Anda di halaman 1dari 45

BAB 1

KLARIFIKASI ISTILAH

1.1 Pesimis
Orang yang bersikap tidak optimis, orang yang berpandangan tidak mempunyai
harapan baik; orang yang khawatir akan mendapat sesuatu yang buruk, misalnya
kalah, celaka, orang yang tipis harapan, orang yang mudah putus asa (Novia,
2011).

BAB 2
IDENTIFIKASI MASALAH
2.1 Bagaimanakah hubungan usia, jenis kelamin terhadap keluhan pasien?
2.2 Mengapa pasien sulit makan?
2.3 Mengapa pasien mengeluhkan sulit tidur?

BAB 3
ANALISA MASALAH

Terlihat
sedih dan
mengurung
diri dikamar
Merasa
pesimis
dan
bersalah
pada
orang
tuanya
Gejala
Minor
Depres
i

Gejala
Major
Depresi

Perempuan
35 tahun
Tidak mau
makan
sejak 1
minggu
Merasa
mende
ngar
suara
tanpa BAB 4
KERANGKA
KONSEP
wujud
Gejal
a
Psikot
ik
RPD :
Mengalam
i sindrom
manik
RPK
Adik pernah
dirawat di RSJ
DD :
Bipolar
episode
depresi
dengan
gejala
psikotik
Skizoafektif
tipe depresi
Depresi berat
dengan
gejala
psikotik
Tatalaksan
a
Prognosis

Hasil
pemeriksaan
Status Mental
KU : Compos
mentis
Orientasi : Baik
Sikap/Perilaku :
Hipoaktif/Koorp
eratif
Mood : Disforik
Afektif :
Appropriate
Hub. Jiwa :
Mudah
dicantum
B. Pikir : Non
Realistik
Isi Pikir :
Waham
Bersalah
Progresi Pikir :
Blocking
Persepsi :
Halusinasi
Auditori
Memori : Baik
Pikiran Abstrak
: Baik
Insight : Jelek

Non
Farmakolo
gi

Farmakol
ogi

BAB 5
LEARNING OBJECTIVE

5.1 Mahasiswa dapat menjelaskan aksis I-V


5.2 Mahasiswa dapat menjelaskan secara lengkap gangguan depresi
5.3 Mahasiswa dapat menjelaskan secara lengkap gangguan bipolar
5.4 Mahasiswa dapat menjelaskan skizoafektif tipe depresi
5.5 Mahasiswa dapat menjelaskan pandangan islam mengenai depresi

BAB 6
BELAJAR MANDIRI

Mahasiswa mencari sumber jawaban dari learning object yang sudah ada
dengan sumber yang valid dan menurut teori yang paling terbaru.

BAB 7
BERBAGI INFORMASI
1. Menjelaskan Akis I-V
Tujuan Diagnosis Multiaksial
-

Adanya aspek klinis, kepribadian dan psikososial.


Dimuali dari PPDGJ II.
Informasi komprehensif sehingga membantu perencanaan terapi

dan meramalkan outcome.


Format mudah dan sistematik sehingga membantu menata dan
mengkomunikasikan informasi klinis, menangkap kompleksitas
situasi klinis, dan menggambarkan heterogenitas individu dengan

diagnosis yang sama.


Penggunaan model bio-psiko-sosial.

Diagnosis Multiaksial
Aksis I
Gangguan Klinis (F00-09, F10-29, F20-29, F30-39, F40-48, F50-59, F6268, F80-89, F90-98, F99). Kondisi Lain yang Menjadi Focus Perhatian
Klinis (tidak ada diagnosis Z03.2, diagnosis tertunda R69)
Aksis II
Gangguan Kepribadian (F60-61, gambaran kepribadian maladaptive,
mekanisme defensi maladaptif). Retardasi Mental (F70-79) (tidak ada
diagnosis Z03.2, diagnosis tertunda R46.8)
Aksis III
Kondisi Medik Umum
Aksis IV
Masalah Psikososial dan Lingkungan (keluarga, lingkungan social,
pendidikan, pekerjaan, perumahan, ekonomi, akses pelayanan kesehatan,
hukum, psikososial)
Aksis V
Penilaian Fungsi Secara Global (Global Assesment of Functioning = GAF
Scale). Biasanya untuk fungsi psikologis, sosial dan okupasional.
Diagnosis AKSIS berdasarkan PPDGJ III
1) Aksis I
Gangguan Afektif Bipolar Episode Kini Depresif Berat dengan
Gejala Psikotik
2) Aksis II
Gangguan Kepribadian Dependent
3) Aksis III
Tidak terdapat adanya penyakit yang menyertai dan menyebabkan
keluhan pasien
4) Aksis IV
Masalah Pendidikan
5) Aksis V
50.41 yaitu Gejala Berat (serious) Disabilitas Berat
2. Gangguan Depresi
a. Epidemiologi

Depresi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang cukup serius.


World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa depresi berada
pada urutan ke-empat penyakit di dunia. Sekitar 20 % wanita dan 12 %
pria, pada suatu waktu dalam kehidupannya pernah mengalami
depresi. Pasien mengalami distorsi kognitif seperti timbul rasa
bersalah, perasaan tidak berharga, kepercayaan diri menurun, pesimis,
dan putus asa. Terdapat juga perasaan malas, tidak bertenaga, retardasi
psikomotor, dan menarik diri dari hubungan sosial. Pasien juga
mengalami gangguan tidur, nafsu makan berkurang, begitu juga
dengan gairah seksual. (Kaplan, 2010)
b. Etiologi Gangguan
- Faktor Biologis
- Adanya disregulasi amin biogenik terutama neurotransmiter serotonin
-

dan norepinefrin (mengalami penurunan).


Faktor Genetik
Ditunjukkan bahwa saudara derajad pertama, mempunyai resiko
sekitar 8-18 kali untuk mengalami gangguan bipolar dan 2-10 kali

kemungkinan menderita depresi berat.


Faktor Psikososial
Faktor kognitif
a) Menurunnya kepercayaan
b) Pesimistik
c) Penilaian negative
d) Tidak bisa mengambil keputusan
Stressor Lingkungan
a)
b)
c)
d)

Kehilangan pasangan
Menurunnya financial
Ancaman keamanan
Sulitnya hubungan interpersonal

Faktor kepribadian :
a) Dependen
b) Anankastik
c) Histrionik
Psikodinamika
a) Kehilangan objek yang dicintai

b) Kegagalan yang berulang (Kaplan,2010)


c. Faktor Resiko Depresi
a. Faktor Biologik
- Genetik
- Perubahan neurotransmiter/ neuroendokrin
- Perubahan struktural otak
- Vascular risk factors
- Penyakit/kelemahan fisik (Kondisi Medik Kronik & Kondisi
Terminal)
b. Faktor Psikologik
- Tipe kepribadian (dependen, perfeksionis, introvert)
- Relasi interpersonal (disharmoni keluarga)
(Maslim, 2001)
d. Factor Pencetus Depresi
a. Peristiwa kehidupan
- Berduka, perpisahan, kehilangan orang dicintai
- Kesulitan ekonomi
- Perubahan situasi pindah rumah
b. Stres Kronis
- Disfungsi kehidupan berkeluarga
c. Penggunaan obat obatan tertentu
- Antihipertensi, Pemblok H2, Kontrasepsi Oral
- Kortikosteroid, AntiReumatik
(Maslim, 2001)
e. Faktor Pelindung Depresi
a. Dukungan social
- Kekerabatan
- Kehidupan religius
b. Mekanisme pemecahan masalah yang sehat
- Mudah beradaptasi dengan lingkungan
- Kepribadian yang matur
c. Pola hidup sehat
- Gizi seimbang
- Olah raga, hidup teratur
(Gail, 2002)
f. Dampak Depresi
Mortalitas

Morbiditas

Biaya sosial

Depresi

adalah

faktor

utama untuk kematian

akibat bunuh diri


Kecelakaan fatal akibat
konsentrasi dan perhatian

terganggu
Kematian akibat penyakit

Percobaan bunuh diri


Kecelakaan
Menyebabkan

penyakit/somatisasi
Kehilangan pekerjaan
Gagal di sekolah/karir
Penyalahgunaan
alkohol/zat

yang terkait atau yang


diakibatkan

(mis.

Penyalahgunaan alkohol)

g. Kriteria Diagnosis Derpresi

Gejala major
1.
2.
3.
Gejala minor

Sedih/murung setiap hari


kehilangan minat
Tidak bertenaga/mudah lelah

Keluarga disfungsional
Mangkir
Produktivitas berkuran
Cedera terkait pekerjaa
Kualitas pekerjaan bur

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Rasa tidak berguna/rasa bersalah


Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis
Harga diri dan kepercayaan diri berkurang
Gagasan/perbuatan membahayakan diri/ bunuh diri
Gangguan tidur
Konsentrasi/ perhatian berkurang
Gangguan pola makan

Depresi Ringan ( tanpa atau dengan gejala somatik )


-

2 gejala mayor
2 gejala minor
Berlangsung 2 minggu

Depresi Sedang ( tanpa atau dengan gejala somatik )


-

2 gejala mayor
3-4 gejala minor
Berlangsung 2 minggu

Depresi Berat (tanpa gejala Psikotik atau dengan gejala Psikotik)


-

3 gejala mayor
4 gejala minor
Berlangsung 2 minggu (bila gejala sangat berat atau onset

sangat cepat)
Ciri Psikotik : waham, halusinasi, stupor depresif

h. Penatalaksanaan Depresi
a. Farmakologi
Antidepresan

Tabel 1. Obat Antidepresan

Tabel 1. Dosis Obat Antidepresan

Antipsikotik

Nama Obat
Chlorpromazine
Haloperidol
Thioridazine
-

Dosis/mg
50-2000
2-100
50-800

Mood Stabilizer

Nama Obat
Asam Valproat
Lithium Karbonat
Karbamazepin
(Maramis, 2009)

Dosis/mg
2 250
2-3400
2200

b. Non Farmakologi
Psikoterapi
Terdiri dari :
Terapi Interpersonal

Berfokus pada konteks sosial


depesi dan hubungan pasien

Terapi Kognitif Behavioral

dengan orang lain


Berfokus pada mengoreksi
pikiran

negatif,

perasaan

bersalah yang tidak rasional


dan rasa pesimis pasien
ECT (Electrocompulsive therapy)
Merupakan terapi dengan cara mengalirkan arus listrik ke otak.

i.

ECT diindikasikan pada :


a) Depresi yang berat
b)Diperlukan respon yang cepat
c) Respon terhadap obat jelek
d)Merupakan pilihan terakhir
(Maslim, 2001)
Prognosis Depresi
Episode depresi yang ditangani dengan baik akan sembuh dalam
waktu kurag lebih 3 bulan. Apabila tidak diobati dengan baik dapt

sembuh dalam waktu 6-12 bulan.


Walaupun menggunakan obat 20-35% pasien mengalami gejala
residual dan gangguan fungsi sosial. (Maramis, 2009)

3. Gangguan Bipolar
a. Defenisi .

Gangguan bipolar berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of


Mental Disorders-Text Revision edisi ke-4 (DSM-IV-TR) adalah
gangguan mood yang terdiri dari paling sedikit satu episode manik,
hipomanik atau campuran yang biasanya disertai dengan adanya riwayat
episode depresi mayor (APA, 2010).
Tabel 1. Definisi gangguan bipolar

Sumber : Price & Nissen (2012)


b. Etiologi
Menurut Price & Nissen (2012) hingga kini para ahli belum mengetahui
penyebab terjadinya gangguan bipolar. Kondisi ini diduga muncul akibat
adanya

ketidakseimbangan

neurotransmitter

di

dalam

otak.

Neurotransmitter meliputi dopamine, serotonin, dan noradrenaline yang


memiliki fungsi mengendalikan fungsi-fungsi otak. Dugaan bahwa
gangguan bipolar dipengaruhi oleh ketidakseimbangan neurotransmitter
diperkuat dengan bukti medis, yaitu ketika seseorang memiliki kadar
noradrenaline terlalu rendah sehingga memicu episode depresi. Dan
sebaliknya, ketika kadar noradrenaline terlalu tinggi, maka yang muncul
adalah episode mania.
Pendapat sebagian ahli lainnya mengatakan bahwa gangguan bipolar
berkaitan dengan genetika yang diwariskan dari orang tua dan faktor
lingkungan di mana seseorang dibesarkan. Seseorang yang menderita
gangguan bipolar, gejalanya dapat muncul sewaktu-waktu. Kemunculan
gejala ini bisa dipicu oleh beberapa hal, salah satunya adalah stres
berlebihan, misalnya karena ditinggal mati oleh orang yang dicintai,

karena perceraian atau putus hubungan dengan kekasih, dan karena


pelecehan. Stres tidak boleh dianggap enteng karena terbukti menjadi
pemicu utama hampir sebagian besar masalah-masalah psikologis,
termasuk gangguan bipolar. Selain stres, faktor-faktor lainnya yang bisa
memicu kemunculan gejala atau umumnya ditemukan bersamaan dengan
gangguan bipolar adalah:

Masalah rumah tangga, keuangan, atau pekerjaan

Kecanduan minuman beralkohol atau obat-obatan terlarang

Gangguan tidur

Penyakit fisik
Tabel 2. Penyebab sekunder gangguan bipolar

Sumber : Price & Nissen (2012)


c. Klasifikasi
Berdasarkan DSM-IV-TR klasifikasi gangguan bipolar adalah sebagai
berikut (APA, 2010) :
1)

Gangguan bipolar I. Ditandai oleh satu atau lebih episode manik

atau campuran yang biasanya disertai oleh episode depresi mayor;


2)
Gangguan bipolar II. Gambaran utama ditandai oleh terjadinya
satu atau lebih episode depresi mayor yang disertai oleh paling sedikit
satu episode hipomanik.

3)

Gangguan siklotimik. Ditandai paling sedikit dua tahun dari

sejumlah periode waktu gejala hipomanik yang tidak memenuhi kriteria


episode manik dan sejumlah periode gejala depresif yang tidak
memenuhi kriteria depresif mayor.
4)
Gangguan bipolar yang tidak terinci. Gangguan ini mencakup
gambaran bipolar yang tidak memenuhi kriteria di atas.
d. Epidemilogi
Gangguan bipolar merupakan gangguan jiwa berat yang prevalensinya
cukup tinggi. Studi di berbagai negara menunjukkan bahwa risiko untuk
terjadinya gangguan bipolar sepanjang kehidupan adalah sekitar 1-2%.
Studi Epidemiologic Catchment Area (ECA) menemukan bahwa
prevalensi sekali seumur hidup gangguan bipolar adalah antara 0,6%1,1% (antara 0,8%-1,1% pada pria dan 0,5%-1,3% pada wanita). Studistudi yang dilakukan di Eropa menunjukkan bahwa angka prevalensi
gangguan bipolar mungkin mencapai 5%. Angka prevalensi dari
keseluruhan spektrum gangguan bipolar pada seumur hidup adalah 2,67,8% (Price & Nissen, 2012).
Tidak seperti depresi mayor, prevalensi gangguan bipolar I tampak
hampir sama pada pria dan wanita. Namun, pada pria, onset dari
gangguan bipolar I biasanya dimulai dengan suatu episode depresimania, sementara, pada wanita, biasanya dimulai dengan suatu episode
depresi mayor, sedangkan gangguan bipolar II terlihat lebih umum terjadi
pada wanita. Usia onset untuk gangguan bipolar I terentang dari masa
anak-anak (56 tahun) sampai 50 tahun atau bahkan lebih lanjut pada
kasus yang jarang, dengan rata-rata usia adalah 30 tahun (APA, 2010).
e. Patofisiologi
Patofisiologi gangguan bipolar belum dapat diketahui dengan pasti.
Namun, orang yang kembar dan keluarga menunjukkan bahwa gangguan
bipolar memiliki komponen genetik. Bahkan, kerabat tingkat pertama
orang dengan gangguan bipolar sekitar 7 kali lebih mungkin untuk
mengembangkan gangguan bipolar daripada lingkungan. Banyak teori

telah diajukan mengenai patofisiologi gangguan bipolar, teori yang


paling popular berpendapat bahwa gangguan bipolar disebabkan
ketidakseimbangan neurotransmitter norepinefrin yang diperkirakan
menyebabkan gejala gangguan bipolar. Hipotesis lain berasal dari
penelitian Coppen dan timnya pada tahun 1960-an, yang menjumpai
bahwa kadar natrium pada syaraf menyebabkan hipereksitabilitas syaraf
yang menjadi kemungkinan terjadinya gangguan bipolar. Penggunaan
dari beberapa substansi yang mempengaruhi sistem syaraf pusat
(misalnya, alkohol, antidepresan, kafein, stimulant sistem syaraf pusat,
halusinogen atau ganja) dapat memperburuk gejala mania atau depresi
(Drayton&Weinstein, 2008; Jaya et al., 2013).
f. Manifestasi klinis
Gangguan bipolar merupakan salah satu penyakit kejiwaan yang
menyebabkan penderita mengalami perubahan suasana hati secara drastis
dari mania menjadi depresi, atau sebaliknya. Karena itu, gejala yang
muncul pada penderita dengan kondisi ini akan tergantung kepada fase
suasana hati mana yang tengah dia alami (Price & Nissen, 2012).
1)

Gejala pada fase mania

Fase mania ditandai dengan kenaikan suasana hati secara signifikan


sehingga menyebabkan penderita gangguan bipolar yang mengalaminya
akan merasa sangat gembira dan bersemangat. Mereka merasa sangat
berenerjik dan merasa tidak lelah walau kurang tidur dan kurang makan.
Selain itu, mereka juga bicara dengan cepat dan merasa punya banyak ide
atau rencana-rencana yang rumit. Mania juga membuat ego penderita
menjadi tinggi sehingga tidak jarang mereka menjadi mudah tersinggung
dan terusik, merasa dirinya sangat penting, melakukan hal-hal sembrono
dengan menghabiskan uang tabungan, atau membuat keputusan besar
yang berisiko tinggi atau merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Kadang-kadang pada beberapa kasus bipolar, penderita juga bisa
mengalami

gejala psikotik berupa delusi dan halusinasi. Saat

berhalusinasi, seseorang akan merasa seperti mendengar atau melihat

sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Saat mengalami delusi, seorang


penderita gangguan bipolar akan meyakini sesuatu yang pada umumnya
tidak masuk akal atau tidak benar secara nalar.
2)

Gejala pada fase depresi

Kebalikan dari fase mania adalah fase depresi. Fase ini ditandai dengan
penurunan suasana hati secara signifikan sehingga penderita bipolar akan
merasa sangat sedih, sulit tidur, tidak nafsu makan, kurang percaya diri,
merasa bersalah, pesimis, merasa tidak berharga, dan cenderung putus
asa. Jika gejala ini makin parah, dikhawatirkan penderita dapat menyakiti
dirinya sendiri atau bahkan melakukan bunuh diri. Fase depresi dapat
membuat penderita gangguan bipolar menjadi sulit untuk berkonsentrasi
dan mengalami penurunan daya ingat sehingga tidak jarang mengalami
penurunan prestasi atau produktivitas. Fase depresi juga dapat membuat
hubungan penderita bipolar dengan orang-orang terdekat menjadi rusak
akibat menjadi sering marah-marah, kehilangan minat terhadap aktivitas
sehari-hari dan merasa tidak bisa menikmati segala sesuatu.
Jika dilihat dari perputaran episode suasana hati, ada beberapa penderita
gangguan bipolar yang mengalami periode normal di antara fase mania
dan fase depresi. Meskipun begitu, ada sebagian penderita yang
mengalami perputaran cepat dari fase ke fase tanpa adanya periode
normal. Tiap fase dapat berlangsung beberapa minggu hingga beberapa
bulan. Pada gangguan bipolar, ada juga penderita yang mengalami mania
dan depresi secara bersamaan, misalnya ketika penderita merasa sangat
berenerjik, namun di saat bersamaan merasa sangat sedih dan putus asa
juga. Gejala ini dinamakan dengan periode campuran (mixed state).

Gambar 1. Episode gangguan bipolar

Gambar 2. Gambaran good times dan bad times pada episode bipolar
g.

Faktor risiko

Menurut Price & Nissen (2012) dan Jaya et al. (2013) diperkirakan
beberapa faktor risiko dapat dapat menjadi penyebab terjadinya
seseorang mendapat gangguan bipolar, antara lain :
1)

Faktor genetik

Sebanyak 80%-90% pasien dengan gangguan bipolar memiliki riwayat


keluarga yang juga memiliki gangguan mood (misal, gangguan bipolar,
depresi, siklotimia atau dysthymia). Keluarga derajat pertama pasien
dengan gangguan bipolar memiliki prevalensi sebesar 15%-35% berawal
dari gangguan mood dan 5%-10% memiliki risiko langsung mengalami
gangguan bipolar. Pada penelitian saudara kembar, angka kejadian
gangguan bipolar 1 pada kedua saudara kembar monozigot adalah 33% 90% dan untuk gangguan depresif berat, angka kejadian pada kedua
saudara kembar monozigot adalah 50%. Pada kembar dizigot angkanya
berkisar 5% -25% untuk menderita gangguan bipolar I dan 10% - 25%
untuk penderita gangguan depresif berat. Penelitian lain menyebutkan
bahwa antara 4% sampai 24% dari mereka yang memiliki keluarga
dengan bipolar I juga akan mungkin mengalami bipolar. Untuk bipolar II,
pengaruh faktor ini lebih rendah, dimana individu yang memiliki orang
tua atau saudara didiagnosis dengan bipolar II hanya berisiko sekitar 1%
sampai 5% untuk mengalami ganggaun mood.
2)

Faktor biokimia

Sejumlah besar penelitian telah melaporkan berbagai kelainan di dalam


metabolit amin biogenic di dalam darah, urin, dan cairan serebrospinalis
pada pasien gangguan mood. Amin biogenic (Norepinefrin dan serotonin)
merupakan dua neutransmiter yang paling berperan dalam patofisiologis
gangguan mood. Apabila Norepinefrin (NE) dan epinefrin mengalami
penurunan kadar NE dan epinefrin menyebabkan depresi, sebaliknya
peningkatan kadar keduanya menyebabkan mania. Serotonin merupakan
neurotransmiter aminergic yang paling sering dihubungkan dengan
depresi. Penurunan serotonin dapat menyebabkan depresi. Pada beberapa
pasien yang bunuh diri memiliki konsentrasi metabolit serotonin yang
rendah di cairan serebrospinalnya. Selain kedua senyawa diatas, ada

dopamine yang memiliki peranan dalam depresi dan mania pula. Data
menunjukkan aktivitas dopamine yang menurun pada depresi dan
meningkat pada mania. Ketidakseimbangan hormonal dan gangguan dari
sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal yang terlibat dalam homeostatis
dan respon stress juga dapat berkontribusi pada gambaran klinis
gangguan bipolar.
3)

Faktor lingkungan

Telah lama diamati bahwa peristiwa yang menyebabkan stress sering


mendahului

episode

pertama

dan

dapat

meningkatkan

serta

memperpanjang waktu pemulihan dari gangguan mood. Kehamilan juga


merupakan stress tertentu untuk wanita dengan riwayat penyakit maniadepresif dan dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya psikosis
postpartum.
h. Penegakkan Diagnosis
Menurut APA (2010) dan Price & Nissen (2012) penegakkan diagnosis
gangguan

bipolar

sebaiknya

ditegakkan

oleh

seorang

psikiater

berdasarkan anamnesis, pengisian kuisioner dan sebagainya :


1)

Anamnesis.

Dalam anamnesis gangguan bipolar, dokter biasanya akan terlebih dahulu


menggali keterangan secara langsung dari pasien atau seseorang yang
mendampingi pasien berobat. Dokter atau psikiater akan bertanya apakah
pasien pernah mengalami perubahan suasana hati secara drastis, apa yang
dirasakannya ketika periode tersebut muncul, dan kapan periode tersebut
terjadi. Setelah itu, dokter atau psikiater juga akan menanyai riwayat
kesehatan keluarga pasien, yaitu apakah dirinya memiliki kakak, adik,
atau orang tua yang mengidap gangguan bipolar. Dokter juga mungkin
akan melakukan tes untuk mengukur kadar hormon tiroid dan
memastikan gejala yang diderita oleh pasien bukanlah akibat hipotiroid
atau hipertiroid. Selain bertanya langsung kepada pasien atau seseorang
yang mendampingi pasien berobat, dokter kemungkinan juga perlu

menganalisis data dari buku harian tentang suasana hati. Secara lengkap
anamnesis dapat dilakukan seperti pada Tabel 3.

Gambar 3. Yang sebaiknya mendiagnosis gangguan bipolar


Terdapat kuisioner MDQ seperti yang tertera pada Tabel 4 yang dapat
menentukan seseorang positif menderita gangguan bipolar atau tidak.
Dimana seseorang dikatakan positif menderita gangguan bipolar apabila
menjawab yes

sejumlah 7-13 item pada pertanyaan nomor 1, dan

menjawab yes pada pertanyaan nomor 2, serta menjawab moderate


problem atau serious problem pada pertanyaan nomor 3.
Selanjutnya untuk menentukan episode yang diderita pasien dapat
menggunakan kriteria diagnosis pada Tabel 5 sampai Tabel 8
Tabel 3. Anemnesis yang dilakukan

Sumber : Price & Nissen (2012)

Gambar 4. Problem dalam keterlambatan deteksi ganggguan bipolar


Sumber : BAP (2016)
Tabel 4. Mood Disorder Questionnaire

Tabel 5. Kreteria diagnosis episode mania

Sumber : APA (2010)


Tabel 6. Kreteria diagnosis episode depresi

Sumber : APA (2010)

Tabel 7. Kreteria diagnosis episode hipomania

Sumber : APA (2010)


Tabel 8. Kreteria diagnosis episode campuran

Sumber : APA (2010)


2)

Pemeriksaan Fisik

Karena ada kondisi lain yang juga bisa menyebabkan gejala yang sama
seperti gangguan bipolar, yaitu hipotiroid dan hipertiroid, maka
pemeriksaan fisik yang berkaitan dengan dua penyakit tersebut juga perlu
dilakukan untuk memastikan kondisi pasien.

3)

Medical Test

Pemeriksaan medical test seperti yang tertera pada Tabel 7 penting untuk
mendiagnosis gangguan bipolar secara tepat
Tabel 7. Medical test untuk pasien gangguan bipolar

Sumber : Price & Nissen (2012)


i.

Tatalaksana

Menurut Compton & Nemeroff (2000), APA (2010) dan Price & Nissen
(2012)

tujuan

pentalaksanaan

gangguan

bipolar

adalah

untuk

menurunkan frekuensi terjadinya episode mania atau depresi sehingga


penderita dapat hidup secara normal dan membaur dengan orang-orang di
sekitarnya. Terdapat obat untuk mencegah kambuhnya fase bipolar dan
terdapat juga obat untuk meredakan gejala ketika sedang kambuh. Selain
dengan obat, penanganan bipolar harus dikombinasikan dengan terapi
psikologis di bawah bimbingan dokter spesialis atau psikiater. Penderita

biasanya juga akan disarankan untuk memperbaiki pola hidup ke arah


yang lebih sehat, misalnya berolahraga secara teratur, tidur cukup, dan
mengonsumsi makanan sehat. Sebagian besar penderita gangguan bipolar
dapat membaik tanpa harus menjalani rawat inap di rumah sakit.
Perujukan ke rumah sakit pun biasa dilakukan jika gejala makin parah
dan dikhawatirkan perilaku penderita dapat membahayakan orang lain
atau dirinya sendiri, seperti misalnya ingin melakukan bunuh diri.
1)

Terapi farmakologis

Berikut ini adalah sejumlah obat yang dapat digunakan untuk mengobati
gangguan bipolar, tergantung kepada gejala serta riwayat kesehatan
masing-masing penderita, antara lain :

Antikonvulsan (contohnya lamotrigine, carbamazepine, dan

valproate). Antikonvulsan sebenarnya merupakan obat yang biasa


digunakan untuk mengobati epilepsi. Namun karena memiliki khasiat
yang bisa menstabilkan suasana hati dan meredakan episode mania, maka
kadang-kadang antikonvulsan diresepkan kepada penderita gangguan
bipolar. Penggunaan antikonvulsan tidak boleh sembarangan dan harus
berdasarkan resep dokter. Jika digunakan tanpa melalui pemeriksaan
dokter terlebih dahulu, efek obat antikonvulsan bisa berbahaya. Salah
satunya adalah penggunaan valproate pada wanita usia subur yang bisa
meningkatkan risiko cacat dan gangguan saraf otak pada bayi yang nanti
dikandungnya.

Lithium. Obat yang digunakan secara jangka panjang ini mampu


mencegah terjadinya gejala mania dan depresi serta menstabilkan
suasana hati. Selama penggunaan lithium, tes darah untuk memeriksa
kadar lithium di dalam tubuh perlu dilakukan secara rutin. Hal tersebut
untuk memastikan kadar lithium masih dalam kisaran yang aman
sehingga mencegah terjadinya efek samping serius berupa gangguan
pada ginjal dan kelenjar tiroid. Efek samping penggunaan lithium yang
tergolong ringan adalah muntah dan diare. Efek samping tersebut
biasanya muncul akibat dosis yang tidak tepat. Dokter kadang-kadang
mengombinasikan lithium dengan obat antikonvulsan seperti valproate
atau lamotrigine untuk mengobati pasien gangguan bipolar yang

mengalami rapid cycling (perubahan episode secara cepat dari tinggi ke


rendah atau sebaliknya tanpa adanya periode normal yang menengahi).

Antidepresan. Salah satu contoh obat antidepresan yang sering


digunakan adalah fluoxetine. Pada sebagian penderita gangguan bipolar,
obat pereda depresi ini dapat memicu episode mania. Oleh karena itu
antidepresan kerap dipasangkan dokter dengan obat-obatan penstabil
suasana hati.

Benzodiazepine. Obat yang termasuk kelompok antiansietas ini


bisa digunakan secara jangka pendek untuk meredakan kecemasan.
Selain itu, benzodiazepine juga bisa digunakan untuk memperbaiki
kualitas tidur penderita gangguan bipolar.

Antipsikotik. Sama seperti obat-obatan antikonvulsan, antipsikotik


diresepkan untuk mengatasi episode mania dan juga efektif untuk
menstabilkan suasana hati. Namun dokter biasanya akan meresepkan
obat ini jika episode mania sudah dianggap parah dan menimbulkan
perilaku yang mengganggu. Beberapa efek samping yang mungkin saja
terjadi dari penggunaan antipsikotik adalah kenaikan berat badan,
konstipasi, mulut kering, dan penglihatan buram. Contoh-contoh obat
antipsikotik yang mungkin diresepkan adalah olanzapine, risperidone,
aripiprazole, dan quetiapine.

Tabel 9. Terapi obat untuk gangguan bipolar

Sumber : Price & Nissen (2012)

Tabel 10. Dosis obat untuk gangguan bipolar

Sumber : Price & Nissen (2010)


2)

Terapi psikologis

Terapi psikologis untuk gangguan bipolar dapat menunjang obat-obatan


yang telah diberikan. Melalui metode ini diharapkan kesembuhan pasien
bisa tercapai secara lebih efektif.
Di dalam terapi psikologis, pasien akan dikenalkan dengan masalah
kejiwaan yang sedang mereka alami. Pasien juga akan diajak
mengidentifikasi hal-hal yang dapat memicu terjadinya episode, baik itu
dalam bentuk pemikiran maupun perilaku pasien. Setelah faktor pemicu
gejala diketahui, psikiater atau ahli terapi akan membimbing pasien

untuk berupaya mengubah pemikiran dan perilaku negatif tersebut


menjadi sesuatu yang positif. Melalui metode yang dinamakan terapi
perilaku kognitif ini, pasien juga akan diajari cara menanggulangi stres
secara efektif, serta diberi nasihat-nasihat seputar pola makan, tidur, dan
olahraga yang baik untuk kesehatan.
Tidak hanya pasien, keterlibatan keluarga dalam terapi psikologis juga
bisa sangat membantu. Tujuannya adalah agar keluarga memahami
kondisi yang dialami pasien sehingga bisa bekerja sama untuk
mengidentifikasi masalah yang terjadi di dalam rumah tangga sebagai
satu kemungkinan penyebab gangguan bipolar serta memberikan
dukungan kepada penderita.
Tabel 11. Pedoman umum terapi episode mania atau campuran

Sumber : Drayton & Weinstein (2008)

Tabel 12. Pedoman umum terapi episode depresi

Sumber : Drayton & Weinstein (2008)

Gambar 5. Tatalaksana bipolar episode mania

Gambar 6. Tatalaksana bipolar episode depresi


j. Prognosis
Menurut Price & Nissen (2012) jika pengobatan berjalan efektif, gejala
gangguan bipolar biasanya akan mereda dalam waktu kurang dari tiga
bulan. Namun jika kondisi ini diabaikan atau tidak mendapat penanganan
yang tepat, maka gejala bisa berlangsung selama berbulan-bulan (3-6
bulan untuk episode mania dan enam bulan sampai satu tahun untuk
episode depresi).
Gangguan bipolar memiliki tingkat yang cukup signifikan untuk
morbiditas dan mortilitas. Di Amerika Serikat sekitar 25%-50% dari
orang-orang dengan gangguan bipolar berusaha bunuh diri, dan 11%
benar-benar melakukan bunuh diri. Pasien dengan Bipolar I memiliki

prognosis yang lebih buruk daripada pasien dengan depresi. Dalam 2


tahun pertama setelah episode awal, 40-50% dari pasien mengalami
serangan mania. Hanya 50-60% dari pasien dengan Bipolar I yang
mendapat litium untuk mengontrol gejala mereka.Kira-kira 7% dari
pasien tersebut mengalami gejala tidak terulang, 45% dari pasien
mengalami episode lebih dari satu dan 40% terus memiliki gangguan
persisten. Sering kali, pergantian antara episode depresi dan mania
dipercepat dengan usia. Faktor yang memperburuk prognosis adalah (1)
Riwayat pekerjaan yang buruk/kemiskinan; (2) Disertai dengan
penyalahgunaan alkohol; (3) Disertai dengan gejala psikotik; dan (4)
Gejala depresi lebih menonjol (Drayton & Weinstein, 2008).

Tabel 13. Rekomendasi untuk audit pasien gangguan bipolar

Sumber : BAP (2016)


4. Skizofrenia Afektif Tipe Depresi
Menurut Hawari (2006) dan Jibson (2013) skizofrenia afektif tipe depresi
merupakan suatu gangguan psikotik dengan gejala-gejala skizofrenia dan
defresif yang sama-sama menonjol dalam satu episode penyakit yang
sama. Gejala-gejala afektif diantaranya yaitu afek depresif, kehilangan
minat dan kegembiraan, dan berkurangnya energy yang menuju
meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa lelah yang nyata sesudah kerja
sedikit saja), dan menurunnya aktivitas. Gejala lainnya yaitu konsentrasi

dan perhatian berkurang, harga diri dan kepercayaan diri berkurang,


gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna, pandangan masa depan
yang suram dan pesimistis, gagasan atau perbuatan membahayakan diri
atau bunuh diri, tidur terganggu, dan nafsu makan berkurang. Gejala
skizofrenia juga harus ada antara lain merasa pikirannya disiarkan atau
diganggu, ada kekuatan yang sedang berusaha mengendalikannya,
mendengar suara-suara yang beraneka ragam.
Beberapa data menunjukkan bahwa gangguan skizofrenia dan gangguan
afektif mungkin berhubungan secara genetik. Ada peningkatan resiko
terjadinya gangguan skizofrenia diantara keluarga dengan gangguan
skizoafektif (Jibson, 2013). Pengobatan untuk gangguan Skizoafektif tipe
depresif merespon baik terhadapat pengobatan dengan obat antipsikotik
yang dikombinasikan dengan obat anti depresan atau pengobatan dengan
antipsikotik saja, Karena pengobatan yang konsisten penting untuk hasil
terbaik, psikoedukasi pada penderita dan keluarga, serta menggunakan
obat long acting bisa menjadi bagian penting dari pengobatan pada
gangguan skizoafektif (Hasanah, 2015).

Gambar 7. Overlap gejala klinis antara bipolar dan skizofrenia


Sumber : Keck et al. (2001)

5. Screening depresi

Alat ukur diadaptasi dan diterjemahkan dari Beck Depression


Inventory

(BDI)

yang

terdiri

dari

21

pertanyaan

masing

masing

menggambarkan manifestasi depresi yang spesifik dari 4 pernyataan yang


menggambarkan tingkat intesitas gejala.Kriteria yang dipakai adalah diagnosa
psikiatrik.

Cara pengisian alat ukur ini yaitu dengan meminta kesediaann


responden untuk menjawab semua item pertanyaan yang diajukan dengan
cara memilih ata menentukan salah satu dari empat pilihan jawaban yang
tersedia di setiap item penrtanyaan yang sesuai dengan individu
tersebut.Masing masing gejala memiliki tingkat intensitas sebagai berikut :
a = 0 tidak ada gejala
b = 1 ada gejala ringan
c = 2 ada gejala sedang
d = 3 ada gejala berat

Penilaian jawaban dari responden dilakukan dengan menjumlahkan


seluruh skor yang diperoleh oleh responden.Total jumlah nilai yang
diperoleh oleh responden akan menunjukan tingkat epresi yang dimiliki
oleh

responden

yang

bersangkutan.Nilai

total

berkisar

dari

0-

63.Indikasinya adalah :
a.
b.
c.
d.

Jumlah nilai 0-13 : minimal/normal


Jumlah nilai 14-19 : depresi ringan
Jumlah nilai 20-28 : depresi sedang
Jumlah nilai 29-63 : depresi berat

(Maslim,R.,2001)
6.

Pandangan Islam mengenai Depresi


Al Baqarah 155 sd 157
Dan berikanlah kabar berita gembira kepada orang-orang yang sabr,
yaitu orang- orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, Mereka itulah yang mendapatkan
keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya dan mereka itulah
orang-orang yang mendapat petunjuk
QS Al Hadid ayat 22 sd 23
Tidak sesuatu bencana pun menimpa di bumi dan tidak pula dirimu
sendiri melankan sudah tertulis di dalam kitab Lauhul Mahfuzh )
sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu supaya
kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya
kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu.
Dan Allah

tidak

menyukai

setiap

orang

yang

sombong

lagi

membanggakan diri
Beristighfar
Barangsiapa yang selalu beristighfar , Allah akan memberikan
penyelesaian dari segala kesulitan, dan jalan keluar dari setiap
kesempitannya serta rizki dari arah yang tidak disangka-sangka
Sabar dan shalat
Ambilah pertolongan dari krsabaran dan shalat
Membaca Laa haula wa laa quwwata illa billah
Barangsiapa yang banyak bersedih dan berduka , hendaklah ia
memperbanyak membaca Laa haula wa laa queeata illa billah
Ketika berdoa ucapkan wahai Al Hayyu Al Qayyum

Ya Allah, hanya rahmat Mu yang aku harapkan, maka janganlah Engkau


sandarkan urusan kepada diriku sendiri biarpun sekejap mata Perbaikilah
segala urusanku, tidak ada yang berhak diibadahi secara benar melainkan
Engkau
Seperti diketahui gejala depresi ditandai dengan adanya rasa sedih. Abdul
(2007) menyebutkan bahwa dalam bahasa Arab terdapat sejumlah kata
yang mengandung makna sedih. Diantaranya huzn, iktiyab, jaz, faz.
Semua kata tersebut mengandung makna sedih sekalipun bervariasi
tingkat berat dan ringannya. Huzn berarti kesedihan, iktiyab berati
kesedihan yang berat dan mendalam, dan jaz yang artinya sedih berkeluh
kesah. Kata huzn dan kata jadiannya banyak digunakan dalam Al-Quran.
Kata huzn setidaknya digunakan dalam Al-Quran sebanyak 42 kali,
misalnya dalam surat Al-Baqarah ayat 38 :

Artinya : Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku maka tidak


ada atas mereka ketakutan dan tidaklah mereka bersedih.
Begitupun pada surat Al-Araf ayat 35 :

Artinya : Maka barangsiapa yang bertakwa dan berbuat baik, maka


tidak ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka bersedih .

Pada ayat-ayat tersebt diatas jelas tergambar bahwa rasa sedih (depresi)
tidak akan terjadi apabila kita mengikuti petunjuk dan bertakwa kepada
Allah SWT serta berbuat baik. Najati (2005) berpendapat bahwa AlQuran diturunkan untuk mengubah pikiran manusia, kecenderungannya
dan tingkah lakunya, memberi petunjuk pada mereka mengarahkan
mereka kepada sesuatu yang baik untuknya dan membekali mereka
dengan pikiran-pikiran baru tentang tabiat manusia. Ringkasnya AlQuran telah berhasil membentuk kepribadian manusia yang utuh,
seimbang. Sehingga manusia terhindar dari gejala-gejala terganggunya
jiwa yang mengakibatkan terganggunya perilaku manusia tersebut.
Kemudian, QS. Ar-Rad ayat 28 Allah berfirman (yaitu) orang-orang
yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat
Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi
tenteram.
Lalu di QS. Al-Israa ayat 82 : Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu
yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan
Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain
kerugian.
Dengan demikian Al-Quran merupakan terapi yang sangat utama, karena
didalamnya memuat resep-resep mujarab yang dapat menyembuhkan
penyakit jiwa manusia. Tingkat kemujarabannya tergantung seberapa
jauh tingkat sugesti keimanan pasien. Sugesti yang dimaksud dapat diraih
dengan mendengar dan membaca, memahami dan merenungkan serta
melaksanakan

isi

kandungannya.

Al-Qurthubi

dalam

tafsirnya

menyebutkan ada dua pendapat dalam hal pengobatan yaitu pertama


terapi bagi jiwa yang dapat menghilangkan kebodohan dan keraguan,
membuka jiwa yang tertutup, menyembuhkan jiwa yang sakit. Kedua,
terapi yang dapat menyembuhkan penyakit fisik (Rahayu, 2009).
Adz-dzaky (2002) mengatakan, aplikasi terapi Islam terhadap berbagai
persoalan salah satu langkah yang dilakukan adalah membacakan
beberapa ayat Al-Quran yang berhubungan dengan permasalahan,

gangguan atau penyakit yang sedang dihadapi termasuk penyakit depresi.


Mengingat fungsi dan tujuan membaca ayat Al-Quran dalam rangka :
-

Pemberian nasihat. Pembacaan ayat-ayat Al-Quran dalam rangka


memberikan nasihat, bimbingan tentang berbagai permasalahan

yang dihadapi manusia.


Tindakan pencegahan dan perlindungan. Pembacaan ayat AlQuran juga berfungsi sebagai pencegahan dan perlindungan yakni
sebagai doa agar senantiasa dapat terhindar dan terlindungi dari
suatu musibah, ujian yang berat yang dapat mengakibatkan

terganggunya kesehatan jiwa.


Tindakan pengobatan dan penyembuhan. Pembacaan ayat-ayat
Al-Quran dapat berfungsi untuk penyembuhan terhadap penyakit
fisik dan spiritual.

PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan skenario yang kami dapatkan tentang wanita 23 tahun yang
diantar ibunya pergi ke dokter karena tidak mau makan sejak satu minggu yang
lalu.satu bulan yang lalu pasien.Pasien juga merasa sedih dan mengurung diri di
kamar,pasien juga mengeluh sulit tidur.Pasien merasa pesimis dan pada orang
tuanya karena tugas kuliah yang tidak kunjung selesai.Pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan neurologis di dapatkan hasil yang normal.Pada skenario ini kami
mendapatkan

diagnosis

banding

bipolar

episoe

depresi

dengan

gejala

psikotik,skizoefektif tipe depresi,depresi berat dengan gejala psikotik.Untuk


menegakan diagnosis ini kami mengacu pada PPDGJ III.Pada skenario ini kami
mendiagnosis berdasarkan aksis meliputi :
aksis I : Gangguan afek bipolar episod dini depresi berat dengan gejala
psikotik
aksis II : Gangguan ciri kepribadian dependen
aksis III : (tidak ada)
aksis IV : Masalah pendidikan
aksis V : 50-41 (berat)
Hambatan
1. Mahasiswa masih bingung dan kurang menguasai materi karena teori yang
sangat banyak.
2. Mahasiswa masih banyak yang membaca buku dalam menyampaikan
pendapat karena kurang menguasai materi.
Solusi
1. Mahasiswa harus banyak membaca dan memahami supaya tidak bingung
dan paham tentang materi
2. Mahasiswa harus paham dan mengerti supaya lancer dalam
menyampaikan pendapat tanpa melihat buku.

DAFTAR PUSTAKA
American Psychiatric Association. Mood Disorders. Dalam: Diagnostic and Statistical
Manual of Mental Disorders, 4th Ed, Text Revision, DSM-IV-TR,
Washington DC, 2010: hal. 345-429.
Anggraheni, R. A. 2016. Penggunaan IBA dan BAP dalam Organogenesis Jarak (Jatropha
spp.). Fakultas Pertanian. Universitas Gadjah Mada. Skripsi.
Compton MT & Nemeroff CB., 2000, The Treatment of Bipolar depression, J Clin
Psychiatry, 61 (Suppl 9):57-67.
Departemen Agama Republik Indonesia.2005.Al-Quran Terjemahan.Jakarta. PT. syamil
Cipta Media.
Drayton, S.J., & Weinstein, B., Bipolar Disorder, dalam Dipiro, J.T., Talbert, R.L., Yee,
G.C.,

Matzke,

G.R.,

Wells,

B.G.,

Posey,

L.M.,

(Eds),

2008,

Pharmacotheraphy A Pathophysiologic Approach, 7th Edition, 1174- 1181,


McGraw Hill Companies, Inc., New York.
Gail, Stuart W. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC; 2002. p:144.
Hasanah, A., 2015. Studi Cross-Sectional Tingkat Kemampuan Literasi Matematis
Siswa Sekolah Menengah Pertama di Bandung Berdasarkan Pengujian Soal
PISA. Jurnal Lingkar Widyaiswara, edisi 2 No. 3: 10-25.
Hawari, D., 2006. Manajemen Stres, Cemas, dan Depresi. Jakarta: Balai Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pp. 94-99.
Hickie, l et al., 2002. An Approach to Managing Depression in General Practice : Long
Term Management of Patients with Depression ; An Essential Skill for All
General Practitioners, MJA, 173: 106-110.
Jibson, J., 2013. Manajemen. Jilid 2. Edisi Ke-9. Alih bahasa : Sularno Tjiptowardoyo &
Imam Nurmawan. Jakarta : Erlangga Gillies, D.A, (2007), Management.
Kaplan, H.I., Sadock, B.J., and Grebb, J.A., 2010. Sinopsis Psikiatri : Ilmu Pengetahuan
Perilaku Psikiatri Klinis. Jilid Dua. Editor : Dr. I. Made Wiguna S. Jakarta :
Bina Rupa Aksara.
Keck et al. 2001. Angewandte Chemie International Edition 45, Issue 32: 5348 5354.
Maramis, W.F. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa, Edisi 2. Surabaya: Airlangga University
Press; 2009.
Maslim, R., 2001. Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III. Jakarta:
PT. Nuh Jaya.
Novia, Firsan. 2011. Crisis Public Relations. Jakarta : PT. Rajagrafindo Persada.

Price AL, Marzani-Nissen GR,Bipolar Disorders: A Review. Am Fam Physician 2012;


85(5):483-93.
PPDGJ III.(1993). Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia
III : cetakan pertama. Jakarta : Departemen Kesehatan.