Anda di halaman 1dari 12

1. Selain glukosa yang termasuk ke dalam monosakarida adalah....

A. laktosa
B. galaktosa
C. maltosa
D. sukrosa
JAWABAN
B. galaktosa
karena galaktosa merupakan salah satu monosakarida
2.. Vitamin A yang aktif dan siap digunakan terdapat pada....
A. daging
B. wortel
C. pepaya
D. sawi

JAWABAN
A. daging
karena daging merupakan bahan pangan hewani yang mengandung
vitamin
A dan siap digunakan tubuh.
3. Pada bayi baru lahir pengukuran antropometri yang paling sering
digunakan
adalah parameter....
A. lingkar lengan atas
B. berat badan
C. lingkar dada
D. umur
JAWABAN
B. berat badan
karena berat badan merupakan ukuran antropometri yang terpenting dan
paling sering digunakan pada bayi yang baru lahir untuk mendiagnosa
bayi
lahir normal atau tidak.
5. Bila diketahui BB/TB rendah; BB/U rendah; TB/U normal, maka status
gizi
menurut klasifikasi WHO adalah....
A. lebih, tidak obesitas
B. kurang
C. buruk,kurang
D. buruk
JAWABAN
C. buruk,kurang
karena menuruit klasifikasi WHO, berat badan/tinggi badan rendah, berat
badan menurut umur rendah dan tinggi badan menurut umur normal

termasuk
kedalam status gizi buruk/ kurang
6. Seorang perempuan berusia 22 tahun berobat ke dokter 3 bulan setelah
menemukan sebuah benjolan pada kuadran lateral bawah mammae
dextra.
Pemeriksaan fisik menunjukkan massa berdiameter 2 cm, berbentuk oval,
padat, halus, dan mobil pada mamae tersebut. Tidak ditemukan
pembesaran
kelenjar getah bening axilla. Jika biopsi eksisi di lakukan pada benjolan
tersebut, maka kemungkinan besar akan menunjukkan tanda-tanda
penyakit:
A. Nekrosis lemak
B. Fibroadenoma
C. Kelainan fibrokistik mammae
D. Karsinoma intraduktal
E. Papilloma intraduktal
JAWABAN
B. Fibroadenoma
7. Kebutuhan minimal manusia secara sehat terhadap air yang meliputi
untuk
tujuan memasak, mandi, mencuci dan kakus adalah :
A. 10 liter/orang/hari
B. 15 liter/orang/hari
C. 30 liter/orang/hari
D. 60 liter/orang/hari
JAWABAN
D. 60 liter/orang/hari
kebutuhan manusia terhadap air untuk berbagai keperluan minimal 60
liter/orang/hari

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2016


Tentang Pedoman Manajemen Puskesmas
Sebagaimana kita ketahui, saat ini sudah terbit Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2016 Tentang Pedoman Manajemen
Puskesmas. Dalam latar belakang Permenkes ini antara lain disebutkan bahwa
untuk melaksanakan upaya kesehatan baik upaya kesehatan masyarakat tingkat
pertama dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama dibutuhkan
manajemen Puskesmas yang dilakukan secara terpadu dan berkesinambungan
agar menghasilkan kinerja Puskesmas yang efektif dan efisien.
Beberapa dasar hukum yang mendasari Permenkes 44 tahun 2016, antara lain:
1.
2.
3.

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan


Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan
Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan
Nasional
4.
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 tentang Pusat
Kesehatan Masyarakat
5.
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 64 Tahun 2015 tentang Organisasi
dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan
Selanjutnya pada lampiran Permenkes beberapa hal dijelaskan antara lain,
bahwa sesuai Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 tentang Pusat
Kesehatan Masyarakat dinyatakan bahwa Puskesmas berfungsi
menyelenggarakan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) dan Upaya Kesehatan
Perseorangan (UKP) tingkat pertama.
Agar Puskesmas dapat mengelola upaya kesehatan dengan baik dan
berkesinambungan dalam mencapai tujuannya, maka Puskesmas harus
menyusun rencana kegiatan untuk periode 5 (lima) tahunan yang selanjutnya
akan dirinci lagi ke dalam rencana tahunan Puskesmas sesuai siklus perencanaan
anggaran daerah.
Semua rencana kegiatan baik 5 (lima) tahunan maupun rencana tahunan, selain
mengacu pada kebijakan pembangunan kesehatan kabupaten/kota harus juga
disusun berdasarkan pada hasil analisis situasi saat itu (evidence based) dan
prediksi kedepan yang mungkin terjadi. Proses selanjutnya adalah penggerakan

dan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rencana kegiatan/program yang


disusun, kemudian melakukan pengawasan dan pengendalian diikuti dengan
upaya-upaya perbaikan dan peningkatan (Corrective Action) dan diakhiri dengan
pelaksanaan penilaian hasil kegiatan melalui penilaian kinerja Puskesmas.
Pada dasarnya, jika kita tarik kebelakang, bahwa pemahaman akan pentingnya
manajemen Puskesmas, telah diperkenalkan sejak tahun 1980, dengan
disusunnya buku-buku pedoman manajemen Puskesmas, seperti antara lain :
1.
2.
3.
4.

Paket Lokakarya Mini Puskesmas (tahun 1982);


Pedoman Stratifikasi Puskesmas (tahun 1984) ;
Pedoman Microplanning Puskesmas (tahun 1986).
Paket Lokakarya Mini Puskesmas direvisi menjadi Pedoman Lokakarya Mini
Puskesmas (tahun 1988), dengan penambahan materi penggalangan
kerjasama tim Puskesmas dan lintas sektor, serta rapat bulanan Puskesmas
dan triwulanan lintas sektor.
5.
Pedoman Lokakarya Mini dilengkapi cara pemantauan pelaksanaan dan
hasil-hasil kegiatan dengan menggunakan instrument Pemantauan Wilayah
Setempat (PWS), pada tahun 1993,.
Pedoman Stratifikasi Puskesmas (tahun 1984), digunakan sebagai acuan
Puskesmas dan dinas kesehatan kabupaten/kota, untuk dapat meningkatan
peran dan fungsinya dalam pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya.
Sementara pedoman Microplanning Puskesmas (tahun 1986), digunakan untuk
acuan menyusun rencana 5 (lima) tahun Puskesmas, yang diprioritaskan untuk
mendukung pencapaian target lima program Keluarga Berencana (KB)-Kesehatan
Terpadu, yang terdiri atas Kesehatan Ibu Anak (KIA), KB, gizi, imunisasi dan diare.
Dengan adanya perubahan kebijakan dalam penyelenggaraan pembangunan
kesehatan, diantaranya Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014,
Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga yang berbasis siklus
kehidupan, Sustainable Development Goals (SDGs), dan dinamika permasalahan
kesehatan yang dihadapi masyarakat, maka pedoman manajemen Puskesmas
perlu disesuaikan dengan perubahan yang ada. Melalui pola penerapan
manajemen Puskesmas yang baik dan benar oleh seluruh Puskesmas di
Indonesia, maka tujuan akhir pembangunan jangka panjang bidang kesehatan
yaitu masyarakat Indonesia yang sehat mandiri secara berkeadilan, dipastikan
akan dapat diwujudkan.
Pedoman Manajemen Puskesmas diharapkan dapat memberikan pemahaman
kepada kepala, penanggungjawab upaya kesehatan dan staf Puskesmas di dalam
pengelolaan sumber daya dan upaya Puskesmas agar dapat terlaksana secara
maksimal. Pedoman Manajemen Puskesmas ini juga dapat dimanfaatkan oleh
dinas kesehatan kabupaten/kota, dalam rangka pelaksanaan pembinaan dan
bimbingan teknis manajemen kepada Puskesmas secara berjenjang.
Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 tentang Pusat
Kesehatan Masyarakat, disebutkan bahwa Puskesmas mempunyai tugas
melaksanakan kebijakan kesehatan untuk mencapai tujuan pembangunan
kesehatan diwilayah kerjanya dan berfungsi menyelenggarakan UKM dan UKP
tingkat pertama diwilayah kerjanya. Puskesmas dalam Sistem Kesehatan Daerah
Kabupaten/Kota, merupakan bagian dari dinas kesehatan kabupaten/kota
sebagai UPTD dinas kesehatan kabupaten/kota. Oleh sebab itu, Puskesmas
melaksanakan tugas dinas kesehatan kabupaten/kota yang dilimpahkan
kepadanya, antara lain kegiatan dalam Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang
Kesehatan Kabupaten/kota dan upaya kesehatan yang secara spesifik
dibutuhkan masyarakat setempat (local specific).

Dalam pelaksanaan tugas dan fungsi Puskesmas tersebut, Puskesmas harus


melaksanakan manajemen Puskesmas secara efektif dan efisien. Siklus
manajemen Puskesmas yang berkualitas merupakan rangkaian kegiatan rutin
berkesinambungan, yang dilaksanakan dalam penyelenggaraan berbagai upaya
kesehatan secara bermutu, yang harus selalu dipantau secara berkala dan
teratur, diawasi dan dikendalikan sepanjang waktu, agar kinerjanya dapat
diperbaiki dan ditingkatkan dalam satu siklus Plan-Do-Check-Action (P-D-C-A).

Siklus Manajemen Puskesmas (sumber Peraturan Menteri Kesehatan Republik


Indonesia Nomor 44 Tahun 2016 Tentang Pedoman Manajemen Puskesmas)
Contoh tahapan kegiatan siklus manajemen Puskesmas (contoh untuk siklus
tahun 2015, 2016, dan 2017), sebagai berikut:
1.
Evaluasi kinerja Puskesmas tahun 2015 melalui Penilaian Kinerja
Puskesmas (PKP), dilaksanakan pada Desember 2015
2.
Persiapan penyusunan Rencana Pelaksanaan Kegiatan (RPK) tahun 2016
berdasarkan Rencana Usulan Kegiatan (RUK) yang telah disetujui dan
dibandingkan dengan hasil kinerja Puskesmas tahun 2015, dilaksanakan pada
Desember 2015
3.
Analisa situasi dan pelaksanaan Survei Mawas Diri (SMD), Musyawarah
Masyarakat Desa (MMD) sebagai bahan penyusunan RUK tahun 2017 dan
Rencana lima tahunan periode 2017 s.d 2021, dengan pendekatan Top-Down
dan Bottom-Up, dilaksanakan pada Minggu Kedua Januari 2016
4.
Lokakarya Mini (Lokmin) Bulanan Pertama, dilaksanakan pada Awal Januari
2016, Minggu keempat Januari 2016

5.

Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes),


dilaksanakan pada Awal Minggu pertama Februari 2016
6.
Lokmin Bulanan Kedua, dilaksanakan Awal Minggu pertama Februari 2016
7.
Lokmin Triwulan Pertama, dilaksanakan pada Akhir Minggu Pertama
Februari 2016
8.
Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kecamatan (Musrenbangmat),
dilaksanakan pada Minggu kedua Februari 2016
9.
Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kabupaten/Kota
(Musrenbangkab/kota), dilaksanakan pada Maret 2016
Pedoman manajemen Puskesmas ini harus menjadi acuan (pasal 1), khususnya
bagi Puskesmas dalam:
1.

Menyusun rencana 5 (lima) tahunan yang kemudian dirinci kedalam


rencana tahunan;
2.
Menggerakan pelaksanaan upaya kesehatan secara efesien dan efektif;
3.
Melaksanakan pengawasan, pengendalian dan penilaian kinerja
puskesmas;
4.
Mengelola sumber daya secara efisien dan efektif; dan
5.
Menerapkan pola kepemimpinan yang tepat dalam menggerakkan,
memotivasi, dan membangun budaya kerja yang baik serta bertanggung
jawab untuk meningkatkan mutu dan kinerjanya.
Sedangkan bagi Dinas kesehatan kabupaten/kota dapat menjadi acuan dalam
melaksanakan pembinaan dan bimbingan teknis manaj emen Puskesmas.

UU NOMOR 25 TAHUN 2004 TENTANG SISTEM PERENCANAAN


PEMBANGUNAN NASIONAL
DECEMBER 1, 2014 TRIANSYAH05 LEAVE A COMMENT
Pembangunan Nasional merupakan rangkaian kegiatan yang meliputi seluruh
kehidupan masyarakat bangsa, dan negara untuk melaksanakan tugas
sebagaimana yang di amanatkan dalam Undang-Undang dasar 1945, yaitu
melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah indonesia memajukan
kesejahtraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta melaksanakan
ketertiban dinia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan
sosial Negara.
Pembangunan nasional dilaksanakan secara berencana, menyeluruh, terpadu,
terarah, bertahap dan berlanjut untuk memicu peningkatan kemampuan
nasional dalam rangka mewujudkan kehidupan yang sejajar dan sederajat
dengan bangsa lain yang maju.
Berbagai macam prospek pembangunan telah dilakukan dari Orde Lama, Orde
Baru hingga masa Reforasi untuk terus mendorong kesejahtraan dan kemajuan
bangsa kea rah yang lebih baik, dalam hal ini pembangunan nasional juga harus
dimulai dari,oleh, dan untuk rakyat, dilaksanakan diberbagai aspek kehidupan
bangsa yang meliputi politik, ekonomi, sosial budaya dan aspek pertahanan
keamanan.

Pembangunan nasional pada dasarnya sangat membutuhkan kesinergian antara


masyarakat dan pemerintah. Masyarakat adalah pelaku utama dalam
pembangunan dan pemerintah berkewajiban untuk mengarahkan, membimbing,
serta menciptakan suasana yang menunjang. Kegiatan masyarakat dan kegiatan
pemerintah harus saling menunjang, saling mengisi, saling melengkapi dalam
memajukan masyarakat dan nasional pada umumnya
Pasal 1

Dalam Undang-undang ini, yang dimaksud dengan:


1.

Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan

masa depan yang tepat, melalui urutan pilihan, dengan


memperhitungkan sumber daya yang tersedia.
2.

Pembangunan Nasional adalah upaya yang dilaksanakan oleh

semua komponen bangsa dalam rangka mencapai tujuan


bernegara.
3.

Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional adalah satu

kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk


menghasilkan rencana-rencana pembangunan dalam jangka
panjang, jangka menengah, dan tahunan yang dilaksanakan
oleh unsur penyelenggara negara dan masyarakat di tingkat
Pusat dan Daerah.
4.

Rencana Pembangunan Jangka Panjang, yang selanjutnya

disingkat RPJP, adalah dokumen perencanaan untuk periode 20


(dua puluh) tahun.
5.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah, yang selanjutnya

disingkat RPJM, adalah dokumen perencanaan untuk periode 5


(lima) tahun.
6.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah

Kementerian/Lembaga, yang selanjutnya disebut Rencana


Strategis Kementerian/Lembaga (Renstra-KL), adalah dokumen
perencanaan Kementerian/ Lembaga untuk periode 5 (lima)
tahun.
7.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Satuan Kerja

Perangkat Daerah, yang selanjutnya disebut Renstra-SKPD,


adalah dokumen perencanaan Satuan Kerja Perangkat Daerah
untuk periode 5 (lima) tahun.
8.

Rencana Pembangunan Tahunan Nasional, yang selanjutnya

disebut Rencana Kerja Pemerintah (RKP), adalah dokumen


perencanaan Nasional untuk periode 1 (satu) tahun.
9.

Rencana Pembangunan Tahunan Daerah, yang selanjutnya

disebut Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), adalah


dokumen perencanaan Daerah untuk periode 1 (satu) tahun.
10. Rencana Pembangunan Tahunan Kementerian/Lembaga, yang
selanjutnya disebut Rencana Kerja Kementerian/Lembaga
(Renja-KL), adalah dokumen perencanaan
Kementrian/Lembaga untuk periode 1 (satu) tahun.
11.
12.

Rencana
Rencana Pembangunan Tahunan Satuan Kerja Perangkat

Daerah, yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Satuan Kerja


Perangkat Daerah (Renja-SKPD), adalah dokumen perencanaan
Satuan Kerja Perangkat Daerah untuk periode 1 (satu) tahun.
12.

Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan

pada akhir periode perencanaan.


13.

Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan

dilaksanakan untuk mewujudkan visi.


14.

Strategi adalah langkah-langkah berisikan program-program

indikatif untuk mewujudkan visi dan misi.


15.

Kebijakan adalah arah/tindakan yang diambil oleh Pemerintah

Pusat/Daerah untuk mencapai tujuan.

16.

Program adalah instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih

kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah/lembaga


untuk mencapai sasaran dan tujuan serta memperoleh alokasi
anggaran, atau kegiatan masyarakat yang dikoordinasikan oleh
instansi pemerintah.
17.

Lembaga adalah organisasi non Kementerian Negara dan

instansi lain pengguna anggaran yang dibentuk untuk


melaksanakan tugas tertentu berdasarkan Undang Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 atau peraturan
perUndang-undangan lainnya.
18.

Program Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat

Daerah adalah sekumpulan rencana kerja suatu


Kementerian/Lembaga atau Satuan Kerja Perangkat Daerah.
19.

Program Lintas Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat

Daerah adalah sekumpulan rencana kerja beberapa


Kementerian /Lembaga atau beberapa Satuan Kerja Perangkat
Daerah.
20. Program Kewilayahan dan Lintas Wilayah adalah sekumpulan
rencana kerja terpadu antar-Kementerian/Lembaga dan Satuan
Kerja Perangkat Daerah mengenai suatu atau beberapa wilayah,
Daerah, atau kawasan.
21.

Musyawarah Perencanaan Pembangunan yang selanjutnya

disingkat Musrenbang adalah forum antarpelaku dalam rangka


menyusun rencana pembangunan Nasional dan rencana
pembangunan Daerah.
22.

Menteri adalah pimpinan Kementerian Perencanaan

Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan


Pembangunan Nasional.
23.

Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah yang bertanggung jawab

terhadap pelaksanaan tugas dan fungsi perencanaan


pembangunan di Daerah Provinsi, Kabupaten, atau Kota adalah
kepala badan perencanaan pembangunan Daerah yang
selanjutnya disebut Kepala Bappeda.
ASAS DAN TUJUAN
Pasal 2
(1) Pembangunan Nasional diselenggarakan berdasarkan
demokrasi dengan prinsip-prinsip kebersamaan, berkeadilan,
berkelanjutan, berwawasan lingkungan, serta kemandirian
dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan
Nasional.
(2) Perencanaan Pembangunan Nasional disusun secara sistematis,
terarah, terpadu, menyeluruh, dan tanggap terhadap
perubahan.
(3) Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional diselenggarakan
berdasarkan Asas Umum Penyelenggaraan Negara.
KESIMPULAN :
Proses pembangunan nasional merupakan suatu kegiatan yang terus menerus
dan menyeluruh dilakukan mulai dari penyusunan suatu rencana, penyususnan
pogram, kegiatan pogram, pengawasan sampai pada pogram terselesaikan.
Dari penjelasan diatas sebagai arah perjalanan pembangunan Indonesia, arah
tersebut telah menciptakan berbagai pembaharuan-pembaharuan untuk terus
menuju ke kesejahteraan rakyat. Catatan-catatan diatas ini tidak lain
dimaksudkan agar setiap tindakan pembangunan secara langsung atau tidak
lansung dilaksanakan demi meningkatkan kecerdasan dan kemakmuran rakyat

banyak. Khususnya dalam meningkatkan perekonomian Indonesia yang lebih


baik.