Anda di halaman 1dari 481

LAPORAN

TUGAS AKHIR

PERENCANAAN BENDUNG TONGGAUNA


KABUPATEN KOLAKA TIMUR, SULAWESI TENGGARA
(Design of Tonggauna Weir at East Kolaka Regency, Southeast Sulawesi)

Disusun oleh :
RICKY PONDAAG

NIM. 21010114183009

YASSER

NIM. 21010114183011

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat akademis


dalam menyelesaikan pendidikan Program S1 Lintas Jalur
Jurusan Teknik Sipil Umum
Kerjasama KEMENPUPR UNDIP Semarang
2016

PROGRAM S1 LINTAS JALUR


KERJASAMA KEMENTERIAN PUPR - UNDIP
JURUSAN TEKNIK SIPIL UMUM
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2016

LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN TUGAS AKHIR

PERENCANAAN BENDUNG TONGGAUNA


KABUPATEN KOLAKA TIMUR, SULAWESI TENGGARA
(Design of Tonggauna Weir at East Kolaka Regency, Southeast Sulawesi)

RICKY PONDAAG

NIM. 21010114183009

YASSER

NIM. 21010114183011

Semarang,

Maret 2016

Disetujui,

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

PERENCANAAN BENDUNG TONGGAUNA


KABUPATEN KOLAKA TIMUR, SULAWESI TENGGARA
(Design of Tonggauna Weir at East Kolaka Regency, Southeast Sulawesi)

Tugas Akhir ini adalah hasil karya saya sendiri, dan semua sumber baik yang dikutip
maupun yang dirujuk telah saya nyatakan dengan benar.

Nama

: Ricky Pondaag

NIM

: 21010114183009

Tanda Tangan

: ............................

Tanggal

Nama

: Yasser

NIM

: 21010114183011

Tanda Tangan

: ............................

Tanggal

Maret 2016

Maret 2016

HALAMAN PENGESAHAN
UJIAN TUGAS AKHIR
Tugas Akhir ini diajukan oleh :
NAMA

: RICKY PONDAAG / YASSER

NIM

: 21010114183009 / 21010114183011

Jurusan

: Teknik Sipil

Judul Tugas Akhir

: PERENCANAAN BENDUNG TONGGAUNA


KABUPATEN KOLAKA TIMUR, SULAWESI TENGGARA
Design of Tonggauna Weir at East Kolaka Regency, Southeast
Sulawesi

Telah berhasil dipertahankan di hadapan Tim Penguji dan diterima sebagai bagian
persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik pada
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

TIM PENGUJI

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI


TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIK

Sebagai sivitas akademika Universitas Diponegoro, saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama

: Ricky Pondaag / Yasser

NIM

: 21010114183009 / 21010114183011

Jurusan

: Teknik Sipil

Program Studi

: S1 Teknik Sipil Lintas Jalur, Kerjasama Kementerian PUPR UNDIP

Jenis Karya

: Tugas Akhir

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas


Diponegoro Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non exclusive Royalti Free Right) atas
tugas akhir saya yang berjudul :

PERENCANAAN BENDUNG TONGGAUNA


KABUPATEN KOLAKA TIMUR, SULAWESI TENGGARA
(Design of Tonggauna Weir at East Kolaka Regency, Southeast Sulawesi)
Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti/Noneksklusif ini
Universitas Diponegoro berhak menyimpan, mengalihmedia/formatkan, mengelola dalam
bentuk pangkalan data (database), merawat dan mempublikasikan tugas akhir saya selama
tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di

: Semarang

Pada Tanggal :

Maret 2016

Yang menyatakan,

Ricky Pondaag

Yasser

NIM. 21010114183009

NIM. 21010114183011

LAPORAN TUGAS AKHIR


PERENCANAAN BENDUNG TONGGAUNA KABUPATEN
KOLAKA TIMUR, SULAWESI TENGGARA
(Design of Tonggauna Weir at Kolaka Timur,
Southeast Sulawesi)

ABSTRAK

UNDIP KEMENPUPERA

ABSTRAK

ABSTRAK
Untuk mendukung ketahanan pangan yang direncanakan pemerintah maka perlu dilakukan
pembangunan terhadap lokasi-lokasi yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan
menjadi daerah irigasi. Salah satu daerah irigasi yang akan dikembangkan adalah Daerah
Irigasi Tonggauna di Kabupaten Kolaka Timur Provinsi Sulawesi Tenggara. Sumber air
yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan air daerah irigasi ini berasal dari Sungai
Mokoseo.
Langkah awal dalam perencanaan bendung ini adalah analisis hidrologi untuk menentukan
debit banjir rencana dan debit kebutuhan air irigasi. Hasil analisis debit banjir rencana
selanjutnya digunakan untuk analisis hidrolis dan struktur bendung yang meliputi
perencanaan dimensi bendung, mercu, kolam olak, dan lantai muka. Sedangkan hasil
analisis debit kebutuhan air irigasi digunakan untuk analisis hidrolis saluran primer, saluran
penguras, saluran kantong lumpur, bangunan pengambilan dan bangunan pembilas. Setelah
perencanaan konstruksi bendung, dilakukan kontrol stabilitas bendung terhadap guling,
geser, eksentrisitas dan daya dukung tanah. Luas DAS Sungai Mokoseo adalah 70,79 km2,
dengan panjang sungai utama 10,45 km. Perhitungan debit banjir rencana menggunakan
metode Haspers diperoleh debit banjir rencana dengan periode ulang 100 tahun Q 100
231,16 m3/det.
Berdasarkan hasil analisis dan perencanaan Bendung Tonggauna diperoleh tipe bendung
yang dipilih yaitu Bendung tetap dengan 2 pintu intake dengan ukuran masing-masing
(1,50 m x 3.15 m) disebelah kanan yang mengairi areal persawahan seluas 2200 Ha dengan
kebutuhan debit irigasi 3,408 m3/det, lebar 27,50 m, tinggi 2,91 m, tipe mercu bulat, 2 pintu
pembilas dengan ukuran masing-masing pintu (1,05 m x 3.11 m), kolam olakan USBR Tipe
III, dan panjang lantai muka 15,00 m. Pada grafik neraca air dapat dilihat bahwa
ketersediaan air untuk memenuhi kebutuhan air pada bulan September sampai November
masih kurang, namun pada bulan Desember sampai Agustus terjadi surplus air. Untuk
mengatasi defisit ketersediaan air selama 3 bulan, D.I. Tonggauna perlu melakukan rotasi
tanaman pertanian menjadi tanaman palawija yaitu jagung. Adapun Rencana Anggaran
Biaya konstruksi perencanaan bendung direncanakan sebesar Rp. 10.170.580.000,00
(Sepuluh Milyar Seratus Tujuh Puluh Juta lima Ratus Delapan Puluh Ribu Rupiah).
Rencana waktu pelaksanaan Pembangunan Bendung Tonggauna adalah selama 39 minggu.
Kata kunci : Sungai Mokoseo, Daerah Irigasi Tonggauna, Bendung Tetap

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

ABSTRAK

ABSTRACT
To support the governments planned food security it is necessary to develop the
locations that have great potential to be developed into irrigation area. One of the
irrigation area to be developed is Tonggauna Irrigation Area in East Kolaka,
Southeast Sulawesi Province. Sources of water are used to meet the needs of
irrigation water is derived from the River Mokoseo.
The initial step in the plan is the hydrologic analysis to determine the flood
discharge plan and discharge of irrigation water requirements. The results flood
discharge analysis will be used for hydraulic and structural analysis which includes
planning weir dimensions weir, weir crest, stilling basin, upper stream floor. While
the results of the analysis of discharge water irrigation is used for intake, flush gate,
sand trap, drain channel and main canal. After the weir construction was planned,
the weir construction have to control to stability, sliding, eccentricity and bearing
capacity of the land. Mokoseo River watershed area is 70.79 km2, with the length
of main river 10.45 km. The calculation of flood discharge plan obtained using
Haspers methods with a return period of 100 years is Q100 231,16 m3/s.
Based on the analysis and planning of the Weirs Tonggauna obtained weir type that
is chosen is fixed weir with 2 intake doors with each size (1.50 m x 3,15 m) the right
which irrigate the rice fields with a total area of 2200 ha, discharge requirements
is 3.408 m3/s, width 27.50 m, height 2.91 m, , type of crest is round, 2 flush gate
with the size of each door (1.05 m x 3.11 m), stilling basin type is USBR type III,
and upper stream floor 15.00 m. In the graph water balance can be seen that the
availability of water that can meet the needs of irrigation water from September to
November are still less but in December to August are surplus water. To overcome
deficits in the availability of water for 3 months, D.I. Tonggauna need to rotate
agricultural plants into palawija crops such as corn. Budget plan planning of weir
construction is planned Rp. 10,170,580,000.00 (Ten Billion One Hundred Seventy
Million Five Hundred and Eighty Thousand Rupiah). Tonggauna weir project
implementation times planned is 39 weeks.

Keywords: Mokoseo River, Tonggauna Irrigation Area, Fixed weir


Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

ii

LAPORAN TUGAS AKHIR


PERENCANAAN BENDUNG TONGGAUNA KABUPATEN
KOLAKA TIMUR, SULAWESI TENGGARA
(Design of Tonggauna Weir at Kolaka Timur,
Southeast Sulawesi)

KATA PENGANTAR

UNDIP KEMENPUPERA

KATA PENGANTAR

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena
berkat dan rahmat-Nya, sehingga penyusunan Laporan Tugas Akhir dengan judul
Perencanaan Bendung Tonggauna, Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi
Tenggara dapat terselesaikan dengan baik. Penyusunan Laporan Tugas Akhir ini
merupakan salah satu syarat yang harus ditempuh setiap Karyasiswa pada Balai
Pengembangan SDM Wilayah II Semarang untuk menyelesaikan mata kuliah
Tugas Akhir sebagaimana yang telah ditetapkan dalam kurikulum.
Dalam penyusunan Laporan Tugas Akhir ini tidak lepas dari bimbingan
dan bantuan dari beberapa pihak, maka pada kesempatan ini penulis ingin
menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1.

Ir. Sugiyanto, M. Eng selaku Ketua Program S1 Teknik Sipil Lintas Jalur
Kerjasama Kementerian PU Universitas Diponegoro

2.

Ir. Salamun, MT selaku Dosen Pembimbing I yang telah memberikan


bimbingan dan masukan berharga bagi penulis.

3.

Ir. Hary Budieny selaku Dosen Pembimbing II yang telah memberikan


bimbingan dan masukan berharga bagi penulis.

4.

Ir. Dwi Kurniani, MS selaku Dosen Wali S1 Teknik Sipil Lintas Jalur
Kerjasama Kementerian PUPR Universitas Diponegoro Angkatan 2014.

5.

Seluruh Dosen Pengajar Program S1 Teknik Sipil Lintas Jalur Kerjasama


Kementerian PUPR Universitas Diponegoro.

6.

Seluruh staf administrasi Program S1 Teknik Sipil Lintas Jalur Kerjasama


Kementerian PUPR Universitas Diponegoro.

7.

Kedua Orang tua, kakak, abang dan adik-adik tercinta, terima kasih atas doa
maupun dukungan materi dan spiritual yang telah diberikan selama ini kepada
penyusun.

8.

Keluarga kecil Teknik Sipil Lintas Jalur Kerjasama Kementerian PUPR


Universitas Diponegoro angkatan 2014, kalian teman seperjuangan selama 2
tahun tugas belajar, semoga kita sukses di masa depan dan membanggakan
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

iii

KATA PENGANTAR

9.

Keluarga Besar LPPU, terimakasih ikut mewarnai cerita tugas belajar ini
dengan indah, semoga kita semua sukses di masa depan yang membentang
luas.

10.

Semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu yang telah
membantu secara moral dan material dalam menyelesaikan penulisan
Laporan Tugas Akhir ini.
Kami menyadari bahwa dalam menyusun Laporan Tugas Akhir ini masih

kurang sempurna, hal tersebut karena keterbatasan kemampuan kami, maka dari itu
kami harapkan pendapat, saran dan kritik yang membangun demi perbaikan pada
masa yang akan datang.
Akhir harapan kami, semoga Laporan Tugas Akhir ini bermanfaat bagi kita semua
dan terutama bagi penyusun sendiri untuk pedoman dan bekal kami sekembalinya
bekerja nanti.

Semarang, Maret 2016


Penyusun

Ricky Pondaag
NIM. 21010114183009

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

Yasser
NIM. 21010114183011

iv

LAPORAN TUGAS AKHIR


PERENCANAAN BENDUNG TONGGAUNA KABUPATEN
KOLAKA TIMUR, SULAWESI TENGGARA
(Design of Tonggauna Weir at Kolaka Timur,
Southeast Sulawesi)

DAFTAR ISI

UNDIP KEMENPUPERA

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN
HALAMAN PENGESAHAN TUGAS AKHIR
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
ABSTRAK .............................................................................................................. i
KATA PENGANTAR .......................................................................................... iii
DAFTAR ISI ...........................................................................................................v
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................xv
DAFTAR TABEL.................................................................................................xx
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xxiv

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................1


1.1. Latar Belakang..................................................................................1
1.2. Perumusan Masalah ..........................................................................2
1.3. Maksud dan Tujuan ..........................................................................3
1.4. Lokasi Perencanaan ..........................................................................3
1.5. Ruang Lingkup Pembahasan ............................................................6
1.6. Sistematika Penulisan .......................................................................6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...........................................................................9


2.1. Uraian Umum ...................................................................................9
2.2. Analisis Hidrologi ..........................................................................10
2.3. Penentuan Debit Banjir Rencana ....................................................11
2.3.1. Curah Hujan Daerah ...........................................................12
2.3.2. Daerah Aliran Sungai (DAS) ..............................................12
2.3.3. Analisis Curah Hujan Rencana ...........................................13
2.3.3.1.

Metode Rerata Aritmatik (Aljabar) ....................13

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

DAFTAR ISI

2.3.3.2.

Metode Thiessen.................................................14

2.3.3.3.

Metode Isohiet....................................................15

2.3.4. Analisis Frekuensi ..............................................................16


2.3.4.1.

Pengukuran Dispersi ..........................................17

2.3.4.2.

Pemilihan Jenis Sebaran.....................................19

2.3.4.3.

Pengujian Kesesuaian Distribusi ........................28

2.3.5. Intensitas Curah Hujan .......................................................32


2.3.5.1.

Menurut Dr. Mononobe .....................................33

2.3.5.2.

Menurut Sherman ...............................................33

2.3.5.3.

Menurut Talbot...................................................34

2.3.5.4.

Menurut Ishiguro ...............................................34

2.3.5.5.

Menurut Van Breen ............................................35

2.3.6. Analisis Debit Banjir Rencana............................................35


2.3.6.1.

Metode Rasional.................................................35

2.3.6.2.

Metode Haspers .................................................37

2.3.6.3.

Metode Satuan Sintetik (HSS) Gama I ..............38

2.3.6.4.

Metode Passing Capasity...................................40

2.4. Analisa Kebutuhan Air ...................................................................40


2.4.1. Kebutuhan Air Tanaman.....................................................40
2.4.1.1.

Evapotranspirasi .................................................41

2.4.1.2.

Koefisien Tanaman (Kc) ....................................41

2.4.1.3.

Perkolasi .............................................................42

2.4.1.4.

Curah Hujan Efektif (Re) ...................................43

2.4.1.5.

Kebutuhan Air untuk Pengolahan Lahan ...........47

2.4.1.6.

Kebutuhan Air untuk Pertumbuhan ...................48

2.4.2. Kebutuhan Air untuk Irigasi ...............................................49


2.4.2.1.

Pola Tanaman dan Perencanaan Tata Tanam.....49

2.4.2.2.

Efisiensi Irigasi...................................................50

2.4.3. Analisis Debit Andalan .......................................................50


2.4.4. Perhitungan Neraca Air ......................................................60
2.5. Analisis Hidrolis Bendung dan Bangunan Pelengkap ....................61
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

vi

DAFTAR ISI

2.5.1. Pemilihan Tipe Bendung ....................................................61


2.5.2. Pemilihan Lokasi Bendung .................................................64
2.5.3. Saluran Primer ....................................................................64
2.5.4. Alat Pengukur Debit ...........................................................67
2.5.4.1.

Pintu Romijn .......................................................67

2.5.4.2.

Alat Ukur Ambang Lebar...................................69

2.5.4.3.

Alat Ukur Crump de Gruyter .............................70

2.5.5. Saluran Kantong Lumpur ...................................................70


2.5.6. Pintu Penguras Saluran Kantong Lumpur ..........................73
2.5.7. Bangunan Pengambilan ......................................................74
2.5.8. Lebar Bendung ...................................................................76
2.5.9. Menentukan Tipe Mercu Bendung .....................................78
2.5.9.1.

Mercu Bulat........................................................78

2.5.9.2.

Mercu Ogee ........................................................82

2.5.10. Tinggi Air Banjir di Hilir Bendung ....................................85


2.5.11. Tinggi Air Banjir di Atas Mercu ........................................85
2.5.12. Kolam Olak.........................................................................86
2.5.12.1. Kolam Olak Tipe Bak Tenggelam .....................87
2.5.12.2. Kolam Vlugter ....................................................88
2.5.12.3. Kolam Olak USBR Tipe III ................................89
2.5.12.4. Kolam Olak USBR Tipe IV ................................90
2.5.13. Panjang Lantai Muka ..........................................................91
2.5.14. Tebal Lantai Kolam Olak ...................................................92
2.6. Tinjauan Gerusan di Hilir Bendung ...............................................93
2.7. Analisis Struktur Vertikal ...............................................................93
2.7.1. Analisis Gaya-Gaya Vertikal ..............................................94
2.7.1.1.

Gaya-Gaya Akibat Berat Sendiri Bendung ........94

2.7.1.2.

Gaya Angkat (Uplift Pressure) ...........................94

2.7.2. Analisis Gaya-Gaya Horisintal ...........................................95


2.7.2.1.

Gaya Akibat Tekanan Lumpur ...........................95

2.7.2.2.

Gaya Hidrostatis .................................................96

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

vii

DAFTAR ISI

2.7.2.3.

Gaya akibat Tekanan Aktif dan Pasif.................96

2.7.2.4.

Gaya Gempa .......................................................97

2.8. Analisis Stabilitas Bendung ............................................................98


2.8.1. Analisis Terhadap Guling ...................................................98
2.8.2. Analisis Terhadap Geser .....................................................99
2.8.3. Analisis Terhadap Daya Dukung Tanah .............................99
2.8.4. Analisis Terhadap Erosi Bawah Tanah (Pipping) ............100
2.8.5. Analisis Terhadap Rembesan ...........................................100

BAB III METODOLOGI.................................................................................101


3.1. Uraian Umum ...............................................................................101
3.2. Tahap Persiapan............................................................................101
3.3. Tahap Pengumpulan Data.............................................................103
3.4. Tahap Analisis ..............................................................................104
3.4.1. Analisis Letak Bendung ....................................................104
3.4.2. Analisis Hidrologi .............................................................105
3.4.2.1.

Perhitungan Debit Banjir Rencana ...................105

3.4.2.2.

Analisis Kebutuhan Air ....................................106

3.4.3. Analisis Struktur dan Tinjauan Hidrolis Bendung ...........107


3.4.3.1.

Analisis Struktur Bendung ...............................107

3.4.3.2.

Tinjauan Hidrolis Bendung ..............................108

3.4.4. Analisis Stabilitas Bendung ..............................................108


3.5. Perancangan Dokumen Kontrak ...................................................109
3.5.1. Gambar Kerja....................................................................109
3.5.2. Rencana Anggaran Biaya .................................................109
3.5.3. Jadwal Pelaksanaan dan Network Planning .....................109
3.5.4. Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS) ..........................109
3.5.5. Metode Pelaksanaan .........................................................110

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

viii

DAFTAR ISI

BAB IV ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI ....111


4.1. Uraian Umum ...............................................................................111
4.2. Daerah Aliran Sungai (DAS) ........................................................112
4.3. Uji Konsistensi Data .....................................................................112
4.4. Analisis Curah Hujan Rata-Rata Daerah Aliran Sungai ...............117
4.4.1. Data Curah Hujan Maksimum ..........................................118
4.4.2. Analisis Curah Hujan dengan Metode Poligon
Thiessen ............................................................................118
4.5. Analisis Frekuensi Curah Hujan Rencana ....................................119
4.5.1. Pengukuran Dispersi .........................................................119
4.5.2. Pemilihan Distribusi Curah Hujan ....................................122
4.5.3. Pengujian Kesesuaian Distribusi ......................................123
4.5.3.1.

Uji Kesesuaian Distribusi dengan Metode Chi


Kuadrat ............................................................123

4.5.3.2.

Uji Kesesuaian Distribusi dengan Metode


Smirnov Kolmogorov .......................................127

4.5.4. Perhitungan Distribusi Curah Hujan Metode Log


Pearson Tipe III................................................................130
4.5.5. Analisis Intensitas Curah Hujan .......................................131
4.5.6. Analisis Debit Banjir Rencana..........................................132
4.5.6.1.

Metode Rasional...............................................133

4.5.6.2.

Metode Haspers ...............................................135

4.5.6.3.

Metode Hidrograf Satuan Sintetik (HSS)


Gama I ..............................................................136

4.5.6.4.

Metode Passing Capasity.................................151

4.5.7. Rekapitulasi Debit Banjir Rencana...................................153


4.6. Analisis Kebutuhan Air ................................................................154
4.6.1. Kebutuhan Air untuk Tanaman ........................................155
4.6.1.1.

Evapotranspirasi ...............................................155

4.6.1.2.

Perkolasi ...........................................................159

4.6.1.3.

Koefisien Tanaman (Kc) ..................................159

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

ix

DAFTAR ISI

4.6.1.4.

Curah Hujan Efektif .........................................159

4.6.1.5.

Penyiapan Lahan ..............................................161

4.6.1.6.

Kebutuhan Air Pertumbuhan............................162

4.6.1.7.

Pola Tanam dan Perencanaan Tata Tanam ......162

4.7. Analisis Debit Andalan.................................................................171

BAB V

ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG ...............176


5.1. Uraian Umum ...............................................................................176
5.2. Data Teknis Perencanaan .............................................................176
5.3. Analisis Hidrolis dan Desain Bangunan Pelengkap .....................177
5.3.1. Desain Saluran Primer ......................................................177
5.3.2. Ambang Lebar ..................................................................180
5.3.3. Desain Kantong Lumpur ..................................................181
5.3.4. Desain Bangunan Penguras ..............................................186
5.3.4.1.

Dimensi Balok Penguras ..................................191

5.3.4.2.

Dimensi Stang Pengangkat Pintu Penguras .....192

5.3.5. Bangunan Pengambilan ....................................................195


5.3.5.1.

Dimensi Balok Pengambilan ............................197

5.3.5.2.

Dimensi Stang Pengangkat Pintu


Pengambilan .....................................................198

5.4. Analisis Struktur Bendung ...........................................................201


5.4.1. Analisis Letak Bendung ....................................................201
5.4.2. Analisis Muka Air Sungai di Hilir Bangunan Bendung ...202
5.4.3. Analisis Lebar Efektif Bendung .......................................203
5.4.4. Analisis Elevasi Mercu Bendung .....................................204
5.4.5. Analisis Tinggi Air banjir di Atas Mercu Bendung .........204
5.4.6. Desain Mercu Bendung ....................................................208
5.4.7. Desain Bangunan Pembilas Bendung ...............................209
5.4.7.1.

Dimensi Balok Pembilas Bendung...................209

5.4.7.2.

Dimensi Stang Pengangkat Pintu Pembilas


Bendung ...........................................................211

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

DAFTAR ISI

5.4.8. Perencanaan Dinding Penahan Tanah ..............................214


5.4.9. Desain Kolam Olak ..........................................................218
5.4.9.1.

Menentukan Tipe Kolam Olak .........................218

5.4.9.2.

Desain Kolam Olak USBR Tipe III ..................219

5.4.10. Desain Panjang Lantai Muka ............................................222


5.4.11. Menentukan Tebal Lantai Kolam Olak ............................229
5.4.12. Tinjauan Terhadap Gerusan..............................................232

BAB VI ANALISIS STABILITAS BENDUNG ............................................235


6.1. Tinjauan Umum ............................................................................235
6.2. Analisis Gaya yang Bekerja pada Bendung .................................235
6.2.1. Perhitungan Gaya Tetap ...................................................235
6.2.1.1.

Gaya Akibat Berat Sendiri Bendung ................237

6.2.1.2.

Gaya Akibat Terjadinya Gempa.......................238

6.2.1.3.

Gaya Akibat Tekanan Tanah Aktif dan


Pasif ..................................................................239

6.2.2. Perhitungan Gaya pada Kondisi Normal ..........................240


6.2.2.1.

Perhitungan Gaya Hidrostatis ..........................241

6.2.2.2.

Gaya Angkat (Uplift Pressure) .........................244

6.2.2.3.

Rekapitulasi Gaya dan Momen pada Kondisi


Normal..............................................................245

6.2.2.4.

Analisis Stabilitas pada Kondisi Normal .........245

6.2.3. Perhitungan Gaya pada Kondisi Banjir ............................247


6.2.3.1.

Perhitungan Gaya Hidrostatis ..........................249

6.2.3.2.

Gaya Angkat (Uplift Pressure) .........................250

6.2.3.3.

Rekapitulasi Gaya dan Momen pada Kondisi


Banjir ................................................................252

6.2.3.4.

Analisis Stabilitas pada Kondisi Banjir............252

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

xi

DAFTAR ISI

BAB VII RENCANA ANGGARAN BIAYA DAN JADWAL


PELAKSANAAN PROYEK .............................................................254
7.1. Tinjauan Umum ............................................................................254
7.2. Metode Pelaksanaan .....................................................................254
7.2.1. Deskripsi Lokasi Pekerjaan ..............................................254
7.2.2. Pekerjaan Persiapan ..........................................................255
7.2.2.1.

Mobilisasi dan Demobilisasi ............................255

7.2.2.2.

Pembersihan Lahan ..........................................256

7.2.2.3.

Kupasan ............................................................257

7.2.2.4.

Pembuatan Jalan Sementara .............................258

7.2.2.5.

Pengukuran .......................................................258

7.2.2.6.

Pemasangan Bouwplank ...................................259

7.2.2.7.

Penyediaan Direksi Keet ..................................260

7.2.2.8.

Pembuatan Gudang Material dan Barak


Pekerja ..............................................................260

7.2.2.9.

Pekerjaan Dewatering ......................................261

7.2.2.10. Administrasi dan Dokumentasi ........................261


7.2.3. Pekerjaan Tanah................................................................262
7.2.3.1.

Galian Tanah dengan Alat Berat ......................262

7.2.3.2.

Galian Tanah dengan Manual ..........................262

7.2.3.3.

Timbunan Tanah ..............................................263

7.2.3.4.

Timbunan Kembali pada Bangunan .................265

7.2.3.5.

Jalan Inspeksi Sub-Base Klas C .......................265

7.2.3.6.

Gebalan Rumput...............................................266

7.2.4. Pekerjaan Bendung dan Bangunan Pelengkap .................266


7.2.4.1.

Pasangan Batu Kali ..........................................266

7.2.4.2.

Plesteran ...........................................................267

7.2.4.3.

Pekerjaan Siar...................................................268

7.2.4.4.

Pekerjaan Penulangan (Pembesian) .................269

7.2.4.5.

Pekerjaan Bekisting..........................................270

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

xii

DAFTAR ISI

7.2.4.6.

Pekerjaan Selimut Beton Bertulang


1 Pc : 1,5 Ps : 2,5 Kr (K-225) ...........................271

7.2.5. Pekerjaan Lain-Lain..........................................................271


7.2.5.1.

Pekerjaan Pintu.................................................271

7.2.5.2.

Finishing ..........................................................272

7.3. Time Schedule dan Kurva S ..........................................................272


7.3.1. Perhitungan Volume Pekerjaan ........................................273
7.3.1.1.

Pekerjaan Persiapan .........................................273

7.3.1.2.

Pekerjaan Tanah ...............................................276

7.3.1.3.

Pekerjaan Bendung dan Bangunan


Pelengkap .........................................................287

7.3.1.4.

Pekerjaan Lain-Lain .........................................305

7.3.2. Daftar Harga Satuan .........................................................305


7.3.3. Analisa Harga Satuan .......................................................307
7.3.4. Rencana Anggaran Biaya .................................................316
7.4. Analisa Man Power ......................................................................317
7.5. Network Planning (NWP) ............................................................320

BAB VIII RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT ...........................322


8.1. Tinjauan Umum ............................................................................322
8.2. Instruksi Kepada Peserta Pengadaan (IKP) ..................................322
8.3. Lembar Data Pemilihan (LDP) .....................................................323
8.4. Lembar Data Kualifikasi (LDK) ..................................................324
8.5. Bentuk Dokumen Penawaran .......................................................324
8.6. Bentuk Pengisian Formulir Kualifikasi ........................................325
8.7. Tata Cara Evaluasi Kualifikasi .....................................................325
8.8. Bentuk Rancangan Kontrak ..........................................................326
8.9. Syarat-Syarat Umum Kontrak (SSUK) ........................................326
8.10. Syarat-Syarat Khusus Kontrak (SSKK) .......................................327
8.11. Spesifikasi Teknis dan Gambar ....................................................328
8.12. Daftar Kuantitas dan Harga ..........................................................328
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

xiii

DAFTAR ISI

8.13. Bentuk Dokumen Lain .................................................................328

BAB IX

KESIMPULAN DAN SARAN .......................................................356


9.1. Kesimpulan ...................................................................................356
9.2. Saran .............................................................................................357

DAFTAR PUSTAKA .........................................................................................358

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

xiv

LAPORAN TUGAS AKHIR


PERENCANAAN BENDUNG TONGGAUNA KABUPATEN
KOLAKA TIMUR, SULAWESI TENGGARA
(Design of Tonggauna Weir at Kolaka Timur,
Southeast Sulawesi)

DAFTAR GAMBAR

UNDIP KEMENPUPERA

DAFTAR GAMBAR

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1.

Peta Propinsi Sulawesi Tenggara ...................................................4

Gambar 1.2.

Rencana Lokasi Bendung ...............................................................5

Gambar 2.1.

Kegiatan Pengembangan Sumber Daya Air .................................10

Gambar 2.2.

Poligon Thiessen ..........................................................................15

Gambar 2.3.

Metode Isohiet..............................................................................16

Gambar 2.4.

Koefisien Kurtosis ........................................................................19

Gambar 2.5.

Sketsa Penetapan RUA ................................................................40

Gambar 2.6.

Daerah Cekungan Air Tanah di Sulawesi Tenggara ....................54

Gambar 2.7.

Potongan CAT yang terdiri dari Akuifer Bebas dan Akuifer


Tertekan........................................................................................55

Gambar 2.8.

Proses Pengisian Daerah Imbuhan ...............................................55

Gambar 2.9.

Proses Pengisian Daerah Lepasan ................................................56

Gambar 2.10.

Contoh Potongan Daerah Bukan CAT .........................................57

Gambar 2.11.

Aliran Air di Daerah Bukan CAT ................................................58

Gambar 2.12.

Proses Aliran Air pada Daerah Bukan CAT ...............................59

Gambar 2.13.

Skema Bendung Tetap dengan Kantong Lumpur ........................63

Gambar 2.14.

Potongan Melintang Dimensi Saluran Primer..............................65

Gambar 2.15.

Alat Ukur Romijn .........................................................................69

Gambar 2.16.

Potongan Memanjang Kantong Lumpur ......................................71

Gambar 2.17.

Potongan Melintang Kantong Lumpur.........................................71

Gambar 2.18.

Grafik Hubungan Diameter Saringan dan Kecepatan Endap


Lumpur untuk Air Tenang ...........................................................74

Gambar 2.19.

Potongan Melintang Bangunan Pengambilan ..............................76

Gambar 2.20.

Sketsa Lebar Efektif Bendung .....................................................77

Gambar 2.21.

Bendung dengan Mercu Bulat ......................................................79

Gambar 2.22.

Tekanan pada Mercu Bendung Bulat sebagai Fungsi


Perbandingan H1/r ........................................................................80

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

xv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.23.

Harga-Harga Koefisien C0 untuk Bendung Ambang Bulat


sebagai Fungsi Perbandingan H1/p...............................................80

Gambar 2.24.

Koefisien C1 sebagai Fungsi Perbandingan p/H1 .........................81

Gambar 2.25.

Harga-Harga Koefisien C2 untuk Bendung Mercu Ogee dengan


Muka Hulu Melengkung (menurut USBR,1960) .........................81

Gambar 2.26.

Faktor Pengurangan Aliran Tenggelam sebagai Fungsi H2/H1 ....82

Gambar 2.27.

Tipe Mercu Ogee..........................................................................83

Gambar 2.28.

Faktor Koreksi untuk Selain Tinggi Energi Rencana pada


Bendung Mercu Ogee (Menurut Ven Te Chow, 1959,
Berdasarkan Data USBR dan WES) ............................................84

Gambar 2.29.

Sketsa Tinggi Air Banjir di Hilir Bendung ..................................85

Gambar 2.30.

Elevasi Air di Atas Mercu ............................................................86

Gambar 2.31.

Kolam Olak Tipe Bak Tenggelam ...............................................87

Gambar 2.32.

Kolam Vlugter ..............................................................................88

Gambar 2.33.

Karakteristik Kolam Olak USBR Tipe III ...................................89

Gambar 2.34.

Kolam Olak USBR Tipe IV .........................................................90

Gambar 2.35.

Gaya Angkat pada Pondasi Bendung ...........................................95

Gambar 2.36.

Gaya Hidrostatis pada Bendung ...................................................96

Gambar 3.1.

Bagan Alir Pengerjaan Tugas Akhir ..........................................102

Gambar 4.1.

Peta DAS Tonggauna ................................................................112

Gambar 4.2.

Grafik Double Mass Curve Stasiun Lasusua ............................114

Gambar 4.3.

Grafik Double Mass Curve Stasiun Abuki.................................115

Gambar 4.4.

Grafik Double Mass Curve Stasiun Mowewe............................116

Gambar 4.5.

Poligon Thiessen DAS Tonggauna ............................................118

Gambar 4.6.

Kurva Intensitas-Durasi-Frekuensi (IDF) dengan Metode


Mononobe ....................................................................................132

Gambar 4.7.

Orde Sungai Mokoseo dan Sungai Labeta .......................................138

Gambar 4.8.

Hidrograf Satuan Sintetik (HSS) Gama I ..................................142

Gambar 4.9.

Debit Banjir Rencana Dengan Metode HSS Gama I .................150

Gambar 4.10.

Potongan Melintang Sungai Patok A.64 ....................................152

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

xvi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.11.

Grafik Debit Andalan .................................................................174

Gambar 4.12.

Grafik Hubungan Q Debit Andalan dan Q Kebutuhan Air ........175

Gambar 5.1.

Potongan Melintang Sungai di As Bendung ..............................177

Gambar 5.2.

Dimensi Saluran Primer Pada Bagian Hulu ...............................179

Gambar 5.3.

Sketsa Potongan Melintang Kantong Lumpur ...........................181

Gambar 5.4.

Potongan Melintang Kantong Lumpur Dalam Keadaan Penuh


pada Qn ......................................................................................182

Gambar 5.5.

Potongan Melintang Kantong Lumpur Dalam Keadaan


Kosong pada Qs .........................................................................183

Gambar 5.6.

Diagram Shield ...........................................................................184

Gambar 5.7.

Potongan Memanjang Kantong Lumpur ....................................186

Gambar 5.8.

Potongan Melintang Saluran Penguras ......................................188

Gambar 5.9.

Sket Pertemuan Sungai dengan Saluran Bilas ...........................189

Gambar 5.10.

Potongan Memanjang Saluran Penguras ...................................190

Gambar 5.11.

Sket Pintu Penguras untuk Perhitungan Tekanan pada


Balok Kayu.................................................................................191

Gambar 5.12.

Sket Pintu Penguras untuk Perhitungan Stang Pengangkat


Pintu ...........................................................................................192

Gambar 5.13.

Detail Stang Pengangkat Pintu Penguras ...................................194

Gambar 5.14.

Potongan Melintang Pintu Pengambilan ...................................196

Gambar 5.15.

Sket Pintu Pengambilan untuk Perhitungan Tekanan pada


Balok Kayu.................................................................................197

Gambar 5.16.

Sket Pintu Pengambilan untuk Perhitungan Stang


Pengangkat Pintu.......................................................................198

Gambar 5.17.

Detail Stang Pengangkat Pintu Pengambilan .............................200

Gambar 5.18.

Elevasi Mercu Bendung .............................................................204

Gambar 5.19.

Harga-Harga Koefisien C0 untuk Bendung Ambang Bulat


sebagai Fungsi Perbandingan H1/r ............................................206

Gambar 5.20.

Koefisien C1 sebagai Fungsi Perbandingan p/H1 .......................206

Gambar 5.21.

Elevasi Muka Air Banjir ...........................................................208

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

xvii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 5.22.

Dimensi Mercu ..........................................................................208

Gambar 5.23.

Elevasi Air di Hulu dan di Hilir dan Penampang Mercu ...........209

Gambar 5.24.

Sket Pintu Pembilas untuk Perhitungan Tekanan pada


Balok Kayu.................................................................................209

Gambar 5.25.

Sket Pintu Pembilas untuk Perhitungan Stang


Pengangkat Pintu.......................................................................211

Gambar 5.26.

Detail Stang Pengangkat Pintu Pembilas ...................................213

Gambar 5.27.

Rencana Dinding Penahan Pasangan Batu Kali .........................214

Gambar 5.28.

Gaya-Gaya Horisontal yang Bekerja pada Dinding Penahan


Kondisi Banjir ............................................................................214

Gambar 5.29.

Gaya-Gaya Vertikal yang Bekerja pada Dinding Penahan


Kondisi Banjir ............................................................................215

Gambar 5.30.

Karakteristik Kolam Olak USBR Tipe III ..................................220

Gambar 5.31.

Rencana Dimensi Bendung Kondisi Normal .............................223

Gambar 5.32.

Rencana Dimensi Bendung Kondisi Banjir ...............................226

Gambar 5.33.

Tebal Minimum Lantai Kolam Olak Kondisi Normal ...............230

Gambar 5.34.

Tebal Minimum Lantai Kolam Olak Kondisi Banjir .................231

Gambar 5.35.

Kedalaman Terhadap Gerusan ...................................................233

Gambar 5.35.

Rencana Dimensi Bendung ........................................................234

Gambar 6.1.

Sketsa Gaya Tetap ......................................................................236

Gambar 6.2.

Sketsa Letak Gaya Hidrostatis dan Uplift Kondisi Normal .......243

Gambar 6.3.

Sketsa Letak Gaya Hidrostatis dan Uplift Kondisi Banjir .........248

Gambar 7.1.

Sketsa Akses Menuju Lokasi Pekerjaan ...................................254

Gambar 7.2.

Pekerjaan Pembersihan Lahan ..................................................257

Gambar 7.3.

Pekerjaan Kupasan ....................................................................257

Gambar 7.4.

Pekerjaan Pembuatan Jalan Sementara .....................................258

Gambar 7.5.

Pekerjaan Pengukuran ...............................................................259

Gambar 7.6.

Pekerjaan Bouwplank ................................................................259

Gambar 7.7.

Pekerjaan Dewatering ...............................................................261

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

xviii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 7.8.

Pekerjaan Timbunan Tanah .......................................................265

Gambar 7.9.

Pekerjaan Jalan Inspeksi ...........................................................266

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

xix

LAPORAN TUGAS AKHIR


PERENCANAAN BENDUNG TONGGAUNA KABUPATEN
KOLAKA TIMUR, SULAWESI TENGGARA
(Design of Tonggauna Weir at Kolaka Timur,
Southeast Sulawesi)

DAFTAR TABEL

UNDIP KEMENPUPERA

DAFTAR TABEL

DAFTAR TABEL
Tabel 2.1.

Probabilitas Kumulatif Distribusi Normal Standar .....................21

Tabel 2.2.

Nilai yn dan n Fungsi Jumlah Data ............................................22

Tabel 2.3.

Nilai KT untuk Distribusi Log Pearson Tipe III ( Kemencengan


Positif ) .........................................................................................25

Tabel 2.4.

Nilai KT untuk Distribusi Log Pearson Tipe III ( Kemencengan


Negatif ) .......................................................................................26

Tabel 2.5.

Parameter Statistik untuk Menentukan Jenis Distribusi...............28

Tabel 2.6.

Nilai Chi-Kuadrat Kritik ..............................................................30

Tabel 2.7.

Nilai kritik Uji Smirnov Kolmogorov ...........................................32

Tabel 2.8.

Koefisien Aliran C .......................................................................36

Tabel 2.9.

Koefisien Tanaman untuk Padi dan Palawija Menurut Nedesco /


Porosida .......................................................................................42

Tabel 2.10.

Koefisien Curah Hujan untuk Padi ..............................................44

Tabel 2.11.

Curah Hujan Efektif Rata-Rata Bulanan Dikaitkan dengan


ET Tanaman Rata-Rata Bulanan dan Curah Hujan Rata-Rata
Bulanan ........................................................................................46

Tabel 2.12.

Koefisien Kebutuhan Air Selama Penyiapan Lahan ....................47

Tabel 2.13.

Perhitungan Neraca Air ................................................................60

Tabel 2.14.

Harga ks (Koefisien Strickler) .....................................................65

Tabel 2.15.

Besarnya Tinggi Jagaan ...............................................................66

Tabel 2.16.

Tipe Pintu Romijn ........................................................................68

Tabel 2.17.

Harga-Harga Koefisen Kontraksi Pilar (Kp)................................78

Tabel 2.18.

Harga-Harga Koefisen Kontraksi Pangkal Bendung (Ka) ...........78

Tabel 2.19.

Harga-Harga k dan n ....................................................................83

Tabel 2.20.

Harga-Harga Minimum Angka Rembesan Lane (CL) .................92

Tabel 2.21.

Harga-Harga Koefisien Tanah .....................................................98

Tabel 2.22.

Harga-Harga Percepatan Kejut Dasar ..........................................98

Tabel 4.1.

Konsistensi Data Stasiun Lasusua ..............................................113

Tabel 4.2.

Konsistensi Data Stasiun Abuki .................................................114

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

xx

DAFTAR TABEL

Tabel 4.3.

Konsistensi Data Stasiun Mowewe ............................................116

Tabel 4.4.

Luas Pengaruh tiap Stasiun terhadap DAS Tonggauna .............117

Tabel 4.5.

Perhitungan Curah Hujan Maksimum Metode Poligon


Thiessen .....................................................................................118

Tabel 4.6.

Parameter Statistik Curah Hujan ................................................120

Tabel 4.7.

Parameter Statistik Logaritma Natural Curah Hujan ................121

Tabel 4.8.

Syarat Pemilihan Distribusi........................................................123

Tabel 4.9.

Urutan Hujan Maksimum Tahunan ............................................123

Tabel 4.10.

Perhitungan Jumlah Kelas, x, Ef, X awal, X akhir ..................124

Tabel 4.11.

Perhitungan Uji Chi-Kuadrat ....................................................125

Tabel 4.12.

Urutan Hujan Maksimum Tahunan Nilai Logaritma Natural ....125

Tabel 4.13.

Perhitungan Jumlah Kelas, x, Ef, X awal, X akhir Nilai


Logaritma Natural ......................................................................126

Tabel 4.14.

Perhitungan Uji Chi-Kuadrat Nilai Logaritma Natural .............127

Tabel 4.15.

Data Hujan dan Probabilitas untuk Distribusi Log Pearson


Tipe III .......................................................................................128

Tabel 4.16.

Perhitungan Persamaan Garis Lurus Distribusi Log Pearson


Tipe III .......................................................................................128

Tabel 4.17.

Hasil Perhitungan Curah Hujan Rencana dengan Metode Log


Pearson Tipe III (variat ln) ........................................................128

Tabel 4.18.

Perhitungan Intensitas Curah Hujan...........................................131

Tabel 4.19.

Perhitungan Debit Banjir Dengan Metode Rasional ..................134

Tabel 4.20.

Perhitungan Debit Banjir Dengan Metode Haspers...................136

Tabel 4.21.

Perhitungan Debit Rencana (Qt) untuk 0 < t < TR ....................140

Tabel 4.22.

Perhitungan Debit Rencana (Qt) untuk t>TR ............................140

Tabel 4.23.

Debit Rencana (Qt) Metode HSS Gama I ..................................141

Tabel 4.24.

Perhitungan Curah Hujan Efektif ..............................................143

Tabel 4.25.

Hidrograf Banjir Periode Ulang 2 Tahun ..................................144

Tabel 4.26.

Hidrograf Banjir Periode Ulang 5 Tahun ..................................145

Tabel 4.27.

Hidrograf Banjir Periode Ulang 10 Tahun ................................146

Tabel 4.28.

Hidrograf Banjir Periode Ulang 25 Tahun ................................146

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

xxi

DAFTAR TABEL

Tabel 4.29.

Hidrograf Banjir Periode Ulang 50 Tahun ................................147

Tabel 4.30.

Hidrograf Banjir Periode Ulang 100 Tahun ..............................148

Tabel 4.31.

Rekapitulasi Debit Banjir Rencana dengan Metode HSS


Gama I .......................................................................................149

Tabel 4.32.

Harga Koefisien Manning ..........................................................151

Tabel 4.33.

Rekapitulasi Debit Banjir Rencana dengan beberapa


Metode .......................................................................................153

Tabel 4.34.

Suhu Udara .................................................................................155

Tabel 4.35.

Kelembaban Udara .....................................................................155

Tabel 4.36.

Kecepatan Angin ........................................................................156

Tabel 4.37.

Penyinaran Matahari ..................................................................156

Tabel 4.38.

Perhitungan Evapotransirasi Penman ........................................157

Tabel 4.39.

Curah Hujan Efektif ...................................................................160

Tabel 4.40.

Kebutuhan Air Tanaman Padi ...................................................164

Tabel 4.41.

Kebutuhan Air Tanaman Jagung ................................................167

Tabel 4.42.

Rotasi Teknis / Golongan ..........................................................170

Tabel 4.43.

Perhitungan Debit Andalan Metode F.J. Mock Tahun 2000 .....172

Tabel 4.44.

Rekapitulasi Debit Andalan (Tahun 2000-2014) .......................173

Tabel 4.45.

Penentuan Debit Andalan ...........................................................174

Tabel 4.46.

Perhitungan Neraca Air ..............................................................175

Tabel 5.1.

Perhitungan Tinggi Air di Hilir Bendung .................................202

Tabel 5.2.

Tekanan Tanah Aktif dan Pasif ..................................................216

Tabel 5.3.

Gaya Berat Sendiri (W) ..............................................................216

Tabel 5.4.

Gaya Gempa (E).........................................................................217

Tabel 5.5.

Rekap Gaya-Gaya yang Terjadi .................................................217

Tabel 5.6.

Perhitungan Panjang Rembesan dan Tekanan Air


Kondisi Normal ..........................................................................224

Tabel 5.7.

Perhitungan Panjang Rembesan dan Tekanan Air


Kondisi Banjir ...........................................................................227

Tabel 6.1.

Gaya Berat Bendung ..................................................................237

Tabel 6.2.

Gaya Gempa ...............................................................................238

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

xxii

DAFTAR TABEL

Tabel 6.3.

Gaya Akibat Tekanan Tanah Aktif dan Pasif ............................240

Tabel 6.4.

Perhitungan Gaya Hidrostatis ....................................................241

Tabel 6.5.

Perhitungan Gaya Angkat Horisontal Bendung Kondisi


Normal........................................................................................244

Tabel 6.6.

Perhitungan Gaya Angkat Vertikal Bendung Kondisi


Normal........................................................................................244

Tabel 6.7.

Rekapitulasi Perhitungan Gaya-Gaya yang Bekerja pada


Kondisi Normal ..........................................................................245

Tabel 6.8.

Perhitungan Gaya Hidrostatis Arah Horisontal Kondisi


Banjir ..........................................................................................249

Tabel 6.9.

Perhitungan Gaya Hidrostatis Arah Vertikal Kondisi


Banjir ..........................................................................................249

Tabel 6.10.

Perhitungan Gaya Angkat Horisontal Bendung Kondisi


Banjir ..........................................................................................250

Tabel 6.11.

Perhitungan Gaya Angkat Vertikal Bendung Kondisi


Banjir ..........................................................................................251

Tabel 6.12.

Rekapitulasi Perhitungan Gaya-Gaya yang Bekerja pada


Kondisi Banjir ............................................................................252

Tabel 8.1.

Mutu Beton.................................................................................344

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

xxiii

LAPORAN TUGAS AKHIR


PERENCANAAN BENDUNG TONGGAUNA KABUPATEN
KOLAKA TIMUR, SULAWESI TENGGARA
(Design of Tonggauna Weir at Kolaka Timur,
Southeast Sulawesi)

DAFTAR LAMPIRAN

UNDIP KEMENPUPERA

DAFTAR LAMPIRAN

DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN 1 DATA CURAH HUJAN
LAMPIRAN 2 KERTAS PROBABILITAS
LAMPIRAN 3 PERHITUNGAN DEBIT ANDALAN
LAMPIRAN 4 KURVA S, MAN POWER, NETWORK PLANNING
LAMPIRAN 5 GAMBAR RENCANA

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

xxiv

LAPORAN TUGAS AKHIR


PERENCANAAN BENDUNG TONGGAUNA KABUPATEN
KOLAKA TIMUR, SULAWESI TENGGARA
(Design of Tonggauna Weir at Kolaka Timur,
Southeast Sulawesi)

BAB I
PENDAHULUAN

UNDIP KEMENPUPERA

BAB I. PENDAHULUAN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Negara Republik Indonesia yang sedang berkembang dari tahun ke
tahun meningkatkan pembangungan di berbagai sektor. Program
pembangunan sampai sekarang ini, mempunyai penekanan dan prioritas
pembangunan.
Dengan semakin pesatnya pembangunan dibidang industri dan
diiringi pertumbuhan penduduk di kawasan barat Indonesia (khususnya
pulau Jawa dan pulau Sumatera) akan membawa dampak beralih fungsinya
lahan pertanian utamanya persawahan menjadi kawasan industri dan
permukiman penduduk, ini akan menghambat pencapaian program
pemerintah disektor ketahanan pangan nasional. Maka perlu adanya upaya
untuk mengantisipasi alih fungsi lahan pertanian dan sekaligus
meningkatkan produksi pertanian tanaman pangan dengan cara memperluas
lahan irigasi baru yang berada di kawasan timur Indonesia khususnya
Provinsi Sulawesi Tenggara. Maka dari itu daerah-daerah yang mempunyai
sumberdaya alam yang berpotensi untuk daerah irigasi selalu dievaluasi dan
dikembangkan untuk lahan pertanian, guna pencapaian program pemerintah
di sektor ketahanan pangan nasional.
Penetapan prioritas ini didasarkan pada rencana pembangunan yang
berkesinambungan serta evaluasi pada rencana pembangunan sebelumnya
sehingga pencapaian tujuan nasional masyarakat yang adil dan makmur
dapat terwujud dan tercapai sesuai dengan sasaran yang diharapkan. Secara
umum dapat kita lihat pada program pembangunan yang sudah dan berjalan
saat ini, pembangunan sektor pertanian senantiasa mendapat perhatian dan
prioritas yang sangat penting. Hal ini dapat diterima, karena negara kita
merupakan negara agraris, dimana sebagian besar penduduk hidup dalam
bertani. Dengan demikian bila pemerintah berhasil meningkatkan
kesejahteraan dan taraf hidup petani, berarti berhasil mengangkat taraf

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

BAB I. PENDAHULUAN

hidup rakyat Indonesia. Tentunya sebagai negara argraris yang mempunyai


potensi besar di bidang pertanian dan didukung sumber tenaga kerja yang
baik, sasaran pembangunan akan dapat tercapai.
Oleh karena itu, untuk menunjang program ketahanan pangan yang
dicanangkan oleh pemerintah tersebut maka perlu dilakukan studi terhadap
lokasi-lokasi yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi
daerah irigasi. Daerah Tonggauna mempunyai potensi lahan pertanian yang
luas dan belum dikembangkan dengan sumber air yang berasal dari sungai
Mokoseo. Untuk itu akan diadakan Perencanaan Bendung Tonggauna di
Kabupaten Kolaka Timur Provinsi Sulawesi Tenggara. Diharapkan dengan
adanya bendung ini yang disertai sistem irigasi yang baik maka hasil panen
petani dapat meningkat.

1.2.

Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang, rumusan masalah dapat
disusun sebagai berikut :
a. Berapa besar debit banjir rencana yang akan dilewatkan pada Bendung
Tonggauna.
b. Berapa kebutuhan air irigasi yang harus dipenuhi.
c. Bagaimana debit andalan Bendung Tonggauna dalam memenuhi
kebutuhan air D.I. Tonggauna.
d. Bagaimana neraca air Bendung Tonggauna, apakah ketesediaan air
terpenuhi untuk kebutuhan irigasi.
e. Berapa dimensi Bendung Tonggauna dan bangunan pelengkapnya
berdasarkan kondisi hidrologi dan kebutuhan yang telah dihitung
sebelumnya.
f. Bagaimana kestabilan bendung pada konsisi banjir dan kondisi normal
sungai.
g. Berapa rencana anggaran biaya yang dibutuhkan dan rencana kerja dan
syarat-syarat yang diperlukan.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

BAB I. PENDAHULUAN

1.3.

Maksud dan Tujuan


Maksud penulisan Tugas Akhir dengan judul Perencanaan
Bendung Tonggauna Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara ini
adalah merencanakan Bendung Tonggauna untuk menunjang kebutuhan air
irigasi di D.I. Tonggauna.
Adapun tujuan penulisan Tugas Akhir ini adalah :
a. Melakukan analisis hidrologi untuk menghitung debit banjir rencana
yang akan dilewatkan pada Bendung Tonggauna.
b. Melakukan perhitungan kebutuhan air irigasi D.I. Tonggauna.
c. Melakukan analisis debit andalan pada Bendung Tonggauna.
d. Melakukan analisis neraca air Bendung Tonggauna.
e. Melakukan analisis hidrolis dan struktur bendung untuk menentukan
dimensi Bendung Tonggauna dan bangunan pelengkapnya berdasarkan
kondisi hidrologi saat ini.
f. Melakukan analisis stabilitas bendung untuk menilai kestabilan Bendung
Tonggauna pada kondisi banjir dan kondisi normal sungai.
g. Menghitung rencana anggaran biaya dan rencana kerja dan syarat-syarat
yang diperlukan pada dokumen lelang.

1.4.

Lokasi Perencanaan
Lokasi Bendung Tonggauna ini direncanakan di Desa Tonggauna,
Kecamatan Uesi, Kabupaten Kolaka Timur, Provinsi Sulawesi Tenggara
pada Sungai Mokoseo dan Sungai Labeta yang merupakan anak sungai
Konaweha. Desa Tonggauna dapat ditempuh dengan jalur darat dari ibu kota
Kendari 220 km. Dengan rute Kendari - Abuki (1,5 jam) 90 km, Abuki
Asinua (1 jam) 45 km, Asinua Uete (2 jam) 40 km, Uete - Alaha (3
jam) 35 km dan Alaha Tonggauna (4 jam) 10 km.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

BAB I. PENDAHULUAN

Gambar 1.1. Peta Propinsi Sulawesi Tenggara


(Sumber : Feasibilty Study Daerah Irigasi Tonggauna Kabupaten Kolaka, 2012)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

BAB I. PENDAHULUAN

DAS TONGGAUNA

SUNGAI MOKOSEO

SUNGAI LABETA

RENCANA AS BENDUNG

POTENSI AREAL PERSAWAHAN

Gambar 1.2. Rencana Lokasi Bendung


(Sumber : Google Earth, 2016)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

BAB I. PENDAHULUAN

1.5.

Ruang Lingkup Pembahasan


Pelaksanaan Tugas Akhir ini akan lebih fokus pada segi perencanaan
teknis Bendung Tonggauna dan fasilitas pendukung lainnya. Pembatasan
masalah yang akan dibahas meliputi :
a. Analisis hidrologi yang meliputi analisis curah hujan rata-rata daerah
aliran sungai, analisis frekuensi curah hujan rencana, dan analisis debit
banjir rencana.
b. Analisis kebutuhan air irigasi.
c. Analisis debit andalan.
d. Analisis neraca air.
e. Analisis struktur bendung yang meliputi lebar efektif bendung, tinggi
mercu bendung, tinggi air banjir di atas mercu, dimensi mercu, tipe dan
dimensi kolam olak serta tinjauan terhadap gerusan.
f. Analisis hidrolis dan desain bangunan pelengkap yang meliputi
perhitungan saluran primer, desain pintu romijn, desain kantong lumpur,
desain bangunan pembilas, desain bangunan pengambilan dan bangunan
pembilas bendung.
g. Analisis stabilitas bendung yang meliputi stabilitas bendung terhadap
gaya hidrostatis (gaya geser), gaya angkat / uplift pressure dan gaya
momen (gaya guling) baik pada kondisi banjir maupun kondisi normal.
h. Gambar rencana.
i. Metode pelaksanaan bangunan, rencana anggaran biaya (RAB), rencana
kerja dan syarat-syarat (RKS), man power, jadwal pelaksanan (time
schedule) dan perencanaan jaringan kerja (network planning).

1.6.

Sistematika Penulisan
Pelaksanaan Tugas Akhir Perencanaan Bendung Tonggauna,
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara terdiri atas 9 bab dengan
sistematika sebagai berikut :

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

BAB I. PENDAHULUAN

BAB I

: Pendahuluan

Bab ini berisi latar belakang, perumusan masalah, maksud dan tujuan, lokasi
perencanaan, lingkup pembahasan dan sistematika penulisan.
BAB II

: Tinjauan Pustaka

Bab ini berisi tentang teori-teori dan dasar-dasar perhitungan yang akan
digunakan untuk pemecahan masalah yang ada baik untuk menganalisis
faktor-faktor dan data-data pendukung maupun perhitungan teknis
perencanaan bendung.
BAB III

: Metodologi

Bab ini berisi tentang bagaimana alur penyusunan tugas akhir, mulai dari
survey lapangan, identifikasi masalah, pengumpulan data, proses
pengolahan data dan analisis sesuai dengan kebutuhan. Dengan pengolahan
data dan analisis yang sesuai akan diperoleh variabel-variabel yang nantinya
akan digunakan untuk perencanaan bendung.
BAB IV

: Analisis Hidrologi dan Kebutuhan Air Irigasi

Bab ini berisi tentang analisis data hidrologi yang digunakan untuk mencari
debit banjir rencana, debit andalan, kebutuhan air dan neraca air sehingga
dapat digunakan dalam perhitungan perencanaan bendung. Analisis data
yang dilakukan meliputi peta topografi, data curah hujan, dan data
klimatologi.
BAB V

: Analisis Hidrolis dan Struktur Bendung

Bab ini berisi tentang analisis elevasi muka air dari saluran primer sampai
elevasi muka air di bangunan pengambilan utama (intake) yang bertujuan
untuk menentukan elevasi mercu bendung, desain bangunan pelengkap
meliputi desain saluran primer, kantong lumpur dan bangunan pembilas.
BAB VI

: Analisis Stabilitas Bendung

Bab ini berisi tentang analisis stabilitas gaya-gaya yang bekerja pada
bendung baik kondisi air normal maupun kondisi air banjir.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

BAB I. PENDAHULUAN

BAB VII :Rencana Anggaran Biaya dan Jadwal Pelaksanaan Proyek


Bab ini berisi tentang metode pelaksanaan bangunan, analisa harga satuan
pekerjaan, rencana anggaran biaya, penyusunan jadwal pelaksanaan (time
schedule), man power dan perencanaan jaringan kerja (network planning).
BAB VIII : Rencana Kerja dan Syarat-Syarat
Bab ini berisi tentang instruksi kepada peserta pengadaan, syarat-syarat
kontrak, dan syarat-syarat teknis (spesifikasi teknis) yang akan digunakan
dalam proses pelelangan nantinya.
BAB XI

: Kesimpulan dan Saran

Bab ini berisi tentang kesimpulan yang diperoleh dari hasil analisis
perencanaan juga saran yang bisa diberikan.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

LAPORAN TUGAS AKHIR


PERENCANAAN BENDUNG TONGGAUNA KABUPATEN
KOLAKA TIMUR, SULAWESI TENGGARA
(Design of Tonggauna Weir at Kolaka Timur,
Southeast Sulawesi)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

UNDIP KEMENPUPERA

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Uraian Umum
Pengembangan sumber daya air dapat dikelompokkan dalam dua
kegiatan yaitu pemanfaatan air dan pengaturan air (Gambar 2.1). Untuk
dapat

melaksanakan

kedua

kegiatan tersebut

diperlukan konsep,

perancangan, perencanaan, pembangunan dan pengoperasian fasilitas


fasilitas pendukungnya. Pemanfaatan sumber daya air meliputi penyediaan
air untuk kebutuhan air bersih, irigasi, pembangkit listrik tenaga air,
perikanan, peternakan, pemeliharaan sungai dan lalu lintas air. Kegiatan
pengendalian banjir, drainase dan pembuangan limbah termasuk dalam
pengaturan sumber daya air sehingga kelebihan air tersebut tidak
menimbulkan bencana. (Bambang Triatmodjo,2013).
Yang dimaksud dengan perencanaan adalah suatu proses kegiatan
untuk menentukan tindakan yang akan dilakukan secara terkoordinasi dan
terarah dalam rangka mencapai tujuan pengelolaan sumber daya air yaitu
mewujudkan kemanfaatan sumber daya air yang berkelanjutan untuk
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Perencanaan Bendung Tonggauna termasuk dalam kegiatan
pemanfaatan sumber daya air untuk meningkatkan produksi pertanian
khususnnya padi untuk memantapkan ketersediaan pangan, meningkatkan
pertumbuhan

ekonomi,

meningkatkan

pendapatan

petani

dan

meminimalisasi konflik pengaturan air irigasi.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Pengembangan
Sumber Daya Air

Pemanfaatan Air

Pengaturan Air

- Air domestik, non domestik


dan industri
- Irigasi
- PLTA
- Perikanan
- Peternakan
- Pemeliharaan Sungai
- Lalulintas air

- Pengendalian Banjir
- Drainase
- Pengelolaan Limbah

Gambar 2.1. Kegiatan Pengembangan Sumber Daya Air


(Sumber : UU No 7 Tahun 2004 tentang SDA, 2004)

2.2.

Analisis Hidrologi
Hidrologi adalah ilmu yang berkaitan dengan air di bumi, baik
mengenai terjadinya, peredaran dan penyebarannnya, sifat sifatnya dan
hubungan dengan lingkungannya terutama dengan makhluk hidup.
Penerapan ilmu hidrologi dapat dijumpai dalam beberapa kegiatan seperti
perencanaan dan operasi bangunan air, penyediaan air untuk berbagai
keperluan (air bersih, irigasi, perikanan, peternakan), pembangkit listrik
tenaga air, pengendalian banjir, pengendalian erosi dan sedimentasi,
transportasi air, drainase, pengendali polusi, dan sebagainya.
Hidrologi banyak dipelajari oleh para ahli di bidang teknik sipil dan
pertanian. Ilmu tersebut dapat dimanfaatkan untuk beberapa kegiatan
berikut :
1. Memperkirakan besarnya banjir yang ditimbulkan oleh hujan deras,
sehingga

dapat

direncanakan

bangunan

bangunan

untuk

mengendalikannya seperti pembuatan tanggul banjir, saluran drainase,


gorong gorong, jembatan, dan sebagainya.
2. Memperkirakan jumlah air yang dibutuhkan oleh suatu jenis tanaman,
sehingga dapat direncanakan bangunan untuk melayani kebutuhan
tersebut.
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

10

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

3. Memperkirakan jumlah air yang tersedia di suatu sumber air (mata air,
sungai, danau) untuk dapat dimanfaatkan guna berbagai keperluan
seperti air baku (air untuk keperluan rumah tangga, perdagangan,
industry), irigasi, pembangkit listrik tenaga air, perikanan, peternakan,
dan lainlain.
Pada perencanaan bendung, analisis hidrologi yang dilakukan adalah
menentukan debit banjir rencana, analisis debit andalan serta analisis
kebutuhan dan ketersediaan air.

2.3.

Penentuan Debit Banjir Rencana


Banjir mempengaruhi bangunan bangunan air seperti bendung,
bendungan, tanggul, jembatan dan sebagainya. Bangunan bangunan
tersebut harus direncanakan untuk dapat melewatkan debit banjir
maksimum yang mungkin terjadi.
Berdasarkan KP 02 Kriteria Perencanaan Bagian Bangunan
Utama, banjir rencana maksimum untuk bangunan bendung diambil sebagai
debit banjir dengan periode ulang 100 tahun. Banjir dengan periode ulang
1000 tahun diperlukan untuk mengetahui tinggi tanggul banjir dan
mengontrol keamanan bangunan utama. Analisa perhitungan bentuk mercu
dan permukaan tubuh bendung bagian hilir didasarkan atas debit yang
paling dominan terhadap daya gerus dan daya hisap, yang ditetapkan debit
dengan periode ulang 5-25 tahun.
Sedangkan analisa perhitungan kolam olak didasarkan atas debit
dominan yang mengakibatkan efek degradasi dasar sungai di hilir kolam
olak. Debit dominan ini sangat dipengaruhi oleh daya tahan formasi material
dasar sungai terhadap gerusan, yang ditetapkan debit dengan periode ulang
25 100 tahun.
Debit rencana dapat dihitung dengan menggunakan beberapa
metode antara lain metode Rasional, Hasper, Hidrograf Satuan Sintetik
Gama I, Passing Capacity dan sebagainya. Data yang digunakan pada
metode tersebut di atas dapat berupa data hujan atau data debit tergantung

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

11

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

metodenya. Untuk itu berikut akan diuraikan secara singkat mengenai dasardasar teori yang akan digunakan dalam penentuan debit banjir rencana.

2.3.1. Curah Hujan Daerah


Hujan merupakan sumber dari semua air yang mengalir di sungai
dan di dalam tampungan baik di atas maupun di bawah permukaan tanah.
Jumlah dan variasi debit sungai tergantung pada jumlah, intensitas dan
distribusi hujan. Terdapat hubungan antara debit sungai dan curah hujan
yang jatuh di DAS yang bersangkutan. Apabila data pencatatan debit tidak
ada, data pencatatan hujan dapat digunakan untuk memperkirakan debit
aliran. Pengukuran dapat dilakukan secara langsung dengan menampung air
hujan yang jatuh. Namun tidak mungkin menampung hujan di seluruh
daerah tangkapan air. Hujan di suatu daerah hanya dapat diukur di beberapa
titik yang ditetapkan dengan menggunakan alat pengukur hujan. Hujan yang
terukur oleh alat tersebut mewakili suatu luasan daerah disekitarnya.
Data hujan yang diperoleh dapat digunakan untuk analisis banjir,
penentuan banjir rencana, analisis ketersediaan air di sungai dan sebagainya.

2.3.2. Daerah Aliran Sungai (DAS)


Konsep daerah aliran sungai atau yang sering disingkat dengan DAS
merupakan dasar dari semua perencanaan hidrologi. Mengingat DAS yang
besar pada dasarnya tersusun dari DAS-DAS kecil, dan DAS kecil ini juga
tersusun dari DAS-DAS yang lebih kecil lagi. Secara umum DAS dapat
didefinisikan sebagai suatu wilayah yang dibatasi oleh batas alam seperti
punggung bukit-bukit atau gunung, maupun batas buatan seperti jalan atau
tanggul, dimana air hujan yang turun di wilayah tersebut memberi
konstribusi aliran ketitik control (outlet). DAS ditentukan dengan
menggunakan peta topografi yang dilengkapi dengan garis-garis kontur.
Untuk maksud tersebut dapat digunakan peta topografi dengan skala
1 : 50.000. luas DAS dapat diperkirakan dengan mengukur daerah itu pada
peta topografi. Luas DAS sangat berpengaruh terhadap debit sungai. Pada
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

12

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

umumnya semakin besar DAS semakin besar jumlah limpasan permukaan


sehingga semakin besar pula aliran permukaan atau debit sungai.

2.3.3. Analisis Curah Hujan Rencana


Stasiun penakar hujan hanya memberikan kedalaman hujan di titik
di mana stasiun termasuk berada, sehingga hujan pada suatu luasan harus
diperkirakan dari titik pengukuran tersebut. Apabila pada suatu daerah
terdapat lebih dari suatu stasiun pengukuran yang ditempatkan secara
terpencar, hujan yang tercatat dimasing-masing stasiun dapat tidak sama.
Dalam analisis hidrologi sering diperlukan untuk menentukan hujan rerata
pada daerah tersebut, yang dapat dilakukan dengan tiga metode berikut yaitu
metode rerata aritmatik, metode polygon thiessen, dan metode Isohiet.

2.3.3.1.

Metode Rerata Aritmatik (Aljabar)


Metode ini adalah metode yang paling sederhana untuk
menghitung hujan rerata pada suatu daerah. Pengukuran yang dilakukan
di beberapa stasiun dalam waktu yang bersamaan dijumlahkan dan
kemudian dibagi dengan jumlah stasiun. Stasiun hujan yang digunakan
dalam hitungan biasanya adalah yang berada di dalam DAS; tetapi
stasiun di luar DAS yang masih berdekatan juga bisa diperhitungkan.
Metode rerata aljabar memberikan hasil yang baik apabila stasiun
hujan tersebar secara merata di DAS dan distribusi hujan relatif merata
pada seluruh DAS.
Hujan rerata pada seluruh DAS diberikan oleh bentuk berikut:
= R1 +R2+ R3+ .+Rn .......................................................................(2.1)
R
n
(Bambang Triatmodjo, 2013)
Dimana:
R

: Hujan rerata kawasan (mm)

R1, R2, ., Rn

: Hujan di stasiun 1, 2, 3, ., n (mm)

: Jumlah stasiun

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

13

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.3.3.2.

Metode Thiessen
Metode ini memperhitungkan bobot dari masing-masing stasiun
yang mewakili luasan disekitarnya. Pada suatu luasan di dalam DAS
dianggap bahwa hujan adalah sama dengan yang terjadi pada stasiun
yang terdekat, sehingga hujan yang tercatat pada suatu stasiun mewakili
luasan tersebut. Metode ini digunakan apabila penyebaran stasiun hujan
di daerah yang ditinjau tidak merata. Hitungan hujan rerata dilakukan
dengan memperhitungkan daerah perngaruh dari tiap stasiun.
a. Stasiun pencatat hujan digambarkan pada peta DAS yang ditinjau,
termasuk stasiun hujan di luar DAS yang berdekatan, seperti
ditunjukkan dalam gambar 2.2.
b. Stasiun-stasiun dihubungkan dengan garis lurus (garis terputus)
sehingga membentuk segitiga-segitiga, yang sebaiknya mempunyai
sisi dengan panjang yang kira-kira sama.
c. Dibuat garis berat pada sisi-sisi segitiga seperti ditunjukkan dengan
garis penuh pada gambar 2.2.
d. Garis-garis berat tersebut membentuk poligon yang mengelilingi tiap
stasiun. Tiap stasiun mewakili luasan yang dibentuk oleh poligon.
Untuk stasiun yang berada di dekat batas DAS, garis batas DAS
membentuk batas tertutup dari poligon.
e. Luas tiap poligon diukur dan kemudian dikalikan dengan kedalaman
hujan di stasiun yang berada di dalam poligon.
f. Jumlah dari hitungan pada butir e untuk semua stasiun dibagi dengan
luas daerah yang ditinjau menghasilkan hujan rerata daerah tersebut,
yang dalam matematik mempunyai bentuk berikut:
= A1 R1 +A2 R2 + A3R3 + .+AnRn ....................................................(2.2)
R
A +A + .+A
1

(Bambang Triatmodjo,2013)
Dimana:
R

: Hujan rerata kawasan (mm)

R1,R2, ., Rn

: Hujan di stasiun 1, 2, 3, ., n (mm)

A1, A2,An

: Luas daerah yang mewakili stasiun 1, 2, 3.., n

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

14

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


Sta.1

A1

Batas DAS

A3

Sta.2

Sta.3

Sta.6

A2
A6

A5
A4
Sta.4

Sta.5

Gambar 2.2. Poligon Thiessen


( Sumber : Bambang Triatmojo, 2013)

2.3.3.3.

Metode Isohiet
Isohiet adalah garis yang menghubungkan titik-titik dengan
kedalaman hujan yang sama. Pada metode isohiet, dianggap bahwa hujan
pada suatu daerah di antara dua garis isohiet adalah merata dan sama
dengan nilai rerata dari kedua garis isohiet tersebut. Pembuatan garis
isohiet dilakukan dengan prosedur berikut (Gambar 2.3) :
a. Lokasi stasiun hujan dan kedalaman hujan digambarkan pada peta
daerah yang ditinjau.
b. Dari nilai kedalaman hujan di stasiun yang berdampingan dibuat
interpolasi dengan pertambahan nilai yang ditetapkan.
c. Dibuat kurva yang menghubungkan titik-titik interpolasi yang
mempunyai kedalaman hujan yang sama. Ketelitian tergantung
pembuatan garis Isohiet dan intervalnya.
d. Diukur luas daerah antara dua Isohiet yang berurutan dan kemudian
dikalikan dengan nilai rerata dari nilai kedua garis Isohiet.
e. Jumlah dari hitungan pada butir d untuk seluruh garis Isohiet dibagi
dengan luas daerah yang ditinjau menghasilkan kedalaman hujan
rerata daerah tersebut. Secara matematis hujan rerata tersebut dapat
ditulis :

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

15

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

=
R

R + R2
R + R3
R + Rn+1
A1 1
+A2 2
+...+An n
2

A1 +A2+ .+An

............................................ (2.3)
(Bambang Triatmodjo, 2013)

Dimana :

: Hujan rerata kawasan (mm)

R1, R2, ., Rn : Hujan di stasiun 1, 2, 3, ., n (mm)


A1, A2,An

: Luas daerah yang mewakili stasiun 1, 2, 3.., n

Metode Isohiet merupakan cara paling teliti untuk menghitung


kedalaman hujan rerata di suatu daerah, tetapi cara ini membutuhkan
pekerjaan dan perhatian yang paling banyak dibanding dua metode
sebelumnya.
A = 50 mm
Batas DAS
50

B = 40 mm

45
40
35
30

45
C = 20 mm

40

25
35

30

25

20

35

D = 30 mm

25

(b)

(a)

30

50
45
40
35
30

45
40

25
35

30

25

20

35
25

(c)
30

Gambar 2.3 Metode Isohiet


( Sumber : Bambang Triatmojo, 2013)

2.3.4. Analisis Frekuensi


Tujuan dari analisis frekuensi data hidrologi adalah mencari
hubungan antara besarnya kejadian ekstrim terhadap frekuensi kejadian
dengan menggunakan distribusi probabilitas. Besarnya kejadian ekstrim
mempunyai hubungan terbalik dengan probabilitas kejadian, misalnya
frekuensi kejadian debit banjir besar adalah lebih kecil dibanding dengan
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

16

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

frekuensi debit-debit sedang atau kecil. Dengan analisis frekuensi akan


diperkirakan besarnya banjir dengan interval kejadian tertentu seperti 10
tahunan, 100 tahunan atau 1000 tahunan, dan juga berapakah frekuensi
banjir dengan besar tertentu yang mungkin terjadi selama suatu periode
waktu, misalnya 100 tahun.
Analisis frekuensi dapat diterapkan untuk data debit sungai atau
debit hujan. Data yang digunakan adalah data debit atau hujan maksimum
tahunan, yaitu data terbesar yang terjadi selama satu tahun, yang terukur
selama beberapa tahun. Dalam analisis frekuensi banyak digunakan
beberapa notasi dan teori statistik. Untuk itu berikut akan diberikan
beberapa prinsip statistik yang nantinya banyak digunakan.

2.3.4.1.

Pengukuran Dispersi
Tidak semua variat dari variabel hidrologi sama dengan nilai
reratanya, tetapi ada yang lebih besar atau lebih kecil. Besarnya derajad
sebaran variat disekitar nilai reratanya disebut varian (variance) atau
penyebaran (dispersi, dispersion). Adapun cara pengukuran dispersi
antara lain :
a. Standar Deviasi (S)
Rumus:
1

S = n1 ni=1(xi x)2 ...............................................................(2.4)


. (Bambang Triatmodjo, 2013)
Dimana :
S

: Standar deviasi

: Nilai rata-rata

: Jumlah data

xi

: Nilai pengukuran dari suatu variat ke-i

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

17

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

b. Koefisien Varian (Cv)


Koefisien

varian

(variance

coefficient)

adalah

nilai

perbandingan antara standar deviasi dengan nilai rerata dari suatu


distribusi.
Rumus :
S

Cv = x............................................................................................(2.5)
(Bambang Triatmodjo, 2013)
Dimana :
Cv : Koefisien varian
x

: Nilai rata-rata

: Standar deviasi

c. Koefisien Skewness (Cs)


Kemencengan atau yang biasa disebut skewness adalah suatu
nilai yang menunjukkan derajat ketidaksimetrisan (assymetry) dari
suatu bentuk distribusi.
Rumus :
n

Cs = (n1)(n2)S3 ni=1(xi x)3 ....................................................(2.6)


(Bambang Triatmodjo, 2013)
Dimana :
Cs : Koefisien kemencengan
xi

: Nilai pengukuran dari suatu variat ke-i

: Nilai rata-rata

: Jumlah data

: Standar deviasi

d. Pengukuran Kurtosis
Pengukuran kurtosis dimaksud untuk mengukur keruncingan
dari bentuk kurva distribusi, yang umumnya dibandingkan dengan
distribusi normal yang mempunyai Ck=3 yang dinamakan mesokurtik,

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

18

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Ck<3 berpuncak tajam yang dinamakan leptokurtic, sedangkan Ck>3


berpuncak datar dinamakan platikurtik.

Gambar 2.4 Koefisien Kurtosis


(Sumber : Bahan Ajar Hidrologi, 2014)
Rumus :
Ck =

n2
n (x
(n1)(n2)(n3)S4 i=1 i

x)4 ...........................................(2.7)
(Bambang Triatmodjo, 2013)

Dimana :
Ck : Koefisien kurtosis

2.3.4.2.

: Jumlah data

xi

: Nilai pengukuran dari suatu variat ke-i

: Nilai rata-rata

: Standar deviasi

Pemilihan Jenis Sebaran


Ada berbagai macam distribusi teoritis yang kesemuanya dapat
dibagi menjadi dua yaitu distribusi diskrit dan distribusi kontinyu. Yang
disebut distribusi diskrit adalah binomial dan poisson, sedangkan yang
disebut distribusi kontinyu adalah Distribusi Normal, Disribusi Log
Normal, Distribusi Log Pearson dan Gumbel (C.D Soemarto, 1999).
Berikut ini adalah beberapa macam distribusi yang sering digunakan
untuk menganalisis probabilitas banjir yaitu :
a. Distribusi Normal
Dalam analisis hidrologi distribusi normal sering digunakan
untuk menganalisa frekuensi curah hujan, analisis statistik dari

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

19

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

distribusi curah hujan tahunan, debit rata-rata tahunan. Sebaran


normal atau kurva normal di sebut pula sebaran Gauss.
P(x) =

1
2

(x)2
(22 )

......................................................................(2.8)
(Bambang Triatmodjo, 2013)

Dimana :

: 3,14156

: 2,71828

: Variabel random

: Standar deviasi nilai x (S)

: Nilai rata-rata x (x)

P(x) : Fungsi densitas probabilitas


Dalam pemakaian praktis, biasanya hitungan dilakukan
dengan menggunakan Tabel 2.1 yang memberikan nilai Fungsi
densitas kumulatif (F (z)).
Nilai X didapat dengan rumus :
X = + z....................................................................................(2.9)
(Bambang Triatmodjo, 2013)
Di mana z adalah faktor frekuensi dari distribusi normal.
z=

........................................................................................(2.10)
(Bambang Triatmodjo, 2013)

b. Distribusi Log Normal


Distribusi log normal digunakan apabila nilai-nilai dari
variabel random tidak mengikuti distribusi normal, tetapi nilai
logaritmanya memenuhi distribusi normal. Distribusi log normal
merupakan hasil transformasi dari distribusi normal, yaitu dengan
mengubah variat x menjadi nilai logaritmik variat x. Persamaan
transformasi : y = ln x atau y = log x

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

20

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Rumus :
( ) =

1
2

( )
(22 )

................................................................(2.11)
(Bambang Triatmodjo, 2013)

Dimana :

: 3,14156

: 2,71828

: Variabel random

: Standar deviasi nilai y (S)

: Nilai rata-rata y (x)

P(x) : Fungsi densitas probabilitas


Hitungan distribusi log normal dilakukan dengan rumus dan
tabel yang sama dengan distribusi normal yaitu Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Probabilitas Kumulatif Distribusi Normal Standar

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

21

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Lanjutan Tabel 2.1.

(Sumber : Bambang Triatmodjo, 2013)


c. Distribusi Gumbel
Distribusi Gumbel banyak digunakan untuk analisis data
maksimum, seperti untuk analisis frekuensi banjir.
Rumus :
x = x

T
+yn
T1

ln ln

S ....................................................................(2.12)
(Bambang Triatmodjo, 2013)

yn dan n adalah nilai rerata dan standar deviasi dari variat


Gumbel yang nilainya tergantung dari jumlah data seperti diberikan
dalam Tabel 2.2.
Dimana :
x

: Nilai rata-rata

: Standar deviasi

: Periode ulang T tahun

yn

: Nilai rerata dari variat gumbel yang nilainya tergantung jumlah


data (Tabel 2.2)

: Standar deviasi dari variat gumbel yang nilainya tergantung


jumlah data (Tabel 2.2)
Tabel 2.2 Nilai yn dan n Fungsi Jumlah Data

yn

yn

yn

0.4843

0.9043

39

0.5340

1.1388

70

0.5448

1.1854

0.4942

0.9288

40

0.5436

1.1413

71

0.5550

1.1863

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

22

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Lanjutan Tabel 2.2


n

yn

yn

yn

10

0.4952

0.9497

41

0.5442

1.1436

72

0.5552

1.1873

11

0.4996

0.9676

42

0.5448

1.1458

73

0.5555

1.1881

12

0.5053

0.9833

43

0.5453

1.1480

74

0.5557

1.1890

13

0.5070

0.9972

44

0.5258

1.1490

75

0.5559

1.1898

14

0.5100

1.0098

45

0.5463

1.1518

76

0.5561

1.1906

15

0.5128

1.0206

46

0.5468

1.1538

77

0.5563

1.1915

16

0.5157

1.0316

47

0.5473

1.1557

78

0.5565

1.1923

17

0.5181

1.0411

48

0.5447

1.1574

79

0.5567

1.1930

18

0.5202

1.0493

49

0.5481

1.1590

80

0.5569

1.1938

19

0.5220

1.0566

50

0.5485

1.1607

81

0.5570

1.1945

20

0.5235

1.0629

51

0.5489

1.1623

82

0.5572

1.1953

21

0.5252

1.0696

52

0.5493

1.1638

83

0.5574

1.1959

22

0.5268

1.0754

53

0.5497

1.1653

84

0.5576

1.1967

23

0.5283

1.0811

54

0.5501

1.1667

85

0.5578

1.1973

24

0.5296

1.0864

55

0.5504

1.1681

86

0.5580

1.1980

25

0.5309

1.0914

56

0.5508

1.1696

87

0.5581

1.1987

26

0.5320

1.0961

57

0.5511

1.1708

88

0.5583

1.1994

27

0.5332

1.1004

58

0.5515

1.1721

89

0.5585

1.2001

28

0.5343

1.1047

59

0.5518

1.1734

90

0.5586

1.2007

29

0.5353

1.1086

60

0.5521

1.1747

91

0.5587

1.2013

30

0.5362

1.1124

61

0.5524

1.1759

92

0.5589

1.2020

31

0.5371

1.1159

62

0.5527

1.1770

93

0.5591

1.2026

32

0.5380

1.1193

63

0.5530

1.1782

94

0.5592

1.2032

33

0.5388

1.1226

64

0.5533

1.1793

95

0.5593

1.2038

34

0.5396

1.1255

65

0.5535

1.1803

96

0.5595

1.2044

35

0.5403

1.1285

66

0.5538

1.1814

97

0.5596

1.2049

36

0.5410

1.1313

67

0.5540

1.1824

98

0.5598

1.2055

37

0.5418

1.1339

68

0.5543

1.1834

99

0.5599

1.2060

38

0.5424

1.1363

69

0.5545

1.1844

100

0.5600

1.2065

(Sumber : Bambang Triatmodjo, 2013)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

23

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

d. Distribusi Log Pearson Tipe III


Distribusi Log Pearson Tipe III digunakan dalam analisis
hidrologi, terutama dalam analisis data maksimum (banjir) dan
minimum (debit minimum) dengan nilai ekstrim. Bentuk sebaran Log
Pearson Tipe III merupakan hasil transformasi dari sebaran Pearson
Tipe III dengan menggunakan variat menjadi nilai logaritmik.
Distribusi Log Pearson Tipe III digunakan apabila parameter statistik
Cs dan Ck mempunyai nilai selain dari parameter statistik untuk
distribusi yang lain (normal, log normal dan Gumbel). Penggunaan
metode Log Pearson Tipe III dilakukan dengan menggunakan
langkah-langkah berikut (Bambang Triatmodjo, 2013):
1. Data hujan maksimum tahunan disusun dalam tabel.
2. Hitung nilai logaritma dari data hujan tersebut dengan
transformasi:
yi = ln xi atau yi = log xi..........................................................(2.13)
(Bambang Triatmodjo, 2013)
3. Hitung nilai rerata , standar deviasi sy, dan koefisien
kemencengan Csy dari nilai logaritma yi
4. Dihitung nilai yj untuk berbagai periode ulang yang dikehendaki
dengan persamaan:
yT = y + K T Sy ........................................................................(2.14)
(Bambang Triatmodjo,2013)
5. Hitung curah hujan rencana xT untuk setiap periode ulang dengan
menghitung anti-lognya :
XT = arc ln y
atau
XT = arc log y ........................................................................(2.15)
(Bambang Triatmodjo,2013)
Dimana :
xi

: Nilai pengukuran dari suatu variat ke-i

yi

: Nilai logaritma dari suatu variat ke-i

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

24

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

: Nilai rata-rata dari variat logaritma

Sy

: Standar deviasi dari variat logaritma

XT

: Nilai variat dengan periode ulang T

yT

: Nilai logaritmik dari x dengan periode ulang T

KT

: Faktor frekuensi, yang merupakan fungsi dari probabilitas


(atau periode ulang) dan koefisien kemencengan Csy yang
diberikan dalam Tabel 2.3.

Tabel 2.3 Nilai KT untuk Distribusi Log Pearson Tipe III


(Kemencengan Positif)
Return period in years
Cs or Cw

10

25

50

100

200

Exceedence probability
0.5

0.02

0.1

0.04

0.02

0.01

0.005

3.0

-0.396

0.420

1.180

2.278

3.152

4.051

4.970

2.9

-0.390

0.440

1.195

2.277

3.134

4.013

4.909

2.8

-0.384

0.460

1.210

2.275

3.114

3.973

4.847

2.7

-0.376

0.479

1.224

2.272

3.093

3.932

4.783

2.6

-0.368

0.499

1.238

2.267

3.071

3.889

4.718

2.5

-0.360

0.518

1.250

2.262

3.048

3.845

4.652

2.4

-0.351

0.537

1.262

2.256

3.023

3.800

4.584

2.3

-0.341

0.555

1.274

2.248

2.997

3.753

4.515

2.2

-0.330

0.574

1.284

2.240

2.970

3.705

4.444

2.1

-0.319

0.592

1.294

2.230

2.942

3.656

4.372

2.0

-0.307

0.609

1.302

2.219

2.912

3.605

4.298

1.9

-0.294

0.627

1.310

2.207

2.881

3.553

4.223

1.8

-0.282

0.643

1.318

2.193

2.848

3.499

4.147

1.7

-0.268

0.660

1.324

2.179

2.815

3.444

4.069

1.6

-0.254

0.675

1.329

2.163

2.780

3.388

3.990

1.5

-0.240

0.690

1.333

2.146

2.743

3.330

3.910

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

25

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Lanjutan Tabel 2.3


Return period in years
Cs or Cw

10

25

50

100

200

Exceedence probability
0.5

0.02

0.1

0.04

0.02

0.01

0.005

1.4

-0.225

0.705

1.337

2.128

2.706

3.271

3.828

1.3

-0.210

0.719

1.339

2.108

2.666

3.211

3.745

1.2

-0.195

0.732

1.340

2.087

2.626

3.149

3.661

1.1

-0.180

0.745

1.341

2.066

2.585

3.087

3.575

1.0

-0.164

0.758

1.340

2.043

2.542

3.022

3.489

0.9

-0.148

0.769

1.339

2.018

2.498

2.957

3.401

0.8

-0.132

0.780

1.336

1.993

2.453

2.891

3.312

0.7

-0.116

0.790

1.333

1.967

2.407

2.824

3.223

0.6

-0.099

0.800

1.328

1.939

2.359

2.755

3.132

0.5

-0.083

0.808

1.323

1.910

2.311

2.686

3.041

0.4

-0.066

0.816

1.317

1.880

2.261

2.615

2.949

0.3

-0.050

0.824

1.309

1.849

2.211

2.544

2.856

0.2

-0.033

0.830

1.301

1.818

2.159

2.472

2.763

0.1

-0.017

0.836

1.292

1.785

2.107

2.400

2.670

(Sumber : Bambang Triatmodjo,2013)

Tabel 2.4 Nilai KT untuk Distribusi Log Pearson Tipe III


(Kemencengan Negatif)
Return period in years
Cs or Cw

10

25

50

100

200

Exceedence probability
0.5

0.02

0.1

0.04

0.02

0.01

0.005

-0.1

0.017

0.846

1.270

0.716

2.000

2.252

2.482

-0.2

0.033

0.850

1.258

1.680

1.945

2.178

2.388

-0.3

0.050

0.853

1.245

1.643

1.890

2.104

2.294

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

26

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Lanjutan Tabel 2.4


Return period in years
Cs or Cw

10

25

50

100

200

Exceedence probability
0.5

0.02

0.1

0.04

0.02

0.01

0.005

-0.4

0.066

0.855

1.231

1.606

1.834

2.029

2.201

-0.5

0.083

0.856

1.216

1.567

1.777

1.955

2.108

-0.6

0.099

0.857

1.200

1.528

1.720

1.880

2.016

-0.7

0.116

0.857

1.183

1.488

1.663

1.806

1.926

-0.8

0.132

0.856

1.166

1.448

1.606

1.733

1.837

-0.9

0.148

0.854

1.147

1.407

1.549

1.660

1.749

-1.0

0.164

0.852

1.128

1.366

1.492

1.588

1.664

-1.1

0.180

0.848

1.107

1.324

1.435

1.518

1.581

-1.2

0.195

0.844

1.086

1.282

1.379

1.449

1.501

-1.3

0.210

0.838

1.064

1.240

1.324

1.383

1.424

-1.4

0.225

0.832

1.041

1.198

1.270

1.318

1.351

-1.5

0.240

0.825

1.018

1.157

1.217

1.256

1.282

-1.6

0.254

0.817

0.994

1.116

1.166

1.197

1.216

-1.7

0.268

0.808

0.970

1.075

1.116

1.140

1.155

-1.8

0.282

0.799

0.945

1.035

1.069

1.087

1.097

-1.9

0.294

0.788

0.920

0.996

1.023

1.037

1.044

-2.0

0.307

0.777

0.895

0.959

0.980

0.990

0.995

-2.1

0.319

0.765

0.869

0.923

0.939

0.946

0.949

-2.2

0.330

0.752

0.844

0.888

0.900

0.905

0.907

-2.3

0.341

0.739

0.819

0.855

0.864

0.867

0.869

-2.4

0.351

0.725

0.795

0.823

0.830

0.832

0.833

-2.5

0.360

0.711

0.771

0.793

0.798

0.799

0.800

-2.6

0.368

0.696

0.747

0.764

0.768

0.769

0.769

-2.7

0.376

0.681

0.724

0.738

0.740

0.740

0.741

-2.8

0.384

0.666

0.702

0.712

0.714

0.714

0.714

-2.9

0.390

0.651

0.681

0.683

0.689

0.690

0.690

-3.0

0.396

0.636

0.666

0.666

0.666

0.667

0.667

(Sumber : Bambang Triatmodjo,2013)


Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

27

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Tabel 2.5 Parameter Statistik Untuk Menentukan Jenis Distribusi


No
1

Distribusi

Persyaratan
Cs 0

Normal

Ck 3
2

Cs = Cv3 + 3Cv

Log Normal

Ck = Cv8 + 6Cv6 + 15Cv4 + 16Cv2 + 3


3

Gumbel

Cs = 1,14
Ck = 5,4

Log Pearson III

Selain dari nilai di atas

(Sumber : Bambang Triatmodjo,2013)

2.3.4.3.

Pengujian Kesesuaian Distribusi


Pengujian kesesuaian distribusi ini digunakan untuk menguji
apakah sebaran data memenuhi syarat untuk data perencanaan. Pengujian
kesesuaian distribusi ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu ChiKuadrat ataupun dengan Smirnov Kolmogorov. Umumnya pengujian
dilakukan dengan cara menggambarkan data pada kertas peluang dan
menentukan apakah data tersebut merupakan garis lurus, atau dengan
membandingkan kurva frekuensi dari data pengamatan terhadap kurva
frekuensi teoritisnya (Soewarno, 1995).
a. Uji Kesesuaian Distribusi Dengan Metode Chi-Kuadrat
Uji Chi-Kuadrat dimaksudkan untuk menentukan apakah
persamaan distribusi peluang yang telah dipilih dapat mewakili dari
distribusi statistic sampel data yang dianalisis. Pengambilan
keputusan uji ini menggunakan parameter 2, oleh karena itu disebut
dengan uji Chi-Kuadrat. Parameter 2 dapat dihitung dengan rumus :
X2 = Gi=1

(Of Ef )2
Ef

....................................................................... (2.16)
(Bambang Triatmodjo,2013)

Di mana :
X2

: Harga Chi-Kuadrat terhitung

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

28

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Of

: Jumlah data yang teramati terdapat pada sub kelompok ke-i

Ef

: Jumlah data yang secara teoritis terdapat pada sub kelompok


ke-i

: Jumlah sub kelompok


Nilai X2 yang diperoleh harus lebih kecil dari Xcr2 (Chi-

Kuadrat Kritik), untuk suatu derajat nyata tertentu yang sering


diambil 5%. Derajad kebebasan dihitung dengan persamaan :
DK = K ( + 1) .........................................................................(2.17)
(Bambang Triatmodjo,2013)
Dimana :
DK : Derajad kebebasan
K

: Banyaknya kelas

: Banyaknya keterikatan (banyaknya parameter), untuk uji ChiKuadrat adalah 2.


Nilai Xcr diperoleh dari Tabel 2.6. Disarankan agar

banyaknya kelas tidak kurang dari 5 dan frekuensi absolut tiap kelas
tidak kurang dari 5 pula.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

29

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Tabel 2.6 Nilai Chi-Kuadrat Kritik


DK

Distribusi X2
0.99

0.95

0.90

0.80

0.70

0.50

0.30

0.20

0.10

0.05

0.01

0.001

0.000

0.004

0.016

0.064

0.148

0.455

1.074

1.642

2.706

3.841

6.635

10.827

0.020

0.103

0.211

0.446

0.713

1.386

2.408

3.219

4.605

5.991

9.210

13.815

0.115

0.352

0.584

1.055

1.424

2.366

3.665

4.642

6.251

7.815

11.345

16.268

0.297

0.711

1.064

1.649

2.195

3.357

4.878

5.989

7.779

9.448

13.277

18.465

0.554

1.145

1.610

2.343

3.000

4.351

6.064

7.289

9.236

11.070

15.086

20.517

0.872

1.635

2.204

1.070

3.828

5.348

7.231

8.558

10.645

12.592

16.812

22.457

1.239

2.167

2.833

3.822

4.671

6.346

8.383

9.803

12.017

14.067

18.475

24.322

1.646

2.733

3.890

4.594

5.527

7.344

9.524

11.030

13.362

15.507

20.090

26.425

2.088

3.325

4.168

5.380

6.393

8.343

10.656

12.242

14.684

16.919

21.666

27.877

10

2.558

3.940

6.179

6.179

7.267

9.342

11.781

13.442

15.987

18.307

23.209

29.588

11

3.053

4.575

5.578

6.989

8.148

10.341

12.899

14.631

17.275

19.675

24.725

31.264

12

3.571

5.226

6.304

7.807

9.034

11.340

14.011

15.812

18.549

21.064

26.217

32.909

13

4.107

5.892

7.042

8.634

9.926

12.340

15.119

16.985

19.812

22.307

27.688

34.528

14

4.660

6.571

7.790

9.467

10.821

13.339

16.222

18.151

21.064

23.542

29.141

36.123

15

5.229

7.261

8.547

10.307

11.721

14.339

17.322

19.311

22.307

24.769

30.578

37.697

16

5.812

7.962

9.312

11.152

12.624

15.338

18.418

20.465

23.542

25.989

32.000

39.252

17

6.408

8.672

10.085

12.002

13.531

16.338

19.511

21.615

24.769

27.587

33.409

40.790

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

30

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


Lanjutan Tabel 2.6
DK

Distribusi X2
0.99

0.95

0.90

0.80

0.70

0.50

0.30

0.20

0.10

0.05

0.01

0.001

18

7.015

9.390

10.865

12.857

14.440

17.338

20.601

22.760

25.989

28.869

34.805

42.312

19

7.633

10.117

11.651

13.716

15.352

18.338

21.689

23.900

27.204

30.144

36.191

43.820

20

8.260

10.851

12.443

14.578

16.266

19.377

22.775

25.038

28.412

31.410

37.566

45.315

21

8.897

11.501

13.240

15.445

17.182

20.377

23.858

26.171

29.615

32.671

38.932

46.797

22

9.542

12.338

14.041

16.314

18.101

21.337

24.939

27.301

30.813

33.924

40.289

48.268

23

10.196

13.901

14.848

17.187

19.021

22.337

26.018

28.429

32.007

35.172

41.638

49.728

24

10.856

13.848

15.659

18.062

19.943

23.337

27.096

29.553

33.196

36.415

42.980

51.179

25

11.524

14.611

16.473

18.940

20.867

24.337

28.172

30.675

34.382

37.652

44.314

52.620

26

12.198

15.379

17.292

19.820

21.792

25.337

29.246

31.795

35.563

38.886

45.642

54.052

27

12.879

16.151

18.114

20.703

22.719

26.337

30.319

32.912

36.741

40.113

46.963

55.476

28

13.565

16.928

18.939

21.588

23.647

27.336

31.391

34.027

37.916

41.337

48.278

56.893

29

14.256

17.708

19.768

22.475

24.577

28.336

32.461

35.139

39.087

42.557

49.588

58.302

30

14.953

18.493

20.599

23.364

25.508

29.336

33.530

36.250

40.256

43.773

50.892

59.703

(Sumber : Bambang Triatmodjo,2013)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

31

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

b. Uji Kesesuaian Distribusi Dengan Metode Smirnov Kolmogorov


Uji kecocokan Smirnov Kolmogorov juga disebut uji
kecocokan non parametrik karena pengujiannya tidak menggunakan
fungsi distribusi tertentu, namun dengan memperhatikan kurva dan
penggambaran data pada kertas probabilitas. Dari gambar dapat
diketahui jarak penyimpangan setiap titik data terhadap kurva. Jarak
penyimpangan terbesar merupakan nilai maks dengan kemungkinan
didapat nilai lebih kecil dari nilai kritik, maka jenis distribusi yang
digunakan. Nilai ktirik diperoleh dari Tabel 2.7.
Tabel 2.7 Nilai kritik Uji Smirnov Kolmogorov
n

0.20

0.10

0.05

0.01

0.45

0.51

0.56

0.67

10

0.32

0.37

0.41

0.49

15

0.27

0.30

0.34

0.40

20

0.23

0.26

0.29

0.36

25

0.21

0.24

0.27

0.32

30

0.19

0.22

0.24

0.29

35

0.18

0.20

0.23

0.27

40

0.17

0.19

0.21

0.25

45

0.18

0.18

0.20

0.24

50

0.15

0.17

0.19

0.23

1.07

1.07

1.07

1.07

n>50

(Sumber : Bambang Triatmodjo,2013)

2.3.5. Intensitas Curah Hujan


Intensitas hujan adalah tinggi atau kedalaman air hujan per satuan
waktu. Sifat umum hujan adalah makin singkat hujan berlangsung
intensitasnya cenderung makin tingggi dan makin besar periode ulangnya
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

32

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

makin tinggi pula intensitasnya. Analisis intensitas curah hujan ini dapat
diproses dari data curah hujan yang telah terjadi pada masa lampau.

2.3.5.1.

Menurut Dr. Mononobe


Jika data curah hujan yang ada hanya curah hujan harian. Rumus
yang digunakan :
2

I=

R24 24 3
[ ]
24 t

.....................................................................................(2.18)
.(Bambang Triatmodjo,2013)

Dimana :

2.3.5.2.

It

: Intensitas curah hujan (mm/jam)

: Lamanya curah hujan (jam)

R24

: Curah hujan maksimum selama 24 jam (mm)

Menurut Sherman
Rumus yang digunakan :
a

I = tb ................................................................................................(2.19)
(Suyono Sosrodarsono dan Kensaku Takeda, 2006)
Dimana :
I

: Intensitas curah hujan (mm/jam)

: Lamanya curah hujan (menit)

a,b

: Konstanta yang tergantung pada lama curah hujan yang terjadi


di daerah aliran.

: Banyaknya pasangan data i dan t

log a =

ni=1(log(i)) ni=1(log(t))2 ni=1(log(t) log(i)) ni=1(log(t))


n ni=1(log(t))2 (ni=1(log(t)))2

log b =

ni=1(log(i)) ni=1(log(t)) n ni=1(log(t) log(i))


n ni=1(log(t))2 (ni=1(log(t)))2

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

33

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.3.5.3.

Menurut Talbot
Rumus yang digunakan :
a

I = (t+b) ...........................................................................................(2.20)
(Salamun, 2007)
Dimana :
I

: Intensitas curah hujan (mm/jam)

: Lamanya curah hujan (menit)

a,b

: Konstanta yang tergantung pada lama curah hujan yang terjadi


di daerah aliran

2.3.5.4.

: Banyaknya pasangan data i dan t

a=

ni=1(i. t) ni=1(i)2 ni=1(i2 . t) ni=1(i)


n ni=1(i)2 (ni=1(i))2

b=

ni=1(i) ni=1(i. t) n ni=1(i2 . t)


n ni=1(i2 ) (ni=1(i))2

Menurut Ishiguro
Rumus yang digunakan :
I=(

t+b)

.........................................................................................(2.21)
(Salamun, 2007)

Di mana:
I

: Intensitas curah hujan (mm/jam)

: Lamanya curah hujan (menit)

a,b

: Konstanta yang tergantung pada lama curah hujan yang terjadi


di daerah aliran

n
a=

: Banyaknya pasangan data i dan t


ni=1(i. t) ni=1(i)2 ni=1(i2 . t) ni=1(i)
n ni=1(i)2 (ni=1(i))2

ni=1(i) ni=1(i. t) n ni=1(i2 . t)


b=
n ni=1(i2 ) (ni=1(i))2
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

34

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.3.5.5.

Menurut Van Breen


Berdasarkan penelitian Ir. Van Breen di Indonesia. Khususnya di
pulau jawa, curah hujan terkonsentrasi selama 4 jam dengan jumlah
curah hujan sebesar 90% dari jumlah curah hujan selama 24 jam.
Perhitungan intensitas curah hujan dengan menggunakan Metode
Van Breen adalah sebagai berikut :
I =

54R+0,07 R
tc+0,3R

....................................................................... (2.22)

IT

: Intensitas curah hujan pada suatu periode ulang (T tahun)

RT

: Tinggi curah hujan pada periode ulang T tahun (mm/hari)

tc

: Lamanya curah hujan (menit)

2.3.6. Analisis Debit Banjir Rencana


Beberapa metode yang dapat digunakan untuk menghitung debit
banjir rencana sebagai dasar perencanaan konstruksi bendung diantaranya
adalah sebagai berikut :

2.3.6.1.

Metode Rasional
Perhitungan metode rasional menggunakan rumus sebagai
berikut :
Q = 0,278. C. I. A ....................................................................... ....(2.23)
(Bambang Triatmodjo, 2013)
Di mana :
Q

: Debit puncak yang ditimbulkan oleh hujan dengan intensitas,


durasi dan frekuensi tertentu (m3/det)

: Intensitas hujan (mm/jam)

: Luas daerah tangkapan (km2)

: Koefisien aliran yang tergantung pada jenis permukaan lahan,


yang nilainya diberikan dalam tabel 2.8.
Pada persamaan 2.23 intensitas hujan diperoleh dari kurva

Intensitas-Durasi-frekuensi (IDF) (persamaan 2.18), di mana telah


Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

35

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

diperhitungkan durasi dan frekuensi (periode ulang) hujan. Dalam hal ini
durasi hujan adalah sama dengan waktu konsentrasi (tc). Salah satu
rumus untuk menghitung waktu konsentrasi berdasarkan metode Jepang
(Pedoman Penetapan Design Flood PU, 1980)
Rumus :
t=

L
V

Di mana :
t

: Waktu konsentrasi (jam)

: Panjang sungai (km)

: Kecepatan perambatan banjir (km/jam)

Dan untuk menghitung V dipakai Rumus Dr. Rziha sebagai berikut :


H 0,6

V = 0,72 ( L )
Di mana :
V

: Kecepatan perambatan banjir (km/jam)

: Beda tinggi antara titik terjauh dan mulut daerah pengaliran (km)

: Panjang sungai (km)

Tabel 2.8 Koefisien Aliran C


Tipe Daerah Aliran

Daerah pegunungan berlereng terjal

0,75 0,90

Daerah perbukitan

0,70 0,80

Tanah bergelombang dan bersemak-semak

0,50 0,75

Tanah dataran yang digarap

0,45 0,65

Persawahan irigasi

0,70 0,80

Sungai di daerah pegunungan

0,75 0,85

Sungai kecil didataran

0,45 0,75

Sungai yang besar dengan wilayah pengaliran


lebih dari seperduanya terdiri dari dataran

0,50 0,75

(Sumber : Suyono Sosrodarsono dan Kensaku Takeda, 2006)


Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

36

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.3.6.2.

Metode Haspers
Untuk menghitung besarnya debit dengan metode Haspers
digunakan persamaan sebagai berikut :
Q t = . . q n . f ................................................................................(2.24)
(Salamun, 2007)
Dimana :
=

1 + 0.012. f 0.7
1 + 0.075. f 0.7

1
t + 3.7x100,4t f 3/4
= 1+
x

t2 + 15
12
t = 0,1 . L0.8 i0.3
Intensitas Hujan
Untuk t < 2 jam
Rt =

t. R24
t + 1 0,0008 x (260 R24 )(2 t)2

Untuk 2 jam < t 19 jam


Rt =

t. R24
t+1

Untuk 19 jam < t < 30 jam


Rt = 0,707. R24 . t + 1
dengan t dalam jam dan Rt, R24 dalam mm
Hujan maksimum (qn)
qn =

Rt
3,6 x t

dengan t dalam jam dan qn dalam m3/det /km2


Dimana :
f

: Luas DAS (km2)

: Waktu konsentrasi (jam)

: Panjang sungai (km)

: Kemiringan rata-rata sungai

Qt

: Debit banjir rencana (m3/det)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

37

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.3.6.3.

Rt

: Curah hujan maksimum (mm/hari)

qn

: Debit persatuan luas (m3/det/km2)

Metode Satuan Sintetik (HSS) Gama I


Hidrograf Satuan Sintetik (HSS) Gama I biasa digunakan untuk
mengukur debit banjir dengan parameter yang sesuai dengan keadaan di
Indonesia. Parameter-parameter yang digunakan sebagai berikut :
1. Faktor sumber (FS), yaitu perbandingan antara jumlah panjang sungai
tingkat satu dengan jumlah panjang sungai-sungai semua tingkat.
2. Frekuensi sumber (SN), yaitu perbandingan antara jumlah panjang
sungai-sungai tingkat satu dengan jumlah panjang sungai-sungai
semua tingkat.
3. Faktor lebar (WF), yaitu perbandingan antara lebar DAS yang diukur
di titik sungai yang berjarak 0,75L dengan lebar DAS yang diukur di
titik di sungai yang berjarak 0,25L dari stasiun hidrometri.
4. Luas DAS sebelah hulu (RUA), yaitu perbandingan antara luas DAS
yang diukur di hulu garis yang ditarik tegak lurus garis hubung antara
stasiun hidrometri dengan titik yang paling dekat dengan titik berat
DAS, melewati titik tersebut.
5. Faktor simetri (SIM), yaitu hasil kali antara faktor lebar (WF) dengan
luas DAS sebelah hulu.
6. Jumlah pertemuan sungai (JN), yaitu jumlah pertemuan sungai di
dalam DAS tersebut.
7. Kerapatan jaringan kuras (D), yaitu jumlah panjang sungai semua
tingkat tiap stasiun luas DAS.
Hidrograf satuan diberikan dengan empat variabel pokok, yaitu
waktu naik (TR), debit puncak (Qp), waktu dasar (TB) dan koefisien
tampungan (k). persamaan-persamaan yang dipakai yaitu :

Q t = Q p . et K (m3 /detik)
t = t TR (jam)
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

38

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

TR = 0,43 (

3
L
) + 1,0665 SIM + 1,2775 (jam)
100SF

Q p = 0,1836A0,5886 TR0,4008JN 0,2381 (m3/det)


TB = 27,4132 TR0,1457 S 0,0986 SN 0,7334RUA0,2574 (jam)
K = 0,5617A0,1789S 0,1446SF1,0897D0,0452
Dalam pemakaian cara ini masih ada hal-hal lain yang perlu
diperhatikan, diantaranya sebagai berikut:
1. Penetapan hujan-mangkus yang digunakan untuk memperoleh
hidrograf dilakukan dengan menggunakan indeks infiltrasi. Perkiraan
indeks infiltrasi dilakukan dengan mempertimbangkan pengaruh
parameter DAS yang secara hidrologik dapat diketahui pengaruhnya
terhadap indeks infiltrasi. Persamaan pendekatannya sebagai berikut :
= 10,4903 3,859 x 106 2 + 1,6985 x 1013 (

4
)

2. Untuk memperkirakan aliran dasar digunakan persamaan sebagai


berikut ini :
= 0,47150,6444 0,9430 (m3/det)
3. Dalam menetapkan hujan rata-rata DAS, perlu mengikuti cara-cara
yang ada. Tetapi bila dalam praktek analisis tersebut sulit, maka
disarankan menggunakan cara yang disebutkan dengan mengalikan
hujan titik dengan faktor reduksi hujan sebesar :
= 1,55180,1491 0,2725 0,0259 0,0733
Berdasarkan persamaan diatas maka dapat dihitung besar debit banjir
setiap jam dengan persamaan :
QP = (Q t x Reff ) + (QB)..............................................................(2.25)
Dimana :
QP

: Debit banjir setiap jam (m3/det)

Qt

: Debit satuan tiap jam (m3/det)

Reff : Curah hujan efektif (mm/jam)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

39

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Gambar 2.5 Sketsa Penetapan RUA


( Sumber : Bambang Triatmojo,2013 )

2.3.6.4.

Metode Passing Capasity


Untuk menghitung besarnya debit dengan metode Passing
Capasity digunakan persamaan berikut :
Q = AxV
A
P
1
V = x R2/3 x I1/2
n
R=

di mana:

2.4.

: Kecepatan rencana (m/det)

: Jari-jari hidrolis (m)

: Kemiringan saluran

: Luas penampang basah (m2)

: Keliling basah (m)

: Koefisien kekasaran manning (m1/3/det)

Analisa Kebutuhan Air

2.4.1. Kebutuhan Air Tanaman


Kebutuhan air untuk tanaman yaitu banyaknya air yang dibutuhkan
tanaman untuk membuat jaring tanaman (batang dan daun) untuk diuapkan
(evapotranspirasi), perkolasi, curah hujan, pengolahan lahan, dan
pertumbuhan tanaman.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

40

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Rumus :
Ir = S + Et + P R ..........................................................................(2.26)
(Joetata,dkk., 1986)
Dimana :
Ir

: Kebutuhan air untuk irigasi (mm/hari)

Et

: Evapotranspirasi (crop consumptive) (mm/hari)

: Kebutuhan air untuk pengolahan tanah atau penggenangan (mm)

: Perkolasi (mm)

Re

: Hujan efektif (mm/hari)

2.4.1.1.

Evapotranspirasi
Besarnya evapotranspirasi dihitung dengan menggunakan metode
Penman yang dimodifikasi oleh Nedesco/Prosida. Dari Kreteria
Perencanaan Irigasi KP 01 direkomendasikan bahwa Evapotranspirasi
memakai Evaporasi Modifikasi Penman dikalikan dengan faktor
tanaman, diperoleh dari Nedeco/Prosida atau FAO.
Rumus :
= Kc . Ep .................................................................................. ..(2.27)
(Salamun, 2007)
Dimana :

2.4.1.2.

Et

: Evapotranspirasi

Kc

: Koefisien tanaman

Ep

: Evaporasi potensial

Koefisien Tanaman (Kc)


Besarnya koefisien tanaman (Kc) tergantung dari jenis tanaman
dan fase pertumbuhan. Pada perhitungan ini digunakan koefisien
tanaman untuk padi dengan varietas unggul mengikuti ketentuan
Nedesco/Prosida. Harga-harga koefisien tanaman padi dan palawija
disajikan pada Tabel 2.9 sebagai berikut.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

41

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Tabel 2.9 Koefisien Tanaman Untuk Padi dan Palawija Menurut


Nedesco/Prosida
Padi
Nedesco/Prosida
Bulan

Padi FAO

Palawija

Varietas Varietas Varietas Varietas

Jagung

Kacang

Biasa

Unggul

Biasa

Unggul

0.5

1.20

1.20

1.10

1.10

0.50

0.50

1.20

1.27

1.10

1.10

0.59

0.51

1.5

1.32

1.33

1.10

1.05

0.96

0.66

1.40

1.30

1.10

1.05

1.05

0.85

2.5

1.35

1.15

1.10

0.95

1.02

0.95

1.24

1.05

0.95

0.95

3.5

1.12

0.95

0.95

0.55

4.5

Tanah

0.55

(Sumber : KP-01 Jaringan Irigasi,2012)

2.4.1.3.

Perkolasi
Perkolasi adalah kehilangan air di petak sawah baik yang ke arah
samping maupun ke arah bawah. Adapun faktor-faktor yang
mempengaruhi besar Perkolasi diantaranya :
1. Tekstur Tanah
Tanah yang mempunyai tekstur halus/berat (clay) mempunyai
perkolasi yang rendah, sedang tanah yang mempunyai tekstur ringan
(pasir) perkolasinya besar, berdasarkan tekstur koefisien perkolasi
adalah sebagai berikut :
- Berat (lempung)

= 1 2 mm/hari

- Sedang (lempung kepasiran)

= 2 3 mm/hari

- Ringan

= 3 6 mm/hari

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

42

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2. Permeabilitas Tanah
Permeabilitas tanah sangat erat hubungannya

dengan

perkolasi, permeabilitas tanah besar perkolasi besar demikian pula


sebaliknya.
3. Tebal Lapisan Tanah Bagian Atas (Top Soil)
Tebal top soil terhadap lapisan permeabel di bawahnya, makin
tipis lapisan top soil makin kecil/rendah perkolasinya.
4. Letak Permukaan Air Tanah
Makin dalam letak muka air tanah makin tinggi perkolasinya.
Demikian pula sebaliknya.

2.4.1.4.

Curah Hujan Efektif (Re)


a. Besarnya Curah Hujan Efektif
Curah hujan efektif adalah curah hujan dari keseluruhan hujan
yang secara efektif tersedia untuk kebutuhan air tanaman untuk
tumbuh secara normal. Exces rainfall berguna untuk menghitung debit
(banjir). Besarnya curah hujan efektif dipengaruhi oleh :
- Cara pemberian air irigasi (rotasi, menerus atau berselang)
- Laju pengurangan air genangan di sawah yang harus ditanggulangi
- Kedalaman lapisan air yang harus dipertahankan di sawah
- Cara pemberian air di petak
- Jenis tanaman dan tingkat ketahanan tanaman terhadap kekurangan
air
Untuk irigasi tanaman padi, curah hujan efektif diambil 80%
kemungkinan curah hujan bulanan rata-rata terpenuhi.
n

R80 = 5 + 1 ................................................................................(2.28)
Dimana :
R80

= Hujan efektif (1 in 5 dry).

= Jumlah data curah hujan.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

43

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Dengan pendekatan distribusi Normal maka curah hujan


efektif (1 in 5 dry) didapatkan rumus :

80 = R + . k .........(2.29)
Dimana :
R80

= Curah hujan efektif (1 in 5 dry).

= Curah hujan rerata.

= Standar deviasi.

= Koefisien /faktor frekwensi untuk 1 in 5 dry = - 0,842.

b. Koefisien Curah Hujan Efektif


Besarnya koefisien curah hujan efektif tanaman padi
berdasarkan Tabel 2.10.

Tabel 2.10 Koefisien Curah Hujan Untuk Padi


Bulan

Golongan
1

0.5

0.36

0.18

0.12

0.09

0.07

0.06

1.0

0.7

0.53

0.35

0.26

0.21

0.18

1.5

0.4

0.55

0.46

0.36

0.29

0.24

2.0

0.4

0.4

0.5

0.46

0.37

0.31

2.5

0.4

0.4

0.4

0.48

0.45

0.37

3.0

0.4

0.4

0.4

0.4

0.46

0.44

3.5

0.4

0.4

0.4

0.4

0.4

0.45

4.0

0.2

0.27

0.3

0.32

0.33

0.13

0.2

0.24

0.27

0.1

0.16

0.2

0.08

0.13

4.5
5.0
5.5
6.0

0.07

(Sumber : KP-01 Jaringan Irigasi,2012)


Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

44

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Sedangkan untuk tanaman palawija besarnya curah hujan


efektif ditentukan dengan metode curah hujan bulanan yang
dihubungkan

dengan

curah

hujan

rata-rata

bulanan

serta

evapotranspirasi tanaman rata-rata bulanan berdasarkan Tabel 2.11.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

45

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Tabel 2.11 Curah Hujan Efektif Rata-rata Bulanan Dikaitkan Dengan ET Tanaman Rata-rata Bulanan dan
Curah Hujan Rata-rata Bulanan
Curah Hujan

Mean

Bulanan/mm

mm

13

25

38

50

62.5

75

87.5

100

113

125

138

150

163

175

188

200

Curah Hujan
ET tanaman

25

16

24

Rata-rata
Bulanan/mm

Rata-rata

50

17

25

32

39

46

Bulanan/mm

75

18

27

34

41

48

56

62

69

100

19

28

35

43

52

59

66

73

80

87

94

100

125

10

20

30

37

46

54

62

70

76

85

97

98

107

116

120

150

10

21

31

39

49

57

66

74

81

89

97

104

112

119

127

133

175

11

23

32

42

52

61

69

78

86

95

103

111

118

126

134

141

200

11

24

33

44

54

64

73

82

91

100

106

117

125

134

142

150

225

12

25

35

47

57

68

78

87

96

106

115

124

132

141

150

159

250

13

25

38

50

61

72

84

92

102

112

121

132

140

150

158

167

Tampungan Efektif

20

25

37.5

50

62.5

75

100

125

150

175

200

Faktor Tampungan

0.7

0.77

0.86

0.93

0.97

1.02

1.04

1.06

1.07

1.08

(Sumber : KP-01 Jaringan Irigasi,2012)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

46

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.4.1.5.

Kebutuhan Air Untuk Pengolahan Lahan


Sebelum penanaman tumbuhan perlu dilakukan pengolahan lahan
yang akan ditanami. Pengolahan lahan untuk padi dan pengolahan lahan
untuk palawija.
a. Pengolahan Lahan Untuk Padi
Kebutuhan air untuk pengolahan atau penyiraman lahan
menentukan kebutuhan maksimum air irigasi. Faktor-faktor yang
menentukan besarnya kebutuhan air untuk pengolahan tanah, yaitu
besarnya penjenuhan, lamanya pengolahan (periode pengolahan) dan
besarnya evaporasi dan perkolasi yang terjadi.
Menurut PSA-010, waktu yang diperlukan untuk pekerjaan
penyiapan lahan adalah selama satu bulan (30 hari). Kebutuhan air
untuk pengolahan tanah bagi bagi tanaman padi diambil 200 mm,
setelah tanam selesai lapisan air di sawah ditambah 50 mm. Jadi
kebutuhan air yang diperlukan untuk penyiapan lahan dan untuk
lapisan air awal setelah tanam selesai seluruhnya menjadi 250 mm.
Sedangkan untuk lahan yang tidak ditanami (sawah baru) dalam
jangka waktu 2,5 bulan diambil 300 mm.
Untuk mempermudah perhitungan angka pengolahan tanah
digunakan tabel koefisien Van De Goor dan Zijlstra pada Tabel 2.12
berikut ini.

Tabel 2.12
Eo + P

Koefisien Kebutuhan Air Selama Penyiapan Lahan


T = 30 hari

T = 45 hari

S = 250

S = 300

S = 250

S = 300

mm

mm

mm

mm

5.0

11.1

12.7

8.4

9.5

5.5

11.4

13.0

8.8

9.8

6.0

11.7

13.3

9.1

10.1

6.5

12.0

13.6

9.4

10.4

(mm/hari)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

47

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Lanjutan Tabel 2.12


Eo + P

T = 30 hari

T = 45 hari

S = 250

S = 300

S = 250

S = 300

mm

mm

mm

mm

7.0

12.3

13.9

9.8

10.8

7.5

12.6

14.2

10.1

11.1

8.0

13.0

14.5

10.5

11.4

8.5

13.3

14.8

10.8

11.8

9.0

13.6

15.2

11.2

12.1

9.5

14.0

15.5

11.6

12.5

10.0

14.3

15.8

12.0

12.9

10.5

14.7

16.2

12.4

13.2

11.0

15.0

16.5

12.8

13.6

(mm/hari)

(Sumber : KP-01 Jaringan Irigasi,2012)


b. Pengolahan Lahan Untuk Palawija
Kebutuhan air untuk penyiapan lahan bagi palawija sebesar 50
mm selama 15 hari yaitu 3,33 mm/hari, yang digunakan untuk
menggarap lahan yang ditanami dan untuk menciptakan kondisi
lembab yang memadai untuk persemaian yang baru tumbuh.

2.4.1.6.

Kebutuhan Air Untuk Pertumbuhan


Kebutuhan air untuk pertumbuhan padi dipengaruhi oleh
besarnya evapotranspirasi tanaman (Etc), perkolasi tanah (P),
penggantian air genangan (W) dan curah hujan efektif (Re). Sedangkan
kebutuhan air untuk pemberian pupuk tanaman padi apabila terjadi
pengurangan kadar air (sampai tingkat tertentu) pada petak sawah
sebelum proses pemberian pupuk.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

48

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.4.2. Kebutuhan Air Untuk Irigasi


Kebutuhan air untuk irigasi yaitu kebutuhan air yang digunakan
untuk menentukan pola tanaman untuk menentukan tingkat efisiensi saluran
irigasi sehingga didapat kebutuhan air untuk masing-masing jaringan.
Perhitungan kebutuhan air irigasi dimaksudkan untuk menentukan besarnya
debit yang akan dipakai untuk mengairi daerah irigasi. Setelah sebelumnya
diketahui besarnya efisiensi irigasi. Besarnya efisiensi irigasi tergantung
dari besarnya kehilangan air yang terjadi pada saluran pembawa, mulai dari
bendung sampai pada petak sawah. Kehilangan air tersebut disebabkan
karena penguapan, perkolasi, kebocoran dan sadap liar.

2.4.2.1.

Pola Tanaman dan Perencanaan Tata Tanam


Pola tanam adalah suatu pola penanaman jenis tanaman selama
satu tahun yang merupakan kombinasi urutan penanaman. Rencana pola
dan tata tanam dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan
air, serta menambah intensitas luas tanam. Suatu daerah irigasi pada
umumnya mempunyai pola tanam tertentu, tetapi bila tidak ada pola yang
biasa digunakan pada daerah tersebut maka direkomendasikan pola
tanaman padi-padi-palawija. Pemilihan pola tanam ini didasarkan pada
sifat tanaman hujan dan kebutuhan air.
a. Sifat tanaman padi terhadap hujan dan kebutuhan air
Pada waktu pengolahan memerlukan banyak air
Pada waktu pertumbuhannya memerlukan banyak air namun pada
saat berbunga diharapkan tidak banyak curah hujan agar bunga
tidak rusak dan padi berkualitas baik.
b. Palawija
Pada waktu pengolahan membutuhkan air lebih sedikit daripada
padi
Pada pertumbuhan membutuhkan sedikit air bahkan menjadi lebih
baik lagi bila tidak turun hujan.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

49

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Setelah diperoleh kebutuhan air untuk pengolahan lahan dan


pertumbuhan, kemudian dicari besarnya kebutuhan air untuk irigasi
berdasarkan pola tanam dan rencana tata tanam dari daerah yang
bersangkutan.

2.4.2.2.

Efisien Irigasi
Besarnya efisiensi irigasi tergantung dari besarnya kehilangan air
yang terjadi pada saluran pembawa, mulai dari bendung sampai petak
sawah. Kehilangan air tersebut disebabkan karena penguapan, perkolasi,
kebocoran dan sadap liar. Besarnya angka efisiensi tergantung pada
penelitian lapangan pada daerah irigasi.
Pada perencanaan jaringan irigasi, tingkat efisiensi ditentukan
menurut kriteria standar perencanaan yaitu sebagai berikut :
Kehilangan air pada saluran primer adalah 5 - 10%, diambil 9,1%,
faktor koefisien = 100/90,90 = 1,10
Kehilangan air pada saluran sekunder adalah 10 - 15%, diambil
13,04%, faktor koefisien = 100/86,96 = 1,15
Kehilangan air pada saluran tersier adalah 15-20%, diambil 20%
faktor koefisien = 100/80 = 1,25

2.4.3. Analisis Debit Andalan


Perhitungan debit andalan bertujuan untuk menentukan areal
persawahan yang dapat diairi. Perhitungan ini menggunakan cara analisis
water balance dari Dr. F.J. Mock berdasarkan data curah hujan bulanan,
jumlah evapotranspirasi dan karakteristik hidrologi daerah pengaliran.
Prinsip perhitungan ini adalah hujan yang jatuh di atas tanah
(presipitasi) sebagian akan hilang karena penguapan (evaporasi), sebagian
akan menjadi aliran permukaan (direct run off) dan sebagian akan masuk
tanah (infiltrasi). Infiltrasi mula-mula menjenuhkan permukaan (top soil)
yang kemudian menjadi perkolasi dan akhirnya keluar ke sungai sebagai
base flow. Pada saat itu terjadi water balance antara presipitasi,
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

50

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

evapotranspirasi, direct run off dan ground water discharge. Oleh karena itu
aliran yang terdapat di sungai disebut direct run off dan base flow.
Perhitungan debit andalan meliputi:
a. Data Curah Hujan
Rs

= Curah hujan bulanan (mm)

= Jumlah hari hujan

b. Evapotranspirasi
Evapotranspirasi terbatas dihitung dari evapotranspirasi potensial
metode Penman.
dE/Eto = (m / 20) x ( 18 n )
dE

= (m / 20) x ( 18 n ) x ETo

Etl

= Eto dE

Dimana :
dE

: Hasil

selisih

dari

evapotranspirasi

potensial

dan

evapotranspirasi terbatas. Dengan nilai Eto = evapotranspirasi


potensial.
Etl

: Evapotranspirasi terbatas

: Prosentase lahan yang tidak tertutupi vegetasi


10 40% untuk lahan yang tererosi
30 50% untuk lahan pertanian yang diolah

c. Keseimbangan air pada permukaan tanah


Rumus mengenai air hujan yang mencapai permukaan tanah yaitu :
S

= Rs Et1

SMC(n) = SMC (n-1) + IS (n)


WS

= S IS

Dimana :
S

: Kandungan air tanah

Rs

: Curah hujan bulanan (mm)

Et1

: Evapotranspirasi terbatas

IS

: Tampungan awal / Soil Storage (mm)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

51

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

IS(n)

: Tampungan awal / Soil Storage bulan ke-n (mm)

SMC

: Kelembapan tanah / Soil Storage Moisture (mm) diambil


antara 50 mm 250 mm

SMC(n)

: Kelembapan tanah bulan ke-n

SMC (n-1) : Kelembapan tanah bulan ke (n 1)


WS

: Water surplus / volume air berlebih

d. Limpasan (run off) dan tampungan air tanah (ground water storage)
V (n)

= k.V (n-1) + 0,5.(1-k). I (n)

dVn

= V (n) V (n-1)

Dimana :
V (n)

: Volume air tanah bulan ke-n

V(n-1)

: Volume air tanah bulan ke-(n-1)

: Faktor resesi aliran air tanah diambil antara 0 1,0

: Koefisien infiltrasi diambil antara 0 1,0


Harga k yang tertinggi akan memberikan resesi yang lambat

seperti pada kondisi geologi lapisan bawah yang sangat lulus air.
Koefisien infiltrasi ditaksir berdasarkan kondisi porositas tanah dan
kemiringan daerah pengaliran.
Lahan yang porus mempunyai infiltrasi lebih tinggi dibanding
tanah lempung berat. Lahan yang terjal menyebabkan air tidak sempat
berinfiltrasi ke dalam tanah sehingga koefisien infiltrasi akan kecil.
e. Aliran Sungai
Aliran dasar

: Infiltrasi Perubahan volume air dalam tanah

B(n)

: I-dV(n)

Aliran permukaan

: Volume air lebih Infiltrasi

D(ro)

: WS I

Aliran sungai

: Aliran permukaan + Aliran dasar

Run off

: D(ro) + B(n)

Debit =

aliran sungai x luas DAS


satu bulan (dtk)

........... (2.30)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

52

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

f. Daerah Cekungan Air Tanah (Daerah CAT)


Dalam UU Sumber Daya Air, daerah aliran air tanah disebut
Cekungan Air Tanah (CAT) (groundwater basin), didefinisikan sebagai
suatu wilayah yang dibatasi oleh batas hidrogeologis, tempat semua
kejadian hidrogeologis seperti proses pengimbuhan, pengaliran, dan
pelepasan air tanah berlangsung. Daerah Cekungan Air Tanah sering juga
disebut sebagai daerah aluvial. Beberapa kriteria tentang CAT (Kodoatie
dan Sjarief, 2010) berdasar PP No. 43 Tahun 2008 antara lain:
1. Mempunyai batas hidrogeologis yang dikontrol oleh kondisi geologis
dan atau kondisi hidraulik air tanah. Batas hidrogeologis adalah batas
fisik wilayah pengelolaan air tanah. Batas hidrogeologis dapat berupa
batas antara batuan lulus dan tidak lulus air, batas pemisah air tanah,
dan batas yang terbentuk oleh struktur geologi yang meliputi, antara
lain, kemiringan lapisan batuan, lipatan, dan patahan.
2. Mempunyai daerah imbuhan dan daerah lepasan air tanah dalam satu
sistem pembentukan air tanah. Daerah imbuhan air tanah
merupakan kawasan lindung air tanah, di daerah tersebut air tanah
tidak untuk didayagunakan, sedangkan daerah lepasan air tanah secara
umum dapat didayagunakan, dapat dikatakan sebagai kawasan
budidaya air tanah.
Memiliki satu kesatuan sistem akuifer: yaitu kesatuan susunan
akuifer, termasuk lapisan batuan kedap air yang berada di dalamnya.
Akuifer dapat berada pada kondisi tidak tertekan atau bebas (unconfined)
dan/atau tertekan (confined).

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

53

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Gambar 2.6. Daerah Cekungan Air Tanah di Sulawesi Tenggara


( Sumber : J. Robert Kodoatie dan Sjarrief Roestam, 2008)
CAT di Indonesia terdiri atas akuifer bebas (unconfined aquifer)
dan akuifer tertekan (confined aquifer). Akuifer bebas merupakan akuifer
jenuh air (saturated). Lapisan pembatasnya, yang merupakan aquitard,
hanya pada bagian bawahnya dan tidak ada pembatas aquitard di lapisan
atasnya, batas di lapisan atas berupa muka air tanah. Sedangkan akuifer
tertekan (confined aquifer) merupakan akuifer yang jenuh air yang
dibatasi oleh lapisan atas dan lapisan bawah yang kedap air (aquiclude)
dan tekanan airnya lebih besar dari tekanan atmosfer (Kodoatie dan
Sjarief, 2010).

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

54

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Gambar 2.7

Potongan CAT yang terdiri dari Akuifer Bebas dan Akuifer


Tertekan
( Sumber : J. Robert Kodoatie dan Sjarrief Roestam, 2008)

1. Daerah Imbuhan (Recharge Area)


Daerah imbuhan air tanah adalah daerah resapan air yang
mampu menambah air tanah secara alamiah pada cekungan air tanah
(PP No. 43 Tahun 2008).

Gambar 2.8 Proses Pengisian Daerah Imbuhan


( Sumber : J. Robert Kodoatie dan Sjarrief Roestam, 2008)
Keterangan Gambar :
1 = Hujan di daerah imbuhan (recharge).
2 = Air mengisi lajur tak jenuh menjadi jenuh.
3 = Muka air tanah naik atau dangkal.
4 = Tekanan hidraulika kuat menekan ke bawah.
5 = Air meresap terus ke bawah mengisi air tanah di lajur jenuh.
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

55

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

6 = Ketika hujan, permukaan tanah selalu mampu meresapkan air


ke bawah (infiltrasi).
7 = Recharge area biasanya terletak di hulu DAS, morfologi
daerahnya berupa pegunungan atau perbukitan.
Daerah imbuhan (recharge area) adalah suatu kawasan pokok
yang menyediakan kecukupan air tanah (ground water). Daerah
imbuhan alami yang baik adalah daerah dimana proses perkolasi air
permukaan berlangsung secara baik sehingga sampai menjadi air
tanah tanpa halangan. Apabila fungsi daerah imbuhan tidak berfungsi
dengan layak, maka boleh jadi tidak akan ada air tanah yang dapat
disimpan atau digunakan. Perlindungan terhadap daerah imbuhan ini
diperlukan beberapa langkah agar tetap berfungsi dengan baik dengan
cara sebagai berikut:
- Memastikan bahwa daerah yang cocok atau sesuai sebagai daerah
imbuhan dipertahankan fungsinya daripada mengubahnya sebagai
prasarana umum (urban infrastructure) seperti bangunan atau
jalan.
- Mencegah polutan masuk kedalam air tanah.
2. Daerah Lepasan (Discharge Area)
Daerah lepasan adalah daerah keluaran air tanah yang berlangsung
secara alamiah pada cekungan air tanah (PP No. 43 Tahun 2008).

Gambar 2.9 Proses Pengisian Daerah Lepasan


( Sumber : J. Robert Kodoatie dan Sjarrief Roestam, 2008)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

56

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Keterangan Gambar :
1 = Hujan di daerah lepasan (discharge).
2 = Air mengisi lajur tak jenuh menjadi jenuh di zona vadoze zone.
3 = Muka air tanah (m.a.t) dangkal naik sampai kondisi tanah jenuh
(saturated), akibatnya naik atau dangkal sampai dekat muka
tanah. Namun karena m.a.t awalnya sudah dangkal maka kolom
air tak cukup menimbulkan tekanan hidraulika ke bawah.
4 = Hujan yang jatuh ke muka tanah tak mampu lagi meresap namun
muka air naik di atas muka tanah, maka selama hujan daerah
tersebut menjadi tergenang sehingga banjir.
g. Daerah Non-Cekungan Air Tanah (Daerah Non-CAT)
Daerah Bukan CAT (Non-CAT) adalah wilayah yang tidak
dibatasi oleh batas hidrogeologis dan tidak atau bukan tempat semua
kejadian hidrogeologis seperti proses pengimbuhan, pengaliran, dan
pelepasan air tanah berlangsung (Kodoatie dan Sjarief, 2010). Daerah
Bukan CAT sering juga disebut sebagai daerah non-aluvial. Beberapa
kriteria mengenai daeran Bukan CAT antara lain:
1. Tidak mempunyai batas hidrogeologis yang dikontrol oleh kondisi
geologis dan/atau kondisi hidraulik air tanah.
2. Tidak mempunyai daerah imbuhan dan daerah lepasan air tanah dalam
satu sistem pembentukan air tanah.
3. Tidak memiliki satu kesatuan sistem akuifer

Gambar 2.10 Contoh Potongan Daerah Bukan CAT


( Sumber : J. Robert Kodoatie dan Sjarrief Roestam, 2008)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

57

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Sedangkan dilihat dari segi karakteristik wilayahnya, daerah


Bukan CAT memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Lapisan tanah yang mampu menyerap air cukup tipis.
2. Pada kondisi alami daerah Bukan CAT, selama lapisan tanah
(humusnya) masih ada akan relatif lebih subur dibandingkan dengan
daerah CAT.
3. Di bagian bawah dari lapisan humus daerah Bukan CAT umumnya
berupa batuan.
4. Daerah Bukan CAT juga umumnya daerah dengan rentan gerakan
tanah tinggi (mudah longsor).
5. Daerah Bukan CAT bisa merupakan daerah yang rawan kekeringan
baik dari segi pertanian maupun kebutuhan air bersih.
6. Daerah Bukan CAT juga merupakan daerah dimana sistem sungai dan
DASnya tidak stabil, karena ada deformasi muka bumi.
Berbeda dengan daerah CAT, untuk daerah Bukan CAT
wilayahnya tidak memiliki daerah imbuhan maupun daerah lepasan air
tanah. Keadaan tersebut dapat diilustrasikan sebagai berikut :

Gambar 2.11 Aliran Air di Daerah Bukan CAT


( Sumber : J. Robert Kodoatie dan Sjarrief Roestam, 2008)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

58

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Daerah Non-CAT bisa merupakan daerah yang rawan kekeringan


baik dari segi pertanian maupun kebutuhan air bersih. Pada kondisi
daerah Non-CAT masih lebat dengan tumbuhan maka sumber utama air
adalah dari curah hujan yang hanya menjadi air permukaan karena
infiltrasi air ke dalam tanah hanya sebatas ketebalan humusnya.
Bilamana humus hilang maka air hujan menjadi air permukaan baik yang
teretensi karena bentuk topografinya maupun yang menjadi run-off
(Kodoatie dan Sjarief, 2010). Di daerah bukan CAT air hujan hanya
menjadi air permukaan dan aliran antara, aliran antara (interflow)
merupakan aliran air tak jenuh (unsaturated flow) dalam zona akar (root
zone) hasil peresapan air hujan yang masuk kedalam tanah.

Gambar 2.12 Proses Aliran Air Pada Daerah Bukan CAT


( Sumber : J. Robert Kodoatie dan Sjarrief Roestam, 2008)
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

59

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.4.4. Perhitungan Neraca Air


Perhitungan neraca air dilakukan untuk mengecek apakah air yang
tersedia cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan air irigasi atau tidak.
Perhitungan neraca air ini pada akhirnya akan menghasilkan kesimpulan
mengenai:
1. Pola tanam akhir yang akan dipakai untuk jaringan irigasi yang sedang
direncanakan.
2. Penggambaran akhir daerah proyek irigasi.
Berikut adalah Tabel 2.13 Perhitungan Neraca Air

Tabel 2.13 Perhitungan Neraca Air


Bidang
Meteorologi

Parameter yg

Neraca Air

dihitung

Kesimpulan

Evapotranspirasi
curah hujan
efektif

Kebutuhan Air

Agronomi dan

Pola Tanam

Irigasi

Tanah

Koefisien Tanam

Jaringan Irigasi

Efisiensi Irigasi

Topografi

Daerah Layanan

- Jatah debit/
kebutuhan
Daerah yang
berpotensi untuk
diairi.

Hidrologi

Debit Andalan

Debit minimum
mingguan atau

- Luas Daerah
Irigasi
- Pola Tanam
- Pengaturan
Rotasi

persetengah
bulan periode 5
tahun kering
pada bangunan
utama
(Sumber : KP-01 Jaringan Irigasi,2012)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

60

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Dari hasil perhitungan neraca air, kebutuhan pengambilan yang


dihasilkannya untuk pola tanam yang dipakai akan dibandingkan dengan
debit andalan untuk tiap setengah bulan dan luas daerah yang bisa diairi,
luas daerah irigasi, jatah debit air dan pola pengaturan rotasi. Apabila debit
sangat melimpah, maka luas daerah irigasi adalah tetap karena luas
maksimum daerah layanan dan proyek yang akan direncanakan sesuai
dengan pola tanam yang dipakai. Jika debit sungai kurang maka terjadi
kekurangan debit, maka ada tiga pilihan yang perlu dipertimbangkan
sebagai berikut :
1. Luas daerah irigasi dikurangi
2. Melakukan modifikasi pola tanam
3. Rotasi teknis/golongan

2.5.

Analisis Hidrolis Bendung dan Bangunan Pelengkap


Analisis hidrolis bendung meliputi tubuh bendung itu sendiri dan
bangunan-bangunan pelengkap sesuai dengan tujuan bendung. Perhitungan
struktur bendung dimulai dengan analisis saluran yaitu saluran
induk/primer, pintu Romijn, saluran kantong lumpur, saluran penguras
kantong lumpur dan saluran intake. Dari saluran intake ini dapat diketahui
elevasi muka air pengambilan, di mana elevasi ini digunakan sebagai acuan
dalam menentukan tinggi mercu bendung. Setelah elevasi mercu diketahui
maka analisis struktur bendung dapat dihitung, yaitu menentukan lebar
bendung, kolam olak, lantai muka, bangunan pembilas.

2.5.1. Pemilihan Tipe Bendung


Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan tipe
bendung adalah :
a. Sifat dan kekuatan tanah dasar
b. Jenis material yang diangkut oleh aliran sungai
c. Keadaan/kondisi daerah aliran sungai di bagian hulu, tengah dan hilir
d. Tinggi muka air banjir maksimum yang pernah terjadi
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

61

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

e. Kemudahan eksploitasi dan pemeliharaan


f. Efisiensi biaya pelaksanaan
Adapun alternatif pemilihan tipe bangunan utama/bendung, yaitu :
a. Bendung Tetap
b. Bendung Gerak
c. Bendung Karet
Berdasarkan letak topografi yang terletak di daerah perbukitan maka
dapat ditentukan tipe bendung yang cocok untuk Sungai Mokoseo adalah
bendung tetap di mana bendung tetap diharapkan dapat mengalirkan jenis
material yang diangkut, selain itu dilihat dari biaya pemeliharaan,
eksploitasi dan biaya pelaksanaan bendung relatif lebih murah dibandingkan
dengan bendung gerak maupun bendung karet.
Bendung tetap adalah suatu bangunan air melintang sungai dengan
konstruksi bangunan tetap yang berfungsi untuk menaikkan elevasi muka
air sungai agar dapat digunakan untuk mengairi sawah tertinggi pada daerah
pengairannya.
Pemilihan bendung tetap memiliki beberapa keuntungan dan
kelebihan.
Keuntungannya :
1. Operasi pemeliharaannya lebih murah dan mudah.
2. Stabilitasnya besar karena memanfaatkan berat sendiri dari bangunan
bendung.
3. Tahan terhadap kondisi alam.
Sedangkan kerugiannya :
1. Pembuatannya mahal.
2. Diperlukan bangunan tanggul penahan banjir yang tinggi akibat
backwater.
3. Tanah dasar yang baik untuk kedudukan pondasi agar tidak terjadi
penurunan tanah dasar.
Bendung tetap memiliki beberapa komponen seperti yang disajikan
pada Gambar 2.13 berikut.
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

62

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

tanggul banjir
pengambilan
bukit
bendung

kolam olak

gai
sun

konstruksi
lindungan
sungai
- bronjong
- krib

pembilas
n
na
n
ra ka
u
l
r
s a ime
pr

k ant
o ng

lump
ur

kantong lumpur

pembilas

saluran
pembilas

atan

an
lur r kiri
sa
me
p ri

jemb

Gambar 2.13 Skema Bendung Tetap dengan Kantong Lumpur


( Sumber : Salamun, 2007)
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

63

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.5.2. Pemilihan Lokasi Bendung


Dalam menentukan lokasi bendung perlu dipikirkan dengan cermat.
Beberapa faktor penting yang harus menjadi bahan pertimbangan penentuan
lokasi bendung, antara lain:
a. Keadaan topografi daerah yang akan diairi sedemikian rupa sehingga
seluruh daerah rencana tersebut dapat terairi secara gravitasi.
b. Penempatan lokasi bendung yang tepat dilihat dari segi hidraulik dan
angkutan sedimen sehingga aliran ke intake tidak mengalami gangguan
dan angkutan sedimen yang masuk ke intake dapat terhindari. Untuk
menjamin aliran lancar masuk intake, salah satu syaratnya yaitu bendung
harus terletak di tikungan luar aliran atau di bagian sungai yang lurus dan
harus dihindari penempatan bendung di tikungan sebelah dalam aliran.
c. Bendung harus ditempatkan di lokasi di mana tanah pondasinya cukup
baik sehingga bangunan akan stabil. (Suyono Sosrodarsono, 1994).

2.5.3. Saluran Primer


Untuk menentukan dimensi saluran primer terlebih dahulu harus
diketahui elevasi saluran primer, faktor-faktor yang mempengaruhi elevasi
air di saluran primer adalah sebagai berikut:
a. Elevasi sawah terjauh dan tertinggi yang akan diairi.
b. Tinggi genangan air di sawah.
c. Jumlah kehilangan energi :
Dari saluran tersier ke sawah
Dari saluran sekunder ke tersier
Dari saluran primer ke sekunder
Akibat kemiringan saluran
d. Kehilangan energi di saluran pengambilan atau sadap
Dimensi saluran dihitung dengan rumus sebagai berikut :
Q = VxA
A = (b + m. h)h

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

64

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

R=

A
P

V = k x R2/3 x I1/2 .................................................................... ....(2.31)


(KP-03 Saluran, 2012 )
Dimana :
V

: Kecepatan rencana (m/det)

ks

: Koefisien Strickler (m1/3/det)

: Jari-jari hidrolis (m)

: Kemiringan Saluran

: Luas penampang basah (m2)

: Keliling basah (m)

: kemiringan talud saluran

: Kedalaman air (m)

: Lebar dasar saluran (m)

: Tinggi jagaan

Gambar 2.14 Potongan Melintang Dimensi Saluran Primer


( Sumber : KP-03 Saluran, 2012 )

Tabel 2.14 Harga ks (Koefisien Strickler)


Jenis Saluran

k (m1/3/det)

A Saluran Tanah
Saluran Pembuang

33

Saluran Tersier

35

Saluran Primer & Sekunder


Qp < 1 m3/det
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

35
65

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Lanjutan Tabel 2.14


k (m1/3/det)

Jenis Saluran
1 m3/det < Qp < 5 m3/det

40

5 m3/det < Qp < 10 m3/det

42.5

Qp > 10 m3/det
B

45

Saluran Pasangan Pasangan


Batu Satu Sisi Pasangan

42

Batu
Dua Sisi Pasangan Batu

45

Seluruhnya Pasangan Slab

50

Beton Satu Sisi Pasangan

45

Slab
Beton Dua Sisi

50

Pasangan Slab Beton


Seluruhnya

70

Saluran Segi empat Diplester

75

(Sumber : KP-03 Saluran,2012)

Tabel 2.15 Besarnya Tinggi Jagaan


Debit m3/det

b/h = n

0.15 - 0.30

1.0

1.0

35

0.3

0.30 - 0.50

1.0

1.0 - 1.2

35

0.4

0.50 - 0.75

1.0

1.2 - 1.3

35

0.5

0.75 - 1.00

1.0

1.3 - 1.5

35

0.5

1.00 - 1.50

1.0

1.5 - 1.8

40

0.5

1.50 - 3.00

1.5

1.8 - 2.3

40

0.6

3.00 - 4.50

1.5

2.3 - 2.7

40

0.6

4.50 - 5.00

1.5

2.7 - 2.9

40

0.6

5.00 - 6.00

1.5

2.9 - 3.1

42.5

0.6

6.00 - 7.50

1.5

3.1 - 3.5

42.5

0.6

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

66

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Lanjutan Tabel 2.15


Debit m3/det

b/h = n

7.50 - 9.00

1.5

3.5 - 3.5

42.5

0.6

9.00 - 10.00

1.5

3.5 - 3.9

45

0.6

10.00 - 11.00

2.0

3.9 - 4.2

45

0.6

11.00 - 15.00

2.0

4.2 - 4.9

45

0.6

15.00 - 25.00

2.0

4.9 - 6.5

45

0.75

25.00 - 40.00

2.0

6.5 - 9.0

45

1.0

(Sumber : KP-03 Saluran, 2012)

2.5.4. Alat Pengukur Debit


Parameter dalam menentukan pemilihan alat pengukur debit adalah
sebagai berikut :
Kecocokan bangunan untuk keperluan pengukuran debit.
Ketelitian pengukuran di lapangan.
Bangunan yang kokoh, sederhana dan ekonomis.
Rumus debit sederhana dan teliti.
Eksploitasi dan pembacaan mudah.
Pemeliharaan mudah dan murah.
Cocok dengan kondisi setempat dan dapat diterima oleh para petani.

2.5.4.1.

Pintu Romijn
Alat ukur ini digunakan di depan bangunan intake saluran. Alat
ukur ini juga berfungsi mengatur dan mengukur debit serta sebagai pintu
saluran primer.
Untuk menentukan h pintu didapat dari Tabel Q dan b seperti
Tabel 2.16 berikut :

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

67

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Tabel 2.16 Tipe Pintu Romijn


TIPE ROMIJN STANDAR
I

II

III

IV

VI

Lebar (m)

0.5

0.5

0.75

1.25

1.5

Kedalaman

0.33

0.5

0.5

0.5

0.5

0.5

160

300

450

600

750

900

0.08

0.11

0.11

0.11

0.81 +

1.15 +

1.15 +

1.15

1.15

1.15 +

+V

+V

maks. Aliran
Debit maks.
Pada muka air
rencana
Kehilangan

0.11

0.11

energi
Elevasi dasar di
bawah muka air
rencana

V = Varian = 0.18 x Hmaks


(Sumber : KP-04 Bangunan,2012)
Kelebihan alat ukur Romijn adalah sebagai berikut:
Bangunan ini bisa mengukur dan mengatur debit sekaligus
Dapat membilas endapan sedimen halus
Kehilangan energi relatif kecil
Ketelitian baik
Eksploitasi mudah
Kekurangan alat ukur Romijn adalah sebagai berikut:
Pembuatannya rumit dan mahal
Bangunan ini membutuhkan muka air yang tinggi di saluran
Biaya pemeliharaan bangunan ini relatif mahal
Bangunan ini bisa disalahgunakan dengan jalan membuka pintu
bawah
Bangunan ini peka terhadap fluktuasi muka air di saluran pengarah

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

68

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Gambar 2.15 Alat Ukur Romijn


( Sumber : KP-04 Bangunan, 2012 )

2.5.4.2.

Alat Ukur Ambang Lebar


Alat ukur ini dianjurkan karena bangunan ini kokoh, mudah
dibuat dan mudah disesuaikan dengan tipe saluran. Pembacaan debit
dengan alat ukur ini dapat dilakukan secara langsung, karena hanya
menyatakan hubungan antara muka air hulu dengan debit.
Kelebihan alat ukur ambang lebar adalah sebagai berikut :
Bentuk hidrolis luwes dan sederhana
Konstruksi kuat, sederhana dan tidak mahal
Benda-benda hanyut dapat dilewatkan dengan mudah
Ekslploitasi mudah
Kelemahan alat ukur ambang lebar adalah sebagai berikut :
Bangunan ini hanya bisa digunakan untuk mengukur saja
Agar pengukuran teliti, aliran tidak boleh tenggelam

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

69

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.5.4.3.

Alat Ukur Crump de Gruyter


Alat ukur Crump de Gruyter dipakai pada muka air di saluran
selalu mengalami fluktuasi dan muka air rendah di saluran. Alat ukur ini
mempunyai kehilangan tinggi energi yang lebih besar daripada alat ukur
Romijn. Penggunaannya dengan cara menggerakkan pintu ke arah
vertikal.
Kelebihan alat ukur Crump de Gruyter adalah sebagai berikut :
Bangunan ini dapat mengukur dan mengatur debit sekaligus
Bangunan ini kuat dan tidak ada masalah dengan sedimen
Eksploitasi mudah dan pengukuran teliti
Kelemahan alat ukur Crump de Gruyter adalah sebagai berikut :
Pembuatannya rumit dan mahal
Biaya pemeliharaan mahal
Kehilangan tinggi energi besar
Bangunan ini ada masalah dengan benda-benda hanyut
Dilihat dari segi kelebihan dan kekurangan, maka alat ukur
Romijn lebih cocok untuk digunakan.

2.5.5. Saluran Kantong Lumpur


Kantong lumpur merupakan pembesaran potongan melintang
saluran sampai panjang tertentu untuk mengurangi kecepatan aliran dan
memberi kesempatan pada sedimen untuk mengendap. Untuk menampung
endapan sedimen tersebut dasar bagian saluran tersebut diperdalam dan
diperlebar. Tampungan ini dibersihkan setiap jangka waktu tertentu dengan
cara membilas sedimennya kembali ke sungai dengan aliran super kritis.
Kantong lumpur ditempatkan di bagian awal dari saluran primer tepat di
bagian belakang pengambilan.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

70

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Gambar 2.16 Potongan Memanjang Kantong Lumpur


( Sumber : Salamun, 2007 )

Gambar 2.17 Potongan Melintang Kantong Lumpur


( Sumber : Salamun, 2007 )
Keterangan :
H

: Kedalaman aliran di saluran (m)

: Kecepatan endap partikel sedimen (m/det)

: Panjang kantong lumpur (m)

: Lebar rerata kantong lumpur (m)

: Kecepatan aliran (m/det)

: Debit kebutuhan (m3/det)

hn

: Kedalaman normal saluran (m)

hs

: Kedalaman saluran kantong lumpur (m)

Perhitungan kantong lumpur diasumsikan sama dengan saluran primer.


Perhitungan Kemiringan Saluran Kantong Lumpur (In)
Rumus :
Vn = ks x Rn 2/3 x In1/2...................................................................(2.32)
(KP-03 Saluran,2012)
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

71

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Dimana :
Vn

: Kedalaman aliran di saluran (m)

ks

: Koefisien Strickler (m/det)

Rn

: Jari-jari hidrolis (m)

In

: Kemiringan Saluran

Qn

: Kebutuhan pengambilan rencana (m3/det)

An

: Luas penampang basah (m2)

Perhitungan Kemiringan Dasar Saluran Kantong Lumpur (Is)


Agar pengambilan dapat dilakukan dengan baik, maka kecepatan
aliran harus tetap kritis di mana Fr = 1.
3

q2

Kedalaman kritis (hc) = g di mana q =

Q
B

Maka :
Q 2 1

hc = ( ) x
B
g
3

Dengan :
Vs = gxhs
Fr =

Is =

Vs
gxhs
Vs 2
2
1
(n xRs 2/3 )

Dimana :
Vs

: Kecepatan rata-rata saat pembilasan = 1 m/det

Rs

: Jari-jari hidrolis (m)

Is

: Kemiringan saluran

: Kebutuhan debit (m3/det)

hs

: Kedalaman saluran kantong lumpur (m)

: Gravitasi bumi (9,81 m/det2)

: Lebar atas kantong lumpur (m)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

72

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

hc

: Kedalaman kritis (m)

Fr

: Angka Froude

ns

: Koefisien Manning

Perhitungan Panjang Kantong Lumpur


Rumus :

= ......................................................................................... (2.33)

( Sumber : Salamun, 2007 )


Dimana :
L

: Panjang kantong lumpur (m)

hn : Kedalaman normal saluran (m)


Vn : Kecepatan aliran (m/det)
W : Kecepatan endap, diambil berdasarkan hubungan antara diameter
saringan dan kecepatan endap untuk air tenang (m/det), dapat
dilihat pada gambar 2.18.

2.5.6. Pintu Penguras Saluran Kantong Lumpur


Pada pintu penguras saluran kantong lumpur tidak boleh terjadi
gangguan selama pembilasan, oleh karena itu aliran pada pintu penguras
tidak boleh tenggelam. Penurunan kecepatan aliran akan mengakibatkan
menurunnya kapasitas angkutan sedimen, oleh karena itu untuk menambah
kecepatan aliran, maka dibuat kemiringan saluran yang memungkinkan
untuk kemudahan dalam transportasi sedimen.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

73

10.00
8.00

F.B
=
F.B 0.3
=0 .7
F.B
F.B=0.9
=1.0

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

10
8

4.00

2.00

Red

1.00
0.80

= 10
00

Ps = 2650 kg/m
6
Pw = 1000 kg/m
F.B = faktor bentuk = C a.b
4
(F.B = 0.7 untuk pasir alamiah)
c kecil ; a besar ; b sedang
a tiga sumbu yang saling
2
tegak lurus
Red = butir bilangan
Reynolds = w.do/U
1

6.00

0.60

= 10
Red

Red

1
= 0.

= 10

Red
= 0.

0.04

Red

001

0.06

Red

= 0.
01

0.10
0.08

Red

diameter ayak do dalam mm

0.20

=1

0.40

0.02

0
t=
0
2 0 0.2
0
1 4
30

Gambar 2.18

0.4 0.6

2
1

6 8

10

20

40 60

0.2 0.4 0.6 1


100 mm/dt = 0.1 m/dt

kecepatan endap w dalam mm/dt-m/dt

Grafik Hubungan Diameter Saringan dan Kecepatan Endap


Lumpur Untuk Air Tenang
( Sumber : KP-02 Bangunan Utama, 2012)

2.5.7. Bangunan Pengambilan


Bangunan pengambilan adalah sebuah bangunan berupa pintu air
yang terletak di samping kanan atau kiri bendung. Fungsi bangunan ini
adalah untuk membelokkan aliran dari sungai dalam jumlah yang
diinginkan untuk kebutuhan irigasi. Saluran pembilas pada bangunan
pengambilan dilengkapi dengan pintu dan bagian depannya terbuka untuk
menjaga jika terjadi muka air tinggi selama banjir. Besarnya bukaan pintu
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

74

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

tergantung dengan kecepatan aliran masuk yang diinginkan. Kecepatan ini


tergantung pada ukuran butir bahan yang diangkut.
Elevasi lantai intake diambil minimal satu meter di atas lantai hulu
bendung karena sungai mengangkut pasir dan kerikil. Pada keadaan ini
makin tinggi lantai dari dasar sungai maka akan semakin baik, sehingga
pencegahan angkutan sedimen dasar masuk ke intake juga makin baik.
Tetapi bila lantai intake terlalu tinggi maka debit air yang tersadap menjadi
sedikit, untuk itu perlu membuat intake arah melebar. Agar penyadapan air
dapat terpenuhi dan pencegahan sedimen masuk ke intake dapat dihindari,
maka perlu diambil perbandingan tertentu antara lebar dengan tinggi
bukaan.
Rumus :
Q n = 1,2 x Q ........................................................................................(2.34)
(KP-02 Bangunan Utama,2012)
Q = . a . b. 2. g. z ............................................................................(2.35)
(KP-02 Bangunan Utama,2012)
Dimana :
Qn

: Debit rencana (m3/det)

: Kebutuhan air di sawah (m3/det)

: Koefisien debit

: Tinggi bukaan (m)

: Lebar bukaan (m)

: Percepatan gravitasi (9,81 m2/det)

: Kehilangan tinggi energi pada bukaan (m)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

75

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Gambar 2.19 Potongan Melintang Bangunan Pengambilan


( Sumber : KP-02 Bangunan Utama, 2012)

2.5.8. Lebar Bendung


Lebar bendung adalah jarak antara pangkal-pangkalnya (abutment)
dan sebaiknya sama dengan lebar rata-rata sungai pada bagian yang stabil.
Pada bagian ruas bawah sungai, lebar rata-rata tersebut dapat diambil pada
debit penuh (bankfull discharge), sedangkan pada bagian atas sungai sulit
untuk menentukan debit penuh. Lebar maksimum bendung sebaiknya tidak
lebih dari 1,2 kali rata-rata lebar sungai pada alur yang stabil.
Lebar total bendung tidak seluruhnya dimanfaatkan untuk
melewatkan debit air karena adanya pilar dan bangunan penguras, jadi lebar
bendung yang bermanfaat untuk melewatkan debit disebut lebar efektif
(Be), yang dipengaruhi oleh tebal pilar dan koefisien konstraksi pilar dan
pangkal bendung.
Dalam menentukan lebar efektif perlu diketahui mengenai
eksploitasi bendung, dimana pada saat air banjir datang pintu penguras dan
pintu pengambilan harus ditutup. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

76

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

masuknya benda yang terangkut oleh banjir yang dapat menyumbat pintu
penguras bila pintu terbuka dan air banjir masuk ke saluran induk.
Rumus :
Be = B 2(n. K p + K a )H1 .................................................................(2.36)
(Joetata dkk, 1997)
Dimana :
Be

: Lebar efektif bendung (m)

: Lebar total bendung (m)

Kp

: Koefisien kontraksi pilar

Ka

: Koefisien kontraksi pangkal bendung

: Jumlah pilar

H1

: Tinggi energi (m)


I

II

II

H1

pembilas
H1

pembilas

II

II

H1

B1

B2

B3

B1e
B1

B2e
B2

Bs
B3

B1e

B2e

Bs
Ka.H1

H1

ka.H1

ka.H1

Kp.H1

Kp.H1

Kp.H1

Ka.H1
Kp.H1

Kp.H1

Kp.H1

Kp.H1

Kp.H1

Bs = 0.8Bs

Bs = 0.8Bs

B = B1 + B2 + B3
Be = B1e + B2e + Bs
B = B1 + B2 + B3
Be = B1e + B2e + Bs

Gambar 2.20 Sketsa Lebar Efektif Bendung


( Sumber : KP-02 Bangunan Utama, 2012)
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

77

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Tabel 2.17 Harga-harga Koefisien Konstraksi Pilar (Kp)


No

Keterangan

Kp

Untuk pilar yang berujung segi empat dengan sudut1

sudut yang bulat pada jari-jari yang hampir sama

0.02

dengan 0.1 dari tebal pilar


2

Untuk pilar berujung bulat

Untuk pilar berujung runcing

0.01
0

(Sumber : KP-02 Bangunan Utama,2012)

Tabel 2.18 Harga-harga Koefisien Konstraksi Pangkal Bendung (Ka)


No
1

Keterangan
Untuk pangkal tembok segi empat dengan tembok hulu
pada 900 ke arah aliran
Untuk pangkal tembok bulat dengan tembok hulu pada
900 ke arah aliran dengan 0.5 H1 > r > 0.15 H1
Untuk pangkal tembok bulat di mana r > 0.5H1 dan
tembok hulu tidak lebih dari 450 ke arah aliran

Ka
0.2

0.1

(Sumber : KP-02 Bangunan Utama,2012)

2.5.9. Menentukan Tipe Mercu Bendung


Untuk tipe mercu bendung di Indonesia pada umumnya digunakan
dua tipe mercu, yaitu tipe ogee dan tipe bulat. Kedua bentuk mercu tersebut
dapat dipakai untuk konstruksi beton maupun pasangan batu atau bentuk
kombinasi dari keduanya.

2.5.9.1.

Mercu Bulat
Bendung dengan mercu bulat memiliki harga koefisien debit yang
jauh lebih tinggi dibandingkan dengan koefisien bendung ambang lebar,
mercu bulat mmpunyai dua tipe yaitu mercu bulat dengan satu jari-jari
(mercu Vlughter) dan mercu bulat dengan dua jari-jari (mercu
Schoklitsch). Pada sungai ini akan banyak memberikan keuntungan

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

78

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

karena bangunan ini akan mengurangi tinggi muka air hulu selama banjir.
Harga koefisien debit menjadi lebih tinggi karena lengkung streamline
dan tekanan negatif mercu.
2
V1 /2g

2
v2 /2g
h1

H1

V1

y
h2

2-3H, maks

H2

V2
1

Gambar 2.21 Bendung dengan Mercu Bulat


( Sumber : KP-02 Bangunan Utama, 2012)

Tekanan pada mercu adalah fungsi perbandingan antara H1 dan r


(H1 / r). Untuk bendung dengan dua jari-jari (R2), jari-jari hilir akan
digunakan untuk menentukan harga koefisien debit.
Untuk menghindari bahaya kapitasi lokal, tekanan minimum pada
mercu bendung harus dibatasi sampai 4 m tekanan air jika mercu
tersebut dari beton. Untuk pasangan batu tekanan subatmosfer sebaliknya
dibatasi sampai 1 m tekanan air. Persamaan tinggi energi - debit untuk
bendung ambang pendek dengan pengontrol segi empat adalah sebagai
berikut :
Q = Cd .

2
3

. 3 . g . Be . H1 3/2 .......................................................(2.37)
(Salamun, 2007)

Dimana :
Q

: Debit (m3/det)

Cd

: Koefisien debit (Cd = C0C1C2)

: Percepatan gravitasi (9,81 m/det2)

Be

: Panjang mercu efektif (m)

H1

: Tinggi energi di atas mercu (m)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

79

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

C0

: Fungsi H1/p (lihat Gambar 2.23)

C1

: Fungsi p/H1 dan kemiringan muka hulu bendung (lihat Gambar


2.24)

C2

: Fungsi p/H1 Menurut USBR 1960 (lihat Gambar 2.25)

C0

: mempunyai harga maksimum 1,49 jika H1/p lebih dari 5,0 (lihat
Gambar 2.23)

Gambar 2.22 Tekanan Pada Mercu Bendung Bulat sebagai Fungsi


Perbandingan H1/r
( Sumber : KP-02 Bangunan Utama, 2012)

Gambar 2.23 Harga-harga Koefisien C0 untuk Bendung Ambang


Bulat Sebagai Fungsi Perbandingan H1/p
( Sumber : KP-02 Bangunan Utama, 2012)
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

80

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Gambar 2.24 Koefisien C1 sebagai Fungsi Perbandingan p/H1


( Sumber : KP-02 Bangunan Utama, 2012)

Gambar 2.25 Harga-harga Koefisien C2 untuk Bendung Mercu Ogee


dengan Muka Hulu Melengkung (menurut USBR, 1960)
( Sumber : KP-02 Bangunan Utama, 2012)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

81

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Gambar 2.26 Faktor Pengurangan Aliran Tenggelam sebagai Fungsi


H2/H1
( Sumber : KP-02 Bangunan Utama, 2012)

2.5.9.2.

Mercu Ogee
Mercu ogee berbentuk tirai luapan bawah dari bendung ambang
tajam aerasi. Oleh karena itu mercu tidak akan memberikan tekanan
subatmosfer pada permukaan mercu sewaktu bendung mengalirkan air
pada debit rencana. Untuk debit yang lebih rendah, air akan memberikan
tekanan ke bawah pada mercu.
Untuk merencanakan permukaan mercu ogee bagian hilir, U.S
Army Corps of Engineers mengembangkan persamaan :

= [ ] ..................................................................................... (2.38)

(KP-02 Bangunan Utama,2012)


Dimana :
X dan Y : Koordinator-koordinator permukaan hilir (m3/det)
hd

: Tinggi rencana di atas mercu (mm)

k dan n : Koefisien kemiringan permukaan hilir

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

82

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Tabel 2.19 Harga-harga k dan n


Kemiringan permukaan hilir

Vertikal

1.85

3:01

1.936

1.836

3:02

1.939

1.81

1:01

1.873

1.776

(Sumber : KP-02 Bangunan Utama,2012)

3 - 4 h1 maks

X 1.85 = 2.0hd 0.85 y


X
H1

hd

0.282 hd

asal
1.85
koordinat
X
= 2.0hd 0.85 y
x

0.175 hd

H1

hd

hd

0.214
hd
3 - 4 h1
maks
0.115 hd

Y
asal
koordinat
x

0.282
R=0.2
hdhd
R=0.50.175
hd hd

R=0.2 hd
R=0.5 hd

H1

H1

R=0.220.214
hd hd
0.67
0.115 hd

1.810

0.810

= 1.939 hd

1.810

0.810

X= 1.939 hd

hd

R=0.22 hd
R=0.48
hd
0.67

sumbu mercu
diundurkan

R=0.48 hd
sumbu mercu
diundurkan

X
H1

0.836

= 1.939 hd

H1

0.139 hd

R = 0.210.237
hd hd
hd

0.237 hd
hd

X
H1

1.836

1.836

X
H1

hd

0.776

= 1.873 hd

0.119 hd

0.836
=x 1.939 hd y

0.33
0.139 hd
1

R = 0.68 hd
R = 0.21 hd

hd

1.776

1
1
0.119 hd

1.776

0.776
x
= 1.873
hd y

x
R = 0.45 hd1
1

0.33

R = 0.68 hd
R = 0.45 hd

Gambar 2.27 Tipe Mercu Ogee


( Sumber : KP-02 Bangunan Utama, 2012)
Bangunan hulu mercu bervariasi disesuaikan dengan kemiringan
permukaan hilir. Persamaan antara tinggi energi dan debit untuk bendung
dengan mercu tipe Ogee adalah :
Q = Cd .

2
3

. 3 . g . Be . H1 3/2 .......................................................(2.39)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

83

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

(KP-02 Bangunan Utama,2012)


Dimana :
: Debit (m3/det)

Cd : Koefisien debit (Cd = C0C1C2)


: Percepatan gravitasi (9,81 m2/det)

Be : Panjang mercu efektif (m)


H1 : Tinggi energi di atas ambang (m)
C0 : Konstanta 1,30
C1 : Fungsi p/H1 dan kemiringan muka hulu bendung (lihat Gambar
2.24)
C2 : Fungsi p/H1 Menurut USBR 1960 (lihat Gambar 2.25)
Faktor koreksi C1 disajikan dalam Gambar 2.28 dan sebaliknya
dipakai untuk berbagai tinggi bendung di atas dasar sungai.

1.0

>1
.33

1.1

0.33

1.2

0.67
1. 0
0

P/hd
=0.2
0

1.3

muka hulun vertikal

0.9
H1 / hd

0.8
0.7
0.6

perbandingan

0.5
0.4
0.3
0.2
0.1
0
0.70

0.75

0.80

0.85

0.90

0.95

1.00

faktor koreksi C1

Gambar 2.28 Faktor Koreksi untuk Selain Tinggi Energi Rencana


pada Bendung Mercu Ogee (menurut Ven Te Chow,
1959, Berdasarkan Data USBR dan WES)
( Sumber : KP-02 Bangunan Utama, 2012)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

84

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.5.10. Tinggi Air Banjir di Hilir Bendung


Perhitungan dilakukan dengan rumus sebagai berikut :
1

V = n x R2/3 x I1/2 ...............................................................................(2.40)


A = (b + m. h)h
P = b + 2. h1 + m2
R=

A
P

Perhitungan h dengan coba-coba.


Elevasi muka air di hilir bendung = elevasi dasar hilir + h

w
h
1
m

Gambar 2.29 Sketsa Tinggi Air Banjir di Hilir Bendung

2.5.11. Tinggi Air Banjir di Atas Mercu


Persamaan tinggi energi di atas mercu (H1) menggunakan rumus
debit bendung dengan mercu bulat, yaitu :
2

Q = Cd . 3 . 3 . g. Be . H1 3/2 ...................................................................(2.41)
Dimana :
Q

: Debit (m3/det)

Cd

: Koefisien debit

: Percepatan gravitasi (9,81 m/det2)

Be

: Lebar efektif bendung (m)

H1

: Tinggi energi di atas mercu (m)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

85

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


2
V1 /2g

2
v2 /2g
h1

H1

V1

y
h2

2-3H, maks

H2

V2
1

Gambar 2.30 Elevasi Air di Atas Mercu


( Sumber : KP-02 Bangunan Utama, 2012)
2.5.12. Kolam Olak
Kolam olak adalah suatu bangunan berupa olak di hilir bendung
yang berfungsi untuk meredam energi yang timbul di dalam aliran air
superkritis yang melewati pelimpah. Faktor pemilihan tipe kolam olak:
Tinggi bendung
Keadaan geoteknik tanah dasar misalnya jenis batuan, lapisan, kekerasan
tekan, diameter butir dan sebagainya.
Jenis angkutan sedimen yang terbawa aliran sungai
Keadaan aliran yang terjadi di bangunan peredam energi seperti aliran
tidak sempurna/tenggelam, loncatan air lebih rendah atau lebih tinggi.
Tipe kolam olak berdasarkan angka Bilangan Froude, kolam olak
dikelompokkan sebagai berikut :
1. Untuk Fr 1,7 tidak diperlukan kolam olak. Pada saluran tanah bagian
hilir harus dilindungi dari bahaya erosi.
2. Bila 1,7 < Fr 2,5 maka kolam olak diperlukan untuk meredam energi
secara efektif. Kolam olak dengan ambang ujung mampu bekerja dengan
baik.
3. Jika 2,5 < Fr 4,5 maka loncatan air tidak terbentuk dan menimbulkan
gelombang sampai jarak yang jauh di saluran. Kolam olak yang
digunakan untuk menimbulkan turbulensi (olakan) yakni tipe USBR
tipe IV.
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

86

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


4. Untuk Fr 4,5 merupakan kolam olak yang paling ekonomis, karena
kolam olak ini pendek. Kolam olak yang sesuai adalah kolam USBR tipe
III.

2.5.12.1. Kolam Olak Tipe Bak Tenggelam


Jika kedalaman konjungsi hilir dari loncat air terlalu tinggi
dibanding kedalaman air normal hilir, atau kalau diperkirakan akan
terjadi kerusakan pada lantai kolam yang panjang akibat batu-batu besar
yang terangkut lewat atas bendung, maka dapat dipakai peredam energi
yang relatif pendek tetapi dalam.
Kolam olak tipe bak tenggelam telah digunakan pada bendungbendung rendah dan untuk bilangan-bilangan Froude rendah. Bahan ini
diolah oleh institute teknik Hidrolika di Bandung untuk menghasilkan
serangkaian perencanaan untuk kolam dengan tinggi energi rendah ini.
Dapat dihitung dengan rumus :
3

q2

hc = g .........................................................................................(2.42)
(KP-02 Bangunan Utama,2012)
Dimana:
hc

: Kedalaman air kritis (m)

: Debit per lebar satuan (m3/det.m)

: Percepatan gravitasi (9,81 m/det)


tinggi kecepatan
q

H
hc

muka air
hilir

a=0.1R

lantai lindung

90

elevasi
dasar lengkung

Gambar 2.31 Kolam Olak Tipe Bak Tenggelam

( Sumber : KP-02 Bangunan Utama, 2012)


Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

87

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.5.12.2. Kolam Vlugter


Kolam vlugter dikembangkan untuk bangunan terjun di saluran
irigasi. Batas-batas yang diberikan untuk Z/hc 0,5; 2,0; 15,0 dihubungkan
dengan bilangan Froude. Bilangan Froude itu diambil dalam Z di bawah
tinggi energi hulu. Kolam vlugter bisa dipakai sampai beda tinggi energi
Z tidak lebih dari 4,50 m.

hc=2/3 H
z

hc =

r
r

jika
1
1

t=2
jika
a

alternatif

2a

t=3
a=

D=
(uku

Gambar 2.32 Kolam Vlugter


( Sumber : KP-02 Bangunan Utama, 2012)
3

q2

hc = g .........................................................................................(2.43)
(KP-02 Bangunan Utama,2012)
z

Jika 0,5 < h 2,0


c

t = 2,4 hc + 0,4 z
z

Jika 2,0 < h 15,0


c

t = 3,0 hc + 0,1 z
a = 0,28 hc

hc
z

D = R = L (ukuran dalam m)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

88

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.5.12.3. Kolam Olak USBR Tipe III


Berdasarkan KP-04 (Bangunan) kolam olak untuk bilangan
Froude > 4,5 merupakan kolam olak yang paling ekonomis, karena
kolam olak ini pendek. Kolam olak yang sesuai adalah kolam USBR tipe
III. Perhitungan dimensi kolam olak USBR tipe III adalah sebagai berikut
:

> (h+y2) +0.60 H


0.2n3

2
1

blok muka

n3 =

0.5 yu
yu
yu
yu

yu(4+Fru)
6

0.675 n3
0.75 n3
0.75 n3

blok halang
n=

ambang ujung

yu(18+Fru)
18

n3

yu

0.82 y2
2.7 y2
potongan U

Gambar 2.33 Karakteristik Kolam Olak USBR Tipe III


( Sumber : KP-02 Bangunan Utama, 2012)

Yu

= lebar balok muka


= tinggi balok muka
= jarak antar balok muka

Jarak tepi kolam olak ke balok muka = 0,5 x Yu


Jumlah balok muka = Nc
=

0,5 x
2 x

Tinggi balok haling = n3


3 =

Y x (4 + )
6

Ketebalan bagian atas balok haling = 0,2 n3


Jarak tepi kolam olak ke balok haling = 0,375 x n 3
Lebar balok halang = jarak antar balok haling = 0,75 x n3
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

89

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Jumlah balok haling = Nb


=

0,375 x 3
1,5 x 3

Tinggi ambang ujung = n


=

Y x (18 + )
18

Jarak antara balok muka dan balok haling = L1


L1 = 0,82 x Y2
Panjang total kolam olak = Ltot
Ltot = 2,7 x Y2
Tinggi dinding tepi kolam olak = H
H > (h + y2) + 0,6 H1
Dimana :
Be

: Lebar efektif bendung (m)

Ltot

: Panjang total kolam olak (m)

: Tinggi dinding tepi kolam olak (m)

Fr

: angka Froude

Y2

: Kedalaman air di atas ambang ujung (m)

2.5.12.4. Kolam Olak USBR Tipe IV


Kolam olak USBR tipe IV digunakan untuk bilangan Froude
2,5 < Fr 4,5.

Gambar 2.34 Kolam Olak USBR Tipe IV


( Sumber : KP-02 Bangunan Utama, 2012)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

90

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Panjang Kolam Olak :


L = 2Y1 (1 + 8Fr 2 1) ...............................................................(2.44)
(Dirjen Pengairan DPU, 1986)
Tinggi blok muka / chute block = 2 x Y1
Tebal blok muka / chute block = 2 x Y1 (minimum)
Lebar blok muka / chute block W = Y1
Jarak antar blok muka = 2,5 x W
Untuk end sill pada tipe kolam olak USBR IV dibuat menerus.
Tinggi end sill Hs = 0,2 x d2 (di mana d2 = Y2)
Lebar atas end sill = 0,2 x Hs
Kemiringan end sill = 2 : 1
Kedalaman lantai kolam olak H, digunakan rumus kecepatan akibat
tinggi jatuh: 1 = 2
Ketinggian air dari dasar lantai kolam olak (T w) bergantung dari nilai Fr
dan d1 di mana d1 = Y1
Syarat : Tw x 1,1 < Y2 + n

2.5.13. Panjang Lantai Muka


Perencanaan panjang lantai muka bendung menggunakan garis
kemiringan hidrolik. Garis gradien hidrolik ini digambarkan di hilir ke arah
hulu dengan titik ujung hilir bendung sebagai permukaan dengan tekanan
sebesar nol. Kemiringan garis hidrolik gradient disesuaikan dengan
kemiringan yang diijinkan untuk suatu tanah dasar tertentu, yaitu
menggunakan Creep Ratio (Cr). Untuk mencari panjang lantai depan hulu
yang menentukan adalah beda tinggi energi terbesar di mana terjadi pada
saat muka banjir di hulu dan kosong di hilir. Garis gradient hidraulik akan
membentuk sudut dengan bidang horizontal sebesar , sehingga akan
memotong air banjir di hulu. Proyeksi titik perpotongan tersebut ke arah
horizontal (lantai hulu bendung) adalah titik ujung dari panjang lantai depan
minimum.
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

91

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


1

Lw = Lv + 3 Lh .............................................................................(2.45)
(Suyono Sosrodarsono dkk, 2003)
Dimana :
Lw

: Panjang garis rembesan (m)

Lw : Panjang creep line vertikal (m)


Lh : Panjang creep line horisontal (m)
Faktor rembesan / creep ratio (Cw) = Lw / Hw di mana, Cw > CL
(aman).

Tabel 2.20 Harga-harga minimum Angka Rembesan Lane (CL)


Jenis Material

CL

Pasir sangat halus / lanau

8.5

Pasir halus

7.0

Pasir sedang

6.0

Pasir kasar

5.0

Kerikil halus

4.0

Kerikil sedang

3.5

Kerikil kasar termasuk berangkal dan kerikil

3.0

Lempng lunak

2.5

Lempung sedang

3.0

Lempung keras

1.8

Lempung sangat keras

1.6

(Sumber : KP-02 Bangunan Utama, 2012)

2.5.14. Tebal Lantai Kolam Olak


Untuk menentukan tebal lantai kolam olak harus ditinjau pada dua
kondisi yaitu pada kondisi air normal dan kondisi air banjir.
dx S

.......................................................................................(2.46)
(KP-02 Bangunan Utama,2012)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

92

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Dimana :
dx

: Tebal lantai pada titik x (m)

Px

: Gaya angkat pada titik x (t/m2)

Hx

: Tinggi muka air di hulu bendung diukur dari titik x (m)

Wx

: Kedalaman air pada titik x (m)

: Berat jenis bahan (t/m3)

: Faktor keamanan :
1,5

= untuk kondisi air normal

1,25 = untuk kondisi air banjir

2.6.

Tinjauan Gerusan di Hilir Bendung


Tinjauan terhadap gerusan bendung digunakan untuk menentukan
kedalaman gerusan di hilir bendung. Untuk menghitung kedalaman gerusan
digunakan metode Lacey sebagai berikut:
Q 1/3

R = 0,47 ( f )

...................................................................................(2.47)
(KP-02 Bangunan Utama,2012)

f = 1,76 Dm1/2
Dimana :
R

: Kedalaman gerusan di bawah permukaan banjr (m)

Dm

: Diameter rata-rata material dasar sungai (mm)

: Debit yang melimpah di atas mercu (m 3/det)

: Faktor lumpur Lacey


Menurut Lacey, kedalaman gerusan bersifat empiris, maka dalam

penggunaannya dikalikan dengan angka keamanan sebesar 1,5.

2.7.

Analisis Struktur Vertikal


Stabilitas bendung dianalisis pada tiga macam kondisi yaitu pada
saat sungai kosong, normal dan pada saat sungai banjir. Tinjauan stabilitas
yang diperhitungkan dalam perencanaan suatu bendung meliputi:

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

93

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.7.1. Analisis Gaya-gaya Vertikal


2.7.1.1.

Gaya Akibat Berat Sendiri Bendung


Rumus :
G = V x .........................................................................................(2.48)
(KP-02 Bangunan Utama,2012)
Dimana :

2.7.1.2.

: Volume (m3)

: Berat jenis bahan, pasangan batu = 2,2 t/m3, beton siklop = 2,4 t/m3

Gaya Angkat (Uplift Pressure)


Rumus :
Px = Hx

....................................................................... (2.49)
(KP-02 Bangunan Utama,2012)

Dimana :
Px

: Gaya angkat pada titik X (t/m2)

Lx

: Jarak sepanjang bidang kontak dari hulu sampai x (m)

: Panjang total bidang kontak bendung dan tanah bawah (m)

H : Beda tinggi energi (m)


Hx

: Tinggi energi di hulu bendung (m)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

94

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Hx

4 5

H
2

14

7
8

10

hx

11
12 13

Lx
1

23

4 5

67

89

10

Qx

11 12 13

14

(10-11)/3

(4-5)/3

H
(6-7)/3

(2-3)/3

(8-9)/3
Px=Hx - Lx .
L

(12-13)/3
H

Gambar 2.35 Gaya Angkat Pada Pondasi Bendung


( Sumber : KP-02 Bangunan Utama, 2012)
2.7.2. Analisis Gaya-gaya Horisontal
2.7.2.1.

Gaya Akibat Tekanan Lumpur


Rumus :
Ps =

s x h2
2

1sin

] .........................................................................(2.50)

1+sin

(KP-02 Bangunan Utama,2012)


Dimana :
Ps : Gaya yang terletak pada 2/3 kedalaman dari atas lumpur yang
bekerja secara horizontal (kg)

: Sudut geser dalam (0)

: Berat jenis lumpur (kg/m3) = 1600 kg/m3 = 1,6 t/m3

: Kedalaman lumpur (m)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

95

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.7.2.2.

Gaya Hidrostatis
Rumus :
H = [12 x w x h2 ] ......................................................................(2.51)
(Joetata dkk, 1997)
Dimana :
w : Berat jenis air (kg/m3) = 1000 kg/m3 = 1 t/m3
h1 : Kedalaman air hulu (m)
h2 : Kedalaman air hilir (m)
H

: Gaya tekan hidrostatis (ton)

Gambar 2.36 Sketsa Gaya Hidrostatis Pada Bendung

2.7.2.3.

Gaya Akibat Tekanan Aktif dan Pasif


- Tekanan tanah aktif dihitung dengan rumus sebagai berikut :
Pa = 12 sub x K a x h2 .............................................................(2.52)

K a = tan2 (450 )
2
sub = sat w
Gs + e
] w
1+e
Gs 1
]
= [w
1+e
= [w

- Tekanan tanah pasif dihitung dengan rumus sebagai berikut :


Pp = 12 sub x K p x h2 ..............................................................(2.53)
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

96

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

K p = tan2 (450 )
2
sub = sat w
Gs + e
] w
1+e
Gs 1
]
= [w
1+e
= [w

Dimana :
Pa

: Tekanan tanah aktif (t/m2)

Pp

: Tekanan tanah pasif (t/m2)

: Sudut geser dalam (0)

: Gravitasi bumi = 9,81 m/det2

: Kedalaman tanah aktif dan pasif (m)

sub : Berat jenis submerged / tanah dalam keadaan terendam (t/m3)

2.7.2.4.

sat

: Berat jenis saturated / tanah dalam keadaan terendam (t/m3)

: Berat jenis air = 1,0 t/m3

Gs

: Spesifik Gravity

: Void Ratio

Gaya Gempa
Rumus :
ad = n(ac x z)m ...............................................................................(2.54)
ad
E=
g
(KP-06 Parameter Bangunan, 2012)
Dimana :
ad

: Percepatan gempa rencana (cm/det2)

n,m

: Koefisien untuk masing-masing jenis tanah

ac

: Percepatan kejut dasar (cm/det2)

: Faktor yang tergantung dari letak geografis (dapat dilihat pada


Peta

Zona

Seismik

untuk

Perencanaan

Bangunan

Lampiran 1)
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

97

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

: Koefisien gempa

: Percepatan gravitasi = 9,81 m/det2

Tabel 2.21 Harga-harga Koefisien Tanah


Jenis Tanah

Batu

2.76

0.71

Dilivium

0.87

1.05

Aluvium

1.56

0.89

Aluvium lunak

0.29

1.32

(Sumber : KP-06 Parameter Bangunan,2012)

Tabel 2.22 Harga-harga Percepatan Kejut Dasar


Periode Ulang (tahun)

ac

20

85

100

160

500

225

1000

275

(Sumber : KP-06 Parameter Bangunan,2012)


Dari koefisien gempa di atas, kemudian dicari besarnya gaya
gempa dan momen.

2.8.

Analisis Stabilitas Bendung

2.8.1. Analisis Terhadap Guling


Rumus :
SF =

Mt
Mg

> 1,5 ..................................................................................(2.55)


(Soedibyo, 1996)

Dimana:
SF

: Faktor keamanan

Mt : Jumlah momen tahan (ton meter)


Mg : Jumlah momen guling (ton meter)
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

98

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.8.2. Analisis Terhadap Geser


Rumus :
R

SF = f Rv > 1,5 ................................................................................ (2.56)


h

( Salamun, 2007)
Dimana:
SF

: Angka keamanan terhadap geser > 1,50

: Koefisien gesekan

Rv : Kumulatif gaya vertikal (ton)


Rh : Kumulatif gaya horisontal (ton)

2.8.3. Analisis Terhadap Daya Dukung Tanah


Dari data tanah lokasi bendung, diperoleh :

: Berat jenis tanah (t/m3)

: Kohesi (t/m2)

: Sudut geser dalam (0)

Df

: Kedalaman pondasi (m)

Nc, Nq, N di dapat dari grafik Terzaghi :


Rumus daya dukung tanah Terzaghi :
q ult = c x Nc x x Nq xDf + 0,5 x x B x N ......................................... (2.57)
(Braja M. Das, 1998)
=

qult

.................................................................................................(2.58)

SF

Kontrol :
RV

maks =
min =

RV
B

(1 +

(1

6 .e
B

6 .e
B

)<
...................................................................(2.59)

) > 0 .....................................................................(2.60)
(Soedibyo, 1996)

Dimana :
SF

: Faktor keamanan

RV : Gaya vertikal (ton)


B

: Panjang tubuh bendung (m)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

99

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

: Tegangan yang timbul (t/m2)

: Tegangan ijin (t/m2)

2.8.4. Analisis Terhadap Erosi Bawah Tanah (Pipping)


Keamanan bendung terhadap erosi bawah bendung dihitung dengan
rumus :
SF =

a
s

s(1+ )
hs

..........................................................................................(2.61)

Dimana :
SF

: Faktor keamanan

: Kedalaman tanah (m)

: Tebal lapisan pelindung (m)

hs

: Tekanan air pada kedalaman O (kg/m2)


Rumus di atas mengasumsikan bahwa berat volume tanah di bawah

air dapat di ambil 1 (w = s = 1 t/m2). Berat volume bahan lindung di bawah


air adalah 1. Faktor keamanan, SF sekurang-kurangnya sebesar 1,5.

2.8.5. Analisis Terhadap Rembesan


Angka rembesan menurut Lane dirumuskan sebagai berikut :
Cw =

1
3

Lv+ Hv
Hw

....................................................................................(2.62)

Dimana :
Cw : Angka rembesan yang terjadi
Lv

: Panjang rembesan dihitung secara vertikal (m)

Hv

: Panjang rembesan dihitung secara Horisontal (m)

Hw : Beda tinggi antara muka air di hulu dengan di hilir (m)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

100

LAPORAN TUGAS AKHIR


PERENCANAAN BENDUNG TONGGAUNA KABUPATEN
KOLAKA TIMUR, SULAWESI TENGGARA
(Design of Tonggauna Weir at Kolaka Timur,
Southeast Sulawesi)

BAB III
METODOLOGI

UNDIP KEMENPUPERA

BAB III. METODOLOGI

BAB III
METODOLOGI

3.1.

Uraian Umum
Metodologi pada studi ini menguraikan seluruh kegiatan dari awal
sampai akhir, meliputi seluruh kegiatan yang pelaksanaannya secara urut
maupun simultan. Metode yang menggunakan perhitungan analisis yang
tepat sehingga memberikan hasil yang optimal serta tepat waktu (secara
garis besar dapat dilihat pada bagan alir gambar 3.1).
Lingkup kegiatan pada studi ini adalah sebagai berikut:
1. Persiapan
2. Pengumpulan data
3. Analisis
4. Perencanaan dan desain konstruksi
5. Gambar konstruksi
6. Dokumen kontrak
Masing-masing tahapan tersebut terdiri dari bermacam-macam item
pekerjaan yang harus dilaksanakan secara simultan maupun bersamaan.

3.2.

Tahap Persiapan
Tahap persiapan merupkan rangkaian kegiatan sebelum memulai
pengumpulan data dan pengolahannya. Dalam tahap ini disusun hal-hal
penting untuk mengefektifkan waktu dan kegiatan yang dilakukan.
Adapun tahapan tersebut antara lain :
1. Studi pustaka mengenai masalah yang berhubungan dengan bendung
dan fasilitas-fasilitasnya dan jaringan irigasinya.
2. Menentukan kebutuhan data.
3. Pengadaan persyaratan administrasi.
4. Mendata instansi yang akan dijadikan narasumber.
5. Survey ke lokasi untuk mendapatkan gambaran umum kondisi
dilapangan.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

101

BAB III. METODOLOGI

Gambar 3.1. Bagan Alir Pengerjaan Tugas Akhir


Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

102

BAB III. METODOLOGI

3.3.

Tahap Pengumpulan Data


Dalam proses perencanaan, diperlukan analisis yang teliti. Untuk
dapat melakukan analisis yang baik, diperlukan data, informasi, teori,
konsep dasar dan alat bantu yang memadai, sehingga kebutuhan akan data
sangat mutlak diperlukan. Data primer diperoleh dengan pengukuran
dilapangan. Dalam penyusunan laporan tugas akhir ini sebagian besar
menggunakan data sekunder yang diperoleh dari Balai Wilayah Sungai
Sulawesi IV Propinsi Sulawesi Tenggara dan Fakultas Kehutanan
Universitas Hasanuddin Kota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan. Datadata sekunder yang digunakan dalam perencanaan ini adalah sebagai
berikut :
1. Data hidroklimatologi diperoleh dari Balai Wilayah Sungai Sulawesi IV
Provinsi Sulawesi Tenggara, terdiri dari :
a. Data curah hujan harian dari 3 stasiun hujan yaitu stasiun Mowewe,
stasiun Lasusua, dan stasiun Abuki selama 15 tahun (2000 2014).
b. Data klimatologi yang meliputi kelembaban relatif, temperatur, lama
penyinaran matahari, kecepatan angin, 1 stasiun yaitu Unaaha
selama 4 tahun (2011-2014).
2. Peta

topografi diperoleh dari Fakultas Kehutanan Universitas

Hasanuddin, terdiri dari :


a. Peta RBI Tonggauna (2212-13), Pegunungan Mekongga (2112-34)
dam Osu Wiau (2112-62) dan Pegunungan Tangke Lemboke
(2212-41).
3. Peta DAS Konaweha diperoleh dari Balai Wilayah Sungai Sulawesi IV
Provinsi Sulawesi Tenggara.
4. Data geologi diperoleh dari Laporan Feasibility Study D.I. Tonggauna
Kabupaten Kolaka dan Laporan Survey Investigasi Desain D.I.
Tonggauna Kabupaten Kolaka dari Balai Wilayah Sungai Sulawesi IV.
5. Data morfologi sungai, gambar situasi, potongan memanjang dan
potongan melintang sungai Mokoseo diperoleh dari Laporan Feasibility

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

103

BAB III. METODOLOGI

Study D.I. Tonggauna Kabupaten Kolaka pada Balai Wilayah Sungai


Sulawesi IV.

3.4.

Tahap Analisis
Analisis yang diperlukan dalam perencanaan bangunan utama
berupa bendung tetap yaitu sebagai berikut :
1. Analisis letak bendung
2. Analisis hidrologi
a. Perhitungan debit banjir rencana
b. Analisis kebutuhan air dan ketersediaan air (water balance)
3. Analisis hidrolis
a. Tinjauan hidrolis bendung
b. Analisis struktur bendung dan bangunan-bangunan pelengkapnya.

3.4.1. Analisis Letak Bendung


Penentuan lokasi bendung harus diperhitungkan secara matang,
dari beberapa alternatif lokasi dipilih yang paling menguntungkan dari
berbagai segi. Misalnya dari segi perencaan, pengamanan bendung,
pelaksanaan, pengoperasian, dampak pembangunan dan sebagainya. Dari
beberapa pengalaman dalam memilih lokasi bendung, tidak semua
persayaratan yang dibutuhkan terpenuhi. Sehingga lokasi bendung
ditetapkan berdasarkan persyaratan yang dominan.
Lokasi bendung dipilih atas pertimbangan beberapa aspek :
a. Keadaan topografi dari rencana daerah irigasi. Dalam hal ini letak
bendung tidak terlalu jauh daari sawah yang akan dialiri, sehingga
saluran irigasi yang dibutuhkan tidak terlalu panjang. Hal ini akan
menghemat biaya yang dikeluarkan.
b. Kondisi topografi, hidraulik dan morfologi sungai dari lokasi bendung.
c. Kondisi tanah pondasi di lokasi bendung rencana adalah geneis, karena
bendung harus di tempatkan di lokasi di mana tanah pondasinya cukup
baik sehingga bangunan akan stabil.
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

104

BAB III. METODOLOGI

d. Biaya pelaksanaan. Dari beberapa alternatif lokasi ditinjau pula dari


segi biaya yang paling murah dan pelaksanaannya yang tidak terlalu
sulit.

3.4.2. Analisis Hidrologi


Analisis hidrologi adalah analisis yang berisi tentang aspek-aspek
hidrologi dalam perencaan sebuah bendung. Analisis hidrologi mencakup
perhitungan banjir rencana dan analisis kebutuhan air.

3.4.2.1.

Perhitungan Debit Banjir Rencana


a. Analisis Curah Hujan Rencana
Apabila data hujan yang digunakan lebih dari satu stasiun
hujan maka beberapa metode untuk menghitung curah hujan
tersebut, antara lain :
1. Metode rata-rata aljabar (Arithmatic Mean)
2. Metode Polygon Thiessen
3. Metode Isohiet
Dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini digunakan metode
rata-rata aljabar dan metode Polygon Thiessen karena data hujan
yang tersedia sebanyak 3 stasiun selama 15 tahun (2000-2014) dan
lokasinya menyebar. Ketiga stasiun hujan tersebut adalah stasiun
Mowewe, stasiun Lasusua, dan stasiun Abuki.
b. Analisis Frekuensi
1. Pengukuran Dispersi
Variasi atau dispersi adalah besarnya derajat dari sebaran
varian di sekitar nilai rata-ratanya. Cara mengukur besarnya
dispersi disebut pengukuran dispersi. Adapun cara pengukuran
dispersi antara lain :
a. Standar Deviasi (S)
b. Koefisien Variasi (Cv)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

105

BAB III. METODOLOGI

c. Koefisien Skewness (Cs)


d. Pengukuran Kurtosis
2. Pemilihan Jenis Sebaran
Untuk memilih jenis sebaran, ada beberapa macam
distribusi yang sering dipakai yaitu :
a. Distribusi Normal
b. Distribusi Log Normal
c. Distribusi Gumbel Tipe I
d. Distribusi Log Person Tipe III
3. Uji Keselarasan Distribusi
Uji kesalarasan distribusi yang sering digunakan adalah :
a. Chi-Kuadrat
b. Uji Smirnov Kolmogorof
c. Analisis Debit Banjir Rencana
Ada beberapa metode dalam menentukan debit banjir rencana
yaitu:
1. Metode Rasional
2. Metode Haspers
3. Metode Hidrograf Satuan Sintetik (HSS) Gamma I
4. Metode Passing Capasity

3.4.2.2.

Analisis Kebutuhan Air


Analisis kebutuhan air terdiri dari :
a. Analisis Kebutuhan Air dan Ketersediaan Air
Menurut jenisnya ada dua macam pengertian kebutuhan air
yaitu:
1. Kebutuhan air untuk tanaman (Consumtive Use).
Evapotranspirasi, perkolasi, koefisien tanaman (Kc), curah
hujan efektif (Re), kebutuhan air untuk pengolahan lahan,
kebutuhan air untuk pertumbuhan.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

106

BAB III. METODOLOGI

2. Kebutuhan air untuk irigasi.


Kebutuhan air untuk irigasi dapat dihitung sesuai pola
tanam yang berlaku di Kabupaten Kolaka Timur. Khusus untuk
D.I. Tonggauna pola tanam yang direncanakan adalah padi - padi
- palawija.
b. Perhitungan Neraca Air
Perhitungan neraca air dilakukan untuk mengecek apakah air
yang tersedia cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan irigasi
atau tidak. Neraca air disajikan dalam bentuk garfik sehingga
memudahkan pengecekan ketersediaan air pada saat tertentu.
c. Analisis Debit Andalan
Perhitungan debit andalan bertujuan untuk menentukan areal
persawahan yang dapat diairi. Perhitungan ini menggunakan cara
analisis water balance dari F.J. Mock berdasarkan data curah hujan,
evapotranspirasi, keseimbangan air pada permukaan tanah, limpasan
(run off), tampungan air tanah (ground water storage) dan aliran
sungai.

3.4.3. Analisis Struktur dan Tinjauan Hidrolis Bendung

3.4.3.1.

Analisis Struktur Bendung


Sebelum melakukan analisis terhadap bendung perlu untuk
menentukan tipe bendung dan lokasinya yang akan dipakai dengan
mempertimbangkan kondisi lingkungan dan penyelidikan lapangan.
a. Penentuan dimensi saluran primer
b. Alat pengukur debit diantaranya metode : alat ukur pintu romijn, alat
ukur ambang lebar, alat ukur Crump de Gruyter.
c. Saluran kantong lumpur
d. Pintu penguras kantong lumpur
e. Bangunan pengambilan

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

107

BAB III. METODOLOGI

f. Lebar bendung
g. Penentuan tipe mercu bendung
h. Tinggi air banjir di hilir bendung
i. Tinggi air banjir di atas mercu
j. Kolam olak
k. Panjang lantai muka
l. Tebal lantai kolam olak
m. Pintu penguras bendung

3.4.3.2.

Tinjauan Hidrolis Bendung


Bendung ditinjau terhadap gerusan di hilir bendung dan tinggi
backwater di hulu bendung.

3.4.4. Analisis Stabilitas Bendung


Analisis tersebut bertujuan untuk meninjau stabilitas bendung pada
saat sungai kondisi normal, normal dan banjir rencana. Analisisnya
meliputi :
1. Analisis gaya-gaya vertikal, meliputi :
a. Akibat berat bendung
b. Gaya gempa
c. Gaya angkat (uplift pressure)
2. Analisis gaya-gaya horizontal, meliputi :
a. Tekanan tanah aktif dan pasif
b. Tekanan hidrostatis
c. Gaya akibat tekanan lumpur
3. Analisis stabilitas bendung, meliputi :
a. Terhadap guling
b. Terhadap geser
c. Terhadap daya dukung tanah
d. Terhadap erosi bawah tanah (piping)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

108

BAB III. METODOLOGI

3.5.

Perancangan Dokumen Kontrak


Dokumen kontrak merupakan sebuah dokumen yang berisi tentang
detail-detail guna acuan pelaksanaan proyek di lapangan. Antara lain berisi
tentang Gambar Kerja (Shop Drawing), Rencana Anggaran Biaya (RAB),
Jadwal Pelaksanaan Proyek dan Network Planning serta Rencana Kerja
dan Syarat-Syarat.

3.5.1. Gambar Kerja


Adalah gambar di dapat dari hasil desain dan perhitungan struktur.
Gambar perencanaan belum memiliki detail yang cukup untuk dijadikan
acuan dalam proses pembangunan.

3.5.2. Rencana Anggaran Biaya


Merupakan

rincian

biaya

yang

harus

dikeluarkan

dalam

pelaksanaan proyek. Juga terdapat jenis-jenis pekerjaan yang harus


dilaksanakan dan berapa biaya untuk pekerjaan tersebut.

3.5.3. Jadwal Pelaksanaan dan Network Planning


Jadwal pelaksanaan adalah suatu pembagian waktu secara
terperinci yang disediakan untuk masing-masing pekerjaan dari pekerjaan
awal sampai pekerjaan akhir serta sebagai koordinasi suatu pekerjaan.
Network planning adalah gambaran yang memperlihatkan susunan urutan
pekerjaan dan logika keterangan antara kegiatan yang satu dengan
kegiatan yang lain beserta waktu pelaksanaannya.

3.5.4. Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)


Berisi mengenai metodologi pekerjaan dan syarat-syarat pekerjaan
dan material yang harus digunakan sebagai acuan pekerjaan.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

109

BAB III. METODOLOGI

3.5.5. Metode Pelaksanaan


Metode pelaksanaan merupakan penjelasan tahapan pelaksanaan
pekerjaan secara runtut mulai dari tahapan persiapan sampai dengan
finishing secara terperinci.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

110

LAPORAN TUGAS AKHIR


PERENCANAAN BENDUNG TONGGAUNA KABUPATEN
KOLAKA TIMUR, SULAWESI TENGGARA
(Design of Tonggauna Weir at Kolaka Timur,
Southeast Sulawesi)

BAB IV
ANALISIS HIDROLOGI DAN
KEBUTUHAN AIR IRIGASI

UNDIP KEMENPUPERA

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

BAB IV
ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

4.1.

Uraian Umum
Dalam merencanakan bangunan air, analisis yang penting perlu
ditinjau adalah analisis hidrologi. Analisis hidrologi diperlukan untuk
menentukan besarnya debit banjir rencana yang mana debit banjir rencana
akan berpengaruh terhadap besarnya debit maksimum maupun kestabilan
konstruksi yang akan dibangun. Pada perencanaan bendung ini, data curah
hujan harian selama periode 15 tahun yang akan dijadikan sebagai dasar
perhitungan dalam menentukan debit banjir rencana.
Data hujan harian selanjutnya akan diolah menjadi data curah hujan
rencana, yang kemudian akan diolah menjadi debit banjir rencana. Data
hujan harian didapatkan dari beberapa stasiun di sekitar lokasi rencana
bendung, di mana ke 3 stasiun tersebut berada di luar catchment area
(daerah aliran sungai).
Adapun langkah-langkah dalam analisis hidrologi adalah sebagai
berikut :
a. Menentukan Daerah Aliran Sungai (DAS) beserta luasnya.
b. Menentukan luas pengaruh daerah stasiun-stasiun penakar hujan sungai.
c. Menentukan curah hujan maksimum tiap tahunnya dari data curah hujan
yang ada.
d. Menganalisis curah hujan rencana dengan periode ulang T tahun.
e. Menghitung debit banjir rencana berdasarkan besarnya curah hujan
rencana di atas pada periode ulang T tahun.
f. Menghitung debit andalan yang merupakan debit minimum sungai yang
dapat dipakai untuk keperluan irigasi.
g. Menghitung kebutuhan air di sawah yang dibutuhkan untuk tanaman.
h. Menghitung neraca air yang merupakan perbandingan antara debit air
yang tersedia dengan debit air yang dibutuhkan untuk keperluan irigasi.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

111

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

4.2.

Daerah Aliran Sungai (DAS)


Sebelum menentukan daerah aliran sungai, terlebih dahulu
menentukan lokasi bangunan air (bendung) yang akan direncanakan. Dari
lokasi bendung ini ke arah hulu, kemudian ditentukan batas daerah aliran
sungai dengan menarik garis imajiner yang menghubungkan titik-titik yang
memiliki kontur tertinggi sebelah kiri dan kanan sungai yang ditinjau.
Penentuan luas DAS menggunakan program Arc Gis dan Google
Earth Pro, peta DAS Tonggauna dapat dilihat pada Gambar 4.1 dengan luas
daerah aliran sungai (DAS) Tonggauna sebesar 70,79 km2.

DAS TONGGAUNA

Gambar 4.1. Peta DAS Tonggauna


( Sumber : Google Earth ,2016)

4.3.

Uji Konsistensi Data


Untuk menguji konsistensi data hujan dapat dilakukan dengan analisis
massa ganda (double mass curve analysis), yaitu menguji konsistensi hasil
pengukuran pada suatu stasiun dan membandingkan akumulasi dari hujan
yang bersamaan untuk suatu kumpulan stasiun yang mengelilinginya. Data
tidak konsisten berarti data mengandung kesalahan, maka harus diuji
kebenarannya dengan langkah sebagai berikut :
Data yang akan diuji adalah data pada Stasiun Lasusua.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

112

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI


Data hujan acuan/indeks merupakan nilai rata-rata dari stasiun hujan
Abuki yang lokasinya ada disekeliling Stasiun Lasusua.
Data kumulatif Stasiun Lasusua dibandingkan secara grafis dengan data
kumulatif dari Stasiun hujan acuan/indeks (Stasiun Abuki).
Data di Stasiun Lasusua sebagai sumbu x dan data di stasiun
acuan/indeks sebagai sumbu y.
Dengan langkah yang sama dilanjutkan dengan menguji data pada
stasiun lainnya.
Jika grafik yang terjadi berupa garis lurus/tidak terjadi patahan, maka
data Stasiun Lasusua konsisten, dan sebaliknya jika ada patahan berarti data
tersebut tidak konsisten sehingga harus dikoreksi. Jika data sebelum garis
tersebut berubah/patah, kemiringannya sebesar b dan setelah berubah,
kemiringannya sebesar a, maka data stasiun y harus dikoreksi dengan
dikalikan suatu faktor koreksi yaitu b/a. Data yang sudah dikoreksi sudah
konsisten, berarti bahwa data yang terukur dan dihitung adalah benar dan
teliti sesuai dengan fenomena saat hujan terjadi. Data pengujian dan grafik
Double Mass Curve dapat dilihat pada Tabel 4.1 Tabel 4.3 dan Gambar
4.2 4.4.

Tabel 4.1. Konsistensi Data Stasiun Lasusua

TAHUN
2000

Curah Hujan Harian Maksimum


(mm)
STA.
STA.
STA.
LASUSUA ABUKI MOWEWE
50
80
55

Ratarata
Stasiun
Indeks
67.50

Kumulatif
Stasiun Stasiun
Indeks
LS
67.50
50.00

2001

99

43

40

41.50

109.00

149.00

2002

59

47

40

43.50

152.50

208.00

2003

69

48

45

46.26

198.76

277.00

2004

35

88

50

69.00

267.76

312.00

2005

72

64

40

52.00

319.76

384.00

2006

52

67

45

56.00

375.76

436.00

2007

95

70

60

65.00

440.76

531.00

2008

110

73

64

68.50

509.26

641.00

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

113

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

Lanjutan Tabel 4.1.


Curah Hujan Harian Maksimum
(mm)
TAHUN
STA.
STA.
STA.
LASUSUA ABUKI MOWEWE
2009
146
62
60

Ratarata
Stasiun
Indeks
61.00

Kumulatif
Stasiun Stasiun
Indeks
LS
570.26 787.00

2010

91

84

45

64.50

634.76

878.00

2011

127

51

60

55.45

690.21

1005.00

2012

71

70

63

66.25

756.46

1076.00

2013

89

110

59

84.25

840.71

1165.00

2014
41
57
(Sumber : Hasil Perhitungan)

60

58.50

899.21

1206.00

Komulatif Stasiun Indeks

Double Mass Curve Stasiun Lasusua


1400.00
1200.00
1000.00
800.00
600.00
400.00
200.00
0.00
0.00

200.00

400.00
600.00
800.00
Komulatif Stasiun Lasusua

1000.00

Gambar 4.2. Grafik Double Mass Curve Stasiun Lasusua


( Sumber : Hasil Perhitungan)

Tabel 4.2. Konsistensi Data Stasiun Abuki

TAHUN
2000
2001
2002
2003

Curah Hujan Harian Maksimum


(mm)
STA.
STA.
STA.
LASUSUA ABUKI MOWEWE
50
80
55
99
43
40
59
47
40
69
48
45

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

RataKumulatif
rata
Stasiun Stasiun Stasiun
Indeks Indeks
AB
52.50
52.50
80.00
69.50
122.00
123.00
49.50
171.50
170.00
57.00
228.50
217.51
114

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

Lanjutan Tabel 4.2.


Curah Hujan Harian Maksimum
(mm)
TAHUN
STA.
STA.
STA.
LASUSUA ABUKI MOWEWE
2004
35
88
50
2005
72
64
40
2006
52
67
45
2007
95
70
60
2008
110
73
64
2009
146
62
60
2010
91
84
45
2011
127
51
60
2012
71
70
63
2013
89
110
59
2014
41
57
60
(Sumber : Hasil Perhitungan)

RataKumulatif
rata
Stasiun Stasiun Stasiun
Indeks Indeks
AB
42.50
271.00
305.51
56.00
327.00
369.51
48.50
375.50
436.51
77.50
453.00
506.51
87.00
540.00
579.51
103.00 643.00
641.51
68.00
711.00
725.51
93.50
804.50
776.41
66.75
871.25
846.41
73.75
945.00
956.41
50.50
995.50 1013.41

Komulatif Stasiun Indeks

Double Mass Curve Stasiun Abuki


1200.00
1000.00
800.00

600.00
400.00
200.00
0.00
0.00

200.00

400.00 600.00 800.00


Komulatif Stasiun Abuki

1000.00 1200.00

Gambar 4.3. Grafik Double Mass Curve Stasiun Abuki


( Sumber : Hasil Perhitungan)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

115

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

Tabel 4.3. Konsistensi Data Stasiun Mowewe


Curah Hujan Harian Maksimum
RataKumulatif
(mm)
rata
TAHUN
Stasiun Stasiun Stasiun
STA.
STA.
STA.
LASUSUA ABUKI MOWEWE Indeks Indeks
MO
2000
50
80
55
65.00
65.00
55.00
2001
99
43
40
71.00
136.00
95.00
2002
59
47
40
53.00
189.00 135.00
2003
69
48
45
58.26
247.26 180.00
2004
35
88
50
61.50
308.76 230.00
2005
72
64
40
68.00
376.76 270.00
2006
52
67
45
59.50
436.26 315.00
2007
95
70
60
82.50
518.76 375.00
2008
110
73
64
91.50
610.26 439.00
2009
146
62
60
104.00 714.26 499.00
2010
91
84
45
87.50
801.76 544.00
2011
127
51
60
88.95
890.71 604.00
2012
71
70
63
70.50
961.21 666.50
2013
89
110
59
99.50 1060.71 725.00
2014
41
57
60
49.00 1109.71 785.00
(Sumber : Hasil Perhitungan)

Komulatif Stasiun Indeks

Double Mass Curve Stasiun Mowewe


900.00
800.00
700.00
600.00
500.00
400.00
300.00
200.00
100.00
0.00
0.00

200.00

400.00 600.00 800.00 1000.00 1200.00


Komulatif Stasiun Mowewe

Gambar 4.4. Grafik Double Mass Curve Stasiun Mowewe


( Sumber : Hasil Perhitungan)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

116

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

Dari grafik dapat dilihat semua stasiun memiliki plotting intensitas


yang lurus, maka data dapat dianggap data yang konsisten.

4.4.

Analisis Curah Hujan Rata-Rata Daerah Aliran Sungai


Dari Peta GIS kita mendapat koordinat atau lokasi dari stasiun hujan
yang akan kita tinjau sehingga didapat luas pengaruh stasiun hujan terhadap
luas DAS. Dalam melakukan analisis curah hujan digunakan tiga stasiun,
dimana ada dua stasiun hujan yang berpengaruh dalam perhitungan yaitu
Stasiun Lasusua, dan Stasiun Mowewe sedangkan Stasiun Abuki digunakan
sebagai titik bantu dalam membentuk poligon Thiessen. Melalui ketiga
stasiun tersebut lalu ditarik garis penghubung. Pada bagian tengah garis
penghubung ditarik garis sumbu tegak lurus sehingga terbentuk daerah
pengaruh masing-masing stasiun yang dibatasi oleh garis sumbu tersebut.
Berdasarkan hasil perhitungan dengan program Arc Gis luas pengaruh tiap
stasiun didapat dan dapat dilihat pada Tabel 4.4 dan Gambar 4.5.

Tabel 4.4. Luas Pengaruh Tiap Stasiun Terhadap DAS Tonggauna


NO

Stasiun Pengamatan

Luas Area (Km2)

Bobot (%)

St Lasusua

2,45

3,46%

St Abuki

0,00

0,00%

St Mowewe

68,34

96,54%

Luas Total

70,79

100%

(Sumber : Hasil Perhitungan)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

117

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

Gambar 4.5. Poligon Thiessen DAS Tonggauna


( Sumber : Google Earth ,2016)

4.4.1. Data Curah Hujan Maksimum


Data curah hujan yang digunakan dalam perhitungan adalah data
curah hujan harian yang didapat dari Balai Wilayah Sungai Sulawesi IV
Provinsi Sulawesi Tenggara.

4.4.2. Analisis Curah Hujan Dengan Metode Poligon Thiessen


Hasil perhitungan curah hujan dengan metode Poligon Thiessen dapat
dilihat pada Tabel 4.5.

Tabel 4.5. Perhitungan Curah Hujan Maksimum Metode Poligon Thiessen

No Tahun

2000

2001

2002

Tanggal

19-Jan
17-Jun
14-Apr
02-Feb
09-Des
06-Mei

Curah Hujan Harian


Maksimum (mm)
Stasiun
Stasiun
Lasusua
Mowewe
3.46%
96.54%
50
40
0
55
99
15
0
40
59
0
36
40

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

R (mm)

40.35
53.10
17.91
38.62
2.04
39.86

Rmax
(mm)

53.10
38.62
39.86

118

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

Lanjutan Tabel 4.5.


Curah Hujan Harian
Maksimum (mm)
Stasiun
Stasiun
No Tahun Tanggal
Lasusua
Mowewe
3.46%
96.54%
14-Okt
69
0
4
2003
10-Feb
3
45
23-Des
35
0
5
2004
04-Mei
12
50
02-Apr
72
0
6
2005
16-Nov
0
40
16-Jul
52
0
7
2006
25-Mei
24
45
18-Mar
95
0
8
2007
14-Jun
14
60
18-Apr
110
0
9
2008
22-Agu
1
64
20-Des
146
6
10 2009
23-Jun
0
60
24-Okt
91
0
11 2010
22-Des
0
45
11-Jan
127
10
12 2011
26-Mei
1
60
11-Jan
71
0
13 2012
31-Mei
42
63
11-Nov
89
0
14 2013
04-Jan
0
59
25-Apr
41
0
15 2014
15-Jul
10
60
(Sumber : Hasil Perhitungan)

4.5.

R (mm)

2.39
43.55
1.21
48.68
2.49
38.62
1.80
44.27
3.29
58.41
3.81
61.82
10.85
57.92
3.15
43.44
14.05
57.96
2.46
61.79
3.08
56.48
1.42
58.27

Rmax
(mm)

43.55
48.68
38.62
44.27
58.41
61.82
57.92
43.44
57.96
61.79
56.48
58.27

Analisis Frekuensi Curah Hujan Rencana


Untuk menentukan debit banjir rencana, perlu dilakukan perhitungan
kemungkinan terulangnya curah hujan harian maksimum.

4.5.1. Pengukuran Dispersi


Tidak semua nilai variabel hidrologi terletak pada nilai rata-ratanya.
Kemungkinan ada nilai yang lebih besar atau lebih kecil dari nilai rata-rata
yang disebut dispersi. Untuk mengetahui besar dispersi dapat melalui
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

119

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

perhitungan parameter statistik yang meliputi nilai rata-rata ( ), standar


deviasi (S), koefisien variasi (Cv), koefisien kemiringan (Cs), koefisien
kurtosis (Ck). Hasil perhitungan statistik dapat dilihat pada Tabel 4.6 dan
hasil perhitungan parameter statistik logaritma (logaritma natural) dapat
dilihat pada Tabel 4.7.

Tabel 4.6. Parameter Statistik Curah Hujan


No

Tahun

1
2
3
4
5

2000
2001
2002
2003
2004

Rmax Tahunan
(xi )
53.10
38.62
39.86
43.55
48.68

6
2005
7
2006
8
2007
9
2008
10
2009
11
2010
12
2011
13
2012
14
2013
15
2014
JUMLAH

38.62
44.27
58.41
61.82
57.92
43.44
57.96
61.79
56.48
58.27
762.78
50.85
(Sumber : Hasil Perhitungan)

2.24
-12.24
-10.99
-7.31
-2.17
-12.24
-6.58
7.56
10.97
7.07
-7.41
7.11
10.94
5.62
7.42
0.00

5.04
11.31
25.38
149.73 -1,832.16 22,419.12
120.79 -1,327.55 14,590.43
53.37 -389.92 2,848.62
4.70
-10.18
22.06
149.73
43.28
57.09
120.29
50.00
54.90
50.50
119.65
31.62
55.02
1,065.71

-1,832.16
-284.74
431.38
1,319.26
353.60
-406.78
358.82
1,308.78
177.82
408.10
-1,714.43

22,419.12
1,873.27
3,259.48
14,469.03
2,500.45
3,014.04
2,549.76
14,316.08
999.92
3,027.09
108,333.84

Pengukuran dispersi antara lain sebagai berikut :


1. Standar Deviasi (S)
=
n

1
1

=1

1.065,71
=
= 8,725
15 1

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

120

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

2. Koefisien Variasi (Cv)


=
=

8,725
= 0,172
50,85

3. Koefisien Skewness (Cs)


=
=

15

n
1)
1)

2)

=1

15
15 2)

1.714,43) =

8,725

0,213

4. Pengukuran Kurtosis (Ck)


=

15

1)

1)

2)

15

3)

=1

15
2) 15

3)

8,725

108.333,84 = 1,926

Tabel 4.7. Parameter Statistik Logaritma Natural Curah Hujan


No Tahun

Rmax
Tahunan (Xi )
53.10
38.62
39.86
43.55
48.68
38.62
44.27

1
2
3
4
5
6
7

2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006

8
9
10
11
12
13
14
15

2007
58.41
2008
61.82
2009
57.92
2010
43.44
2011
57.96
2012
61.79
2013
56.48
2014
58.27
JUMLAH

Ln xi
3.9721
3.6537
3.6854
3.7738
3.8854
3.6537
3.7904

0.0575
-0.2609
-0.2292
-0.1408
-0.0292
-0.2609
-0.1242

0.0033
0.0681
0.0525
0.0198
0.0009
0.0681
0.0154

0.0002
-0.0178
-0.0120
-0.0028
0.0000
-0.0178
-0.0019

0.0000
0.0046
0.0028
0.0004
0.0000
0.0046
0.0002

4.0675
4.1242
4.0591
3.7714
4.0597
4.1237
4.0338
4.0651
58.719
3.915

0.1529
0.2096
0.1445
-0.1432
0.1451
0.2091
0.1192
0.1505
0.000

0.0234
0.0439
0.0209
0.0205
0.0211
0.0437
0.0142
0.0226
0.438

0.0036
0.0092
0.0030
-0.0029
0.0031
0.0091
0.0017
0.0034
-0.02194

0.0005
0.0019
0.0004
0.0004
0.0004
0.0019
0.0002
0.0005
0.019

(Sumber : Hasil Perhitungan)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

121

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

Pengukuran dispersi logaritma antara lain sebagai berikut :


1. Standar Deviasi (S)
=
n

1
1

=1

0,438
=
= 0,177
15 1

2. Koefisien Variasi (Cv)

0,177
=
= 0,045
3,915
=

3. Koefisien Skewness (Cs)


=
=

15

1)
1)

2)

=1

15
15 2)

0,02194) =

0,177

0,326

4. Pengukuran Kurtosis (Ck)


=

15

1)

1)

2)

15

3)

=1

15
2) 15

3)

0,177

0,019 = 2,004

4.5.2. Pemilihanan Distibusi Curah Hujan


Dari parameter statistik dilakukan pemilihan jenis analisa frekuensi
yang akan digunakan dengan membandingkan persyaratan-persyaratan
dengan hasil perhitungan yang dapat dilihat pada Tabel 4.8.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

122

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

Tabel 4.8. Syarat Pemilihan Distribusi


No

Jenis
Distribusi

Cs ~ 0
Ck ~ 3
Cs ~ 1.1396
Gumbel
2
Tipe 1
Ck ~ 5.4002
Cs = Cv3 + 3Cv
Log
3
Ck = Cv8 + 6Cv6 +
Normal
15Cv4 + 16Cv2 + 3
Cs 0
Log
4
Pearson III
Ck = 1,5Cs2 + 3
(Sumber : Hasil Perhitungan)
1

= 0.136

Hasil
Perhitungan
Cs = -0.326
Ck =
2.004
Cs = -0.326
Ck =
2.004
Cs = -0.326

= 3.033

Ck =

2.004

3.160

Cs =
Ck =

-0.326
2.004

Syarat

Normal

Keterangan
Tidak
Memenuhi
Tidak
Memenuhi
Tidak
Memenuhi
Mendekati

Berdasarkan persyaratan yang ada, maka metode distribusi yang


dihitung adalah metode Log Pearson Tipe III.

4.5.3. Pengujian Kesesuaian Distribusi


Adapun metode yang digunakan untuk menguji keselarasan
distribusi secara analitis adalah dengan menggunakan metode Chi-Kuadrat
dan Smirnov Kolmogorov. Secara grafis dengan menggambarkan data
tersebut pada kertas probabilitas.

4.5.3.1.

Uji Kesesuaian Distribusi Dengan Metode Chi-Kuadrat


Perencanaan kecocokan sebaran digunakan metode Chi-Kuadrat
dengan langkah pengujian sebagai berikut :
1. Urutkan data hujan maksimum tahunan dari yang terkecil sampai yang
tebesar, tabel 4.9.

Tabel 4.9. Urutan Hujan Maksimum Tahunan


No
1
2
3
4

Tahun
2001
2005
2002
2010

Rmax Tahunan (xi)


38.62
38.62
39.86
43.44

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

123

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

Lanjutan Tabel 4.9


5
2003
6
2006
7
2004
8
2000
9
2013
10
2009
11
2011
12
2014
13
2007
14
2012
15
2008
Jumlah
JUMLAH DATA
(Sumber : Hasil Perhitungan)

43.55
44.27
48.68
53.10
56.48
57.92
57.96
58.27
58.41
61.79
61.82
762.78
50.85
15

2. Tentukan jumlah kelas, x, Ef, x awal dan x akhir, perhitungan dapat


dilihat pada Tabel 4.10.
Tabel 4.10. Perhitungan Jumlah Kelas, x, Ef, x awal, x akhir
Uraian

Rumus

Jumlah Kelas Nc = 1 + 1.33 ln (N)

Hasil

Keterangan

Perhitungan
4,60

X max

61,82

X min

38,62

5,801

Ef

N/Nc

3,00

X awal

X min - 0.5x

35,72

X akhir

X max + 0.5x

64,72

Diambil Nc = 5

n = jumlah data
Nc = jumlah
kelas

(Sumber : Hasil Perhitungan)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

124

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI


3. Hitung 2 hitung dengan Rumus 2.16, perhitungan dapat dilihat pada
Tabel 4.11.

Tabel 4.11. Perhitungan Uji Chi-Kuadrat


Probabilitas
35.72
41.52
47.32
53.12
58.92

X
X
X
X
X

41.52
47.32
53.12
58.92
64.72
Jumlah

Ef

Of

(Of - Ef)

((Of - Ef)2)/Ef)

3.0
3.0
3.0
3.0
3.0

3
3
2
5
2
15

0.0
0.0
-1.0
2.0
-1.0
0.0

0.000
0.000
0.333
1.333
0.333
2.00

(Sumber : Hasil Perhitungan)


4. Hitung 2 kritis/tabel dengan Rumus 2.17 Tabel 2.6.
DK = K - ( + 1) = 5 - (2 + 1) = 2
Untuk Dk = 2 dan derajat nyata tertentu = 5% di dapat 2 ktiris/tabel
= 5,991
Dk = derajad kebebasan
K = banyaknya kelas = Nc
= banyaknya parameter, untuk uji Chi Square adalah 2
5. Dari perhitungan di atas diperoleh nilai Chi-Square ( 2) hitung =
2,00. Batas kritis nilai Chi-Square untuk Dk = 2 dengan = 5% dari
tabel Chi-Square didapatkan nilai ( 2) kritis = 5,991. Nilai ( 2)
hitung = 2,00 < ( 2) kritis = 5,991, maka nilai 2 dapat diterima.
6. Urutkan data hujan maksimum tahunan nilai logaritma natural dari
yang terkecil sampai yang terbesar, Tabel 4.12.

Tabel 4.12. Urutan Hujan Maksimum Tahunan Nilai Logaritma


Natural
No
1
2

Tahun
2000
2001

Rmax Tahunan (xi)


38.616
38.616

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

Log Xi
1.587
1.587
125

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

Lanjutan Tabel 4.12


No
Tahun
3
2002
4
2003
5
2004
6
2005
7
2006
8
2007
9
2008
10
2009
11
2010
12
2011
13
2012
14
2013
15

Rmax Tahunan (xi)


39.862
43.443
43.546
44.273
48.685
53.096
56.475
57.923
57.958
58.270
58.408
61.791

2014
JUMLAH

61.820

Log Xi
1.601
1.638
1.639
1.646
1.687
1.725
1.752
1.763
1.763
1.765
1.766
1.791
1.791
25.501
1.700
15

log

JUMLAH DATA
(Sumber : Hasil Perhitungan)

7. Tentukan jumlah kelas, x, Ef, x awal dan x akhir, perhitungan dapat


dilihat pada Tabel 4.13.
Tabel 4.13. Perhitungan Jumlah Kelas, x, Ef, x awal, x akhir Nilai
Logaritma Natural
Uraian

Rumus

Jumlah Kelas

Nc = 1 + 1.33 ln (N)

Hasil

Keterangan

Perhitungan
4,60

Diambil Nc = 5

X max

1,79

X min

1,59

n = jumlah data

0,051

Nc = jumlah kelas

Ef

N/Nc

3,00

X awal

X min - 0.5x

1,56

X akhir

X max + 0.5x

1,82

(Sumber : Hasil Perhitungan)


Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

126

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI


8. Hitung 2 hitung, Tabel 4.14 dengan Rumus 2.16.

Tabel 4.14. Perhitungan Uji Chi-Kuadrat Nilai Logaritma Natural


Probabilitas
Ef
1.56 X
1.61
3.0
1.61 X
1.66
3.0
1.66 X
1.71
3.0
1.71 X
1.77
3.0
1.77 X
1.82
3.0
Jumlah
(Sumber : Hasil Perhitungan)

Of
3
3
1
6
2
15

(Of - Ef)
0.0
0.0
-2.0
3.0
-1.0
0.0

((Of - Ef)2)/Ef)
0.000
0.000
1.333
3.000
0.333
4.667

9. Hitung 2 ktiris/tabel dengan Rumus 2.17 dan Tabel 2.6.


DK = K - ( + 1) = 5 - (2 + 1) = 2
Untuk DK = 2 dan derajat nyata tertentu = 5% di dapat 2 ktitis/tabel
= 5,991.
DK = derajad kebebasan
K = banyaknya kelas = Nc
= banyaknya parameter, untuk uji Chi Square adalah 2
10. Dari perhitungan di atas diperoleh nilai Chi-Square ( 2) hitung =
4,667. Batas kritis nilai Chi-Square untuk Dk = 2 dengan = 5% dari
tabel Chi-Square didapatkan nilai ( 2) kritis = 5,991. Nilai ( 2)
hitung = 4,667 < ( 2) kritis = 5,991 maka distribusi Logaritma
Pearson III dapat diterima.

4.5.3.2.

Uji Kesesuaian Distribusi Dengan Metode Smirnov Kolmogorov


Uji kesesuaian distribusi Smirnov Kolmogorov juga disebut uji
kecocokan non parametrik karena pengujiannya tidak menggunakan
fungsi distribusi tertentu, namun dengan memperhatikan kurva dan
penggambaran data pada kertas probabilitas.
Penggambaran pada kertas probabilitas dilakukan berdasar data
kedalaman hujan dan probabilitas. Untuk distribusi Log Pearson Tipe III,

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

127

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

data yang digunakan adalah Tabel 4.15. Hasil penggambaran pada kertas
probabilitas terlampir.

Tabel 4.15.

Data Hujan dan Probabilitas untuk Distribusi Log Pearson


Tipe III

No
urut

Rmax
Tahunan (Xi)

y = ln p

mm

mn

(%)

(tahun)

38.62

3.65

6.25%

16.00

38.62

3.65

12.50%

8.00

39.86

3.69

18.75%

5.33

43.44

3.77

25.00%

4.00

43.55

3.77

31.25%

3.20

44.27

3.79

37.50%

2.67

48.68

3.89

43.75%

2.29

53.10

3.97

50.00%

2.00

56.48

4.03

56.25%

1.78

10

57.92

4.06

62.50%

1.60

11

57.96

4.06

68.75%

1.45

12

58.27

4.07

75.00%

1.33

13

58.41

4.07

81.25%

1.23

14

61.79

4.12

87.50%

1.14

15

61.82

4.12

93.75%

1.07

(Sumber : Hasil Perhitungan)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

128

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

Selanjutnya di atas sebaran titik-titik data ditarik garis teoritisnya.


Penggambaran garis teoritisnya mengacu pada persyaratan atau
persamaan garis teoritis masing-masing distribusi sebagai berikut :
1. Distribusi Log Pearson Tipe III
Pembuatan garis teoritis berdasarkan nilai curah hujan
logaritmik dengan periode ulang tertentu. Perhitungan dilakukan
dengan menggunakan Rumus 2.14.
yT = +
Dari data perhitungan dispersi untuk data curah hujan logaritmik di
dapat :
ln

= 3,915

Sy

= 0,177

Csy

= -0,326

Hasil perhitungan dapat dilihat pada Tabel 4.16. Sedangkan hasil


plotting data ke dalam kertas probabilitas terlampir.

Tabel 4.16. Perhitungan Persamaan Garis Lurus Distribusi Log


Person Tipe III
T
P
(Tahun)
2
50%
5
20%
10
10%
25
4%
50
2%
100
1%
(Sumber : Hasil Perhitungan)

Dari

gambar

pada

KT

YT

XT (mm)

0.054
0.854
1.241
1.633
1.875
2.084

3.924
4.066
4.134
4.204
4.246
4.283

50.612
58.303
62.444
66.930
69.858
72.491

kertas

probabilitas

dicari

jarak

penyimpangan setiap titik data terhadap kurva teoritis. Jarak


penyimpangan terbesar merupakan nilai maks. Nilai maks harus
lebih kecil dari kritik seperti diberikan dalam Tabel 2.7. Distribusi
terbaik adalah yang memberikan nilai maks terkecil. Dari hasil
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

129

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI


plotting data diperoleh maks = 0,205 < kritik = 0,340, sehingga
hasilnya memenuhi syarat.

4.5.4. Perhitungan Distribusi Curah Hujan Metode Log Pearson Type III
Perhitungan distribusi curah hujan rencana metode Log Pearson
Type III menggunakan rumus 2.15 sebagai berikut : X T = arc ln yT atau XT
= arc log yT
Rumus 2.14 : yT = y + K T Sy
Contoh Perhitungan :
Untuk curah hujan periode ulang (T) 2 tahun :
= ln

= 3,915 (lihat perhitungan parameter stastistik logaritmik pada

pengukuran dispersi)
KT = Faktor Frekuensi untuk distribusi Log Pearson Tipe III (Tabel 2.3),
dengan interpolasi di dapat KT = 0,054
Sy = 0,177 (lihat perhitungan parameter stastistik logaritmik pada
pengukuran dispersi)
yT = y + K T Sy = 3,915 + (0,054 x 0,177) = 3,924
XT = arc ln (3,924) = 50,612 mm
Hasil perhitungan dapat dilihat pada Tabel 4.17.

Tabel 4.17. Hasil Perhitungan Curah Hujan Rencana dengan Metode Log
Pearson Tipe III (variat ln)
T

Sy

2
50% 0.177 3.915
5
20% 0.177 3.915
10
10% 0.177 3.915
25
4% 0.177 3.915
50
2% 0.177 3.915
100
1% 0.177 3.915
(Sumber : Hasil Perhitungan)

Cs

KT

YT

XT (mm)

-0.326
-0.326
-0.326
-0.326
-0.326
-0.326

0.054
0.854
1.241
1.633
1.875
2.084

3.924
4.066
4.134
4.204
4.246
4.283

50.612
58.303
62.444
66.930
69.858
72.491

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

130

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

4.5.5. Analisis Intensitas Curah Hujan


Dari uji kesesuaian distribusi, hasil distribusi yang paling mendekati
adalah distribusi Log Pearson Tipe III, maka hasil hujan rencana Distribusi
Log Pearson Tipe III (Tabel 4.17) dihitung dengan persamaan menurut DR.
Mononobe untuk mencari intensitas hujan rencana. Persamaan yang
digunakan adalah sebagai berikut :
I=

R 24
[ ]
24 t
Pada periode ulang 2 tahunan dengan R24 = 50,612 (Tabel 4.17)

untuk jam ke-1 dapat dihitung dengan persamaan DR. Mononobe sebagai
berikut :
I=

R 24
50,612 24
[ ] =
[ ] = 17,546 mm/jam
24 t
24
1
Selanjutnya hasil perhitungan intensitas curah hujan disajikan dalam

bentuk tabel pada pada Tabel 4.18 dan digambarkan pada Gambar 4.6.

Tabel 4.18 Perhitungan Intensitas Curah Hujan

t (jam)

2 tahun

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

50.612
17.546
11.053
8.435
6.963
6.001
5.314
4.795
4.387
4.055
3.780
3.548
3.348
3.174
3.021

5
tahun
58.303
20.212
12.733
9.717
8.021
6.913
6.121
5.524
5.053
4.672
4.355
4.087
3.856
3.656
3.480

R24 (mm/hari)
10
25
tahun tahun
62.444 66.930
21.648 23.203
13.638 14.617
10.407 11.155
8.591
9.208
7.404
7.935
6.556
7.027
5.916
6.341
5.412
5.801
5.003
5.363
4.664
4.999
4.377
4.691
4.130
4.427
3.916
4.197
3.727
3.995

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

50
tahun
69.858
24.219
15.257
11.643
9.611
8.283
7.335
6.618
6.055
5.597
5.218
4.897
4.621
4.380
4.169

100
tahun
72.491
25.131
15.832
12.082
9.973
8.595
7.611
6.868
6.283
5.808
5.414
5.081
4.795
4.546
4.326
131

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

Lanjutan Tabel 4.18


5
t (jam)
2 tahun
tahun
50.612
58.303
15
2.885
3.323
16
2.763
3.183
17
2.654
3.057
18
2.555
2.943
19
2.464
2.839
20
2.381
2.743
21
2.305
2.655
22
2.235
2.574
23
2.170
2.499
24
2.109
2.429
(Sumber : Hasil Perhitungan)

R24 (mm/hari)
10
25
tahun tahun
62.444 66.930
3.559
3.815
3.409
3.654
3.274
3.510
3.152
3.378
3.040
3.259
2.938
3.149
2.844
3.048
2.757
2.955
2.677
2.869
2.602
2.789

50
tahun
69.858
3.982
3.814
3.663
3.526
3.401
3.287
3.182
3.085
2.995
2.911

100
tahun
72.491
4.132
3.958
3.801
3.659
3.529
3.411
3.302
3.201
3.107
3.020

Gambar 4.6 Kurva Intensitas-Durasi-Frekuensi (IDF) dengan metode Mononobe

( Sumber : Hasil Perhitungan)

4.5.6. Analisis Debit Banjir Rencana


Perhitungan debit banjir rencana akan dilakukan menggunakan
beberapa metode sebagai berikut :
1. Metode Rasional
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

132

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

2. Metode Haspers
3. Metode Hidrograf Satuan Sintetik (HSS) Gama I
4. Metode Passing Capacity
4.5.6.1. Metode Rasional
Perhitungan metode rasional menggunakan data sebagai berikut :
Rumus yang digunakan :
Q = 0,278. C. I. A
I=

R 24
[ ]
24 t

Dimana :
C : Koefisien aliran yang tergantung pada jenis permukaan lahan
(Tabel 2.8)
I

: Intensitas hujan (mm/jam)

A : Luas daerah tangkapan (km2)


Dari Peta RBI dapat disimpulkan tipe daerah aliran adalah daerah
pegunungan berlereng terjal diambil nilai C = 0,50
Data hujan maksimum (Rmax (mm)) dari hasil analisis distribusi curah
hujan (Tabel 4.17).
Periode Ulang

Rmax (mm)

50,612

58,303

10

62,444

25

66,930

50

69,858

100
72,491
Luas daerah tangkapan menggunakan luas DAS Tonggauna yaitu
70,79 km2.
Durasi hujan (t) yang digunakan untuk menghitung Intensitas hujan (I)
menggunakan metode Jepang (Cara Menghitung Design Flood PU,
1980) :

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

133

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

t=

L
V

Di mana :
t

: Waktu konsentrasi (jam)

: Panjang sungai = 10,45 km

V : Kecepatan perambatan banjir (km/jam)


Dan untuk menghitung V dipakai Rumus Dr. Rziha sebagai berikut :
H 0,6

V = 72 ( L )
Di mana :
V

: Kecepatan perambatan banjir (km/jam)

: Beda tinggi antara titik terjauh dan mulut daerah pengaliran (km)
= 0,76 km

: Panjang sungai (km) = 10,45 km

Contoh perhitungan :
H 0,6
0,76 0,6
) = 14,94 km/jam
V = 72 ( ) = 72 (
L
10,45
t=

L 10,45
=
= 0,699 jam
V 14,94

I=

R 24
50,612 24
[ ] =
[
] = 22,532 mm/jam
24 t
24 0,699

Q = 0,278. C. I. A
= 0,278 x 0,50 x 22,532 x 70,79
= 221,71 m/det
Selanjutnya hasil perhitungan disajikan dalam bentuk tabel pada
Tabel 4.19.

Tabel 4.19. Perhitungan Debit Banjir Dengan Metode Rasional


Periode
Ulang
2
5
10

R24
mm
50,612
58,303
62,444

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

I
(mm/jam)
22,532
25,955
27,799

Q
(m3/d)
221,707
255,395
273,538
134

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

Lanjutan Tabel 4.18


R24
Periode
Ulang
Mm
25
66,930
50
69,858
100
72,491
Sumber : Hasil Perhitungan

4.5.6.2.

I
(mm/jam)
29,796
31,100
32,272

Q
(m3/d)
293,186
306,015
317,546

Metode Haspers
Perhitungan metode Haspers menggunakan data sebagai berikut:
Rumus yang digunakan :
Q t = . . q n . f
1 + 0.012. f 0.7
=
1 + 0.075. f 0.7
1
t + 3.7 100,
=1+

t + 15
qn =

f /
12

Rt
3,6 t

t = 0,1 . L0.8 i0.


Dimana :
f

= Luas DAS = 70,79 km2

= Panjang sungai = 10,45 km

Elevasi hulu

= 1155 mdpl

Elevasi bendung

= 395 mdpl

Perhitungan :
Koefisien Runoff ()
=

1 + 0.012. 0.7 1 + 0,012 70,790.7


=
= 0,499
1 + 0.075. 0.7 1 + 0,075 70,790.7

Waktu Konsentrasi (t)


0.8 0.

= 0,1 .

0.8 (

= 0,1 10,45

1.155 395 0.
)
10,45

= 1,435 jam

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

135

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI


Koefisien Reduksi ()
1
t + 3,7 100,
= 1+

t + 15
=1+

f /
12

1,291 + 3,7 100,


1,435 + 15

1,

5)

70,79
12

= 1,289
1
= 1,289 = 0,776

Hujan maksimum (qn)


qn =

Rt
3,6 t

Intensitas hujan
Untuk t 2 jam
=

+1

.
0,0008 260

) 2

Tabel 4.20 Perhitungan Debit Banjir Dengan Metode Haspers


Periode
R24
Rt
qn
Tahun
(mm)
(mm/hari) (m3/det/km2)
50,612
30,495
5,904
2
5
58,303
35,100
6,796
10
62,444
37,577
7,275
25
66,930
40,256
7,794
50
69,858
42,005
8,132
100
72,491
43,575
8,436
(Sumber : Hasil Perhitungan)

4.5.6.3.

Q
(m3/s)
161,769
186,197
199,335
213,550
222,825
231,156

Metode Hidrograf Satuan Sintetik (HSS) Gama I


Metode Hidrograf Satuan Sintetik (HSS) Gama I banyak
digunakan untuk mengetahui hidrograf banjir di Indonesia. Metode ini
memang dapat dikondisikan terhadap kondisi topografi sungai-sungai di
Indonesia bila dibandingkan cara-cara lain. Untuk perhitungan metode
HSS Gama I dibutuhkan data jumlah orde sungai dan jumlah pertemuan
anak sungai, yang dapat dilihat dari Gambar 4.7.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

136

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

Berdasarkan kondisi di lapangan Data dan Perhitungan Parameter


adalah sebagai berikut :
1.

Luas DAS

= 70,790 km2

2.

Panjang Sungai Utama

= 10,450 km

3.

Panjang Sungai Tingkat 1

L1

= 17,306 km

4.

Panjang Sungai Semua Tingkat

Lst

= 37,910 km

5.

Pangsa Sungai Tingkat 1

N1

= 17 buah

6.

Pangsa Sungai Semua Tingkat

= 33 buah

7.

Lebar DAS pada 0,25 L

WL

= 5,690 km

8.

Lebar DAS pada 0,75 L

WU

= 8,850 km

9.

Luas DAS Atas

AU

= 46,647 km2

10. Kemiringan Sungai rata-rata

= 0,0727

11. Faktor Sumber

SF

= =

12. Frekuensi Sumber

SN

13. Faktor Lebar

WF

14. Luas Relatif DAS Sebelah Hulu

RUA =

=
=
=

17, 06
7,910
17

= 0,456

= 0,515

8,850
5,690

= 1,555

6,6 7
70,790

= 0,659

15. Faktor Simetri SIM = WF x RUA = 1,555 x 0,659 = 1,025


16. Jumlah Pertemuan Sungai

JN

= 16

17. Kerapatan Jaringan Kuras

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

7,910
70,790

= 0,536

137

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

Gambar 4.7 Orde Sungai Mokoseo dan Sungai Labeta


( Sumber : Arc Gis Versi 10.1 )

Perhitungan :
1.

Waktu mencapai puncak (TR)


= 0,43 (

) + 1,0665 + 1,2775 jam)


100

= 0,43 (

10,450
) + 1,0665 1,025 + 1,2775 jam)
100 0,456

= 2,376 jam)
2. Debit puncak (Qp)
= 0,18360,5886 0,

008

0,

81

= 0,1836 70,790)0,5886 2,376)0,

m /det)
008

16)0,

81

m /det)

= 3,082 m /det
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

138

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

3.

Waktu dasar (TB)


= 27,4132 0,1

57 0,0986

= 27,4132 2,376)0,1
0,659)0,

57

57

0,7

0,

57

jam)

0,073)0,0986 0,515)0,7

jam)

= 22,047 jam)
4.

Koefisien tampungan (K)


= 0,56170,1789 0,1

1,0897 0,0

= 0,5617 70,790)0,1789 0,073)0,1


0,536)0,0

0,456)1,0897

= 4,018
5.

Faktor indeks ()

= 10,4903

3,859 106 + 1,6985 101 (

= 10,4903

3,859 106 70,790) + 1,6985 101

70,790)
)
0,515

= 10,471 mm/jam
6. Aliran dasar (QB)
= 0,47150,6

0,9

= 0,4715 70,790)0,6

/det)
0,536)0,9

/det)

= 4,073 /det
7. Unit Hidrograf Satuan Sintetik Gama I
Kurva hidrograf merupakan garis lurus sampai pada debit
puncak (Qp) sedangkan untuk debit yang terjadi pada jam ke-t dan
setelahnya (setelah TR pada sumbu horizontal), maka ditentukan
dengan persamaan berikut :
= .

m /detik)

Dimana :
TR = jam puncak = 2,376 jam (hasil perhitungan)
t

= t TR
= 3 2,376

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

139

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

= 0,624
K

= koefisien tampungan = 4,018 (hasil perhitungan)

-t/K

= -0,624/4,018 = -0,155

Qp

= 3,082 m3/det (hasil perhitungan)

= 3,082. 2,71820,155 = 2,639 m /detik


Selanjutnya perhitungan disajikan pada Tabel 4.21 Tabel 4.23.
Untuk 0 < t < TR = 2,376 jam, kurva hidrograf merupakan
garis lurus atau linier

Tabel 4.21 Perhitungan Debit Rencana (Qt) untuk 0 < t < TR


t (jam)

Qt (m3/det)

1,297

2,595

2,376

3,082

(Sumber : Hasil Perhitungan)


Untuk t > TR kurva hidrograf mengikuti persamaan =
.

m /detik)

Tabel 4.22 Perhitungan Debit Rencana (Qt) untuk t>TR


t (jam)
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

t' = t - TR
0,624
1,624
2,624
3,624
4,624
5,624
6,624
7,624
8,624
9,624
10,624

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

-t'/K
-0,155
-0,404
-0,653
-0,902
-1,151
-1,400
-1,649
-1,898
-2,147
-2,396
-2,644

Qt (m3/det)
2,639
2,057
1,604
1,250
0,975
0,760
0,593
0,462
0,360
0,281
0,219

140

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

Lanjutan Tabel 4.22


t (jam)
t' = t - TR
11,624
14
15
12,624
16
13,624
17
14,624
18
15,624
19
16,624
20
17,624
21
18,624
22
19,624
23
20,624
24
21,624
25
22,624
26
23,624
27
24,624
28
25,624
29
26,624
30
27,624
(Sumber : Hasil Perhitungan)

-t'/K
-2,893
-3,142
-3,391
-3,640
-3,889
-4,138
-4,387
-4,636
-4,885
-5,134
-5,382
-5,631
-5,880
-6,129
-6,378
-6,627
-6,876

Qt (m3/det)
0,171
0,133
0,104
0,081
0,063
0,049
0,038
0,030
0,023
0,018
0,014
0,011
0,009
0,007
0,005
0,004
0,003

Dari Tabel 4.21 dan 4.22 hasil perhitungan debit rencana (Qt)
metode HSS Gama I disimpulkan pada Tabel 4.23.

Tabel 4.23 Debit Rencana (Qt) Metode HSS Gama I


t (jam)
0
1
2
2,376
3
4
5
6
7
8
9
10
11
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

Qt (m3/det)
0,000
1,297
2,595
3,082
2,639
2,057
1,604
1,250
0,975
0,760
0,593
0,462
0,360
141

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

Qt (m3/det)
0,281
0,219
0,171
0,133
0,104
0,081
0,063
0,049
0,038
0,030
0,023
0,018
0,014
0,011
0,009
0,007
0,005
0,004
0,003

Q (m3/det)

Lanjutan Tabel 4.23


t (jam)
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
(Sumber : Hasil Perhitungan)

t (jam)
Gambar 4.8 Hidrograf Satuan Sintetik (HSS) Gama I
( Sumber : Hasil Perhitungan )
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

142

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

8.

Curah hujan efektif


Reff = I
Di mana :
I

= Intensitas curah hujan (Tabel 4.18)

= Faktor Index ( = 10,471 mm/jam)

Reff = 17,546 10,471 = 7,075 mm/jam


Selanjutnya perhitungan curah hujan efektif disajikan pada
Tabel 4.24.

waktu

Tabel 4.24 Perhitungan Curah Hujan Efektif


R5

50.612

58.303

Reff

(mm/jam)

jam

Intensitas Curah Hujan (mm/jam)


R10
R25

R2
I

Reff

(mm/jam)

62.444
I

66.930

Reff

(mm/jam)

Reff

(mm/jam)

R50

R100

69.858

72.491

Reff

(mm/jam)

(1)
17,546

(1)-0
7,075

(2)
20,212

(2)-0
9,741

(3)
21,648

(3)-0
11,177

(4)
23,203

(4)-0
12,732

(5)
24,219

11,053

0,582

12,733

2,262

13,638

3,167

14,617

4,146

15,257

2,376

8,435

0,000

9,717

0,000

10,407

0,000

11,155

0,684

6,963

0,000

8,021

0,000

8,591

0,000

9,208

6,001

0,000

6,913

0,000

7,404

0,000

5,314

0,000

6,121

0,000

6,556

4,795

0,000

5,524

0,000

4,387

0,000

5,053

4,055

0,000

3,780

10
11

Reff

(mm/jam)

13,748

(6)
25,131

14,660

4,786

15,832

5,361

11,643

1,172

12,082

1,611

0,000

9,611

0,000

9,973

0,000

7,935

0,000

8,283

0,000

8,595

0,000

0,000

7,027

0,000

7,335

0,000

7,611

0,000

5,916

0,000

6,341

0,000

6,618

6,868

0,000

0,000

5,412

0,000

5,801

0,000

6,055

0,000
0,000

6,283

4,672

0,000

5,003

0,000

5,363

0,000

5,597

0,000

5,808

0,000
0,000

0,000

4,355

0,000

4,664

0,000

4,999

0,000

5,218

0,000

5,414

0,000

3,548

0,000

4,087

0,000

4,377

0,000

4,691

0,000

4,897

0,000

5,081

0,000

3,348

0,000

3,856

0,000

4,130

0,000

4,427

0,000

4,621

0,000

4,795

0,000

12

3,174

0,000

3,656

0,000

3,916

0,000

4,197

0,000

4,380

0,000

4,546

0,000

13

3,021

0,000

3,480

0,000

3,727

0,000

3,995

0,000

4,169

0,000

4,326

0,000

14

2,885

0,000

3,323

0,000

3,559

0,000

3,815

0,000

3,982

0,000

4,132

0,000

15

2,763

0,000

3,183

0,000

3,409

0,000

3,654

0,000

3,814

0,000

3,958

0,000

16

2,654

0,000

3,057

0,000

3,274

0,000

3,510

0,000

3,663

0,000

3,801

0,000

17

2,555

0,000

2,943

0,000

3,152

0,000

3,378

0,000

3,526

0,000

3,659

0,000

18

2,464

0,000

2,839

0,000

3,040

0,000

3,259

0,000

3,401

0,000

3,529

0,000

19

2,381

0,000

2,743

0,000

2,938

0,000

3,149

0,000

3,287

0,000

3,411

0,000

20

2,305

0,000

2,655

0,000

2,844

0,000

3,048

0,000

3,182

0,000

3,302

0,000

21

2,235

0,000

2,574

0,000

2,757

0,000

2,955

0,000

3,085

0,000

3,201

0,000

22

2,170

0,000

2,499

0,000

2,677

0,000

2,869

0,000

2,995

0,000

3,107

0,000

23

2,109

0,000

2,429

0,000

2,602

0,000

2,789

0,000

2,911

0,000

3,020

0,000

24

0,000

0,000

0,000

0,000

0,000

0,000

0,000

0,000

0,000

0,000

0,000

0,000

1
2

(5)-0

(Sumber : Hasil Perhitungan)


Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

143

(6)-0

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

9.

Debit banjir maksimum


= ) + )
Di mana :
QB

= Aliran dasar (QB = 4,073 /det)

Qt

= Debit rencana (Tabel 4.23)

Reff

= Curah hujan efektif (Tabel 4.24)

Q t Reff )

= Jumlah dari nilai (Qt x Reff) = (1,297 x 7,075) =

9,179 m3/det
QP

= 4,073+ 9,179 = 13,252 m3/det

Selanjutnya perhitungan debit banjir maksimum disajikan pada Tabel


4.25 Tabel 4.30.

Tabel 4.25 Hidrograf Banjir Periode Ulang 2 Tahun

Jam
0
1
2
2,376
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

PERIODE ULANG 2 TAHUN


Qt
Qt x Reff
QB
3
m /det
7,075
0,582
m3/det
0,000
4,073
1,297
9,179
4,073
2,595
18,358
1,511
4,073
3,082
21,807
1,795
4,073
2,639
18,668
1,537
4,073
2,057
14,555
1,198
4,073
1,604
11,348
0,934
4,073
1,250
8,847
0,728
4,073
0,975
6,898
0,568
4,073
0,760
5,378
0,443
4,073
0,593
4,193
0,345
4,073
0,462
3,269
0,269
4,073
0,360
2,549
0,210
4,073
0,281
1,987
0,164
4,073
0,219
1,549
0,128
4,073
0,171
1,208
0,099
4,073
0,133
0,942
0,078
4,073
0,104
0,734
0,060
4,073
0,081
0,572
0,047
4,073
0,063
0,446
0,037
4,073
0,049
0,348
0,029
4,073
0,038
0,271
0,022
4,073

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

QP
m3/det
4,073
13,252
23,942
27,675
24,278
19,826
16,355
13,648
11,538
9,893
8,611
7,611
6,831
6,223
5,750
5,380
5,092
4,867
4,692
4,556
4,449
4,366

144

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

Lanjutan Tabel 4.25


PERIODE ULANG 2 TAHUN
Qt
Qt x Reff
QB
Jam
m3/det
7,075
0,582
m3/det
21
0,030
0,212
0,017
4,073
22
0,023
0,165
0,014
4,073
23
0,018
0,129
0,011
4,073
24
0,014
0,100
0,008
4,073
(Sumber : Hasil Perhitungan)

QP
m3/det
4,302
4,251
4,212
4,181

Tabel 4.26 Hidrograf Banjir Periode Ulang 5 Tahun


PERIODE ULANG 5 TAHUN
Qt
Qt x Reff
QB
Jam
3
m /det
9,741
2,262
m3/det
0,000
4,073
0
1
1,297
12,638
4,073
2
2,595
25,276
5,869
4,073
2,376
3,082
30,024
6,972
4,073
3
2,639
25,703
5,968
4,073
4
2,057
20,039
4,653
4,073
5
1,604
15,624
3,628
4,073
6
1,250
12,181
2,829
4,073
7
0,975
9,497
2,205
4,073
8
0,760
7,404
1,719
4,073
9
0,593
5,773
1,340
4,073
10
0,462
4,501
1,045
4,073
11
0,360
3,509
0,815
4,073
12
0,281
2,736
0,635
4,073
13
0,219
2,133
0,495
4,073
14
0,171
1,663
0,386
4,073
15
0,133
1,297
0,301
4,073
16
0,104
1,011
0,235
4,073
17
0,081
0,788
0,183
4,073
18
0,063
0,614
0,143
4,073
19
0,049
0,479
0,111
4,073
20
0,038
0,374
0,087
4,073
21
0,030
0,291
0,068
4,073
22
0,023
0,227
0,053
4,073
23
0,018
0,177
0,041
4,073
24
0,014
0,138
0,032
4,073
(Sumber : Hasil Perhitungan)
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

QP
m3/det
4,073
16,711
35,218
41,069
35,744
28,766
23,325
19,082
15,775
13,197
11,186
9,619
8,397
7,444
6,701
6,122
5,670
5,318
5,044
4,830
4,663
4,533
4,432
4,353
4,291
4,243

145

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

Tabel 4.27 Hidrograf Banjir Periode Ulang 10 Tahun


PERIODE ULANG 10 TAHUN
Qt
Qt x Reff
QB
Jam
3
m /det
11,177
3,167
m3/det
0,000
4,073
0
1
1,297
14,501
4,073
2
2,595
29,001
8,216
4,073
2,376
3,082
34,450
9,760
4,073
3
2,639
29,492
8,355
4,073
4
2,057
22,993
6,514
4,073
5
1,604
17,927
5,079
4,073
6
1,250
13,977
3,960
4,073
7
0,975
10,897
3,087
4,073
8
0,760
8,496
2,407
4,073
9
0,593
6,624
1,877
4,073
10
0,462
5,164
1,463
4,073
11
0,360
4,026
1,141
4,073
12
0,281
3,139
0,889
4,073
13
0,219
2,447
0,693
4,073
14
0,171
1,908
0,541
4,073
15
0,133
1,488
0,421
4,073
16
0,104
1,160
0,329
4,073
17
0,081
0,904
0,256
4,073
18
0,063
0,705
0,200
4,073
19
0,049
0,550
0,156
4,073
20
0,038
0,429
0,121
4,073
21
0,030
0,334
0,095
4,073
22
0,023
0,261
0,074
4,073
23
0,018
0,203
0,058
4,073
24
0,014
0,158
0,045
4,073
(Sumber : Hasil Perhitungan)

QP
m3/det
4,073
18,573
41,290
48,282
41,920
33,580
27,078
22,009
18,057
14,975
12,573
10,700
9,240
8,101
7,214
6,521
5,982
5,561
5,233
4,978
4,778
4,623
4,502
4,407
4,333
4,276

Tabel 4.28 Hidrograf Banjir Periode Ulang 25 Tahun

Jam
0
1
2

PERIODE ULANG 25 TAHUN


Qt
Qt x Reff
QB
3
m /det 12,732 4,146 0,684 m3/det
0,000
4,073
1,297 16,518
4,073
2,595 33,036 10,758
4,073

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

QP
m3/det
4,073
20,591
47,866

146

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

Lanjutan Tabel 4.28


PERIODE ULANG 25 TAHUN
Qt
Qt x Reff
QB
Jam
m3/det 12,732 4,146 0,684 m3/det
3,082 39,242 12,779 2,108 4,073
2,376
3
2,639 33,594 10,940 1,805 4,073
4
2,057 26,192 8,529 1,407 4,073
5
1,604 20,421 6,650 1,097 4,073
6
1,250 15,921 5,184 0,855 4,073
7
0,975 12,413 4,042 0,667 4,073
8
0,760
9,678 3,151 0,520 4,073
9
0,593
7,545 2,457 0,405 4,073
10
0,462
5,883 1,916 0,316 4,073
11
0,360
4,586 1,494 0,246 4,073
12
0,281
3,576 1,164 0,192 4,073
13
0,219
2,788 0,908 0,150 4,073
14
0,171
2,174 0,708 0,117 4,073
15
0,133
1,695 0,552 0,091 4,073
16
0,104
1,321 0,430 0,071 4,073
17
0,081
1,030 0,335 0,055 4,073
18
0,063
0,803 0,262 0,043 4,073
19
0,049
0,626 0,204 0,034 4,073
20
0,038
0,488 0,159 0,026 4,073
21
0,030
0,381 0,124 0,020 4,073
22
0,023
0,297 0,097 0,016 4,073
23
0,018
0,231 0,075 0,012 4,073
24
0,014
0,180 0,059 0,010 4,073
(Sumber : Hasil Perhitungan)

QP
m3/det
58,201
50,411
40,201
32,240
26,033
21,194
17,422
14,480
12,187
10,399
9,005
7,918
7,071
6,410
5,895
5,494
5,181
4,936
4,746
4,598
4,482
4,392
4,322

Tabel 4.29 Hidrograf Banjir Periode Ulang 50 Tahun

Jam
0
1
2
2,3757
3
4
5

PERIODE ULANG 50 TAHUN


Qt
Qt x Reff
QB
3
m /det 13,748 4,786 1,172 m3/det
0,000
4,073
1,297 17,835
4,073
2,595 35,670 12,417
4,073
3,082 42,371 14,750 3,612 4,073
2,639 36,273 12,627 3,092 4,073
2,057 28,281 9,845 2,411 4,073
1,604 22,049 7,676 1,880 4,073

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

QP
m3/det
4,073
21,908
52,161
64,807
56,066
44,609
35,677
147

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

Lanjutan Tabel 4.29


PERIODE ULANG 50 TAHUN
Qt
Qt x Reff
QB
Jam
m3/det 13,748 4,786 1,172 m3/det
1,250 17,191 5,984 1,466 4,073
6
7
0,975 13,403 4,666 1,143 4,073
8
0,760 10,449 3,638 0,891 4,073
9
0,593
8,147 2,836 0,695 4,073
10
0,462
6,352 2,211 0,542 4,073
11
0,360
4,952 1,724 0,422 4,073
12
0,281
3,861 1,344 0,329 4,073
13
0,219
3,010 1,048 0,257 4,073
14
0,171
2,347 0,817 0,200 4,073
15
0,133
1,830 0,637 0,156 4,073
16
0,104
1,427 0,497 0,122 4,073
17
0,081
1,112 0,387 0,095 4,073
18
0,063
0,867 0,302 0,074 4,073
19
0,049
0,676 0,235 0,058 4,073
20
0,038
0,527 0,183 0,045 4,073
21
0,030
0,411 0,143 0,035 4,073
22
0,023
0,320 0,112 0,027 4,073
23
0,018
0,250 0,087 0,021 4,073
24
0,014
0,195 0,068 0,017 4,073
(Sumber : Hasil Perhitungan)

QP
m3/det
28,713
23,284
19,051
15,750
13,177
11,171
9,607
8,388
7,437
6,696
6,118
5,667
5,316
5,042
4,828
4,662
4,532
4,431
4,352

Tabel 4.30 Hidrograf Banjir Periode Ulang 100 Tahun

Jam
0
1
2
2,3757
3
4
5
6
7
8
9

PERIODE ULANG 100 TAHUN


Qt
Qt x Reff
QB
3
m /det 14,660 5,361 1,611 m3/det
0,000
4,073
1,297 19,019
4,073
2,595 38,038 13,909
4,073
3,082 45,184 16,522 4,965 4,073
2,639 38,681 14,144 4,250 4,073
2,057 30,158 11,027 3,314 4,073
1,604 23,513 8,598 2,583 4,073
1,250 18,332 6,703 2,014 4,073
0,975 14,292 5,226 1,570 4,073
0,760 11,143 4,075 1,224 4,073
0,593
8,688 3,177 0,955 4,073

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

QP
m3/det
4,073
23,092
56,020
70,743
61,148
48,572
38,766
31,122
25,162
20,515
16,892
148

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

Lanjutan Tabel 4.30


PERIODE ULANG 100 TAHUN
Qt
Qt x Reff
QB
Jam
m3/det 14,660 5,361 1,611 m3/det
0,462
6,773 2,477 0,744 4,073
10
11
0,360
5,281 1,931 0,580 4,073
12
0,281
4,117 1,506 0,452 4,073
13
0,219
3,210 1,174 0,353 4,073
14
0,171
2,503 0,915 0,275 4,073
15
0,133
1,951 0,713 0,214 4,073
16
0,104
1,521 0,556 0,167 4,073
17
0,081
1,186 0,434 0,130 4,073
18
0,063
0,925 0,338 0,102 4,073
19
0,049
0,721 0,264 0,079 4,073
20
0,038
0,562 0,206 0,062 4,073
21
0,030
0,438 0,160 0,048 4,073
22
0,023
0,342 0,125 0,038 4,073
23
0,018
0,266 0,097 0,029 4,073
24
0,014
0,208 0,076 0,023 4,073
(Sumber : Hasil Perhitungan)

QP
m3/det
14,067
11,865
10,148
8,809
7,766
6,952
6,317
5,823
5,437
5,137
4,902
4,719
4,577
4,466
4,379

Tabel 4.31 Rekapitulasi Debit Banjir Rencana Dengan Metode HSS


Gama I

Jam

T = 2 th

T = 5 th

T = 10 th

T = 25 th

T = 50 th

T = 100 th

Debit Banjir

0
1
2
2,3757
3
4
5
6
7
8
9

4,073
13,252
23,942
27,675
24,278
19,826
16,355
13,648
11,538
9,893
8,611

4,073
16,711
35,218
41,069
35,744
28,766
23,325
19,082
15,775
13,197
11,186

4,073
18,573
41,290
48,282
41,920
33,580
27,078
22,009
18,057
14,975
12,573

4,073
20,591
47,866
58,201
50,411
40,201
32,240
26,033
21,194
17,422
14,480

4,073
21,908
52,161
64,807
56,066
44,609
35,677
28,713
23,284
19,051
15,750

4,073
23,092
56,020
70,743
61,148
48,572
38,766
31,122
25,162
20,515
16,892

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

149

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

Lanjutan Tabel 4.31

T = 100 th

T = 50 th

T = 25 th

T = 10 th

T = 5 th

Jam

T = 2 th

Debit Banjir

7,611
9,619
10,700 12,187 13,177 14,067
10
11
6,831
8,397
9,240
10,399 11,171 11,865
12
6,223
7,444
8,101
9,005
9,607
10,148
13
5,750
6,701
7,214
7,918
8,388
8,809
14
5,380
6,122
6,521
7,071
7,437
7,766
15
5,092
5,670
5,982
6,410
6,696
6,952
16
4,867
5,318
5,561
5,895
6,118
6,317
17
4,692
5,044
5,233
5,494
5,667
5,823
18
4,556
4,830
4,978
5,181
5,316
5,437
19
4,449
4,663
4,778
4,936
5,042
5,137
20
4,366
4,533
4,623
4,746
4,828
4,902
21
4,302
4,432
4,502
4,598
4,662
4,719
22
4,251
4,353
4,407
4,482
4,532
4,577
23
4,212
4,291
4,333
4,392
4,431
4,466
24
4,181
4,243
4,276
4,322
4,352
4,379
Jumlah 249,855 329,804 372,860 429,750 467,521 501,469
Max
27,675 41,069 48,282 58,201 64,807 70,743
(Sumber : Hasil Perhitungan)

Gambar 4.9 Debit Banjir Rencana Dengan Metode HSS Gama I


(Sumber : Hasil Perhitungan)
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

150

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

4.5.6.4.

Metode Passing Capacity


Dalam perhitungan Metode Passing Capacity digunakan data
penampang melintang sungai eksisting. Langkah-langkah perhitungan
passing capacity adalah sebagai berikut :
1.

Menentukan kemiringan dasar sungai dengan mengambil elevasi


dasar sungai pada jarak 1 km dari as tubuh bendung di sebelah hulu
dan 1 km dari as tubuh bendung di sebelah hilir, sehingga diperoleh:
=

2.

420 389
=
= 0,0155

2000

Menentukan besaran koefisien manning berdasarkan kondisi dasar


sungai dengan menggunakan Tabel 4.32 di bawah ini :

Tabel 4.32 Harga Koefisien Manning


Bahan
Koefisien Manning (n)
Besi tuang dilapis
0,014
Kaca
0,010
Saluran Beton
0,013
Bata dilapis mortar
0,015
Pasangan batu disemen
0,025
Saluran tanah bersih
0,022
Saluran tanah
0,030
Saluran dengan dasar
0,040
batu dan tebing rumput
Saluran pada galian batu
0,040
padas
(Sumber : Bambang Triatmodjo, 2013)

3.

Menentukan luas penampang aliran, keliling basah dan jari-jari


hidrolis sesuai dengan Gambar 4.10 (MAB +398,00 diambil
berdasarkan perkiraan ketinggian air banjir yang pernah terjadi).
Dengan cara pengamatan secara langsung dilapangan, biasanya
dilakukan dengan menanyakan pada masyarakat sekitar lokasi dan
melihat bekas atau tanda banjir yang ada di sekitar lokasi.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

151

ELEVASI

JARAK LANGSUNG

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

23,60

4,40

19,20

1,40

17,80

8,00

395,276

397,815

398,995

398,593

3,60

1,20

2,40

2,40

SKALA : V = 1 : 100 , H = 1 : 100

POTONGAN MELINTANG PATOK A.64

9,80

6,20

A.64

13,40

13,40

Gambar 4.10. Potongan Melintang Sungai Patok A.64


( Sumber : Feasibility Study Daerah Irigasi Tonggauna Kabupaten Kolaka )

29,80

396,225

6,20

397,016

JARAK

395,000

PATOK

397,138

BIDANG PERSAMAAN
+ 385,000 M
1

398,000

A.64

24,80

11,40

398,823

MAB + 398,000

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

152

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI


Luas penampang aliran (Menggunakan program AutoCad) :
A = 47,561 m2
Keliling basah (Menggunakan program AutoCad) :
P = 25,272 m
Jari-jari hidrolis :
=
4.

47,561
=
= 1,882
25,272

Menghitung debit aliran :


1
/ 1/

1
=
1,882
0,030
=

A
/

0,01551/

47,561

, m3/det

4.5.7. Rekapitulasi Debit Banjir Rencana


Hasil perhitungan beberapa macam metode yang digunakan, secara
menyeluruh dapat dilihat pada Tabel 4.33 berikut :

Tabel 4.33 Rekapitulasi Debit Banjir Rencana Dengan Beberapa Metode


Periode
Ulang
(tahun)
2
5
10
25
50
100

Rasional

Haspers

HSS Gama I

m3/det
221,707
255,395
273,534
293,186
306,015
317,546

m3/det
161,769
186,197
199,335
213,550
222,825
231,156

m3/det
27,675
41,069
48,282
58,201
64,807
70,743

Passing
Capacity
m3/det

225,648

(Sumber : Hasil Perhitungan)

Berdasarkan pertimbangan kegagalan, efisiensi teknis, keamanan


dan karena ketidakpastian besarnya debit banjir yang terjadi di daerah
tersebut, dipilih debit banjir dari Metode Haspers dengan periode ulang 100
tahun = 231,156 m3/det.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

153

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

4.6.

Analisis Kebutuhan Air


Kebutuhan air irigasi adalah besar debit air yang dibutuhkan untuk
mengairi lahan di daerah irigasi. Menurut jenisnya ada 2 (dua) macam
kebutuhan air, yaitu :
1.

Kebutuhan air untuk tanaman (Consumtive Use)


Yaitu banyaknya air yang dibutuhkan tanaman untuk membuat
jaring tanaman (batang dan daun). Kebutuhan air yang dimaksud yang
meliputi :
a. Evapotranspirasi
b. Curah Hujan Efektif (Re)
c. Koefisien Tanaman (Kc)
d. Perkolasi
e. Penyiapan Lahan

2.

Kebutuhan air untuk irigasi


Yaitu kebutuhan air yang digunakan untuk menentukan pola
tanaman untuk menentukan tingkat efisiensi saluran irigasi sehingga
diperoleh kebutuhan air untuk masing-masing jaringan.
Perhitungan kebutuhan air irigasi ini dimaksudkan untuk
mengairi daerah irigasi. Besarnya efisiensi irigasi tergantung dari
besarnya kehilangan air yang terjadi pada saluran pembawa, mulut dari
bendung sampai petak sawah. Kehilangan air tersebut disebabkan
karena penguapan, perkolasi, kebocoran dan sadap liar.
Data yang digunakan dalam menganalisa kebutuhan air irigasi
adalah :
a. Data Curah Hujan
b. Data Klimatologi, yaitu :
Temperatur bulanan rata-rata (0C)
Kecepatan angin rata-rata (m/d)
Kelembapan udara relatif rata-rata (%)
Penyinaran matahari rata-rata (%)
Letak Lintang

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

154

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

4.6.1.

Kebutuhan Air Untuk Tanaman

4.6.1.1.

Evapotranspirasi
Besarnya evapotranspirasi dihitung dengan metoda Penman yang
dimodifikasi oleh Nedesco/Prosida seperti yang diuraikan dalam PSA010. Evapotranspirasi dihitung dengan menggunakan rumus-rumus
teoritis empiris dengan memperhaitkan faktor-faktor meteorologi yang
terkait seperti curah hujan, suhu udara, kelembaban udara kecepatan
angin dan penyinaran matahari. Data-data klimatologi untuk perhitungan
evapotranspirasi disajikan sebagai berikut :

Tabel 4.34 Suhu Udara


NO

TAHUN

1
2

Data Suhu Udara (0C)


JAN

FEB

MAR

APR

MEI

JUN

JUL

AGST

SEP

OKT

NOV

DES

2014

30,10

28,60

28,80

28,90

26,80

26,00

26,20

25,90

27,50

27,70

28,50

28,70

2013

30,10

30,40

30,50

29,80

29,80

29,50

26,20

27,10

27,80

28,80

28,50

28,80

2012

30,00

31,90

30,40

30,20

30,40

30,30

29,80

29,80

30,00

30,30

30,20

29,60

2011

25,90

23,30

22,70

23,10

22,60

22,70

22,70

22,50

22,70

22,80

22,70

22,60

29,03

28,55

28,10

28,00

27,40

27,13

26,23

26,33

27,00

27,40

27,48

27,43

Rata-rata

(Sumber : Hasil Perhitungan)

Tabel 4.35 Kelembaban Udara


NO

TAHUN

1
2

Data Kelembaban Relatif (%)


JAN

FEB

MAR

APR

MEI

JUN

JUL

AGST

SEP

OKT

NOV

DES

2014

94,00

94,00

94,00

92,00

91,00

91,00

89,00

91,00

91,00

91,00

91,00

91,00

2013

97,00

90,00

90,00

90,00

97,00

98,00

95,40

95,00

92,00

93,00

95,00

93,00

2012

94,60

94,80

95,70

96,80

95,60

94,80

95,10

93,70

95,90

95,20

95,40

95,70

2011

93,00

87,50

88,20

89,10

93,50

93,70

93,90

89,10

88,70

90,20

90,40

90,90

94,65

91,58

91,98

91,98

94,28

94,38

93,35

92,20

91,90

92,35

92,95

92,65

Rata-rata

(Sumber : Hasil Perhitungan)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

155

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

Tabel 4.36 Kecepatan Angin


NO

TAHUN

2014

BULAN
JAN

FEB

MAR

APR

MEI

JUN

JUL

AGST

SEP

OKT

NOV

DES

Disesuaikan pada ketinggian 0,5 m di atas permukaan tanah (km/hari)


37,60 35,20 35,70 32,60 33,10 30,00 34,10
39,10
45,30

49,90

48,10

43,50

2013

29,50

32,00

30,90

32,80

32,20

31,60

29,20

34,00

38,60

40,50

40,40

36,10

2012

38,20

37,30

40,60

39,40

34,60

29,60

30,90

33,50

36,60

40,20

37,80

34,70

2011

38,20

37,30

40,60

39,40

34,60

29,60

30,90

33,50

36,60

40,20

37,80

34,70

2014

1,15

1,14

1,14

1,13

1,13

1,12

1,13

1,15

1,18

1,20

1,19

1,17

2013

1,12

1,13

1,12

1,13

1,13

1,12

1,11

1,13

1,15

1,16

1,16

1,14

2012

1,15

1,15

1,16

1,15

1,14

1,12

1,12

1,13

1,14

1,16

1,15

1,14

2011

1,15

1,15

1,16

1,15

1,14

1,12

1,12

1,13

1,14

1,16

1,15

1,14

1,14

1,14

1,15

1,14

1,13

1,12

1,12

1,14

1,15

1,17

1,16

1,15

Disesuaikan pada ketinggian 2 m di atas permukaan tanah (m/det)

Rata-rata

(Sumber : Hasil Perhitungan)


Tabel 4.37 Penyinaran Matahari
BULAN

NO

TAHUN

2014

2013

3,00

2012

48,30

2011

27,90

28,05

Rata-rata

JAN

FEB

MAR

APR

MEI

JUN

JUL

AGST

SEP

OKT

NOV

DES

33,00

36,30

40,00

36,30

31,00

20,00

38,00

46,00

61,00

58,00

43,00

27,00

4,00

4,00

35,00

33,00

29,00

9,00

42,70

53,30

53,00

49,00

36,00

15,70

35,10

47,50

29,80

23,60

31,60

35,90

62,20

69,00

63,90

46,70

30,30

33,70

28,10

29,80

23,60

31,60

35,90

41,50

55,10

50,10

34,60

21,58

28,20

36,73

30,90

24,05

27,55

40,13

54,50

58,78

51,50

36,08

(Sumber : Hasil Perhitungan)

Evapotranspirasi

tanaman

yang

dijadikan

acuan

adalah

rerumputan pendek (albedo = 0,25). Selanjutnya untuk mendapatkan


harga evapotranspirasi harus dikalikan dengan koefisien tanaman.
Sehingga evapotranspirasi sama dengan evapotranspirasi potensial dari
hasil perhitungan Penman x crop factor. Dari harga evapotranspirasi
yang diperoleh, kemudian digunakan untuk menghitung kebutuhan air
bagi pertumbuhan dengan menyertakan data curah hujan efektif.
Perhitungan evapotranspirasi dapat dilihat di Tabel 4.38.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

156

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

Tabel 4.38 Perhitungan Evapotransirasi Penman

PERHITUNGAN
DASAR
Suhu Udara

Kelembaban Relatif

Kecepatan Angin V2
Penyinaran Matahari
8 jam : Q1
konversi ke 12 jam =
0,786 Q8 + 3,45
Lintang

NO

4
5
6

UNIT

JAN

FEB

MAR

APR

MEI

JUN

JUL

AGST

SEPT

OKT

NOV

DES

0C

29,03

28,55

28,10

28,00

27,40

27,13

26,23

26,33

27,00

27,40

27,48

27,43

94,65
1,14

91,58
1,14

91,98
1,15

91,98
1,14

94,28
1,13

94,38
1,12

93,35
1,12

92,20
1,14

91,90
1,15

92,35
1,17

92,95
1,16

92,65
1,15

28,050

21,575

28,200

36,725

30,900

24,050

27,550

40,125

54,500

58,775

51,500

36,075

24,992

20,020

25,108

31,655

27,181

21,920

24,608

34,266

45,306

48,589

43,002

31,156

LS

50 28'

50 28'

50 28'

50 28'

50 28'

50 28'

50 28'

50 28'

50 28'

50 28'

50 28'

50 28'

PERHITUNGAN PROSIDA/PENMAN
Tabel 2 dengan (1)

f(Tai) x 10-2

9,45

9,40

9,33

9,32

9,25

9,21

9,11

9,12

9,32

9,20

9,26

9,25

Tabel 2 dengan (1)

L-1x102

2,996

2,915

2,87

2,86

2,76

2,72

2,593

2,61

2,70

2,76

2,78

2,77

10

Tabel 2 dengan (1)

zwa J

30,081

29,255

28,49

28,32

27,37

26,95

25,642

25,79

26,74

27,37

27,50

27,42

11

Tabel 2 dengan (1)

2,233

2,185

2,15

2,14

2,09

2,08

2,003

2,01

2,06

2,09

2,09

2,09

12

(2) x (10)

zwa

28,5

26,8

26,2

26,0

25,8

25,4

23,9

23,8

24,6

25,3

25,6

25,4

13

Tabel (3) dengan (12)

0,086

0,086

0,086

0,086

0,087

0,091

0,107

0,108

0,100

0,092

0,089

0,091

1,609

2,465

2,286

2,273

1,567

1,516

1,705

2,011

2,166

2,094

1,939

2,015

8
9

sa

mm Hg

mm Hg

f(Td)
zwa J

14

(10) - (12)

15

Tabel 4 dengan (3)

.(f uz)

0,191

0,191

0,192

0,191

0,190

0,189

0,189

0,191

0,192

0,194

0,193

0,192

16

(14) x (15)

.Eq =

0,307

0,471

0,439

0,434

0,298

0,286

0,322

0,384

0,416

0,406

0,374

0,387

9,00

9,10

8,91

8,40

7,77

7,40

8,05

8,05

8,63

8,96

8,97

8,93

0,269

0,255

0,269

0,291

0,275

0,260

0,268

0,304

0,354

0,366

0,345

0,289

17

Tabel 5 dengan (6)

18

Tabel 6 dengan (5)

sa -

zwa

o a Hsh

10-2

a sh f (i)

mm Hg

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

157

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI


Lanjutan Tabel 4.38
19

PERHITUNGAN
DASAR
(17) x (18)

20

(8) x( 1 - (5))

21

1 - ((20)/10)

22

(8) x (13) x (21)

NO

23

(19) - (22)

24

(9) x (23)

25

(16) + (24)

26
27
28
29

(25) / (11) = Eo
(Evaporasi)
Evapotranspirasi (Eto)
= Eo x 1,1
Jumlah Hari
Evapotranspirasi
(Dalam 1 Bulan)

UNIT

JAN

FEB

MAR

APR

MEI

JUN

JUL

AGST

SEPT

OKT

NOV

DES

H ne sh =

2,421

2,319

2,398

2,446

2,137

1,927

2,156

2,449

3,051

3,282

3,091

2,579

m = 8 (1-r)
f (m) = 1.0 m/10
H lo ne

7,090

7,514

6,987

6,370

6,736

7,193

6,865

5,997

5,097

4,730

5,277

6,370

0,291

0,249

0,301

0,363

0,326

0,281

0,313

0,400

0,490

0,527

0,472

0,363

0,237

0,201

0,242

0,291

0,263

0,235

0,305

0,394

0,457

0,446

0,389

0,306

2,185

2,118

2,156

2,155

1,875

1,691

1,850

2,055

2,594

2,836

2,702

2,273

6,546

6,174

6,189

6,165

5,174

4,594

4,797

5,354

7,004

7,827

7,501

6,288

Eq+H ra ne

6,853

6,645

6,628

6,599

5,472

4,880

5,120

5,738

7,420

8,233

7,875

6,675

Eto

3,069

3,041

3,083

3,084

2,618

2,346

2,556

2,855

3,602

3,939

3,768

3,194

3,376

3,345

3,391

3,392

2,880

2,581

2,812

3,140

3,962

4,333

4,145

3,513

31

28

31

30

31

30

31

31

30

31

30

31

104,654

93,669

105,117

101,756

89,276

77,425

87,159

97,352

118,859

134,328

124,346

108,911

H sh

ne

- H lo

H ra

ne

ne

(Sumber : Hasil Perhitungan)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

158

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

4.6.1.2.

Perkolasi
Menurut penelitian di Jepang harga perkolasi untuk perhitungan
kebutuhan air di ambil berdasarkan tekstur tanah di lokasi, nilai perkolasi
macam-macam tekstur tanah dapat dikelompokkan sebagai berikut :
Berat (lempung) = 1 2 mm/hari
Sedang (lempung kepasiran) = 2 -3 mm/hari
Ringan = 3 -6 mm/hari
Harga perkolasi untuk perhitungan kebutuhan air di daerah irigasi
Tonggauna diambil sebesar 2 mm/hari karena jenis tanahnya bertekstur
berat (lempung berat) dengan karakteristik pengolahan tanah yang baik.

4.6.1.3.

Koefisien Tanaman (Kc)


Besarnya nilai koefisien tanaman (Kc) tergantung dari jenis
tanaman dan fase pertumbuhan tanaman. Pada perhitungan ini koefisien
tanaman untuk padi dengan varietas unggul sesuai dengan ketentuan
Nedesco/Prosida. Harga-harga koefisien tanaman padi dan palawija
dapat dilihat pada Tabel 2.9 bab II.

4.6.1.4.

Curah Hujan Efektif


a. Besarnya Curah Hujan Efektif
Curah hujan efektif adalah bagian dari curah hujan yang
digunakan oleh akar-akar tanaman selama masa pertumbuhan. Untuk
irigasi tanaman padi, curah hujan efektif diambil sebesar 80%
kemungkinan curah hujan bulanan rata-rata terpenuhi. Dasar
perhitungan curah hujan efektif dapat dilihat pada Tabel 4.39.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

159

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI


Tabel 4.39 Curah Hujan Efektif
Tahun
Jan
Feb
2000
300
226
2001
170
85
2002
186
114
2003
133
127
2004
89
54
2005
174
156
2006
150
160
2007
187
212
2008
168
137
2009
180
181
2010
117
196
2011
304
135
2012
214
154
2013
125
57
2014
127
125
175
141
Rata-rata
61
51
S
31
28
Jumlah hari
-0,842 -0,842
k
123,66 98,27
XT bln
3,989
3,510
XT hr
(Sumber : Hasil Perhitungan)

Mar
201
85
162
133
95
147
156
264
269
275
308
259
109
110
160
182
75
31
-0,842
119,34
3,850

Apr
194
186
180
97
169
173
143
268
373
135
268
241
95
124
187
189
74
30
-0,842
126,64
4,221

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

Mei
Jun
Jul
95
254
121
125
89
87
152
182
59
137
47
109
104
45
47
166
41
101
193
107
87
197
269
156
302
258
176
201
79
59
341
441
197
212
109
134
193
163
176
196
92
349
154
224
179
185
160
136
67
112
76
31
30
31
-0,842 -0,842 -0,842
128,45 65,73 71,72
4,144 2,191 2,314

Agus
98
18
26
75
3
53
35
138
173
27
195
40
63
65
83
73
57
31
-0,842
25,10
0,810

Sep
55
57
16
22
5
3
17
43
113
5
248
83
44
42
5
51
63
30
-0,842
-2,54
0,000

Okt
117
38
7
48
0
49
0
68
116
41
250
88
49
79
22
65
63
31
-0,842
11,75
0,379

Nov
65
59
64
45
40
115
94
78
265
67
153
159
54
159
38
97
63
30
-0,842
43,99
1,466

Des
70
108
214
69
80
162
113
163
180
176
167
265
128
112
186
146
56
31
-0,842
99,33
3,204

160

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

Di mana :
S

= Standar Deviasi

= Faktor frekuensi untuk probabilitas 20% (0,200)


digunakan sebesar -0,842 didapat dari nilai Z untuk luas
di bawah kurva normal sebesar 0,200

XT bln

= Curah hujan 20% kering bulanan


= Rata rata + S

XT hari

= Curah hujan 20% kering harian


= XT bln / jumlah hari

Contoh Perhitungan :
XT bln

= 175 + (-0,842) x 61 = 123,66 mm/bln

XT hari

= 123,66 / 31 = 3,989 mm/hari

b. Koefisien Curah Hujan Efektif


Besarnya koefisien curah hujan efektif untuk tanaman padi
berdasarkan Tabel 2.10 pada Bab II. Dalam perhitungan kebutuhan air
D.I. Tonggauna digunakan 1 golongan karena dianggap paling efektif,
sedangkan untuk tanaman palawija, besarnya curah hujan efektif
ditentukan dengan metode curah hujan bulanan yang dihubungkan
dengan curah hujan rata-rata bulanan serta evapotranspirasi tanaman
rata-rata bulanan berdasarkan Tabel 2.11 pada Bab II.

4.6.1.5.

Penyiapan Lahan
Kebutuhan air untuk pengolahan atau penyiraman lahan
menentukan kebutuhan minimum air irigasi. Faktor-faktor yang
menentukan besarnya kebutuhan air untuk pengolahan tanah, yaitu
besarnya penjenuhan, lamanya pengolahan, besar evaporasi, dan
perkolasi.
a. Penyiapan Lahan Untuk Padi
Waktu yang diperlukan untuk pekerjaan penyiapan lahan
adalah selama satu bulan (30 hari). Kebutuhan air untuk pengolahan
tanah bagi tanaman padi digunakan 150 mm, setelah selesai tanam

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

161

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

lapisan air di sawah di tambah 50 mm. Jadi kebutuhan air yang


diperlukan untuk penyiapan lahan dan untuk lapisan air awal setelah
tanam selesai seluruhnya menjadi 200 mm, sedangkan untuk lahan
yang tidak ditanami (sawah bero) dalam jangka waktu 0,5 bulan
diambil 300 mm. pada perhitungan angka pengolahan tanah untuk
padi digunakan tabel koefisien Van De Goor dan Zijlstra (1968).
b. Pengolahan Lahan Untuk Palawija
Kebutuhan air untuk penyiapan lahan bagi palawija sebesar 50
mm selama 15 hari yaitu 3,33 mm/hari, yang digunakan untuk
menggarap lahan yang ditanami dan menciptakan kondisi lembab
yang memadai untuk persemaian yang baru tumbuh.

4.6.1.6.

Kebutuhan Air Pertumbuhan


Kebutuhan air untuk pertumbuhan padi dipengaruhi oleh
besarnya evapotranspirasi tanaman (Etc), perkolasi tanah (p),
penggantian air genangan (W), dan hujan efektif (Re), sedangkan
kebutuhan air untuk pemberian pupuk pada tanaman apabila terjadi
pengurangan air (sampai tingkat tertentu) pada petak sawah sebelum
pemberian pupuk.

4.6.1.7.

Pola Tanam dan Perencanaan Tata Tanam


Pola tanam diambil dari laporan Feasibility Study Daerah Irigasi
Tonggauna Kabupaten Kolaka yang direncanakan oleh PT. Aditya
Engineering Consultant diperoleh :
Golongan I

Padi Padi/Palawija Palawija

a. Efisiensi Irigasi
Pada perencanaan jaringan irigasi, tingkat efisiensi ditentukan
menurut kriteria standar perencanaan, yaitu sebagai berikut :
Pada saluran primer/utama = 5 10%
Pada saluran sekunder = 10 15%
Pada saluran tersier = 15 20%
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

162

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

b. Analisis Kebutuhan Air


Kebutuhan air irigasi dipengaruhi berbagai faktor seperti yang
telah diterangkan sebelumnya, yang dengan singkat kebutuhan air
irigasi dihitung dengan persamaan hasil perhitungan evapotranspirasi
Penman dapat dilihat pada Tabel 4.38, kemudian hasil perhitungan
kebutuhan air irigasi untuk tanaman padi dan palawija dapat dilihat
pada Tabel 4.40 dan Tabel 4.41 sedangkan kebutuhan air untuk rotasi
teknis / golongan dapat dilihat pada Tabel 4.42.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

163

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI


Tabel 4.40 Kebutuhan Air Tanaman Padi
TANAMAN PADI
EVAPORASI (Eo)
PERKOLASI (P)
Eo + P
Rh = HUJAN (1 IN 5 DRY) = XTbln/JML HARI
1
0,36
2
0,70
3
0,40
Faktor Hujan
HUJAN
4
0,40
dengan 1 gol (FH)
EFEKTIF Re =
5
0,40
tiap 2 mingguan
Rh*FH
6
0,40
7
0,40
8
0,00
1
1,20
2
1,20
3
1,32
4
1,40
KOEFISIEN
Evapotranspirasi
TANAMAN (Kt) 5
Et = Eo*Kt
1,35
6
1,24
7
1,12
8
0,00
PENGOLAHAN LAHAN (LAND PREPARATION)
LP1
LP1 - Re1 =A = IR
Re ke 1 Pengolahan
=B
tanah untuk tanaman A*0.116
Padi kejenuhan 200
B*1.25
=C
mm 2 minggu I
C*1.15
=D
D*1.1
=E

JAN
3,069
2,000
5,069
3,989
1,436
2,792
1,596
1,596
1,596
1,596
1,596
0,000
3,683
3,683
4,051
4,297
4,143
3,806
3,437
0,000

FEB
3,041
2,000
5,041
3,510
1,264
2,457
1,404
1,404
1,404
1,404
1,404
0,000
3,649
3,649
4,014
4,258
4,106
3,771
3,406
0,000

MAR
3,083
2,000
5,083
3,850
1,386
2,695
1,540
1,540
1,540
1,540
1,540
0,000
3,699
3,699
4,069
4,316
4,162
3,822
3,453
0,000

APR
3,084
2,000
5,084
4,221
1,520
2,955
1,689
1,689
1,689
1,689
1,689
0,000
3,700
3,700
4,070
4,317
4,163
3,824
3,454
0,000

MEI
2,618
2,000
4,618
4,144
1,492
2,901
1,657
1,657
1,657
1,657
1,657
0,000
3,142
3,142
3,456
3,665
3,534
3,246
2,932
0,000

JUN
2,346
2,000
4,346
2,191
0,789
1,534
0,876
0,876
0,876
0,876
0,876
0,000
2,815
2,815
3,097
3,285
3,167
2,909
2,628
0,000

JUL
2,556
2,000
4,556
2,314
0,833
1,619
0,925
0,925
0,925
0,925
0,925
0,000
3,067
3,067
3,374
3,578
3,451
3,169
2,863
0,000

AGST
2,855
2,000
4,855
0,810
0,291
0,567
0,324
0,324
0,324
0,324
0,324
0,000
3,426
3,426
3,768
3,997
3,854
3,540
3,197
0,000

SEP
3,602
2,000
5,602
0,000
0,000
0,000
0,000
0,000
0,000
0,000
0,000
0,000
4,322
4,322
4,754
5,042
4,862
4,466
4,034
0,000

OKT
3,939
2,000
5,939
0,379
0,136
0,265
0,152
0,152
0,152
0,152
0,152
0,000
4,727
4,727
5,200
5,515
5,318
4,885
4,412
0,000

NOV
3,768
2,000
5,768
1,466
0,528
1,027
0,587
0,587
0,587
0,587
0,587
0,000
4,522
4,522
4,974
5,275
5,087
4,672
4,220
0,000

DES
3,194
2,000
5,194
3,204
1,153
2,243
1,282
1,282
1,282
1,282
1,282
0,000
3,833
3,833
4,216
4,471
4,312
3,960
3,577
0,000

9,519
8,083
0,938
1,172
1,348
1,483

9,502
8,238
0,956
1,195
1,374
1,511

9,528
8,142
0,944
1,181
1,358
1,493

9,528
8,009
0,929
1,161
1,335
1,469

9,240
7,748
0,899
1,124
1,292
1,421

9,074
8,286
0,961
1,201
1,382
1,520

9,202
8,369
0,971
1,214
1,396
1,535

9,386
9,095
1,055
1,319
1,517
1,668

9,855
9,855
1,143
1,429
1,643
1,808

10,071
9,935
1,152
1,441
1,657
1,822

9,961
9,434
1,094
1,368
1,573
1,730

9,597
8,444
0,979
1,224
1,408
1,549

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

KET
Hasil
Perhitungan
mm/hari

Tabel 1.b
mm/hari

Tabel 1.c
mm/hari

Tabel Zylstra
Berdasarkan
Eo + P
mm/hari

164

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI


Lanjutan 1 Tabel 4.40
TANAMAN PADI
Re ke 2 Pengolahan
tanah untuk tanaman
Padi kejenuhan 200
mm 2 minggu II

=A = IR
=B
=C
=D
=E

JAN
9,519
6,727
0,780
0,975
1,122
1,234

FEB
9,502
7,045
0,817
1,022
1,175
1,292

MAR
9,528
6,833
0,793
0,991
1,139
1,253

APR
9,528
6,573
0,763
0,953
1,096
1,206

MEI
9,240
6,340
0,735
0,919
1,057
1,163

JUN
9,074
7,541
0,875
1,093
1,257
1,383

JUL
9,202
7,583
0,880
1,099
1,264
1,391

AGST
9,386
8,819
1,023
1,279
1,471
1,618

SEP
9,855
9,855
1,143
1,429
1,643
1,808

OKT
10,071
9,806
1,138
1,422
1,635
1,799

NOV
9,961
8,935
1,036
1,296
1,490
1,639

DES
9,597
7,355
0,853
1,066
1,226
1,349

=A = IR

7,421

7,579

7,493

7,345

6,818

7,272

7,475

8,435

9,655

9,909

9,268

7,884

=B

0,861

0,879

0,869

0,852

0,791

0,844

0,867

0,978

1,120

1,149

1,075

0,915

B*1.25

=C

1,076

1,099

1,086

1,065

0,989

1,054

1,084

1,223

1,400

1,437

1,344

1,143

C*1.15

=D

1,237

1,264

1,249

1,225

1,137

1,213

1,246

1,407

1,610

1,652

1,546

1,315

D*1.1
Et2+P+WRe4
A*0.116

=E

1,361

1,390

1,374

1,347

1,251

1,334

1,371

1,547

1,771

1,818

1,700

1,446

W = 100 mm
kebutuhan
air untuk
penggantian
air genangan
saat
pemupukan

=A = IR

7,421

7,579

7,493

7,345

6,818

7,272

7,475

8,435

9,655

9,909

9,268

7,884

A = mm/hari

=B

0,861

0,879

0,869

0,852

0,791

0,844

0,867

0,978

1,120

1,149

1,075

0,915

B = lt/dt

B*1.25

=C

1,076

1,099

1,086

1,065

0,989

1,054

1,084

1,223

1,400

1,437

1,344

1,143

C = lt/dt

C*1.15

=D

1,237

1,264

1,249

1,225

1,137

1,213

1,246

1,407

1,610

1,652

1,546

1,315

D = lt/dt

D*1.1
Et3+P+WRe5
A*0.116

=E

1,361

1,390

1,374

1,347

1,251

1,334

1,371

1,547

1,771

1,818

1,700

1,446

E = lt/dt

=A = IR

7,789

7,944

7,862

7,715

7,132

7,554

7,782

8,778

10,088

10,382

9,721

8,268

A = mm/hari

=B

0,904

0,921

0,912

0,895

0,827

0,876

0,903

1,018

1,170

1,204

1,128

0,959

B = lt/dt

B*1.25

=C

1,129

1,152

1,140

1,119

1,034

1,095

1,128

1,273

1,463

1,505

1,409

1,199

C = lt/dt

C*1.15

=D

1,299

1,325

1,311

1,286

1,189

1,260

1,298

1,464

1,682

1,731

1,621

1,379

D = lt/dt

D*1.1

=E

1,429

1,457

1,442

1,415

1,308

1,386

1,427

1,610

1,850

1,904

1,783

1,516

E = lt/dt

LP2
LP2 - Re2
A*0.116
B*1.25
C*1.15
D*1.1

KET
Tabel Zylstra
Berdasarkan
Eo + P
mm/hari

PERTUMBUHAN
Pertumbuhan 2
minggu I Re ke 3 ET
ke 1
w = 3,3333
Pertumbuhan 2
minggu II Re ke 4 ET
ke 2
w = 3,3333
Pertumbuhan 2
minggu III Re ke 5 ET
ke 3
w = 3,3333

Et1+P+WRe3
A*0.116

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

165

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI


Lanjutan 2 Tabel 4.40
TANAMAN PADI
Pertumbuhan 2
minggu IV Re ke 6 ET
ke 4
w = 3,3333

Pertumbuhan 2
minggu V Re ke 7 ET
ke 5

Pertumbuhan 2
minggu VI Re ke 8 ET
ke 6

Et4+P+WRe6
A*0.116
B*1.25
C*1.15
D*1.1
Et5+PRe7
A*0.116
B*1.25
C*1.15
D*1.1
Et6+PRe8
A*0.116
B*1.25
C*1.15
D*1.1

JAN

FEB

MAR

APR

MEI

JUN

JUL

AGST

SEP

OKT

NOV

DES

KET

=A = IR

8,034

8,187

8,109

7,962

7,341

7,742

7,986

9,006

10,376

10,697

10,022

8,523

A = mm/hari

=B
=C
=D
=E

0,932
1,165
1,340
1,474

0,950
1,187
1,365
1,502

0,941
1,176
1,352
1,487

0,924
1,154
1,328
1,460

0,852
1,064
1,224
1,347

0,898
1,123
1,291
1,420

0,926
1,158
1,332
1,465

1,045
1,306
1,502
1,652

1,204
1,504
1,730
1,903

1,241
1,551
1,784
1,962

1,163
1,453
1,671
1,838

0,989
1,236
1,421
1,563

B = lt/dt
C = lt/dt
D = lt/dt
E = lt/dt

=A = IR

4,548

4,702

4,622

4,474

3,877

4,291

4,525

5,530

6,862

7,166

6,500

5,030

A = mm/hari

=B
=C
=D
=E

0,528
0,659
0,758
0,834

0,545
0,682
0,784
0,862

0,536
0,670
0,771
0,848

0,519
0,649
0,746
0,821

0,450
0,562
0,646
0,711

0,498
0,622
0,716
0,787

0,525
0,656
0,755
0,830

0,642
0,802
0,922
1,014

0,796
0,995
1,144
1,259

0,831
1,039
1,195
1,314

0,754
0,943
1,084
1,192

0,583
0,729
0,839
0,923

B = lt/dt
C = lt/dt
D = lt/dt
E = lt/dt

=A = IR

5,806

5,771

5,822

5,824

5,246

4,909

5,169

5,540

6,466

6,885

6,672

5,960

A = mm/hari

=B
=C
=D
=E

0,673
0,842
0,968
1,065

0,669
0,837
0,962
1,059

0,675
0,844
0,971
1,068

0,676
0,844
0,971
1,068

0,609
0,761
0,875
0,962

0,569
0,712
0,819
0,900

0,600
0,750
0,862
0,948

0,643
0,803
0,924
1,016

0,750
0,938
1,078
1,186

0,799
0,998
1,148
1,263

0,774
0,967
1,113
1,224

0,691
0,864
0,994
1,093

B = lt/dt
C = lt/dt
D = lt/dt
E = lt/dt

(Sumber : Hasil Perhitungan)

Keterangan :
0,116 = Angka Konversi dari (mm/hari) menjadi (liter/det)
1,25

= Kehilangan di saluran petak tersier 20 %

1,15

= Kehilangan di saluran petak sekunder 13,04 %

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

166

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI


1,10

= Kehilangan di bendung bangunan bagi (saluran primer) 9,10 %

= Kehilangan di saluran tersier

= Kehilangan di saluran sekunder

= Kehilangan di saluran petak primer


Tabel 4.41 Kebutuhan Air Tanaman Jagung

TANAMAN JAGUNG
JAN
EVAPORASI (Eo)
3,069
PERKOLASI (P)
2,000
Eo + P
5,069
Rh = HUJAN (1 IN 5 DRY) = XTbln/JML
3,989
HARI
1
0,50
1,535
2
0,59
1,811
Evapotra
3
0,96
2,946
Koefisien Tanaman
nspirasi
Jagung
Et
=
Eo
*
4
1,05
3,222
Kt
5
1,02
3,130
6
0,95
2,916
PENGOLAHAN LAHAN (LAND PREPARATION)
LP1
3,330
LP1 =A = IR
-0,659
Pengolahan tanah untuk RH
tanaman Palawija
A*0.116 =B
-0,076
kejenuhan 50 mm
B*1.25
=C
-0,096
2 minggu I
C*1.15
=D
-0,110
D*1.1
=E
-0,121

FEB
3,041
2,000
5,041

MAR
3,083
2,000
5,083

APR
3,084
2,000
5,084

MEI
2,618
2,000
4,618

JUN
2,346
2,000
4,346

JUL
2,556
2,000
4,556

AGST
2,855
2,000
4,855

SEP
3,602
2,000
5,602

OKT
3,939
2,000
5,939

NOV
3,768
2,000
5,768

DES
3,194
2,000
5,194

3,510

3,850

4,221

4,144

2,191

2,314

0,810

0,000

0,379

1,466

3,204

1,521
1,794
2,920
3,193
3,102
2,889

1,541
1,819
2,959
3,237
3,144
2,928

1,542
1,819
2,960
3,238
3,145
2,929

1,309
1,545
2,513
2,749
2,670
2,487

1,173
1,384
2,252
2,464
2,393
2,229

1,278
1,508
2,454
2,684
2,607
2,428

1,427
1,684
2,741
2,998
2,912
2,712

1,801
2,125
3,458
3,782
3,674
3,422

1,970
2,324
3,782
4,136
4,018
3,742

1,884
2,223
3,617
3,956
3,843
3,580

1,597
1,884
3,066
3,354
3,258
3,034

3,330

3,330

3,330

3,330

3,330

3,330

3,330

3,330

3,330

3,330

3,330

-0,180

-0,520

-0,891

-0,814

1,139

1,016

2,520

3,330

2,951

1,864

0,126

-0,021
-0,026
-0,030
-0,033

-0,060
-0,075
-0,087
-0,095

-0,103
-0,129
-0,149
-0,164

-0,094
-0,118
-0,136
-0,149

0,132
0,165
0,190
0,209

0,118
0,147
0,169
0,186

0,292
0,365
0,420
0,462

0,386
0,483
0,555
0,611

0,342
0,428
0,492
0,541

0,216
0,270
0,311
0,342

0,015
0,018
0,021
0,023

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

KET

Tabel
Zylstra
Berdasarkan
Eo + P
mm/hari

167

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

Lanjutan 1 Tabel 4.41


TANAMAN JAGUNG
PERTUMBUHAN

Pertumbuhan 2 minggu
I
ET ke 1

Pertumbuhan 2 minggu
II
ET ke 2

Pertumbuhan 2 minggu
III
ET ke 3

Pertumbuhan 2 minggu
IV
ET ke 4

JAN

FEB

MAR

APR

MEI

JUN

JUL

AGST

SEP

OKT

NOV

DES

KET

Et1 - Rh

=A = IR

-2,455

-1,989

-2,308

-2,680

-2,835

-1,018

-1,036

0,618

1,801

1,591

0,418

-1,607

A*0.116

=B

-0,285

-0,231

-0,268

-0,311

-0,329

-0,118

-0,120

0,072

0,209

0,185

0,048

-0,186

B*1.25

=C

-0,356

-0,288

-0,335

-0,389

-0,411

-0,148

-0,150

0,090

0,261

0,231

0,061

-0,233

C*1.15

=D

-0,409

-0,332

-0,385

-0,447

-0,473

-0,170

-0,173

0,103

0,300

0,265

0,070

-0,268

D*1.1

=E

-0,450

-0,365

-0,423

-0,492

-0,520

-0,187

-0,190

0,113

0,330

0,292

0,077

-0,295

Et2 - Rh

=A = IR

-2,178

-1,715

-2,031

-2,402

-2,599

-0,807

-0,806

0,875

2,125

1,945

0,757

-1,320

A = mm/hari

A*0.116

=B

-0,253

-0,199

-0,236

-0,279

-0,301

-0,094

-0,093

0,101

0,247

0,226

0,088

-0,153

B = lt/dt

B*1.25

=C

-0,316

-0,249

-0,294

-0,348

-0,377

-0,117

-0,117

0,127

0,308

0,282

0,110

-0,191

C = lt/dt

C*1.15

=D

-0,363

-0,286

-0,339

-0,401

-0,433

-0,135

-0,134

0,146

0,354

0,324

0,126

-0,220

D = lt/dt

D*1.1

=E

-0,400

-0,315

-0,373

-0,441

-0,477

-0,148

-0,148

0,160

0,390

0,357

0,139

-0,242

E = lt/dt

Et3 - Rh

=A = IR

-1,043

-0,590

-0,890

-1,261

-1,630

0,061

0,140

1,931

3,458

3,403

2,151

-0,138

A = mm/hari

A*0.116

=B

-0,121

-0,068

-0,103

-0,146

-0,189

0,007

0,016

0,224

0,401

0,395

0,250

-0,016

B = lt/dt

B*1.25

=C

-0,151

-0,086

-0,129

-0,183

-0,236

0,009

0,020

0,280

0,501

0,493

0,312

-0,020

C = lt/dt

C*1.15

=D

-0,174

-0,098

-0,148

-0,210

-0,272

0,010

0,023

0,322

0,577

0,567

0,359

-0,023

D = lt/dt

D*1.1

=E

-0,191

-0,108

-0,163

-0,231

-0,299

0,011

0,026

0,354

0,634

0,624

0,395

-0,025

E = lt/dt

Et4 - Rh

=A = IR

-0,767

-0,317

-0,613

-0,984

-1,395

0,273

0,370

2,188

3,782

3,757

2,490

0,149

A = mm/hari

A*0.116

=B

-0,089

-0,037

-0,071

-0,114

-0,162

0,032

0,043

0,254

0,439

0,436

0,289

0,017

B = lt/dt

B*1.25

=C

-0,111

-0,046

-0,089

-0,143

-0,202

0,040

0,054

0,317

0,548

0,545

0,361

0,022

C = lt/dt

C*1.15

=D

-0,128

-0,053

-0,102

-0,164

-0,233

0,045

0,062

0,365

0,631

0,627

0,415

0,025

D = lt/dt

D*1.1

=E

-0,141

-0,058

-0,112

-0,180

-0,256

0,050

0,068

0,401

0,694

0,689

0,457

0,027

E = lt/dt

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

168

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI


Lanjutan 2 Tabel 4.41
TANAMAN JAGUNG

Pertumbuhan 2 minggu
V
ET ke 5

Pertumbuhan 2 minggu
VI
ET ke 6

JAN

FEB

MAR

APR

MEI

JUN

JUL

AGST

SEP

OKT

NOV

DES

KET

Et5 - Rh

=A = IR

-0,859

-0,408

-0,705

-1,076

-1,473

0,202

0,294

2,102

3,674

3,639

2,377

0,054

A = mm/hari

A*0.116

=B

-0,100

-0,047

-0,082

-0,125

-0,171

0,023

0,034

0,244

0,426

0,422

0,276

0,006

B = lt/dt

B*1.25

=C

-0,125

-0,059

-0,102

-0,156

-0,214

0,029

0,043

0,305

0,533

0,528

0,345

0,008

C = lt/dt

C*1.15

=D

-0,143

-0,068

-0,118

-0,179

-0,246

0,034

0,049

0,351

0,613

0,607

0,396

0,009

D = lt/dt

D*1.1

=E

-0,157

-0,075

-0,129

-0,197

-0,270

0,037

0,054

0,386

0,674

0,667

0,436

0,010

E = lt/dt

Et6 - Rh

=A = IR

-1,073

-0,621

-0,921

-1,292

-1,656

0,038

0,115

1,903

3,422

3,363

2,113

-0,170

A = mm/hari

A*0.116

=B

-0,125

-0,072

-0,107

-0,150

-0,192

0,004

0,013

0,221

0,397

0,390

0,245

-0,020

B = lt/dt

B*1.25

=C

-0,156

-0,090

-0,134

-0,187

-0,240

0,006

0,017

0,276

0,496

0,488

0,306

-0,025

C = lt/dt

C*1.15

=D

-0,179

-0,103

-0,154

-0,215

-0,276

0,006

0,019

0,317

0,571

0,561

0,352

-0,028

D = lt/dt

D*1.1

=E

-0,197

-0,114

-0,169

-0,237

-0,304

0,007

0,021

0,349

0,628

0,617

0,388

-0,031

E = lt/dt

(Sumber : Hasil Perhitungan)


Keterangan :
0,116 = Angka konversi dari (mm/hari) menjadi (liter/det)
1,25

= Kehilangan di saluran petak tersier 20 %

1,15

= Kehilangan di saluran petak sekunder 13,04 %

1,10

= Kehilangan di bendung bangunan bagi (saluran primer) 9,10 %

= Kehilangan di saluran tersier

= Kehilangan di saluran sekunder

= Kehilangan di saluran petak primer

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

169

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI


Tabel 4.42 Rotasi Teknis / Golongan

GOLONGAN A

GOL

BULAN

POLA

JAN

FEB

MAR

APR

MEI

JUN

LP

100% PADI

JUL

AGUST

100% PADI

SEPT

OKT

NOV

GOL A

LP

100% PALAWIJA

LP

KETERANGAN

DES

AWAL JAN

Bero

di Saluran Tersier (C)

1.076

1.076

1.099

1.099

1.140

1.176

1.161

0.953

0.989

0.989

1.095

1.123

0.656

0.750

0.365

0.090

0.308

0.501

0.545

0.528

0.306

0.000

1.224

1.066 LP = 30 hari

di Saluran Sekunder (D)

1.237

1.237

1.264

1.264

1.311

1.352

1.335

1.096

1.137

1.137

1.260

1.291

0.755

0.862

0.420

0.103

0.354

0.577

0.627

0.607

0.352

0.000

1.408

1.226 Pertumbuhan 90 hari

di Saluran Primer (E)

1.361

1.361

1.390

1.390

1.442

1.487

1.469

1.206

1.251

1.251

1.386

1.420

0.830

0.948

0.462

0.113

0.390

0.634

0.689

0.667

0.388

0.000

1.549

1.349

Kebutuhan Air (lt/dt/ha)


1 Sal Tersier
2 Sal Sekunder
3 Sal Induk

1.224
1.408
1.549

(lt/dt/ha)
(lt/dt/ha)
(lt/dt/ha)

(Sumber : Hasil Perhitungan)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

170

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

4.7.

Analisis Debit Andalan


Perhitungan debit andalan bertujuan untuk menentukan areal
persawahan yang dapat dialiri. Perhitungan ini menggunakan cara analisis
water balance dari Dr. F.J Mock berdasarkan data curah hujan bulanan,
jumlah hari hujan, evapotranspirasi dan karakteristik hidrologi daerah
pengaliran.
Perhitungan debit andalan dihitung seperti yang tersaji pada tabel
4.43. Debit andalan pada tahun berikutnya kami lampirkan pada lampiran
nantinya dan kami rekap pada tabel 4.44 sebagai berikut :

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

171

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI


Tabel 4.43 Perhitungan Debit Andalan Metode F.J. Mock Tahun 2000
Dasar
1 Curah Hujan (R)
2 Hari Hujan (n)
Limited Transpiration
3 Evapotranspiration (Ep)
4 Expose Surface(m)
5 (m/20)x(18-n)
6E
(3) X (5)
7 Et= Ep - E
(3) - (6)
Water Balance
8 S = R - Et
9 Soil Storage
10 Soil Moinsture
11 Water Surplus

(1) - (7)

(8) - (9)

Run Of dan Ground water Storage


12 Infiltrasi
(11) X I
13 0.5 x I ( 1 + k)
14 k x V ( n - 1)
15 Storage Vol Vn (13) + (14)
16 Vn - V(n-1)
17 Base Flow
(12) - (16)
18 Direct Run Of
(11) - (12)
19 Run Off
(17) + (18)
20 Luas CA
21 Debit
(19) - (20)
22 Debit
23 Debit

Unit
mm
hr

Jan

Feb

Maret

April

Mei

Juni

Juli

Agust

Septe

Oktob

Nop

Des

300,33

226,33

201,00

193,67

94,67

253,67

120,67

98,00

55,00

117,33

65,00

69,67

16

16

16

15

10

17

10

mm/bln

104,65

93,67

105,12

101,76

89,28

77,42

87,16

97,35

118,86

134,33

124,35

108,91

%
%
mm
mm

30,00

30,00

30,00

30,00

30,00

30,00

30,00

30,00

30,00

30,00

30,00

30,00

3,50

3,50

3,00

4,50

12,00

2,00

12,50

15,00

20,00

15,50

17,50

19,00

3,66

3,28

3,15

4,58

10,71

1,55

10,89

14,60

23,77

20,82

21,76

20,69

100,99

90,39

101,96

97,18

78,56

75,88

76,26

82,75

95,09

113,51

102,59

88,22

199,34

135,94

99,04

96,49

16,10

177,79

44,40

15,25

-40,09

3,83

-37,59

-18,55

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

-40,09

0,00

-37,59

-18,55

200,00

200,00

200,00

200,00

200,00

200,00

200,00

200,00

159,91

200,00

162,41

181,45

199,34

135,94

99,04

96,49

16,10

177,79

44,40

15,25

0,00

3,83

0,00

0,00

0,00

0,77

0,00

0,00

0,00

0,57

0,00

0,00

7,34

3,67

2,12

1,06

7,34

4,24

2,12

1,06

-7,34

-3,09

-2,12

-1,06

7,34

3,86

2,12

1,06

0,00

3,06

0,00

0,00

7,34

6,92

2,12

1,06

70,79

70,79

70,79

70,79

519.294,46

489.849,91

150.147,57

75.073,78

4.808,28

4.389,34

1.390,26

672,70

4,81

4,39

1,39

0,67

mm
mm
mm
mm

mm
39,89
27,20
19,82
19,31
3,22
35,58
8,88
3,05
29,92
20,40
14,86
14,48
2,42
26,68
6,66
2,29
mm
20,00
24,96
22,68
18,77
16,63
9,52
18,10
12,38
mm
49,92
45,36
37,54
33,25
19,04
36,20
24,77
14,67
mm
48,86
-4,56
-7,82
-4,29
-14,21
17,16
-11,44
-10,09
mm
-8,97
31,76
27,63
23,60
17,43
18,42
20,32
13,15
mm
159,45
108,74
79,22
77,18
12,88
142,21
35,52
12,20
mm
150,49
140,50
106,85
100,78
30,31
160,63
55,84
25,34
mm
70,79
70,79
70,79
70,79
70,79
70,79
70,79
70,79
km2
m3/bln 10.652.916,63 9.945.955,70 7.564.167,74 7.134.231,36 2.145.845,72 11.370.980,14 3.952.952,32 1.794.138,72
l/dt
95.456,24
95.267,77
67.779,28
66.057,70
19.228,01
105.286,85
35.420,72
16.076,51
m3/det
95,46
95,27
67,78
66,06
19,23
105,29
35,42
16,08

(Sumber : Hasil Perhitungan)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

172

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

Hasil perhitungan debit andalan tiap tahun (2000-2014) yang


disajikan pada tabel 4.43 dan lampiran direkapitulasi dan disajikan pada
tabel 4.44 berikut :

Tabel 4.44 Rekapitulasi Debit Andalan (Tahun 2000-2014)


APR

DEBIT ANDALAN (m3/det)


MEI
JUN
JUL AGST

SEP

OKT

NOP

DES

66.06

19.23

105.29

35.42

16.08

4.81

4.39

1.39

0.67

2.36

55.05

31.13

17.50

10.94

2.41

1.24

0.60

0.31

7.18

22.22

38.58

53.82

46.68

67.67

8.60

4.30

2.22

1.07

0.56

60.27

28.25

25.30

8.10

34.56

4.07

20.12

2.59

1.34

0.65

0.33

0.16

0.16

0.09

4.32

45.99

19.67

3.54

1.71

0.86

0.44

0.21

0.11

0.05

2005

50.80

45.07

32.88

49.95

52.06

7.46

19.24

3.18

1.64

0.80

5.25

34.93

2006

31.28

48.44

39.88

35.94

66.08

32.54

14.42

3.78

1.96

0.95

0.49

9.78

2007

59.96

78.11

100.00

109.94

78.48

121.14

59.52

41.31

8.75

4.23

2.19

38.33

2008

43.08

38.26

98.44

165.57

135.46

125.84

71.24

59.99

20.76

7.14

81.53

46.18

10

2009

56.04

66.23

104.80

39.32

73.48

19.49

5.81

2.90

1.50

0.73

0.37

43.80

11

2010

8.82

65.78

118.19

110.29

151.89

222.67

90.49

76.67

91.38

84.64

42.23

47.98

12

2011

136.78

48.08

96.63

95.46

83.65

37.19

40.02

7.03

3.63

1.76

26.21

90.99

13

2012

63.34

45.58

16.10

10.08

62.38

57.98

61.50

8.58

4.43

2.15

1.11

16.95

14

2013

15.04

1.68

9.15

16.98

62.11

19.22

145.14

14.55

7.52

3.64

29.57

11.91

15

2014

25.85

27.41

38.52

56.26

45.60

89.55

63.28

9.90

5.11

2.47

1.28

45.15

Rangking

Tahun

JAN

FEB

MAR

2000

95.46

95.27

67.78

2001

49.30

8.71

2002

53.83

2003

15.50

2004

6
7

(Sumber : Hasil Perhitungan)

Dari perhitungan debit andalan, yang akan digunakan adalah debit


andalan dengan kemungkinan tidak terpenuhi sebesar 20% atau
kemungkinan terpenuhi 80% dari data yang sudah diurutkan dari kecil ke
besar sebagaimana disajikan pada tabel 4.45. Rangking teresebut didapat
dengan rumus sebagai berikut:
= 0,20

) + 1 = 0,20

15) + 1

=4
Dimana :
m = Rangking
n = Jumlah data

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

173

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

Tabel 4.45 Penentuan Debit Andalan


DEBIT ANDALAN (m3/det)

Rangking

JAN

FEB

MAR

APR

MEI

JUN

JUL

AGST

SEP

OKT

NOP

DES

0.16

0.09

2.36

8.10

19.23

3.54

1.71

0.86

0.44

0.21

0.11

0.05

8.82

1.68

4.32

10.08

19.67

4.07

5.81

2.41

1.24

0.60

0.31

0.16

15.04

8.71

9.15

16.98

31.13

7.46

8.60

2.59

1.34

0.65

0.33

0.67

15.50

22.22

16.10

35.94

34.56

17.50

10.94

2.90

1.50

0.73

0.37

7.18

25.85

27.41

25.30

39.32

45.60

19.22

14.42

3.18

1.64

0.80

0.49

9.78

31.28

28.25

32.88

45.99

46.68

19.49

19.24

3.78

1.96

0.95

0.56

11.91

43.08

38.26

38.52

49.95

52.06

32.54

20.12

4.30

2.22

1.07

1.11

16.95

49.30

45.07

38.58

53.82

62.11

37.19

35.42

7.03

3.63

1.76

1.28

34.93

50.80

45.58

39.88

55.05

62.38

57.98

40.02

8.58

4.43

2.15

1.39

38.33

10

53.83

48.08

67.78

56.26

66.08

67.67

59.52

9.90

4.81

2.47

2.19

43.80

11

56.04

48.44

96.63

66.06

73.48

89.55

61.50

14.55

5.11

3.64

5.25

45.15

12

59.96

65.78

98.44

95.46

78.48

105.29

63.28

16.08

7.52

4.23

26.21

46.18

13

63.34

66.23

100.00

109.94

83.65

121.14

71.24

41.31

8.75

4.39

29.57

47.98

14

95.46

78.11

104.80

110.29

135.46

125.84

90.49

59.99

20.76

7.14

42.23

60.27

15

136.78

95.27

118.19

165.57

151.89

222.67

145.14

76.67

91.38

84.64

81.53

90.99

10

11

12

(Sumber : Hasil Perhitungan)


40.00
35.00

Debit(m/det)

30.00
25.00
20.00
15.00
10.00
5.00

0.00
0

Bulan

Gambar 4.11. Grafik Debit Andalan


( Sumber : Hasil Perhitungan)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

174

BAB IV. ANALISIS HIDROLOGI DAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI


Tabel 4.46 Perhitungan Neraca Air

Kebutuhan
Air
Ketersediaan
Air

JAN

FEB

MAR

APR

MEI

JUN

JUL

AGUST
I
II

SEPT
II

OKT
II

NOV
II

II

II

II

II

II

II

II

2.99

2.99

3.06

3.06

3.17

3.27

3.23

2.65

2.75

2.75

3.05

3.12

1.83

2.09

1.02

0.25

0.86

1.40

1.52

1.47

0.85

7.75

7.75

11.11

11.11

8.05

8.05

17.97

17.97

17.28

17.28

8.75

8.75

5.47

5.47

1.45

1.45

0.75

0.75

0.36

0.36

0.19

DES
I

II

0.00

3.41

2.97

0.19

3.59

3.59

(Sumber : Hasil Perhitungan)


20.00
18.00
16.00
14.00

Q (m/det)

URAIAN

Kebutuhan Air (m3/det)


12.00

10.00

Ketersediaan Air (m3/det)

8.00
6.00
4.00
2.00
0.00
JAN

FEB

MAR

APR

MEI

JUN

JUL

AGUST

SEPT

OKT

NOV

DES

Bulan

Gambar 4.12. Grafik Hubungan Q Debit Andalan dan Q Kebutuhan Air


( Sumber : Hasil Perhitungan)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

175

LAPORAN TUGAS AKHIR


PERENCANAAN BENDUNG TONGGAUNA KABUPATEN
KOLAKA TIMUR, SULAWESI TENGGARA
(Design of Tonggauna Weir at Kolaka Timur,
Southeast Sulawesi)

BAB V
ANALISIS HIDROLIS DAN
STRUKTUR BENDUNG

UNDIP KEMENPUPERA

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

BAB V
ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG
5.1.

Uraian Umum
Analisis hidrolis bertujuan untuk menentukan elevasi mercu
bendung yang meliputi penentuan elevasi muka air di saluran primer, beda
tinggi energi di kantong lumpur, beda tinggi energi di saluran pembilas dan
elevasi intake, sehingga didapatkan desain yang sesuai dengan data data
yang ada dan memenuhi syarat. Analisis struktur bendung bertujuan untuk
mendapatkan desain bangunan utama bendung yang meliputi dimensi mercu
bendung, lebar bendung, kolam olak serta tebal dan panjang lantai muka.

5.2.

Data Teknis Perencanaan


Adapun data teknis yang diperlukan untuk mendesain bendung dan
bangunan pelengkap secara umum adalah sebagai berikut :
Lokasi rencana BM.1 Bendung, ditetapkan dari peta situasi berada
pada kordinat:
X = +329.540,000
Y = +9.619.134,000
Z = +397,138
Titik BM (Bench Mark) bendung digunakan sebagai titik acuan
perencanaan bendung dan bangunan pelengkapnya. Titik tersebut
dinamakan titik Patok A.64, untuk perencanaan bendung diperlukan
potongan melintang titik Patok A.64 tersebut. Potongan melintang titik
Patok A.64 dapat dilihat pada Gambar 5.1.
Dari Gambar 5.1 dapat ditentukan data sebagai berikut :
Elevasi dasar sungai pada bendung = +395,00 m
Lebar muka air sungai saat banjir

= 32,58 m

Lebar dasar sungai

= 14,20 m

Sedangkan data lain untuk perencanaan struktur bendung adalah


sebagai berikut :
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

176

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG


Kemiringan sungai rata-rata

= 0,0155

Debit banjir rencana Q100

= 231,156 m3/det
32,58 m

MAB + 398,000

A.64

BIDANG PERSAMAAN
+ 385,000 M
G

A.64

2
11,40

JARAK LANGSUNG

29,80

23,60

19,20

17,80

9,80

3,60

2,40

13,40

24,80

ELEVASI

398,000

13,40

397,138

2,40

397,016

1,20

395,000

6,20

395,276

8,00

396,225

1,40

397,815

4,40

398,995

6,20

398,593

JARAK

398,823

PATOK

POTONGAN MELINTANG PATOK A.64


SKALA : V = 1 : 100 , H = 1 : 100

Gambar 5.1. Potongan Melintang Sungai di As Bendung


( Sumber : Feasibility Study Daerah Irigasi Tonggauna Kabupaten Kolaka)
5.3.

5.3.1.

Analisis Hidrolis dan Desain Bangunan Pelengkap

Desain Saluran Primer


Saluran primer adalah saluran yang terhubung langsung dengan
intake bendung dan memanjang sampai bangunan bagi yang merupakan
pertemuan saluran primer dengan saluran sekunder. Saluran primer
dilengkapi dengan pintu yang berfungsi untuk mengukur dan mengatur
debit yang masuk ke saluran primer. Pintu tersebut juga berfungsi
mencegah air yang mengandung sedimen masuk ke saluran primer disaat
proses pembilasan.
Data yang diperlukan untuk perencanaan saluran primer adalah
sebagai berikut :
1.

Kebutuhan air irigasi dan luas area yang akan dialiri


Kebutuhan air irigasi (Tabel 4.41)

= 1,549 lt/det

Luas daerah yang dialiri

= 2200 ha

Debit saluran primer (Qprimer)


Qprimer = Kebutuhan Air x Luas Daerah
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

177

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG


Qprimer = 1,549 x 2200 = 3407,80 lt/det = 3,408 m3/det
2.

Muka air rencana


Elevasi sawah tertinggi

= +396,50

Tinggi genangan air di sawah

= +

0,10

= +

0,10

= +

0,10

= +

0,10

Kehilangan energi di intake

= +

0,10

Kehilangan energi pada bangunan

= +

0,10

Kehilangan energi pada kantong lumpur

= +

0,10

Kehilangan energi akibat pintu pembilas

= +

0,10

Kehilangan energi saluran tersier


ke sawah (diambil)
Kehilangan energi saluran sekunder
ke saluran tersier (diambil)
Kehilangan energi saluran primer ke
saluran sekunder (diambil)

Elevasi muka air di hilir saluran primer

= +397,30 m

Debit yang direncanakan akan melewati saluran sebesar 3,408


m3/det maka sesuai dengan Tabel 2.15 pada saluran dengan Q =
3,00 ~ 4,50 m3/det digunakan tinggi jagaan sebesar 0,60 m.
Jadi elevasi tanggul di hilir saluran primer = +397,30 + 0,6 =
+397,90 m.
3.

Desain Saluran Primer


Diketahui :
Qprimer = 3,408 m3/det
m = 1,50
Vrencana = 1,00 m/det
Panjang saluran (L) = 300 m
Nilai Koefisien Strickler untuk pasangan batu seluruhnya = 50
(Tabel 2.14)
Misalkan b = 2h
Perhitungan dimensi saluran primer :

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

178

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

Q=V*A
A = (b + m.h)h = (2h + 1,5*h)h = 3,5h2
3,408 = 1*3,5h2
h = 0,987 m
b = 2h = 2 x 0,987 = 1,97 m 2,00 m
A = 3,5h2 = 3,5 x 0,9872 = 3,434 m2
P = b + 2 * h + 1 = 2h + 2 * h 1,5 1,5 + 1 = 5,606h
P = 5,606 h = 5,606 x 0,987 = 5,558 m
R=

3,434
=
= 0,618 m
5,558

Qprimer = k * R2/3 * I1/2 * A


3,408 = 50 * (0,618)2/3 * I1/2 * 3,434

I1/2 = 2/3
I = 0,00075
Elevasi muka air di hulu saluran primer = Elevasi muka air di hilir
saluran primer + Kemiringan saluran x Panjang saluran = +397,30
+ 0,00075 x 300 = +397,52 m
Elevasi dasar saluran di hulu saluran primer = Elevasi muka air di
hulu saluran primer Tinggi air di saluran = +397,52 0,987 =
+396,54 m
+ 398,12 m
+ 397,52 m
,5

,5

Q = 3,408 m/det

:1

:1

0.30
1

+ 396,54 m

2.00
Gambar 5.2 Dimensi Saluran Primer Pada Bagian Hulu
( Sumber : Hasil Perhitungan )

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

179

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

5.3.2.

Ambang Lebar
Ambang lebar merupakan alat ukur yang memerlukan alat
pengatur, alat pengatur ini berupa pintu sorong. Sebetulnya pintu sorong
juga dapat digunakan sebagai alat ukur, namun bukaan pintu ini dibawah
sehingga sering tertutup oleh sampah atau kotoran sehingga menjadi tidak
akurat ukurannya. Jika digunakan ambang lebar, maka pintu sorong
tersebut digunakan sebagai pengatur bukaan saja. Alat ukur ambang lebar
ini sangat baik untuk mengukur debit dan dianjurkan untuk dipakai karena
konstruksinya kokoh dan mudah dibuat.
Q = 1,71 B.H3/2
Dimana
Q = Debit yang lewat pintu (m/det) = 3,408 (m/det)
B = Lebar ambang (m) = 2,00 m
H = Tinggi air diatas ambang (m)
Sehingga :
Q

= 1,71 x B x H3/2

3,408 = 1,71 x 2,00 x H3/2


3

3,408
= 0,996 m
1,71 2,00

H2

= 0,997 m = 1,00 m

Elevasi muka air di hulu saluran primer


= +397,52 m
Elevasi dasar saluran primer di hulu
= +396,54 m
Elevasi ambang lebar
= +396,54 + tinggi ambang
= +396,54 + 0,20
= +396,74 m
Elevasi muka air diatas ambang
= +396,74 + h
= +396,74 + 1,00 = +397,74 m
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

180

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

5.3.3.

Desain Kantong Lumpur


Dalam perencanaan kantong lumpur pada Jaringan Irigasi
Tonggauna ini, kebutuhan pengambilan rencana (Qn) adalah 3,408 m/det.
Sedangkan debit untuk pembilasan kantong lumpur (Qs) yaitu 120% dari
kebutuhan pengambilan pelaksanaan.
Qn = 4,089 m3/det
Qs = 120% x Qn = 120% x 4,089 = 4,907 m3/det
Saluran kantong lumpur direncanakan sebagai berikut :
- Kemiringan talud = 1 : 1,5
- Lebar dasar saluran selebar saluran induk (B) = 7,00 m
w

hn

hs

Gambar 5.3 Sketsa Potongan Melintang Kantong Lumpur


Rumus :
= k x Rn2/3 x In1/2
= Vn x An
Dimana :
Vn

= Kecepatan rata-rata selama eksploitasi normal = 0,40 m/det.

= Koefisien strickler untuk pasangan batu seluruhnya = 50 (Tabel


2.14)

Maka :
- Luas penampang basah (An)
=

4,089
=
= 10,22 m2

0,40

= ( + )
10,22 = (7,00 + 1,5 )
10,22 = 7 + 1,5 2
Dengan metode coba-coba diperoleh hn = 1,17 m
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

181

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

- Keliling basah (Pn)


Pn = B + 2 * hn + 1
= 7,00 + 2 * 1,171,5 1,5 + 1
= 11,21 m
- Jari-jari hidrolis (Rn)
=

10,22
=
= 0,91
11,21

- Kemiringan energi (In)


2

= (

2
3

) =(

0,40
2
0,913

) = 7,24 x 105
50

= 0,0000724

w = 0.60 m

hn = 1.17 m

B = 7.00 m

Gambar 5.4 Potongan Melintang Kantong Lumpur dalam keadaan


penuh pada Qn.
( Sumber : Hasil Perhitungan)

- Perhitungan Is, kemiringan energi saat pembilasan (Kantong lumpur


kosong)
a. Nilai kecepatan saat pembilasan (Vs) diambil sebesar 1,5 m/det,
karena dianggap sedimen berupa pasir kasar.
b. Koefisien Strickler (k) untuk pasangan batu di kedua sisi = 45 (Tabel
2.14). Digunakan pasangan batu di kedua sisi dengan menganggap
bagian bawah saluran terisi lumpur.
c. Debit pembilasan (Qs) = 4,907 m3/det
d. Luas kantong lumpur saat kosong
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

182

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

4,907
=
= 3,27 m2

1,5

e. Tinggi endapan kantong lumpur (hs)


=

3,27
=
= 0,47 m

7,00

f. Keliling basah dalam keadaan kosong (Ps)


= + 2
= 7,00 + 2 0,47 = 7,93 m
g. Jari-jari hidrolis dalam keadaan kosong (Rs)
=

3,27
=
= 0,41
7,93

h. Kemiringan energi dalam keadaan kosong (is)


2

2
1,5
) = 0,0036
= ( 2/3 ) = (
0,412/3 45

i. Agar pembilasan dapat dilakukan dengan baik, v aliran harus dijaga


agar tetap subkririts atau Fr < 1
=

1,5
9,81 0,47

= 0,701 OK

w = 0.60 m

hn = 1.17 m

hs = 0.47 m
B = 7.00 m

Gambar 5.5 Potongan Melintang Kantong Lumpur dalam keadaan


kosong pada Qs.
( Sumber : Hasil Perhitungan)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

183

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

Gambar 5.6 Diagram Shield


( Sumber : Hasil Perhitungan)

Diameter yang dapat terbilas.

= g hs Is = 1 x 9,80 x 0,47 x 0,0036 = 16,58 N/m.


Menurut gambar 5.61 dengan = 16,58 N/m, diperoleh diameter
partikel < 17 mm dapat terbilas.
- Perhitungan panjang kantong lumpur

hn = 1,17 m
Vn = 0,40 m/det
Di Indonesia dipakai suhu air 200C dan dengan mengasumsikan
partikel sebesar 70 m (70 x 10 -6 m), dengan memakai grafik Shields
didapat kecepatan endap w = 0,004 m/det.
Sehingga :
=


1,17 0,40
=
= 116,80

0,004

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

184

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

Volume kantong lumpur (V)


V = 0,0005 x Qn x T
V = 0,0005 x 4,089 x 7 x 24 x 3600
V = 1.236,62 ~ 1.237,00 m3
V = 0,50 x B x L + 0,50 (is in) L2B
1.237 = 0,50 x 7,00 x L + 0,50 x (0,0036 0,0000724)L2 x 2
1.237= 3,50L + 0,012L2 ; dengan cara coba-coba diperoleh nilai L
L = 205,00 m > 116,80 m OK

Elevasi di saluran kantong lumpur


Elevasi muka air di hilir saluran kantong lumpur
= +397,74 m
Elevasi muka air di hulu saluran kantong lumpur
= +397,74 + (L x in)
= +397,74 + (205 x 0,0000724)
= +397,75 m
Elevasi lumpur di hulu saluran (saat penuh)
= +397,75 1,17
= +396,59 m
Elevasi hulu dasar saluran kantong lumpur
= +396,59 0,47
= +396,12 m
Elevasi lumpur di hilir saluran (saat penuh)
= +396,59 (L x in)
= +396,59 (205 x 0,0000724)
= +396,57 m
Elevasi hilir dasar saluran kantong lumpur
= +396,12 (L x is)
= +396,12 (205 x 0,0036)
= +395,38 m

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

185

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

+397,75 m

+397,74 m

+396,59 m

+396,57 m

+396,12 m
+395,38 m

205,00 m

Gambar 5.7 Potongan Memanjang Kantong Lumpur


( Sumber : Hasil Perhitungan)

5.3.4.

Desain Bangunan Penguras


Bangunan penguras merupakan bangunan yang digunakan untuk
mengalirkan endapan yang tertampung di dalam kantong lumpur. Hal-hal
yang perlu diperhatikan dalam perencanaan bangunan penguras adalah
sebagai berikut :
Pintu penguras tidak boleh mengalami gangguan pada saat pengurasan,
oleh karena pintu penguras tidak boleh tertutup sedimen.
Tidak diperbolehkan terjadi penurunan kecepatan aliran saat
pengurasan, oleh karena itu kemiringan saluran dibuat sedemikian rupa
sehingga tidak terjadi pengurangan kecepatan aliran.
Lebar total bangunan sama dengan lebar dasar kantong lumpur.
1.

Data perencanaan bangunan penguras


Qs = 4,907 m3/det
hs = 0,381 m
b = 7,00 m
Direncanakan pintu penguras dengan lebar = 1,75 m
Digunakan pilar dengan lebar = 0,875 m
Kecepatan saat pengurasan (Vf) diambil sebesar 1,5 m/det (karena
dianggap sedimen berupa pasir kasar)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

186

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG


Untuk mengurangi besarnya pertambahan kecepatan yang
mengakibatkan efek penggenangan maka perlu ditambah luas
basah pada pintu penguras dengan perhitungan sebagai berikut :
Rumus : b x hs = bnf x hnf
Di mana :
bnf

= Lebar bersih bukaan pintu (m)

bnf

= Jumlah pintu penguras x Lebar pintu


= 3 x 1,75
= 5,25 m

hnf

= Kedalaman air pada bukaan penguras (m)

b x hs = bnf x hnf
7,00 x 0,47 = 5,25 x hnf
hnf = 0,63 m
Jadi kedalaman tambahan sebesar 0,63 0,47 = 0,16 m. untuk
keamanan harus ditambah 0,47 m dari dasar penguras.
2.

Dimensi saluran penguras


B/H (n)

= 2,80

Talud (m)

= 1 : 1,5

Jagaan (W)

= 0,6 m

Lebar dasar saluran :


Luas bukaan pintu (Af) = Luas saluran penguras
bnf x hnf

= (B + H) H

5,25 x 0,63

= (2,8H + H) H

3,307

= 3,8H2

H = 0,93 m
B = 2,8 H = 2,60 m

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

187

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG


0.60
1

,5

:1
,5

:1

0.93

2.60

Gambar 5.8 Potongan Melintang Saluran Penguras


( Sumber : Hasil Perhitungan)
Kemiringan saluran penguras
Vf = ks x Rf2/3 x If1/2
k = Koefisien Strickler untuk saluran penguras = 33 (Tabel 2.14)
Af = (B + H)H = (2,60 + 0,93) x 0,93 = 3,27 m2
Pf = B + 2 x H + 1 = 2,60 + 2 x 1 1,5 x 1,5 + 1
= 5,38 m

3,27

= = 5,38 = 0,61

Vf = k x Rf2/3 x If1/2
1,50 = 33 x 0,612/3 x If1/2
If = 0,0040
Panjang saluran penguras sampai ke sungai direncanakan 50 m.
Elevasi dasar di hulu pintu penguras

= +395,38 m

Elevasi dasar pintu penguras


= +395,38 - tambahan kedalaman
= +395,38 - 0,47
= +394,91 m
Elevasi muka air di hilir saluran kantong lumpur
= +397,74 m
Elevasi muka air di hulu saluran penguras
= +394,91 + 0,93
= +395,84 m
Elevasi muka air di hilir saluran penguras
= +395,84 (L x If)
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

188

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG


= +395,84 (50 x 0,0040)
= +395,64 m
Elevasi dasar di hilir saluran penguras
= +395,64 0,93
= +394,71 m
3.

Elevasi saluran penguras


Untuk menjamin terjaminnya pengurasan dan agar air sungai
tidak masuk ke kantong lumpur menurut KP 02 disyaratkan elevasi
dasar saluran pembilas di pertemuan dengan sungai harus lebih tinggi
dari elevasi air banjir sungai dengan debit rencana lima tahunan (Q5).

Gambar 5.9. Sket Pertemuan Sungai dengan Saluran Bilas


( Sumber : Salamun, 2007)

Q 5 tahun (Haspers) = 186,197 m/det (Tabel. 4.33)


R

= 58,30 mm
= 0,058 m

B eff = 27,50 m
Perhitungan :
=

5
186,197
=
= 6,77

27,50

Q = A.V
Mencari nilai V
= . .
=
=

87

1+

87
1,00
0,058

1+

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

189

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

= 16,89 /
= . .
= 16,89. 0,058 .0,0155
= 0,506 m/det
Q =AxV
=

6,77
=
= 13,38 2

0,506

A = (b + mh) h
A = (2h + mh) h
13,38 = (2h + h) h
13,38 = 3h
h = 2,11 m

+397,74 m

+395,84 m

+395,64 m

+395,38 m
+394,91 m

+394,71 m

Dasar saluran kantong lumpur

+393,93 m
50,00 m
Dasar Sungai = +391,82 m

Gambar 5.10 Potongan Memanjang Saluran Penguras


( Sumber : Hasil Perhitungan)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

190

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

5.3.4.1.

Dimensi Balok Penguras


Tebal papan kayu = 2 cm
kayu jati klas 2 = 800 kg/cm
= 1 t/m = 0,001 kg/cm

+397.74 m

2.36 m

+395.38 m

Gambar 5.11 Sket Pintu Penguras untuk Perhitungan Tekanan


pada Balok Kayu
( Sumber : Hasil Perhitungan)
1

P (tekanan) = 2 . w . H
1

= 2 . 1 t/m . (0,2 m)
= 0,02 t/m = 0,002 kg/cm
Momen yang timbul = 1/8 q.l
= 1/8. 0,02 t/m . (1,75 m)
= 0,0076 tm
W (momen kelembaban) = 1/6.t.h
Dimana h adalah lebar kayu yang ditinjau 20 cm
W = 1/6 . t.20 cm
W = 3,33 t cm
Menentukan tebal pintu :
ijin kayu =

M
W

800 kg/cm =

760 kgcm
3,333t cm

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

191

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

800 kg/cm =

760 kg
3,333t

2666t kg/cm = 760 kg


t2 = 0,285 cm2
t = 0,53 cm = 2,00 cm
Sehingga ukuran kayu yang digunakan 2/20
W (momen kelembaban) = 1/6.t.h
= 1/6 . (2 cm). (20 cm)
= 13,333 cm
Tegangan :

760
=

13,333
=

57,00 kg/cm 800,00 kg/cm

5.3.4.2.

Dimensi Stang Pengangkat Pintu Penguras


+397.74 m

P1

2.36 m

+395.38 m

Gambar 5.12

Sket pintu penguras untuk perhitungan stang


pengangkat pintu
( Sumber : Hasil Perhitungan)

Lebar pintu

= 1,75 m

Diameter(d)

= 3 cm

Tinggi pintu (hp) = 2,36 m


F stang = . . d
= . 3,14 . (3 cm)
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

192

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

= 7,065 cm
1

Momen inersia (I) = 64 . 4


1

= 64 . 3,14 . (3 )4
= 3,974 cm4
Tekanan (P1)

= h1 . w
= 2,36 m . 1 t/m
= 2,36 t/m
= 2360 kg/m

Tekanan air

= .P1 . (lebar pintu . h pintu)


= 2360 kg/m . (1,75 . 2,36 m)
= 4873,4 kg

Akibat gaya tekan pintu bergerak ke atas


Berat stang

= 2. F stang . (h pintu) . berat jenis baja


= 2. 0,0007065 m . 2,36 m . 7800 kg/m
= 26,01 kg

Berat daun pintu = h pintu . lebar pintu . tebal pintu . berat


jenis kayu
= 2,36 m . 1,75 m . 0,02 m . 800 kg/m
= 66,08 kg
Berat sambungan = 20% . berat daun pintu
= 20% . 66,08 kg
= 13,22 kg
Berat total pintu (G1) = 26,01 + 66,08 + 13,22
= 105,31 kg
Koefisien gesek baja alur dengan pintu (f) = 0,4
Gaya gesek = 0,4 . tekanan air
= 0,4 . 4873,4
= 1949,36 kg
Total (G) = G1 + gaya gesek
= 105,31 g + 1949,36 kg
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

193

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

= 2054,67 kg
Kontrol terhadap tegangan ()
=

2054,67
< = 290,824 /
7,065

= 290,824 / < = 1400 / (aman)

Gambar 5.13 Detail Stang Pengangkat Pintu Penguras


( Sumber : Hasil Perhitungan)

Akibat gaya tekan pintu bergerak turun


Jumlah gaya (PK) = (gaya gesek G1)
= (1949,36 kg 105,31 kg)
= 1844,05 kg
Rumus Euler
=

..
.

Dimana:
E baja = 2,1x106 N/mm
I

= 3,974 4

LK

= panjang tekuk
= 0,5 . L . 2
= 0,5 . 2,36 m . 2
= 1,67 m

Kontrol terhadap gaya tekuk


Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

194

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

= .
.
=

1844,05 . 1,67

<I
3,142 . 2,1.106 /

= 5142,87 107
20705160 / < I
= 2483,86 mm4 < 7,948 cm4 (aman)
= 0,248 cm4 < 7,948 cm4 (aman)

5.3.5.

Bangunan Pengambilan
Air yang dibutuhkan untuk irigasi sebesar (Qp) 3,807 m3/det.
Dengan adanya kantong lumpur, debit rencana pengambilan ditambah
20% dari kebutuhan pengambilan.
Perencanaan bangunan pengambilan
Qn = 1,2 x Qp
Qn = 1,2 x 3,408 = 4,089 m3/det
Kecepatan pengambilan (V) = 1,5 m/det
Kehilangan tinggi energi pada bukaan = 0,16 m
Elevasi dasar bangunan pengambilan sebaiknya 0,20 m diatas muka
kantong lumpur dalam keadaan penuh. (Standar Perencanaan Irigasi
KP-02, Bangunan Utama)
Rumus :
= . 2 . .
= . .
= . . 2 . .
Dimana :
Qn = debit rencana = 4,089 m3/det

= koefisien debit = 0,8 (untuk pengambilan tenggelam)

= tinggi bersih bukaan (m)

= lebar pintu pengambilan (asumsi awal = 3,00 m)

= percepatan gravitasi = 9,81 m/det2

= kehilangan energi pada bukaan, diambil 0,16

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

195

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

= . . 2 . .
4,089 = 0,8 . .3,002 . 9,81 . 0,16
a (tinggi bersih bukaan) = 0,96 m
Elevasi pada bangunan
Elevasi dasar hilir saluran pengambilan saat kantong lumpur penuh
= +396,59 m
Elevasi dasar bangunan pengambilan
= +396,59 + 0,2
= +396,79 m
Elevasi muka air di hilir pintu
= +396,79 + 0,96
= +397,75 m
Elevasi muka air di hulu pintu
= +397,75 + 0,16
= +397,91 m
Lebar pintu
= . . 2 . .
4,089 = 0,8 . 0,96 . 2 . 9,81 . 0,16
b = 3,00 m digunakan 2 pintu dengan lebar pintu 1,50 m
Lebar total saluran pengambilan
Lebar total = (jml pintu 1) x lebar pilar + jml pintu x lebar pintu
= (2 1) x 0,50 m + 2 x 1,50 m = 0,50 + 3,00 = 3,50 m
Pintu Pengambilan

+397.91 m
z = 0,16 m

+397.75 m

a = 0,96 m

+396.79 m

+396.59 m
+396.12 m

Dasar Sungai

Dasar saluran kantong lumpur

+395.00 m

Gambar 5.14 Potongan Melintang Pintu Pengambilan


( Sumber : Hasil Perhitungan)
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

196

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

5.3.5.1.

Dimensi Balok Pengambilan


Tebal papan kayu = 2 cm
kayu jati klas 2 = 800 kg/cm
= 1 t/m = 0,001 kg/cm

Gambar 5.15 Sket Pintu Pengambilan untuk Perhitungan


Tekanan pada Balok Kayu
( Sumber : Hasil Perhitungan)
1

P (tekanan) = 2 . w . H
1

= 2 . 1 t/m . (0,2 m)
= 0,02 t/m = 0,002 kg/cm
Momen yang timbul = 1/8 q.l
= 1/8. 0,02 t/m . (1,50 m)
= 0,0056 tm
W (momen kelembaban) = 1/6.t.h
Dimana h adalah lebar kayu yang ditinjau 20 cm
W = 1/6 . t.20 cm
W = 3,33 t cm
Menentukan tebal pintu :
ijin kayu =

M
W

800 kg/cm =

560 kgcm
3,333t cm

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

197

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

800 kg/cm =

560 kg
3,333t

2666t kg/cm = 560 kg


t2 = 0,210 cm2
t = 0,46 cm = 2,00 cm
Sehingga ukuran kayu yang digunakan 2/20
W (momen kelembaban) = 1/6.t.h
= 1/6 . (2 cm). (20 cm)
= 13,333 cm
Tegangan :

560
=

13,333
=

42,00 kg/cm 800,00 kg/cm

5.3.5.2.

Dimensi Stang Pengangkat Pintu Pengambilan


MAB +399.74 m

+397.91 m

P2
1.12
P1
+396.79 m

Dasar Sungai

Gambar 5.16

+395.00 m

Sket Pintu Pengambilan untuk Perhitungan Stang


Pengangkat Pintu
( Sumber : Hasil Perhitungan)

Lebar pintu

=1 m

Diameter(d)

= 3 cm

Tinggi pintu (hp) = 1,12 m


Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

198

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG


F stang = . . d
= . 3,14 . (3 cm)
= 7,065 cm
1

Momen inersia (I) = 64 . 4


1

= 64 . 3,14 . (3 )4
= 3,974 cm4
Tekanan (P1)

= h1 . w
= 2,95 m . 1 t/m
= 2,95 t/m
= 2950 kg/m

Tekanan (P2)

= h2 . w
= 1,12m . 1 t/m
= 1,12 t/m
= 1120 kg/m

Tekanan air

= . (P1+P2) . (lebar pintu . h pintu)


= (2950 + 1120) kg/m . (1,50 . 1,12 m)
= 3.418,8 kg

Akibat gaya tekan pintu bergerak ke atas


Berat stang

= 2. F stang . (h pintu) . berat jenis baja


= 2. 0,0007065 m . 1,12 m . 7800 kg/m
= 12,34 kg

Berat daun pintu = h pintu . lebar pintu . tebal pintu . berat


jenis kayu
= 1,12 m . 1,5 m . 0,02 m . 800 kg/m
= 26,88 kg
Berat sambungan = 20% . berat daun pintu
= 20% . 26,88 kg
= 5,376 kg
Berat total pintu (G1) = 12,34 + 26,88 + 5,376
= 44,60 kg
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

199

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

Koefisien gesek baja alur dengan pintu (f) = 0,4


Gaya gesek = 0,4 . tekanan air
= 0,4 . 3418,8
= 1367,52 kg
Total (G) = G1 + gaya gesek
= 44,60 kg + 1367,52 kg
= 1412,12 kg
Kontrol terhadap tegangan ()
=

1412,12
< = 199,875 /
7,065

= 199,875 / < = 1400 / (aman)

Gambar 5.17 Detail Stang Pengangkat Pintu Pengambilan


( Sumber : Hasil Perhitungan)

Akibat gaya tekan pintu bergerak turun


Jumlah gaya (PK) = (gaya gesek G1)
= (1367,52 kg 44,60 kg)
= 1322,92 kg
Rumus Euler
=

..
.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

200

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

Dimana:
E baja = 2,1x106 N/mm
I

= 3,974 4

LK

= panjang tekuk
= 0,5 . L . 2
= 0,5 . 1,12 m . 2
= 0,79 m

Kontrol terhadap gaya tekuk


I

= .
.
=

1322,92 . 0,79

<I
3,142 . 2,1.106 /

= 825,634 107
20705160 / < I
= 398,76 mm4 < 7,948 cm4 (aman)
= 0,04 cm4 < 7,948 cm4 (aman)

5.4.

5.4.1.

Analisis Struktur Bendung

Analisis Letak Bendung


Penentuan lokasi bendung harus diperhitungkan secara matang.
Mengingat pentingnya penentuan lokasi bendung terhadap optimasi biaya
yang dikeluarkan dan manfaat yang diberikan, maka dipilih lokasi
bendung di Desa Tonggauna, Kecamatan Uesi, Kabupaten Kolaka Timur
dengan pertimbangan:
a. Pada as bendung rencana memiliki elevasi dasar sungai +395,00 (titik
A.64) dan di lokasi 50 m kearah hulu elevasi dasar sungai + 396,32
(titik A.65) dan di lokasi 50 m ke arah hilir elevasi dasar sungai +394,97
(titik A.63). Berdasarkan data tersebut dapat dikatakan kemiringan
dasar sungai disekitar lokasi bendung cenderung seragam, karena
sebaiknya bendung ditempatkan pada ruas sungai yang perubahan dasar
sungainya tidak mencolok (Suyono Sosrodarsono, 1994).

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

201

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

b. Kondisi tanah di lokasi bendung rencana adalah tanah keras dengan


daya dukung 1,13 kg/cm2, karena bendung harus di tempatkan di lokasi
di mana tanah pondasinya cukup baik sehingga bangunan akan stabil
(Suyono Sosrodarsono, 1994).
c. Letaknya tidak terlalu jauh dari sawah yang akan dialiri, sehingga
saluran irigasi yang dibutuhkan tidak terlalu panjang. Hal ini akan
menghemat biaya yang akan dikeluarkan.

5.4.2.

Analisis Muka Air Sungai di Hilir Bangunan Bendung


Diketahui :
Debit banjir rencana (Q100)

= 231,16 m3/det

Lebar sungai

= 27,50 m

Kemiringan sungai rata-rata

= 0,0155

Perhitungan dilakukan dengan cara sebagai berikut :


Dengan mengasumsikan penampang profil sungai pada bagian hilir
berbentuk trapesium dapat dihitung luas basah dan keliling basah
kemudian dapat ditentukan ketinggian muka air banjir berdasarkan debit
rencana dengan periode ulang 100 tahun.
Rumus :
=

1
x 2/3 x 1/2 x A

= ( + . ).
= + 2 . . 2
=

n = koefisien Manning = 0,025

Tabel 5.1 Perhitungan Tinggi Air di Hilir Bendung


H
B
A
P
R
V
Q
i
n
M
m
m
m
m
m/det m3/det
1.3400 27.50 38.65 31.29 1.2351 0.0155 0.025 5.733 221.54
1.3500 27.50 38.95 31.32 1.2436 0.0155 0.025 5.759 224.30
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

202

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

Lanjutan Tabel 5.1.


H
B
A
M
m
m
1.3600 27.50 39.25
1.3700 27.50 39.55
1.3747 27.50 39.69
1.3800 27.50 39.85
1.3900 27.50 40.16
(Sumber : Perhitungan)

P
m
31.35
31.37
31.39
31.40
31.43

R
m
1.2521
1.2606
1.2646
1.2691
1.2776

0.0155
0.0155
0.0155
0.0155
0.0155

0.025
0.025
0.025
0.025
0.025

V
m/det
5.785
5.811
5.824
5.838
5.864

Q
m3/det
227.07
229.85
231.16
232.65
235.46

Jadi tinggi air banjir rencana di hilir bendung adalah 1,375 m.


Elevasi muka air di hilir bendung
= elevasi dasar sungai bagian hilir + hsungai
= +395,00+ 1,375
= +396,38 m
Elevasi muka air pada kolam olak (dari desain kolam olak sub bab 5.4.9) :
= Elevasi dasar kolam olak + y2
= +391,91 + 4,18
= +396,09 m
Elevasi muka air di hilir bendung Elevasi muka air pada kolam olak
+396,38 > +396,09 ok.

5.4.3.

Analisis Lebar Efektif Bendung


Untuk menghitung lebar efektif bendung digunakan rumus
sebagai berikut :
Rumus : Be = B 2(n. Kp + Ka)H1

Di mana :
Be = lebar efektif bendung (m)
B

= lebar mercu (m) = (lebar rata-rata antara lebar muka air sungai
saat banjir + lebar dasar sungai)
= ((32,58+14,20)/2)*1,2 = 28,00 m

Kp = Koefisien kontraksi pilar (untuk pilar bulat) (Tabel 2.17) = 0,01


Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

203

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

Ka = Koefisien kontraksi pangkal bendung (abutment bulat) (Tabel


2.18) = 0,1
n

= Jumlah pilar = 1 buah

H1 = Tinggi energi (m)


Jadi lebar efektif bendung adalah
Be = B 2(n. Kp + Ka)H1
Be = 28,00 2(1. 0,01 + 0,1)H1
Be = 28,00 0,22 x H1

5.4.4.

Analisis Elevasi Mercu Bendung


Tinggi mercu bendung (P) dapat dihitung dengan menjumlahkan
elevasi muka air di pintu pengambilan bagian hulu, kehilangan energi,
kemudian dikurangi dengan elevasi dasar sungai.
P = elevasi muka air di pintu pengambilan + kehilangan energi akibat
pintu elevasi dasar sungai
P = (397,71 + 0,20) 395,00
= + 2,91 m
Elevasi mercu bendung = elevasi dasar lantai bangunan + P
Elevasi mercu bendung = +395,00 + 2,91 = 397,91 m
+397.91 m

Muka Air Normal

1
:1

2.91

Elevasi Dasar Sungai

+395.00 m

Gambar 5.18 Elevasi Mercu Bendung


( Sumber : Hasil Perhitungan)

5.4.5.

Analisis Tinggi Air Banjir di Atas Mercu Bendung


Bendung direncanakan sebagai bendung pasangan batu dengan
bentuk mercu tipe bulat dengan muka sisi hulu tegak dan kemiringan hilir

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

204

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

1 : 1. Dipilih bendung dengan mercu bulat karena bangunan ini mampu


mengurangi tinggi muka air hulu selama terjadi banjir. Tekanan negatif
yang bekerja pada mercu akan di cek dalam perhitungan selanjutnya.
Tinggi bendung P = 2,91 m. Untuk harga awal diambil nilai Cd = 1,3
(Standar Perencanaan Irigasi KP-02, Bangunan Utama). Debit rencana
Q100 = 231,16 m3/det.
Tinggi energi di atas mercu menggunakan rumus debit bendung
dengan mercu bulat sebagai berikut :
= x

2
2
x x x 1 3/2
3
3

231,16 = 1,3 x

2
2
x x 9,81 x (28,00 0,22 x 1 ) x 1 3/2
3
3

H1 = 2,43 m
Dengan cara trial dan error, diperoleh nilai H1 = 2,43 m
Dimana :
Q100 = debit (m3/det) = 231,16 m3/det
Cd

= koefisien debit = C0 x C1 x C2

= percepatan gravitasi (m/det2)

Be

= lebar efektif bendung (m)

H1

= tinggi energi di atas mercu (m)

Jari jari mercu bendung dari pasangan batu r = (0,3 ~ 0,7) x H1


r = 0,5 x 2,43 = 1,22
Kemudian nilai C0 diperkirakan dari Gambar 5.19 di mana :
H1/r = 2,43/1,217 = 2,0
Dari grafik tersebut diperoleh nilai C0 = 1,34

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

205

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

Gambar 5.19 Harga-harga Koefisien C0 untuk Bendung Ambang Bulat


Sebagai Fungsi Perbandingan H1/r
( Sumber : Hasil Perhitungan)

P/H1 = 2,91/2,43 = 1,20 < 1,5 (Standar Perencanaan Irigasi KP-02,


Bangunan Utama)
Karena harga P/H1 lebih kecil dari 1,5 maka perlu ada koreksi C1 dengan
menggunakan grafik koefisien C1 sebagai fungsi perbandingan P/H1.

Gambar 5.20 Koefisien C1 Sebagai Fungsi Perbandingan p/H1


( Sumber : Hasil Perhitungan)
Dari gambar 5.20 diatas diperoleh nilai :
C1 = 0,97
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

206

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

C2 =

Koefisien koreksi untuk pengaruh kemiringan muka bendung di


bagian hulu terhadap debit (C2) tidak diperhitungkan karena bagian
hulu bendung direncanakan menggunakan dinding tegak.

Cd = C0 x C1
Cd = 1,34 x 0,97
Cd = 1,30 (sesuai harga Cd awal)
Elevasi tinggi energi hulu = elevasi mercu + H1 = +397,91 + 2,43
= +400,34 m
Untuk menentukan tinggi air di atas mercu dicari rumus : Hd = H1 k
Dimana :
Lebar efektif bendung
Be = 28,00 0,22 x H1
Be = 28,00 0,22 x 2,43
= 27,46 m 27,50 m
=

x 1

231,16
= 3,453 m/det
27,50 x 2,43

2
2

3,4532
= 0,608 m
2 x 9,81

Jadi tinggi air di atas mercu adalah :


Hd = 2,434 0,61 = 1,83 m
Elevasi muka air banjir di atas mercu = elevasi mercu + Hd
= +397,91 + 1,83
= +399,74 m

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

207

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

Muka Air Banjir

+399,74 m

+397.91 m

Muka Air Normal

1
:1

2.91

Elevasi Dasar Sungai

+395,00 m

Gambar 5.21 Elevasi Muka Air Banjir


( Sumber : Hasil Perhitungan)

5.4.6.

Desain Mercu Bendung


Jari-jari mercu bulat (R) dari pasangan batu dapat ditentukan
dengan rumus sebagai berikut :
R

= (0,3 ~ 0,7) H1 digunakan 0,5

= 0,5 x H1
= 0,5 x 2,43 = 1,22 1,20 m
+397,91 m

Elevasi Dasar Sungai

R1.20

:1

2.91

+395,00 m

Gambar 5.22 Dimensi Mercu


( Sumber : Hasil Perhitungan)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

208

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG


Muka Air Banjir

+399.74 m

+397.91 m

Muka Air Normal

Elevasi Dasar Sungai

R1.20

:1

2.91

+396.09 m

+395,00 m

+391.91 m

Gambar 5.23 Elevasi Air di Hulu dan di Hilir dan Penampang Mercu
( Sumber : Hasil Perhitungan)

5.4.7.

Desain Bangunan Pembilas Bendung


Lebar bangunan pembilas digunakan 0,6 dari lebar total bangunan
pengambilan.
Diketahui lebar total bangunan pengambilan = 3,50 m
Lebar pembilas (B) = 0,6 x 3,50 = 2,10 m
Direncanakan digunakan 2 pembilas dengan lebar 1,05 m

5.4.7.1.

Dimensi Balok Pembilas Bendung


Tebal papan kayu = 2 cm
kayu jati klas 2 = 800 kg/cm
= 1 t/m = 0,001 kg/cm
MAB +399.74 m

1.83
+397.91 m

2.91 m

+395.00 m

Gambar 5.24 Sket Pintu Pembilas untuk Perhitungan Tekanan pada


Balok Kayu
( Sumber : Hasil Perhitungan)
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

209

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG


1

P (tekanan) = 2 . w . H
1

= 2 . 1 t/m . (0,2 m)
= 0,02 t/m = 0,002 kg/cm
Momen yang timbul = 1/8 q.l
= 1/8. 0,02 t/m . (1,05 m)
= 0,00275 tm
W (momen kelembaban) = 1/6.t.h
Dimana h adalah lebar kayu yang ditinjau 20 cm
W = 1/6 . t.20 cm
W = 3,33 t cm
Menentukan tebal pintu :
ijin kayu =

M
W

800 kg/cm =

275 kgcm
3,333t cm

800 kg/cm =

275 kg
3,333t

2666t kg/cm = 275 kg


t2 = 0,103 cm2
t = 0,32 cm = 2,00 cm
Sehingga ukuran kayu yang digunakan 2/20
W (momen kelembaban) = 1/6.t.h
= 1/6 . (2 cm). (20 cm)
= 13,333 cm
Tegangan :

275
=

13,333
=

20,62 kg/cm 800,00 kg/cm

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

210

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

5.4.7.2.

Dimensi stang pengangkat pintu Pembilas Bendung

MAB +399.74 m

1.83
+397.91 m

P2
2.91 m
P1
+395.00 m

Gambar 5.25

Sket Pintu Pembilas untuk Perhitungan Stang


Pengangkat Pintu
( Sumber : Hasil Perhitungan)

Lebar pintu

= 1,05 m

Diameter(d)

= 3 cm

Tinggi pintu (hp) = 2,91 m


F stang = . . d
= . 3,14 . (3 cm)
= 7,065 cm
Momen inersia (I) =

1
64

. 4

= 64 . 3,14 . (3 )4
= 3,974 cm4
Tekanan (P1)

= h1 . w
= 4,74 m . 1 t/m
= 4,74 t/m
= 4740 kg/m

Tekanan (P2)

= h2 . w
= 2,91m . 1 t/m
= 2,91 t/m
= 2910 kg/m

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

211

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

Tekanan air

= . (P1+P2) . (lebar pintu . h pintu)


= (4740 + 2910) kg/m . (1,05 . 2,19 m)
= 8795,59 kg

Akibat gaya tekan pintu bergerak ke atas


Berat stang

= 2. F stang . (h pintu) . berat jenis baja


= 2. 0,0007065 m . 2,19 m . 7800 kg/m
= 24,14 kg

Berat daun pintu = h pintu . lebar pintu . tebal pintu . berat


jenis kayu
= 2,19 m . 1,05 m . 0,02 m . 800 kg/m
= 36,79 kg
Berat sambungan = 20% . berat daun pintu
= 20% . 36,79 kg
= 7,36 kg
Berat total pintu (G1) = 24,14 + 36,79 + 7,36
= 68,29 kg
Koefisien gesek baja alur dengan pintu (f) = 0,4
Gaya gesek = 0,4 . tekanan air
= 0,4 . 8795,59
= 3518,24 kg
Total (G) = G1 + gaya gesek
= 68,29 kg + 3518,24 kg
= 3586,53 kg
Kontrol terhadap tegangan ()
=

3586,53
< = 507,65 /
7,065

= 507,65 / < = 1400 / (aman)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

212

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

Gambar 5.26 Detail Stang Pengangkat Pintu Pembilas


( Sumber : Hasil Perhitungan)

Akibat gaya tekan pintu bergerak turun


Jumlah gaya (PK) = (gaya gesek G1)
= (3518,24 kg 68,29 kg)
= 3449,95 kg
Rumus Euler
=

..
.

Dimana:
E baja = 2,1x106 N/mm
I

= 3,974 4

LK

= panjang tekuk
= 0,5 . L . 2
= 0,5 . 2,91 m . 2
= 2,06 m

Kontrol terhadap gaya tekuk


I

= .
.
=

3449,95 . 2,06

<I
3,142 . 2,1.106 /

= 14640,21 107
20705160 / < I
= 7070,80 mm4 < 7,948 cm4 (aman)
= 0,707 cm4 < 7,948 cm4 (aman)
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

213

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

5.4.8.

Perencanaan Dinding Penahan Tanah


1.00

MAB

5.74
I

2.50

1.50

II

3.00

Gambar 5.27

Rencana Dinding Penahan Pasangan Batu Kali


( Sumber : Hasil Perhitungan)

Adapun gaya-gaya yang bekerja pada Dinding Penahan saat kondisi banjir
yaitu :
a. Gaya akibat berat sendiri konstruksi
b. Gaya akibat tekanan air
c. Gaya akibat tekanan tanah
1.00

MAB
W5

5.74
W6
H1
W1 W2

W7
Pa
W3

Pp

1.50
W4
3.00

Gambar 5.28 Gaya-gaya Horisontal

yang Bekerja pada Dinding

Penahan Kondisi Banjir


( Sumber : Hasil Perhitungan)
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

214

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG


1.00

MAB

5.74

W1 W2
W3

1.50
W4
3.00

Gambar 5.29 Gaya-gaya Vertikal yang Bekerja pada Dinding Penahan


Kondisi Banjir
( Sumber : Hasil Perhitungan)
Dimana:
V

= Gaya akibat beban vertikal (ton)

Pa = Tekanan tanah aktif (ton)


Pp = Tekanan tanah pasif (ton)
Ph = Tekanan air (ton)
A

= Titik Guling

Data-data yang digunakan dalam perhitungan stabilitas Dinding Penahan


adalah sebagai berikut :
Berat jenis air ( air)

= 1,00 t/m

Berat jenis pasangan batu kali ( bk)

= 2,20 t/m

Sudut geser dalam tanah dasar ()

= 36,38

Kohesi tanah (C)

= 2,83t/m

Berat jenis tanah ( d)

= 1,95 t/m

1.

Perhitungan Koefisien Tanah


Ka =

1 sin
1 sin 36,38
=
= 0,255
1 sin 36,38
1 sin

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

215

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

Kp =
2.

1 sin
1 sin 36,38
=
= 3,916
1 sin 36,38
1 sin

Perhitungan Tekanan Tanah Horisontal


1
. yd . Ka . h2
2
1
= . 1,95 . 0,255 . 7,242
2

Pa =

= 13,052 t/m
1
. yd . Kp . h2
2
1
= . 1,95 . 3,92 . 1,502
2

Pp =

= 8,590 t/m

Tabel. 5.2. Tekanan Tanah Aktif dan Pasif


TITIK 0
JARAK (m)
MOMEN (t.m)

JENIS

GAYA (t)

Pa

13,05

2,41

31,46

Pp

-8,59

0,50

-4,30

H1

-11,23

3,08

-34,59

Sumber : Hasil Perhitungan


Tabel. 5.3. Gaya Berat Sendiri (W)

Gaya

Luas

(m2)
(t/m3)
W1
2,870
2,20
W2
2,720
2,20
W3
4,080
2,20
W4
4,500
2,20
W5
0,600
1,95
W6
4,080
1,95
W7
2,870
1,95
Total
Sumber : Hasil Perhitungan

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

Besar
Gaya
(ton)
-6,31
-5,98
-8,98
-9,90
-1,17
-7,96
-5,60
-45,90

Terhadap Titik 0
Panjang
Momen
Lengan
(m)
(t.m)
0,25
-1,579
0,75
-4,488
1,50
-13,464
1,50
-14,850
1,50
-1,755
2,00
-15,912
2,75
-15,390
-67,44

216

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

Tabel. 5.4. Gaya Gempa (E)


Gaya
Berat
Gaya
(W)
(E)
(ton)
E1
0,183
6,31
E2
0,183
5,98
E3
0,183
8,98
E4
0,183
9,90
E5
0,183
1,17
E6
0,183
7,96
E7
0,183
5,60
Total
45,90
Sumber : Hasil Perhitungan

Gaya
Gempa
(E)
(ton)
1,155
1,095
1,643
1,812
0,214
1,456
1,024
8,40

Koefisien
Gempa

Terhadap Titik A
Panjang
Momen
Lengan
(m)
(t.m)
4,37
5,049
4,22
4,621
3,41
5,601
0,75
1,359
7,09
1,518
5,03
7,323
4,37
4,476
29,95

Tabel. 5.5. Rekap Gaya-Gaya yang Terjadi


No.

Gaya

1
2
3
4
5

Berat
Tekanan Tanah Aktif
Tekanan Tanah Pasif
Gempa
Hidrostatis
Total
Sumber : Hasil Perhitungan

RH
(ton)

RV
(ton)
-45,90

13,05
-8,59
8,40
-11,23
-6,77 -37,50

Momen (ton meter)


Guling
Tahan
-67,44
31,46
-4,30
29,95
-34,588
61,40
-106,32

Tinjauan Terhadap Stabilitas Struktur


- Stabilitas Terhadap Guling
=


106,32
=
= 1,73 > 1,5 ()

61,40

- Stabilitas Terhadap Geser


= .


37,50
= 0,75 .
= 4,16 > 1,5 ()

6,77

- Stabilitas Terhadap Daya Dukung Tanah


= ( )(
)<

2
2
3
106,32 61,40
3
)<
=( )(
2
37,50
2
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

217

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

= 0,302 < 1,50 ()


- Tekanan Tanah Maksimum

6
) <
. (1 +

37,50
6 . 0,302
) < 27,00
. (1 +
3
3
11,718 t/m < 27,00 t/m (Aman)
- Tekanan Tanah Minimum

6
)>0
.( 1

37,50
6 . 0,302
)>0
.( 1
3
3
4,947 t/m < 0,00 t/m (Aman)

5.4.9.

Desain Kolam Olak


Kolam olak berfungsi meredam energi yang timbul di dalam aliran
air superkritis yang melewati pelimpah serta mengantisipasi olakan yang
terjadi di hilir tubuh bendung sebagai akibat perbedaan ketinggian muka
air antara hulu dan hilir bendung.

5.4.9.1.

Menentukan Tipe Kolam Olak


Perhitungan untuk kolam olak menggunakan debit banjir rencana
periode ulang 100 tahun (Q100). Untuk mengetahui perlu atau tidaknya
kolam olak ditentukan dengan besarnya nilai Fr (Froude).
Rumus :
=

1
x 1

Dimana :
Fr

= bilangan Froude

= percepatan gravitasi (9,81 m/det2)

= tinggi jatuh = elevasi mercu elevasi dasar kolam olak

= +397,91 (391,91) = 6,00 m

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

218

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

V1 = kecepatan awal loncatan =2 x x (0,5 x 1 + )


V1 = 2 x 9,81 x (0,5 2,43 + 6,00) = 11,90 m/det
q

= debit per satuan lebar (q = Q100 / Be)

100

231,16
27,50

= 8,41 m3 / det. m

Y1 = kedalaman air di awal loncatan


Y1 =
Y1 =
Fr1 =

1
8,41
11,90

= 0,71 m

1
x 1

11,90
9,81 x 0,71

= 4,52

Berdasarkan Standar Perencanaan Irigasi KP-04, Bangunan,


kolam olak untuk bilangan Froude 4,5 merupakan kolam olak yang
paling ekonomis, karena kolam ini pendek. Kolam olak yang sesuai
adalah kolam USBR Tipe III.

5.4.9.2.

Desain Kolam Olak USBR Tipe III


Perhitungan dimensi kolam olak USBR Tipe III adalah sebagai
berikut :
Y2 = kedalaman air di atas ambang ujung
Y2 =
Y2 =

1
2

(1 + 81 2 1)

0,71
2

(1 + 8 x 4,522 1) = 4,18 m

V2 = kecepatan air pada kolam olak (setelah terjadi loncatan)


V2 =

x 2

231,16

V2 = 27,50 x 4,18 = 2,01 m/det

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

219

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

> (h+y2) +0.60 H


0.2n3

2
1

blok muka

n3 =

0.5 yu
yu
yu
yu

yu(4+Fru)
6

0.675 n3
0.75 n3
0.75 n3

blok halang
n=

ambang ujung

yu(18+Fru)
18

n3

yu

0.82 y2
2.7 y2
potongan U

Gambar 5.30 Karakteristik Kolam Olak USBR Tipe III


( Sumber : KP-02 Bangunan Utama, 2012)

Direncanakan :
Yu = Y1 = lebar balok muka = tinggi balok muka = jarak antar balok muka
= 0,70 m
Jarak tepi kolam olak ke balok muka = 0,5 x Yu = 0,5 x 0,70 = 0,35 m
Jumlah balok muka = Nc
=

0,5 x
2

27,50 0,5 x 0,70


= 19,39 19,00 buah
2 x 0,70

tinggi balok halang = n3


x (4 + )
6
0,70 x (4 + 4,52)
3 =
= 0,99 m
6
3 =

Ketebalan bagian atas balok halang

= 0,2 x n3
= 0,2 x 0,99
= 0,20 m

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

220

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

Jarak tepi kolam olak ke balok halang

= 0,675 x n3
= 0,675 x 0,99
= 0,67 m

Panjang bagian bawah balok halang

= 0,75 x n3
= 0,75 x 0,99
= 0,75 m

Jumlah Balok halang = Nb


=

0,375 x 3
1,5 3

27,50 0,375 x 0,99


= 18,19 18 buah
1,5 0,99

Tinggi ambang ujung = n


x (18 + )
18
0,70 x (18 + 4,52)
=
18
=

n = 0,88 m
Jarak antara balok muka dan balok halang = L1
L1 = 0,82 x Y2
L1 = 0,82 x 4,18
= 3,42 3,50 m
Panjang total kolam olak = Ltot
Ltot = 2,7 x Y2
Ltot = 2,7 x 4,18
Ltot = 11,28 11,30 m
Tinggi dinding tepi kolam olak = H
H > (n + y2) + 0,6 H1
H > (0,88 + 4,18) + 0,6 x 2,43
H > 5,05 + 1,46
H > 6,51 6,50 m

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

221

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

5.4.10. Desain Panjang Lantai Muka


Panjang lantai muka yang direncanakan 15,00 m. Berdasarkan
gambar dimensi bendung rencana Gambar 5.31, maka dapat dicek apakah
dengan panjang lantai muka rencana aman terhadap rembesan yang terjadi
atau tidak, dengan nilai rembesan minimum (C L) yang ditentukan
berdasarkan jenis tanah di lokasi rencana. Untuk perhitungan panjang garis
rembesan digunakan persamaan sebagai berikut :
1
= +
3
Dimana :
Lw

= panjang garis rembesan (m)

Lv = panjang creep line vertikal (m)


Lh = panjang creep line horisontal (m)
Faktor rembesan / creep ratio (Cw) = Lw/Hw dimana Cw > CL aman.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

222

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

Muka Air Normal

+397,91 m

2.91

1
A

4.50

4.50
D

1.50

1.00
B

:1

Dasar Sungai +395,00 m

0.50

1.00

1.00

0.50

4.00
I

1.00

1.00

0.50

+392,79 m
X

+391,91 m
3.36

1.00
P

1.00

9.54

1.76

2.00
3.00
N

2.00

3.00

2.80

Gambar 5.31 Rencana Dimensi Bendung Kondisi Normal


( Sumber : Hasil Perhitungan)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

223

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

Tabel 5.6 Perhitungan Panjang Rembesan dan Tekanan Air Kondisi Normal
NO.

BATAS

0.50

4.50

0.50

4.50

0.50

4.00

2.00

1.00

P-Q
Q-R

2.80

R-S
S-T

3.00

T-U

0.93

T
U
V

U-V

4.41

4.160

2.67

34.14

5.12

3.41

3.010

4.17

34.14

5.12

3.41

2.785

5.17

34.14

5.12

4.41

3.635

5.33

34.14

5.12

4.41

3.610

6.33

34.14

5.12

3.41

2.460

7.83

34.14

5.12

3.41

2.235

8.83

34.14

5.12

4.41

3.085

9.00

34.14

5.12

4.41

3.060

10.00

34.14

5.12

3.41

1.910

11.33

34.14

5.12

3.41

1.710

18.33

34.14

5.12

10.41

7.661

19.00

34.14

5.12

10.41

7.561

21.00

34.14

5.12

8.41

5.261

21.33

34.14

5.12

8.41

5.211

24.33

34.14

5.12

11.41

7.761

25.27

34.14

5.12

11.41

7.621

28.27

34.14

5.12

8.41

4.171

29.20

34.14

5.12

7.48

3.102

30.20

34.14

5.12

8.48

3.952

1.50

0.17

1.50

0.17

1.33

0.67

0.33

3.00

R
S

5.12

2.00

P
Q

34.14

7.00

N-O
O-P

1.67

1.00

N
O

4.185

1.00

L-M
M-N

4.41

1.00

L
M

5.12

1.00

J-K
K-L

34.14

0.17

1.00

J
K

1.50

1.50

H-I
I-J

2.910

(m)

H
I

2.91

(m)

F-G
G-H

5.12

(m)

F
G

34.14

(m)

D-E
E-F

0.00

D
E

(ton/m)

Lx

B-C
C-D

(m)

1/3
LH

B
C

Ux

LH

A
A-B

Hx

(m)

H =
Lw /
CL
(m)

LV

1.00

0.93

0.00

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

224

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

Lanjutan Tabel 5.6.


NO.

BATAS

(m)

(ton/m)

30.78

34.14

5.12

8.48

3.864

34.14

34.14

5.12

5.12

0.000

1/3
LH

Lx

(m)

(m)

(m)

(m)

1.76

0.59

V-W
3.36

X
TOTAL

Ux

LH

W
W-X

Hx

(m)

H =
Lw /
CL
(m)

LV

26.79

22.06

7.35

(Sumber : Hasil Perhitungan)

Contoh Perhitungan :

Lx = Lv +

1
3

LH

LBC = 1,50 +

1
0,50 = 1,67 m
3

Hw = elevasi mercu elevasi end sill


Hw = +397,91 392,79 = 5,12 m
Panjang Lw dihitung sampai pangkal hilir (titik X) dengan nilai Cw
sebagai berikut :
1
= +
3
1
= 26,79 + x 22,06 = 34,14 m
3
H =

Hc =

Lw
34,14
=
= 5,12
1
1
(LV + 3 )/ (26,79 + 3 22,06)/5,12

Ux = (Hx Hx) .
= (Hc

1,67
Hc) . = (4,41
5,12) . 1

34,14
= 4,160 t/m2

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

225

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

Muka Air Banjir

+399,74 m

Muka Air Normal

+397,91 m

+396,38 m

2.91

+396,09 m
1

Dasar Sungai +395,00 m

4.50

4.50
D

1.50

1.00
B

:1

0.50

1.00

1.00

0.50

+394,70 m

4.00
I

1.00

1.00

0.50

+392,79 m
X

+391,91 m
3.36
2.41
U

1.00
P

1.00

9.54

1.76

2.00
3.00
N

2.00

3.00

2.80

Gambar 5.32 Rencana Dimensi Bendung Kondisi Banjir


( Sumber : Hasil Perhitungan)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

226

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

Tabel 5.7 Perhitungan Panjang Rembesan dan Tekanan Air Kondisi Banjir
NO.

BATAS

0.5

4.5

0.5

4.5

0.5

P-Q
Q-R

2.8

R-S
S-T
T-U

6.076

2.67

34.14

3.36

5.24

4.978

4.17

34.14

3.36

5.24

4.830

5.17

34.14

3.36

6.24

5.732

5.33

34.14

3.36

6.24

5.715

6.33

34.14

3.36

5.24

4.617

7.83

34.14

3.36

5.24

4.469

8.83

34.14

3.36

6.24

5.371

9.00

34.14

3.36

6.24

5.354

10.00

34.14

3.36

5.24

4.256

11.33

34.14

3.36

5.24

4.125

18.33

34.14

3.36

12.24

10.436

19.00

34.14

3.36

12.24

10.370

21.00

34.14

3.36

10.24

8.173

21.33

34.14

3.36

10.24

8.141

24.33

34.14

3.36

13.24

10.845

25.27

34.14

3.36

13.24

10.754

28.27

34.14

3.36

10.24

7.458

29.20

34.14

3.36

9.31

6.437

1.50

0.17

1.50

0.17

1.33

0.67

0.33

0.93

T
U

6.24

R
S

3.36

P
Q

34.14

N-O
O-P

1.67

N
O

6.092

L-M
M-N

6.24

L
M

3.36

J-K
K-L

34.14

0.17

1.00

J
K

1.50

1.5

H-I
I-J

4.740

(m)

H
I

4.74

(m)

F-G
G-H

3.36

(m)

F
G

34.14

(m)

D-E
E-F

0.00

D
E

(ton/m)

LW

B-C
C-D

(m)

1/3
LH

B
C

Ux

LH

A
A-B

Hx

(m)

H =
Lw /
CL
(m)

LV

0.93

0.00

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

227

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

Lanjutan Tabel 5.7.


NO.

BATAS

Hx

Ux

(m)

H =
Lw /
CL
(m)

(m)

(ton/m)

30.20

34.14

3.36

10.31

7.338

30.78

34.14

3.36

10.31

7.281

34.14

34.14

3.36

6.95

3.590

LV

LH

1/3
LH

LW

(m)

(m)

(m)

(m)

U-V

V
V-W

1.76

0.59

W
W-X

3.36

X
TOTAL

26.79

22.06

7.35

(Sumber : Hasil Perhitungan)

Contoh Perhitungan :
Lx = LV +

1
3

LH

LBC = 1,50 +

1
0,50 = 1,67 m
3

Hw = beda tinggi muka air banjir di hulu dengan elevasi muka air end
sill
Hw = 399,74 396,38 = 3,36 m
Panjang Lw dihitung sampai pangkal hilir (titik X) dengan nilai Cw
sebagai berikut :
1
= +
3
1
= 26,79 + x 22,06 = 34,14 m
3

H =
Hc =

Lw
34,14
=
= 3,36
1
1
(LV + 3 )/ (26,79 + 3 22,06)/3,36

Ux = (Hx Hx) .
= (Hc

1,67
Hc) . = (6,24
3,36) . 1

34,14
= 6,076 t/m2

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

228

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

Dari hasil penyelidikan tanah diketahui jenis tanah yang ada pada
lokasi rencana bendung adalah pasir sedang dengan sedikit koral dan pada
tanah dalamnya berupa pasir semen berwarna kehitaman, sehingga dapat
ditentukan nilai Safe Creep Ratio menurut Lane nilai CL = 6 (Standar
Perencanaan Irigasi KP-06, Parameter Bangunan).
=

34,14
= 6,67
5,12
Sesuai hasil perhitungan di atas nilai Cw = 6,67 (di ambil pada

kondisi normal) sedangkan nilai CL = 6,00 jadi nilai rembesan aman


sehingga panjang lantai muka cukup digunakan 15,00 m.

5.4.11. Menentukan Tebal Lantai Kolam Olak


Untuk menentukan tebal lantai kolam olak harus dilakukan
peninjauan terhadap dua kondisi yang mengkin terjadi. Yaitu saat kondisi
air normal dan kondisi air banjir. Setiap bangunan diandaikan berdiri
sendiri sehingga tidak mungkin ada distribusi gaya-gaya melalui momen
lentur, maka perhitungan kolam olak menggunakan rumus :
= { [
=

x ]} x

. ( )

Dimana :
Px

= uplift pressure (t/m2)

Hx

= tinggi muka air di hulu bendung diukur dari titik x (di ambil
titik T) (m)

Lx

= panjang creep line sampai titik x (m)

Lw

= panjang creep line total (m)

= perbedaan tinggi tekan di hulu dan di hilir bendung (m)

= berat jenis air (1 t/m3)

tmin

= tebal minimum lantai kolam (m)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

229

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

= faktor keamanan (1,5 untuk kondisi normal dan 1,25 untuk


kondisi banjir)

Wx

= kedalaman air pada titik x (m)

pasangan = berat jenis pasangan batu (2,2 t/m3)

a. Untuk Kondisi Muka Air Normal


Diketahui :
Hx = 8,41 m (Tabel.5.6)
Lx = 28,27 m (Tabel.5.6)
Lw = 34,14 m (Tabel.5.6)
= { [

x ]} x

= {8,41 [

28,27
x 5,12]} x 1
34,14

= 4,170 t/m2
Untuk kondisi air normal Wx = 0
=

. ( )

1,5 . (4,170 0)
2,2

= 2,84

+392,79 m
X

+391,91 m

t min = 2,84 m
U

Gambar 5.33 Tebal Minimum Lantai Kolam Olak Kondisi Normal


( Sumber : Hasil Perhitungan)
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

230

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

b. Untuk Kondisi Muka Air Banjir


Diketahui :
Hx = 10,24 m (Tabel.5.7)
Lx = 28,27 m (Tabel.5.7)
Lw = 34,14 m (Tabel.5.7)
= { [

x ]} x

= {10,24 [

28,27
x 3,36]} x 1
34,14

= 7,458 t/m2
Untuk kondisi air banjir Wx = 4,18 m
=

. ( )

1,25 . (7,458 4,18)


2,2

= 1,86 m

+392,79 m
X

+391,91 m

t min = 1,86 m
U
V

Gambar 5.34 Tebal Minimum Lantai Kolam Olak Kondisi Banjir


( Sumber : Hasil Perhitungan)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

231

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

Tebal lantai kolam olak dipilih berdasarkan nilai terbesar


perhitungan kondisi normal dan banjir, maka diambil tebal minimal
lantai kolam olak sebesar 2,84 m.

5.4.12. Tinjauan Terhadap Gerusan


Rumus yang digunakan adalah :
1/3
= 0,47 ( )

= 1,76 1/2
Dimana :
R

= kedalaman gerusan di bawah permukaan air banjir (m)

Dm = diameter rata-rata material dasar sungai (mm) (diasumsikan


diameter rata-rata 0,5 mm)
Q

= debit yang melimpah di atas mercu (m3/det)

= faktor lumpur Lacey

Diketahui:
Dm = 0,05 mm (lanau berpasir)
= 1,76 1/2
= 1,76 0,051/2 = 0,393
1/3
= 0,47 ( )

231,16 1/3
) = 3,94 m
= 0,47 (
0,393
Dengan angka keamanan 1,5 maka R = 1,5 x 3,94 = 5,91 m
Berdasarkan perhitungan kedalaman gerusan, maka kedalaman pondasi
bendung = 5,91 m 3,59 m 3,36 m = - 1,04 (lebih dalam dari gerusan),
sehingga konstruksi aman terhadap gerusan.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

232

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

+396,38 m

4.18
Kedalaman Gerusan = 5.91 m

+392,79 m
X

+391,91 m

3.36
t min = 2,84 m
U
V

Gambar 5.35 Kedalaman Terhadap Gerusan


( Sumber : Hasil Perhitungan)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

233

BAB V. ANALISIS HIDROLIS DAN STRUKTUR BENDUNG

Muka Air Banjir

+399,74 m

Muka Air Normal

+397,91 m

+396,38 m

2.91

+396,09 m
1
:1

Dasar Sungai +395,00 m

4.50

4.50
D

1.50

1.00
B

0.50

1.00

1.00

0.50

+394,70 m

4.00
I

1.00

1.00

0.50

+392,79 m
X

+391,91 m
3.36
2.84
U

0.57
P

1.00

9.54

1.76

2.00
3.00
N

2.00

2.57

2.80

Gambar 5.36 Rencana Dimensi Bendung


( Sumber : Hasil Perhitungan)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

234

LAPORAN TUGAS AKHIR


PERENCANAAN BENDUNG TONGGAUNA KABUPATEN
KOLAKA TIMUR, SULAWESI TENGGARA
(Design of Tonggauna Weir at Kolaka Timur,
Southeast Sulawesi)

BAB VI
ANALISIS STABILITAS
BENDUNG

UNDIP KEMENPUPERA

BAB VI. ANALISIS STABILITAS BENDUNG

BAB VI
ANALISIS STABILITAS BENDUNG
6.1.

Tinjauan Umum
Perhitungan stabilitas bendung dilakukan guna mengetahui apakah
bendung cukup stabil saat mendapat gaya pengaruh dari luar. Perhitungan
stabilitas dilakukan pada 2 (dua) macam kondisi, yaitu:
1. Perhitungan stabilitas pada kondisi normal
2. Perhitungan stabilitas pada kondisi banjir
Gaya-gaya yang bekerja pada bendung, yaitu :
1. Gaya vertikal, antara lain :
a. Gaya akibat berat sendiri bendung
b. Gaya angkat/uplift pressure
2. Gaya horizontal, antara lain :
a. Gaya hidrostatis di bendung
c. Gaya akibat tekanan tanah aktif dan pasif
d. Gaya gempa
Tinjauan stabilitas yang diperhitungkan meliputi :
1. Tinjauan terhadap guling
2. Tinjauan terhadap geser
3. Tinjauan terhadap daya dukung tanah

6.2.

6.2.1.

Analisis Gaya yang Bekerja Pada Bendung

Perhitungan Gaya Tetap


Gaya tetap adalah gaya yang tidak berubah meski terjadi perubahan
kondisi, gaya-gaya tetap adalah sebagai berikut :
1. Gaya akibat berat sendiri bendung (W)
2. Gaya akibat tekanan tanah aktif (Pa) dan pasif (Pp)
3. Gaya gempa (G)
Sketsa gaya tetap dapat dilihat di Gambar 6.1

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

235

BAB VI. ANALISIS STABILITAS BENDUNG

E1
W1
E2

E3

W2

W3

E4
W4

E5
W5

7.50

3.36
E6

Pp

W6

Pa
P

E8
W8

E7
W7

E9
W9
E10
W10

Gambar 6.1 Sketsa Gaya Tetap


( Sumber : Hasil Perhitungan)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

236

BAB VI. ANALISIS STABILITAS BENDUNG

6.2.1.1.

Gaya Akibat Berat Sendiri Bendung


Struktur tubuh bendung dirancang menggunakan pasangan batu
dengan berat jenis () = 2,2 t/m3. Untuk perhitungan dan posisi notasi
dapat dilihat pada Gambar 6.1 dan Tabel 6.1.

Tabel 6.1 Gaya Berat Bendung

Gaya

Luas

Besar
Gaya

(m2)

(t/m3)

(ton)

2.2
-2.61
1.187
0.871
2.2
-1.92
0.361
2.2
-0.79
13.920
2.2
-30.62
11.520
2.2
-25.34
18.557
2.2
-40.83
4.000
2.2
-8.80
1.000
2.2
-2.20
1.350
2.2
-2.97
8.400
2.2
-18.48
Total
-134.57
(Sumber : Hasil Perhitungan)
W1
W2
W3
W4
W5
W6
W7
W8
W9
W10

Terhadap Titik 0
Panjang
Momen
Lengan
(m)
(t.m)

6.81
6.33
5.37
6.25
3.20
3.85
6.70
5.36
3.10
1.40

-17.788
-12.133
-4.268
-191.400
-81.101
-157.178
-58.960
-11.792
-9.207
-25.872
-569.70

Contoh Perhitungan :
Gaya W10
Luas Bidang

=bxh
= 2,80 x 3,00
= 8,40 m2

Gaya berat

= Luas bidang x pasangan batu


= 8,40 x 2,2
= 18,48 ton

Momen

= Gaya berat x Panjang lengan terhadap titik T


= 18,48 x 1,40

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

237

BAB VI. ANALISIS STABILITAS BENDUNG

= -25,872 ton ( arah momen berlawanan arah jarum


jam bernilai negatif)

6.2.1.2.

Gaya Akibat Terjadinya Gempa


Koefisien gempa dapat dihitung berdasarkan rumus di bawah ini.
Gempa yang direncanakan hanya pada arah horizontal ke arah kanan
sebagai momen pengguling bendung. Untuk perhitungan dan posisi
notasi dapat dilihat pada Gambar 6.1 dan Tabel 6.2.
Perhitungan koefisien gempa :
ad = n(ac x z)m = 0,87 (160 x 1,00)1,05 = 179,41 cm/det 2
E=

ad 179,41
=
= 0,183
g
981

Di mana :
ad

= percepatan gempa rencana (cm/det2)

n, m = koefisien untuk jenis tanah (n = 0,87 ; m = 1,05, pasir halus)


ac

= percepatan kejut dasar (diambil periode ulang 100 tahun =


160 cm/det2)

= faktor yang tergantung dari letak geografis (diambil 1,00)

= koefisien gempa

= percepatan gravitasi = 9,81 m/det2 = 981 cm/det2

Tabel 6.2 Gaya Gempa

Gaya

E1
E2
E3
E4
E5
E6
E7

Koefisien
Gempa

Gaya
Berat
(W)

Gaya
Gempa
(E)

(E)

(ton)

(ton)

0.183
0.183
0.183
0.183
0.183
0.183
0.183

2.61
1.92
0.79
30.62
25.34
40.83
8.80

0.478
0.351
0.145
5.601
4.635
7.466
1.609

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

Terhadap Titik T
Panjang
Momen
Lengan
(m)
(t.m)
7.98
3.812
7.49
2.626
7.49
1.089
4.81
26.939
4.01
18.586
1.21
9.034
-1.00
-1.609

238

BAB VI. ANALISIS STABILITAS BENDUNG

Lanjutan Tabel 6.2


Gaya

Gaya
Berat
(W)

Koefisien
Gempa

Gaya
Gempa
(E)

(E)
(ton)
2.20
E8
0.183
E9
0.183
2.97
E10
0.183
18.48
Total
134.57
(Sumber : Hasil Perhitungan)

(ton)
0.402
0.543
3.380
24.61

Terhadap Titik T
Panjang
Momen
Lengan
(m)
(t.m)
-0.67
-0.270
-1.00
-0.543
-1.50
-5.070
54.59

Contoh Perhitungan :
Gaya E10
Gaya berat

= Luas bidang x beton siklop


= 8,40 x 2,2
= 18,48 ton

Gaya gempa = Gaya berat x koefisien gempa


= 18,48 x 0,183
= 3,380 ton
Momen

= Gaya gempa x Panjang lengan terhadap titik T


= 3,380 x 1,50
= -5,070 ton ( arah momen berlawanan arah jarum
jam bernilai negatif)

6.2.1.3.

Gaya Akibat Tekanan Tanah Aktif dan Pasif


Dari FS (Feasibility Study) Daerah Irigasi Tongauna Kabupaten
Kolaka, diperoleh data :
Sudut geser ()

= 36,380

Berat jenis tanah basah = 1,950 t/m3


Tegangan ijin tanah

= 27,00 t/m2

Jenis tanah

= Lempung berpasir

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

239

BAB VI. ANALISIS STABILITAS BENDUNG

Ada 2 (dua) macam gaya akibat tekanan tanah :


1. Tekanan tanah aktif
2. Tekanan tanah pasif
Perhitungan dan posisi notasi dapat dilihat pada Gambar 6.1 dan
Tabel 6.3.
1. Tekanan tanah aktif
= 2 (450 2)
= 2 (450 36,382) = 0,255
1
1
P = . . K . 2 = x 1,95 x 0,255 x 7,52
2
2
P = 14,007 /2
2. Tekanan tanah pasif
= 2 (450 + 2)
= 2 (450 + 36,382) = 3,916
P =

1
1
. . K . 2 = x 1,950 x 3,916 x 3,502
2
2

P = 46,766 /2

Tabel 6.3 Gaya Akibat Tekanan Tanah Aktif dan Pasif


Jenis

Gaya (T)

Pa
Pp

Titik T
Jarak (m)

Momen (t.m)

14,007

0.50

7,00

-43,10

1.05

-45,25

(Sumber : Hasil Perhitungan)

6.2.2.

Perhitungan Gaya Pada Kondisi Normal


Gaya pada kondisi normal adalah gaya yang terjadi pada bendung
saat bendung mengalami kondisi normal (muka air berada tepat pada
mercu bendung), sedangkan bagian hilir bendung kosong/tidak ada air).
Gaya yang terjadi pada bendung antara lain :

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

240

BAB VI. ANALISIS STABILITAS BENDUNG

1. Gaya akibat berat sendiri bendung (W)


2. Gaya akibat tekanan tanah aktif (Pa) dan pasif (Pp)
3. Gaya gempa (G)
4. Gaya hidrostatis (H)
5. Gaya uplift (U)
Perhitungan gaya tetap telah dilakukan sebelumnya, sehingga
sekarang dilakukan perhitungan gaya hidrostastis dan gaya uplift. Sketsa
letak gaya hidrostatis dan uplift dapat dilihat pada Gambar 6.2, sedangkan
sketsa besarnya gaya uplift dapat dilihat pada Gambar 6.3.

6.2.2.1.

Perhitungan Gaya Hidrostatis


Gaya merupakan fungsi kedalaman di bawah permukaan air.
Berat jenis air (air) = 1 t/m3. Perhitungan dan posisi notasi dapat dilihat
pada Gambar 6.2 dan Tabel 6.4.

Tabel 6.4 Perhitungan Gaya Hidrostatis

No

air

Besar

(m2)

(t/m3)

Gaya (t)

4,234

4,234

Gaya

H1

Jarak (m)
terhadap
titik T
6,47

Momen
(t.m)
27,394

(Sumber : Hasil Perhitungan)

Contoh Perhitungan :
Gaya H1
Luas Bidang

= 0,5 x a x t
= 0,5 x 2,91 x 2,91
= 4,234 m2

Gaya hidrostatis = Luas bidang x air


= 4,234 x 1
= 4,234 ton

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

241

BAB VI. ANALISIS STABILITAS BENDUNG

Momen = Gaya hidrostatis x Panjang lengan terhadap titik T = 4,234


x 6,47 = 27,394 ton ( arah momen searah arah jarum jam bernilai
positif)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

242

BAB VI. ANALISIS STABILITAS BENDUNG

H1
M

U1

U1

U4
U3
U5

U5

U3
U7

U7

U2
R

U6

U2

U3 U4 U5

U6

Gambar 6.2 Sketsa Letak Gaya Hidrostatis dan Uplift Kondisi Normal
( Sumber : Hasil Perhitungan)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

243

BAB VI. ANALISIS STABILITAS BENDUNG

6.2.2.2.

Gaya Angkat (Uplift Pressure)


Gaya angkat adalah gaya yang diakibatkan tekanan air dan
rembesan. Gaya ini dihitung berdasarkan perhitungan gaya rembesan dan
tekanan air yang telah dihitung sebelumnya. Berat jenis air ( air) = 1 t/m3.
Perhitungan dan posisi notasi dapat dilihat pada Tabel 6.5, Tabel 6.6 dan
Gambar 6.2.

Tabel 6.5

Perhitungan Gaya Angkat Horisontal Bendung Kondisi


Normal

Gaya

Terhadap Titik T

Besar Gaya
Horisontal

Panjang Lengan

Momen

(ton)

(m)

(t.m)

1.5
1.0
-1.5
1.5

49.20
12.82
-29.19
26.53
59.37

U1 (M-N)
32.80
U3 (O-P)
-12.82
U5 (Q-R)
19.46
U7 (S-T)
-17.69
21.75
Total
(Sumber : Hasil Perhitungan)

Tabel 6.6 Perhitungan Gaya Angkat Vertikal Bendung Kondisi Normal

Gaya

Terhadap Titik T

Besar Gaya
Horisontal

Panjang Lengan

Momen

(ton)

(m)

(t.m)

15.22
5.24

6.7
4.2

101.98

1.4

30.15
154.12

U2 (N-O)
U4 (P-Q)
U6 (R-S)

21.54
41.99
Total
(Sumber : Hasil Perhitungan)

21.99

Contoh Perhitungan :
Gaya U1
Luas Bidang

= (PM + PN) x LM-N x 0,5

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

244

BAB VI. ANALISIS STABILITAS BENDUNG

= (1,710 + 7,661) x 7,00 x 0,5


= 32,80 m2
Gaya Uplift

= Luas bidang x air


= 32,80 x 1
= 32,80 ton
= Gaya uplift x Panjang lengan terhadap titik E

Momen

= 32,80 x 1,50
= 49,20 ton (arah momen searah jarum jam bernilai
positif)

6.2.2.3.

Rekapitulasi Gaya dan Momen Pada Kondisi Normal


Tabel 6.7

Rekapitulasi Perhitungan Gaya-gaya yang bekerja Pada


Kondisi Normal

No.

Gaya

RH
(ton)

Berat
W
Tekanan
2
Pa
14.01
Tanah Aktif
Tekanan
3
Pp -43.10
Tanah Pasif
24.61
4 Gempa
E
25.98
5 Hidrostatis
H
6 Uplift
U
Total
21.50
(Sumber : Hasil Perhitungan)

6.2.2.4.

RV
(ton)
-134.57

Momen (ton meter)


Guling Tahanan
-569.70
7.00
-45.25

41.99
-92.57

54.59
86.76
154.12
302.48

-614.95

Analisis Stabilitas pada Kondisi Normal


A. Stabilitas Terhadap Guling
=

614.95
=
= 2.03 > 1,50 ()
302,48

B. Stabilitas Terhadap Geser


=


92.57
= 0,75 x
= 3,23 > 1,50 ()

21,50

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

245

BAB VI. ANALISIS STABILITAS BENDUNG

C. Stabilitas Terhadap Daya Dukung Tanah


Eksentrisitas

=( )(
)<

2
6
=(

7.70
614,95 302,48
7,70
)(
)<
2
92,57
6

= 0,475 < 1,283


Tekanan Tanah
Dari Laporan Feasibility Study (FS) Daerah Irigasi
Tonggauna Kabupaten Kolaka, diperoleh data :
Sudut geser ()

= 36,380

Berat jenis tanah basah (b)

= 1,950 t/m3

Tegangan ijin tanah (


)

= 27,00 t/m2

Jenis tanah

= Lempung berpasir

Tekanan tanah maksimum (maks)

6
(1 + ) <

92,57
6 x 0,475
(1 +
) <
=
7,70
7,70

= 6,008 < 27,00 t/m2 (Aman)


Tekanan tanah minimum (min)

6
(1 ) > 0

92,57
6 x 0,475
(1
)>0
=
7,70
7,70

= 7,576 > 0 ()

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

246

BAB VI. ANALISIS STABILITAS BENDUNG

6.2.3.

Perhitungan Gaya Pada Kondisi Banjir


Gaya pada kondisi banjir adalah gaya yang terjadi pada bendung
saat bendung mengalami kondisi banjir (muka air berada di atas mercu
bendung). Gaya yang terjadi pada bendung antara lain :
1. Gaya akibat berat sendiri bendung (W)
2. Gaya akibat tekanan tanah aktif (Pa) dan pasif (Pp)
3. Gaya gempa (G)
4. Gaya hidrostatis (H)
5. Gaya uplift (U)
Perhitungan gaya tetap telah dilakukan sebelumnya, sehingga
sekarang dilakukan perhitungan gaya hidrostastis dan gaya uplift. Sketsa
letak gaya hidrostatis dan uplift dapat dilihat pada Gambar 6.3.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

247

BAB VI. ANALISIS STABILITAS BENDUNG

H4
H5
H6 H7 H8

H3
H2

H1

H9

H11
M

H10

U1

U1

U4
U3
U5

U5

U3
U7

U7

U2
R

U6

U2

U3 U4 U5

U6

Gambar 6.3 Sketsa Letak Gaya Hidrostatis dan Uplift Kondisi Banjir
( Sumber : Hasil Perhitungan)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

248

BAB VI. ANALISIS STABILITAS BENDUNG

6.2.3.1.

Perhitungan Gaya Hidrostatis


Gaya merupakan fungsi kedalaman di bawah permukaan air.
Berat jenis air (air) = 1 t/m3. Perhitungan dan posisi notasi dapat dilihat
pada Gambar 6.3 dan Tabel 6.8 dan Tabel 6.9.

Tabel 6.8 Perhitungan Gaya Hidrostatis Arah Horisontal Kondisi Banjir


Besar Gaya
(t)

Jarak
(m)
terhadap
titik T

Momen
(t.m)

No

Gaya

L (m2)

air
(t/m3)

H1

4.234

4.234

6.47

27.394

H2

5.325

5.325

6.96

37.064

Total

64.458

9.559

(Sumber : Hasil Perhitungan)

Tabel 6.9 Perhitungan Gaya Hidrostatis Arah Vertikal Kondisi Banjir


No

Gaya

A
(m2)

air
Besar
(t/m3) Gaya (t)

0.309
H3
H4
2.196
H5
1.528
H6
0.203
H7
0.174
H8
1.180
H9
3.575
H10
0.125
Total
(Sumber : Hasil Perhitungan)
1
2
3
4
5
6
7
8

H3
H4
H5
H6
H7
H8
H9
H10

1
1
1
1
1
1
1
1
-9.290

Jarak (m)
terhadap
titik T
0.309
2.196
1.528
0.203
0.174
1.180
3.575
0.125

Momen
(t.m)
-7.520
-7.100
-5.890
-5.770
-5.220
-2.980
-2.710
-0.110
-42.212

Contoh Perhitungan :
Gaya H2
Luas Bidang

=bxh
= 1,83 x 2,91
= 5,325 m2

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

249

BAB VI. ANALISIS STABILITAS BENDUNG


Gaya hidrostatis = Luas bidang x air
= 5,325 x 1
= 5,325 ton
Momen

= Gaya hidrostatis x Panjang lengan terhadap titik T


= 5,325 x 6,96
= 37,064 ton ( arah momen searah arah jarum jam
bernilai positif)

6.2.3.2.

Gaya Angkat (Uplift Pressure)


Gaya angkat adalah gaya yang diakibatkan tekanan air dan
rembesan. Gaya ini dihitung berdasarkan perhitungan gaya rembesan dan
tekanan air yang telah dihitung sebelumnya. Berat jenis air (air) = 1 t/m3.
Perhitungan dan posisi notasi dapat dilihat pada Gambar 6.3 dan Tabel
6.10 dan Tabel 6.11.

Tabel 6.10

Perhitungan Gaya Angkat Horisontal Bendung Kondisi


Banjir

Gaya
U1 (M-N)
U3 (O-P)
U5 (Q-R)
U7 (S-T)

Besar Gaya
Horisontal
(ton)

50.96
-18.54
28.48
-27.32
33.58
Total
(Sumber : Hasil Perhitungan)

Terhadap Titik T
Panjang Lengan
Momen
(m)
(t.m)
1.5
76.44
1
18.54
-1.5
-42.72
1.5
40.98
93.24

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

250

BAB VI. ANALISIS STABILITAS BENDUNG

Tabel 6.11 Perhitungan Gaya Angkat Vertikal Bendung Kondisi Banjir


Gaya

Besar Gaya
Horisontal
(ton)

U2 (N-O)
20.81
U4 (P-Q)
8.16
U6 (R-S)
30.24
59.20
Total
(Sumber : Hasil Perhitungan)

Terhadap Titik T
Panjang Lengan
Momen
(m)
(t.m)
139.40
6.7
34.26
4.2
1.4
42.33
215.99

Contoh Perhitungan :
Gaya U1
Luas Bidang

= (PM + PN) x LM-N x 0,50


= (4,125 + 10,436) x 7,00 x 0,5
= 50,96 m2

Gaya Uplift

= Luas bidang x air


= 50,96 x 1 = 50,96 ton

Momen

= Gaya uplift x Panjang lengan terhadap titik T


= 50,96 x 1,50
= 76,44 ton (arah momen searah jarum jam bernilai
positif)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

251

BAB VI. ANALISIS STABILITAS BENDUNG

6.2.3.3.

Rekapitulasi Gaya dan Momen Pada Kondisi Banjir


Tabel 6.12

Rekapitulasi Perhitungan Gaya-gaya yang bekerja Pada


Kondisi Banjir

No
1
2

Gaya
Berat
Tekanan
Tanah Aktif
Tekanan
Tanah Pasif

RH

RV

Momen (ton meter)

(ton)

(ton)

Guling

Tahanan
-569.70

-134.57

Pa
14.01

7.00

Pp

-45.25
-43.10

Gempa

24.61

Hidrostatis

43.14

Uplift

Total

38.66

54.59
-9.290

157.70

59.20

215.99

-84.66

435.29

-42.212

-657.17

(Sumber : Hasil Perhitungan)

6.2.3.4.

Analisis Stabilitas Pada Kondisi Banjir


A. Stabilitas Terhadap Guling
=

657.17
=
= 1,51 > 1,5 ()
435,29

B. Stabilitas Terhadap Geser


=


84,66
= 0,75 x
= 1,64 > 1,5 ()

38,66

C. Stabilitas Terhadap Daya Dukung Tanah


Eksentrisitas

=( )(
)<

2
6
=(

7,70
657,17 435,29
7,70
)(
)<
2
84,66
6

= 1,229 < 1,283 ()

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

252

BAB VI. ANALISIS STABILITAS BENDUNG


Tekanan Tanah
Dari Laporan Feasibility Study (FS) Daerah Irigasi
Tonggauna Kabupaten Kolaka, diperoleh data :
Sudut geser ()

= 36,380

Berat jenis tanah basah (b)

= 1,95 t/m3

Tegangan ijin tanah (


)

= 27,00 t/m2

Jenis tanah

= Lempung berpasir

Tekanan tanah maksimum (maks)

6
(1 + ) <

84,66
6 x 1,229
(1 +
) <
=
7,70
7,70

= 11,958 < 27,00 t/m2 (Aman)


Tekanan tanah minimum (min)

6
(1 ) > 0

84,66
6 x 1,229
(1
)>0
=
7,70
7,70

= 0,464 > 0 ()

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

253

LAPORAN TUGAS AKHIR


PERENCANAAN BENDUNG TONGGAUNA KABUPATEN
KOLAKA TIMUR, SULAWESI TENGGARA
(Design of Tonggauna Weir at Kolaka Timur,
Southeast Sulawesi)

BAB VII
RENCANA ANGGARAN
BIAYA DAN JADWAL
PELAKSANAAN PROYEK

UNDIP KEMENPUPERA

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK

BAB VII
RENCANA ANGGARAN BIAYA DAN
JADWAL PELAKSANAAN PROYEK

7.1.

Tinjauan Umum
Metode pelaksanaan merupakan tahapan pelaksanaan pekerjaan
yang digunakan sebagai alat untuk memonitoring jalannya pelaksanaan
pekerjaan bangunan. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar hasil yang
dicapai sesuai dengan rencana, efektif dan efisien. Dalam bab ini akan
membahas tentang:
1. Metode Pelaksanaan
2. Time Schedule dan Kurva S
3. Analisa Man Power
4. Network Planning (NWP)

7.2.

Metode Pelaksanaan
Dalam proyek Pembangunan Bendung Tonggauna, Kabupaten
Kolaka Timur, Provinsi Sulawesi Tenggara. Metode Pelaksanaan yang
dilakukan dan nantinya akan digunakan sebagai acuan selama pelaksanaan
pekerjaan adalah sebagai berikut :

7.2.1.

Deskripsi Lokasi Pekerjaan

Kota
Kendari

90 Km
1.5 Jam

Kelurahan
Abuki

Desa Alaha

45 Km 1 Jam
Kelurahan
Asinua

10 Km
4 Jam

Desa Tonggauna
(Lokasi Bendung)

35 Km 3 Jam
40 Km
2 Jam

Desa Uete

Gambar 7.1. Sketsa Akses Menuju Lokasi Pekerjaan

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

254

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK
Lokasi pekerjaan terletak di Desa Tonggauna Kecamatan Uesi
Kabupaten Kolaka Timur Propinsi Sulawesi Tenggara. Untuk menuju
lokasi dapat ditempuh melalui jalur darat dari ibu kota Kendari 220 km.
Dengan rute sebagai berikut :
- Kendari - Abuki = 90 km (1,5 jam) kondisi jalan, beraspal dan masih
bagus.
- Abuki Asinua = 45 km (1 jam) kondisi jalan, beraspal dan jalan
perkerasan masih bagus.
- Asinua Uete = 40 km (2 jam) kondisi jalan, perkerasan sebagian ada
yang rusak.
- Uete - Alaha = 35 km (3 jam) kondisi jalan, perkerasan sebagian ada
yang rusak.
- Alaha Tonggauna = 10 km (4 jam) kondisi jalan, perkerasan dan
sebagian masih semak-semak.
Untuk material timbunan dapat menggunakan material disekitar
lokasi bendung. Sedangkan untuk material batu dapat didatangkan dari
desa Tonggauna yang berjarak 8 km dari lokasi bendung dan pasir dapat
didatangkan dari desa Puurau yang berjarak 10 km dari lokasi bendung.

7.2.2.

Pekerjaan Persiapan
Sebelum proses Pembangunan Bendung Tonggauna dilakukan,
diperlukan pekerjaan persiapan. Adapun pekerjaan persiapan meliputi :

7.2.2.1.

Mobilisasi dan Demobilisasi


Pekerjaan ini meliputi pekerjaan mendatangkan peralatan yang
dibutuhkan hingga lokasi pekerjaan dan mengembalikannya setelah
seluruh pekerjaan selesai. Mobilisasi peralatan juga dilakukan sebelum
direksi keet dan gudang terbangun. Peralatan yang dimobilisasi disini
hanyalah peralatan berat yang disyaratkan pada dokumen pengadaan.
Peralatan-peralatan lain yang didatangkan ke proyek yang akan dipakai

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

255

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK
kontraktor pada proyek ini diajukan pada konsultan pengawas termasuk
surat uji peralatan dan perizinan serta kelayakan peralatan tersebut
sesuai dengan fungsinya.
Semua alat ukur yang berkaitan dengan testing pada sistim harus
disertai surat uji kelayakan dari informasi berwenang. Untuk alat berat
operator yang didatangkan haruslah yang memiliki sertifikat atau SIO
(Surat Ijin Operasi). SIO dan uji kelayakan berguna untuk memastikan
bahwa peralatan yang digunakan layak, telah tersertifikasi dan
terkalibrasi. SIO guna memastikan bahwa orang tersebut memang
memiliki keahlian di bidang operator alat tersebut.
Dalam pelaksanaan proyek ini, mobilisasi dan demobilisasi
peralatan yang dilakukan terdiri dari :
a. Excavator
b. Wheel Loader
c. Bulldozer
d. Vibrator roller
e. Dump truck
f. Water tank truck
g. Molen
h. Pompa air
i. Stemper

7.2.2.2.

Pembersihan Lahan
Pembersihan lahan dilakukan sebelum kegiatan konstruksi
dimulai. Hal ini bertujuan untuk membersihkan area yang akan
dibangun dari tanaman dan pohon pohon di sekitar lokasi proyek
sehingga mempermudah pekerjaan pekerjaan lainnya.
Tahapan dalam proses pembersihan yaitu :
a. Melakukan pematokan sesuai dengan persetujuan direksi dan
konsultan pengawas.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

256

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK
b. Excavator membersihkan pohon-pohon yang ada di sekitar lokasi.
Sedangkan bulldozer memindahkan maupun membersihkan semaksemak yang ada di sekitar lokasi.
c. Material hasil pembersihan yang dianggap tidak dibutuhkan
dipindahkan dengan menggunakan Wheel Loader kemudian dimuat
keatas dump truck.
d. Dump truck mengangkut material ke lokasi / areal pembuangan
(disposal area).

Gambar 7.2 Pekerjaan Pembersihan Lahan

7.2.2.3.

Kupasan
Kupasan pada pekerjaan tanah bertujuan untuk menghilangkan
humus. Pekerjaan dilakukan dengan cara mengupas top soil setebal
20 cm menggunakan bulldozer, lalu hasil kupasan dimuat ke dump
truck menggunkan wheel loader dan dibuang ke disposal area.

Gambar 7.3 Pekerjaan Kupasan


Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

257

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK

Disposal area adalah tempat pembuangan akhir material yang


tidak lagi diperlukan. Material yang telah diangkut oleh dump truck
kemudian disebar menggunakan bulldozer.

7.2.2.4.

Pembuatan Jalan Sementara


Pembuatan jalan sementara adalah pembuatan akses jalan bagi
kendaraan berat dari jalan utama terdekat ke lokasi proyek. Pembuatan
jalan sementara ini bertujuan untuk mempermudah distribusi material.
Jalan sementara dapat dibuat dari pasir batu / sirtu yang dipadatkan
sepanjang akses dengan tebal 30 cm. Pemadatannya pun tidak perlu
dilakukan secara khusus (dengan roller) melainkan cukup dihampar
dan secara bertahap dengan dilalui angkutan material, pasir batu dan
sirtu tersebut akan padat sendiri. Pekerjaan pembuatan jalan logistik ini
dapat dilakukan di awal proyek bersamaan dengan pembersihan lahan.

Gambar 7.4 Pekerjaan Pembuatan Jalan Sementara

7.2.2.5.

Pengukuran
Pekerjaan pengukuran dapat dilakukan dari awal proyek dengan
tujuan menentukan sumbu lokasi bendung dan elevasi elevasi
ketinggian bangunan yang direncanakan. Pekerjaan pengukuran awal
(pengukuran as bendung dan batas pemasangan

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

bouwplank)

258

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK
dilaksanakan di awal proyek. Pekerjaan pengukuran lainnya (elevasi
mercu, elevasi saluran, elevasi kantong lumpur, dsb.) dilakukan
sepanjang proyek berlangsung.

Gambar 7.5 Pekerjaan Pengukuran

7.2.2.6.

Pemasangan Bouwplank
Bouwplank adalah batas kawasan bangunan yang juga
menentukan elevasi 0.00 bangunan tersebut. Biasanya bouwplank
terletak 2 m dari sisi terluar bangunan. Pekerjaan pemasangan
bouwplank ini dilakukan setelah proses pengukuran awal dilakukan.

Gambar 7.6 Pekerjaan Bouwplank


Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

259

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK

7.2.2.7.

Penyediaan Direksi Keet


Direksi keet merupakan bangunan sementara yang digunakan
sebagai tempat sementara bagi para staf kontraktor, pengawas atau
owner. Ruangan yang ada dalam suatu direksi keet berupa ruang kerja,
ruang rapat, ruang pimpinan, musholla, dan toilet. Karena bangunan ini
bersifat sementara, maka konstruksi dari bangunan ini harus mudah
dibangun dan mudah dibongkar tetapi tetap dapat berdiri kokoh untuk
mengakomodasi kebutuhan staf. Direksi keet ini dibangun di awal
proyek bersamaan dengan pembersihan.

7.2.2.8.

Pembuatan Gudang Material dan Barak Pekerja


Gudang material digunakan sebagai tempat penyimpanan
material. Tempat penyimpanan material harus terlindung dari hujan dan
banjir. Hal ini dimaksudkan agar material yang akan digunakan berada
pada kondisi yang baik. Gudang material juga bersifat sementara, oleh
sebab itu gudang material harus mudah dibuat dan dibongkar. Pada
umumnya gudang material terbuat dari seng sebagai atapnya dan kayu
kaso sebagai kolomnya yang terbuka di keempat sisinya.
Barak pekerja adalah tempat yang diperuntukkan bagi para
pekerja untuk beristirahat di siang hari dan malam hari. Barak pekerja
ini bersifat sementara, walaupun bersifat sementara barak pekerja harus
dilengkapi dengan WC yang layak, memiliki ventilasi dan pencahayaan
yang baik supaya tidak pengap, terlindung dari hujan, dan banjir.
Material yang digunakan untuk membuat barak pekerja antara lain kayu
multipleks sebagai lantai, kayu 60 x 120 cm sebagai kolom, kayu 60 x
120 cm sebagai balok, dan atap asbes. Gudang material dan barak
pekerja ini dibuat di awal proyek bersamaan dengan pembuatan direksi
keet.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

260

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK

7.2.2.9.

Pekerjaan Dewatering
Pekerjaaan pengeringan atau dewatering adalah pengkondisian
tanah agar tidak terganggu oleh air sehingga pekerjaan konstruksi dapat
dilakukan. Pekerjaan dewatering ini menggunakan pompa air dan
dilaksanakan setelah kistdam selesai dibangun dan terus berlanjut
sampai pembangunan bendung selesai. Kistdam adalah bangunan
sementara yang berfungsi untuk mengelakkan aliran sungai selama
pelaksanaan konstruksi bendung berlangsung. Kistdam ini dibangun
menggunakan karung yang diisi tanah, sehingga air sungai tidak
merembes ke dalam daerah pembangunan bendung.

Gambar 7.7 Pekerjaan Dewatering

7.2.2.10.

Administrasi dan Dokumentasi


Pekerjaan administrasi dan dokumentasi adalah pekerjaan
monitoring tertulis sebagai berkas laporan pengawasan dari pihak
kontraktor kepada owner. Waktu pelaksanaan ini adalah selama proyek
berlangsung.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

261

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK

7.2.3.

7.2.3.1.

Pekerjaan Tanah

Galian Tanah dengan Alat Berat


Setelah pekerjaan selesai, dapat dimulai pekerjaan tanah yang
berupa pekerjaan galian. Metode pelaksanaannya yaitu :
a. Melakukan pengukuran dan pemasangan

bouwplank untuk

menentukan batas-batas daerah galian, lebar galian, kedalaman dan


kemiringan galian.
b. Excavator melakukan penggalian tanah dimana untuk pasangan
tegak lebar galian diberi kelonggaran sebesar 0,50 m dari tepi
pondasi agar memudahkan dalam pekerjaan pasangan batu nantinya.
Sedangkan untuk membuat kemiringan, galian harus dibuat sesuai
gambar rencana.
c. Material hasil galian ditumpuk disekitar lokasi pekerjaan
menggunakan excavator. Material hasil galian yang memenuhi
syarat digunakan bahan timbunan sedangkan yang tidak memenuhi
syarat akan diangkut dengan menggunakan dump truck dan dibuang
ke disposal area.

7.2.3.2.

Galian Tanah dengan Manual


Galian

tanah

dengan

cara

manual

dilakukan

dengan

menggunakan tenaga manusia terutama pada bagian bangunan yang


tidak dapat digali dengan alat berat. Metode pelaksanaannya yaitu :
a. Penggalian dilakukan dengan mengacu pada bouwplank yang telah
dipasang sesuai dengan dimensi bangunan yang akan dikerjakan.
b. Pekerjaan galian dilakukan dengan menggunakan alat bantu sekop
dan cangkul.
c. Material hasil galian akan ditumpuk di sebelah galian yang
diperkirakan tidak akan mengganggu pelaksanaan pekerjaan.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

262

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK
d. Material hasil dari galian ini nantinya akan digunakan sebagai
timbunan hasil galian. Sebagai catatan material hasil galian yang
akan digunakan sebagai bahan timbunan harus bersih dan memenuhi
spesifikasi teknis yang ada dalam kontrak serta mendapat
persetujuan dari direksi dan konsultan pengawas.

7.2.3.3.

Timbunan Tanah
Yaitu meliputi timbunan tanah dengan kualitas material pilihan
(selected) yang baik untuk timbunan, bersih dari kotoran dan akar-akar
kayu dan harus mendapat persetujuan direksi dan konsultan pangawas
serta berdasarkan spesifikasi teknis. Dalam pelaksanaannya pekerjaan
timbunan ini perlu diperhatikan dari segi kesehatan dan keselamatan
kerja., dan dampak lingkungan (environmental aspect), terutama pada
saat transportasi material timbunan. Tanah timbunan yang diangkut
dengan dump truck. Bak dump truck harus ditutupi dengan terpal plastik
agar tidak berceceran diperjalanan. Adapun jalan yang dilewati oleh
dump truck harus selalu dirawat dan dijaga dari dampak debu yang
ditimbulkan dari hasil transport tersebut, dengan menyediakan tenaga
pembersih dan penyiraman jika terjadi debu.
Peralatan yang digunakan yaitu :
- Excavator
- Dump truck
- Vibrator Roller
- Bulldozer
- Water Tank Truck
Metode pelaksanaannya yaitu :
- Melakukan pengukuran dan penempatan garis batas pada lokasi
timbunan, sesuai dengan jarak dan elevasi rencana yang telah
ditentukan.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

263

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK
- Dump truck mengangkut material dan menumpahkan pada lokasi
yang telah ditentukan.
- Penghamparan tanah dengan menggunakan bulldozer dimana
pelaksanaannya dilaksanakan layer per layer dengan ketebalan 20
cm.
- Melakukan pemadatan menggunakan vibrator roller dimana
tebal kepadatan tiap layer 15 cm dan kemiringan seperti gambar
rencana.
- Melakukan uji laboratorium dengan cara mengambil sampel
tanah yang telah dihampar untuk meneliti kadar airnya.
- Pada pemadatan layer pertama dilakukan pemadatan percobaan
(Trial Compaction) dengan alat pemadat dengan jumlah lintasan
6 kali, 8 kali dan 10 kali. Jumlah lintasan yang memenuhi
kepadatan lapangan (Field Density Test) dan kepadatan kering
maksimum (Maksimum Dry Density) dijadikan petunjuk / acuan
pada pelaksanaan selanjutnya.
- Lapisan tanah timbunan dipadatkan sampai 90% kepadatan
maksimum sesuai metode Standard Proctor.
- Apabila tanah timbunan tidak mengandung air yang mencukupi,
perlu disiram air dengan menggunakan water tank truck sampai
mencapai kadar air optimum. Sedangkan jika tanah terlalu basah
maka perlu dikeringkan dulu sebelum dipadatkan.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

264

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK

Gambar 7.8 Pekerjaan Timbunan Tanah

7.2.3.4.

Timbunan Kembali pada Bangunan


Pekerjaan ini merupakan pekerjaan menimbun kembali pada
bagian pekerjaan galian konstruksi yang bangunannya telah jadi.
Metode pelaksanaannya yaitu:
a. Memastikan bangunan telah selesai dilaksanakan.
b. Mengisi kembali ruang yang kosong pada bekas galian dengan
menggunakan tanah hasil galian.
c. Melakukan pemadatan dengan menggunakan stemper dan tenaga
manusia.

7.2.3.5.

Jalan Inspeksi Sub-Base Klas C


Setelah pekerjaan timbunan dilakukan (sesuai dengan elevasi
rencana), maka dilakukan pekerjaan jalan inspeksi, bahan yang
digunakan adalah sirtu yang diambil dari sungai.
Metode pelaksanaannya yaitu :
- Material diambil menggunakan excavator kemudian dimuat dengan
menggunakan dump truck.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

265

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK
- Dump truck menumpahkan (dumping) sirtu dilokasi rencana jalan
inspeksi kemudian bulldozer menghampar dan meratakan material
sirtu hingga ketebalan 25 cm dan lebar hamparan 3 m.
- Melakukan pemadatan dengan menggunakan vibrator roller dan
water tank truck hingga dicapai kadar air optimum.

Gambar 7.9 Pekerjaan Jalan Inspeksi

7.2.3.6.

Gebalan rumput
Gebalan rumput adalah pekerjaan penanaman rumput di tanggul
saluran dan tanggul penahan banjir. Pekerjaan gebalan rumput ini dapat
dilakukan setelah tanggul selesai dibuat.

7.2.4.

7.2.4.1.

Pekerjaan Bendung dan Bangunan Pelengkap

Pasangan Batu Kali


Pekerjaan pasangan batu adalah pekerjaan pada bendung,
kantong lumpur, saluran primer, saluran pembilas dan retaining wall.
Pekerjaan pasangan dapat dilaksanakan setelah pekerjaan galian tanah
pada lokasi pekerjaan telah selesai dilaksanakan.
Pelaksanaan pekerjaan dilakukan dengan cara manual yaitu :

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

266

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK
a. Membuat mortar yang terdiri dari campuran 1Pc: 4Ps serta air
secukupnya yang diaduk dalam molen.
b. Memberi mortar pada dasar galian sebelum batu pertama dipasang
agar batu tidak langsung duduk di atas tanah / galian.
c. Susunan batu dipasang dengan rapi dan saling mengikat /
mengancing dimana setiap batu diberi spasi dan diisi campuran yang
padat dengan ketebalan antara 2 - 5 cm. (tidak ada batu yang
bersinggungan).
d. Pada sisi belakang pasangan ( sisi yang tidak diplester) akan dibuat
kasar agar pada saat penimbunan kembali pasangan tidak mudah
bergeser.
Sedangkan peralatan yang akan digunakan yaitu :
a. Molen
b. Arco / gerobak dorong
c. Skop
d. Pacul
e. Sendok semen
f. Tali tukang
g. Kayu kaso 5/7 cm atau kayu dolken, papan tebal 2 cm untuk
pemasangan bouwplank.

7.2.4.2.

Plesteran
Pekerjaan plesteran dilaksanakan sesudah pekerjaan pasangan
batu pada selesai. Plesteran dipasang untuk mengurangi rembesan air.
Plesteran terdiri dari campuran 1Pc : 3 Ps serta air secukupnya yang
diaduk dalam molen. Plesteran pada pasangan batu akan dilaksanakan
dengan dua langkah, yakni :
a. Langkah pertama, pasangan batu diberi / dilapisi campuran dengan
permukaan kasar (dibrankal) untuk mengisi semua celah yang masih

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

267

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK
ada serta menutup semua permukaan pasangan batu dengan
ketebalan berkisar 1 (satu) cm.
b. Pada langkah kedua, pasangan batu yang telah dibrankal, kemudian
dilapisi lagi dengan campuran dengan ketebalan 1 1,5 cm untuk
selanjutnya diratakan dan dihaluskan dengan papan gosok. Sebelum
plesteran dimulai, maka permukaan pasangan batu harus dibersihkan
dari semua kotoran dan sisa campuran serta disiram dengan air untuk
pasangan baru, sedangkan pada pasangan lama akan disiram dengan
air semen. Setelah pekerjaan plesteran cukup kering, kemudian harus
dipelihara dengan siraman air secara rutin.
Adapun peralatan yang akan digunakan yaitu :
a. Molen
b. Arco / gerobak dorong
c. Skop
d. Pacul
e. Sendok semen dan papan gosok
f. Tali tukang
g. Kayu kaso 5/7 cm atau kayu dolken, papan tebal 2 cm untuk
pemasangan bouwplank.

7.2.4.3.

Pekerjaan Siar
Pekerjaan siar dilakukan setelah pekerjaan pasangan batu pada
bangunan selesai dilaksanakan. Pekerjaan siar dipasang di sisi miring
saluran kantong lumpur dan sayap bendung yang bertujuan untuk
menghindari terjadinya rembesan air ke luar saluran melalui pertemuan
antara pasangan batu yang satu dengan pasangan batu lainnya. Adapun
cara pelaksanaan pekerjaan siar yaitu :
a.

Material semen PC, pasir pasangan, dan air harus on site di lokasi
yang akan dikerjakan

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

268

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK
b.

Untuk siaran plesteran batu, perbandingan campuran antara semen


dan pasir yaitu 1 : 2

c.

Pasir dimasukkan ke dalam concrete mixer terlebih dahulu


kemudian semen dengan perbandingan tersebut di atas dan diaduk
sampai pasir dan semen bercampur. Setelah dirasa sudah tercampur
baru kemudian diberi air bersih secukupnya sesuai kebutuhan spesi
dengan posisi concrete mixer masih mengaduk. Setelah spesi sudah
matang/campuran semen, pasir dan air merata, adukan spesi
dituang ke kotak tempat spesi.

d.

Spesi kemudian dibawa ke tempat siaran dimana tukang batu dan


pekerja sudah siap di tempat.

e.

Sebelum spesi dipasang terlebih dahulu semua bidang sambungan


diantara batu muka harus dikorek. Apabila bidang yang dikorek
terlalu kering maka terlebih dahulu permukaan dibasahi dengan
menggunakan air bersih untuk mendapatkan ikatan yang kuat
antara spesi lama dengan spesi baru.

f.

Siaran dibentuk sesuai lekukan sambungan dan dirapikan sehingga


terlihat indah.

g.

Semua spesi yang jatuh atau tidak menempel dibersihkan dan


dibuang.

7.2.4.4.

Pekerjaan Penulangan (Pembesian)


Pekerjaan penulangan atau pembesian adalah bagian dari
pekerjaan beton bertulang, fungsi dari penulangan atau pembesiaan
adalah untuk menahan gaya atau tegangan tarik yang bekerja pada
konstruksi. Pemasangan pembesian pada bendung berada pada mercu
bendung dan kolam olak. Diameter besi tulangan yang akan dipakai
adalah 12. Adapun tahapan pekerjaan penulangan yaitu :
a.

Pelaksanaan pekerjaan penulangan memerlukan tempat yang


cukup luas untuk menaruh, memotong besi

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

beton dan

269

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK
membengkoknya sehingga sesuai dengan gambar yang telah
disetujui.
b.

Besi beton yang dipakai untuk proyek ini mutu dan diameter
(spesifikasi) disesuaikan dengan gambar kerja dan RKS.

c.

Potong dan bentuk besi beton dengan ukuran sesuai gambar kerja.

d.

Rangkai besi beton dengan menggunakan kawat beton.

e.

Besi beton yang telah difabrikasi diberi tanda sesuai dengan


penempatannya, supaya tidak membingungkan/membuang waktu
untuk saat akan dipasang.

f.

Untuk penulangan kolam olak dan mercu, pembesian tulangan


dikerjakan lebih dahulu baru setelah itu dilanjutkan dengan
pemasangan bekisting.

7.2.4.5.

Pekerjaan Bekisting
Pekerjaan bekisting adalah pekerjaan yang wajib dilakukan
sebelum pekerjaan beton bertulang dilaksanakan. Pada proyek ini
pekerjaan bekisting dikerjakan sebelum pengecoran tubuh bendung.
a.

Acuan beton/bekisting adalah konstruksi non permanen sebagai


cetakan pembentukan beton muda agar setelah mengeras
mempunyai bentuk, dimensi dan kedudukan yang benar sesuai
gambar kerja

b.

Bahan untuk bekisting terbuat dari papan, balok dan plywood,


bekisting harus dikonstruksikan kuat agar pada saat pengecoran,
bekisting harus mampu menahan beban campuran beton.

c.

Sebelum proses pengecoran dilaksanakan maka bagian dalam


bekisting diolesi dengan oli dan bahan lain yang memudahkan
dalam pembongkaran dengan syarat syarat bahan tersebut tidak
mempengaruhi mutu atau warna beton cor. Pelaksanaan ini
dilakukan sebelum penyetelan besi penulangan

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

270

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK

7.2.4.6.

Pekerjaan Selimut Beton Bertulang 1 Pc : 1,5 Ps : 2,5 Kr (K-225)


Penggunaan

mutu

beton

K-225

dilaksanakan

untuk

menyelimuti mercu dan kolam olak dengan beton, hal ini dilakukan
untuk membuat konstruksi tahap terhadap gerusan air saat melintas di
mercu dan melimpas di kolam olak. Adapun cara pelaksanaannya yaitu:
a.

Setelah pembesian dan bekististing sudah siap, kokoh dan aman


saat pengecoran maka tahap selanjutnya adalah melakukan
Pencampuran material beton dengan menggunakan molen dengan
perbandingan takaran sesuai dengan hasil percobaan lab hingga
dicapai mutu beton K-225 dengan ketebalan menyesuaikan dengan
gambar kerja.

b.

Pengecoran dibantu dengan menggunakan gerobak dorong dari


tempat pencampuran ke lokasi pengecoran.

c.

Pemadatan dilakukan dengan menggunakan concrete vibrator agar


tidak ada rongga pada beton nantinya.

d.

Sebagai catatan setelah selesai pengecoran, maka akan dilakukan


perawatan beton dengan melakukan penyiraman sampai beton
mencapai umur yang baik.

7.2.5.

7.2.5.1.

Pekerjaan Lain lain

Pekerjaan Pintu
Jenis pintu yang digunakan dalam proyek ini adalah pintu
sorong dimana dimensi pintu harus sesuai dengan gambar rencana dan
spesifikasi teknis. Pintu yang terpasang harus baru serta dibuat /
diproduksi oleh pabrik dan disetujui oleh direksi dan konsultan
pengawas. Pada proyek ini pintu dipasang pada bangunan pembilas,
bangunan pengambilan, dan bangunan penguras.
Metode pelaksanaannya yaitu :
a. Memastikan bahwa pekerjaan pasangan pada bangunan telah selesai.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

271

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK
b. Menyesuaikan ukuran pintu dengan tempat dudukan pada bangunan.
Apabila tempat dudukan belum sesuai harus dikikis atau dibetel
dengan tenaga manual hingga pintu dapat berdiri dengan kokoh.
c. Penyetelan pintu dilakukan dengan menggunakan mistar waterpass.
Hal ini dilakukan untuk menyeimbangkan pintu pada posisi vertikal
maupun horizontal.
d. Setelah dianggap nivo pada mistar waterpass, pekerja segera
mengecor bagian pinggir pintu agar bisa menyatu dengan pasangan
batu pada bangunan.
e. Untuk mempercantik bangunan dilakukan pengecetan pada pintu
sorong.

7.2.5.2.

Finishing
Pekerjaan finishing ini adalah pekerjaan akhir setelah bendung
selesai dibuat yang termasuk di dalamnya pekerjaan pembersihan
lahan, pembongkaran gudang material, barak pekerja, dan direksi keet.

7.3.

Time Schedule dan Kurva S


Time Schedule merupakan penjadwalan proyek yaitu berupa
prosentase pembobotan tiap pekerjaan terhadap jumlah total pekerjaan
dalam satuan rupiah, lalu diplotkan bobot tiap pekerjaan tergantung lama
pekerjaan dilaksanakan di lapangan.
Data yang dibutuhkan adalah :
1.

Rancangan Anggaran Biaya (RAB)

2.

Durasi Pelaksanaan tiap-tiap pekerjaan

3.

Tahap Pelaksanaan

Cara membuat Time Schedule adalah :


1.

Menghitung bobot untuk setiap pekerjaan. Bobot pekerjaan merupakan


perbandingan biaya tiap pekerjaan dengan biaya total pekerjaan di kali
100%.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

272

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK
2.

Mengeplot rencana kegiatan dalam bentuk barchat (kapan dimulai dan


berakhirnya setiap pekerjaan)

3.

Mengeplotkan bobot perminggu untuk setiap pekerjaan yang nilainya


dihitung dari bobot setiap pekerjaan dibagi durasi setiap pekerjaan.
Kurva S merupakan gambaran kemajuan proyek yang diplot pada

sumbu X dan Sumbu Y, di mana sumbu X menyatakan satuan waktu


sepanjang durasi proyek dan sumbu Y merupakan persentase rencana
kemajuan proyek yang didapat dari bobot pekerjaan mingguan proyek.
Kurva S digunakan untuk mengendalikan kemajuan proyek selama
pelaksanaan.
Data yang dibutuhkan untuk membuat kurva S adalah time schedule.
Cara membuat kurva S adalah :
1.

Menjumlahkan bobot pekerjaan perminggu.

2.

Menhitung kumulatif dari jumlah bobot perminggu

3.

Memplotkan nilai kumulatif bobot perminggu tersebut di atas.

7.3.1.
7.3.1.1.

Perhitungan Volume Pekerjaan


Pekerjaan Persiapan
a. Mobilisasi dan Demobilisasi = 1,00 ls
b. Pembersihan = 10.796,05 m
Gambar Denah Bendung
89.50

+400.74 m

+394.70 m

+392.79 m

Lantai Muka +395.00 m

Mercu Bendung +397.91 m

Q Banjir Rencana = 231.16 m3/det

59.98

Kolam Olak +391.91 m

+398.41 m

Pintu Pembilas Bendung


Pintu Sorong = 2 buah
Lebar = 2.10 m

Pintu Pengambilan
Pintu Sorong = 2 buah
Lebar = 1.50 m

+400.74 m

+398.41 m

+3
96
.7

+400.74 m

+396.12 m

+398.36 m

+398.36 m

PERHITUNGAN

No.
I

59,9

x 89,5
Total Volume

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

5361,05

5361,05

273

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK

Gambar Denah Kantong Lumpur Dan Saluran Penguras

+400.74 m

1
.7
94
+3

+398.41 m

9
.7

96

+3

+398.36 m

+398.36 m

+398.36 m

+396.74 m

+395.38 m

.
94
+3

+398.36 m

91

21.74

+396.12 m

H+398.36 m
Q
b
if
B

Saluran Penguras
= 1,5
= 4,91 m/det v
m
= 1,5
= 2,60 m
h
= 0,93 m
= 0,0040
L
= 50,00 m
= 5,39 m

Pintu Saluran Penguras


Pintu Sorong = 3 buah
Lebar = 1.75 m

= 1.237,00 m
= 7,00 m
= 0,000072
= 10,51 m

Q
m
is
L

= 4,089 m/det
= 1,5
= 0,0036
= 205,00 m

+398.12 m

+396.54 m

Saluran Kantong Lumpur


Volume
b
in
B

+398.12 m

A
v
h
B

Saluran Primer
= 2.200,00 Ha Q
= 3,41 m/det
= 1,00 m
m
= 1,5
= 0,99 m
b
= 2,00
= 4,94 m
L
= 300,00 m

85.45
250.00

PERHITUNGAN

No.
I 21,7 x

250,0
Total Volume

5435,00

5435,00

3.750

3.750

c. Kupasan = 3.750 m
Gambar Potongan Tanggul Pada Bendung

12.53

PERHITUNGAN

No.
I

12,50

300

=
Total Volume

d. Pengukuran = 256,67 m
e. Pemasangan Bouwplank = 256,67 m
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

274

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK
f. Penyediaan Direksi Keet = 200,00 m
Gambar Denah Direksi Keet
20.00

10.10

PERHITUNGAN

No.
I 10,0 x 20

Total Volume

200,00

200,00

g. Pembuatan Gudang Material dan Barak Pekerja = 116,00 m


Gambar Denah Gudang Dan Barak

3.00

8.00

BARAK
12.00

GUDANG

10.00

PERHITUNGAN

No.
I
II

8,0
3,0

x 10
x 12
Total Volume

=
=

80,00
36,00

116,00

h. Pekerjaan Dewatering = 1,00 ls


i. Pekerjaan Kistdam = 495,00 m
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

275

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK
Gambar Potongan Kistdam

3.00

1
:1

3.00

9.00
PERHITUNGAN

No.
I

6,0

x 3,0

27,5
Total Volume

495,00

495,00

=
=
=

1397,55
137,50
268,13

1803,18

j. Administrasi dan Dokumentasi = 1,00 ls

7.3.1.2.

Pekerjaan Tanah
a. Galian Tanah dengan Alat Berat = 13.900,02 m
Gambar Mercu Bendung

6.60

2.00

II

2.00
1.00

III

3.00

2.80
0.90
1.00

PERHITUNGAN

No.
6,60
7,70
I
x
x
II 2,5 x 2,00 x 27,5
III 3,25 x 3,00 x 27,50

28

Total Volume

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

276

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK

Gambar Kolam Olak


20.27

7.33

13.30

PERHITUNGAN

No.
I 16,8 x 7,3 x

27,50

= 3383,44

Total Volume

= 3383,44

Gambar Lantai Muka


4.60

15.00

1.60
IV

I
II

III

2.00

No.
I
II
III
IV

PERHITUNGAN
15,0
0,75
0,5
3,3

x 1,60 x
x 1,00 x
x 1,00 x
x 2,6 x

27,50
27,50
27,50
x 2,00
27,50
Total Volume

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

=
=
=
=
=

660,00
20,63
27,50
235,95
944,08

277

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK

Gambar Sayap Tegak Bendung (Up Stream)


6.55

28.80

5.11

5.11

4.00

PERHITUNGAN

No.
I 5,28 x 5,11 x

28,80
Total Volume

776,31

776,31

Gambar Sayap Miring Bendung (Up Stream)


6.26

4.31
5.74

I
II

5.11
1.50

III

12.00

PERHITUNGAN

No.
II

5,1

x 4,31 x

0,50

12

Total Volume

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

x 2,00

264,29

264,29

278

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK

Gambar Tembok Tegak Bendung (Down Stream)


11.51

7.35
I

II

6.70

III

4.00

PERHITUNGAN

No.
I 5,68 x 6,70 x 11,5 x

875,28

875,28

350,60

350,60

Total Volume

Gambar Sayap Miring Bendung (Down Stream)


5.02

I
II

5.82

III

12.00

PERHITUNGAN

No.

I 5,02 x 5,82 x

0,5 x

12

Total Volume

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

279

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK
Gambar Bangunan Intake

3.51
+396.79 m

2.02

2.50

1.42

II

3.50

23.50

PERHITUNGAN

No.

I 3,01 x 2,02 x 23,5 x 2,00


II 3,50 x 1,42 x 23,5
Total Volume

=
=

285,29
116,80

402,09

Gambar Bangunan Kantong Lumpur

+395.38 m

205,00

12.05

1.79

7.60

PERHITUNGAN

No.
I 9,83 x 1,79 x 205

Total Volume

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

3605,28

3605,28

280

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK

Gambar Bangunan Penguras

3.17

3.13

2.83

II

1.60

6.80

PERHITUNGAN

No.
I 2,4 x
II 7,00 x

7.00

3,1
2,8

x
x

6,8
6,8

Total Volume

=
=

101,52
134,71

236,23

Gambar Bangunan Penguras

13.11

3.00
II
I

III

3.68
PERHITUNGAN

No.
I 8,40 x 3,00 x

50
Total Volume

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

1259,25

1259,25

281

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK
b. Galian Tanah dengan Manual = 585,72 m
Gambar Bangunan Kantong Lumpur

+395.38 m

205,00

12.05

0.44
0.30

0.60

0.30
7.60

PERHITUNGAN

No.

=
=

91,02
430,50

521,52

x 2,00

=
=

25,20
39,00

Total Volume

64,20

I 0,37 x 0,60 x 205 x


II 7,00 x 0,30 x 205

Total Volume

Gambar Bangunan Penguras

7.79

II

0.54
I

III

0.60

0.30
3.20
No.
I 0,42 x 0,60 x 50
II 2,60 x 0,30 x 50

PERHITUNGAN

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

282

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK
c. Timbunan Tanah = 7.129,80 m

Gambar Sayap Timbunan Tanah Pada Tanggul

7.87

2.33

12.53

PERHITUNGAN

No.
I 10,2 x 2,33 x

300,00
Total Volume

7129,80

7129,80

d. Timbunan Kembali pada Bangunan = 2.901,57 m


Gambar Timbunan Sayap Tegak Bendung (Up Stream)
6.05

28.80

5.74

2.75
1.50
1.00
1.75

PERHITUNGAN

No.
I 1,38 x 1,50 x
II 4,40 x 5,74 x

28,80
28,80
Total Volume

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

=
=

59,40
727,37

786,77

283

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK

Gambar Timbunan Sayap Miring Bendung (Up Stream)


6.26

4.13
2.13
3.93

I
II

III

12.00

PERHITUNGAN

No.
II

x 2,13 x

9,13

Total Volume

156,74

156,74

Gambar Timbunan Tembok Tegak Bendung (Down Stream)


8.00
7.75

11.51

6.75

6.00

II

2.25
III

1.50

1.50

No.

PERHITUNGAN

I 7,88 x 0,30 x 11,5 x


II 4,50 x 6,00 x 11,5 x
III 1,88 x 1,50 x 11,5 x

2
2
2

Total Volume

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

=
=
=

54,38
621,54
64,74

740,67

284

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK

Gambar Timbunan Sayap Miring Bendung (Down Stream)


6.38
3.30
1.30
3.10
I
II

III

12.00

PERHITUNGAN

No.
I 3,20 x 1,30 x

9,2 x 2,00

Total Volume

76,46

76,46

=
=
=

101,17
456,45
51,82

609,44

Gambar Bangunan Intake


4.43
I

0.50
3.45

4.18
II

1.45

+396.79 m

0.90

III

1.00
23.50

No.

PERHITUNGAN

I 4,31 x 0,50 x 23,5 x


II 2,82 x 3,45 x 23,5 x
III 1,23 x 0,90 x 23,5 x

2
2
2

Total Volume

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

285

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK

Gambar Bangunan Kantong Lumpur

+395.38 m

205,00

2.45
0.45

2.43

PERHITUNGAN

No.

I 2,44 x 0,45 x 205 x 2,00


Total Volume

450,18

450,18

=
=

81,30
81,30

Gambar Bangunan Penguras


2.82

3.13

1.00

6.80

No.

PERHITUNGAN

I 1,91 x 3,13 x 6,8 x 2


Total Volume

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

286

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK
e. Jalan Inspeksi Sub-Base Klas C = 708,30 m
Gambar Sayap Timbunan Tanah Pada Tanggul

7.87
0.30

PERHITUNGAN

No.
I 7,87 x 0,30 x

300,00
Total Volume

708,30

708,30

f. Gebalan Rumput = 1.980,00 m

Gambar Sayap Timbunan Tanah Pada Tanggul

3.30

PERHITUNGAN

No.
I 3,30 x 300 x

7.3.1.3.

2,00

= 1980,00

Total Volume

= 1980,00

Pekerjaan Bendung dan Bangunan Pelengkap


a. Pasangan Batu Kali = 5.057,64 m

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

287

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK

Gambar Mercu Bendung

I
0.66

II

III

2.02

IV
0.31 V
0.30

1.54

PERHITUNGAN

No.
I
II
III
IV
V

2.65

0,67
1
x
2
1,54 x
1
x
2
0,30 x

24,40

0,64 x 1,54 x
2,02 x

24,40

24,40

2,68 x 2,65 x
0,31 x

24,40

24,40
Total Volume

16,30

12,02

75,90

86,64

=
=

2,27
193,14

387,39

124,58

=
=

218,90
158,70

Gambar Pondasi Bendung


4.68

3.01

I
II

1.99

IV
III
V

VI

VII

1.99

1.00

2.00

II
III
IV
V
VI
VII

1.00

0.90

2.80

PERHITUNGAN

No.
I

1.00

4,68
1
2
3,98
1,99
1
2
1
2
2,80

27,50

x 3,01

x 3,01

27,50

x 2,00
x 2,90

x
x

x 1,99

x 1,00

27,50

27,36

x 2,99

x 0,90

27,50

37,00

x 4,98

=
=

383,46
1337,39

27,50
27,50

27,50
Total Volume

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

288

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK
Gambar Kolam Olak
III

2.54

2.18

II

9.54

0.88

1.76

PERHITUNGAN
No.
27,50
I 2,08 x 9,54 x
27,50
II 1,76 x 2,18 x
1
III
x 1,76 x 0,88 x
27,50
2
Total Volume

=
=

544,38
105,51

21,30

671,18

=
=
=
=

206,25
20,63
27,50
254,38

Gambar Lantai Muka

15.00
I

1.50

II

III

1.00
0.50

0.50
1.00
No.
I 15,0 x 0,50 x
II 0,75 x 1,00 x
III 0,5 x 1,00 x

PERHITUNGAN
27,50
27,50
27,50 x 2,00
Total Volume

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

289

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK

Gambar Pilar Bendung


I

4.25
II

2.83

2.75
2.91

4.55
III

7.61

No.
I 0,10 x 11,5 x
II 4,40 x 2,83 x
III 7,5 x 2,91 x

PERHITUNGAN
0,50
x 2,0
0,50
x 2,0
0,50
x 2,00
Total Volume

=
=
=
=

1,13
12,45
21,69
35,27

Gambar Sayap Miring Bendung (Up Stream)


6.26

0.50

8.12
5.74

1.00

I
II

1.00

1.50

III

12.00

No.
I 9,13 x 8,12 x
II 0,5 x 1,00 x
III 0,61 x 1,50 x

PERHITUNGAN
0,50
x 2
1,00
x 4
12,00
x 2
Total Volume

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

0.50
0.71

=
=
=
=

74,14
2,00
21,78
97,92

290

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK

Gambar Sayap Miring Tegak Bendung (Up Stream)


0.50

8.12
5.74

No.
I 0,50 x 5,74 x

8,12

PERHITUNGAN
x 2 x 0,5

Total Volume

23,30

23,30

Gambar Tembok Tegak Bendung (Up Stream)


28.80

0.50

5.74

2.00

1.50

3.00

No.
I 1,25 x 5,74 x 28,8
II

PERHITUNGAN

x 1,50 x 28,8
Total Volume

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

206,64

=
=

129,60
336,24

291

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK

Gambar Tembok Tegak Bendung (Down Stream)


5.37

0.50

8.83

8.83

6.71
I

2.00

1.50

1.50

II

3.00
2.12

PERHITUNGAN
No.
I 1,25 x 8,83 x 5,37 x 2
II 3,00 x 1,50 x 7,49 x 2
III 1,25 x 2,12 x 7,77 x 2
Total Volume

=
=
=
=

118,54
67,41
41,18
227,13

=
=
=
=

5,76
310,77
103,59
420,12

Gambar Tembok Tegak Bendung (Down Stream)


11.51
I

0.50

6.50

0.50
1.00

6.50
II

1.50

III

3.00

PERHITUNGAN
No.
I 0,50 x 0,50 x 11,5 x 2
II 2,25 x 6,00 x 11,5 x 2
III 1,50 x 3,00 x 11,5 x 2
Total Volume

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

292

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK

Gambar Tembok Tegak Miring Bendung (Down Stream)


7.95

5.62

PERHITUNGAN

No.
II 0,50 x 7,95 x 5,6

x 0,5

Total Volume

22,34

22,34

Gambar Sayap Miring Bendung (Down Stream)


6.38
0.50

7.95
II
I

1.00

1.00
0.71

1.50 III

0.50

12.00

PERHITUNGAN

No.
I 0,50 x 1,00 x 1,00 x
II 9,19 x 7,95 x 0,5 x
III 0,61 x 1,50 x 12,0 x

0,5
2
2

Total Volume

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

=
=
=

1,00
73,06
21,78

95,84

293

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK

Gambar Bangunan Intake

3.50

7.90

0.50
0.50

3.45
II

0.30
III
0.50

10.00

1.50

1.50

1.50

1.50

PERHITUNGAN

No.
I
II
III
IV
V

0.60

0,50
2,00
0,90
0,30
0,50

x
x
x
x
x

0,50
3,45
1,50
3,50
3,45

x
x
x
x
x

7,90 x 2
17,9 x 2
10,0 X 2
10,0
3,5
Total Volume

3,95
247,02
27,00
10,50
6,04
294,51

=
=
=
=
=
=

Gambar Bangunan Kantong Lumpur

+395.38 m

205,00

0.30
3.19
III

0.47

0.30

0.30

II

1.75

3.50

1.75

PERHITUNGAN

No.
I 7,00 x 0,30 x 205
II 0,42 x 1,07 x 205 x
III 0,30 x 3,19 x 205

Total Volume

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

=
=
=

430,50
184,25
196,19

810,94

294

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK

Gambar Bangunan Penguras

3.00

0.88

2.98
II

0.60

6.80

0.60

7.00

PERHITUNGAN

No.
I
II
III
IV

0.30
0.30

III

0,30
0,45
0,60
0,88

x
x
x
x

7,00
2,98
0,60
2,98

x
x
x
x

6,8
6,8

6,8
3,0

x 2
x 2
x 2
Total Volume

=
=
=
=
=

14,28
18,24
4,90
15,73
53,15

=
=
=

39,00
82,80
63,00

184,80

Gambar Bangunan Penguras

2.76
II
I

0.30

2.60

0.30

PERHITUNGAN

No.
I 0,30 x 2,60 x
II 0,30 x 2,76 x
III 0,42 x 1,50 x

III

50
50

50

x
x

2
2

Total Volume

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

295

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK
b. Plesteran = 2.959,02 m
Gambar Lantai Muka

15.00
I

1.50

II

III

1.00
0.50

0.50
1.00
PERHITUNGAN

No.
II 15,0 x 27,5

Total Volume

412,50

412,50

=
=
=
=

7,61
49,81
86,78
144,19

Gambar Pilar Bendung


I

4.25
II

2.83

2.75
2.91

4.55
III

7.61

No.
I 0,50 x 7,6 x
II 4,40 x 2,83 x
III 7,5 x 2,91 x

PERHITUNGAN
2,00
4,00
4,00
Total Volume

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

296

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK

Gambar Sayap Miring Tegak Bendung (Up Stream)


0.50

8.12
5.74

No.
I 0,50 x 5,74 x

8,12

PERHITUNGAN
x 2

Total Volume

46,61

46,61

Gambar Tembok Tegak Bendung (Up Stream)


28.80

0.50

5.74

2.00

1.50

3.00

No.
I 5,74 x 28,8

PERHITUNGAN

Total Volume

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

165,31

165,31

297

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK

Gambar Tembok Tegak Bendung (Down Stream)


11.51
I

0.50

6.50

0.50
1.00

6.50
II

1.50

III

3.00

PERHITUNGAN

No.
I 6,50 x 11,5 x

2,0
Total Volume

149,63

149,63

44,68

44,68

Gambar Tembok Tegak Miring Bendung (Down Stream)


7.95

5.62

PERHITUNGAN

No.
II 0,50 x 7,95 x 5,6

Total Volume

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

298

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK

Gambar Bangunan Intake

3.50

7.90

0.50
0.50

3.45
II

0.30
III
0.50

0.60

10.00

1.50

1.50

1.50

1.50

PERHITUNGAN

No.
I 8,95 x 3,45 x 2,00
II 4,00 x 10,0
III 7,00 x 3,95

Total Volume

=
=
=

61,76
40,00
27,65

129,41

Gambar Bangunan Kantong Lumpur

+395.38 m

205,00

0.30
3.19
III

0.47

0.30

0.30

II

1.75

1.75

PERHITUNGAN

No.
I 0,47 x 205
II 7,00 x 205

3.50

Total Volume

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

=
=

192,70
1435,00

1627,70

299

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK

Gambar Bangunan Penguras

3.00

0.88

2.98
II

0.60

6.80

0.60

7.00

PERHITUNGAN

No.
I 2,98 x 6,80 x
II 7,00 x 6,80
III 3,50 x 2,98 x

0.30
0.30

III

2,0
2,0
Total Volume

=
=
=

40,53
47,60
20,86

108,99

130,00

130,00

Gambar Bangunan Penguras

2.76
II
I

0.30

No.

2.60

III
0.30

PERHITUNGAN

I 2,60 x 50,0
Total Volume

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

300

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK
c. Siar = 1.878,29 m
Gambar Sayap Miring Bendung (Up Stream)
6.26

0.50

8.12
5.74

1.00

I
II

1.00

1.50

III

0.50
0.71

12.00

PERHITUNGAN

No.
I

9,1

2,00

x 8,12 x

Total Volume

148,27

148,27

Gambar Sayap Miring Bendung (Down Stream)


6.38
0.50

7.95
II
I

1.00

1.00
0.71

1.50 III

0.50

12.00

PERHITUNGAN

No.
I 9,19 x 7,95 x

2,0

Total Volume

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

146,12

146,12

301

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK

Gambar Bangunan Kantong Lumpur

+395.38 m

205,00

0.30
3.19
III

0.47

0.30

0.30

II

1.75

1.75

PERHITUNGAN

No.
I 3,19 x 205

3.50

Total Volume

1307,90

1307,90

276,00

276,00

Gambar Bangunan Penguras

2.76
II
I

0.30

0.30

PERHITUNGAN

No.
II 2,76 x 50,0 x

2.60

III

Total Volume

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

302

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK
d. Penulangan (Pembesian) = 5.825,04 kg
Gambar Sayap Miring Bendung (Up Stream)
2.8

1.71

7.99

1.79
9.54

PERHITUNGAN

No.
Panjang Besi
Lebar Bendung
Jarak Antar Besi
Jumlah Besi
Panjang Total Besi
Berat Besi

=
=
=
=
=
=

23,86
m
27,50
m
0,20
cm
137,50 bh
137,50 x
3280,75 x

23,86
0,89

=
=

3280,75 m
2912,52 kg

Panjang Besi
Lebar Bendung
Jarak Antar Besi
Jumlah Besi
Panjang Total Besi
Berat Besi

=
=
=
=
=
=

23,86
m
27,50
m
0,20
cm
119,30 bh
119,30 x
3280,75 x

27,50
0,89

=
=

3280,75 m
2912,52 kg

Total Volume

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

5825,04

303

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK
e. Bekisting = 389,86 m
Gambar Sayap Miring Bendung (Up Stream)
3
2.8

1.71

7.99

1.79
9.54

PERHITUNGAN

No.
13
11

x
x

28
0,3

344,58
3,39

=
=
=
=

4,66
9,31
18,62
9,31

389,86

=
=

:1

0.20

0.70

x
x
x
x

0,70
0,70
0,99
0,99

x
x
x
x

0,50
19,0
19,0
0,50

19,0

19,0

I 0,70
II 0,7
III 1
IV 1

1:

0.99

0.70

Total Volume

f. Beton K.225 = 196,85 m


Gambar Sayap Miring Bendung (Up Stream)
3

2.8

1.71

7.99

1.79
9.54

PERHITUNGAN

No.
24

28

0,30
Total Volume

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

196,85

196,85

304

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK

7.3.1.4.

Pekerjaan Lain-Lain
a. Pintu Sorong Kayu
- Pembilas Bendung (b = 1,05 m) = 2,00 buah
- Pengambilan (b = 1,50 m) = 2,00 buah
- Penguras (b = 1,75 m) = 3,00 buah
b. Finishing = 1,00 ls

7.3.2.

Daftar Harga Satuan


NO.

U RA I A N

I.

UPAH TENAGA KERJA

1
2
3
4
5
6

Pekerja
Tukang
Kepala Tukang
Mandor
Juru Ukur, Operator / Mekanik Alat Berat
Pembantu Juru Ukur & Operator / Mekanik Alat Berat

II.

BAHAN / MATERIAL

A.

KELOMPOK AIR, TANAH, BATU DAN SEMEN

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Air
Batu / batu kali/ batu belah
Kerikil / Koral
Lempengan rumput
Pasir beton
Pasir pasang kali/gunung
Pasir urug
Portland Cement (PC 50 kg / zak)
Sirtu
Tanah timbunan / urug di lokasi
Tanah timbunan / urugan di Borrrow Area

B.

KELOMPOK KAYU

1
2
3
4
5
6
7
8
9

Kayu Kelas I
Kayu Kelas II
Kayu Kelas III
Multiplek tebal 0,6 cm
Multiplek tebal 0,9 cm
Multiplek tebal 1,2 cm
Multiplek tebal 1,8 cm
Triflex t=3mm
Triflex t=4mm

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

SATUAN

HARGA SATUAN
( Rp. )

OH
OH
OH
OH
OH
OH

60.000,00
75.000,00
85.000,00
80.000,00
100.000,00
60.000,00

m3
m3
m3
m3
m3
m3
m3
zak
m3
m3
m3

25.000,00
200.000,00
175.000,00
2.000,00
135.000,00
135.000,00
100.000,00
78.000,00
42.500,00
3.500,00
5.500,00

m3
m3
m3
lbr
lbr
lbr
lbr
lbr
lbr

3.200.000,00
1.850.000,00
1.400.000,00
75.000,00
120.000,00
160.000,00
210.000,00
45.000,00
60.000,00

305

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK

HARGA SATUAN
( Rp. )

NO.

U RA I A N

SATUAN

C.
I.
1
12
23
34
45
56
67

KELOMPOK LOGAM
UPAH TENAGA KERJA
Besi Beton
Kawat beton / Bendrat
Pekerja
Kawat bronjong dia 2 - 4 mm
Tukang
Paku biasa
1 cm - 3 cm
Kepala
Tukang
Paku biasa 4 cm - 7 cm
Mandor
Paku Ukur,
seng gelombang
Juru
Operator / Mekanik Alat Berat
Kawat Bronjong
Pabrikasi
( 2,7 /mm)
Pembantu
Juru Ukur
& Operator
Mekanik Alat Berat

kg
kg
OH
kg
OH
kg
OH
kg
OH
kg
OH
m
OH

10.750,00
16.500,00
60.000,00
19.350,00
75.000,00
23.100,00
85.000,00
16.500,00
80.000,00
22.000,00
100.000,00
320.000,00
60.000,00

D.
II.

KELOMPOK
PINTU AIR
BAHAN
/ MATERIAL

1
A.
1
2
3
4
E.
5
61
72
83
94
10
5
11
6

Pintu
Sorong Kayu
:
KELOMPOK
AIR, TANAH,
BATU DAN SEMEN
- (b = 1,05 h = 1,05)
Air
- (b = 1,50 h = 1,50)
Batu
- (b/ =batu
1,75kali/
h =batu
1,75)belah
Kerikil / Koral
Lempengan
KELOMPOKrumput
PIPA
Pasir beton
Pasir
pasang kali/gunung
Pipa galvanis
dia 3" (standar)
Pasir
urugdia. 20 mm S.10
Pipa PVC
Portland
(PCS.10
50 kg / zak)
Pipa PVCCement
dia. 25 mm
Sirtu
Pipa PVC dia. 32 mm S.10
Tanah
timbunan
/ urug
di lokasi
Pipa PVC
dia. 40 mm
S.10
Tanah
timbunan
/ urugan
Pipa PVC
dia. 50 mm
S.10 di Borrrow Area

unit
m3
unit
m3
unit
m3
m3
m3
m3
m
m3
m'
zak
m'
m3
m'
m3
m'
m3
m'

50.274.000,00
25.000,00
102.600.000,00
200.000,00
139.650.000,00
175.000,00
2.000,00
135.000,00
135.000,00
155.000,00
100.000,00
14.150,00
78.000,00
19.455,00
42.500,00
26.630,00
3.500,00
39.990,00
5.500,00
45.925,00

B.
F.

KELOMPOK KAYU
PERALATAN

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
C.
11
12
1
13
2
14
3
15
4
16
5
17
6
18
7
19
20
D.
21
22
1

Kayu
Kelas100-120
I
Bulldozer
HP (D-5/12 ton)
Kayu
Kelas II
Chainsaw
Kayu
DumpKelas
truck III
5 ton
Multiplek
tebal
0,6 cm
Dump truck
7 ton
Multiplek
0,9 cm
Excavator tebal
(standar)/Backhoe
Multiplek
cm
Excavator tebal
(long 1,2
arm)
Multiplek
tebal 1,8 cm
Jack hammer
Triflex
t=3mm
Kuas Sapu
Triflex
Wheelt=4mm
Loader
Track Loader
KELOMPOK
LOGAM
Molen
(Concrete
Mixer 0.25 m3)
Molen (Concrete Mixer 0.35 m3)
Besi
Beton
Pemadat
timbunan (vibro roller )
Kawat
/ Bendrat
Pompa beton
air diesel
5 KW; 3"
Kawat
2 - 4 mm
Pompa bronjong
air diesel dia
10 KW
Paku
cm - 3 cmkawat
Tang biasa
/ alat 1pemotong
Paku
biasa 4 cm - 7 cm
Theodolit
Paku
seng gelombang
Timbris
Kawat
Pabrikasi ( 2,7 mm)
VibratorBronjong
beton (portable)
Vibro Roller
KELOMPOK
Water
Tank PINTU AIR
Waterpass
Pintu Sorong Baja :
- (b = 1,05 h = 1,05), Pemutar Biasa
- (b = 1,50 h = 1,50), 2 Spindle Roda Gigi
- (b = 1,75 h = 1,75), 2 Spindle Roda Gigi

E.

unit
unit
unit

3.200.000,00
469.279,37
1.850.000,00
33.000,00
1.400.000,00
190.000,00
75.000,00
210.737,95
120.000,00
464.639,37
160.000,00
603.310,69
210.000,00
135.000,00
45.000,00
12.500,00
60.000,00
440.580,48
225.000,00
134.750,00
272.635,94
10.750,00
117.717,13
16.500,00
225.000,00
19.350,00
442.000,00
23.100,00
12.000,00
16.500,00
150.000,00
22.000,00
15.000,00
320.000,00
134.750,00
413.002,83
274.651,62
100.000,00
50.274.000,00
102.600.000,00
139.650.000,00

KELOMPOK PIPA

Perencanaan Bendung Tonggauna


1 Kolaka
Kabupaten
Timur,
Pipa galvanis
dia Sulawesi
3" (standar) Tenggara
2
3
4
5

m3
Sewa-jam
m3
Sewa-hari
m3
Sewa-jam
lbr
Sewa-jam
lbr
jam
lbr
jam
lbr
Sewa-hari
lbr
bh
lbr
Sewa-jam
Sewa-jam
Sewa-hari
Sewa-hari
kg
Sewa-hari
kg
Sewa-hari
kg
Sewa-hari
kg
bh
kg
Sewa-hari
kg
Sewa-hari
m
Sewa-hari
Sewa-jam
Sewa-jam
Sewa-hari

Pipa PVC dia. 20 mm S.10


Pipa PVC dia. 25 mm S.10
Pipa PVC dia. 32 mm S.10
Pipa PVC dia. 40 mm S.10

306
m
m'
m'
m'
m'

155.000,00
14.150,00
19.455,00
26.630,00
39.990,00

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK

NO.

7.3.3.

U RA I A N

SATUAN

III.
LAIN-LAIN
I.
UPAH TENAGA KERJA
1
Bensin/Premiun/BBM bersubsidi
2
1
Bensin/Premiun/BBM
non subsidi
Pekerja
3
2
Bibit
Mangrove
Tukang
4
3
Cat
besiTukang
Kepala
5
4
Cat
kayu
Mandor
6
5
Cat
Jurumeni
Ukur, Operator / Mekanik Alat Berat
7
6
Cat
tembokJuru Ukur & Operator / Mekanik Alat Berat
Pembantu
16
Karung plastik / bagor
17
II.
Karung
BAHANgoni/terpal
/ MATERIAL
18
Minyak bekisting
19
A.
Minyak
tanah AIR, TANAH, BATU DAN SEMEN
KELOMPOK
20
Oli mesin (Mesran 40 SAE)
21
1
Oli
Air hidraulic
22
2
Oli
Batutransmisi
/ batu kali/ batu belah
23
3
Solar
Kerikilbersubsidi
/ Koral
24
4
Solar
non subsidi
Lempengan
rumput
25
5
Waterstop
Pasir beton Rubber lebar 150mm - 200mm
6
Pasir pasang kali/gunung
7
Pasir urug
8
Portland Cement (PC 50 kg / zak)
9
Sirtu
10
Tanah timbunan / urug di lokasi
Analisa
Harga
Satuan
11
Tanah
timbunan
/ urugan di Borrrow Area

HARGA SATUAN
( Rp. )

ltr
ltr
OH
pohon
OH
kg
OH
kg
OH
kg
OH
kg
OH
bh
m2
ltr
ltr
ltr
ltr
m3
ltr
m3
ltr
m3
ltr
m3
m
m3
m3
m3
zak
m3
m3
m3

7.500,00
10.500,00
60.000,00
3.500,00
75.000,00
45.500,00
85.000,00
37.450,00
80.000,00
22.500,00
100.000,00
18.500,00
60.000,00
2.500,00
1.500,00
40.000,00
11.220,00
30.250,00
37.500,00
25.000,00
38.500,00
200.000,00
7.300,00
175.000,00
11.650,00
2.000,00
155.000,00
135.000,00
135.000,00
100.000,00
78.000,00
42.500,00
3.500,00
5.500,00

a.B.Pekerjaan
Persiapaan
KELOMPOK KAYU
Bagian Pekerjaan
Satuan / Unit Pekerjaan
NO.
1
A
1

Dump Truck
Water Tank Truck
C.
KELOMPOK LOGAM
Concrete Mixer / Beton Molen
Water Pump / Pompa Air
Besi Beton
Hand Compactor 1

2
B
1

Mobilisasi & Demobilisasi

1 : ls Kayu Kelas I
2
Kayu
Kelas II
URAIAN
3
Kayu Kelas III
2
4
Multiplek tebal 0,6 cm
MOBILISASI
5
MultiplekPekerjaan
tebal 0,9: cm
Alat Berat / Peralatan Untuk Pelaksanaan
6
Multiplek tebal 1,2 cm
- Excavator
7
Multiplek tebal 1,8 cm
- Whell loader
- Bulldozer
8
Triflex t=3mm
- Vibrator Roller 9
Triflex t=4mm

KOEFISIEN

UNIT
UNIT
UNIT
UNIT
UNIT
UNIT
UNIT
UNIT
UNIT

Kawat beton / Bendrat

DEMOBILISASI
3
Kawat bronjong dia 2 - 4 mm
Alat Berat / Peralatan4Untuk Pelaksanaan Pekerjaan :
Paku biasa 1 cm - 3 cm
- Excavator
5
Paku biasa 4 cm - 7 cm
- Whell loader
6
Paku seng gelombang
- Bulldozer
Kawat Bronjong Pabrikasi ( 2,7 mm)
- Vibrator Roller 7
- Dump Truck
- Water Tank Truck
D.
KELOMPOK PINTU AIR
- Concrete Mixer / Beton Molen
- Water Pump / Pompa Air
1
Pintu Sorong Baja :
- Hand Compactor

C
D
E

m3
SATUAN

(b = 1,05 h = 1,05), Pemutar Biasa

UNIT
UNIT
UNIT
UNIT
UNIT
UNIT
UNIT
UNIT
UNIT

- (b == 1,50
h = 1,50), 2 Spindle Roda Gigi
Jumlah Harga Mobilisasi & Mobilisasi
(A) + (B)
- (b = 1,75 h = 1,75), 2 Spindle Roda Gigi
Overhead + Profit (Contoh 15%)
Harga Satuan Pekerjaan = (C+ D)
E.

lbr
lbr
lbr
lbr
lbr
lbr

3,0000
15.000.000,00
1,0000
15.000.000,00
2,0000
15.000.000,00
2,0000
15.000.000,00
12,0000
500.000,00
1,0000
500.000,00
15,0000
300.000,00
5,0000
300.000,00
2,0000 kg
300.000,00
Jumlahkg
Harga Mobilisasi

3.200.000,00
JUMLAH
1.850.000,00
(Rp.)
1.400.000,00
7
75.000,00
120.000,00
160.000,0045.000.000,00
210.000,0015.000.000,00
45.000,0030.000.000,00
60.000,0030.000.000,00
6.000.000,00
500.000,00
4.500.000,00
1.500.000,00
10.750,00 600.000,00
133.100.000,00
16.500,00

kg
kg
kg
kg
m

19.350,00
23.100,00
45.000.000,00
16.500,00
15.000.000,00
22.000,0030.000.000,00
320.000,0030.000.000,00

m
m'
m'
m'
m'
m'

307
155.000,00
14.150,00
19.455,00
26.630,00
39.990,00
45.925,00

3,0000
15.000.000,00
1,0000
15.000.000,00
2,0000
15.000.000,00
2,0000
15.000.000,00
12,0000
500.000,00
6.000.000,00
1,0000
500.000,00
500.000,00
15,0000
300.000,00
4.500.000,00
5,0000
300.000,00
1.500.000,00
2,0000
300.000,00
600.000,00
unit
50.274.000,00
133.100.000,00
Jumlah Harga Demobilisasi
unit
102.600.000,00
266.200.000,00
139.650.000,0026.620.000,00
15% xunit
(D)
292.820.000,00

KELOMPOK PIPA

Perencanaan
Bendung
Tonggauna
1
Pipa galvanis dia 3" (standar)
Kabupaten
Kolaka
Timur,
Sulawesi
Tenggara
2
Pipa PVC dia. 20 mm
S.10
3
4
5
6

HARGA
SATUAN
m3
m3 (Rp.)
6

Pipa PVC dia. 25 mm S.10


Pipa PVC dia. 32 mm S.10
Pipa PVC dia. 40 mm S.10
Pipa PVC dia. 50 mm S.10

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK

Bagian Pekerjaan
Satuan / Unit Pekerjaan

:
:

NO.

Pembersihan
m
URAIAN

SATUAN

KOEFISIEN

1
A
1
2

TENAGA KERJA
Pekerja
Mandor

BAHAN

C
1

PERALATAN
Bulldozer

D
E
F

Jumlah Harga Tenaga, Bahan dan Peralatan = (A) + (B) + (C)


Overhead + Profit (Contoh 15%)
Harga Satuan Pekerjaan = (D+ E)

Bagian Pekerjaan
Satuan / Unit Pekerjaan
NO.

OH
OH

SEWA - JAM

:
:

0,0600
60.000,00
0,0060
80.000,00
Jumlah Harga Tenaga Kerja

3.600,00
480,00
4.080,00

Jumlah Harga Bahan

0,00

0,0036
469.279,37
Jumlah Harga Peralatan

1.689,41
1.689,41
5.769,41
865,41
6.635,00

15% x (D)

URAIAN

SATUAN

KOEFISIEN

TENAGA KERJA
Pekerja
Mandor

BAHAN

C
1

PERALATAN
Bulldozer

D
E
F

Jumlah Harga Tenaga, Bahan dan Peralatan = (A) + (B) + (C)


Overhead + Profit (Contoh 15%)
Harga Satuan Pekerjaan = (D+ E)

NO.

JUMLAH
(Rp.)
7

Kupasan
m

1
A
1
2

Bagian Pekerjaan
Satuan / Unit Pekerjaan

HARGA SATUAN
(Rp.)
6

OH
OH

SEWA - JAM

HARGA SATUAN
(Rp.)
6

JUMLAH
(Rp.)
7

0,0600
60.000,00
0,0060
80.000,00
Jumlah Harga Tenaga Kerja

3.600,00
480,00
4.080,00

Jumlah Harga Bahan

0,00

0,0054
469.279,37
Jumlah Harga Peralatan

2.534,11
2.534,11
6.614,11
992,12
7.606,00

15% x (D)

: Pengukuran
: m'
URAIAN

SATUAN

KOEFISIEN

1
A
1
2
3

TENAGA KERJA
Pekerja
Pembantu Juru Ukur
Juru Ukur

BAHAN

C
1
2

PERALATAN
Waterpass
Theodolite

D
E
F

Jumlah Harga Tenaga, Bahan dan Peralatan = (A) + (B) + (C)


Overhead + Profit (Contoh 15%)
Harga Satuan Pekerjaan = (D+ E)

OH
OH
OH

HARGA SATUAN
(Rp.)
6

JUMLAH
(Rp.)
7

0,0120
60.000,00
0,0040
60.000,00
0,0040
100.000,00
Jumlah Harga Tenaga Kerja

720,00
240,00
400,00
1.360,00

Jumlah Harga Bahan


SEWA - JAM
SEWA - JAM

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

0,0040
100.000,00
0,0040
150.000,00
Jumlah Harga Peralatan

400,00
600,00
1.000,00
2.360,00
354,00
2.714,00

15% x (D)

308

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK

Bagian Pekerjaan
Satuan / Unit Pekerjaan

:
:

Pemasangan Bouwplank
m'

NO.

URAIAN

SATUAN

KOEFISIEN

1
A
1
2
3
4

TENAGA KERJA
Pekerja
Tukang Kayu
Kepala Tukang
Mandor

OH
OH
OH
OH

B
1
2
3

BAHAN
Kaso 5/7 cm
Papan 3/20
Paku

m3
m3
kg

C
1

PERALATAN
Waterpass

D
E
F

Jumlah Harga Tenaga, Bahan dan Peralatan = (A) + (B) + (C)


Overhead + Profit (Contoh 15%)
Harga Satuan Pekerjaan = (D+ E)

Bagian Pekerjaan
Satuan / Unit Pekerjaan
NO.

JUMLAH
(Rp.)
7

0,1000
60.000,00
0,0100
75.000,00
0,0100
85.000,00
0,0100
80.000,00
Jumlah Harga Tenaga Kerja
0,013
0,007
0,02

SEWA - JAM

:
:

HARGA SATUAN
(Rp.)
6

6.000,00
750,00
850,00
800,00
8.400,00

1.400.000,00
1.400.000,00
16.500,00
Jumlah Harga Bahan

18.200,00
9.800,00
330,00
28.330,00

0,0040
100.000,00
Jumlah Harga Peralatan

400,00
400,00
37.130,00
5.569,50
42.700,00

15% x (D)

Penyediaan Direksi Keet


m2
URAIAN

SATUAN

KOEFISIEN

HARGA SATUAN
(Rp.)
6

1
A
1
2
3
4

TENAGA KERJA
Pekerja
Tukang Tembok/Batu
Kepala Tukang Batu
Mandor

OH
OH
OH
OH

0,100
60.000,00
0,010
75.000,00
0,010
85.000,00
0,010
80.000,00
Jumlah Harga Tenaga Kerja

B
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

BAHAN
Kaso 5/7 cm
Dinding triplek 4mm
Fondasi pas. Batu
Plafon asbes 3 mm (1x1 m)
Paku
Asbes gelombang
Paku asbes
Floor lantai (Beton lantai kerja)
Pintu double teakwood rangka kayu
Jendela kaca nako
Cat dinding/plafon

m3
lbr
m3
lbr
kg
lbr
kg
m3
m2
daun
m2

0,350
1,000
0,165
1,240
0,750
0,300
0,100
0,150
0,100
1,000
16,500

PERALATAN

D
E
F

Jumlah Harga Tenaga, Bahan dan Peralatan = (A) + (B) + (C)


Overhead + Profit (Contoh 15%)
Harga Satuan Pekerjaan = (D+ E)

1.400.000,00
60.000,00
200.000,00
100.000,00
16.500,00
100.000,00
23.100,00
200.000,00
67.500,00
100.000,00
18.500,00
Jumlah Harga Bahan

JUMLAH
(Rp.)
7
6.000,00
750,00
850,00
800,00
8.400,00
490.000,00
60.000,00
33.000,00
124.000,00
12.375,00
30.000,00
2.310,00
30.000,00
6.750,00
100.000,00
305.250,00
1.193.685,00

Jumlah Harga Peralatan

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

15%

x (D)

1.202.085,00
180.312,75
1.382.398,00

309

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK

Bagian Pekerjaan
Satuan / Unit Pekerjaan

:
:

Pekerjaan Dewatering
Ls

NO.

URAIAN

SATUAN

KOEFISIEN

HARGA SATUAN
(Rp.)
6

JUMLAH
(Rp.)
7

1
A
1
2
3

TENAGA KERJA
Pekerja
Operator Pompa
Mandor

OH
OH
OH

0,0450
60.000,00
0,1670
75.000,00
0,0050
80.000,00
Jumlah Harga Tenaga Kerja

2.700,00
12.525,00
400,00
15.625,00

B
1
2

BAHAN
Solar
Oli

ltr
ltr

5,5330
0,0200

11.650,00
38.500,00
Jumlah Harga Bahan

64.459,45
770,00
65.229,45

C
1

PERALATAN
Pompa air diesel 20 KW

bh

0,1500
442.000,00
Jumlah Harga Peralatan

D
E
F

Jumlah Harga Tenaga, Bahan dan Peralatan = (A) + (B) + (C)


Overhead + Profit (Contoh 15%)
Harga Satuan Pekerjaan = (D+ E)

66.300,00
66.300,00
147.154,45
22.073,17
169.228,00

Bagian Pekerjaan
Satuan / Unit Pekerjaan
NO.

:
:

15% x (D)

Pekerjaan Kistdam
m3
URAIAN

SATUAN

KOEFISIEN

HARGA SATUAN
(Rp.)
6

1
A
1
2
3

TENAGA KERJA
Pekerja
Tukang
Mandor

OH
OH
OH

0,6000
60.000,00
0,1000
75.000,00
0,0600
80.000,00
Jumlah Harga Tenaga Kerja

B
3

BAHAN
Pasir

ltr

1,7800

PERALATAN
Excavator

D
E
F

Sewa Hari

NO.

: Administrasi
: Ls

240.300,00
240.300,00

0,0180
464.639,37
Jumlah Harga Peralatan

8.360,51
8.360,51
296.960,51
44.544,08
341.505,00

15% x (D)

Fotocopy dan jilid

URAIAN

SATUAN

KOEFISIEN

1
A
1
2

TENAGA KERJA
Foto copy Kertas A4
Menjilid

A
B
C

Jumlah Harga
Overhead + Profit (Contoh 15%)
Harga Satuan Pekerjaan = (A+ B)

36.000,00
7.500,00
4.800,00
48.300,00

135.000,00
Jumlah Harga Bahan

Jumlah Harga Tenaga, Bahan dan Peralatan = (A) + (B) + (C)


Overhead + Profit (Contoh 15%)
Harga Satuan Pekerjaan = (D+ E)

Bagian Pekerjaan
Satuan / Unit Pekerjaan

JUMLAH
(Rp.)
7

Halaman
Buah

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

HARGA SATUAN
(Rp.)
6

5.000,00
20,00

15% x (D)

250,00
15.000,00

JUMLAH
(Rp.)
7
1.250.000,00
300.000,00
1.550.000,00
1.550.000,00
232.500,00
1.782.500,00

310

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK
Bagian Pekerjaan
Satuan / Unit Pekerjaan

:
:

Dokumentasi
Ls

NO.

URAIAN

SATUAN

KOEFISIEN

1
A
1

TENAGA KERJA
Pekerja

OH

B
1
2
3

BAHAN
CD copy soft file foto image
Foto printing
Foto Album

bh
lbr
bh

PERALATAN
Kamera SLR (Digital)

D
E
F

Sewa Hari

:
:

NO.

Administrasi
Ls

3,0000
150,0000
6,0000

30.000,00
750.000,00
270.000,00
1.050.000,00

2,0000
200.000,00
Jumlah Harga Peralatan

400.000,00
400.000,00
1.570.000,00
235.500,00
1.805.500,00

15% x (D)

Set As Built DrawingFotocopy dan jilid


SATUAN

KOEFISIEN

TENAGA KERJA
Copy Kalkir Ac
copy kalkir reduce z1%
copy kalkir reduce z2%
blue/black print Ac
blue/black print A2
blue/black print A3
Menjilid A1
Menjilid A2
Menjilid A3

A
B
C

Jumlah Harga
Overhead + Profit (Contoh 15%)
Harga Satuan Pekerjaan = (A+ B)

120.000,00
120.000,00

10.000,00
5.000,00
45.000,00
Jumlah Harga Bahan

URAIAN

1
A
1
2
3
4
5
6
7
8
9

JUMLAH
(Rp.)
7

2,0000
60.000,00
Jumlah Harga Tenaga Kerja

Jumlah Harga Tenaga, Bahan dan Peralatan = (A) + (B) + (C)


Overhead + Profit (Contoh 15%)
Harga Satuan Pekerjaan = (D+ E)

Bagian Pekerjaan
Satuan / Unit Pekerjaan

HARGA SATUAN
(Rp.)
6

lembar
lembar
lembar
lembar
lembar
lembar
buah
buah
buah

HARGA SATUAN
(Rp.)
6

50,0000
50,0000
50,0000
50,0000
50,0000
50,0000
3,0000
3,0000
3,0000

6.500,00
16.500,00
12.500,00
2.600,00
2.000,00
1.250,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00

15% x (D)

JUMLAH
(Rp.)
7
325.000,00
825.000,00
625.000,00
130.000,00
100.000,00
62.500,00
60.000,00
60.000,00
60.000,00
2.247.500,00
2.247.500,00
337.125,00
2.584.625,00

b. Pekerjaan Tanah
Bagian Pekerjaan
Satuan / Unit Pekerjaan
NO.

: Galian Tanah dengan Alat Berat


: m3
URAIAN

SATUAN

KOEFISIEN

1
A
1
3

TENAGA KERJA
Pekerja
Mandor

BAHAN

C
1

PERALATAN
Exacavator

D
E
F

Jumlah Harga Tenaga, Bahan dan Peralatan = (A) + (B) + (C)


Overhead + Profit (Contoh 15%)
Harga Satuan Pekerjaan = (D+ E)

OH
OH

HARGA SATUAN
(Rp.)
6

JUMLAH
(Rp.)
7

0,1630
60.000,00
0,0163
80.000,00
Jumlah Harga Tenaga Kerja

9.777,78
1.303,70
11.081,48

Jumlah Harga Bahan


SEWA - JAM

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

0,0372
464.639,37
Jumlah Harga Peralatan

17.294,91
17.294,91
28.376,39
4.256,46
32.633,00

15% x (D)

311

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK

Bagian Pekerjaan
Satuan / Unit Pekerjaan

:
:

Galian Tanah dengan Manual


m3

NO.

URAIAN

SATUAN

KOEFISIEN

1
A
1
3

TENAGA KERJA
Pekerja
Mandor

BAHAN

PERALATAN

D
E
F

Jumlah Harga Tenaga, Bahan dan Peralatan = (A) + (B) + (C)


Overhead + Profit (Contoh 15%)
Harga Satuan Pekerjaan = (D+ E)

OH
OH

HARGA SATUAN
(Rp.)
6

JUMLAH
(Rp.)
7

0,6750
60.000,00
0,0675
80.000,00
Jumlah Harga Tenaga Kerja

40.500,00
5.400,00
45.900,00

Jumlah Harga Bahan


Jumlah Harga Peralatan

Bagian Pekerjaan
Satuan / Unit Pekerjaan

:
:

45.900,00
6.885,00
52.785,00

15% x (D)

Timbunan Tanah
m3

NO.

URAIAN

SATUAN

KOEFISIEN

1
A
1
3

TENAGA KERJA
Pekerja
Mandor

BAHAN

C
1
2
3
4
5

PERALATAN
Exacavator
Dump Truck
Pemadatan/vibrator roller
Water Tank Truck
Bulldozer

D
E
F

Jumlah Harga Tenaga, Bahan dan Peralatan = (A) + (B) + (C)


Overhead + Profit (Contoh 15%)
Harga Satuan Pekerjaan = (D+ E)

OH
OH

HARGA SATUAN
(Rp.)
6

JUMLAH
(Rp.)
7

0,0075
60.000,00
0,0002
80.000,00
Jumlah Harga Tenaga Kerja

451,13
15,04
466,17

Jumlah Harga Bahan

Bagian Pekerjaan
Satuan / Unit Pekerjaan

:
:

SEWA - JAM
SEWA - JAM
SEWA - JAM
SEWA - JAM
SEWA - JAM

0,0263
464.639,37
0,1176
190.000,00
0,0133
413.002,83
0,0119
274.651,62
0,0064
469.279,37
Jumlah Harga Peralatan

12.227,35
22.339,80
5.506,70
3.267,69
3.009,13
46.350,68
46.816,84
7.022,53
53.839,00

15% x (D)

Timbunan Kembali pada Bangunan


m3

NO.

URAIAN

SATUAN

KOEFISIEN

1
A
1
3

TENAGA KERJA
Pekerja
Mandor

BAHAN

C
1

PERALATAN
Hand Compactor / Stamper

D
E
F

Jumlah Harga Tenaga, Bahan dan Peralatan = (A) + (B) + (C)


Overhead + Profit (Contoh 15%)
Harga Satuan Pekerjaan = (D+ E)

OH
OH

HARGA SATUAN
(Rp.)
6

JUMLAH
(Rp.)
7

0,3193
60.000,00
0,0160
80.000,00
Jumlah Harga Tenaga Kerja

19.158,31
1.277,22
20.435,53

Jumlah Harga Bahan


SEWA - JAM

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

0,4470
117.717,13
Jumlah Harga Peralatan

52.622,77
52.622,77
73.058,30
10.958,74
84.017,00

15% x (D)

312

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK
Bagian Pekerjaan
Satuan / Unit Pekerjaan

:
:

Jalan Inspeksi Sub-Base Klas C


m3

NO.

URAIAN

SATUAN

KOEFISIEN

HARGA SATUAN
(Rp.)
6

JUMLAH
(Rp.)
7

1
A
1
3

TENAGA KERJA
Pekerja
Mandor

OH
OH

0,3000
60.000,00
0,0150
80.000,00
Jumlah Harga Tenaga Kerja

B
1

BAHAN
Material Urugan Pilihan (Kls C)

m3

1,2000

3.500,00
Jumlah Harga Bahan

4.200,00
4.200,00

C
1

PERALATAN
Alat Bantu Angkut dan Hampar pemadatan

bh

1,0000
117.717,13
Jumlah Harga Peralatan

D
E
F

Jumlah Harga Tenaga, Bahan dan Peralatan = (A) + (B) + (C)


Overhead + Profit (Contoh 15%)
Harga Satuan Pekerjaan = (D+ E)

117.717,13
117.717,13
141.117,13
21.167,57
162.285,00

Bagian Pekerjaan
Satuan / Unit Pekerjaan

:
:

15% x (D)

18.000,00
1.200,00
19.200,00

Gebalan Rumput
m2

NO.

URAIAN

SATUAN

KOEFISIEN

HARGA SATUAN
(Rp.)
6

JUMLAH
(Rp.)
7

1
A
1
3

TENAGA KERJA
Pekerja
Mandor

OH
OH

0,1000
60.000,00
0,0100
80.000,00
Jumlah Harga Tenaga Kerja

6.000,00
800,00
6.800,00

B
1

BAHAN
Gebalan rumput

m2

1,1000

2.200,00
2.200,00

PERALATAN

D
E
F

Jumlah Harga Tenaga, Bahan dan Peralatan = (A) + (B) + (C)


Overhead + Profit (Contoh 15%)
Harga Satuan Pekerjaan = (D+ E)

2.000,00
Jumlah Harga Bahan

Jumlah Harga Peralatan


9.000,00
1.350,00
10.350,00

15% x (D)

c. Pekerjaan Bendung dan Bangunan Pelengkap


Bagian Pekerjaan
Satuan / Unit Pekerjaan
NO.

:
:

Pasangan Batu Kali


m3
URAIAN

SATUAN

KOEFISIEN

1
A
1
2
3

TENAGA KERJA
Pekerja
Tukang Batu
Mandor

OH
OH
OH

B
1
2
3

BAHAN
Batu Belah
Pasir Pasang
Portland Cement

m3
m3
kg

PERALATAN

D
E
F

Jumlah Harga Tenaga, Bahan dan Peralatan = (A) + (B) + (C)


Overhead + Profit (Contoh 15%)
Harga Satuan Pekerjaan = (D+ E)

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

HARGA SATUAN
(Rp.)
6

JUMLAH
(Rp.)
7

2,7000
60.000,00
0,9000
75.000,00
0,2700
80.000,00
Jumlah Harga Tenaga Kerja
1,2000
0,4400
252,0000

162.000,00
67.500,00
21.600,00
251.100,00

200.000,00
135.000,00
1.560,00
Jumlah Harga Bahan

240.000,00
59.400,00
393.120,00
692.520,00

Jumlah Harga Peralatan

0,00
943.620,00
141.543,00
1.085.163,00

15% x (D)

313

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK
Bagian Pekerjaan
Satuan / Unit Pekerjaan

:
:

Plesteran
m3

NO.

URAIAN

SATUAN

KOEFISIEN

HARGA SATUAN
(Rp.)
6

JUMLAH
(Rp.)
7

1
A
1
2
3
4

TENAGA KERJA
Pekerja
Tukang Batu
Kepala Tukang
Mandor

OH
OH
OH
OH

0,3840
60.000,00
0,1920
75.000,00
0,0190
85.000,00
0,0190
80.000,00
Jumlah Harga Tenaga Kerja

23.040,00
14.400,00
1.615,00
1.520,00
40.575,00

B
2
3

BAHAN
Pasir Pasang
Portland Cement

m3
kg

0,0300
7,7760

135.000,00
1.560,00
Jumlah Harga Bahan

4.050,00
12.130,56
16.180,56

PERALATAN
Jumlah Harga Peralatan

D
E
F

Jumlah Harga Tenaga, Bahan dan Peralatan = (A) + (B) + (C)


Overhead + Profit (Contoh 15%)
Harga Satuan Pekerjaan = (D+ E)

0,00
56.755,56
8.513,33
65.269,00

Bagian Pekerjaan
Satuan / Unit Pekerjaan

:
:

NO.

15% x (D)

Siar
m2
URAIAN

SATUAN

KOEFISIEN

HARGA SATUAN
(Rp.)
6

JUMLAH
(Rp.)
7

1
A
1
2
3
4

TENAGA KERJA
Pekerja
Tukang Batu
Kepala Tukang
Mandor

OH
OH
OH
OH

0,3000
60.000,00
0,1500
75.000,00
0,0150
85.000,00
0,0300
80.000,00
Jumlah Harga Tenaga Kerja

18.000,00
11.250,00
1.275,00
2.400,00
32.925,00

B
1
2

BAHAN
Pasir Pasang
Portland Cement

m3
kg

0,0120
6,3400

1.620,00
9.890,40
11.510,40

PERALATAN

D
E
F

Jumlah Harga Tenaga, Bahan dan Peralatan = (A) + (B) + (C)


Overhead + Profit (Contoh 15%)
Harga Satuan Pekerjaan = (D+ E)

135.000,00
1.560,00
Jumlah Harga Bahan

Jumlah Harga Peralatan

Bagian Pekerjaan
Satuan / Unit Pekerjaan
NO.

:
:

15% x (D)

44.435,40
6.665,31
51.101,00

Penulangan (Pembesian)
Kg
URAIAN

SATUAN

KOEFISIEN

1
A
1
2
3
4

TENAGA KERJA
Pekerja
Tukang Besi
Kepala Tukang
Mandor

OH
OH
OH
OH

B
1
2

BAHAN
Besi Beton (Polos/ulir)
Kawat Ikat

kg
kg

PERALATAN

D
E
F

Jumlah Harga Tenaga, Bahan dan Peralatan = (A) + (B) + (C)


Overhead + Profit (Contoh 15%)
Harga Satuan Pekerjaan = (D+ E)

HARGA SATUAN
(Rp.)
6

0,7000
60.000,00
0,7000
75.000,00
0,0700
85.000,00
0,0700
80.000,00
Jumlah Harga Tenaga Kerja
105,0000
1,5000

10.750,00
16.500,00
Jumlah Harga Bahan

JUMLAH
(Rp.)
7
42.000,00
52.500,00
5.950,00
5.600,00
106.050,00
1.128.750,00
24.750,00
1.153.500,00

Jumlah Harga Peralatan

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

15% x (D)

1.259.550,00
188.932,50
1.448.483,00

314

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK
Bagian Pekerjaan
Satuan / Unit Pekerjaan
NO.

:
:

Bekisting
m2
URAIAN

SATUAN

KOEFISIEN

HARGA SATUAN
(Rp.)
6

JUMLAH
(Rp.)
7

1
A
1
2
3
4

TENAGA KERJA
Pekerja
Tukang Kayu Besi
Kepala Tukang
Mandor

OH
OH
OH
OH

0,6000
60.000,00
0,3000
75.000,00
0,0300
85.000,00
0,0600
80.000,00
Jumlah Harga Tenaga Kerja

36.000,00
22.500,00
2.550,00
4.800,00
65.850,00

B
1
2
3
4

BAHAN
Papan kayu 3/20 cm
Kaso 5/7 cm
Paku 5 cm dan 7 cm
Minyak bekisting

m3
m3
kg
L

0,0280
0,0135
0,4000
0,2000

39.200,00
18.900,00
6.600,00
8.000,00
72.700,00

PERALATAN

D
E
F

Jumlah Harga Tenaga, Bahan dan Peralatan = (A) + (B) + (C)


Overhead + Profit (Contoh 15%)
Harga Satuan Pekerjaan = (D+ E)

1.400.000,00
1.400.000,00
16.500,00
40.000,00
Jumlah Harga Bahan

Jumlah Harga Peralatan

Bagian Pekerjaan
Satuan / Unit Pekerjaan
NO.

15% x (D)

138.550,00
20.782,50
159.333,00

: Beton K.225
: m3
URAIAN

SATUAN

KOEFISIEN

1
A
1
2
3
4

TENAGA KERJA
Pekerja
Tukang Kayu Batu
Kepala Tukang
Mandor

OH
OH
OH
OH

B
1
2
3
4

BAHAN
PC / Portland Cement
PB / Pasir Beton
Kr / Krikil
Air

Kg
Kg
kg
L

PERALATAN

D
E
F

Jumlah Harga Tenaga, Bahan dan Peralatan = (A) + (B) + (C)


Overhead + Profit (Contoh 15%)
Harga Satuan Pekerjaan = (D+ E)

HARGA SATUAN
(Rp.)
6

JUMLAH
(Rp.)
7

1,3230
60.000,00
0,1890
75.000,00
0,0190
85.000,00
0,1320
80.000,00
Jumlah Harga Tenaga Kerja
371,00
698,00
1.047,00
215,00

1.560,00
100,00
200,00
2.500,00
Jumlah Harga Bahan

79.380,00
14.175,00
1.615,00
10.560,00
105.730,00
578.760,00
69.800,00
209.400,00
537.500,00
1.395.460,00

Jumlah Harga Peralatan

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

15% x (D)

1.501.190,00
225.178,50
1.726.369,00

315

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK

7.3.4.

Rencana Anggaran Biaya

NO.

URAIAN PEKERJAAN

SATU
AN

VOLUME

HARGA SATUAN
( Rp. )

JUMLAH HARGA
( Rp. )

I.

PEKERJAAN PERSIAPAN

1.042.070.271,13

Mobilisasi & Demobilisasi

ls

1,00

292.820.000,00

292.820.000,00

Pembersihan

10.796,05

6.635,00

71.631.791,75

Kupasan

3.750,00

7.606,00

28.522.500,00

Pengukuran

m'

256,67

2.714,00

696.602,38

Pemasangan Bouwplank

m'

256,67

42.700,00

10.959.809,00

Penyediaan Direksi Keet

200,00

1.382.398,00

276.479.600,00

Pembuatan Gudang Material dan Barak Pekerja

116,00

1.382.398,00

160.358.168,00

Pekerjaan Dewatering

ls

1,00

25.384.200,00

25.384.200,00

Pekerjaan Kistdam

m3

495,00

341.505,00

169.044.975,00

10

Administrasi dan Dokumentasi

ls

1,00

6.172.625,00

6.172.625,00

II.

PEKERJAAN TANAH

1.247.598.165,16

Galian Tanah dengan Alat Berat

Galian Tanah dengan Manual

Timbunan Tanah

4
5
6

III.

13.900,02

32.633,00

585,72

52.785,00

30.917.230,20

7.129,80

53.839,00

383.861.302,20

Timbunan Kembali pada Bangunan

2.901,57

84.017,00

243.780.891,12

Jalan Inspeksi Sub-Base Klas C

708,30

162.285,00

114.946.465,50

Gebalan Rumput

1.980,00

10.350,00

20.493.000,00

PEKERJAAN BENDUNG DAN BANGUNAN PELENGKAP

453.599.276,14

6.221.614.038,69

Pasangan Batu Kali

5.057,64

1.085.163,00

5.488.366.888,03

Plesteran

2.959,02

65.269,00

193.132.080,57

Siar

1.878,29

51.101,00

95.982.609,71

Penulangan (Pembesian)

kg

2.912,52

14.484,83

42.187.337,08

Bekisting

389,86

159.333,00

62.118.017,48

Beton K.225

196,85

1.726.369,00

339.827.105,81

IV.

PEKERJAAN LAIN-LAIN

734.698.000,00

Pintu Sorong Baja


a. Pembilas Bendung (b = 1.05 m)

bh

2,00

50.274.000,00

100.548.000,00

b. Pengambilan (b = 1.50 m)

bh

2,00

102.600.000,00

205.200.000,00

c. Penguras (b = 1.75 m)

bh

3,00

139.650.000,00

418.950.000,00

Finishing

ls

1,00

10.000.000,00

10.000.000,00

A.

JUMLAH BIAYA PEKERJAAN

B.

PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (PPN) 10%

C.

TOTAL ( A + B )

10.170.578.522,47

D.

DIBULATKAN

10.170.580.000,00

TERBILANG :

9.245.980.474,97
924.598.047,50

SEPULUH MILYAR SERATUS TUJUH PULUH JUTA LIMA RATUS DELAPAN PULUH RIBU RUPIAH

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

316

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK

7.4.

Analisa Man Power


I.
NO.

Pekerjaan Persiapan
URAIAN PEKERJAAN

VOL.

SAT.

I.2 Pekerjaan Pembersihan


a. Tenaga Kerja
Pekerja
Mandor

10.796,05

m2

I.3 Pekerjaan Kupasan


a. Tenaga Kerja
Pekerja
Mandor

3.750,00

I.5 Pek. Pengukuran


a. Tenaga Kerja
Pekerja
Pembantu Juru Ukur
Juru Ukur

256,67

I.6 Pek. Pemasangan Bouwplank


a. Tenaga Kerja
Pekerja
Tukang Kayu
Kepala Tukang
Mandor

256,67

I.7 Pek. Direksi Keet


a. Tenaga Kerja
Pekerja
Tukang Tembok/Batu
Kepala Tukang Batu
Mandor

OH
OH
Total
Jumlah SDM
Jumlah Hari

KOEFISIEN
PEKERJAAN

0,060
0,006
0,066
713
36

JUMLAH
SDM

JUMLAH
HARI

20
15
5

36

15
12
3

17

4,0
2,0
1,0
1,0

10,0
5,0
2,0
2,0
1,0

10,0
5,0
2,0
2,0
1,0

m2

OH
OH
Total
Jumlah SDM
Jumlah Hari

0,060
0,006
0,066
248
17

m'

OH
OH
OH
Total
Jumlah SDM
Jumlah Hari

0,012
0,004
0,004
0,020
5
1

m'

OH
OH
OH
OH
Total
Jumlah SDM
Jumlah Hari
200,00
m2

0,100
0,010
0,010
0,010
0,130
33
3

OH
OH
OH
OH
Total
Jumlah SDM
Jumlah Hari

0,100
0,010
0,010
0,010
0,130
26
3

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

317

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK

NO.

URAIAN PEKERJAAN

Pek. Gudang
dan Barak
Pembersihan
I.8 Pekerjaan
I.2
a. Tenaga Kerja
Pekerja
Tukang Tembok/Batu
Mandor
Kepala Tukang Batu
Mandor

I.3
a.
I.9
a.

VOL.

SAT.

116,00
10.796,05

m2

Pekerjaan Kupasan
Tenaga Kerja
Pekerja
Pek. Dewatering
Mandor
Tenaga Kerja
Pekerja
Operator Pompa
Mandor

OH
OH
OH
Total
OH
Jumlah SDM
JumlahTotal
Hari
Jumlah SDM
3.750,00
Jumlah m2
Hari

0,100
0,060
0,010
0,006
0,010
0,066
0,010
713
0,130
36
15
2

OH
Ls
OH
Total
OH
OH
Jumlah SDM
JumlahOH
Hari
Total
Jumlah SDM
256,67
m'
Jumlah Hari

0,060
0,006
0,045
0,066
0,167
248
0,005
17
0,217
0
0

OH
495,00
m3
495,00
m3
OH
OH
OH
OH
Total
OH
OH
Jumlah SDM
OH
OH
JumlahTotal
Hari
Total
Jumlah
SDM
Jumlah SDM
Jumlah Hari
Jumlah Hari

0,012
0,004
0,004
0,600
0,600
0,020
0,100
0,100
5
0,060
0,060
1
0,760
0,760
376
376
27
27

1,00

I.5 Pek. Pengukuran


a. Tenaga Kerja
Pekerja
Pek.
I.11
Pek. Kistdam
Kistdam
I.11 Pembantu
Juru Ukur
Tenaga
Kerja
a.
Tenaga
Kerja
a. Juru
Ukur
Pekerja
Pekerja
Tukang
Tukang
Mandor
Mandor

KOEFISIEN
PEKERJAAN

JUMLAH
SDM

JUMLAH
HARI

10,0
20
5,0
15
2,0
5
2,0
1,0

2
36

15
12
3
5,0
2,0
2,0
1,0

17

4,0
2,0
1,0
14,0
14,0
1,0
8,0
6,0
4,0
6,0
2,0
2,0

1
27
27

JUMLAH
SDM

JUMLAH
HARI

25,0
20
23,0
15
2,0
5

100
36

10,0
15
9,0
12
1,0
3

43
17

4,0
2,0
1,0
1,0

II. Pekerjaan Tanah


NO.

URAIAN PEKERJAAN

Pekerjaan
Pembersihan
Gal. dengan
Alat Berat
I.2 Pek.
II.1
a. Tenaga Kerja
Pekerja
Mandor

II.2
I.3
a.
a.

VOL.

SAT.

10.796,05
13.900,02

m2
m3

Pek.
Gal. Tanah
Dengan Manual
Pekerjaan
Kupasan
Tenaga
Kerja
Tenaga Kerja
Pekerja
Pekerja
Mandor
Mandor

I.5 Pek. Pengukuran


a. Tenaga Kerja
Pekerja
Pembantu Juru Ukur
Juru Ukur

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi

OH
OH
Total
Jumlah SDM
Jumlah Hari
585,72
3.750,00

0,163
0,060
0,016
0,006
0,179
0,066
2492
713
100
36

m3
m2

OH
OH
OH
OH
Total
Total
Jumlah
Jumlah SDM
SDM
Jumlah
Jumlah Hari
Hari

256,67

KOEFISIEN
PEKERJAAN

0,675
0,060
0,068
0,006
0,743
0,066
435
248
43
17

m'

OH
OH
OH
Total
Tenggara
Jumlah SDM
Jumlah Hari

0,012
0,004
0,004
0,020
5
1

318

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK

NO.

URAIAN PEKERJAAN

Pekerjaan Tanah
Pembersihan
II.3
I.2 Timbunan
a. Tenaga Kerja
Pekerja
Mandor

II.4
I.3
a.
a.

Timbunan Kembali Pd Bangunan


Pekerjaan Kupasan
Tenaga Kerja
Tenaga Kerja
Pekerja
Pekerja
Mandor
Mandor

II.5 Jalan Inpeksi Sub Base Klas C


Kerja
a. Tenaga
Pek. Pengukuran
I.5
Pekerja
a. Tenaga Kerja
Mandor
Pekerja
Pembantu Juru Ukur
Juru Ukur
II.6 Gebalan Rumput
a. Tenaga Kerja
Pekerja
Mandor

VOL.

SAT.

7.129,80
10.796,05

m3
m2

OH
OH
Total
Total
Jumlah
Jumlah SDM
SDM
Jumlah
Jumlah Hari
Hari
2.901,57
3.750,00

KOEFISIEN
PEKERJAAN

0,00752
0,060
0,00019
0,006
0,008
0,066
55
713
7
36

m3
m2

OH
OH
OH
OH
Total
Total
Jumlah SDM
Jumlah
JumlahSDM
Hari
Jumlah Hari
708,30
m3

0,319
0,060
0,016
0,006
0,335
0,066
973
248
97
17

256,67

m'
OH
OH
OH
Total
OH
Jumlah SDM
OH
Jumlah Hari
Total
Jumlah SDM
1.980,00
m2
Jumlah Hari
OH
OH
Total
Jumlah SDM
Jumlah Hari

0,300
0,015
0,012
0,315
0,004
223
0,004
22
0,020
5
1
0,100
0,010
0,110
218
22

JUMLAH
SDM

JUMLAH
HARI

8,0
20
7,0
15
1,0
5

7
36

10,0
15
9,0
12
1,0
3

97
17

10,0
9,0
4,0
1,0
2,0

22

1,0
1,0

10,0
9,0
1,0

22

JUMLAH
SDM

JUMLAH
HARI

103,0
20
78,0
15
20,0
5
5,0

190
36

15
30,0
12
19,0
3
5,0
4,0
2,0

17
61

4,0
2,0
1,0
1,0

III. Pekerjaan Bendung dan Bangunan Pelengkap


NO.

URAIAN PEKERJAAN

VOL.

SAT.

PekerjaanBatu
Pembersihan
Kali
III.1
I.2 Pasangan
a. Tenaga Kerja
Pekerja
Pekerja
Tukang
MandorBatu
Mandor

10.796,05
5.057,64

m3
m2

Pekerjaan Kupasan
I.3 Plesteran
III.2
Tenaga Kerja
Kerja
a. Tenaga
a.
Pekerja
Pekerja
MandorBatu
Tukang

3.750,00
2.959,02

OH
OH
OH
OH
OH
Total
Total
Jumlah SDM
Jumlah SDM
Jumlah Hari

Jumlah Hari

Kepala Tukang
Mandor

KOEFISIEN
PEKERJAAN

2,700
0,060
0,900
0,006
0,270
0,066
3,870
713
19573
36
190

m2
m2

OH
OH
OH
Total
OH
OH
Jumlah SDM
JumlahTotal
Hari

0,060
0,384
0,006
0,192
0,066
0,019
0,019
248
0,614
17

Jumlah SDM

1817
61

Jumlah Hari
256,67
I.5 Pek. Pengukuran
m'
a. Tenaga Kerja
Pekerja
OH
Perencanaan
Bendung Tonggauna
Pembantu Juru Ukur
OH
KabupatenJuru
Kolaka
Ukur Timur, Sulawesi Tenggara
OH
Total
Jumlah SDM
Jumlah Hari

0,012
0,004
0,004
0,020
5
1

319

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK

NO.

URAIAN PEKERJAAN

Siar
Pembersihan
III.3
I.2 Pekerjaan
a. Tenaga Kerja
Pekerja
Tukang Batu
Mandor
Kepala Tukang
Mandor

I.3
a.
III.4
a.

Pekerjaan Kupasan
Tenaga Kerja
Penulangan (Pembesian)
Pekerja
Tenaga Kerja
Mandor
Pekerja
Tukang Besi
Kepala Tukang
Mandor

I.5 Pek. Pengukuran


a. Tenaga Kerja
Pekerja
III.5 Bekisting
Pembantu Juru Ukur
a. Tenaga Kerja
Juru Ukur
Pekerja
Tukang Kayu Besi
Kepala Tukang
Mandor

III.6 Beton K.225


a. Tenaga Kerja
Pekerja
Tukang Kayu Batu
Kepala Tukang
Mandor

7.5.

VOL.

SAT.

1.878,29
10.796,05

m2

OH
OH
OH
Total
OH
Jumlah SDM
Total
Jumlah Hari
Jumlah SDM
3.750,00
Jumlah m2
Hari
2.912,52

KOEFISIEN
PEKERJAAN

0,300
0,060
0,150
0,006
0,015
0,066
0,030
713
0,495
36
930
33

Kg
OH
OH
OH
Total
OH
Jumlah SDM
OH
Jumlah OH
Hari

0,060
0,006
0,700
0,066
0,700
248
0,070
17
0,070

Total
256,67
m'
Jumlah SDM
Jumlah Hari
OH
389,86
m2
OH
OH
OH
Total
OH
Jumlah SDM
OH
Jumlah Hari
OH
Total
Jumlah SDM
Jumlah Hari

1,540
4485
107
0,012
0,004
0,004
0,600
0,020
0,300
5
0,030
1
0,060
0,990
386
20

196,85

JUMLAH
SDM

JUMLAH
HARI

28,0
20
14,0
15
7,0
5
4,0
3,0

33
36

15
12
42,0
3
22,0
12,0
5,0
3,0

17

4,0
2,0
1,0
19,0
1,0
10,0
6,0
2,0
1,0

107

1
20

m3

OH
OH
OH
OH
Total
Jumlah SDM
Jumlah Hari

1,323
0,189
0,019
0,132
1,663
327
16

20,0
10,0
7,0
2,0
1,0

16

Network Planning (NWP)


Pelaksanaan suatu pekerjaan terdiri dari berbagai kegiatan, baik
yang berjalan bersamaan atau pekerjaan yang saling ketergantungan satu
dengan yang lain. Bila kegiatan-kegiatan tersebut dirangkai menjadi satu
maka akan membentuk suatu jaringan yang disebut network planning.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

320

BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA &


JADWAL PELAKSANAAN PROYEK
Fungsi network planning adalah:
- Memberi suatu gambaran dalam hubungan kerja bahwa setiap kegiatan
merupakan rangkaian yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan
yang lainnya.
- Dalam network planning terdapat lintasan kritis, tidak boleh mengalami
keterlambatan karena akan mempengaruhi kegiatan lainnya. Apabila
terjadi keterlambatan maka kontraktor harus menambah efektifitas
kerja, menambah jumlah pekerja, menambah jumlah peralatan, agar
pekerjaan kembali ke lintasan kritis semula.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

321

LAPORAN TUGAS AKHIR


PERENCANAAN BENDUNG TONGGAUNA KABUPATEN
KOLAKA TIMUR, SULAWESI TENGGARA
(Design of Tonggauna Weir at Kolaka Timur,
Southeast Sulawesi)

BAB VIII
RENCANA KERJA DAN
SYARAT-SYARAT

UNDIP KEMENPUPERA

BAB VIII. RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

BAB VIII
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

8.1.

Tinjauan Umum
Rencana

kerja

dan

syarat-syarat

teknis

proyek

Pekerjaan

Perencanaan Bendung Tonggauna, Kabupaten Kolaka Timur yang terdiri


dari :
1.

Instruksi Kepada Peserta Pengadaan (IKP)

2.

Lembar Data Pemilihan (LDP)

3.

Lembar Data Kualifikasi (LDK)

4.

Bentuk Dokumen Penawaran

5.

Petunjuk Pengisian Formulir Kualifikasi

6.

Tata Cara Evaluasi Kualifikasi

7.

Bentuk Rancangan Kontrak

8.

Syarat-Syarat Umum Kontrak

9.

Syarat-Syarat Khusus Kontrak

10. Spesifikasi Teknis dan Gambar


11. Daftar Kuantitas dan Harga
12. Bentuk Dokumen Lain

8.2.

Instruksi Kepada Peserta Pengadaan (IKP)


Instruksi kepada peserta pengadaan diberikan saat pelaksanaan
tender terdiri dari:
1.

Umum

2.

Dokumen Pengadaan

3.

Penyiapan Dokumen Penawaran

4.

Pembukaan dan Evaluasi Penawaran

5.

Penetapan Pemenang

6.

Penunjukan Pemenang Pengadaan

7.

Pelelangan Gagal

8.

Surat Jaminan Pelaksanaan

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

322

BAB VIII. RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

9.

Penandatanganan Kontrak
Penjelasan lebih lanjut dapat dilihat pada Lampiran Peraturan

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor : 31/PRT/M/2015


tentang Perubahan Ketiga Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor
07/PRT/M/2011 tentang Standar dan Pedoman Pengadaan Pekerjaan
Konstruksi dan Jasa Konsultansi pada Buku Standar PK 01 HS
Pascakualifikasi (Pelelangan Umum / Pemilihan Langsung).

8.3.

Lembar Data Pemilihan (LDP)


LDK terdiri dari :
1.

Penerapan IKP dan LDP

2.

Lingkup Pekerjaan

3.

Sumber Dana

4.

Pendayagunaan Produksi Dalam Negeri

5.

Pemberian Penjelasan Dokumen Pengadaan dan Peninjauan Lapangan

6.

Dokumen Penawaran

7.

Mata Uang Penawaran dan Cara Pembayaran

8.

Masa Berlakunya Penawaran

9.

Jaminan Penawaran

10. Penyampaian Dokumen Penawaran


11. Batas Akhir Waktu Pemasukan Penawaran
12. Pembukaan Penawaran
13. Ambang Batas
14. Sanggahan
Penjelasan lebih lanjut dapat dilihat pada Lampiran Peraturan
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor : 31/PRT/M/2015
tentang Perubahan Ketiga Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor
07/PRT/M/2011 tentang Standar dan Pedoman Pengadaan Pekerjaan
Konstruksi dan Jasa Konsultansi pada Buku Standar PK 01 HS
Pascakualifikasi (Pelelangan Umum / Pemilihan Langsung).

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

323

BAB VIII. RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

8.4.

Lembar Data Kualifikasi (LDK)


LDK terdiri dari :
1.

Lingkup Kualifikasi

2.

Persyaratan Kualifikasi
Penjelasan lebih lanjut dapat dilihat pada Lampiran Peraturan

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor : 31/PRT/M/2015


tentang Perubahan Ketiga Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor
07/PRT/M/2011 tentang Standar dan Pedoman Pengadaan Pekerjaan
Konstruksi dan Jasa Konsultansi pada Buku Standar PK 01 HS
Pascakualifikasi (Pelelangan Umum / Pemilihan Langsung).

8.5.

Bentuk Dokumen Penawaran


Bentuk Dokumen Penawaran terdiri dari :
1.

Bentuk Surat Penawaran Peserta Badan Usaha/Kemitraan (KSO)

2.

Bentuk Surat Kuasa

3.

Bentuk Perjanjian Kemitraan/Kerja Sama Operasi (KSO)

4.

Bentuk Dokumen Penawaran Teknis

5.

Bentuk Formulir Rekapitulasi Perhitungan Tingkat Komponen Dalam


Negeri (TKDN)

6.

Bentuk Daftar Barang yang Diimpor

7.

Bentuk Rencana Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Konstruksi


(RK3K)

8.

Bentuk Rincian/Uraian Harga Satuan Pekerjaan (HSP)

9.

Bentuk Jaminan Penawaran dari Bank

10. Bentuk Jaminan Penawaran Dari Asuransi/ Perusahaan Penjaminan


(Hanya Untuk Badan Usaha Kecil)
11. Bentuk Pakta Integritas
12. Bentuk Formulir Isian Kualifikasi
Penjelasan lebih lanjut dapat dilihat pada Lampiran Peraturan
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor : 31/PRT/M/2015
tentang Perubahan Ketiga Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

324

BAB VIII. RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

07/PRT/M/2011 tentang Standar dan Pedoman Pengadaan Pekerjaan


Konstruksi dan Jasa Konsultansi pada Buku Standar PK 01 HS
Pascakualifikasi (Pelelangan Umum / Pemilihan Langsung).

8.6.

Petunjuk Pengisian Formulir Kualifikasi


1.

Data Administrasi

2.

Izin Usaha

3.

Sertifikat Badan Usaha

4.

Izin Lainnya (apabila dipersyaratkan, yang sesuai dengan pekerjaan


yang dilelangkan)

5.

Landasan Hukum Pendirian Badan Usaha

6.

Pengelola Badan Usaha (Pengawas/Pengurus)

7.

Data Keuangan

8.

Data Personil Inti

9.

Data Peralatan

10. Data Pengalaman Perusahaan


11. Data Pengalaman Perusahaan dalam 5 tahun terakhir
12. Data Pekerjaan Yang Sedang Dilaksanakan
13. Modal Kerja
14. Kemitraan/KSO
Penjelasan lebih lanjut dapat dilihat pada Lampiran Peraturan
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor : 31/PRT/M/2015
tentang Perubahan Ketiga Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor
07/PRT/M/2011 tentang Standar dan Pedoman Pengadaan Pekerjaan
Konstruksi dan Jasa Konsultansi pada Buku Standar PK 01 HS
Pascakualifikasi (Pelelangan Umum / Pemilihan Langsung).

8.7.

Tata Cara Evaluasi Kualifikasi


Menjelaskan tentang tata cara dan syarat evaluasi kualifikasi.
Penjelasan lebih lanjut dapat dilihat pada Lampiran Peraturan Menteri
Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor : 31/PRT/M/2015 tentang

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

325

BAB VIII. RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Perubahan

Ketiga

Peraturan

Menteri

Pekerjaan

Umum

Nomor

07/PRT/M/2011 tentang Standar dan Pedoman Pengadaan Pekerjaan


Konstruksi dan Jasa Konsultansi pada Buku Standar PK 01 HS
Pascakualifikasi (Pelelangan Umum / Pemilihan Langsung).

8.8.

Bentuk Rancangan Kontrak


Berisi tentang standar dalam membuat surat perjanjian kontrak.
Penjelasan lebih lanjut dapat dilihat pada Lampiran Peraturan Menteri
Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor : 31/PRT/M/2015 tentang
Perubahan

Ketiga

Peraturan

Menteri

Pekerjaan

Umum

Nomor

07/PRT/M/2011 tentang Standar dan Pedoman Pengadaan Pekerjaan


Konstruksi dan Jasa Konsultansi pada Buku Standar PK 01 HS
Pascakualifikasi (Pelelangan Umum / Pemilihan Langsung).

8.9.

Syarat-Syarat Umum Kontrak (SSUK)


SSUK terdiri dari :
1.

Ketentuan Umum

2.

Pelaksanaan, Penyelesaian, Adendum dan Pemutusan Kontrak

3.

Hak dan Kewajiban Para Pihak

4.

Personil Inti dan/ atau Peralatan Penyedia

5.

Kewajiban PPK

6.

Pembayaran Kepada Penyedia

7.

Pengawasan Mutu

8.

Penyelesaian Perselisihan
Penjelasan lebih lanjut dapat dilihat pada Lampiran Peraturan

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor : 31/PRT/M/2015


tentang Perubahan Ketiga Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor
07/PRT/M/2011 tentang Standar dan Pedoman Pengadaan Pekerjaan
Konstruksi dan Jasa Konsultansi pada Buku Standar PK 01 HS
Pascakualifikasi (Pelelangan Umum / Pemilihan Langsung).

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

326

BAB VIII. RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

8.10. Syarat-Syarat Khusus Kontrak (SSKK)


SSKK terdiri dari :
1.

Korespondensi

2.

Wakil Sah Para Pihak

3.

Jenis Kontrak

4.

Tanggal Berlaku Kontrak

5.

Masa Pelaksanaan

6.

Masa Pemeliharaan

7.

Perbaikan Cacat Mutu

8.

Umur Konstruksi

9.

Pedoman Pengoperasian dan Perawatan/Pemeliharaan

10. Pembayaran Tagihan


11. Pencairan Jaminan
12. Tindakan Penyedia yang Mensyaratkan Persetujuan PPK atau
Pengawas Pekerjaan
13. Kepemilikan Dokumen
14. Fasilitas
15. Peristiwa Kompensasi
16. Sumber Pembiayaan
17. Pembayaran Uang Muka
18. Keselamatan dan Kesehatan Kerja
19. Pembayaran Prestasi Pekerjaan
20. Pembayaran Peralatan dan/atau Bahan
21. Serah Terima sebagian pekerjaan
22. Penyesuaian Harga (Eskalasi/De-eskalasi)
23. Denda
24. Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Koperasi Kecil
25. Penyelesaian Perselisihan /Sengketa
Penjelasan lebih lanjut dapat dilihat pada Lampiran Peraturan
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor : 31/PRT/M/2015
tentang Perubahan Ketiga Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

327

BAB VIII. RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

07/PRT/M/2011 tentang Standar dan Pedoman Pengadaan Pekerjaan


Konstruksi dan Jasa Konsultansi pada Buku Standar PK 01 HS
Pascakualifikasi (Pelelangan Umum / Pemilihan Langsung).

8.11. Spesifikasi Teknis dan Gambar


Spesifikasi teknis dan gambar terdiri dari :
1.

Uraian Spesifikasi Teknis

2.

Keterangan Gambar

Pengguna jasa harus menyiapkan spesifikasi teknis dan gambar yang akan
dijadikan acuan oleh penyedia jasa dalam melaksanakan pekerjaan.

8.12. Daftar Kuantitas dan Harga


Berisi tentang analisa harga satuan pekerjaan, daftar harga dan upah,
rencana anggaran biaya (RAB), dan rekapitulasi RAB.

8.13. Bentuk Dokumen Lain


Bentuk dokumen lain terdiri dari :
1.

Bentuk Surat Penunjukan Penyedia Barang/Jasa (SPPBJ)

2.

Bentuk Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK)

3.

Bentuk Surat Jaminan

4.

Bentuk Surat Keterangan Dukungan Keuangan dari Bank

5.

Pengumuman [Pelelangan Umum/Pemilihan Langsung]

dengan

Pascakualifikasi
Penjelasan lebih lanjut dapat dilihat pada Lampiran Peraturan
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor : 31/PRT/M/2015
tentang Perubahan Ketiga Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor
07/PRT/M/2011 tentang Standar dan Pedoman Pengadaan Pekerjaan
Konstruksi dan Jasa Konsultansi pada Buku Standar PK 01 HS
Pascakualifikasi (Pelelangan Umum / Pemilihan Langsung).

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

328

BAB VIII. RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

SYARAT-SYARAT TEKNIS (SPESIFIKASI TEKNIS)

Pasal 1
Penjelasan Umum
1.1.

Pemberian pekerjaan meliputi penyediaan, pengangkutan dan semua


pengolahan bahan, pengerahan tenaga kerja, pengadaan semua alat
pembantu dan sebagainya, yang pada umumnya secara langsung atau tidak
langsung termasuk di dalam usaha menyelesaikan pekerjaan dengan baik
dan menyerahkan pekerjaan dalam keadaan sempurna dan lengkap.

1.2.

Dalam hal ini juga termasuk pekerjaan-pekerjaan atau bagian-bagian


pekerjaan yang walaupun tidak disebutkan dalam RKS dan gambar, tetapi
masih berada dalam lingkup pekerjaan yang harus dilaksanakan sesuai
dengan petunjuk Pimpinan Proyek.

1.3.

Tanah bangunan termasuk segala perlengkapannya akan diserahkan kepada


Pemborong atau Kontraktor dalam keadaan yang sama seperti pada waktu
Aanwijzing.

1.4.

Pekerjaan haruslah diserahkan oleh Pemborong/Kontraktor dengan


sempurna dalam keadaan selesai, termasuk juga pembersihan bekas-bekas
bongkaran dan lain sebagainya.

1.5.

Sepanjang tidak ditentukan lain pada persyaratan teknis, maka untuk


pekerjaan ini tetap mengikuti syarat-syarat teknis berikut ini serta
Normalisasi Standar Indonesia yang berlaku sebagaimana Pasal 2 berikut
ini.

1.6.

Pekerjaan konstruksi meliputi pembangunan bendung sebagaimana


tercantum dalam album gambar.

1.7.

Jalan masuk ke dan melalui daerah kerja dapat menggunakan jalan-jalan


setempat yang ada yang berhubungan dengan jalan raya yang berdekatan
dengan daerah proyek. Kontraktor hendaknya berpegang pada semua
peraturan dan ketentuan hukum yang berhubungan dengan penggunaan arah
angkutan umum dan bertanggung jawab terhadap kerusakan akibat
penggunaan

jalan

tersebut.

Kontraktor

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

harus

memperbaiki

atau
329

BAB VIII. RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

memperlebar jalan yang ada, memperbaiki dan memperkuat jembatan beton


sehingga memenuhi kebutuhan pengangkutannya sejauh yang dibutuhkan
untuk pekerjaannya. Kontraktor dapat menggunakan tanah yang sudah
dibebaskan oleh Pemberi Tugas untuk keperluan jalan masuk ke daerah
kerja itu apabila Kontraktor membutuhkan tambahan jalan masuk demi
kemajuan pekerjaan. Pemberi tugas tidak bertanggung jawab terhadap
pemeliharaan jalan masuk atau bangunan yang digunakan oleh Kontraktor
selama pelaksanaan pekerjaan. Apabila Kontraktor membutuhkan jalan lain
yang tidak ditentukan oleh Kontraktor atas bebannya sendiri, dan harga
untuk semua pekerjaan tersebut sudah termasuk dalam harga satuan
pekerjaan.
1.8.

Gambar-gambar yang dimiliki Kontraktor :


1. Gambar-gambar pekerjaan
(a) Semua gambar-gambar yang disiapkan oleh Kontraktor harus
ditandai oleh Direksi dan apabila ada perubahan diserahkan kepada
Direksi untuk mendapatkan persetujuan sebelum program Pelaksana
dimulai.
(b) Gambar-gambar pelaksana/Gambar kerja
Kontraktor menggunakan gambar-gambar kontrak sebagai dasar
untuk mempersiapkan gambar-gamabr pelaksanaan, gambar dibuat
detail untuk pekerjaan tetap dan untuk pekerjaan khusus seperti
beton harus memperlihatkan penampang memanjang dan melintang
beton.
(c) Gambar-gambar bengkel, disiapkan oleh Kontraktor

untuk

menyimpan peralatan dan bahan-bahan milik Kontraktor


(d) Kontraktor menyediakan satu lembar set gambar-gambar lengkap di
lapangan.
2. Gambar-gambar pekerjaan sementara
Gambar yang disiapkan oleh Kontraktor harus dirinci dan diserahkan
pada Direksi sebelum tanggal program pelaksanaan dalam waktu yang
ditentukan oleh dalam Kontrak. Kontraktor hendaknya mengusulkan
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

330

BAB VIII. RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

pekerjaan sementara yang berkaitan dengan pekerjaan tetap secar


mendetail dan diserahkan oleh Direksi untuk mendapatkan persetujuan
tujuh hari sebelum tanggal dimulainya pelaksanaan.
3. Gambar-gambar yang sebelumnya terbangun/terpasang
Kontraktor menyiapkan dan meyimpan satu set gambar yang
dilaksanakan paling akhir untuk tiap-tiap pekerjaan. Gambar-gambar
yang dilaksanakan akan diperiksa tiap bulan di lapangan oleh Direksi dan
tiap hari oleh Pengawas Lapangan, apabila diketemukan hal-hal yang
tidak memuaskan dan tidak dilaksanakan diperbaiki kembali selambatlambatnya 6 (enam) hari kerja. Pelaksanaan selesai Kontraktor harus
menyerahkan gambar pelaksanaannya dalam 3 set cetakan yang dijilid
ukuran A3 dan satu set negatifnya. Ukuran A1.
1.9.

Program Pelaksanaan dan Laporan


1. Program pelaksanaan
Kontraktor harus melaksanakan program pelaksanaan sesuai dengan
syarat-syarat kontrak dengan menggunakan CPM network. Program
tersebut harus dibuat dalam dua bentuk yaitu bar-chart dan daftar yang
memperlihatkan setiap kegiatan yaitu mulai tanggal paling awal, mulai
tanggal paling akhir, waktu yang diperlukan, waktu float, serta sumber
tenaga kerja, peralatan dan bahan yang diperlukan.
2. Laporan kemajuan pelaksanaan
Sebelum tanggal sepuluh setiap bulan atau saat waktu ditentukan Direksi,
kontraktor harus menyerahkan tiga salinan laporan kemajuan bulanan
pada Direksi, mengenai gambaran secara detail kemajuan pekerjaan
bulan terdahulu. Isi dari laporan itu berisi tentang hal-hal sebagai berikut:
a. Prosentase kemajuan pekerjaan laporan bulanan maupun prosentase
rencana yang akan diprogramkan bulan berikutnya.
b. Prosentase dari tiap pekerjaan pokok yang diselesaikan maupun
prosentase rencana yang diprogramkan harus sesuai dengan kemajuan
yang dicapai pada laporan bulanan.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

331

BAB VIII. RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

c. Rencana kegiatan dalam waktu dua bulan berturut-turut dengan


ramalan tanggal permulaan dan penyelesaiannya.
d. Daftar tenaga buruh setempat dan daftar peralatan konstruksi.
e. Jumlah volume untuk berbagai pekerjaan beton, galain-timbunan,
pasangan batu, dan lain-lain.
f. Daftar besarnya pembayaran terakhir yang diterima dan kebutuhan
pembayaran yang diperlukan pada bulan berikutnya serta hal-hal lain
yang diminta sesuai dengan kontrak.
3. Rencana kerja harian, mingguan dan bulanan
Kontraktor harus menyerahkan dua rangkap rencana mingguan yang
disetujui oleh direksi setiap akhir minggu dan untuk minggu-minggu
berikutnya. Rencana tersebut termasuk pekerjaan tanah, pekerjaan
konstruksi lainnya yang berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan,
pengadaan tanah, pengangkutan bahan dan peralatan serta lain-lain yang
diminta oleh direksi. Kontraktor harus menyerahkan dua rangkap
rencana kerja harian secara tertulis untuk semua kemajuan yang sudah
disetujui oleh Direksi setiap hari maupun untuk hari-hari berikutnya.
Kontraktor harus menyediakan rencana bulanan dengan sistem bar chart
pada akhir bulan maupun pada akhir dan untuk bulan-bulan berikutnya.
Rencana kerja ini harus memperlihatkan tenggang waktu dari mulai
sampai akhir kegiatan utama dengan volume pekerjaannya. Rencana
kerja ini harus diserahkan kepada Direksi pada hari ketiga tiap bulan
untuk perbaikan dan perubahan.
4. Rapat bersama untuk membicarakan kemajuan pekerjaan
Rapat tetap antara direksi dengan Kontraktor diadakan seminggu sekali
pada tempat dan waktu yang disetujui oleh Direksi. Maksud dari rapat ini
membicarakan kemajuan pekerjaan yang sedang dilakukan, pekerjaan
yang diusulkan untuk seminggu berikutnya dan membahas permasalahan
yang timbul agar dapat segera diselesaikan.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

332

BAB VIII. RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Pasal 2
Normalisasi Standar Indonesia
N.1 2

- Peraturan Beton Indonesia 1971

N.1 3

- Peraturan Umum untuk Bahan Bangunan di Indonesia

N.1 5

- Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia

N.1 7

- Syarat-syarat untuk Kapur Bahan Bangunan

N.1 8

- Semen Portland

N.1 10

- Spesifikasi untuk Batu Merah

Pasal 3
Pekerjaan Persiapan
3.1.

Dalam waktu selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari setelah kontrak ditandatangani, Pemborong/Kontraktor harus sudah melaksanakan persiapan di
lapangan sesuai dengan petunjuk Direksi.

3.2.

Pembuatan kantor direksi, gudang dan barak-barak pekerja harus memenuhi


persyaratan yang telah ditentukan oleh Direksi.

3.3.

Penyediaan air bersih.

3.4.

Pengadaan penerangan

Pasal 4
Gambar-gambar Pekerjaan
4.1.

Gambar-gambar rencana pekerjaan terdiri dari gambar bestek, gambar detail


situasi

dan

lain

sebagainya

yang

akan

disampaikan

kepada

Pemborong/Kontraktor beserta dokumen-dokumen lainnya. Kontraktor


tidak boleh mengubah dan menambah tanpa persetujuan dari Pimpinan
Proyek/Direksi, gambar-gambar tersebut tidak boleh diberikan kepada
pihak lain yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan borongan ini atau
digunakan untuk maksud lain.
4.2.

Gambar-gambar tambahan

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

333

BAB VIII. RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT


Pemborong/Kontraktor harus membuat gambaran detail (gambar
kerja/shiop drawing) yang disahkan oleh Direksi, gambar-gambar
tersebut menjadi milik Direksi.
As Built Drawing
Yang dimaksud dengan As Built Drawing adalah gambar-gambar yang
sesuai dengan yang dilaksanakan. Untuk pekerjaan ulang yang belum ada
dalam bestek, Kontraktor harus membuat gambar-gambar yang sesuai
dengan apa yang dilaksanakan dengan jelas memperlihatkan perbedaan
antara gambar kontrak dan gambar pelaksanaan. Gambar-gambar
tersebut harus diserahkan rangkap 3 (tiga) dan biaya pembuatannya
ditanggung oleh pihak Kontraktor.
4.3.

Pemborong/Kontraktor harus menyimpan di tempat kerja satu bundle


gambar kontrak lengkap termasuk Rencana Kerja dan Syarat-syarat Berita
Acara Rapat Penjelasan (Aanwijzing), Time Schedule, dan semuanya dalam
keadaan baik (dapat dibaca dengan jelas), hal ini untuk menjaga jika
pemberi tugas atau wakilnya sewaktu-waktu memerlukannya.

Pasal 5
Mobilisasi
Sebelum kegiatan pelaksanaan dimulai, Pemborong harus mengajukan rencana
mobilisasi kepada Direksi. Kegiatan yang dimaksud adalah :
Transportasi lokal, alat-alat dan perlengkapan lain ke tempat kerja.
Bangunan dan pengamanan daerah kerja.
Pembuatan bangunan sebagaimana yang tercantum dalam uraian pekerjaan.
Penyaluran bahan-bahan yang diperlukan untuk pekerjaan pembangunan.

Pasal 6
Daerah Kerja
6.1.

Areal tanah untuk daerah kerja pada dasarnya disediakan oleh pemberi
tugas, penggunaan daerah diluar yang disediakan menjadi tanggung jawab
dan atas usaha Pemborong/Kontraktor.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

334

BAB VIII. RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

6.2.

Kontraktor harus menutup daerah kerja bagi umum untuk keamanan kerja
alat dan bahan selama pelaksanaan pekerjaan berlangsung.

6.3.

Pada daerah yang telah disediakan, Pemborong harus merencanakan


penggunaannya

yang pada

dasarnya

akan

membantu kelancaran

pelaksanaan. Rencana tersebut harus disetujui oleh Direksi sebelum


penggunaan areal kerja.
6.4.

Pemborong diharuskan membuat kantor lapangan, gudang dan sebagainya


guna manunjang pelaksanaan pekerjaan.

6.5.

Sebelum pekerjaan dimulai seluruh daerah kerja dibersihkan terlebih


dahulu.

Pasal 7
Peralatan Kerja
7.1.

Pemborong harus menyediakan peralatan dengan baik dan siap pakai yang
diperlukan untuk pekerjaan pembangunan.

7.2.

Untuk pelaksanaan pekerjaan ini Pemberi Tugas/Direksi tidak menyediakan


atau meminjamkan atau menyewakan peralatan kerja.

7.3.

Untuk pengamatan pelaksanaan pekerjaan Kontraktor haru menyediakan


alat-alat keselamatan kerja sesuai dengan Peraturan Pemerintah yang
berlaku.

Pasal 8
Pengukuran
8.1.

Pengukuran peil dilaksanakan oleh Kontraktor dengan menggunakan alatalat miliknya dan diawasi oleh Direksi.

8.2.

Pengukuran dilaksanakan dengan alat ukur waterpass, theodolit dan


sebagainya dalam keadaan baik yang disetujui oleh Direksi.

8.3.

Tanda-tanda patok (bouwplank) yang sudfah dipasang dijaga agar tidak


rusak dan tidak berubah tempatnya, bila perlu Kontraktor harus mengadakan
pengecekan ulang bila Direksi menginginkan.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

335

BAB VIII. RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

8.4.

Tanda patok ini terbuat dari kayu kelas II atau bambu yang dicat merah
ujung atasnya 0,6 cm, panjang 60 cm dan masuk ke dalam tanah sepanjang
40 cm.

8.5.

Tanda dasar untuk proyek merupakan Bench Mark yang terletak berdekatan
dengan saluran induk seperti terlihat pada gambar ketinggian dari Bench
Mark ini didasarkan pada titik tetap utama. Bench Mark yang lain dan titik
referensi yang terlihat pada gambar diberikan pada Kontraktor sebagai
referensi. Sebelum menggunakan suatu Bench Mark dan titik referensi
kecuali Bench Mark dasar untuk setting out pekerjaan, Kontraktor harus
melakukan pengukuran atau pemeriksaan atas ketelitiannya. Pemberi Tugas
tidak akan bertanggung jawab atas ketelitian Bench Mark yang lain begitu
juga dengan referensinya. Kontraktor perlu mendirikan Bench Mark
tambahan sementara untuk kemudahan tetapi setiap Bench Mark sementara
didirikan, rencana dan tempatnya disetujui oleh Direksi dan akan merupaka
ketelitian yang berhubungan dengan Bench Mark yang didirikan oleh
Direksi.

8.6.

Permukaan tanah asli yang terlihat pada gambar akan dianggap betul sesuai
dengan kontrak. Apabila terjadi keraguan dari Kontraktor atas kebenaran
dari muka tanah, sekurang-kurangnya 30 hari sebelum mulai bekerja,
Kontraktor memberitahukan kepada direksi secara tertulis untuk
menyesuaikan dan melaksanakan pengukuran kembali ketinggian muka
tanah tersebut. Sebelum mulai melaksanakan pekerjaan tanah, kontraktor
akan mengukur dan mengambil ketinggian lokasi pekerjaan, dengan
menggunakan Bench Mark atau titik referensi yang disetujui Direksi.
Pengukuran volume yang dikerjakan dibuat berdasarkan ketinggian yang
disetujui.

8.7.

Kontraktor harus menyediakan dan memelihara peralatan pengukuran untuk


dipakai sendiri dan Direksi. Alat dan perlengkapan harus baik menurut
direksi dan alat harus diganti jika hilang atau rusak. Semua alat-alat dan
perlengkapan itu tetap menjadi milik Kontraktor. Alat-alat tidak boleh

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

336

BAB VIII. RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

ditukar dalam waktu pelaksanaan kontrak, kecuali dengan ijin atau perintah
Direksi.
8.8.

Semua biaya yang dikeluarkan untuk pekerjaan pengukuran harus sudah


masuk dalam harga satuan penawaran.

Pasal 9
Mutual Check
9.1.

Untuk sistem pelaksanaan pekerjaan ini adalah kontrak harga satuan

9.2.

Untuk pelaksanaan Mutual Check I harus diperhatikan beberapa hal sebagai


berikut :
a. Diadakan dengan dasar gambar tender yang telah dimenangkan
Kontraktor.
b. Terdiri dari Kontraktor dan bersama-sama dengan pihak Direksi.
c. Kontraktor harus melakukan pengukuran kembali semua kegiatankegiatan pekerjaan dengan mencocokkan kembali pada titik tetap dengan
ketelitian 10 mm. Membuat gambar-gambar hasil pengukuran kembali
profil

memanjang

dan

melintang

dengan

mengikuti

standar

penggambaran tender drawing. Membuat gambar-gambar bangunan


dengan mengikuti standar penggambaran tender drawing. Membuat
perhitungan hidrolis apabila ada perubahan bentuk. Membuat
perhitungan kuantitas dan Rencana Anggaran Biaya atas perubahan
(tambahan/pengurangan).
d. Semua produk-produk hasil uitsetten/pengukuran kembali disampaikan
pada Pemberi Tugas untuk selanjutnya diteliti/diperiksa kebenarannya
dan setelah mendapat persetujuan dari direksi maka Kontraktor dapat
melaksanakan pekerjaan tersebut.
e. Dari hasil pengukuran kembali/uitzet akan didapat perbandingan volume
dengan tender drawing.
f. Gambar-gambar hasil uitzet adalah sebagai dasar untuk pelaksanaan
konstruksi lapangan.
g. Semua gambar-gambar hasil Mutual Check I diperbanyak tiga kali.
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

337

BAB VIII. RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

9.3.

Untuk Mutual Check ke II harus diperhatikan beberapa hal sebagi berikut :


a. Dilaksanakan

untuk

mendapatkan

pekerjaan

yang

sebenarnya

dilaksanakan/gambar terpasang (As Built Drawing).


b. Hasil

Mutual Check ke II dengan gambar terpasang sebagai dasar

pembayaran volume pekerjaan yang telah selesai dilaksanakan.


c. Semua gambar-gambar terpasang dibuat rangkap tiga.
9.4.

Untuk jangka waktu Mutual Check akan diatur/ditentukan Direksi. Jika


tidak ditentukan maka pengajuan biaya tambahan/pengurangan biaya paling
lambat satu bulan sebelum jangka waktu pelaksanaan berakhir sudah harus
disampaikan kepada Pemberi Tugas atau instansi yang berwenang.
Ketentuan-ketentuan yang belum diatur dalam Mutual Check ini akan
ditentukan kemudian oleh Direksi.

Pasal 10
Pengalihan Aliran Sungai dengan Pengeringan Dasar Galian
10.1. PIHAK KEDUA harus melaksanakan pengalihan air sungai untuk
memungkinkan terlaksananya pekerjaan.
10.2. Sebelum melaksanakan pekerjaan ini, maka PIHAK KEDUA diharuskan
menyerahkan kepada Direksi rencana dari pekerjaan pengalihan sungai.
10.3. Sekalipun rencana tersebut telah disetujui Direksi, tidak berarti PIHAK
KESATU bebas dari tanggung jawab dalam metode yang dipergunakan.
10.4. Pengalihan sungai harus dijaga sepenuhnya melalui saluran pengelak
sementara selama pembuatan jembatan, pembuangan dan bangunan lain.
10.5. PIHAK KEDUA harus merencanakan, membangun dan memelihara semua
pekerjaan pelindung sementara yang perlu, seperti tanggul penutup
sementara (kistdam), tanggul-tanggul dan pekerjaan pelindung lainnya.
10.6. PIHAK KEDUA harus menyediakan semua bahan yang diperlukan untuk
pekerjaan ini dan harus pula menyediakan, memasang, memelihara dan
mengoperasikan pompa-pompa air yang diperlukan dan segala peralatan
untuk membuang air dari seluruh area pekerjaan yang membutuhkan proses
pengeringan.
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

338

BAB VIII. RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

10.7. PIHAK KEDUA bertanggung jawab dan harus memperbaiki dengan biaya
sendiri semua kerusakan pada pondasi bangunan atau bagian lain dari
pekerjaan yang rusak oleh genangan air, yang diakibatkan kesalahan
pelaksana pembuatan pekerjaan pelindung.
10.8. Informasi data hidrologi dan data penyelidikan tanah dapat diperoleh di
kantor proyek untuk referensi bagi Pemborong dalam merencanakan
tanggul penutup sementara dan lain sebagainya.
10.9. Pemilik pekerjaan dan Direksi tidak menjamin kebenaran dan ketepatan
informasi data tersebut dan dianggap tidak bertanggung jawab untuk semua
kesimpulan dan interpretasi yang dibuat oleh pemborong.
10.10. Setelah pekerjaan pengalihan air sungai selesai, maka PIHAK KEDUA
harus membongkar dan membereskan lokasi bekas pekerjaan tersebut
sehingga menjadi rapih dan tidak mengganggu pelaksanaan pekerjaan
lainnya dan tidak pula menghalangi kemampuan operasi bendung beserta
perlengkapannya.

Pasal 11
Pekerjaan Tanah
11.1. Untuk pekerjaan-pekerjaan kecil, misalnya saluran got, bangunan kecil
dengan galian yang tidak terlalu dalam, dapat digunakan tenaga manusia.
11.2. Untuk galian yang besar dan dalam, misalnya bendung, saluran primer yang
mempunyai jumlah volume yang besar, supaya menggunakan alat berat.
11.3. Hasil galian dapat dipakai sebagia timbunan tanggul, bila hasil galian
memenuhi syarat bahan timbunan atau disetujui Direksi.
11.4. Semua biaya untuk galian tanah dan pembuangannya harus sudah masuk
harga satuan, dimana meliputi penggalian, pembuangan, ganti rugi tanaman,
pembersihan termasuk penggunaan alat berat.
11.5. Untuk tanah-tanah yang tidak dapat bertahan pada lereng-lereng yang
ditentukan oleh direksi dan material-material yang longsor ke daerah galian
di sepanjang garis galian, harus dipindahkan oleh Kontraktor dan lerenglereng harus diselesaikan kembali menurut garis dan tingkat yang ditetapkan
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

339

BAB VIII. RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

oleh Direksi. Kontraktor diminta untuk menggali daerah-daerah yang


mungkin akan longsor di luar batas-batas penggalian yang diperlukan untuk
mencegah kerusakan pada pekerjaan.
11.6. Untuk daerah asal bahan (borrow area) ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan antara lain :
a. Bahan timbunan yang diperlukan untuk pekerjaan harus diambilkan dari
borrow area yang disetujui oleh direksi dan setelah diuji untuk
mengetahui kecocokan bahan.
b. Sebelum penggalian tanah, permukaan harus dikupas dari tanamantanaman termasuk akar-akarnya. Apabila permukaan tanah dikupas
sampai kedalaman 0,15 m maka tanah kupasan ditimbun dan
ditempatkan disekitar borrow area.
c. Setelah selesai penggalian, Kontraktor meninggalkan daerah tersebut
dalam keadaan rapi sesuai petunjuk direksi, termasuk semua pekerjaan
tanah yang diperlukan untuk mencegah penggenangan air di daerah
tersebut. Apabila borrow area terletak pada sawah atau tanah tegalan,
maka tanah yang dipakai untuk timbunan tidak boleh melebihi
kedalaman 0,5 m dan setelah semua penggalian selesai daerah tersebut
dapat dipakai kembali untuk pertanian.
d. Batas borrow area minimum 20 m diluar batas pekerjaan tetap.
11.7. Kontraktor harus menggali, ,memuat, mengangkut, membuang, membentuk
dan memadatkan bahan-bahan timbunan tersebut sampai dengan ukuran
yang tercantum di dalam gambar.
11.8. Penggalian saluran dan pembuangannya sebagai berikut :
a. Penggalian saluran harus sesuai dengan dimensi yang ada pada gambar.
b. Tanah galian dari saluran primer, sekunder, saluran pembuang dan
saluran jalan harus ditempatkan sepanjang tanggul saluran atau jika
terdapat kelebihan galian, dan jika tidak disebutkan harus diletakkan
tanggul yang memerlukan tambahan timbunan.
c. Kelebihan galian yang tidak dibutuhkan untuk pekerjaan tanah baik
setempat atau di tempat lain dimana volume galian dan timbunan tidak
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

340

BAB VIII. RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

seimbang di sepanjang saluran, harus diletakkan pada tempat tanggul


buangan terpisah dan di luar pekerjaan tanah permanen. Tanggul
buangan di buat menurut direksi dan kontraktor menyiapkan rencana
pekerjaan tanah tersebut bagi setiap bagian dari pekerjaan dengan detail
lokasi dan program penggalian dari saluran dan membuang tanahnya
sebagai timbunan tanggul.
d. Kontraktor harus mengajukan usul rencana pelaksanaan pekerjaan tanah
selambat-lambatnya tujuh hari sebelum tanggal yang dimaksud sebagai
pemberitahuan kepada direksi.
e. Untuk penggalian tanah lunak, digunakan alat-alat seperti excavator,
atau bulldozer.
f. Untuk galian batu atau tanah keras menggunakan alat pembelah khusus
yang dihubungkan dengan excavator atau peralatan yang sebanding atau
yang diperlukan sesuai dengan pelaksanaan.
12.

Untuk longsoran di talud, Kontraktor harus mencoba untuk menjaga dengan


sangat hati-hati dan mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan yaitu
dengan memperbaiki semua pekerjaan tanah dan kerusakan yang
bersangkutan serta melaksanakan perubahan yang diperlukan pada
pekerjaan yang dapat disetujui Direksi.

Pasal 12
Timbunan Tanah Kembali
12.1. Untuk timbunan tanah kembali dipadatkan, dimaksudkan menimbun
kembali bekas galian bangunan dengan material tanah hasil galian atau
menurut petunjuk Direksi.
12.2. Timbunan harus dilakukan sedemikian dicapai kepadatan yang cukup dan
merata. Pemadatan dilakukan dengan stamper atau alat ringan sedemikian
sehingga tidak membahayakan bangunan atau menurut petunjuk Direksi.
12.3. Harga satuan untuk timbunan kembali dipadatkan harus sudah termasuk
biaya pemadatan, perapian dan biaya-biaya lain yang diperlukan, misalnya
alat bambu dan lain-lain.
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

341

BAB VIII. RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Pasal 13
Timbunan Tanah Tanggul
13.1. Timbunan tanggul dibedakan dengan timbunan dengan tanah yang tersedia
(misalnya galian dan sebagainya) dan timbunan dari lokasi pengambilan
(borrow area).
13.2. Timbunan tanggul yang kecil dimana kepadatan dan kualitas yang
disyaratkan tidak begitu tinggi misalnya untuk tanggul saluran sekunder.
Maka penimbunan-penimbunan tetap harus dilakukan.
13.3. Dalam hal tanah timbunan dari material yang tersedia (hasil galian) tanah
yang digunakan harus dari tanah yang baik dan dapat memenuhi persyaratan
bahan timbunan atau sesuai petunjuk Direksi.
13.4. Material timbunan harus bersih dari akar-akar tumbuhan, humus, bahanbahan organik dan bahan-bahan substansi lain.
13.5. Timbunan tanah dilakukan lapis demi lapis dengan ketebalan 20 cm atau
sesuai dengan percobaan pemadatan. Setiap lapis harus dipadatkan dengan
alat pemadat sehingga dicapai kepadatan minimum 95% dari hasil proctor
standart.
13.6. Harga satuan timbunan harus sudah cukup semua biaya untuk sewa alat dan
biaya operasinya, biaya pemadatan dan biaya tes laboratorium.

Pasal 14
Pekerjaan Pasangan Batu
14.1. Bahan batu adalah jenis batuan basalt/andesit dan permukaan batu harus
dipecah minimal 2 sisi dan bersih dari kotoran.
14.2. Bahan pasir adalah jenis pasir dengan kadar lumpur maksimum 1% dengan
butiran tajam.
14.3. Campuran spesi terdiri dari 1 PC : 4 Pasir diaduk dengan beton molen.
Perbandingan tersebut adalah perbandingan volume. Adukan harus
ditampung dalam kotak penampungan agar tidak tercantum dengan bahan
lain.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

342

BAB VIII. RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

14.4. Pemasangan batu tidak boleh bersentuhan dan rongga-rongga harus terisi
penuh spesi.
14.5. Harga satuan termasuk upah tenaga kerja, bahan, pembersihan batu muka
dan perapihan.

Pasal 15
Pekerjaan Plesteran
15.1. Bahan campuran plesteran terdiri dari 1 PC : 3 Pasir (perbandingan volume).
15.2. Sebelumnya permukaan harus dibersihkan dari kotoran tanah dan dilakukan
penyiraman.
15.3. Volume dihitung sesuai dengan luasan permukaan.
15.4. Harga satuan termasuk upah tenaga, bahan, pembersihan batu muka dan
perapihan peralatan.

Pasal 16
Pekerjaan Siaran
16.1. Bahan campuran siaran terdiri dari 1 PC : 3 Pasir (perbandingan volume).
16.2. Sebelumnya permukaan harus dibersihkan dari kotoran tanah dan dilakukan
penyiraman.
16.3. Volume dihitung sesuai dengan luasan permukaan.
16.4. Harga satuan termasuk upah tenaga, bahan, pembersihan batu muka dan
perapihan peralatan.

Pasal 17
Pekerjaan Beton Bertulang
17.1. Semen Portland yang digunakan harus memenuhi syarat-syarat N.1 8 dan
harus melalui pengujian.
17.2. Pasir dan Split yang dipakai harus memenuhi syarat-syarat PBI 1971. Untuk
split harus berasal dari batu pecah jenis basalt/andesit. Pasir jenis pasir
konawe.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

343

BAB VIII. RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

17.3. Pemborong diwajibkan membuat sample/kubus beton dan melakukan tes


terhadap mutu beton selama waktu pelaksanaan sesuai dengan persyaratan
PBI 1971. Biaya pengujian menjadi tanggung jawab kontraktor.
17.4. Campuran beton 1 PC : 2 Pasir : 3 Split (perbandingan volume). Pengadukan
harus menggunakan beton molen dan pemadatan harus menggunakan
vibrator.
17.5. Pembongkaran bekisting atas persetujuan Direksi.
17.6. Beton yang telah dicor harus terus dibasahi minimum selama 14 hari.
17.7. Mutu beton yang digunakan adalah sebagai berikut :
Tabel 8.1. Mutu Beton
No. Mutu

bk
kg/cm2

B0

II

B1

K.125

125

K.175

175

K.225

225

>
K.225

> 225

III

bm Kategori Pengawasan Terhadap


S=46
dari
Kualitas
Kekuatan
kg/cm2 Bangunan
Agregat
Tekan
non
Pemeriksaan Tidak ada
struktural dengan mata pengujian
Pemeriksaan Tidak ada
struktural
dengan teliti pengujian
Pengujian
mendetail
Pengujian
200
struktural
dengan
akan
analisa
diadakan
ayakan
struktural
Pengujian
Pengujian
mendetail
akan
250
dengan
diadakan
analisa
ayakan
struktural
Pengujian
Pengujian
mendetail
akan
300
dengan
diadakan
analisa
ayakan
struktural
Pengujian
Pengujian
mendetail
akan
> 300
dengan
diadakan
analisa
ayakan

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

344

BAB VIII. RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Pasal 18
Komposisi/Campuran Beton
18.1. Beton harus dibentuk dari semen Portland, pasir/kerikil batu pecah air
seperti

yang ditentukan sebelumnya,

semuanya

dicampur dalam

perbandingan yang serasi dan diolah sebaik-baiknya sampai pada ketentuan


yang baik dan tepat.
18.2. Untuk beton mutu B-0, campuran yang biasa untuk pekerjaan non struktural
dipakai perbandingan dari semen Portland terhadap pasir dan agregat kasar
tidak boleh kurang dari 1:3:5. Banyaknya semen untuk tiap m3 sedikitnya
harus 225 kg.
18.3. Untuk beton mutu B1 dan K 125, campuran nominal dari semen Portland,
pasir dan kerikil/batu pecahan harus digunakan dengan perbandingan
volume 1:2:3 atau 1:11/2:21/2. Banyaknya semen untuk tiap m 3 beton harus
tidak kurang dari 275 kg.
18.4. Untuk mutu K175 dan mutu-mutu lainnya yang lebih tinggi harus dipakai
campuran yang direncanakan (design mix). Campuran yang direncanakan
diketemukan dari percobaan-percobaan campuran untuk memenuhi
kekuatan karakteristik yang disyaratkan. Banyaknya semen untuk tiap m3
beton tidak kurang dari 325 kg.
18.5. Tingkat agregat yang kasar untuk kelas II derajat K 125 dan untuk kelas III
derajat K 175 beton berada dalam batas yang ditentukan dalam N.1.2.1971
dan kontraktor harus memperoleh derajat yang patut apabila diminta oleh
direksi dengan mengkoordinir ukuran agregat yang professional, agar
diperoleh yang sepatutnya.
18.6. Perbandingan antara bahan-bahan pembentuk beton yang dipakai untuk
berbagai pekerjaan (sesuai kelas mutu) harus dipakai dari waktu ke waktu
selama berjalannya pekerjaan, demikian juga pemeriksaan terhadap agregat
dan beton yang dihasilkan. Perbandingan campuran dan faktor air semen
yang tepat, kekedapan, awet dan kekuatan yang dikehendaki dengan tidak
memakai semen terlalu banyak. Faktor air semen dari beton (tidak terhitung
air yang dihisap oleh agregat) tidak boleh melampaui 0,55 (dari beratnya)
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

345

BAB VIII. RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

untuk kelas III dan jangan melampaui 0,60 (dari beratnya) untuk kelas
lainnya. Pengujian dari beton akan dilakukan oleh direksi dan perbandingan
campuran harus diubah jika perlu untuk tujuan atau penghematan yang
dikehendaki, kegairahan bekerja, kepadatan, kekedapan, awet atau kekuatan
dan Kontraktor tidak berhak atas penambahan kompensasi disebabkan
perubahan yang demikian.

Pasal 19
Pemasangan Bekisting
19.1. Acuan beton/bekisting adalah konstruksi non permanen sebagai cetakan
pembentukan beton muda agar setelah mengeras mempunyai bentuk,
dimensi dan kedudukan yang benar sesuai gambar rencana.
19.2. Bahan acuan beton dapat dibuat dari baja, kayu atau beton pratekan yang
harus bersih dari permukaannya sebelum proses pengecoran dilaksanakan.
19.3. Pembuatan acuan beton harus sesuai dengan gambar rencana dan detaildetailnya yang telah mendapat persetujuan dari Direksi. Tata cara
pengecoran tahapan persiapan kerja dan pelaksanaan pengecoran harus
disetujui oleh Direksi.
19.4. Konstruksi acuan beton harus tidak menimbulkan kerusakan-kerusakan
pada beton jadi pada saat pembongkaran. Acuan beton harus dapat
menerima getaran vibrator (alat pemadat). Acuan beton dan perancah hanya
diperbolehkan terjadi lendutan maksimum 3 mm pada saat beban
maksimum atau 1/300 panjang bentang.
19.5. Pada acuan beton sebelah dalam harus dilapisi multipleks atau plywood.
Acuan beton dibuat dari papan dengan kualitas tebal 3 cm dan sekur
(penyanggah) dari kayu 5/7.
19.6. Pada acuan beton pratekan harus dikonstruksikan kuat dengan bahan baja,
kayu atau plywood/multipleks dengan sekur/strip baja sehingga mendapat
kedudukan dan kekuatan yang cukup. Sistem sambungan yang digunakan
harus sesuai dengan peraturan yang ada.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

346

BAB VIII. RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

19.7. Sebelum proses pengecoran dilaksanakan maka bagian dalam acuan beton
diolesi dengan oli atau bahan lain yang memudahkan dalam pembongkaran
dengan syarat-syarat bahan tersebut tidak mempengaruhi mutu atau warna
beton cor. Pelaksanaan ini dilakukan sebelum penyetelan besi tulangan.
19.8. Pada acuan harus diperhatikan pemeliharaan, kekokohan dan kelancaran
fungsi baut-baut yang ada.
19.9. Pada acuan dinding tegak dan bagian tipis harus dilaksanakan menurut
kemajuan pekerjaan dari bawah ke atas dengan satu sisi tertutup bertahan,
di mana harus memenuhi persyaratan pengecoran agar pengecoran dapat
dilakukan pada tinggi jatuh kurang dari ketinggian 130 cm (persyaratan
PBI) atau acuan tetap utuh tetapi proses pengecoran dilakukan dengan
bantuan pompa, pipa/selang dan vibrator agar proses pengisian beton dapat
merata dan padat.

Pasal 20
Pengadukan Beton
20.1. Syarat pelaksanaan pekerjaan beton dari pengadukan sampai perawatannya,
hendaknya sesuai dengan ketentuan dan persyaratan PBI 1971.
20.2. Pengadukan, pengangkutan, pengecoran sebaiknya dilakukan pada cuaca
yang baik, bila hari sedang hujan atau panas terik, maka harus dilakukan
usaha untuk melindungi alat-alat pengadukan tersebut atau pengangkutan
atau pengecoran sehingga dapat dijamin bahwa air semen tidak akan
berpengaruh atau berubah.
20.3. Direksi dapat menunda proses pengecoran apabila berpendapat bahwa
keadaan tidak memungkinkan dan tidak dapat dijadikan alasan bagi
Pemborong untuk mengklaim keputusan atas keputusan tersebut.
20.4. Alat pengaduk semen harus dirawat terutama dari kontainernya (bebas dari
penggumpalan bahan beton sisa yang mengeras) dan Direksi akan
mengontrol pada saat dimulainya pengadukan selanjutnya.
20.5. Pengadukan di lapangan harus dibuat tempat khusus di lokasi pekerjaan dan
harus dapat menghasilkan adukan homogen. Penakaran bahan adukan harus
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

347

BAB VIII. RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

seteliti mungkin pada perbandingan jumlah yang disyaratkan dengan


memperhatikan kapasitas maksimum mesin pengaduk tersebut.
20.6. Waktu aduk dari bahan tersebut adalah tiap kurang dari 1,5 (satu setengah)
menit dihitung dari pemasukan semua bahan termasuk air untuk kapasitas
aduk dari 1 m3 maka waktu minimum harus diperpanjang dengan
persetujuan Direksi.
20.7. Putaran dari mesin minimum harus diperpanjang dengan persetujuan
Direksi.
20.8. Putaran dari mesin pengaduk harus dikontrol. Kontinuitasnya sesuai dengan
rekomendasi pabrik.
20.9. Harus disediakan mesin aduk lebih dari satu untuk lebih berfungsi sebagai
reserve mixer serta dapat ikut melayani pada beban puncak kebutuhan
adukan persatuan waktu.
20.10. Beton rusak-mengeras tidak boleh diaduk lagi dan harus dibuang agar tidak
mengganggu-memperlambat proses pengecoran. Pengadukan dilanjutnya
10 (sepuluh) menit kemudian untuk waktu aduk lebih dari 1,5 (satu
setengah) menit dan harus dibolak-balik pada waktu tertentu menurut
perintah Direksi.
20.11. Pengangkutan bahan adukan beton jadi ke lokasi harus dilakukan secara
khusus untuk menjaga agar tidak terjadi segregasi dan kehilangan bahanbahan (air semen dan butiran-butiran halus).
20.12. Pengangkutan harus kontinu sehingga tidak terjadi pemisahan antara beton
yang sudah di cor terlebih dahulu dengan yang masih baru atau dapat terjadi
pengikatan sempurna.
20.13. Penggunaan talang miring untuk transportasi bahan aduk harus mendapat
ijin dari Direksi, dimana harus diperhatikan panjang talang dan kontinuitas
pasokan.
20.14. Adukan beton harus dicor dalam waktu satu jam setelah pengadukan air
dimulai, jangka waktu ini termasuk transportasi ke lokasi. Dengan
pengadukan mekanis dapat memperpanjang waktu 2 (dua) jam setelah

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

348

BAB VIII. RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

menambah bahan additive perlambatan maka jangka waktu dapat


diperpanjang lagi, tetapi penggunaan bahan additive harus seijin Direksi.

Pasal 21
Pekerjaan Pasangan Batu Kali
21.1. Batu yang akan digunakan adalah batu kali. Diameter batu tidak boleh
melebihi 20 cm dan tidak kurang dari 10 cm.
21.2. Jenis batu yang dipergunakan berkualitas baik.
21.3. Permukaan batu yang menghadap keluar tidak boleh berbentuk lonjong
melainkan berbentuk pipih.
21.4. Batu dipasang pada sayap pasangan/dinding yang miring atau sesuai
petunjuk Direksi Lapangan.

Pasal 22
Pasangan Batu Pengisi
22.1. Batu dipasang tegak lurus dengan permukaan, agar kedudukan batu-batu
kuat dalam pemasangannya dan diatur sedemikian rupa sehingga
permukaan batu rata (satu batu).
22.2. Pertemuan antara satu bata dengan batu yang lain saling beriringan dan tidak
boleh ada tanahnya.

Pasal 23
Pemasangan Peil Schaal
23.1. Bahan peil schaal/alat ukur tinggi dibuat dari fiberglass.
23.2. Bahan dan ukuran peil schaal harus sesuai dengan petunjuk Direksi
Lapangan.
23.3. Peil schaal dipasang pada dinding tegak sungai (di atas mercu), di antara
saluran dengan pintu intake dan pada sayap saluran irigasi.
23.4. Pemasangan peil schaal harus tegak lurus dengan permukaan air.
Diusahakan pemasangan pada lokasi air yang tenang (tidak bergelombang).

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

349

BAB VIII. RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

23.5. Pada bagian kiri dan kanan peil schaal diberi paku atau baut dan permukaan
peil schaal harus rata.
23.6. Pada tempat perletakan peil schaal diberi pasangan 1:3.

Pasal 24
Syarat-syarat Bahan
Apabila dianggap perlu Direksi dapat memerintahkan untuk diadakan pemeriksaan
pada bahan atau pada campuran bahan-bahan yang dipakai dalam pelaksanaan
konstruksi

bendung

untuk

menguji

pemenuhan

persyaratan

pleh

Pemborong/Kontraktor.
Pemeriksaan bahan-bahan dan beton harus dilakukan dengan cara-cara yang
ditentukan dan pemeriksaan tersebut harus disimpan oleh Pemborong dan apabila
diminta harus dapat menunjukkan kepada Direksi setiap saat selama pekerjaan
berlangsung dan selama 2 (dua) tahun setelah pekerjaan selesai.
24.1. Semen Portland
a. Untuk konstruksi beton bertulang pada umumnya dapat dipakai jenis
semen yang memenuhi ketentuan-ketentuan dan persyaratan yang
ditentukan dari spesifikasi teknis yang sesuai dengan NI 8 1972.
b. Apabila dipakai persyaratan-persyaratan khusus mengenai sifat-sifat
betonnya, maka dapat dipakai semen lain seperti yang ditentukan dalam
NI-8 seperti semen Portland, trassemen alluminia, semen tahan sulfat dan
lainnya. Dalam hal ini Pemborong harus meminta pertimbangan dari
lembaga pemeriksaan bahan-bahan yang diakui dan disetujui oleh
Direksi.
c. Semen yang dipakai harus dalam keadaan baru dan masih dalam
kantong-kantong yang disegel. Semen disimpan di tempat yang kering
dan terlindung dari pengaruh cuaca, berventilasi secukupnya dan
penimbunan tak langsung mengenai tanah. Merk yang dipilih tidak dapat
diganti dalam pelaksanaan kecuali dengan persetujuan Direksi.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

350

BAB VIII. RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

24.2. Agregat Halus


a. Agregat halus untuk beton dapat berupa pasir alami sebagai hasil
disintegrasi alami batuan berupa pasir buatan yang dihasilkan oleh alatalat pemecah batu, sesuai dengan syarat-syarat mutu agregat yang telah
ditentukan.
b. Agregat halus terdiri dari butir-butir yang tajam dan keras. Butir-butir
halus bersifat kekal artinya tidak pecah atau hancur oleh pengaruhpengaruh cuaca, seperti terik matahari dan hujan.
c. Agregat halus tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5 % (ditentukan
terhadap berat kering), yang diartikan dengan lumpur adalah bagianbagian yang dapat melalui ayakan 0,03 mm, apabila kadar lumpur
melampaui 5 % maka agregat halus harus dicuci.
d. Agregat halus tidak boleh mengandung bahan-bahan organik terlalu
banyak, ini dibuktikan dengan percobaan (dengan larutan NaOH) agregat
halus yang tidak memenuhi percobaan ini dapat dipakai juga dengan
syarat kekuatan adukan agregat tersebut pada umur 7 (tujuh) dan 28 (dua
puluh delapan) hari tidak kurang dari 95 % dari kekuatan adukan agregat
yang sama tetapi dicuci hingga bersih dengan air pada umur yang sama.
e. Agregat halus terdiri dari butir-butir yang seragam besarnya dan apabila
diayak harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
Sisa di atas ayakan 0,25 mm harus berkisar antara 80 % sampai 95 %
dari berat.
Sisa ayakan di atas saringan 5 mm harus minimum 2 % dari berat.
Sisa ayakan di atas saringan 1 mm harus minimum 10 % dari berat.
f. Pasir laut tidak boleh dipakai sebagai agregat halus untuk campuran
beton, kecuali dengan petunjuk-petunjuk dari lembaga pemeriksaan
bahan-bahan yang diakui dan disetujui oleh Direksi.
24.3. Agregat Kasar
a. Agregat kasar beton dapat berupa kerikil atau batu pecah. Pada umumnya
yang dimaksud dengan agregat kasar adalah agregat yang besar
butirannya lebih dari 5 mm, sesuai dengan syarat-syarat mutu agregat
Perencanaan Bendung Tonggauna
Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

351

BAB VIII. RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

untuk berbagai beton, maka agregat kasar harus memenuhi persyaratanpersyaratan tersebut.
b. Agregat yang kasar harus terdiri dari butir-butir yang kasar dan tidak
berpori. Agregat kasar mengandung butir-butir pipih yang dapat dipakai
apabila jumlah butir-butir pipih tersebut tidak melebihi/melampui 20 %
dari berat agregat sebelumnya. Butir-butir agregar harus bersifat kekal
artinya tidak pecah dan tidak hancur oleh perubahan cuaca (terik
matahari atau hujan).
c. Agregat kasat tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1 % (ditentukan
dari berat kering). Yang diartikan dengan lumpur adalah bagian yang
dapat melalui saringan 1 %, apabila tidak memenuhi persyaratan tersebut
maka agregat harus dicuci. Agregat tidak boleh mengandung zat-zat
alkali.
d. Agregat kasar harus terdiri dari butir yang beraneka ragam besarnya dan
apabila diayak harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
e. Besar butiran agregat maksimum tidak boleh lebih dari pada cetakan, 1/3
dari tebal plat atau dari jarak bersih minimum antara batang-batang
atau berkas-berkas tulangan. Penyimpangan dari pembatasan ini
diijinkan menurut penilaian Direksi, cara-cara pengecoran beton adalah
sedemikian rupa sehingga terjadi sarang kerikil.
24.4. Agregat Campuran
a. Susunan butir agregat campuran untuk beton dengan mutu K-400 atau
mutu yang lebih tinggi lagi harus diperiksa dengan melakukan analisa
ayakan oleh laboratorium yang ditunjuk oleh Direksi.
b. Hasil dari pemeriksaan laboratorium tersebut adalah yang menentukan
apakah agregat campuran tersebut dapat dipakai atau tidak dan harus
diganti.
c. Apabila harus diganti dengan agregat yang memenuhi syarat, maka
pemborong wajib menyediakan lagi paling lambat dalam kurun waktu 7
(tujuh) hari.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

352

BAB VIII. RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

24.5. Batu Pecah


a. Batu pekerjaan pasangan hanya diperbolehkan menggunakan batu pecah.
Ukuran batu yang dipakai berdiameter antara 15 mm 25 mm.
b. Batu yang dipakai harus dari jenis keras, tidak lapuk dan tidak terdapat
bekas-bekas pelapukan.
c. Batu yang dipakai harus bersih dari kotoran yang melekat kalau perlu
harus dicuci terlebih dahulu.
24.6. Besi Beton
a. Besi beton yang dipakai bebas dari kotoran, lapisan lemak, minyak, karat
dan tidak cacat (retak, mengelupas, dan sebagainya) serta lapisan yang
mengurangi daya lekatnya dengan besi beton.
b. Besi yang digunakan dalam beton bertulang adalah besi dengan fy = 240
Mpa.
c. Besi beton yang dipakai harus disuplai dari satu sumber dan tidak
dibenarkan mencampur bermacam-macam sumber. Besi beton yang
dipakai sebelumnya harus dimintakan uji laboratorium dengan dua
contoh percobaan perlengkungan dan stress-strain untuk setiap 20 ton
besi. Pengujian masing-masing percobaan digunakan 3 (tiga) batang besi
dengan pengawasan Direksi.
d. Garis tengah besi beton harus sesuai dengan gamabr rencana, apabila
yang dipakai kurang dari ketentuan maka diwajibkan menambah
tulangan sesuai dengan petunjuk-petunjuk Direksi.
e. Besi beton sebelum dipakai sebagai konstruksi harus dilindungi dari terik
matahari dan hujan sehingga tidak timbul karat.
f. Batang-batang tulangan disimpan tidak langsung menyentuh tanah.
Batang tulangan besi beton dari berbagai ukuran harus diberi tanda dan
dipisahkan satu sama lainnya sehingga tidak tertukar.
g. Penimbunan batang-batang tulangan di udara terbuka untuk jangka
waktu yang lama harus dicegah.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

353

BAB VIII. RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

24.7. Air
a. Air yang dipakai untuk perawatan dan pembuatan beton tidak boleh
mengandung minyak, asam, alkali garam dan bahan-bahan lain yang
dapat merusak besi tulangan atau betonnya, dalam hal ini mutu air yang
digunakan, dianjurkan untuk mengirim contoh air tersebut ke
laboratorium pemeriksaan bahan-bahan yang ditunjuk dan diakui oleh
Direksi untuk diteliti sampai seberapa jauh air tersebut mengandung zatzat yang dapat merusak beton dan besi tulangan.
b. Apabila pemeriksaan contoh air tersebut dalam ayat 1 di atas tidak dapat
dilakukan, maka dalam hal ini adanya keragu-raguan mengenai
pemakaian air harus diadakan percobaan pembanding antara kekuatan
beton (semen + pasir) dengan menggunakan air itu selama 7 (tujuh)
sampai 28 (dua puluh delapan) hari paling sedikit adalah 90 % dari
kekuatan beton tersebut dengan martel dengan memakai air suling pada
umur yang sama.
c. Jumlah air yang dipakai untuk membuat adukan beton dapat ditentukan
dengan ukuran berat dan harus dilakukan secepatnya.

Pasal 25
Pekerjaan Lain-lain
Syarat-syarat untuk pekerjaan lain-lain yang belum tercantum dalam urian di atas
akan di atur dan ditentukan lebih lanjut sesuai dengan persyaratan teknis yang
berlaku.

Pasal 26
Pemeliharaan dan Finishing
26.1. Bila setelah dilaksanakan terjadi kerusakan, Pemborong harus memperbaiki
sebelum pekerjaan diserahkan kepada pihak Direksi.
26.2. Semua jenis pekerjaan harus dipelihara sesuai dengan petunjuk Direksi di
lapangan.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

354

BAB VIII. RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Bila ada penjelasan yang tercantum di atas yang belum jelas atau kurang dipahami,
akan disusul di kemudian hari dan bila perlu dikonsultasikan dengan pihak Direksi.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

355

LAPORAN TUGAS AKHIR


PERENCANAAN BENDUNG TONGGAUNA KABUPATEN
KOLAKA TIMUR, SULAWESI TENGGARA
(Design of Tonggauna Weir at Kolaka Timur,
Southeast Sulawesi)

BAB IX
KESIMPULAN DAN
SARAN

UNDIP KEMENPUPERA

BAB IX. KESIMPULAN

BAB IX
KESIMPULAN DAN SARAN

9.1.

Kesimpulan
Setelah melakukan pengolahan data secara keseluruhan dalam
laporan Tugas Akhir ini kesimpulan yang dapat diuraikan dalam proyek
Perencanaan Bendung Tonggauna Kabupaten Kolaka Timur Propinsi
Sulawesi Tenggara adalah :
1.

Perencanaan Bendung Tonggauna dimaksudkan untuk menaikkan


tinggi muka air agar mampu memenuhi kebutuhan air irigasi D.I.
Tonggauna. Berdasarkan hasil analisis neraca air antara kebutuhan air
untuk pola tanam dengan debit andalan untuk tiap setengah bulan dapat
disimpulkan bahwa ketersediaan air untuk memenuhi kebutuhan air
pada bulan September sampai November masih kurang, namun pada
bulan Desember sampai Agustus terjadi surplus air. Untuk mengatasi
defisit ketersediaan air 3 bulan lainnya D.I. Tonggauna perlu
menambah ketersediaan air dengan membuat suplesi dari sungai-sungai
di sekitar Sungai Mokoseo atau menggunakan sistem rotasi tanaman
dengan menanam tanaman padi pada masa surplus air dan palawija
pada masa krisis air.

2.

Luas DAS Sungai Mokoseo adalah 70,79 km2, dengan panjang sungai
utama (L) 10,45 km. Perhitungan debit banjir rencana menggunakan
metode Haspers diperoleh debit banjir rencana dengan periode ulang
100 tahun Q100 = 231,156 m3/det.

3.

Bendung direncanakan dengan pintu intake sebelah kanan yang


mengairi areal persawahan total seluas 2.200 Ha dengan kebutuhan air
irigasi 1,549 lt/det/ha.

4.

Tinggi mercu direncanakan setinggi 2,91 m dengan tipe mercu bulat


dan kolam olak USBR Tipe III. Mercu bulat digunakan untuk
menghindari tekanan yang diakibatkan limpasan air di atas mercu pada

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

356

BAB IX. KESIMPULAN

saat banjir. Bendung direncanakan memiliki lebar efektif 27,50 meter


dan lantai muka sepanjang 15,00 m.
5.

Pintu pembilas pada bendung berjumlah 2 buah pintu sorong dengan


ukuran masing-masing pintu lebar 1,05 m dan tinggi 3,11 m. Lebar total
pintu pembilas bendung sebesar 2,60 m pada sisi kanan bendung.

6.

Pintu intake pada bendung berjumlah 2 buah pintu sorong dengan


ukuran masing-masing pintu lebar 1,50 m dan tinggi 3,15 m. Lebar total
pintu pengambilan sebesar 3,50 m pada sisi kanan bendung.

7.

Pintu penguras pada kantong lumpur berjumlah 3 buah pintu sorong


dengan ukuran masing-masing pintu lebar 1,75 m dan tinggi 2,56 m.
Lebar total pintu penguras sebesar 7,00 m.

8.

Pada saluran primer menggunakan alat ukur ambang lebar.

9.

Rencana

Anggaran

Biaya konstruksi perencanaan

bendung

direncanakan sebesar Rp. 10.170.580.000,00 (Sepuluh Milyar Seratus


Tujuh Puluh Juta Lima Ratus Delapan Puluh Ribu Rupiah)
10. Rencana waktu pelaksanaan Pembangunan Bendung Tonggauna adalah
selama 39 minggu.

9.2.

Saran
Saran-saran yang dapat diberikan sesuai hasil penelitian ini adalah:
1.

Dalam perencanaan bendung harus memperhatikan lokasi dan kesulitan


yang mungkin timbul untuk mendapatkan hasil optimal dan biaya
pembangunan yang ekonomis.

2.

Pembangunan bendung ini diperlukan adanya pertimbangan dan


pendekatan sosial kepada warga sekitar yang belum dianalisis lebih
lanjut dalam studi ini.

3.

Sebaiknya dibuatkan bangunan yang dapat menampung air pada saat


terjadi surplus air. Dimana nantinya air yang tertampung dapat
digunakan untuk mengairi sawah pada musim kemarau.

4.

Pemanfaatan dan pemeliharaan harus diperhatikan dengan baik apabila


bendung ingin difungsikan secara maksimal.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

357

LAPORAN TUGAS AKHIR


PERENCANAAN BENDUNG TONGGAUNA KABUPATEN
KOLAKA TIMUR, SULAWESI TENGGARA
(Design of Tonggauna Weir at Kolaka Timur,
Southeast Sulawesi)

DAFTAR PUSTAKA

UNDIP KEMENPUPERA

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR PUSTAKA

Das , M. Braja,. 1998. Mekanika Tanah Jilid II. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Direktorat Jenderal Departemen Pekerjaan Umum. 2012. Standar Perencanaan Irigasi KP01. Jakarta: Kementerian Pekerjaan Umum.
---------------. 2012. Standar Perencanaan Irigasi KP-02. Jakarta: Kementerian Pekerjaan
Umum.
---------------. 2012. Standar Perencanaan Irigasi KP-03. Jakarta: Kementerian Pekerjaan
Umum.
---------------. 2012. Standar Perencanaan Irigasi KP-04. Jakarta: Kementerian Pekerjaan
Umum.
---------------. 2012. Standar Perencanaan Irigasi KP-06. Jakarta: Kementerian Pekerjaan
Umum.
---------------. 1980. Cara Menghitung Design Flood. Direktorat Jenderal Pengairan,
Direktorat Sungai, Departemen Pekerjaan Umum. Bandung.
---------------. 2012. Feasibility Study Daerah Irigasi Tonggauna Kabupaten Kolaka,
Kendari. PT. Aditya Enggineering Consultant.
Ervianto, Wulfram I. 2005. Manajemen Proyek Konstruksi (Edisi Revisi). Yogyakarta: CV
Andi Offset.
Food And Agriculture Organization of The United Nation. 1973. Land Capacity Appraisal
Indonesia (Water Availability Appraisal), Bogor.
Mawardi, Eman. 2007. Desain Hidraulik Bangunan Irigasi. Bandung: Penerbit Alfabeta.
Mawardi, Eman dan Memed Moch. 2010. Desain Hidraulik Bendung Tetap Untuk Irigasi
Teknis. Bandung: Penerbit Alfabeta.
Kodoatie, Robert J. 2009. Hidrolika Terapan - Aliran Pada Saluran Terbuka dan Pipa.
Yogyakarta: Penerbit Andi Yogyakarta.
Kodoatie, Robert J., Sjarrief, Roestam. 2008. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu.
Yogyakarta: Penerbit Andi Yogyakarta.
Salamun. 2007. Bahan Ajar Perencanaan Teknis Irigasi. Jakarta: Universitas
Dipopnegoro.
Sosrodarsono, Suyono dan Takeda Kensaku. 1977. Bendungan Type Urugan. Jakarta:
Penerbit Pradnya Paramitha.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

358

DAFTAR PUSTAKA

Sosrodarsono, Suyono dan Takeda Kensaku. 2006. Hidrologi Untuk Pengairan. Jakarta:
Penerbit Pradnya Paramitha.
Sosrodarsono, Suyono dan Masateru Tominaga. 1994. Perbaikan dan Pengaturan Sungai.
Jakarta: Pradnya Paramita.
Suripin. 2001. Pelestarian Sumber Daya Tanah Dan Air. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Triatmodjo, Bambang. 2013. Hidrologi Terapan. Yogyakarta: Penerbit Beta Offset
Yogyakarta.

Perencanaan Bendung Tonggauna


Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara

359

LAPORAN TUGAS AKHIR


PERENCANAAN BENDUNG TONGGAUNA KABUPATEN
KOLAKA TIMUR, SULAWESI TENGGARA
(Design of Tonggauna Weir at Kolaka Timur,
Southeast Sulawesi)

LAMPIRAN 1
(DATA CURAH HUJAN)

UNDIP KEMENPUPERA

DATA CURAH HUJAN HARIAN


Nama Pos

: Lasusua

NO

DAS
Wilayah Sungai

: S. Lasusua
: Toari-Lasusua

Lokasi Pos
Data Geografis
Kabupaten/Kecamatan

: 140 km dari kota kolaka


: 0330'24,26"LS-12055'44,78"BT
: Kolaka Utara/Lasusua

: 04

TAHUN

: 2000

Tahun Pendirian
Elevasi Pos
Dibangun Oleh
Provinsi
Pelaksana

: 1982
: 7 M DPL
: DPMA
: Sulawesi Tenggara
: BWS Sulawesi IV

Tabel Hujan Harian (mm)


TANGGAL

BULAN
Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

Des

30,0

5,0

30,0

1,0

0,0

6,0

0,0

26,0

0,0

0,0

0,0

0,0

20,0

25,0

40,0

40,0

0,0

0,0

19,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

15,0

10,0

50,0

25,0

0,0

25,0

6,0

19,0

0,0

0,0

0,0

0,0

20,0

5,0

25,0

20,0

0,0

0,0

32,0

1,0

0,0

0,0

0,0

20,0

25,0

4,0

7,0

30,0

0,0

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

20,0

1,0

6,0

7,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

16,0

0,0

10,0

5,0

5,0

5,0

0,0

18,0

0,0

7,0

0,0

0,0

1,0

0,0

40,0

10,0

20,0

2,0

0,0

14,0

0,0

0,0

0,0

0,0

18,0

0,0

10,0

2,0

32,0

4,0

0,0

16,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10

10,0

3,0

29,0

6,0

0,0

0,0

6,0

0,0

0,0

0,0

21,0

0,0

11

20,0

7,0

49,0

10,0

0,0

0,0

30,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

12

10,0

3,0

7,0

11,0

0,0

0,0

18,0

38,0

0,0

0,0

2,0

0,0

13

5,0

7,0

2,0

45,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

14

7,0

25,0

1,0

35,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

2,0

0,0

15

8,0

10,0

4,0

25,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

16

12,0

5,0

3,0

10,0

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

20,0

1,0

0,0

17

37,0

8,0

4,0

12,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

18

43,0

2,0

2,0

0,0

0,0

19,0

1,0

0,0

0,0

0,0

12,0

41,0

19

50,0

10,0

1,0

0,0

0,0

20,0

0,0

0,0

21,0

0,0

3,0

37,0

20

20,0

15,0

3,0

25,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

22,0

0,0

20,0

21

12,0

25,0

3,0

0,0

0,0

2,0

0,0

0,0

16,0

1,0

34,0

0,0

22

10,0

8,0

7,0

0,0

0,0

25,0

0,0

0,0

2,0

0,0

0,0

2,0

23

10,0

20,0

4,0

17,0

0,0

0,0

0,0

18,0

0,0

36,0

1,0

0,0

24

0,0

15,0

8,0

0,0

0,0

0,0

0,0

5,0

23,0

0,0

0,0

0,0

25

0,0

11,0

25,0

2,0

0,0

25,0

5,0

25,0

0,0

20,0

0,0

0,0

26

5,0

4,0

9,0

12,0

1,0

33,0

0,0

0,0

0,0

13,0

0,0

0,0

27

0,0

25,0

10,0

1,0

17,0

20,0

0,0

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

28

25,0

10,0

12,0

0,0

18,0

50,0

30,0

0,0

34,0

0,0

0,0

0,0

29

0,0

9,0

11,0

23,0

0,0

3,0

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

30

5,0

5,0

4,0

0,0

0,0

0,0

0,0

20,0

0,0

0,0

0,0

31

0,0

0,0

0,0

0,0

18,0

0,0

0,0

Jml. Curah Hujan

479,0

289,0

414,0

372,0

57,0

276,0

148,0

142,0

118,0

112,0

111,0

120,0

Jml. Hari Hujan

26,0

29,0

30,0

24,0

5,0

14,0

10,0

10,0

7,0

6,0

11,0

5,0

Rata-rata

15,5

10,0

13,4

12,4

1,8

9,2

4,8

4,6

3,9

3,6

3,7

3,9

Hujan Maks

50,0

25,0

50,0

45,0

18,0

50,0

32,0

38,0

34,0

36,0

34,0

41,0

DATA CURAH HUJAN HARIAN


Nama Pos

: Lasusua

NO

DAS
Wilayah Sungai

: S. Lasusua
: Toari-Lasusua

Lokasi Pos
Data Geografis
Kabupaten/Kecamatan

: 140 km dari kota kolaka


: 0330'24,26"LS-12055'44,78"BT
: Kolaka Utara/Lasusua

: 04

TAHUN

: 2001

Tahun Pendirian
Elevasi Pos
Dibangun Oleh
Provinsi
Pelaksana

: 1982
: 7 M DPL
: DPMA
: Sulawesi Tenggara
: BWS Sulawesi IV

Tabel Hujan Harian (mm)


TANGGAL

BULAN
Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

Des

5,0

0,0

0,0

0,0

15,0

0,0

0,0

1,0

0,0

5,0

18,0

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

33,0

0,0

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

59,0

0,0

0,0

17,0

13,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,0

0,0

39,0

0,0

0,0

34,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

19,0

0,0

0,0

19,0

0,0

0,0

0,0

4,0

34,0

0,0

23,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

35,0

0,0

15,0

41,0

0,0

0,0

6,0

0,0

0,0

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

20,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

4,0

0,0

38,0

0,0

10,0

0,0

20,0

0,0

11,0

0,0

10

18,0

0,0

1,0

47,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

5,0

0,0

11

0,0

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

12

1,0

0,0

16,0

2,0

3,0

1,0

0,0

17,0

0,0

0,0

0,0

18,0

13

0,0

0,0

0,0

0,0

25,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

14

6,0

0,0

0,0

99,0

14,0

10,0

0,0

0,0

17,0

0,0

0,0

0,0

15

0,0

0,0

0,0

11,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

13,0

16

19,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

29,0

17

2,0

0,0

4,0

22,0

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

18

0,0

0,0

0,0

15,0

15,0

0,0

0,0

2,0

0,0

18,0

0,0

0,0

19

13,0

0,0

0,0

2,0

0,0

19,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

11,0

20

0,0

12,0

0,0

41,0

37,0

9,0

4,0

0,0

0,0

0,0

0,0

21

5,0

34,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

22,0

0,0

17,0

22

21,0

21,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

16,0

0,0

0,0

19,0

23

37,0

17,0

0,0

20,0

0,0

0,0

0,0

0,0

18,0

0,0

1,0

0,0

24

2,0

4,0

6,0

51,0

0,0

0,0

13,0

0,0

7,0

0,0

0,0

0,0

25

0,0

1,0

15,0

1,0

1,0

0,0

27,0

0,0

0,0

0,0

0,0

37,0

26

15,0

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

32,0

0,0

0,0

0,0

0,0

7,0

27

0,0

2,0

20,0

0,0

0,0

3,0

6,0

0,0

0,0

0,0

0,0

42,0

28

0,0

0,0

14,0

0,0

0,0

0,0

0,0

12,0

1,0

0,0

0,0

20,0

29

0,0

10,0

1,0

0,0

19,0

12,0

0,0

0,0

10,0

0,0

0,0

11,0

30

0,0

1,0

0,0

3,0

21,0

39,0

0,0

26,0

2,0

0,0

0,0

31

0,0

1,0

15,0

0,0

0,0

0,0

0,0

Jml. Curah Hujan

313,0

101,0

144,0

405,0

238,0

77,0

152,0

52,0

115,0

47,0

38,0

228,0

Jml. Hari Hujan

18,0

8,0

16,0

15,0

14,0

8,0

9,0

6,0

8,0

4,0

6,0

12,0

Rata-rata

10,1

3,5

4,6

13,5

7,7

2,6

4,9

1,7

3,8

1,5

1,3

7,6

Hujan Maks

59,0

34,0

23,0

99,0

38,0

21,0

39,0

19,0

26,0

22,0

18,0

42,0

DATA CURAH HUJAN HARIAN


Nama Pos

: Lasusua

NO

DAS
Wilayah Sungai

: S. Lasusua
: Toari-Lasusua

Lokasi Pos
Data Geografis
Kabupaten/Kecamatan

: 140 km dari kota kolaka


: 0330'24,26"LS-12055'44,78"BT
: Kolaka Utara/Lasusua

: 04

TAHUN

: 2002

Tahun Pendirian
Elevasi Pos
Dibangun Oleh
Provinsi
Pelaksana

: 1982
: 7 M DPL
: DPMA
: Sulawesi Tenggara
: BWS Sulawesi IV

Tabel Hujan Harian (mm)


TANGGAL

BULAN
Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

Des

8,0

18,0

0,0

26,0

20,0

11,0

27,0

5,0

0,0

0,0

2,0

11,0

0,0

0,0

32,0

17,0

0,0

12,0

10,0

0,0

0,0

6,0

0,0

0,0

0,0

42,0

0,0

2,0

0,0

7,0

0,0

0,0

13,0

23,0

0,0

24,0

36,0

4,0

4,0

20,0

3,0

0,0

0,0

18,0

0,0

0,0

39,0

21,0

0,0

15,0

0,0

2,0

0,0

0,0

3,0

26,0

0,0

15,0

0,0

36,0

0,0

0,0

1,0

2,0

0,0

0,0

0,0

15,0

0,0

19,0

0,0

17,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

19,0

2,0

18,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

24,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

59,0

10

1,0

0,0

2,0

23,0

20,0

4,0

10,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

11

16,0

0,0

14,0

4,0

0,0

17,0

15,0

5,0

0,0

0,0

0,0

1,0

12

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

36,0

10,0

1,0

0,0

0,0

0,0

15,0

13

3,0

0,0

5,0

2,0

0,0

6,0

7,0

3,0

0,0

0,0

0,0

20,0

14

19,0

1,0

0,0

0,0

0,0

13,0

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

17,0

15

3,0

0,0

0,0

19,0

0,0

22,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

3,0

16

0,0

0,0

0,0

0,0

17,0

0,0

0,0

0,0

5,0

0,0

0,0

15,0

17

1,0

0,0

37,0

13,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

18

14,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

5,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

19

8,0

2,0

21,0

18,0

0,0

0,0

2,0

0,0

2,0

0,0

12,0

0,0

20

36,0

0,0

3,0

37,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,0

21

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

4,0

7,0

15,0

0,0

0,0

1,0

22

1,0

40,0

9,0

0,0

3,0

0,0

3,0

4,0

0,0

0,0

0,0

5,0

23

11,0

21,0

1,0

5,0

0,0

0,0

1,0

2,0

0,0

0,0

3,0

12,0

24

23,0

0,0

0,0

13,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

21,0

5,0

25

0,0

12,0

3,0

20,0

0,0

40,0

5,0

0,0

0,0

0,0

1,0

19,0

26

21,0

23,0

22,0

0,0

0,0

19,0

10,0

0,0

0,0

0,0

2,0

15,0

27

0,0

0,0

15,0

0,0

0,0

0,0

2,0

3,0

0,0

0,0

2,0

0,0

28

23,0

21,0

0,0

0,0

0,0

0,0

3,0

0,0

0,0

0,0

33,0

0,0

29

55,0

39,0

21,0

0,0

7,0

4,0

0,0

0,0

0,0

22,0

0,0

30

18,0

0,0

22,0

0,0

10,0

1,0

0,0

25,0

0,0

9,0

26,0

31

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

Jml. Curah Hujan

340,0

138,0

268,0

354,0

177,0

208,0

159,0

54,0

49,0

0,0

105,0

256,0

Jml. Hari Hujan

23,0

8,0

16,0

17,0

10,0

15,0

19,0

14,0

5,0

0,0

9,0

20,0

Rata-rata

11,0

4,9

8,6

11,8

5,7

6,9

5,1

1,7

1,6

0,0

4,2

8,3

Hujan Maks

55,0

40,0

39,0

42,0

36,0

40,0

27,0

10,0

25,0

0,0

33,0

59,0

DATA CURAH HUJAN HARIAN


Nama Pos

: Lasusua

NO

DAS
Wilayah Sungai

: S. Lasusua
: Toari-Lasusua

Lokasi Pos
Data Geografis
Kabupaten/Kecamatan

: 140 km dari kota kolaka


: 0330'24,26"LS-12055'44,78"BT
: Kolaka Utara/Lasusua

: 04

TAHUN

: 2003

Tahun Pendirian
Elevasi Pos
Dibangun Oleh
Provinsi
Pelaksana

: 1982
: 7 M DPL
: DPMA
: Sulawesi Tenggara
: BWS Sulawesi IV

Tabel Hujan Harian (mm)


TANGGAL

BULAN
Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

Des

0,0

10,0

0,0

0,0

0,0

18,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

14,0

17,0

0,0

0,0

11,0

0,0

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

19,0

13,0

4,0

19,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

20,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,0

0,0

2,0

2,0

33,0

15,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

2,0

15,0

9,0

9,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

6,0

2,0

7,0

11,0

0,0

11,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

2,0

0,0

0,0

18,0

4,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

15,0

1,0

0,0

14,0

0,0

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10

11,0

3,0

17,0

2,0

20,0

0,0

5,0

27,0

0,0

0,0

0,0

0,0

11

0,0

5,0

17,0

0,0

20,0

0,0

29,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,0

12

0,0

16,0

3,0

0,0

0,0

0,0

16,0

20,0

0,0

0,0

0,0

3,0

13

0,0

1,0

0,0

15,0

0,0

0,0

0,0

21,0

0,0

0,0

26,0

5,0

14

0,0

14,0

0,0

20,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

69,0

0,0

0,0

15

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

6,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

16

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

17

0,0

3,0

11,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,0

18

22,0

16,0

0,0

10,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

15,0

4,0

19

9,0

0,0

0,0

0,0

19,0

1,0

0,0

14,0

0,0

0,0

0,0

0,0

20

11,0

0,0

15,0

12,0

0,0

4,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

16,0

21

0,0

9,0

0,0

0,0

14,0

3,0

0,0

0,0

0,0

14,0

0,0

0,0

22

0,0

0,0

4,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

23

0,0

0,0

3,0

16,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

24

0,0

0,0

0,0

3,0

45,0

6,0

11,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

25

0,0

23,0

0,0

3,0

0,0

0,0

4,0

0,0

0,0

0,0

0,0

24,0

26

0,0

0,0

10,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

9,0

0,0

0,0

32,0

27

20,0

0,0

7,0

8,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

28

9,0

0,0

21,0

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

5,0

0,0

29

20,0

0,0

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

30

10,0

0,0

0,0

37,0

0,0

1,0

0,0

0,0

3,0

0,0

19,0

31

10,0

0,0

14,0

0,0

1,0

0,0

0,0

Jml. Curah Hujan

159,0

153,0

132,0

152,0

259,0

47,0

100,0

86,0

9,0

86,0

46,0

105,0

Jml. Hari Hujan

14,0

15,0

15,0

17,0

15,0

6,0

10,0

6,0

1,0

3,0

3,0

9,0

Rata-rata

5,1

5,5

4,3

5,1

8,4

1,6

3,2

2,8

0,3

2,8

1,5

3,4

Hujan Maks

22,0

23,0

21,0

20,0

45,0

18,0

29,0

27,0

9,0

69,0

26,0

32,0

DATA CURAH HUJAN HARIAN


Nama Pos

: Lasusua

NO

DAS
Wilayah Sungai

: S. Lasusua
: Toari-Lasusua

Lokasi Pos
Data Geografis
Kabupaten/Kecamatan

: 140 km dari kota kolaka


: 0330'24,26"LS-12055'44,78"BT
: Kolaka Utara/Lasusua

: 04

TAHUN

: 2004

Tahun Pendirian
Elevasi Pos
Dibangun Oleh
Provinsi
Pelaksana

: 1982
: 7 M DPL
: DPMA
: Sulawesi Tenggara
: BWS Sulawesi IV

Tabel Hujan Harian (mm)


TANGGAL

BULAN
Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

Des

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

14,0

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

4,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

12,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

18,0

0,0

17,0

0,0

0,0

0,0

0,0

13,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

13,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10

0,0

0,0

23,0

0,0

0,0

4,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

11

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

7,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

12

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

13

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

14

17,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

15

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

16

0,0

0,0

0,0

11,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

17

0,0

0,0

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

20,0

18

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

9,0

19

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

5,0

0,0

0,0

0,0

0,0

6,0

0,0

20

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

18,0

0,0

0,0

0,0

0,0

16,0

0,0

21

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

4,0

1,0

22

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

16,0

0,0

23

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

2,0

35,0

24

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,0

0,0

0,0

22,0

34,0

25

0,0

0,0

0,0

0,0

4,0

0,0

0,0

1,0

0,0

0,0

29,0

0,0

26

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

27

0,0

0,0

0,0

0,0

17,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

28

0,0

0,0

0,0

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

29

0,0

0,0

0,0

0,0

13,0

0,0

0,0

7,0

0,0

0,0

0,0

21,0

30

0,0

0,0

0,0

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,0

31

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

Jml. Curah Hujan

19,0

0,0

37,0

13,0

76,0

38,0

20,0

10,0

0,0

0,0

95,0

147,0

Jml. Hari Hujan

2,0

0,0

2,0

2,0

10,0

6,0

2,0

4,0

0,0

0,0

7,0

9,0

Rata-rata

0,6

0,0

1,2

0,4

2,5

1,3

0,6

0,3

0,0

0,0

3,2

4,7

Hujan Maks

17,0

0,0

23,0

11,0

18,0

18,0

17,0

7,0

0,0

0,0

29,0

35,0

DATA CURAH HUJAN HARIAN


Nama Pos

: Lasusua

NO

DAS
Wilayah Sungai

: S. Lasusua
: Toari-Lasusua

Lokasi Pos
Data Geografis
Kabupaten/Kecamatan

: 140 km dari kota kolaka


: 0330'24,26"LS-12055'44,78"BT
: Kolaka Utara/Lasusua

: 04

TAHUN

: 2005

Tahun Pendirian
Elevasi Pos
Dibangun Oleh
Provinsi
Pelaksana

: 1982
: 7 M DPL
: DPMA
: Sulawesi Tenggara
: BWS Sulawesi IV

Tabel Hujan Harian (mm)


TANGGAL

BULAN
Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

0,0

20,0

0,0

36,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

Des
1,0

0,0

0,0

0,0

72,0

0,0

0,0

0,0

3,0

0,0

0,0

1,0

19,0

0,0

3,0

0,0

0,0

8,0

0,0

0,0

18,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,0

3,0

17,0

0,0

1,0

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

2,0

39,0

16,0

4,0

0,0

0,0

0,0

30,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

19,0

44,0

21,0

7,0

23,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

22,0

0,0

0,0

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,0

20,0

17,0

0,0

0,0

6,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

7,0

6,0

2,0

18,0

0,0

15,0

0,0

0,0

3,0

0,0

0,0

1,0

2,0

10

15,0

14,0

0,0

1,0

1,0

0,0

0,0

2,0

0,0

0,0

2,0

1,0

11

9,0

5,0

14,0

0,0

42,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

2,0

0,0

12

23,0

13,0

19,0

0,0

11,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,0

20,0

13

23,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

33,0

0,0

0,0

1,0

9,0

27,0

14

0,0

38,0

12,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

2,0

15

10,0

0,0

17,0

20,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

16,0

0,0

3,0

16

19,0

0,0

19,0

0,0

19,0

0,0

1,0

1,0

0,0

6,0

0,0

0,0

17

0,0

0,0

18,0

7,0

23,0

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

18

23,0

0,0

5,0

0,0

0,0

0,0

15,0

0,0

0,0

25,0

0,0

0,0

19

14,0

60,0

10,0

22,0

0,0

0,0

0,0

4,0

10,0

5,0

2,0

0,0

20

2,0

0,0

0,0

3,0

2,0

0,0

13,0

6,0

0,0

0,0

0,0

3,0

21

0,0

0,0

1,0

14,0

0,0

0,0

22,0

0,0

0,0

2,0

3,0

16,0

22

0,0

0,0

7,0

0,0

0,0

0,0

1,0

0,0

0,0

5,0

17,0

4,0

23

0,0

18,0

2,0

0,0

0,0

4,0

5,0

0,0

0,0

7,0

1,0

0,0

24

0,0

4,0

5,0

0,0

15,0

0,0

0,0

0,0

0,0

2,0

2,0

2,0

25

0,0

2,0

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

6,0

0,0

0,0

0,0

63,0

26

0,0

7,0

21,0

3,0

0,0

0,0

15,0

0,0

0,0

0,0

0,0

7,0

27

0,0

0,0

6,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

4,0

0,0

28

36,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

8,0

6,0

12,0

29

26,0

10,0

0,0

0,0

0,0

18,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

30

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,0

7,0

31

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,0

2,0

Jml. Curah Hujan

288,0

222,0

224,0

225,0

165,0

11,0

179,0

43,0

10,0

78,0

52,0

201,0

Jml. Hari Hujan

16,0

15,0

19,0

12,0

13,0

2,0

13,0

8,0

1,0

11,0

14,0

20,0

Rata-rata

9,3

7,9

7,2

7,5

5,3

0,4

5,8

1,4

0,3

2,5

1,7

6,5

Hujan Maks

39,0

60,0

21,0

72,0

42,0

7,0

33,0

18,0

10,0

25,0

17,0

63,0

DATA CURAH HUJAN HARIAN


Nama Pos

: Lasusua

NO

DAS
Wilayah Sungai

: S. Lasusua
: Toari-Lasusua

Lokasi Pos
Data Geografis
Kabupaten/Kecamatan

: 140 km dari kota kolaka


: 0330'24,26"LS-12055'44,78"BT
: Kolaka Utara/Lasusua

: 04

TAHUN

: 2006

Tahun Pendirian
Elevasi Pos
Dibangun Oleh
Provinsi
Pelaksana

: 1982
: 7 M DPL
: DPMA
: Sulawesi Tenggara
: BWS Sulawesi IV

Tabel Hujan Harian (mm)


TANGGAL

BULAN
Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

Des

1,0

2,0

8,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

17,0

9,0

0,0

12,0

0,0

7,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,0

1,0

0,0

0,0

0,0

19,0

2,0

13,0

0,0

41,0

0,0

0,0

3,0

14,0

0,0

0,0

0,0

4,0

0,0

17,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

18,0

16,0

0,0

36,0

0,0

7,0

1,0

34,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

16,0

0,0

0,0

7,0

0,0

0,0

21,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

5,0

0,0

0,0

6,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

5,0

0,0

41,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

9,0

0,0

0,0

2,0

9,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10

1,0

12,0

0,0

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

11

0,0

0,0

1,0

0,0

7,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,0

12

0,0

0,0

0,0

18,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

13

0,0

0,0

0,0

1,0

0,0

3,0

0,0

4,0

0,0

0,0

0,0

21,0

14

22,0

0,0

37,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

3,0

0,0

0,0

4,0

15

3,0

1,0

11,0

4,0

0,0

0,0

43,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,0

16

0,0

0,0

0,0

0,0

9,0

0,0

52,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

17

7,0

0,0

4,0

16,0

6,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

18

0,0

42,0

0,0

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,0

4,0

0,0

19

0,0

0,0

2,0

0,0

10,0

17,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

20

0,0

0,0

12,0

28,0

0,0

1,0

3,0

1,0

0,0

0,0

0,0

12,0

21

0,0

0,0

3,0

21,0

6,0

19,0

17,0

0,0

0,0

0,0

4,0

0,0

22

0,0

0,0

6,0

23,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

33,0

2,0

23

0,0

21,0

39,0

14,0

1,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

4,0

1,0

24

3,0

17,0

10,0

0,0

37,0

7,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,0

25

0,0

9,0

0,0

10,0

24,0

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

1,0

0,0

26

0,0

1,0

0,0

5,0

0,0

0,0

4,0

2,0

0,0

0,0

8,0

13,0

27

0,0

4,0

0,0

15,0

0,0

0,0

0,0

43,0

0,0

0,0

48,0

40,0

28

0,0

18,0

1,0

2,0

9,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

4,0

29,0

29

2,0

0,0

5,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

30

0,0

15,0

0,0

7,0

36,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

35,0

31

2,0

2,0

8,0

0,0

0,0

0,0

14,0

Jml. Curah Hujan

88,0

181,0

206,0

196,0

175,0

95,0

166,0

105,0

44,0

1,0

106,0

178,0

Jml. Hari Hujan

13,0

14,0

17,0

15,0

18,0

10,0

11,0

6,0

2,0

1,0

8,0

15,0

Rata-rata

2,8

6,2

6,6

6,5

5,6

3,2

5,4

3,4

1,5

0,0

3,5

5,7

Hujan Maks

22,0

42,0

41,0

36,0

37,0

36,0

52,0

43,0

41,0

1,0

48,0

40,0

DATA CURAH HUJAN HARIAN


Nama Pos

: Lasusua

NO

DAS
Wilayah Sungai

: S. Lasusua
: Toari-Lasusua

Lokasi Pos
Data Geografis
Kabupaten/Kecamatan

: 140 km dari kota kolaka


: 0330'24,26"LS-12055'44,78"BT
: Kolaka Utara/Lasusua

: 04

TAHUN

: 2007

Tahun Pendirian
Elevasi Pos
Dibangun Oleh
Provinsi
Pelaksana

: 1982
: 7 M DPL
: DPMA
: Sulawesi Tenggara
: BWS Sulawesi IV

Tabel Hujan Harian (mm)


TANGGAL

BULAN
Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

Des

0,0

0,0

0,0

0,0

9,0

15,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

12,0

4,0

92,0

18,0

0,0

0,0

5,0

1,0

0,0

20,0

0,0

24,0

0,0

0,0

39,0

19,0

0,0

0,0

65,0

2,0

3,0

0,0

0,0

1,0

0,0

0,0

5,0

3,0

0,0

14,0

1,0

0,0

17,0

35,0

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

13,0

0,0

0,0

55,0

0,0

19,0

0,0

3,0

3,0

1,0

0,0

9,0

70,0

19,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

14,0

0,0

0,0

21,0

2,0

50,0

0,0

0,0

0,0

30,0

10,0

14,0

0,0

1,0

0,0

50,0

0,0

1,0

0,0

1,0

0,0

0,0

3,0

0,0

1,0

66,0

0,0

25,0

20,0

4,0

0,0

5,0

1,0

0,0

0,0

0,0

10

0,0

2,0

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

4,0

0,0

19,0

0,0

11

0,0

0,0

0,0

18,0

0,0

16,0

0,0

17,0

0,0

0,0

0,0

38,0

12

0,0

3,0

0,0

0,0

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

26,0

13

0,0

13,0

0,0

18,0

12,0

8,0

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

33,0

14

54,0

0,0

0,0

4,0

9,0

14,0

57,0

0,0

0,0

0,0

0,0

15,0

15

0,0

0,0

4,0

18,0

8,0

3,0

0,0

0,0

14,0

0,0

0,0

3,0

16

0,0

21,0

12,0

16,0

16,0

15,0

0,0

0,0

0,0

1,0

0,0

2,0

17

0,0

12,0

0,0

0,0

0,0

42,0

0,0

0,0

0,0

19,0

0,0

0,0

18

12,0

0,0

95,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,0

0,0

1,0

19

19,0

2,0

0,0

0,0

1,0

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

75,0

20

5,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

18,0

0,0

0,0

0,0

0,0

53,0

21

0,0

23,0

38,0

8,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,0

0,0

13,0

22

15,0

11,0

4,0

49,0

0,0

2,0

0,0

0,0

22,0

0,0

0,0

14,0

23

0,0

2,0

0,0

0,0

3,0

0,0

20,0

0,0

0,0

0,0

0,0

34,0

24

0,0

18,0

12,0

2,0

10,0

3,0

9,0

60,0

0,0

1,0

8,0

25

17,0

19,0

23,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

5,0

26

5,0

3,0

0,0

0,0

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

27

0,0

0,0

0,0

12,0

0,0

10,0

0,0

0,0

0,0

0,0

36,0

0,0

28

40,0

4,0

0,0

4,0

0,0

21,0

0,0

29,0

0,0

51,0

1,0

0,0

29

1,0

0,0

4,0

0,0

1,0

20,0

0,0

3,0

0,0

0,0

37,0

0,0

30

76,0

0,0

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

19,0

0,0

0,0

31

0,0

2,0

0,0

0,0

43,0

2,0

0,0

Jml. Curah Hujan

266,0

337,0

237,0

269,0

219,0

320,0

162,0

136,0

96,0

143,0

132,0

351,0

Jml. Hari Hujan

14,0

19,0

13,0

16,0

15,0

22,0

7,0

9,0

6,0

9,0

9,0

18,0

Rata-rata

8,6

11,6

7,6

9,0

7,1

10,7

5,2

4,4

3,4

4,6

4,6

11,3

Hujan Maks

76,0

92,0

95,0

50,0

70,0

65,0

57,0

60,0

35,0

51,0

37,0

75,0

DATA CURAH HUJAN HARIAN


Nama Pos

: Lasusua

NO

DAS
Wilayah Sungai

: S. Lasusua
: Toari-Lasusua

Lokasi Pos
Data Geografis
Kabupaten/Kecamatan

: 140 km dari kota kolaka


: 0330'24,26"LS-12055'44,78"BT
: Kolaka Utara/Lasusua

: 04

TAHUN

: 2008

Tahun Pendirian
Elevasi Pos
Dibangun Oleh
Provinsi
Pelaksana

: 1982
: 7 M DPL
: DPMA
: Sulawesi Tenggara
: BWS Sulawesi IV

Tabel Hujan Harian (mm)


TANGGAL

BULAN
Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

Des

0,0

23,0

44,0

0,0

98,0

0,0

0,0

0,0

15,0

0,0

0,0

0,0

2,0

1,0

14,0

18,0

0,0

2,0

20,0

0,0

60,0

0,0

73,0

0,0

0,0

46,0

0,0

0,0

5,0

48,0

0,0

1,0

5,0

17,0

0,0

1,0

0,0

17,0

24,0

0,0

2,0

7,0

4,0

0,0

9,0

0,0

0,0

0,0

17,0

0,0

28,0

0,0

1,0

0,0

12,0

0,0

0,0

0,0

14,0

0,0

0,0

23,0

0,0

4,0

40,0

0,0

30,0

0,0

0,0

6,0

23,0

0,0

0,0

1,0

0,0

53,0

21,0

14,0

4,0

0,0

2,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

5,0

0,0

15,0

0,0

0,0

0,0

0,0

12,0

21,0

0,0

10,0

19,0

0,0

43,0

4,0

15,0

0,0

20,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10

1,0

0,0

0,0

16,0

13,0

67,0

0,0

4,0

18,0

0,0

0,0

50,0

11

0,0

14,0

3,0

2,0

21,0

20,0

25,0

11,0

0,0

2,0

7,0

1,0

12

0,0

0,0

44,0

50,0

2,0

15,0

0,0

0,0

0,0

0,0

5,0

3,0

13

0,0

0,0

22,0

80,0

2,0

0,0

17,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,0

14

0,0

0,0

3,0

0,0

38,0

1,0

0,0

1,0

0,0

20,0

31,0

1,0

15

0,0

0,0

2,0

7,0

0,0

30,0

0,0

0,0

0,0

10,0

3,0

0,0

16

0,0

0,0

16,0

50,0

0,0

96,0

0,0

19,0

0,0

0,0

14,0

0,0

17

0,0

0,0

2,0

60,0

0,0

0,0

0,0

7,0

0,0

0,0

0,0

0,0

18

0,0

0,0

2,0

110,0

0,0

0,0

0,0

19,0

0,0

0,0

43,0

0,0

19

2,0

0,0

37,0

20,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

9,0

1,0

20

0,0

0,0

22,0

0,0

0,0

0,0

14,0

0,0

0,0

0,0

4,0

0,0

21

0,0

0,0

16,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

3,0

12,0

22

2,0

0,0

5,0

71,0

5,0

0,0

0,0

1,0

0,0

4,0

0,0

0,0

23

15,0

0,0

0,0

0,0

6,0

0,0

71,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

24

3,0

26,0

95,0

0,0

18,0

0,0

3,0

0,0

0,0

11,0

0,0

0,0

25

0,0

26,0

6,0

0,0

2,0

0,0

0,0

1,0

0,0

18,0

18,0

0,0

26

0,0

31,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

18,0

7,0

7,0

0,0

5,0

27

18,0

4,0

1,0

4,0

16,0

0,0

4,0

1,0

0,0

9,0

10,0

0,0

28

0,0

15,0

0,0

20,0

0,0

0,0

0,0

8,0

16,0

0,0

17,0

0,0

29

40,0

1,0

0,0

1,0

6,0

0,0

12,0

0,0

0,0

0,0

36,0

13,0

30

47,0

0,0

23,0

0,0

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

69,0

31

18,0

0,0

0,0

22,0

15,0

3,0

0,0

Jml. Curah Hujan

175,0

247,0

391,0

632,0

330,0

315,0

217,0

135,0

132,0

121,0

331,0

157,0

Jml. Hari Hujan

12,0

14,0

20,0

18,0

20,0

11,0

13,0

15,0

8,0

13,0

17,0

11,0

Rata-rata

5,6

8,5

12,6

21,1

10,6

10,5

7,0

4,4

4,4

3,9

11,0

5,1

Hujan Maks

47,0

46,0

95,0

110,0

98,0

96,0

71,0

22,0

60,0

20,0

73,0

69,0

DATA CURAH HUJAN HARIAN


Nama Pos

: Lasusua

NO

DAS
Wilayah Sungai

: S. Lasusua
: Toari-Lasusua

Lokasi Pos
Data Geografis
Kabupaten/Kecamatan

: 140 km dari kota kolaka


: 0330'24,26"LS-12055'44,78"BT
: Kolaka Utara/Lasusua

: 04

TAHUN

: 2009

Tahun Pendirian
Elevasi Pos
Dibangun Oleh
Provinsi
Pelaksana

: 1982
: 7 M DPL
: DPMA
: Sulawesi Tenggara
: BWS Sulawesi IV

Tabel Hujan Harian (mm)


TANGGAL

BULAN
Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

Des

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,0

15,0

10,0

0,0

0,0

3,0

0,0

0,0

16,0

0,0

18,0

0,0

1,0

1,0

0,0

31,0

33,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

16,0

0,0

0,0

0,0

0,0

4,0

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

66,0

0,0

0,0

0,0

0,0

16,0

6,0

10,0

0,0

0,0

12,0

0,0

4,0

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

6,0

0,0

0,0

14,0

23,0

23,0

0,0

12,0

22,0

2,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

14,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

4,0

0,0

17,0

0,0

22,0

0,0

12,0

18,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10

0,0

0,0

9,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

11

0,0

0,0

2,0

15,0

0,0

0,0

0,0

14,0

0,0

0,0

0,0

0,0

12

0,0

26,0

6,0

2,0

36,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

14,0

0,0

13

0,0

0,0

0,0

5,0

0,0

0,0

0,0

2,0

0,0

0,0

16,0

0,0

14

21,0

0,0

0,0

18,0

0,0

0,0

0,0

23,0

0,0

0,0

1,0

0,0

15

16,0

28,0

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

11,0

32,0

16

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

13,0

0,0

0,0

17

0,0

26,0

12,0

5,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

18

37,0

11,0

56,0

1,0

0,0

0,0

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

19

4,0

0,0

39,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

56,0

20

0,0

23,0

0,0

48,0

0,0

0,0

0,0

5,0

0,0

0,0

0,0

146,0

21

12,0

36,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

22

3,0

18,0

0,0

0,0

6,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

17,0

0,0

23

0,0

3,0

0,0

4,0

16,0

0,0

0,0

0,0

0,0

6,0

0,0

0,0

24

3,0

10,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

16,0

25

24,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

26

60,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

27

14,0

44,0

24,0

0,0

13,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

28

0,0

0,0

36,0

0,0

63,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

29

1,0

0,0

46,0

36,0

21,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

40,0

0,0

30

16,0

30,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

31

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

Jml. Curah Hujan

267,0

235,0

346,0

210,0

185,0

19,0

0,0

81,0

0,0

123,0

117,0

276,0

Jml. Hari Hujan

16,0

11,0

16,0

14,0

12,0

2,0

0,0

9,0

0,0

6,0

8,0

8,0

Rata-rata

8,6

8,1

11,2

7,0

6,0

0,6

0,0

2,6

0,0

4,0

3,9

8,9

Hujan Maks

60,0

44,0

56,0

48,0

63,0

18,0

0,0

23,0

0,0

66,0

40,0

146,0

DATA CURAH HUJAN HARIAN


Nama Pos

: Lasusua

NO

DAS
Wilayah Sungai

: S. Lasusua
: Toari-Lasusua

Lokasi Pos
Data Geografis
Kabupaten/Kecamatan

: 140 km dari kota kolaka


: 0330'24,26"LS-12055'44,78"BT
: Kolaka Utara/Lasusua

: 04

TAHUN

: 2010

Tahun Pendirian
Elevasi Pos
Dibangun Oleh
Provinsi
Pelaksana

: 1982
: 7 M DPL
: DPMA
: Sulawesi Tenggara
: BWS Sulawesi IV

Tabel Hujan Harian (mm)


TANGGAL

BULAN
Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

Des

0,0

29,0

0,0

0,0

0,0

1,0

7,0

2,0

0,0

0,8

0,0

10,0

0,0

2,0

0,0

1,0

0,0

2,0

1,0

3,0

0,0

1,7

79,0

3,0

0,0

1,0

0,0

24,0

18,0

0,0

6,0

1,0

0,0

1,9

18,0

22,0

18,0

0,0

0,0

37,0

2,0

16,0

0,0

2,0

3,0

9,6

1,0

10,0

0,0

0,0

0,0

58,0

0,0

0,0

0,0

6,0

38,0

0,0

88,0

0,0

0,0

37,0

0,0

0,0

5,0

0,0

32,0

14,0

23,0

0,0

12,0

0,0

0,0

15,0

26,0

0,0

10,0

7,0

43,0

24,0

18,0

0,0

22,0

26,0

0,0

0,0

10,0

5,0

28,0

0,0

0,0

10,0

26,0

0,0

0,0

17,0

0,0

76,0

0,0

17,0

67,0

69,0

0,0

0,0

45,0

0,0

0,0

1,0

10

0,0

2,0

0,0

0,0

17,0

56,0

52,0

29,0

45,0

0,0

0,0

32,0

11

20,0

0,0

43,0

20,0

0,0

20,0

12,0

0,0

36,0

0,0

0,0

17,0

12

1,0

0,0

17,0

19,0

0,0

20,0

0,0

6,0

11,0

0,0

0,0

3,0

13

0,0

0,0

19,0

0,0

0,0

0,0

0,0

15,0

9,0

0,0

0,0

0,0

14

0,0

0,0

14,0

43,0

39,0

0,0

19,0

0,0

0,0

0,0

0,0

20,0

15

0,0

0,0

25,0

30,0

1,0

26,0

0,0

0,0

5,0

0,0

0,0

15,0

16

0,0

4,0

26,0

1,0

26,0

10,0

0,0

0,0

10,0

0,0

0,0

0,0

17

0,0

4,0

10,0

0,0

37,0

0,0

51,0

0,0

27,0

0,0

0,0

0,0

18

0,0

0,0

0,0

2,0

0,0

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

19

1,0

35,0

0,0

35,0

0,0

43,0

19,0

0,0

14,0

0,0

0,0

2,0

20

0,0

27,0

0,0

2,0

43,0

17,0

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

21

17,0

0,0

43,0

12,0

17,0

0,0

0,0

0,0

0,0

20,6

0,0

0,0

22

4,0

0,0

17,0

0,0

19,0

0,0

0,0

0,0

6,0

53,0

0,0

0,0

23

0,0

19,0

1,0

2,0

14,0

10,0

0,0

0,0

35,0

30,0

0,0

0,0

24

0,0

14,0

21,0

16,0

25,0

2,0

1,0

0,0

21,0

91,0

0,0

0,0

25

0,0

25,0

57,0

37,0

1,0

0,0

19,0

0,0

55,0

0,0

0,0

0,0

26

0,0

0,0

69,0

38,0

0,0

0,0

10,0

0,0

25,0

0,0

0,0

0,0

27

37,0

0,0

22,0

0,0

20,0

2,0

0,0

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

28

17,0

0,0

0,0

0,0

13,0

39,0

0,0

0,0

16,0

0,0

0,0

0,0

29

3,0

0,0

0,0

53,0

3,0

0,0

0,0

0,0

16,0

0,0

0,0

0,0

30

12,0

0,0

1,0

17,0

0,0

0,0

0,0

3,0

0,0

0,0

0,0

31

6,0

63,0

0,0

0,0

20,0

0,0

0,0

Jml. Curah Hujan

136,0

290,0

483,0

453,0

442,0

340,0

276,0

112,0

488,0

208,6

220,0

178,0

Jml. Hari Hujan

11,0

14,0

17,0

21,0

22,0

16,0

15,0

11,0

23,0

8,0

6,0

13,0

Rata-rata

4,4

10,0

15,6

15,1

14,3

11,3

8,9

3,6

16,3

6,7

7,3

5,7

Hujan Maks

37,0

76,0

69,0

58,0

67,0

69,0

52,0

29,0

55,0

91,0

88,0

32,0

DATA CURAH HUJAN HARIAN


Nama Pos

: Lasusua

NO

DAS
Wilayah Sungai

: S. Lasusua
: Toari-Lasusua

Lokasi Pos
Data Geografis
Kabupaten/Kecamatan

: 140 km dari kota kolaka


: 0330'24,26"LS-12055'44,78"BT
: Kolaka Utara/Lasusua

: 04

TAHUN

: 2011

Tahun Pendirian
Elevasi Pos
Dibangun Oleh
Provinsi
Pelaksana

: 1982
: 7 M DPL
: DPMA
: Sulawesi Tenggara
: BWS Sulawesi IV

Tabel Hujan Harian (mm)


TANGGAL

BULAN
Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

0,0

0,0

22,0

0,0

1,0

16,0

10,0

0,0

0,0

0,0

18,0

Des
0,0

53,0

0,0

1,0

0,0

12,5

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,0

14,0

0,0

0,0

0,0

0,0

13,7

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

52,0

4,0

0,0

0,0

0,0

0,0

38,0

1,0

0,0

1,0

0,0

0,0

3,0

36,0

43,0

2,0

9,0

0,0

15,0

1,0

0,0

0,0

0,0

2,0

33,0

0,0

11,0

0,0

1,0

0,0

10,0

3,0

0,0

0,0

0,0

72,0

3,0

18,0

0,0

0,0

40,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

22,0

1,0

0,0

24,0

59,0

0,0

19,0

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

37,0

14,0

0,0

0,0

17,0

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

22,0

10

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

7,0

11

127,0

0,0

0,0

0,0

1,0

40,0

0,0

11,0

0,0

0,0

0,0

11,0

12

0,0

0,0

20,0

31,0

0,0

14,0

13,0

0,0

0,0

0,0

0,0

7,0

13

4,0

12,0

7,0

25,0

0,0

0,0

6,0

0,0

16,0

0,0

0,0

33,0

14

16,0

24,0

0,0

39,0

0,0

0,0

13,0

0,0

5,0

0,0

0,0

0,0

15

0,0

62,0

0,0

36,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

22,0

16

22,0

0,0

0,0

15,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

16,0

17

0,0

1,0

36,0

7,0

0,0

0,0

0,0

2,0

19,0

0,0

2,0

3,0

18

0,0

17,0

20,0

0,0

17,0

2,0

1,0

0,0

0,0

0,0

2,0

41,0

19

0,0

0,0

0,0

0,0

24,0

14,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,0

0,0

20

57,0

0,0

3,0

18,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

32,0

21

0,0

0,0

30,0

1,0

0,0

19,0

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

22

14,0

20,0

36,0

16,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

35,0

24,0

23

21,0

0,0

51,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

24

0,0

0,0

19,0

13,0

0,0

0,0

0,0

18,0

0,0

33,0

0,0

1,0

25

32,0

5,0

3,0

0,0

2,0

1,0

0,0

1,0

0,0

20,0

16,0

55,0

26

0,0

0,0

20,0

25,0

1,0

17,0

0,0

1,0

0,0

3,0

2,0

0,0

27

61,0

0,0

0,0

17,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

40,0

15,0

0,0

28

55,0

0,0

0,0

15,0

15,0

7,0

0,0

0,0

38,0

0,0

7,0

12,0

29

16,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

17,0

0,0

0,0

0,0

13,0

0,0

30

19,0

0,0

0,0

2,0

0,0

15,0

1,0

0,0

19,0

5,0

79,0

31

0,0

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

1,0

Jml. Curah Hujan

610,0

143,0

354,0

259,0

156,2

137,0

80,0

35,0

100,0

190,0

245,0

476,0

Jml. Hari Hujan

16,0

8,0

18,0

14,0

16,0

14,0

9,0

7,0

5,0

8,0

17,0

22,0

Rata-rata

19,7

4,9

11,4

8,6

5,0

4,6

2,6

1,1

3,3

6,1

8,2

15,4

Hujan Maks

127,0

62,0

51,0

39,0

38,0

40,0

17,0

18,0

38,0

72,0

52,0

79,0

DATA CURAH HUJAN HARIAN


Nama Pos

: Lasusua

NO

DAS
Wilayah Sungai

: S. Lasusua
: Toari-Lasusua

Lokasi Pos
Data Geografis
Kabupaten/Kecamatan

: 140 km dari kota kolaka


: 0330'24,26"LS-12055'44,78"BT
: Kolaka Utara/Lasusua

: 04

TAHUN

: 2012

Tahun Pendirian
Elevasi Pos
Dibangun Oleh
Provinsi
Pelaksana

: 1982
: 7 M DPL
: DPMA
: Sulawesi Tenggara
: BWS Sulawesi IV

Tabel Hujan Harian (mm)


TANGGAL

BULAN
Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

Des

0,0

9,0

2,0

17,0

25,0

23,0

0,0

29,0

0,0

2,0

0,0

3,0

0,0

39,0

20,0

0,0

55,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

19,0

1,0

6,0

0,0

0,0

0,0

4,0

0,0

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

6,0

20,0

0,0

10,2

0,0

5,0

4,0

0,0

0,0

1,0

0,0

0,0

29,0

0,0

0,0

0,0

17,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

28,0

56,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

16,0

0,0

2,0

2,0

0,0

0,0

21,0

0,0

0,0

13,0

0,0

0,0

19,0

1,0

49,0

0,0

0,0

18,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

28,0

0,0

1,0

0,0

21,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10

0,0

4,0

5,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10,0

0,0

0,0

0,0

0,0

11

71,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

6,0

12

18,0

37,0

35,0

0,0

0,0

26,0

0,0

0,0

0,0

1,0

0,0

0,0

13

1,0

11,0

0,0

0,0

2,0

1,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

14

0,0

15,0

4,0

0,0

2,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

18,0

15

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,0

0,0

0,0

2,0

0,0

0,0

4,0

16

37,0

9,0

0,0

0,0

0,0

0,0

29,0

0,0

0,0

2,0

0,0

0,0

17

53,0

12,0

0,0

2,0

21,0

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

18,0

1,0

18

21,0

14,0

0,0

0,0

4,0

0,0

0,0

0,0

10,0

0,0

0,0

18,0

19

0,0

2,0

0,0

1,0

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

20,0

0,0

10,0

20

22,0

4,0

5,0

40,0

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

20,0

0,0

2,0

21

0,0

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

15,0

22

0,0

0,0

0,0

29,0

6,0

0,0

0,0

21,0

1,0

0,0

19,0

0,0

23

0,0

0,0

0,0

0,0

20,0

1,0

5,0

0,0

0,0

2,0

0,0

13,0

24

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

2,0

1,0

25

0,0

2,0

0,0

0,0

21,0

0,0

0,0

0,0

0,0

15,0

0,0

0,0

26

0,0

0,0

0,0

0,0

2,0

4,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

27

0,0

1,0

4,0

0,0

0,0

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

3,0

28

0,0

19,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

16,0

29

0,0

0,0

0,0

0,0

21,0

9,0

0,0

25,0

6,0

19,0

18,0

17,0

30

0,0

41,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

18,0

0,0

1,0

31

0,0

0,0

0,0

1,0

Jml. Curah Hujan

42,0

0,0

0,0

243,0

297,0

228,0

89,0

250,2

111,0

67,0

90,0

32,0

100,0

58,0

163,0

Jml. Hari Hujan

9,0

22,0

13,0

5,0

15,0

14,0

8,0

6,0

5,0

10,0

5,0

17,0

Rata-rata

7,8

10,2

7,4

3,0

8,1

3,7

2,2

2,9

1,1

3,2

1,9

5,3

Hujan Maks

71,0

49,0

56,0

40,0

55,0

26,0

29,0

29,0

13,0

20,0

19,0

19,0

DATA CURAH HUJAN HARIAN


Nama Pos

: Lasusua

NO

DAS
Wilayah Sungai

: S. Lasusua
: Toari-Lasusua

Lokasi Pos
Data Geografis
Kabupaten/Kecamatan

: 140 km dari kota kolaka


: 0330'24,26"LS-12055'44,78"BT
: Kolaka Utara/Lasusua

: 04

TAHUN

: 2013

Tahun Pendirian
Elevasi Pos
Dibangun Oleh
Provinsi
Pelaksana

: 1982
: 7 M DPL
: DPMA
: Sulawesi Tenggara
: BWS Sulawesi IV

Tabel Hujan Harian (mm)


TANGGAL

BULAN
Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

Des

13,0

3,0

14,0

1,0

1,0

0,0

0,0

16,0

31,0

0,0

22,0

16,0

0,0

18,0

25,0

0,0

6,0

0,0

0,0

53,0

0,0

0,0

9,0

5,0

19,0

0,0

0,0

20,0

0,0

3,0

0,0

15,0

4,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

14,0

0,0

0,0

6,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,0

0,0

3,0

0,0

0,0

0,0

30,0

0,0

11,0

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

6,0

0,0

1,0

0,0

3,0

17,0

7,0

6,0

5,0

0,0

0,0

34,0

0,0

0,0

0,0

0,0

13,0

11,0

0,0

1,0

0,0

21,0

7,0

0,0

0,0

21,0

0,0

0,0

0,0

25,0

0,0

12,0

0,0

2,0

33,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10

0,0

18,0

11,0

23,0

0,0

13,0

44,0

1,0

0,0

0,0

42,0

18,0

11

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

89,0

1,0

12

0,0

0,0

19,0

4,0

0,0

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

13

0,0

0,0

0,0

17,0

0,0

38,0

30,0

0,0

0,0

48,0

0,0

0,0

14

0,0

0,0

11,0

5,0

31,0

0,0

6,0

1,0

0,0

0,0

2,0

0,0

15

5,0

10,0

0,0

0,0

21,0

0,0

11,0

36,0

0,0

23,0

0,0

0,0

16

5,0

0,0

0,0

40,0

2,0

0,0

5,0

9,0

0,0

18,0

19,0

0,0

17

5,0

1,0

0,0

1,0

5,0

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

18,0

0,0

18

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

2,0

34,0

0,0

0,0

20,0

0,0

0,0

19

17,0

0,0

13,0

20,0

0,0

0,0

16,0

0,0

0,0

0,0

13,0

0,0

20

0,0

1,0

0,0

5,0

1,0

0,0

16,0

0,0

0,0

0,0

16,0

0,0

21

14,0

0,0

14,0

0,0

1,0

0,0

51,0

0,0

0,0

0,0

7,0

0,0

22

1,0

0,0

0,0

3,0

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

23

17,0

0,0

0,0

1,0

38,0

36,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

24

11,0

0,0

1,0

2,0

0,0

0,0

33,0

0,0

0,0

1,0

0,0

0,0

25

8,0

0,0

0,0

10,0

1,0

0,0

53,0

0,0

0,0

0,0

0,0

11,0

26

2,0

0,0

18,0

1,0

6,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

18,0

26,0

27

1,0

1,0

0,0

21,0

12,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

13,0

0,0

28

0,0

0,0

8,0

0,0

3,0

0,0

20,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

29

10,0

2,0

1,0

15,0

0,0

0,0

1,0

0,0

0,0

18,0

0,0

30

5,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,0

0,0

0,0

5,0

16,0

31

5,0

4,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

Jml. Curah Hujan

147,0

73,0

148,0

212,0

186,0

126,0

365,0

155,0

47,0

110,0

308,0

146,0

Jml. Hari Hujan

19,0

11,0

14,0

20,0

17,0

6,0

17,0

11,0

4,0

5,0

17,0

10,0

Rata-rata

4,7

2,6

4,8

7,1

6,0

4,2

11,8

5,0

1,5

3,5

10,3

4,7

Hujan Maks

19,0

18,0

25,0

40,0

38,0

38,0

53,0

53,0

31,0

48,0

89,0

26,0

DATA CURAH HUJAN HARIAN


Nama Pos

: Lasusua

NO

DAS
Wilayah Sungai

: S. Lasusua
: Toari-Lasusua

Lokasi Pos
Data Geografis
Kabupaten/Kecamatan

: 0330'24,26"LS-12055'44,78"BT
: Kolaka Utara/Lasusua

: 140 km dari kota kolaka

: 04

TAHUN

: 2014

Tahun Pendirian
Elevasi Pos
Dibangun Oleh
Provinsi
Pelaksana

: 1982
: 7 M DPL
: DPMA
: Sulawesi Tenggara
: BWS Sulawesi IV

Tabel Hujan Harian (mm)


TANGGAL

BULAN
Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

Des

16,0

0,0

17,0

0,0

0,0

1,0

5,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10,0

5,0

0,0

12,0

1,0

12,0

6,0

7,0

0,0

0,0

0,0

0,0

25,0

0,0

0,0

0,0

3,0

0,0

17,0

10,0

0,0

0,0

0,0

0,0

20,0

0,0

0,0

0,0

17,0

0,0

15,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

30,0

0,0

0,0

16,0

0,0

0,0

5,0

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

23,0

17,0

17,0

0,0

21,0

0,0

0,0

11,0

0,0

0,0

0,0

4,0

4,0

11,0

17,0

6,0

0,0

0,0

1,0

2,0

10,0

0,0

0,0

2,0

2,0

25,0

0,0

0,0

23,0

13,0

15,0

0,0

4,0

2,0

0,0

1,0

5,0

0,0

20,0

0,0

10,0

0,0

1,0

0,0

7,0

0,0

0,0

0,0

10,0

10

18,0

0,0

0,0

11,0

1,0

26,0

14,0

2,0

0,0

0,0

0,0

2,0

11

1,0

0,0

16,0

0,0

4,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

12

0,0

0,0

3,0

5,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

2,0

6,0

13

0,0

0,0

19,0

0,0

1,0

0,0

8,0

10,0

7,0

0,0

0,0

0,0

14

0,0

0,0

1,0

0,0

0,0

14,0

9,0

8,0

0,0

0,0

0,0

0,0

15

0,0

0,0

0,0

11,0

0,0

38,0

10,0

0,0

0,0

2,0

0,0

0,0

16

0,0

1,0

10,0

0,0

0,0

0,0

15,0

0,0

0,0

0,0

0,0

2,0

17

0,0

0,0

8,0

0,0

2,0

1,0

2,0

3,0

0,0

0,0

0,0

4,0

18

0,0

0,0

13,0

0,0

0,0

2,0

4,0

2,0

0,0

1,0

3,0

7,0

19

0,0

0,0

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

5,0

1,0

0,0

0,0

10,0

20

0,0

0,0

38,0

5,0

7,0

0,0

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

10,0

21

0,0

18,0

21,0

0,0

10,0

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10,0

22

0,0

0,0

0,0

16,0

0,0

29,0

2,0

3,0

0,0

3,0

0,0

12,0

23

0,0

5,0

0,0

4,0

0,0

0,0

3,0

4,0

4,0

0,0

0,0

5,0

24

0,0

20,0

20,0

0,0

1,0

5,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10,0

25

11,0

13,0

0,0

41,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

3,0

4,0

26

26,0

18,0

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

4,0

0,0

27

0,0

0,0

0,0

1,0

0,0

16,0

5,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

28

0,0

17,0

0,0

0,0

0,0

14,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

29

0,0

16,0

1,0

1,0

1,0

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

4,0

30

16,0

0,0

19,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

5,0

31

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

2,0

0,0
Jml. Curah Hujan

146,0

146,0

216,0

192,0

52,0

209,0

113,0

63,0

14,0

6,0

19,0

222,0

Jml. Hari Hujan

10,0

10,0

15,0

18,0

10,0

19,0

18,0

14,0

4,0

3,0

7,0

24,0

Rata-rata

4,7

5,2

7,0

6,4

1,7

7,0

3,6

2,0

0,5

0,2

0,6

7,2

Hujan Maks

26,0

20,0

38,0

41,0

13,0

38,0

15,0

10,0

7,0

3,0

4,0

30,0

DATA CURAH HUJAN HARIAN


Nama Pos

: Abuki

NO

DAS
Wilayah Sungai

: S. Lahumbuti
: Lasolo-Konaweha

Lokasi Pos
Data Geografis
Kabupaten/Kecamatan

: 95 km dari kota Kendari


: 0345'20,9"LS-12155'04,5"BT
: Konawe/Abuki

: 22

TAHUN

: 2000

Tahun Pendirian
Elevasi Pos
Dibangun Oleh
Provinsi
Pelaksana

: 1975
: 21 M
: BWS Sulawesi IV
: Sulawesi Tenggara
: BWS Sulawesi IV

Tabel Hujan Harian (mm)


TANGGAL

BULAN
Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

Des

0,0

10,0

10,0

16,0

1,0

0,0

0,0

8,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

30,0

0,0

0,0

1,0

0,0

1,0

11,0

0,0

0,0

4,0

0,0

30,0

0,0

0,0

0,0

4,0

0,0

2,0

4,0

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,0

0,0

0,0

2,0

5,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,0

0,0

0,0

24,0

2,0

0,0

2,0

0,0

0,0

10,0

0,0

0,0

0,0

0,0

12,0

3,0

8,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

2,0

6,0

9,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

80,0

1,0

0,0

4,0

8,0

0,0

13,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

20,0

0,0

2,0

14,0

8,0

0,0

3,0

0,0

3,0

0,0

0,0

10

3,0

17,0

1,0

0,0

2,0

1,0

0,0

0,0

6,0

1,0

1,0

0,0

11

0,0

0,0

10,0

16,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

4,0

0,0

0,0

12

0,0

0,0

2,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

4,0

13

0,0

24,0

5,0

3,0

0,0

6,0

0,0

0,0

0,0

14,0

0,0

0,0

14

0,0

0,0

15,0

14,0

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

15

0,0

10,0

2,0

6,0

0,0

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

16

0,0

0,0

0,0

4,0

0,0

56,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

17

1,0

0,0

0,0

0,0

24,0

29,0

0,0

0,0

4,0

4,0

0,0

0,0

18

0,0

50,0

0,0

1,0

0,0

1,0

6,0

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

19

21,0

0,0

0,0

0,0

11,0

14,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

20

20,0

40,0

0,0

5,0

3,0

19,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

8,0

21

18,0

0,0

10,0

2,0

8,0

24,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

22

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

2,0

6,0

23

0,0

1,0

0,0

49,0

0,0

6,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

24

40,0

2,0

11,0

0,0

2,0

11,0

0,0

0,0

0,0

8,0

0,0

0,0

25

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

8,0

0,0

5,0

0,0

0,0

14,0

0,0

26

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

6,0

27

20,0

60,0

0,0

0,0

1,0

5,0

3,0

0,0

0,0

0,0

5,0

0,0

28

80,0

0,0

25,0

17,0

2,0

1,0

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

29

10,0

0,0

12,0

0,0

8,0

1,0

0,0

0,0

3,0

0,0

0,0

0,0

30

12,0

0,0

7,0

7,0

2,0

3,0

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

31

0,0

0,0

12,0

0,0

2,0

5,0

6,0

Jml. Curah Hujan

265,0

346,0

104,0

146,0

94,0

229,0

65,0

68,0

17,0

43,0

26,0

30,0

Jml. Hari Hujan

12,0

13,0

12,0

16,0

16,0

23,0

11,0

10,0

5,0

9,0

5,0

5,0

Rata-rata

8,5

11,9

3,4

4,9

3,0

7,6

2,1

2,2

0,6

1,4

0,9

1,0

Hujan Maks

80,0

80,0

25,0

49,0

24,0

56,0

24,0

13,0

6,0

14,0

14,0

8,0

DATA CURAH HUJAN HARIAN


Nama Pos

: Abuki

NO

DAS
Wilayah Sungai

: S. Lahumbuti
: Lasolo-Konaweha

Lokasi Pos
Data Geografis
Kabupaten/Kecamatan

: 95 km dari kota Kendari


: 0345'20,9"LS-12155'04,5"BT
: Konawe/Abuki

: 22

TAHUN

: 2001

Tahun Pendirian
Elevasi Pos
Dibangun Oleh
Provinsi
Pelaksana

: 1975
: 21 M
: BWS Sulawesi IV
: Sulawesi Tenggara
: BWS Sulawesi IV

Tabel Hujan Harian (mm)


TANGGAL

BULAN
Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

Des

0,0

0,0

1,0

1,0

5,0

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

13,0

0,0

0,0

0,0

0,0

2,0

4,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

34,0

0,0

0,0

7,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

5,0

10,0

0,0

0,0

0,0

0,0

5,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

7,0

2,0

0,0

0,0

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

12,0

4,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

4,0

1,0

0,0

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,0

2,0

20,0

4,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

5,0

10

0,0

0,0

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

4,0

0,0

11

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

3,0

0,0

12

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

13

43,0

0,0

0,0

0,0

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

14

0,0

0,0

0,0

14,0

0,0

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

15

0,0

0,0

1,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

8,0

15,0

2,0

16

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

4,0

0,0

3,0

3,0

17

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

18

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

9,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

4,0

19

8,0

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

6,0

0,0

0,0

20

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

4,0

0,0

0,0

21

0,0

0,0

3,0

0,0

0,0

7,0

0,0

0,0

0,0

3,0

0,0

1,0

22

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

9,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

23

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

6,0

0,0

8,0

0,0

0,0

0,0

24

5,0

0,0

4,0

0,0

0,0

0,0

4,0

2,0

2,0

0,0

0,0

0,0

25

0,0

2,0

3,0

0,0

11,0

0,0

3,0

0,0

0,0

10,0

0,0

9,0

26

0,0

0,0

0,0

8,0

1,0

0,0

8,0

0,0

0,0

0,0

2,0

2,0

27

0,0

0,0

12,0

0,0

1,0

2,0

6,0

0,0

0,0

0,0

0,0

6,0

28

8,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

7,0

0,0

4,0

0,0

0,0

1,0

29

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

3,0

0,0

6,0

0,0

1,0

2,0

30

0,0

0,0

4,0

13,0

0,0

1,0

0,0

6,0

0,0

4,0

1,0

31

0,0

0,0

0,0

0,0

5,0

3,0

0,0

Jml. Curah Hujan

76,0

45,0

45,0

55,0

49,0

45,0

39,0

2,0

30,0

34,0

32,0

58,0

Jml. Hari Hujan

7,0

5,0

11,0

8,0

9,0

10,0

9,0

1,0

6,0

6,0

7,0

14,0

Rata-rata

2,5

1,6

1,5

1,8

1,6

1,5

1,3

0,1

1,0

1,1

1,1

1,9

Hujan Maks

43,0

34,0

12,0

20,0

13,0

9,0

8,0

2,0

8,0

10,0

15,0

13,0

DATA CURAH HUJAN HARIAN


Nama Pos

: Abuki

NO

DAS
Wilayah Sungai

: S. Lahumbuti
: Lasolo-Konaweha

Lokasi Pos
Data Geografis
Kabupaten/Kecamatan

: 95 km dari kota Kendari


: 0345'20,9"LS-12155'04,5"BT
: Konawe/Abuki

: 22

TAHUN

: 2002

Tahun Pendirian
Elevasi Pos
Dibangun Oleh
Provinsi
Pelaksana

: 1975
: 21 M
: BWS Sulawesi IV
: Sulawesi Tenggara
: BWS Sulawesi IV

Tabel Hujan Harian (mm)


TANGGAL

BULAN
Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

Des

2,0

4,0

0,0

4,0

1,0

0,0

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

28,0

0,0

2,0

0,0

0,0

21,0

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

47,0

0,0

0,0

0,0

8,0

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

18,0

0,0

0,0

5,0

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

11,0

22,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

24,0

0,0

11,0

8,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

27,0

0,0

0,0

4,0

0,0

1,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

13,0

0,0

0,0

6,0

0,0

15,0

8,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

8,0

10

1,0

0,0

3,0

9,0

2,0

1,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

11

0,0

6,0

2,0

29,0

0,0

8,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

17,0

12

1,0

0,0

10,0

6,0

0,0

10,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

8,0

13

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

9,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

14

0,0

3,0

0,0

0,0

0,0

8,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

17,0

15

5,0

2,0

7,0

0,0

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

37,0

16

0,0

1,0

0,0

0,0

3,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

31,0

17

0,0

0,0

0,0

0,0

1,0

0,0

5,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

18

17,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

13,0

19

1,0

4,0

15,0

2,0

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

20

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

20,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

21,0

21

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

5,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

22

0,0

4,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

23

0,0

7,0

0,0

9,0

0,0

11,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

8,0

24

4,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

25

8,0

0,0

0,0

4,0

0,0

0,0

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

5,0

26

0,0

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

32,0

0,0

27

0,0

0,0

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

12,0

28

3,0

22,0

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

29

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

18,0

30

22,0

10,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

31

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

15,0

Jml. Curah Hujan

70,0

75,0

87,0

75,0

74,0

119,0

17,0

0,0

0,0

0,0

32,0

325,0

Jml. Hari Hujan

14,0

13,0

12,0

11,0

11,0

16,0

6,0

0,0

0,0

0,0

1,0

17,0

Rata-rata

2,3

2,6

2,8

2,5

2,4

4,0

0,5

0,0

0,0

0,0

1,1

10,5

Hujan Maks

22,0

22,0

24,0

29,0

21,0

22,0

5,0

0,0

0,0

0,0

32,0

47,0

DATA CURAH HUJAN HARIAN


Nama Pos

: Abuki

NO

DAS
Wilayah Sungai

: S. Lahumbuti
: Lasolo-Konaweha

Lokasi Pos
Data Geografis
Kabupaten/Kecamatan

: 95 km dari kota Kendari


: 0345'20,9"LS-12155'04,5"BT
: Konawe/Abuki

: 22

TAHUN

: 2003

Tahun Pendirian
Elevasi Pos
Dibangun Oleh
Provinsi
Pelaksana

: 1975
: 21 M
: BWS Sulawesi IV
: Sulawesi Tenggara
: BWS Sulawesi IV

Tabel Hujan Harian (mm)


TANGGAL

BULAN
Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

Des

0,0

0,0

0,0

4,0

0,0

12,4

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

22,0

0,0

0,0

11,0

0,0

0,0

2,1

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

18,0

0,0

9,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

9,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

5,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10,3

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

3,0

38,0

0,0

8,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

14,0

0,0

0,0

0,0

7,6

1,4

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

21,0

7,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,4

0,0

0,0

0,0

0,0

10

0,0

0,0

25,0

0,0

5,0

0,0

3,4

18,6

0,0

0,0

0,0

0,0

11

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

20,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,7

12

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

11,0

13,8

0,0

0,0

0,0

2,1

13

0,0

7,0

11,0

0,0

0,0

0,0

0,0

14,5

0,0

0,0

17,9

3,4

14

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

47,5

0,0

0,0

15

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

4,1

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

16

0,0

0,0

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

17

0,0

31,0

33,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,7

18

8,0

23,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10,3

2,8

19

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,7

0,0

9,6

0,0

0,0

0,0

0,0

20

5,0

16,0

15,0

13,0

0,0

2,8

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

11,0

21

22,0

0,0

0,0

0,0

0,0

2,1

0,0

0,0

0,0

9,6

0,0

0,0

22

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

23

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

24

0,0

13,0

8,0

4,0

0,0

4,1

7,6

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

25

18,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

2,8

0,0

0,0

0,0

0,0

16,5

26

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

6,2

0,0

0,0

22,0

27

11,0

8,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

28

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

3,4

0,0

29

27,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

30

0,0

17,0

16,0

0,0

0,0

0,7

0,0

0,0

2,1

0,0

13,1

31

7,0

0,0

9,6

0,0

0,0

0,0

0,0

Jml. Curah Hujan

152,0

122,0

177,0

50,0

13,0

32,4

68,9

59,2

6,2

59,2

31,7

72,3

Jml. Hari Hujan

11,0

8,0

10,0

6,0

2,0

6,0

10,0

6,0

1,0

3,0

3,0

9,0

Rata-rata

4,9

4,2

5,7

1,7

0,4

1,1

2,2

1,9

0,2

1,9

1,1

2,3

Hujan Maks

27,0

31,0

38,0

16,0

8,0

12,4

20,0

18,6

6,2

47,5

17,9

22,0

DATA CURAH HUJAN HARIAN


Nama Pos

: Abuki

NO

DAS
Wilayah Sungai

: S. Lahumbuti
: Lasolo-Konaweha

Lokasi Pos
Data Geografis
Kabupaten/Kecamatan

: 95 km dari kota Kendari


: 0345'20,9"LS-12155'04,5"BT
: Konawe/Abuki

: 22

TAHUN

: 2004

Tahun Pendirian
Elevasi Pos
Dibangun Oleh
Provinsi
Pelaksana

: 1975
: 21 M
: BWS Sulawesi IV
: Sulawesi Tenggara
: BWS Sulawesi IV

Tabel Hujan Harian (mm)


TANGGAL

BULAN
Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

Des

3,0

0,0

3,0

0,0

5,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

8,0

4,0

4,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

8,0

11,0

9,0

2,0

22,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

3,0

0,0

8,0

5,0

0,0

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

3,0

5,0

0,0

5,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

7,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

6,0

3,0

0,0

49,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

6,0

41,0

2,0

0,0

12,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

7,0

3,0

11,0

17,0

0,0

0,0

0,0

13,0

0,0

10

2,0

9,0

0,0

0,0

73,0

43,0

2,0

0,0

3,0

0,0

0,0

0,0

11

8,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

16,0

12

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

4,0

0,0

0,0

7,0

13

0,0

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

14

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

14,0

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

15

17,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

4,0

0,0

0,0

0,0

16

0,0

0,0

0,0

88,0

0,0

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

17

18,0

0,0

0,0

2,0

0,0

0,0

13,0

0,0

5,0

0,0

0,0

0,0

18

9,0

7,0

0,0

0,0

0,0

0,0

5,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

19

11,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

14,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

20

16,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

21

17,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

6,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

22

0,0

4,0

0,0

12,0

0,0

0,0

9,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

23

6,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

4,0

0,0

0,0

0,0

8,0

0,0

24

4,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

25

8,0

13,0

0,0

52,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

26

7,0

0,0

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

28,0

27

5,0

17,0

0,0

4,0

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

28

12,0

8,0

13,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

29

0,0

6,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

3,0

20,0

30

15,0

7,0

0,0

4,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

8,0

31

0,0

8,0

0,0

0,0

0,0

0,0

3,0

Jml. Curah Hujan

182,0

98,0

51,0

271,0

117,0

68,0

86,0

0,0

16,0

0,0

24,0

93,0

Jml. Hari Hujan

21,0

13,0

7,0

12,0

9,0

3,0

11,0

0,0

4,0

0,0

3,0

8,0

Rata-rata

5,9

3,4

1,6

9,0

3,8

2,3

2,8

0,0

0,5

0,0

0,8

3,0

Hujan Maks

18,0

17,0

13,0

88,0

73,0

43,0

17,0

0,0

5,0

0,0

13,0

28,0

DATA CURAH HUJAN HARIAN


Nama Pos

: Abuki

NO

DAS
Wilayah Sungai

: S. Lahumbuti
: Lasolo-Konaweha

Lokasi Pos
Data Geografis
Kabupaten/Kecamatan

: 95 km dari kota Kendari


: 0345'20,9"LS-12155'04,5"BT
: Konawe/Abuki

: 22

TAHUN

: 2005

Tahun Pendirian
Elevasi Pos
Dibangun Oleh
Provinsi
Pelaksana

: 1975
: 21 M
: BWS Sulawesi IV
: Sulawesi Tenggara
: BWS Sulawesi IV

Tabel Hujan Harian (mm)


TANGGAL

BULAN
Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

6,0

0,0

0,0

0,0

10,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

7,0

5,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

55,0

4,0

5,0

0,0

0,0

0,0

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

9,0

0,0

0,0

10,0

0,0

0,0

0,0

8,0

0,0

10,0

4,0

11,0

13,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

7,0

0,0

3,0

0,0

0,0

6,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

4,0

0,0

0,0

0,0

0,0

21,0

0,0

0,0

0,0

0,0

9,0

11,0

9,0

3,0

7,0

0,0

0,0

28,0

0,0

0,0

0,0

7,0

0,0

4,0

4,0

0,0

0,0

0,0

64,0

0,0

0,0

10

2,0

5,0

0,0

0,0

9,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

3,0

0,0

11

0,0

0,0

11,0

18,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

12

15,0

4,0

5,0

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

38,0

13

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

5,0

14

0,0

0,0

0,0

21,0

4,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

8,0

15

0,0

4,0

0,0

6,0

0,0

0,0

0,0

8,0

0,0

0,0

0,0

19,0

16

0,0

0,0

7,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

17

0,0

0,0

0,0

3,0

8,0

0,0

8,0

0,0

0,0

0,0

0,0

6,0

18

0,0

0,0

0,0

19,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

19

0,0

0,0

5,0

0,0

9,0

0,0

0,0

0,0

0,0

6,0

0,0

0,0

20

0,0

9,0

0,0

0,0

0,0

9,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

21

0,0

8,0

14,0

4,0

15,0

0,0

0,0

22,0

0,0

0,0

0,0

5,0

22

0,0

0,0

0,0

11,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

45,0

23

1,0

0,0

0,0

6,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

55,0

0,0

24

15,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

28,0

25

0,0

6,0

9,0

4,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10,0

26

0,0

10,0

17,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

8,0

27

0,0

7,0

0,0

7,0

0,0

0,0

14,0

0,0

0,0

0,0

45,0

0,0

28

0,0

8,0

0,0

5,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

9,0

29

0,0

0,0

11,0

0,0

0,0

0,0

0,0

3,0

0,0

0,0

8,0

0,0

30

0,0

0,0

14,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

38,0

40,0

31

0,0

0,0

0,0

0,0

8,0

0,0

Des

0,0

Jml. Curah Hujan

50,0

76,0

93,0

148,0

105,0

36,0

25,0

50,0

0,0

70,0

198,0

284,0

Jml. Hari Hujan

7,0

11,0

11,0

16,0

12,0

7,0

3,0

5,0

0,0

2,0

7,0

14,0

Rata-rata

1,6

2,6

3,0

4,9

3,4

1,2

0,8

1,6

0,0

2,3

6,6

9,2

Hujan Maks

15,0

10,0

17,0

21,0

15,0

9,0

14,0

22,0

0,0

64,0

55,0

55,0

DATA CURAH HUJAN HARIAN


Nama Pos

: Abuki

NO

DAS
Wilayah Sungai

: S. Lahumbuti
: Lasolo-Konaweha

Lokasi Pos
Data Geografis
Kabupaten/Kecamatan

: 95 km dari kota Kendari


: 0345'20,9"LS-12155'04,5"BT
: Konawe/Abuki

: 22

TAHUN

: 2006

Tahun Pendirian
Elevasi Pos
Dibangun Oleh
Provinsi
Pelaksana

: 1975
: 21 M
: BWS Sulawesi IV
: Sulawesi Tenggara
: BWS Sulawesi IV

Tabel Hujan Harian (mm)


TANGGAL

BULAN
Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

Des

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

43,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

21,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

20,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

30,0

30,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

34,0

11

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

12

45,0

45,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

13

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

14

12,0

12,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

15

28,0

28,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

16

0,0

0,0

24,0

0,0

14,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

17

0,0

0,0

0,0

26,0

0,0

26,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

18

22,0

22,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

6,0

0,0

0,0

0,0

19

25,0

25,0

67,0

14,0

60,0

14,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

20

0,0

0,0

0,0

32,0

0,0

32,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

21

0,0

0,0

0,0

42,0

0,0

42,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

22

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

23

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

30,0

0,0

24

0,0

0,0

10,0

0,0

18,0

0,0

24,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

25

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

26

0,0

0,0

28,0

0,0

24,0

0,0

5,0

0,0

0,0

0,0

52,0

22,0

27

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

11,0

28

0,0

0,0

32,0

0,0

37,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

2,0

29

38,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

30

2,0

0,0

18,0

0,0

18,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

31

0,0

0,0

0,0

0,0

Jml. Curah Hujan

0,0

0,0

0,0

245,0

162,0

182,0

132,0

173,0

132,0

31,0

0,0

6,0

0,0

82,0

69,0

Jml. Hari Hujan

9,0

6,0

6,0

5,0

6,0

5,0

3,0

0,0

1,0

0,0

2,0

4,0

Rata-rata

7,9

5,6

5,9

4,4

5,6

4,4

1,0

0,0

0,2

0,0

2,7

2,2

Hujan Maks

45,0

45,0

67,0

42,0

60,0

42,0

24,0

0,0

6,0

0,0

52,0

34,0

DATA CURAH HUJAN HARIAN


Nama Pos

: Abuki

NO

DAS
Wilayah Sungai

: S. Lahumbuti
: Lasolo-Konaweha

Lokasi Pos
Data Geografis
Kabupaten/Kecamatan

: 95 km dari kota Kendari


: 0345'20,9"LS-12155'04,5"BT
: Konawe/Abuki

: 22

TAHUN

: 2007

Tahun Pendirian
Elevasi Pos
Dibangun Oleh
Provinsi
Pelaksana

: 1975
: 21 M
: BWS Sulawesi IV
: Sulawesi Tenggara
: BWS Sulawesi IV

Tabel Hujan Harian (mm)


TANGGAL

BULAN
Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

Des

13,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

27,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

59,0

0,0

20,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

12,0

0,0

30,0

16,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10,0

0,0

28,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

13,0

16,0

20,0

15,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10,0

0,0

26,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

17,0

0,0

0,0

18,0

0,0

0,0

10,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

14,0

0,0

15,0

0,0

12,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

11

0,0

4,0

0,0

0,0

0,0

6,0

0,0

0,0

7,0

0,0

0,0

0,0

12

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10,0

0,0

0,0

0,0

0,0

4,0

0,0

13

0,0

0,0

0,0

10,0

0,0

26,0

0,0

0,0

0,0

0,0

6,0

0,0

14

0,0

13,0

0,0

34,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

15

15,0

0,0

70,0

0,0

0,0

28,0

18,0

0,0

0,0

0,0

4,0

0,0

16

0,0

0,0

0,0

0,0

14,0

14,0

6,0

20,0

0,0

0,0

0,0

7,0

17

0,0

12,0

0,0

0,0

0,0

0,0

40,0

0,0

0,0

10,0

0,0

0,0

18

30,0

7,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

18,0

0,0

0,0

0,0

0,0

19

0,0

0,0

24,0

0,0

0,0

10,0

0,0

24,0

0,0

0,0

0,0

0,0

20

18,0

9,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

12,0

0,0

0,0

0,0

0,0

21

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

15,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

22

0,0

0,0

10,0

6,0

0,0

0,0

14,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

23

16,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

12,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

24

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

2,0

13,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

25

40,0

0,0

0,0

20,0

0,0

0,0

10,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

26

0,0

5,0

0,0

0,0

0,0

0,0

7,0

0,0

0,0

0,0

36,0

9,0

27

0,0

0,0

68,0

0,0

0,0

8,0

4,0

0,0

0,0

0,0

0,0

11,0

28

0,0

22,0

39,0

0,0

0,0

28,0

0,0

17,0

0,0

0,0

6,0

0,0

29

0,0

0,0

10,0

0,0

0,0

23,0

9,0

2,0

0,0

5,0

4,0

0,0

30

0,0

0,0

0,0

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

31

0,0

0,0

0,0

0,0

Jml. Curah Hujan

34,0

4,0

0,0

132,0

146,0

260,0

169,0

112,0

235,0

148,0

115,0

7,0

19,0

60,0

39,0

Jml. Hari Hujan

6,0

10,0

9,0

8,0

5,0

15,0

11,0

8,0

1,0

3,0

6,0

4,0

Rata-rata

4,3

5,0

8,4

5,6

3,6

7,8

4,8

3,7

0,2

0,6

2,0

1,3

Hujan Maks

40,0

30,0

70,0

59,0

34,0

28,0

40,0

24,0

7,0

10,0

36,0

12,0

DATA CURAH HUJAN HARIAN


Nama Pos

: Abuki

NO

DAS
Wilayah Sungai

: S. Lahumbuti
: Lasolo-Konaweha

Lokasi Pos
Data Geografis
Kabupaten/Kecamatan

: 95 km dari kota Kendari


: 0345'20,9"LS-12155'04,5"BT
: Konawe/Abuki

: 22

TAHUN

: 2008

Tahun Pendirian
Elevasi Pos
Dibangun Oleh
Provinsi
Pelaksana

: 1975
: 21 M
: BWS Sulawesi IV
: Sulawesi Tenggara
: BWS Sulawesi IV

Tabel Hujan Harian (mm)


TANGGAL

BULAN
Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

Des

0,0

0,0

48,0

20,0

15,0

35,0

0,0

0,0

24,0

0,0

0,0

3,0

0,0

0,0

56,0

0,0

13,0

24,0

0,0

0,0

0,0

0,0

27,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

6,0

0,0

0,0

27,0

0,0

32,0

26,0

4,0

0,0

0,0

18,0

22,0

0,0

0,0

0,0

32,0

0,0

0,0

9,0

0,0

0,0

0,0

4,0

0,0

0,0

0,0

0,0

56,0

0,0

50,0

4,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

65,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

12,0

0,0

0,0

0,0

10,0

10,0

5,0

0,0

10,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

20,0

20,0

0,0

0,0

12,0

0,0

0,0

0,0

9,0

10

20,0

0,0

0,0

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

30,0

0,0

3,0

20,0

11

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

20,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

7,0

12

0,0

0,0

0,0

18,0

0,0

10,0

0,0

0,0

0,0

0,0

5,0

24,0

13

0,0

0,0

0,0

22,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10,0

0,0

0,0

14

30,0

0,0

0,0

14,0

0,0

6,0

18,0

0,0

0,0

0,0

7,0

0,0

15

29,0

0,0

10,0

0,0

0,0

73,0

6,0

0,0

0,0

0,0

15,0

5,0

16

18,0

0,0

0,0

7,0

0,0

0,0

4,0

20,0

0,0

0,0

0,0

3,0

17

0,0

13,0

10,0

10,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

11,0

5,0

18

24,0

0,0

0,0

37,0

0,0

0,0

0,0

18,0

0,0

0,0

0,0

8,0

19

0,0

0,0

0,0

10,0

0,0

0,0

0,0

24,0

0,0

0,0

12,0

35,0

20

0,0

0,0

0,0

18,0

18,0

0,0

15,0

12,0

0,0

0,0

0,0

0,0

21

0,0

0,0

0,0

0,0

20,0

0,0

14,0

0,0

0,0

50,0

0,0

0,0

22

0,0

0,0

4,0

0,0

13,0

0,0

12,0

0,0

0,0

0,0

20,0

0,0

23

0,0

0,0

0,0

22,0

0,0

14,0

13,0

0,0

0,0

20,0

0,0

3,0

24

0,0

15,0

4,0

0,0

0,0

0,0

10,0

6,0

0,0

12,0

8,0

10,0

25

0,0

37,0

3,0

0,0

16,0

0,0

7,0

0,0

0,0

16,0

0,0

4,0

26

16,0

25,0

0,0

0,0

0,0

46,0

4,0

0,0

0,0

0,0

14,0

5,0

27

43,0

0,0

0,0

0,0

6,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

12,0

2,0

28

2,0

0,0

0,0

0,0

40,0

0,0

9,0

17,0

0,0

0,0

26,0

0,0

29

0,0

0,0

0,0

0,0

56,0

0,0

0,0

2,0

0,0

12,0

0,0

19,0

30

0,0

0,0

14,0

45,0

0,0

0,0

0,0

0,0

44,0

0,0

15,0

31

0,0

0,0

0,0

0,0

Jml. Curah Hujan

20,0

0,0

0,0

186,0

90,0

200,0

247,0

314,0

239,0

112,0

121,0

169,0

164,0

242,0

228,0

Jml. Hari Hujan

9,0

4,0

8,0

16,0

14,0

10,0

11,0

9,0

5,0

7,0

14,0

21,0

Rata-rata

6,0

3,1

6,5

8,2

10,1

8,0

3,6

3,9

5,6

5,3

8,1

7,4

Hujan Maks

43,0

37,0

65,0

37,0

56,0

73,0

18,0

24,0

56,0

50,0

50,0

35,0

DATA CURAH HUJAN HARIAN


Nama Pos

: Abuki

NO

DAS
Wilayah Sungai

: S. Lahumbuti
: Lasolo-Konaweha

Lokasi Pos
Data Geografis
Kabupaten/Kecamatan

: 95 km dari kota Kendari


: 0345'20,9"LS-12155'04,5"BT
: Konawe/Abuki

: 22

TAHUN

: 2009

Tahun Pendirian
Elevasi Pos
Dibangun Oleh
Provinsi
Pelaksana

: 1975
: 21 M
: BWS Sulawesi IV
: Sulawesi Tenggara
: BWS Sulawesi IV

Tabel Hujan Harian (mm)


TANGGAL

BULAN
Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

Des

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

6,0

0,0

0,0

0,0

4,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

20,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

17,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

6,0

0,0

0,0

45,0

0,0

0,0

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

5,0

0,0

0,0

0,0

18,0

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

8,0

0,0

28,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

4,0

4,0

0,0

16,0

0,0

22,0

10,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

6,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10

20,0

0,0

31,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

11

0,0

0,0

15,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

12

0,0

0,0

19,0

4,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

9,0

13

0,0

24,0

2,0

0,0

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

9,0

0,0

14

5,0

0,0

3,0

0,0

0,0

0,0

32,0

0,0

0,0

0,0

0,0

4,0

15

0,0

5,0

0,0

0,0

0,0

0,0

33,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

16

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

2,0

17

0,0

3,0

18,0

0,0

0,0

0,0

6,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

18

0,0

5,0

20,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

19

10,0

0,0

33,0

2,0

13,0

19,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

9,0

20

0,0

0,0

0,0

6,0

3,0

0,0

15,0

0,0

0,0

0,0

8,0

2,0

21

0,0

0,0

0,0

0,0

12,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

6,0

22

9,0

6,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

5,0

0,0

0,0

17,0

23

0,0

0,0

20,0

18,0

12,0

0,0

32,0

0,0

10,0

0,0

0,0

25,0

24

0,0

2,0

0,0

0,0

16,0

0,0

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

25

0,0

14,0

10,0

0,0

8,0

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

26

0,0

62,0

0,0

0,0

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

35,0

27

21,0

60,0

5,0

0,0

0,0

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

28

5,0

0,0

0,0

0,0

8,0

5,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10,0

10,0

29

27,0

0,0

0,0

30,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

8,0

30

0,0

0,0

0,0

20,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

3,0

31

5,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

39,0

Jml. Curah Hujan

139,0

207,0

237,0

60,0

144,0

65,0

123,0

0,0

15,0

0,0

35,0

179,0

Jml. Hari Hujan

11,0

11,0

13,0

5,0

13,0

9,0

7,0

0,0

2,0

0,0

4,0

15,0

Rata-rata

4,5

7,1

7,6

2,0

4,6

2,2

4,0

0,0

0,5

0,0

1,2

5,8

Hujan Maks

28,0

62,0

45,0

30,0

22,0

19,0

33,0

0,0

10,0

0,0

10,0

39,0

DATA CURAH HUJAN HARIAN


Nama Pos

: Abuki

NO

DAS
Wilayah Sungai

: S. Lahumbuti
: Lasolo-Konaweha

Lokasi Pos
Data Geografis
Kabupaten/Kecamatan

: 95 km dari kota Kendari


: 0345'20,9"LS-12155'04,5"BT
: Konawe/Abuki

: 22

TAHUN

: 2010

Tahun Pendirian
Elevasi Pos
Dibangun Oleh
Provinsi
Pelaksana

: 1975
: 21 M
: BWS Sulawesi IV
: Sulawesi Tenggara
: BWS Sulawesi IV

Tabel Hujan Harian (mm)


TANGGAL

BULAN
Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

Des

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

8,0

0,0

0,0

0,0

17,0

0,0

17,0

0,0

6,0

0,0

1,0

8,0

19,0

0,0

5,0

0,0

0,0

22,0

23,0

0,0

2,0

0,0

8,0

0,0

4,0

6,0

0,0

3,0

21,0

0,0

0,0

0,0

0,0

8,0

55,0

0,0

0,0

0,0

32,0

0,0

0,0

0,0

19,0

0,0

20,0

19,0

20,0

21,0

16,0

16,0

0,0

0,0

7,0

32,0

32,0

5,0

6,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

26,0

0,0

19,0

21,0

0,0

27,0

70,0

0,0

36,0

14,0

18,0

0,0

0,0

0,0

45,0

13,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

27,0

0,0

0,0

13,0

0,0

8,0

6,0

6,0

45,0

24,0

19,0

0,0

72,0

14,0

0,0

10

5,0

11,0

6,0

0,0

11,0

16,0

7,0

21,0

0,0

84,0

0,0

0,0

11

0,0

0,0

40,0

0,0

35,0

18,0

0,0

29,0

18,0

12,0

8,0

0,0

12

0,0

0,0

11,0

0,0

38,0

24,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

13

10,0

0,0

19,0

0,0

11,0

34,0

32,0

0,0

11,0

0,0

0,0

0,0

14

7,0

0,0

2,0

0,0

29,0

27,0

0,0

30,0

0,0

8,0

12,0

0,0

15

4,0

0,0

41,0

0,0

0,0

0,0

24,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

16

8,0

0,0

4,0

0,0

0,0

21,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

17

0,0

3,0

17,0

0,0

5,0

8,0

0,0

21,0

0,0

0,0

0,0

0,0

18

0,0

10,0

0,0

0,0

0,0

40,0

30,0

0,0

24,0

0,0

0,0

26,0

19

0,0

0,0

0,0

13,0

7,0

61,0

0,0

0,0

0,0

27,0

0,0

0,0

20

0,0

58,0

0,0

5,0

0,0

76,0

9,0

7,0

0,0

18,0

0,0

0,0

21

7,0

14,0

6,0

9,0

0,0

60,0

0,0

16,0

6,0

0,0

0,0

10,0

22

13,0

0,0

8,0

0,0

0,0

45,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

23

0,0

3,0

0,0

0,0

16,0

16,0

19,0

0,0

0,0

19,0

0,0

0,0

24

0,0

6,0

5,0

0,0

0,0

46,0

0,0

5,0

27,0

28,0

0,0

0,0

25

11,0

0,0

37,0

0,0

0,0

0,0

6,0

0,0

0,0

0,0

19,0

11,0

26

0,0

0,0

0,0

0,0

25,0

56,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

27

1,0

10,0

0,0

0,0

0,0

18,0

0,0

11,0

4,0

42,0

0,0

0,0

28

0,0

7,0

0,0

0,0

30,0

23,0

15,0

26,0

0,0

18,0

14,0

0,0

29

0,0

0,0

41,0

38,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

30

29,0

6,0

15,0

45,0

34,0

0,0

32,0

11,0

14,0

32,0

0,0

31

26,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

Jml. Curah Hujan

139,0

220,0

312,0

170,0

314,0

785,0

188,0

290,0

118,0

432,0

153,0

164,0

Jml. Hari Hujan

13,0

15,0

19,0

10,0

15,0

24,0

11,0

14,0

9,0

16,0

8,0

8,0

Rata-rata

4,5

7,6

10,1

5,7

10,1

26,2

6,1

9,4

3,9

13,9

5,1

5,3

Hujan Maks

29,0

58,0

41,0

55,0

45,0

76,0

32,0

36,0

27,0

84,0

32,0

32,0

DATA CURAH HUJAN HARIAN


Nama Pos

: Abuki

NO

DAS
Wilayah Sungai

: S. Lahumbuti
: Lasolo-Konaweha

Lokasi Pos
Data Geografis
Kabupaten/Kecamatan

: 95 km dari kota Kendari


: 0345'20,9"LS-12155'04,5"BT
: Konawe/Abuki

: 22

TAHUN

: 2011

Tahun Pendirian
Elevasi Pos
Dibangun Oleh
Provinsi
Pelaksana

: 1975
: 21 M
: BWS Sulawesi IV
: Sulawesi Tenggara
: BWS Sulawesi IV

Tabel Hujan Harian (mm)


TANGGAL

BULAN
Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

Des

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

11,0

4,6

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

34,0

33,0

0,0

0,0

0,0

7,0

0,0

0,0

0,0

6,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

28,0

4,0

0,0

0,0

1,0

0,0

4,0

0,0

10,9

17,0

27,0

19,0

0,0

0,0

0,0

4,0

0,0

0,0

0,0

2,0

40,9

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

14,0

0,0

1,3

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

19,0

15,0

0,0

0,0

0,5

10,0

0,0

0,0

0,0

0,0

21,0

0,0

0,0

0,0

0,0

28,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

14,0

0,0

17,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10,9

0,0

10

32,0

14,0

0,0

13,0

0,0

0,0

8,0

20,4

0,0

0,0

30,6

20,8

11

0,0

0,0

29,0

0,0

10,0

21,0

34,0

0,0

5,0

0,0

0,0

0,0

12

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

2,6

0,0

0,0

13

0,0

0,0

0,0

9,0

0,0

0,0

24,0

0,0

18,0

0,0

10,0

0,0

14

19,0

13,0

36,0

0,0

15,0

0,0

48,0

0,0

6,0

0,0

0,0

0,0

15

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

4,0

16

0,0

0,0

0,0

21,0

23,0

0,0

7,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

17

0,0

7,0

0,0

0,0

0,0

47,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

18

0,0

0,0

29,0

45,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,0

20,3

0,0

19

29,0

0,0

0,0

29,0

24,0

0,0

28,0

0,0

0,0

0,0

20,4

0,0

20

5,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

2,0

0,0

0,0

10,8

0,0

21

0,0

18,0

11,0

0,0

17,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

50,5

22

0,0

0,0

0,0

16,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

23

7,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10,2

0,0

24

0,0

32,0

12,0

0,0

24,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

25

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

7,0

0,0

0,0

50,9

26

0,0

0,0

0,0

14,0

0,0

24,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

27

10,0

0,0

31,0

0,0

37,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,0

0,0

28

0,0

31,0

0,0

12,0

47,0

0,0

12,0

4,0

0,0

0,0

0,0

5,7

29

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,5

0,0

30

4,0

22,0

0,0

0,0

0,0

0,0

2,0

1,0

2,0

0,0

8,3

31

0,0

0,0

9,0

0,0

Jml. Curah Hujan

0,0

0,0

0,0

123,0

197,0

236,0

206,0

233,0

106,0

220,0

35,8

50,0

9,6

122,7

192,0

Jml. Hari Hujan

8,0

9,0

10,0

10,0

11,0

4,0

12,0

8,0

7,0

4,0

11,0

8,0

Rata-rata

4,0

6,8

7,6

6,9

7,5

3,5

7,1

1,2

1,7

0,3

4,1

6,2

Hujan Maks

32,0

34,0

36,0

45,0

47,0

47,0

48,0

20,4

18,0

4,0

30,6

50,9

DATA CURAH HUJAN HARIAN


Nama Pos

: Abuki

NO

DAS
Wilayah Sungai

: S. Lahumbuti
: Lasolo-Konaweha

Lokasi Pos
Data Geografis
Kabupaten/Kecamatan

: 95 km dari kota Kendari


: 0345'20,9"LS-12155'04,5"BT
: Konawe/Abuki

: 22

TAHUN

: 2012

Tahun Pendirian
Elevasi Pos
Dibangun Oleh
Provinsi
Pelaksana

: 1975
: 21 M
: BWS Sulawesi IV
: Sulawesi Tenggara
: BWS Sulawesi IV

Tabel Hujan Harian (mm)


TANGGAL

BULAN
Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

Des

4,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

3,0

0,0

0,0

10,5

0,0

0,0

0,0

10,8

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

17,0

0,0

0,0

3,7

0,0

5,8

0,0

0,0

0,0

0,0

30,7

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,0

0,0

0,0

0,0

20,5

40,6

0,0

0,0

0,0

20,3

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

20,8

60,8

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

50,6

1,0

0,0

0,0

0,0

5,8

60,4

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10,4

0,0

0,0

0,5

0,0

0,0

0,0

5,7

0,0

0,0

0,0

0,0

30,1

2,9

7,0

0,0

0,0

0,0

20,9

10

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

31,0

10,7

7,7

0,0

0,0

0,0

0,0

11

50,4

10,5

0,0

0,0

0,0

20,1

6,5

0,0

0,0

0,0

0,0

7,0

12

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

4,0

8,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

13

5,0

20,5

0,0

0,0

10,5

0,0

0,0

0,0

20,1

0,0

0,0

1,0

14

0,0

0,0

0,0

0,0

1,6

0,0

60,0

0,0

0,0

5,7

0,0

2,0

15

4,0

0,0

0,0

0,0

0,0

20,2

6,2

0,0

11,9

0,0

0,0

0,0

16

6,0

5,0

0,0

0,0

0,0

20,8

10,6

0,0

0,0

0,0

0,0

60,4

17

30,6

0,0

0,0

0,0

2,0

10,3

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

18

60,4

5,7

0,0

0,0

0,0

20,2

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

19

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

2,0

0,0

1,0

0,0

0,0

3,0

20,2

20

10,4

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

21

2,0

20,6

0,0

0,0

6,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

5,0

0,0

22

20,6

0,0

0,0

0,0

10,0

3,1

0,0

0,0

0,0

0,0

10,9

0,0

23

0,0

0,0

0,0

0,0

10,6

0,0

0,0

10,2

0,0

0,0

3,0

0,0

24

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

6,7

0,0

0,0

4,1

0,0

25

0,0

6,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10,4

0,0

0,0

0,0

1,0

26

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

6,2

0,0

0,0

0,0

0,0

27

0,0

70,0

0,0

0,0

40,1

0,0

0,0

8,8

0,0

0,0

0,0

0,0

28

0,0

0,0

0,0

0,0

30,0

0,0

0,0

0,0

0,0

2,7

10,0

5,0

29

0,0

0,0

0,0

0,0

7,9

0,0

2,0

0,0

10,6

0,0

0,0

0,0

30

10,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

3,0

0,0

10,1

31

0,0

0,0

0,0

0,0

4,7

0,0

0,0

Jml. Curah Hujan

265,5

152,8

0,0

0,0

123,4

262,8

268,7

75,0

43,1

11,4

63,0

127,6

Jml. Hari Hujan

14,0

11,0

0,0

0,0

10,0

17,0

11,0

9,0

4,0

3,0

9,0

9,0

Rata-rata

8,6

5,3

0,0

0,0

4,0

8,8

8,7

2,4

1,4

0,4

2,1

4,1

Hujan Maks

60,4

70,0

0,0

0,0

40,1

31,0

60,8

17,0

20,1

5,7

20,3

60,4

DATA CURAH HUJAN HARIAN


Nama Pos

: Abuki

NO

DAS
Wilayah Sungai

: S. Lahumbuti
: Lasolo-Konaweha

Lokasi Pos
Data Geografis
Kabupaten/Kecamatan

: 95 km dari kota Kendari


: 0345'20,9"LS-12155'04,5"BT
: Konawe/Abuki

: 22

TAHUN

: 2013

Tahun Pendirian
Elevasi Pos
Dibangun Oleh
Provinsi
Pelaksana

: 1975
: 21 M
: BWS Sulawesi IV
: Sulawesi Tenggara
: BWS Sulawesi IV

Tabel Hujan Harian (mm)


TANGGAL

BULAN
Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

Des

10,0

3,1

20,2

0,0

1,9

9,0

29,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

26,0

0,0

34,0

1,3

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,5

20,0

2,0

0,0

10,2

0,0

0,0

0,0

21,0

0,0

20,0

20,0

0,0

3,9

0,0

0,0

0,0

0,0

44,0

3,2

14,0

0,0

0,0

0,0

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

36,0

9,3

3,8

0,0

0,0

0,0

0,0

2,8

7,0

0,0

10,9

8,3

0,0

3,6

0,0

12,0

2,8

2,8

0,0

0,0

0,0

1,3

0,0

0,0

5,6

2,5

0,0

0,0

5,2

5,2

0,0

0,0

10

0,0

0,0

4,5

0,0

1,3

0,0

54,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

11

0,0

1,5

10,4

12,0

3,7

3,0

25,0

0,0

0,0

0,0

6,0

0,0

12

0,0

4,0

10,0

6,3

10,0

2,0

24,0

6,0

0,0

0,0

0,0

0,0

13

0,0

0,0

9,9

0,0

5,8

6,4

50,0

0,0

0,0

0,0

0,0

3,6

14

0,0

0,0

3,2

1,9

0,0

0,0

43,0

0,0

0,0

0,0

0,0

6,1

15

8,0

30,2

0,0

0,0

0,0

0,0

110,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

16

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

60,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

17

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

29,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

4,0

18

0,0

0,0

0,0

13,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

4,0

0,0

19

4,1

0,0

0,0

4,7

9,4

0,0

46,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

20

5,0

0,0

0,0

0,0

0,0

19,0

48,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

21

0,0

0,0

9,5

4,9

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

57,0

29,6

22

5,0

0,0

2,0

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

20,0

0,0

23

0,0

0,0

10,5

0,0

0,0

19,0

27,5

0,0

0,0

0,0

1,0

0,0

24

1,0

0,0

0,0

4,0

14,0

0,0

26,0

0,0

0,0

0,0

4,0

0,0

25

0,0

0,0

0,0

19,5

4,3

0,0

29,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

26

1,0

8,0

0,0

0,9

0,0

0,0

26,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

27

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

28

0,0

0,0

7,5

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

29

20,0

0,0

0,0

0,0

0,6

10,0

0,0

5,2

0,0

10,0

0,0

8,2

30

30,2

0,0

0,0

0,0

27,0

3,8

14,0

0,0

0,0

8,0

0,0

31

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

14,0

Jml. Curah Hujan

93,3

48,1

108,8

78,5

164,6

145,0

674,1

38,5

28,0

38,0

100,5

94,2

Jml. Hari Hujan

11,0

6,0

12,0

11,0

14,0

14,0

19,0

5,0

3,0

4,0

8,0

10,0

Rata-rata

3,0

1,7

3,5

2,6

5,3

4,8

21,7

1,2

0,9

1,2

3,4

3,0

Hujan Maks

30,2

30,2

20,2

19,5

44,0

29,0

110,0

14,0

20,0

20,0

57,0

29,6

DATA CURAH HUJAN HARIAN


Nama Pos

: Abuki

NO

DAS
Wilayah Sungai

: S. Lahumbuti
: Lasolo-Konaweha

Lokasi Pos
Data Geografis
Kabupaten/Kecamatan

: 95 km dari kota Kendari


: 0345'20,9"LS-12155'04,5"BT
: Konawe/Abuki

: 22

TAHUN

: 2014

Tahun Pendirian
Elevasi Pos
Dibangun Oleh
Provinsi
Pelaksana

: 1975
: 21 M
: BWS Sulawesi IV
: Sulawesi Tenggara
: BWS Sulawesi IV

Tabel Hujan Harian (mm)


TANGGAL

BULAN
Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

6,3

0,0

3,7

3,1

12,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

7,1

0,0

9,7

3,0

0,0

17,5

7,0

0,0

0,0

0,0

0,0

50,0

11,0

0,5

0,0

0,0

0,0

2,8

0,0

0,5

0,0

0,0

0,0

4,0

0,0

1,9

0,0

0,0

0,0

19,5

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,2

9,2

40,0

0,0

11,6

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

5,1

0,0

0,0

52,0

16,0

18,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

19,0

0,0

0,5

0,0

54,0

10,5

0,0

28,0

0,0

0,0

50,0

0,0

0,0

13,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

42,0

0,0

0,0

0,0

0,0

34,5

54,0

0,0

57,0

0,0

24,0

0,0

20,2

0,0

0,0

0,0

0,0

10

8,6

17,5

0,0

0,0

2,3

14,0

0,0

7,6

0,0

0,0

0,0

0,0

11

0,0

23,0

0,5

0,0

7,8

12,0

11,5

5,8

0,0

0,0

0,0

30,0

12

0,0

0,0

3,5

0,0

0,0

6,4

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

13

0,0

0,0

3,0

0,0

57,0

28,0

0,0

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

14

0,0

1,1

7,0

13,0

27,5

12,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

30,7

15

0,0

0,0

0,0

0,0

1,5

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

11,7

0,0

16

0,0

11,0

0,0

16,0

0,0

20,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

9,3

17

18,8

2,0

17,0

6,4

0,0

15,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

18

0,0

13,3

0,0

0,0

7,5

20,0

7,4

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

19

0,0

0,0

0,0

0,0

18,0

25,0

15,5

0,0

0,0

0,0

0,0

8,7

20

0,0

0,0

4,6

0,0

0,0

15,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

21

0,0

8,0

5,2

0,0

8,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

30,0

22

0,0

12,6

0,0

0,0

1,5

12,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10,0

23

0,0

6,0

0,0

0,0

15,7

7,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

24

0,0

0,0

3,2

17,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,3

25

15,0

27,0

8,1

0,0

0,0

10,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

2,4

26

0,0

0,0

0,0

12,0

0,0

5,5

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

9,8

27

0,0

1,9

0,0

0,0

19,5

20,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

28

0,0

0,0

2,6

22,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

29

17,0

0,0

0,0

0,0

13,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

30

0,0

0,0

2,0

7,5

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

31

0,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

Des

0,0

Jml. Curah Hujan

142,4

194,0

79,8

243,5

255,8

338,8

41,4

107,1

0,0

0,0

61,7

186,2

Jml. Hari Hujan

10,0

16,0

15,0

12,0

15,0

23,0

4,0

7,0

0,0

0,0

2,0

11,0

Rata-rata

4,6

6,9

2,6

8,1

8,3

11,3

1,3

3,5

0,0

0,0

2,1

6,0

Hujan Maks

34,5

54,0

17,0

57,0

57,0

28,0

15,5

42,0

0,0

0,0

50,0

50,0

DATA CURAH HUJAN HARIAN


Nama Pos

: Mowewe

NO

DAS
Wilayah Sungai

: S. Konaweha
: Lasolo-Konaweha

Lokasi Pos
Data Geografis
Kabupaten/Kecamatan

: 45 km dari kota Rate-Rate


: 0350'15,1"LS-12143'56,2"BT
: Kolaka/Mowewe

: 07

TAHUN

: 2000

Tahun Pendirian
Elevasi Pos
Dibangun Oleh
Provinsi
Pelaksana

: 1978
: 13 M
: BWS Sulawesi IV
: Sulawesi Tenggara
: BWS Sulawesi IV

Tabel Hujan Harian (mm)


TANGGAL

BULAN
Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

0,0

10,0

0,0

10,0

9,0

0,0

15,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

15,0

10,0

18,0

0,0

0,0

15,0

0,0

12,0

6,0

0,0

0,0

0,0

0,0

16,0

23,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

5,0

0,0

0,0

0,0

0,0

55,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10,0

0,0

0,0

8,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10,0

15,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

40,0

0,0

7,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

5,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

20,0

0,0

11,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

9,0

0,0

0,0

0,0

10,0

0,0

10

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

16,0

0,0

0,0

11

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

12

16,0

0,0

0,0

20,0

0,0

25,0

0,0

0,0

10,0

20,0

8,0

0,0

13

0,0

6,0

0,0

10,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

14

30,0

0,0

10,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

42,0

0,0

0,0

15

0,0

0,0

5,0

0,0

0,0

0,0

0,0

13,0

0,0

10,0

0,0

0,0

16

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

12,0

0,0

0,0

0,0

15,0

0,0

0,0

17

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

55,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

18

0,0

0,0

0,0

0,0

20,0

10,0

10,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

19

40,0

0,0

0,0

0,0

8,0

15,0

0,0

45,0

0,0

0,0

0,0

0,0

20

0,0

15,0

15,0

0,0

25,0

50,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

21

0,0

0,0

0,0

0,0

5,0

8,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

22

28,0

0,0

20,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

40,0

0,0

23

5,0

0,0

0,0

0,0

15,0

17,0

0,0

0,0

0,0

39,0

0,0

0,0

24

0,0

0,0

25,0

15,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

25

7,0

0,0

10,0

0,0

0,0

0,0

0,0

15,0

20,0

0,0

0,0

5,0

26

0,0

8,0

0,0

0,0

0,0

13,0

10,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10,0

27

0,0

0,0

0,0

0,0

19,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

28

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

29

0,0

0,0

0,0

0,0

17,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

15,0

30

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

31

0,0

0,0

9,0

0,0

Jml. Curah Hujan

0,0

0,0

Des

0,0

157,0

44,0

85,0

63,0

133,0

256,0

149,0

84,0

30,0

197,0

58,0

59,0

Jml. Hari Hujan

9,0

5,0

6,0

5,0

9,0

13,0

8,0

4,0

2,0

8,0

3,0

6,0

Rata-rata

5,1

1,5

2,7

2,1

4,3

8,5

4,8

2,7

1,0

6,4

1,9

1,9

Hujan Maks

40,0

15,0

25,0

20,0

25,0

55,0

55,0

45,0

20,0

42,0

40,0

15,0

DATA CURAH HUJAN HARIAN


Nama Pos

: Mowewe

NO

DAS
Wilayah Sungai

: S. Konaweha
: Lasolo-Konaweha

Lokasi Pos
Data Geografis
Kabupaten/Kecamatan

: 45 km dari kota Rate-Rate


: 0350'15,1"LS-12143'56,2"BT
: Kolaka/Mowewe

: 07

TAHUN

: 2001

Tahun Pendirian
Elevasi Pos
Dibangun Oleh
Provinsi
Pelaksana

: 1978
: 13 M
: BWS Sulawesi IV
: Sulawesi Tenggara
: BWS Sulawesi IV

Tabel Hujan Harian (mm)


TANGGAL

BULAN
Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

Des

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

25,0

20,0

0,0

0,0

40,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

30,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

8,0

15,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

6,0

0,0

0,0

25,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

25,0

0,0

0,0

10,0

0,0

0,0

8,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10,0

0,0

15,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10

0,0

20,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

11

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

13,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10,0

10,0

12

20,0

0,0

25,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

13

0,0

0,0

0,0

30,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

15,0

0,0

14

0,0

0,0

0,0

15,0

0,0

10,0

8,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

15

0,0

0,0

0,0

20,0

0,0

20,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

16

0,0

0,0

0,0

12,0

8,0

0,0

0,0

0,0

10,0

1,0

0,0

0,0

17

0,0

0,0

10,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

18

10,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

19

15,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

4,0

20

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

30,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

21

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

15,0

23,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

22

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

23

12,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

8,0

0,0

0,0

0,0

25,0

0,0

24

0,0

15,0

0,0

0,0

26,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

25

20,0

0,0

0,0

0,0

35,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

26

5,0

6,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

27

25,0

20,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

28

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

29

0,0

0,0

0,0

10,0

0,0

0,0

0,0

0,0

15,0

0,0

0,0

0,0

30

0,0

0,0

0,0

20,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

8,0

0,0

31

15,0

0,0

31,0

0,0

Jml. Curah Hujan

0,0

8,0

0,0

122,0

109,0

66,0

97,0

89,0

146,0

70,0

0,0

25,0

34,0

108,0

39,0

Jml. Hari Hujan

8,0

6,0

5,0

6,0

4,0

9,0

4,0

0,0

2,0

3,0

6,0

3,0

Rata-rata

3,9

3,8

2,1

3,2

2,9

4,9

2,3

0,0

0,8

1,1

3,6

1,3

Hujan Maks

25,0

40,0

25,0

30,0

35,0

30,0

31,0

0,0

15,0

25,0

30,0

25,0

DATA CURAH HUJAN HARIAN


Nama Pos

: Mowewe

NO

DAS
Wilayah Sungai

: S. Konaweha
: Lasolo-Konaweha

Lokasi Pos
Data Geografis
Kabupaten/Kecamatan

: 45 km dari kota Rate-Rate


: 0350'15,1"LS-12143'56,2"BT
: Kolaka/Mowewe

: 07

TAHUN

: 2002

Tahun Pendirian
Elevasi Pos
Dibangun Oleh
Provinsi
Pelaksana

: 1978
: 13 M
: BWS Sulawesi IV
: Sulawesi Tenggara
: BWS Sulawesi IV

Tabel Hujan Harian (mm)


TANGGAL

BULAN
Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

Des

0,0

0,0

0,0

10,0

40,0

0,0

0,0

0,0

0,0

5,0

0,0

0,0

0,0

0,0

3,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10,0

0,0

0,0

0,0

25,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

5,0

0,0

0,0

0,0

5,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

30,0

30,0

0,0

5,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10,0

35,0

0,0

40,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

15,0

10,0

0,0

20,0

20,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

6,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

9,0

0,0

35,0

10,0

0,0

0,0

0,0

0,0

25,0

0,0

10

0,0

0,0

0,0

20,0

20,0

15,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10,0

0,0

11

0,0

1,0

0,0

0,0

20,0

25,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

12

25,0

5,0

0,0

0,0

0,0

12,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

13

20,0

0,0

0,0

0,0

0,0

19,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

14

15,0

0,0

0,0

10,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

15

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

16

35,0

0,0

0,0

25,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

17

0,0

0,0

0,0

10,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

18

8,0

0,0

0,0

0,0

0,0

13,0

0,0

0,0

0,0

0,0

20,0

20,0

19

0,0

0,0

25,0

20,0

0,0

10,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

18,0

20

0,0

12,0

8,0

0,0

0,0

18,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

6,0

21

0,0

5,0

15,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10,0

0,0

0,0

0,0

4,0

22

0,0

30,0

9,0

0,0

0,0

13,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

12,0

23

0,0

20,0

0,0

0,0

0,0

21,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

24

17,0

0,0

10,0

0,0

0,0

14,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

25

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

26

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

27

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

28

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

29

0,0

0,0

0,0

15,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

30

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

31

28,0

0,0

0,0

0,0

Jml. Curah Hujan

0,0

0,0

0,0

148,0

128,0

130,0

110,0

205,0

220,0

0,0

25,0

0,0

20,0

55,0

60,0

Jml. Hari Hujan

7,0

10,0

10,0

7,0

7,0

13,0

0,0

3,0

0,0

3,0

3,0

5,0

Rata-rata

4,8

4,4

4,2

3,7

6,6

7,3

0,0

0,8

0,0

0,6

1,8

1,9

Hujan Maks

35,0

30,0

35,0

25,0

40,0

30,0

0,0

10,0

0,0

10,0

25,0

20,0

DATA CURAH HUJAN HARIAN


Nama Pos

: Mowewe

NO

DAS
Wilayah Sungai

: S. Konaweha
: Lasolo-Konaweha

Lokasi Pos
Data Geografis
Kabupaten/Kecamatan

: 45 km dari kota Rate-Rate


: 0350'15,1"LS-12143'56,2"BT
: Kolaka/Mowewe

: 07

TAHUN

: 2003

Tahun Pendirian
Elevasi Pos
Dibangun Oleh
Provinsi
Pelaksana

: 1978
: 13 M
: BWS Sulawesi IV
: Sulawesi Tenggara
: BWS Sulawesi IV

Tabel Hujan Harian (mm)


TANGGAL

BULAN
Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

Des

0,0

0,0

0,0

0,0

20,0

13,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

20,0

0,0

0,0

0,0

15,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

12,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

15,0

0,0

0,0

0,0

18,0

0,0

0,0

15,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10,0

0,0

8,0

10,0

0,0

0,0

10,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,3

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10,0

0,0

15,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

7,0

0,0

0,0

1,3

0,0

0,0

0,0

0,0

10

0,0

45,0

0,0

0,0

13,0

0,0

0,0

17,6

0,0

0,0

0,0

0,0

11

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

12

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

13,1

0,0

0,0

0,0

0,0

13

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

20,0

0,0

13,7

0,0

0,0

0,0

16,9

14

0,0

25,0

30,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

10,0

0,0

44,9

0,0

15

0,0

0,0

0,0

20,0

0,0

0,0

0,0

0,0

20,0