Anda di halaman 1dari 87

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016

RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO


- KABUPATEN WONOSOBO
BAB I
PENDAHULUAN
.1 Latar Belakang
Perencanaan ruang sebenarnya telah dikenal sejak lama di dunia,
bahkan sejak zaman prasejarah, namun tentunya tidak begitu kompleks seperti
yang kita lihat saat ini. Kisah perencanaan ruang memulai debutnya pada masa
purba sampai pasca evolusi industri. Perkembangan ruang secara umum di
dunia ini juga mempunyai kaitan dengan perkembangan perencanaan wilayah
dan kota yang terjadi di Indonesia.
Secara umum, jenis perencanaan yang ada di Indonesia
cukup banyak dan terbagi menjadi beberapa tingkatan. Perencanaan yang paling
umum mencakup perencanaan nasional yang mengatur keseluruhan wilayah
NKRI (Arzandi,dkk,2015). Menurut Undang-Undang No.26 Tahun 2007 tentang
Penataan Ruang, disebutkan pada penyelenggaraan penataan ruang wilayah
nasional yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan berlandaskan
wawasan nusantara dan ketahanan nasional.
Di Indonesia, dikenal dua jenis perencanaan, yaitu Rencana
Pembangunan dan Rencana Tata Ruang. Rencana pembangunan berisi tentang
arahan terkait sektor-sektor di luar perencanaan ruang seperti ekonomi,
kependudukan, dan lainnya. Sementara Rencana Tata Ruang berisi tentang
arahan terkait dengan ruang yang terbagi dalam tahap perencanaan,
pemanfaatan, dan pengendalian (Arzandi,dkk,2015)
Di dalam Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang,
dijelaskan bahwa Rencana Tata Ruang diklasifikasikan lagi kedalam 2 jenis
rencana, yaitu Rencana Umum dan Rencana Rinci yang disusun secara
berhierarkis dari tingkat Nasional sampai dengan tingkat Kabupaten. Salah satu
produk rencana rinci untuk tingkat kabupaten adalah Rencana Detail Tata Ruang
(RDTR) perkotaan.
Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) perkotaan merupakan bentuk
perencanaan lebih lanjut dan lebih rinci dari peraturan pemanfaatan ruang yang
lebih umum, yaitu Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten dan
seterusnya hingga tingkat nasional. Substansi yang terdapat pada Rencana
Detail Tata Ruang (RDTR) perkotaan tidak bisa terlepas dari apa yang telah
dicanangkan di dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten.
Begitupula dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten yang tidak
terlepas dari Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi dan Rencana Tata
Ruang (RTRW) Nasional. Kabupaten Wonosobo tepatnya di Kecamatan
Selomerto, Provinsi Jawa Tengah menjadi wilayah studi untuk penyusunan
Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) dan Peraturan Zonasi (Zoning Regulation)
dalam penelitian ini. Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) perkotaan Selomerto
membahas beberapa bahasan pokok. Adapun bahasan pokok yang dimaksud
meliputi kondisi perkotaan Selomerto, analisa bagian wilayah perkotaan
perkotaan Selomerto, perencanaan untuk wilayah perkotaan Selomerto,

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
penetapan sub BWP yang diproritaskan penangananya, ketentuan pemanfaatan
ruang, dan peraturan zonasi.
.2 Dasar Hukum Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Perkotaan Kecamatan Selomerto
Dasar hukum dapat didefinisikan sebagai aturan-aturan yang melandasi
penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) perkotaan Selomerto. Adapun
dasar hukum yang menjadi penyusunan laporan Rencana Detail Tata Ruang
(RDTR) perkotaan Selomerto, Kabupaten Wonosobo adalah sebagai berikut :
A. Undang Undang
Undang-undang adalah setiap keputusan atau peraturan yang dibuat oleh
pemerintah atau penguasa yang berwenang yang isinya mengikat secara umum
atau keputusan atau ketetapan pemerintah atau penguasa yang berwenang
yang memuat ketentuan-ketentuan umum (Penataanruang.com). Dalam
perencanaan tata ruang, undang-undang digunakan sebagai pedoman untuk
mengeluarkan kebijakan daerah dalam menata ruang, baik provinsi maupun
kabupaten/kota. Perencanaan tata ruang, tentunya di buat berdasarkan
ketetepan yang berlaku, hal ini bertujuan untuk memberikan ruang (kota) yang
aman dan nyaman bagi manusia yang tinggal di dalamnya. Undang-undang no
26 tahun 2007 tetang penaataan ruang, berisikan segala kebijakan dan
ketetapan yang digunakan dalam merencanakan suatu ruang. Adapun undangundang yang digunakan dalam penyusunan RDTR perkotaan Selomerto,
Kabupaten Wonosobo sebagai berikut :
1. Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang
2. Undang-undang Nomor 4 Tahun 2011 Informasi Goespasial
Perencanaan tata ruang yang sesuai dengan ketetapan/peraturan yang ada,
merupakan salah satu tolak ukur, bagaimana menata sebuah kawasan yang di
kombinasikan dengan kondisi eksisting yang ada.
B. Peraturan Pemerintah
Peraturan Pemerintah(PP) adalah Peraturan Perundang-undangan di
Indonesia yang ditetapkan oleh Presiden untuk menjalankan Undang-Undang
sebagaimana mestinya. Materi muatan Peraturan Pemerintah adalah materi
untuk menjalankan Undang-Undang. Peraturan pemerintah tentunya harus
selajan dengan apa yang telah di tetapkan dalam udang-undang. Adapun
Peraturan pemerintah yang di gunakan sebagai acuan pembuatan RDTR
perkotaan Selomerto, Kabupaten Wonosobo :
1. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1991Tentang Sungai
2. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 Tentang Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan
3. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 Tentang Sistem
Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum
4. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2006 Tentang Irigasi
5. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 Tentang Penyelenggaraan
Penataan Ruang
C. Peraturan Menteri

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
Dalam perencanaan RDTR(Rencana Detail Tata Ruang) peraturan
menteri merupakan suatu pedoman untuk menganalisa kondisi eksisting yang
ada pada wilayah perencanaan. Peraturan menteri merupakan peraturan yang
sifat ketetapannya memiliki jangka yang panjang, peraturan menteri tentunya
mendukung perencanaan tata ruang yang jangka perencanaannya 5 Tahun
(RDTR) dan 20 tahun (RTRW). Dalam perencanaan Rencana Detail Tata Ruang
perkotaan Selomerto Kabupaten Wonosobo, tentunya peraturan menteri
mengenai tata ruang digunakan sebagai acuan perencanaan sehingga
menghasilkan arahan-arahan yang dapat digunakan sebagai perencanaan di
perkotaan Selomerto. Adapaun peraturan menteri yang digunakan sebagai
acuan perencanaan RDTR perkotaan Selomerto, Kabupaten Wonosobo adalah
sebagai berikut :
1. Peraturan Menteri Nomor 20 Tahun 2007 Tentang Teknis Analisis Aspek Fisik
dan Lingkungan, Ekonomi Serta Dalam Penyusunan Rencana Tata Ruang.
2. Peraturan Menteri Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Kawasan Letusan Gunung
Berapi dan Kawasan Rawan Gempa Bumi.
3. Peraturan Menteri Nomor 41 Tahun 2007 Tentang Kawasan Budidaya.
4. Peraturan Menteri Nomor 06 Tahun 2007 Tentang Pedoman Umum Rencana
Tata Bangunan dan Lingkungan.
5. Peraturan Menteri Nomor 15 Tahun 2009 Tentang Pedoman Penyusunan
Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi.
6. Peraturan Menteri Nomor 16 Tahun 2009 Tentang Pedoman Penyusunan
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten.
7. Peraturan Menteri Nomor 17 Tahun 2009 Tentang Pedoman Penyusunan
Rencana Detail Tata Ruang Wilayah Kota.
8. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2013 Tentang
Ketelitian Peta Rencana Tata ruang.
Kebijakan yang dikeluarkan dari tiap peraturan menteri, di kombinasikan
dengan undang-undang tata ruang, perencanaan kota yang berkelanjutan sudah
tentu di buat berdasarkan ketetapan-ketetapan yang ada, untuk menciptakan
suatu kota/kabupaten yang tertata baik dari segi pola ruang,struktur ruang,
ekonomi dan sosial.
D. Peraturan Daerah
Peraturan Daerah adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk
oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dengan persetujuan bersama Kepala
Daerah (gubernur atau bupati/wali kota). Dalam tata ruang, pemerintah
mengeluarkan satu kebijakan dalam perencanaan tata ruang yaitu Rencana Tata
Ruang Wilayah. RTWR merupakan rencana tata ruang, baik dari rencana
struktur ruang kota hingga peraturan zonasi suatu kawasan, acuang yang
digunakan dalam pembuatan RTRW yaitu, Undang-undang, Peraturan Menteri,
dan Peraturan pemerintah. Kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah
tentunya mengacu pada kebijakan yang ada, namun di sesuaikan dengan
kondisi eksisting pada wilayah perencanaan. Adapun peraturan daerah yang
digunakan sebagai acuan pembuatan RDTR perkotaan Selomerto, Kabupaten
Wonosobo adalah sebagai berikut :

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
1. Peraturan Daerah Kabupaten Wonosobo Nomor 2 Tahun 2011 Tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).
2. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 6 Tahun 2010 Tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Tengah.
Rencana Tata Ruang Wilayah, merupakan acuan perencanaan RDTR di
perkotaan Selomerto, Kabupaten Wonosobo. Dalam RTRW terdapat arahanarahan yang tentunya menjadi suatu pembanding yang akan digunakan sebagai
perencanaan pada wilayah studi. Dalam hal ini, arahan yang di tetapkan dalam
RTRW, di tinjau dari RTRW Provinsi Jawa tengah dan RTRW Kabupaten
Wonosobo.
Dalam arahan tersebut, menyebutkan perencanaan kawasan untuk wilayah
Kabupaten Wonosobo dalam RTRW Jawa tengah, dan perencanaan serta
arahan dalam RTRW Wonosobo, berisikan arahan dan rencana pada perkotaan
Selomerto. Dari arahan-arahan tersebut, pembuatan RDTR perkotaan Selomerto
memiliki arahan pengembangan, sehingga akan terciptanya rencana yang detail,
sesuai dengan karakteristik wilayah yang ada pada perkotaan Selomerto.
.3 Tujuan Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Perkotaan
Selomerto
Tujuan merupakan hal yang mutlak ada di dalam penyusunan setiap
produk rencana tata ruang baik itu rencana umum maupun rencana rinci. Adapun
yang menjadi tujuan dalam penyusunan Rencana Detail Tata Ruang perkotaan
Selomerto adalah sebagai berikut:
a. Untuk menetapkan arahan pengembangan berdasarkan karaktristik wilayah
sebagai kawasan agroindustri dan isu strategis.
b. Menentukan rencana pola ruang wilayah perkotaan Selomerto berdasarkan
renacana struktur ruang, kebutuhan pelayanan dan pengembangan,
renacana pola ruang dan system pelayanan dan pergerakan yang
mendukung rencana pengembangan kawasan sebagai kawasan
agroindustri
c. Menentukan rencana jaringan prasarana di perkotaan Selomerto.
d. Menetapkan bagian wilayah perencanaan yang diprioritaskan di perkotaan
Selomerto dalam pengembangan kawasan agroindustri dan wilayah
tertinggal
e. Menentukan arahan pemanfaatan ruang wilayah perkotaan Selomerto yang
berbasis ramah lingkungan, sebagai penunjang kagiatan pertanian.
f. Menyusun pedoman dan arahan zonasi di perkotaan Selomerto.

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
.4 Ruang Lingkup
Ruang lingkup merupakan batasan dalam penyusunan Rencana Detail
Tata Ruang (RDTR) perkotaan Selomerto. Ruang lingkup yang dimaksud terdiri
atas ruang lingkup wilayah, ruang lingkup waktu, dan ruang lingkup materi.
.4.1 Ruang Lingkup Wilayah
Ruang lingkup wilayah Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) perkotaan
Selomerto terdiri atas lingkup wilayah regional dan lingkup wilayah lokal.
a. Lingkup Wilayah Regional
Lingkup wilayah regional yang dimaksudkan disini adalah Kabupaten
Wonosobo yang memiliki luas 984,68 km2. Kabupaten Wonosobo terletak di
Provinsi Jawa Tengah. Secara geografis Kabupaten Wonosobo terletak di antara
7011 dan 7036 lintang selatan, 109043 dan 110004 bujur timur berjarak sekitar 120
km dari Semarang , ibukota Provinsi Jawa Tengah dan sekitar 520 km dari
Jakarta, ibukota negara. Kabupaten Wonosobo merupakan daerah pegunungan
dengan ketinggian sekitar antara 275 meter sampai dengan 2.250 meter di atas
permukaan laut . Adapun batas administrasi Kabupaten Wonosobo adalah
sebagai berikut:
1. Sebelah utara
: berbatasan dengan Kabupaten Kendal dan Kabupaten
Batang
2. Sebelah Barat
: berbatasan dengan Kabupaten Temanggung dan
Kabupaten Magelang
3. Sebelah Selatan : berbatasan dengan Kabupaten Purworejo
4. Sebelah Timur : berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara dan
Kabupaten Kebumen
Kabupaten Wonosobo terdiri atas 15 kecamatan. Kecamatan terluas
adalah Kecamatan Wadasilintang dengan luas 127,16 km2 dan Kecamatan
Wonosobo sebagai kecamatan yang terkecil dengan luas 32,28 km2.
b. Lingkup Wilayah Lokal
Lingkup Wilayah lokal adalah Kecamatan Selomerto yang memiliki luas
3.971,49 hektar atau 4,03 % terhadap wilayah total di Kabupaten Wonosobo.
Kecamatan Selomerto terletak diantara 7,41o lintang selatan dan 109,88 bujur
timur. Kabupaten Selomerto terdiri atas 22 desa dan 2 kelurahan. Adapun batas
administrasi Kecamatan Selomerto adalah sebagai berikut :
1. Sebelah utara
: berbatasan dengan Kecamatan Wonosobo
2. Sebelah Barat
: berbatasan dengan Kecamatan Leksono
3. Sebelah Selatan : berbatasan dengan Kecamatan Kaliwiro
4. Sebelah Timur : berbatasan dengan Kecamatan Kertek dan Kalijajar
Desa terluas adalah Desa Tumenggungan dengan luas wilayah 282, 60
hektar sedangkan desa terkecil adalah Desa Pakuncen dengan luas wilayah
76,15 hektar. Dari 22 desa dan 2 Kelurahan di Kecamatan Selomerto, terdapat 8
desa dan 2 kelurahan yang termasuk wilayah perkotaan. Adapun kelurahan dan
desa yang dimaksud adalah sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
5.

Kelurahan Wonorejo
Kelurahan Selomerto
Desa Kalierang
Desa Pakuncen
Desa Krasak

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
6. Desa Gunungtawang
7. Desa Karangerjo
8. Desa Sumberwulan
9. Desa Wilayu
10. Desa Sinduagung

Gambar 1.1 : Lingkup Wilayah RDTR Berdasarkan Wilayah Administrasi


Kecamatan dalam Wilayah Kota
Sumber : BAPPEDA Kabupaten Wonosobo

.4.2

Ruang Lingkup Waktu


Ruang lingkup waktu dalam penyusunan Rencana Detail Tata Ruang
(RDTR) perkotaan Selomerto terdiri atas lingkup waktu persiapan dan lingkup
waktu pelaksanaan.
a. Lingkup Waktu Persiapan
Waktu persiapan dalam penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
perkotaan Selomerto adalah 1 tahun yaitu pada tahun 2016.
b. Lingkup Waktu Pelaksanaan
Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) perkotaan Selomerto dilaksanakan
selama 20 tahun terhitung pada tahun 2017-2035. Peninjauan kembali terhadap
Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) perkotaan Selomerto dilakukan 1 kali dalam
setiap 5 tahun.

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
.4.3 Ruang Lingkup Materi
Lingkup materi dalam penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
perkotaan Selomerto adalah materi yang berisi muatan Rencana Detail Tata
Ruang (RDTR). Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor :
20/PRT/M/2011 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang dan
Peraturan Zonasi Kabupaten / Kota . Muatan Rencana Detail Tata Ruang terdiri
atas :
A. Tujuan Penataan Ruang Wilayah Perencanaan
Tujuan penataan ruang wilayah perencanaan merupakan nilai dan/atau
kualitas terukur yang akan dicapai sesuai dengan arahan pencapaian
sebagaimana ditetapkan dalam rencana tata ruang wilayah (RTRW) kabupaten
dan apabila diperlukan dapat dilengkapi dengan prinsip prinsip. Tujuan
penataan ruang ini lebih mengarah ke tema kawasan sehingga tujuannya berisi
tema yang akan direncanakan di wilayah perencanaan.
1. Tujuan penataan ruang berfungsi :
a. Sebagai acuan untuk penyusunan rencana pola ruang, penyusunan
rencana jaringan, penetapan bagian dari wilayah RDTR yang
diprioritaskan penanganannya dan penyusunan peraturan zonasi
b. Menjaga konsistensi dan keserasian pembangunan kawasan perkotaan
dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten
2. Perumusan tujuan penataan ruang wilayah perencanaan didasarkan pada :
a. Arahan pencapaian sebagaimana ditetapkan dalam RTRW Kabupaten
b. Isu strategis wilayah perencanaan yang antara lain berupa potensi,
masalah, dan urgensi/ketersedakan penanganan
c. Karakteristik wilayah perencanaan
3. Tujuan penataan ruang wilayah perencanaan dirumuskan dengan
mempertimbangkan :
a. Keseimbangan dan keserasian antar bagian dari wilayah kabupaten
b. Fungsi dan peran wilayah perencanaan
c. Potensi investasi
d. Kondisi sosial dan lingkungan wilayah perencanaan
e. Peran masyarakat untuk turut serta dalam pembangunan
f. Prinsip prinsip yang merupakan penjabaran tujuan tersebut
B. Rencana Pola Ruang Wilayah
Rencana pola ruang wilayah dirumuskan berdasarkan daya dukung dan
daya tampung ruang serta perkiraan kebutuhan ruang untuk pengembangan
kegiatan sosial ekonomi dan pelestarian fungsi lingkungan. Rencana pola ruang
terdiri atas :
1. Zona Lindung yang meliputi :
a. Zona Hutan Lindung
b. Zona yang Memberikan Perlindungan terhadap Zona Bawahannya
c. Zona Perlindungan Setempat
d. Zona ruang terbuka hijau kota
e. Zona Suaka Alam dan Cagar Budaya
f. Zona Rawan Bencana Alam
g. Zona Lindung Lainnya
2. Zona Budidaya yang meliputi :
a. Zona Perumahan
b. Zona Perdagangan dan Jasa

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Zona Perkantoran
Zona Sarana Pelayanan Umum
Zona Industri
Zona Ruang Terbuka Non Hijau
Zona khusus
Zona Lainnya

C. Rencana Jaringan Prasarana Wilayah Perkotaan Selomerto


Rencana jaringan prasarana merupakan pengembangan hierarki sistem
jaringan prasarana yang ditetapkan dalam rencana struktur RTRW Kabupaten.
1. Rencana Jaringan Prasarana wilayah perencanaan berfungsi sebagai :
a. Pembentuk sistem pelayanan dan pergerakan didalam wilayah
perencanaan
b. Dasar perletakan jaringan dan rencana pembangunan prasarana dan
utilitas dalam wilayah perencanaan sesuai dengan fungsi pelayanannya
2. Rencana
jaringan
prasarana
wilayah
perencanaan
dirumuskan
berdasarkan :
a. Rencana struktur ruang wilayah Kabupaten Wonosobo dalam RTRW
Kabupaten Wonosobo
b. Kebutuhan pelayanan dan pengembangan bagi wilayah perencanaan
c. Rencana pola ruang wilayah perencanaan dalam RDTR
d. Ketentuan peraturan perundangan terkait
3. Rencana jaringan prasarana wilayah perencanaan dirumuskan berdasarkan
kriteria :
a. Memperhatikan rencana struktur ruang bagian dari wilayah
kabupaten/kota lainnya atau wilayah administrasi kabupaten/kota
sekitarnya yang berbatasan
b. Menjamin keterpaduan dan prioritas pelaksanaan pembangunan
prasarana dan utilitas dalam jangka waktu perencanaan pada wilayah
perencanaan
c. Mengakomodasi kebutuhan pelayanan prasarana dan utilitas wilayah
perencanaan
d. Mengakomodasi kebutuhan fungsi dan peran pelayanan kawasan
didalam struktur ruang wilayah perencanaan
D. Penetapan Bagian dari Wilayah Perencanaan yang diprioritaskan
Penanganannya di Wilayah Perkotaan Selomerto
Penetapan bagian dari wilayah perencanaan yang diprioritaskan
penanganannya merupakan upaya perwujudan rencana tata ruang yang
dijabarkan kedalam rencana penanganan bagian dari wilayah perencanaan
yang diprioritaskan.
1. Penetapan bagian dari wilayah perencanaan yang diprioritaskan
penanganannya berfungsi :
a. Mengembangkan, melestarikan, melindungi, memperbaiki,
mengkoordinasikan keterpaduan pembangunan dan/atau melaksanakan
revitalisasi di kawasan yang bersangkutan yang dianggap memiliki prioritas
tinggi dibandingkan dari wilayah perencanaan lainnya
b. Sebagai dasar penyusunan rencana yang lebih teknis seperti RTBL
dan rencana teknis pembangunan yang lebih rinci lainnya
c. Sebagai pertimbangan dalam penyusunan indikasi program utama

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
RDTR
2. Penetapan bagian dari wilayah perencanaan yang diprioritaskan
penanganannya ditetapkan berdasarkan :
a. Tujuan penataan ruang wilayah perencanaan
b. Nilai penting dibagian dari wilayah perencanaan yang akan
ditetapkan
c. Kondisi ekonomi sosial budaya dan lingkungan di bagian dari
wilayah perencanaan yang akan ditetapkan
d. Usulan dari sektor
e. Daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup di wilayah perencanaan
f. Ketentuan peraturan perundangan terkait
3. Penetapan bagian dari wilayah perencanaan yang diprioritaskan
penanganannya ditetapkan dengan kriteria :
a. Dapat merupakan faktor kunci mendukung perwujudan rencana pola
ruang, rencana jaringan prasarana dan pelaksanaan peraturan zonasi di
wilayah perencanaan
b. Dapat mendukung tercapainya agenda pembangunan
c. Dapat merupakan bagian dari wilayah perencanaan yang memiliki nilai
penting dari sudut kepentingan ekonomi, sosial budaya, pendayagunaan
sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi, fungsi dan daya dukung
lingkungan hidup dan/atau memiliki nilai penting lainnya yang sesuai
dengan kepentingan pembangunan wilayah perencanaan
d. Dapat merupakan bagian dari wilayah perencanaan yang dinilai perlu
dikembangkan, diperbaiki dan/atau direvitalisasi agar dapat mencapai
standar tertentu berdasarkan pertimbangan ekonomi, sosial budaya
dan/atau lingkungan
Muatan dari penetapan bagian
diprioritaskan penanganannya yaitu :

dari

wilayah

perencanaan

yang

1) Lokasi
Lokasi adalah tempat bagian dari wilayah perencanaan yang diprioritaskan
penanganannya.
2) Tema Penanganan
Tema penanganan adalah program utama dari setiap lokasi.

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
E. Arahan Pemanfaatan Ruang di Perkotaan Selomerto
Arahan pemanfaatan ruang dalam RDTR perkotaan Selomerto
merupakan upaya mewujudkan RDTR dalam bentuk program penataan ruang
atau pengembangan untuk wilayah perencanaan dalam jangka waktu
perencanaan 5 (lima) tahun sampai akhir masa perencanaan.
1. Fungsi Arahan Pemanfaatan Ruang :
a. Dasar pemerintah dan masyarakat dalam pemrograman penataan ruang
atau pengembangan wilayah perencanaan
b. Arahan untuk sektor dalam penyusunan program
c. Sebagai dasar estimasi kebutuhan pembiayaan dalam jangka waktu 5
(lima) tahunan maupun penyusunan program tahunan untuk setiap jangka
5 (lima) tahun
d. Sebagai acuan bagi masyarakat dalam melakukan investasi
2. Dasar Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang :
a. Rencana pola ruang dan rencana jaringan prasarana
b. Ketersediaan sumber daya dan sumber dana pembangunan
c. Kesepakatan para pemangku kepentingan dan kebijakan yang ditetapkan
d. Prioritas pengembangan dalam wilayah perencanaan dan pentahapan
rencana pelaksanaan prpgram sesuai dengan RPJP daerah maupun RPJM
daerah
3. Kriteria Arahan Pemanfaatan Ruang :
a. Mendukung perwujudan rencana pola ruang dan rencana jaringan prasaran
di wilayah perencanaan serta mendukung perwujudan bagian dari wilayah
perencanaan yang diprioritaskan penanganannya
b. Mendukung program penataan ruang wilayah kabupaten/kota
c. Realistis, objektif, terukur dan dapat dilaksanakandalam jangka waktu
perencanaan
d. Konsisten dan berkesinambungan terhadap program yang disusun baik
dalam jangka waktu tahunan maupun antar 5 (lima) tahunan
e. Terjalinnya sinkronisasi antar program dalam satu kerangka program
terpadu pengembangan wilayah kabupaten/kota
.5 Metodologi
Metodologi dapat didefinisikan sebagai kegiatan ilmiah yang berkaitan
dengan suatu cara kerja (sistematis) untuk memahami suatu subjek atau objek
penelitian,sebagai upaya untuk menemukan jawaban yang dapat dipertanggung
jawabkan secara ilmiah dan termasuk keabsahannya (Rosdy,2003). Dalam
penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) perkotaan Selomerto,
digunakan 2 macam metodologi yakni metodologi pengumpulan data dan
metodologi analisis data.
.5.1 Metodologi Pengumpulan Data
Pengumpulan data dibutuhkan sebagai keperluan pengenalan
karakteristik wilayah perencanaan dan penyusunan rencana struktur dan pola
ruang wilayah perencanaan. Dalam penyusunan Rencana Detail Tata Ruang
(RDTR) perkotaan Selomerto, dilakukan pengumpulan data dengan 2 cara yaitu :
A. Survei Primer

10

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
Survei primer merupakan salah satu metode pengumpulan data dengan
cara langsung turun ke wilayah perencanaan untuk melakukan observasi dan
wawancara.
1. Observasi
Observasi merupakan proses pencatatan pola perilaku subjek (orang) ,
objek (benda), atau kejadian kejadian tanpa adanya pertanyaan atau
komunikasi dengan subjek maupun objek yang diteliti. Dalam penyusunan
Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) perkotaan Selomerto, yang menjadi objek
observasi adalah sebagai berikut :
a. Pola Ruang
Pola ruang terdiri atas kawasan lindung dan kawasan budidaya.
Kawasan budidaya terdiri atas budidaya terbangun dan tak terbangun.
Untuk budidaya terbangun yang diobservasi adalah sebagai berikut :
1) Zona perumahan
2) Zona perdagangan & jasa
3) Zona perkantoran
4) Zona pelayanan umum yang terdiri dari fasilitas pendidikan, fasilitas
kesehatan, fasilitas olahraga, fasilitas sosial budaya dan fasilitas
peribadatan
5) Zona industri
6) Ruang Terbuka Hijau (RTH)
7) Zona khusus
Untuk budidaya tak terbangun yang disurvei adalah zona lainnya, yaitu
zona pertanian dan zona pariwisata.
b. Struktur Ruang
Untuk struktur ruang, yang diobservasi adalah sebagai berikut :
1) Jaringan listrik, hal yang diamati adalah sumber energi listrik yang
digunakan, jenis tegangan listrik, dan ada/tidaknya gardu jaringan listrik.
2) Jaringan telekomunikasi, hal yang diamati adalah jaringan telepon,
wartel, dan warnet.
3) Jaringan air bersih, hal yang diamati adalah jenis sumber air, lokasi
sumber air, dan pipa distribusi air bersih.
4) Jaringan sampah, hal yang diamati adalah letak TPA dan TPS, kondisi
TPA dan TPS, serta pengangkutan sampah dari sumbernya.
5) Jaringan irigasi, hal yang diamati adalah kondisi jaringan irigasi, dan
arah aliran jaringan irigasi
6) Jaringan limbah
7) Jaringan jalan, hal yang diamati adalah nama jalan, lebar bahu jalan,
pedestrian, rambu-rambu dipinggir jalan, laju harian rata-rata,
penampang jalan, kondisi, dan perkerasan jalan.

11

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO

Gambar 1.2 : Kegiatan Observasi Drainase


(Desa Wilayu)

Gambar 1.3 : Kegiatan Observasi Drainase


(Desa Sumberwulan)

Sumber : Survei Primer

2. Wawancara
Wawancara merupakan salah satu metode survei primer dengan
cara mencari informasi yang lebih mendalam terkait data yang dibutuhkan
dengan menanyakan langsung kepada narasumber. Target narasumber dalam
wawancara ini adalah masyarakat umum, pemuka adat, dan pegawai
pemerintahan. Tujuan dari wawancara ini adalah untuk mengetahui peluang dan
tantangan

yang

terdapat

di

perkotaan

Selomerto,

serta

potensi

dan

permasalahan yang terdapat di perkotaan Selomerto.

Gambar 1.4 : Wawancara Dengan Camat Selomerto


(Bpk. Supratman, SH)

Gambar 1.5 : Wawancara Dengan Pemuka Agama


(Bpk. Anto)

Sumber : Survei Primer

Sumber : Survei Primer

B. Survei Sekunder

Gambar 1.7 : Wawancara Dengan Ibu Lurah Kelurahan


Gambar 1.6 : Wawancara Dengan Pengusaha Telur
Selomerto
(Ibu Sartika)
Puyuh
(Bpk. Setiadi)
Survey
sekunder
dimaksudkan untuk mengumpulkan
data
data yang
Sumber : Survei Primer

Sumber : Survei Primer

diperoleh dari berbagai sumber. Sumber data didapat dari instansi :

12

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
.5.2

Kantor Desa
Kantor Kecamatan
Dinas Peternakan, Kelautan dan Perikanan
Badan Penanggulangan Bencana Daerah
Dinas Kebersihan dan Pertamanan
Dinas Perhubungan
BAPPEDA
BPS
Dinas Pekerjaan Umum
BPN
Dinas Pertanahan
DISPERINDAG
DISNAKERTRANSOS
PLN
Dinas Kehutanan
Badan Lingkungan Hidup
Metode Analisa Data

Metode analisa data merupakan metode yang digunakan untuk


menganalisis data-data yang digunakan sebagai input dalam penyusunan
Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) perkotaan Selomerto. Adapun metode
analisa data dalam penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) perkotaan
Selomerto adalah sebagai berikut :
1

Analisa Fisik Dasar

Analisa fisik dasar dilakukan untuk mengetahui daya dukung serta


kesesuaian lahan bagi peruntukkan kawasan budidaya dan lindung, menjadi
rekomendasi bagi peruntukkan kawasan rawan bencana, kawasan lindung
geologi, dan kawasan pertambangan serta rekomendasi bagi peruntukkan
pengembangan kegiatan budidaya. Oleh karena itu digunakan beberapa aspek
fisik dasar yaitu letak geografis, topografi dan kemiringan, klimatologi dan
hidrologi, serta geologi dan standarnya. Analisis fisik dasar dijadikan sebagai
dasar untuk mengetahui kemampuan dan kesesuaian lahan perkotaan
Selomerto. Pedoman yang digunakan sebagai dasar analisis yaitu Peraturan
Pemerintah No 20 Tahun 2007 Teknik Analisis Aspek Fisik dan Lingkungan,
Ekonomi Serta Sosial Budaya Dalam Penyusunan Rencana Tata Ruang.
Kriteria aspek fisik yang digunakan dalam analisis SKL adalah sebagai berikut :
a. Satuan Kemampuan Lahan Morfologi
Tujuan analisis SKL morfologi adalah untuk memilah bentuk bentang
alam/morfologi pada wilayah dan/atau kawasan perencanaan yang mampu
untuk dikembangkan sesuai dengan fungsinya. Dalam analisis SKL morfologi
melibatkan data masukan berupa peta morfologi dan peta kelerengan dengan
keluaran peta SKL Morfologi dengan penjelasannya.
Tabel 1.1 Pedoman Analisis SKL Morfologi

13

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
No.

Peta Morfologi

Peta
Kelerengan
> 40 %

Bergunung

15 40 %

Berbukit,
Bergelombang
Berombak

Landai

28%

Datar

02%

8 15 %

SKL Morfologi
Kemampuan lahan dari
morfologi tinggi
Kemampuan lahan dari
morfologi cukup
Kemampuan lahan dari
morfologi sedang
Kemampuan lahan dari
morfologi kurang
Kemampuan lahan dari
morfologi rendah

Nilai
1
2
3
4
5

Morfologi berarti bentang alam, kemampuan lahan dari morfologi tinggi


berarti kondisi morfologis suatu kawasan kompleks. Morfologi kompleks berarti
bentang alamnya berupa gunung, pegunungan, dan bergelombang. Akibatnya,
kemampuan pengembangannnya sangat rendah sehingga sulit dikembangkan
dan atau tidak layak dikembangkan. Lahan seperti ini sebaiknya
direkomendasikan sebagai wilayah lindung atau budi daya yang tak berkaitan
dengan manusia, contohnya untuk wisata alam. Morfologi tinggi tidak bisa
digunakan untuk peruntukan ladang dan sawah. Sedangkan kemampuan lahan
dari morfologi rendah berarti kondisi morfologis tidak kompleks. Ini berarti
tanahnya datar dan mudah dikembangkan sebagai tempat permukiman dan budi
daya.
b. Satuan Kemampuan Lahan (SKL) Kemudahan Dikerjakan
Sumber : Permen No 20 Tahun 2007

Tujuan analisis SKL kemudahan dikerjakan adalah untuk mengetahui


tingkat kemudahan lahan di wilayah dan/atau kawasan untuk digali/dimatangkan
dalam proses pembangunan/ pengembangan kawasan. Dalam analisis ini
membutuhkan masukan berupa peta topografi, peta morfologi, peta kemiringan
lereng, peta jenis tanah, peta penggunaan lahan eksisting, dengan keluaran
peta SKL kemudahan dikerjakan dan penjelasannya. Sebelum melakukan
analisis SKL kemudahan dikerjakan, terlebih dahulu harus diketahui penjelasan
dari data yang terlibat dalam analisis yaitu jenis tanah pada tabel 1.2
Dalam analisis ini, akan ditinjau faktor pembentukan tanah dari aspek
waktu pembentukkannya di mana tanah merupakan benda alam yang terus
menerus berubah, akibat pelapukan dan pencucian yang terus menerus. Oleh
karena itu tanah akan menjadi semakin tua dan kurus. Mineral yang banyak
mengandung unsur hara telah habis mengalami pelapukan sehingga tinggal
mineral yang sukar lapuk seperti kuarsa. Karena proses pembentukan tanah
yang terus berjalan, maka induk tanah berubah berturut-turut menjadi tanah
muda, tanah dewasa, dan tanah tua. Tanah Muda ditandai oleh proses
pembentukan tanah yang masih tampak pencampuran antara bahan organik dan
bahan mineral atau masih tampak struktur bahan induknya. Contoh tanah muda
adalah tanah aluvial, regosol dan litosol. Tanah Dewasa ditandai oleh proses
yang lebih lanjut sehingga tanah muda dapat berubah menjadi tanah dewasa,
yaitu dengan proses pembentukan horison B. Contoh tanah dewasa adalah

14

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
andosol, latosol, grumosol. Tanah tua proses pembentukan tanah berlangsung
lebih lanjut sehingga terjadi proses perubahan-perubahan yang nyata pada
horizon-horoson A dan B. Akibatnya terbentuk horizon A1, A2, A3, B1, B2, B4.
Tabel 1.2 Pedoman Penjelasan Jenis Tanah dan Sifatnya
No.

Jenis

Tanah
Alluvial

Andosol

Gleisol

Grumosol

Latosol

Litosol

Mediteran

Sifat
Jenis tanah ini masih muda, belum mengalami perkembangan,
berasal dari bahan induk aluvium, tekstur beraneka ragam,
belum terbentuk struktur , konsistensi dalam keadaan basah
lekat, pH bermacam-macam, kesuburan sedang hingga tinggi.
Penyebarannya di daerah dataran aluvial sungai, dataran aluvial
pantai dan daerah cekungan (depresi). (Suhendar, Soleh)
Jenis tanah mineral yang telah mengalami perkembangan profil,
solum agak tebal, warna agak coklat kekelabuan hingga hitam,
kandungan organik tinggi, tekstur geluh berdebu, struktur remah,
konsistensi gembur dan bersifat licin berminyak (smeary),
kadang-kadang berpadas lunak, agak asam, kejenuhan basa
tinggi dan daya absorpsi sedang, kelembaban tinggi,
permeabilitas sedang dan peka terhadap erosi. Tanah ini berasal
dari batuan induk abu atau tuf vulkanik. (Suhendar, Soleh)
Tanah yang baru terbentuk, perkembangan horison tanah belum
terlihat secara jelas. Tanah entisol umumnya dijumpai pada
sedimen yang belum terkonsolidasi, seperti pasir, dan beberapa
memperlihatkan horison diatas lapisan batuan dasar. (Djauhari,
Noor)
Tanah mineral yang mempunyai perkembangan profil, agak
tebal, tekstur lempung berat, struktur kersai (granular) di lapisan
atas dan gumpal hingga pejal di lapisan bawah, konsistensi bila
basah sangat lekat dan plastis, bila kering sangat keras dan
tanah retak-retak, umumnya bersifat alkalis, kejenuhan basa,
dan kapasitas absorpsi tinggi, permeabilitas lambat dan peka
erosi. Jenis ini berasal dari batu kapur, mergel, batuan lempung
atau tuf vulkanik bersifat basa. Penyebarannya di daerah iklim
sub humid atau sub arid, curah hujan kurang dari 2500
mm/tahun. (Suhendar, Soleh)
Jenis tanah ini telah berkembang atau terjadi diferensiasi
horizon, kedalaman dalam, tekstur lempung, struktur remah
hingga gumpal, konsistensi gembur hingga agak teguh, warna
coklat merah hingga kuning. Penyebarannya di daerah beriklim
basah, curah hujan lebih dari 300 1000 meter, batuan induk
dari tuf, material vulkanik, breksi batuan beku intrusi. (Suhendar,
Soleh)
Tanah mineral tanpa atau sedikit perkembangan profil, batuan
induknya batuan beku atau batuan sedimen keras, kedalaman
tanah dangkal (< 30 cm) bahkan kadang-kadang merupakan
singkapan
batuan
induk
(outerop).
Tekstur
tanah
beranekaragam, dan pada umumnya berpasir, umumnya tidak
berstruktur, terdapat kandungan batu, kerikil dan kesuburannya
bervariasi. Tanah litosol dapat dijumpai pada segala iklim,
umumnya di topografi berbukit, pegunungan, lereng miring
sampai curam. (Suhendar, Soleh)
Tanah mempunyai perkembangan profil, solum sedang hingga
dangkal, warna coklat hingga merah, mempunyai horizon B
argilik, tekstur geluh hingga lempung, struktur gumpal bersudut,

Nilai
5

15

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
konsistensi teguh dan lekat bila basah, pH netral hingga agak
basa, kejenuhan basa tinggi, daya absorpsi sedang,
permeabilitas sedang dan peka erosi, berasal dari batuan kapur
keras (limestone) dan tuf vulkanis bersifat basa. Penyebaran di
daerah beriklim sub humid, bulan kering nyata. Curah hujan
kurang dari 2500 mm/tahun, di daerah pegunungan lipatan,
topografi Karst dan lereng vulkan ketinggian di bawah 400 m.
Khusus tanah mediteran merah kuning di daerah topografi
Karst disebut terra rossa. (Suhendar, Soleh)
8
9

Non Cal
Regosol

Jenis tanah ini masih muda, belum mengalami diferensiasi


horizon, tekstur pasir, struktur berbukit tunggal, konsistensi
lepas-lepas, pH umumnya netral, kesuburan sedang, berasal
dari bahan induk material vulkanik piroklastis atau pasir pantai.
Penyebarannya di daerah lereng vulkanik muda dan di daerah
beting pantai dan gumuk-gumuk pasir pantai. (Suhendar, Soleh)

3
4

Sumber : Google

Tabel 1.3 Analisis SKL Kemudahan Dikerjakan


No.

Peta
Morfologi

Peta
Kelereng
an

Peta
Ketinggian

Peta
Jenis
Tanah

Peta
Penggun
aan
Lahan
Eksistin
g
Hutan

Bergunung

> 40 %

>3000 m

Meditera
n

Berbukit,
Bergelomba
ng

15 40
%

2000 3000
m

Latosol,
grumusol

Berombak

8 15 %

1000 2000
m

Landai

28%

500 1000
m

Regosol

tanah
kosong

Datar

02%

0 500 m

Alluvial

Permuki
man

Pertanian
,
Perkebun
an ,
pertanian
tanah
kosong

SKL
Kemudahan
Dikerjakan

Nilai

Kemudahan
dikerjakan
rendah
Kemudahan
dikerjakan
kurang

Kemudahan
dikerjakan
sedang
Kemudahan
dikerjakan
cukup
Kemudahan
dikerjakan
tinggi

Sumber : Permen No 20 Tahun 2006

c. Satuan Kemampuan Lahan (SKL) Kestabilan Lereng


Tujuan analisis SKL kestabilan lereng adalah untuk mengetahui tingkat
kemantapan lereng di wilayah pengembangan dalam menerima beban. Dalam
analisis ini membutuhkan masukan berupa peta topografi, peta morfologi, peta
kemiringan lereng, peta jenis tanah, peta hidrogeologi, peta curah hujan, peta
bencana alam (rawan bencana gunung berapi dan kerentanan gerakan tanah)

16

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
dan peta penggunaan lahan, dengan keluaran peta SKL kestabilan lereng dan
penjelasannya. Sebelum melakukan analisis SKL kestabilan lereng, terlebih
dahulu harus diketahui penjelasan dari data yang terlibat dalam analisis yaitu
jenis tanah (tabel 1.4).
Tabel 1.4 Pedoman Penjelasan Jenis Tanah dan Sifatnya
No.

Jenis

Tanah
Alluvial

Andosol

Gleisol

Grumosol

Latosol

Litosol

Sifat
Jenis tanah ini masih muda, belum mengalami
perkembangan, berasal dari bahan induk aluvium, tekstur
beraneka ragam, belum terbentuk struktur , konsistensi
dalam keadaan basah lekat, pH bermacam-macam,
kesuburan sedang hingga tinggi. Penyebarannya di
daerah dataran aluvial sungai, dataran aluvial pantai dan
daerah cekungan (depresi). (Suhendar, Soleh)
Jenis tanah mineral yang telah mengalami perkembangan
profil, solum agak tebal, warna agak coklat kekelabuan
hingga hitam, kandungan organik tinggi, tekstur geluh
berdebu, struktur remah, konsistensi gembur dan bersifat
licin berminyak (smeary), kadang-kadang berpadas lunak,
agak asam, kejenuhan basa tinggi dan daya absorpsi
sedang, kelembaban tinggi, permeabilitas sedang dan
peka terhadap erosi. Tanah ini berasal dari batuan induk
abu atau tuf vulkanik. (Suhendar, Soleh)
Tanah yang baru terbentuk, perkembangan horison tanah
belum terlihat secara jelas. Tanah entisol umumnya
dijumpai pada sedimen yang belum terkonsolidasi, seperti
pasir, dan beberapa memperlihatkan horison diatas
lapisan batuan dasar. (Djauhari, Noor)
Tanah mineral yang mempunyai perkembangan profil,
agak tebal, tekstur lempung berat, struktur kersai
(granular) di lapisan atas dan gumpal hingga pejal di
lapisan bawah, konsistensi bila basah sangat lekat dan
plastis, bila kering sangat keras dan tanah retak-retak,
umumnya bersifat alkalis, kejenuhan basa, dan kapasitas
absorpsi tinggi, permeabilitas lambat dan peka erosi. Jenis
ini berasal dari batu kapur, mergel, batuan lempung atau
tuf vulkanik bersifat basa. Penyebarannya di daerah iklim
sub humid atau sub arid, curah hujan kurang dari 2500
mm/tahun. (Suhendar, Soleh)
Jenis tanah ini telah berkembang atau terjadi diferensiasi
horizon, kedalaman dalam, tekstur lempung, struktur
remah hingga gumpal, konsistensi gembur hingga agak
teguh, warna coklat merah hingga kuning. Penyebarannya
di daerah beriklim basah, curah hujan lebih dari 300
1000 meter, batuan induk dari tuf, material vulkanik, breksi
batuan beku intrusi. (Suhendar, Soleh)
Tanah mineral tanpa atau sedikit perkembangan profil,
batuan induknya batuan beku atau batuan sedimen keras,
kedalaman tanah dangkal (< 30 cm) bahkan kadangkadang merupakan singkapan batuan induk (outerop).
Tekstur tanah beranekaragam, dan pada umumnya
berpasir, umumnya tidak berstruktur, terdapat kandungan
batu, kerikil dan kesuburannya bervariasi. Tanah litosol
dapat dijumpai pada segala iklim, umumnya di topografi

Nilai
2

17

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO

Mediteran

8
9

Non Cal
Regosol

berbukit, pegunungan, lereng miring sampai curam.


(Suhendar, Soleh)
Tanah mempunyai perkembangan profil, solum sedang
hingga dangkal, warna coklat hingga merah, mempunyai
horizon B argilik, tekstur geluh hingga lempung, struktur
gumpal bersudut, konsistensi teguh dan lekat bila basah,
pH netral hingga agak basa, kejenuhan basa tinggi, daya
absorpsi sedang, permeabilitas sedang dan peka erosi,
berasal dari batuan kapur keras (limestone) dan tuf
vulkanis bersifat basa. Penyebaran di daerah beriklim sub
humid, bulan kering nyata. Curah hujan kurang dari 2500
mm/tahun, di daerah pegunungan lipatan, topografi Karst
dan lereng vulkan ketinggian di bawah 400 m. Khusus
tanah mediteran merah kuning di daerah topografi Karst
disebut terra rossa. (Suhendar, Soleh)
Jenis tanah ini masih muda, belum mengalami diferensiasi
horizon, tekstur pasir, struktur berbukit tunggal,
konsistensi lepas-lepas, pH umumnya netral, kesuburan
sedang, berasal dari bahan induk material vulkanik
piroklastis atau pasir pantai. Penyebarannya di daerah
lereng vulkanik muda dan di daerah beting pantai dan
gumuk-gumuk pasir pantai. (Suhendar, Soleh)

3
2

Sumber : Google

Tabel 1.5 Analisis SKL Kemudahan Dikerjakan

18
Sumber : Permen No 20 Tahun 2006

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO

d. Satuan Kemampuan Lahan (SKL) Kestabilan Lereng


Tujuan analisis SKL kestabilan lereng adalah untuk mengetahui tingkat
kemantapan lereng di wilayah pengembangan dalam menerima beban. Dalam
analisis ini membutuhkan masukan berupa peta topografi, peta morfologi, peta
kemiringan lereng, peta jenis tanah, peta hidrogeologi, peta curah hujan, peta
bencana alam (rawan bencana gunung berapi dan kerentanan gerakan tanah)
dan peta penggunaan lahan, dengan keluaran peta SKL kestabilan lereng dan
penjelasannya. Sebelum melakukan analisis SKL kestabilan lereng, terlebih
dahulu harus diketahui penjelasan dari data yang terlibat dalam analisis yaitu
jenis tanah (tabel 1.6).
Tabel 1.6 Pedoman Penjelasan Jenis Tanah dan Sifatnya
No.

Jenis

1.

Tanah
Alluvial

2.

Andosol

3.

Gleisol

4.

Grumosol

5.

Latosol

Sifat
Jenis tanah ini masih muda, belum mengalami
perkembangan, berasal dari bahan induk aluvium, tekstur
beraneka ragam, belum terbentuk struktur , konsistensi
dalam keadaan basah lekat, pH bermacam-macam,
kesuburan sedang hingga tinggi. Penyebarannya di
daerah dataran aluvial sungai, dataran aluvial pantai dan
daerah cekungan (depresi). (Suhendar, Soleh)
Jenis tanah mineral yang telah mengalami perkembangan
profil, solum agak tebal, warna agak coklat kekelabuan
hingga hitam, kandungan organik tinggi, tekstur geluh
berdebu, struktur remah, konsistensi gembur dan bersifat
licin berminyak (smeary), kadang-kadang berpadas lunak,
agak asam, kejenuhan basa tinggi dan daya absorpsi
sedang, kelembaban tinggi, permeabilitas sedang dan
peka terhadap erosi. Tanah ini berasal dari batuan induk
abu atau tuf vulkanik. (Suhendar, Soleh)
Tanah yang baru terbentuk, perkembangan horison tanah
belum terlihat secara jelas. Tanah entisol umumnya
dijumpai pada sedimen yang belum terkonsolidasi, seperti
pasir, dan beberapa memperlihatkan horison diatas
lapisan batuan dasar. (Djauhari, Noor)
Tanah mineral yang mempunyai perkembangan profil,
agak tebal, tekstur lempung berat, struktur kersai
(granular) di lapisan atas dan gumpal hingga pejal di
lapisan bawah, konsistensi bila basah sangat lekat dan
plastis, bila kering sangat keras dan tanah retak-retak,
umumnya bersifat alkalis, kejenuhan basa, dan kapasitas
absorpsi tinggi, permeabilitas lambat dan peka erosi. Jenis
ini berasal dari batu kapur, mergel, batuan lempung atau
tuf vulkanik bersifat basa. Penyebarannya di daerah iklim
sub humid atau sub arid, curah hujan kurang dari 2500
mm/tahun. (Suhendar, Soleh)
Jenis tanah ini telah berkembang atau terjadi diferensiasi
horizon, kedalaman dalam, tekstur lempung, struktur
remah hingga gumpal, konsistensi gembur hingga agak

Nilai
2

19

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
teguh, warna coklat merah hingga kuning. Penyebarannya
di daerah beriklim basah, curah hujan lebih dari 300
1000 meter, batuan induk dari tuf, material vulkanik, breksi
batuan beku intrusi. (Suhendar, Soleh)
6.
Litosol
Tanah mineral tanpa atau sedikit perkembangan profil,
batuan induknya batuan beku atau batuan sedimen keras,
kedalaman tanah dangkal (< 30 cm) bahkan kadangkadang merupakan singkapan batuan induk (outerop).
Tekstur tanah beranekaragam, dan pada umumnya
berpasir, umumnya tidak berstruktur, terdapat kandungan
batu, kerikil dan kesuburannya bervariasi. Tanah litosol
dapat dijumpai pada segala iklim, umumnya di topografi
berbukit, pegunungan, lereng miring sampai curam.
(Suhendar, Soleh)
7.
Mediteran
Tanah mempunyai perkembangan profil, solum sedang
hingga dangkal, warna coklat hingga merah, mempunyai
horizon B argilik, tekstur geluh hingga lempung, struktur
gumpal bersudut, konsistensi teguh dan lekat bila basah,
pH netral hingga agak basa, kejenuhan basa tinggi, daya
absorpsi sedang, permeabilitas sedang dan peka erosi,
berasal dari batuan kapur keras (limestone) dan tuf
vulkanis bersifat basa. Penyebaran di daerah beriklim sub
humid, bulan kering nyata. Curah hujan kurang dari 2500
mm/tahun, di daerah pegunungan lipatan, topografi Karst
dan lereng vulkan ketinggian di bawah 400 m. Khusus
tanah mediteran merah kuning di daerah topografi Karst
disebut terra rossa. (Suhendar, Soleh)
8.
Regosol
Jenis tanah ini masih muda, belum mengalami diferensiasi
horizon, tekstur pasir, struktur berbukit tunggal,
konsistensi lepas-lepas, pH umumnya netral, kesuburan
sedang, berasal dari bahan induk material vulkanik
piroklastis atau pasir pantai.
Sumber : Google 2007 Tabel 1.7 Pedoman SKL Kestabilan Lereng

Sumber : Permen No 20 Tahun 2006 2007

e. Satuan Kemampuan Lahan (SKL) Kestabilan Pondasi

20

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
Tujuan analisis SKL Kestabilan Pondasi adalah untuk mengetahui tingkat
kemampuan lahan untuk mendukung bangunan berat dalam pengembangan
perkotaan, serta jenis-jenis pondasi yang sesuai untuk masing-masing tingkatan.
Dalam analisis ini membutuhkan masukan berupa peta SKL kestabilan lereng,
peta jenis tanah, peta kedalaman efektif tanah, peta tekstur tanah, peta
hidrogeologi dan peta penggunaan lahan eksisting. Output dari analisis SKL
Kestabilan Pondasi ialah peta SKL Kestabilan Pondasi, deskripsai tingkat
kestabilan pondasi dan perkiraan jenis pondasi untuk setiap tingkatan kestabilan
pondasi. Sebelum melaksanakan analisis SKL Kestabilan pondasi, harus
diketahui terlebih dahulu sifat faktor pendukungnya terhadap analisis kestabilan
pondasi meliputi jenis tanah (tabel 1.8).
Tabel 1.8 Pedoman Penjelasan Jenis Tanah dan Sifatnya
No.

Jenis

1.

Tanah
Alluvial

2.

Andosol

3.

Gleisol

4.

Grumosol

5.

Latosol

Sifat
Jenis tanah ini masih muda, belum mengalami
perkembangan, berasal dari bahan induk aluvium, tekstur
beraneka ragam, belum terbentuk struktur , konsistensi
dalam keadaan basah lekat, pH bermacam-macam,
kesuburan sedang hingga tinggi. Penyebarannya di
daerah dataran aluvial sungai, dataran aluvial pantai dan
daerah cekungan (depresi). (Suhendar, Soleh)
Jenis tanah mineral yang telah mengalami perkembangan
profil, solum agak tebal, warna agak coklat kekelabuan
hingga hitam, kandungan organik tinggi, tekstur geluh
berdebu, struktur remah, konsistensi gembur dan bersifat
licin berminyak (smeary), kadang-kadang berpadas lunak,
agak asam, kejenuhan basa tinggi dan daya absorpsi
sedang, kelembaban tinggi, permeabilitas sedang dan
peka terhadap erosi. Tanah ini berasal dari batuan induk
abu atau tuf vulkanik. (Suhendar, Soleh)
Tanah yang baru terbentuk, perkembangan horison tanah
belum terlihat secara jelas. Tanah entisol umumnya
dijumpai pada sedimen yang belum terkonsolidasi, seperti
pasir, dan beberapa memperlihatkan horison diatas
lapisan batuan dasar. (Djauhari, Noor)
Tanah mineral yang mempunyai perkembangan profil,
agak tebal, tekstur lempung berat, struktur kersai
(granular) di lapisan atas dan gumpal hingga pejal di
lapisan bawah, konsistensi bila basah sangat lekat dan
plastis, bila kering sangat keras dan tanah retak-retak,
umumnya bersifat alkalis, kejenuhan basa, dan kapasitas
absorpsi tinggi, permeabilitas lambat dan peka erosi. Jenis
ini berasal dari batu kapur, mergel, batuan lempung atau
tuf vulkanik bersifat basa. Penyebarannya di daerah iklim
sub humid atau sub arid, curah hujan kurang dari 2500
mm/tahun. (Suhendar, Soleh)
Jenis tanah ini telah berkembang atau terjadi diferensiasi
horizon, kedalaman dalam, tekstur lempung, struktur
remah hingga gumpal, konsistensi gembur hingga agak
teguh, warna coklat merah hingga kuning. Penyebarannya
di daerah beriklim basah, curah hujan lebih dari 300
1000 meter, batuan induk dari tuf, material vulkanik, breksi
batuan beku intrusi. (Suhendar, Soleh)

Nilai
1

21

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
6.

Litosol

7.

Mediteran

8.

Regosol

Sumber : Google

Tanah mineral tanpa atau sedikit perkembangan profil,


batuan induknya batuan beku atau batuan sedimen keras,
kedalaman tanah dangkal (< 30 cm) bahkan kadangkadang merupakan singkapan batuan induk (outerop).
Tekstur tanah beranekaragam, dan pada umumnya
berpasir, umumnya tidak berstruktur, terdapat kandungan
batu, kerikil dan kesuburannya bervariasi. Tanah litosol
dapat dijumpai pada segala iklim, umumnya di topografi
berbukit, pegunungan, lereng miring sampai curam.
(Suhendar, Soleh)
Tanah mempunyai perkembangan profil, solum sedang
hingga dangkal, warna coklat hingga merah, mempunyai
horizon B argilik, tekstur geluh hingga lempung, struktur
gumpal bersudut, konsistensi teguh dan lekat bila basah,
pH netral hingga agak basa, kejenuhan basa tinggi, daya
absorpsi sedang, permeabilitas sedang dan peka erosi,
berasal dari batuan kapur keras (limestone) dan tuf
vulkanis bersifat basa. Penyebaran di daerah beriklim sub
humid, bulan kering nyata. Curah hujan kurang dari 2500
mm/tahun, di daerah pegunungan lipatan, topografi Karst
dan lereng vulkan ketinggian di bawah 400 m. Khusus
tanah mediteran merah kuning di daerah topografi Karst
disebut terra rossa. (Suhendar, Soleh)
Jenis tanah ini masih muda, belum mengalami diferensiasi
horizon, tekstur pasir, struktur berbukit tunggal,
konsistensi lepas-lepas, pH umumnya netral, kesuburan
sedang, berasal dari bahan induk material vulkanik
piroklastis atau pasir pantai. Penyebarannya di daerah
lereng vulkanik muda dan di daerah beting pantai dan
gumuk-gumuk pasir pantai. (Suhendar, Soleh)

2007 Tabel 1.9 Pedoman SKL Kestabilan Pondasi

Sumber : Permen No 20 Tahun 2006

f.

Satuan Kemampuan Lahan (SKL) Ketersediaan Air

22

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
Tujuan analisis SKL ketersediaan air adalah untuk mengetahui tingkat
ketersediaan air dan kemampuan penyediaan air pada masing-masing
tingkatan, guna pengembangan kawasan. Dalam analisis ini membutuhkan
masukan berupa peta morfologi, peta kelerengan, peta curah hujan, peta
hidrogeologi, peta jenis tanah dan peta penggunaan lahan eksisting dengan
keluaran peta SKL ketersediaan air dan penjelasannya. Sebelum melakukan
analisis SKL ketersediaan air , terlebih dahulu harus diketahui penjelasan dari
data yang terlibat dalam analisis yaitu jenis tanah (tabel 1.10).
Tabel 1.10 Pedoman Penjelasan Jenis Tanah dan Sifatnya
No.

Jenis

1.

Tanah
Aluvial

2.

Andosol

3.

Gleisol

4.

Grumosol

5.

Latosol

6.

Litosol

Sifat
Daya mengikat air kurang,apabila kena hujan akan
menjadi lengket dan bila kekeringan akan mengeras.
(Rachmiati, Yati).
Tanah Andosol mempunyai sifat fisik yang baik, daya
pengikatan air yang sangat tinggi, sehingga selalu jenuh
air jika tertutup vegetasi. Sangat gembur, struktur remah
atau granuler dengan granulasi yang tak pulih.
Permeabilitas sangat tinggi karena mengandung banyak
makropori, fraksi lempung sebagian besar alofan dengan
berat jenis kurang dari 0,85 dan kandungan bahan
organik biasanya tinggi, yaitu antara 8% - 30%.( Sri
Damayanti, Lusiana, 2005).
Jenis tanah ini perkembangannya lebih dipengaruhi oleh
faktor lokal, yaitu topografi merupakan dataran rendah
atau cekungan, hampir selalu tergenang air, solum tanah
sedang, warna kelabu hingga kekuningan, tekstur geluh
hingga lempung, struktur berlumpur hingga masif,
konsistensi lekat, bersifat asam (pH 4.5 6.0), kandungan
bahan organik. Ciri khas tanah ini adanya lapisan glei
kontinu yang berwarna kelabu pucat pada kedalaman
kurang dari 0.5 meter akibat dari profil tanah selalu jenuh
air.
Penyebaran di daerah beriklim humid hingga sub humid,
curah hujan lebih dari 2000 mm/tahun.(Suhendar, Soleh).
Tanah Grumosol mempunyai sifat struktur lapisan atas
granuler dan lapisan bawah gumpal atau pejal, jenis
lempung yang terbanyak montmorillonit sehingga tanah
mempunyai daya adsorpsi yang tinggi yang menyebabkan
gerakan air dan keadaan aerasi buruk dan sangat peka
terhadap erosi. ( Sri Damayanti, Lusiana, 2005).
Daya mengikat air kurang,apabila kena hujan akan
menjadi lengket dan bila kekeringan akan mengeras
dengan struktur remah. (Rachmiati, Yati).
Tanah mineral tanpa atau sedikit perkembangan profil,
batuan induknya batuan beku atau batuan sedimen keras,
kedalaman tanah dangkal (< 30 cm) bahkan kadangkadang merupakan singkapan batuan induk (outerop).
Tekstur tanah beranekaragam, dan pada umumnya
berpasir, umumnya tidak berstruktur, terdapat kandungan
batu, kerikil dan kesuburannya bervariasi. Tanah litosol
dapat dijumpai pada segala iklim, umumnya di topografi
berbukit, pegunungan, lereng miring sampai curam.
(Suhendar, Soleh).

Nilai
2
5

1
3

23

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
7.

Mediteran

8.

Regosol

Tanah mempunyai perkembangan profil, solum sedang


hingga dangkal, warna coklat hingga merah, mempunyai
horizon B argilik, tekstur geluh hingga lempung, struktur
gumpal bersudut, konsistensi teguh dan lekat bila basah,
pH netral hingga agak basa, kejenuhan basa tinggi, daya
absorpsi sedang, permeabilitas sedang dan peka erosi,
berasal dari batuan kapur keras (limestone) dan tuf
vulkanis bersifat basa. Penyebaran di daerah beriklim sub
humid, bulan kering nyata. Curah hujan kurang dari 2500
mm/tahun, di daerah pegunungan lipatan, topografi Karst
dan lereng vulkan ketinggian di bawah 400 m. Khusus
tanah mediteran merah kuning di daerah topografi Karst
disebut terra rossa. (Suhendar, Soleh).
Jenis tanah ini masih muda, belum mengalami diferensiasi
horizon, tekstur pasir, struktur berbukit tunggal,
konsistensi lepas-lepas, pH umumnya netral, kesuburan
sedang, berasal dari bahan induk material vulkanik
piroklastis atau pasir pantai. Penyebarannya di daerah
lereng vulkanik muda dan di daerah beting pantai dan
gumuk-gumuk pasir pantai. (Suhendar, Soleh).

Sumber : Google

Tabel 1.11 Pedoman SKL Ketersediaan Air

Sumber : Permen No 20 Tahun 2006

2007

24

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
g. Satuan Kemampuan Lahan (SKL) Drainase
Tujuan analisis SKL untuk drainase adalah untuk mengetahui tingkat
kemampuan lahan dalam mengalirkan air hujan secara alami, sehingga
kemungkinan genangan baik bersifat lokal maupun meluas dapat dihindari.
Dalam analisis ini membutuhkan masukan berupa peta morfologi, peta
kemiringan lereng, peta topografi, peta jenis tanah, peta curah hujan, peta
kedalaman efektif tanah, dan penggunaan lahan eksisting dengan keluaran peta
SKL untuk Drainase dan penjelasannya. Sebelum melakukan analisis SKL untuk
drainase, terlebih dahulu harus diketahui penjelasan dari data yang terlibat
dalam analisis yaitu jenis tanah (tabel 1.12).
Tabel 1.12 Pedoman Penjelasan Jenis Tanah dan Sifatnya
No.
1.

Jenis
Tanah
Aluvial

2.

Andosol

3.

Gleisol

Sifat
Merupakan tanah-tanah muda, yang belum mempunyai
perkembangan profil, dengan susunan horison A-C atau
A-C-R, atau A-R. Tanah ini terbentuk dari bahan aluvium,
aluvium-marin, marin, dan volkan. Umumnya pada
landform dataran, fluvio-marin, dan volkan. Penampang
tanah bervariasi, tekstur lempung berpasir sampai pasir
berlempung, dan berlapis-lapis (stratified) atau berselang
seling. Adanya perbedaan tekstur berlapis-lapis tersebut
menunjukkan proses pengendapan dari limpasan sungai
yang berulang; sebagian mengandung kerikil di dalam
penampang tanah. Warna tanah coklat tua sampai gelap,
drainase buruk sampai cepat, struktur lepas sampai masif,
konsistensi gembur dan keras pada kondisi kering. Reaksi
tanah umumnya agak netral (pH 7), kadar C organik
sangat rendah sampai sedang, kadar P2O5 dan K2O
potensial sedang sampai tinggi, basa-basa dapat tukar
rendah sampai tinggi dan didominasi oleh Ca dan Mg.
KTK tanah rendah, tetapi kejenuhan basanya tinggi.
Penggunaan lahan umumnya bervariasi. (Blog TANI
MUDA)
Merupakan tanah-tanah muda, yang belum/sedikit
mempunyai perkembangan profil, dengan susunan
horison A-C, A-C-R. Tanah ini terbentuk dari bahan abu
volkan (debu, pasir, dan kerikil). Umumnya terbentuk pada
landform volkanik. Penampang tanah dangkal sampai
dalam, tekstur lempung berpasir sampai pasir
berlempung. Warna tanah coklat tua sampai coklat tua
kekuningan, drainase sedang, struktur lepas sampai
masif, konsistensi gembur dan keras pada kondisi kering.
Reaksi tanah umumnya netral, kadar C organik sangat
rendah sampai sedang, kadar P2O5 dan K2O potensial
sedang sampai tinggi, basa-basa dapat tukar rendah dan
didominasi oleh Ca dan Mg. KTK tanah rendah sampai
sedang, tetapi kejenuhan basanya tinggi. Umumnya
Andisols di kabupaten Bima beriklim kering (ustic).
Penggunaan lahan umumnya tegalan, semak, rumput,
belukar, semak, dan hutan. (Blog TANI MUDA)
Tanah yang baru terbentuk, perkembangan horison tanah
belum terlihat secara jelas. Tanah entisol umumnya

Nilai
1

25

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO

4.

Grumosol

5.

Latosol

6.

Litosol

7.
8.

Mediteran
Regosol

Sumber : Google

dijumpai pada sedimen yang belum terkonsolidasi, seperti


pasir, dan beberapa memperlihatkan horison diatas
lapisan batuan dasar. (Djauhari, Noor)
Jenis tanah grumosol sifat tanahnya mudah longsor dan
memiliki drainase buruk. (Kota Probolinggo)
Tanah yang sudah menunjukkan adanya perkembangan
profil, dengan susunan horison A-Bw-C pada lahan kering
dengan drainase baik, atau susunan horison A-Bg-C pada
lahan basah dengan drainase terhambat. Tanah terbentuk
dari berbagai macam bahan induk, yaitu tuf volkan
masam, tuf volkan intermedier (andesitik), tufa pasiran,
dan granodiorit serta skis. Tanah ini mempunyai
penyebaran paling luas, menempati grup landform dataran
volkan, perbukitan volkan, dan dataran tektonik. Tanah
dari bahan volkan intermedier berwarna coklat
kemerahan, tekstur lempung berliat sampai liat,
penampang dalam, dan struktur cukup baik, konsistensi
gembur sampai teguh. Reaksi tanah netral, kadar C dan N
organik sangat rendah sampai sedang, kadar P dan K
potensial sedang sampai tinggi. Kadar basa-basa dapat
tukar didominasi oleh Ca dan Mg, KTK tanah rendah, KTK
liat rendah sampai tinggi, dan kejenuhan basa tinggi. Pada
landform dataran volkan sifat tanah dipengaruhi oleh
bahan induknya. Tanah penampang cukup dalam,
berwarna coklat kekuningan sampai kemerahan, drainase
baik, tekstur halus sampai agak halus, konsistensi gembur
sampai teguh, dan reaksi tanah agak masam sampai
masam. Sebagian besar telah diusahakan untuk lahan
pertanian, seperti persawahan, tegalan dan kebun
campuran. Sisanya masih berupa semak belukar dan
hutan. (Blog TANI MUDA)
Tanah mineral tanpa atau sedikit perkembangan profil,
batuan induknya batuan beku atau batuan sedimen keras,
kedalaman tanah dangkal (< 30 cm) bahkan kadangkadang merupakan singkapan batuan induk (outerop).
Tekstur tanah beranekaragam, dan pada umumnya
berpasir, umumnya tidak berstruktur, terdapat kandungan
batu, kerikil dan kesuburannya bervariasi. Tanah litosol
dapat dijumpai pada segala iklim, umumnya di topografi
berbukit, pegunungan, lereng miring sampai curam.
(Suhendar, Soleh).
Sama dengan inceptisol/latosol
Jenis tanah ini masih muda, belum mengalami diferensiasi
horizon, tekstur pasir, struktur berbukit tunggal,
konsistensi lepas-lepas, pH umumnya netral, kesuburan
sedang, berasal dari bahan induk material vulkanik
piroklastis atau pasir pantai. Penyebarannya di daerah
lereng vulkanik muda dan di daerah beting pantai dan
gumuk-gumuk pasir pantai. (Suhendar, Soleh).

1
5

5
2

2007
Tabel 1.13 Pedoman SKL Drainase

26

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO

Sumber : Permen No 20 Tahun 2006

h. Satuan Kemampuan Lahan (SKL) Terhadap Erosi


Tujuan analisis SKL terhadap erosi adalah untuk mengetahui daerahdaerah yang mengalami keterkikisan tanah, sehingga dapat diketahui tingkat
ketahanan Tabel
lahan1.14
terhadap
erosi serta antispasi dampaknya pada daerah yang
Pedoman Penjelasan Jenis Tanah dan Sifatnya
lebih hilir. Dalam analisis ini membutuhkan masukan berupa peta morfologi, peta
kemiringan lereng, peta jenis tanah, peta hidrogeologi, peta tekstur tanah, peta
curah hujan dan peta penggunaan lahan eksisting dengan keluaran peta SKL
terhadap erosi dan penjelasannya. Sebelum melakukan analisis SKL terhadap
erosi, terlebih dahulu harus diketahui penjelasan dari data yang terlibat dalam
analisis yaitu jenis tanah (tabel 1.14).

No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Jenis
Tanah
Aluvial

Sifat

Jenis-jenis tanah yang tidak peka terhadap


erosi:
Andosol
Aluvial
Gleisol
Gleisol
Grumosol Jenis tanah yang agak peka erosi:
Latosol
Latosol
Jenis tanah dengan kepekaan sedang:
Litosol

Meditera Non Cal


Mediteran
n
Jenis tanah yang peka terhadap erosi:
Non Cal
Andosol
Regosol
Grumosol
Jenis tanah yang sangat peka erosi:
Regosol
Litosol

Nilai
5
2
5
2
4
1
3
3
1

27
Sumber : Google

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
Sumber: Studi Sub DAS Citarik

Tabel 1.15 Pedoman Tehadap Erosi

Sumber : Permen No 20 Tahun 2006

i.

Satuan Kemampuan Lahan (SKL) Pembuangan Limbah

Tujuan analisis SKL pembuangan limbah adalah untuk mengetahui


mengetahui daerah-daerah yang mampu untuk ditempati sebagai
lokasi penampungan akhir dan pengeolahan limbah, baik limbah padat
maupun cair. Dalam analisis ini membutuhkan masukan berupa peta
morfologi, peta kemiringan, peta topografi, peta jenis tanah, peta
hidrogeologi, peta curah hujan dan peta penggunaan lahan eksisting
dengan keluaran peta SKL pembuangan limbah dan penjelasannya.
Sebelum melakukan analisis SKL pembuangan limbah, terlebih dahulu
harus diketahui penjelasan dari data yang terlibat dalam analisis yaitu
Tabel1.16).
1.16 Pedoman Penjelasan Jenis Tanah dan Sifatnya
jenis tanah (tabel

No.
1.

Jenis
Tanah
Aluvial

2.

Andosol

3.

Gleisol

Sifat
Dalam penilaian ini digunakan kepekaan
terhadap erosi dimana jenis tanah untuk lokais
pembuangan limbah harus tidak peka
terhadap erosi.

Nilai
5
2
5

28

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
4.

Grumosol

5.

Latosol

6.
7.
8.
9.

Jenis-jenis tanah yang tidak peka terhadap


erosi:
Aluvial
Litosol
Gleisol
Meditera
Jenis tanah yang agak peka erosi:
n
Non Cal Latosol
Jenis tanah dengan kepekaan sedang:
Regosol Non Cal
Mediteran
Jenis tanah yang peka terhadap erosi:
Andosol
Grumosol
Jenis tanah yang sangat peka erosi:
Regosol
Litosol

2
4
1
3
3
1

Sumber : Google

29

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
Tabel 1.17 Pedoman Tehadap Pembuangan Limbah

Sumber : Permen No 20 Tahun 2006

j.

2007

Satuan Kemampuan Lahan (SKL) Terhadap Bencana Alam

Tujuan analisis SKL terhadap bencana alam adalah untuk mengetahui


tingkat kemampuan lahan dalam menerima bencana alam khususnya
dari sisi geologi, untuk menghindari/mengurangi kerugian dari korban
akibat bencana tersebut. Dalam analisis ini membutuhkan masukan
berupa peta peta morfologi, peta kemiringan lereng, peta topografi,
peta jenis tanah, peta tekstur tanah, peta curah hujan, peta bencana
alam (rawan gunung berapi dan kerentanan gerakan tanah) dan peta
penggunaan lahan eksisting dengan keluaran peta SKL terhadap
bencana alam dan penjelasannya. Analisis SKL terhadap Bencana
Alam juga mengikutsertakan analisis terhadap jenis tanah yang sama
dengan SKL Terhadap Erosi.

30

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
No.
1.

Jenis
Tanah
Aluvial

2.

Andosol

3.

Gleisol

4.

Grumosol

Sifat

Nilai

Dalam penilaian ini digunakan kepekaan


terhadap erosi dimana jenis tanah untuk lokasi
pembuangan limbah harus tidak peka
terhadap erosi.

Jenis-jenis tanah yang tidak peka terhadap


erosi:
5. Latosol
Aluvial
6. Litosol
Gleisol
7. Meditera Jenis tanah yang agak peka erosi:
n
Latosol
8. Non Cal
Jenis tanah dengan kepekaan sedang:
9. Regosol Non Cal
Mediteran
Jenis tanah yang peka terhadap erosi:
Andosol
Grumosol
Jenis tanah yang sangat peka erosi:
Regosol
Tabel 1.18 Pedoman Penjelasan Jenis Tanah dan Sifatnya
Sumber : Google
Litosol

2
5
4
1
3
3
1

Tabel 1.19 Pedoman Tehadap Pembuangan Limbah

Sumber : Permen No 20 Tahun 2006 2007

31

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO

Analisis Kemampuan Lahan

Tujuan dari Analisis Kemampuan Lahan adalah untuk memperoleh


gambaran tingkat kemampuan lahan untuk dikembangkan sebagai perkotaan,
sebagai acuan bagi arahan-arahan kesesuaian lahan pada tahapan alisis
berikutnya. Sedangkan sasaran dalam anaslisi kemampuan lahan ini adalah:
1. Mendapatkan klasifikasi kemampuan lahan untuk dikembangkan sesuai
fungsi kawasasn.
2. Memperoleh gambaran potensi dan kendala masingmasing kelas
kemampuan lahan
3. Sebagai dasar penentuan arahan-arahan kesesuaian lahan pada tahap
analisis berikutnya dan rekomendasi akhir kesesuaian lahan untuk
pengembangan kawasan.
Analisis kemampuan lahan didapatkan melalui proses overlay dari semua
peta-peta hasilI analisis SKL, yaitu : SKL Bencana Alam, SKL Kemudahan
Dikerjakan, SKL Kestabilan Pondasi, SKL Drainase, SKL Kestabilan Lereng, SKL
Ketersediaan Air, SKL Erosi, SKL Morfologi. Kemudian menentukan nilai
kemampuan satiap tingkatan pada masing-masing satuan kemampuan lahan,
dengan penilaian 5 (lima) untuk nilai tertinggi dan 1 (satu) untuk nilai terendah.
Langkah selanjutnya adalah dengan mengalikan nilai-nilai tersebut dengan bobot
masing-masing satuan kemampuan lahan. Bobot ini didasarkan pada seberapa
jauh pengaruh satuan kemampuan lahan tersebut pada pengembangan
perkotaan. Terakhir adalah Superimpose-kan semua satuan-satuan kemampuan
lahan tersebut dengan cara menjumlahkan hasil perkalian nilai kali bobot dari
seluruh satuan-satuan kemampuan lahan dalam satu peta. Sehingga diperoleh
kisaran nilai yang menunjukkan nilai kemampuan lahan wilayah dan/atau
kawasan perencanaan.
Analisis Kesesuaian Lahan
Analisis kesesuaian lahan terdiri dari arahan tata ruang pertanian, arahan
pemanfaatan air baku, arahan ketinggian, dan arahan pola ruang.

32

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
Bagan Analisis Kesesuaian Lahan

Sumber :

2. Analisa Kependudukan
Selain analisa fisk dasar, dilakukan juga analisa kependudukan dalam
peyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) perkotaan Selomerto. Analisa
kependudukan bertujuan untuk :
1
2

Mengidentifikasi dan mendapatkan proyeksi perubahan demografi


Menganalisis penyebaran dan perpindahan penduduk, memberikan
gambaran dan arahan kendala serta potensi sumberdaya manusia untuk
keberlanjutan pengembangan, interaksi, dan integrasi dengan daerah diluar
wilayah perencanaan
3 Menganalisa segala konsekuensi yang mungkin sekali terjadi di masa depan
sebagai hasil perubahan tersebut (R. Thomlinson, 1965)
Analisa yang dilakukan yaitu terhadap jumlah, kepadatan, struktur penduduk dan
perkembangan penduduk yang tercakup di dalam kawasan rencana. Hasilnya

33

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
digunakan sebagai dasar perhitungan untuk perkiraan kebutuhan perumahan,
fasilitas pelayanan dan utilitas kotanya. Fasilitas pelayanan kota meliputi fasilitas
perdagangan dan jasa, fasilitas perkantoran, fasilitas pendidikan, fasilitas
kesehatan, fasilitas olahraga, ruang terbuka hijau dan fasilitas transportasi .
Utilitas kota meliputi energi, telekomunikasi, air bersih, sampah, irigasi, limbah
dan drainase. Adapun rumus analisa kependudukan adalah sebagai berikut:
a. Pertumbuhan Penduduk
Perhitungan pertumbuhan penduduk ditujukan untuk menlihat tingkat
pertumbuhan selama 5 tahun terakhir, hasil pertumbuhan tersebut dapat
dijadikan acuan dalam menentukan metode yang akan digunakan dalam
memproyeksi jumlah penduduk. Adapun rumus yang digunakan yaitu :

Pertumbuhan Penduduk=
b

Penduduk jumlah tahunakhir penduduk jumlah tahun awal


x 100
jumlah penduduk tahun awal

Proyeksi Jumlah Penduduk

Proyeksi penduduk merupakan analisa untuk mengetahui jumlah penduduk di


wilayah perencanaan pada masa yang akan datang. Analisis proyeksi penduduk
pada perencanaan ini menggunakan metode eksponensial dengan rumus
sebagai berikut :

Pn=P 0 ( 1+ r )t

Keterangan :
Pn = Jumlah penduduk pada tahun tertentu
P0 = Jumlah penduduk pada tahun awal
r

= Tingkat pertambahan rata-rata penduduk

= Selang waktu atau selisih tahun proyeksi terhadap tahun dasar

Proyeksi Penduduk Menurut Kelompok Umur

Pada analisis proyeksi jumlah penduduk, menurut umur atau lebih dahulu adalah
menentukan presentase dari tiap-tiap kelompok umur 5 tahun, yaitu

Presentase=

Jumlah Penduduk Kelompok Umur Tahun n


x 100
Jumlah Penduduk Tahun n

Selanjutnya adalah menentukan proyeksi jumlah penduduk kelompok


menurut umur, dengan rumus :

34

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO

Pxt=( Xo : Po) x Pt

Keterangan :
Px = Jumlah penduduk kelompok umur x pada tahun t
Xo = Jumlah kelompok umur untuk awal tahun
Po = Jumlah penduduk pada tahun awal
Pt = Jumlah penduduk pada tahun t

Proyeksi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan

Proyeksi penduduk menurut tingkat pendidikan digunakan untuk pembantu


dalam memproyeksi fasilitas pendidikan, rumus yang digunakan yaitu sebagai
berikut :
1
2
3

4
5
6
e

Proyeksi Penduduk Usia TK (5- 6 Tahun)


2/5 x kelompok umur 5 -9 tahun
Proyeksi Penduduk usia SD (6- 12 Tahun)
(4/5 x kelompok umur 5- 9 tahun) + (3/5 x kelompok umur 10 14 tahun)
Proyeksi Penduduk usia SLTP (13- 15 Tahun)
(2/5 x kelompok umur 10 14 tahun) + (1/5 x kelompok umur 15 19
tahun)
Proyeksi Penduduk usia SLTA (16- 18 Tahun)
3/5 x kelompok umur 15 19 tahun
Proyeksi Penduduk usia Akademik (19- 21 Tahun)
(1/5 x kelompok umur 15-19 tahun) + (2/5 x kelompok umur 20-24 tahun)
Proyeksi Penduduk usia Perguruan Tinggi (19- 21 Tahun)
(1/5 x kelompok umur 15-19 tahun) + (3/5 x kelompok umur 20-24 tahun)
Kepadatan Penduduk

Rumus yang digunakan dalam menganalisa tingkat kepadatan penduduk yaitu :

Kp=(Jp : Lw)
Keterangan :

Kp = Kepadatan penduduk (jiwa/ha)


Jp = Jumlah penduduk (jiwa)
La = Luas lahan (ha)

35

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
fPerkembangan Penduduk
Rumus yang digunakan dalam menganalisis perkembangan penduduk yaitu :

Perkembangan=( LM ) +(I E)

Keterangan :
L

= Angka kelahiran

M = Angka kematian
I

= Angka imigrasi/masuk

= Angka imigrasi/keluar

Analisis Ekonomi

Analisa ekonomi yaitu analisa yang digunakan untuk menghitung pertumbahan,


perubahan dan perbandingan produktivitas hasil produksi dengan menggunakan
tiga metode yaitu metode Growth, metode shift share dan metode LQ.
a. Metode Growth-Share
Analisa growth-share adalah suatu analisa yang dapat menentukan nilai dari
suatu komoditas. Pada analisa ini ada 4 hasil yaitu unggulan, dominan, potensial
dan stagnan atau statis. Analisa Growth berfungsi untuk melihat tingkat
pertumbuhan produktivitas dari tahun ke tahun. (Daniel B. Creamer,1943).
Sedangkan share (dalam bahasa inggris) yang berarti sebaran atau berbagi,
mengindikasikan hasil sebaran dari suatu komoditas dan dapat ibaratkan
sebagai pendapatan atau uang yang dihasilkan dari komoditas tersebut.
Rumus analisa growth adalah sebagai berikut:

Produksi Tahun AkhirProduksi Tahun Awal

Rumus
analisa
share adalah sebagai berikut:
Growth
=
Produksi Tahun Awal

Share =

x 100

Nilai Produksi Perta hun


x 100
Jumla h Produksi Perta h un

Kriteria penilaian Growth-Share:


1. Jika Growth + Share +, menyatakan komoditas unggulan yang artinya
memiliki pertumbuhan yang tinggi dan kontribusi yang besar.
2. Jika Growth + dan Share -, menyatakan komoditas dominan yang
artinya memiliki pertumbuhan yang tinggi namun kontribusinya kecil.
3. Jika Growth - dan Share +, menyatakan komoditas potensial yang
artinya memiliki pertumbuhan yang rendah namun kontribusinya besar.
4. Jika Growth - dan Share -, menyatakan komoditas stagnan atau statis
yang artinya memiliki pertumbuhan yang rendah dan kontribusi yang juga
rendah.

36

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
b. Metode Location Quotient (LQ)
Metode LQ adalah suatu metode untuk menghitung perbandingan relatif
sumbangan nilai tambah sebuah sektor di suatu daerah (Kabupaten/Kota)
terhadap sumbangan nilai tambah sektor yang bersangkutan dalam skala
provinsi atau nasional. Dengan kata lain, LQ dapat menghitung perbandingan
antara share output sektor i di kota dan share output sektor i di provinsi, adapun
rumus yang digunakan yaitu :

LQ=

si/ Si/S
:
S / N / N

Keterangan :
Si = Besaran dari suatu kegiatan tertentu yang akan di ukur di daerah yang diteliti
S = Besaran total untuk seluruh kegiatan di daerah yang diteliti
Ni = Besaran total untuk kegiatan tertentu dalam daerah yang lebih luas
N = Besaran total seluruh kegiatan di daerah yang lebih luas

Ukuran LQ sering digunakan untuk mengukur basis ekonomi suatu daerah,


dimana:
a. LQ > 1, sub daerah yang bersangkutan memiliki potensi ekspor dalam
kegiatan tertentu
b. LQ < 1, daerah tersebut memiliki kecenderungan impor dari sub
daerah/daerah lain
c. LQ = 1, daerah tersebut telah memenuhi kebutuhan daerahnya sendiri dalam
kegiatan tertentu (seimbang)
5

Analisis Fasilitas

Analisa fasilitas, dilakukan dengan memproyeksi kebutuhan fasilitas untuk


pelayanan masyarakat pada tahun tertentu. Rumus yang digunakan yaitu :

Proyeksi fasilitas=

Jumlah penduduk proyeksi


Jumlah penduduk penduduk

Standar penduduk pendukung yang digunakan dalam memproyeksi fasilitas, ada


dua yaitu penduduk pendukung eksisting dan penduduk pendukung menurut
standar PU.
6 Analisis Utilitas
Dalam menganalisa utilitas yang dilakukan adalah mengalikan dengan
jumlah penduduk tahun proyeksi saja dengan presentasi kebutuhan
utilitas, maka didapatkan angka kebutuhan terhadap utilitas tersebut
untuk tahun tertentu.
1. Listrik
Analisis sistem prasarana kelistrikan digunakan untuk mengetahui
kebutuhan pelayanan listrik untuk masing-masing sektor dalam lingkup

37

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
wilayah Kabupaten Badung. Kebutuhan data dalam analisis ini meliputi
sumber listrik dan distribusi/ jenis tegangan.
Sistem analisa pelayanan listrik ini terdiri dari analisa sumber listrik dan
analisa distribusi/ jenis tegangan.
Asumsi : 1 orang = 450 watt / hari
a. Perumahan
: 450 watt / hari x penduduk = Total pengguna
b. Ekonomi
: 60 % x total pengguna
c. Sosial
: 35 % x total pengguna
d. Kantor
: 15 % x total pengguna
e. Penerangan Jalan
: 10 % x total pengguna
f. Cadangan
: 10 % x total pengguna

38

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
2. Air Bersih
Analisis sistem prasarana air bersih digunakan untuk mengetahui kebutuhan
pelayanan air bersih dalam lingkup wilayah untuk masing-masing sektor.
Analisis ini terdiri dari analisa sumber air, analisa sistem pendistribusian
(sistem lop dan sistem los), analisa penempatan kolam air, dan sebagainya.
Sistem analisa pelayanan air minum ini terdiri dari analisa sumber air,
analisa sistem pendistribusian (sistem lop dan sistem los), analisa
penempatan hidran.
Proyeksi kebutuhan air bersih berdasarkan pada asumsi berikut:
Standart untuk 1 orang = 90 liter / hari
a. Perumahan = 90 liter / hari * jumlah penduduk= total penggunaan
b. Ekonomi
= 50 % * total pengguna
c. Sosial
= 30 % * total pengguna
d. Kebocoran
= 5 % * total pengguna
e. Cadangan
= 10 % * total pengguna
3. Drainase
Analisis sistem prasarana drainase ini terdiri dari analisis daerah tangkapan
air, analisa limpasan air dan potensi genangan, analisis sistem dan hirarki
saluran. Untuk perspektif penanganan drainase dapat dilihat pada gambar
dibawah ini :
Standart untuk 1 orang = 60 liter / hari
a. Perumahan
= 60 * jumlah penduduk = total pengguna
b. Industri
= 60% * total pengguna
c. Ekonomi
= 30 % * total pengguna
d. Sosial
= 30 % * total pengguna
e. Kantor
= 5 % * total pengguna
4. Sampah
Sistem utilitas sampah menyangkut masalah produksi sampah dan sistem
penanganan/pengelolaan sampah. Analisis kebutuhan, skala pelayanan TPA
dan analisa kesesuaian lokasi TPA menjadi hal yang paling ditekankan.
Berikutnya menyangkut sistem persampahan berkorelasi dengan sistem
jaringan, pemilihan lokasi TPS, dan jalur perangkutan sampah.Sistem utilitas
sampah menggunakan analisa yang terdiri dari analisa jenis sampah,
analisa cara/ sistem pembuangan sampah, analisa penempatan TPS/ tranfet
depo dan analisa penempatan TPA. Sampah pada dasarnya mencakup
beberapa pengertian, di antaranya limbah rumah tangga dan limbah
industri. Analisa sampah bertujuan untuk memperkirakan berapa jumlah
buangan sampah dari penduduk. Bahan yang terbuang berasal dari sisa
rumah tangga, sampah besar, sampah industri dan sampah jalan. Keadaan
tersebut dapat diantisipasi untuk pengolahan dan penanggulangannya di
masa yang akan datang sesuai dengan perkembangan kabupaten.
Untuk kebutuhan sarana penunjang persampahan penduduk, dibuatkan
asumsi sebagai berikut :
Asumsi 1 orang = 2.5 kg / hari x Penduduk Tahun ke n
Jumlah Kebutuhan = Asumsi x Jumlah pddk proyeksi

39

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
7 Analisis Transportasi
Analisis transportasi meliputi transportasi darat, laut dan udara. Analisa sistem
prasarana transportasi yang meliputi transportasi darat dan air, dilakukan untuk
memperoleh gambaran mengenai keterkaitan fungsional dan ekonomi tentang
kota, antar kawasan baik dalam wilayah maupun antar wilayah kabupaten,
dengan melihat pengumpul hasil produksi, pusat kegiatan transportasi dan pusat
distribusi barang dan jasa. Untuk lingkup wilayah survey hanya terdapat
transportasi darat. Dengan menggunakan analisa sistem transportasi dapat
memperoleh gambaran mengenai kecenderungan perkembangan prasarana
transportasi yang ada serta aksesibilitas lokasi-lokasi kegiatan di wilayah
kabupaten.
A.
Analisis Hierarki Jalan
Dalam penganalisaan terhadap transportasi, jalan umum dibedakan kedalam
sistem, fungsi, status dan kelas, yang pengklasifikasiannya disesuaikan dengan
Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 2006 yaitu dibedakan menjadi:
1.
Menurut Sistem
a Jalan Primer, yaitu:
Sistem jaringan jalan dengan peranan pelayanan distribusi barang dan
jasa untuk pengembangan semua wilayah di tingkat nasional, dengan
menghubungkan semua simpul jasa distribusi yang berwujud pusat-pusat
kegiatan.
b Jalan Sekunder, yaitu:
sistem jaringan jalan dengan peranan pelayanan distribusi barang dan
jasa untuk masyarakat di dalam kawasan perkotaan.
2.
Menurut Fungsi
a. Arteri
Jalan umum yang berfungsi melayani angkutan utama dengan ciri
perjalanan jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi, dan jumlah jalan masuk
dibatasi secara berdaya guna.
b. Kolektor
Jalan umum yang berfungsi melayani angkutan pengumpul atau pembagi
dengan ciri perjalanan jarak sedang, kecepatan rata-rata sedang, dan
jumlah jalan masuk dibatasi.
c. Jalan Lokal
Jalan umum yang berfungsi melayani angkutan setempat dengan ciri
perjalanan jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah, dan jumlah jalan
masuk tidak dibatasi.
d. Jalan Lingkungan
Jalan umum yang berfungsi melayani angkutan lingkungan dengan ciri
perjalanan jarak dekat, dan kecepatan rata-rata rendah.
3.
Menurut Status
a. Jalan Nasional
Jalan arteri dan jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan primer yang
menghubungkan antaribukota provinsi, dan jalan strategis nasional, serta
jalan tol.
b. Jalan Provinsi

40

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
Jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan primer yang menghubungkan
ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten/kota, atau antaribukota
kabupaten/kota, dan jalan strategis provinsi.
c. Jalan Kabupaten
Jalan lokal dalam sistem jaringan jalan primer yang menghubungkan
ibukota kabupaten dengan ibukota kecamatan, antaribukota kecamatan,
ibukota kabupaten dengan pusat kegiatan lokal, antarpusat kegiatan
lokal, serta jalan umum dalam sistem jaringan jalan sekunder dalam
wilayah kabupaten, dan jalan strategis kabupaten.
d. Jalan Kota
Jalan umum dalam sistem jaringan jalan sekunder yang menghubungkan
antarpusat pelayanan dalam kota, menghubungkan pusat pelayanan
dengan persil, menghubungkan antar persil, serta menghubungkan antar
pusat permukiman yang berada di dalam kota.
e. Jalan Desa
Jalan umum yang menghubungkan kawasan dan/atau antarpermukiman
di dalam desa, serta jalan lingkungan.
4.
Menurut Kelas
Pengaturan kelas jalan didasarkan pada spesifikasi penyediaan prasarana
jalan yaitu jalan bebas hambatan, jalan raya, jalan sedang, dan jalan kecil.
a. Jalan Bebas Hambatan
Jalan umum untuk lalu lintas menerus dengan pengendalian jalan masuk
secara penuh dan tanpa adanya persimpangan sebidang, dilengkapi
dengan pagar ruang milik jalan, dilengkapi dengan median, paling sedikit
mempunyai 2 (dua) lajur setiap arah, dan lebar lajur paling sedikit 3,5
(tiga koma lima) meter.
b. Jalan Raya
Jalan umum untuk lalu lintas secara menerus dengan pengendalian jalan
masuk secara terbatas dan dilengkapi dengan median, paling sedikit 2
(dua) lajur setiap arah, lebar lajur paling sedikit 3,5 (tiga koma lima) meter.
c. Jalan Sedang
Jalan umum dengan lalu lintas jarak sedang dengan pengendalian jalan
masuk tidak dibatasi, paling sedikit 2 (dua) lajur untuk 2 (dua) arah
dengan lebar jalur paling sedikit 7 (tujuh) meter.
d. Jalan Kecil
Jalan umum untuk melayani lalu lintas setempat, paling sedikit 2 (dua)
lajur untuk 2 (dua) arah dengan lebar jalur paling sedikit 5,5 (lima koma
lima) meter.
B.
Analisis Tingkat Aksesibilitas
Tingkat aksesibilitas adalah kemudahan mencapai suatu wilayah dari wilayah
lain yang berdekatan, atau bisa juga dilihat dari sudut kemudahan mencapai
wilayah lain yang berdekatan bagi masyarakat yang tinggal di kota tersebut.
Ada beberapa unsur yang mempengaruhi tingkat aksesibilitas, misalnya kondisi
jalan, jenis angkutan umum yang tersedia, frekuensi keberangkatan dan jarak.
Aksesibilitas adalah jarak pencapaian dari suatu daerah ke daerah lainnya,
dimana semakin tinggi aksesbilitas suatu daerah dengan daerah lainnya maka
akan semakin cepat pula proses perkembangannya begitu pula sebaliknya.

41

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
Adapun indikator yang menunjang diantaranya adalah arah perkembangan atau
pergerakan penduduk.
C.
Analisis Sistem Perangkutan
Guna mendukung proses pemerataan pembangunan wilayah, selain dengan
adanya pengembangan terhadap jaringan jalan, penetapan fungsi jaringan jalan
perlu didukung dengan adanya sarana perangkutan yang memadai, baik
terhadap rute pelayanan angkutan, jumlah armada angkutan maupun fasilitas
pendukung lainnya. Peningkatan terhadap rute angkutan, khusunya pada
wilayah-wilayah yang belum terlayani, yaitu melalui perluasan trayek angkutan
dan pengembangan rute baru. Penambahan armada angkutan sesuai dengan
kebutuhan, sehingga mampu melayani kebutuhan penduduk di dalam
melakukan aktivitas.
D.
Analisis Lintas Harian Rata-rata (LHR) dan Level Of Service
(LOS)
Lalu lintas harian rata-rata disingkat LHR adalah volume lalu lintas yang dua
arah yang melalui suatu titik rata-rata dalam satu hari, biasanya dihitung
sepanjang tahun. LHR adalah istilah yang baku digunakan dalam menghitung
beban lalu lintas pada suatu ruas jalan dan merupakan dasar dalam proses
perencanaan transportasi ataupun dalam pengukuran polusi yang diakibatkan
oleh arus lalu lintas pada suatu ruas jalan. Setelah mengetahui Lintas Harian
Rata-Rata (LHR), selanjutnya adalah menghitung nilai Level Of Service (LOS).
Level of Service (LOS) atau tingkat pelayanan jalan adalah salah satu metode
yang digunakan untuk menilai kinerja jalan yang menjadi indikator dari
kemacetan. Suatu jalan dikategorikan mengalami kemacetan apabila hasil
perhitungan LOS menghasilkan nilai mendekati 1. Level of Service (LOS) dapat
diketahui dengan melakukan perhitungan perbandingan antara volume lalu
lintas dengan kapasitas dasar jalan (V/C). Dengan melakukan perhitungan
terhadap nilai LOS, maka dapat diketahui klasifikasi jalan atau tingkat
pelayanan pada suatu ruas jalan tertentu. Adapun standar nilai LOS dalam
menentukan klasifikasi jalan adalah sebagai berikut:

Tingkat
Pelayanan
A

Tabel 1.20
Standar Nilai Level Of Service (LOS)
Rasio (V/C)
< 0,60

< 0,60 (V/C) <0,70

0,70 < (V/C) <0,80

Karakteristik

Arus bebas, volume


rendah dan kecepatan
tinggi, pengemudi dapat
memilih kecepatan yang
dikehendaki
Arus stabil, kecepatan
sedikit terbatas oleh lalu
lintas, pengemudi masih
dapat bebas dalam
memilih kecepatannya
Arus stabil, kecepatan

42

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO

0,80 < (V/C) <0,90

0,90 < (V/C) <1

>1

dapat dikontrol oleh lalu


lintas
Arus mulai tidak stabil,
kecepatan rendah dan
berbeda-beda, volume
mendekati kapasitas
Arus tidak stabil,
kecepatan rendah dan
berbeda-beda, volume
mendekati kapasitas
Arus yang terhambat,
kecepatan rendah, volume
diatas kapasitas, sering
terjadi kemacetan pada
waktu yang cukup lama.

Sumber : MKJI, 2007

1.6 Sistematika Pembahasan


Sistematika pembahasan dalam Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
perkotaan Selomerto adalah sebagai berikut :
BAB I : Pendahuluan
Menguraikan latar belakang, dasar hukum penyusunan Rencana
Detail Tata Ruang (RDTR) perkotaan Selomerto, tujuan penyusunan
Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) perkotaan Selomerto, ruang
lingkup, metodologi, dan sistematika pembahasan.
BAB II : Ketentuan Umum
Menguraikan istilah dan definisi, kedudukan RDTR dan peraturan
zonasi perkotaan Selomerto , fungsi dan manfaat RDTR dan
peraturan zonasi perkotaan Selomerto , Kriteria Perencanaan RDTR,
dan peraturan zonasi.
BAB III : Kondisi Perkotaan Selomerto
Menguraikan kondisi perkotaan Selomerto yang ditinjau dari sisi
eksternal dan sisi internal
BAB IV : Analisa Bagian Wilayah Perkotaan
Menguraikan analisa kebijakan, analisa kondisi eksisting, analisa
perekonomian, dan analisa rencana
BAB V : Perencanaan
Menguraikan rencana pola ruang dan rencana struktur ruang pada
perkotaan Selomerto
BAB VI : Penetapan Sub BWP yang Diprioritaskan Penanganannya
Menguraikan sub BWP yang diprioritaskan penanganannya di
perkotaan Selomerto
BAB VII : Ketentuan Pemanfaatan Ruang
Menguraikan ketentuan pemanfaatan ruang pada sub BWP
Selomerto
BAB VIII : Peraturan Zonasi
Menguraikan tentang ketentuan kegiatan dan penggunaan lahan,
ketentuan intensitas pemanfaatan ruang, ketentuan tata bangunan,

43

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
ketentuan prasarana dan sarana minimal, ketentuan pelaksanaan,
dan materi opsional pada perkotaan Selomerto.
BAB II
KETENTUAN UMUM
Sebelum masuk ke dalam pembahasan yang fokus ke dalam wilayah
studi yakni kondisi perkotaan Selomerto, maka terlebih dahulu perlu diketahui
hal-hal mendasar yang terkait dengan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Oleh
karena itu, pada bahasan ini akan dijabarkan ketentuan umum mengenai
Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) yang meliputi istilah dan pengertian,
kedudukan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR), fungsi dan manfaat Rencana
Detail Tata Ruang (RDTR) dan peraturan zonasi, dan masa berlaku Rencana
Detail Tata Ruang (RDTR) Untuk lebih jelasnya, ketentuan umum yang dimaksud
diuraikan sebagai berikut :
.1 Istilah dan Definisi
Istilah dan definisi pada sub bab ini merupakan istilah dan definisi yang
sering dipakai didalam penyusunan rencana tata ruang baik itu rencana umum
ataupun rencana rinci seperti Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Hal ini
merupakan salah satu pemahaman dasar yang harus diketahui jika hendak
menyusun maupun mengkaji Rencana Detail Tata Ruang (RDTR).
Adapun istilah dan definisi tersebut adalah sebagai berikut :
1. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang
udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah,
tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan
memelihara kelangsungan hidupnya.
2. Rencana Tata Ruang adalah hasil perencanaan tata ruang.
3. Penataan Ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang,
pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang.
4. Perencanaan Tata Ruang adalah suatu proses untuk menentukan
struktur ruang dan pola ruang yang meliputi penyusunan dan penetapan
rencana tata ruang.
5. Struktur Ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem
jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung
kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki
hubungan fungsional.
6. Pola Ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah
yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan
ruang untuk fungsi budi daya.
7. Pemanfaatan Ruang adalah upaya untuk mewujudkan struktur ruang
dan pola ruang sesuai dengan rencana tata ruang melalui penyusunan
dan pelaksanaan program beserta pembiayaannya.
8. Izin Pemanfaatan Ruang adalah izin yang dipersyaratkan dalam
kegiatan pemanfaatan ruang sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
9. Pengendalian Pemanfaatan Ruang adalah upaya untuk mewujudkan
tertib tata ruang.

44

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
10. Peraturan Zonasi adalah ketentuan yang mengatur tentang persyaratan
pemanfaatan ruang dan ketentuan pengendaliannya dan disusun untuk
setiap blok/zona peruntukan yang penetapan zonanya dalam rencana
rinci tata ruang.
11. Penggunaan Lahan adalah fungsi dominan dengan ketentuan khusus
yang ditetapkan pada suatu kawasan, blok peruntukan, dan/atau persil.
12. Rencana tata ruang wilayah (RTRW) kabupaten/kota adalah rencana
tata ruang yang bersifat umum dari wilayah kabupaten/kota, yang
merupakan penjabaran dari RTRW provinsi, dan yang berisi tujuan,
kebijakan, strategi penataan ruang wilayah kabupaten/kota, rencana
struktur ruang wilayah kabupaten/kota, rencana pola ruang wilayah
kabupaten/kota, penetapan kawasan strategis kabupaten/kota, arahan
pemanfaatan ruang wilayah kabupaten/kota, dan ketentuan
pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten/kota.
13. Rencana Detail Tata Ruang yang selanjutnya disingkat RDTR adalah
rencana secara terperinci tentang tata ruang wilayah kabupaten/kota
yang dilengkapi dengan peraturan zonasi kabupaten/kota.
14. Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan yang selanjutnya disingkat
RTBL adalah panduan rancang bangun suatu lingkungan/kawasan yang
dimaksudkan untuk mengendalikan pemanfaatan ruang, penataan
bangunan dan lingkungan, serta memuat materi pokok ketentuan
program bangunan dan lingkungan, rencana umum dan panduan
rancangan, rencana investasi, ketentuan pengendalian rencana, dan
pedoman
pengendalian
pelaksanaan
pengembangan
lingkungan/kawasan.
15. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta
segenap unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan
berdasarkan aspek administratif dan/atau aspek fungsional.
16. Bagian Wilayah Perkotaan yang selanjutnya disingkat BWP adalah
bagian dari kabupaten/kota dan/atau kawasan strategis kabupaten/kota
yang akan atau perlu disusun rencana rincinya, dalam hal ini RDTR,
sesuai arahan atau yang ditetapkan di dalam RTRW kabupaten/kota
yang bersangkutan, dan memiliki pengertian yang sama dengan zona
peruntukan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Nomor
15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang.
17. Sub Bagian Wilayah Perkotaan yang selanjutnya disebut Sub BWP
adalah bagian dari BWP yang dibatasi dengan batasan fisik dan terdiri
dari beberapa blok, dan memiliki pengertian yang sama dengan
subzona peruntukan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan
Ruang.
18. Kawasan Perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama
bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat
permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa
pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.
19. Kawasan Strategis Kabupaten/Kota adalah wilayah yang penataan
ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting

45

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
dalam lingkup kabupaten/kota terhadap ekonomi, sosial, budaya,
dan/atau lingkungan.
20. Kawasan Budi Daya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi
utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya
alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan.
21. Kawasan Lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama
melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya
alam dan sumber daya buatan.
22. Permukiman adalah bagian dari lingkungan hunian yang terdiri atas
lebih dari satu satuan perumahan yang mempunyai prasarana, sarana,
utilitas umum, serta mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain di
kawasan perkotaan atau kawasan perdesaan.
23. Perumahan adalah kumpulan rumah sebagai bagian dari pemukiman,
baik perkotaan maupun pedesaan, yang dilengkapi dengan prasarana,
sarana, dan utilitas umum sebagai hasil upaya pemenuhan rumah yang
layak huni.
24. Prasarana adalah kelengkapan dasar fisik lingkungan hunian yang
memenuhi standar tertentu untuk kebutuhan bertempat tinggal yang
layak, sehat, aman, dan nyaman.
25. Jaringan adalah keterkaitan antara unsur yang satu dan unsur yang lain.
26. Blok adalah sebidang lahan yang dibatasi sekurang-kurangnya oleh
batasan fisik yang nyata seperti jaringan jalan, sungai, selokan, saluran
irigasi, saluran udara tegangan ekstra tinggi, dan pantai, atau yang
belum nyata seperti rencana jaringan jalan dan rencana jaringan
prasarana lain yang sejenis sesuai dengan rencana kota, dan memiliki
pengertian yang sama dengan blok peruntukan sebagaimana dimaksud
dalam Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang
Penyelenggaraan Penataan Ruang.
27. Subblok adalah pembagian fisik di dalam satu blok berdasarkan
perbedaan subzona.
28. Zona adalah kawasan atau area yang memiliki fungsi dan karakteristik
spesifik.
29. Subzona adalah suatu bagian dari zona yang memiliki fungsi dan
karakteristik tertentu yang merupakan pendetailan dari fungsi dan
karakteristik pada zona yang bersangkutan.
30. Koefisien Dasar Bangunan yang selanjutnya disingkat KDB adalah
angka persentase perbandingan antara luas seluruh lantai dasar
bangunan gedung dan luas lahan/tanah perpetakan/daerah
perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan RTBL.
31. Koefisien Daerah Hijau yang selanjutnya disingkat KDH adalah angka
persentase perbandingan antara luas seluruh ruang terbuka di luar
bangunan gedung yang diperuntukkan bagi pertamanan/penghijauan
dan luas tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai
rencana tata ruang dan RTBL.
32. Koefisien Lantai Bangunan yang selanjutnya disingkat KLB adalah
angka persentase perbandingan antara luas seluruh lantai bangunan
gedung dan luas tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai
sesuai rencana tata ruang dan RTBL.

46

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO

33. Garis Sempadan Bangunan yang selanjutnya disingkat GSB adalah


sempadan yang membatasi jarak terdekat bangunan terhadap tepi jalan;
dihitung dari batas terluar saluran air kotor (riol) sampai batas terluar
muka bangunan, berfungsi sebagai pembatas ruang, atau jarak bebas
minimum dari bidang terluar suatu massa bangunan terhadap lahan
yang dikuasai, batas tepi sungai atau pantai, antara massa bangunan
yang lain atau rencana saluran, jaringan tegangan tinggi listrik, jaringan
pipa gas, dsb (building line).
34. Ruang Terbuka Hijau yang selanjutnya disingkat RTH adalah area
memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih
bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara
alamiah maupun yang sengaja ditanam.
35. Ruang Terbuka Non Hijau yang selanjutnya disingkat RTNH adalah
ruang terbuka di bagian wilayah perkotaan yang tidak termasuk dalam
kategori RTH, berupa lahan yang diperkeras atau yang berupa badan
air, maupun kondisi permukaan tertentu yang tidak dapat ditumbuhi
tanaman atau berpori.
36. Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi yang selanjutnya disingkat
SUTET adalah saluran tenaga listrik yang menggunakan kawat
penghantar di udara yang digunakan untuk penyaluran tenaga listrik dari
pusat pembangkit ke pusat beban dengan tegangan di atas 278 kV.
RENCANA PEMBANGUNAN
RENCANA UMUM TATA RUANG
RENCANA RINCI TATA RUANG
37. Saluran Udara Tegangan Tinggi yang selanjutnya disingkat SUTT adalah
saluran tenaga listrik yang menggunakan kawat penghantar di udara
yang digunakan untuk penyaluran tenaga listrik dari pusat pembangkit
RTR Pulau/Kepulauan
tegangan
di atas 70 kV sampai dengan
278 kV.
RTRW
Nasional
RPJP Nasional ke pusat beban dengan
RTR Kawasan Strategis Nasional
.2 Kedudukan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) dan Peraturan Zonasi
Perkotaan Selomerto
RPJM Nasional
Bagian dari wilayah yang akan disusun RDTR tersebut merupakan
kawasan perkotaan atau kawasan strategis kabupaten/kota. Kawasan
RTR Kawasan Strategis Provinsi
strategis kabupaten/kotaRTRW
dapat Provinsi
disusun RDTR apabila merupakan:
RPJP Provinsi
a. Kawasan yang mempunyai ciri perkotaan atau direncanakan menjadi
kawasan perkotaan.
b. Memenuhi kriteria lingkup wilayah perencanaan RDTR yang RDTR
ditetapkan
Kabupaten
RPJM Provinsi
RTRW Kabupaten
dalam pedoman ini.
RTR Kawasan Strategis Kabupaten Nas
RDTR ditetapkan dengan perda kabupaten. Dalam hal RDTR telah
ditetapkan sebagai perda terpisah dari peraturan zonasi sebelum keluarnya
RPJP Kab/Kota
pedoman ini, maka peraturan zonasi ditetapkan dengan perda
kabupaten/kota tersendiri. Berikut ini merupakan bagan kedudukan RDTR
RDTR Kota
Perkotaan Selomerto di dalam sistem perencanaan nasional.
RTRW
Kota
RTR Kawasan Strategis Kota
RPJM Kab/Kota

Bagan Kedudukan Rencana Detai Tata Ruang (RDTR) dan Peraturan Zonasi
Perkotaan Selomerto Dalam Sistem Perencanan Nasional

47
BAGAN KEDUDUKAN RDTR DALAM SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO

Sumber : PERMEN PU NO. 20 Tahun 2011 Dengan Modifikasi

.3 Fungsi dan Manfaat Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) dan Peraturan
Zonasi Perkotaan Selomerto
Dalam konteks penataan ruang, tentunya Rencana Detail Tata Ruang
(RDTR) dan Peraturan Zonasi mempunyai fungsi dan manfaat tersendiri
mengingat bahwa RDTR Perkotaan Selomerto ini merupakan produk rencana
rinci untuk Kabupaten Wonosobo. Fungsi dan manfaat Rencana Detail Tata
Ruang (RDTR) dan Peraturan Zonasi tersebut adalah sebagai berikut :
1. Fungsi
Telah dijelaskan diawal bahwa Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) dan
Peraturan Zonasi Perkotaan Selomerto memiliki fungsi tersendiri. Adapun
fungsi yang dimaksud adalah sebagai berikut :
a. Kendali mutu pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten Wonosobo
berdasarkan RTRW Kabupaten Wonosobo.
b. Acuan bagi kegiatan pemanfaatan ruang yang lebih rinci dari kegiatan
pemanfaatan ruang yang diatur dalam RTRW Kabupaten Wonosobo.
c. Acuan bagi kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang.
d. Acuan bagi penerbitan izin pemanfaatan ruang.
e. Acuan dalam penyusuan RTBL
Berdasarkan fungsi di atas, telah jelas bahwa Rencana Detail Tata
Ruang (RDTR) dan Peraturan Zonasi perkotaan Selomerto yang
merupakan rencana rinci Kabupaten Wonosobo memiliki peranan penting
dalam pengendalian dan pemanfaatan ruang.
2. Manfaat
Tak hanya fungsi, Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) dan Peraturan Zonasi
perkotaan Selomerto juga memiliki manfaat tersendiri. Adapun manfaatnya
adalah sebagai:

48

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
a. Penentu lokasi berbagai kegiatan yang mempunyai kesamaan fungsi dan
lingkungan permukiman dengan karakteristik tertentu.
b. Alat operasionalisasi dalam sistem pengendalian dan pengawasan
pelaksanaan pembangunan fisik kabupaten yang dilaksanakan oleh
pemerintah, pemerintah daerah, swasta, dan atau masyarakat.
c. Ketentuan intensitas pemanfaatan ruang untuk setiap bagian wilayah
sesuai dengan fungsinya didalam struktur ruang kabupaten secara
keseluruhan.
d. Ketentuan bagi penetapan kawasan yang diprioritaskan untuk disusun
program pengembangan kawasan dan pengendalian pemanfaatan
ruangnya pada tingkat BWP atau sub BWP.
Berdasarkan manfaat di atas, dapat disimpulkan bahwa Rencana Detail
Tata Ruang (RDTR) dan Peraturan Zonasi Perkotaan Selomerto yang
merupakan rencana rinci Kabupaten Wonosobo memiliki manfaat yang kian
besar dalam pengendalian dan pemanfaatan ruang pada tingkat Bagian
Wilayah Perkotaan (BWP) ataupun Sub Bagian Wilayah Perkotaan (SBWP).
.4 Kriteria Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) dan Peraturan Zonasi
Dalam menyusun maupun mengkaji Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
dan Peraturan Zonasi, terlebih dahulu harus diketahui kriteria dan lingkup
wilayah perencanaan serta materi apa saja yang perlu tertuang di dalam
Peraturan Zonasi. Adapun kriteria dan lingkup wilayah perencanaan serta
materi di dalam Peraturan Zonasi adalah sebagai berikut :
.4.1 Kriteria Perencanaan RDTR
Kriteria perencanaan RDTR dapat didefiniskian sebagai syarat atau
tolak ukur mengapa perlu dilakukan penyusunan RDTR, sedangkan lingkup
wilayah adalah batasan wilayah secara geografis dalam penyusuan RDTR.
RDTR disusun apabila :
a. RTRW Kabupaten dinilai belum efektif sebagai acuan dalam pelaksanaan
pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang karena tingkat
ketelitian petanya belum mencapai 1:5000 dan atau/atau
b. RTRW Kabupaten sudah mengamanatkan bagian dari wilayahnya yang
perlu disusun RDTR-nya.
Apabila ketentuan sebagaimana yang dimaksud pada huruf a dan b tidak
terpenuhi , maka dapat disusun peraturan zonasi, tanpa disertai dengan
penyusunan RDTR yang lengkap. Perkotaan Selomerto, memiliki
karakteristik sektor agropolitan, yang dimana pada kawasan pedesaan
maupun Kelurahan Selomerto sebagai lahan pertanian. Dalam RTRW
Kabupaten Wonosobo, perkotaan Selomerto termasuk PKLp (Pusat
Kegiatan Lokal Promosi)

49
PKL

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO

Gambar 2.2 : Lingkup Wilayah RDTR Berdasarkan Wilayah


Administrasi Kecamatan dalam Wilayah Kota
Sumber : BAPPEDA Kabupaten Wonosobo

a. Bagian Dari Wilayah yang Memiliki Ciri Perkotaan


Dalam UU Penataan ruang No.26 tahun 2007, kawasan perkotaan
adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan
susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan,
pemusatan dan distribusi pelayanan pemerintahan, pelayanan sosial dan
kegiatan ekonomi. Adapun Kriteria kawasan perkotaan meliputi :
1. Memiliki karakteristik kegiatan utama budidaya bukan pertanian atau
mata pencaharian penduduknya terutama di bidang industri,
perdagangan dan jasa
2. Memiliki karakteristik sebagai pemusatan dan distribusi pelayanan
barang dan jasa didukung prasarana dan sarana termasuk pergantian
moda transportasi dengan pelayanan skala kabupaten atau beberapa
kecamatan.
b. Kawasan Strategis Kabupaten/Kota yang Memiliki Ciri Kawasan
Perkotaan
Kawasan strategis kabupaten/kota adalah wilayah yang
penataan
ruangnya
diprioritaskan
karena mempunyai pengaruh
sangat penting dalam lingkup kabupaten/kota. Dalam arahan yang telah
di tetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Wonosobo Nomor 2
Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). RTRW
Kabupaten Wonosobo, Kecamatan Selomerto ditetapkan sebagai
kawasan strategis sebagai berikut :
1. Rencana pengembangan kawasan strategis sebagai pertumbuhan
ekonomi
a. Pengembangan
sentra-sentra
industri
kecil
diseluruh
kecamatan
b. Kawasan agropolitan Rojonoto
2. Kawasan Strategi sosial budaya
a. Kawasan makam pendiri wonosobo Kyai Karim
b. Kawasan makam Jogonegoro
3. Kawasan wisata minat khusus
a. Arung jeram sungai Serayu
4. Kawasan Strategis untuk kepentingan fungsi dan daya dukung
lingkungan yaitu Daerah aliran sungai (DAS) Serayu
Dengan arahan pencapaian kawasan strategis yang ada pada
perkotaan Selomerto, tentunya dapat direncanakan Perkotaan Selomerto
berkembang dengan karakteristik yang ada pada Kecamatan Selomerto.

50

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
c. Bagian Dari Wilayah Kabupaten/Kota yang Berupa Kawasan
Pedesaan yang Direncanakan Menjadi Kawasan Perkotaan.
Arahan penetapan kawasan strategis pada RTRW Kabupaten
Wonosobo, merupakan suatu potensi yang dapat dikembangkan.. Pada
beberapa wilayah pedesaan di Kecamatan Selomerto, terdapat wilayah
yang memiliki potensi untuk dikembangkan untuk kemajuan kawasan
perkotaan Selomerto. Arahan-arahan yang ada pada RTRW Kabupaten
Wonosobo, digunakan sebagai acuan untuk pembuatan RDTR
Kecamatan Selomerto, yang mana hasil dari perencanaan tersebut
memberikan kemajuan bagi wilayah Kecamatan Selomerto baik dari
rencana struktur ruang, pola ruang, ekonomi, dan sosial.
.4.2 Peraturan Zonasi
Peraturan zonasi memuat materi wajib yang meliputi ketentuan
kegiatan dan penggunaan lahan, ketentuan intensitas pemanfaatan
ruang, ketentuan tata bangunan, ketentuan prasarana dan sarana
minimal, ketentuan pelaksanaan, dan materi pilihan yang terdiri atas
ketentuan tambahan, ketentuan khusus, standar teknis, dan ketentua
pengaturan zonasi.
.4.2.1 Materi Wajib
Materi wajib adalah materi yang harus dimuat dalam peraturan zonasi.
Sedangkan materi pilihan adalah materi yang perlu dimuat sesuai dengan
kebutuhan daerah masing-masing.
A. Ketentuan Kegiatan dan Penggunaan Lahan
Ketentuan kegiatan dan penggunaan lahan adalah ketentuan yang
berisi kegiatan dan penggunaan lahan yang diperbolehkan, kegiatan
dan penggunaan lahan yang bersyarat secara terbatas, kegiatan dan
penggunaan lahan yang bersyarat tertentu, dan kegiatan dan
penggunaan lahan yang tidak diperbolehkan pada suatu zona.
Ketentuan kegiatan dan penggunaan lahan dirumuskan berdasarkan
ketentuan maupun standar yang terkait dengan pemanfaatan ruang,
ketentuan dalam peraturan bangunan setempat, dan ketentuan
khusus bagi unsur bangunan atau komponen yang dikembangkan.
Ketentuan teknis zonasi terdiri atas:
1. Klasifikasi I (Pemanfaatan diperbolehkan/diizinkan)
Kegiatan dan penggunaan lahan yang termasuk dalam klasifikasi I
memiliki sifat sesuai dengan peruntukan ruang yang direncanakan.
Pemerintah kabupaten/kota tidak dapat melakukan peninjauan atau
pembahasan atau tindakan lain terhadap kegiatan dan penggunaan
lahan yang termasuk dalam klasifikasi I.
2. Klasifikasi T (Pemanfaatan bersyarat secara terbatas)
Pemanfaatan bersyarat secara terbatas bermakna bahwa kegiatan
dan penggunaan lahan dibatasi dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Pembatasan pengoperasian, baik dalam bentuk pembatasan
waktu beroperasinya suatu kegiatan di dalam subzona maupun
pembatasan jangka waktu pemanfaatan lahan untuk kegiatan
tertentu yang diusulkan.

51

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
b. Pembatasan intensitas ruang, baik KDB, KLB, KDH, jarak bebas,
maupun ketinggian bangunan. Pembatasan ini dilakukan dengan
menurunkan nilai maksimal dan meninggikan nilai minimal dari
intensitas ruang dala peraturan zonasi.
c.
Pembatasan jumlah pemanfaatan, jika pemanfaatan yang
diusulkan telah ada mampu melayani kebutuhan, dan belum
memerlukan tambahan, maka pemanfaatan tersebut tidak boleh
diizinkan atau diizinkan terbatas dengan pertimbanganpertimbangan khusus. Contoh: dalam sebuah zona perumahan
yang berdasarkan standar teknis telah cukup jumlah fasilitas
peribadatannya, maka aktivitas rumah ibadah termasuk dalam
klasifikasi T.
3. Klasifikasi B (pemanfaatan bersyarat tertentu)
Pemanfaatan
bersyarat
tertentu
bermakna
bahwa
untuk
mendapatkan izin atas suatu kegiatan atau penggunaan lahan
diperlukan persyaratan-persyaratan tertentu yang dapat berupa
persyaratan umum dan persyaratan khusus. Persyaratan dimaksud
diperlukan mengingat pemanfaatan ruang tersebut memiliki dampak
yang besar bagi lingkungan sekitarnya.
Contoh persyaratan umum antara lain:
a. Dokumen AMDAL
b. Dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya
Pemantauan Lingkungan (UPL)
c. Dokumen Analisis Dampak Lalu-lintas (ANDALIN)
d. Pengenaan disinsentif misalnya biaya dampak pembangunan
(development impactfee).
Contoh persyaratan khusus misalnya diwajibkan menambah tempat
parkir, menambah luas RTH, dan memperlebar pedestrian.
4. Klasifikasi X (Pemanfaatan yang tidak diperbolehkan)
Kegiatan dan penggunaan lahan yang termasuk dalam klasifikasi X
memiliki sifat tidak sesuai dengan peruntukan lahan yang
direncanakan dan dapat menimbulkan dampak yang cukup besar
bagi lingkungan di sekitarnya. Kegiatan dan penggunaan lahan yang
termasuk dalam klasifikasi X tidak boleh diizinkan pada zona yang
bersangkutan. Penentuan I, T, B dan X untuk kegiatan dan
penggunaan lahan pada suatu zonasi didasarkan pada :
a. Pertimbangan Umum
Pertimbangan umum berlaku untuk semua jenis penggunaan
lahan, antara lain kesesuaian dengan arahan pemanfaatan ruang
dalam RTRW kabupaten/kota, Keseimbangan antara kawasan
lindung dan kawasan budi daya dalam suatu wilayah, kelestarian
lingkungan (perlindungan dan pengawasan terhadap pemanfaatan
air, udara, dan ruang bawah tanah), toleransi terhadap tingkat
gangguan dan dampak terhadap peruntukan yang ditetapkan, serta
kesesuaian dengan kebijakan lainnya yang dikeluarkan oleh
pemerintah daerah kabupaten/kota

52

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
b. Pertimbangan Khusus
Pertimbangan khusus berlaku untuk masing-masing karakteristik
guna lahan, Kegiatan atau komponen yang akan dibangun.
Pertimbangan khusus dapat disusun berdasarkan rujukan mengenai
ketentuan atau standar yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang,
rujukan mengenai ketentuan dalam peraturan bangunan setempat,
dan rujukan mengenai ketentuan khusus bagi unsur bangunan atau
komponen yang dikembangkan.
B. Ketentuan Intensitas Pemanfaatan Ruang
Ketentuan intensitas pemanfaatan ruang adalah ketentuan
mengenai besaran pembangunan yang diperbolehkan pada suatu
zona yang meliputi:
1. KDB Maksimum
KDB maksimum ditetapkan dengan mempertimbangkan tingkat
pengisian atau peresapan air, kapasitas drainase, dan jenis
penggunaan lahan.
2. KLB Maksimum
KLB maksimum ditetapkan dengan mempertimbangkan harga
lahan, ketersediaan dan tingkat pelayanan prasarana (jalan),
dampak atau kebutuhan terhadap prasarana tambahan, serta
ekonomi dan pembiayaan.
3. Ketinggian Bangunan Maksimum
4. KDH Minimal
KDH minimal digunakan untuk mewujudkan RTH dan
diberlakukan secara umum pada suatu zona. KDH minimal
ditetapkan dengan mempertimbangkan tingkat pengisian atau
peresapan air dan kapasitas drainase. Beberapa ketentuan lain
dapat ditambahkan dalam intensitas pemanfaatan ruang, antara
lain meliputi:
a. Koefisien Tapak Basement (KTB) Maksimum KTB
maksimum ditetapkan dengan mempertimbangkan KDH
minimal.
b. Koefisien Wilayah Terbangun (KWT) Maksimum.
c. Kepadatan Bangunan atau Unit Maksimum.
Kepadatan bangunan atau unit maksimum ditetapkan
dengan mempertimbangkan faktor kesehatan (ketersediaan
air bersih, sanitasi, sampah, cahaya matahari, aliran udara,
dan ruang antar bangunan), faktor sosial (ruang terbuka
privat, privasi, serta perlindungan dan jarak tempuh terhadap
fasilitas lingkungan), faktor teknis (resiko kebakaran dan
keterbatasan lahan untuk bangunan atau rumah), dan faktor
ekonomi (biaya lahan, ketersediaan, dan ongkos penyediaan
pelayanan dasar).
d. Kepadatan Penduduk Maksimal.
C. Ketentuan Tata Bangunan

53

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
Ketentuan tata bangunan adalah ketentuan yang mengatur
bentuk, besaran, peletakan, dan tampilan bangunan pada suatu
zona. Komponen ketentuan tata bangunan minimal terdiri atas:
1. GSB minimal yang ditetapkan dengan mempertimbangkan
keselamatan, resiko kebakaran, kesehatan, kenyamanan, dan
estetika
2. Tinggi bangunan maksimum atau minimal yang ditetapkan
dengan mempertimbangkan keselamatan, resiko kebakaran,
teknologi, estetika, dan parasarana
3. Jarak bebas antarbangunan minimal yang harus memenuhi
ketentuan tentang jarak bebas yang ditentukan oleh jenis
peruntukan dan ketinggian bangunan
4. Tampilan
bangunan
yang
ditetapkan
dengan
mempertimbangkan warna bangunan,bahan bangunan,
tekstur bangunan, muka bangunan, gaya bangunan,
keindahan bangunan, serta keserasian bangunan dengan
lingkungan sekitarnya.
D. Ketentuan Prasarana dan Sarana Minimal
Ketentuan prasarana dan sarana minimal berfungsi sebagai
kelengkapan dasar fisik lingkungan dalam rangka menciptakan
lingkungan yang nyaman melalui penyediaan prasarana dan
sarana yang sesuai agar zona berfungsi secara optimal.
Prasarana yang diatur dalam peraturan zonasi dapat berupa
prasarana parkir, aksesibilitas untuk difabel, jalur pedestrian, jalur
sepeda, bongkar muat, dimensi jaringan jalan, kelengkapan jalan,
dan kelengkapan prasarana lainnya yang diperlukan. Ketentuan
prasarana dan sarana minimal ditetapkan sesuai dengan
ketentuan mengenai prasarana dan sarana yang diterbitkan oleh
instansi yang berwenang.
E. Ketentuan Pelaksanaan
Ketentuan pelaksanaan terdiri atas:
1. Ketentuan variansi pemanfaatan ruang yang merupakan
ketentuan yang memberikan kelonggaran untuk menyesuaikan
dengan kondisi tertentu dengan tetap mengikuti ketentuan
massa ruang yang ditetapkan dalam peraturan zonasi. Hal ini
dimaksudkan untuk menampung dinamika pemanfaatan ruang
mikro dan sebagai dasar antara lain transfer of development
rights (TDR) dan air right development yang dapat diatur lebih
lanjut dalam RTBL.
2. Ketentuan pemberian insentif dan disinsentif yang
merupakan ketentuan yang memberikan insentif bagi kegiatan
pemanfaatan ruang yang sejalan dengan rencana tata ruang
dan memberikan dampak positif bagi masyarakat, serta yang
memberikan disinsentif bagi kegiatan pemanfaatan ruang yang
tidak sejalan dengan rencana tata ruang dan memberikan
dampak negatif bagi masyarakat. Insentif dapat berbentuk

54

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
kemudahan perizinan, keringanan pajak, kompensasi, imbalan,
subsidi prasarana, pengalihan hak membangun, dan ketentuan
teknis lainnya. Sedangkan disinsentif dapat berbentuk antara
lain pengetatan persyaratan, pengenaan pajak dan retribusi
yang tinggi, pengenaan denda, pembatasan penyediaan
prasarana dan sarana, atau kewajiban untuk penyediaan
prasarana dan sarana kawasan.
3. Ketentuan untuk penggunaan lahan yang sudah ada dan tidak
sesuai dengan peraturan zonasi. Ketentuan ini berlaku untuk
pemanfaatan ruang yang izinnya diterbitkan sebelum
penetapan RDTR/peraturan zonasi, dan dapat dibuktikan
bahwa izin tersebut diperoleh sesuai dengan prosedur yang
benar.
.4.2.2 Materi Pilihan
Materi pilihan didalamnya memuat tentang ketentuan-ketentuan dan
standar yang terdiri dari tiga ketentuan dan satu standar yaitu ketentuan
tambahan,ketentuan khusus,standar teknis dan juga ketentuan
pengaturan zonasi.
A. Ketentuan Tambahan
Ketentuan tambahan adalah ketentuan lain yang dapat ditambahkan
pada suatu zona untuk melengkapi aturan dasar yang sudah ditetapkan.
Ketentuan tambahan berfungsi memberikan aturan pada kondisi yang
spesifik pada zona tertentu dan belum diatur dalam ketentuan dasar.
B. Ketentuan Khusus
Ketentuan khusus adalah ketentuan yang mengatur pemanfaatan zona
yang memiliki fungsi khusus dan diberlakukan ketentuan khusus sesuai
dengan karakteristik zona dan kegiatannya. Selain itu, ketentuan pada
zona-zona yang digambarkan di peta khusus yang memiliki pertampalan
(overlay) dengan zona lainnya dapat pula dijelaskan disini.
Komponen ketentuan khusus antara lain meliputi:
1. Zona keselamatan operasi penerbangan (KKOP)
2. Zona cagar budaya atau adat
3. Zona rawan bencana
4. Zona pertahanan keamanan (hankam)
5. Zona pusat penelitian
6. Zona pengembangan nuklir
7. Zona pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan pembangkit listrik
tenaga uap (PLTU)
8. Zona gardu induk listrik
9. Zona sumber air baku
10. Zona BTS.
11. Ketentuan mengenai penerapan aturan khusus pada zona-zona
khusus di atas ditetapkan sesuai dengan ketentuan yang
diterbitkan oleh instansi yang berwenang.
C. Standar Teknis
Standar teknis adalah aturan-aturan teknis pembangunan yang
ditetapkan berdasarkan peraturan/standar/ketentuan teknis yang
berlaku serta berisi panduan yang terukur dan ukuran yang sesuai

55

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
dengan kebutuhan. Standar teknis yang digunakan dalam penyusunan
RDTR mengikuti Standar Nasional Indonesia (SNI), antara lain SNI
Nomor 03-1733-2004 tentang Tata Cara Perencanaan Lingkungan
Perumahan di Perkotaan Lingkungan dan/atau standar lain.Tujuan
standar teknis adalah memberikan kemudahan dalam menerapkan
ketentuan teknis yang diberlakukan di setiap zona.
D. Ketentuan Pengaturan Zonasi
Ketentuan pengaturan zonasi adalah varian dari zonasi
konvensional yang dikembangkan untuk memberikan fleksibilitas
dalam penerapan aturan zonasi dan ditujukan untuk mengatasi
berbagai permasalahan dalam penerapan peraturan zonasi
dasar.Ketentuan pengaturan zonasi berfungsi untuk memberikan
fleksibilitas dalam penerapan peraturan zonasi dasar serta
memberikan pilihan penanganan pada lokasi tertentu sesuai dengan
karakteristik, tujuan pengembangan, dan permasalahan yang dihadapi
pada zona tertentu, sehingga sasaran pengendalian pemanfaatan
ruang dapat dicapai secara lebih efektif.

56

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
BAB III
KONDISI PERKOTAAN SELOMERTO
Dalam bahasan kondisi perkotaan Selomerto, akan diuraikan aspek
tinjauan kebijakan, keadaan geografis wilayah, fisik dasar, kependudukan,
perekonomian baik secara eksternal (Kabupaten Wonosobo) maupun secara
internal (Kecamatan Selomerto)
.1 Eksternal
Eksternal merupakan tinjauan terhadap perkotaan Selomerto dilihat dari
lingkup yang lebih makro yaitu kondisi nasional, provinsi, dan kabupaten dimana
perkotaan Selomerto itu berada. Adapun bahasan pokok dalam tinjauan
eksternal perkotann Selomerto adalah sebagai berikut :
.1.1
Kebijakan Regional
Dalam perencapnaan tata ruang kota terdapat kebijakan-kebijakan yang
berperan penting dalam pembangunan kota itu sendiri. Menurut undangundang No. 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang, kebijakan terdiri atas 2
macam yakni kebijakan pembangunan dan kebijakan tata ruang. Kebijakan
pembangunan terdiri atas : Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP),
Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM), dan Rencana
Pembangunan Jangka Pendek (RPJPD) yang disusun secara berhierarki dari
tingkat nasional sampai tingkat kabupaten. Lain halnya dengan kebijakan tata
ruang. Kebijakan tata ruang terbagi lagi menjadi 2 macam yaitu rencana umum
dan rencana rinci. Rencana umum meliputi : Rencana Tata Ruang Wilayah
Nasional (RTRWN), Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP), dan
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten (RTRWK). Untuk rencana rinci
meliputi : Rencana Tata Ruang Pulau/Kepulauan & Rencana Kawasan Strategis
Nasional untuk tingkat nasional, Rencana Kawasan Strategis Provinsi untuk
tingkat provinsi, Rencana Kawasan Strategis Kabupaten dan Rencana Detail
Tata Ruang Kabupaten (RDTRK) untuk tingkat kabupaten. Adapun kebijakan
regional untuk perkotaan Selomerto adalah sebagai berikut :
A. Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Rencana pembangunan jangka panjang merupakan rencana
pembangunan yang memiliki jangka waktu pelaksanaan 20 tahun. Secara
berhierarki rencana pembangunan jangka panjang terdiri atas :
1. Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Nasional
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional adalah dokumen
perencanaan pembangunan nasional yang merupakan jabaran dari tujuan
dibentuknya Pemerintahan Negara Indonesia yang tercantum dalam
Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945 dalam bentuk visi, misi, dan arah pembangunan nasional untuk masa
20 tahun ke depan yang mencakupi kurun waktu mulai dari tahun 2005
hingga tahun 2025.
Berdasarkan kondisi bangsa Indonesia saat ini, tantangan yang
dihadapi dalam 20 tahunan mendatang dengan memperhitungkan modal
dasar yang dimiliki oleh bangsa Indonesia dan amanat pembangunan yang
tercantum dalam Pembukaan Undang Undang Dasar Negara Republik

57

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
Indonesia Tahun 1945, visi pembangunan nasional tahun 20052025
INDONESIA YANG MANDIRI, MAJU, ADIL, DAN MAKMUR. Dalam
mewujudkan visi pembangunan nasional tersebut ditempuh melalui 8
(delapan) misi pembangunan nasional sebagai berikut :
1. Mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika,
berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila
2. Mewujudkan bangsa yang berdaya-saing
3. Mewujudkan masyarakat demokratis berlandaskan hukum
4. Mewujudkan Indonesia aman, damai, dan bersatu
5. Mewujudkan pemerataan pembangunan dan berkeadilan
6. Mewujudkan Indonesia asri dan lestari
7. Mewujudkan Indonesia menjadi negara kepulauan yang mandiri, maju,
kuat, dan berbasiskan kepentingan nasional
8. Mewujudkan Indonesia berperan penting dalam pergaulan dunia
internasional
Untuk mewujudkan misi yang telah ditetapkan pada rencana
pembangunan jangka panjang maka diterangkan pada suatu arahanarahan dalam mencapai misi rencana pembangunan jangka panjang
nasional tersebut.
2. Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Provinsi
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi
Jawa Tengah adalah dokumen perencanaan pembangunan Provinsi Jawa
Tengah yang merupakan jabaran dari tujuan dibentuknya Pemerintahan
Provinsi Jawa Tengah dalam bentuk visi, misi, dan arah pembangunan
daerah untuk masa 20 tahun ke depan yang mencakupi kurun waktu mulai
tahun 2005 sampai tahun 2025. Adapun tujuan penyusunan RPJPD ini
adalah untuk memberikan pedoman bagi penyusunan Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) yang memuat Visi,
Misi, Arah, dan Program Kepala Daerah terpilih.
Pembangunan Provinsi Jawa Tengah yang telah dilaksanakan selama
ini dalam kerangka pembangunan daerah dan nasional, telah menunjukkan
kemajuan di berbagai bidang kehidupan masyarakat, baik bidang social
budaya dan kehidupan beragama, ekonomi, ilmu pengetahuan dan
teknologi (Iptek), politik, keamanan dan ketertiban, hukum dan aparatur,
pembangunan wilayah dan tata ruang, penyediaan sarana dan prasarana,
maupun pengelolaan sumber daya alam (SDA) dan lingkungan hidup.
Berdasarkan kondisi Provinsi Jawa Tengah saat ini, tantangan yang
dihadapi dalam dua puluh tahunan mendatang, juga dengan
memperhitungkan modal dasar yang dimiliki oleh Jawa Tengah dalam
konstelasi Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka dirumuskan visi
pembangunan daerah tahun 20052025 JAWA TENGAH YANG
MANDIRI, MAJU, SEJAHTERA, DAN LESTARI. Dalam mewujudkan visi
pembangunan daerah tersebut ditempuh melalui 6 (enam) misi
pembangunan daerah sebagai berikut :
1. Mewujudkan sumber daya manusia dan masyarakat Jawa Tengah yang
berkualitas, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, cerdas,
sehat, serta berbudaya.
2. Mewujudkan perekonomian daerah yang berbasis pada potensi unggulan
daerah dengan dukungan rekayasa teknologi dan berorientasi pada
ekonomi kerakyatan.

58

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
3. Mewujudkan kehidupan politik dan tata pemerintahan yang baik (good
governance), demokratis, dan bertanggung jawab, didukung oleh
kompetensi dan profesionalitas aparatur, bebas dari praktik korupsi, kolusi
dan nepotisme (KKN), serta pengembangan jejaring.
4. Mewujudkan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup yang
optimal dengan tetap menjaga kelestarian fungsinya dalam menopang
kehidupan.
5. Mewujudkan kualitas dan kuantitas prasarana dan sarana yang menunjang
pengembangan wilayah, penyediaan pelayanan dasar dan pertumbuhan
ekonomi daerah.
6. Mewujudkan kehidupan masyarakat yang sejahtera, aman, damai, dan
bersatu dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
didukung dengan kepastian hukum dan penegakan HAM serta kesetaraan
dan keadilan gender.
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi
Jawa Tengah Tahun 20052025 yang berisi visi, misi, dan arah
pembangunandaerah merupakan pedoman bagi segenap pemangku
kepentingan di dalam penyelenggaraan pembangunan daerah Provinsi
Jawa Tengah selama kurun waktu 20 tahun yang akan datang. RPJPD ini
juga menjadi acuan dalam penyusunan RPJPD Kabupaten/Kota seProvinsi Jawa Tengah dan menjadi pedoman bagi calon Gubernur dan
Calon Wakil Gubernur dalam menyusun visi, misi, dan program prioritas
yang akan menjadi dasar dalam penyusunan Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Jawa Tengah yang
berdimensi waktu lima tahunan dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah
(RKPD) Provinsi Jawa Tengah yang berdimensi tahunan.
3. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kabupaten Wonosobo
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten
Wonosobo adalah dokumen perencanaan pembangunan Kabupaten
Wonosobo yang merupakan jabaran dari tujuan dibentuknya Pemerintahan
Kabupaten Wonosobo dalam bentuk visi, misi, dan arah pembangunan
Daerah untuk masa 20 tahun ke depan yang mencakup kurun waktu mulai
Tahun 2005 sampai Tahun 2025.
Adapun tujuan penyusunan RPJPD ini adalah untuk memberikan
pedoman bagi penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Daerah (RPJMD) yang memuat Visi, Misi, Arah, dan Program Kepala
Daerah terpilih. Berlandaskan kondisi Kabupaten Wonosobo saat ini,
tantangan yang dihadapi dalam dua puluh tahun mendatang, juga dengan
memperhitungkan modal dasar yang dimiliki oleh Kabupaten Wonosobo
dalam konstelasi Jawa Tengah, maupun NKRI-Negara Kesatuan Republik
Indonesia, maka dirumuskan visi pembangunan Daerah Tahun 2005-2025
WONOSOBO ASRI DAN BERMARTABAT
Visi pembangunan Daerah Tahun 2005-2025 itu mengarah pada
pencapaian cita-cita dan harapan masyarakat Wonosobo. Visi
pembangunan Daerah tersebut
harus dapat diukur untuk dapat
mengetahui arah yang akan dicapai menuju WONOSOBO ASRI DAN
BERMATABAT. Oleh karena itu, perlu kiranya diberikan penjelasan
makna visi untuk mendapatkan kesamaan persepsi tentang muatan
substansi filosofis yang terkandung, sehingga segenap pemangku

59

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
kepentingan secara sinergis dan optimal dapat memberikan kontribusi
dalam rangka pencapaiannya. Dalam mewujudkan visi pembangunan
Daerah tersebut ditempuh melalui 6 (enam) misi pembangunan Daerah
sebagai berikut :
1. Mewujudkan sumber daya manusia Kabupaten Wonosobo yang
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, sehat lahir
batin, berpendidikan, berbudaya, kreatif dan inovatif.
2. Mewujudkan perekonomian daerah Kabupaten Wonosobo yang
tangguh dan berbasis pada potensi unggulan daerah dengan
memanfaatkan teknologi inovatif yang ramah lingkungan disertai
penguatan kelembagaan usaha mikro dan kecil serta penguatan
lembaga koperasi dalam rangka pemberdayaan ekonomi rakyat.
3. Mewujudkan kehidupan politik dan tata pemerintahan yang demokratis,
bersih, bertanggung jawab yang didukung oleh aparatur pemerintahan
yang profesional, dan terbebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme
(KKN) disertai partisipasi rakyat secara penuh.
4. Mewujudkan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup
Kabupaten Wonosobo yang optimal dengan tetap menjaga
keseimbangan dan pelestarian fungsi dan keberadaannya dalam
upaya menopang kehidupan dan penghidupan dimasa yang akan
datang.
5. Mewujudkan tersedianya prasarana dan sarana publik baik secara
kuantitatif maupun kualitatif dengan perawatan yang memadai.
6. Mewujudkan kehidupan masyarakat Kabupaten Wonosobo yang
sejahtera lahir dan batin, mandiri dan bermartabat,
dengan
menghormati hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) serta keadilan dan
kesetaraan gender.
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten
Wonosobo Tahun 20052025 yang berisi visi, misi, dan arah pembangunan
Daerah merupakan pedoman bagi segenap pemangku kepentingan dalam
penyelenggaraan pembangunan Daerah selama kurun waktu 20 tahun
yang akan datang.
RPJPD ini juga menjadi acuan dalam penyusunan RPJPD Sektoral
dan Wilayah se-Kabupaten Wonosobo dan menjadi pedoman bagi calon
Bupati dan Calon Wakil Bupati dalam menyusun visi, misi, dan program
prioritas yang
akan menjadi dasar dalam penyusunan Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Wonosobo
yang berdimensi waktu lima tahunan dan Rencana Kerja Pemerintah
Daerah (RKPD) Kabupaten Wonosobo yang berdimensi tahunan.
B. Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Rencana pembangunan jangka panjang merupakan rencana
pembangunan yang memiliki jangka waktu pelaksanaan 20 tahun. Secara
berhierarki rencana pembangunan jangka panjang terdiri atas :
1. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
Dalam pelaksanaan pembangunan yang dapat menjaga peningkatan
kualitas sosial masyarakat yang berlangsung saat ini, dalam
pembangunan bidang pendidikan dan kesehatan masih terdapat
beberapa permasalahan, antara lain perluasan lapangan kerja dan

60

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
penurunan kemiskinan membaik, namun masalah nutrisi khususnya di
tingkat balita, jumlah absolut penduduk miskin dan pengangguran masih
cukup besar.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun
2010-2015 memiliki arah kebijakan dan strategi pembangunan yaitu
sebagai berikut :
1. Meningkatkan upaya keberlanjutan pembangunan ekonomi, melalui
strategi :
a. Peningkatan pertumbuhan ekonomi yang terus terjaga secara
positif dengan pengurangan kesejangan antar wilayah.
b. Peningkatan tingkat pendapatan (per kapita) serta pengurangan
kesenjangan pendapatan atar kelompok.
c. Peningkatan lapangan pekerjaan sehingga tingkat pengangguran
menurun.
d. Penurunan tingkat kemiskinan sehingga jumlah penduduk miskin
berkurang.
e. Ketahanan pangan termasuk stabilisasi harga sehingga tingkat
inflasi rendah.
f. Ketahanan energi, utamanya peningkatan akses masyarakat
terhadap energi, peningkatan efisiensi dan bauran energi nasional.
g. Peningkatan akses transportasi/mobilitas masyarakat.
h. Penerapan pola produksi/kegiatan ekonomi dan pola konsumsi
hemat (tidak boros) dan ramah lingkungan.
2. Meningkatkan upaya keberlanjutan pembangunan sosial, melalui
strategi :
a. Peningkatan kesetaraan gender untuk 3akses/kesempatan
pendidikan, kegiatan ekonomi dan keterwakilan perempuan dalam
organisasi.
b. Peningkatan keterjangkauan layanan dan akses pendidikan,
kesehatan, perumahan, pelayanan air bersih dan sanitasi
masyarakat.
c. Peningkatan keterjangkauan layanan dan akses pendidikan,
kesehatan,perumahan, pelayanan air bersih dan sanitasi
masyarakat.
d. Peningkatan pengendalian pertumbuhan penduduk.
e. Peningkatan pelaksanaan demokrasi (indek demokrasi)
f. Pengendalian kekerasan terhadap anak, perkelahian, kekerasan
dalam rumah.
3. Meningkatkan upaya keberlanjutan pembangunan lingkungan hidup,
melalui strategi:
a. Peningkatan kualitas air, udara dan tanah yang tercermin dalam
peningkatan skor IKLH.
b. Penurunan emisi GRK.
c. Penurunan tingkat deforestasi dankebakaran hutan, meningkatnya
tutupan hutan (forest cover) sertapenjagaan terhadap keberadaan
keanekaragaman hayati.
d. Pengendalian pencemaran laut, pesisir, sungai, dan danau.
e. Pemeliharaan terhadap sumber-sumber mata air dan Daerah
Aliran Sungai (DAS)
f. pengurangan limbah padat dan Bahan Berbahaya dan Beracun
(B3).

61

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
4.

2.

Meningkatkan tata kelola pembangunan yang secara transparan,


partisipatif, inklusif dan peningkatan standar pelayanan minimum di
semua bidang dan wilayah untuk mendukung terlaksananya
pembangunan berkelanjutan di berbagai bidang.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Provinsi


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Provinsi Jawa Tengah
Tahun 2013-2018 diatur dalam Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah
No.5 Tahun 2014. Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013-2018 adalah sebagai
berikut :
1. Visi
Visi Provinsi Jawa Tengah merupakan gambaran kondisi masa depan
yang dicita-citakan dapat terwujud dalam kurun waktu lima tahun yaitu
Tahun 2013 - 2018. Sebagai gambaran tentang apa yang ingin
diwujudkan di akhir periode perencanaan, maka visi tersebut dapat
disebut sebagai Visi Provinsi Jawa Tengah. yang akan diwujudkan
pada akhir Tahun 2018 untuk menggambarkan tujuan utama
penyelenggaraan pemerintahan bersama pemerintah daerah, DPRD,
dunia usaha, dan masyarakat pada umumnya. Sesuai dengan visi
Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih, maka Visi pembangunan daerah
jangka menengah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013 - 2018 adalah
MENUJU JAWA TENGAH SEJAHTERA DAN BERDIKARI. Visi
Pembangunan Provinsi Jawa Tengah ini diharapkan akan mewujudkan
keinginan dan amanat masyarakat Provinsi Jawa Tengah dengan tetap
mengacu pada pencapaian tujuan nasional seperti diamanatkan dalam
Pembukaan UUD 1945 khususnya bagi masyarakat Provinsi Jawa
Tengah, memperhatikan RPJMN, dan RPJPD Provinsi Jawa Tengah
Tahun 2005-2025. Visi Pembangunan Provinsi Jawa Tengah tersebut
harus dapat diukur keberhasilannya dalam rangka mewujudkan
Provinsi Jawa Tengah yang Sejahtera dan Berdikari dengan dilandasi
semangat dan nilai keutamaan Mboten Korupsi, Mboten Ngapusi
2. Misi
Perwujudan visi pembangunan ditempuh melalui misi untuk
memberikan arah dan batasan proses pencapaian tujuan, maka
ditetapkan 7 (tujuh) misi Pembangunan Jangka Menengah Daerah
Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013-2018, sebagai berikut:
a. Membangun Jawa Tengah berbasis Trisakti Bung Karno,
Berdaulat di Bidang Politik, Berdikari di Bidang Ekonomi, dan
Berkepribadian di Bidang Kebudayaan.
Misi pertama merupakan kerangka acuan bagi enam misi lainnya
dengan mentransformasikan nilai Trisakti dalam setiap misi. Kebijakan
Pembangunan Jawa Tengah memiliki karakter berbasis pada nilai
ideologi Trisakti Bung Karno yaitu Berdaulat di Bidang Politik, Berdikari
di Bidang Ekonomi, dan Berkepribadian di Bidang Kebudayaan.
Landasan Trisakti ini perlu juga diaktualisasikan sebagai respon atas
perubahan situasi global yang memiliki dampak pada posisi kedaulatan
negara, khususnya kedaulatan atas pangan dan energi sebagai
prasyarat keberdikarian sebuah bangsa.

62

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
b. Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat yang Berkeadilan,
Menanggulangi Kemiskinan dan Pengangguran.
Misi ini diarahkan untuk mewujudkan kebijakan yang sistematis dalam
rangka mengangkat derajat kelompok miskin dan hampir miskin yang
sebagian besar berada di perdesaan, dengan kebijakan pengalokasian
anggaran yang proporsional dan pembangunan yang berkeadilan.
Afirmasi pelaksanaan misi melalui kemudahan akses permodalan,
dukungan teknologi dan informasi, jaminan ketahanan pangan,
pengendalian alih fungsi lahan yang didukung dengan reformasi
agraria, kemandirian energi, peningkatan kesejahteraan pekerja,
mewujudkan keadilan gender dan perlindungan anak, perluasan akses
dan kualitas pelayanan dasar, penciptaan dan perluasan lapangan
kerja, peningkatan produktivitas industri dan nilai investasi.
c. Mewujudkan Penyelenggaraan Pemerintahan Provinsi Jawa
Tengah yang Bersih, Jujur dan Transparan, Mboten Korupsi,
Mboten Ngapusi
Misi ini diarahkan untuk mewujudkan reformasi birokrasi melalui
penyelenggaraan pemerintahan yang transparan dan akuntabel,
dengan didukung sumber daya aparatur yang profesional,
kelembagaan yang tepat fungsi dan ukuran, sistem kerja yang jelas
dan terukur, kebijakan penganggaran yang efisien, serta pemanfaatan
teknologi informasi untuk mencapai pelayanan prima.
d. Memperkuat
Kelembagaan
Sosial
Masyarakat
untuk
Meningkatkan Persatuan dan Kesatuan
Misi ini diarahkan untuk mewujudkan penguatan kelembagaan sosial
masyarakat melalui pelibatan kelembagaan sosial dalam proses
perencanaan partisipatif, revitalisasi kearifan lokal yang diadopsi dalam
proses komunikasi politik, serta peningkatan peran dan fungsi seni
budaya.
e. Memperkuat
Partisipasi
Masyarakat
dalam
Pengambilan
Keputusan dan Proses Pembangunan yang Menyangkut Hajat
Hidup Orang Banyak
Misi ini diarahkan untuk memperkuat peran dan meningkatkan
partisipasi masyarakat dalam pembangunan yang menyangkut hajat
hiduporang banyak dan pengambilan keputusan melalui partisipasi
aktif masyarakat sejak tahap perencanaan, pelaksanaan hingga
pengawasan, serta sinkronisasi pembangunan pusat dan daerah.
f. Meningkatkan Kualitas Pelayanan Publik untuk Memenuhi
Kebutuhan Dasar Masyarakat
Misi ini diarahkan untuk pemenuhan layanan dasar, pendidikan,
kesehatan, permukiman, jaringan irigasi dan air baku melalui
perluasan akses dan penyediaan prasarana dan sarana serta
pemenuhan standar pelayanan minimal.
g. Meningkatkan Infrastruktur untuk Mempercepat Pembangunan
Jawa Tengah yang Berkelanjutan dan Ramah Lingkungan
Misi ini diarahkan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas
infrastruktur yang mendukung pertumbuhan dan kelancaran
perekonomian dengan tetap memperhatikan Rencana Tata Ruang
Wilayah sesuai daya dukung dan daya tampung lingkungan, serta

63

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
antisipasi bencana yang mengancam keberadaan sumber daya
potensial dan strategis.
3. Tujuan dan Sasaran
Tujuan dan sasaran pada hakekatnya merupakan arahan bagi pelaksanaan
setiap urusan pemerintahan daerah dalam mendukung pelaksanaan misi,
untuk mewujudkan visi pembangunan Provinsi Jawa Tengah selama kurun
waktu 2013-2018. Tujuan dan sasaran pada masing-masing misi diuraikan
sebagai berikut :
a. Membangun Jawa Tengah berbasis Trisakti Bung Karno,
Berdaulat di Bidang Politik, Berdikari di Bidang Ekonomi, dan
Berkepribadian di Bidang Kebudayaan
1. Tujuan
: Memberikan haluan pada 6 (enam) misi yang lain
dalam pengamalan ajaran Tri Sakti Bung Karno.
2. Sasaran : Meningkatnya demokratisasi, kesejahteraan dan
nilai-nilai budaya berbasis ajaran Trisakti Bung Karno.
b. Kesejahteraan Masyarakat yang Berkeadilan, Menanggulangi
Kemiskinan dan Pengangguran
1. Tujuan :
a. Menurunkan jumlah penduduk miskin;
b. Menurunkan jumlah penganggur;
c. Mengembangkan Koperasi dan UMKM;
d. Mewujudkan Desa Mandiri/ Berdikari melalui Kedaulatan
Pangan dan Kedaulatan Energi;
e. Meningkatkan kelembagaan ekonomi pedesaan;
f. Meningkatkan produk berkualitas ekspor dan penggunaan
produk dalam negeri;
g. Meningkatkan iklim dan pengembangan investasi;
h. Mewujudkan pembangunan yang berkeadilan;
i. Meningkatkan pencegahan permasalahan sosial dan
pemerataan akses pelayanan bagi PMKS.
2. Sasaran :
a. Menurunnya angka kemiskinan.
b. Menurunnya Tingkat Pengangguran Terbuka.
c. Terjaminnya kedaulatan pangan melalui ketersediaan
(produksi dan cadangan pangan), keterjangkauan, konsumsi
pangan dan gizi serta keamanan pangan berbasis bahan
baku, sumber
daya dan kearifan lokal.Terjaminnya
ketersediaan energi dengan potensi lokal.
d. Meningkatnya jumlah dan kualitas daya saing dan
produktivitas Koperasi.
e. Meningkatnya kelembagaan ekonomi pedesaan.
f. Meningkatnya kualitas produk unggulan orientasi ekspor dan
pengendalian impor non migas.
g. Meningkatnya realisasi investasi.
h. Meningkatnya keadilan gender dan perlindungan anak.
i. Meningkatnya kualitas hidup serta perlindungan terhadap perempuan dan
anak termasuk anak berkebutuhan khusus.
j. Meningkatnya
ketersediaan,
keterjangkauan
dan
kesetaraan
penyelenggaraan pendidikan.

64

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
c.

d.

Mewujudkan Penyelenggaraan Pemerintahan Provinsi Jawa Tengah


yang Bersih, Jujur dan Transparan, Mboten Korupsi, Mboten
Ngapusi
1. Tujuan :
a. Menciptakan penyelenggara pemerintahan daerah yang kompeten,
profesional, berdedikasi tinggi dan berorientasi pada pelayanan
prima.
b. Menciptakan sistem birokrasi yang transparan dan akuntabel.
c. Melaksanakan penegakan hukum
2. Sasaran :
a. Meningkatnya kinerja tata kelola pemerintahan provinsi.
b. Meningkatnya profesionalisme dan kompetensi aparatur serta sistem
pola karier yang jelas.
c. Meningkatnya cakupan layanan pengukuran Indeks Kepuasan
Masyarakat (IKM) terhadap penyelenggaraan pemerintah daerah.
d. Terwujudnya kelembagaan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP)
e. Terwujudnya tertib administrasi kependudukan;
f. Terwujudnya penyelenggaraan pemerintahan yang bebas Korupsi,
Kolusi,dan Nepotisme.
g. Tercapainya laporan keuangan daerah dengan opini Wajar Tanpa
Pengecualian.
h. Terwujudnya Sistem Pengendalian Intern Pemerintah;
i. Terwujudnya penegakan dan harmonisasi produk hukum yang
mendorong
pencapaian
akuntabilitas
dan
kondusivitas
penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan.
Memperkuat Kelembagaan Sosial Masyarakat untuk Meningkatkan
Persatuan dan Kesatuan
1. Tujuan :
a. Menurunkan potensi konflik antar kelompok masyarakat, suku dan
agama.
b. Memperkuat Pancasila sebagai dasar negara dan 3 pilar
kebangsaan dalam budaya dan jati diri masyarakat.
c. Meningkatkan partisipasi politik masyarakat.
d. Mewujudkan budaya Jawa Tengah yang semakin berkembang pada
semua aspek kehidupan.
2. Sasaran :
a. Tertanganinya kejadian konflik antar kelompok masyarakat, suku
dan agama.
b. Meningkatnya peran kelembagaan sosial masyarakat dalam
menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya dan jati diri bangsa.
c. Menguatnya semangat kebangsaan, persatuan dan jiwa patriotik.
d. Meningkatnya partisipasi politik masyarakat.
e. Meningkatnya peran partai politik dan organisasi masyarakat dalam
proses demokrasi.
f. Meningkatnya keterwakilan perempuan di dalam politik.
g. Meningkatnya pemahaman masyarakat atas budaya Jawa.
h. Meningkatnya sikap dan perilaku masyarakat yang dijiwai oleh
keluhuran budaya Jawa.
i. Meningkatnya pelaksanaan tradisi budaya Jawa dalam kehidupan
masyarakat.

65

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
e.

f.

g.

Memperkuat Partisipasi Masyarakat dalam Pengambilan Keputusan


dan Proses Pembangunan yang Menyangkut Hajat Hidup Orang
Banyak
1. Tujuan :
a. Meningkatkan peran masyarakat dalam proses perencanaan,
pelaksanaan dan pengawasan pembangunan.
b. Meningkatkan kesesuaian program pembangunan dengan kebutuhan
dan permasalahan yang dialami masyarakat.
2. Sasaran :
a. Meningkatnya keterlibatan masyarakat dalam proses. perencanaan,
pelaksanaan dan pengawasan pembangunan.
b. Berkurangnya kesenjangan pembangunan antar wilayah.
c. Meningkatnya ketepatan waktu dan mutu pelaksanaan pembangunan
daerah
Meningkatkan Kualitas Pelayanan Publik untuk Memenuhi Kebutuhan
Dasar Masyarakat
1. Tujuan :
a. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat;
b. Meningkatkan ketersediaan, keterjangkauan, kualitas, kesetaraan
dan kepastian dalam penyelenggaraan pendidikan;
c. Meningkatkan budaya baca masyarakat;
d. Meningkatkan kualitas lingkungan permukiman;
e. Meningkatkan penanganan infrastruktur pertanian dalam arti luas.
2. Sasaran :
a. Menurunnya angka kematian dan angka kesakitan.
b. Menurunnya Drop Out (DO) KB dan Unmet Need serta meningkatnya
peserta KB aktif/Contraceptive Prevalence Rate (CPR).
c. Meningkatnya kesempatan masyarakat mengenyam pendidikan.
d. Meningkatnya kualitas pendidikan.
e. Meningkatnya budaya baca masyarakat.
f. Meningkatnya pemenuhan kebutuhan air minum, sanitasi,
perumahan layak huni.
g. Meningkatnya kinerja layanan jaringan irigasi dan ketersediaan air
baku serta partisipasi masyarakat.
Meningkatkan Infrastruktur untuk Mempercepat Pembangunan Jawa
Tengah yang Berkelanjutan dan Ramah Lingkungan
1. Tujuan :
a. Meningkatkan daya dukung infrastruktur dan pelayanan transportasi.
b. Meningkatkan kualitas dan kapasitas infrastruktur komunikasi.
c. Menerapkan konsep ramah lingkungan dalam setiap pembangunan.
d. Meningkatkan ketangguhan dalam penanggulangan bencana.
2. Sasaran :
a. Meningkatnya kinerja penanganan jalan dan jembatan.
b. Meningkatnya ketersediaan dan kondisi moda serta keselamatan
transportasi.
c. Meningkatnya penanganan banjir dan rob serta pantai kritis di muara
sungai.
d. Meningkatnya kondisi dan ketersediaan infrastruktur dan transportasi
strategis dan peran serta masyarakat.
e. Meningkatnya cakupan masyarakat pengguna sarana teknologi
komunikasi dan informasi.

66

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
f.
g.

3.

Terwujudnya pembangunan berwawasan lingkungan.


Meningkatnya kapasitas kelembagaan dan masyarakat dalam
penanggulangan bencana.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Wonosobo
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Wonosobo Tahun
2010-2015 diatur dalam Peraturan Daerah (PERDA) No. 1 Tahun 2010.
RPJMD 2010 - 2015 ini selanjutnya menjadi pedoman bagi Satuan Kerja
Perangkat Daerah dalam menyusun Rencana Strategis Satuan Kerja
Perangkat Daerah (Renstra-SKPD) dan Desa dalam menyusun rencana
pembangunan jangka menengah desa (RPJM Desa) masing-masing dalam
rangka pencapaian sasaran pembangunan daerah. Untuk pelaksanaan
lebih lanjut, RPJMD akan dijabarkan ke dalam Rencana Kerja Pemerintah
Daerah (RKPD) yang akan menjadi pedoman bagi penyusunan Rancangan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD).
RPJMD 2010 - 2015 disusun memuat strategi, kebijakan umum, dan
kerangka ekonomi makro yang merupakan penjabaran dari Visi, Misi, dan
Program Aksi serta prioritas pembangunan daerah dari Bupati Wakil
Bupati, H.A KHOLIQ ARIF dan Hj. MAYA ROSIDA dengan visi
WONOSOBO YANG SEMAKIN MAJU DAN SEJAHTERA .
Dengan demikian, RPJMD 2010 - 2015 adalah pedoman bagi
Pemerintah Kabupaten Wonosobo, Pemerintahan Desa, masyarakat, dan
dunia usaha dalam melaksanakan pembangunan dalam rangka mencapai
tujuan pembangunan nasional dan tujuan bernegara yang tercantum dalam
Pembukaan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945.
Adapun Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran dari Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Kabupaten Wonosobo Tahun 2010-2015 adalah sebagai
berikut :
1. Visi
Visi Daerah jangka menengah yang tertuang dalam dalam RPJMD
Tahun 2010 - 2015 adalah WONOSOBO YANG LEBIH MAJU DAN
SEJAHTERA
LEBIH MAJU memiliki pengertian : Meningkatkan kemajuan
pembangunan daerah dibidang sosial, ekonomi, politik dan hukum
menuju kemandirian daerah. Kemajuan dibidang sosial diukur dengan
kualitas sumberdaya manusia yang tercermin dari sumber daya
manusia yang memiliki karakter dan kepribadian bangsa, ahklak mulia,
berkualitas, berpendidikan yang tinggi, dengan derajad kesehatan
yang baik dan produktivitas yang tinggi. Kemajuan dibidang ekonomi
diukur dari kemakmuran yang tercermin dari tingkat pendapatan yang
tinggi dan distribusi yang merata. Kemajuan dibidang politik dan
hukum diukur dari semakin mantapnya lembaga politik dan hukum
yang tercermin dari berfungsinya lembaga politik dan kemasyarakatan
sesuai konstitusi, meningkatnya peran aktif masyarakat dalam segala
aspek kehidupan.
LEBIH SEJAHTERA memiliki pengertian : Pembangunan daerah bukan
hanya untuk kemajuan dan kemandirian, tetapi juga untuk kesejahteraan,
yaitu suatu kondisi yang semakin baik dan damai dalam arti, dalam arti
semakin adil dan tidak ada kekerasan dalam bentuk apapun.
2. Misi

67

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
Misi Pembangunan 2010 - 2015 merupakan bagian awal dari proses
menuju cita-cita tersebut dan pada dasarnya merupakan rumusan dari
usaha-usaha yang diperlukan untuk mencapai visi Wonosobo 2015,
yaitu terwujudnya Wonosobo yang semakin Maju dan Sejahtera,
namun tidak dapat terlepas dari kondisi dan tantangan lingkungan
global, nasional dan regional pada kurun waktu 2010 - 2015 yang
mempengaruhinya. Misi pemerintah dalam periode 2010 - 2015
diarahkan untuk mewujudkan Wonosobo yang lebih maju dalam
bidang sosial, budaya, ekonomi, politik dan hukum menuju
kemandirian daerah serta meningkatkan kualitas kondisi yang sudah
baik dan damai dalam arti menghilangkan segala bentuk kekerasan
dan mewujudkan keadilan sebagai cermin demokrasi substansial.
Usaha-usaha Perwujudan Visi Wonosobo 2015 akan dijabarkan dalam
misi tahun 2010 - 2015 sebagai berikut:
a. Melanjutkan praktik pemerintahan partisipatif dan demokratis
menuju masyarakat yang lebih sejahtera.
b. Meningkatkan kemajuan pembangunan menuju kemandirian
daerah.
c. Meningkatkan pelayanan sosial dasar untuk mewujudkan
kesejahteraan masyarakat.
d. Meningkatkan perekonomian daerah yang berbasis pada potensi
unggulan daerah.
e. Meningkatkan dimensi keadilan dan meniadakan kekerasan dalam
semua bidang.
3. Tujuan dan Sasaran
Tujuan pembangunan daerah Kabupaten Wonosobo tahun 2010
2015 yang dikelompokkan menurut misi adalah sebagai berikut:
Misi : Melanjutkan praktik pemerintahan partisipatif dan
demokratis menuju masyarakat yang lebih sejahtera, dengan
tujuan dan sasaran :
1. Mengefektifkan penyelenggaraan Otonomi Daerah, dengan
sasaran :
a. Meningkatnya kualitas peraturan perundang-undangan daerah.
b. Optimalisasi Sistem Pengawasan dan Evaluasi Kinerja.
c. Meningkatnya kinerja DPRD.
2. Memantapkan penyelenggaraan pemerintahan umum, dengan
sasaran:
a. Optimalisasi pelaksanaan kerjasama daerah dengan pihak ketiga.
b. Meningkatnya kualitas pelayanan umum.
c. Optimalisasi ketentraman, ketertiban umum dan perlindungan
masyarakat.
d. Optimalisasi koordinasi perlindungan dan Penegakan Hak Asasi
Manusia (HAM).
e. Optimalisasi pengelolaan perbatasan daerah.
3. Memantapkan pengelolaan administrasi keuangan daerah, dengan
sasaran :
a. Meningkatnya Efektivitas, efisiensi, transparansi dan akuntabilitas
pengelolaan keuangan daerah.
b. Meningkatnya pendapatan asli daerah.
c. Meningkatkan kualitas pengelolaan aset daerah.

68

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
d. Optimalisasi pengembangan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD)
e. Optimalisasi pengelolaan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD)
f. Optimalisasi pelaksanaan, penatausahaan, akuntansi dan
pertanggungjawaban pelaksanaan APBD dan APB Desa.
4. Mewujudkan OPD yang efektif dan efisien, dengan sasaran :
a. Terbentuknya OPD yang tepat fungsi dan ukuran
b. Tersedianya Sistem, Prosedur dan mekanisme kerja OPD inter
antar OPD dalam kerangka Kabupaten satu atap
5. Peningkatan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah, dengan
sasaran :
a. Peningkatan kualitas dan otentisitas penerapan sistem
akuntabilitas kinerja instansi pemerintah (SAKIP)
b. Peningkatan akuntablitas penyelenggaraan pemerintahan daerah
6. Mewujudkan SDM Aparatur yang profesional, netral, dan sejahtera,
dengan sasaran :
a. Terselenggaranya pengembangan kapasitas PNS
b. Meningkatnya kinerja Aparatur
7. Mewujudkan sistem perencanaan yang berkualitas, dengan sasaran
Meningkatnya kualitas perencanaan pembangunan
8. Mewujudkan Pemerintahan desa yang baik, dengan sasaran
Meningkatnya kualitas penyelenggaraan pemerintahan desa
9. Mewujudkan Kelembagaan Masyarakat desa yang berdaya dan
mandiri, dengan sasaran :
a. Berfungsinya Lembaga kemasyarakatan desa sesuai kedudukan,
tugas dan wewenangnya
b. Berkembangnya BUMDesa
10. Meningkatkan keberdayaan masyarakat, dengan sasaran
a. Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan
pembangunan desa
b. Meningkatnya keberdayaan masyarakat miskin
11. Peningkatan kualitas data statistik , dengan sasaran tersedianya data
statistik sesuai dengan kebutuhan perencanaan embangunan dan
mudah diakse oleh pihak-pihak yang membutuhkan
12. Mewujudkan Tata Kelola Kearsipan yang baik dengan sasaran:
Meningkatnya kualitas sistem kearsipan
13. Meningkatkan penyelenggaraan Komunikasi dan Informatika di
daerah, dengan sasaran:
a. Tersedianya media informasi publik
b. Teraksesnya informasi oleh masyarakat
c. Meningkatnya kualitas kerjasama Pemerintah Kabupaten di bidang
komunikasi dan informasi
14. Meningkatkan
Pemanfaatan
TIK
dalam
penyelenggaraan
pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat, dengan sasaran :
terselenggaranya pemerintahan berbasis TIK
15. Meningkatkan kualitas tata kelola pertanahan, dengan sasaran :
a. Meningkatnya kualitas tata kelola pertanahan
16. Meningkatkan kualitas administrasi kependudukan dan Catatan sipil,
dengan sasaran :
a. Adanya kesesuaian kebijakan penyelenggaraan administrasi
kependudukan dan catatan sipil.

69

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
b. Adanya kesesuaian kebijakan
kependudukan dan catatan sipil.

penyelenggaraan

administrasi

3.1.1.2 Kebijakan Tata Ruang


Kebijakan tata ruang yang dibahas disini adalah Rencana Tata Ruang
Wilayah (RTRW), mulai dari tingkat nasional sampai pada tingkat Kabupaten
Wonosobo
A. Tinjauan kebijakan RTRW Nasional pada wilayah Kabupaten
Wonosobo
Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional yang selanjutnya disebut RTRWN
adalah arahan kebijakan dan strategi pemanfaatan ruang wilayah negara.
Arahan perencanaan tata ruang dalam RTRWN, dibahas secara umum
pada wilayah kabupaten/kota. Dalam pembuatan Rencana Detail Tata
Ruang, RTRWN digunakan sebagai acuan untuk perencanaan kawasan
yang akan dikembangkan.
Adapun arahan-arahan yang terdapat dalam RTRWN untuk wilayah
Kabupaten Wonosobo adalah sebagai berikut :
a. Kabupaten Wonosobo dalam RTRWN sebagai pusat kegiatan wilayah
dengan tahapan pengembangan II dengan Revatalisasi dan
Percepatan Pengembangan Kota-Kota Pusat Pertumbuhan Nasional
dalam hal pengembangan atau peningkatan Fungsi (PKW II/C/1)
b. Kabupaten Wonosobo Provinsi Jawa Tengah terdapat sungai serayu
yang menyambung ke Sungai Bogowoso dengan keterangan Strategis
Nasional Dengan Tahapan I-IV Konservasi Sumber Daya Air,
Pendayagunaan SDA, dan Pengendalian Daya Rusak Air.
Dalam arahan yang telah ditetapkan dalam RTRWN, dapat dilihat
bahwa perencanaan diarahakan pada pengembangan kota dan
pemanfaatan sungai serayu sebagai sumber air, masyarakat wonosobo.
Pengembangan kota tentunya akan dikembangkan pada kawasan yang
telah ditetapkan dalam RTRW Kabupaten Wonosobo yaitu sistem
perkotaan PKW yaitu Kecamatan Wonosbo, PKLp yaitu Kecamatan
Selomerto dan Kertek, PPK yaitu Kecamatan Mojotengah,Kejajar dan
Sapuran, PPL yaitu Kecamatan Kepil, Kaliwiro, Wadaslintang, Leksono,
Kalijajar, Garung, Watumalang, Sukoharjo, dan Kalibawang.
Konservasi sumber daya air, merupakan arahan dari RTRWN untuk
pengembangan sungai serayu. Dalam RTRW Kabupaten Wonosobo,
sistem wilayah sungai meliputi wilayah strategis Serayu-Bogowonto dan
Wilayah starategis Progo-Opak-Serayu. Rencana jaringan sarana dan
prasaran air bersih yang ada pada Kabupaten Wonosobo, telah
disesuaikan dengan arahan yang di tetatapkan dalam RTRWN.
B. Tinjauan kebijakan RTRW Provinsi Jawa Tengah pada wilayah
Kabupaten Wonosobo
Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Tengah yang selanjutnya
disingkat RTRWP Jawa Tangah adalah arahan kebijakan dan strategi
pemanfaatan ruang wilayah daerah yang menjadi pedoman bagi penataan
ruang wilayah Daerah yang merupakan dasar dalam penyusunan program
pembangunan.
a. Kebijakan pengembangan struktur ruang meliputi:

70

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
b.
a)
b)
a)

b)

c)

d)
e)

f)

g)

h)
i)
c.
-

Peningkatan pelayanan perdesaan dan pusat pertumbuhan ekonomi


perdesaan.
Peningkatan pelayanan perkotaan dan pusat pertumbuhan ekonomi
wilayah yang merata dan berhirarki.
Peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan infrastruktur
transportasi, telekomunikasi, energi, dan sumber
Kebijakan pengembangan struktur ruang meliputi:
Kebijakan pengembangan kawasan lindung.
Pemeliharaan dan perwujudan kelestarian fungsi dan daya dukung
lingkungan hidup.
Pencegahan dmpak negatif kegiatan manusia yang dapat menimbulkan
kerusakan lingkungan hidup.
Kebijakan Pengembangan Kawasan Budidaya meliputi:
Menetakan kawasan budidaya memiliki nilai strategis Provinsi untuk
pemanfaatan sumber daya alam di ruang darat, ruang laut, dan ruang
udara termasuk ruang di dalam bumi secara sinergis untuk mewujudkan
keseimbangan pemanfaatan ruang wilayah.
Mengembangkan kegiatan budidaya unggulan di dalam kawasan
beserta infrastruktur secara sinergis dan berkelanjutan untuk mendorong
pengembangan perekonomian kawasan dan wilayah sekitarnya.
Mengembangkan kegiatan budidaya untuk menunjang aspek politik,
pertahanan dan keamanan, sosial budaya, ekonomi serta ilmu
pengetahuan dan teknologi.
Mengembangkan dan melestarikan kawasan budidaya pertanian untuk
mewujudkan ketahanan pangan daerah dan/ atau nasional.
Mengembangkan dan melestarikan kawasan budidaya hutan produksi,
perkebunan, peternakan untuk mewujudkan nilai tambah daerah dan/
atau nasional.
Mengembangkan dan melestarikan kawasan peruntukan industri untuk
mewujudkan nilai tambah dan meningkatkan perekonomian daerah dan/
atau nasional.
Mengembangkan kawasan pesisir dan pulau pulau kecil untuk
meningkatkan daya saing dan mewujudkan skala ekonomi pada sektor
perikanan dan pariwisata.
Mengembangkan kegiatan pengelolaan sumber daya kelautan yang
bernilai ekonomi tinggi untuk meningkatkan perekonomian daerah.
Mengembangkan kegiatan pengelolaan sumber daya lahan untuk
meningkatkan kualitas permukiman.
Kebijakan pengembangan kawasan strategis meliputi :
Pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup
untuk mempertahankan dan meningkatkan keseimbangan ekosistem,
melestarikan
keanekaragaman
hayati,
mempertahankan
dan
meningkatkan fungsi perlindungan kawasan, melestarikan keunikan
bentang alam, dan melestarikan warisan budaya daerah.
Pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan pertahanan dan
keamanan dalam kerangka ketahanan nasional dengan menjaga dan
memelihara aset aset pertahanan dan keamanan.

71

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
- Pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan dalam pengembangan
perekonomian daerah yang produktif, efisien, dan mampu bersaing.
- Pemanfaatan sumber daya alam dan/ atau teknologi tinggi secara
optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
- Pelestarian dan peningkatan sosial dan budaya bangsa.
- Pelestarian dan peningkatan nilai kawasan lindung yang ditetapkan
sebagai warisan dunia.
- Pengembangan kawasan tertinggal untuk mengurangi kesenjangan
tingkat perkembangan antar kawasan.
Berdasarkan dengan uraian diatas, berikut ini merupakan
penjabaran dari Kebijakan RTRW Provinsi Jawa tengah untuk
Kabupaten Wonosobo:
1. Dalam RTRW Provinsi Jawa Tengah, Kabupaten Wonosobo merupakan
daerah PKW bersamaan dengan Purwokerto, Kebumen, Boyolali,
Klaten, Cepu, Kudus, Kota Magelang, Kota Pekalongan, Kota Tegal, dan
Kota Salatiga.
2. Sistem Perwilayahan Purwomanggung meliputi Kabupaten Purworwjo,
Kabupaten Wonosobo, Kota Magelang, Kabupaten Magelang, dan
Kabupaten Temanggung dengan fungsi pengembangan sebagai pusat
Pelayanan Lokal dan Provinsi.
3. Rencana Pengembangan jalan kolektor primer meliputi perbatasan
Jawa Barat Wangon Purwokerto Banyumas Wonosobo
Secang.
4. Rencana pengembangan jalan strategis nasional meliputi Wiradesa
Kalibening Wanayasa Batur Dieng (Wonosobo).
5. Rencana pengembangan terminal penumpang jalan tipe A, terdapat di
Kabupaten Cilacap, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Purbalingga,
Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Kebumen, Kabupaten Purworejo,
Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Klaten,
Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Sragen, Kabupaten Grobogan,
Kabupaten Blora, Kabupaten Rembang, Kabupaten Pati, Kabupaten
Kudus, Kabupaten Jepara, Kabupaten Demak, Kabupaten Temanggung,
Kabupaten Pemalang, Kota Magelang, Kota Surakarta, Kota Salatiga,
Kota Semarang, Kota Pekalongan, Kota Tegal.
6. Revitalisasi stasiun lama untuk rencana pengoperasian kereta komuter
antar kota meliputi: Stasiun Purbalingga, Stasiun Banjarnegara, Stasiun
Wonosobo, Stasiun Rembang, Stasiun Pati, Stasiun Juwana, Stasiun
Kudus, Stasiun Demak.
7. Rencana pengembangan prasarana kelistrikan diantaranya adalah
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) di Kabupaten
Banyumas,
Kabupaten
Banjarnegara,
Kabupaten
Wonosobo,
Kabupaten Magelang, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sragen,
Kabupaten Semarang, Kabupaten Kendal, Kabupaten Tegal.
8. Kawasan lindung yang dikelola oleh masyarakat diantaranya terletak di
Kabupaten Cilacap, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Purbalingga,
Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Kebumen, Kabupaten Purworejo,
Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali,
Kabupaten Klaten, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Wonogiri,

72

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO

9.

10.

11.

12.

13.

14.

Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sragen, Kabupaten Grobogan,


Kabupaten Blora, Kabupaten Rembang, Kabupaten Pati, Kabupaten
Kudus, Kabupaten Jepara, Kabupaten Semarang, Kabupaten
Temanggung, Kabupaten Kendal, Kabupaten Batang, Kabupaten
Pekalongan, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Tegal, Kabupaten
Brebes, Kota Magelang, Kota Salatiga, Kota Semarang.
Kawasan resapan air diantaranya, terletak di Kabupaten Cilacap,
Kabupaten
Banyumas,
Kabupaten
Purbalingga,
Kabupaten
Banjarnegara, Kabupaten Kebumen, Kabupaten Purworejo, Kabupaten
Wonosobo, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, Kabupaten
Klaten, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten
Sragen, Kabupaten Grobogan, Kabupaten Blora, Kabupaten Rembang,
Kabupaten Pati, Kabupaten Kudus, Kabupaten Jepara, Kabupaten
Demak, Kabupaten Semarang, Kabupaten Temanggung, Kabupaten
Kendal, Kabupaten Batang, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten
Pemalang, Kabupaten Tegal, Kabupaten Brebes, Kota Salatiga, Kota
Semarang.
Di Kabupaten Wonososbo terdapat Cagar Alam Pantodomas yang
dikembangkan sesuai ketentuan peraturan perundang undangan yang
berlaku.
Di Kabupaten Wonosobo terdapat Taman Wisata Alam Tlogo
Warno/Pengilon yang dikembangkan sesuai ketentuan peraturan
perundang undangan.
Kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan, berada di Kabupaten
Cilacap, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten
Banjarnegara, Kabupaten Kebumen, Kabupaten Purworejo, Kabupaten
Wonosobo, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, Kabupaten
Klaten, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten
Karanganyar, Kabupaten Sragen, Kabupaten Grobogan, Kabupaten
Blora, Kabupaten Rembang, Kabupaten Pati, Kabupaten Kudus,
Kabupaten Jepara, Kabupaten Demak, Kabupaten Semarang,
Kabupaten Temanggung, Kabupaten Kendal, Kabupaten Batang,
Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Tegal,
Kabupaten Brebes, Kota Magelang, Kota Surakarta, Kota Salatiga, Kota
Semarang, Kota Pekalongan, Kota Tegal.
Kawasan rawan tanah longsor, berada di Kabupaten Cilacap,
Kabupaten
Banyumas,
Kabupaten
Purbalingga,
Kabupaten
Banjarnegara, Kabupaten Kebumen, Kabupaten Purworejo, Kabupaten
Wonosobo, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, Kabupaten
Klaten, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten
Sragen,
Kabupaten Grobogan,
Kabupaten Blora,
Kabupaten
Rembang, Kabupaten Pati, Kabupaten Kudus, Kabupaten Jepara,
Kabupaten Semarang, Kabupaten Temanggung, Kabupaten Kendal,
Kabupaten Batang, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Pemalang,
Kabupaten Tegal, Kabupaten Brebes, Kota Semarang.
Kawasan rawan angin topan, berada di Kabupaten Cilacap, Kabupaten
Banyumas, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten

73

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO

15.
16.

17.

18.

19.

Magelang, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Klaten, Kabupaten


Sukoharjo, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten
Sragen, Kabupaten Blora, Kabupaten Pati, Kabupaten Kudus,
Kabupaten Jepara, Kabupaten Demak, Kota Semarang dan Kota
Pekalongan.
Kawasan rawan gas beracun berada di Kabupaten Banjarnegara dan
Kabupaten Wonosobo.
Kawasan Imbuhan Air meliputi, kawasan resapan air tanah pada
Cekungan Majenang, Cekungan Sidareja, Cekungan Nusa Kambangan,
Cekungan Cilacap, Cekungan Kroya, Cekungan Banyumudal,
Cekungan Purwokerto
Purbalingga, Cekungan Kebumen
Purworejo, Cekungan Wonosobo, Cekungan Magelang Temanggung,
Cekungan Karanganyar - Boyolali, Cekungan Belimbing, Cekungan
Eromoko, Cekungan Giritontro, Cekungan Semarang Demak,
Cekungan Randublatung, Cekunga Watuputih, Cekungan Lasem,
Cekungan Pati Rembang, Cekungan Kudus, Cekungan Jepara,
Cekungan Ungaran, Cekungan Sidomulyo, Cekungan Rawapening,
Cekungan Salatiga, Cekungan Kendal, Cekungan Subah, Cekungan
Karang Kobar, Cekungan Pekalongan Pemalang, Cekungan Tegal
Brebes, Cekungan Lebaksiu.
Sebaran kawasan perlindungan Plasma Nutfah di daratan meliputi
Kabupaten Cilacap, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Purbalingga,
Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Kebumen, Kabupaten Purworejo,
Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali,
Kabupaten Klaten, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Wonogiri,
Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sragen, Kabupaten Grobogan,
Kabupaten Blora, Kabupaten Rembang, Kabupaten Pati, Kabupaten
Kudus, Kabupaten Jepara, Kabupaten Demak, Kabupaten Semarang,
Kabupaten Temanggung, Kabupaten Kendal, Kabupaten Batang,
Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Tegal,
Kabupaten Brebes, Kota Magelang, Kota Salatiga, Kota Semarang, Kota
Tegal.
Kawasan hutan produksi tetap, berada di Kabupaten Cilacap,
Kabupaten
Banyumas,
Kabupaten
Purbalingga,
Kabupaten
Banjarnegara, Kabupaten Kebumen, Kabupaten Purworejo, Kabupaten
Wonosobo, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, Kabupaten
Klaten, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Sragen,
Kabupaten Grobogan, Kabupaten Blora, Kabupaten Rembang,
Kabupaten Pati, Kabupaten Kudus, Kabupaten Jepara, Kabupaten
Demak, Kabupaten Semarang, Kabupaten Temanggung, Kabupaten
Kendal, Kabupaten Batang, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten
Pemalang, Kabupaten Tegal, Kabupaten Brebes.
Kawasan hutan produksi terbatas, terletak di Kabupaten Cilacap,
Kabupaten
Banyumas,
Kabupaten
Purbalingga,
Kabupaten
Banjarnegara, Kabupaten Kebumen, Kabupaten Purworejo, Kabupaten
Wonosobo, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, Kabupaten
Klaten, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten

74

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO

20.

21.

22.

23.

Sragen, Kabupaten Grobogan, Kabupaten Blora, Kabupaten Rembang,


Kabupaten Pati, Kabupaten Kudus, Kabupaten Jepara, Kabupaten
Demak, Kabupaten Semarang, Kabupaten Temanggung, Kabupaten
Kendal, Kabupaten Batang, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten
Pemalang, Kabupaten Tegal, Kabupaten Brebes, Kota Semarang.
Kawasan hutan rakyat, terletak di Kabupaten Cilacap, Kabupaten
Banyumas, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Banjarnegara,
Kabupaten Kebumen, Kabupaten Purworejo, Kabupaten Wonosobo,
Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Klaten,
Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Karanganyar,
Kabupaten Sragen, Kabupaten Grobogan, Kabupaten Blora, Kabupaten
Rembang, Kabupaten Pati, Kabupaten Kudus, Kabupaten Jepara,
Kabupaten Demak, Kabupaten Semarang, Kabupaten Temanggung,
Kabupaten Kendal, Kabupaten Batang, Kabupaten Pekalongan,
Kabupaten Pemalang, Kabupaten Tegal, Kabupaten Brebes, Kota
Magelang, Kota Surakarta, Kota Salatiga, Kota Semarang, Kota
Pekalongan.
Kawasan pertanian lahan basahseluas 990.652 hektar diarahkan dan
ditetapkan untuk dipertahankan sebagai kawasan lahan pertanian
pangan
berkelanjutan terletak di Kabupaten Cilacap, Kabupaten
Banyumas, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Banjarnegara,
Kabupaten Kebumen, Kabupaten Purworejo, Kabupaten Wonosobo,
Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Klaten,
Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Karanganyar,
Kabupaten Sragen, Kabupaten Grobogan, Kabupaten Blora, Kabupaten
Rembang, Kabupaten Pati, Kabupaten Kudus, Kabupaten Jepara,
Kabupaten Demak, Kabupaten Semarang, Kabupaten Temanggung,
Kabupaten Kendal, Kabupaten Batang, Kabupaten Pekalongan,
Kabupaten Pemalang, Kabupaten Tegal, Kabupaten Brebes, Kota
Magelang, Kota Surakarta, Kota Salatiga, Kota Semarang, Kota
Pekalongan, Kota Tegal.
Kawasan pertanian lahan kering seluas 955.587 hektar tersebar di
Kabupaten Cilacap, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Purbalingga,
Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Kebumen, Kabupaten Purworejo,
Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali,
Kabupaten Klaten, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Wonogiri,
Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sragen, Kabupaten Grobogan,
Kabupaten Blora, Kabupaten Rembang, Kabupaten Pati, Kabupaten
Kudus, Kabupaten Jepara, Kabupaten Demak, Kabupaten Semarang,
Kabupaten Temanggung, Kabupaten Kendal, Kabupaten Batang,
Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Tegal,
Kabupaten Brebes, Kota Magelang, Kota Surakarta, Kota Salatiga, Kota
Semarang, Kota Pekalongan, Kota Tegal.
Kawasan peruntukan peternakan besar dan kecil, terletak di Kabupaten
Cilacap, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten
Banjarnegara, Kabupaten Kebumen, Kabupaten Purworejo, Kabupaten

75

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO

24.

25.

26.

27.

28.

Wonosobo, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, Kabupaten


Klaten, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten
Karanganyar, Kabupaten Sragen, Kabupaten Grobogan, Kabupaten
Blora, Kabupaten Rembang,
Kabupaten Pati, Kabupaten Kudus,
Kabupaten Jepara, Kabupaten Demak, Kabupaten Semarang,
Kabupaten Temanggung, Kabupaten Kendal, Kabupaten Batang,
Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Tegal,
Kabupaten Brebes, Kota Magelang, Kota Surakarta, Kota Salatiga, Kota
Semarang, Kota Pekalongan, Kota Tegal.
Peternakan unggas terletak di Kabupaten Cilacap, Kabupaten
Banyumas, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Banjarnegara,
Kabupaten Kebumen, Kabupaten Purworejo, Kabupaten Wonosobo,
Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Klaten,
Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Karanganyar,
Kabupaten Sragen, Kabupaten Grobogan, Kabupaten Blora, Kabupaten
Rembang, Kabupaten Pati, Kabupaten Kudus, Kabupaten Jepara,
Kabupaten Demak, Kabupaten Semarang, Kabupaten Temanggung,
Kabupaten Kendal, Kabupaten Batang, Kabupaten Pekalongan,
Kabupaten Pemalang, Kabupaten Tegal, Kabupaten Brebes, Kota
Magelang, Kota Surakarta, Kota Salatiga, Kota Semarang, Kota
Pekalongan, Kota Tegal.
Lahan perikanan budidaya air payau, perikanan budidaya air tawar, dan
perikanan budidaya air laut, terletak di Kabupaten Cilacap, Kabupaten
Banyumas, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Banjarnegara,
Kabupaten Kebumen, Kabupaten Purworejo, Kabupaten Wonosobo,
Kabupaten
Magelang, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Klaten,
Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Karanganyar,
Kabupaten
Sragen,
Kabupaten
Grobogan, Kabupaten Blora,
Kabupaten Rembang, Kabupaten Pati, Kabupaten Kudus, Kabupaten
Jepara,
Kabupaten
Demak, Kabupate Semarang, Kabupaten
Temanggung, Kabupaten
Kendal, Kabupaten Batang, Kabupaten
Pekalongan, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Tegal, Kabupaten
Brebes, Kota Magelang, Kota Surakarta, Kota Salatiga, Kota Semarang,
Kota Pekalongan, Kota Tegal.
Kawasan pertambangan mineral logam, bukan logam, batuan dan
batubara, terletak di kawasan Serayu - Pantai Selatan di Kabupaten
Cilacap, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Kebumen Kabupaten
Purworejo dan Kabupaten Wonosobo; dan kawasan Sumbing - Sindoro
- Dieng di Kabupaten Bajarnegara, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten
Magelang, Kabupaten Temanggung, Kabupaten Batang, Kabupaten
Pekalongan, dan Kabupaten Pemalang.
Kawasan pertambangan minyak bumi, terletak di Wilayah Kerjan
Pertambangan panas bumi Dieng di Kabupaten Banjarnegara dan
Kabupaten Wonosobo;
Wilayah Industri/Kawasan Peruntukan Industri meliputi: Kabupaten
Cilacap, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten
Banjarnegara, Kabupaten Kebumen, Kabupaten Purworejo, Kabupaten

76

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
Wonosobo, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, Kabupaten
Klaten, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten
Karanganyar, Kabupaten Sragen, Kabupaten Grobogan, Kabupaten
Blora, Kabupaten Rembang, Kabupaten
Pati, Kabupaten Kudus,
Kabupaten Jepara, Kabupaten Demak, Kabupaten
Semarang,
Kabupaten
Temanggung, Kabupaten Kendal, Kabupaten Batang,
Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Tegal,
Kabupaten Brebes, Kota Salatiga, Kota Semarang, Kota Pekalongan,
Kota Tegal.
29. Kawasan Industri, meliputi: Kabupaten Cilacap, Kabupaten Banyumas,
Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten
Kebumen, Kabupaten Purworejo, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten
Magelang, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Klaten, Kabupaten
Sukoharjo, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten
Sragen, Kabupaten Grobogan, Kabupaten Blora, Kabupaten Rembang,
Kabupaten Pati, Kabupaten Kudus, Kabupaten Jepara, Kabupaten
Demak, Kabupaten Semarang, Kabupaten Temanggung, Kabupaten
Kendal, Kabupaten Batang, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten
Pemalang, Kabupaten Tegal, Kabupaten Brebes, Kota Salatiga, Kota
Semarang, Kota Pekalongan, Kota Tegal.
30. Daya tarik wisata yang termasuk dalam lingkup kawasan
pengembangan meliputi: Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten
Banjarnegara meliputi: Dataran Tinggi Dieng dan Agro Wisata Tambi.
31. Rencana pengembangan kawasan strategis dari sudut kepentingan
pertumbuhan ekonomi terdiri dari: Kawasan Perkotaaan Wonosobo dan
sekitarnya.
C. Tinjauan Terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten
Wonosobo yang Sesuai Dengan Wlayah Perkotaan Kecamatan
Selomerto
Rencana Tata Ruang Wilayah adalah rencana tata ruang yang bersifat
umum dari wilayah kota, yang merupakan penjabaran dari RTRW provinsi,
dan yang berisi tujuan, kebijakan, strategi penataan ruang wilayah kota,
rencana struktur ruang wilayah kota, rencana pola ruang wilayah kota,
penetapan kawasan strategis kota, arahan pemanfaatan ruang wilayah kota,
dan ketentuan pengendalian pemanfaatan. Dalam penyusunan Rencana
Detail Tata Ruang, perlu adanya peninjauan terhadap RTRW wilayah
perencanaan, yang mana hasil peninjauan tersebut digunakan sebagai
dasar dalam merencanakan kawasan secara lebih detail dengan arahanarahan yang di tetapkan dalam RTRW .
Adapun muatan-muatan RTRW Kabupaten Wonosobo sebagai berikut :
1. Tujuan Penataan Ruang Wilayah Kabupaten Wonosobo
Adalah tujuan yang ditetapkan pemerintah daerah kabupaten yang
merupakan arahan perwujudan visi dan misi pembangunan jangka
panjang kabupaten pada aspek keruangan, yang pada dasarnya
mendukung terwujudnya ruang wilayah nasional yang aman, nyaman,

77

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
produktif, dan berkelanjutan berlandaskan Wawasan Nusantara dan
Ketahanan Nasional.
Tujuan Penataan Ruang, Dari RTRW Kabupaten Wonosobo yaitu
Penataan ruang daerah bertujuan mewujudkan daerah berbasis
agroindustri dan pariwisata yang didukung oleh pertanian
berkelanjutan. Dari tujuan tersebut, rencana tata ruang wilayah
kabupaten diarahkan pengembangannya dari tujuan yang telah
disepakati oleh pemerintah daerah.
2. Kebijakan Penataan Ruang Wilayah Kabupaten Wonosobo
Untuk Perkotaan Kecamatan Selomerto
Adalah arahan pengembangan wilayah yang ditetapkan oleh
pemerintah daerah kabupaten guna mencapai tujuan penataan ruang
wilayah kabupaten dalam kurun waktu 20 (dua puluh) tahun. Adapun
kebijakan yang telah di tetapkan dalam RTRW Kabupaten Wonosobo
adalah sebagai berikut :
a. Pengembangan Agroindustri Berbasis Potensi Lokal.
b. Pengembangan Pariwisata Yang Berkelanjutan.
c. Peningkatan Kualitas Dan Jangkauan Prasarana Dan Sarana
Wilayah.
d. Percepatan Perwujudan Fungsi Dan Peran Pusat Kegiatan
Secara Berhirarki.
e. Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian Pangan Produktif.
f. Peningkatan Fungsi Pelestarian Kawasan Lindung.
g. Pengembangan Fungsi Sosial Budaya Masyarakat Dalam
Pembangunan Wilayah.
h. Peningkatan Fungsi Kawasan Pertahanan Dan Keamanan
Negara.
Kebijakan yang dikeluarkan dalam RTRW Kabupaten Wonosobo
digunakan sebagai dasar dari perencanaan kota pada wilayah
tersebut. Kebijakan tersebut dibuat berdasarkan kesepakatan
pemerintah daerah yang sesuai dengan kondisi eksisting, potensi dan
masalah yang ada di Kabupaten Wonosobo untuk perkotaan
Kecamatan Selomerto.
3. Strategi Penataan Ruang Wilayah Kabupaten Wonosobo
Adalah penjabaran kebijakan penataan ruang ke dalam langkahlangkah pencapaian tindakan yang lebih nyata yang menjadi dasar
dalam penyusunan rencana struktur dan pola ruang wilayah
kabupaten. Adapun strategi penataan ruang Kabupaten Wonosobo
sebagai berikut :
1) Pengembangan agroindustri berbasis potensi lokal sebagaimana
dimaksud dalam RTRW Kabupaten Wonosobo dengan strategi
meliputi:
a. Mengembangkan industri pengolahan hasil pertanian dan
kehutanan berbasis potensi bahan baku lokal.
b. Meningkatkan produktivitas hasil pertanian dan kehutanan.

78

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
c. Mengembangkan kawasan agropolitan.
d. Mengembangkan agribisnis pada sentra-sentra produksi.
e. Mengembangkan pusat pemasaran hasil komoditas daerah
pada kawasan perkotaan dan objek wisata.
f. Mengembangkan pertanian terpadu ramah lingkungan.
2) Pengembangan pariwisata yang berkelanjutan sebagaimana
dimaksud RTRW Kabupaten Wonosobo dengan strategi meliputi:
a. Mengembangkan kawasan objek wisata unggulan.
b. Mengembangkan agrowisata.
c. Meningkatkan kualitas perlindungan, pengembangan, dan
pemanfaatan warisan Budaya.
d. Mengembangkan industri pariwisata yang berdaya saing
dan ramah lingkungan.
e. Meningkatkan kualitas sarana dan prasarana penunjang
kepariwisataan.
3) Peningkatan kualitas dan jangkauan prasarana dan sarana
wilayah sebagaimana dimaksud dalam RTRW Kabupaten
Wonosobo dengan strategi meliputi:
a. Mengembangkan jalan penghubung perkotaan dan
perdesaan.
b. Mengembangkan
sumberdaya
energi
listrik
dan
meningkatkan infrastruktur pendukung.
c. Meningkatkan jangkauan pelayanan telekomunikasi.
d. Mengoptimalkan
pendayagunaan
dan
pengelolaan
prasarana sumberdaya air.
e. Mengembangkan dan mengoptimalkan sistem pengelolaan
lingkungan berkelanjutan.
4) Percepatan perwujudan fungsi dan peran pusat kegiatan secara
berhirarki
sebagaimana dimaksud dalam RTRW Kabupaten
Wonosobo dengan strategi meliputi:
a. Mengembangkan pusat kegiatan yang mampu menjadi
simpul distribusi dan pemasaran produk pertanian dan
pariwisata.
b. Meningkatkan peran fungsi kawasan perkotaan.
c. Mengembangkan kawasan perdesaan sesuai dengan
potensi masing-masing.
d. Kawasan yang dihubungkan dengan pusat kegiatan pada
setiap kawasan perdesaan.
e. Meningkatkan sinergitas keterkaitan kegiatan ekonomi
wilayah perkotaan dengan wilayah perdesaan.
5) Pengendalian alih fungsi lahan pertanian pangan produktif
sebagaimana dimaksud RTRW Kabupaten Wonosobo dengan
strategi meliputi:
a. Menetapkan lahan pertanian pangan berkelanjutan.
b. Mengarahkan perkembangan kegiatan terbangun pada
lahan tidak dan/atau kurang produktif.
6) Peningkatan pelestarian fungsi kawasan lindung sebagaimana
dimaksud dalam RTRW Kabupaten Wonosobo meliputi:
a. Mempertahankan kawasan lindung yang telah ditetapkan.

79

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
b. Memulihkan secara bertahap kawasan lindung yang telah
mengalami penurunan fungsi.
c. Meningkatkan potensi sumberdaya alam dan buatan di
kawasan lindung dengan pengembangan agrowisata dan
ekowisata.
7) Peningkatan
fungsi
sosial
budaya
masyarakat
dalam
pembangunan wilayah sebagaimana dimaksud dalam RTRW
Kabupaten Wonosobo dengan strategi meliputi:
a. Meningkatkan peran masyarakat dalam pembangunan.
b. Melestarikan upacara tradisional seni dan budaya.
8) Peningkatan fungsi kawasan pertahanan dan keamanan negara
sebagaimana dimaksud dalam RTRW Kabupaten Wonosobo
dengan strategi meliputi:
a. Mendukung penetapan kawasan strategis nasional dengan
fungsi khusus pertahanan dan keamanan.
b. Mengembangkan kawasan lindung dan/atau kawasan
budidaya tidak terbangun di sekitar kawasan strategis
nasional dengan fungsi khusus pertahanan dan keamanan
sebagai zona penyangga yang memisahkan kawasan
tersebut dengan kawasan budidaya terbangun.
c. Mengembangkan kegiatan budidaya secara selektif di
dalam dan di sekitar kawasan strategis nasional dengan
fungsi khusus pertahanan dan keamanan untuk menjaga
fungsi dan peruntukannya.

Dari strategi penataan ruang wilayah Kabupaten Wonosobo, dijelaskan


bahwa kabupaten direncanakan sebagai kawasan agropolitan. Kecamatan
Selomerto merupakan kawasan dengan potensi agropolitan. Hal ini ditandai
dengan penetapan Kecamatan Selomerto menjadi kawasan agropolitan
ROJONOTO (Kaliwiro, Sukoharjo, Leksono, Selomerto), sehingga Kecamatan
Selomerto se arah dengan strategi penataan ruang, yang nantinya dijadikan
dasar, dalam menata kawasan perkotaan Kecamatan Selomerto.
4. Rencana Struktur Ruang Wilayah Kabupaten Wonosobo
Adalah rencana yang mencakup rencana sistem perkotaan wilayah
kabupaten dalam wilayah pelayanannya dan jaringan prasarana wilayah kota
yang dikembangkan untuk mengintegrasikan wilayah kota selain untuk melayani
kegiatan skala kota, meliputi sistem jaringan transportasi, sistem jaringan energi
dan kelistrikan, sistem jaringan telekomunikasi, sistem jaringan sumber daya air,
dan sistem jaringan lainnya. Adapun rencana struktur ruang di Kabupaten
Wonosobo sebagai berikut :
A. Rencana Sistem Pusat Kegiatan
Dalam arahan yang telah ditetapkan dalam RTRW, sistem pusat kegiatan
Kecamatan Selomerto yaitu PKLp, yang merupakan pusat pelayanan yang
dipromosikan untuk kemudian hari di tetapkan sebagai PKL. PKL (Pusat
Kegiatan Lokal) adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani
kegiatan skala kabupaten atau beberapa kecamatan. Dengan arahan-arahan

80

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
pengembangan sesuai yang ditetapkan dalam RTRW, sehingga kecamatan
selomerto bisa berkembang dalam sistem pusat kegiatan.
a. Rencana Jaringan Prasarana
Dalam RTRW Kabupaten Wonosobo, rencana jaringan prasarana
dikembangkan pada jaringan prasarana utama dan jaringan prasarana
lainnya. Adapun rencana jaringan prasarana untuk Kecamatan Selomerto
adalah sebagai berikut :
1. Sistem Jaringan Prasarana Utama
a. Perencanaan pelayanan sistem jaringan lalu lintas dan angkutan jalan
yang arahkan dalam RTRW mencakup pada seluruh kawasan
jaringan jalan di Kabupaten Wonosobo. Adapun arahan yang di
tetepakan sebagai berikut :
1. Peningkatan jaringan trayek angkutan antar kota antar provinsi
(AKAP)
2. Peningkatan jaringan trayek angkutan antar kota dalam provinsi
(AKDP)
3. Peningkatan jaringan trayek angkutan perkotaan.
4. Peningkatan jaringan trayek angkutan perdesaan
5. Pengembangan jaringan trayek angkutan perintis.
b. Dalam rencana sistem jaringan lalu lintas, pengembangan jaringan
trayek angktan perdesaan juga diarahkan pada pengembangan
Kertek-Balekambang-Selomerto.
Pengembangan tersebut tentunya sebagai arahan pengembangan
jaringan sturktur ruang untuk perkembangan Kecamatan Selomerto
dan kawasan sekitarnya. Adapun wilayah perencanaan sisten jaringan
lalu lintas pada wilayah selomerto adalah sebagai berikut :
1. Kertek-Balekambang-Selomerto
2.. Pengembangan jaringan trayek angkutan perintis sebagaimana
dimaksud pada arahan yang di tetapkan dalam RTRW pengembangan
berada di seluruh kecamatan. Baik wilayah perkotaan dan perdesaan
di Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo.
2. Sistem Jaringan Prasarana Lainnya
a. Pengembangan jaringan transmisi tenaga listrik sebagai arahan yang
telah ditetapkan dalam RTRW meliputi :
1. Peningkatan kapasitas dan pelayanan distribusi melalui sistem
interkoneksi Jawa Bali.
2. Pengembangan Jaringan Tegangan Tinggi (JTT) 150 (seratus lima
puluh) kilovolt melalui Kecamatan Watumalang Mojotengah
Garung Kejajar Wonosobo Selomerto Sapuran.
3. Pengembangan Jaringan Tegangan Menengah (JTM) 20 (dua
puluh) kilovolt berada di seluruh kecamatan.
4. Pengembangan jaringan listrik perdesaan distribusi tegangan 220
(dua ratus dua puluh) volt untuk menjangkau seluruh wilayah dusun.
b. Pengembangan jaringan energi bahan bakar minyak sebagai arahan
yang telah ditetapkan dalam RTRW adalah sebagai berikut :

81

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO

c.

d.
e.

f.

g.

1. Pembangunan stasiun pengisian bahan bakar baik Stasiun


Pengisian Bahan Bakar Untuk Umum (SPBU) berada di seluruh
kecamatan.
2. Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) berada di seluruh
kecamatan.
Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH)
sebagai araha yang telah ditetapkan dalam RTRW,untuk wilayah
Kecamatan Selomerto adalah seluruh wilayah Kecamatan Selomerto;
Pengembangan Desa Mandiri Energi yang ditetapkan dalam RTRW
pengembangan berada di seluruh kecamatan.
Pengembangan jaringan telepon kabel dalam arahan yang telah
ditetapkan RTRW rencana pengembangan jaringan berada di seluruh
kecamatan. Pengembangan jaringan telepon nirkabel dilakukan
dengan pembangunan menara telekomunikasi.
Pembangunan
menara telekomunikasi dan/atau Base Transceiver Station (BTS)
sebagaia arahan dalam RTRW berupa penggunaan menara
telekomunikasi bersama berada di seluruh kecamatan.
Pengembangan jaringan prasarana sumber daya air pada
Kecamatan Selomerto, diarahkan pengembangannya pada embung.
Adapun wilayah pengembangan kawasan embung adalah embung
berada di Kecamatan Selomerto
Sistem pengelolaan air baku untuk air minum sebagaimana
ditetapkan dalam RTRW Kabupaten meliputi pemanfaatan sumbersumber air baku permukaan dan air tanah mencakup pembangunan,
rehabilitasi serta operasi dan pemeliharaan sarana danprasarana
pengelolaan air baku untuk air minum melalui:
1. Pelestarian mata air berada di seluruh kecamatan.
2. Pemanfaatan airtanah secara terkendali.

h. Peningkatan pelayanan dan pengelolaan air minum perpipaan


sebagaimana arahan yang ditetapkan dalam RTRW berupa
peningkatan kapasitas sambungan langganan di seluruh kecamatan.
i. Peningkatan pelayanan dan pengelolaan air minum berbasis
masyarakat sebagaimana arahan yang ditetapkan dalam RTRW
berupa peningkatan pelayanan dan pengelolaan air minum berbasis
masyarakat di seluruh kecamatan.
j. Pembangunan, rehabilitasi serta operasi dan pemeliharaan
bangunan-bangunan pengendali banjir sebagaimana arahan yang
ditetapkan dalam RTRW untuk kawasan Kecamatan Selomerto
meliputi kawasan
bendung Sungai Begaluh Kecil berada di Kecamatan Selomerto
k. Prasarana pengelolaan sampah sebagaimana dimaksud dalam
arahan RTRW meliputi sistem pengelolaan sampah dilakukan
dengan prinsip mengurangi (re-duce),menggunakan kembali (re-use)
dan mendaur ulang (re-cycle) meliputi:
1. Rencana lokasi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA)
2. Rencana lokasi Tempat Penampungan Sementara (TPS)

82

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
3. Rencana pengelolaan sampah skala rumah tangga.
4. Rencana peningkatan lokasi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA)
sampah sebagaimana dimaksud pada huruf a butir 1 berupa
optimalisasi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Wonorejo
Kecamatan Selomerto dengan pengelolaan sistem sanitary
landfill berada di Kecamatan Selomerto.
Jadi rencana jaringan prasarana untuk perkotaan Kecamatan
Selomerto berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)
Kabupaten Wonosobo adalah sebagai berikut :
1. Pengembangan Jaringan Tegangan Tinggi (JTT) 150 kilovolt.
2. Pengembangan jaringan energi bahan bakar minyak direncanakan
pengembangan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Untuk Umum
(SPBU).
3. Pengembangan Pembangkit Tenaga Mikro Hidro (PLTMH).
4. Pengembangan desa mandiri energi.
5. Pengembangan jaringan telepon kabel.
6. Pengembangan jaringan prasarana sumber daya air yaitu
embung.
7. Pelestarian mata air.
8. Rehabilitasi, operasi, serta pemeliharaan bendung Sungai Begaluh
kecil.
9. Rencana peningkatan lokasi Tempat Pemrosesan Sampah (TPA)
Wonorejo dengan pengelolaan sistem sanitary landfill.
Peta 3.1
Rencana Struktur Ruang Perkotaan Selomerto

83

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO

84

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
5. Rencana Pola Ruang Wilayah Kabupaten Wonosobo
Adalah rencana distribusi peruntukan ruang wilayah kabupaten yang
meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan budi daya yang dituju
sampai dengan akhir masa berlakunya RTRW kabupaten yang memberikan
gambaran pemanfaatan ruang wilayah kota hingga 20 (dua puluh) tahun
mendatang. Adapun rencana pola ruang pada untuk perkotaan kecamatan
selomerto adalah sebagai berikut :
1. Pengembangan rencana kawasan lindung, sebagaimana yang telah
ditetapkan dalam arahan pengembangan
dalam RTRW yaitu pada
kawasan bendung. Adapun kawasan embung meliputi Bendung Sungai
Begaluh Kecil berada di Kecamatan Selomerto.
2. Kawasan RTH perkotaan sebagaimana dimaksud dalam RTRW seluas
kurang lebih 1.698 (seribu enam ratus sembilan puluh delapan) hektar
atau 31 % (tiga puluh satu persen) dari luas wilayah perkotaan Daerah
terdiri atas RTH perkotaan Ibukota Kecamatan Selomerto.
3. Kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan sebagaimana arahan yang
ditetapkan dalam RTRW meliputi kawasan Situs Candi Bogang berada di
Kecamatan Selomerto.
4. Hutan produksi tetap sebagaimana arahan dalam RTRW seluas kurang
lebih 6.134 (enam ribu seratus tiga puluh empat) hektar meliputi kawasan
Kecamatan Selomerto.
5. Kawasan peruntukan hutan rakyat sebagaimana arahan dalam RTRW
seluas kurang lebih 19.185 (sembilan belas ribu seratus delapan puluh
lima) hektar meliputi kawasan Kecamatan Selomerto.
6. Kawasan pertanian lahan basah sebagaimana arahan dalam RTRW seluas
kurang lebih 17.288 (tujuh belas ribu dua ratus delapan puluh delapan)
hektar meliputi kawasan Kecamatan Selomerto.
7. Kawasan pertanian lahan kering sebagaimana arahan dalam RTRW seluas
kurang lebih 47.152 (empat puluh tujuh ribu seratus lima puluh dua) hektar
meliputi kawasan Kecamatan Selomerto.
8. Kawasan peruntukan hortikultura sebagaimana arahan dalam RTRW
seluas kurang lebih 7.610 (tujuh ribu enam ratus sepuluh) hektar terdiri
atas:
a. Sentra buah duku meliputi Kecamatan Selomerto
b. Sentra buah manggis meliputi Kecamatan Selomerto
c. Sentra buah durian meliputi Kecamatan Selomerto
9. Sentra tanaman kelapa sayur sebagaimana arahan dalam RTRW
dibudidayakan meliputi kawasan Kecamatan Selomerto
10. Sentra tanaman kapulogo sebagaimana dimaksud arahan dalam RTRW
dibudidayakan meliputi kawasan Kecamatan Selomerto
11. Ternak sapi perah sebagaimana dimaksud dalam RTRW meliputi kawasan
Kecamatan Selomerto
12. Ternak kerbau sebagaimana dimaksud arahan dalam RTRW meliputi
kawasan Kecamatan Selomerto
13. Ternak kambing sebagaimana dimaksud arahan dalam RTRW meliputi
kawasan Kecamatan Selomerto
14. Ternak kelinci sebagaimana dimaksud arahan dalam RTRW
meliputi kawasan Kecamatan Selomerto

85

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
15. Ternak itik sebagaimana dimaksud arahan dalam RTRW berada di seluruh
kecamatan.
16. Ternak ayam buras sebagaimana dimaksud arahan dalam RTRW berada di
seluruh kecamatan.
17. Ternak ayam ras petelur sebagaimana arahan dalam RTRW meliputi kawasan
Kecamatan Selomerto.
18. Ternak ayam ras pedaging sebagaimana dimaksud arahan dalam RTRW
meliputi kawasan Kecamatan Selomerto.
19. Kawasan budidaya mina padi berada di pertanian sawah baik irigasi teknis
maupun setengah teknis dalam arahan RTRW meliputi kawasan Kecamatan
Selomerto.
20. Peruntukan industri besar dan sedang sebagaimana dimaksud
arahan dalam RTRW yang dikembangkan meliputi kawasan :
a. Jalur regional Temanggung Wonosobo Banjarnegara meliputi
Kecamatan Selomerto.
21. Peruntukan industri kecil atau mikro sebagaimana dimaksud
arahan
dalam RTRW berada di seluruh kecamatan.
22. Kawasan wisata budaya sebagaimana dimaksud arahan dalam RTRW
terdiri atas Situs Budaya yaitu Situs Candi Bogang berada di Kecamatan
Selomerto.
23. Kawasan wisata religi sebagaimana dimaksud arahan dalam RTRW
meliputi :
a. Makam pendiri Wonosobo Kyai Karim berada di Kecamatan Selomerto.
b. Makam Jogonegoro berada di Kecamatan Selomerto.
24. Kawasan wisata minat khusus sebagaimana dimaksud arahan dalam RTRW
meliputi arung jeram Sungai Serayu berada di Kecamatan Selomerto.
25. Kawasan permukiman perkotaan sebagaimana dimaksud arahan dalam
RTRW seluas kurang lebih 1.600 (seribu enam ratus) hektar meliputi
kawasan perkotaan Kecamatan Selomerto.
26. Kawasan perdagangan dan jasa sebagaimana dimaksud arahan dalam
RTRW meliputi kawasan koridor Selomerto Wonosobo
27. Kawasan pemerintahan sebagaimana dimaksud arahan dalam RTRW
meliputi kawasan :
a. Pengembangan kawasan pemerintahan kabupaten meliputi
Kecamatan Selomerto.

86

Peta Pola Ruang Kabupaten Wonosobo

LAPORAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2016


RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PERKOTAAN SELOMERTO
- KABUPATEN WONOSOBO
Peta 3.2
Rencana Pola Ruang Perkotaan Selomerto

87