Anda di halaman 1dari 5

PERBEDAAN HUKUM PIDANA

INDONESIA DAN SYARIAT ISLAM

MUH. NUR UDPA

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN


KEMENTERIAN DALAM NEGERI
2016

Indonesia merupakan negara hukum dengan jumlah penduduk yang


mayoritas beragama Islam. Namun, sistem hukum yang dianut Indonesia secara
keseluruhan bukanlah sistem hukum Islam. Terdapat perbedaan yang cukup
signifikan antara aturan yang diatur di Indonesia dengan aturan yang diatur dengan
menggunakan hukum Islam misalnya saja pada beberapa aturan di bawah ini :
1. Zina
Zina secara harfiah berarti fahisyah yaitu perbuatan keji. Secara istilah
merupakan hubungan kelamin antara seorang lekaki dengan seorang
perempuan juga satu sama lain tidak terikat dalam hubungan perkawinan.
Hukuman zina ditetapkan dalam tiga hukuman yaitu dera, pengasingan, dan
rajam. Hukuman dera dan pengasingan ditetapkan untuk pembuat zina tidak
muhshan (belum menikah) dan hukuman rajam dikenakan terhadap zina
muhshan. Kalau kedua pelaku zina tidak muhshan (keduanya belum
menikah) maka keduanya dijilid atau diasingkan. Namun jika keduanya
muhshan maka keduanya dijatuhi hukuman rajam.
Sedangkan pada KUHP pada Pasal 284 mengatur pemberian hukuman
penjara selama-lamanya sembilan bulan dengan ketentuan jika Laki-laki yang
beristri, berbuat zina, sedang diketahuinya, bahwa kawannya itu bersuami;
Perempuan yang bersuami berbuat zina; Laki-laki yang turut melakukan
perbuatan itu, sedang diketahuinya, bahwa kawannya itu bersuami;
Perempuan yang tiada bersuami yang turut melakukan perbuatan itu, sedang
diketahuinya, bahwa kawannya itu beristri dan Pasal 27 Kitab UndangUndang Hukum Perdata berlaku pada kawannya itu. Berdasarkan Pasal 284
ayat (1) KUHP, seseorang tidak bisa dikenakan tindak pidana perzinaan bila
dilakukan oleh seorang laki-laki lajang dengan perempuan yang juga lajang.
KUHP hanya mendefinisikan zina adalah perbuatan persetubuhan yang

dilakukan oleh laki-laki atau perempuan yang telah kawin dengan perempuan
atau laki-laki yang bukan istri atau suaminya.
2. Jenis hukuman yang diberikan pada kasus pencurian
Pencuri merupakan orang yang mengambil benda atau barang milik orang
lain secara diam-diam untuk dimiliki. Pencurian diancam hukuman potong
tangan dan kaki sesuai dengan firman Allah SWT Laki-laki yang mencuri dan
perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan
bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah dan llah Maka
Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al-Maidah 38). Sedangkan pada KUHP
mengatur bahwa hukuman yang diberikan pada kasus pencurian sebatas
hukuman penjara dengan jumlah masa hukuman penjara bermacam-macama
tergantung dari tingkatan jenis pencurian tersebut.
3. Hukuman
Berdasarkan Pasal 10 KUHP membagi hukuman menjadi dua bentuk yakni
hukuman pokok dan hukuman tambahan. Hukuman pokok yaitu hukuman
mati, hukuman penjara, hukuman kurungan, hukuman denda, dan hukuman
tutupan. Sedangkan hukuman tambahan yaitu pencabutan beberapa hak
yang tertentu, perampasan barang yang teertentu, dan pengumuman
keputusan hakim. Sedangkan dalam Syariat islam mebagi hukuman menjadi
tiga bagian yaitu:
a. Hudud (Zina,
pencurian,

(qadzaf

harobah

atau

penuduhan

zina),minum-minuman

perampokan,riddah

atau

murtad

keras,
dan

pemberontakan.
b. Qishash (hukuman yang seimbang) contohnya pembunuhan sengaja dan
penganiayaan.
c. Tajir (hukuman yang bersfat pendidikan)
4. Tidak ada aturan terkait perbuatan-perbuatan manusia di dunia dan di akhirat
yang tidak diatur dalam syariat Islam tapi banyak hal yang tidak diatur dalam
KUHP, misalnya saja pada hal-hal yang diatur secara personal.

Menurut penulis berdasarkan sudut pandang Hukum Islam defenisi :


a. Bersih adalah bebas dari kotoran, tidak tercemar, tidak dicampur dengan
unsur atau zat lain. Kotoran yang dimaksudkan dalam hal ini tidak berkaitan
dengan hal-hal yang membuat batalnya ibadah kita (Suci), dengan kata lain
bersih belum tentu menandakan sahnya ibadah kita.
b. Kotor adalah suatu keadaan yang tidak bersih, tidak kena noda.
Benda yang kotor itu belum tentu najis. Digambarkan dalam suatu contoh,
pakaian kita yang tekena tanah kelihatannya menjadi kotor. Akan tetapi
pakaian itu tidak najis dan tetap sah jika dipakai untuk melakukan shalat.
Hanya karena pakaian kotor itu tidak bagus kelihatannya, maka sebaiknya
pakaian itu harus kita bersihkan terlebih dahulu. Jangan sampai kita shalat
(beribadah) menghadap Allah SWT dengan memakai pakaian yang kotor,
walaupun itu sah hukumnya.

Anda mungkin juga menyukai