Anda di halaman 1dari 27

2.

3 Pengertian Eliminasi Urine


Eliminasi urine adalah kebutuhan dalam manusia yang esensial dan
berperan menentukan kelangsungan hidup manusia. Eliminasi dibutuhkan untuk
mempertahankan homeostasis tubuh.
2.4 Organ yang Berperan dalam Eliminasi Urine
2.4.1 Ginjal
Ginjal merupakan organ retroperitoneal (dibelakang selaput perut) yang
terdiri atas ginjal sebelah kanan dan kiri tulang panggul. Ginjal berperan sebagai
pengatur komposisi dan volume cairan dalam tubuh. Ginjal juga menyaring
bagian dari darah untuk dibuang dalam bentuk urine sebagai zat sisa yang tidak
diperlukan oleh tubuh. Bagian ginjal terdiri atas nefron yang merupakan unit
dari struktur ginjal yang berjumlah kurang lebih satu juta nefron. Melalui
nefron, urine disalurkan ke dalam bagian pelvis ginjal kemudian disalurkan
melalui ureter menuju kandung kemih.
2.4.2 Ureter
Ureter adalah suatu saluran moskuler berbentuk silider yang
menghantarkan urine dari ginjal menuju kandung kemih. Panjang ureter adalah
sekitar 20 30 cm dengan diameter maksimum sekitar 1,7 cm didekat kandung
kemih dan berjalan dari hilus ginjal menuju kandung kemih. Dinding ureter
terdiri dari mukosa yang dilapisi oleh sel sel transisional, otot polossirkuler,
dan longitudinal yang dapat melakukan kontraksi guna mengeluarkan urine
menuju kandung kemih.
2.4.3 Kandung Kemih
Kandung kemih merupakan sebuah kantong yang terdiri atas otot polos
yang berfungsi sebagai tempat penampungan air seni (urine). Di dalam kandung
kemih, terdapat lapisan jaringan otot yang memanjang ditengah dan melingkar
disebut sebagai detrusor, dan berfungsi untuk mengeluarkan urine. Pada dasar
kandung kemih terdapat lapisan tengah jaringan otot yang berbentuk lingkaran

bagian dalam atau disebut sebagai otot lingkaran yang berfungsi menjaga
saluran antara kandung kemih keluar tubuh.
Penyaluran rangsangan ke kandung kemih dan rangsangan motoris ke
otot lingkar bagian dalam diatur oleh system saraf simpatis. Akibat dari
rangsangan ini, otot lingkar menjadi kendur dan terjadi kontraksi sphinoter
bagian dalam sehingga urine tetap tinggal di dalam kandung kemih. System
para simpatis menyalurkan rangsangan motoris kandung kemih dan rangsangan
penghalang ke bagian dalam otot lingkar. Rangsangan ini dapat menyebabkan
terjadinya kontraksi otot detrusor dan kendurnya shinoter.
2.4.4 Uretra
Uretra merupakan organ yang berfungsi untuk menyalurkan urine ke
bagian luar. Saluran perkemihan dilapisi membrane mukosa, dimulai dari
meatus uretra hingga ginjal. Secara normal, mikroorganisme tidak ada yang bias
melewati uretra bagian bawah, namun membrane mukosa ini pada keadaan
patologis yang terus menerus akan menjadikannya media baik untuk
pertumbuhan beberapa patogen.
2.5 Proses Pelaksanaan Eliminasi Urine
2.5.1 Proses Berkemih
Berkemih merupakan proses pengosongan vesika urinaria (kandung
kemih). Vesika urinaria dapat menimbulkan rangsangan saraf bila urinaria berisi
250 400 cc (pada orang dewasa) dan 200 250 cc (pada anak anak).
Mekanisme berkemih terjadi karena vesika urinaria berisi urie yang
dapat menimbulkan rangsangan pada saraf saraf di dinding vesika urinaria.
Kemudian rangsangan tersebut diteruskan melalui medulla spinalis ke pusat
pengontrol berkemih yang terdapat di korteks serebral. Selanjutnya, otak
memberikan impuls melalui medula spinalis ke neuromotoris di daerah sakral,
kmudian terjadi kontraksi otot detrusor dan relaksasi otot sphincter internal.
Urine dilepaskan dari vesika urinaria, tetapi masih tertahan oleh spincter

eksternal. Jika waktu dan tempat memungkinkan, akan menyebabkan relaksasi


spincter eksternal dan urine dikeluarkan (berkemih).
2.6 Faktor yang Mempengaruhi Eliminasi Urine
2.6.1 Diet dan Asupan (in take)
Jumlah dan tipe makanan merupakan factor utama yang mempengaruhi
output urine (jumlah urine). Protein dan natrium dapat menentukan jumlah urine
yang dibentuk. Selain itu, minum kopi juga dapat meningkatkan pembentukan
urine.
2.6.2 Respons Keinginan Awal untuk Berkemih
Kebiasaan mengabaikan keinginan awal untuk berkemih dapat
menyebakan urine banyak tertahan di dalam vesika urinaria, sehingga
mempengaruhi ukuran vesika urinaria dan jumlah pengeluaran urine.
2.6.3 Gaya Hidup
Perubahan gaya hidup dapat mempengaruhi pemenuhan kebutuhan
eliminasi. Hal ini terkait dengan tersedianya fasilitas toilet.
2.6.4 Stres psikologis
Meningkatnya

stress

dapat

meningkatkan

frekuensi

keinginan

berkemih. Hal ini karena meningkatnya sensitivitas untuk keinginan berkemih


dan jumlah urine yang diproduksi.
2.6.5 Tingkat aktivitas
Eliminasi urine membutuhkan tonus otot vesika urinaria yang baik
untuk fungsi sphincter. Kemampuan tonus otot didapatkan dengan braktivitas.
Hilangnya tonus otot vesika urinaria dapat menyebabkan kemampuan
pengontrolan berkemih menurun.
2.6.6 Tingkat Perkembangan
Tingkat pertumbuhan dan perkembangan juga dapat mempengaruhi
pola berkemih. Hal tersebut dapat ditemukan pada anak, yang lebih memiliki
kesulitan untuk mengontrol buang air kecil. Namun, kemampuan dalam
mengontrol buang air kecil meningkat seiring dengan pertambahan usia.

2.6.7 Kondisi Penyakit


Kondisi penyakit dapat mempengaruhi produksi urine, seperti diabetes
mellitus.
2.6.8 Sosiokultural
Budaya dapat mempengaruhi pemenuhan kebutuhan eliminasi urine,
seperti adanya kultur pada masyarakat tertentu yang melarang untuk buang air
kecil di tempat tertentu.
2.6.9 Kebiasaan Seseorang
Seseorang yang memiliki kebiasaan berkemih di toilet, biasanya
mengalami kesulitan untuk berkemih dengan melalui urineal/pot urine bila
dalam keadaan sakit.
2.6.10 Tonus Otot
Tonus otot berperan penting dalam membantu proses berkemih adalah
otot kandung kemih, otot abdomen, dan pelvis. Ketiganya sangat berperan
dalam kontraksi sebagai pengontrolan pengeluaran urine.
2.6.11 Pembedahan
Pembedahan berefek menurunkan filtrasi glomerulus sebagai dampak
dari pemberian obat anestesi sehingga menyebabkan penurunanjumlan produksi
urine.
2.6.12 Pengobatan
Pemberian tindakan pengobatan dapat berdampak pada terjadinya
peningkatan atau penurunan proses perkemihan. Misalnya pemberian diuretik
dapat meningkatkan jumlah urine, sedangkan pemberian obat antikolinergik dan
anthipertensi dapat menyebabkan retensi urine.
2.6.13 Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostik ini juga dapat mempengaruhi kebutuhan
eliminasi urine, khususnya prosedur prosedur yang berhubungan dengan
tindakan pemeriksaan saluran kemih seperti intra venus pyelogram (IVP).
Pemeriksaan ini dapat membatasi jumlah asuan sehingga mengurangi produksi

urine. Selain itu, tindakan sistoskopi dapat menimbulkan edema local pada
uretra sehingga pengeluaran urine terganggu.
2.7 Gangguan Eliminasi Urine
2.7.1 Retensi urine
Retensi urine merupakan penumpukan urine dalam kandung kemih
akibat ketidakmampuan kandung kemih untuk mengosongkan kandung kemih.
Hal ini menyebabkan distensi vesika urinaria atau merupakan keadaan ketika
seseorang mengalami pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap. Dalam
keadaan distensi, vesika urinaria dapat menampung urine sebanyak 3000 4000
ml urine.
2.7.2 Inkontinensia Urine
Inkontinensia urine merupakan ketidakmampuan otot sphincter
eksternal sementara atau menetap untuk mengontrol ekskresi urine. Secara
umum, penyebab dari inkontinensia urine adalah proses penuaan, pembesaran
kelenjar prostat, serta penuaaan kesadaran, serta penggunaan obat narkotik.
2.7.3 Enuresis
Enuresis

merupakan

ketidaksanggupan

menahan

kemih

yang

diakibatkan tidak mampu mengontrol sphincter eksternal. Biasanya, enuresis


terjadi pada anak atau otang jompo. Umumnya enuresis terjadi pada malam
hari.
2.7.4 Perubahan Pola Eliminasi Urine
Perubahan pola eliminasi urine merupakan keadaan seseorang yang
mengalami gangguan pada eliminasi urine karena obstruksi anatomis, kerusakan
motorik sensorik, dan infeksi saluran kemih. Perubahan pola eliminasi terdiri
atas:
2.7.4.1 Frekuensi
Frekuensi merupakan banyaknya jumlah berkemih dalam sehari.
Peningkatan frekuensi berkemih dikarenakan meningkatnya jumlah cairan yang
masuk. Frekuensi yang tinggi tanpa suatu tekanan asupan cairan dapat

disebabkan oleh sistisis. Frekuensi tinggi dapat ditemukan juga pada keadaan
stres atau hamil.
2.7.4.2 Urgensi
Urgensi adalah perasaan seseorang yang takut mengalami
inkontinensia jika tidak berkemih. Pada umumnya, anak kecil memiliki
kemampuan yang buruk dalam mengontrol sphincter eksternal. Biasanya,
perasaan segera ingin berkemih terjadi pada anak karena kurangnya
pengontrolan pada sphincter.
2.7.4.3 Disuria
Disuria adalah rasa sakit dan kesulitan dalam berkemih. Hal ini
sering ditemukan pada penyakit infeksi saluran kemih, trauma, dan striktur
uretra.
2.7.4.4 Poliuria
Poliuria merupakan produksi urine abnormal dalam jumlah besar
oleh ginjal, tanpa adanya peningkatan asupan cairan. Biasanya, hal ini dapat
ditemukan pada penyakit diabetes mellitus dan penyakit ginjal kronis.
2.7.4.5 Urinaria Supresi
Urinaria supresi adalah berhentinya produksi urine secara
mendadak. Secara normal, urine diproduksi oleh ginjal pada kecepatan 60 120
ml/jam secara terus menerus.
2.8 Penanggulangan Gangguan Eliminasi Urine
2.8.1 Pengumpulan Urine untuk Bahan Pemeriksaan
Mengingat tujuan pemeriksaan dengan bahan urine tersebut berbeda
beda maka dalam pengambilan atau pengumpulan urine juga dibedakan sesuai
dengan tujuannya. Cara pengambilan urinetersebut antara lain ; pengambilan
urine biasa, pengambilan urine steril, dan pengumpulan selama 24 jam.
2.8.1.1 Pengambilan Urine Biasa
Pengambilan urine biasa merupakan pengambilan urine dengan
mengeluarkan urine secara biasa, yaitu buang air kecil. Pengambilan urine biasa

ini biasanya digunakan untuk pemeriksaan kadar gula dalam urine, pemeriksaan
kehamilan, dll.
2. 8.1.2 Pengambilan Urine Steril
Pengambilan urine steril merupakan pengambilan urine dengan
menggunakan

alat

steril,

dilakukan

dengan

kateterisasi

atau

fungsi

suprapubisyang bertujuan untuk mengetahui adanya infeksi pada uretra, ginjal,


atau saluran kemih lainnya.
2.8.1.3 Pengambilan Urine Selama 24 Jam
Pengambilan urine selama 24 jam merupakan pengambilan urine
yang dikumpulkan dalam waktu 24 jam, bertujuan untuk mengetahui jumlah
urine selama 24 jam dan mengukur berat jenis, asupan dan output, serta
mengetahui fungsi ginjal.
2.8.2 Menolong Buang Air Kecil dengan Menggunakan Urineal
Tindakan membantu pasien yang tidak mampu buang air kecil
sendiri di kamar kecil dilakukan dengan menggunakan alat penampung
(urineal). Hal tersebut dilakukan untuk menampung urine dan mengetahui
kelainan dari urine (warna dan jumlah).
2.8.3 Melakukan Kateterisasi
Kateterisasi merupakan tindakan memasukkan kateter ke dalam
kandung kemih melalui uretra untuk membantu memenuhi kebutuhan eliminasi,
sebagai pengambilan bahan pemeriksaan. Dalam pelaksanaannya, kateterisasi
terbagi menjadi dua tipe internitent (straight kateter) dan tipe indwelling (foley
kateter).
2.9 Pengertian Eliminasi Alvi
Eliminasi alvi adalah proses pembuangan atau pengeluaran
metabolism berupa feses yang berasal dari saluran pencernaan yang melalui
anus. Manusia dapat melakukan buang air besar beberapa kali dalam satu hari
atau satu kali. Tetapi bahkan dapat mengalami gangguan yaitu hingga hanya
beberapa kali saja dalam satu minggu atau dapat berkali kali dalam satu hari,

biasanya gangguan gangguan tersebut diakibatkan oleh gaya hidup yang tidak
benar dan jika dibiarkan dapat menjadi maslah yang lebih besar.
2.10 Organ yang Berperan dalam Eliminasi Alvi
2.10.1 Usus Halus
Usus halus atau usus kecil adalah bagian dari saluran pencernaan
yang terletah diantara lambung dan usus besar. Bagian bagian dari usus halus
yaitu; duodenum (usus dua belas jari), jejunum (usus kosong), ileum (usus
penyerapan).
2.10.1.1 Duodenum (usus dua belas jari)
Usus dua belas jari adalah bagian dari usus halus yang terletak
setelah lambung dan menghubungkannya ke usus kosong dengan panjang antara
25 38 cm. bagian usus dua belas jari merupakan bagian terpendek dari usus
halus.
2.10.1.2 Jejunum (usus kosong)
Usus kosong adalah bagian kedua dari usus halus, diantara usus
dua belas jari dan usus penyerapan. Pada manusia dewasa, panjang seluruh usus
halus antara 2 8 meter, 1 2 meter adalah bagian usus kosong.
2.10.1.3 Ileum (usus penyerapan)
Usus penyerapan adalah bagian terakhir dari usus halus. Pada
sistem pencernaan manusia ini memiliki panjang sekitar 2 4 meter dan terletak
setelah duodenum dan jejunum dan dilanjutkan oleh usus buntu.
2.10.2 Usus Besar
Usus besar adlah bagian usus antara usus buntu dan rektum. Fungsi
utama organ ini adalah menyerap air dan feses. Bagian bagian dari usus besar
yaitu; kolon, rektum, dan anus.
2.10.2.1 Kolon
Kolon adalah bagian usus antara usus buntu dan rektum.
2.10.2.2 Rektum

Rektum adalah organ terakhir dari usus besar. Organ ini


berfungsi sebagai tempat penyimpanan feses sementara.
2.10.2.3 Anus
Anus atau dubur adlah sebuah bukaan dari rektum

ke

lingkungan luar tubuh.


2.11 Proses Pelaksanaan Eliminasi Alvi
2.11.1 Proses Defekasi
Defekasi merupakan proses pengosongan usus yang sering disebut
buang air besar. Terdapat dua pusat yang menguasai reflex untuk defekasi, yang
terletak di medulla dan sussum tulang belakang. Apabila terjadi rangsangan
parasimpatis, sphincter anus bagian dalam akan mengendur dan usus besar
menguncup. Refleks defekasi dirangsang untuk buang air besar, kemudian
sphincter anus bagian luar yang diawasi oleh sistem saraf parasimpatis, setiap
waktu menguncup atau mengendur. Selam defekasi berbagai otot lain
membantu prose situ, seperti otot dinding perut, diafragma, dan otot otot dasar
pelvis.
Secara umum, terdapat dua macam refleks yang membantu proses
defekasi, yaitu refleks defekasi intrinsik dan refleks defekasi parasimpatis.
Refleks defekasi intrinsik dimulai dari adanya zat sisa makanan (feses) di dalam
rektum sehingga terjadi distensi kemudian flexus mesenterikus merangsang
gerakan peristaltik, dan akhirnya feses sampai di anus. Lalu pada saat sphincter
internal relaksasi, maka terjadilah proses defekasi. Sedangkan, refleks defekasi
parasintetis dimulai dari adanya proses dalam rektum yang merangsang saraf
rektum, ke spinal cord, dan merangsang ke kolon desenden, kemudian ke
sigmoid, lalu ke rektum dengan gerakan peristaltik dan akhirnya terjadi
relaksasi sphincter internal, maka terjadilah proses defekasi saat sphincter
internal berelaksasi. Feses terdiri atas sisa makanan seperti selulosa yang tidak
direncanakan dan zat makanan lainyang seluruhnya tidak dipakai oleh tubuh,

berbagai macam mikroorganisme, sekresi kelenjar usus, pigmen empedu dan


usus kecil.
2.12 Gangguan Eliminasi Alvi
2.12.1 Konstipasi
Konstipasi merupakan keadaan individu yang mengalami atau
beresiko tinggi mengalami statis usus besar sehingga mengalami eliminasi yang
jarang atau keras, serta tinja yang keluar terlalu kering dan keras.
2.12.2 Diare
Diare merupakan keadaan individu yang mengalami atau beresiko
sering mengalami pengeluaran feses dalam bentuk cair. Diare sering disertai
kejang usus, mungkin ada rasa mual dan muntah.
2.12.3 Inkontinesia Usus
Inkontinesia usus merupakan keadaan individu yang mengalami
perubahan kebiasaan dari proses defekasi normal, sehingga mengalami proses
pengeluaran feses tidak disadari. Hal ini juga disebut sebagai inkontinesia alvi
yang merupakan hilangnya kemampuan otot untuk mengontrol pengeluaran
feses dan gas melalui sphincter akibat kerusakan sphincter.
2.12.4 Kembung
Kembung merupakan keadaan penuh udara di dalam perut karena
pengumpulan gas berlebih di dalam lambung atau usus.
2.12.5 Hemorroid
Hemorrhoid merupakan keadaan terjadinya pelebaran vena di
daerah anus sebagai akibat peningkatan tekanan di daerah anus yang dapat
disebabkan karena konstipasi, peregangan saat defekasi dan lain lain.
2.12.6 Fecal Impaction
Fecal impaction merupakan massa feses karena dilipatkan rektum
yang diakibatkan oleh retensi dan akumulasi materi feses yang berkepanjangan.
Penyebab fecal impaction adalah asupan kurang, kurang aktivitas, diet rendah
serat, dan kelemahan tonus otot.

2.13 Faktor yang Mempengarhi Eliminasi Alvi


2.13.1 Usia
Setiap tahap perkembangan atau usia memiliki kemampuan
mengontrol proses defekasi yang berbeda.
2.13.2 Diet
Diet

pola

atau

jenis

makanan

yang

dikonsumsi

dapat

mempengaruhi proses defekasi. Makanan yang memiliki kandungan serat tinggi


dapat membantu proses percepatan defekasi dan jumlah yang dikonsumsi dapat
mempengaruhinya.
2.13.3 Asupan Cairan
Pemasukan cairan yang kurang ke dalam tubuh membuat defekasi
menjadi keras. Oleh karena itu, proses absorpsi air yang kurang menyebabkan
kesulitan proses defekasi.
2.13.4 Aktivitas
Aktivitas dapat mempengaruhi proses defekasi karena melalui
aktivitas tinus otot abdomen, pelvis, dan diafragma dapat membantu kelancaran
proses defekasi.
2.13.5 Pengobatan
Pengobatan juga dapat mempengaruhi proses defekasi, sperti
penggunaan laksantif, atau antasida yang terlalu sering.
2.13.6 Kebiasaan atau Gaya Hidup
Kebiasaan atau gaya hidup dapat mempengaruhi proses defekasi.
Hal ini dapat terlihat pada seseorang yang memiliki gaya hidup sehat atau
terbiasa melakukan buang air besar di tempat bersih atau toilet, jika seseorang
terbiasa buang air besar di tempat yang kotor, maka ia akan mengalami
kesulitan dalam proses defekasi.
2.13.7 Penyakit beberapa penyakit dapat mempengaruhi proses
defekasi, biasanya penyakit penyakittersebut berhubungan langsung dengan
sistem pencernaan seperti gastroenteristis atau penyakit infeksi lainnya.

2.13.8 Nyeri
Adanya nyeri dapat mempengaruhi kemampuan atau keingian
untuk defekasi seperti nyeri pada kasus hemorrhoid atau episiotomy.
2.13.9 Kerusakan Sensoris dan Motoris
Kerusakan pada sistem sensoris dan motoris dapat mempengaruhi
proses defekasi karena dapat menimbulkan proses penurunan stimulasi sensoris
dalam melakukan defekasi.
2.14 Penanggulangan Gangguan Eliminasi Alvi
2.14.1 Menyiapkan Feses untuk Bahan Pemeriksaan
Menyiapkan feses untuk bahan pemeriksaan merupakan tindakan
yang dilakukan untuk mengambil feses sebagai bahan pemeriksaan.
Pemeriksaan tersebut yaitu pemeriksaan lengkap dan pemeriksaan kultur
(pembiakan).
2.14.2 Memberikan Huknah Rendah
Memberikan huknah rendah merupakan tindakan memasukkan
cairan hangat kedalam kolon desensen dengan menggunakan kanula rekti
melalui anus. Tindakan tersebut bertujuan untuk mengosongkan usus pada
proses prabedah agar dapat mencegah terjadinya obstruksi makanan sebagai
dampak pasca operasi dan merangsang buang air besar pada pasien yang
mengalami kesulitan buang air besar.
2.14.3 Memberikan Huknah Tinggi
Memberikan huknah tinggi merupakan tindakan memasukkan
cairan hangat kedalam kolon asenden dengan menggunakan kanula usus. Hal
tersebut dilakukan untuk mengosongkan usus pada pasien prabedah untuk
prosedur diagnostik.
2.14.4 Membantu Pasien Buang Air Besar dengan Pispot
Membantu pasien buang air besar dengan pispot ditempat tidur
merupakan tindakan bagi pasien yang tidak mampu buang air besar secara
sendiri di kamar mandi.

2.14.5 Memberikan Gliserin


Memberikan gliserin merupakan tindakan memasukkan cairan
gliserin ke dalam poros usus dengan menggunakan spuit gliserin. Hal ini
dilakukan untuk merangsang peristaltik usus, sehingga pasien dapat buang air
besar.
2.14.6 Mengeluarkan Feses dengan Jari
Mengeluarkan feses dengan jari merupakan tindakan memasukkan
jari ke dalam rektum pasien untuk mengambil atau menghancurkan feses
sekaligus mengeluarkannya.

A. DEFINISI

Eliminasi merupakan proses pembuangan sisa-sisa metabolisme tubuh. Pembuangan


dapat melalui urine atau bowel. (Tarwoto&Wartonah, 2006)
B. KLASIFIKASI

ELIMINASI

1. Eliminasi Urine
a. Konsep dasar
BAK / MIKSI adalah suatu proses pengosongan kandung kencing.
Gangguan

pemenuhan

kebutuhan

eliminasi

BAK

adalah

Suatu keadaan dimana terganggunya proses mekanisme tubuh untuk memenuhi kebutuhan
eliminasi BAK atau pengosongan kandung kencing secara normal.
Eliminasi urine normalnya adalah pengeluaran cairan. Proses pengeluaran ini sangat
bergantung pada fungsi-fungsi organ eliminasi urine seperti ginjal, ureter, bladder, dan uretra.
Ginjal memindahkan air dari darah dalam bentuk urine. Ureter mengalirkan urine kebladder.
Dalam bladder ditampung sampai mencapai batas tertentu yang kemudian dikeluarkan
melalui uretra.
b. Refleks Miksi
Kandung kemih dipersarafi oleh saraf sakral 2 (S-2) dan sakral 3 (S-3). Saraf
sensorik dari kandung kemih dikirimkan ke medula spinalis bagian sakral 2 sampai dengan
sakral 4 kemudian diteruskan ke pusat miksi pada susunan saraf pusat. Pusat miksi
mengirimkan sinyal kepada otot kandung kemih (destrusor) untuk berkontraksi. Pada saat
destrusor berkontraksi spinter interna relaksasi dan spinter eksterna yang dibawah kontrol
kesadaran akan berperan. Apakah mau miksi atau ditahan/ditunda. Pada saat miksi otot
abdominal berkontraksi bersama meningkatnya otot kandung kemih. Biasanya tidak lebih
dari 10 ml urine tersisa dalam kandung kemih yang disebut urine residu.
c.

Pola eliminasi urine normal


Pola eliminasi urine sangat tergantung pada individu, biasanya miksi setelah bekerja,
makan atau bangun tidur. Normalnya miksi dalam sehari sekitar 5 kali.

d. Karakteristik urine normal


Warna urine normal adalah kuning terang karena adanya pigmen urochrome. Namun
demikian, warna urine tergantung pada intake cairan, keadaan dehidrasi konsentrasinya
menjadi lebih pekat dan kecoklatan, penggunaan obat-obat tertentu seperti multivitamin dan
preparat besi maka urine akan berubah menjadi kemerahan sampai kehitaman.
Bau urine normal adalah bau khas amoniak yang merupakan hasil pemecahan urea
oleh bakteri. Pemberian pengobatan akan memengaruhi bau urine.

Jumlah urine yang dikeluarkan tergantung pada usia, intake cairan dan status
kesehatan. Pada orang dewasa sekitar 1.200 sampai 1.500 ml per hari atau 150 sampai 600 ml
per sekali miksi.
e.

Faktor faktor yang memengaruhi eliminasi urine

1)

Pertumbuhan dan perkembangan


Usia dan berat badan dapat memengaruhi jumlah pengeluaran urine. Pada usia lanjut
volume bladder berkurang, demikian juga wanita hamil sehingga frekuensi berkemih juga
akan lebih sering.

2)

Sosiokultural
Budaya masyarakat di mana sebagian masyarakat hanya dapat miksi pada tempat
tertutup dan sebaliknya ada masyarakat yang dapat miksi pada lokasi terbuka.

3)

Psikologis
Pada keadaan cemas dan stres akan meningkatkan stimulasi berkemih.

4)

Kebiasaan seseorang
Misalnya seseorang hanya bisa berkemih di toilet, sehingga ia tidak dapat berkemih
dengan menggunakan pot urine.

5)

Tonus otot
Eliminasi urine membutuhkan tonus otot bladder, otot abdomen, dan pelvis untuk
berkontraksi. Jika ada gangguan tonus, otot dorongan untuk berkemih juga akan berkurang.

6)

Intake cairan dan makanan


Alkohol

menghambat Anti

Diuretik

Hormon

(ADH) untuk

meningkatkan

pembuangan urine. Kopi, teh, coklat, cola (mengandung kafein) dapat meningkatkan
pembuangan dan ekskresi urine.
7)

Kondisi penyakit
Pada pasien yang demam akan terjadi penurunan produksi urine karena banyak cairan
yang dikeluarkan melalui kulit. Peradangan dan iritasi organ kemih menimbulkan retensi
urine.

8)

Pembedahan
Penggunaan anestesi menurunkan filtrasi glomerulus sehingga produksi urine akan
menurun.

9)

Pengobatan
Penggunaan diuretik meningkatkan output urine, antikolinergik, dan antihipertensi
menimbulkan retensi urine.

10) Pemeriksaan diagnostik


Intravenus pyelogram di mana pasien dibatasi intake sebelum prosedur untuk
mengurangi output urine. Cystocospy dapat menimbulkan edema lokal pada uretra, spasme
pada spinter bladder sehingga dapat menimbulkan urine.
f.

Etiologi
Gangguan pemenuhan kebutuhan eliminasi BAK disebabkan oleh :

1) Obstruksi
2) Infeksi
3) Calculi
4) Pertumbuhan jaringan yang abnormal
5) Masalah sistemik
g. Masalah-masalah eliminasi urine
1) Retensi urine
Merupakan penumpukan urine dalam bladder dan ketidakmampuan bladder untuk
mengosongkan kandung kemih. Penyebab distensi bladder adalah urine yang terdapat dalam
bladder melebihi 400 ml. Normalnya adalah 250-400 ml.
2) Inkontinensia urine
Adalah ketidakmampuan otot spinter eksternal sementara atau menetap untuk
mengontrol ekskresi urine. Ada dua jenis inkontinensia : pertama, stres inkontinensia yaitu
stres yang terjadi pada saat tekanan intra-abdomen meningkat seperti pada saat batuk atau
tertawa. Kedua, urge inkontinensia yaitu inkontinensia yang terjadi saat klien terdesak ingin
berkemih, hal ini terjadi akibat infeksi saluran kemih bagian bawah atau spasme bladder.
3) Enurisis
Merupakan

ketidaksanggupan

menahan

kemih

(mengompol)

ntuyan

uang

diakibatkan ketidakmampuan untuk mengendalikan spinter eksterna. Biasanya terjadi pada


anak-anak atau pada orang jompo.
h. Tanda dan gejala
Tanda Gangguan Eliminasi urin
1) Retensi Urin
a) Ketidak nyamanan daerah pubis
b) Distensi dan ketidaksanggupan untuk berkemih
c) Urine yang keluar dengan intake tidak seimbang.

d) Meningkatnya keinginan berkemih dan resah


e) Ketidaksanggupan untuk berkemih
2) Inkontinensia urin
a) Pasien tidak dapat menahan keinginan BAK sebelum sampai di WC
b) pasien sering mengompol
i.

Perubahan pola berkemih

1) Frekuensi : meningkatnya frekuensi berkemih tanpa intake cairan yang meningkat, biasanya
terjadi pada cystitis, stres dan wanita hamil.
2)

Urgency : perasaan ingin segera berkemih dan biasanya terjadi pada anak-anak karena
kemampuan spinter untuk mengontrol berkurang.

3)

Dysuria : rasa sakit dan kesulitan dalam berkemih misalnya pada infeksi saluran kemih,
trauma dan striktur uretra.

4)

Polyuria (diuresis) : produksi urine melebihi normal, tanpa peningkatan intake cairan
misalnya pada pasien DM.

5)

Urinary suppression : keadaan di mana ginjal tidak memproduksi urine secara tiba-tiba.
Anuria (urine kurang dari 100 ml/24 jam), olyguria (urine berkisar 100-500 ml/jam).

j.

Asuhan Keperawatan Pada Klien Gangguan Eliminasi Urine

1) Pengkajian
a)

Riwayat Keperawatan

(1) Pola berkemih


(2) Gejala dari perubahan berkemih
(3) Faktor yang memengaruhi berkemih
b)

Pemeriksaan fisik

(1) Abdomen
Pembesaran, pelebaran pembuluh darah vena, distensi bladder, pembesaran ginjal, nyeri
tekan, tenderness, bising usus.
(2) Genetalia wanita
Inflamasi, nodul, lesi, adanya sekret dari meatus, keadaan atropi jaringan vagina.
(3) Genetalia laki-laki
Kebersihan, adanya lesi, tenderness, adanya pembesaran skrotum.
c)

Intake dan output cairan

(1) Kaji intake dan ouput cairan dalam sehari (24 jam)
(2) Kebiasaan minum dirumah
(3) Intake : cairan infus, oral, makanan, NGT

(4) Kaji perubahan volume urine untuk mengetahui ketidakseimbangan cairan.


(5) Output urine dari urinal, cateter bag, drainage ureterostomy, sistostomi.
(6) Karakteristik urine : warna, kejernihan, bau, kepekatan.
d)
(1)

Pemeriksaan diagnostik
Pemeriksaan urine (urinalisis)

(a) Warna : (N : jernih)


(b) Penampilan : (N : jernih)
(c) Bau (N : beraroma)
(d) pH : (N : 4,5-8,0)
(e) Berat jenis (N : 1,005 1,030)
(f) Glukosa (N : negatif)
(g) Keton (N : negatif)
(2) Kultur urine (N: kuman patogen negatif)

2) Diagnosa Keperawatan
a)

Gangguan pola eliminasi urine : inkontinensia

(1) Definisi : kondisi di mana seseorang tidak mampu mengendalikan pengeluaran urine.
(2) Kemungkinan berhubungan dengan :
(a) Gangguan neuromuskuler
(b) Spasme bladder
(c) Trauma pelvic
(d) Infeksi saluran kemih
(e) Trauma medulla spinalis
(3) Kemungkinan data yang ditemukan :
(a) Inkontinensia
(b) Keinginan berkemih yang segera
(c) Sering ke toilet
(d) Menghindari minum
(e) Spasme bladder
(f) Setiap berkemih kurang gizi dari 100 ml atau lebih dari 550 ml.
(4) Tujuan yang diharapkan :
(a) Klien dapat mengontrol pengeluaran urine setiap 4 jam.

(b) Tidak ada tanda-tanda retensi dan inkontinensia urine.


(c) Klien berkemih dalam keadaan rileks
(5) Intervensi
Intervensi
Rasional
1. Monitor keadaan bladder setiap 2 Rasional : membantu mencegah
jam
2.
Tingkatkan

distensi atau komplikasi


dengan Rasional : meningkatkan kekuatan

aktivitas

kolaborasi dokter/fisioterapi
3. Kolaborasi dalam bladder training
4.

Hindari

faktor

otot ginjal dan fungsi bladder.


Rasional : menguatkan otot dasar

pelvis
pencetus Rasional

inkontinensia urine seperti cemas

6. Jelaskan tentang :

mengurangi

menghindari inkontinensia

5. Kolaborasi dengan dokter dalam Rasional


pengobatan dan kateterisasi

mengatasi

faktor

penyebab
Rasional

meningkatkan

Pengobatan

pengetahuan

dan

Kateter

pasien lebih kooperatif.

diharapkan

Penyebab
Tindakan lainnya
b)

Retensi urine

(1) Definisi : kondisi di mana seseorang tidak mampu mengosongkan bladder secara tuntas.
(2) Kemungkinan berhubungan dengan :
(a) Obstruksi mekanik
(b) Pembesaran prostat
(c) Trauma
(d) Pembedahan
(e) Kehamilan
(3) Kemungkinan data yang ditemukan :
(a) Tidak tuntasnya pengeluaran urine
(b) Distensi bladder
(c) Hipertropi prostat
(d) Kanker

(e) Infeksi saluran kemih


(f)

Pembedahan besar abdomen

(4) Tujuan yang diharapkan :


(a) Pasien dapat mengontrol pengeluaran bladder setiap 4 jam
(b) Tanda dan gejala retensi urine tidak ada
(5) Intervensi
Intervensi
Rasional
1. Monitor keadaan bladder setiap 2 Rasional : Menentukan masalah
jam
2. Ukur intake dan output cairan Rasional

memonitor

setiap 4 jam
keseimbangan cairan
3. Berikan cairan 2.000 ml/hari Rasional : menjaga defisit cairan
dengan kolaborasi
4. Kurangi minum setelah jam 6 Rasional : mencegah nokturia
malam
5. Kaji dan monitor analisis urine Rasional : membantu memonitor
elektrolit dan berat badan
6. Lakukan latihan pergerakan

keseimbangan cairan
Rasional : meningkatkan fungsi

ginjal dan bladder


7. Lakukan relaksasi ketika duduk Rasional : relaksasi pikiran dapat
berkemih
8.
9.

meningkatkan

kemampuan

berkemih.
Ajarkan teknik latihan dengan Rasional : menguatkan otot pelvis
kolaborasi dokter/fisioterapi
Kolaborasi dalam pemasangan Rasional : mengeluarkan urine
kateter

2. Eliminasi Bowel
a. Konsep Dasar
1) Anatomi dan Fisiologis
a) Saluran gastrointestinal bagian atas
Makanan yang masuk akan dicerna secara mekanik dan kimiawi di mulut dan
dilambung dengan bantuan enzim, asam lambung. Selanjutnya makanan yang sudah dalam
bentuk chyme didorong ke usus halus.
b) Saluran gastrointestinal bagian bawah
Saluran gastrointestinal bawah meliputi usus halus dan usus besar. Usus halus terdiri
atas duodenum, jejenum, dan ileum yang panjangnya kira-kira 6 meter dan diameter 2,5 cm.
Usus besar terdiri atas cecum, colon dan rectum yang kemudian bermuara pada anus. Panjang
usus besar sekitar 1,5 meter dan diameternya kira-kira 6 cm. Usus menerima zat makanan
yang sudah berbentuk chyme (setengah padat) dari lambung untuk mengabsorbsi air, nutrien
dan elektrolit. Usus sendiri mensekresi mucus, potassium, bikarbonat, dan enzim.
Chyme bergerak karena adanya peristaltik usus dan akan berkumpul menjadi feses di
usus besar. Dari makan sampai mencapai rektum normalnya diperlukan waktu 12 jam.
Gerakan kolon terbagi menjadi tiga bagian, yaitu haustral shuffing adalah gerakan
mencampur chyme untuk membantu absorpsi air, kontraksi haustral adalah gerakan untuk
mendorong materi cair dan semipadat sepanjang kolon, gerakan peristaltik adalah berupa
gelombang, gerakan maju ke anus.
2) Proses Defekasi
Defekasi adalah proses atau pengeluaran sisa metabolisme berupa feses dan flatus yang
berasal dari saluran pencernaan melalui anus.
Dalam proses defekasi terjadi dua macam refleks yaitu :
a) Refleks defekasi intrinsik
Refleks ini berawal dari feses yang masuk ke rektum sehingga terjadi distensi
rektum, yang kemudian menyebabkan rangsangan pada fleksus mesentrikus dan terjadilah
gerakan peristaltik. Setelah feses tiba di anus, secara sistematis spinter interna relaksasi maka
terjadilah defekasi.
b) Relfeks defekasi parasimpatis
Feses yang masuk ke rektum akan merangsang saraf rektum Feses yang masuk ke
rektum akan merangsang saraf rektum yang kemudian dikembalikan ke kolon desenden,

sigmoid dan rektum yang menyebabkan intensifnya peristaltik, relaksasi spinter internal,
maka terjadilah defekasi.
Dorongan feses juga dipengaruhi oleh kontraksi otot abdomen, tekanan diafragma
dan kontraksi otot elevator. Defekasi dipermudah oleh fleksi otot femur dan posisi jongkok.
Gas yang dihasilkan dalam proses pencernaan normalnya 7-10 liter/24 jam. Jenis gas yang
terbanyak adalah CO2, metana, H2, S2, O2 dan nitrogen.
Feses terdiri atas 75% air dan 25% materi padat. Feses normal berwarna coklat
karena pengaruh sterkobilin, mobilin dan aktivitas bakteri. Bau khas karena pengaruh dari
mikroorganisme. Konsistensi lembek namun berbentuk.
b. Faktor-faktor Yang Memengaruhi Proses Defekasi
1)

Usia
Pada usia bayi kontrol defekasi belum berkembang, sedangkan pada usia lanjut kontrol
defekasi menurun.

2)

Diet
Makanan berserat akan mempercepat produksi feses, banyaknya makanan yang masuk ke
dalam tubuh juga memengaruhi proses defekasi.

3)

Intake cairan
Intake cairan yang kurang akan menyebabkan feses menjadi lebih keras, disebabkan karena
absorpsi cairan yang meningkat.

4)

Aktivitas
Tonus otot abdomen, pelvis, dan diafragma akan sangat membantu proses defekasi. Gerakan
peristaltik akan memudahkan bahan feses bergerak sepanjang kolon.

5)

Fisiologis
Keadaan cemas, takut dan marah akan meningkatkan peristaltik, sehingga menyebabkan
diare.

6)

Pengobatan
Beberapa jenis obat dapat mengakibatkan diare dan konstipasi.

7)

Gaya hidup
Kebiasaan untuk melatih pola buang air besar sejak kecil secara teratur, fasilitas buang air
besar dan kebiasaan menahan buang air besar.

8)

Prosedur diagnostik
Klien yang akan dilakukan prosedur diagnostik biasanya dipuasakan atau dilakukan klisma
dahulu agar tidak dapat buang air besar kecuali setelah makan.

9)

Penyakit
Beberapa penyakit pencernaan dapat menimbulkan diare dan konstipasi.

10) Anastesi dan pembedahan


Anestesi umum dapat menghalangi impuls parasimpatis, sehingga kadang-kadang dapat
menyebabkan ileus usus. Kondisi ini dapat berlangsung selama 24-48 jam.
11) Nyeri
Pengalaman nyeri waktu buang air besar seperti adanya hemoroid, fraktur ospubis, episiotomi
akan mengurangi keinginan untuk buang air besar.
12) Kerusakan sensorik dan motorik
Kerusakan spinal cord dan injuri kepala akan menimbulkan penurunan stimulus sensorik
untuk defekasi.
c.

Masalah - masalah Umum yang terjadi eliminasi bowel

1) Konstipasi
Konstipasi merupakan keadaan individu yang mengalami atau beresiko tinggi
mengalami statis usus besar sehingga mengalami eliminasi yang jarang atau keras, serta tinja
yang keluar jadi terlalu kering dan keras.
2) Diare
Diare merupakan keadaan individu yang mengalami atau beresiko sering mengalami
pengeluaran feses dalam bentuk cair. Diare sering disertai kejang usus, mungkin ada rasa
mula dan muntah.
3) Inkontinensia usus
Inkontinesia usus merupakan keadaan individu yang mengalami perubahan
kebiasaan dari proses defekasi normal, sehingga mengalami proses pengeluaran feses tidak
disadari. Hal ini juga disebut sebagai inkontinensia alvi yang merupakan hilangnya
kemampuan otot untuk mengontrol pengeluaran feses dan gas melalui sphincter akibat
kerusakan sphincter.
4) Kembung
Kembung merupakan keadaan penuh udara dalam perut karena pengumpulan gas
berlebihan dalam lambung atau usus.
5) Hemorroid
Hemorrhoid merupakan keadaan terjadinya pelebaran vena di daerah anus sebagai
akibat peningkatan tekanan di daerah anus yang dapat disebabkan karena konstipasi,
peregangan saat defekasi dan lain-lain.

6) Fecal Impaction
Fecal impaction merupakann massa feses karena dilipatan rektum yang diakibatkan
oleh retensi dan akumulasi materi feses yang berkepanjangan. Penyebab fecal impaction
adalah asupan kurang, aktivitas kurang, diet rendah serat, dan kelemahan tonus otot.
d. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Eliminasi Bowel
1. Pengkajian
a.

Riwayat Keperawatan

1) Pola defekasi : frekuensi, pernah berubah.


2) Perilaku defekasi : penggunaan laksatif, cara mempertahankan pola.
3) Deskripsi feses : warna, bau, dan tekstur.
4) Diet : makanan yang mempengaruhi defekasi, makanan yang biasa dimakan, makanan yang
dihindari, dan pola makan yang teratur atau tidak.
5) Cairan : jumlah dan jenis minuman/hari
6) Aktivitas : kegiatan sehari-hari
7) Kegiatan yang spesifik.
8) Penggunaan medikasi : obat-obatan yang memengaruhi defekasi.
9)

Stress : stress berkepanjangan atau pendek, koping untuk menghadapi atau bagaimana
menerima.

10) Pembedahan/penyakit menetap.


b. Pemeriksaan Fisik
Abdomen : distensi, simetris, gerakan peristaltik, adanya massa pada perut, tenderness.
Rektum dan anus : tanda-tanda inflamasi, perubahan warna, lesi, fistula, hemorroid, adanya
massa, tenderness.
c.

Keadaan Feses
Konsistensi, bentuk, bau, warna, jumlah, unsur abnormal dalam feses : lendir.

d. Pemeriksaan Diagnostik
Anuskopi
Proktosigmoidoskopi
Rontgen dengan kontras
2. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi

a.

Gangguan eliminasi : konstipasi (aktual/risiko)


Definisi : kondisi dimana seseorang mengalami perubahan pola yang normal dalam
berdefikasi dengan karakteristik menurunnya frekuensi buang air besar dan feses yang keras.
Kemungkinan berhubungan dengan :

Imobilisasi
Menurunnya aktivitas fisik
Ileus
Stress
Kurang privasi
Menurunnya mobilitas intestinal
Perubahan atau pembatasan diet
Kemungkinan data yang ditemukan :
Menurunnya bising usus
Mual
Nyeri abdomen
Adanya massa pada abdomen bagian kiri bawah
Perubahan konsistensi feses, frekuensi buang air besar.
Kondisi klinis kemungkinan terjadi pada :
Anemia
Hipotiroidisme
Dialisa ginjal
Pembedahan abdomen
Paralisis
Cedera spinal cord
Imobilisasi yang lama
Tujuan yang diharapkan :
Pasien kembali ke pola normal dari fungsi bowel
Terjadi perubahan pola hidup untuk menurunkan faktor penyebab konstipasi.
Intervensi
1) Catat dan kaji kembali warna, konsistensi, jumlah dan waktu buang air besar.
Rasional : pengkajian dasar untuk mengetahui adanya masalah bowel.
2) Kaji dan catat pergerakan usus
Rasional : deteksi dini penyebab konstipasi

3) Jika terjadi fecal impaction :


Lakukan pengeluaran manual
Lakukan gliserin klisma
Rasional : membantu mengeluarkan feses
4) Konsultasi dengan dokter tentang :
Pemberian laksatif
Enema
Pengobatan
Rasional : meningkatkan eliminasi
5) Berikan cairan adekuat
Rasional : membantu feses lebih lunak
6)

Berikan makanan tinggi serat dan hindari makanan yang banyak mengandung gas dengan
konsultasi bagian gizi
Rasional : menurunkan konstipasi

7) Bantu klien dalam melakukan aktivitas pasif dan aktif


Rasional : meningkatkan pergerakan usus
8) Berikan pendidikan kesehatan tentang :
Personal hygiene
Kebiasaan diet
Cairan dan makanan yang mengandung gas
Aktivitas
Kebiasaan buang air besar
Rasional : mengurangi / menghindari inkontinensia
b. Gangguan eliminasi : diare
Definisi : kondisi di mana terjadi perubahan kebiasaan buang air besar dengan karakteristik
feses cairan.
Kemungkinan berhubungan dengan :
Inflamasi, iritasi dan malabsorbsi
Pola makan yang salah
Perubahan proses pencernaan
Efek samping pengobatan
Kemungkinan data yang ditemukan :

Feses berbentuk cair


Meningkatnya frekuensi buang air besar
Meningkatnya peristaltik usus
Menurunnya nafsu makan
Kondisi klini kemungkina terjadi pada :
Peradangan bowel