Anda di halaman 1dari 10

KEN DEDES, WANITA UTAMA DARI DESA PANAWIJEN

Sepenggalan kisah dari jaman Singasari


.. kengkis wetisira, kengkab tekeng rahasyanica, nener katon murub denira Ken Angrok .
(Sebuah kutipan dari Pararaton yang artinya: . tersingkap betisnya, yang terbuka sampai
rahasyanya, lalu kelihatan bernyala oleh Ken Angrok .)

Arca Wajah Ken Dedes


Ken Angrok memang tidak sengaja ! mungkin semua terjadi karena kehendak dewata.
Saat Ken Dedes yang sedang hamil muda duduk bercengkerama dengan suaminya, di taman
Boboji, secara kebetulan Ken Angrok yang sudah bekerja di Tumapel mendapat angin baik;
angin penyingkap kain istri sang Akuwu, hingga menyingkap terlihat betis dan paha, bahkan
sampai jauh ke ujung yang disebut dalam kitab Pararaton sebagai rahasianya Ken Dedes.
Penulis kitab Pararaton ketika itu tentu amat menghargai Ken Dedes, sehingga dengan gaya
eufemistis mengguratkan kata rahasianya untuk menjelaskan suatu keterangan yang bersifat
pribadi.
Nyala rahasianya Ken Dedes itu yang bikin Ken Angrok pusing. Pemuda ini tahu apa
arti rahasianya wanita, namun nyala rahasianyaKen Dedes membuatnya gundah gulana. Ken
Dedes kembangnya kraton Tumapel asal desa Panawijen. Kecantikannya sempurna, tak ada
wanita yang menyamai keindahan paras muka dan tubuh Ken Dedes yang semok dan
menggairahkan menurut Pararaton. Kasmaran sira Ken Angrok tan wruh ring tingkahira . jatuh
cintalah Ken Angrok, tak tau apa yang akan diperbuatnya.
Angrok yang kasmaran dan penasaran, langsung menanyakannya pada pendeta Loh
Gawe, asal India yang juga Bapak angkatnya. Bapak Dang Hyang, ada seorang perempuan
bernyala rahasianya,tanda perempuan yang bagaimanakah? Tanda buruk atau baik? Dang
Hyang menjawab: Jika ada perempuan yang demikian, buyung, perempuan itu namanya
nariswari. Ia adalah perempuan yang paling utama. Meskipun orang berdosa, jika memperistri
perempuan itu, ia akan menjadi maharaja. Ken angrok tertegun dan kemudian berkata: Bapa
Dang Hyang, perempuan yang bernyala rahasianya itu adalah istri sang Akuwu di Tumapel. Jika
demikian Akuwu akan saya bunuh dan saya ambil istrinya. Tentu ia akan mati, itu kalau Bapak
Dang Hyang mengijinkan. Loh Gawe menjawab, Ya, tentu matilah, Tunggul Ametung olehmu.

Hanya saja saya tak pantas memberi ijin itu kepadamu, itu bukan tindakan seorang pendeta.
Batasnya adalah kehendakmu sendiri.
***
Angrok pergi menemui Bapak angkatnya yang lain, Bango Samparan dan disarankan
untuk memesan keris ke Mpu Gandring yang sakti dan bisa menusuk tembus Tunggul Ametung.
Angrok menanti, dan mengambil keris pesanannya setelah membunuh Mpu Gandring si pembuat
keris. Keris sakti dipinjamkan kepada kawannya, Kebo Ijo, untuk kambing hitam membunuh
sang Akuwu. Ditengah malam pulas, Angrok membunuh Tunggul Ametung, Kebo Ijo yang
dituduh karena semua orang mengira keris itu milik Kebo Ijo. Untuk menghilangkan jejak, Kebo
Ijo langsung dibunuh Ken Angrok ketika tidur pulas setelah mabuk. Untuk melampiaskan
dendam cintanya, Angrok langsung mengawini Ken Dedes yang sedang hamil tua. Di masa ahir
hayatnya Angrok juga korban keris yang dilaknat oleh pembuatnya itu.
Ken Dedes memang nariswari (utama). Gadis desa Panawijen, di lereng timur gunung
Kawi, putri pendeta Budha, Mpu Parwa, sejak remaja memang sudah ditakdirkan hidup dan
menerima karunia sekaligus nestapa. Ketika disunting Tunggul Ametung, sebenarnya Ken Dedes
lebih tepat diculik dan dikawin paksa dari pada dilamar dan dibawa ke rumah calon suaminya.
Mpu Parwa ketika itu tengah bertapa, Tunggul Ametung tak sabar menanti lama-lama. Ken
Dedes dilarikan ke Tumapel diperistri tanpa restu mertuanya.
Mpu Parwa kecewa dan menumpahkan sumpahnya, Nah semoga yang melarikan
anakku tidak lanjut mengenyam kenikmatan, semoga ia ditusuk keris dan diambil istrinya
Adapun anakku yang menyebabkan gairah dan bercahaya terang, kutukku kepadanya semoga ia
mendapat keselamatan dan kebahagiaan besar. Betul juga kenyataannya kemudian. Ken Dedes
yang teramat cantik itu juga wanita yang ardanariswari. Siapa saja yang memperistrinya akan
menjadi maharaja. Ken Dedes telah dicatat selama hidupnya nglakoni karma amandangi atau
bertingkah laku sempurna,tanpa cela dan salah langkah.
Selain berkah rohani dan jasmani, perilakunya juga luput dari lelakon buruk. Sebagai
wanita, Ken Dedes bernasib tidak begitu indah. Dimasa mekarnya kuncup kegadisannya, dia
direnggut lelaki setengah tua bak Lutfiana Ulfa di jaman kini, bedanya Ulfa cinta banget dengan
Syeh Puji sebagai pria idamannya. Baru merasakan nyamannya perubahan tubuh berbadan dua,
suami resminya yang dikatakan amat menyayangi, tahu-tahu dibunuh lelaki yang ia saksikan di
depan matanya, tapi tak bisa apa-apa. Di masa hamil tua menjelang persalinan, Ken Dedes harus
rela dinikahi Ken Angrok sebagai pendamping baru di purinya. Pararaton mengkisahkan antara
Ken angrok dengan Ken Dedes adalah memang jodoh yang disetujui dewa-dewa, dan memang
sudah lama saling naksir.
***
Ken dedes yang sampai akhir hayat menjadi permaisuri di Singasari,juga menjadi ibu suri
dari beberapa putra-putri, termasuk anak lelaki tunggal, Anusapati, putra dari Bapak biologisnya
Tunggul Ametung. Karena merasa diperlakukan berbeda dengan para saudaranya di keraton,
maka bertanyalah Anusapati pada ibunya, dan Ken Dedes terpaksa membuka rahasia lama

perihal matinya Tunggul Ametung. Ken Dedes tak kuasa melawan kehendak dewata waktu
Anusapati meminta keris Mpu Gandring. Ken Dedes hanya merasakan kutukan yang akan
menimpa diri Ken Angrok. Ken Dedes kemudian harus menahan rasa kewanitaannya ketika
Anusapati mati pula ditembus keris Mpu Gandring oleh Toh Jaya, putra tiri dari istri ke dua
suaminya.

Arca Prajnaparamita
Dalam sejarah dicatat keturunan Ken Dedes dari benih Tunggul Ametung jauh sampai ke
cucu-cicitnya. Juga dari benih Ken Angrok, Ken Dedes memberikan putra-putrinya, cucu dan
keturunannya. Sampai digaris keturunan ke empat, terjadi penyatuan antara keturunan Ken
Dedes dari darah Ken Angrok dengan keturunan Ken Dedes dari darah Tunggul Ametung.
Peristiwa ini kita ketahui dari pernikahan Raden Wijaya dengan dua putri Kertanegara, yang
tercatat sebagai manusia-manusia tangguh dan besar yang meneruskan tradisi kerajaan, bukan di
Singasari lagi namun raja besar dalam sejarah Indonesia kuno . Majapahit. Tidak ada
keterangan yang pasti kapan istri Tunggul Ametung dan Ken Angrok ini menutup ajal. Padahal
dari rahim Ken Dedes inilah telah menurunkan raja-raja besar Majapahit, dinasty Rajasa,
termasuk Kertanegara dan Hayam Wuruk.
Nama besar Ken Dedes selalu muncul dalam tafsir masyarakat jaman dulu dan kini. Ini
candi Ken Dedes, patung batu yang ada di museum, itu patung Ken Dedes, begitulah soal candi
di Singasari dan arca Prajnaparamita. Terkadang tampa sadar, orang masa kinipun lebih
mengagumi Ken Dedes yang cantik. Beberapa rekan saya bahkan membandingkan kecantikan
Manohara dengan kesempurnaan paras Ken Dedes. Wanita dari Panawijen itu adalah perempuan
utama dan penurun raja-raja besar Jawa Timur di masa lampau.
Arca Prajnaparamita sebagai puncak maha karya seniman patung di jaman Singasari,
temuan di candi kecil tak jauh dari candi Singasari-Malang, dianggap perwujudan Ken Dedes!
Prajnaparamita adalah nama dewi yang sejajar dengan dewa-dewi lainnya. Perwujudannya

sangat cantik, dianggap sebagai dewa ilmu pengetahuan, karena diarcanya terdapat sulur teratai
yang menanggung keropak atau kitab. Wujud arca Ken Dedes dalam tafsir masyarakat
pengagumnya disamakan dengan dewi Prajnaparamita. Mungkin sudah nasib Ken Dedes, tetap
baik citranya dimasyarakat hingga kini. Namanya dipuja dan wujudnya disamakan dengan dewi
Prajnaparamita. Arca Prajnaparamita itu ditatah pemahatnya delapan abad silam, pernah lama
terlantar, ditemukan direruntuhan candi kecil dekat candi Singasari, kemudian diboyong ke
Belanda, dan dikembalikan ke Indonesia tahun 1978.
Sumber:
1. Hardjowardojo Pitono. R. Drs, Pararaton, Bhatara, Djakarta, 1965.
2. Nugroho Notosusanto, Prof. Dr., Sejarah Nasional Indonesia, Jilid II, Balai Pustaka, Jakarta,
1984.
3. Kompas, Wanita Utama dari Singasari, Ken Dedes, 1989.

Memayu Hayuning Bawono


Pemahaman frase Memayu Hayuning Bawono yang diletakkan sebagai judul web blog ini
mengacu pada pemahaman pengertian yang di tulis oleh DR. Budya Pradipta. Frase tersebut
pernah juga disampaikan beliau di Global Summit (Pertemuan Puncak Dunia) sebagai agenda for
Action bagi United Religions Inisiative, kata Memayu berasal dari kata hayu (cantik, indah atau
selamat) dengan mendapat awalan ma menjadi mamayu (mempercantik, memperindah atau
meningkatkan keselamatan) yang diucapkan sering-sering sebagai memayu.
Kata Hayuning berasal dari kata hayu dengan mendapatkan kata ganti kepunyaan ning (nya) yg
diartikan cantiknya indahnya atau selamatnya (keselamatannya) terjemahan bebasnya dari
memayu hayuning: mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan.
Sedangkan kata Bawono berarti dunia dalam pengertian dunia batin, jiwa atau rohani. Dalam
pengertian lahiriah ragawi, atau jasmaniahnya dipergunakan kata buwono yang berati dunia
dalam arti fisik. Bawono terdiri dari tiga macam arti dan makna yaitu:
Bawono Alit (kecil) yg bermakna pribadi dan keluarga
Bawono Agung (besar) yg berati masyarakat, bangsa, negara dan international (global)
Bawono Langgeng (abadi) adalah alam akhirat
Secara keseluruhan terjemahan bebas dari Memayu Hayuning Bawono adalah mengusahakan
(mengupayakan) Keselamatan, Kebahagiaan, dan Kesejahterann Hidup di Dunia. Sepi ing
pamrih, Memayu Hayunig Bawono (credo) Sepi ing pamrih rame ing gawe, Sastro Cetho
Harjendro Hayuning.
Ada juga pihak yang menterjemahkan pengertian Memayu Hayuning Bawana ini
menegaskan bahwa segenap tubuh manusia (kita) di dalam jiwa dan tubuh jasmaninya saling
berhubungan dan berkaitan secara seimbang dengan energi alam semesta yang membawa energi
hawa dengan nafsu yang ada di jiwa kita, yang keduanya tidak bisa dipisahkan.
Sumonggo sami Memayu Hayuning Bawono kersanipun saget angsal katentreman lan gesang
langgeng.

Cogito ergo sum


Cogito ergo sum adalah sebuah ungkapan yang diutarakan oleh Descartes, sang filsuf ternama
dari Perancis. Artinya adalah: "aku berpikir maka aku ada". Maksudnya kalimat ini membuktikan
bahwa satu-satunya hal yang pasti di dunia ini adalah keberadaan seseorang sendiri. Keberadaan
ini bisa dibuktikan dengan fakta bahwa ia bisa berpikir sendiri.
Jika dijelaskan, kalimat "cogito ergo sum" berarti sebagai berikut. Descartes ingin mencari
kebenaran dengan pertama-tama meragukan semua hal. Ia meragukan keberadaan benda-benda
di sekelilingnya. Ia bahkan meragukan keberadaan dirinya sendiri.

Descartes berpikir bahwa dengan cara meragukan semua hal termasuk dirinya sendiri tersebut,
dia telah membersihkan dirinya dari segala prasangka yang mungkin menuntunnya ke jalan yang
salah. Ia takut bahwa mungkin saja berpikir sebenarnya tidak membawanya menuju kebenaran.
Mungkin saja bahwa pikiran manusia pada hakikatnya tidak membawa manusia kepada
kebenaran, namun sebaliknya membawanya kepada kesalahan. Artinya, ada semacam kekuatan
tertentu yang lebih besar dari dirinya yang mengontrol pikirannya dan selalu mengarahkan
pikirannya ke jalan yang salah.
Sampai di sini, Descartes tiba-tiba sadar bahwa bagaimanapun pikiran mengarahkan dirinya
kepada kesalahan, namun ia tetaplah berpikir. Inilah satu-satunya yang jelas. Inilah satu-satunya
yang tidak mungkin salah. Maksudnya, tak mungkin kekuatan tadi membuat kalimat "ketika
berpikir, sayalah yang berpikir" salah. Dengan demikian, Descartes sampai pada kesimpulan
bahwa ketika ia berpikir, maka ia ada. Atau dalam bahasa Latin: COGITO ERGO SUM, aku
berpikir maka aku ada.
Candi

Pernahkah anda berkunjung/wisata ke obyek sejarah ?


Banyak orang berasosiasi pikirannya ke candi jika ditanya perihal obyek wisata
bersejarah. Tentu bagi mereka yang tempat tinggalnya berdekatan dengan situs
obyek candi, langsung akan menjawab candi! Orang/masyarakat Maluku akan
teringat benteng peninggalan Portugis atau Belanda. Pun demikian dengan
penduduk propinsi Bengkulu bila ditanya dengan pertanyaan serupa. Masyarakat
Cirebon, Jogja, Inderapura dan Pontianak yang tinggal di dekat bekas-bekas pusat
kerajaan akan menyebut Istana atau keraton. Peninggalan bersejarah berupa candi
banyak dijumpai di Jawa Tengah dan Jawa Timur hanya sedikit yang berada di Jawa
Barat dan Sumatra.
Meski berdekatan dengan candi, cukup banyak warga ke dua propinsi yang
berdekatan dengan candi, tidak mengerti tentang candi. Tulisan berikut sekedar
sharing informasi mengenai candi, meski telah banyak tulisan diberbagai media
yang mencoba menjelaskan tentang candi secara lebih spesifik.
ARTI CANDI
Patung Civa Mahadewi = Roro JonggrangWikipedia mendefinisikan Candi sebagai
bangunan tempat ibadah dari peninggalan masa lampau yang berasal dari agama
Hindu-Buddha. Prof. HJ Krom dan Dr. WF Stutterheim mengartikan candi dari asal
katanya CANDIKA. Candika = Dewi maut (di Indonesia dikenal Bethari Durga =

Durga Sura Mahesa Mardhani) dan GRHA = GRAHA = GRIYA/GRIYO yang artinya
rumah. Jadi Candi menurut mereka adalah rumah untuk bethari Durga = rumah
dewi maut. Wujud Ciwa Durga Sura Mahesa Mardhani dapat kita jumpai di candi
Prambanan pada Candi Ciwa, pada wujud patung yang oleh masyarakat setempat
dikenal sebagai Roro Jonggrang.
Istilah 'candi' tidak hanya digunakan oleh masyarakat untuk menyebut tempat
ibadah dengan bentuk bangunan layaknya bangunan peribadatan saja. Hampir
semua situs-situs purbakala dari masa Hindu-Budha atau Klasik Indonesia, baik
sebagai istana, pemandian/petirtaan, gapura, dan sebagainya, disebut dengan
istilah candi.
STRUKTUR CANDI

Secara umum struktur candi dipilah tersusun tiga bagian


tegak (vertikal). Bagian kaki candi disebut BHURLOKA melambangkan dunia
manusia (dunia bawah=bhumi); bagian tubuh candi disebut BHUVARLOKA
melambangkan dunia untuk yang disucikan; dan bagian atap candi dikenal dengan
SVARLOKA yang merupakan dunia dewa-dewa.
Pada candi Borobudur (Budha) Struktur kaki terdapat dilapisan KAMADHATU yaitu
perlambang dunia yang masih dikuasai oleh kama atau "nafsu rendah". Relief kisah
Kammawibhangga terpahatkan di dindingnya meski hanya beberapa panel yang
tampak. Menumpuk di atas lapisan kamadhatu terdapat empat lantai lapisan
dengan dinding berelief yang dinamai para ahli arkeologi sebagai lapisan
RUPADHATU melambangkan dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu,
tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan rupadhatu melambangkan
alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Pahatan patung Budha di
lapisan ini, diletakkan di ceruk-ceruk dinding di atas selasar. Tigkatan paling atas
(head) atap candi pada Borobudur disebut lapisan ARUPADHATU = lapisan tidak
berwujud. Tingkatan ini berlantai dasar bundar melambangkan alam atas, symbol
manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun
belum mencapai sorga (nirwana). Patung Budha pada lapisan ini diletakkan di
dalam stupa bertutup dengan rongga-rongga berbentuk belah ketupat dan persegi.

Tingkatan tertinggi yang menggambarkan


ketiadaan
wujud dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupanya polos
tanpa rongga.
Struktur candi Borobudur mengingatkan kita akan konsep awal arsitektur bangunan
di masa purba Indonesia berupa punden berundak-undak. Beberapa ahli arkeologi
arsitek klasik berpendapat bahwa struktur candi Borobudur mendapatkan pengaruh
kekuatan lokal genius nenek moyang bangsa Indonesia di masa purba itu.
FUNGSI CANDI
Hampir semua ahli sejarah sependapat bahwa konsep dan arsitek candi berasal dari
pengaruh Hindu dari India yang menyebar pengaruhnya hingga ke Nusantara
sekitar abad ke 4 hingga abad ke 15. Pengertian pengaruh Hindu di sini adalah
untuk menyebut semua bentuk pengaruh yang berasal dari India yang masuk ke
Nusantara pada periode yang disebutkan di atas. Pengaruh-pengaruh itu
diantaranya agama/kepercayaan Hindu dan Budha dengan tata cara ritualnya,
Bahasa dan tulisan (Sansekerta dan Palawa), Konsep kasta dalam masyarakat
(stratifikasi sosial), sistem pemerintahan feodal dan arsitektur bangunan.
Dari tempat asalnya, fungsi candi merupakan bangunan suci untuk
pemujaan/upacara ritual kepada para dewa. Setibanya di Nusantara fungsi candi
tidak hanya difungsikan untuk pemujaan (bangunan suci) tetapi juga untuk tempat
perabuan (baca=kuburan). Dimasa kerajaan Hindu-Budha berjaya di tanah air,
jenazah para raja yang diyakini sebagai titisan dewa setelah dikremasi
(diperabukan=dibakar) ditanam di candi pada suatu wadah yang disebut peripih.
Dalam istilah kuno proses ritual demikian diistilahkan dengan kata dicandikan,

artinya dimakamkan di candi.


Sebagaimana kita pahami di atas, bahwa pengertian candi di Indonesia tidak hanya
dipakai untuk menyebut peninggalan-peninggalan masa klasik dalam bentuknya

seperti bangunan suci tempat ibadah/ritual. Terdapat banyak peninggalan berupa


patirtan atau tempat pemandian. Tentu saja peninggalan seperti ini dahulu
difungsikan sebagai tempat mandi dan aktifitas sehari-hari seperti mandi dan cuci
atau tempat pemandian para putri raja dan kerabatnya. Demikian pula bentuk candi
berupa keraton dan gapura. Keraton merupakan tempat tinggal dan pusat
pemerintahan raja yang memerintah,dan gapura difungsikan sebagai tempat pintu
masuk ke wilyah keraton atau tempat penting lainnya.
PERBANDINGAN CANDI DI JAWA TENGAH DAN DI JAWA TIMUR
Pabila kita perhatikan lebih spesifik, terdapat banyak perbedaan antara candi-candi
yang ada di Jawa Tengah dengan candi-candi yang ada di Jawa Timur. Memang ada
persamaannya seperti fungsi dan strukturnya secara umum. Perbedaan-perbedaan
spesifik candi di kedua wilayah itu diantaranya adalah; 1. Segi bentuk candinya.
Secara umum candi-candi yang ada di Jawa Tengah bentuknya terkesan tambun
(gemuk) sedangkan di Jatim lebih ramping.
2. Pada pintu (relung pintu masuk) terdapat KALA-MAKARA yang di Jatim jarang
dijumpai Makaranya.
3. Relief yang terpahat pada dinding candi-candi di Jawa Tengah adalah relief timbul
dengan gaya naturalis sementara pada candi-candi di Jawa Timur sedikit timbul
dengan gaya impresif.
Relung Pintu Masuk Borobudur4. Di Jateng, candi induk diletakkan di tengah
komplek perandian sedangkan di Jatim agak kebelakang.
5. Candi-candi di Jateng banyak yang menghadap ke timur, dan yang berada di
Jatim banyak berarah hadap ke barat.
6. Bahan baku pembuatan candi di Jawa Tengah dari batu andesit (batuan
vulkanik/batu kali) dan di Jawa Timur sebagian besar terbuat dari batu bata (bata
merah = dari tanah liat).
Masih banyak perbedaan-perbedaan yang secara spesifik dapat dikemukakan,
namun keenam perbedaan di atas dengan cepat dapat kita perbandingkan.

Anda mulai tertarik dengan candi? Pergi dan pelajarilah. Anda akan banyak
memperoleh pelajaran dari masa silam itu. Peninggalan-peninggalan kuno berupa
candi banyak berbicara dalam kebisuannya. Candi-candi itu menggelar fakta-fakta
masa lampau yang harus kita baca kita ambil manfaat pelajaran yang diperoleh
darinya. Kearifan nenek moyang bangsa ini di masa lampau jelas tergurat dalam

setiap bentuk pada candi. Filosofi of life masa silam itupun banyak tersiratkan di
panel-panel reliefnya.
Selamat berkelana ke masa silam anda.