Anda di halaman 1dari 32

1 I

BAB

PENDAHULUAN
Musik sebagai terapi telah dikenal sejak 550 tahun sebelum Masehi, dan ini
dikembangkan oleh Pythagoras dari Yunani. Telah terbukti bahwa manusia jauh lebih peka
terhadap apa yang ia dengar daripada apa yang ia lihat. Misalnya kita akan lebih tersentuh
mendengar suara tangisan bayi daripada melihat gambar bayi yang sedang menangis.
Berdasarkan penelitian EKG (elektrokardiogram), grafik jatung seseorang tidak akan
melompat-lompat apabila ia berada dalam keadaan tenang, oleh sebab itulah pihak medis
merasa perlu menenangkan pasiennya yang sedang dilanda ketakutan maupun stress dengan
memperdengarkan musik dan ternyata berhasil. Orang akan lebih mudah melakukan meditasi
apabila ia di bantu dengan alunan musik.
Ilmu Kedokteran mengakui bahwa manusia terdiri dari "Tubuh & Jiwa", tubuh atau
jasmani yang bisa terlihat nyata, sedangkan yang termasuk dalam jiwa ialah yang tidak
nampak, umpamanya sifat, pikiran, dan perasaan. Ketiga hal ini bisa diekspresikan oleh tubuh
sebagai luapan emosi yang bersifat sementara, dalam ilmu kejiwaan disebut sebagai "Affek".
Sedangkan dari segi spiritual kita mengakui adanya unsur ketiga di dalam manusia itu ialah
"Roh", tetapi komponen ini tidak diakui sebagai unsur nyata dalam ilmu pengetahuan
modern, walaupun demikian telah terbukti secara medis dan spritual, bahwa musik itu dapat
mempengaruhi ketiga elemen tersebut di atas ini, dan telah terbukti pula bahwa musik
memiliki keampuhan untuk menyembuhkan.
Coba direnungkan, semua sistem dalam tubuh manusia sesungguhnya dijalankan oleh
suatu irama tubuh yang sangat teratur dan mengikuti pola tertentu. Sebagai contoh: irama
denyut jantung dan nadi, aliran nafas, langkah kaki, kedipan mata, cara bicara, dan bahasa,
semuanya merupakan irama musik alamiah yang diciptakan oleh Sang Pencipta. Sehingga
setiap bunyi atau irama musik yang didengar oleh telinga manusia dapat mempengaruhi
fungsi anatomi dari tubuh itu sendiri. Sebagai contoh: bunyi-bunyian suara alam dan lagu lagu klasik dapat membuat perasaan menjadi lebih tenang.
Berdasarkan

beberapa

alasan

yang

disebutkan

sebelumnya,

maka

tidaklah

mengherankan jika kemudian banyak ahli yang berlomba-lomba menyusun suatu model
terapi menggunakan alat musik atau alunan musik tertentu. Di dalam makalah ini akan
dibahas mengenai terapi musik mulai dari pengertian, model atau ragam terapi musik yang
paling sering digunakan, serta pengaplikasian terapi musik itu sendiri.
BAB II
1

TINJAUAN2 PUSTAKA
A. Sejarah Terapi Musik
Terapi musik di Amerika dimulai pada akhir abad 18, walaupun sejak zaman kuno musik
telah menjadi media penyembuhan. Hal tersebut dapat diketahui berdasarkan kitab suci dan
peninggalan sejarah dari Arab, Cina, India, Yunani, dan Roma. Profesi terapi musik di
Amerika mulai berkembang selama Perang Dunia I ketika musik digunakan pada rumah sakit
veteran perang sebagai media penyembuhan akibat trauma perang. Para veteran perang, baik
secara aktif maupun pasif menggunakan aktivitas musik dengan fokus untuk mengurangi
persepsi rasa sakit. Sejak itu, lembaga pendidikan tinggi dan akademi-akademi mulai
mengembangkan program pelatihan kepada para musisi untuk mendayagunakan musik
dengan tujuan terapi.
Pada tahun 1950, sebuah organisasi profesional didirikan melalui kolaborasi para terapis
musik yang bekerja secara khusus menangani pasien, yang terdiri dari para veteran perang,
penderita gangguan mental, gangguan pendengaran/penglihatan, dan sebagian populasi
pasien psikiatri. Aktivitas tersebut merupakan awal lahirnya NAMT (National Association
for Musik Therapy). Pada tahun 1998, NAMT melakukan kerjasama dengan organisasi terapi
musik lain dan bersatu dibawah nama AMTA (American Musik Therapy Association) sampai
saat ini.
B. Definisi Terapi Musik
Terapi musik adalah penggunaan musik sebagai peralatan medis untuk memperbaiki,
memelihara, mengembangkan mental, fisik, dan kesehatan emosi. Kemampuan non verbal,
kreativitas, dan rasa alamiah dari musik menjadi fasilitator untuk hubungan, ekspresi diri,
komunikasi, dan pertumbuhan.
Terapi musik dirancang dengan pengenalan yang mendalam terhadap keadaan dan
permasalahan klien, sehingga akan berbeda untuk setiap orang. Benenzon (1997)
mengemukakan, kesesuaian terapi musik akan sangat ditentukan oleh nilai-nilai individual,
falsafah yang dianut, pendidikan, tatanan klinis, dan latar belakang budaya. Semua terapi
musik mempunyai tujuan yang sama, yaitu membantu mengekspresikan perasaan, membantu
rehabilitasi fisik, memberi pengaruh positif terhadap kondisi suasana hati dan emosi,
meningkatkan memori, serta menyediakan kesempatan yang unik untuk berinteraksi dan
membangun kedekatan emosional.

3 jenis musik menuntut penggunaan musik


Dalam kaitannya dengan terapi, perbedaan

yang berbeda pula. Misalnya, musik dalam tempo cepat dapat digunakan untuk meningkatkan
motivasi. Bagi anak usia Taman Kanak-kanak umumnya digunakan lagu-lagu anak, tetapi
pilihan lagu harus memperhatikan konsep bahasa dalam lirik lagu tersebut. Pada penyandang
cacat mental, perlu diciptakan musik secara langsung dengan menggunakan teknik
improvisasi sebagai komunikasi nonverbal. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa terapi
musik perlu disesuaikan dengan kebutuhan klien.
Sejak awal perkembangannya, terapi musik didefinisikan sesuai dengan berbagai
kepentingan. National Association for Musik Therapy (1960) di Amerika Serikat
mendefinisikan terapi musik sebagai:
Penerapan seni musik secara ilmiah oleh seorang terapis, yang
menggunakan musik sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tujuan
terapi tertentu melalui perubahan perilaku.
Profesi terapi musik mulai mapan pada 1950 setelah serangkaian intervensi sosial
menggunakan musik untuk para pasien korban Perang Dunia II. Sejak 1980, terapi musik
berkembang menjadi pengetahuan baru dan diakui sebagai bagian dari profesi kesehatan.
Dalam rumusan The American Musik Therapy Association (1997), terapi musik secara
spesifik disebut sebagai sebuah profesi di bidang kesehatan.
Terapi musik adalah suatu profesi di bidang kesehatan yang
menggunakan musik dan aktivitas musik untuk mengatasi
berbagai masalah dalam aspek fisik, psikologis, kognitif, dan
kebutuhan sosial individu yang mengalami cacat fisik. (AMTA,
1997).
Definisi terapi musik dapat sangat beragam, tergantung pada populasi klien dan dengan
siapa para terapis bekerja. Pada sebagian kelompok, proses terapi difokuskan pada
rehabilitasi dan peningkatan keterampilan atau peningkatan kemampuan fungsional. Pada
kelompok lain, misalnya pada penderita penyakit kronik tertentu, terapi dilakukan untuk
memperbaiki kekurangan yang terjadi pada pengobatan medis. Oleh karena itu, definisinya
lebih terkait dengan meningkatkan potensi, memecahkan masalah fisik, emosi, dan kesulitan
psikologis. Proses terapi juga harus memperhitungkan mengenai parameter khusus, seperti
seberapa kronis penyakit atau gangguan yang diderita dan seberapa parah ketidakmampuan
penderita.

Pada tahun 1996, Federasi Terapi Musik 4


Dunia (WMFT) mengemukakan definisi terapi
musik yang lebih menyeluruh. Menurut WMFT, terapi musik adalah penggunaan musik dan
atau elemen musik (suara, irama, melodi, dan harmoni) oleh seorang terapis musik yang telah
memenuhi kualifikasi terhadap klien atau kelompok dalam proses membangun komunikasi,
meningkatkan relasi interpersonal, belajar, meningkatkan mobilitas, mengungkapkan
ekspresi, menata diri atau untuk mencapai berbagai tujuan terapi lainnya.
Terapi musik bertujuan mengembangkan potensi dan/atau memperbaiki fungsi individu,
baik melalui penataan diri sendiri maupun dalam relasinya dengan orang lain, agar ia dapat
mencapai keberhasilan dan kualitas hidup yang lebih baik.
Penggunaan terapi musik ditentukan oleh intervensi musikal dengan maksud
memulihkan, menjaga, memperbaiki emosi, fisik, fisiologis, dan kesehatan serta
kesejahteraan spiritual. Dalam definisi ini terdapat elemen-elemen pokok yang ditetapkan
sebagai intervensi dalam terapi musik, yaitu:
1. Terapi musik digunakan oleh terapis musik dalam sebuah tim perawatan yang
anggotanya termasuk dokter, pekerja sosial, psikolog, guru, atau orangtua.
2. Musik merupakan alat terapi yang terutama. Musik digunakan untuk menumbuhkan
hubungan saling percaya, mengembangkan fungsi fisik, dan mental klien melalui
aktivitas yang teratur secara terprogram. Contoh intervensi bisa berupa bernyanyi,
mendengarkan musik, bermain alat musik, mengkomposisi musik, mengikuti
gerakan musik, dan melatih imajinasi.
3. Materi musik yang diberikan akan diatur melalui latihan-latihan sesuai arahan
terapis. Intervensi musikal yang dikembangkan dan digunakan terapis didasarkan
pada pengetahuannya tentang pengaruh musik terhadap perilaku, baik kelemahan
atau kelebihan klien sebagai sasaran terapi.
C. Proses Terapi Musik
1. Asesmen
Di dalam asesmen, terapis musik melakukan observasi menyeluruh terhadap
kliennya, sehingga memperoleh gambaran yang lengkap tentang latar belakang, keadaan
sekarang, keterbatasan klien, dan potensi-potensi yang masih dapat dikembangkan.
Terapis musik melalui gambaran tersebut kemudian mengembangkan kerangka asesmen
yang selanjutnya diterjemahkan ke dalam rencana perlakuan serta estimasi waktu untuk
perlakuan.
Pengumpulan data pada asesmen berdasarkan kebutuhan informasi yang mencakup
aspek-aspek sebagai berikut:
4

a. Medis. Sejarah rekam medis dan 5status kesehatan yang relevan.


b. Kognitif. Data yang dikumpulkan, meliputi pemahaman, konsentrasi, rentang
perhatian, memori, dan kemampuan pemecahan masalah.
c. Sosial. Termasuk ekspresi diri, kontrol diri, kualitas dan kuantitas interaksi
interpersonal.
d. Fisik. Rentang gerak, koordinasi motorik kasar sampai halus, kekuatan dan daya
tahan yang mewakili kategori ini.
e. Keahlian/pendidikan. Kategori ini termasuk keterampilan kerja yang memadai
f.
g.
h.
i.

dan penyesuaian di tempat kerja.


Emosional. Termasuk respons emosi yang adekuat pada berbagai situasi.
Komunikasi. Keterampilan ekspresi dan pemahaman bahasa.
Keluarga. Hubungan keluarga dan kebutuhan penting lainnya.
Mengisi waktu luang. Kategori ini termasuk perhatian pada kebutuhan
rekreasional, partisipasi dalam kegiatan yang berarti, dan pemahaman terhadap
ciri dan sifat komunitas tempat klien bergabung.

Berikut adalah contoh hasil asesmen terhadap ibu A menurut aspek-aspek asesmen:
a. Medis: A menderita kegemukan dan terjadi peningkatan tekanan darah yang
dapat diketahui dari hasil laboratorium.
b. Kognitif: Inteligensi A tergolong normal, tetapi ia mengalami kesulitan untuk
berkonsentrasi pada rentang perhatian pendek, daya ingatnya lemah,
kemampuan memecahkan masalah kurang memadai. Hambatan tersebut
melengkapi depresinya.
c. Sosial: Setelah kematian suaminya, ia menghindar dari aktivitas sosial dan
selalu menyatakan bahwa dirinya kesepian, tetapi ia menjauhi interaksi sosial.
d. Fisik: A masih memiliki kontrol motorik kasar dan halus, juga kekuatan dan
koordinasi otot, tetapi ia mengatakan cepat lelah dan kehilangan energi sebagai
gejala depresi.
e. Keahlian/pendidikan: A pernah bekerja sebagai asisten guru, sekretaris dan
pramuniaga, tetapi ia tidak bekerja lagi selama 15 tahun terakhir. Ia pernah
mengikuti pendidikan musik selama dua tahun.
f. Emosional: Oleh karena depresi yang dideritanya, A merasa tidak mempunyai
harapan akan masa depan dan ingin bunuh diri. Emosi dan afeksinya datar sejak
kematian suaminya.
g. Komunikasi: A hanya berbicara dengan satu atau dua kata saja sekadar untuk
merespons pertanyaan dan sedikit sekali melakukan kontak mata.
h. Keluarga: A memiliki dua orang anak yang telah dewasa, tinggal di tempat
berbeda dan tidak pernah mengunjunginya sejak kematian ayah mereka. Ia
merasa asing dengan anaknnya dan sudah lama tidak saling berhubungan.

i. Mengisi waktu: A menghabiskan6beberapa tahun lalu dengan merawat suaminya


yang menderita stroke. Ia mengindikasikan bahwa ia sangat sedikit memiliki
aktivitas waktu senggang, kecuali pergi bermain bowling dengan temannya.
Selama asesmen, A mengatakan bahwa beberapa tahun lalu ia aktif bermain
piano di gereja, dalam acara-acara pernikahan dan sebagai anggota paduan
suara. Ia menyatakan ingin mengembangkan keterampilan musiknya lagi.
2. Rencana Perlakuan
Setelah data asesmen terkumpul dan dianalisis, maka langkah berikutnya adalah
mematangkan rencana perlakuan terapi musik. Pada kasus ibu A, ia perlu meningkatkan
keterampilan musiknya, menambah pengetahuan tentang komunitas musik, kebiasaan
kerja, dan kontinuitas mengatasi masalah kesedihan akibat kematian suaminya. Terapis
musik merancang rencana perlakuan bagi A secara bertahap sampai A dapat meraih batas
keinginan yang ditentukan sebelumnya.
3. Pencatatan
Riwayat kesehatan dan seluruh proses terapi harus dicatat. Terapis musik perlu
mempelajari hasil rekam diagnosis dan hal-hal yang berkaitan dengan itu agar dapat
dirancang terapi yang sesuai. Informasi pada proses terapi berisi data kronologis
perlakuan terhadap klien dan sifatnya adalah dokumen yang berkekuatan hukum. Catatan
tersebut harus menggambarkan efektivitas perlakuan, dan efisiensi rancangan perlakuan.
4. Evaluasi dan Terminasi Perlakuan
Langkah terapi dalam proses terapi adalah mengevaluasi dan melakukan terminasi
perlakuan. Pada bagian ini, terapis menyiapkan kesimpulan akhir dari proses perlakuan
dan membuat rekomendasi untuk ditindaklanjuti.
Ketika klien telah mencapai target perlakuan atau ketika tim memutuskan bahwa
klien telah memperoleh manfaat dari terapi, maka perlakuan dihentikan. Pada saat itu,
terapis musik membuat evaluasi keseluruhan proses terapi musik termasuk sasaran yang
dirancang dan kemajuan yang diperoleh. Setelah itu, akan dibuat rekomendasi untuk
perlakuan selanjutnya atau perlakuan lain bila suatu saat diperlukan.
D. Langkah-langkah Terapi Musik
1. Menetapkan Sasaran Terapi
Sasaran dalam terapi musik diindikasikan melalui target yang akan dicapai. Target
harus jelas berdasarkan alasan-alasan dan informasi yang dikumpulkan dari hasil
6

7 jangka panjang atau jangka pendek. Jangka


penilaian. Sasaran yang hendak dicapai dapat

waktu dalam terapi musik biasanya relatif. Beberapa kriteria yang perlu dipertimbangkan
ketika memilih sasaran dan target perilaku adalah:
a. Nilai/manfaat
Apakah perilaku ini cukup bermakna, sehingga akan memberikan pengaruh
terhadap kondisi saat ini? Dapatkah perubahan dalam hal ini mempengaruhi perilaku
terkait lainnya? Apakah benar bahwa wilayah inilah yang paling penting untuk
diubah.
b. Prasyarat
Apakah sasaran yang hendak dicapai terlalu jauh dari kondisi sekarang? Bila
prasyarat tidak ditemukan, apakah ini merupakan target yang sudah tepat?
c. Hambatan
Apakah ada perilaku sosial yang tidak tepat dan dapat menganggu keberhasilan
sasaran? Bila iya sebaiknya hal tersebut menjadi target yang perlu diubah terlebih
dahulu.
d. Proses penilaian
Apakah target perilaku dapat diamati dan diukur setiap saat?
e. Proses awal peralihan terapi
Jika terapi adalah upaya lanjutan, apakah klien masih menggunakan obat secara
khusus? Apakah target perilaku merefleksikan alasan mengapa klien harus beralih
untuk mencari terapi musik.

f. Persetujuan
Apakah orang yang bekerja sama dengan terapis musik yakin terhadap target
yang hendak dicapai? Apakah klien sepakat terhadap fokus terapi dan percaya
sasaran dapat tercapai.
g. Keberhasilan
Sejauh mana kemungkinan bahwa perilaku dapat diubah dan sasaran dapat
diraih? Apakah terapis musik memiliki kontrol dan kendali yang cukup baik?
h. Data-data awal yang menjadi dasar terapi
Apakah cukup bukti bahwa perilaku tersebut sebenarnya memang perlu untuk
diubah?
i. Efisiensi
Apakah ada alasan untuk percaya bsebaahwa terapi musik adalah terapi yang
paling tepat? Apakah waktu yang dijadwalkan oleh terapis untuk mencapai sasaran
memang memungkinkan untuk dipenuhi?
2. Membangun Relasi

Proses membangun kepercayaan dan8hubungan dengan merupakan elemen penting


dalam terapi yang efektif. Seorang terapis musik harus berusaha menentukan kondisi
yang tepat agar dapat memaksimalkan hubungan kerja yang akrab dengan klien.
3. Proses Asesmen Awal
Luasnya strategi asesmen yang diimplementasikan tergantung pada sasaran terapi
dan orientasi terapisnya. Seorang terapis musik harus sedapat mungkin mencari
gambaran yang lengkap dan menyeluruh mengenai kliennya, walaupun prosedur
asesmennya dapat dilakukan dengan sederhana. Salah satunya adalah dengan meminta
klien untuk ikut serta dalam berbagai aktivitas musik atau uji keterampilan musik yang
telah dirancang. Sebelum memulai asesmen formal, terapis musik perlu memperhatikan
beberapa kriteria dibawah ini:
a. Mana di antara keterampilan berikut yang memiliki pengaruh terbesar pada
target perilaku dan rencana terapi musik?
- Komunikasi: kemampuan verbal dan ekspresi non verbal, apakah klien
-

mudah mengerti dan reseptif, serta bagaimana ekspresi bahasanya.


Aspek kognitif: berpikir, pemrosesan, gaya belajar.
Aspek fisik: kesehatan fisik secara umum, kemampuan sensori motorik dan
keterampilan persepsi motorik termasuk fungsi pendengaran, penglihatan,

perabaan, penciuman, pengecapan maupun gerakan-gerakannya.


Aspek musikal: ketertarikan pada musik, respons, preferensi, kemampuan

vokal dan instrumental, pembedaan pitch, persepsi ritmis, kreativitas.


Aspek psikososial: perhatian, kesadaran diri, konsep diri, harga diri,
partisipasi, kerja sama, hubungan dengan terapis, keterampilan interpersonal

dan interaksi dengan orang lain.


Aspek emosional: bagimana afeksi dan perasaannya.
Area relevan lainnya. Termasuk: kebutuhan psikologis, pendidikan, aktivitas
dan kehidupan sehari-hari, penyesuaian diri, pola pengisian waktu luang,

kebutuhan-kebutuhan khusus, kebutuhan spiritual, dan sebagainya.


b. Informasi evaluatif apa yang telah dimiliki?
- Dari sejawat/rekan profesional lain
- Dari sesi pertama
c. Bagaimana masing-masing keterampilan diukur secara efisien?
- Melalui pengamatan terhadap perilaku
- Dengan sumber asesmen yang telah dirancang untuk menguji tingkat
keterampilan
- Dengan peralatan asesmen yang orisinal
d. Pengalaman musik apa yang digunakan untuk melengkapi pengamatan atau
untuk mencari padanan tipe keterampilan yang dibutuhkan dalam asesmen?
8

e. Kondisi apa lagi yang digunakan 9untuk tujuan asesmen?


- Bagaimana pengukuran setiap keterampilan?
- Di mana dan dalam konteks apa pengujian dilakukan?
4. Asesmen Komprehensif
Asesmen komprehensif diberikan bila klien masih belum dirujuk untuk menjalani
terapi musik dan masih bertanya-tanya tentang manfaat yang diperoleh dari terapi musik.
Tipe asesmen seperti ini secara khusus berguna bila terapis musik diminta untuk menjadi
anggota dalam tim yang menangani proses diagnostik dan asesmen secara menyeluruh.
5. Target Perilaku
Target perilaku penting untuk mengetahui perubahan klien melalui sebuah
pengukuran. Deskripsi perilaku yang lengkap atau definisi respon harus meliputi:
a. Deskriptor: deskripsi singkat mengenai target perilaku
b. Batasan perilaku: penjelasan rinci mengenai dimana, kapan, dan respons apa
yang diharapkan dan harus terjadi.
c. Informasi observasional: apakah perilaku memiliki ciri-ciri tersendiri. Hal ini
dilihat dari lamanya respon terekam, apakah sesekali, atau terus-menerus
sepanjang waktu.
d. Respons terbatas: perilaku yang menyerupai target perilaku, tetapi tidak harus
dipertimbangkan.
6. Strategi Terapi Musik
Berbagai strategi dapat dilakukan dalam terapi musik dengan menggunakan aneka
macam alat musik, genre musik, pendekatan, metode, sistem, aliran maupun falsafah.
Dalam strategi terapi, musik digunakan untuk mencapai dua tujuan, yaitu menguatkan
perilaku yang diinginkan, atau meniadakan perilaku yang tidak diinginkan.
Alasan penggunaan terapi musik dalam kegiatan medis adalah sebagai berikut:
a. Sebagai audioanalgesik atau penenang atau sebaliknya untuk menimbulkan
pengaruh biomedis yang positif atau psikososial. Contoh: penderita penyakit
kronis diajarkan menggunakan musik untuk menurunkan gejala fisiologis dan
kadar stres, mengalihkan perhatian dari rasa sakit, dan/atau merubah persepsi
secara langsung dengan menurunkan tingkat persepsi terhadap rasa sakit.
b. Sebagai fokus perhatian dan atau mengatur latihan. Contoh: seorang wanita
menggunakan musik dalam proses persalinan sesuai dengan pilihan musik
disesuaikan dengan teknik melahirkan.

10
c. Memprakarsai dan meningkatkan
hubungan terapis/pasien/dan keluarga.

Contoh: seorang terapis mengembangkan hubungan yang terbuka dengan


seorang penderita remaja dengan musik kesenangannya.
d. Memperkuat proses belajar. Contoh: anak diajarkan mengatur diri untuk
membiasakan belajar disiplin diri oleh terapis dengan mengajarkan tahapannya
melalui sebuah lagu.
e. Sebagai stimulator auditor/pengaruh arus balik atau menghilangkan kebisingan.
Contoh: seorang klien belajar mengontrol ketegangan otot (atau indikasi stres
fisiologis lainnya) melalui biofeedback dengan menggunakan musik sebagai
isyarat auditori, atau musik yang dimainkan dalam ruang unit gawat darurat
untuk menghilangkan kebisingan suara-suara mesin dan elektronis lainnya.
f. Mengatur kegembiraan dan interaksi personal yang positif. Contoh: anggota
keluarga klien sebagai kelompok penunjang melakukan diskusi tentang lirik
sebuah lagu, penulisan lagu, bernyanyi, dan berimprovisasi untuk meningkatkan
rasa saling percaya dan kooperatif satu sama lain dengan panduan seorang
fasilitator.
g. Sebagai penguat kesehatan dalam hal keterampilan fisiologis, emosi, dan gaya
hidup. Contoh: seorang klien belajar bermain piano sebagai penyaluran
ekspresi, dan sebagai alternatif untuk aktivitas pasif lainnya, atau orang yang
berpartisipasi dalam kelompok kebugaran akan lebih mudah melaksanakan
perintah kalau musik latar yang digunakan sinkron dengan gerakannya.
h. Mereduksi stres pada pikiran kesehatan tubuh. Contoh: staf pada unit gawat
darurat cenderung tidak menggunakan musik untuk mereduksi stres dan mereka
ditawarkan oleh terapis musik dengan mendengarkan musik selama 15 menit
sebelum setiap pergantian jam jaga.
E. Ragam Terapi Musik
Terapi musik memiliki banyak variasi dalam metode, model, dan teknik pelaksanaannya.
Hasil yang didapat dari survey di Amerika saja sudah mendapatkan 14 model terapi musik
dan lebih dari seratus teknik yang berbeda. Sedangkan hasil yang didapat dari benua Eropa
adalah terapi musik yang dilakukan tidak memiliki perbedaan yang tajam antara metode,
pendekatan, dan model. Untuk itu, kami akan menerangkan satu persatu pengertian
istilah-istilah tersebut berdasarkan pendapat Bruscia (1998) berikut ini:
Metode didefinisikan sebagai sebuah tipe khusus dari pengalaman musik yang

digunakan klien untuk tujuan terapi;


Variasi adalah cara khusus dan pengalaman musikal yang dirancang;

10

Prosedur adalah segala sesuatu yang11dilakukanterapis untuk mengajak klien masuk

ke dalam pengalaman musical;


Teknik adalah suatu prosedur yang digunakan terapis untuk menentukan

pengalaman klien secara langsung;


Model adalah pendekatan yang sistematis dan unik.

Di dalam kongres Terapi Musik yang ke-9 di Washington (1999) dipresentasikan lima
model terapi musik yang telah mendunia. Mereka adalah GIM (Guided Imagery and Music)
yang dikemukakan oleh Helen Bonny, Creative Music Therapy yang dikembangkan Paul
Nordoff dan Cliffe Robbins, Behavioral Music Therapy oleh Clifford K. Madsen, Analitycal
Music Therapy dari Mary Priestley dan Benenzon Music therapy oleh Ronaldo Benenzon.
Akan tetapi ragam terapi yang akan kami tulis hanya empat dari jenis terapi yang telah
disebutkan di atas, yaitu GIM, Creative Music Therapy, Behavioral Music Therapy, dan
Analytical Music Therapy. Kemudian akan disertai Terapi Musik Improvisasi yang
merupakan terapi musik yang merupakan modifikasi agar dapat diterapkan di Indonesia.
1. Guided Imagery and Music (GIM)
a. Latar Belakang
Model ini banyak sekali digunakan di bagian utara dan selatan Amerika Serikat,
Oceania, dan sejumlah negara Eropa. GIM adalah penggalian kesadaran yang
terpusat pada musik. Menurut penciptanya, Helen Lindquist Bonny (1990), GIM
adalah proses yang terjadi ketika imajinasi ditimbulkan selama mendengarkan
musik.
GIM berawal saat era 1960-an, Bonny yang juga seorang musisi (pemain biola)
menjalani pelatihan menjadi terapis musik dan peneliti setelah lama berkecimpung
dalam tugas konseling. Di awal 1970-an ia bergabung dengan Pusat Penelitian
Psikiatrik di Maryland, Amerika Serikat. Bonny yang memiliki latar belakang
pendekatan behavioristic yang dimilikinya semasa masih aktif di dunia konseling,
bersama Dr. W. Pahnke, ia mulai mengumpulkan berbagai musik yang dihubungkan
dengan eksperimen psikoterapi dengan pecandu alkohol dan penderita kanker. Pada
tahun 1972, penggunaan LSD mulai dilarang. Adanya peraturan ini mendorong
Bonny untuk mengembangkan model psikoterapi yang bebas obat secara bertahap.
Hasilnya adalah sebuah model terapi berupa relaksasi mendalam yang dapat
mengubah kondisi sadar melalui musik klasik. Bersama Stanislav Gorf yang sering
meneliti menggunakan LSD, Bonny akhirnya menemukan cara terapi yang
dilengkapi musik. Jika salah satu masalah dalam terapi menggunakan LSD adalah
11

12 puncak yang dirasakan setrelah sesi terapi,


klien tidak dapat mengingat pengalaman

maka dengan GIM dikembangkan cara yang lebih baik melalui relaksasi progresif
dan pemanfaatan potensi musik klasik.
b. Proses dan Dinamika
Bonny mengembangkan sesi terapinya dalam format empat fase dan
serangkaian program musik. Sampai hari ini telah terkumpul lebih dari 40 program
musik yang masing-masing berdurasi 30-50 menit. Musik-musik tersebut ada yang
terdiri dari tiga sampai delapan gerakan, atau berupa sebuah lagu utuh dari baik
dalam format instrumental maupun vokal.
Sepanjang perjalanan musik yang didengar, klien diberi kesempatan menghayati
berbagai aspek kehidupannya melalui perjalanan imajinatif. Klien juga belajar
mengenali kekuatran dan kelemahanya. GIM memberikan peluang pada klien untuk
bercerita dan menceritakan kembali berbagai peristiwa bermakna dalam hidup
melalui medium simbolik dan merekonfigurasi kehidupan serta emosi yang terkait.
Musik yang berjalan akan membantu klien mendekonstruksi kisah kehidupan lama
dan menstimulinya dengan hal-hal baru.
Keempat fase GIM dapat dianalogikan dalam bentuk Sonata yang terdiri dari:
eksposisi (paparan awal) pengembangan rangkuman dan penutup (koda).
Dalam konsep normal GIM analogi Sonata ini diterjemahkan ke dalam Prelude
penggalian asalah (induksi) wisata musik Postlude. Terapis menggunakan empat
tahapan ini untuk menggali sikap dan orientasi klien terhadap masalahnya, sehingga
di akhir proses klien diharapkan mempunyai gambaran yang lebih menyeluruh
tentang dirinya dan permasalahan yang ia hadapi melalui kacamata yang lebih
rasional.
1) Prelude
Prelude (15-20 menit) sebagai titik keberangkatan, menggali dunia
kehidupan klien dan pengalaman kesadaran serta masalahnya. Selama Prelude,
terapis akan berusaha membalikkan perhatian klien dari dunia luar ke dunia
dalam sehingga focus untuk setiap sesi harus diidentifikasinan. Transisi
pengalaman kesadaran dari dunia luar kepada keterbukaan akan kesadaran dunia
dalam ditandai oleh perubahan posisi fisik klien, yaitu kondisi berbaring sambil
memejamkan mata. Terapis mengatur posisi yang memungkinkan kenyamanan
fisik, dan dikontrol secara cermat melalui sistem audiovisual sehingga tampak
sikap dan posisi tubuh klien secara keseluruhan. Selama proses ini terapis

12

dibantu oleh transkrip dialog, ia 13


harus mencatat setiap dialog dan reaksi penting
selama musik diperdengarkan.
2) Induksi (penggalian masalah), relaksasi, dan fokus
Fase ini berlangsung antara 2 sampai 7 menit, dan dapat dilakukan dengan
dua pendekatan: 1) menggali elemen narasi dari klien, atau 2) mendengarkan
dengan cermat dan mengidentifikasi tingkat emosi klien. Tujuan dari induksi
adalah memfasilitasi transisi dominasi ego ke tingkat kesadaran yang mendalam
serta melepaskannya pada fleksibilitas pengalaman ruang dan waktu. Terapis
wajib menetapkan pembatasan terhadap banyaknya pilihan, khususnya pada
peristiwa yang bersifat traumatic bagi klien, dengan antisipasi terhadap
munculnya kegelisahan atau goncangan emosional yang mungkin terjadi dalam
penggalian ini.
3) Wisata Musik
Terapis membimbing klien melalui petunjuk-petunjuk yang terdapat pada
bagian pertama dari dua frase. Pilihan musik juga merupakan tanggung jawab
terapis, namun perlu diingat bahwa selama wisata musik, terapis tidak
dibenarkan untuk mengintervensi dan memberikan instruksi. Ia harus menjadi
teman yang dapat dipercaya, mengikuti kemanapun klien memilih untuk pergi.
Klien dan terapis saling membagi imajinasi, memahami secara luas pengalaman
terdalam dari modalitas yang berbeda dari seluruh indra: penglihatan,
pendengaran, penciuman, dan pengecapan ataupun perabaan. Selain itu, memori
dan emosi juga termasuk dalam konsep imajinasi. Dalam hal ini imajinasi klien
dapat jelas atau tersebar, berubah dengan cepat atau lambat, personal atau
impersonal, disorientasi atau koheren. Setiap klien memiliki gaya wisata yang
spesifik, dan secara normal membutuhkan beberapa sesi untuk mengembangkan
respons musik dan imajinasi yang optimal.
Orientasi terapis dapat ditunjukkan melalui beberapa rentang tahapan dan
titik pandang (spektrum).
- Titik Pandang 1: terapis memanfaatkan musik sebagai stimulus yang
membangkitkan imajinasi. Musik menjadi layar proyeksi tempat
ketidaksadaran klien memproyeksikan isinya. Dengan cara pandang
seperti ini terapis dimungkinkan untuk mengetahui sebanyak mungkin
-

potensi imajinasi dari musik (lagu dan program)


Titik Pandang 2: terapis menganggap musik sebagai elemen inti dari
sebuah pengalaman. Imajinasi adalah alat bantu yang digunakan untuk
memperoleh hasil maksimal dari pengalaman musik. Beberapa terapis
13

GIM menganggap musik14sebagai pola dasar medan energi di mana


struktur mistis musik bekerja dan memfasilitasi perubahan terapi.
Seorang terapis musik bebas untuk menentukan titik pandang yang nyaman
untuk dirinya. Hal yang terpenting adalah memberikan kesempatan pada klien
untuk berkelana menurut keadaan yang paling sesuai dengan peristiwa dan
keadaannya, dan mengikutsertakan klien dalam wisata musik dan eksplorasi
untuk mengarahkannya pda pengalaman transpersonal.
4) Postlude
Ketika musik berakhir, klien dibimbing secara perlahan tapi pasti kembali
ke kondisi normal. Sesuai elemen standar dalam transisi ini, klien dianjurkan
untuk tetap berkonsentrasi pada pengalamannya dengan modalitas yang berbeda
seperti menggambar, memahat (misalnya dengan tanah liat) atau menulis puisi.
Ini berlangsung antara 5-10 menit. Akhir dari bagian ini berupa dialog singkat
(10-20 menit) saat terapis membantu klien menghubungkan pengalaman sehariharinya dengan fokus masalah.
Jika dipilih Titik Pandang 1, maka terapis akan membimbing
klien kepada interpretasi imajinasinya dan ditujukan pada
insight baru dari masalahnya.
Dari

Titik

Pandang

2,

terapis

menelaah

musik

dan

pengalaman imajinatif yang berlangsung dalam diri klien.


Terapis berperan dalam membantu klien untuk merasa bebas dalam
menguraikan seluruh imajinasi dan perasaanya selama perjalanan musik
berlangsung.

c. Aplikasi Klinis
Pada umumnya sesi dalam GIM berlangsung antara 90-120 menit. Untuk
menjalani GIM, klien harus memiliki kekuatan ego yang cukup agara dapat
mempercayakan imajinasinya untuk digali dan diuraikan. Ia juga harus dapat
membedakan antara imajinasi dan realitas. GIM tidak disarankan untuk diterapkan
pada mereka yang menunjukkan kecenderungan emosi yang tidak stabil, memiliki
keterbatasan intelegensi, atau yang karena suatu dan lain hal tidak dapat menerima

14

kenyataan (misalnya masih dalam15keadaan dukacita yang mendalam karena


kematian orang terdekat).
Sejauh ini, GIM selalu dipergunakan untuk membantu mengatasi sejumlah
gangguan klinis pada berbagai populasi yang berbeda. GIM terbukti dapat
diterapkan untuk penderita kanker, penyandang HIV AIDS, mereka yang mengalami
gangguan saraf dan gangguan somatisasi, atau pecandu narkoba. Sejumlah penelitian
mengindikasikan bahwa GIM dapat lebih bermanfaat bagi pasien psikiatrik,
kerusakan otak, atau penyandang autisme.
Penggunaan GIM secara klinis berkembang dengan cepat dan dilakukan
berdasarkan pengalaman. Kebanyakan format GIM untuk keperluan ini akan
dimodifikasi sesuai kondisi yang dihadapi seperti,
- Sesi yang dimungkinkan lebih pendek durasi musiknya (hanya 5 sampai 20
-

menit)
Musik dan intervensi lebih bersifat mendorong dari pada eksplorasi dan

tantangan
Menggunakan musik di luar jenis musik klasik
Pedomannya lebih berupa petunjuk, baik perseorangan atau kelompok

GIM juga dapat dimanfaatkan untuk proses-proses yang tidak sepenuhnya


bermuatan klinis seperti pengembangan diri, masalah-masalah transpersonal, atau
sebagai sarana penyembuhan melalui musik atau pelatihan terapi.model ini dapat
juga digunakan untuk pelatihan staf perusahaan, memperkuat tim kerja, pendidikan
musik, dan lokakarya dalam berbagai bidang. Untuk tujuan ini, GIM tidak harus
diterapkan secara kaku. Pedoman pelaksanaannya akan lebih berupa petunjuk teknis
selama wisata musik berlangsungdan tidak ada dialog selama perjalanan.

2. Terapi Musik Kreatif


a. Latar Belakang
Terapi yang juga dikenal dengan Pendekatan Nordoff-Robbins (N-R) adalah
sebuah model yang dihasilkan dari kolaborasi Paul Nordoof, seorang komponis dan
pianis berkebangsaan Amerika dengan Clive Robbins, seorang ahli pendidikan
khusus dari Inggris. Model terapi yang telah diterapkan lebih dari 50 tahun ini
dikembangkan berdasarkan kebebasan improvisasi.
Terapi Musik Kreatif berkembang antara 1959-1976 dengan diawali sebagai
terapi untuk anak-anak yang mengalami kesulitan belajar, termasuk penderita down
syndrome, gangguan emosi dan perilaku, penyandang cacat mental dan fisik, serta
penyandang autisme. Paul Nordoff meninggal tahun 1976, dan karyanya diteruskan
15

16memperluas fokus terapi kepada anak yang


oleh Robbins dan istri dengan mulai

mengalami gangguan pendengaran.


Di awal perkembangan metode terapi ini, Nordoff dan Robbins dipengaruhi oleh
pemikiran Rudolf Steiner dan gerakan antropofisik dalam Humanistik. Ide tersebut
dikembangkan dengan pemahaman bahwa pada dasarnya setiap manusia memiliki
respons bawaan terhadap musik dan setiap kepribadian dapat meraih sifat kekanakkanakan musik. Ide ini sangat penting dalam pengembangan karya mereka pada
populasi penyandang cacat. Meskipun gangguan belajar dan gangguan fisik yang
terjadi pada penyandang cacat ini cukup parah, namun mereka percaya pada potensi
alamiah dan respons dari musik. Kekuatan musik juga diyakini dapat digunakan
dalam mengekspresikan diri dan komunikasi. Robbins dan istrinya kemudian
mengaitkan sasaran terapi dengan konsep humanistik dari Abraham Maslow,
terutama pada kerangka aktualisasi diri, pengalaman puncak, dan pengembangan
bakat kreativitas secara khusus. Relasi dengan klien dibangun dalam suasana
kehangatan, akrab, bersahabat, dan penerimaan apa adanya. Dilakukan juga
penataan kognitif, refleksi, dan penghormatan terhadap perasaan anak-anak yang
mengalami gangguan. Peran terapis hanya mengikuti dan memfasilitasi, anak
diperkenankan untuk memilih. Sedapat mungkin tidak diberikan petunjuk maupun
intervensi. Dengan cara ini, diharapkan anak dapat merasakan bahwa dirinya cukup
berharga.
b. Metode dan Pendekatan
Terapis dan klien memposisikan musik sebagai pusat pengalaman. Sementara
respons musical akan menjadi materi pokok untuk dianalisis dan diinterpretasi.
Untuk itu dibutuhkan musisi dengan keterampilan tinggi dan mahir menggunakan
alat musik harmonis.
Di dalam terapi individu, klien biasanya diberi penawaran materi musik yang
terbatas, seperti simbal dan drum, dengan menganjurkan untuk menggunakan vokal
mereka sendiri. Bila dalam kelompok biasanya digunakan alat musik pitch-perkusi,
horn, alat tiup, dan bermacam alat gesek. Namun dalam terapi musik kreatif ini
kebanyakan mereka melakukan terapi secara berpasangan (Nordoff-Robbins).
Terdapat dua terapis, terapis pertama bertugas memperdengarkan relasi musik
melalui piano dan yang satunya memfasilitasi respons dan aktivitas anak. Ide ini
berdasarkan model kerja yang dilakukan oleh Nordoff sebagai pianis sekaligus
terapis dan Robbins sebagai terapis lainnya.
c. Proses Terapi
16

17
Terapi N-R sebenarnya menawarkan
perspektif yang signifikan mengenai

bagaimana musik dapat digunakan sebagai terapi. Gaya improvisasi harus bebas dari
musik konvensional dan fleksibel. Interval tetap penting untuk merepresentasikan
perbedaan perasaan ketika menggunakan melodi. Triad dan akor dapat digunakan
secara khusus misalnya, tonika untuk mengindikasikan stabilitas sementara inversi
triad merepresentasikan gerakan-gerakan yang dinamis. Improvisasi dalam musik
juga termasuk pola dasar musik seperti Organum, tangga nada eksotis (seperti
terdengar dari nada-nada musik Jepang dan Timur Tengah), Spanyol, dan Modus.
Bila bekerja dengan anak-anak, saat klien dibawa ke ruang terapi akan terdengar
musik selamat datang yang dimainkan oleh terapis pada piano untuk menyambut
mereka. Demikian pula bila sesi selesai dan mereka meninggalkan ruangan, anakanak ini juga akan dihantar oleh musik.
Musik dalam bentuk improvisasi klinis digunakan untuk menguatkan relasi
dengan klien, memberikan makna komunikasi dan ekspresi diri, efek perubahan, dan
realisasi dari potensi yang dimiliki. Pendekatan ini juga meyakini bahwa musik
adalah media pertumbuhan dan perkembangan, serta bahwa setiap orang tanpa
kecuali, baik yang sakit, atau mengalami gangguan dan trauma, pasti mempunyai
bagian-bagian yang dapat diraih melalui musik. Dengan demikian penyembuhan
dimungkinkan untuk terjadi dan setelahnya akan tergeneralisasi dalam kehidupan
klien (Etkin, 1999).
Terapis sering memberikan kerangka musik, menunjukkan irama dan ketukan
yang jelas, khususnya menyanyikan apa yang sedang dilakukan klien ketika mereka
sedang mengerjakan tugas agar mereka terfokus pada pengalaman yang dirasakan.
Terapis akan selalu mendoronbg ekspresi musikal apa saja yang dihasilkan klien,
baik vokal atau instrumental yang akan digabungkan menjadi sebuah kerangka
musikal. Model ini menuntut keterampilan terapis dalam memainkan musik,
merangkai kerangka musikal yang tepat, dan juga dalam memaknai ekspresi klien.
Hal-hal tersebut akan menjadi titik pijak terapis untuk merancang terapi yang cocok
dan merefleksikan materi musiknya.
Terapis memberi perhatian penuh pada respons musikal berupa kualitas, timbre,
pitch, dinamika, dan perubahan vokal, instrumental serta ekspresi tubuh. Aplikasi
Terapi Musik Kreatif ini telah diperkenalkan secara luas dan dalam berbagai cara.
Perlu dicatat bahwa tingkat keberhasilan terapi musik ini akan tinggi jika terapis
memiliki tinglat keterampiulan musik yang tinggi.
3. Terapi Musik Behavioral
17

18
a. Latar Belakang
Model ini dipelopori oleh Dr. Clifford, adsen bersama Dr. Vance Corter yang

menerbitkan artikel ini mengenai terapi ini pada tahun 1966. Model terapi ini
merupakan bentuk dari modifikasi perilaku kognitif yang menggunakan analisis
perilaku. Konsep dasarnya adalah bahwa musik digunakan dalam perlakuan sebagai:
- isyarat,
- struktur waktu dan gerakan tubuh,
- fokus perhatian, dan
- ganjaran atau kondisioning.
Seperti halnya dalam setiap terapi perilaku, fokus perlakuan terhadap modifikasi
perilaku yang melalui proses kondisioning akan dapat diukur melalui analisis
perilaku. Baik bekerja dengan anak-anak penyandang autisme maupun penderita
depresi, semua proses meliputi konsep Stimulus-Respon (S-R), dan musik
digunakan lebih untuk mengubah perilaku dan mereduksi simtom patologis daripada
berusaha mengeksplorasi penyebab perilaku.
Penelitian yang menerapkan model ini sudah banyak dilakukan di Amerika dan
banyak yang menggunakan rekaman musik agar penelitian bisa direplikasi. Untuk
menerapkan terapi behavioral, perilaku yang akan diubah perlu dipahami sampai ke
konsep dasarnya, agar dapat diterapkan baik sebagai variabel control maupun
sebagai variabel yang perlu dimanipulasi.
Di dalamnya termasuk:
-

perilaku fisiologis,
perilaku motorik,
perilaku psikologis,
perilaku emosional,
perilaku kognitif,
perilaku perseptual, dan
perilaku otonomi.

b. Proses dan Dinamika


Contoh program ini misalnya: mendorong klien dengan gangguan belajar untuk
meningkatkan

rentang

perhatiannya

dalam

kelompok.

Bila

klien

dapat

mempertahankan perhatiannya, mereka akan diberikan musik, dan sebaliknya.


Berdasarkan asumsi bahwa klien membutuhkann pengalaman musikal, maka
program ini dirancang untuk meningkatkan perhatian karena motivasinya
mendapatkan pengalaman musikal.
18

Contoh lain adalah riset klinis19Profesor Jayne Standley dari Florida State
University di Amerika Serikat yang mengukur efek musik dalam memperkuat
perilaku menghisap pada bayi premature. Ketika bayi menghisap, maka ia akan
mendapat stimulasi musik, namun bila berhenti menghisap maka musik dihentikan.
Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa pengenalan stimuli musik mengakibatkan
perilaku menghisap meningkat, serta berat badan yang kurang serta kesehatan bayi
yang rentan teratasi lebih cepat.

c. Penggunaan Terapi Vibroakustik dan Vibrotaktil


Dalam terapi ini, musikk diperdengarkan melalui pengeras suara yang dirancang
sedemikian rupa sehingga terpasang pada kursi atau tempat tidur yang akan dipakai
untuk melakukan terapi.
Klien dipersilakan untuk duduk atau berbaring dengan nyaman, dan selama
musik diperdengarkan, klien mengalami secara langsung vibrasi yang dihasilkan dari
musik di sekujur tubuhnya. Tidak jauh berbeda dengan model terapi yang lain,
model ini adalah model terapi musik reseptif yang menggunakan pendekatan relasi
klien-terapis. Banyak prosedur vibroakustik dan vibrotaktil telah dikembangkan di
Amerika Serikat dan Jepang, sementara di Inggris, perlakuan ini dikombinasikan
dnegan musik relaksasi yang tepat (Wigram, 1997c).
Aplikasi klinis Terapi Vibroakustik dan Vibrotaktil melaporkan hasil yang
menggembirakan dalam mengatasi berbagai gangguan karena rasa sakit seperti kram
pada perut, gangguan pencernaan dan konstipasi, nyeri kepala, migrain dan sakit
kepala, sakit punggung, nyeri haid, dan lain-lain. Terapi Vibroakustik teruji berhasil
mengatasi berbagai jenis gangguan tersebut melalui rangkaian perlakuan yang
dijalankan.n frekuensi bunyi yang disarankan sangat bervariasi, tergantung pada
jenis gangguan yang diderita. Missal, untuk migrain dan sakit kepala dibutuhkan
frekuensi antara 70Hz-90Hz dan sakit punggung antara 50Hz-55Hz.
Pada penelitian lain, penggunaan terapi vibroakustik terbukti efektif untuk
mereduksi lender karena pemberian vibrasi pada paru-paru menghasilkan efwk
refleks. Hal ini sangat bermanfaat dalam terapi penyembuhan penyakit paru-paru
seperti asma, emfisema, cystic fibrosis, dan metachromatic leucodystrophy.
4. Terapi Musik Improvisasi
a. Latar Belakang

19

Terapi Musik Improvisasi juga20


disebut sebagai terapi Model Alvin. Hal ini
disebabkan karena pengembang pertama terapi ini bernama Juliette Alvin. Alvin
mengembangkan teknik improvisasi dalam suatu rancangan terapi musik didasarkan
atas pemahaman bahwa suatu terapi musik akan berhasil jika klien dibebaskan untuk
mengembangkan kreasinya, memainkan atau memperlakukan alat musiknya
sekehendak hati. Terapis musik sama sekali tidak mencampuri proses terapi dan
tidak melakukan intervensi apapun melalui peraturan, struktur, tema, ritme, maupun
bentuk musik. Sebelumnya, Alvin adalah pemain cello yang handal, ia kemudian
dikenal sebagai pelopor terapi musik di Inggris. Pada tahun 1982, Alvin meninggal
dunia dalam usia 85 tahun, namun terobosan yang ia buat berdasarkan teknik
improvisasi bebas diakui sampai hari ini.
Batasan terapi musik yang dikemukakan oleh Alvin adalah penggunaan musik
yang terpantau dalam proses pengobatan, rehabilitasi, pendidikan, atau pelatihan
bagi anak-anak atau orang dewasa yang mengalami gangguan fisik, mental atau
emosional. Berdasarkan batasan tersebut, Alvin menawarkan tiga pendekatan.
1) Pendekatan klinis: terapi musik adalah bagian dari terapi medis atau
psikologis yang dijalani klien untuk mengatasi hambatan fisik, mental, atau
emosionalnya.
2) Pendekatan rekreasional: musik berperan sebagai sarana hiburan. Tidak
ada tuntutan apapun yang dimintakan dari klien, karena tujuannya lebih
untuk menciptakan suasana hati dan atmosfir yang positif bagi klien. Tidak
ada sasaran yang secara kaku dijadikan sebagai tujuan yang ingin dicapai.
3) Pendekatan edukatif: penerapan musik dalam lingkungan pendidikan yang
dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan belajar. Oleh sebab
penerima terapi adalah anak-anak atau orang dewasa yang mengalami
gangguan atau mempunyai hambatan, maka pendidikan ymusik yang
diberikan tidak memiliki target tertentu dan tidak ditetapkan untuk mencapai
suatu tingkat kemampuan tertentu.
Mengingat bahwa yang terjadi dalam

terapi

ini

adalah

kebebasan

mengungkapkan perasaan dan bermain musik, Alvin mensyaratkan bahwa terapis


musik yang menggunakan pendekatan teknik ini haruslah seorang yang benar-benar
memiliki kemahiran dalam bermain dan memahami musik. Syarat ini terasa lebih
berat dibandingkan terapi musik jenis lain, karena dalam terapi musik improvisasi,
seorang terapis harus mampu menerjemahkan kebebasan yang diungkapkan oleh
kliennya tanpa kecuali. Ia harus benar-benar tanggap terhadap perubahan-perubahan
20

21 dan dinamika, pilihan-pilihan nada klien,


elemen musik dari pitch, tempo, timbre,

iramanya, pilihan akor yang ditunjukkan klien, judul lagunya jika yang dimainkan
adalah lagu ciptaan seseorang atau mengapa lagu itu yang dipilih. Terapis juga harus
dapat menimpali permainan klien pada saat-saat yang tepat, dan tahu kapan klien
dibiarkan bermain sendiri lagi.
b. Proses dan Dinamika
Ada beberapa tahapan yang harus dipahami jika terapis memilih terapi jenis ini:
Tahap 1: keterkaitan klien dengan objek
Di dalam tahap pertama, klien diperkenalkan dengan keseluruhan suasana
ruangan terapi, benda-benda yang ada di sekitar dan alat musik yang akan ia
gunakan. Pemusatan perhatian dilakukan tanpa pertukaran komunikasi yang
terlalu banyak antara terapis dan klien. Pertama-tama klien dibiarkan
merasakan keberadaan dirinya, mengenali bunyi alat musiknya, merasakan
sentuhan-sentuhan oleh dirinya sendiri, mendengarkan, melatih indraindranya agar peka dan akrab terhadap lingkungan sekitar. Pada tahap
berikutnya klien masih diperkenalkan dengan lingkungannya, namun sudah
diarahkan untuk menerima kehadiran terapis, mengenal alat musik yang akan
dipakai oleh terapis dan mengenali cara terapis berkomunikasi dengan

dirinya.
Tahap 2: keterkaitan klien dengan terapis
Pada tahap ini klien mulai menjalin hubungan yang lebih akrab dengan
terapis, mengenali permainan musik terapis, dan menumbuhkan pengenalan
diri yang lebih mendalam melalui hubungan baik dengan terapisnya. Terapis
dan klien mulai berbagi untuk menyelesaikan konflik-konflik yang
terpendam, dan masalah-maalah yang tidak terselesaikan melalui pertukaran
permainan musik. Klien juga belajar untuk mempercayai orang lain, diawali

dengan mempercayai terapisnya.


Tahap 3:keterkaitan klien dengan orang lain
Dalam tahap terakhir, klien diajarkan untuk merasakan dan menerima
kehadiran orang-orang di lingkungannya. Ciri khas dari tahap ini adalah
komunikasi verbal yang lebih banyak dari tahap-tahap sebelumnya.
Sementara mencapai tahap ketiga, rasa percaya diri klien diharapkan sudah
semakin meningkat, ia juga diharpkan sudah semakin asertif dapat

mengemukakan keinginannya.
Assesmen sampai evaluasi bagi klien Terapi Musik Improvisasi mencakup halhal

yang

jamak

seperti

peningkatan

kemampuan

fisik,

intelektual,

dan
21

22
perkembangan dalam masalah sosioemosional.
Klien juga dicatat respon

pendengarannya, respon terhadap alat musik, dan respon terhadap suara.


c. Prosedur Perlakuan
Sebenarnya dalam Terapi Musik Improvisasi tidak memiliki standar baku yang harus
dipenuhi klien. Model ini memberikan kebebasan penuh melalui improvisasi untuk
membenahi kekurangan klien dalam relasinya dengan lingkungan, baik benda
maupun orang, tanpa menetapkan tahapan mana yang mestinya dicapai terlebih
dahulu. Menurut kajian para pengamat terapi musik, sebagaimana dikemukakan oleh
Bruscia (1998), tujuan utama Model Alvin lebih dimaksudkan untuk mencapai
respon-respon sebagai berikut:
1) Respons Mendengar
Untuk mencapai respon ini terapis musik dapat memainkan beberapa
instrument musik, atau memperdengarkan rekaman musik kepada klien. Respon
yang diharapkan dari klien antara lain adalah:
- kepekaannya untuk memberikan tanggapan terhadap elemen-elemen
-

musik yang didengarnya,


memusatkan perhatian,
melakukan pembedaan dalam pengamatan,
memberikan reaksi afektif terhadap berbagai komponen musik, alat

musik, suasana hati, dan perasaan,


menggali ingatan yang berkaitan dengan musik, alat musik, atau jenis

musik tertentu,
munculnya imajinasi akibat musik serta kesediaan untuk menggunakan

musik sebagai ikatan dengan orang lain.


2) Respons Instrumental
Dilihat dari bagaimana respon klien terhadap alat musik. Hal tersebut
meliputi: bagaimana klien memegang dan memperlakukan alat musik, bagianbagian tubuh mana yang lekat dengan alat musik atau yang menolak alat musik,
kemampuan klien dalam menirukan suara alat musik dan bagaimana pola
musikalnya, apakah alat nusik diperlakukan secara ebbas, sangat hati-hati,
apakah ada alat musik tertentu yang lebih disukai daripada yang lain, apakah
alat musik menjadi sasaran pengganti kemarahan dan perasaan tertentu, serta
sejumlah respon lain.
3) Respons Vokal
Suara juga dianggap mewakili cara klien menghadapi dunia di luar dirinya.
Melalui respon vokal, terapis akan mencatat bagaimana nada suara dan intonasi
klien, kepekaannya terhadap perubahan nada dan dinamika suara, serta lagulagu yang disukai dan dengan mudah dinyanyikan.
22

23respon ini menutup rangkaian asesmen dan


Gambaran yang diperoleh ketiga

melengkapi evaluasi perlakuan yang diterima klien.

5. Terapi Musik Analitis


a. Latar Belakang
Sesuai dengan namanya, Terapi Musik Analitis menunjukkan latar belakang
pengembangan

awalnya

yaitu

berdasarkan

teori-teori

Psikoanalisis

yang

dikemukakan Freud. Maka dari itu dibutuhkan pemahaman yang cukup terhadap
konsep dasar Psikoanalisis yang bagi sebagian orang termasuk kalangan psikologi
sendiri, cukup sulit dicerna.
Terapi Musik Analitis mula-mula dikembangkan oleh Mary Priestley, Peter
Wright, dan Marjorie Wardle sekitar tahun 1970-an di Inggris. Dalam perjalanannya,
hanya Mary Priestley yang paling banyak dianggap sebagai pengembang terapi ini.
Kemudian Terapi Analitis sering disebut dengan Model Priestley.
Tidak seperti praktek psikoanalisis murni, terapi musik ini mengizinkan klien
untuk bertukar informasi sebanyak-banyaknya dengan terapis. Dialog yang terjadi
memungkinkan terapis menggali perasaan-perasaan bawah sadar klien. Landasan
kerjanya merupakan gabungan antara konsep-konsep psikoanalisis dengan
kebebasan berimprovisasi seperti pada Terapi Musik Improvisasi Alvin. Terapi
Analitis menggali sebanyak mungkin perasaan, ide, fantasi, ingatan, kejadian, baik
melalui pertukaran verbal maupun permainan musik.
Di dalam terapi Priestley digunakan Rentang Emosi yang dikenal sebagai
Priestleys Emotional Spectrum. Rentang emosi tersebut mencakup:
- Perasaan takut sampai perasaan yang beku, antara lain akan muncul dalam
-

bentuk kelumpuhan.
Melarikan diri dari kenyataan sampai bentuk-bentuk ketakutan yang dapat

mendorong terjadinya kepanikan.


Pertahanan diri berlebihan yang dapat berujung sampai ketakutan dan rasa
terancam yang luar biasa sehinnga mekanisme pertahanan diri akan

dilakukan secara maksimal.


Kemarahan.
Perasaan bersalah.
Kesedihan.
Cinta, kebahagiaan, dan kedamaian.

Awal mulanya terapi ini dikembangkan kepada orang dewasa yang memiliki
gangguan seperti masalah homoseksual sampai masalah dengan rekan sekerja.

23

24 Priestley adalah kasus-kasus seperti depresi,


Permasalahan terbanyak yang ditangani

histeria konversi, skizofrenia katatonik, gangguan psikosomatis, dan fobia.

b. Proses dan Dinamika


Proses Terapi Musik Analitis berpijak pada konsep-konsep Psikoanalisis seperti
model topografi psyche tentang kesadaran dan ketidaksadaran; tatanan structural id,
ego, superego; model perkembangan psikoseksual yang mencakup masa oral, anal,
falik, dan genital; konstruksi motivasi seperti pleasure/reality principle, teorinya
tentang mekanisme pertahanan diri, dan konsep-konsep hubungan klien dan terapis
seperti transferen, konter transferens, dan lain-lain.
Musik dan pertukaran verbal, baik dalam bentuk komunikasi atau munculnya
kata-kata kunci yang membantu menggali masalah-masalah terdalam klien adalah
pendukung utama keberhasilan terapi ini. Pertukaran verbal saja belum dianggap
memadai,

keran

masih

dimungkinkan

adanya

hambatran-hambatan

untuk

mengungkapkan perasaan. Oleh karena itu diperlukan musik sebagai penguat, jika
tidak mau dikatakan bahwa musik justru menjadi sarana utama karena komunikasi
dengan musik dapat diungkapkan lebih terbuka dan tidak ragu-ragu, serta lebih
simultan. Untuk tercapai

tujuan

terapi,

maka

prosedur

perlakuan

perlu

memperhatikan beberapa faktor sebagai berikut:


1) Dinamika Terapis dan Klien
Dinamika terapis musik dengan klien dapat dikatakan menjadi kunci
keseluruhan prosedur terapi ini. Sejak awal, dibutruhkan interaksi timbal balik
yang mendukung keberhasilan terapi melalui beberapa titik pijak:
- Terapi musik perlu memiliki kepekaan dan kepiawaian untuk
-

menciptakan rasa aman pada klien agar ia mau terbuka.


Terapis musik juga harus meyakinkan klien bahwa bersama-sama,
mereka akan menjalani seluruh prosedur terapi demi kesembuhan klien.
Dalam hal ini, kemampuan empati terapis musik benar-benar diuji. Klien
harus sampai pada taraf merasakan bahwa ia diizinkan untuk melepas

seluruh beban dan perasaan yang sudah ia tekan selama ini.


Dengan perantara musik, terapis membantu klien menggali perasaan-

perasaan terdalmnya.
Terapis musik akan memberikan umpan balik secara terus menerus
sesuai dengan irama klien. Jika klien menunjukkan perasaan positif,
maka terapis akan memberikan penguatan, sementara jika klien berada
24

25yang murung dan tidak nyaman, terapis wajib


dalam kondisi suasana hati

menawarkan cara-cara untuk menata kembali perasaan klien sampai


pada taraf terbaik yang mungkin dicapai.
- Terapis musik perlu menunjukkan bahwa
2) Dinamika Musik dan Klien
Mengingat bahwa terapi musik analitis berkaitan dengan perasaan-perasaan
terdalam klien yang mungkin sengaja ditekan, maka kemungkinan terjadinya
hambatan komunikasi cukup besar. Untuk itu, musik adalah sarana utama yang
dengan segera dapat menggantikan pertukaran komunikasi dalam sebuah
prosedur terapi. Musik sekaligus berperan dalam menciptakan suasana hati
klien, karena itu kemahiran dan pengetahuan musik terapis menjadi syarat
mutlak yang tidak dapat ditawar. Terapis harus segera tahu, mana musik yang
dapat dipakai untuk meningkatkan rasa nyaman klien, kualitas elemen musik
mana yang bermanfaat untuk meningkatkan motivasi klien, melodi dan harmoni
musik macam apa yang dapat menggugah perasaan klien, bahkan sampai
rangkaian elemen musik seperti apa yang dapat memicu kemarahan klien. Hal
ini mungkin sesekali dibutuhkan, khususnya ketika klien memerlukan katarsis
untuk perasaan-perasaan tidak menyenangkan dan kemarahan-kemarahan
terpendamnya.
3) Dinamika Interpersonal
Pada aspek interpersonal, terjadi perpaduan antara konsep-konsep Freud
tentang psikoanalisis dengan kaidah-kaidah musik. Priestly menggambarkan
bahwa dalam kepribadian seseorang selalu terdapat suatu entitas musikal yang
disebutnya sebagai inner music. Batasan inner music adalah suasana hati yang
selalu berada di balik proses berpikir seseorang. Inner music mewarnai struktur
idegosuperego manusia, sekaligus menjadi pusat jiwa seseorang. Maka dari
itu ketika seseorang berada pada ketidakseimbangan jiwa, terapi musik
melakukan aransemen ulang terhadap ketiga unsure jiwa tersebut.
Ketiga dinamika yang telah diuraikan di atas adalah mata rantai yang tidak
dapat diputus di satu sisi. Ketiganya menjadi rangkaian prosedur yang
dikendalikan oleh terapis musik, dan akan menentukan keberhasilan pencapaian
sasaran terapi.
c. Prosedur Perlakuan

25

26
Keharusan untuk menggali perasaan-perasaan
klien yang terendapkan di bawah

sadar menuntut pendekatan dengan cara ini dilakukan berulangkali dengan situasi
dan kondisi yang sama. Proses yang tidak sederhana menyebabkan terapi harus
dilakukan berkali-kali, sementara satu sesi sebaiknya dijalani tidak lebih dari 50
menit. Untuk itu dibutuhkan ruangan yang nyaman untuk klien, dan penataan
ruangan yang sama terus menerus untuk setiap klien. Persyaratan ini diangap
mendukung pendekatan yang memang mendorong klien untuk kembali ke masa lalu
secara berulang, memberinya kesempatan untuk menguraikan mimpinya sampai
jelas, dan menelaah fiksasi trauma yang telah menetap, agar dapat diterapkan
pengalaman emosional yang bersifat positif dan menyembuhkan. Ruangan harus
netral, memiliki penerangan yang cukup, dan sedapat-dapatnya tidak ada lukisan di
dinding atau hiasan-hiasan dan vas bunga yang dapat membangkitkan asosiasi.
Oleh sebab sifatnya yang jangka panjang dan berulang, maka pencatatan
kemajuan klien dan tahapan terapi yang dilalui harus terdokumentasi dengan baik.
Demikian juga halnya dengan lagu-lagu dan musik yang dipakai, diperdengarkan
dan dimainkan selama terapi harus selalu direkam, agar dapat digunakan kembali
pada saat yang tepat.
Sejumlah analisis melalui musik yang dikembangkan oleh Priestley adalah:
1) Analisis terhadap Penolakan
Dalam analisis ini musik dipakai untuk melepaskan emosi tertahan yang
sudah terendap bertahun-tahun. Dengan cara ini perasaan dibiarkan mengalir
bebas melalui musik dan pada umumnya diikuti oleh terbebasnya belenggu
pemikiran dan perasaan yang menyertainya.
2) Analisis terhadap Pertahanan Ego
Klien diajak untuk menguraikan berbagai pertahanan ego yang terjadi
dalam dirinya dan mulai menata kembali kondisi-kondisi emosional yang
cenderung menyiksanya selama ini. Musik dan pernyataan lisan digunakan
dalam cara ini.
3) Analisis Tahapan Perkembangan Psikoseksual
Terapi musik diberikan sesuai dengan tahapan perkembangan psikoseksual
yang terhambat di masa kanak-kanak. Terapi musik oral, misalnya akan
menggunakan banyak alat musik tiup; terapi musik anal diasumsikan berkaitan
dengan tidak terpenuhinya kebutuhan terhadap kekuasaan dan pengendalian diri.
Untuk itu alat musik perkusi dianggap dapat membantu klien mengekspresikan
perasaan dan hambatan-hambatannya.
6. Metode Pendidikan dalam Terapi Musik
26

Di samping mahir memainkan 27


musik, hendaknya terapis musik memiliki
kepribadian yang matang, bijak, dan mampu berempati terhadap masalah klien. Tidak
kalah pentingnya adalah pengetahuan terapis terhadap sejumlah metode pendidikan
musik yang dapat diterapkan dalam terapi musik. Di antaranya adalah:
Metode Carl Orff (Orff-Schulwerk) dari Jerman yang menekankan ritme-ritme
alamiah sebagai irama dasar sebuah lagu, dapat membantu mengeksplorasi

gerakan dan permainan yang merangsang kreativitas dan imajinasi.


Salah satu bentuk musik yaitu Rondo banyak digunakan dalam terapi musik
dengan memberikan kebebasan pada individu untuk mengugnkapkan responnya

dalam rangka membagi pengalaman kelompok (Bitcon, 1974).


Beberapa metode pendidikan seperti metode Suzuki dari Jepang yang
menitikberatkan pengajaran instrument mulai sejak dini sangat popular bagi
terapis musik (Suzuki, 1981), begitu pula Metode Zoltan Kodaly dari Hungaria
dengan konsep irama, isyarat tangan dalam bernyanyi serta pole eksperimental

lain dalam belajar musik (Chosky, 1984)


Perkembangan teknologi dan elektronik turut mempengaruhi perkembangan di
dalam terapi musik. Klien yang memiliki keterbatasan fisik dimungkinkan untuk
berpartisipasi dalam ansambel musik dengan menggunakan piranti lunak seperti Switch
Ensemble (Adams, 1998).
Pada konsep psikoterapi, musik dianggap sebagai terapi ekspresi (Feder & Feder)
dan terapi insight dengan penekanan terhadap proyeksi perasaan melalui pengalaman
musik. Respons afeksi terhadap musik menjdai sumber usaha untuk membangkitkan,
mengekspresikan, dan memahami perasaan serta emosi seseorang. Menimbulkan emosi
melalui musik berarti mengarah pada kesadaran diri secara penuh, yaotu pada gilirannya
akan memacu persepsi puncak seseorang.
Proses seperti ini berusaha memabntu tumbuhnya insight sebagai sasaran terapi.
Orientasi terhadap insight yang akan digali diidentifikasikan sebagai pendekatan yang
dapat terus berkembang, sejauh diikuti oleh petunjuk reedukatif atau rekonstruktif.
Sasaran pada terapi reedukatif adalah menemukan pertumbuhan diri melalui
penyesuaian kembali atau perubahan perilaku, sementara terapi rekonstruktif terpusat
pada reorganisasi kepribadian.
F. Aplikasi Terapi Musik
1. Terapi Musik untuk Penyandang Cacat fisik
Seorang terapis musik perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan yang cukup
untuk membantu penyandang cacat fisik, karena penyebab dan diagnosis yang berbeda
akan membutuhkan perlakuan yang berbeda pula.
27

28
Terapis musik juga perlu mempertimbangkan
cara dan diagnosis terhadap kondisi

yang dihadapi. Apakah kerusakan yang dialami semakin parah atau lebih buruk dari
waktu ke waktu? Bila ini terjadi, fungsi seperti apa yang diharapkan dari anak?
Pemahaman diagnosis pada kondisi khusus akan membantu terapis mengetahui apa saja
perilaku yang dapat dipengaruhi dan potensi apa yang masih bisa difungsikan secara
optimal dari anak.
a. Sasaran
Dalam bekerja dengan anak-anak penyandang cacat fisik, terapis musik
memiliki tiga sasaran yang berbeda, yaitu:
Sasaran Edukasi
Sasaran Rehabilitatif
Sasaran Perkembangan
b. Pengembangan Keterampilan Motorik
Beberapa teknik dapat dipisahkan ke dalam dua pendekatan: bergerak ke musik
dan bergerak melalui musik. Pada pendekatan pertama terapis berusaha melatih
keterampilan motorik klien agar membentuk suatu gerakan yang ritmis. Hal yang
dimaksud dengan ritmis di sini adalah teknik yang menggunakan ketukan bahasa
irama atau ketukan hitungan, dan pada umumnya digunakan untuk membantu anakanak dengan cedera otak dalam melatih fungsi dan sasaran orientasi tugas motorik.
Pada pendekatan kedua, memainkan alat musik akan menjadi sumber yang baik
untuk melatih oto dan meingkatkan keterampilan motorik kasar dan halus. Teknik ini
disebut Permainan Alat Musik Terapeutik. Alat musik dapat dipilih sesuai kebutuhan
fisik dan kemampuan anak yang mengalami cacat fisik tersebut. Pemilihan jenis alat
musik juga perlu dilakukan agar dapat diadaptasikan secara tepat untuk ememnuhi
fungsi dan perilaku yang diharapkan. Beberapa contoh yang dapat diterapkan:
Musik dengan volume suara yang rendah dapat digunakan untuk membantu

relaksasi otot pada kondisi otot yang tegang dan kejang.


Musik instrumental atau lagu-lagu dapat digunakan untuk membentuk dan

menuntun latihan lengan dan tangan


Stimuli ritmis dapat memfasilitasi latihan berjalan secara efektif.
Musik dan suara juga dilaporkan berhasil digunakan untuk memberikan

pengaruh arus balik auditorik selama latihan gerakan.


Stimulasi ritmis dapat digunakan secara efisien sebagai pembuka jalan atau
pencatat struktur ketepatan waktu, koordinasi spasial, antisipasi, dan
memotivasi gerakan ritmis.

28

c. Keterampilan Komunikasi 29
Teknik terapi musik dapat mencapai sasaran keterampilan komunikasi dalam
tiga cara:
Aktivitas dan pengalaman musik dapat menjadi motivator dan fasilitator
yang baik untuk mendorong anak berkomunikasi baik secara verbal maupun

nonverbal.
Musik dapat menjadi sarana penghargaan yang efisien bagi anak dalam

mendorong dan memperkuat perilaku komunikasi.


Ada beberapa teknik terapi wicara yang menggunakan materi musik untuk
memperbaiki kelemahan bicara.
- Gagap dapat dikurangi dengan bicara secara ritmis atau menggunakan
-

perubahan nada melodi yang kuat.


Beberapa kekacauan bicara dapat dikurangi kecepatannya dan ungkapan

yang tidak dimengerti dapat diatasi dengan teknik yang sama.


Pada kasus gangguan suara, latihan vokal dapat membantu memperbaiki
pitch abnormal, kekerasan bunyi, timbre, pernapasan, dan percakapan.

d. Keterampilan Kognitif
Musik dapat digunakan secara efisien sebagai motivator stimulus, penguatan
darn penghargaan dalam usaha belajar. Lagu-lagu edukatif/instruksional atau
aktivitas yang mengombinasikan bahasa, gerakan, dan musik dapat memfasilitasi,
menjelaskan, dan mengilustrasikan tambahan informasi akademik.
Struktur melodi dan ritme dari lagu juga dapat membantu anak mengingat isi
lagu yang menekankan konsep akademik.
e. Keterampilan Sosial
Pada umumnya aktivitas sosial yang diadakan selalu terdapat aktivitas gerakan.
Hal tersebut membuat para penyandang cacat fisik jarang berpartisipasi dalam acara
sosial. Padahal anak penyandang cacat fisik harus banyak dilibatkan aktivitas sosial
agar dirinya dapat berkembang. Untuk mewujudkan hal tersebut perlu melibatkan
peran dari guru, orangtua, dan ahli kesehatan. Terapis musik juga perlu memikirkan
aktivitas yang dapat melibatkan anak penyandang cacat fisik.
Peran terapi musik dalam upaya pengembangan keterampilan sosial sangat
besar. Partisipasi yang menyenangkan dan terasa sangat berarti dalam aktivitas
musik dapat menggantikan berbagai tingkat kemampuan fisik dan intelektual.
Kelompok bernyanyi atau ansambel musik dapat dirancang untuk anak yang dapat
berjalan sendiri maupun yang memakai kursi roda.

29

30
f. Keterampilan Emosi
Terapi musik dapat memainkan peranan yang penting dalam memenuhi

kebutuhan emosional klien, karena pengalaman musikal sudah teruji efektif untuk
meningkatkan berbagai tingkat kemampuan sensorik, fisik, dan intelektual.
2. Terapi Musik sebagai Manajemen Stress
Terdapat dua jenis stres yang terjadi pada manusia. Stres pertama adalah stress yang
baik (eustres) yang membuat kita menaruh perhatian, termotivasi, dan lebih tanggap
terhadap berbagai peristiwa dalam kehidupan sehari-hari, dan ada stres buruk (distress)
yang mengganggu.
Terapi musik untuk mengatasi stres banyak mengacu pada konsep-konsep budaya
Timur dan banyak dikombinasi dengan metode meditasi. Salah satunya adalah prinsip
dalam filosofi Tao dengan penekanan pada eksplorasi dan ekspresi, menggali
pengalaman individu dalam kehidupannya. Musik dalam pemahaman Taoisme adalah
pengalaman yang diperoleh melalui kebebasan yang mengalir pada kedalaman seseorang
berupa irama alamiah. Walaupun sulit didefinisikan secara eksak, Tao lebih dipahami
sebagai jalan yang esensinya bertolak dari dan kepada kekuatan alam. Pengajarannya
bebas dari moral, sosial, politik, dan secara sederhana mengajak untuk kembali kepada
kesederhanaan alam.
Berikut ini adalah beberapa teknik yang biasa digunakan di dalam terapi musik,
yaitu:
a. Sebelum mulai latihan, perdengarkan suara musik lebih kurang 5 menit. Ketika
mendengar, rasakan ketenangan vibrasi musik yang mengitarimu. Biarkan
dirimu merasakan sinkronisasi ritmis pada lingkungan yang harmonis.
b. Latihan ini membutuhkan waktu 20 menit
c. Lima meniut terakhir harus berguna sebagai kesempatan terakhir bagimu untuk
menghembuskannya ke dunia luar.
1) Pilih musik dengan durasi 30 menit yang memiliki ketenangan khusus.
2) Carilah tempat yang nyaman dan tenang agar tidak terganggu.
3) Jaga suara lingkungan, misalnya dari dering suara telepon yang menganggu,
beritahukan bahwa kamu sedang tidak mau diganggu.
4) Putarkan musik yang telah dipilih.
5) Diam beberapa saat (3-5 menit) agar terjadi sinkronisasi ritmis dengan
dunia luar.
6) Mulai latihan di bawah ini.
Pejamkan mata.
Bernapas.
Bayangkan tubuhmu adalah sebuah kendang yang kosong.
Tarik napas ke dalam...keluar...lepaskan.
Biarkan suara masuk melalui telapak kakimu.
30

31
Bernapas dalam suara...keluarkan
suara bising...lepaskan.
Biarkan napasmu tenang mengikuti irama suara.
Biarkan pikiranmu menemukan irama kenyamanan dalam irama suara.
Tarik napas ke dalam...keluar...lepaskan.
Rasakan gema suara melalui telapak kakimu dan lepaskan.
Pada setiap denyut nadi; rasakan getaran suara yang menghilangkan

ketegangan.
Tarik napas ke dalam...keluar...lepaskan.
Ikuti suara ketika merambat naik melalui kakimu.
Setiap ketukan menghilangkan ketegangan dari kakimu.
Tarik napas ke dalam...keluar...lepaskan.
Ikuti suara yang bergetar naik melalui pergelangan kakimu.
Rasakan getaran suara melalui udara yang melegakan.
Tarik napas ke dalam...keluar...lepaskan.
Ikuti suara yang bergetar naik melalui kaki bagian bawah
Tarik napas ke dalam...keluar...lepaskan.
Lanjutkan dengan merasakan getaran suara melalui anggota tubuh
selanjutnya, jika sesuai contoh, maka dimulai dengan anggota tubuh bagian
bawah dan diakhiri dengan anggota tubuh bagian atas. Kata-kata dapat
disesuaikan dengan situasi dan kondisi.
3. Toning
Jika dijelaskan secara sederhana, toning adalah cara alamiah untuk menciptakan
suara vokal dengan tujuan mencapai keseimbangan. Setiap orang sebenarnya melakukan
toning. Misalnya ketika kita merasa lelah dan mengantuk, maka kita akan menyelaraskan
diri dengan suara menguap. Bila merasa sakit atau terluka maka toning kita lakukan
dengan berteriak.
Banyak orang yang menganggap enteng pentingnya membuat suara secara spontan.
Padahal sebenarnya sejak bayi, kita tidak bisa dihalangi untuk mengeluarkan dan
mengekspresikan suara. Faktanya dengan melakukan toning maka kita akan
membebaskan diri kita dari perasaan tertekan dan toning merupakan bagian integral dari
fungsi kesehatan. Kesimpulannya, suara toning diperlukan untuk mendapatkan
keseimbangan tubuh.

31

32

BAB III
PENUTUP
Berdasarkan uraian mengenai terapi musik, dapat disimpulkan bahwa teknik yang
digunakan dalam melakukan terapi musik adalah fleksibel, meskipun menggunakan model
terapi yang sama, namun saat diterapkan akan disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang
dihadapi terapis.
Setiap model terapi yang telah diuraikan dalam bab sebelumnya memiliki ciri khas
masing-masing. Maka dari itu jika kita ingin melakukan musik terapi, dapatkan ciri khas dari
model yang akan kita gunakan, dan pelajari lebih lanjut efektifitas model terapi musik saat
akan diterapkan kepada kasus atrau permasalahan klien.

32