Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM

MANAJEMEN PEMBENIHAN IKAN

PEMELIHARAAN BENIH
IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus Burchell )

OLEH :
RETNO WAHYUNINGSIH
1413050066

JURUSAN BUDIDAYA PERAIRAN


FAKULTAS KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2016

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur ke hadirat Allah Yang Maha Kuasa karena rahmat dan karuniaNya sehingga
penulis dapat menyelasaikan laporan praktikum dengan judul Pemeliharaan Benih Ikan
lele dumbo (Clarias gariepinus Burchell ). Laporan praktikum ini menjelaskan tentang
kegiatan pemeliharaan benih ikan lele dumbosampai menjadi benih siap tebar dengan kisaran
ukuran tubuh lebih besar.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih memerlukan perbaikan oleh karena itu
penulis mengharapkan saran dan kritik untuk penyempurnaannya. Akhirnya, semoga tulisan
ini bermanfaat bagi pembacanya.

Kupang Desember 2016

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Akuakultur merupakan salah satu aktivitas penting untuk memenuhi kebutuhan

pangan dari sektor perikanan. Dalam satu dekade terakhir, produksi perikanan dari akuakultur
mengalami peningkatan sedangkan produksi perikanan hasil penangkapan cenderung stagnan
bahkan mengalami penurunan (FAO, 2014). Akuakultur telah tumbuh paling pesat dengan
rata-rata 8,9% per tahun sejak 1970, dibandingkan dengan perikanan tangkap dan peternakan
yang hanya mengalami peningkatan sebesar 1,2% dan 2,8% per tahun dalam periode waktu
yang sama (FAO,2014).
Ikan lele merupakan salah satu komoditas perikanan air tawar yang banyak
dibudidayakan di Indonesia karena permintaannya terus meningkat setiap tahunnya. Ikan lele
banyak disukai masyarakat karena rasa dagingnya yang enak. Salah satu jenis ikan lele yang
banyak dibudidayakan saat ini yaitu lele dumbo (Clarias gariepinus Burchell) yang berasal
dari Benua Afrika dan pertama kali didatangkan ke Indonesia pada tahun 1984. Jenis ikan
lele ini termasuk hibrida dan pertumbuhan badannya cukup spektakuler baik panjang tubuh
maupun beratnya. Dibanding kerabat dekatnya ikan lele lokal (Clarias batrachus) lele dumbo
memiliki pertumbuhan empat kali lebih cepat. Oleh sebab itu, ikan jenis ini dengan mudah
menjadi populer di masyarakat (Santoso,1994).
Dalam kegiatan budidaya ikan lele dumbo, pemeliharaan larva dan benih merupakan
hal yang paling krusial karena di tahapan ini diperlukan manajemen pemberian pakan dan
kontrol air yang teratur untuk mendukung memaksimalkan pertumbuhan dan kehidupan dari
ikan lele dumbo itu sendiri serta menghindari kematian massal yang berakibat pada
menurunnya kapasitas produksi suatu usaha budidaya.
1.2.

Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan

benih ikan lele dumbo yang dipelihara selama 56 hari dengan pemberian pakan secara
adlibitum dan pergantian air secara rutin sehingga didapatkan benih dengan ukuran yang
lebih besar.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Klasifikasi dan Morfologi Ikan Lele Dumbo


Menurut Djatmika et al (1986), ikan lele dumbo dapat diklasifikasikan sebagai

berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Pisces
Ordo : Ostariophysi
Famili : Claridae
Genus : Clarias
Spesies : Clarias gariepinus Burchell

Gambar 1. Ikan lele dumbo (Clarias gariepinus Burchell)


Menurut Puspowardoyo dan Djarijah (2002), Ikan lele dumbo (Clarias gariepinus
Burchell) memiliki morfologi yang mirip dengan lele lokal (Clarias batrachus). Bentuk tubuh
memanjang, agak bulat, kepala gepeng dan batok kepalanya keras, tidak bersisik dan berkulit
licin, mulut besar, warna kulit badannya terdapat bercak-bercak kelabu seperti jamur kulit
manusia (panu). Ikan lele dumbodalam bahasa Inggris disebut pula catfish, siluroid, mudfish
dan walking catfish.
Ciri-ciri morfologis lele dumbo lainnya adalah sungutnya. Sungut berada di sekitar
mulut berjumlah delapan buah atau 4 pasang terdiri dari sungut nasal dua buah, sungut
mandibular luar dua buah, mandibular dalam dua buah, serta sungut maxilar dua buah. Ikan
lele dumbomengenal mangsanya dengan alat penciuman, lele dumbo juga dapat mengenal
dan menemukan makanan dengan cara rabaan (tentakel) dengan menggerak-gerakan salah
satu sungutnya terutama mandibular (Santoso, 1994).
Lele Dumbo mempunyai lima buah sirip yang terdiri dari sirip pasangan (ganda) dan
sirip tunggal. Sirip yang berpasangan adalah sirip dada (pectoral) dan sirip perut (ventral),
sedangkan yang tunggal adalah sirip punggung (dorsal), ekor (caudal) serta sirip dubur (anal).
Sirip dada ikan lele dumbo dilengkapi dengan patil atau taji tidak beracun. Patil lele dumbo
lebih pendek dan tumpul bila dibandingkan dengan lele lokal (Santoso, 1994).
2.2. Habitat Ikan Lele
Habitat atau lingkungan hidup lele banyak ditemukan diperairan air tawar, di dataran
rendah sampai sedikit payau. Untuk perairan sedikit payau, banyak warga pantura Jawa,

seperti di Kendal, Jawa Tengah, memanfaatkan bekas tambak untuk pembesaran lele dumbo.
Di alam, ikan lele dumbohidup di sungai-sungai yang arusnya mengalir secara perlahan atau
lambat, danau, waduk, telaga, rawa, serta genangan air tawar lainnya, seperti kolam. Karena
lebih menyukai perairan yang tenang, tepian dangkal, dan terlindung, ikan lele
dumbomemiliki kebiasaan membuat atau menempati lubang-lubang di tepi sungai atau
kolam.
Lele jarang menampakkan aktivitasnya pada siang hari dan lebih menyukai tempat
yang gelap, agak dalam, dan teduh. Hal ini bisa dimengerti karena lele adalah binatang
nokturnal, yaitu mempunyai kecenderungan beraktivitas dan mencari makan pada malam
hari. Pada siang hari, ikan lele dumbomemilih berdiam diri atau berlindung di tempat-tempat
yang gelap. Akan tetapi, pada kolam pemeliharaan, terutama budidaya secara intensif, lele
dapat dibiasakan diberi pakan pelet pada pagi atau siang hari walaupun nafsu makannya tetap
lebih tinggi jika diberikan pada malam hari.
Ikan lele dumbo relatif tahan terhadap kondisi lingkungan yang kualitas airnya jelek.
Pada konsisi kolam dengan padat penebaran yang tinggi dan kandungan oksigennya sangat
minim pun, lele masih dapat bertahan hidup. Namun, pertumbuhan dan perkembangan ikan
lele dumbo akan lebih cepat dan sehat jika dipelihara dari sumber air yang cukup bersih,
seperti air sungai, mata air, saluran irigasi ataupun air sumur.
2.3. Kebiasaan Makan Ikan Lele
Lele mempunyai kebiasaan makan di dasar perairan atau kolam (bottom feeder).
Berdasarkan jenis pakannya, lele digolongkan sebagai ikan yang bersifat karnivora (pemakan
daging). Di habitat aslinya, lele makan cacing, siput air, belatung, laron, jentik-jentik
serangga, kutu air, dan larva serangga air. Karena bersifat karnivora, pakan tambahan yang
baik untuk lele adalah yang banyak mengandung protein hewani. Jika pakan yang diberikan
banyak mengandung protein nabati, pertumbuhannya lambat.
Lele bersifat kanibalisme, yaitu sifat suka memangsa jenisnya sendiri. Jika
kekurangan pakan, lele tidak segan-segan memangsa kawannya sendiri yang berukuran lebih
kecil. Oleh karena itu jangan sampai terlambat memberinya makan. Sifat kanibalisme juga
ditimbulkan oleh adanya perbedaan ukuran. Lele yang berukuran besar akan memangsa ikan
lele dumbo yang berukuran lebih kecil.
2.4. Pertumbuhan Ikan
Pengertian pertumbuhan berdasarkan istilah sederhana dapat dirumuskan sebagai
pertambahan ukuran panjang atau berat dalam suatu waktu, tetapi jika dipelajari lebih lanjut,
pertumbuhan adalah proses biologis yang kompleks. Pertumbuhan suatu individu adalah
pertambahan jaringan akibat dari adanya pembelahan sel secara mitosis (Effendie 1997).

Asupan nutrisi dari makanan atau dari lingkungan (air, mineral) yang akan digunakan
sebagai sumber energi sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan ikan (Bureau et al. 2000).
Energi yang diperoleh dari makanan akan digunakan oleh tubuh untuk metabolisme,
pergerakan, reproduksi, perawatan bagian-bagian tubuh atau mengganti sel-sel yang sudah
tidak terpakai. Bahan-bahan yang tidak berguna akan dikeluarkan dari tubuh. Apabila
terdapat bahan berlebih, akan dimanfaatkan untuk produksi sel baru sebagai penambahan
unit.
Menurut Effendie 1997, pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor
dalam dan faktor luar. Faktor dalam umumnya adalah faktor yang sulit dikendalikan,
diantaranya ialah keturunan, sex, umur, dan penyakit. Faktor luar yang utama mempengaruhi
pertumbuhan ialah makanan, suhu perairan dan kimia perairan (oksigen, keasaman dan
ammonia). Pertambahan ukuran baik dalam panjang atau dalam berat umumnya diukur dalam
waktu tertentu.
Menurut Effendie 1997, pengaruh keturunan terhadap pertumbuhan ikan berhubungan
dengan pewarisan sifat yang diturunkan oleh induk sebelumnya, apabila induk tersebut
mempunyai tingkat pertumbuhan yang tinggi maka keturunannya akan mewarisi sifat
tersebut. Jenis kelamin dan umur ikan menentukan pertumbuhan, oleh sebab itu di dalam
sistem budidaya ikan polikultur harus dipisahkan antara ikan jantan dan ikan betina. Hal ini
untuk menghindari adanya gejala pematangan kelamin secara dini, sehingga ikan yang masih
muda sudah menghasilkan telur sehingga pertumbuhan badannya terhambat.
Umur mempengaruhi tingkat pertumbuhan ikan, dimana ikan yang masih muda
mempunyai tingkat pertumbuhan yang tinggi dibandingkan ikan yang sudah tua. Pada ikan
tua, pertumbuhan masih terus berlangsung akan tetapi laju pertumbuhannya lambat. Hal ini
disebabkan karena kurangnya makanan berlebih untuk pertumbuhan, karena sebagian besar
makanan digunakan untuk pemeliharaan tubuh dan pergerakan ikan (Effendie, 1997).
Faktor luar yang mempengaruhi pertumbuhan ikan adalah makanan. Ketersediaan
pakan dengan kualitas dan kuantitas yang baik akan menyebabkan pertumbuhan dan
perkembangan ikan yang baik. Kualitas pakan yang baik adalah pakan yang mempunyai gizi
yang seimbang baik protein, karbohidrat, maupun lemak serta vitamin dan mineral (Mujiman,
1984).
Menurut Blaxter 1998 dalam Ardimas 2012, suhu dalam media budidaya sangat
berpengaruh terhadap pertumbuhan ikan, hal ini berkaitan dengan laju proses metabolisme
ikan. Aktivitas metabolisme yang tinggi menyebabkan ikan aktif mencari makan, sehingga
laju pertumbuhan bobot mutlak menjadi lebih cepat, sedangkan pada suhu yang lebih rendah

aktivitas metabolisme berjalan lebih lambat. Selain itu faktor kimia perairan lain seperti
kandungan oksigen terlarut, pH, dan ammonia sangat memengaruhi proses pertumbuhan
ikan.
2.5.

Kelulushidupan (SR)
Kelulushidupan dalam perikanan budidaya adalah indeks kelulushidupan suatu jenis

ikan dalam suatu proses budidaya dari mulai awal ikan ditebar hingga ikan dipanen. Nilai SR
ini dihitung dalam bentuk angka persentase, mulai dari 0 100%. Kelulushidupan ini
merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan dalam kegiatan budidaya ikan baik itu
dalam kegiatan pembenihan maupun pembesaran. Makin tinggi persentase dari SR
menunjukkan bahwa kegiatan dalam budidaya tersebut dijalani dengan baik sehingga
mendukung pertumbuhan dan perkembangan spesies yang dibudidaya seperti manajemen
pakan yang baik dan kontrol kualitas parameter air di media pemeliharaan. Sedangkan
apabila persentase SR rendah perlu dilakukan evaluasi pada prosedur operasional yang telah
dijalani dalam kegiatan budidaya tersebut.

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1.

Waktu dan Tempat


Pemeliharaan benih ikan lele dumbo dalam praktikum ini dilaksanakan di kawasan

kolam budidaya sistem akuaponik Fakultas Kelautan dan Perikanan Undana selama 56 hari
mulai tanggal 5 Oktober sampai dengan 29 November 2016.
3.2. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah 100 ekor benih ikan lele
dumbo ukuran 5-7 cm, serokan, bak, waring, selang, termometer, baskom dan air.
3.3. Prosedur Kerja
bersihkan bak yang akan digunakan untuk pemeliharaan benih ikan lele. Sikat bagian

dalam bak dan bilas. Kemudian isi air hingga ketinggian seperempat bagian dari bak.
Pasang waring di atas bak untuk mengurangi intensitas cahaya matahari yang masuk agar

kondisi dalam bak sesuai dengan habitat ikan lele.


Masukkan benih ikan lele dumbo berukuran 5 7 cm yang sudah diaklimatisasi ke dalam

bak satu per satu hingga 100 ekor.


beri pakan pada benih ikan lele dumbo dengan frekuensi 3 kali sehari secara adlibitum.
Periksa keadaan air kolam setiap hari. Siphon apabila terlihat sisa pakan dan feses

tertumpuk di dasar kolam.


Ganti air secara rutin ketika air mulai terlihat keruh, berbau dan berlendir untuk

mencegah kematian ikan.


Cek kondisi ikan tiap hari. Apabila ada ikan yang mati segera keluarkan dari bak.
Cek suhu air menggunakan termometer, pH air dengan pH meter, TSS, serta TDS dengan

TDS meter.
Pengukuran Laju Pertumbuhan Harian, Pertumbuhan Mutlak, dan kelulushidupan ikan.
Menghitung laju pertumbuhan mutlak dengan rumus: W = Wt W0
Ket: W =Pertambahan bobot mutlak
Wt = bobot ikan pada akhir pemeliharaan
W0 = bobot uji pada awal pemeliharaan
LnWtLnW 0
Menghitung pertumbuhan harian dengan rumus: SGR =
x
t
100%
Ket: SGR =Laju pertumbuhan spesifik (g%/hari)
W0 = Berat rata-rata ikan pada awal pemeliharaan (g)
Wt = Berat rata-rata ikan pada akhir pemeliharaan (g)
t

= Lama Pengamatan (hari)

Menghitung pertumbuhan harian dengan rumus: SR =


Ket : SR = Tingkat sintasan (%)

Nt
No

x 100%

Nt = Jumlah ikan hidup pada akhir praktikum (ekor)


No = Jumlah ikan hidup pada awal praktikum (ekor)

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.

Pertumbuhan Berat Ikan lele dumbo Selama Pemeliharaan


Pertumbuhan benih ikan lele dumbo selama pemeliharaan berdasarkan hasil

pengukuran pada awal sampai akhir pemeliharaan dapat dirincikan melalui tabel berikut :
Tabel 1. Pertumbuhan Berat Individu Ikan lele dumbo Selama 56 hari
Kolam

Rerata Bobot Awal


(gram)

Rerata Bobot akhir


(gram)

1
2
3
4
5
6
7
8
9

1.00 0.00
1.00 0.00
1.00 0.00
1.00 0.00
1.00 0.00
1.00 0.00
1.00 0.00
1.00 0.00
1.00 0.00

7.77 2.10
4.72 1.93
5.73 2.18
6.34 2.87
5.49 2.23
6.23 2.60
6.53 2.64
7.74 2.15
5.81 2.48

SGR Berat
% /hari)

(g

3.66
2.77
3.12
3.30
3.04
3.27
3.35
3.66
3.14

Tabel di atas menjelaskan bahwa pertambahan berat ikan lele dumbodari sembilan
kolam tidak sama meskipun pada saat penebaran awal ukuran benih seragam. Nilai laju
pertumbuhan spesifik yang diperoleh pada praktikum ini adalah berada pada kisaran 2.773.66% per hari, dimana laju pertumbuhan spesifik yang paling tinggi didapatkan pada kolam
1 dan 8 yaitu 3.66% per hari atau untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tampilan gambar
grafik 1 dan 2 berikut ini.

Pertumbuhan Bobot Mutlak Ikan Lele


9
8
7
6
5
pertambahan bobot ikan (gram) 4
3
2
1
0

1 2 3 4 5 6 7 8 9

4.00
3.50
3.00
2.50
2.00
1.50
1.00
0.50
0.00

Grafik 2. Laju pertumbuhan spesifik benih ikan lele dumboper bak pemeliharaan.
perbedaan pertumbuhan berat ikan lele dumbopada kesembilan kolam tersebut di atas,
kemungkinn besar mempunyai kaitan erat dengan faktor kualitas air dan penggantian air
secara rutin. Sebab, menurut (Effendi, 2003), bahwa baik buruknya pertumbuhan ikan baik
panjang maupun berat dalam suatu kolam budidaya sangat tergantung dari kualitas air
sebagai media hidupnya dan juga jumlah pakan yang diberikan selama proses pemeliharaan..
Karena berdasarkan hasil pengukuran kualitas air seperti suhu, TSS dan pH menunjukkan
kisaran yang normal bagi pertumbuhan ikan lele. Namun penggantian air secara rutin memicu
stress pada ikan. Pembersihan dan penggatian air pada keseluruhan bak dilakukan di siang
hari setelah beberapa jam pemberian pakan. Perlakuan ini memicu ikan memuntahkan
kembali pakan yang telah dimakan dan belum sempat tercerna. Air yang jernih juga
menyebabkan napsu makan ikan lele dumbo berkurang. Di bak ke 2, penggantian air
dilakukan 2 hari sekali sehingga membuat laju pertumbuhan spesifik ikan lele dumbodi bak
tersebut paling rendah yaitu 2.77% karena pakan yang diberikan tidak dicerna dengan baik .
di bak lainnya penggantian air dilakukan ketika perlakuan tersebut benar-benar diperlukan
seperti air di bak mulai berbau.
4.2. Kelulushidupan Ikan Lele
Kelulushidupan ikan lele dumbo pada kesembilan kolam berada pada kisaran 47% 97%, dimana kelulushidupan ikan lele dumbo yang paling tinggi didapatkan pada kolam 3
yaitu 97% dan yang terendah berada di kolam 8 yaitu 47% atau untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada tampilan gambar grafik berikut ini.

120
100
80
Tingkat Kelangsungan Hidup (%)

60
40
20
0

1 2 3 4 5 6 7 8 9

Grafik 3. Kelulushidupan ikan lele dumbo pada seluruh kolam


Tinggi rendahnya persentase kelulushidupan ikan lele dumbo di kesembilan kolam
tersebut seperti pada uraian di atas, kemungkinan disebabkan oleh faktor kualitas air terutama
amoniak dan frekuensi pemberian pakan. Dimana, pada kesemua kolam kecuali kolam ke 8
dengan pergantian air yang rutin dan pemberian pakan yang teratur, tingkat kelulushidupan
ikan lele dumbo di atas 70%. Hal ini mengindikasikan bahwa pergantian air secara rutin
menghilangkan sisa-sisa pakan yang tidak terkonsumsi dan sisa hasil metabolisme dari ikan
yang mengendap di dasar perairan kolam dan menjadi sumber amoniak. Adanya proses
pembersihan sumber-sumber amoniak tersebut, maka kondisi kualitas air dalam kolam tetap
terjaga, sehingga ikan yang ada di dalamnyapun dapat tumbuh dan hidup dengan baik.
Kondisi ini berbeda dengan ikan yang hidup pada kolam ke 8 dengan jarangnya pergantian
air dan tidak adanya keteraturan dalam jadwal pemberian pakan. Rendahnya nilai
kelulushidupan ikan dalam kolam ini diakibatkan karena kurang optimalnya nilai kualitas air
yang diakibatkan oleh tingginya kandungan amoniak dalam perairan dan kemungkinan
karena sifat kanibalisme dari ikan lele dumbo akibat kekurangan makanan. Adanya amoniak
di dalam perairan disebabkan oleh jumlah sisa pakan yang tidak terkonsumsi dan feses dari
hasil metabolisme ikan yang endap di dasar perairan. Semakin tingginya kandungan amoniak
dalam perairan maka akan memberi efek pada stresnya ikan. Ketika ikan sudah mengalami
stres maka respon dalam memperoleh energi untuk kelangsungan hidupnyapun rendah
sehingga ikan tersebut lama-kelamaan akan mengalami kematian. Hal ini sesuai dengan
pendapat Durborow dkk., (2006) yang menyatakan bahwa apabila konsentrasi senyawa
beracun, terutama ammonia, dalam perairan terus mengalami peningkatan maka memberi

hambatan pada pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan sehingga lama kelamaan ikan
tersebut akan mengalami kematian.
4.3. Parameter Kualitas Air
Nilai konsentrasi parameter kualitas air dalam kolam pemeliharaan benih ikan lele
dumbodari kesembilan kolam dapat dirincikan melalui tabel berikut
Tabel 2. Kisaran nilai dari pengukuran parameter kualitas air seluruh kolam pemeliharaan
No
1
2
3
4

Parameter
o

Suhu ( c)
pH
TDS (ppm)
TSS (ppm)

Kisaran
25 - 28
7.2 - 7.8
243 - 336
40 - 98

Nilai nilai kisaran parameter kualitas air berdasarkan rincian tabel di atas,
menunjukkan bahwa untuk konsentrasi suhu di semua kolam adalah sebesar 25 28 oc, untuk
TTS berada pada kisaran 40 98 ppm, untuk pH berada pada kisaran 7.2 7.8 dan TDS
berada pada kisaran 243 336 ppm.
Nilai nilai kisaran parameter kualitas air tersebut di atas jika dikaitkan dengan
kisaran toleransi ikan lele dumbountuk pertumbuhan dan kelangsungan hidupnya pada kolam
budidaya, maka kisaran parameter seperti suhu, TSS, pH, dan TDS di semua kolam masih
berada pada kisaran toleransi ikan lele dumbountuk pertumbuhan dan kelangsungan
hidupnya, dimana menurut Effendi (2003), bahwa kisaran kualitas air yang ideal untuk
pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan pada kolam budidaya adalah untuk suhu adalah
berkisar antara 27 32 oc, kecerahan > 12 cm, TSS < 100 mg/l pH 7,3 8,4, oksigen terlarut
> 6 mg/l dan amoniak < 0,005 mg/l. Oleh karena itu, dengan melihat kisaran kisaran
parmater kualitas air ini, dimana kisaran suhu pada beberapa kolam berada di bawah ambang
batas, maka hal ini akan memberi efek pada terhambatnya pertumbuhan dan kelangsungan
hidup ikan lele dumbo pada kolam tersebut yang dapat mengakibatkan rendahnya hasil
produksi.

BAB V
PENUTUP
5.1.

Kesimpulan.
Pemberian pakan secara adlibitum dan teratur serta penggantian air secara rutin

mempengaruhi pertambahan berat, laju pertumbuhan spesifik, dan tingkat kelangsungan


hidup ikan lele dumbo. Pemberian pakan secara adlibitum dan teratur serta penggantian air
secara rutin hanya apabila diperlukan seperti air mulai berbau memperlihatkan performansi
pertumbuhan tertinggi yaitu sebesar 3.66% dan kelangsungan hidup sebesar 97%.
Penggantian air yang rutin meskipun tidak perlukan juga mempengaruhi laju pertumbuhan
spesifik. Perlakuan tersebut menyebabkan stres dan menghilangkan napsu makan ikan lele
akibatnya pakan tidak dimanfaatkan sedemikian mungkin untuk pertumbuhan sehingga
memperlihatkan nilai pertumbuhan spesifik terendah daripada bak lainnya yaitu 2.77%.
Ketidakteraturan dalam jadwal pemberian pakan serta kealpaan pengecekan kondisi ikan
dalam bak menimbulkan sifat kanibalisme dan memperburuk kualitas air sehingga
menurunkan kelangsungan hidup ikan lele menjadi 47% meskipun performansi pertumbuhan
tertinggi juga terdapat pada bak tersebut yaitu 3.66% seperti yang terjadi di bak 8.

DAFTAR PUSTAKA
Achyar, M., 1979. Perikanan Darat. Indonesia Membangun 7.N.V. Mosa, Bandung
Anggorodi, , R. 1984. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT. Gramedia. Jakarta
Blaxter 1998 dalam Ardimas 2012
(Bureau et al. 2000)
Djatmika, D.H., Farlina, Sugiharti, E. 1986. Usaha Budidaya Ikan Lele. C.V. Simplex. Jakarta.

Durborow, R. M., Crosby, D. M. and Brunson, M. W. 2006. Ammonia in Fish Ponds. SRAC
Publication No. 463, 2 p.
Effendi, M.I. 1997. Metode Biologi Perikanan.Yayasan pustaka Nusantara. Yogyakarta.
Ganong. 1990. Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC.
(Mujiman, 1984).
Puspowardoyo, H. dan Djarijah, A.S. 2002. Pembenihan dan Pembesaran Lele Dumbo
Hemat Air. Yogyakarta. Penerbit Kanisius.
Santoso, B. 1994. Petunjuk Praktis Budidaya Lele Dumbo & Lokal. Yogyakarta. Penerbit
Kanisius.

LAMPIRAN
LAMPIRAN
Tabel 1. Data pengukuran ikan lele per ekor setelah akhir praktikum
Kolam

1
0

11 12

1
3

14 15

1
6

1
0

11

1
0

10

13

1
3

12

1
0

1
0

11

10

5
4
5
4
2
6
7
7
8

7
5
9
4
3
2
2
9
7

4
5
4
4

7
6
2
6

4
7
5
2

7
7
8
2

9
2
4
1

6
5
2
2

7
8
1
3

7
4
6
6

5
6
6
5

7
2
5
4

2
4
2
4

8
5
9
6

4
4
4
11

8
9
7
9

6
6
5
5

7
3
6
5

8
4
8
8

8
5
7
5

4
8
4
4

3
6
5
6

11

2
1
0

7
9
9
6
1
0
2

1
0

3
11
6
6
6

5
2
6
6
3

1
4
7
3
8

1
2
5
4
7
6
8

1
0
3
3
2
5
8

4
4
5
7
2

4
9
8
5
6

5
4
8
5
5

1
0
2
5
2
8
7

5
4
8
5
11

5
6
6
2
1
2

1
3
7 11
4 5
11 5
5 3
5 5
6

1
9

20

13

11

8
4
3
4

3
2
4
5

9
6
4
4

6
5
4
3

5
5
5
2

5
5
5
6

5
8
6
3

4
3
7
5

8
2
4
6

4
5
4
9

5
5
9
4

7
5
5
3

3
9
6
2

2
5
4
7

2
6
5
6

10

14

12

12

13

11

13

11

3
2
7
7
3

7
3
6
2
2

7
2
5
3
3

4
3
7
7
3

4
6
8
5
6

4
6
3
5
7

4
4
6
3
7

7
7
7
8

5
8
10
3

6
2
11
2

5
7
7
10

5
6
6
7

5
6
5
8

11

14

11

11

6
5
7
5
6

6
6
8
2
2

8
8
5
2
7

9
11
10
4
7

8
9
5
6
7

6
5
8
4
7

5
2
5

5
3
5

7
5
4

13
7
5

7
10
6

9
4
4

4
5
4

7
9
8

17 18

8
1
0
6

6
9

7
7

6
7

7
7

7
1
0
8
6
1
0

6
1
0
8
6
1
2

7
5

5
2

5
3

5
7

7
5

7
1
2
3

1
2
3

7
1
2
6

8
1
2
3

10

11

11

12

10

10

10

10

10

8
6

9
9

5
6

5
8

5
4

7
9

8
7

9
8

10
9

11
10

12
11

4
12

5
12

7
5

12

12

12

12

12

Tabel 2.
kolam

No

Nt

1
2
3
4
5
6
7
8
9

100
100
100
100
100
100
100
100
100

79
82
97
94
80
92
91
47
85

Wt
(gram
)
614
387
556
596
439
573
594
364
494

Wo
(gram)

ln(Wt
)

ln(Wo)

t
(hari)

SGR

SR

Rerata Bobot
Awal (gram)

100
100
100
100
100
100
100
100
100

2.05
1.55
1.75
1.85
1.70
1.83
1.88
2.05
1.76

0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00

56
56
56
56
56
56
56
56
56

3.66
2.77
3.12
3.30
3.04
3.27
3.35
3.66
3.14

79
82
97
94
80
92
91
47
85

1
1
1
1
1
1
1
1
1