Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

KEGAWATDARURATAN PADA PASIEN ASMA

OLEH :
NI WAYAN EKA DARMAYANTI
P07120213003
TINGKAT IV SEMESTER VII

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATANDENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
2016

LAPORAN PENDAHULUAN DAN KONSEP DASAR ASUHAN


KEPERAWATAN KEGAWATDARURATAN ASMA

A. KONSEP DASAR PENYAKIT


1. Pengertian Asma
Asma merupakan penyakit respiratorik kronik yang paling sering
dijumpai pada anak.Kejadian asma meningkatdari tahun ke tahun baik di
negara maju maupun negara berkembang.Peningkatan tersebut diduga
karena pola hidup dan faktor polusi lingkungan.
Asma bronkhial adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermitten,
reversible dimana trakeobronkial berespon secara hiperaktif terhadap
stimuli tertentu.
Asma bronchial adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respon
trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi
adanya penyempitan jalan nafas yang luas dan derajatnya dapat berubahubah baik secara spontan maupun hasil dari pengobatan.
2. Klasifikasi Asma
Berdasarkan penyebabnya, asma bronkhial dapat diklasifikasikan menjadi
3 tipe, yaitu :
1. Ekstrinsik (alergik) : Ditandai dengan reaksi alergik yang disebabkan
oleh faktor-faktor pencetus yang spesifik, seperti debu, serbuk bunga,
bulu binatang, obat-obatan (antibiotic dan aspirin) dan spora jamur.
Asma ekstrinsik sering dihubungkan dengan adanya suatu predisposisi
genetik terhadap alergi. Oleh karena itu jika ada faktor-faktor pencetus
spesifik seperti yang disebutkan di atas, maka akan terjadi serangan
asma ekstrinsik.
2. Intrinsik (non alergik) : Ditandai dengan adanya reaksi non alergi yang
bereaksi terhadap pencetus yang tidak spesifik atau tidak diketahui,
seperti udara dingin atau bisa juga disebabkan oleh adanya infeksi
saluran pernafasan dan emosi. Serangan asma ini menjadi lebih berat
dan sering sejalan dengan berlalunya waktu dan dapat berkembang
menjadi bronkhitis kronik dan emfisema. Beberapa pasien akan
mengalami asma gabungan.

3. Asma gabungan. Bentuk asma yang paling umum. Asma ini


mempunyai karakteristik dari bentuk alergik dan non-alergik.
3. Penyebab / Etiologi Asma
Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi
timbulnya serangan asma bronkhial.
a. Faktor predisposisi
1) Genetik
Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum
diketahui bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan
penyakit alerg biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita
penyakit alergi.Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat
mudah terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan foktor
pencetus.Selain itu hipersentifisitas saluran pernafasannya juga bisa
diturunkan.
b. Faktor presipitasi
1) Alergen
Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :
a) Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan ex: debu,
bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi
b) Ingestan, yang masuk melalui mulut ex: makanan dan obatobatan
c) Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit ex:
perhiasan, logam dan jam tangan
2) Perubahan cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering
mempengaruhi asma.Atmosfir yang mendadak dingin merupakan
faktor pemicu terjadinya serangan asma. Kadang-kadang serangan
berhubungan dengan musim, seperti: musim hujan, musim
kemarau, musim bunga. Hal ini berhubungan dengan arah angin
serbuk bunga dan debu.
3) Infeksi saluran pernapasan
Infeksi saluran pernapasan terutama disebabkan oleh virus.Virus
influenza merupakan salah satu faktor pencetus yang paling sering
menimbulkan asma bronkhial.
4) Obat-obatan

Beberapa kilien dengan asma bronkhial sensitive atau alergi


terhadap obat-obat tertentu seperti Penisillin salisilat, beta
blocker, kopdein, dan sebagainya.
5) Polusi udara
Klien asma sangat peka terhadap udara berdebu, asap pabrik/
kendaraan, asap rokok, asap yang mengandung hasil pembakaran
dan oksida fotokemikal, serta bau yang tajam.
6) Olah raga/ aktifitas jasmani yang berat
Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika
melakukan aktifitas jasmani atau aloh raga yang berat. Lari cepat
paling mudah menimbulkan serangan asma.Serangan asma karena
aktifitas biasanya terjadi segera setelah selesai aktifitas tersebut.
7) Stress
Stress/ gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma,
selain itu juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada.
Disamping gejala asma yang timbul harus segera diobati penderita
asma yang mengalami stress/gangguanemosi perlu diberi nasehat
untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika stressnya
belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati.
4. Manifestasi KlinisAsma Akut
a. Auskultasi :Wheezing, ronki kering musikal, ronki basah sedang.
b. Dyspnea, penggunaan otot-otot asesori pernafasan, pernafasan cuping
hidung, retraksi dada,dan stridor.
c. Batuk kering (tidak produktif) karena sekret kental dan lumen jalan
d.
e.
f.
g.

nafas sempit.
Tachypnea, orthopnea.
Diaphoresis, Fatigue.
Nyeri abdomen karena terlibatnya otot abdomen dalam pernafasan.
Tidak toleransi terhadap aktivitas; makan, bermain, berjalan, bahkan

bicara.
h. Kecemasan, labil dan perubahan tingkat kesadaran.
i. Meningkatnya ukuran diameter anteroposterior (barrel chest) akibat
ekshalasi yang sulit karena udem bronkus sehingga kalau diperkusi
hipersonor.
j. Serangan yang tiba-tiba atau berangsur.
k. Bila serangan hebat : gelisah, berduduk, berkeringat, mungkin sianosis.
5. Penatalaksanaan

Adapun pengobatan yang dapat dilakukan pada pasien dengan asma


bronkial, yaitu:
a. Pemberian oksigen melalui nasal atau masker dan terapi cairan
parenteral.
b. Pengobatan farmakologik :
1) Adrenalin 0,1- 0,2 ml larutan : 1 : 1000, subkutan. Bila perlu dapat
diulang setiap 20 menit sampai 3 kali.
2) Dilanjutkan atau disertai salah satu obat tersebut di bawah ini :
a) Golongan Beta 2- agonist untuk mengurangi bronkospasme :
Efedrin
: 0,5 1 mg/kg/dosis, 3 kali/ 24 jam
Salbutamol
: 0,1-0,15 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam
Terbutalin
: 0,075 mg/kg/dosis, 3-4 kali/ 24 jam
Efeknya tachycardia, palpitasi, pusing, kepala, mual,
disritmia, tremor, hipertensi dan insomnia, . Intervensi
keperawatan jelaskan pada orang tua tentang efek samping
obat dan monitor efek samping obat.
b) Golongan Bronkodilator, untuk dilatasi bronkus, mengurangi
bronkospasme dan meningkatkan bersihan jalan nafas.
Aminofilin : 4 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam
Teofilin : 3 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam
Diberikan melalui infuse / drip dengan dosis 0,5 0,9
mg/kg BB / jam. Pemberian melalui intravena jangan lebih dari
25 mg per menit.Efek samping tachycardia, dysrhytmia,
palpitasi,

iritasi

pusat;gejala

gastrointistinal,rangsangan

toxic;sering

muntah,haus,

sistem

demam

saraf
ringan,

palpitasi, tinnitis, dan kejang. Intervensi keperawatan; atur


aliran infus secara ketat, gunakan alat infus khusus misalnya
infus pump.
c) Golongan steroid, untuk mengurangi pembengkakan mukosa
bronkus. Prednison : 0,5 2 mg/kg/hari, untuk 3 hari (pada
serangan hebat).
3) Fisioterapi dada
Drainase postural, fibrasi dan perkusi serta teknik fisioterapi
lainnya hanya dilakukan pada penderita hipersekresi mucus sebagai
penyebab utama eksaserbasi akut yang terjadi.
4) Antibiotic
Diberikan kalau jelas ada tanda tanda infeksi seperti demam,
sputum purulent dengan neutrofil leukositosis.

B. KONSEP PATOFISIOLOGI
Asma bronkial terjadi akibat adanya penyempitan pada jalan nafas dan
hiperaktif dengan respon terhadap bahan iritasi dan stimulus lain.Dengan
adanya bahan iritasi atau allergen otot-otot bronkus menjadi spasme dan zat
antibodi tubuh muncul (immunoglobulin E atau IgE) dengan adanya
alergi.IgE di muculkan pada reseptor sel mast dan akibat ikatan IgE dan
antigen menyebabkan pengeluaran histamin dan zat mediator lainnya.
Mediator tersebut akan memberikan gejala asthma. Respon astma terjadi
dalam tiga tahap : pertama tahap immediate yang ditandai dengan
bronkokontriksi (1-2 jam); tahap delayed dimana brokokontriksi dapat
berulang dalam 4-6 jam dan terus-menerus 2-5 jam lebih lama ; tahap late
yang ditandai dengan peradangan dan hiperresponsif jalan nafas beberapa
minggu atau bulan. Asma juga dapat terjadi faktor pencetusnya karena
latihan, kecemasan, dan udara dingin.Selama serangan asthmatik, bronkiulus
menjadi meradang dan peningkatan sekresi mukus.Hal ini menyebabkan
lumen jalan nafas menjadi bengkak, kemudian meningkatkan resistensi jalan
nafas dan dapat menimbulkan distres pernafasan.Anak yang mengalami astma
mudah untuk inhalasi dan sukar dalam ekshalasi karena edema pada jalan
nafas.Dan ini menyebabkan hiperinflasi pada alveoli dan perubahan
pertukaran gas.Jalan nafas menjadi obstruksi yang kemudian tidak adekuat
ventilasi dan saturasi 02, sehingga terjadi penurunan P02 (hipoxia).Selama
serangan astmatikus, CO2 tertahan dengan meningkatnya resistensi jalan
nafas selama ekspirasi, dan menyebabkan acidosis respiratory dan
hypercapnea. Kemudian sistem pernafasan akan mengadakan kompensasi
dengan

meningkatkan

pernafasan

(tachypnea),

kompensasi

tersebut

menimbulkan hiperventilasi dan dapat menurunkan kadar CO2 dalam darah


(hypocapnea).

Masuk ke dalam paru

Allergen (debu,bulu,serbuk sari)


Non
allergen(emosi,pollutan,merokok

PATHWAYS
Respons imun yang buruk

Pembentukan antibody Ig E

Menuju sel-sel mast dalam paru

Pelepasan produk sel


mast/mediator
(histamine,bradikinin,prostlagandin

Menyempitkan
saluran pernafasan

Impuls saraf simpatis

Pelepasan asetilkolin

bronkospasme

Pembengkakan membran mukosa


Penyempitan jalan nafas

hiperventilasi

Bronkospasme

Penurunan kerja silia

Kontraksi otot dada

CO2 meningkat dan O2


turun

GANGGUAN
PERTUKARAN GAS

Ketidakmampuan membuang
sekret
Nyeri Akut

Akumulasi sekret
KETIDAKEFEKTIFA
N BERSIHAN
JALAN NAFAS

KETIDAKEFEKTIFA
N POLA NAFAS

C. PENGKAJIAN RESIKO TINGGI


1. Pengkajian Primer (Primary Survey)
a. Airway
Kaji kebersihan jalan nafas / adanya secret atau sputum di jalan nafas pada
pasien.
b. Breathing
Kaji apakah pasien mengalami disstres pernafasan :dispneu, pernafasan
cuping hidung, takipnea.Suara nafas abnormal (crackles, gurgles, wheezing,
mengi, ronki), mengap-mengap (air hunger). Kaji penggunaan otot bantu
pernafasan.
c. Circulation
Kaji pasien apakah mengalami :
1) Sianosis.
2) CRT >2 detik
3) Gelisah, letargi
4) Bradikardi
d. Dissability
Kaji GCS pasien.
2. Pengkajian Sekunder (Secondary Survey)
a. Pemeriksaan head to toe
b. Pemeriksaan TTV
c. Riwayat kesehatan
Riwayat Kesehatan yang terdiri dari, riwayat penyakit sekarang berupa
keluhan pasien seperti takipneu, dispneu atau nyeri dada.Riwayat kesehatan
dahulu/sebelumnya, riwayat kesehatan keluarga, dan riwayat social
ekonomi.
3. Pemeriksan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan untuk menilai keadaan umum, TTV, kesadaran,
head to toe.
1) Inspeksi
Inspeksi pasien dari depan dan belakang untuk mengamati adanya
kesulitan bernapas atau penggunaan otot-otot bantu pernapasan yang jelas
terlihat.Penampilan fisik seperti atrofi otot, kifosis, barrel chest juga harus
diperhatikan.Perhatikan bunyi nafas, seharusnya normal dan teratur dengan
12-20 napas permenit. Perhatikan factor-faktor yang dapat menggambarkan
kesulitan bernafas meliputi :
a) Ortopneu atau membungkuk ke depan untuk bernafas.
b) Bibir mengerucut bersamaan dengan meningkatnya usaha pernafasan.
c) Hidung mengembang (nasal flaring) atau megap-megap (air hunger)
untuk peningkatan kerja pernafasan karena alveolus yang ditekan
(terkompromi).

d) Periksa tanda-tanda sianosis pada daerah vaskuler yang tinggi seperti


bibir, kuku, ujung telinga, dan sisi bawah lidah.
2) Palpasi
Pemeriksa mengevaluasi kesimetrisan dinding

dada

dengan

meletakkan permukaan telapak tangan bersamaan pada masing-masing sisi


dinding dada.Tidak ada nyeri tekan (tenderness) dan tidak ada massa.
Perawat secara simultan harus mempalpasi kedua sisi dinding dada
sementara si pasien berkata satu, dua, tiga atau how now brown cow
atau 9,9,9.
3) Perkusi
Proses pengkajian ini menimbulkan gelombang suara yang
membantu untuk membedakan apakah struktur pernapasan padat, terisi
cairan, atau terisi udara. Ada 2 macam perkusi, yaitu perkusi langsung dan
perkusi tidak langsung.Perkusi langsung dengan menggunakan kepalan
tangan, dan perkusi tidak langsung dengan menggunakan tangan dan
jari.Perkusi tidak langsung adalah teknik yang lebih banyak dipilih.
4) Auskultasi
Bunyi paru-paru yang tidak diharapkan yang terdengar pada
auskultasi dianggap abnormal atau terdapat diluar tempat normal
(adventitious). Adapun beberapa jenis suara tambahan pada paru yaitu
crackles (rales), gurgles (ronki), wheeze, dan stridor.

D. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Pemeriksaan Analisa Gas Darah (AGD) atau Arterial Blood Gas (ABG)
Analisa gas darah pada umumnya normal akan tetapi dapat pula terjadi
hipoksemia, hiperkapnia, atau asidosis.Kadang pada darah terdapat peningkatan
dari SGOT dan LDH. Hiponatremia dan kadar leukosit kadang-kadang di atas
15.000/mm3 dimana menandakan terdapatnya suatu infeksi.Pada pemeriksaan
faktor-faktor alergi terjadi peningkatan dari Ig E pada waktu serangan dan
menurun pada waktu bebas dari serangan.
2. Pemeriksaan Sputum
Pemeriksaan sputum dilakukan untuk melihat adanya:
a) Kristal-kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi dari kristal
eosinopil.
b) Spiral curshmann, yakni yang merupakan cast cell (sel cetakan) dari cabang
bronkus.
c) Creole yang merupakan fragmen dari epitel bronkus.

d) Netrofil dan eosinopil yang terdapat pada sputum, umumnya bersifat mukoid
dengan viskositas yang tinggi dan kadang terdapat mucus plug.
3. Pemeriksaan tes kulit
Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergen yang dapat
menimbulkan reaksi yang positif pada asma.
4. Pemeriksaan Radiologi
Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal.Pada waktu serangan
menunjukan gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni radiolusen yang
bertambah dan peleburan rongga intercostalis, serta diafragma yang menurun.
Akan tetapi bila terdapat komplikasi, maka kelainan yang didapat adalah
sebagai berikut:
a) Bila disertai dengan bronkitis, maka bercak-bercak di hilus akan bertambah.
b) Bila terdapat komplikasi empisema (COPD), maka gambaran radiolusen
akan semakin bertambah.
c) Bila terdapat komplikasi, maka terdapat gambaran infiltrate pada paru
d) Dapat pula menimbulkan gambaran atelektasis lokal.
e) Bila
terjadi
pneumonia
mediastinum,
pneumotoraks,

dan

pneumoperikardium, maka dapat dilihat bentuk gambaran radiolusen pada


paru-paru.
E. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ketidakefektifan Pola Nafas yang Berhubungan dengan Sindrom Hipoventilasi.
2. Gangguan Pertukaran Gas yang Berhubungan dengan Perubahan Membran
Kapiler-alveolar.
3. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas yang Berhubungan dengan Spasme Jalan
Napas, Jalan Napas Alergik, Asma.
4. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis
F. INTERVENSI KEPERAWATAN
NO
1

DIAGNOSA

TUJUAN DAN KRITERIA

KEPERAWATAN

HASIL (NOC)

Ketidakefektifan
Pola

Nafas

tindakan NIC :
Airway Management

Respiratory

Buka jalan nafas, guanakan teknik

Ventilation
Respiratory status : Airway

chin lift atau jaw thrust bila perlu


Posisikan
pasien
untuk

patency
Vital sign Status

memaksimalkan ventilasi
Lakukan fisioterapi dada jika

perlu
Keluarkan sekret dengan batuk

Sindrom

Hipoventilasi

dilakukan

yang keperawatan, pasien mampu :

Berhubungan
dengan

Setelah

INTERVENSI (NIC)

status

Dengan Kriteria Hasil :

Mendemonstrasikan

batuk

efektif dan suara nafas yang

bersih, tidak ada sianosis dan

(mampu
sputum,

dyspneu
mengeluarkan
mampu

bernafas

dengan

mudah, tidak ada pursed

lips)
Menunjukkan
yang

paten

jalan

nafas

(klien

tidak

merasa tercekik, irama nafas,


frekuensi pernafasan dalam

nafas,

catat

adanya suara tambahan


Lakukan suction pada mayo
Berikan bronkodilator bila perlu
Berikan pelembab udara Kassa

basah NaCl Lembab


Atur
intake
untuk

mengoptimalkan keseimbangan.
Monitor respirasi dan status O2

cairan

Terapi Oksigen

rentang normal, tidak ada


suara nafas abnormal)
Tanda Tanda vital dalam
(tekanan

darah, nadi, pernafasan)

rentang

atau suction
Auskultasi suara

normal

Bersihkan mulut, hidung dan


secret trakea
Pertahankan jalan nafas yang
paten
Atur peralatan oksigenasi
Monitor aliran oksigen
Pertahankan posisi pasien
Observasi adanya tanda tanda
hipoventilasi
Monitor
adanya

kecemasan

pasien terhadap oksigenasi


Vital sign Monitoring

Monitor TD, nadi, suhu, dan RR


Catat adanya fluktuasi tekanan

darah
Monitor VS saat pasien berbaring,

duduk, atau berdiri


Auskultasi TD pada kedua lengan

dan bandingkan
Monitor TD, nadi, RR, sebelum,

selama, dan setelah aktivitas


Monitor kualitas dari nadi
Monitor frekuensi dan irama

pernapasan
Monitor suara paru
Monitor
pola

pernapasan

abnormal
Monitor suhu,

kelembaban kulit
Monitor sianosis perifer
Monitor adanya cushing triad
(tekanan

nadi

warna,

yang

dan

melebar,

bradikardi, peningkatan sistolik)


Identifikasi
penyebab
dari
perubahan vital sign

Asthma Management

Tentukan

batas

dasar

status

pernafasan sebagai pembanding

status pernafasan pasien.


Monitor reaksi asthma pasien.
Identifikasi penyebab serta reaksi

pasien ketika asma


Ajarkan
pasien

untuk

mengidentifikasi dan menghindari

factor pencetus
Monitor ritme, kedalaman, dan
frekuensi serta usaha bernafas

pasien.
Observasi pergerakan dada seperti
kesimetrisan,
asesoris,

penggunaan

dan

retraksi

otot
otot

supraklavikula dan intercostal.


Ajarkan teknik relaksasi.
Auskultasi
suara
pernafasan
setelah tindakan

Gangguan

Setelah

dilakukan

tindakan NIC :

pertukaran gas yang keperawatan, pasien mampu :

Respiratory Status : Gas

Posisikan

membran kapiler

exchange
Respiratory

memaksimalkan ventilasi
Lakukan fisioterapi dada jika

alveolar

ventilation

berhubungan
dengan

Airway Management

perubahan

Status

perlu

pasien

untuk

Vital Sign Status

Dengan kriteria hasil :

Mendemonstrasikan
peningkatan

ventilasi

Keluarkan sekret dengan batuk

atau suction
Auskultasi suara

dan

oksigenasi yang adekuat

Memelihara kebersihan paru


paru dan bebas dari tanda

catat

adanya suara tambahan


Berikan bronkodilator bila perlu
Atur
intake
untuk
cairan
mengoptimalkan keseimbangan.
Monitor respirasi dan status O2

tanda distress pernafasan


Mendemonstrasikan batuk Respiratory Monitoring
Monitor rata rata, kedalaman,
efektif dan suara nafas yang
irama dan usaha respirasi
bersih, tidak ada sianosis dan Catat pergerakan dada,amati
dyspneu
(mampu
kesimetrisan, penggunaan otot
mengeluarkan
mampu

nafas,

sputum,

bernafas

tambahan,

dengan

retraksi

otot

mudah, tidak ada pursed

supraclavicular dan intercostal


Monitor suara nafas, seperti

lips)
Tanda tanda vital dalam

dengkur
Monitor pola nafas : bradipena,

rentang normal

takipenia,

kussmaul,

hiperventilasi, cheyne stokes, biot


Catat lokasi trakea
Monitor
kelelahan
otot

diagfragma (gerakan paradoksis)


Auskultasi suara nafas, catat area
penurunan / tidak adanya ventilasi

dan suara tambahan


Tentukan
kebutuhan

suction

dengan mengauskultasi crakles


dan ronkhi pada jalan napas

utama
Auskultasi suara paru setelah
tindakan

Ketidakefektifan

Jalan

keperawatan,

Nafas

yang

mampu :
Respiratory

mengetahui

hasilnya
NIC
:
Setelah dilakukan tindakan

Bersihan
Berhubungan

untuk

pasien Airway Management

status

Buka jalan nafas, guanakan teknik

dengan

Jalan Napas, Jalan

Ventilation
Respiratory

Napas

Airway patency

Asma

Spasme
Alergik,

status

chin lift atau jaw thrust bila perlu


Posisikan
pasien
untuk

memaksimalkan ventilasi
Lakukan fisioterapi dada jika

perlu
Keluarkan sekret dengan batuk

Dengan kriteria hasil :

Mendemonstrasikan

batuk

efektif dan suara nafas yang

bersih, tidak ada sianosis dan


dyspneu
(mampu
mengeluarkan
sputum,

mampu bernafas dengan


lips)
Menunjukkan
yang

paten

jalan

nafas

(klien

tidak

nafas,

catat

adanya suara tambahan


Berikan bronkodilator bila perlu
Atur
intake
untuk
cairan
mengoptimalkan keseimbangan.
Monitor respirasi dan status O2

mudah, tidak ada pursed

atau suction
Auskultasi suara

merasa tercekik, irama nafas,


frekuensi pernafasan dalam
rentang normal, tidak ada
suara nafas abnormal)
Mampu mengidentifikasikan
dan mencegah factor yang
dapat
4

Nyeri

nafas
akut Setelah

menghambat

jalan

dilakukan

asuhan Pain Management


1. Lakukan pengkajian nyeri secara
berhubungan
keperawatan selama ...x.. jam
komprehensif termasuk lokasi,
dengan agen cedera diharapkan nyeri berkurang
karakteristik, durasi, frekuensi,
biologis
dengan kriteria hasil :
kualitas, dan faktor presipitasi.
NOC:
2. Observasi reaksi verbal dan non
Pain Level
verbal dari ketidaknyamanan
Melaporkan gejala nyeri 3. Gunakan teknik komunikasi
berkurang
Melaporkan lama nyeri
berkurang
Tidak tampak ekspresi

terapeutik
4.
5.

untuk

mengetahui

pengalaman nyeri pasien


Kurangi faktor presipitasi nyeri
Evaluasi kefektifan kontrol nyeri

wajah kesakitan
Analgesic Administration
Tidak gelisah
Respirasi dalam batas 1. Tentukan lokasi, karakteristik,

normal (dewasa: 16-20

kualitas,

dan

derajat

kali/menit)

sebelum pemberian obat

nyeri

2.

Cek riwayat alergi terhadap obat

3.

Pilih analgesik yang tepat atau


kombinasi dari analgesik lebih
dari satu jika diperlukan

4.

Tentukan

analgesik

yang

diberikan

(narkotik,

non-

narkotik,

atau

NSAID)

berdasarkan tipe dan keparahan


nyeri
5.

Tentukan

rute

analgesik

dan

pemberian
dosis

untuk

mendapat hasil yang maksimal


6.

Pilih rute IV dibandingkan rute


IM untuk pemberian analgesik
secara teratur melalui injeksi
jika diperlukan

7.

Evaluasi efektivitas pemberian


analgesik

setelah

dilakukan

injeksi. Selain itu observasi efek


samping pemberian analgesik
seperti depresi pernapasan, mual
muntah,

mulut

kering

dan

konstipasi.
8.

Monitor vital sign sebelum dan


sesudah

pemberian

pertama kali

analgesik

DAFTAR PUSTAKA
Bulechek, et al. 2013. Nursing Interventions Classification (NIC). Sixth Edition.
Missouri : Elsevier Mosby
Herdman, T.H. & Kamitsuru, S. (Eds.). 2014. NANDA International Nursing Diagnoses
: Definitions and Classifications 2015-2017. Tenth Edition. Oxford : Wiley
Blackwell.
Mansyoer, Arif, 1999, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, FKUI, Jakarta.
Moorhead, Sue et al. 2008.Nursing Outcome Classification (NOC).Missouri : Mosby
Smeltzer, Suzanne, Medikal Surgical Nursing 9, Philadelphia, Newyork, 2000.
Suddart,& Brunner. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC
Sudoyo, Aru W. 2006. Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit
Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.