Anda di halaman 1dari 36

KATA PENGANTAR

Nota Desain ini disusun untuk memenuhi kewajiban yang tercantum di


dalam kontrak FASILITAS PENYUSUNAN RENCANA INDUK SISTEM
PENGELOLAAN AIR LIMBAH DAN DED DI KABUPATEN SERAM
BAGIAN BARAT. Berikut ini kami sampaikan Nota Desain yang
berisikan antara lain :
1)

Pendahuluan,

2)

Gambaran Perencanaan,

3)

Perencanaan SSC (Solid Separation chamber),

4)

Perencanaan Kolam Anaerobik

5)

Perencanaan Kolam Fakultatif

6)

Perencanaan Kolam Maturasi

7)

Perencanaan SDB (Sludge Drying Bed)

Demikian Nota Desain ini kami sampaikan dan atas perhatian serta
kerjasamanya kami ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya.
Ambon, Desember 2015
PT. SPEKTRA ADHYA PRASARANA

Ahmad Sadeli., ST
Team Leader

DAFTAR ISI
Contents
1

BAB I................................................................................................ 6
1.1

LATAR BELAKANG......................................................................6

1.2

MAKSUD, TUJUAN, DAN SASARAN..............................................6

1.2.1

Maksud................................................................................ 6

1.2.2

Tujuan..................................................................................7

1.2.3

Sasaran...............................................................................7

1.3
2

RUANG LINGKUP........................................................................7

BAB II............................................................................................... 9
2.1

LOKASI PEKERJAAN....................................................................9

2.2

RENCANA JUMLAH PENDUDUK YANG DILAYANI OLEH IPLT.......10

2.3

TIMBULAN LUMPUR TINJA.........................................................11

BAB III............................................................................................ 12
3.1

UMUM...................................................................................... 12

3.2

STANDAR KUALITAS AIR BUANGAN..........................................12

3.3

PENGERTIAN LUMPUR TINJA.....................................................13

3.4

KARAKTERISTIK LUMPUR TINJA.................................................13

3.5

INSTALASI PENGOLAHAN LUMPUR TINJA..................................14

3.6

UNIT PENGOLAHAN LUMPUR TINJA DI IPLT KABUPATEN SERAM

BAGIAN BARAT..................................................................................15
4

BAB IV............................................................................................ 17
4.1

SLUDGE SEPARATION CHAMBER (SSC).....................................17

4.2

KOLAM ANAEROBIK..................................................................19

4.3

KOLAM FAKULTATIF...................................................................23

4.4

KOLAM MATURASI....................................................................25

4.5

SLUDGE DRYING BED (SDB).....................................................31

DAFTAR TABE
Tabel 2. 1 Jumlah penduduk yang dilayani IPLT Piru.............................11
Tabel 2. 2 Perhitungan timbulan lumpur tinja wilayah pelayanan........11
Y
Tabel 3. 1 Baku Mutu Air Limbah berdasarkan Peraturan Menteri LHK
No.68 tahun 2016................................................................................12
Tabel 3. 2 Karakteristik lumpur tinja (Dirjen Cipta Karya - Kemen.PU,
2011).................................................................................................... 14
Tabel 3. 3 Karakteristik Lumpur (Metcalf & Eddy, 1991)......................14

Tabel 4. 1 Kriteria Desain Perencanaan SSC (Sludge Separation


Chamber)............................................................................................. 17
Tabel 4. 2 Variasi Temperatur dan Waktu Detensi................................19
Tabel 4. 3 Kriteria desain Kolam Fakultatif (Joni Hermana, 2008).........23
Tabel 4. 4 Kriteria Desain Kolam Maturasi (Joni Hermana, 2008).........26
Tabel 4. 5 Kriteria Desain Perencanaan SDB........................................32
Tabel 4. 6 Durasi Pengurasan Lumpur..................................................32
Tabel 4. 7 Ringkasan Dimensi...............................................................33

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 1 Lokasi IPLT Piru..................................................................9


Gambar 2. 2 Lokasi IPLT di TPA Piru......................................................10

Gambar 4. 1 Mass Balance BOD di IPLT Piru Kabupaten Seram Bagian


Barat.................................................................................................... 36

1 BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Perkembangan penduduk yang pesat mempengaruhi timbulan limbah
yang cukup signifikan. Hal ini berdampak pada terjadinya penurunan
(degradasi) kualitas lingkungan secara luar biasa dengan berbagai
kerusakan dan tercemarnya lingkungan yang pada akhirnya akan
berdampak pada kesehatan masyarakat, ekonomi, sosial, dan lain
sebagainya.
Limbah domestik (baik limbah cair maupun limbah padat) menjadi
permasalahan lingkungan karena secara kuantitas maupun tingkat
bahayanya

mengganggu

kesehatan

manusia,

mencemari

lingkungan, dan mengganggu kehidupan makhluk hidup lainnya.


Rendahnya kesadaran dan pengetahuan tentang perilaku hidup bersih
dan sehat,

pentingnya

sanitasi

serta belum memadainya

pemahaman masyarakat akan dampak air limbah yang tidak diolah


berdampak

berjangkitnya

penyakit

yang

berkaitan

dengan

pencemaran air limbah, yang pada akhirnya akan menurunkan derajat


kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan.
Pada

setiap

perencanaan

dalam

hal

ini

berupa

unit

Instalasi

Pengolahan Lumpur Tinja ( IPLT ) diperlukan rencana yang mengikuti


pedoman acuan untuk menghasilkan rancangan yang optimal baik dari
sisi teknis maupun dari sisi pembiayaan.
Oleh karena itu rancangan teknis DED Instalasi Pengolahan Lumpur
Tinja ( IPLT ) Kabupaten Seram Bagian Barat ini disusun mengikuti
kriteria perencanaan yang telah dianalisa, sehingga menghasilkan
sistem yang implementatif.

MAKSUD, TUJUAN, DAN SASARAN

1.1.1

Maksud

Perencanaan DED ini adalah menyiapkan dokumen Perencanaan Detail


Engineering Design (DED) Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT)
Kabupaten Seram Bagian Barat beserta sarana penunjangnya yang
sesuai dengan kriteria teknis yang berlaku.
1.1.2

Tujuan

Tujuan yang hendak dicapai dari kegiatan ini adalah merencanakan


penanganan Pengolahan Lumpur Tinja secara terpadu baik dari segi
aspek teknik, organisasi maupun peran serta masyarakat. Secara rinci
tujuan perencanaan DED Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) ini
adalah :
1. Mengidentifikasi seluruh permasalahan yang timbul terhadap
pengelolaan air limbah dengan system yang berlaku sampai saat
ini.
2. Mengembangkan sistem instalasi pengolahan lumpur tinja (IPLT)
yang efektif, efisien dan berkelanjutan untuk meningkatkan
kualitas sumber daya air dan lingkungan.
3. Memperoleh perencanaan yang komprehensif serta ramah
lingkungan sesuai standar yang berlaku.
1.1.3

Sasaran

Adapun sasaran pada pekerjaan DED IPLT Kabupaten Seram Bagian


Barat ini antara lain :
a. Teridentifikasikannya permasalahan instalasi pengolahan lumpur
tinja (IPLT) di Kabupaten Seram Bagian Barat
b. Terekomendasikannya penanganan instalasi pengolahan lumpur
tinja (IPLT) yang dianggap paling efektif dan cocok untuk
Kabupaten Seram Bagian Barat, berupa perencanaan DED
instalasi pengolahan lumpur tinja (IPLT).
c. Tersusunnya dokumen DED instalasi pengolahan lumpur tinja
(IPLT)

Kabupaten Seram Bagian Barat yang akan menjadi

dokumen pelaksanaan fisik.


d. Tersedianya dokumen tender yang siap dilelangkan.

1.2

RUANG LINGKUP

Ruang lingkup dari perencanaan IPLT Kabupaten Seram Bagian Barat


meliputi:
a. Deskripsi Wilayah Perencanaan
b. Kriteria Perencanaan, yang terdiri dari:
Periode Desain
Karakteristik Lumpur Tinja
Alternatif Pengolahan
Pemilihan Pengolahan
Preliminary Sizing
Mass Balance, dan
Detailed Engineering Design IPLT Kab. Kab. Seram Bagian
Barat

2 BAB II
GAMBARAN UMUM LOKASI PERENCANAAN

2.1

LOKASI PEKERJAAN

Pemilihan lokasi Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) Kabupaten


Seram

Bagian

Barat

direncanakan

berada

di

TPA

(Tempat

Penampungan Akhir) sampah Desa Piru Kecamatan Seram Barat.


Pemilihan

ini

berdasarkan

arahan

dan

ketersediaan

lahan

dari

Pemerintah daerah Setempat. Adapun Peta Lokasi dan Foto hasil


survey IPLT di Kabupaten Seram Bagian Barat tersebut dapat lihat pada
gambar-gambar berikut.

Lokasi IPLT di TPA Piru

Gambar 2. 1 Lokasi IPLT Piru

Gambar 2. 2 Lokasi IPLT di TPA Piru

2.2

RENCANA JUMLAH PENDUDUK YANG DILAYANI OLEH IPLT

Rencana jumlah penduduk yang akan dilayani oleh IPLT Piru dalam
jangka waktu mendesak ini yaitu terdiri dari 3 Kecamatan antara lain :
Kecamatan Seram Barat, Kecamatan Kairatu, dan Kecamatan Kairatu
Barat. Hal ini sesuai dengan perencanaan masterplan air limbah yang
ada di Kabupaten Seram Bagian Barat. Adapun persentase pelayanan
dari setiap kecamatan ini berbeda-beda. Untuk Kecamatan Seram
Barat karena kecamatan ini merupakan ibukota kabupaten maka
rencana pelayanan di target kan 100%, sedangkan untuk Kecamatan
Kairatu dan Kairatu Barat target pelayanan diperkirakan masingmasing sebesar 20% dari jumlah penduduk hal ini terkait dengan
jangkauan dan akses jalan dari setiap desa yang akan dilayani oleh
truk tinja menuju Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT), serta
banyaknya septik tank yang dimiliki oleh penduduk di Kecamatan
Kairatu dan Kairatu Barat.

Tabel 2. 1 Jumlah penduduk yang dilayani IPLT Piru

2.3

TIMBULAN LUMPUR TINJA

Pada perencanaan jangka mendesak tahun 2017, dikarenakan IPLT


baru terbangun, untuk wilayah pelayanan tiga kecamatan antara lain
Kecamatan Seram Barat, Kecamatan Kairatu, da Kecamatan Kairatu
Barat cakupan pelayanan ditargetkan 30% pada tahun 2017, 60% pada
tahun 2018, dan 100% pada tahun 2019 dengan jumlah penduduk
yang terlayani sebesar 38.386 jiwa dengan total jumlah rumah yang
dilayani sebanyak 7657 rumah. Jumlah timbulan lumpur tinja pada
tahun 2019 sebesar 19.143 lt/hari dengan lumpur tinja rata-rata
sebesar 19 m3/hari. Untuk lebih jelasnya terkait timbulan lumpur, debit
lumpur serta kebutuhan mobil tinja dapat dilihat pada tabel dibawah ini
:
Tabel 2. 2 Perhitungan timbulan lumpur tinja wilayah pelayanan

BAB III

DASAR-DASAR PERENCANAAN

3.1

UMUM

Sanitasi lingkungan yang kurang baik, dapat disebabkan oleh kondisi


pembuangan air limbah dan lumpur tinja yang dilakukan kurang
higienis.

Pembuangan

tinja

manusia

yang

tidak

layak

dapat

menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan berupa pencemaran


air, baik pencemaran air tanah maupun air permukaan, dan dapat pula
mengakibatkan terjadinya gangguan estetika.
Untuk menghindari dampak yang akan timbul sebagai akibat dari
pembuangan tinja manusia yang tidak layak, maka tinja manusia
tersebut perlu diolah terlebih dahulu.
Setelah proses pengolahan, pembuangan akhir lumpur tinja harus
berdasarkan kondisi lumpur yang sudah tidak potensial tetapi masih
dapat digunakan untuk lingkungan misalnya pupuk tanaman.

3.2

STANDAR KUALITAS AIR BUANGAN

Dalam mengevaluasi karakter air buangan yang akan diolah pada


instalasi dan untuk menghitung beban atau efisiensi pengolahan
instalasi yang diperlukan dengan membandingkan konsentrasi effluent
standar yang mengacu pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan
Kehutanan No. 68 Tahun 2016 Tentang Baku Mutu Air Limbah
Domestik.
Tabel 3. 1 Baku Mutu Air Limbah berdasarkan Peraturan Menteri LHK No.68 tahun 2016

3.3

PENGERTIAN LUMPUR TINJA

Lumpur tinja adalah material berupa padatan dan cairan yang


merupakan hasil pemompaan dari tangki septik. Material tersebut

merupakan lumpur yang telah mengendap dalam dasar tangki septik


selama periode tertentu.

3.4

KARAKTERISTIK LUMPUR TINJA

Material yang terkandung dalam lumpur tinja berupa padatan zat-zat


organik, lemak, yang berpotensi sebagai tempat tumbuh berbagai
virus penyakit, bakteri dan parasit. Lumpur tinja mempunyai nutrient
dalam konsentrasi yang cukup tinggi dibandingkan dengan yang
terdapat dalam kandungan air limbah.
Untuk

melakukan

pemilihan

alternatif

sistem

pengolahan

IPLT

Kabupaten Seram Bagian Barat, perlu diketahui karakteristik lumpur


tinja yang akan diolah, untuk kemudian digunakan sebagai dasar
perhitungan sistem pengolahan IPLT Data yang diperlukan antara lain:
1. Data Karakteristik lumpur tinja dari Pedoman PU mengenai
Petunjuk Teknis Tata Cara Perencanaan IPLT (CT/AL/Re-TC/001/98)
2. Data empiris Hasil Pemeriksaan Laboratorium Sampel Air Limbah
Kabupaten Seram Bagian Barat.
3. Data Teori Karakteristik Lumpur Tinja dari Metcalf & Eddy, 1991.
Kriteria kuantitas dan kualitas lumpur tinja yang akan diolah menurut
Pedoman PU mengenai Petunjuk Teknis Tata Cara Perencanaan IPLT
(CT/AL/Re-TC/001/98):
1)
2)
3)
4)
5)

Laju/kapasitas lumpur tinja (cairan dan endapan) = 0,5 l/org.hari


KOB = 5.000 mg/l
TS = 40.000 mg/l
TVS = 25.000 mg/l
TSS = 15.000 mg/l

Tabel 3. 2 Karakteristik lumpur tinja (Dirjen Cipta Karya - Kemen.PU, 2011)

Tabel 3. 3 Karakteristik Lumpur (Metcalf & Eddy, 1991)

3.5

INSTALASI PENGOLAHAN LUMPUR TINJA

IPLT (Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja) adalah instalasi pengolahan


air limbah yang dirancang hanya menerima dan mengolah lumpur tinja
yang diangkut melalui mobil (truk tinja) atau gerobak motor tinja.
Lumpur tinja diambil dari unit pengolahan limbah tinja seperti tangki
septik. IPLT dirancang untuk mengolah lumpur tinja sehingga tidak
membahayakan bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.

3.6

UNIT PENGOLAHAN LUMPUR TINJA DI IPLT KABUPATEN


SERAM BAGIAN BARAT

Unit unit yang umum digunakan untuk mengolah lumpur tinja di


Indonesia adalah umumnya kombinasi tangki imhoff dan kolam
stabilisasi atau hanya menggunakan kolam stabilisasi saja. Rencana
unit pengolahan

lumpur tinja yang ada di IPLT Kabupaten Seram

Bagian Barat antara lain sebagai berikut :


a. Kolam Solid Separation Chamber (SSC), fungsinya pada bak ini
ini yaitu proses pemisahan lumpur dan air.
b. Kolam Anaerobik, fungsinya untuk mengolah kandungan organik
yang

memiliki

nilai

memanfaatkan

BOD

mikroba

dan

COD

anaerobik.

tinggi

yaitu

dengan

Keberhasilan

proses

penguraian dalam sistem ini sangat tergantung pada aktivitas


mikroba pembentuk asam dan mikroba pembentuk gas metan.
Kondisi anaerobik dapat peroleh dengan mengatur kedalaman
kolam pengolahan minimal 2 m, dimana pada kedalaman
tersebut diharapkan proses terjadi secara anaerobik (tanpa
oksigen) dari udara bebas.
c. Kolam Fakultatif, fungsinya untuk mengolah kandungan organik
yang dengan memanfaatkan mikroba fakultatif (dapat hidup
dengan atau tanpa oksigen). Pada kolam fakultatif berlangsung
proses aerobik (dengan oksigen) pada bagian atas kolam dan
proses anerobik (tanpa oksigen) pada bagian dasar kolam.
d. Kolam Maturasi, fungsinya untuk mengolah kandungan organik
dengan memanfaatkan mikroba aerobik. Selama penguraian,
mikroba aerobik membutuhkan senyawa nutrien, termasuk
nitrogen

dan

pospor.

Kolam

maturasi

dirancang

untuk

menyempurnakan penguraian hasil efluen dari unit sebelumnya.


Dengan kata lain kolam maturasi merupakan pengolahan
lanjutan dan disini proses nitrifikasi dapat terjadi. Kedalaman
optimal Bak Maturasi ini sekitar 1,0 m.
e. Bak Pengering Lumpur (Drying Bed),

fungsinya

untuk

mengeringkan lumpur dengan bantuan panas matahari. Air


limbah dari proses pengeringan, ditampung dan dialirkan lagi ke
kolam Anaerobik.

f.

Wetland, fungsinya seperti rawa buatan yang di buat untuk


mengolah air limbah domestik, untuk aliran air hujan dan
mengolah lindi (leachate) atau sebagai tempat hidup habitat liar
lainnya, selain itu juga untuk mengurangi kadar BOD, Nitrogen,
dan lain-lain.

4 BAB IV

PERHITUNGAN DESAIN UNIT SISTEM IPLT


Desain unit sistem IPLT Kabupaten Seram Bagian Barat terdiri dari Bak SSC
Kolam Anaerobik 1 Kolam Anaerobik 2 Kolam Fakulatif Kolam Maturasi 1
Maturasi 2 Wetland dan SDB Dengan kriteria desain dan perhitungan sebagai
berikut.

4.1

SLUDGE SEPARATION CHAMBER (SSC)

Karakteristik lumpur tinja yang akan diolah adalah sebagai berikut:

Debit awal perencanaan


= 6 m3/hari
BOD
= 3.000 mg/L
TSS
= 15.000 mg/l
Laju lumpur tinja (CT-AL-Re-TC-001-98) = 0,5 L/orang.hari

Untuk melakukan perhitungan SSC (Sludge Separation Chamber) digunakan


kriteria sebagai seperti yang disajikan pada tabel dibawah ini :
Tabel 4. 1 Kriteria Desain Perencanaan SSC (Sludge Separation Chamber)

Setelah mengetahui karakteristik lumpur tinja yang akan diolah, maka selanjutnya
dapat dilakukan perhitungan untuk mengetahui dimensi bangunan SSC. Berikut ini
merupakan perhitungan bangunan SSC:

Debit Lumpur Tinja


Debit influen = 6 m3/hari

Mass Balance BOD


Mass Balance BOD in

= Konsentrasi BOD In x Debit

= 3000 mg/L x 6000 L/hari


= 18000000 mg/hari
= 18 kg/hr
= 3000 mg/l

Mass Balance BOD rem

= 30% x Massa BOD in

= 30% x 18 kg/hari
= 5,4 kg/hari
= 900 mg/l

Mass Balance BOD out

= BOD in BOD Rem

= 18 kg/hr 5.4 kg/hr


= 12.6 kg/hr
= 2100 mg/l

Mass Balance TSS


Mass Balance TSS in

= Konsentrasi TSS In x Debit

= 15.000 mg/L x 6000 L/hari


= 90 kg/hari
= 15000 mg/l

Mass Balance TSS rem

= 30% x Massa TSS in

= 30% x 90 kg/hari
= 27 kg/hari
= 4500 mg/l

Mass Balance TSS Out

= TSS in TSS Rem

= 90 kg/hr 27 kg/hr
= 63 kg/hr
= 10500 mg/l

Dimensi SSC per unit


Dari perhiungan di atas dapat diperoleh dimensi SSC yaitu
Panjang SSC = 12 m (desain yang direncanakan ( 1:4)
Lebar SSC

=3m

Kedalaman = Tinggi cake + kedalaman bak pengendap + ketinggian


freeboard + ketinggian kerikil
Direncanakan ketinggian kerikil 30 cm, dan free board 45 cm.
Kedalaman SSC = 0,3 m+ 1,7 m + 0,3 m + 0,3 m + 0,45 m

= 2,7 m ~ 3 m

4.2

KOLAM ANAEROBIK

Kriteria Disain kolam anaerobik (Petunjuk Teknis CT/AL/Re-TC/001/98) :

Kedalaman air = (1,8-2,5) m;


Kedalaman air = (2,5-5) m (Qasim, 1985);
Kedalaman air = (2,4-4,9) m (Tchobanoglous, 1991);
Jagaan = (0,3-0,5) m;
Beban BOD Volumetrik = 350 g BOD/(m3.hari) pada >25oC (Duncan, 2003);
Rasio panjang dan lebar = (2-4) : 1;
Efisiensi pemisahan BOD 60%

Waktu detensi menyesuaikan dengan temperatur di lokasi pembangunan IPLT


(Direktorat PLP Cipta Karya PU (2013). Standar pemilihan waktu detensi dapat
dilihat pada tabel dibawah ini. Waktu detensi tidak disarankan terlalu lama karena
akan merubah kolam anaerobik menjadi kolam fakultatif.
Tabel 4. 2 Variasi Temperatur dan Waktu Detensi

Ketentuan :

TSS in = 63 kg/hr ;
BODin = 12.6 kg/l;
Kedalaman air (Petunjuk Teknis (CT-AL-Re-TC-001-98) adalah 1,8-2,5 m dan

tinggi jagaan adalah (0,3-0,5) m


h kolam
=3 meter
Removal BOD5
= 65%
Removal TSS= 75%

Perhitungan Kolam Anaerobik 1


Mass Balance BOD
BOD in
= 12.6 kg/hari
TSS in

Mass Balance BOD5 removal 65%


BOD in
Q

= 63 kg/hari

BOD Rem

= 12.6 Kg/ Hari


= 6 m3/hari
= 65% x 12.6 Kg/ hari
= 8.19 kg/hari
= 1365 mg/l

Mass Balance BOD out

= BOD in BOD Rem

= 12.6 kg/hr 8.19 kg/hr


= 4.41 kg/hr = 735 mg/l

Mass Balance TSS removal 75%


TSS in

= 63 Kg/ Hari

= 6 m3/hari

TSS Rem

= 75% x 63 Kg/ Hari


= 47.25 kg/hari
= 7875 mg/l

Mass Balance TSS Out

= TSS in TSS Rem

= 63 kg/hr 47.25 kg/hr


= 15.75 kg/hr
= 2625 mg/l

Dimensi Kolam Anaerobik 1


Volume (Va) = 6 m3 x td
= 6 m3 x 3 hari
= 18 m3

Luas (As)

Volume
h kolam

18
3

=6 m2

Td cek

Volume
=
Q

= 3 hari

Perbandingan dimensi
P:L

=2:1

= 2L2

7,34

= 2L2

= 1,7 m ~ 2 m

= 1,7 x 2 = 3,4 m ~ 4 m

Produksi Lumpur

18
6

Y = 0,05 (range 0,05 0,1)


Px

= Q . y . (BODin - BODout)
= 6 x 0,05 x (12.6 4.41)
= 2.457 kg / hari
= 409.5 mg/l

Lumpur total

= massa lumpur TSS + Px


= 63 kg/hari + 2.457 kg/hari
= 65.457 kg/hari
=10909.5 mg/l

Volume Lumpur total = 65.457 kg/hari / 1,03 kg /l= 0,063 m3/hari

Perencanaan Kolam Anaerobik 2


Mass Balance BOD
BOD in
TSS in

= 4.41 kg/ hari


= 15.75 kg/hari

BOD removal 65%


BOD in
Q

BOD Rem

= 4.41 Kg/ Hari


= 6 m3/hari
= 65% x 4.41 Kg/ hari
= 2,86 kg/hari
=477.75 mg/l

Mass Balance BOD out

= BOD in BOD Rem

= 4.41 kg/hr 2.86 kg/hr


= 1.55 kg/hr
= 258.3 mg/l

TSS removal 75%


TSS in

= 15.75 Kg/ Hari

= 6 m3/hari

TSS Rem

= 75% x 15.75 Kg/ Hari


= 11.81 kg/hari

= 1968.75 mg/l

Mass Balance TSS Out

= TSS in TSS Rem

= 15.75 kg/hr 11.81kg/hr


= 3.94 kg/hr
= 656.6 mg/l

Dimensi Kolam Anaerobik 2


Volume (Va) = 6 m3 x td
= 6 m3 x 3 hari
= 18 m3

Luas (As)

Volume
h kolam

18
2.45

=7.34 m2

Td cek

Volume
=
Q

18
6

= 3 hari

Perbandingan dimensi
P:L

=2:1

= 2L2

7,34

= 2L2

= 1,9 m ~ 2 m

= 1,9 x 2 = 3,8 m ~ 4 m

Produksi Lumpur
Y = 0,05 (range 0,05 0,1)
Px

= Q . y . (BODin - BODout)
= 6 x 0,05 x (4.41 1.55)
= 0.858 kg / hari

Lumpur total

= massa lumpur TSS + Px


= 15.75 kg/hari + 0.858 kg/hari
= 16.608 kg/hari

Volume Lumpur total = 16.608 kg/hari / 1,03 kg /l= 0,0161 m3/hari

4.3

KOLAM FAKULTATIF

Kriteria Disain kolam stabilisasi fakultatif (Petunjuk Teknis CT/AL/Re-TC/001/98):

Kedalaman air = (1,2-1,8) m;


Kedalaman air = (1,2-2,4) m (Tchobanoglous, 1991);
Jagaan = (0,3-0,5) m;
Rasio panjang dan lebar = (2-4) : 1;
Efisiensi pemisahan BOD 70%;
BOD influen 400 mg/L;
BOD efluen > 50 mg/L
Waktu Detensi 5-30 hari (Tchobanoglous, 1991).
Kedalaman air (Petunjuk Teknis (CT-AL-Re-TC-001-98) adalah 1,2-1,8 m dan

tinggi jagaan adalah (0,3-0,5) m


Removal BOD5
= 70%
Removal TSS= 75%
Tabel 4. 3 Kriteria desain Kolam Fakultatif (Joni Hermana, 2008)

Mass Balance BOD


BOD

= 1.55 kg/hari

TSS

= 3.94 kg/ hari

BOD removal 70%


BOD in
Q

BOD Rem

= 1.55 Kg/ Hari


= 6 m3/hari
= 70% x 1.55 Kg/ hari
= 1.08 kg/hari
= 180 mg/l

Mass Balance BOD out

= BOD in BOD Rem

= 1.55 kg/hr 1.08 kg/hr


= 0.47 kg/hr
= 78.3 mg/l

TSS removal 75%

TSS in = 3.94 Kg/ Hari


Q

= 6 m3/hari

TSS Rem

= 75% x 3.94 Kg/ Hari


= 2.95 kg/hari
= 492.5 mg/l

Mass Balance TSS Out

= TSS in TSS Rem

= 3.94 kg/hr 2.95kg/hr


= 0.99 kg/hr
= 165 mg/l

Perencanaan kolam fakultatif


Td = 18 hari ( Kriteria Desain)

Kedalaman air (Petunjuk Teknis (CT-AL-Re-TC-001-98) adalah 1,2-1,8 m dan

tinggi jagaan adalah (0,3-0,5) m, direncanakan h kolam = 1,5


As
= (td x Q)/h
= (18 x 6)/1.5
= 72 m2

Dimensi Kolam fakultatif

P:L

=2:1

As

= 2L2

72

= 2L2

=6m

= 12 m

Produksi Lumpur
Y = 0,4 (range 0,3 0,5)
Px

= Q . y . (BODin - BODout)
= 6 x 0,4 x (1.55 0.47)
= 2.59 kg / hari

Lumpur total

= massa lumpur TSS + Px


= 3.94 kg/hari + 2.59 kg/hari

= 6.53 kg/hari
Volume Lumpur total = 6.53 kg/hari / 1.03 kg /m3= 0.006 m3/hari

4.4

KOLAM MATURASI

Kriteria Desain
Berdasarkan

Buku

Pedoman

Limbah

modul

05-AL

tentang

Perencanaan

Pengelolaan Air Limbah Sistem Setempat (Direktorat PLP Cipta Karya PU (2013):

Kolam maturasi berbentuk kolam penampung dengan perbandingan

panjang dan lebar (2-4):1.


Kedalaman kolam dibuat antara (1-2) m sehingga dapat mempertahankan

kondisi aerobik.
Waktu detensi pada kolam maturasi antara (5-15) hari. Dasar kolam harus
dibuat kedap air untuk menghindari terjadinya rembesan atau infiltrasi ke
dalam tanah.

Kriteria kolam maturasi (Petunjuk Teknis CT/AL/Re-TC/001/98):

Kedalaman air = (0,8-1,2) m;


Kedalaman air = (0,9-1,5) m (Tchobanoglous, 1991);
Jagaan = (0,3-0,5) m;
Rasio panjang dan lebar = (2-4) : 1;
Waktu Detensi 5-20 hari (Tchobanoglous, 1991).
Removal BOD = 65%
Removal TSS = 65%
Konsentrasi fecal coli
= = 2 x 10MPN (Puslitbangkim,1991)

Tabel 4. 4 Kriteria Desain Kolam Maturasi (Joni Hermana, 2008)

Direncanakan kolam maturasi berjumlah 2 unit. Kolam ini adalah unit pengolahan
terakhir dari instalasi pengolahan lumpur tinja pada perencanaan kali ini. Berikut
ini merupakan karakteristik limbah lumpur tinja yang masuk ke unit kolam
maturasi:
TSS in = 0.99 kg/hr
BODin = 0.47 kg/hr

Mass Balance

BOD

= 0.47 kg/hari

TSS

= 0.99 kg/hr

BOD -> removal 65%


BOD in
Q

= 0.47 Kg/ Hari

= 6 m3/hari

BOD Rem

= 65% x 0.47 Kg/ hari


= 0.30 kg/hari
= 50 mg/l

Mass Balance BOD out

= BOD in BOD Rem

= 0.47 kg/hr 0.30 kg/hr


= 0.17 kg/hr
= 28.3 mg/l

TSS removal 65%


TSS in = 0.99 Kg/ Hari
Q

= 6 m3/hari

TSS Rem

= 65% x 0.99 Kg/ Hari


= 0,64 kg/hari
= 107,25 mg/l

Mass Balance TSS Out

= TSS in TSS Rem


= 0.99 kg/hr 0.64kg/hr
= 0.35 kg/hr
= 58.3 mg/l

Konstansta laju penyisihan fecal coliform (KT)

KT =

1,19
( T 20)
2,6

Dimana :
KT

= konstanta laju penyisihan fecal coliform (per hari)

= Temperatur (oC)

KT

= 2,6 x (1,19)27-20
= 8,79 hari

Jumlah bakteri fecal coliform dalam efluen (Ne)


Ne = Ni / ( 1 +( KbT x m)
Dimana :
Ne

= jumlah bakteri fecal coli dalam efluen / 100 ml

Ni

= jumlah bakter fecal coli dalam influen / 100 ml

KT= konstanta laju penyisihan fecal coliform


m = waktu detensi di kolam maturasi
Ne = Ni / ( 1 + (KbT x m))
= (2 x 10) / ( 1 + 8,79 x 10)
= 445125.98 per 100 ml
Perencanaan kolam maturasi 1
Td = 8 hari

Kedalaman air (Petunjuk Teknis (CT-AL-Re-TC-001-98) adalah 0,8-1,2 m dan

tinggi jagaan adalah (0,3-0,5) m


As
= (td x Q)/h
= ( 8x 6)/1
= 48 m2

Dimensi Kolam fakultatif


P:L

=2:1

= 2L2

48

= 2L2

= 4.89 m ~ 5 m

= 10 m

Produksi Lumpur
Y = 0,4 (range 0,3 0,5)
Px

= Q . y . (BODin - BODout)
= 6 x 0,4 x (0.47 0.17)

= 0.72 kg / hari
Lumpur total

= massa lumpur TSS + Px


= 0,99 kg/hari + 0,72 kg/hari
= 1.71 kg/hari

Volume Lumpur total = 1.71 kg/hari / 1.03 kg /m3= 0,0017 m3/hari


Perencanaan Kolam Maturasi 2
karakteristik limbah lumpur tinja yang masuk ke unit kolam maturasi:
Removal BOD5 = 65%
Removal TSS = 65%
TSS in = 0.35 kg/hr
BODin = 0.17 kg/hr

Mass Balance
TSS

= 0.35 kg/hari

BOD

= 0.17 kg/hr

BOD -> removal 65%


BOD in = 0.17 Kg/ Hari
Q = 6 m3/hari

BOD Rem

= 65% x 0.17 Kg/ hari


= 0.11 kg/hari
= 18.4 mg/l

Mass Balance BOD out

= BOD in BOD Rem

= 0.17 kg/hr 0.11 kg/hr


= 0.06 kg/hr
= 9 mg/l

TSS removal 65%


TSS in = 0.35 Kg/ Hari
Q

= 6 m3/hari

TSS Rem

= 65% x 0.35 Kg/ Hari

= 0,22 kg/hari
= 37.9 mg/l

Mass Balance TSS Out

= TSS in TSS Rem


= 0.35 kg/hr 0.22 kg/hr
= 0.13 kg/hr
= 21.6 mg/l

Perencanaan kolam maturasi 2


Td = 8 hari

Kedalaman air (Petunjuk Teknis (CT-AL-Re-TC-001-98) adalah 0,8-1,2 m dan

tinggi jagaan adalah (0,3-0,5) m


As
= (td x Q)/h
= ( 8x 6)/1
= 48 m2

Dimensi Kolam fakultatif


P:L

=2:1

= 2L2

48

= 2L2

= 4.89 m ~ 5 m

= 10 m

Produksi Lumpur
Y = 0,4 (range 0,3 0,5)
Px

= Q . y . (BODin - BODout)
= 6 x 0,4 x (0.17 0.06)
= 0.26 kg / hari

Lumpur total

= massa lumpur TSS + Px


= 0.35 kg/hari + 0.26 kg/hari
= 0.61 kg/hari

Volume Lumpur total = 0.61 kg/hari / 1.03 kg /m3= 0,0006 m3/hari


Penyisihan Amonia
Perencanaan:

Debit Pengolahan (Q)

= 6 m3/hari

NH Influen

= 150 mg/l

NH Efluen

= 10 mg/l

Temperatur

= 27 oC

Konstanta laju kematian (Kd)

= 0,015 Hari -1

BOD5 Ultimate (perhitungan)

= 75 mg/l

Biological Solid Retention Time (qc)

= 10 hari

Koefisien Pertumbuhan (yt)

= 0,04

MLVSS (dalam bak Fakultatif)

= 250 mg/l

Keb. O/g NH

= 3,22 O/g NH

Kandungan. O dengan blower

= 8 mg/l

Waktu Operasi Blower

= 12 jam

Berat Jenis O

= 1,429 kg/m3

Perhitungan Desain
Penyisihan NH3
R NH = NH In - NH Eff
R NH = 150 10 = 140 mg/l

Efisiensi Penyishan NH3


Eff = 140 mg/l : 150 mg/l x 100%
Eff = 86,67 %

Berat NH3 yang disisihkan


B NH3

= 21 m3/hari x 140 mg/l


= 2,94 mg/hr

Kebutuhan O2
Keb. O2

= 2,94 mg/ hr x 3,22 O/g NH


= 9,466 l/hr

Volume O2
Vol O2

= 9,466 l/hr : 1,429 kg/m3


= 6,625 m3

Volume Udara
Vol Udara

= 6,625 m3 / 8 mg/l
= 828 m3 udara/ hr

Kebutuhan Udara
Keb Udara

= 828 m3 udara/ hr : 12 Jam


= 69 m3/jam = 1,2 m3/menit

4.5

SLUDGE DRYING BED (SDB)

Kriteria Disain bak pengering lumpur (Petunjuk Teknis CT/AL/Re-TC/001/98):

Lebar bak = (4,5 7,5) m;


Panjang bak = (3-6) x lebar;
Ketinggian dinding bak = 45 cm di atas pasir;
Tinggi jagaan = (15-25) cm;
Dinding bak bisa dibuat dari beton,pasangan bata dengan spesi semen;
Kadar air lumpur kering optimal (70-80)%;
Tebal lumpur kering di atas pasir (20-30) cm;
Tebal lumpur basah di atas pasir (30-45) cm;
Media pasir yang digunakan memiliki kriteria: (1) ukuran efektif (0,3-0,5)
mm (2) koefisien keseragaman 5 (3) tebal pasir (15-22,5) cm (3)
Kandungan kotoran 1 % terhadap volume pasir.

Media kerikil yang digunakan memiliki kriteria: (1) Diameter (3-6) mm dipasang
15 cm di atas bak dasar (2) Diameter (20-40) mm dipasang setebal 15 cm di atas
pipa penangkap dan di kanan kiri pipa penangkap dengan diameter (10-15) cm.
Pada perencanaan IPLT ini direncanakan 2 buah unit SDB. Debit yang masuk pada
SDB dapat dihitung dari periode pengurasan masing-masing unit sebelum SDB.
Waktu pengeringan SDB adalah 18 hari sehingga setiap unit akan diisi oleh
pengurasan selama 7 hari operasi dan 1 unit cadangan.
Tabel 4. 5 Kriteria Desain Perencanaan SDB

Tabel 4. 6 Durasi Pengurasan Lumpur

Total padatan lumpur

= 0,0843 m3/hari

Total lumpur per 30 hari

= 2.56 m3

Kedalaman lumpur dalam bak SDB

= 0,4 m

Luas bak area pengering yang diperlukan

= 2.56 / 0,4 = 6.4 m2

Lebar bak SDB 2 m, maka panjang bak 6,4/2 = 3.2 m


Bak SDB dibuat 2 buah, satu beroperasi mengeringkan, satu dibersihkan.

Tabel 4. 7 Ringkasan Dimensi

4.6

Wetland
Type Wetland yang dipakai FWS (Free Water Surface)
BOD Influent

= 9 mg/l

BOD Eflunet

= 2 mg/l

Debit

= 6 m3

= 0,52 (Kriteria desain)

Porositas Wetland, n
K20

= 0,75

= 0,2779/hari (Metcalf &eddy, 2001)

Kedalaman kolam= 3 m
1. KT = nilai KT ditentukan dengan persamaan :
KT = K20 (1.06)(T-20), T dalam oC
K20 = 0.2779 (1.06)(16-20)
K20 = 0.220 d-1
2. Luas Permukaan Bak (As) ditentukan dengan persamaan :
As = Q (ln Co ln Ce + ln A)
KT(y)(n)
As = 6 (ln 9 ln 2 + ln 0.52)
0.220(3)(0.75)
As = 23,91 m2
3. Waktu detensi hidrolis, t
Waktu detensi (t) yang diperlukan untuk mencapai efluen BOD
yang diinginkan dapat ditentukan dengan persamaan :
t = - ln (Ce/Co) / KT
dengan nilai KT sebagai berikut :
t = - ln (Ce/Co) / KT
t = - ln ( 2 / 9) / 0.220
t = 6.8 d
Nilai t sebesar 7 hari memenuhi syarat desain waktu detensi
hidrolis yaitu 4 15 hari

4. Pengecekan hydraulic-loading rate (Lw)


Lw =

Q
As

Lw = 6 m3/d
67.20 m2
Lw = 0.089 m3/m2/d

5. Penyisihan suspended solid (SS) untuk sistem FWS dapat


dihitung menggunakan persamaan di bawah ini (Sherwood C.
Reed & Ronald W. Crites, 1995):
Ce = Co [ 0.1139 + 0.00213 (HLR) ]
Dimana : Ce = efluen TSS, mg/L
Co = influen TSS, mg/L
HLR = hydraulic-loading rate, cm/d
Ce = Co [ 0.1139 + 0.00213 (HLR) ]
Ce = 0.35 [ 0.1139 + 0.00213 (1.38) ]
Ce = 0.05 mg/L

Nilai Ce TSS sebesar 0,05 mg/L memenuhi syarat baku mutu


kelas satu yang ditetapkan, yaitu 30 mg/L

Gambar 4. 1 Mass Balance BOD di IPLT Piru Kabupaten Seram Bagian Barat