Anda di halaman 1dari 4

DEVELOPMENT AND UNDER DEVELOPMENT

Dalam memahami buku development and under development, penulis memahami


bahwasanya buku tersebut menceritakan bagaimana caranya apabila sesuatu negara ingin
melakukan pembangunan. Dalam melakukan pembangunan yang terpenting didalamnya
adalah bagaimana pemerintah membuat rencana dan tahapan pembangunan. Pada buku
tersebut, contoh yang diambil untuk menggambarkan rencana, pola dan tahapan
pembangunan adalah teori 5 tahapan pembangunan dari Rostow.
Pemahaman penulis dari teori tersebut adalah bagaimana pemerintah memahami
potensi utamanya, merancang apa yang akan dilakukannya, dan apa yang ingin dicapai
dimasa depan. Perencanaan pembangunan negara tentunya harus runut dan jelas termasuk
didalamnya mengakomodir penggunaan teknologi dan juga dampaknya, baik itu dampak
secara sosial maupun dampak terhadap sistem ekonomi. Dampak secara sosial adalah
terjadinya perubahan sistem sosial dan juga pola kerja masyarakat dari yang sederhana
menuju masyarakat yang memiliki spesifikasi ditengah pola kerja yang kompleks dan
terstruktur, yang merombak struktur sosial tradisional. Dampak terhadap ekonomi lebih
condong pada upaya untuk mensiasati peningkatan kualitas masyarakat dan juga dampak
pengurangan pekerja akibat hadirnya teknologi modern. Tahapan lanjutan dari teknologi
tentunya adalah hadirnya berbagai macam bentuk industri yang harus menjadi investasi bagi
pemerintah sekaligus harus dapat menjadi sarana pemerataan pendapatan dari pesatnya
pembangunan suatu negara. Meningkatnya perekonomian tentunya akan pula berdampak
pada perbaikan pola budaya terutama pola demokrasi. Implementasi model atau pola
pembangunan ini perlu dibarengi dengan kebijakan yang seiring serta penataan struktur
wilayah dan penataan struktur ekonomi masyarakat agar dapat berdampak pada pemerataan
kesejahteraan dan kelangsungan pembangunan.
Penerapan model pembangunan tetap harus mewaspadai gejala-gejala transisi yang
timbul, gejala ini dapat berdampak positif maupun negatif kepada sistem pembangunan yang
dianut oleh suatu negara. Salah satu ciri masa transisi tersebut adalah hadirnya ketimpangan
dalam pemerataan hasil pembangunan. Pengaruh dari ketimpangan adalah hadirnya kaum
urban kedaerah perkotaan. Untuk merespon ketimpangan pendapatan dan kaum urban maka
pemerintah harus merancang kebijakan pemerataan. Kaum urban ini merupakan suatu
pertanda masyarakat yang melangkah menuju modern, karena pola tradisional mulai
ditinggalkan. Dalam pembangunan kaum urban haruslah dinilai positif dan ditangani secara

baik, karena kaum urban inilah yang membangun sektor industri dan menjadi penggerak
pembangunan ekonomi.
Faktor ketimpangan menjadi berbahaya manakala hadirnya inflasi yang tinggi karena
hasil pembangunan hanya dinikmati oleh sebagian orang. Distribusi anggaran yang baik
adalah bagaimana merancang agar susunan distribusi anggaran antara kelas atas, kelas
menengah dan kelas bawah tetap proporsional, itu yang akan menjamin kegiatan
pembangunan terus berjalan. Susunan distribusi yang proporsional akan menjaga
kelangsungan pembangunan karena masyarakt terus bekerja dan tertuju untuk membangun
sistem karena kebutuhan mereka.
Bagian kedua dari buku tersebut masih merupakan kelanjutan dari pembahasan
sebelumnya, bahwasanya kehadiran ketimpangan pendapatan merupakan hal yang lumrah
dalam pembangunan karena itu ditujukan untuk kelangsungan dari kegiatan pembangunan itu
sendiri. Apabila terlalu tinggi kelas atas maka pembangunan tidak akan berjalan, karena tidak
ada pekerja, untuk itu strategi pemerataan dari sudut kebijakan akan lebih baik apabila berupa
jaminan sosial. Fenomena ketimpangan memang lumrah terjadi, hal yang berbahaya dan
membuat stagnasi adalah pemerintahan yang tidak berkembang sesuai perkembangan
masyarakat (misalnya pemerintahan yang otoriter). Perkembangan politik dan pemerintahan
harus sejalan dengan perkembangan ekonomi, dimana kebijakan kebijakan demokrasi juga
harus berjalan. Alokasi pemerintah dalam pembanguan akan terhambat apabila pemerintah
tidak mampu membuka saluran ekonomi yang seiring dengan saluran demokrasi, karena
dalam hal ini akan mengganggu jalannya kebijakan penerimaan pemerintah dari berbagai
sumber, terutama pajak, karena tidak proporsionalnya distribusi pendapan didalam
masyarakat. Suatu hal yang lumrah, seperti ketimpangan ekonomi, akan menjadi berbahaya
ketika saluran distribusi terhambat, karena yang kaya akan semakin kaya, dan yang miskin
akan semakin miskin hingga tidak dapat berkontribusi pada negara melalui pajak.
Integrasi dalam sistem ekonomi global sebenarnya mengharuskan negara miskin
untuk mengikuti sistem pembangunan ekonomi negara kaya. Dalam hal ini negara miskin
diharuskan untuk dapat mengadopsi pola pembangunan dan pertumbuhan ekonomi beserta
sumber-sumbernya. Pertumbuhan dan pembangunan ekonomi saling mempengaruhi satu
sama lain. Disatu sisi, pembangunan ekonomi akan mendorong pertumbuhan ekonomi. Di
sisi lain, pertumbuhan ekonomi akan memperlancar proses pembangunan ekonomi. Oleh
karena itu masyarakat menganggap pertumbuhan sama dengan pembangunan ekonomi.
Namun ilmu ekonomi memisahkan antara pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Istilah
pertumbuhan ekonomi adalah menerangkan atau mengukur prestasi dari perkembangan suatu
2

perekonomian negara. Dalam kegiatan perekonomian yang sebenarnya pertumbuhan


ekonomi berarti perkembangan fisikal produksi barang dan jasa yang berlaku di suatu negara.
Pertumbuhan ekonomi itulah yang kan mendorong perkembangan sektor sektor produksi
sesui dengan tahapannya (seperti yang diungkapkan oleh Rostow adanya lima tahapan
pembangunan). akan tetapi dari integrasi sistem pembangunan tersebut maka tidak dapat
dielakkan bahwa negara yang lebih dulu untuk maju akan mengekploitasi negara yang baru
berkembang baik secara kelembagaan, ideologi maupun secara politik.
Sambungan pada bagian ketiga menjelaskan bahwasanya negara harus tetap
mengalami pertumbuhan ekonomi, tidak tertutup hanya untuk negara dengan pendapatan
rendah atau sedang saja, akan tetapi juga pada negara dengan pendapatan tinggi. Kemiskinan
pada penduduk negara yang berpendapatan rendah mengharuskan mereka untuk menyusun
kebijakan pembangunan dengan baik. Akan tetapi hal tersebut juga harus dilakukan oleh
negara yang memiliki pendapatan yang tinggi karena negara dengan pendapatan tinggi juga
harus mengalami perkembangan dan pertumbuhan, karena masyarakat didalam negara maju
dan berpendapatan tinggi tentunya akan terus berkembang. Kebijakan yang harus disusun
oleh pemerintah untuk dapat menciptakan pertumbuhan ekonmi yang cepat adalah dengan
penggunaan teknologi pada potensi yang dimiliki serta menyusun langkah pembangunan
industri. Identitas negara berpendapatan rendah adalah kemiskinan, akan tetapi hal itu bukan
lah alasan, pemerintah harus mampu untuk memanfaatkan kekurangan tersebut menjadi
semangat perubahan dan mencapai tingkat kemakmuran layaknya negara dengan pendapatan
yang tinggi. Upaya yang dapat dilakukan oleh negara dengan pendapatan rendah adalah
melakukan integrasi sistem ekonomi melalui kebijakan yang diambil oleh pemerintah dengan
orientasi pada jangka pendek dan panjang. Orientasi jangka pendek ini digunakan untuk
megatasi masalah-masalah yang hadir dari tahapan pembangunan yang dipilih, akan tetapi
kebijakna ini tetapp harus berorientasi pada pertumbuhan dimasa mendatang (misalnya
pilihan allokasi pembangunan suatu potensi dari pertanian menuju industri). Kebijakan
jangka panjang haruslah berorientasi pada investasi dan tujuan pertumbuhan ekonomi yang
terus meningkat. Dalam merancang pertumbuhan ekonomi ini pemerintah harus membuka
diri dan berintegrasi juga dengan negara lain terutama dalam penyaluran hasil produksi dan
juga impor teknologi dan modal yang berorientasi masa mendatang.
Bagian keempat memperlihatkan tentang perkembangan budaya masyarakat dimana
masyarakat miskin dan pengangguran yang tinggi dihasilkan oleh sistem yang mengacu pada
pertumbuhan ekonomi tanpa pemerataan yang baik. Kemiskinan tersebut berasal dari
rendahnya upah buruh, rendahnya peran organisasi sosial, serta penumpukan harta pada kelas
3

atas. Masyarakat yang berada pada kedudukan seperti itu merupakan masyarakat pada
golongan paling rendah yang sedang mengalami proses perkembangan dan penyesuaian
terhadap sistem ekonomi. Untuk mengatasi masyarakat miskin dan pengangguran tersebut
pemerintah harus mampu utnuk membangun sistem dan kebijakan pembangunan ekonomi
yang refolusioner. Dalam hal ini pemerintah harus mampu untuk menciptakan pemanfaatan
potensi dan sumber-sumber ekonomi yang disertai dengan pemerataan pendapatan.
Pemerataan pendapatan ini dapat berupa berbagai bentuk, akantetapi lebih baik dengan
mengoptimalkan organisasi sosial untuk dapat meningkatkan kemampuan dan partisipasi
masyarakat golongan rendah tersebut.
Pada bagian kelima dapat dipahami bahwa dinia ini menganut sistem kapitalisme,
seluruh negara berintegrasi utnuk menciptakan keselarasan sistem, walaupun dalam hal ini
terdapat ketidak seimbanan dari segi pengaruh. Negara yang kaya mempengaruhi negara
kelas menengah dan kelas bawah, terutama utnuk mengekploitasi sumberdayanya. Melalui
sistem ini para pemodal menginfestasikan modal mereka pada negara kelas menengah
maupun negara kelas bawah yang sedang tumbuh. Modal tersebut dapat dipindahkan apabila
sistem ekonomi mulai terlihat tidak efisien karena upah yang tinggi. Melalui proses ini maka
negara kelas menengah dan kelas bawah dapat membangun ekonominya, meskipun didalam
pengaruh negara kaya, akan tetapi sistem mereka mengalami perubahan. Pada negara yang
sedang berkembang, investasi yang dilakukan oelh negara kaya adalah dengan memasukkan
industri, karena negara kaya membutuhkan sumber daya yang ada pada negara berkembang.
Selain menjadi sarana eksploitasi, negara berkembang juga menjadi pasar bagi negara kaya
melalui konsumsi produksi yang dihasilkan oleh negara kaya (berupa teknologi dan berbagai
produk pembangunan).