Anda di halaman 1dari 10

ANALISIS HUKUM ATAS

PEMANFAATAN SUMBER DAYA


GENETIK

MUH. NUR UDPA

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN


KEMENTERIAN DALAM NEGERI

2016

Identifikasi masalah-masalah dari PERLINDUNGAN HUKUM SUMBER DAYA


GENETIK HEWAN TERNAK
1. Indonesia merupakan negara kepulauan dengan ciri khas daerah yang berbeda-beda,
tidak hanaya dari segi adat istiadat, hewan ternak penduduk lokal disetiap daerah
memiliki keunggulan yang berbeda;
2. Indonesia dikenal memiliki keanekaragaman hewan yang cukup banyak;
3. Hewan hingga saat ini telah dilindungi dalam Undang-Undang tentang Konservatif
Sumber Daya Alam dan Ekosistem, namun secara terperinci mengenai perlindungan
sumber daya genetik hewan ternak belum ada;
4. Kepemilikan sumber daya genetik hewan ternak belum diatur secara jelas;
5. Tingginya rekayasa genetik pada era globalisasi menunjukkan

peluang

pengambilalihan kepemilikan semakin tinggi;


6. Tumpang tindih dan perebutan hak antara masyarakat tradisional dan stakeholder
mengindikassikan lemahnya perlindungan sumber daya genetik hewan ternak.
Dalam perkembangan hukum (harta) kekayaan, setidaknya terdapat lima teori yang
mendukung keberadaan lembaga privat property antara lain :
a. The occupation theory yang menunjukkan bahwa adanya perlindungan hukum secara
faktual bagi pemegang hak untuk menguasai atau memiliki suatu benda;
b. The labor theory bahwa dalam diri seseorang melekat moral right untuk kepemilikan
dan pengawasan terhadapa suatu benda yang telah dihasilkan atau diperoleh melalui
tenaga kerjaanya;
c. The contract theory bahwa adanya privat property merupakan hasil dari suatu kontrak
antara individu dengan masyarakat;
d. The natural rights theory bahwa hukum alam memberikan pengaruh terhadap
pengakuan adanya privat property;
e. The social utility theory bahwa hukum seharusnya memajukan pemenuhan kebutuhan
dan aspirasi manusia secara maksimum sebagai wujud dari perlindungan hukum dari
privat property.
Teori Utility
Menurut Bentham, prinsip utilitarianisme ini harus diterapkan secara kuantitatif. Karena
kualitas kesenangan selalu sama, maka satu-satunya aspek yang bisa berbeda adalah

kuantitasnya. Dengan demikian, bukan hanya the greatest number yang dapat diperhitungkan,
akan tetapi the greatest happiness juga dapat diperhitungkan. Untuk itu, Bentham
mengembangkan Kalkulus Kepuasan (the hedonic calculus). Menurut Bentham ada faktorfaktor yang menentukan berapa banyak kepuasan dan kepedihan yang timbul dari sebuah
tindakan. Faktor-faktor tersebut adalah :
(1) menurut intensitas (intensity) dan lamanya (duration) rasa puas atau sedih yang timbul
darinya. Keduanya merupakan sifat dasar dari semua kepuasan dan kepedihan ; sejumlah
kekuatan tertentu (intensitas) dirasakan dalam rentang waktu tertentu.
(2) menurut kepastian (certainty) dan kedekatan (propinquity) rasa puas atau sedih itu.
Contoh semakin pasti anda dipromosikan , semakin banyak kepuasan yang anda dapatkan
ketika memikirkannya, dan semakin dekat waktu kenaikan pangkat, semakin banyak
kepuasan yang dirasakan.
(3) menurut kesuburan (fecundity), dalam arti kepuasan akan memproduk kepuasan-kepuasan
lainnya, dan kemurnian (purity). Maksudnya kita perlu mempertimbangkan efek-efek yang
tidak disengaja dari kepuasan dan kepedihan. Kesuburan mengacu pada kemungkinan
bahwa sebuah perasaan tidak akan diikuti oleh kebalikannya, tetapi justru akan tetap menjadi
dirimurninya sendiri, dalam arti kepuasan tidak akan mengarah kepada kepedihan atau pun
sebaliknya kepedihan tidak akan menimbulkan kepuasan.
4) menurut jangkauan (extent) perasaan tersebut. Dalam arti kita perlu memperhitungkan
berapa banyak kepuasan dan kepedihan kita mempengaruhi orang lain. Contoh orang tua
merasa puas ketika anak berprestasi dan merasa sedih ketika anak jatuh sakit.
Pada pendekatan ulititarian, tidak membedakan istilah antara sumber daya genetik maupun
sumber daya hayati. Teori utilitarian mementingkan nilai dari sumber daya ketika disebarka,
ditransfer ke varietas lain, disintesis untuk digunakan dalam beberapa ilmiah atau tujuan
industri. Secara umum praktek ini didasarkan pada tujuan penggunaan sumber daya biologis,
sebagai sumber informasi genetik. satu-satunya cara mengontrol penggunaan sumber daya
organik yaitu dengan melihat informsi yang disampaikan oleh pemohon izin tersebut dan
apakah itu menyatakan bahwa akses ke sumber daya hayati untuk berbagai tujuan selain
untuk komposisi genetiknya.

Teori Hukum Alam John Locke


John Locke menguraikan mengenai prinsip kepemilikan dalam bukunya yaang berjudul
Second Treaties of Goverment dimana konsep kepemilikan yang dikembangkan
sesungguhnya bukan dalam konteks hukum tetapi dalam upaya mengurangi kekuasaan raja
dengan memberikan hak kepada individu yang dapat dipertahankan dari pemaksaan dan
penekanan oleh kekuasaan pemerintah; hak yang tidak dapat diambil dari seseorang tanpa
izinnya. Secara inheren kebebasan dan hak individu yang diperjuangkan pada masa itu
terwakili dalam konsep properti tersebut.
Teori Hak Milik Pribadi
Sebelum terbentuknya masyarakat dan pemerintah, secara alamiah atau dalam masyarakat
pra-politik, manusia berada dalam keadaan yang bebas sama sekali dan berkedudukan
sama/sederajat (perfectly free and equals). Karena bebas dan berkedudukan sama, tiada orang
yang bermaksud merugikan kehidupan, kebebasan, dan harta milik orang lain. Setiap manusia
berhak mendapatkan hak milik pribadi.
Dalam bukunya The Second Treatise terutama pada bab V Locke menguraikan pandangannya
tentang hak milik. Pada bagian awal ia mendukung konsep hukum kodrat bahwa manusia
menurut kodratnya mempunyai hak untuk mempertahankan hidupnya sendiri, dan hak untuk
mempertahankan hidup umat manusia seluruhnya. Ini berarti, bahwa kelangsungan hidup
manusia tidak hanya merupakan suatu kewajiban, tetapi bahkan merupakan hak. Semua
manusia mempunyai hak untuk hidup dan mempertahankan hidupnya. Untuk itu, manusia
berhak atas semua sarana yang memungkinkannya untuk hidup secara layak sebagai manusia.
Ada dua argumentasi/dasar yang melegitimasi bahwa semua orang mempunyai hak untuk
memiliki sesuatu, baik hidupnya sendiri maupun segala sarana untuk mendukung hidupnya.
a. Hak Milik Pribadi sebagai Pemberian dari Allah
Manakah dasar fundamental yang melegitimasi bahwa manusia mempunyai hak atas
apa yang tersedia di alam? Berbicara mengenai hak milik yang diberikan pada
manusia berarti berbicara tentang hak milik secara umum. Locke setuju dengan kaum
Stoa dan Grotius, ia berpendapat bahwa demi kelangsungan hidupnya Tuhan telah
memberikan dunia kepada manusia untuk dimiliki secara bersama. Dikatakan bahwa
Allah, yang telah memberikan dunia kepada seluruh bangsa manusia, juga telah
memberi mereka akal sehat untuk mempergunakan dunia milik bersama itu sebaik-

baiknya demi hidup yang bahagia dan berjalan lancar. Bumi dan segala miliknya
diberikan kepada manusia untuk mendukung dan menyenangkan hidupnya. Semua
manusia mempunyai hak yang sama untuk menggunakan sumber-sumber daya alam
bagi kelangsungan hidupnya. Setelah dilahirkan, manusia mempunyai hak untuk
menikmati apa yang disediakan oleh alam. Apa yang terdapat di alam diberikan oleh
Allah untuk kesejahteraan seluruh bangsa manusia. Hal ini dikatakan dalam kitab
suci: Allah telah memberikan bumi ini kepada anak-anak manusia(Mzm 115:16).
Bumi dan segala isinya telah diberikan kepada manusia untuk mendukung dan
menjamin kehidupannya. Allah telah memberikan dunia kepada Adam dan seluruh
keturunannya, maka dengan dasar yang sama itu semua orang pun mempunyai hak
atas apa yang diterimanya dari Allah. Dari kodratnya manusia telah mempunyai dasar
atas hak milik untuk dipergunakan secara pribadi dan tak dapat dirampas orang lain.
Pendasaran teologis yang dihubungkan dengan hukum kodrat ini menunjukkan bahwa
sebelum terjadi kesepakatan dalam masyarakat pun manusia telah mempunyai hak
atas miliknya. Pendasaran kodrat ini mendahului kesepakatan yang dibuat oleh
manusia, bahwa Tuhan sendirilah yang menjamin hidup manusia. Allah tidak hanya
mencipta manusia, tapi juga memelihara kehidupan ciptaannnya dengan menyediakan
apa yang perlu bagi hidupnya. Allah memberikan bumi dengan segala isinya untuk
mendukung hidup manusia.
b. Hak Milik Pribadi yang diperoleh dari Kerja
Hak milik yang didasarkan pada pemberian Allah mempunyai sifat yang masih
umum, kepemilikan ini masih menunjukkan kepemilikan bersama. Persoalan yang
muncul kemudian ialah bagaimana supaya kepemilikan bersama itu beralih menjadi
kepemilikan pribadi. Dasar apa yang melegitimasi hak milik pribadi? Bilamana
barang-barang yang sebelumnya menjadi milik umum akhirnya beralih fungsi
menjadi milik pribadi?
Dalam kitab kejadian Allah memberi perintah kepada manusia untuk menaklukkan
dunia. Kerja adalah salah satu sarana untuk melaksanakan tugas tersebut. Locke
mengatakan bahwa Kerja tubuhnya dan karya tangannya, dapat kita katakan,
adalah sesuatu yang khas miliknya. Dengan kata lain, kerja merupakan dimensi
mendasar dari hidup manusia, karena kerja membuat hidup manusia lebih manusiawi.
Kerja mempunyai peranan yang sangat penting untuk melegitimasi milik umum
menjadi milik pribadi. Artinya, kerja-lahyang membuat barang-barang itu beralih dari
keadaan alam di mana semuanya itu milik bersama, menjadi hak milik dia yang telah
mencurahkan kerja jerih payah atasnya.

Berkat kerja manusia memindahkan barang-barang dari keadaan bebas dan menjadi
milik bersama menjadi milik khas dirinya dan tidak memungkinkan orang lain untuk
memiliki hak atas barang itu atau merampasnya. Kerja merupakan hak milik pekerja
yang tak dapat disangsikan lagi. Maka tidak ada orang, selain dirinya sendiri, yang
mempunyai atas apa yang telah digabungkan dengannya. Locke memberi contoh
sederhana, orang yang diberi makan oleh buah-buah pohon ek yang dipungutnya dari
bawah pohon ek itu, atau buah-buah apel yang dikumpulkannya dari dari pohonpohon di hutan, pastilah telah menjadikan barang-barang itu sebagai miliknya. Tak
ada

yang

menyangkal

bahwa

itu

miliknya.

Kerja

telah

menciptakan

perbedaan/pemisahan antara barang-barang milik umum dan milik pribadi. Kerja yang
adalah milik khas dari pribadi yang bekerja telah menanamkan hak miliknya atas
barang-barang dari keadaan umum.
Fungsi Pemerintah dalam memelihara hak milik pribadi
Manusia menurut kodratnya telah memiliki hak-hak, yaitu yang disebut hak-hak azasi
manusia. Ketika terjadi perjanjian masyarakat, setiap individu menyerahkan hak-haknya tapi
tidak seluruh hak. Hak azasi-lah yang tertinggal. Ini lah yang kemudian membatasi peran
penguasa. Peran pemerintah dibatasi oleh hak azasi. Pemerintah berfungsi untuk menjalankan
atau mengontrol hukum-hukum yang telah dibuat bersama demi menjamin kehidupan,
kebebasan dan hak milik. Hal-hal yang melanggar hak-hak azas inilah yang harus diberantas.
Pemerintah wajib memerintah dan mengatur dengan undang-undang yang telah ditetapkan
bersama. Hal ini untuk mencegah konflik dalam masyarakat. Dengan demikian pemerintah
menjaga keamanan masyarakat terhadap hak miliknya masyarakat. Dengan demikian
terciptalah kedamaian, keamanan dan kesejahteraan bersama.
Locke memberi pendasaran pada teori hak milik. Hak milik ini diperoleh manusia
sejak lahir, muncullah paham tentang hak azasi manusia. Sejak kelahirannya, manusia
mempunyai hak atas segala sesuatu yang diberikan oleh Allah dalam alam. Alam menjadi
milik bersama yang bisa dinikmati oleh semua demi kesejahteraan manusia. Oleh karena
kerja manusia mengalihkan apa yang menjadi milik bersama menjadi milik peribadi yang tak
dapat diganggu-gugat oleh pihak lain. Setiap manusia mempunyai hak yang sama untuk
mengambil kepemilikan bersama menjadi milik pribadi. Adanya kesamaan hak ini berarti bila
ada satu pihak yang tidak memperoleh hak itu karena ada pihak lain yang menutup
kemungkinan mendapatkan haknya, maka pihak itu bisa menuntut haknya. Maka di sini

pentingnya fungsi pemerintah. Fungsi negara adalah menjaga agar hak milik ini tetap
terpelihara.

Teori Hak Milik Intelektual


Hak kekayaan intelektual merupakan suatu hak milik yang berada da;am ruang
lingkup teknologi, ilmu pengetahuan, maupun seni dan sastra. Pemilikannya bukan terhadap
barangnya melainkan tehadap hasil kemampuan intelektual manusianya yatiu diantaranya
berupa ide. Hak kekayaan intelektual merupakan hak kebendaan. Hak atas sesuatu benda
yang bersumber dari hasil kerja otak, hasil kerja ratio. Hasil dari pekerjaan ratio manusia
yang menalar. Hasil kerjanya itu berupa benda immateriil. Hasi kerja otak tersebut kemudian
dirumuskan sebagai intelektualias, orang yang optimal memerankan kerja otaknya disebut
sebagai orang yang terpelajar, mampu menggunakan rasio, mampu berpikir secara rasional
dengan menggunakan logika (metode berpikir, cabang filsafat) karena hasil pemikirannya
disebut rasional logis, orang yang tergabung dalam kelompok ini disebut kaum intelektual.
Menurut Damian pada hakikatnya hak kekayaan intelektual dapat dideskripikan sebagai hakhak atas hartaa kekayaan yang merupakan produk olah pikir manusia. Dengan perkataan lain,
hak atas kekayaan intelektual adalah hak atas harta kekayaan yang timbul dari kemampuan
intelektual manusia. Kekayaan semacam ini bersifat pribadi dan berbeda dari kemampuan
intelektual manusia, seperti hak atas harta kekayaan yang diperoleh dari alam, harta kekayaan
yang diperoleh dari benda-benda tidak bergerak dan bergerak.
Prinsip utama pada HKI yaitu hasil kreasi dari pekerrjaan dengan memakai
kemampuan intelektualnya tersebut, maka pribadi yang menghasilkannya mendapatkan
kepemilikannya berupa hak alamiah (natural). Begitulah sistem hukum romawi
menyebutkannya sebagai cara perolehan alamiah (natural acqusition) berbentuk spesifikasi,
yaitu melalui penciptaan. Pandangan demikian terus didukung, dan dianut banyak sarjana,
mulai dari Locke sampai kepada kaum sosialis Sarjana-sarjana hukum romawi menamakan
apa yang diperoleh di bawah system masyarakat, ekonomi, dan hukum yang berlaku sebagai
perolehan sipil dan dipahamkan bahwa asas suum cuique tribuere menjamin, bahwa pada
benda diperoleh secara demikian adalah kepunyaan seseorang itu. Pada tingkatan paling
tinggi dari hubungan kepemilikan, hukum bertindak lebih jauh, dan menjamin bagi setiap
manusia penguasaan dan penikmatan eksklusif atas benda atau ciptaannya tersebut dengan
bantuan Negara. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa perlindungan hukum adalah untuk
kepentingan si pemilik, baik pribadi maupun kelompok yang merupakan subjek hukum.
System

Hak

atas

Kekayaan

Intelektual

yang

berkembang

sekarang

mencoba

menyeimbangkan di antara 2 (dua) kepentingan, yaitu antara pemilik hak dan kebutuhan
masyarakat umum. Sebagai cara untuk menyeimbangkan kepentingan dan peranan pribadi
individu dengan kepentingan masyarakat, maka sistem Hak Kekayaan Intelektual
berdasarkan pada prinsip :
1. Prinsip Keadilan (the principle of natural justice) Pencipta sebuah karya atau orang
lain yang bekerja membuahkan hasil dari kemampuan intelektualnya, wajar memperoleh
imbalan. Imbalan tesebut dapat berupa materi maupun bukan materi, seperti adanya rasa
aman karena dilindungi dan diakui atas hasil karyanya. Hukum memberikan perlindungan
tersebut demi kepentingan pencipta berupa suatu kekuasaan untuk bertindak dalam rangka
kepentingannya trersebut, yang disebut hak. Setiap hak menurut hukum itu mempunyai title,
yaitu suatu peristiwa tertentu yang menjadi alas an melekatnya hak itu pada pemiliknya.
Menyangkut hak milik intelektual, maka peristiwa yang menajadi alasan melekatnya itu,
adalah penciptaan yang mendasarkan atas kemampuan intelektualnya. Perlindungan ini pun
tidak terbatas di dalam negeri si penemu sendiri, tetapi juga dapat perlindungan di luar batas
negaranya. Hal itu karena hak yang ada pada seseorang ini mewajibkan pihak lain untuk
melakukan(commission) atau tidak melakukan (omission) sesuatu perbuatan.
2. Prinsip Ekonomi (the economic argument) Hak atas kekayaan intelektual ini
merupakan hak yang berasal dari hasil kegiatan kreatif suatu kemampuan daya pikir manusia
yang diekspresikan kepada khalayak hukum dalam berbagai bentuknya, yang memiliki
manfaat serta berguna dalam menunjang kehidupan manusia, maksudnya ialah bahwa
kepemilikan itu wajar karena sifat ekonomis manusia yang menjadikan hal itu 1 (satu)
keharusan untuk menunjang kehidupannya didalam masyarakat. Dengan demikian, Hak atas
Kekayaan

Intelektual

merupakan

suatu

bentuk

kekayaan

bagi

peliliknya.

Dari

kepemilikannya, seseorang akan mendapatkan keuntungan, misalnya dalam bentuk


pembayaran royalty dan technical fee. Prinsip kebudayaan (the cultural argument) Kita
mengonsepsikan

bahwa

karya

manusia

itu

pada

hakikatnya

bertujuan

untuk

memungkinkannya hidup, selanjutnya dari karya itu pula akan timbul pula suatu gerak hidup
yang harus menghasilkan lebih banyak karya lagi. Dengan konsepsi demikian maka
pertumbuhan,perkembangan ilmu pengetahuan,seni, dan sastra sangat besar artinya bagi
peningkatan taraf kehidupan, peradaban, dan martabat manusia. Selain itu, juga kan
memberikan keslahatan bagi masyarakat, bangsa, dan Negara. Pengakuan atas kreasi, karya,
karsa, dan cipta manusia yang dibaukan dalam sitem Hak Milik Intelektua adalah suatu usaha

yang tidak dapat dilepaskan sebagai perwujudan suasana yang diharapkan mampu
membangkitkan semangat dan minat untuk mendorong melahikan ciptaan baru.
4. Prinsip sosial (the social argument) Hukum tidak mengatur kepentingan manusia
sebagai perseorangan yang berdiri sendiri, terlepas dari manusia yang lain, tetapi hukum
menagtur kepentingan manusia sebagai warga masyarakat. Jadi, manusia dalam hubungannya
dengan manusia lain, yang sama-sama terikat dalam 1 (satu) ikatan kemasyarakatan. Dengan
demikian, hak apa pun yang diakui oleh hukum dan diberikan kepada perseorangan atau yang
diakui oleh hukum dan diberikan kepada perseorangan atau suatu persekutuan atau kesatuan
lain, tidak boleh diberikan semata-mata untuk memenuhi kepentingan perseorangan atau
suatu prsekutuan, atau ksatuan itu saja, tetapi pemberian hak kepada perseorangan
persekutuan/kesatuan itu diberikannya hak tersebut kepada perseorangan, persekutuan
ataupun kesatuan hukum itu, kepentingan seluruh masyarakat akan terpenuhi.

Anda mungkin juga menyukai