Anda di halaman 1dari 14

USULAN KEGIATAN

TUGAS AKHIR

PERENCANAAN EKOWISATA SATWA MAMALIA


DI PERKEBUNAN KEPALA SAWIT

AKHMAD FAUZAN MALIK

PROGRAM KEAHLIAN EKOWISATA


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2016

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkebunan kelapa sawit memiliki areal yang luas dan terdapat berbagai
elemen fisik dan biotik sebagai sebuah ekosistem. Kondisi tersebut membuat
perkebunan kelapa sawit menjadi habitat bagi satwa liar. Terlebih lagi kondisi hutan
saat ini dengan permasalahan berupa kebakaran hutan yang lahan bekas
kebakarannya ditanami sawit. Hal tersebut mengubah kawasan hutan menjadi
kawasan perkebunan dan berdampak pada satwa liar yang hidup di dalamnya.
Sebuah ekosistem yang menyerupai kawasan hutan dilihat dari penampakan umum,
namun perkebunan kelapa sawit jika ditinjau dari siklus, jenis dan intensitas
pengelolaanya yang dilakukan secara teratur dan terkendali, perkebunan kelapa sawit
termasuk ke dalam tanaman pertanian.
Perkebunan kelapa sawit memiliki keanekaragaman satwa liar. Hal ini dilihat
dari karakteristik kondisi fisik perkebunan kelapa sawit yang sesuai dengan kondisi
habitat satwa liar, khususnya mamalia. Perkebunan kelapa sawit harus memiliki
kondisi fisik, seperti tanah yang mampu menyerap air dengan baik dan tidak
membuat air menjadi menggenang.
Ciri penggunaan lahan berkelanjutan adalah berorientasi jangka panjang, dapat
memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan potensi untuk masa datang,
pendapatan per kapita meningkat, kualitas lingkungan dapat di pertahankan atau
bahkan ditingkatkan, mempertahankan produktifitas dan kemampuan lahan serta
mempertahankan lingkungan dari ancaman degradasi. Hal ini pula yang diterapkan
pada ekowisata. Ekowisata satwa mamalia di perkebunan kelapa sawit diharapkan
dapat menjadi suatu kegiatan yang berkelanjutan dan memperhatikan lingkungan.
B. Tujuan
Tujuan dari penelitian satwa mamalia yang ingin dicapai adalah sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi dan mempelajari keanekaragaman sumberdaya ekowisata
mamalia mencakup jenis mamalia, habitat mamalia dan etnomamalia.
2. Mempelajari karakteristik dan persepsi dari pengelola yang terkait dengan
sumberdaya ekowisata mamalia
3. Mempelajari karakteristik, persepsi dan preferensi dari pengunjung yang terkait
dengan sumberdaya ekowisata mamalia
4. Mempelajari karakteristik dan persepsi dari masyarakat yang terkait dengan
sumberdaya ekowisata mamalia
5. Merancang program ekowisata mamalia
6. Merancang output ekowisata mamalia berupa media promosi

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A.

Perencanaan
Perencanaan merupakan salah satu dan aspek pertama yang dilakukan dalam
manajemen dan menjadi dasar bagi aspek berikutnya. Perencanaan merupakan
kegiatan untuk mendeskripsikan secara rinci tentang hal hal yang akan diperlukan
dan cara melakukannya untuk mencapai sebuah tujuan. Perencanaan tidak hanya
bertindak sebagai pedoman sebelum melakukan kegiatan. Perencanaan tetap
berlangsung sebagai proses dan alat evaluasi hingga tercapai sebuah tujuan dari
kegiatan tersebut (Suyitno 2001).
Dalam melakukan perencanaan wisata dapat dilakukan dengan pendekatan
supply dan demand. Pengertian supply dapat diartikan dari apa dan berapa yang
diberikan, kapan diberikan, dan kepada siapa diberikan. Pengertian demand dapar
diartikan dari siapa yang meminta, apa dan berapa banyak yang diminta dan kapan
diminta. Perencanaan wisata adalah upaya secara sadar yang sesuai dengan aspek
permintaan dan penawaran melalui pendekatan obyektif yang dirancang dengan
sentuhan seni, rasa, pengetahuan dan pengalaman yang didasarkan pada argumen
yang masuk akal (Avenzora 2008).
Perencanaan strategis secara umum dalam pariwisata terdiri dari beberapa
tahapan sebagai yaitu menentukan bisnis atau usaha, menentukan tujuan organisasi,
mengumpulkan informasi dan pengetahuan sebagai dasar dalam pengambilan
keputusan, menganalisis informasi, menentukan tujuan khusus, menentukan strategi,
mendistribusikan sumber daya, mengimplementasikan rencana, mengontrol dan
mmonitor hasil dan membuat perbaikan (Pitana & Diarta 2009). Perencanaan
pengelolaan ekowisata biasanya mengembangkan pewilayahan (zonasi) yang
didesain dan yang diperbolehkan untuk kegiatan kepariwisataan (Avenzora 2008).
Terdapat lima pilar ekowisata pada perencanaan ekowisata. Lima pilar tersebut yaitu
1) Pembangunan ekowisata berkelanjutan, 2) Struktur administrasi dan politik
pariwsata yang mencakup oleh pemerintah lokal, 3) Peraturan perundang-undangan,
4) Otonomi daerah dan 5) Keragaman potensi wisata.
B.

Wisata
Wisata merupakan sebuah perjalanan yang dilakukan seorang atau sekelompok
orang untuk menikmati obyek wisata di lokasi wisata yang bersifat sementara
(Suyitno 2001). Wisata merupakan perjalan yang tercipta berdasarkan perencanaan.
Sebelum melakukan wisata, terdapat aspek perencanaan yang dilakukan untuk
mempersiapkan dan menggunakan waktu yang efektif dan efisien agar perjalanan
terasa nyaman.
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan memberikan
penjelasan mengenai definisi wisata, wisatawan, pariwisata, kepariwisataan, daya
tarik wisata, dan daerah tujuan wisata sebagai berikut :

1.

2.
3.

4.

5.

6.

Wisata merupakan kegiatan perjalanan yang dilakukan seorang atau


sekelompok orang dengan mengunjungi tempat untuk tujuan rekreasi,
pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata
yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara.
Wisatawan merupakan orang yang melakukan kegiatan wisata.
Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung
berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat,
pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah.
Kepariwisataan merupakan keseluruhan kegiatan yang terkait dengan
pariwisata dan bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul
sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan negara serta interaksi antara
wisatawan, pemerintah, pemerintah daerah, serta pengusaha.
Daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan,
keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam,
budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan
kunjungan wisatawan.
Daerah tujuan wisata yang selanjutnya disebut destinasi pariwisata
adalah kawasan geografis yang berada dalam satu atau lebih wilayah
admisnistratif yang di dalamnya terdapat daya tarik wisata, fasilitas
umum, fasilitas pariwisata, aksesibilitas, serta masyarakat yang saling
terkait dan melengkapi terwujudnya kepariwisataan.

C.

Ekowisata
Ekowisata merupakan jiwa dari seluruh aktivitas wisata dan ada, dan
mempunyai tiga pilar yang dapat dipertimbangkan didalamnya, pilar tersebut yaitu
pilar ekologi, ekonomi dan sosial budaya. Ekowisata berorientasi pada tujuan yang
ingin dicapai dari konsep yang ditawarkan, berorientasi pada sumberdaya wisata
yang digunakan, dan berorientasi pada bentuk-bentuk kegiatan wisata yang
diselenggarakan (Avenzora 2008).
Ekowisata merupakan kegiatan perjalanan wisata yang dikemas secara
profesional, terlatih, dan memuat unsur pendidikan, sebagai suatu sektor/usaha
ekonomi, yang mempertimbangkan warisan budaya, partisipasi dan kesejahteraan
penduduk lokal serta upaya-upaya konservasi sumber daya alam dan lingkungan.
Ekowisata termasuk dalam bagian dari sustainable tourism. Sustainable tourism
menurut merupakan sektor ekonomi yang lebih luas dari ekowisata yang mencakup
sektor-sektor pendukung kegiatan wisata secara umum meliputi wisata bahari, wisata
pedesaan, wisata alam dan wisata budaya (Nugroho 2011).
D.

Sumberdaya Wisata
Sumberdaya wisata merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan dan
berpotensi untuk dikembangkan dalam bidang pariwisata secara langsung atau tidak
langsung. Sumberdaya yang dapat digunakan untuk pengembangan pariwisata

seperti, sumberdaya alam, sumberdaya budaya, sumberdaya manusia dan


sumberdaya minat khusus (Pitana & Diarta 2009).
Sumberdaya wisata (tourism resources) merupakan suatu ruang tertentu
dengan batas batas dan elemen elemen tertentu yang menarik minat seseorang
untuk datang berwisata, dapat menampung kegiatan wisata dan dapat memberikan
kepuasan bagi para wisatawan (Avenzora 2008).
E.

Wisatawan
Wisatawan merupakan pelaku atau orang yang melakukan perjalanan dari
tempat tinggalnya yang dilakukan paling sedikit semalam dan bukan untuk menetap
serta dilakukan tidak dalam waktu bekerja atau melakukan tugas rutin harian (Pitana
& Diarta 2009). Kriteria wisatawan yang terdapat dalam definisi tersebut didapatkan
dari pertimbangan konsep heuristic wisatawan dari sisi perilaku. Pertimbangan
pertama, wisatawan merupakan seseorang yang melakukan perjalanan jauh untuk
mengunjungi tempat lain. Kedua, perjalanan tersebut dilakukan minimal semalam
dan tidak untuk menetap (sementara). Ketiga, dilakukan di waktu luang (leisure
time). Dan keempat, memiliki hubungan emosional antara wisatawan dan obyek atau
tempat yang dikunjungi. Obyek atau tempat tersebut haruslah memenuhi apa yang
dibutuhkan wisatawan.
Wisatawan merupakan seseorang atau sekelompok orang yang melakukan
kegiatan wisata. Wisatawan dapat berperan sebagai konsumen dan salah satu
komponen produksi wisata. Sebagai konsumen, wisatawan membeli dan menikmati
produk dan layanan wisata yang diinginkannya. Wisatawan merupakan pihak pelaku
pariwisata yang mencitakan permintaan dengan motif dan latar belakang yang
berbeda (Damanik & Weber 2006). Sebagai salah satu komponen produksi wisata,
wisatawan secara langsung terlibat dalam proses produksi wisata. Produk wisata
merupakan produk jasa yang membuatan dan menggunakannya dilakukan di waktu
yang sama. Sehingga wisatawan terlibat dalam proses tersebut (Suyitno 2001).
Wisatawan merupakan unsur utama dalam pariwisata hal ini dikarenakan
wisatawan adalah konsumen dari aktivitas wisata yang ditawarkan (Wardiyanta
2006). Wisatawan merupakan seseorang atau sekelompok orang yang melakukan
suatu perjalanan wisata dan tinggal sekurang-kurangnya 24 jam di daerah atau negara
yang dikunjunginya. Apabila seseorang atau sekelompok orang hanya tinggal kurang
dari 24 jam maka akan disebut sebagai pelancong sehingga terdapat dua kategori
pengunjung yaitu wisatawan dan pelancong (Suswantoro 1997).
F.

Motivasi Wisatawan
Motivasi wisatawan dalam melakukan wisata merupakan alasan, sebab atau
tujuan yang ingin dicapai melalui wisata. Motivasi merupakan faktor lain jelas
mempengaruhi perilaku wisata, motivasi adalah masih dianggap indikator dan
menjelaskan mengapa wisatawan berperilaku dengan cara tertentu untuk mencapai
kepuasan yang diinginkan. Selain itu, motivasi mempengaruhi komponen yang

efektif dari gambar, atau perasaan terangsang oleh tempat atau orang, yang mungkin
menilai tujuan wisata yang didasarkan pada berbagai motif perjalanan (Rose 1998).
G.

Masyarakat Lokal
Masyarakat lokal yang tinggal di kawasan wisata sebagai salah satu pelaku
pariwisata bisa dibilang sebagai pemilik langsung suatu atraksi wisata (Damanik &
Weber 2006). Masyarakat yang berada di suatu darah tujuan wisata pada dasarnya
harus mengetahui mengenai wilayahnya. Masyarakat sekitar daerah tujuan wisata
perlu memahami mengenai cara pelayanan terhadap wisatawan. Masyarakat tersebut
memiliki peran penting dalam memajukan daerah tujuan wisata (Suwantoro 1997).
H.

Mamalia
Mamalia dibedakan dari binatang lain berdasarkan beberapa ciri khusus.
Mamalia merupakan hewan yang melahirkan dan memliki kelenjar susu atau
menyusui anaknya. Kebanyakan mamalia memiliki bulu atau rambut, walaupun
untuk mamalia laut rambutnya jarang dan tidak mencolok. Seluruh jenis mamalia
berdarah panas dan hampir semuanya memiliki ciri anatomi tubuh yang umum, yaitu
empat atau dua tungkai belakang dan dua di depan, sayap atau lengan (Payne dkk.
2000).
I.

Satwa Liar sebagai Obyek Wisata


Alam memiliki kekayaan yang dapat digunakan sebagai sumberdaya
ekowisata. Keanekaragaman satwa liar menjadi salah satu sumberdaya bagi
pariwisata berbasis kekayaan alam. Satwaliar tersebut menjadi sumberdaya wisata
satwaliar. Wisata satwaliar setidaknya merujuk pada salah satu atau ketujuh kriteria
(Reynolds & Braithwaite 2001). Tujuh kriteria tersebut yaitu :
1.
Satwaliar menjadi komponen utama atraksi wisata berbasis alam dengan.
2.
Wisata yang diselenggarakan dengan suatu kesempatan untuk melihat
satwaliar.
3.
Wisata dengan melibatkan atraksi buatan berdasarkan komoditi
perhatiana satwaliar.
4.
Wisata yang dikhususkan melihat satwa.
5.
Perjalanan untuk berburu atau memancing.
6.
Suatu perjalanan yang menawarkan dan mampu menggetarkan hati
karena petualangan berinteraksi dengan satwa.
Merujuk pada kriteria tersebut, kontak langsung dengan satwaliar menjadi
fokus utama dan bagian terpenting bagi kepuasan wisatawan dalam melakukan
wisata satwaliar. Kontak langsung dengan satwaliar harus dilakukan dengan
memperhatikan faktor spesies dan habitat demi terlaksananya kegiatan wisata
satwaliar dengan baik (Hakim 2004).
1.
Faktor Spesies
a.
Satwa satwa harus dapat diprediksi lokasi dan aktivitasnya

b.
Satwa dapat didekati
c.
Satwa mudah diamati
d.
Satwa toleran terhadap pengunjung
e.
Satwa memiliki sifat kejarangan atau sebaliknya yang melimpah
f.
Satwa sebisa mungkin bersifat diurnal
2.
Faktor Habitat
a.
Mendukung upaya pengamatan dan memiliki spesies yang menarik
b.
Habitat terbuka yang mengizinkan pengamat dengan mudah melakukan
pengamatan
c.
Mempunyai naungan yang memadai sehingga terlindung dari kontak
dengan satwa
d.
Mempunyai titik sentral yang selalu dikunjungi satwa
e.
Menawarkan suatu proteksi dan sarana mobilitas pengunjung
Satwa liar merupakan suatu sumberdaya alam yang dapat diperbaharui
(Alikodra 2010). Satwa liar mencakup berbagai vetebrata yang hidup liar, yang
bersosiasi dengan lingkungannya atau pada ekosistem alam. pengertian satwa liar
harus memperhatiakan adanya interaksi antara satwa liar dengan lingkungan secara
alamiah untuk melakukan evolusi. Evolusi yang dilakukan satwa liar merupakan
bentuk adaptasi terhadap lingkungana atau ekosistem yang di tempati. Hal ini
bertujuan agar dapat mempertahankan hidup agar setiap spesies satwa liar tersebut
tidak punah.

III.

A.

Waktu dan Lokasi

B.

Alat dan Bahan

METODE PRAKTIKUM

Dalam melaksanakan kegiatan penelitian satwa mamalia membutuhkan alat


dan bahan yang dapat membantu pengambilan data. Alat yang dibutuhkan dalam
penelitian satwa mamalia yaitu:
1.
Alat tulis yang digunakan untuk mencatat data yang dicari
2.
Kamera yang berfungsi mengambil gambar satwa
3.
Geographical Positioning System (GPS) yang berfungsi sebagai sistem
navigasi ataupun sistem penentuan posisi.
4.
Kompas berfungsi untuk mengetahui arah dan membidik sasaran.
5.
Binokular berfungsi sebagai alat untuk observasi lapangan agar
membesarkan benda yang berjarak jauh
6.
Meteran yang berfungsi untuk mengukur panjang garis transek.
7.
Senter yang berfungsi sebagai penerangan untuk penelitian satwa pada
malam hari.
8.
Buku panduan lapang digunakan untuk mengetahui lebih dalam
mengenai satwa yang diteliti.
9.
Papan jalan digunakan untuk mempermudah pencatatan satwa yang
ditemukan.
10. Stopwatch digunakan untuk mengetahui kecepatan bergerak satwa yang
ditemukan.
11. Tallysheet digunakan untuk mencatat data satwa yang ditemukan.
12. Peta kawasan digunakan untuk mengetahui letak dan lokasi pengamatan.
13. Tali rafia digunakan untuk membuat pembatas plot transek.
14. Trap digunakan untuk menangkap mamalia kecil seperti tikus.
15. Sarung tangan digunakan untuk melindungi tangan saat mengambil
obyek penelitian.
16. Plastik digunakan untuk menaruh obyek penelitian.
Bahan yang dibutuhkan dalam penelitian satwa yaitu obyek tersebut. Obyek
yang diamati adalah mamalia, habitat mamalia dan etnomamalia. Dalam penelitian
satwa mamalia, dibutuhkan beberapa responden untuk mengetahui persepsi dan
preferensi responden yang diambil adalah pengunjung, pengelola dan masyarakat.
C.

Jenis Data
Jenis data yang diambil dalam kegiatan penelitian satwa mamalia tersebut
meliputi keanekaragaman satwa mamalia, habitat mamalia dan etnomamalia. Data
lain yang diambil berupa data hasil wawancara dengan pengelola, pengunjung dan
masyarakat.

No
1

Jenis Data
Sumberdaya Ekowisata
a. Mamalia

b. Habitat mamalia
c. Etnomamalia
2

Pengelola

Pengunjung

Masyarakat

D.
1.

Data yang diambil


Spesies
Jumlah
Waktu
Lokasi ditemukan
Aktivitas satwa
Penyebaran satwa
Kondisi vegetasi
Kondisi fisik
Keterkaitan satwa mamalia
dengan budaya masyrakat
Karakteristik
Persepsi
Kesiapan
Karakteristik
Persepsi
Preferensi
Motivasi
Karakteristik
Persepsi
Preferensi

Metode
-

Metode Rapid Assesment


Metode Line Transect
Metode Concentration
Count

Observasi langsung
Wawancara dan literature
Wawancara

Wawancara

Wawancara

Metode Pengambilan Data


Data Sumberdaya Ekowisata
Data yang diambil dalam hal sumberdaya ekowisata mencakup data mamalia,
habitat mamalia dan etnomamalia. Dalam pengambilan data mamalia terdapat tiga
jenis metode, yaitu metode rapid assesment (pengamatan cepat), line transect (garis
transek) dan consentration count (titik konsentrasi). Dalam pengambilan data habitat
menggunakan metode observasi langsung. Dalam pengambilan data etnomamalia
menggunakan metode wawancara dan studi literature.
a.
Data Mamalia
Terdapat tiga metode yang dapat digunakan dalam pengambilan data mamalia,
yaitu metode metode rapid assesment (pengamatan cepat), line transect (garis
transek) dan consentration count (titik konsentrasi). Metode rapid assesment atau
pengamatan cepat. Metode ini digunakan untuk mengetahui jenis-jenis mamalia yang
terdapat di lokasi pengamatan. Pengamatan tidak harus dilakukan pada suatu jalur
khusus atau lokasi khusus. Pengamat cukup mencatat jenis-jenis mamalia yang
ditemukan, misalnya pada saat melakukan survei lokasi, berjalan diluar waktu
pengamatan, dan sebagaianya. Metode ini dapat digunakan untuk mengetahui jenisjenis mamalia yang berada di lokasi pengamatan, tetapi tidak dapat digunakan untuk
menghitung pendugaan populasi.
Pengamatan mamalia besar dapat dilakukan secara langsung dan tidak
langsung. Pengamatan langsung dilakukan dengan cepat menggunakan metode rapid
assesment. Jadi, pengamatan dilakukan dengan cara berjalan secara perlahan pada
jalur yang sudah ditentukan dan mencatat jenis mamalia yang dijumpai. Biasanya
pengamatan dilakukan pada siang hari untuk satwa diurnal dan malam hari untuk
satwa nocturnal.

Metode line transect merupakan pengamatan berjalan sepanjang jalur yang


telah ditentukan dengan mencatat semua jenis satwa liar besar/kecil yang termasuk
kedalam jalur pengamatan. Metode ini merupakan salah satu metode yang sering
digunakan dalam pengumpulan data jenis dan jumlah individu satwaliar. Panjang
jalur transek untuk setiap jalur berjarak minimal 1000-2000 meter. Lebar jalur
pengamatan tergantung dari topografi dan kerapatan tegakan pada lokasi
pengamatan.
Arah Jalur

To

1000 m

Ta

Keterangan
P = Posisi pengamat
O = Letak satwa
JL = Garis tegak lurus
To = Titik awal pengamatan
Ta = Titik akhir pengamatan
r = Jarak pengamat dengan obyek

JL

= Sudut dari garis dengan obyek

Gambar 1 Ilustrasi metode line transect untuk inventarisasi mamalia.


Metode lainnya yang digunakan adalah metode consentration count atau titik
konsentrasi. Pengamatan dilakukan terkonsentrasi pada suatu titik yang diduga
sebagai tempat dengan peluang perjumpaan satwa yang tinggi, seperti didekat
sumber air, tempat pakan satwa dan lain sebagainya. Mamalia paling mudah dilihat
di daerah yang relatif terbuka. Tempat yang baik mencarinya adalah di sepanjang
sungai-sungai, di rumpang-rumpang (gaps) hutan, sepanjang jalan setapak lebar atau
di bekas jalan-jalan sarad. Data yang diambil meliputi jenis, jumlah, individu, jenis
kelamin (jika diketahui), dan luasan lokasi untuk menduga kepadatan populasi.
Metode titik konsentrasi merupakan metode sensus, karena pengamatan dilakukan
pada seluruh satwa yang terdapat pada suatu kelompok satwa pada satu lokasi.
20 meter

Keterangan:
R
P

P = posisi pengamat
S = posisi satwa
R = jarak pengamatan (jari-jari)

Gambar 2 Ilustrasi metode consentration count untuk inventarisasi


mamalia.

b.

Data Habitat Mamalia


Data yang diambil mengenai habitat mamalia mencakup data fisik dan
vegetasi. Data fisik berupa kondisi cuaca, suhu, kelembabam, air, tanah dan
intensitas cahaya. Data vegetasi yang diambil berupa jumlah vegetasi, jenis,
topografi, dan kemiringan. Data data tersebut diambil dengan metode pengamatan
langsung.
c.

Data Etnomamalia
Pengambilan data etnomamalia dilakukan dengan metode wawancara dan studi
literature. Data yang diambil berupa keterkaitan satwa mamalia dengan budaya
masyarakat sekitar. Keterkaitan ini dapat dilihat dari segi ekonomi masyarakat yang
memanfaatkan satwa tersebut sebagai bahan konsumsi, sedangkan dari segi sosial
dan budaya dengan melihat pemanfaatan sebagai mitos dan legenda.
2.

Data Pengelola
Pengambilan data pengelola dilakukan dengan metode wawancara dan
kuesioner. Pengambilan data tersebut terkait dengan karakteristik, persepsi,
preferensi dan motivasi terhadap sumberdaya ekowisata mamalia di XXXX.
Kuesioner yang disebarkan kepada pengelola yaitu close ended. Close ended
merupakan kuesioner yang memberikan beberapa poin jawaban yang dapat dipilih
oleh pengelola. Penggunaan metode ini akan mempermudah penelitian dalam proses
rekapitulasi data.
3.

Data Pengunjung
Pengambilan data pengunjung dilakukan dengan metode wawancara dan
kuesioner. Pengambilan data tersebut terkait dengan karakteristik, persepsi,
preferensi dan motivasi terhadap sumberdaya ekowisata mamalia di XXXX.
Kuesioner yang disebarkan kepada pengunjung yaitu close ended. Close ended
merupakan kuesioner yang memberikan beberapa poin jawaban yang dapat dipilih
oleh pengunjung. Penggunaan metode ini akan mempermudah penelitian dalam
proses rekapitulasi data.
4.

Data Masyarakat
Pengambilan data masyarakat dilakukan dengan metode wawancara dan
kuesioner. Pengambilan data tersebut terkait dengan karakteristik, persepsi,
preferensi dan motivasi terhadap sumberdaya ekowisata mamalia di XXXX.
Kuesioner yang disebarkan kepada masyarakat yaitu close ended. Close ended
merupakan kuesioner yang memberikan beberapa poin jawaban yang dapat dipilih
oleh masyarakat. Penggunaan metode ini akan mempermudah penelitian dalam
proses rekapitulasi data.

E.
1.

Analisis Data
Kualitatif

Analisis data kualitatif yaitu menjabarkan sumberdaya wisata dan responden dengan
kondisi yang ditemui dalam lapangan. Data yang diambil berupa sumberdaya wisata,
masyarakat dan pengelola. Data sumberdaya wisata yang dianalisis yang berkaitan dengan
satwa dengam mengambarkan jenis, aktivitas, dan habitatnya. Data yang menjadi dekripsi
kemudian diberikan gambaran untuk lebih menerangkan mengenai satwa agar lebih mudah
dipahami, sehingga dapat menghasilkan interpretasi tentang satwa dan habitatannya. Data
pengelola dan masyarakat tentang presepsi dan kesiapan mengenai aktivitas wisata pada
hutan produksi.

2.
a.

Kuantitatif
Indeks Kekayaan Jenis (Pi)
Indeks kekayaan jenis dicari dengan tujuan untuk mengetahui keanekaragaman
jenis di suatu kawasan. Indeks kekayaan jenis satwa didapatkan dengan
menggunakan rumus Van Balen (1984) yaitu:

Indeks Keanekaragaman Jenis (H)


Indeks keanekaragaman jenis memmiliki pengaruh terhadap perencanaan
ekowisata satwa mamalia. Hal ini dikarenakan satwa mamalia adalah obyek utama
dalam kegiatan ekowisata satwa mamalia. Indeks keanekaragaman jenis
menggunakan rumus Shannon-Wiener yaitu:
b.

Hasil nilai indeks keanekaragaman jenis diklasifikasikan menurut Shannon


Wiener.
Tabel 1 Klasifikasi Nilai Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener.
Nilai Indeks
>3
1-3
<3

c.

Kategori
Keanekaragaman tinggi, penyebaran jumlah individu tiap spesies tiinggi dan
kestabilan komunitas tinggi.
Keanekaragaman sedang, penyebaran jumlah individu tiap spesies sedang dan
kestabilan komunitas sedang.
Keanekaragaman rendah, penyebaran jumlah individu tiap spesies rendah dan
kestabilan komunitas rendah.

Pertemuan Jenis Satwa


Tingkat pertemuan jenis dicari dengan tujuan untuk mengetahui tingkat
pertemuan seriap jenis individu. Tingkat pertemuan jenis dapat menggunakan rumus
Van Balen (1984) yaitu:

Nilai presentasi TPJ kemudian disesuaikan dengan nilai frekuensi pertemuan


satwa dan skala urutan untuk mengetahui kategori tingkat pertemuan suatu jenis.
Tabel 2 Kategori Frekuensi Tingkat Pertemuan Jenis.
Tingkat Pertemuan Jenis (%)
0-9,9
10-19,9
20-39,9
40-59,9
50-79,9
80-100

F.
G.

Nilai Frekuensi
1
2
3
4
5
6

Metode Perancangan Program Ekowisata


Metode Penyusunan Output

Skala Urutan
Sangat sulit
Sulit
Jarang
Umum
Sering
Mudah

DAFTAR PUSTAKA
Alikodra H S. 2010. Teknik Pengeloaan Satwa liar dalam Rangka Mempertahankan
Keanekaragaman Hayati Indonesia. Bogor: IPB Press.
Avenzora R. 2008. Ekoturisme Teori dan Praktek. BPR NAD-NIAS. Banda Aceh.
Damanik J, Weber H F. Perencanaan Ekowisata. Yogyakarta: ANDI.
Hakim L. 2004. Dasar Dasar Ekowisata. Malang: Bayumedia Publishing.
Nugraha, I. 2011. Ekowisata dan Pembangunan Berkelanjutan. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Payne J dkk. 2000. Panduan Lapangan Mamalia di Kalimantan, Sabah, Sarawak
dan Brunei Darussalam. Jakarta : Prima Centra
Pitana I G, Diarta I K S. 2009. Pengantar Ilmu Pariwisata. Yogyakarta: ANDI .
Rose G F. 1998. Psikologi Pariwisata. Jakarta: Buku Obor.
Suwantoro G. 1997. Dasar Dasar Pariwisata. Yogyakarta: ANDI.
Suyitno. 2001. Perencanaan Wisata. Yogyakarta: Kanisius.
UU Nomor 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan.
Wardiyanta. 2006. Metode Penelitian Pariwisata. Yogyakarta : ANDI.