Anda di halaman 1dari 6

dr.

Fachrull

TUGAS UJIAN
1. Imunologi tubuh terhadap sel kanker.
Keutuhan tubuh dipertahankan oleh sistem pertahanan yang terdiri atas sistem imun
non spesifik (natural / innate) dan spesifik (adaptive / acquired).
Sistem imun 1. Non Spesifik
a. Fisik : kulit, selaput lender, silia, batuk, bersin.
b. Larut : Biokimia (lisozim-keringat, sekresi sebaseus, asam
lambung, laktoferin, asam neuraminik.
c. Selular : fagosit (mononuclear, polimorfonuklear), sel NK, sel
mast, basofil
2. Spesifik
a. Humoral : Sel B (IgD, IgM, IgG, IgE, IgA).
b. Seluler : Sel T (Th1, Th2, Ts/Tr/Th3, Tdth, CTL/Tc.
Semua sel, baik yang normal maupun sel kanker, membelah diri dalam suatu siklus
sel. Namun, sel normal didalam tubuh memiiki keseimbangan antara pembelahan sel dan
membentuk sel baru yang berkaitan dengan kecepatan kematian sel.
Sel didalam tubuh dibagi menjadi 3 Sel yang aktif berproliferasi, sel yang
berdiferensiasi, sel yang tidak aktif berproliferasi (G0) yang dapat masuk ke dalam siklus
sel dengan stimulasi tertentu.
G1 S G2 M G1 (G0 fase istirahat)
Setiap sel memulai pertumbuhannya selama fase pascamiotik (G1) dimana enzimenzim yang penting untuk produksi DNA, RNA, dan protein lainnya diproduksi, fase ini
kemudian diikuti oleh fase sintesis DNA (S). Setelah sistesis lengkap, kemudian sel
memasuki fase pra-mitotik (G2) dimana terjadi sistesis protein dan RNA lebih lanjut, fase
ini diikuti oleh fase mitosis (M) dimana pembelahan sel terjadi. Kemudian memasuki
fase G1 kembali, sel yang berada pada fase G1 dapat memasuki fase istirahat (G0).

Kanker muncul dari lesi genetik yang menyebabkan petumbuhan dan pembelahan sel
menjadi tidak normal atau berlebihan dengan tidak diiringi kematian sel yang tidak
adekuat (tidak seimbang). Proliferasi sel kanker juga diatur oleh proto-onkogen.

2. Obat2an antikanker dan cara kerjanya.


G1 S G2 M G1 (G0 fase istirahat)
Obat sitotoksik dapat dikategorikan menjadi :

a. Obat yang efektif pada fase tertentu dari siklus sel (phase-spesific drugs).
b. Obat yang efektif pada sel yang berada pada siklus sel, namun tidak
bergantung fase-nya (cell cycle-spesific drugs).
c. Obat yang tidak efektif baik saat sel berada pada siklus sel ataupun istirahat
(cell cycle-non specific drugs).
Obat (kategori pertama) yang bekerja pada sistem S adalah antimetabolit (sitarabin,
5fu, gemsitabin, metotreksat, tioguanin, fludarabin) yang menganggu sistesis DNA
atau inhibitor topoisomerase I yang menganggu struktur DNA. Docetaxel
memberikan efek toksik maximal pada sistem S.
Obat yang bekerja pada fase G2 adalah antibiotik (bleomisin), inhibitor
topoisomerase II (etoposid), serta stabilisator/polymerase mikrotubulus (paclitaxel
peningkatan toksisitas pada sel yang meninggalkan fase S melalui G2, masuk ke fase
M).
Obat yang bekerja pada fase M adalah dengan menganggu segregrasi kromosom
(alkaloid vinka vinblastin, vincristin, vindesin, vinorelbin).
Obat yang efektifitasnya tidak bergantung pada sel berada di fase manapun (kategori
kedua nonspesifik) adalah alkilator (klorambusil, siklofosfamid, melfalan, busulfan,
dakarbazin,

cisplatin,

carboplatin),

antibiotik

(daktinomisin,

daunorubisin,

doksorubisin, idarubisin).
Obat tidak bergantung pada siklus sel atau tidak, seperti : iradiasi foton, mustard
nitrogen (mekloretamin), dan nitrosourea (karmustin, lomustin).

3. Sel punca.
Sel yang mempunyai kemampuan dasar dan sifat dasar, seperti : kemampuan untuk
memperbaharui, dirinya sendiri (self renewal) melalui pembelahan diri yang simetris dan
sekaligus asimetris (menjadi progenitor sel yang berbeda), Sel yang pada tingkat awal
perkembangannya tidak memiliki fungsi khusus (unspecialiazed), mampu menjadi
progenitor dari berbagai jenis sel didalam tubuh (plasticity/transdiferensiasi).
Berdasarkan kemampuan dapat dibagi menjadi beberapa tingkat kemampuan :
a. Totipoten : sel punca yang mampu menjadi progenitor dari ketiga lapisan
primer germinal (ektoderm, mesoderm, endoderm), dalam hal ini adalah hasil
dari konsepsi dalam fase zigot (hari ke 2 konsepsi).
b. Pluripoten : kemampuannya lebih terbatas untuk menjadi jenis lapisan
germinal terentu (mesoderm yang menjadi sel hematopoetik, osteogenik,
chondrogenik dan jaringan adipose - lemak.
c. Unipoten : sel punca yang hanya mampu menjadi satu jenis progenitor sel,
misal sel punca hematopoetik eritroblast, yang menjadi eritrosit atau
megakaryoblast yang menjadi trombosit

Sel punca dapat berasal dari sel :

a. sel punca embrional (SPE), dari blastosis (hari ke 5 fertilisasi).


b. germinal embrional (melalui aborsi elektif kehamilan 5-9 minggu).
c. sel punca epithelial/darah/plasenta/jaringan fetus (seperti : cord blood
SC/CBC).
d. sel punca dewasa (HSC dari sumsum tulang atau darah tepi, sel
adipose/jaringan lemak).
e. sel punca somatic (somatic stem cell/SSC), yang diisolasi dari jaringan
tertentu.
f. Somatic cell nuclear transfer/SCNT, yang diperoleh dari sel somatik yang inti
sel nya ditransfer ke oocyte donor yang telah dienukleasi, melalui proses
genetic-epigenetic rearrangement yang akan memiliki kemampuan seperti
ESC.
g. iPS (induced pluripotent stem cell) dengan melakukan inisiasi embrional sel
somatik manusia dengan memasukkan (transduksi) gen yang berperan penting
dalam proses embrional melalui perantara lentiviral (seperti : OCT4, SOX2,
NANOG, dan LIN28) sehingga mempunyai kemampuan seperti sel
embrional.
Beberapa penyakit yang mugkin mendapat keuntungan dari sel terpai ini adalah :
penyakit jantung (infark akut dan kronik), PAD, diabetes, kelainan ginjal, penyakit
autoimmune, penyakit liver, penyakit muculoskeletal.