Anda di halaman 1dari 43

LAPORAN KEGIATAN

USAHA KESEHATAN MASYARAKAT


F.1 F.6

Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Dalam Menempuh Program Dokter


Internsip
Di Puskesmas Dlingo I

Disusun Oleh :
dr. Galih Arya Wijaya

PROGRAM DOKTER INTERNSIP INDONESIA


PUSKESMAS DLINGO I KABUPATEN BANTUL
YOGYAKARTA
2017

LAPORAN KEGIATAN USAHA KESEHATAN


MASYARAKAT

F.1. UPAYA PROMOSI KESEHATAN DAN


PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

PENYULUHAN PENYAKIT MENULAR SEKSUAL PADA


REMAJA DI SMP WILAYAH CAKUPAN PUSKESMAS
DLINGO I

Disusun Oleh :
dr. Galih Arya Wijaya
Dokter Internsip Periode 10 Februari 2016 10 Februari 2017

PROGRAM DOKTER INTERNSIP INDONESIA


PUSKESMAS DLINGO I KABUPATEN BANTUL
YOGYAKARTA
2017

HALAMAN PENGESAHAN
Laporan Kegiatan Usaha Kesehatan Masyarat
F.1. Upaya Promosi Kesehatan Dan Pemberdayaan Masyarakat

Topik :

PENYULUHAN PENYAKIT MENULAR SEKSUAL PADA


REMAJA DI SMP WILAYAH CAKUPAN PUSKESMAS
DLINGO I

Diajukan dan dipresentasikan dalam rangka praktik klinis dokter


internsip sekaligus sebagai syarat menyelesaikan Program Dokter
Internsip Indonenesia di Puskesmas Dlingo I Kabupaten Bantul,
Yogyakarta

Disusun Oleh :
dr. Galih Arya Wijaya
Telah diperiksa dan disetujui pada

Januari 2017

Oleh :
Pendamping Dokter Internsip

dr. Nur Ahsani


NIP 198210132009031006

A. LATAR BELAKANG
Infeksi Menular Seksual (IMS) merupakan salah satu dari sepuluh
penyebab pertama penyakit yang tidak menyenangkan pada dewasa muda
laki- laki dan penyebab kedua terbesar pada dewasa muda perempuan di
negara berkembang. Dewasa dan remaja (15- 24 tahun) merupakan 25%
dari semua populasi yang aktif secara seksual, tetapi memberikan
kontribusi hampir 50% dari semua kasus IMS baru yang didapat. Kasuskasus IMS yang terdeteksi hanya menggambarkan 50%- 80% dari semua
kasus IMS yang ada di Amerika. Ini mencerminkan keterbatasan
screening dan rendahnya pemberitaan akan IMS.
Secara geografis Puskesmas Dlingo I berada pada wilayah
pegunungan dengan kecendrungan masyarakat yang masih tradisional.
Pernikahan usia dini pada umur 16 hingga 18 tahun sering ditemukan.
Trend hubungan seksual secara bebas juga mencolok terjadi pada usia dini.
Dalam beberapa kasus pelayanan umum dijumpai infeksi ghonorea pada
usia pelajar. Rendahnya pengetahuan anak usia remaja mengenai penyakit
menular seksual juga memicu terjadinya infeksi menular.
B. PERMASALAHAN
Infeksi menular seksual secara nyata ada dan berbanding lurus
dengan tren hubungan seksual yang promiskuistis. Gempuran globalisasi
dengan akses internet yang tak terbatas menyebabkan anak-anak usia
remaja terekspos dengan konten yang belum selayaknya mereka lihat.
Masyarakat yang cenderung memaklumkan tindakan-tindakan diluar
norma mendukung terjadinya kasus-kasus kehamilan yang tak diinginkan
dan kejadian infeksi menular seksual.
C. PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI
Intervensi yang akan dilakukan adalah melakukan penyuluhan
mengenai penyakit menular seksual pada remaja. Penyuluhan akan
dilakukan door to door ke tiap SMP di cakupan wilayah Puskesmas Dlingo
1. Penyuluhan akan menitikberatkan pada kesehatan reproduksi dan
penyakit menular seksual. Penyuluhan dilakukan dengan presentasi di

kelas dan dihadiri oleh siswa SMP bersangkutan. Peserta berjumlah ratarata 30-50 tiap SMP terdiri dari perwakilan kelas VII, VIII dan IX.
D. PELAKSANAAN
Penyuluhan ini merupakan salah satu penyuluhan yang dilakukan
pada total 13 SMP di cakupan wilayah Puskesmas Dlingo 1. Penyuluhan
ini dilaksanakan pada hari Kamis, 8 Desember 2016 di SMP Taman
Dewasa dengan peserta terdiri dari perwakilan kelas VII, VIII dan IX.
Jumlah total peserta 30 anak dengan 28 laki-laki dan 2 perempuan.
Penyuluhan ini dilakukan dengan presentasi beserta sistem mind
mapping masalah pada white board yang telah disediakan. Slide presentasi
sudah disediakan.
Peserta diminta untuk turut serta aktif dalam pelatihan ini.
Narasumber menjelaskan materi dengan media power point kemudian
diikuti dengan tanya jawab dan beberapa pertanyaan recalling untuk
pengingat kembali materi-materi yang sudah disampaikan.
E. MONITORING DAN EVALUASI
Jika dilihat secara kepesertaan memang jumlah belum maksimal.
Namun memang sekolah ini memiliki jumlah murid yang relatif sedikit.
Jumlah murid yang hadir tersebut sudah sekitar 50 persen dari total jumlah
murid sekolah tersebut. Atensi siswa juga susah untuk dikendalikan.
Siswa-siswa cenderung berteriak-teriak dan mengganggu jalannya
penyuluhan. Namun hal tersebut masih dapat dikendalikan dan
dikondisikan.
Penyuluhan berikutnya bisa dilakukan dalam bentuk small working
group. Bentuk SWG akan meningkatkan penyerapan informasi yang
diberikan oleh pemateri. Jumlah pemateri juga harus dtambah sehingga
menjadi lebih efektif.

Dlingo,

Januari 2017

Mengetahui,
Pendamping Dokter Internsip

dr. Nur Ahsani

Pelaksana Kegiatan

dr. Galih Arya Wijaya

NIP 198210132009031006

Dokter Internsip

LAPORAN KEGIATAN USAHA KESEHATAN


MASYARAKAT

F.2. UPAYA KESEHATAN LINGKUNGAN

PENYULUHAN CUCI TANGAN PAKAI SABUN UNTUK


IBU-IBU DAN LANSIA PESERTA POSYANDU

Disusun Oleh :
dr. Galih Arya Wijaya
Dokter Internsip Periode 10 Februari 2016 10 Februari 2017

PROGRAM DOKTER INTERNSIP INDONESIA


PUSKESMAS DLINGO I KABUPATEN BANTUL
YOGYAKARTA
2017

HALAMAN PENGESAHAN
Laporan Kegiatan Usaha Kesehatan Masyarat
F.2. Upaya Kesehatan Lingkungan

Topik :

PENYULUHAN CUCI TANGAN PAKAI SABUN UNTUK


IBU-IBU DAN LANSIA PESERTA POSYANDU

Diajukan dan dipresentasikan dalam rangka praktik klinis dokter


internsip sekaligus sebagai syarat menyelesaikan Program Dokter
Internsip Indonenesia di Puskesmas Dlingo I Kabupaten Bantul,
Yogyakarta

Disusun Oleh :
dr. Galih Arya Wijaya
Telah diperiksa dan disetujui pada

Januari 2017

Oleh :
Pendamping Dokter Internsip

dr. Nur Ahsani


NIP 198210132009031006

A. LATAR BELAKANG
PHBS atau Perilaku Hidup Bersih dan Sehat merupakan salah satu
strategi yang dicanangkan oleh Departemen Kesehatan untuk mencapai
tujuan pembangunan Millenium 2015 melalui rumusan visi dan misi
Indonesia Sehat, sebagaimana yang dicita-citakan oleh seluruh masyarakat
Indoensia dalam menyongsong Millenium Development Goals (MDGs)
PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) merupakan sekumpulan
perilaku yang dipraktikan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran,
yang menjadikan seorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri di
bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan
masyarakat.PHBS merupakan salah satu pilar utama dalam Indoensia
Sehat dan merupakan salah satu strategi untuk mengurangi beban Negara
dan masyarakat terhadap pembiayaan kesehatan.
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat harus diterapkan dalam setiap sisi
kehidupan manusia kapan saja dan dimana saja. PHBS di rumah
tangga/keluarga , institusi kesehatan , tempat-tempat umum, sekolah
maupun di tempat kerja karena perilaku merupakan sikap dan tindakan
yang akan membentuk kebiasaan sehingga melekat dalam diri seseorang.
Cuci tangan memakai sabun merupakan salah satu elemen penting
dalam PHBS. Tangan memegang peranan penting dalam transmisi
penyakit khususnya penyakit-penyakit food bourne.
B. PERMASALAHAN
Angka kesakitan karena diare cair akut cukup tinggi pada wilayah
puskesmas Dlingo I. Bahkan diare masuk dalam 3 besar penyakit rawat inap di
Puskesmas Dlingo I.
Sepuluh besar penyakit

rawat inap yang dilaporkan di wilayah

puskesmas dlingo 1 pada tahun 2015


1. Dispesia (K30)

: 62

2. Gastritis (K29)

: 45

3. Diare (A09)

: 37

4. Hipertensi (I10)

: 32

5. Febris (R50)

: 20

6. Vomitus (R11)

: 19

7. Asma (J45)

: 15

8. Vertigo (H81.4)

: 14

9. Faringitis (J02))

:8

10. Colic Abdomen (R10.0)

:5

Chart Persentase Penyakit Rawat Inap di Puskesmas Dlingo I

Faringitis (J02); 3% Colic Abdomen (R10.0); 2%


Vertigo (H81.4); 5%
Dispesia (K30); 24%
Asma (J45); 6%
Vomitus (R11); 7%
Febris (R50); 8%

Gastritis (K29); 18%

Hipertensi (I10); 12%


Diare (A09); 14%

C. PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI


Intervensi yang dipilih adalah dengan metode penyuluhan dan
pelatihan. Metode ini dianggap paling sesuai dengan tujuan kami, yaitu
memberikan informasi mengenai cara cuci tangan memakai sabun yang
benar. Peserta akan di informasikan mengenai waktu-waktu kapan
sebaiknya mencuci tangan dan cara mencuci tangan yang benar dengan
peragaan. Peragaan cuci tangan yang benar harus ditirukan oleh peserta

dan pada akhirnya peserta akan diminta mendemonstrasikan cuci tangan


yang baik.

D. PELAKSANAAN
Penyuluhan dan pelatihan mengenai cuci tangan pakai sabun
dilakukan pada hari Rabu, 4 Januari 2017 di Posyandu Desa
Salam.Penyuluhan berlangsung kurang lebih 40 menit, kemudian
dilanjutkan dengan pelatihan serta role play selama 10 menit dan 10 menit
Tanya jawab. Penyuluhan dihadiri oleh sekitar 20 peserta yang terdiri dari
ibu-ibu dan lansia yang berkunjung di posyandu. Peserta nampak antusias,
mendengarkan, menyimak, merespon ketika diberi materi, aktif mengikuti
dan melaksanakan pelatihan dan bertanya saat sesi tanya jawab.
E. MONITORING DAN EVALUASI
Secara umum penyuluhan berjalan dengan lancar. Peserta
mengikuti penyuluhan dengan baik. Peserta juga dapat melakukan
demonstrasi ulang. Penyuluhan seperti ini perlu dilakukan pada setiap
posyandu yang diadakan. Hasil akhirnya dapat diamati dengan evaluasi
angka kejadian diare di akhir tahun.

Dlingo,

Januari 2017

Mengetahui,
Pendamping Dokter Internsip

dr. Nur Ahsani

Pelaksana Kegiatan

dr. Galih Arya Wijaya

NIP 198210132009031006

Dokter Internsip

LAPORAN KEGIATAN USAHA KESEHATAN


MASYARAKAT

F.3. UPAYA KESEHATAN IBU DAN ANAK (KIA) SERTA KELUARGA


BERENCANA (KB)

PENYULUHAN ANEMIA PADA KEHAMILAN

Disusun Oleh :
dr. Galih Arya Wijaya
Dokter Internsip Periode 10 Februari 2016 10 Februari 2017

PROGRAM DOKTER INTERNSIP INDONESIA


PUSKESMAS DLINGO I KABUPATEN BANTUL
YOGYAKARTA
2017

HALAMAN PENGESAHAN
Laporan Kegiatan Usaha Kesehatan Masyarat
F.3. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Serta Keluarga Berencana
(KB)

Topik :

PENYULUHAN ANEMIA PADA KEHAMILAN

Diajukan dan dipresentasikan dalam rangka praktik klinis dokter


internsip sekaligus sebagai syarat menyelesaikan Program Dokter
Internsip Indonenesia di Puskesmas Dlingo I Kabupaten Bantul,
Yogyakarta

Disusun Oleh :
dr. Galih Arya Wijaya
Telah diperiksa dan disetujui pada

Januari 2017

Oleh :
Pendamping Dokter Internsip

dr. Nur Ahsani


NIP 198210132009031006

A. LATAR BELAKANG
Angka anemia pada kehamilan di Indonesia cukup tinggi sekitar
67% dari semua ibu hamil dengan variasi tergantung pada daerah masingmasing. Sekitar 10-15% tergolong anemia berat yang sudah tentu akan
mempengaruhi tumbuh kembang janin dalam rahim (Manuaba, I.B.G,
2002 hal 90).
Anemia dalam kehamilan merupakan salah satu masalah kesehatan
yang banyak dialami dan cukup tinggi yang berkisar antara 10-20%
(Sarwono Prawiharjo, 2005 hal 450 ).
Menurut WHO kejadian anemia saat hamil berkisar antara 20%
sampai 89% dengan menetapkan Hb 11 gr % sebagai dasarnya. Angka
anemia kehamilan di Indonesia menunjukkan nilai yang cukup tinggi.
(Manuaba.I.B.G, hal 29 ).
Faktor yang berpengaruh terhadap kejadian anemia ini adalah ;
kurang gizi, selain itu anemia pada ibu hamil disebabkan karena kehamilan
berulang dalam waktu singkat, cadangan zat besi ibu sebenarnya belum
pulih, terkuras oleh keperluan janin yang di kandung berikutnya. Oleh
karena itu penyuluhan tentang anemia pada kehamilan sangat penting
untuk dilakukan.
B. PERMASALAHAN
Tingginya anemia yang menimpa ibu hamil memberikan dampak
negative terhadap janin yang di kandung dari ibu dalam kehamilan,
persalinan maupun nifas yang di antaranya akan lahir janin dengan berat
badan lahir rendah (BBLR), partus premature, abortus, pendarahan post
partum, partus lama dan syok. Hal ini tersebut berkaitan dengan banyak
factor antara lain ; status gizi, umur, pendidikan, dan pekerjaan ( Sarwono
Prawirohardjo, 2005 hal. 450 ).
Cakupan pelayanan Puskesmas Dlingo I sebetulnya sudah
berangsur-angsur membaik. Cakupan pemeriksaan Ibu Hamil K4 dari
tahun 2014 sampai dengan 2015 cenderung meningkat drastis dari 57.6%

menjadi 84,8 walau masih belum tercapai sesuai Standar 95%. Tentu
anemia pada ibu hamil yang merupakan salah satu penanda ibu dengan
resiko kehamilan tinggi akan terdampak dari cakupan pemeriksaan
tersebut.
Grafik Cakupan Kecenderungan Pemeriksaan Ibu Hamil K4 di
Wilayah Kerja Puskesmas Dlingo 1 Tahun 2010 2015
120%
100% 97%

97%

94%
85%

80%
60%

54%

58%

40%
20%
0%
2010

2011

2012

2013

2014

C. PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI


Penyuluhan dilakukan dengan presentasi didepan

2015

peserta

menggunakan lembar balik. Penyuluhan berisi materi mengenai definisi


anemia, cara-cara penanggulangan anemia dan resiko anemia pada ibu
hamil. Hal ini dirasa cukup efektif karena materi anemia ini juga
dibawakan bersama dengan materi kesehatan ibu hamil secara umum.
D. PELAKSANAAN
Penyuluhan mengenai anemia pada ibu hamil ini dilakukan pada
hari Jumat, 16 Desember 2016. Materi pertama yang disampaikan adalah
mengenai kesehatan pada ibu hamil yang mencakup proses persalinan
hingga penyakit-penyakit pada ibu hamil. Setelah itu materi mengenai
anemia disampaikan dengan alat bantu berupa lembar balik. Total jumlah
peserta ada 15 ibu hamil. Seluruh peserta mengikuti penyuluhan dengan
seksama dan sangat kooperatif. Pada akhir sesi diberikan waktu untuk

tanya jawab dan para peserta secara aktif bertanya mengenai hal yang
belum jelas.
E. MONITORING DAN EVALUASI
Penyuluhan mengenai anemia secara mendalam kepada ibu hamil
masih perlu terus dilakukan. Materi yang biasa diberikan pada ibu hamil
hanya menyentuh bagian superfisial dari anemia. Penyuluhan ini akan
meningkatkan pengetahuan ibu mengenai bahaya dan cara pencegahan
anemia pada kehamilan secara signifikan. Evaluasi perlu dilakukan dengan
cara memonitor angka kejadian ibu anemia.

Dlingo,

Januari 2017

Mengetahui,
Pendamping Dokter Internsip

dr. Nur Ahsani

Pelaksana Kegiatan

dr. Galih Arya Wijaya

NIP 198210132009031006

Dokter Internsip

LAPORAN KEGIATAN USAHA KESEHATAN


MASYARAKAT

F.4. UPAYA PERBAIKAN GIZI

PENYULUHAN ANEMIA PADA REMAJA

Disusun Oleh :
dr. Galih Arya Wijaya
Dokter Internsip Periode 10 Februari 2016 10 Februari 2017

PROGRAM DOKTER INTERNSIP INDONESIA


PUSKESMAS DLINGO I KABUPATEN BANTUL
YOGYAKARTA
2017

HALAMAN PENGESAHAN
Laporan Kegiatan Usaha Kesehatan Masyarat
F.4. Upaya Perbaikan Gizi

Topik :

PENYULUHAN ANEMIA PADA REMAJA

Diajukan dan dipresentasikan dalam rangka praktik klinis dokter


internsip sekaligus sebagai syarat menyelesaikan Program Dokter
Internsip Indonenesia di Puskesmas Dlingo I Kabupaten Bantul,
Yogyakarta

Disusun Oleh :
dr. Galih Arya Wijaya
Telah diperiksa dan disetujui pada

Januari 2017

Oleh :
Pendamping Dokter Internsip

dr. Nur Ahsani


NIP 198210132009031006

A. LATAR BELAKANG
Anemia adalah suatu keadaan tubuh yang ditandai dengan
defisiensi pada ukuran dan jumlah eritrosit atau pada kadar hemoglobin
yang tidak mencukupi untuk fungsi pertukaran O2 dan CO2 di antara
jaringan darah. Anemia hingga saat ini masih menjadi masalah kesehatan
utama di Indonesia selain masalah kurang energi protein, kurang vitamin A
dan gangguan akibat kurang yodium (GAKI) (Almatsier, 2009).
Anemia lebih banyak diderita oleh anak remaja putri dibandingkan
anak-anak dan usia dewasa, karena remaja putri berada pada masa
pertumbuhan dan perkembangan sehingga lebih banyak membutuhkan
sumber besi, selain itu remaja memerlukan lebih banyak besi untuk
mengganti besi yang hilang bersama darah haid. Remaja dengan anemia
kemudian hamil akan mengalami resiko seperti perdarahan antepartum,
abortus, persalinan premature, hambatan tumbuh kembang janin dan
mudah terinfeksi (Manuaba, 2004).

B. PERMASALAHAN
Faktor utama yang menyebabkan anemia adalah asupan zat besi
yang kurang sekitar dua per tiga zat besi dalam tubuh terdapat dalam sel
darah merah hemoglobin. Faktor yang berhubungan dengan kejadian
anemia pada remaja putri yaitu investasi cacing, pendidikan, pengetahuan,
jenis pekerjaan orang tua, pendapatan orang tua dan pola menstruasi.
Wilayah perkotaan atau pedesaan berpengaruh melalui mekanisme yang
berhubungan dengan ketersediaan sarana fasilitas kesehatan maupun
ketersediaan makanan yang pada gilirannya berpengaruh pada pelayanan
kesehatan dan asupan zat besi (Arisman, 2010).
Masalah anemia dapat disebabkan dari pola makan termasuk dalam
hal pemilihan makanan pada remaja, sebab remaja sudah pintar dan dalam
pemilihan makanan tidak lagi berdasarkan kebutuhan tetapi hanya selera
tanpa memperhatikan nilai gizi yang terkandung dalam makanan.

Kebiasaan makan yang diperolah semasa remaja akan berdampak pada


kesehatan dalam fase kehidupan selanjutnya, setelah dewasa dan berusia
lanjut. Kekurangan besi dapat menimbulkan anemia dan keletihan
(Arisman, 2010).
C. PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI
Intervensi dilakukan dengan cara melakukan penyuluhan pada
kader anemia yang sudah dipilih dari perwakilan SMA-SMA yang ada
pada cakupan wilayah Puskesmas Dlingo I. Peserta berjumlah total 30
siswi bervariasi dari kelas X dan kelas XI. Penyuluhan menggunakan
power point dalam setting kelas. Penyuluhan dilakukan di ruang Hall
Puskesmas Dlingo I. Penyuluhan dilakukan kurang lebih 1 jam dengan
sesi presentasi dan tanya jawab.
D. PELAKSANAAN
Penyuluhan ini dilaksanakan pada hari Rabu, 14 Desember 2016 di
hall Puskesmas Dlingo I. Penyuluhan diikuti sesuai dengan jumlah
undangan yaitu 30 peserta. Penyuluhan berjalan dengan lancar dan
interaktif. Sebelum penyuluhan dilakukan pre test dan kemudian akan
dilakukan post test pasca penyuluhan. Data pre test dan post test tersebut
dapat menjadi data untuk dianalisis pada mini project.
E. MONITORING DAN EVALUASI
Peserta tampak antusias dengan materi yang diberikan. Antusias
peserta

juga

terlihat

dengan

tidak

sedikitnya

pertanyaan

yang

diajukan.Melihat antusiasme tersebut, sebaiknya dilakukan kembali


penyuluhan dengan materi ini di kesempatan lainnya. Penyuluhan dapat
dilakukan berkala dengan mengunjungi langsung sekolah dan mengadakan
pertemuan dengan kader untuk dilakukan follow up.

Dlingo,

Januari 2017

Mengetahui,
Pendamping Dokter Internsip

dr. Nur Ahsani

Pelaksana Kegiatan

dr. Galih Arya Wijaya

NIP 198210132009031006

Dokter Internsip

LAPORAN KEGIATAN USAHA KESEHATAN


MASYARAKAT

F.5. PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN

PENYAKIT TIDAK MENULAR

EDUKASI MENGENAI DETEKSI PENYAKIT JANTUNG PADA


KADER LANSIA PUSKESMAS DLINGO I

Disusun Oleh :
dr. Galih Arya Wijaya
Dokter Internsip Periode 10 Februari 2016 10 Februari 2017

PROGRAM DOKTER INTERNSIP INDONESIA


PUSKESMAS DLINGO I KABUPATEN BANTUL
YOGYAKARTA
2017

HALAMAN PENGESAHAN
Laporan Kegiatan Usaha Kesehatan Masyarat
F.5. Pencegahan dan Pemberantasan
Penyakit Tidak Menular

Topik :
EDUKASI MENGENAI DETEKSI PENYAKIT JANTUNG PADA
KADER LANSIA PUSKESMAS DLINGO I

Diajukan dan dipresentasikan dalam rangka praktik klinis dokter


internsip sekaligus sebagai syarat menyelesaikan Program Dokter
Internsip Indonenesia di Puskesmas Dlingo I Kabupaten Bantul,
Yogyakarta

Disusun Oleh :
dr. Galih Arya Wijaya
Telah diperiksa dan disetujui pada

Januari 2017

Oleh :
Pendamping Dokter Internsip

dr. Nur Ahsani


NIP 198210132009031006
A. LATAR BELAKANG

Penyakit jantung koroner merupakan kasus utama penyebab


kematian dan kesakitan pada manusia. Meskipun tindakan pencegahan
sudah dilakukan seperti pengaturan makanan (diet), menurunkan
kolesterol dan perawatan berat badan, diabetes dan hipertensi, penyakit
jantung koroner ini tetap menjadi masalah utama kesehatan. Masalah
utama pada penyakit jantung koroner adalah aterosklerosis koroner.
Merupakan penyakit progresif yang terjadi secara bertahap yaitu
penebalan dinding arteri koroner. Aterosklerosis koroner dianggap sebagai
proses pasif karena sebagian besar dihasilkan oleh kolesterol yang berada
pada dinding arteri (Yuet Wai Kan, 2010).
B. PERMASALAHAN
Penyakit jantung koroner dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Banyaknya faktor yang mempengaruhi ini membuat penyakit ini sulit
untuk diturunkan jika tak dilakukan pencehgahan secara dini.

Tabel diatas menunjukkan berbagai faktor yang mempengaruhi


risiko penyakit jantung. Darah tinggi menjadi salah satu penyakit
terbanyak yang ditangani pada poliklinik umum di Puskesmas Dlingo I.
Dan jika disimpulkan secara linier maka banyaknya kejadian hipertensi
otomatis akan meningkatkan risiko penyakit jantung di masyarakat.
Sepuluh besar penyakit

rawat jalan yang dilaporkan di

wilayah puskesmas dlingo1 pada tahun 2015

1. Hipertensi ( I10 )

:2194

2. Faringitis Akut (J02.9)

:1524

3. Comon Cold (J00)

: 989

4. Cephalgia (R51)

: 631

5. Diabetes Melitus (E14)

: 573

6. Febris (M13)

: 487

7. Dispepsia (K30)

: 461

8. Myalgia (M79.1)

: 411

9. Penyakit pulpa dan jaringan periapikal (K04): 345

10.Arthritis (M13)

: 328

Penyakit pulpa dan jaringan periapikal (K04); 4% Arthritis (M13); 4%


Myalgia (M79.1); 5%
Hipertensi ( I10); 28%
Dispepsia (K30); 6%
Febris (M13); 6%
Diabetes Melitus (E14); 7%
Cephalgia (R51); 8%

Faringitis Akut (J02.9); 19%

Comon Cold (J00); 12%

C. PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI

Mengingat peserta penyuluhan didominasi oleh lansia dan ibu-ibu


dengan latar belakang pendidikan yang rendah maka pemilihan metode
harus dilakukan dengan hati-hati. Media dan konten yang digunakan untuk
menyampaikan informasi juga harus dicermati sehingga penyuluhan dapat
berjalan dengan efektif. Penyuluhan akan menggunakan power point dan
LCD dan konten akan lebih banyak gambar dan diagram daripada tulisan.
Bahasa penyampaian juga dipilih dengan bahasa paling sederhana dan
mudah dipahami. Penyuluhan akan dilakukan disaat rapat akhir taun kader
lansia yang akan dilaksanakan di Hall Puskesmas Dlingo I. Target peserta
adalah 50 peserta
D. PELAKSANAAN
Penyuluhan dilakukan pada hari Kamis 22 Desember 2016 di Hall
Puskesmas Dlingo I. Peserta yang datang berjumlah 48 orang yang terdiri
dari para kader lansia tiap desa cakupan wilayah Puskesmas Dlingo I. Pada
awal pelaksanaan sempat terjadi sedikit masalah pada media penyuluhan
karena tidak mau terhubung dengan LCD. Namun permasalahan dapat
diatasi dan penyuluhan dilaksanakan dengan baik. Para peserta menyimak
dengan seksama dan banyak feedback diberikan dari para peserta. Konten
yang diberikan meliputi definisi dan penyebab penyakit jantung, cara dini
mendeteksi penyakit jantung dan pencegahan penyakit jantung.

E. MONITORING DAN EVALUASI


Tanggapan peserta mengenai penyuluhan ini sangat positif.
Menurut mereka ilmu tersebut sangat praktikal dan menjadi pengetahuan
baru mengenai kegawatan pada penyakit jantung. Meraka dapat menjadi
tahu tanda-tanda bahaya pada penyakit jantung. Oleh karena itu
penyuluhan ini sebaiknya rutin dilakukan saat pertemuan kader, posbindu
atau posyandu

Dlingo,

Januari 2017

Mengetahui,
Pendamping Dokter Internsip

dr. Nur Ahsani


NIP 198210132009031006

Pelaksana Kegiatan

dr. Galih Arya Wijaya


Dokter Internsip

LAPORAN KEGIATAN USAHA KESEHATAN


MASYARAKAT

F.6. UPAYA PENGOBATAN DASAR

DIARE CAIR AKUT

Disusun Oleh :
dr. Galih Arya Wijaya
Dokter Internsip Periode 10 Februari 2016 10 Februari 2017

PROGRAM DOKTER INTERNSIP INDONESIA


PUSKESMAS DLINGO I KABUPATEN BANTUL
YOGYAKARTA
2017

HALAMAN PENGESAHAN
Laporan Kegiatan Usaha Kesehatan Masyarat
F.6. Upaya Pengobatan Dasar

Topik :

DIARE CAIR AKUT

Diajukan dan dipresentasikan dalam rangka praktik klinis dokter


internsip sekaligus sebagai syarat menyelesaikan Program Dokter
Internsip Indonenesia di Puskesmas Dlingo I Kabupaten Bantul,
Yogyakarta

Disusun Oleh :
dr. Galih Arya Wijaya
Telah diperiksa dan disetujui pada

Januari 2017

Oleh :
Pendamping Dokter Internsip

dr. Nur Ahsani


NIP 198210132009031006
A. NAMA KEGIATAN
Upaya Pengobatan Dasar pada Diare Cair Akut

B. LATAR BELAKANG KEGIATAN


Diare Cair Akut merupakan keluhan yang paling sering dikeluhkan pasien
ketika datang ke pelayanan kesehatan disamping keluhan demam dan batuk
pilek. Kebiasaan jajan sembarangan, higienitas makanan yang kurang,
kebiasaan cuci tangan yang masih banyak ditinggalkan dapat menjadi faktor
pemicu timbulnya penyakit ini.
Dehidrasi atau kekurangan cairan dapat menjadi komplikasi serius yang
sangat perlu diwaspadai.Oleh karena itu pentingnya pemahaman mengenai
penyakit ini perlu ditingkatkan.
C. MANAJEMEN KASUS
a. Identitas
Nama

: Tn. S

Jenis Kelamin

: Laki-Laki

Tanggal lahir

: 18 Agustus 1977

Usia

: 38 tahun

Alamat

: Kebosungu 2

Tanggal Periksa

: 2 Desember 2016

b. Keluhan Utama
BAB cair 10 kali
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mengaku BAB cair sejak tadi malam kurang lebih 10 kali, darah (-),
lender (+) seperti cucian beras (-).Keluhan tidak disertai mual, muntah,
maupun nyeri perut.Tetapi pasien juga mengeluhkan demam yang tidak
begitu tinggi sejak kemarin disertai batuk dan pilek. Riwayat jajan (-)
riwayat makan-makanan pedas (+)
d. Riwayat penyakit dahulu :
Keluhan serupa (-)

Hipertensi atau tekanan darah tinggi (+) berobat rutin mengkonsumsi


amlodipine tablet 5 mg 1x1
Riwayat mondok (-)
Riwayat alergi (-)
Riwayat alergi obat (-)
e. Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat penyakit serupa pada keluarga (+): kemarin istri dari pasien
mengalami diare namun diobati langsung sembuh
Riwayat hipertensi (+): bapak dari pasien
Riwayat penyakit jantung (-)
Riwayat diabetes mellitus (-)
Riwayat alergi (-)
Riwayat asma (-)
f. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum

: Cukup, Compos Mentis

Vital Sign

: TD 100/80 N:110x/menit R: 18x/menit T: 37

Status Gizi

: BB:63kg

Kepala/Leher

: CA (-), SI (-), sianosis (-)

Thorax

: cor/ cardiomegali (-), S1-S2 reguler

TB: 167cm status gizi normal

pulmo/ retraksi dinding dada (-), sonor (+/+),


vesikuler (+/+), suara tambahan (-/-)
Abdomen

: peristaltik (meningkat), supel (+), NT (+)ulu hati,


timpani (+)

Extremitas

: akral hangat (+), nadi kuat (+), CRT<2 detik,


edema (-)

Tanda dehidrasi (-)

g. Pemeriksaan Penunjang

Feses Rutin
Warna : Kuning
Konsistensi : Cair
Bau : negative
Darah : negative
Telur cacing : negative
Lendir : (+)
Protozoa : E. Coli
h. Resume Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik
Pasien mengaku BAB cair sejak tadi malam kurang lebih 10
kali.Cairan lebih banyak disbanding ampas.Mulas (+).Mual (-) muntah
(-).Pasien mengaku habis mengkonsumsi makanan pedas.
Pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan tanda dehidrasi hanya saja
peristaltik meningkat dan nadi mulai cepat. Berdasarkan hasil
pemeriksaan penunjang feses rutin ditemukan E.colli pada feses
i. Diagnosis
Diare Cair Akut e.c Amoebiasis dengan dehidrasi Ringan-Sedang
j. Treatment dan Planning
Infus RL 30 tpm dengan didahului loading 300cc
Metronidazole 3x500mg
Attapulgit 2 tablet tiap diare
Zinc 1x1tab
Ranitidin 2x1 tab
Oralit diminum 100cc tiap kali BAB cair
Intake cairan peroral ditingkatkan
k. Edukasi
o Metronidazol diminum hingga habis

o Perbanyak minum airputih supaya terhindar dari dehidrasi


o Tingkatkan higienitas dengan makan-makanan yang bersih,
mencuci tangan sebelum dan sesudah makan.
D. TINJAUAN PUSTAKA
a. Definisi
- Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau
setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari
biasanya lebih dari 200 gram atau 200 ml/24 jam. Definisi lain memakai
criteria frekuensi, yaitu buang air besar encer lebih dari 3 kali per hari.
-

Buang besar encer tersebut dapat/tanpa disertai lendir dan darah.


Diare akut yaitu diare yang berlangsung kurang dari 15 hari. Sedangkan
menurut World Gastroenterology Organization global guidelines 2005,
diare akut didefinisikan sebagai pasase tinja yang cair/lembek dengan

jumlah lebih banyak dari normal, berlangsung kurang dari 14 hari.


Diare kronik adalah diare yang berlangsung lebih dari 15 hari.
Sebenarnya para pakar di dunia telah mengajukan beberapa criteria
mengenai batasan kronik pada kasus diare tersebut, ada yang 15 hari, 3
minggu, 1 bulan, dan 3 bulan, tetapi di Indonesia dipilih waktu lebih dari
15 hari agar dokter tidak lengah, dapat lebih cepat menginvestigasi

penyebab diare dengan lebih tepat.


Diare persisten merupakan istilah yang dipakai di luar negeri yang
menyatakan diare yang berlangsung 15-30 hari yang merupakan
kelanjutan dari diare akut (peralihan antara diare akut dan kronik, dimana

lama diare kronik yang dianut yaitu yang berlangsung lebih dari 30 hari).
Diare infektif adalah bila penyebabnya infeksi. Sedangkan diare
noninfektif bila tidak ditemukan infeksi sebagai penyebab pada kasus

tersebut.
Diare organic adalah bila ditemukan penyebab anatomik, bakteriologik,
hormonal atau toksikologik. Diare fungsional bila tidak ditemukan

penyebab organik.
b. Klasifikasi:
Diare dapat diklasifikasikan berdasarkan :

1. Lama waktu diare : akut atau kronik,


2. Mekanisme patofisiologis: osmotic atau sekretorik,
3. Berat ringan diare: kecil atau besar,
4. Penyebab infeksi atau tidak: infektif atau non-infektif,
5. Penyebab organic atau tidak: organic atau fungsional.
c. ETIOLOGI
Diare akut disebabkan oleh banyak penyebab antara lain infeksi (bakteri,
parasit, virus), keracunan makanan, efek obat-obatan dan lain-lain.
Infeksi
1. Enteral
1.1 Bakteri: Shigella sp, E.coli pathogen, Salmonella sp, Vibrio
cholera,

Yersinia

entero

V.parahaemoliticus,

colytica,

V.NAG.,

Compylobacter

Staphylococcus

jejuni,
aureus,

Streptococcus, Klebsiella, Pseudomonas, Aeromonas, Proteus dll.


a. Enterotoxigenic E.coli (ETEC). Mempunyai 2 faktor virulensi
yang penting yaitu faktor kolonisasi yang menyebabkan bakteri
ini melekat pada enterosit pada usus halus dan enterotoksin
(heat labile (HL) dan heat stabile (ST) yang menyebabkan
sekresi cairan dan elektrolit yang menghasilkan watery
diarrhea. ETEC tidak menyebabkan kerusakan brush border
atau menginvasi mukosa.
b. Enterophatogenic E.coli (EPEC). Mekanisme terjadinya diare
belum jelas. Didapatinya proses perlekatan EPEC ke epitel
usus menyebabkan kerusakan dari membrane mikro vili yang
akan

mengganggu

permukaan

absorbsi

dan

aktifitas

disakaridase.
c. Enteroaggregative E.coli (EAggEC). Bakteri ini melekat kuat
pada mukosa usus halus dan menyebabkan perubahan
morfologi yang khas. Bagaimana mekanisme timbulnya diare
masih belum jelas, tetapi sitotoksin mungkin memegang
peranan.

d. Enteroinvasive E.coli (EIEC). Secara serologi dan biokimia


mirip dengan Shigella. Seperti Shigella, EIEC melakukan
penetrasi dan multiplikasi didalam sel epitel kolon.
e. Enterohemorrhagic
E.coli (EHEC).
memproduksiverocytotoxin (VT)

dan

yang

EHEC
disebut

juga Shiga-like toxin yang menimbulkan edema dan perdarahan


diffuse di kolon. Pada anak sering berlanjut menjadi hemolyticuremic syndrome.
f. Shigella spp. Shigella menginvasi dan multiplikasi didalam sel
epitel kolon, menyebabkan kematian sel mukosa dan timbulnya
ulkus. Shigella jarang masuk kedalam alian darah. Faktor
virulensi termasuk : smooth lipopolysaccharide cell-wall
antigen yang mempunyai aktifitas endotoksin serta membantu
proses invasi dan toksin (Shiga toxin dan Shiga-like toxin) yang
bersifat sitotoksik dan neurotoksik dan mungkin menimbulkan
watery diarrhea
g. Campylobacter jejuni (helicobacter jejuni). Manusia terinfeksi
melalui kontak langsung dengan hewan (unggas, anjing,
kucing, domba dan babi) atau dengan feses hewan melalui
makanan yang terkontaminasi seperti daging ayam dan air.
Kadang-kadang infeksi dapat menyebar melalui kontak
langsung person to person. C.jejuni mungkin menyebabkan
diare melalui invasi kedalam usus halus dan usus besar.Ada 2
tipe toksin yang dihasilkan, yaitu cytotoxin dan heat-labile
enterotoxin. Perubahan histopatologi yang terjadi mirip dengan
proses ulcerative colitis.
h. Vibrio cholerae 01 dan V.choleare 0139. Air atau makanan yang
terkontaminasi oleh bakteri ini akan menularkan kolera. Penularan
melalui person to personjarang terjadi.V.cholerae melekat dan
berkembang biak pada mukosa usus halus dan menghasilkan
enterotoksin yang menyebabkan diare. Toksin kolera ini sangat
mirip dengan heat-labile toxin (LT) dari ETEC. Penemuan terakhir

adanya enterotoksin yang lain yang mempunyai karakteristik


tersendiri,

seperti accessory

cholera

enterotoxin (ACE)

dan zonular occludens toxin (ZOT). Kedua toksin ini menyebabkan


sekresi cairan kedalam lumen usus.
i. Salmonella (non thypoid). Salmonella dapat menginvasi sel epitel
usus.Enterotoksin yang dihasilkan menyebabkan diare. Bila terjadi
kerusakan mukosa yang menimbulkan ulkus, akan terjadi bloody
diarrhea
1.2 Virus: Rotavirus, Adenovirus, Norwalk virus, Norwalk like virus,
Cytomegalovirus

(CMV), echovirus.

Virus-virus

tersebut

merupakan penyebab diare akut terbanyak pada anak (70 80%).


a. Rotavirus: yang sering dijumpai adalah serotype 1,2,8,dan 9 :
terdapat pada manusia, Sedangkan serotype 3 dan 4 didapati
pada hewan dan manusia, serta serotype 5,6, dan 7 didapati
hanya pada hewan.
b. Norwalk virus : terdapat

pada

semua

usia,

umumnya

akibat food borne atau water borne transmisi, dan dapat juga
terjadi penularan person to person.
c. Astrovirus, didapati pada anak dan dewasa.
1.3 Parasit: - protozoa: Entemoeba histolytica, Giardia lamblia,
Cryptosporidium parvum, Balantidium coli.
a. Giardia

lamblia. Parasit

ini

menginfeksi

usus

halus.

Mekanisme patogensis masih belum jelas, tapi dipercayai


mempengaruhi absorbsi dan metabolisme asam empedu.
Transmisi melalui fecal-oral route. Interaksi host-parasite
dipengaruhi oleh umur, status nutrisi,endemisitas, dan status
imun. Didaerah dengan endemisitas yang tinggi, giardiasis
dapat berupa asimtomatis, kronik, diare persisten dengan atau
tanpa malabsorbsi. Di daerah dengan endemisitas rendah, dapat
terjadi wabah dalam 5 8 hari setelah terpapar dengan
manifestasi diare akut yang disertai mual, nyeri epigastrik dan

anoreksia. Kadang-kadang dijumpai malabsorbsi dengan faty


stools,nyeri perut dan gembung.
b. Entamoeba histolytica. Prevalensi

Disentri

amoeba

ini

bervariasi,namun penyebarannya di seluruh dunia. Insiden nya


mningkat dengan bertambahnya umur,dan teranak pada lakilaki dewasa. Kira-kira 90% infksi asimtomatik yang disebabkan
oleh E.histolytica non patogenik (E.dispar). Amebiasis yang
simtomatik dapat berupa diare yang ringan dan persisten
sampai disentri yang fulminant.
c. Cryptosporidium. Dinegara

yang

berkembang,

cryptosporidiosis 5 15% dari kasus diare pada anak. Infeksi


biasanya siomtomatik pada bayi dan asimtomatik pada anak
yang lebih besar dan dewasa. Gejala klinis berupa diare akut
dengan tipe watery diarrhea, ringan dan biasanya self-limited.
Pada penderita dengan gangguan sistim kekebalan tubuh seperti
pada penderita AIDS, cryptosporidiosis merupakan reemerging
disease dengan diare yang lebih berat dan resisten terhadap
beberapa jenis antibiotik.
1.4 Worm: A.lumbrocoides, Cacing tambang, Trichuris trichiura,
S.strercoralis, cestodiasis dll.
a. Strongyloides stercoralis. Kelainan pada mucosa usus akibat
cacing dewasa dan larva, menimbulkan diare.
b. Schistosoma spp. Cacing darah ini menimbulkan kelainan pada
berbagai

organ

termasuk

intestinal

dengan

berbagai

manifestasi, termasuk diare dan perdarahan usus..


c. Capilaria philippinensis. Cacing ini ditemukan di usus halus,
terutama jejunu, menyebabkan inflamasi dan atrofi vili dengan
gejala klinis watery diarrhea dan nyeri abdomen.
d. Trichuris trichuria. Cacing dewasa hidup di kolon, caecum, dan
appendix. Infeksi berat dapat menimbulkanbloody diarrhea dan
nyeri abdomen.
1.5 Fungus: Kandida/moniliasis

2. Parenteral:

Otitis

Media

Akut

(OMA),

pneumonia, Travelers

diarrhea: E.coli, Giardia lamblia, Shigella, Entamoeba histolytica dll.


Makanan:
Secara etiologi, diare akut dapat disebabkan oleh infeksi, intoksikasi
(poisoning), alergi, reaksi obat-obatan, dan juga faktor psikis
d.Diagnosis
1. Anamnesis
Pasien dengan diare akut datang dengan berbagai gejala klinik tergantung
penyebab penyakit dasarnya. Keluhan diarenya berlangsung kurang dari 15
hari.Diare karena penyakit usus halus biasanya berjumlah banyak, diare air,
dan sering berhubungan dengan malabsorbsi, dan dehidrasi sering
didapatkan.Diare karena kelainan kolon sering berhubungan dengan tinja
berjumlah kecil tetapi sering, bercampur darah dan ada sensasi ingin ke
belakang. Pasien dengan diare akut infektif datang dengan keluhan khas yaitu:
nausea, muntah, nyeri abdomen, demam, dan tinja yang sering, bisa air,
malabsorbtif, atau berdarah tergantung bakteri pathogen yang spesifik. Secara
umum, pathogen usus halus tidak invasive, dan patpgen ileokolon lebih
mengarah ke invasive.Pasien yang memakai toksin atau pasien yang
mengalami infeksi toksigenik secara khas mengalami nausea dan muntah
sebagai gejala prominen bersamaan dengan diare air tetapi jarang mengalami
demam. Muntah yang mulai beberapa jam dari masuknya makanan
mengarahkan kita pada keracunan makanan karena toksin yang diahsilkan.
Parasit

yang

tidak

menginvasi

mukosa

usus,

seperti Giardia

lamblia danCryptosporidium, biasanya menyebabkan rasa tidak nyaman di


abdomen yang ringan.Giardiasis mungkin berhubungan dengan steatorea
ringan, perut bergas dan kembung.
Bakteri

invasif

seperti Campylobacter,

Salmonella, dan Shigella,dan

organism yang menghasilkan sitotoksin seperti Clostridium difficile


dan enterohemorragic E.coli (serotype O157:H7) menyebabkan inflamasi usus

yang berat. Organism Yersinia seringkalimenginfeksi ileum terminal dan


caecum dan memiliki gejala nyeri perut kuadran kanan bawah, menyerupai
apendisitis akut.InfeksiCompylobacter jejuni sering bermanifestasi sebagai
diare,

demam

dan

kadangkali kelumpuhan

anggota

badan

dan

(GBS).Kelumpuhan lumpuh pada infeksi usus ini sering disalahtafsirkan


sebagai malpraktek dokter karena ketidaktahuan masyarakat.
Diare air merupakan gejala tipikal dari organism yang menginvasi epitel
usus dengan inflamasi minimal, seperti virus enteric, atau organism yang
menempel tetapi tidak menghancurkan epitel, seperti enteropathogenic E.coli,
protozoa,

dan

Aeromonas,

helminthes.

Beberapa

Shigella,

dan

organism

sperti Campylobacter,

Vibrio

spesies (missal, V

parahaemolyticus) menghasilkan enterotoksin dan juga menginvasi mukosa


usus; pasien karena itu menunjukkan gejala diare air diikuti diare berdarah
dalam beberapa jam atau hari.
Dehidrasi menurut keadaan klinisnya dapat dibagi 3 tingkatan:
1) Dehidrasi ringan (hilang cairan 2-5% BB): gambaran klinisnya turgor
kurang, suara serak, pasien belum jatuh dalam presyok.
2) Dehidrasi sedang (hilang cairan 5-8% BB): turgor buruk, suara serak,
pasien jatuh dalam presyok atau syok, nadi cepat, napas cepat dan dalam
3) Dehidrasi berat (hilang ciaran 8-10% BB): tanda dehidrasi sedang
ditambah kesadaran menurun (apatis sampai koma), otot-otot kaku,
sianosis)

2. Pemeriksaan Fisik
Kelainan kelainan yang ditemukan pada pemeriksaan fisik sangat
berguna dalam menentukan penyebab diare.Status volume dinilai dengan
memperhatikan perubahan ortostatik pada tekanan darah dan nadi, temperature
tubuh dan tanda toksisitas.Pemeriksaan abdomen yang seksama merupakan

hal yang penting.Adanya dan kualitas bunyi usus dan adanya atau tidak
adanya distensi abdomen dan nyeri tekan merupakan clue bagi penentuan
etiologi.
3. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan darah tepi lengkap: hemoglobin, hematokrit, leukosit,
hitung jenis leukosit, kadar elektrolit serum,
b. Pemeriksaan tinja: melihat adanya leukosit pada tinja yang
menunjukkan adanya infeksi bakteri, adanya telur cacing dan parasit
dewasa.
e. Penatalaksanaan
1. Rehidrasi :
Bila pasien keadaan umum baik tidak dehidrasi, asupan cairan
yang adekuat dapat dicapai dengan minuman ringan, sari buah, sup dan
keripik asin. Bila pasien kehilangan cairan yang banyak dan dehidrasi,
penatalkasanaan yang agresif seperti cairan intravena atau rehidrasi oral
dengan cairan isotonic mengandung elektrolit dan gula atau starch harus
diberikan.Terapi rehidrasi orla murah, efektif dan lebih praktis dairpada
cairan intravena. Cairan oral antara lain: ringer laktat dll. Cairan diberikan
50-200 ml/kgBB/24 jam tergantung kebutuhan dan status dehidrasi.
2. Diet
Pasien diare tidak dianjurkan puasa, kecuali bila muntah-muntah
hebat.Pasien dianjurkan minum minuman sari buah, the, minuman tidak
bergas, makanan mudah dicerna seperti pisang, nasi, keripik, dan sup.Susu
sapi harus dihindarkan karena adanya defisiensi lactase transien yang
disebabkan oleh infeksi virus dan bakteri. Minuman berkafein dan alcohol
harus dihindari karena dapat meningkatkan motilitas dan sekresi usus
3. Obat anti-diare
Obat-obat ini dapat mengurangi gejala-gejala.

a) yang paling efektif yaitu derifat opiad missal loperamid,


difenoksilat-atropin dan tinktur opium. Loperamid paling disukai karena
tidak adiktif dan memiliki efek samping paling kecil. Bismuth subsalisilat
merupakan obat lain yang dapat digunakan tetapi kontraindikasi pada
pasien HIV karena dapat menimbulkan ensefalopati bismuth. Obat
antimotilitas penggunaannya harus hati-hati pada pasien disentri yang
panas (termasuk infeksi shigella) bila tanpa disertai anti mikroba, karena
dapat memperlama penyembuhan penyakit.
b) obat yang mengeraskan tinja: atapulgit 4 x 2 tab/hari, smectite 3 x 1
saset diberikan tiap diare/BAB encer sampai diare berhenti.
c) obat anti sekretorik atau anti enkephalinase: Hidrasec 3 x 1 tab/hari.
4. Antimikroba seperti metronidazole pada kasus amoebiasis
f. Pencegahan
Diare mudah dicegah antara lain dengan cara:
1. Mencuci tangan pakai sabun dengan benar pada lima waktu penting:
1) sebelum makan
2) setelah buang air besar
3) sebelum memegang bayi
4) setelah menceboki anak dan
5) sebelum menyiapkan makanan;
2. Meminum air minum sehat, atau air yang telah diolah, antara lain dengan
cara merebus, pemanasan dengan sinar matahari atau proses klorinasi;
3. Pengelolaan sampah yang baik supaya makanan tidak tercemar serangga
(lalat, kecoa, kutu, lipas, dan lain-lain);
4. Membuang air besar dan air kecil pada tempatnya, sebaiknya menggunakan
jamban dengan tangki septik.

Dlingo,

Januari 2017

Mengetahui,
Pendamping Dokter Internsip

dr. Nur Ahsani


NIP 198210132009031006

Pelaksana Kegiatan

dr. Galih Arya Wijaya


Dokter Internsip