah untuk dilestarikan keberadaanya sebagai hutan tetap.
Kawasan hutan lebih lanjut dijabarkan dalam Keputusan Menteri Kehutanan
No.70/Kpts-II/2001 tentang Penetapan Kawasan Hutan, perubahan status dan fungsi
kawasan hutan, yaitu wilayah tertentu yang ditunjuk dan/atau ditetapkan oleh
pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap. Dari definisi dan
penjelasan tentang kawasan hutan, terdapat unsur-unsur meliputi:

a.
b.
c.
d.

Suatu wilayah tertentu


Terdapat hutan atau tidak terdapat hutan
Ditetapkan pemerintah (menteri) sebagai kawasan hutan
Didasarkan pada kebutuhan serta kepentingan masyarakat

Unsur pokok yang terkandung di dalam definisi kawasan hutan, dijadikan


dasar pertimbangan ditetapkannya wilayah-wilayah tertentu sebagai kawasan hutan.
Kemudian, untuk menjamin diperolehnya manfaat yang sebesar-besarnya dari hutan
dan berdasarkan kebutuhan sosial ekonomi masyarakat serta berbagai faktor
pertimbangan fisik, hidrologi dan ekosistem, maka luas wilayah yang minimal harus
dipertahankan sebagai kawasan hutan adalah 30% dari luas daratan. Berdasarkan
kriteria pertimbangan pentingnya kawasan hutan, maka sesuai dengan peruntukannya
Menteri menetapkan kawasan hutan menjadi:
a. Wilayah yang berhutan yang perlu dipertahankan sebagai hutan tetap
b. Wilayah tidak berhutan yang perlu dihutankan kembali dan dipertahankan
sebagai hutan tetap.
Pembagian kawasan hutan berdasarkan fungsi-fungsinya dengan kriteria dan
pertimbangan tertentu, ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah RI No. 34 tahun 2002
tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, Pemanfaatan Hutan
dan Penggunaan Kawasan Hutan Pasal 5 ayat (2), sebagai berikut : Kawasan hutan
konservasi yang terdiri dari kawasan suaka alam (cagar alam dan suaka margasatwa),
kawasan pelestarian alam (taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam),
dan taman buru. Hutan Lindung, dan Hutan Produksi.
Sehingga dari penjelasan yang tertera diatas dapat dikatakan bahwa hutan
merupakan bagian dari kawasan hutan. Di Indonesia sendiri terdapat jenis-jenis hutan
yaitu hutan hujan tropika yang merupakan hutan yang terdapat didaerah tropis dengan
curah hujan sangat tinggi. Hutan hujan tropika berfungsi sebagai paru-paru dunia.
Hutan hujan tropika terdapat di Pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.
Dan Hutan Monsun, disebut juga hutan musim, Hutan monsun biasanya mempunyai

tumbuhan sejenis, misalnya hutan jati, hutan bambu, dan hutan kapuk. Hutan monsun
banyak terdapat di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

2.2 Jenis hutan indinesia berdasarkan fungsinya

Kawasan hutan terdiri dari hutan lindung, hutan konservasi, dan hutan
produksi. Setiap hutan memiliki fungsinya masing masing sesuai dengan namanya.
Hutan lindung adalah hutan yang dilindungi keberadaannya karena berperan penting
menjaga

ekosistem.

Kawasan

hutan

ditetapkan

sebagai

hutan

lindung

karena

berfungsi sebagai penyedia cadangan air bersih, penahan erosi, paru-paru kota atau fungsifungsi lainnya. Namun keberadaan hutan tersebut tidak termasuk dalam kawasan hutan
konservasi yang dikelola oleh pemerintah. Agar terhindar dari kerusakan maka keberadaan
hutan tersebut harus dilindungi.

Hutan konservasi adalah kawasan hutan dengan ciri khas tertentu, yang
mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta
ekosistemnya. Hutan konservasi terdiri atas : a.Hutan Suaka alam adalah hutan

dengan ciri khas tertentu yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan
keanekaragaman tumbuhan, satwa dan ekosistemnya serta berfungsi sebagai wilayah
penyangga kehidupan. Kawasan hutan suaka alam terdiri atas cagar alam, suaka
margasatwa dan Taman Buru. Kawasan Hutan pelestarian alam adalah kawasan
dengan ciri khas tertentu, baik didarat maupun di perairan yang mempunyai fungsi
perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis
tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber alam hayati dan
ekosistemnya. Kawasan pelestarian alam terdiri atas taman nasional, taman hutan
raya (TAHURA) dan taman wisata alam.
Hutan Produksi Hutan produksi adalah kawasan hutan yang diperuntukkan
guna produksi hasil hutan untuk memenuhi keperluan masyarakat pada umumnya
serta pembangunan, industri, dan ekspor pada khususnya. Hutan produksi dibagi
menjadi tiga, yaitu hutan produksi terbatas (HPT), hutan produksi tetap (HP), dan
hutan produksi yang dapat dikonversikan (HPK). Manfaat Hutan :
Di Sulawesi Tenggara kawasan hutan masih cukup luas meski provinsi ini
merupakan daerah berkembang. Sulawesi tenggara memiliki luas kawasan hutan dan
perairan menurut provinsi (ribu ha) yaitu 1,081 hutan lindung, 1,787 suaka alam dan
pelestarian alam, 467 hutan produksi terbatas, 402 hutan produksi tetap, 94 hutan
produksi yang dapat dikonversi. Sehingga jumlah luas daratan kawasan hutan seluas
3,831 dan jumlah luas hutan dan perairan seluas 4,114. Dari luasan kawasan hutan
tersebut tersebar di beberapa pulau yang ada provinsi Sulawesi tenggara.

2.3 Fungsi kawasan hutan lindung


Hutan lindung bisa masuk dalam kawasan lindung, tetapi belum
tentu sebaliknya. Karena kawasan lindung bisa mencakup juga hutan konservasi dan
jenis kawasan lainnya. Istilah kawasan lindung termaktub dalam Undang-undang
No.26 tahun 2007 tentang penataan ruang, berikut kutipannya: Kawasan lindung
adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian
lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan.
Pemerintah dalam hal ini Menteri yang terkait dengan bidang kehutanan bisa
menetapkan suatu kawasan hutan menjadi hutan lindung berdasarkan usulan yang
memenuhi syarat-syarat tertentu. Penetapannya diatur secara teknis dalam Keputusan
Menteri. Peraturan tersebut mengatur metode skoring dalam menentukan kawasan
hutan. Terdapat 3 faktor utama dalam menentukan skoring, diantaranya kemiringan
lahan, kepekaan terhadap erosi dan intensitas curah hujan (mm/hari hujan) di daerah
terkait.
Metode skoring biasanya diterapkan pada kawasan hutan produksi, dimana
dalam kawasan tersebut terdapat area-area yang harus dilindungi. Metode skoring
tidak bisa dilakukan pada kawasan yang telah ditetapkan sebagai hutan konservasi
seperti cagar alam, suaka margasatwa, taman nasional, taman hutan raya, taman
wisata alam dan taman buru.

A. Manfaat hutan lindung


Hutan lindung mempunyai fungsi pokok untuk menjaga kualitas lingkungan
dan ekosistem. Fungsi-fungsi tersebut diantaranya:

Mencegah banjir, hutan yang terpelihara dapat menyerap air hujan agar tidak
turun langsung ke daerah bawahnya. Kemampuan hutan untuk menampung air

hujan merupakan pengendalian banjir yang efektif.


Menyimpan cadangan air tanah, selain mengendalikan banjir hutan juga
bermanfaat untuk menyimpan cadangan air tanah. Cadangan air tersebut bisa
digunakan ketika musim kemarau, sehingga penduduk sekitar hutan terhindar

dari bencana kekeringan.


Mencegah erosi dan tanah longsor, lahan terbuka yang diatasnya tidak tertutup
hutan akan cepat tergerus erosi. Erosi akan mendangkalkan sungai-sungai
yang ada dibawahnya. Selain itu juga, bagi hutan-hutan yang terdapat di

lereng-lereng curam erosi bisa menyebabkan bencana tanah longsor.


Memelihara kesuburan tanah, hutan seperti sebuah tempat pengomposan
raksasa. Berbagai macam material organik akan terurai menjadi humus di
dalam hutan. Humus hutan ini berfungsi sebagai pupuk yang meningkatkan

kesuburan tanah.
Penyimpan sumber daya genetika, di dalam hutan terdapat plasma nuftah yang

sangat tinggi. Keanekaragaman hayati hutan merupakan sumber kehidupan.


Habitat hidup hewan dan tumbuhan, hutan yang baik bisa melindungi satwa

dan tumbuhan yang ada didalamnya.


Tempat pendidikan dan laboratorium alam, juga bisa menjadi tempat
pendidikan, penelitian ilmiah untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan
laboratorium alam.

B. Cara Menjaga Kelestarian Hutan Lindung


Hutan lindung tentu saja memiliki banyak sekali manfaat bagi manusia, dan
juga memiliki fungsi yang amat penting untuk menjaga dan juga menyangga
ekosistem agar tetap utuh. Karena itu, kita pun harus bisa m=ikut menjaga keberadaan
hutan lindung ini agar dapat lestari dan tetap berfungsi sebagaimana mestinya. berikut

ini adalah beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk membantu melestarikan hutan
lindung :

Tidak melakukan pembalakan liar pada wilayah hutan lindung

Menjaga kebersihan hutan lindung

Tidak melakukan perburuan hewan yang dilindungi di dalam hutan lindung

Mengurangi jumlah penggunaan polusi udara


Pemerintah sebenarnya sudah memberikan dukungan mengenai kelestarian

hutan lindung seperti Tap MPR dan juga keputusan Presiden yang mengarah kepada
kebijakan untuk ikut menjaga dan melestarikan hutan lindung. Namun demikian,
banyak dari masyarakat yang mungkin tidak mengetahui kebijakan yang dibuat oleh
pemerintah tersebut, sehingga pada akhirnya kebijakan pemerintah menjadi tidak
berguna sama sekali untuk membantu menjaga kelangsungan hidup dari hutan
lindung.
C. Kebijakan Pemerintah Mengenai Hutan Lindung
Berikut ini adalah beberapa kebijakan pemerintah yang mendukung
kelestarian dan juga pengelolaan hutan lindung :

Tap MPR No.IX Tahun 2001. Tap ini berisi tentang pembaruan agraria dan
pengelolaan Sumberdaya Alam, yang membahas mengenai penggunaan lahan
secara optimal dan juga adil, serta ramah lingkungan untuk kemakmuran rakyat.

Undang undang mengenai lingkungan. Ada banyak Undang Undang dan


juga Perpu yang ikut andil dalamm mengatur pengelolaan lingkungan alam dan
juga hutan lindung, seperti UU tentang pertambangan, Pengelolaan lingkungan

hidup, Keanekaragaman hayati, penataan ruang, Sumber daya air, dan masih
banyak lagi

Peraturan Pemerintah. Beberapa peraturan pemerintah atau PP juga


menyinggung mengenai kelangsungan hidup dan kebersihan lingkungan, seperti
perlindungan hutan, analisis dampak lingkungan, kawasan suaka alam dan
pelestarian, serta perencanaan kehutanan.

Keputusan Presiden. Keppres juga turut andil dalam membantu menjaga isis
dari hutan lindung dan keanekaragaman dari sisi hukum dan birokrasi. Keppres
ini berisi banyak hal, sepertipengelolaan lingkungan, pengelolaan pariwisata,
pengelolaan ekosistem, serta pengelolaan kawasan lindung.

Peraturan Menteri dan Peraturan daerah. Selain itu, Permen dan Perda
juga turut andil dalam membantu perlindungan dan pelestarian terhadap hutan
lindung secara hukum.
Contoh hutan lindung yang ada di Sulawesi tenggara adalah hutan lindung

Hutan

Lindung

Lambusango

dan

Kakenauwe,

Operation

Wallacea

telah

mengembangkan hutan lindung ini sebagai kawasan ecoturism yang berbasis ilmu
pengetahuan dan konservasi, kawasan ini kaya akan keanekaragaman dan keaslian
flora dan fauna dan sangat ideal bagi aktivitas petualangan seperti trekking, bird
watching, camping dan lain-lain.
2.4 Permasalahan yang muncul di Sulawesi Tenggara
Adhi Andriyamsyah dari BKSDA Sultra, mengatakan, kawasan hutan seluas
kurang lebih 700.000 hektar di perbatasan Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan
Sulawesi Tenggara itu menjadi habitat keragaman hayati terancam punah. Jenis-jenis
itu seperti anoa dataran tinggi (Bubalus quarlesi), anoa dataran rendah (Bubalus
depressicornis), kayu kalappia (Kalappia celebica), kayu bayam (Intsia bijuga), hada
(Macaca ochreata), dan kayu hitam (Diospyros celebica).

Hutan Routa juga menjadi habitat bagi satwa endemik Sulawesi, seperti elang
Sulawesi (Nisaetus lanceolatus). Routa memiliki keunikan lain karena salah satu situs
arkeologi asal usul Suku Tolaki. Namun, daerah penting ini terancam karena mulai
tergusur investasi perkebunan sawit dan tambang. Land clearing kurun 10 tahun
terakhir merusak vegetasi dan habitat satwa sekaligus mengancam ketersediaan
sumber air bersih warga.
Dengan menjadi KBA, Adhi berharap, kawasan ini bisa mendapat perhatian
CEPF atau pemerintah maupun pemerhati lingkungan. Selain Routa, ada sejumlah
daerah lain yang diusulkan masyarakat Sulawesi menjadi KBA, antara lain Pulau
Wawonii di Sulawesi Tenggara dan Tanakeke di Sulsel.
Meski demikian, kata Ria, status KBA tak mengubah lokasi menjadi kawasan
konservasi. Sebenarnya kita tidak berupaya menciptakan kawasan konservasi baru.
Identifikasi KBA salah satu bentuk strategi CEPF untuk menentukan prioritas
dukungan serta menggerakkan para pelaku konservasi di tingkat lokal, regional,
maupun global guna menciptakan visi konservasi yang sama. Strategi ini disusun
agar bantuan CEPF dapat memberi dampak paling efektif.
Strategi CEPF, fokus pada konservasi spesies terancam secara global,
kawasan-kawasan prioritas, dan koridor konservasidaerah yang menghubungkan
habitat-habitat kunci keragaman hayati. CEPF berharap, bisa memberi sumbangsih
pada pengentasan kemiskinan dan pengembangan ekonomi masyarakat.
Saat ini, Tim biodiversity Penyusunan Profil Ekosistem Wallacea berhasil
mengidentifikasi 293 calon KBA dengan total 13,89-juta hektar, baik di kawasan
konservasi maupun bukan. Dari jumlah itu, 230 area KBA darat dan 63 KBA laut.
Sulawesi memiliki KBA terbanyak yaitu 117 disusul Nusa Tenggara dengan 114 KBA
termasuk Timor-Leste memiliki 16 KBA darat dan satu KBA laut serta Maluku 62
KBA.

Khusus Sulawesi, wilayah Sulawesi Utara memiliki KBA terbanyak yaitu 30.
Di Gorontalo ada delapan KBA, Sulawesi Tengah 22, Sulawesi Barat tujuh, Sulawesi
Selatan 22 dan Sulawesi Tenggara 22 KBA.
Jenis berupa hibah utama Rp400 jutaRp1, 25 miliar (18 24 bulan), melalui
CEPF di Amerika Serikat. Ada juga hibah kecil di bawah Rp200 juta (12 bulan),
melalui lembaga pelaksana di tingkat lokal.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Hutan adalah suatu kawasan yang memiliki berbagai macam tumbuhan hijau
antara lain pohon, semak, paku-pakuan, jamur, rumput, dan masih banyak lagi serta
terdapat di wilayah yang cukup luas. Hutan berfungsi sebagai paru-paru bumi, habitat
makhluk hidup, hingga melestarikan tanah. Menurut (Pasal 1 Angka 4 UndangUndang No 5 Tahun 1967) menjelaskan jika kawasan hutan merupakan wilayahwilayah tertentu yang ditetapkan oleh Menteri untuk dipertahankan sebagai hutan
tetap. Kawasan hutan terdiri dari hutan lindung, hutan konservasi, dan hutan
produksi.
Hutan lindung adalah hutan yang dilindungi keberadaannya karena berperan
penting menjaga ekosistem. Kawasan hutan ditetapkan sebagai hutan lindung karena
berfungsi sebagai penyedia cadangan air bersih, penahan erosi, paru-paru kota atau fungsifungsi lainnya.
Namun saat ini hutan lindung semakin terancam keadaannya akibat kebutuhan
manusia yang terus meningkat namun tidak memerhatikan lingkungan yang sesungguhnya
lebih berharga.

DAFTAR PUSTAKA

Malinda, Giovani. 2016. Hutan sebagai paru-paru dunia. (online).


http://gurupintar.com/threads/jelaskan-mengapa-hutan-disebut-paru-parudunia.6510/. Diakses pada 24 Oktober 2016
Wijayanti,
Ratih.
2015.
Jenis
hutan
dan
fungsinya.
(online).
http://www.kompasiana.com/ratih_wijayanti/jenis-hutan-danfungsinya_55285803f17e61a23c8b4585. Diakses pada 24 Oktober 2016
Pratama, Aditya. 2014. Paru- paru Dunia Adalah Indonesia. (online).
http://www.kompasiana.com/aditya_pratama/paru-paru-dunia-adalahindonesia_54f70cb4a333111c2f8b45c8. Diakses pada 24 Oktober 2016
Risnandar, Cecep. 2016. Hutan Lindung. (online). https://jurnalbumi.com/hutanlindung/. Diakses pada 24 Oktober 2016
Agroteknologi. Pengertian dan definisi hutan dan kawasan hutan. (online).
http://agroteknologi.web.id/pengertian-dan-definisi-hutan-dan-kawasanhutan/. Diakses pada 24 Oktober 2016
Kementerian Kehutanan. 2015. Luas Kawasan Hutan dan Perairan1 Menurut
Provinsi
(ribu
ha).
(online).
https://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1716. Diakses pada 25 Oktober
2016
Kementerian Kehutanan. 2011. PETA DEGRADASI PERIODE TAHUN 2006 2009
PROVINSI
SULAWESI
TENGGARA.
https://app.box.com/s/qc1sszz1pt2tvwzf083a. Diakses pada 25 Oktober 2016
E-KKP3K. 2015. PROFIL KAWASAN KONSERVASI PROVINSI SULAWESI TENGGARA.
KEMENTERIAN
KELAUTAN
DAN
PERIKANAN.
http://kkji.kp3k.kkp.go.id/index.php/dokumen/finish/98-buku-cetakan-2015/900profil-kawasan-konservasi-provinsi-sulawesi-tenggara. Diakses pada 25 Oktober

2016
Chandra, Wahyu. 2013. Hutan Lindung di Sulawesi jadi Sasaran Konversi Lahan.
(online). http://www.mongabay.co.id/2013/09/26/hutan-lindung-di-sulawesijadi-sasaran-konversi-lahan/. Diakses pada 25 Oktober 2016