Anda di halaman 1dari 3

Struktur Pasar Modal Indonesia

Terkini

Bursa Efek Indonesia (Foto: Okezone)

Jurnalis

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google

AA

MENJADI investor di pasar modal tidak cukup hanya memahami mekanisme transaksi jual-beli efek, baik
saham maupun obligasi serta untung-rugi berinvestasi. Investor yang baik, sebaiknya juga mengetahui
semua perangkat atau lembaga yang terlibat dalam mendukung terlaksananya aktivitas perdagangan di
pasar modal Indonesia serta fungsi-fungsinya. Hal ini penting untuk diketahui agar investor dapat
memahami dan melaksanakan semua ketentuan atau aturan yang telah ditetapkan. Selain itu, investor
juga dapat memahami segala haknya untuk mendapat perlindungan demi terlaksananya kegiatan pasar
modal yang teratur, wajar, dan efisien.
Oleh karena itu, pada edisi kali ini kita akan membahas Struktur Pasar Modal Indonesia. Struktur tersebut
terdiri berbagai lembaga atau instansi yang tersusun sistematis mulai dari dari otoritas tertinggi pasar
modal, self regulatory organization, serta pihak-pihak lain yang mendukung dan memiliki peran dalam
menjalankan roda aktivitas transaksi pasar modal. Mungkin sebagian investor sudah pernah
mengetahuinya, namun tidak salah untuk mengulas kembali mengingat terjadi beberapa perubahan
penting pada level tertinggi struktur tersebut.
Perubahan itu bermula dengan lahirnya Undang-undang Nomor 21 Tahun 2011 Tentang Otoritas Jasa
Keuangan (OJK) yang berlaku pada tanggal 22 November 2011. OJK berperan sebagai Pengawasan
Lembaga Jasa Keuangan di Indonesia yang sebelumnya dilakukan oleh beberapa lembaga yaitu
pengawasan perbankan oleh Bank Indonesia sementara pengawasan pasar modal dan lembaga
keuangan lainnya dilakukan oleh Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam LK)
menjadi pengawasan yang dilakukan oleh lembaga tunggal, yaitu OJK tersebut.
Dalam Undang-Undang tersebut dijelaskan bahwa OJK melaksanakan tugas pengaturan dan
pengawasan, terhadap kegiatan jasa keuangan di sektor perbankan dan pasar modal. Hal ini berarti OJK

menggantikan fungsi Bapepam-LK sebagai otoritas tertinggi industri perbankan dan pasar modal
Indonesia.
Di bawah OJK terdapat tiga Self Regulatory Organization (SRO) atau lembaga yang memiliki kewenangan
untuk membuat peraturan yang berhubungan dengan aktivitas usahanya di pasar modal Indonesia
masih sama, yaitu terdiri dari Bursa Efek Indonesia (BEI), Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan
Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
BEI merupakan satu-satunya lembaga penyelenggara perdagangan efek di Indonesia yang berperan
untuk memastikan agar perdagangan efek di pasar modal Indonesia yang teratur, wajar, dan efisien.
Pemegang saham BEI adalah perusahaan efek yang telah memperoleh izin usaha sebagai perantara
pedagang efek, disebut sebagai Anggota Bursa (AB).
Adapun lembaga penyimpanan dan penyelesaian dilaksanakan oleh KSEI. Lembaga ini bertugas
menyediakan jasa kustodian sentral dan penyelesaian transaksi yang teratur, wajar, dan efisien. Saham
LPP dapat dimiliki oleh Bursa Efek, Bank Kustodian, AB, Perusahan Efek, Badan Administrasi Efek atau
pihak lain yang disetujui oleh OJK.
SRO ketiga yaitu lembaga kliring dan penjaminan dengan tugas menyediakan jasa kliring dan
penjaminan penyelesaian transaksi Bursa Efek yang teratur, wajar, dan efisien. Sejak tanggal 5 Agustus
1996, KPEI menjalankan peran itu. Saham KPEI sendiri secara mayoritas wajib dimiliki oleh BEI.
Di bawah SRO terdapat sejumlah lembaga dengan peran dan fungsi masing-masing, mereka terdiri dari
perusahaan efek yang bisa menjalankan tiga peran yaitu sebagai penjamin emisi efek, perantara
pedagang efek maupun sebagai manajer investasi. Kemudian terdapat lembaga penunjang pasar modal
yang terdiri dari lembaga kustodian, Badan Administrasi Efek, Wali Amanat, Pemeringkat Efek dan Penilai
Efek. Selain yang telah disebutkan tadi, pada lembaga penunjang, sejak tahun lalu diramaikan dengan
hadirnya lembaga baru bernama Dana Perlindungan Pemodal (SIPF).
Peran dan fungsi SIPF yaitu mengumpulkan dana untuk melindungi pemodal dari hilangnya aset
pemodal. Adapun dana Perlindungan Pemodal diadministrasikan dan dikelola oleh perseroan yang telah
mendapatkan izin usaha dari OJK untuk menyelenggarakan dan mengelola Dana perlindungan Pemodal
dalam hal ini adalah PT. Penyelenggara Program Perlindungan Investor Efek Indonesia (Indonesia
Securities Investor Protection Fund). Karena itu kehadiran lembaga ini diharapkan akan membawa
kenyamanan investor berinvestasi di pasar modal.
SIPF tadi melengkapi lembaga lain yang siap membantu pemodal yaitu Badan Arbitrase Pasar Modal
Indonesia (BAPMI) dan Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA). Pada struktur juga terdapat para profesi
penunjang seperti akuntan, konsultan hukum, penilai, dan notaris. Kemudian tentu terdapat emiten atau
perusahaan publik yang menjadi penerbit efek baik saham maupun obligasi yang ditransaksikan di pasar
modal baik di pasar perdana maupun pasar sekunder. Tidak lupa juga produk-produk reksa dana yang
bisa menjadi pilihan pemodal yang pada praktiknya dikelola oleh manajer investasi. (Tim BEI)
(rzk)