Anda di halaman 1dari 22

TUGAS MANAJEMEN ESTUARIN

KONSERVASI LAHAN BASAH PESISIR DI TELUK TAMIANG

RIESKA PARAMITA N.P


G1F113024

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2017

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga
makalah ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga mengucapkan
banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan
memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin
masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh sebab itu, kami berharap adanya
kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang
akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang
membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami dan berguna bagi kami sendiri
maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat
kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran
yang membangun dari Anda demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan
datang.

Banjarbaru, Januari 2017

Rieska Paramita N.P

DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR .................................................................................

DAFTAR ISI ...............................................................................................

ii

DAFTAR TABEL .......................................................................................

iii

DAFTAR GAMBAR ....................................................................................

iv

BAB 1. PENDAHULUAN .........................................................................


1.1. Latar Belakang ...............................................................................
1.2. Rumusan Masalah ..........................................................................
1.3. Tujuan Penulisan ..............................................................................

1
1
2
2

BAB 2. ISI ...................................................................................................


2.1. Pengertian Konservasi .....................................................................
2.2. Pengertian Lahan Basah....................................................................
2.3. Pengertian Pesisir ............................................................................
2.4. Konservasi Lahan Basah Pesisir di Teluk Tamiang ........................

3
3
5
8
10

BAB 3. PENUTUP ......................................................................................


3.1. Kesimpulan .....................................................................................
3.2. Saran ...............................................................................................

14
14
15

DAFTAR PUSTAKA

ii

DAFTAR TABEL

Tabel
Halaman
2.1. Tipe Lahan Basah .................................................................................

iii

DAFTAR GAMBAR

Gambar
Halaman
2.1. Peta Lahan Basah di Indonesia .............................................................

iv

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Lahan Basah adalah Daerah-daerah rawa, payau, lahan gambut, dan

perairan; tetap atau sementara; dengan air yang tergenang atau mengalir; tawar,
payau, atau asin; termasuk wilayah perairan laut yang kedalamannya tidak lebih
dari enam meter pada waktu surut (Konvensi Ramsar). Lahan basah memilik i
peranan yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Fungsi lahan basah tidak
saja dipahami sebagai pendukung kehidupan secara langsung, seperti sumber air
minum dan habitat beraneka ragam mahluk, tapi juga memiliki berbagai fungs i
ekologis seperti pengendali banjir, pencegah intrusi air laut, erosi, pencemaran dan
pengendali iklim global.
Ekosistem lahan basah memiliki peranan yang sangat penting terhadap
keberlangsungan hidup manusia, di masa sekarang dan di masa yang akan datang.
Sikap manusia terhadap lingkungannya di masa sekarang akan sangat berpengaruh
terhadap kondisi lingkungan di masa yang akan datang.
Berbagai kerusakan pada ekosistem lahan basah telah terjadi sejak lama dan
kurang mendapat perhatian dari berbagai pihak yang seharusnya terkait. Pada
kondisi sekarang ini, upaya konservasi lahan basah merupakan suatu upaya yang
mendesak untuk segera diterapkan.
Akibat berbagai tekanan tersebut, hingga tahun 1996 Wetlands InternationalIndonesia Programme (WI-IP) memperkirakan Indonesia kehilangan lahan basah
alami sekitar 12 juta ha. Kehilangan tersebut juga diperparah oleh tingginya
kegiatan perambahan hutan dan alih fungsi lahan basah menjadi pemukima n,
industri, pertanian dan perkebunan. Kerusakan-kerusakan yang terjadi secara
langsung atau tidak langsung akan berpengaruh pada kehidupan sosial ekonomi
masyarakat seperti meningkatnya angka kemiskinan, serta menurunnya tingkat
pendidikan dan kualitas hidup. Untuk itu diperlukan upaya sesegera mungkin unt uk
memperbaiki kondisi tersebut dengan meningkatkan komunikasi dan koordinasi
antar para pemangku kepentingan melalui berbagai cara.

1.2. Rumusan Masalah


1.

Apakah yang dimaksud dengan lahan basah ?

2.

Bagaimana konservasi lahan basah pesisir di Teluk Tamiang?

1.3. Tujuan Penulisan


Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah:
1.

Mengetahui tentang pengertian lahan basah.

2.

Mengetahui tentang konservasi lahan basah pesisir di Teluk Tamiang.

BAB 2. ISI

2.1. Pengertian Konservasi


Konservasi

adalah

upaya

pelestarian

lingkungan,

tetapi

tetap

memperhatikan manfaat yang dapat diperoleh pada saat itu dengan tetap
mempertahankan keberadaan setiap komponen lingkungan untuk pemanfaatannya
di masa depan. Menurut UU No. 4 Tahun 1982, konservasi sumber daya alam
adalah pengelolaan sumber daya alam yang menjamin pemanfaatannya secara
bijaksana dan bagi sumber daya terbarui menjamin kesinambungan untuk
persediannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan
keanekaragaman.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, konservasi adalah pemeliharaa n
dan perlindungan
kemusnahan

sesuatu

dengan

jalan

secara teratur untuk


mengawetkan;

mencegah

pengawetan;

kerusakan dan

pelestarian;

proses

menyaput bagian dalam badan mobil, kapal, dan sebagainya untuk mencegah karat.
Sedangkan menurut ilmu lingkungan, konservasi adalah :
1. Upaya efisiensi dari penggunaan energi, produksi, transmisi, atau distribus i
yang berakibat pada pengurangan

konsumsi

energi di lain

pihak

menyediakan jasa yang sama tingkatannya.


2. Upaya perlindungan dan pengelolaan yang hati-hati terhadap lingkunga n
dan sumber daya alam
3. Pengelolaan terhadap kuantitas tertentu yang stabil sepanjang reaksi kimia
atau transformasi fisik.
4. Upaya suaka dan perlindungan jangka panjang terhadap lingkungan.
5. Konservasi juga dapat dipandang dari segi ekonomi dan ekologi dimana
konservasi dari segi ekonomi berarti mencoba mengalokasikan sumberdaya
alam untuk sekarang, sedangkan dari segi ekologi, konservasi merupakan
alokasi sumberdaya alam untuk sekarang dan masa yang akan datang.
Apabila merujuk pada pengertiannya, konservasi didefinisikan dalam
beberapa batasan, sebagai berikut:

1. Konservasi adalah menggunakan sumberdaya alam untuk memenuhi


keperluan manusia dalam jumlah yang besar dalam waktu yang la ma
(American Dictionary).
2. Konservasi adalah alokasi sumber daya alam antar waktu (generasi) yang
optimal secara sosial (Randall, 1982 dalam Laodesyamri).
3. Konservasi merupakan manajemen udara, air, tanah, mineral ke organis me
hidup termasuk manusia sehingga dapat dicapai kualitas kehidupan manusia
yang meningkat termasuk dalam kegiatan manajemen adalah survai,
penelitian, administrasi, preservasi, pendidikan, pemanfaatan dan latihan
(IUCN, 1968 dalam Laodesyamri).
4. Konservasi adalah manajemen penggunaan biosfer oleh manusia sehingga
dapat memberikan atau memenuhi keuntungan yang besar dan dapat
diperbaharui untuk generasi-generasi yang akan datang (WCS, 1980 dalam
Laodesyamri).
Konservasi Sumberdaya Alam Hayati (KSDAH) ataupun konservasi biologi
pada dasarnya merupakan bagian dari ilmu dasar dan ilmu terapan yang berasaskan
pada pelestarian kemampuan dan pemanfaatannya secara serasi dan seimbang.
Adapun tujuan dari KSDAH adalah untuk terwujudnya kelestarian sumber daya
alam hayati serta kesinambungan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung
upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia.
Kawasan konservasi mempunyai karakteristik sebagai berikut.
1. Karakteristik, keaslian atau keunikan ekosistem (hutan hujan tropis/tropica l
rain forest yang meliputi pegunungan, dataran rendah, rawa gambut, pantai).
2. Habitat penting/ruang hidup bagi satu atau beberapa spesies (flora dan
fauna) khusus: endemik (hanya terdapat di suatu tempat di seluruh muka
bumi), langka, atau terancam punah (seperti harimau, orangutan, badak,
gajah, beberapa jenis burung seperti elang garuda/elang jawa, serta beberapa
jenis tumbuhan seperti ramin). Jenis-jenis ini biasanya dilindungi oleh
peraturan perundang-undangan.
3. Tempat yang memiliki keanekaragaman plasma nutfah alami.
4. Lansekap (bentang alam) atau ciri geofisik yang bernilai estetik/scientik.
5. Fungsi perlindungan hidro-orologi: tanah, air, dan iklim global.

6. Pengusahaan wisata alam yang alami (danau, pantai, keberadaan satwa liar
yang menarik).
Di Indonesia, kebijakan konservasi diatur ketentuannya dalam UU 5/90
tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. UU ini memilik i
beberpa turunan Peraturan Pemerintah (PP), diantaranya:
1. PP 68/1998 terkait pengelolaan Kawasan Suaka Alam (KSA) dan Kawasan
Pelestarian Alam (KPA).
2. PP 7/1999 terkait pengawetan/perlindungan tumbuhan dan satwa.
3. PP 8/1999 terkait pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar/TSL.
4. PP 36/2010 terkait pengusahaan pariwisata alam di suaka margasatwa (SM),
taman nasional (TN), taman hutan raya (Tahura) dan taman wisata alam
(TWA).
2.2. Pengertian Lahan Basah
Istilah Lahan Basah, sebagai terjemahan wetland baru dikenal di
Indonesia sekitar tahun 1990. Sebelumnya masyarakat Indonesia menyebut
kawasan lahan basah berdasarkan bentuk/nama fisik masing- masing tipe seperti:
rawa, danau, sawah, tambak, dan sebagainya. Disamping itu, berbagai departemen
sektoral juga mendefinisikan lahan basah berdasarkan sektor wilayah pekerjaan
masing- masing.
Pengertian fisik lahan basah yang digunakan untuk menyamakan persepsi
semua pihak mulai dikenal secara baku sejak diratifikasinya Konvensi Ramsar
tahun 1991 yaitu: Daerah-daerah rawa, payau, lahan gambut, dan perairan; tetap
atau sementara; dengan air yang tergenang atau mengalir; tawar, payau, atau asin;
termasuk wilayah perairan laut yang kedalamannya tidak lebih dari enam meter
pada waktu surut.
Areas of marsh, fen, peatland or water, whether natural or artificial,
permanent or temporary, with water that is static or flowing, fresh brackish or salt,
including areas of marine water the depth of which at low tide does not exceed six
meters.

Lahan basah adalah wilayah-wilayah di mana tanahnya jenuh dengan air, baik
bersifat permanen (menetap) atau musiman. Wilayah-wilayah itu sebagian atau
seluruhnya kadang-kadang tergenangi oleh lapisan air yang dangkal.
Digolongkan ke dalam lahan basah ini, di antaranya, adalah rawa-rawa
(termasuk rawa bakau), paya, dan gambut. Air yang menggenangi lahan basah
dapat tergolong ke dalam air tawar, payau atau asin.
Lahan basah merupakan wilayah yang memiliki tingkat keanekaragama n
hayati yang tinggi dibandingkan dengan kebanyakan ekosistem. Di atas lahan basah
tumbuh berbagai macam tipe vegetasi (masyarakat tetumbuhan), seperti hutan rawa
air tawar, hutan rawa gambut, hutan bakau, paya rumput dan lain-lain. Margasatwa
penghuni lahan basah juga tidak kalah beragamnya, mulai dari yang khas lahan
basah seperti buaya, kura-kura, biawak, ular, aneka jenis kodok, dan pelbagai
macam ikan; hingga ke ratusan jenis burung dan mamalia, termasuk pula harimau
dan gajah.
Pengertian di atas menunjukkan bahwa cakupan lahan basah di wilaya h
pesisir meliputi terumbu karang, padang lamun, dataran lumpur dan dataran pasir,
mangrove, wilayah pasang surut, maupun estuari; sedang di daratan cakupan lahan
basah meliputi rawa-rawa baik air tawar maupun gambut, danau, sungai, dan lahan
basah buatan seperti kolam, tambak, sawah, embung, dan waduk. Untuk tujua n
pengelolaan lahan basah dibawah kerangka kerjasama Internasional, Konvensi
Ramsar, mengeluarkan sistem pengelompokan tipe-tipe lahan basah menjadi 3
(tipe) utama yaitu:
a) Lahan basah pesisir dan lautan, terdiri dari 11 tipe antara lain terumbu
karang dan estuari.
b) Lahan basah daratan, terdiri dari 20 tipe antara lain sungai dan danau.
c) Lahan basah buatan, terdiri dari 9 tipe antara lain tambak dan kolam
pengolahan limbah.
Berdasarkan karakteristik

sistem lahan,

lahan basah dikelompokkan

menjadi 6 tipe lahan basah, yaitu: 1) rawa pasang surut (tidal swamps), 2) rawa
musiman (seasonal swamps), 3) dataran aluvial (alluvial plains), 4) sabuk meander
(meander belts), 5) rawa gambut dan marshes (peat swamps and marshes), dan 6)

dataran banjir (alluvial valleys) (Poniman et al, 2006). Distribusi lahan basah di
Indonesia dapat dilihat pada (Tabel 2.1).
Tabel 2.1.

Tipe Lahan Basah

Sumber: Poniman et al, (2006)

Gambar 2.1

Peta lahan basah di Indonesia

Total lahan basah di Indonesia adalah 396.462 km2 , yang sebagian besar
menyebar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Rawa gambut dan
marshes adalah yang terluas (168.951 km2 ), dibandingkan tipe lahan basah
lainnya. Lahan basah lainnya yang cukup luas adalah dataran banjir (115.333 km2
), rawa pasang surut (40.060 km2 ), dan dataran banjir (30.194 km2 ). Rawa
musiman (21.100 km2 ) hanya terdapat di daerah Papua.

Luas lahan basah di Kalimantan Selatan mencapai 96.451 ha. Lahan basah
di Kalimantan Selatan merupakan daerah cekungan pada dataran rendah yang pada
musim penghujan tergenang tinggi oleh air luapan dari sungai atau kumpulan air
hujan, pada musim kemarau airnya menjadi kering. Lahan basah sangat unik dan
memiliki kepentingan ekologis yang luas, mulai tingkat lokal hingga global. Lahan
basah bisa diberdayakan secara produktif bagi ekonomi lokal, sumbanga nnya
terhadap keakekaragaman hayati juga sangat signifikan. Ribuan jenis tanaman unik
dan unggas khas yang bermigrasi biasanya singgah di kawasan lahan basah.

2.3. Pengertian Pesisir


Menurut UU No. 1 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU No.27 Tahun
2007 tentang pengelolaan Pesisir dan Pulau Pulau Kecil , Wilayah Pesisir adalah
daerah peralihan antara Ekosistem darat dan laut yang dipengaruhi oleh perubahan
di darat dan laut.
Menurut Beatley Wilayah pesisir didefinisikan sebagai wilayah peralihan
antara laut dan daratan, ke arah darat mencakup daerah yang masih terkena
pengaruh percikan air laut atau pasang surut, dan ke arah laut meliputi daerah
paparan benua.
Menurut Bengen wilayah pesisir merupakan wilayah daratan dan wilaya h
laut yang bertemu digaris pantai dimana wilayah daratan mencakup daerah yang
tergenang atau tidak tergenang air yang dipengaruhi oleh proses-proses laut seperti
pasang surut, angin laut, dan intrusi air laut. Sedangkan wilayah laut mencakup
perairan yang dipengaruhi oleh proses-proses alami daratan seperti sedimentasi dan
aliran air tawar ke laut serta perairan yang dipengaruhi oleh kegiataan manusia di
darat.
Karakteristik khusus dari wilayah pesisir menurut Jan C. Post dan Car G.
Lundin (1996) antara lain:
1. Suatu wilayah yang dinamis dengan seringkali terjadi perubahan sifat
biologis, kimiawi, dan geologis.
2. Mencakup ekosistem dan keanekaragaman hayatinya dengan produktivitas
yang tinggi dan membeikan tempat hidup penting buat beberapa jenis biota
laut.

3. Ciri-ciri khusus wilayah pesisir seperti adanya termbu karang, hutan bakau,
pantai, dan bukit pasir sebagai suatu sistem yang sangat berguna untuk
menangkal erosi dan kejadian alam yang tidak diinginkan.
4. Ekosistem pesisir dapat digunakan untuk mengatasi akibat dari pencemaran
yang terjadi terutama di daratan seperti limbah buangan.
5. Pesisir pada umumnya lebih menarik sehingga dijadikan sebagai pemukima n
dan objek wisata sehingga harus mengoptimalkan sumber daya laut hayati,
non hayati, serta sebagai media transportasi laut.
Karakteristik ekosistem pesisir adalah beberapa jumlah ekosistem yang ada
di pesisir, masing masing ekosistem memiliki sifat dann karakteristik yang
berbeda. Ekosistem tersebut antara lain :
1. Pasang Surut
Daerah yang terkena pasang surut itu bermacam-macam antara lain gisiik,
rataan pasang surut. Lumpur pasang surut, rawa payau, delta, rawa mangrove,
dan padang rumput (sea grass beds). Rataan pasut adalah suatu mintakat pesisir
yang pembentukannya beraneka, tetapi umumnya halus, pada rataan pasut
umumnya terdapat pola sungai yang saling berhubungan dan sungai utamanya
halus dan masih labil. Artinya lumpur tersebut dapat cepat berubah apabila
terkena arus pasang. Pada umumnya rataan pasut telah bervegetasi tetapi tetapi
belum terlalu cepat, sedangkan lumpur pasut belum bervegetasi.
2. Estuaria
Menurut kamus (oxford) estuaria adalah muara pasang surut dari sungai
yang besar. Batasan yang umum digunakan saat sekarang, estuaria adalah suatu
tubuh perairan pantai yang semi tertutup, yang mempunyai hubungan bebas
dengan laut terbuka dan didalamnya air laut terencerkan oleh air tawar yang
berasal dari drainase daratan.

3. Padang Lamun
Padang lamun cukup baik pada perairan dangkal atau estuaria apabila sinar
matahari cukup banyak. Habitatnya berada terutama pada laut dangkal. Padang
lamun ini mempunyai habitat dimana tempatnya bersuhutropis dan subtropis.

4. Terumbu Karang
Ekosistem terumbu karang merupakan bagian dari ekosistem laut yang
menjadi tempat kehidupan bagi beraneka ragam biota laut. Di dalam ekosistem
terumbu karang dapat hidup lebih dari 300 jenis karang, 2000 jenis ikan dan
berpuluh puluh jenis molluska, crustacea, sponge, algae, lamun dan biota
lainnya.
5. Hutan Mangrove
Hutan mangrove adalah sebutan umum bagi suatu jenis komunitas hayati
pantai tropis yang di dominasi oleh beberapa spesies pohon mangrove yang khas
dan mampu tumbuh serta berkembang di perairan payau. Hutan terdapat di
daerahpasang surut pantai berlumpur yang terlindung dari gerakan gelombang
dan dimana ada pemasokan air tawa dan partikel-partikel sedimen yang halus
melaluialiran air permukaan.
2.4. Konservasi Lahan Basah Pesisir Teluk Tamiang
Kesejahteraan manusia bergantung kepada manfaat yang diberikan oleh
ekosistem kepada manusia, sebagian di antaranya berasal dari lahan basah yang
subur. Pembuatan kebijakan, perencanaan, pengambilan keputusan dan pengaturan
oleh berbagai macam sektor, di setiap tingkatan dari internasional hingga lokal,
dapat memperoleh manfaat dari masukan konsensus global yang diberikan oleh
Ramsar Convention. Hal ini termasuk identifikasi dari perlunya lahan basah,
perlunya melindungi dan menggunakan lahan basah dengan bijak, dan menjamin
keamanan dari manfaat yang diberikan oleh lahan basah dalam bentuk air,
penyimpanan karbon, bahan makanan, energi, keanekaragaman hayati dan mata
pencaharian. Termasuk juga di dalamnya pengetahuan teknis, petunjuk, modelmodel

dan jaringan

pendukung

untuk

membantu

mengimplementas ika n

pengetahuan tersebut (Ramsar, 2008). Oleh sebab itu, sangat diperlukan kesadaran
yang tinggi terhadap upaya konservasi lahan basah ini dari semua kalangan
masyarakat.
Salah satu upaya internasional dalam konservasi lahan basah ini adalah
adanya Ramsar Convention. Ramsar Convention atau nama lengkapnya The
Convention on Wetlands of International Importance, especially as Waterfowl

10

Habitat, adalah kesepakatan internasional tentang perlindungan wilayah-wila ya h


lahan basah yang penting, terutama yang memiliki arti penting sebagai tempat
tinggal burung air.
Tujuan perjanjian itu adalah untuk mendaftar lahan-lahan basah yang
memiliki nilai penting di aras internasional, menganjurkan pemanfaatannya secara
bijaksana, serta mencegah kerusakan yang semakin menggerogoti nilai- nilai tinggi
dalam segi ekonomi, budaya, ilmiah dan sebagai sumber wisata; dengan tujuan
akhir untuk melestarikan kawasan-kawasan lahan basah dunia.
Negara yang menjadi anggota dalam Perjanjian

Ramsar itu harus

mendaftarkan sekurangnya satu lokasi lahan basah di dalam wilayahnya ke dalam


"daftar lahan basah yang penting secara internasional", yang biasanya disebut
"Daftar Ramsar". Negara anggota memiliki kewajiban bukan hanya terhadap
perlindungan lokasi lahan basah yang terdaftar, melainkan juga harus membangun
dan melaksanakan rencana tingkat pemerintah untuk menggunakan lahan basah di
wilayahnya secara bijaksana.
Teluk Tamiang berada di Kecamatan Pulau Laut Barat, Kotabaru,
Kalimantan Selatan. Kawasan pesisir Teluk Tamiang adalah wilayah yang saat ini
sedang marak dijadikan sebagai objek wisata baik dari masyarakat lokal maupun
dari masyarakat luar. Namun, kemasyuran kota ini tidak diimbangi dengan
pengelolaan lingkungan yang baik. Fokus pembangunan daerah kepada pembangun
kota akhirnya membuat kawasan pesisir sedikit terkebelakang.
Lahan Basah pesisir yang ada di wilayah Teluk Tamiang selama ini kurang
mendapat sentuhan kebijakan pembangunan karena pada umumnya terpencil,
kondisi transportasi yang kurang memadai, serta sarana dan prasarana yang
terbatas. Peningkatan jumlah pengunjung menjadikan perubahan-perubahan pada
wilayah pantai terutama pada wilayah pesisirnya.
Perubahan yang terjadi memiliki dua sudut pandang, artinya memiliki sisi
positif dan negatif.
1) Sisi positif, adalah wilayah pesisir menjadi daya tarik pemerintah untuk
mengelola lebih baik dan memfasilitasi pengunjung yang datang, kemudian
menimbulkan mata pencaharian baru bagi penduduk sekitar.

11

2) Sisi Negatif, adalah pengunjung yang tidak menjaga lingkungan pesisir seperti
membuang sampah dan merusak lingkungan. Munculnya pedagang-pedagang
di dalam kawasan pesisir sehingga ekosistem dipesisir tidak seimbang dan
rusaknya ekosistem seperti terumbu karang dan hutan mangrove yang ada di
wilayah tersebut,
Dalam upaya konservasi untuk menjaga dan merawat kelestarian ekosistem
pesisir bukan hanya merupakan tugas dari masyarakat pesisir tetapi juga merupakan
kewajiban dari seluruh aspek masyarakat yang ada. Beberapa tahapan yang dapat
digunakan untuk perlindungan maupun pelestarian ekosistem pesisir adalah
1. Restorasi , dimaksudkan sebagai upaya untuk menata kembali kawasan pesisir
sekaligus

melakukan

aktivitas

penghijauan.

Untuk

melakukan

restorasi

diperhatikan pula pemahaman mengenai pola hidrologi, arus laut dan tipe tanah.
2. Reorientasi, dimaksudkan menjadi sebuah peencanaan pembangunan yang
berparadigma berkelanjutan serta berwawasan lingkungan agar motif ekonomi
yang sifatnya cenderung merusak dapat diminimalisasi.
3. Responsivitas, dimaksudkan sebagai upaya dari pemerintah

untuk peka

terhadap permasalahan yang terjadi di pesisir, seperti gerakan-gerakan kecil,


riset atau berupa advokasi mengajak masyarakat untuk melindungi wilayah
pesisir.
4. Rehabilitasi, dimaksudkan untuk upaya pengembalian fungsi ekosistem pesisir
sebagai penyangga biota laut.
5. Responsibility, dimaksudkan sebagai upaya untuk menggalang kesadaran
bersama agar masyarakat turun berpartisipasi dalam melindungi wilayah pesisir
6. Regulasi, dimaksudkan agar terbentuk peraturan yang jelas mengenai wilayah
pesisir agar tercipta kesadaran dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh
masyarakat

dan dapat diberikan

punishment kepada masyarakat

yang

melanggar agar terbentuk sikap demi keberlangsungan ekosistem pesisir dimasa


mendatang.
Ekosistem pesisir di Teluk Tamiang yang rentan akan kerusakan antara lain
adalah :

12

1. Terumbu karang
Kerusakan terumbu karang terjadi akbiat aktivitas suatu usaha seperti
adanya aktifitas pencucian tongkang bekas angkutan batubara yang menyebabkan
terjadinya gesekan antara bawah kapal atau tongkang dengan terumbu karang
secara meluas sehingga memperparah kerusakan terumbu karang tersebut. Selain
itu banyaknya pengunjung yang datang ke wilayah tersebut secara tidak langsung
menyebabkan kerusakan terumbu karang seperti terinjak serta aktifitas masyarakat
sekitar yang menggunakan terumbu karang sebagai bahan dekorasi rumah.
Upaya yang dilakukan untuk mengatasi kerusakan tersebut adalah dengan
konservasi terumbu karang. Konservasi terumbu karang yang dilakukan di kotabaru
antara lain adalah memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengenai cara
penyelamatan terumbu karang, melakukan upaya penyelamatan terumbu karang
seperti menggunakan Bioreef (media untuk menumbuhkan atau menempelka n
bibit-bibit (planula) terumbu karang), dan menjalankan regulasi yang telah
ditetapkan dan berpedoman dari Peraturan Daerah Kabupaten Kotabaru No.14
tahun 2013 tentang Pengelolaan Terumbu Karang di Kabupaten Kotabaru.
2. Hutan mangrove
Kerusakan kawasan konservasi

hutan bakau terjadi akibat adanya

pembukaan areal tambak masyarakat secara ilegal (tanpa izin pemerintah). Untuk
mengatasi hal tersebut pemerintah kabupaten kotabaru bekerja sama dengan pihak
yang berwajib untuk melakukan razia pembukaan areal tambak secara ilegal.
Tujuannya agar masyarakat setempat tahu bahwa hutan mangrove sangat penting
bagi lingkungan dan masyarakat sekitar dapat menjaga hutan mangrove dengan
tidak menebangnya serta tidak menjadikannya areal tambak demi terwujudnya
kelestarian kawasan konservasi hutan bakau yang ada di kawasan kabupaten
Kotabaru. Masalah lain yakni adanya alih fungsi mangrove menjadi kawasan
komersil dan permukiman. Untuk mengatasi hal tersebut perlu adanya sosialisas i
tentang adanya pembangunan berkelanjutan kepada masyarakat di pesisir agar tetap
tidak melakukan penebangan mangrove yang dapat menurunkan kuantitas biota laut
3. Perubahan Lingkungan Pesisir
Perubahan lingkungan pesisir ini adalah perubahan lingkungan akibat dari
ulah manusia seperti banyaknya sampah di pesisir akibat pegunjung pantai, limbah

13

industri yang dibuang tanpa pengelolaan, aksi pemboman nelayan dalam mencari
ikan dan perubahan tatanan wilayah pesisir menjadi wilayah pemukiman. Upaya
yang dilakukan dalam menangani masalah tersebut adalah penanganan sampah oleh
pemerintah daerah setempat seperti gerakan peduli sampah, kemudian kegiatan
pembesihan pantai dan penanaman mangrove Konservasi seperti dijelaskan
sebelumya merupakan upaya yang dilakukan untuk mencegah dan melind ungi
kawasan pesisir agar lingkungannya tetap baik.
Konservasi yang perlu ditingkatkan adalah konservasi mengenai ekosistem
yang ada di pesisir seperti terumbu karang, estuaria, taman lamun, hutan mangrove
dan lain-lain. Upaya konservasi di wilayah Teluk Tamiang yang perlu ditekankan
adalah ekosistem terumbu karang, mangrove serta konservasi mengenai perubahan
lingkungan sekitar pesisir, karena ekosistem tersebut merupakam daya tarik utama
bagi pengunjung. Tidak hanya sebatas penarik minat, konservasi ekosistem pesisir
sangat penting untuk membantu mengatasi permasalahan lingkungan yang terjadi
di daerah tersebut.
Ekosistem pesisir tidak dapat lepas dari peranan konservasi agar ekosistem
tersebut tetap terjaga, untuk menjalankan konservasi perlu adanya campur tangan
dari semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat itu sendiri. Pemerintah
dapat membuat peraturan sebagai acuan penggerak konservasi dan bersama dengan
masyarakat untuk mewujudkan peraturan tersebut.

14

BAB 3. PENUTUP

3.1. Kesimpulan
1. Lahan Basah menurut Konvensi Ramsar tahun 1991 adalah daerah-daerah
rawa, payau, lahan gambut, dan perairan; tetap atau sementara; dengan air
yang tergenang atau mengalir; tawar, payau, atau asin; termasuk wilaya h
perairan laut yang kedalamannya tidak lebih dari enam meter pada waktu
surut. Lahan basah adalah wilayah-wilayah di mana tanahnya jenuh dengan
air, baik bersifat permanen (menetap) atau musiman. Wilayah-wilayah itu
sebagian atau seluruhnya kadang-kadang tergenangi oleh lapisan air yang
dangkal.
2.

Konservasi yang dilakukan untuk wilayah dan lahan basah pesisir adalah
penetapan

kebijakan

dari pemerintah

maupun

pemerintah

daerah,

menggencarkan program atau gerakan-gerakan perbaikan lingkunga n,


seperti pembuatan Bioreef untuk perbaikan terumbu karang, penaman
vegetasi mangrove, dan aksi pembersihan pantai.
Upaya konservasi untuk menjaga dan merawat kelestarian pesisir lahan
basah di Teluk Tamiang bukan hanya merupakan tugas dari masyarakat
pesisir tetapi juga merupakan kewajiban dari seluruh aspek masyarakat yang
ada. Beberapa tahapan yang dapat digunakan untuk perlindungan maupun
pelestarian lahan basah pesisir adalah ;
a. Restorasi , dimaksudkan sebagai upaya untuk menata kembali kawasan
pesisir sekaligus melakukan aktivitas penghijauan.
b. Reorientasi, dimaksudkan menjadi sebuah peencanaan pembanguna n
yang berparadigma berkelanjutan serta berwawasan lingkungan.
c. Responsivitas, dimaksudkan sebagai upaya dari pemerintah untuk peka
terhadap permasalahan yang terjadi di pesisir.
d. Rehabilitasi, dimaksudkan untuk upaya pengembalian fungsi ekosistem
pesisir sebagai penyangga biota laut.
e. Responsibility,

dimaksudkan

sebagai

upaya

kesadaran bersama agar masyarakat turun

untuk

menggala ng

berpartisipasi dalam

melindungi wilayah pesisir.

15

f.

Regulasi, dimaksudkan agar terbentuk peraturan yang jelas mengena i


wilayah pesisir agar tercipta kesadaran dan kewajiban yang harus
dipenuhi oleh masyarakat.

3.2. Saran
Sebaiknya segala upaya tentang konservasi dilakukan secara maksimal agar
tidak ada lagi pencemaran atau kerusakan yang terjadi pada lahan basah pesisir di
Kotabaru khususnya di Teluk Tamiang. Serta mempertegas peraturan pemerinta h
tentang perlindungan lahan basah pesisir di wilayah tersebut.

16

DAFTAR PUSTAKA

American Dictionary; Randall. 1982; IUCN. 1968; WCS. 1980. dalam Laodesyamri. Just
Another UNS Social Network weblog. Diakses pada tanggal 15 Januari 2017.
Poniman et al. 2006. Spatial Evaluation on Wetland Conversion Pattern in Surabaya and
Surrounding
Areas.
http://www.wseas.us/elibrary/conferences/2010/Japan/POWREM/POWREM-29.pdf. Diakses pada tanggal
15 Januari 2017.
Ramsar Convention. 2008. Deklarasi Changwon untuk Kesejahteraan Manusia dan
Lahan
Basah.(Online)
http://www.ramsar.org/pdf/cop10/cop10_
changwon_indonesian.pdf. Diakses pada tanggal 15 Januari 2017.