Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM EKOLOGI TUMBUHAN


RELEVE

Disusun oleh :
NAMA

: INTAN WIDYA PANGESTIKA

NIM

: K4313039

KELOMPOK

:6

KELAS

:A

PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2016

RELEVE
I.

JUDUL
Releve

II.

TUJUAN
1. Mengetahui luas plot minimal pada lokasi Mojosongo dengan
menggunakan metode Releve.
2. Mengetahui presensi masing-masing spesies pada lokasi
Mojosongo.
3. Mengetahui konstansi masing-masing spesies pada lokasi
Mojosongo.
4. Mengetahui spesies yang termasuk dalam spesies commonly
(umum), karakteristik, atau pembeda.

III.

DASAR TEORI
Analisa vegetasi merupakan suatu cara mempelajari susunan
(komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat
tumbuh-tumbuhan. Untuk suatu kondisi hutan yang luas, maka
kegiatan analisa vegetasi erat kaitannya dengan sampling, artinya
kita cukup menempatkan beberapa petak contoh untuk mewakili
habitat tersebut. Dalam sampling ini ada tiga hal yang perlu
diperhatikan, yaitu jumlah petak contoh, cara peletakan petak contoh
dan teknik analisa vegetasi yang digunakan (Umar, 2012).
Vegetasi sering diartikan sebagai kumpulan tumbuh-tumbuhan,
biasanya terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada
suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut
terdapat interaksi yang erat, baik diantara sesama individu penyusun
vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme lainnya sehingga
merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh serta dinamis
(Magurran, 1988 ).
Vegetasi, tanah dan iklim berhubungan erat dan pada tiap-tiap
tempat mempunyai keseimbangan yang spesifik. Vegetasi di suatu
tempat akan berbeda dengan vegetasi di tempat 1ain karena
berbeda pula faktor lingkungannya. Vegetasi hutan merupakan
sesuatu sistem yang dinamis, selalu berkembang sesuai dengan
keadaan habitatnya.
Dalam upaya memperoleh informasi vegetasi secara obyektif
dapat digunakan metode ordinasi dengan menderetkan contohcontoh (releve) berdasar koefisien ketidaksamaan (Greig-Smith,
1983). Variasi dalam releve merupakan dasar untuk mencari pola
vegetasinya. Dengan ordinasi diperoleh releve vegetasi dalam bentuk
model geometrik yang sedemikian rupa sehingga releve yang paling
serupa mendasarkan komposisi spesies beserta kelimpahannya akan
rnempunyai posisi yang saling berdekatan, sedangkan releve yang
2

berbeda akan saling berjauhan. Ordinasi dapat pula digunakan untuk


menghubungkan pola sebaran jenis jenis dengan perubahan faktor
lingkungan (Gunaryadi, 1996).
Kurva spesies area merupakan langkah awal yang digunakan
untuk menganalisis vegetasi yang menggunakan petak contoh.
Luasan petak contoh mempunyai hubungan erat dengan keragaman
jenis yang terdapat pada areal tersebut. Makin beragam jenis yang
terdapat pada areal tersebut, makin luas kurva spesies areanya.
Bentuk luasan kurva spesies area dapat berbentuk bujur sangkar,
empat persegi panjang dan dapat pula berbentuk lingkaran. Petak
contoh dapat ditambahkan jika terjadi penambahan spesies dalam
petak contoh yang sedang diamati lebih dari 10 % (Soerianegara,
1982).
Menurut Raharjanto (2001), prinsip penentuan ukuran petak
adalah petak harus cukup besar agar individu jenis yang ada dalam
contoh dapat mewakili komunitas, tetapi harus cukup kecil agar
individu yang ada dapat dipisahkan, dihitung dan diukur tanpa
duplikasi atau pengabaian. Karena titik berat analisa vegetasi terletak
pada komposisi jenis dan jika kita tidak bisa menentukan luas petak
contoh yang kita anggap dapat mewakili komunitas tersebut, maka
dapat menggunakan teknik Kurva Spesies Area (KSA). Dengan
menggunakan kurva ini, maka dapat ditetapkan: (1) luas minimum
suatu petak yang dapat mewakili habitat yang akan diukur, (2)
jumlah minimal petak ukur agar hasilnya mewakili keadaan tegakan
atau panjang jalur yang mewakili jika menggunakan metode jalur
(Raharjanto, 2001).
IV.

BAHAN DAN METODE


Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum releve yaitu:
patok sebanyak 4 buah untuk memasang plot; tali rafia dengan
panjang secukupnya sebagai garis pembatas plot; meteran untuk
mengukur panjang dan lebar plot agar dapat diketahui luasannya;
label untuk menandai spesies yang ditemukan di lokasi plotting; alat
tulis untuk menuliskan lembar data pengamatan sementara; buku
identifikasi untuk membantu kegiatan identifikasi di lapangan; dan
yang terakhir adalah kantong plastik sebagai wadah spesies tanaman
yang belum teridentifikasi di lapangan yang kemudian dilanjutkan
pengidentifikasian di kampus UNS.
Prosedur praktikum diawali dengan menentukan lokasi yang memiliki luas 10 ha.
Kemudian dilanjutkan dengan mencari peta lokasi yaitu peta citra daerah Mojosongo
melalui Google earth dengan luas daerah kurang lebih 10 hektar. Berdasarkan citra
Google earth selanjutnya ditentukan batas daerah berupa titik-titik yang dapat diamati
melalui survey dengan menggunakan GPS, dan memasukan titik koordinat ke dalam
3

Google earth. Peta citra yang didapat dari google earth selanjutnya ditransformasikan
menjadi peta topografi menggunakan CorelDraw. Kegiatan selanjutnya yaitu,
memastikan lokasi yang sudah dipilih dari google earth untuk menentukan tanda medan
dan bareground yang dimasukkan ke peta. Setelah itu, membuat peta dengan aplikasi
Arcgis lalu mencetak peta dalam ukuran besar (A1), lalu menggambar peta di atas
kertas milimeter blok.
Kegiatan praktikum di lapangan diawali dengan menentukan 12 titik sebagai
tegakan sampel dari vegetasi Mojosongo. Selanjutnya, pada masing-masing
tegakan/stand dilakukan pembuatan plot dan kemudian mencatat jumlah jenis spesies
yang ada di plot. Karena vegetasi pada lokasi tersebut adalah heterogen, sehingga luas
plot pertama berukuran 0,5 m x 0,5 m. Kegiatan selanjutnya, menetukan jumlah spesies
yang sama untuk 2 plot terakhir secara berurutan, yaitu dengan ketentuan: ukuran plot
0,5 x 0,5 m maka luas plot 0,25 m 2; ukuran plot 0,5 x 1 m maka luas plot 0,5 m 2;
ukuran plot 1 x 1 m maka luas plot 1 m2; ukuran plot 1 x 2 m maka luas plot 2 m 2;
ukuran plot 2 x 2 m maka luas plot 4 m2; dan ukuran plot 2 x 4 m maka luas plot 8 m2.
Berikutnya adalah menghitung jumlah macam spesies tumbuhan yang ada di
dalam plot sampai di dapatkan 3 x jumlah macam spesies yang sama secara berurutan.
Apabila belum mendapatkan angka yang konstan, pengukuran pada luas plot ditambah
dengan 2 x penambahan luas sebelumnya. Hasil pengukuran yang diperoleh, kemudian
dikonversikan dalam bentuk kurva, dimana sumbu x adalah luas plot dan sumbu y
adalah jumlah macam spesies. Pembuatan kurva dilakukan melalui 3 tahapan, yang
pertama adalah mencari luas plot minimal plot, dengan cara menentukan titik 5%,
dengan: sumbu x = 5% dari luas plot minimal pada plot dengan jumlah macam spesies
yang konstan, dan sumbu y = 5% dari jumlah macam spesies yang konstan. Tahapan
yang kedua yaitu menarik garis dari titik (0,0) ke titik 5%, dan tahapan yang terakhir
yaitu membuat garis sejajar dengan garis tersebut hingga diperoleh 1 titik
persinggungan dengan kurva lalu ditarik ke sumbu x di mana nilai pada sumbu x
merupakan luas plot minimal di titik tersebut.
Pembuatan kurva dilakukan untuk 2 titik yang dibuat plot hingga diperoleh luas
plot minimal masing-masing. Berdasarkan plot minimal yang diperoleh dari masingmasing tegakan, akan dilakukan pengamatan untuk mencari presensi dan konstansi dari
masing-masing spesies. Setelah diperoleh data, kemudian menyatukan data dari tiaptiap stand menjadi data lokasi Mojosongo. Setelah diperoleh data selanjutnya
menghitung nilai presensi dan konstansi dengan rumus sebagai berikut:

Rumus nilai presensi masing-masing spesies:


stand dengan sp . X
Presensi =
X 100%
seluruh stand

Rumus konstansi masing-masing spesies:


replikadengan sp . X
Konstansi=
X 100%
seluruhreplika

Setelah didapatkan nilai konstansi, kemudian mengurutkan nilai konstansi tiap


spesies dari yang terbesar sampai yang terkecil. Berdasarkan urutan nilai konstansi,
selanjutnya menetukan jenis spesies apakah termasuk spesies Commonly, karakteristik
dengan pembeda, dengan ketentuan: 20% spesies teratas adalah spesies Commonly,
20% spesies terbawah adalah spesies karakteristik, sisanya adalah spesies pembeda.
Setelah ditentukan jenis spesies, lalu dilakukan analisis data yang diperoleh.

V.

DATA PENGAMATAN
a. Luas Plot Minimal
Tabel 1. Luas plot minimal pada masing-masing kelompok dalam satu angkatan.
Luas plot minimal masing-masing kelompok adalah 1,3 m2.

Kelompok/

Kelompo

Kelompo

Kelompo

Kelompo

Kelompo

Kelompo

Kelompo

Kelompo

Kelompo

Kelompo

Kelompo

Kelompo

Pengulang

k1

k2

k3

k4

k5

k6

k7

k8

k9

k 10

k 11

k 12

an
Luas Plot

1,

Minimal

(m2)

b. Data Nilai Presensi


Tabel 2. Data pengamatan releve angkatan berdasarkan nilai presensi.
(TERLAMPIR)
c. Data Nilai Konstansi
Tabel 3. Data pengamatan releve angkatan berdasarkan nilai konstansi.
(TERLAMPIR)

VI.

PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, jumlah spesies yang ditemukan di lokasi Mojosongo
adalah sebanyak 87 spesies dari beberapa titik plot yag berbeda. Adapun spesies-spesies yang ditemukan
adalah :
6

Mimosa pudica

Eupatorium odoratum

Fimbristylis
dichotoma
Fuirrena ciliaris
Hyptis brevipes
Ipomea hispida
Ischaemum ciliare

Elephantopus scaber
Cyperus sphaeroides
Desmodium triflorum
Lindernia crustacea

Fimbristylis castanea
Galinsoga parviflora
Imperata cylindrica
Ischaemum rugosum

Mimosa invisa

Panicum ramosum

Oplishmenus brumanii

Paspalum conjugatum

Waltheria americana
Ageratum conyzoides

Paspalum notatum
Paspalum scrobiculatum

Ischaemum
timorense
Kylinga
monocephala
Lindernia viscosa
Oxalis corniculata

Axonophus compresus

Tridax procumbens

Panicum crusgalli

Desmodium heterophylum

Urena lobata

Panicum lutescens

Euphorbia hirta

Adenostemma lavenia

Panicum maximus

Uraria lagopodioides

Alysicarpus nummularifolius

Panicum muticum

Ammania octandra

Amorphophallus companolatus

Panicum repens

Digitaria sanguinalis

Amorphophallus variabilis

Panicum scoparium

Eleusin indica

Andropogon aciculatus

Paspalum
fimbriatum
7

Fimbrisyilis litoralis

Arachis pintoi

Ipomoea obscura

Axonophus fissifolius

Oxalis barelieri

Borreria alata

Panicum barbatum

Borreria latifolia

Paspalum
mucronatum
Pennisetum
purpureum
Phasiolus
lathyroides
Phyllantus urinaria

Phyllantus niruri

Calopogonium muchonoides

Phyllantus virgatus

Themeda argues

Centtelaasiatica

Alysicarpus bupleurifolius

Centrosoma plumieria

Borreria occymoides
Cassia tora
Centranthera hispida
Demeria ornithopoda

Crotalaria prostata
Cynodon dactylon
Dentella repens
Eclipta alba

Rottboellia
ophiroides
Spermachoche
latifolia
Triumfetta annua
Triumfetta indica
Waltheria indica
Zingeber officinale

Desmodium rotundifolium

Eraglotis amabilis

Eleocharis acicularis
Eleuntheranthera ruderalis

Eraglotis ciliaris
Fimbristylis anua

Alysicarpus bupleurifolius

Calopogonium muchonoides

Borreria occymoides
Cassia tora

Centtela asiatica
Centrosoma plumieria
8

Berdasarkan keseluruhan jumlah spesies yang didapatkan, dilakukan penghitungan nilai presensi dan
konstansi. Presensi merupakan nilai yang menggambarkan keberadaan suatu spesies dalam setiap
pengamatan yang dilakukan. Presensi berorientasi pada banyaknya pengulangan yang dilakukan dalam
kegiatan pengamatan. Sedangkan konstansi merupakan nilai yang menggambarkan keajegan dari keberadaan
suatu spesies dalam stand. Konstansi lebih berorientasi pada banyaknya stand yang ada dalam kegiatan
pengamatan. Melalui nilai presensi dan konstansi, dapat dikategorikan spesies apa saja yang termasuk dalam
spesies commonly, pembeda atau karakteristik.
Spesies tumbuhan commonly merupakan tumbuhan yang umum dijumpai pada lokasi pengamatan,
spesies commonly pada pengamatan praktikum ini terletak pada ranking 1 17, yaitu 20% teratas dari
jumlah spesies yang ditemukan. Speises pembeda terletak pada rangking 18-67, merupakan spesies
tumbuhan intermediate yang mengisi 60% dari jumlah spesies yang ditemukan selama pengamatan. Bagian
terakhir adalah spesies tumbuhan karakteristik, yaitu spesies-spesies yang jarang ditemui selama
pengamatan, mencakup 20% dari jumlah spesies yang ditemukan, berada pada urutan rangking ke 68-87.
Spesies tumbuhan commonly, pembeda dan karakteristik diurutkan rangkingnya masing-masing berdasarkan
nilai presensi dan konstansinya. Data presensi dan konstansi spesies yang diperoleh dari lokasi Mojosongo
adalah sebagai berikut:
a) Data presensi spesies yang ditemukan di Mojosongo
Nama Spesies
Constansi
Keterangan
Commonly
Mimosa pudica
44.44444444
Commonly
Elephantopus scaber
30.55555556
Commonly
Cyperus sphaeroides
22.22222222
Commonly
Desmodium triflorum
33.33333333
Commonly
Lindernia crustacean
25
Commonly
Mimosa invisa
27.77777778
Commonly
Oplishmenus brumanii
30.55555556
Commonly
Waltheria Americana
36.11111111
Commonly
Ageratum conyzoides
25
9

Axonophus compresus
Desmodium heterophylum
Euphorbia hirta
Uraria lagopodioides
Ammania octandra
Digitaria sanguinalis
Eleusin indica
Fimbrisyilis litoralis
Ipomoea obscura
Oxalis barelieri
Panicum barbatum
Phyllantus niruri
Themeda argues
Alysicarpus bupleurifolius
Borreria occymoides
Cassia tora
Centranthera hispida
Demeria ornithopoda
Desmodium rotundifolium
Eleocharis acicularis
eleuntheranthera ruderalis
Eupatorium odoratum
Fimbristylis castanea
Galinsoga parviflora
Imperata cylindrica
Ischaemum rugosum
Panicum ramosum
Paspalum conjugatum
Paspalum notatum
Paspalum scrobiculatum
Tridax procumbens

27.77777778
27.77777778
22.22222222
13.88888889
8.333333333
13.88888889
19.44444444
8.333333333
8.333333333
22.22222222
19.44444444
16.66666667
16.66666667
8.333333333
11.11111111
8.333333333
11.11111111
16.66666667
11.11111111
16.66666667
8.333333333
5.555555556
11.11111111
8.333333333
5.555555556
11.11111111
11.11111111
11.11111111
11.11111111
8.333333333
11.11111111

Commonly
Commonly
Commonly
Commonly
Commonly
Commonly
Commonly
Commonly
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
10

Urena lobata
Adenostemma lavenia
Alysicarpus nummularifolius
Amorphophallus companolatus
Amorphophallus variabilis
Andropogon aciculatus
Arachis pintoi
Axonophus fissifolius
Borreria alata
Borreria latifolia
Calopogonium muchonoides
Centtelaasiatica
Centrosoma plumieria
Crotalaria prostate
Cynodon dactylon
Dentella repens
Eclipta alba
Eraglotis amabilis
Eraglotis ciliaris
Fimbristylis anua
Fimbristylis dichotoma
Fuirrena ciliaris
Hyptis brevipes
Ipomea hispida
Ischaemum ciliare
Ischaemum timorense
Kylinga monocephala
Lindernia viscosa
Oxalis corniculata
Panicum crusgalli

5.555555556
2.777777778
2.777777778
2.777777778
2.777777778
2.777777778
5.555555556
8.333333333
2.777777778
5.555555556
2.777777778
5.555555556
5.555555556
5.555555556
5.555555556
8.333333333
2.777777778
2.777777778
2.777777778
8.333333333
5.555555556
2.777777778
2.777777778
2.777777778
2.777777778
2.777777778
2.777777778
2.777777778
5.555555556
2.777777778

Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Karakteristik
11

Panicum lutescens
Panicum maximus
Panicum muticum
Panicum repens
Panicum scoparium
Paspalum fimbriatum
Paspalum mucronatum
Pennisetum purpureum
Phasiolus lathyroides
Phyllantus urinaria
Phyllantus virgatus
Rottboellia ophiroides
Spermachoche latifolia
Triumfetta annua
Triumfetta indica
Waltheria indica
Zingeber officinale

2.777777778
5.555555556
8.333333333
2.777777778
2.777777778
5.555555556
5.555555556
2.777777778
2.777777778
5.555555556
2.777777778
2.777777778
2.777777778
2.777777778
2.777777778
2.777777778
2.777777778

Karakteristik
Karakteristik
Karakteristik
Karakteristik
Karakteristik
Karakteristik
Karakteristik
Karakteristik
Karakteristik
Karakteristik
Karakteristik
Karakteristik
Karakteristik
Karakteristik
Karakteristik
Karakteristik
Karakteristik

b) Data konstansi spesies yang ditemukan di Mojosongo


Nama Spesies
Constansi
Keterangan
Mimosa pudica
44.44444444 Commonly
Waltheria Americana
36.11111111 Commonly
Desmodium triflorum
33.33333333 Commonly
Elephantopus scaber
30.55555556 Commonly
Oplishmenus brumanii
30.55555556 Commonly
Mimosa invisa
27.77777778 Commonly
Axonophus compresus
27.77777778 Commonly
Desmodium heterophylum
27.77777778 Commonly
Lindernia crustacean
25 Commonly
Ageratum conyzoides
25 Commonly
12

Cyperus sphaeroides
Euphorbia hirta
Oxalis barelieri
Eleusin indica
Panicum barbatum
Phyllantus niruri
Themeda argues
Demeria ornithopoda
Eleocharis acicularis
Uraria lagopodioides
Digitaria sanguinalis
Borreria occymoides
Centranthera hispida
Desmodium rotundifolium
Fimbristylis castanea
Ischaemum rugosum
Panicum ramosum
Paspalum conjugatum
Paspalum notatum
Tridax procumbens
Ammania octandra
Fimbrisyilis litoralis
Ipomoea obscura
Alysicarpus bupleurifolius
Cassia tora
eleuntheranthera ruderalis
Galinsoga parviflora
Paspalum scrobiculatum
Axonophus fissifolius
Dentella repens
Fimbristylis anua

22.22222222
22.22222222
22.22222222
19.44444444
19.44444444
16.66666667
16.66666667
16.66666667
16.66666667
13.88888889
13.88888889
11.11111111
11.11111111
11.11111111
11.11111111
11.11111111
11.11111111
11.11111111
11.11111111
11.11111111
8.333333333
8.333333333
8.333333333
8.333333333
8.333333333
8.333333333
8.333333333
8.333333333
8.333333333
8.333333333
8.333333333

Commonly
Commonly
Commonly
Commonly
Commonly
Commonly
Commonly
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
Pembeda
13

Panicum muticum
Eupatorium odoratum
Imperata cylindrica
Urena lobata
Arachis pintoi
Borreria latifolia
Centtelaasiatica
Centrosoma plumieria
Crotalaria prostate
Cynodon dactylon
Fimbristylis dichotoma
Oxalis corniculata
Panicum maximus
Paspalum fimbriatum
Paspalum mucronatum
Phyllantus urinaria
Adenostemma lavenia
Alysicarpus nummularifolius
Amorphophallus companolatus
Amorphophallus variabilis
Andropogon aciculatus
Borreria alata
Calopogonium muchonoides
Eclipta alba
Eraglotis amabilis
Eraglotis ciliaris
Fuirrena ciliaris
Hyptis brevipes
Ipomea hispida
Ischaemum ciliare
Ischaemum timorense

8.333333333
Pembeda
5.555555556
Pembeda
5.555555556
Pembeda
5.555555556
Pembeda
5.555555556
Pembeda
5.555555556
Pembeda
5.555555556
Pembeda
5.555555556
Pembeda
5.555555556
Pembeda
5.555555556
Pembeda
5.555555556
Pembeda
5.555555556
Pembeda
5.555555556
Pembeda
5.555555556
Pembeda
5.555555556
Pembeda
5.555555556
Pembeda
2.777777778
Pembeda
2.777777778
Pembeda
2.777777778
Pembeda
2.777777778
Pembeda
2.777777778
Pembeda
2.777777778
Pembeda
2.777777778
Pembeda
2.777777778
Pembeda
2.777777778
Pembeda
2.777777778
Pembeda
2.777777778
Pembeda
2.777777778
Pembeda
2.777777778 Karakteristik
2.777777778 Karakteristik
2.777777778 Karakteristik
14

Kylinga monocephala
Lindernia viscosa
Panicum crusgalli
Panicum lutescens
Panicum repens
Panicum scoparium
Pennisetum purpureum
Phasiolus lathyroides
Phyllantus virgatus
Rottboellia ophiroides
Spermachoche latifolia
Triumfetta annua
Triumfetta indica
Waltheria indica
Zingeber officinale

2.777777778
2.777777778
2.777777778
2.777777778
2.777777778
2.777777778
2.777777778
2.777777778
2.777777778
2.777777778
2.777777778
2.777777778
2.777777778
2.777777778
2.777777778

Karakteristik
Karakteristik
Karakteristik
Karakteristik
Karakteristik
Karakteristik
Karakteristik
Karakteristik
Karakteristik
Karakteristik
Karakteristik
Karakteristik
Karakteristik
Karakteristik
Karakteristik

Beberapa titik plot yang digunakan sebagai pengambilan sampel merupakan titik-titik yang masih berada
dalam kawasan yang sama, yaitu lokasi Mojosongo. Dalam satu lokasi ini tentu tidak jarang dijumpai adanya
pemisah atau barrier yang berpengaruh pada vegetasi misalnya sungai, gunung, lembah, ataupun tanda alam
lainnya. Demikian juga dengan kondisi lapangan yang digunakan dalam praktikum releve ini, yaitu tidak
dijumpai adanya barries yang memisah-misahkan vegetasi satu dengan vegetasi lainnya. Menurut teori, jika
suatu vegetasi berada dalam wilayah yang sama, artinya tidak ada barrier ekologi yang membatasi maka
asumsinya, luas plot minimal yang diperoleh melalui relevepun tidak akan jauh berbeda (Wahyudi, 2011).
Dalam praktikum, rata-rata luas plot minimal yang dimiliki oleh masing-masing kelompok memiliki besaran
yang sama yaitu 1,3 m2. Besaran luas plot minimal yang digunakan untuk menghitung parameter ekologis
sangat ditentukan oleh homogenitas atau heterogenitas serta jumlah spesies ada pada daerah tersebut.
Semakin homogen vegetasi yang dijumpa, semakin kecil pula luas plot yang digunakan untuk mengukur
parameter ekologis di dalamnya. Luas plot minimal merupakan luas plot terkecil yang digunakan sebagai
wilayah untuk pengukuran atau penelitian.
15

Luasan plot minimal hasil analisis releve yang diperoleh oleh masing-masing kelompok memiliki besaran
yang sama. Hal ini dapat dikarenakan oleh beberapa alasan, di antaranya lokasi praktikum yang berada dalam
satu wilayah menyebabkan vegetasi yang dijumpai hanya berkisar pada jenis tertentu dan tidak lebih
heterogen apabila dilakukan sampling pada lokasi yang berbeda. Kondisi yang tidak terlalu heterogen
membuat pengukuran luas plot minimal pada masing-masing kelompok memiliki besaran yang sama. Selain
itu juga dipengaruhi oleh struktur vegetasi tumbuhan yang tidak jauh bervariasi antara titik plot yang satu
dengan titik plot lain dalam satu lokasi.
Berdasarkan teori, kegiatan penilaian keanekaragaman tumbuhan seringkali berbenturan dengan
seberapa banyak dan besar ukuran petak contoh yang digunakan. Jenis tumbuhan tidak akan bertambah pada
kondisi hutan yang sedikit homogen, sedangkan pada hutan yang heterogen pertambahan jumlah jenis
mengikuti ukuran petak. Semakin besar ukuran petak, maka dugaan bertambahnya jumlah jenis baru semakin
besar (Soegianto, 1994).
Dugaan pertambahan jumlah jenis yang sebanding dengan besarnya ukuran petak dapat memperkecil
efektivitas penghitungan dan penilaian. Dengan demikian, kemudian muncul asumsi bahwa pertambahan
jumlah jenis akan kembali stabil sehingga tidak perlu penambahan ukuran petak pengamatan. Penentuan
petak minimal untuk mendapatkan hasil tersebut digunakan metode Kurva Minimum Spesies Area.
Menurut Marpaung (2009), prinsip penentuan ukuran petak adalah petak harus cukup besar agar individu
jenis yang ada dalam contoh dapat mewakili komunitas, tetapi harus cukup kecil agar individu yang ada dapat
dipisahkan, dihitung dan diukur tanpa duplikasi atau pengabaian. Karena titik berat analisa vegetasi terletak
pada komposisi jenis dan jika kita tidak bisa menentukan luas petak contoh yang kita anggap dapat mewakili
komunitas tersebut, maka dapat menggunakan teknik Kurva Spesies Area (KSA). Dengan menggunakan kurva
ini, maka dapat ditetapkan: (1) luas minimum suatu petak yang dapat mewakili habitat yang akan diukur, (2)
jumlah minimal petak ukur agar hasilnya mewakili keadaan tegakan atau panjang jalur yang mewakili jika
menggunakan metode jalur.
VII.

KESIMPULAN
1. Luas plot minimal masing-masing kelompok adalah 1,3 m2.

16

5.

6.

VIII.

2. Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, jumlah spesies yang ditemukan di lokasi Mojosongo
adalah sebanyak 87 spesies dari beberapa titik plot yang berbeda.
3. Berdasarkan keseluruhan jumlah spesies yang didapatkan, dilakukan penghitungan nilai presensi dan konstansi. Presensi merupakan
nilai yang menggambarkan keberadaan suatu spesies dalam setiap pengamatan yang dilakukan. Konstansi lebih berorientasi pada
banyaknya stand yang ada dalam kegiatan pengamatan.
4. Melalui nilai presensi dan konstansi, dapat dikategorikan spesies apa saja yang termasuk dalam spesies commonly, pembeda atau
karakteristik.
Luasan plot minimal hasil analisis releve yang diperoleh oleh masing-masing kelompok memiliki besaran yang sama, dikarenakan lokasi
praktikum yang berada dalam satu wilayah menyebabkan vegetasi yang dijumpai hanya berkisar pada jenis tertentu dan tidak lebih
heterogen apabila dilakukan sampling pada lokasi yang berbeda.
Jenis tumbuhan tidak akan bertambah pada kondisi hutan yang sedikit homogen, sedangkan pada hutan
yang heterogen pertambahan jumlah jenis mengikuti ukuran petak.
DAFTAR PUSTAKA
Brickell, C. (1999). A-Z Encyclopedia of Garden Plants. Hongkong: Dai Nippon.
Greig-Smith. (1983). Quantitative Plant Ecology Third Edition. USA: University Press, Iowa.
Gunaryadi, D. (1996). Pengamatan Populasi Cervus timorensis di Savana Bekol Taman Nasional Baluran Jawa Timur. Yogyakarta: UGM
Press.
Magurran, A. (1988 ). Ecological diversity and its measurement. . New Jersey: Princeton University Press.
Raharjanto, A. (2001). Ekologi Umum. Malang: UMM Press.
Soegianto, A. (1994). Ekologi Kuantitatif : Metode analisis populasi dan komunitas. Surabaya: Usaha Nasional.
Soemodihardjo, S., & Sastrapradja, S. (2005). Six decades of natural vegetation studies in Indonesia. Naturindo Bogor, 167-188.
Soerianegara, I. I. (1982). Ekologi hutan Indonesia. Bogor: Departemen Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
Umar, M. R. (2012). Penuntun Praktikum Ekologi Umum. Makassar: Laboratorium Ilmu Lingkungan Kelautan Universitas Hasanuddin.
Wahyudi. (2011). Pertumbuhan Tanaman dan Tegakan Tinggal pada Sistem TPTI Intensif. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

IX.

LAMPIRAN
a. Dokumentasi praktikum.
17

b. Data pengamatan releve.


c. Grafik releve angkatan.

Mengatahui,
Asisten Praktikum

Surakarta, 24 Mei 2016


Praktikan

Intan Widya Pangestika


K4313039

18

Lampiran 1.
DOKUMENTASI PRAKTIKUM RELEVE

19

20