Anda di halaman 1dari 6

ANALISIS RISIKO PAPARAN PM10 DAN SO2 TERHADAP

KELUHAN KESEHATAN PERNAPASAN PADA MASYARAKAT


PEKANBARU, RIAU PERIODE TAHUN 2012-2014
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Undang-undang no. 23 tahun 1997 telah menyebutkan bahwa
pencemaran udara adalah masuknya komponen lain ke dalam udara
bebas (udara ambien) disebaban oleh kegiatan manusia. Hal ini
menyebabkan kualitas mutu udara ambien berkurang dan tidak
mampu menjalankan fungsinya dengan baik. Masters
menjelaskan

bahwa

pencemaran

udara

adalah

(1991)

bertambahnya

substrat fisik atau kimia ke dalam lingkungan udara normal yang


mencapai sejumlah tertentu, sehingga dapat dideteksi oleh manusia
dan dapat memberikan efek pada manusia, binatang, vegetasi dan
material. Pencemaran udara yang banyak disebabkan oleh aktifitas
kendaraan motor di jalanan diantaranya adalah Partikulat Matter
(PM10), Sulfur dioksida (SO2), Karbon Monoksida (CO) dan Nitrogen
Diosida (NO2).
Particulat Matter (PM 10) adalah polutan khas berupa debu,
asap dan partikel lainnya. Gas pencemar ini diakibatkan oleh
kebakaran hutan dan asap yang keluar dari kendaraan diesel
berbahan bakar solar. PM 10 memiliki dua klasifikasi, yaitu partikel
halus dan kasar. PM10 merupakan partikel dengan diameter 10
mikron (Environmental Protection Agency, 2010). Partikel ini dapat
mencapai saluran pernapasan bagian atas dan paru-paru denga
diameter kurang dari atau sama dengan 10 mikron (Clean Air
Initiative for Asian Cities, 2010). Walaupun konsentrasi partikulat
matter

berada

dibawah

nilai

baku,

polutan

ini

tetap

dapat

menimbulkan risiko kesehatan (World Health Organization, 2006)


Gas pencemar udara yang berbahaya selain PM adalah gas
Sulfur Dioksida (SO2),. Pencemaran udara akibat gas ini berbahaya
terhadap makhluk hidup. Pada manusia, gas pencemar ini dapat
menyebabkan

keluhan

kesehatan

pernapasan

dan

iritasi

tenggorokan. Iritasi tenggorokan dapat terjadi pada kadar 1-2ppm


hingga 5 ppm lebih. Gas pencemar SO2 merupakan zat pencemar
berbahaya bagi kesehatan orang tua dan penderita penyakit kronis
system pernapasan. Dampak paparan SO2 terhadap keluhan
kesehatan pernapasan dapat dilihat pada table berikut:
Konsentrasi
3-5 ppm

Pengaruh
Jumlah terkecil yang dapat dideteksi

8-12 ppm

dari baunya (selama 4 jam)


Jumlah
terkecil
yang
mengakibatkan

iritasi

(selama 4 jam)
Jumlah
terkecil

20 ppm

segera

tenggorokan
yang

akan

mengakibatkan iritasi mata (selama 4


20 ppm

jam)
Jumlah

20 ppm

mengakibatkan batuk (selama 4 jam)


Nilai maksimum yang diperbolehkan

50-100 ppm

untuk konsentrasi (selama 4 jam)


Nilai maksimum yang diperbolehkan

400-500 ppm

untuk kontak singkat (selama 30 jam)


Berbahaya meskipun kontak secara

terkecil

yang

akan

singkat
Sumber: Dinas Kesehatan Republik Indonesia, 2007

Sebagai salah satu provinsi di Indonesia dengan kegiatan


industri

yang

sedang

berkembang,

Pekanbaru,

Riau

banyak

melakukan aktifitas pengembangan hutan untuk pelebaran lahan.


Titik api (hot spot) yang menjadi sumber ditemukan di areal-areal
industri di Pekanbaru. Selain kegiatan pembakaran lahan oleh
industri, masyarakat di pinggiran kota Pekanbaru juga melakukan
pembakaran lahan tidur untuk kepentingan pengembangan lahan
pribadi atau perkebunan mereka. Bencana kebakaran hutan tidak
dapat dihindari dan terjadi setiap tahun, diperparah dengan kurang
kadar air hujan yang turun di musim kemarau.
Selain bencana kebakaran hutan, tingkat polusi udara di
Pekanbaru juga tinggi. Hal ini disebabkan oleh tingginya tingkat
2

penggunaan kendaraan pribadi. Pelayanan moda transportasi umum


yang masih rendah dan belum memuaskan menyebabkan tingginya
keinginan masyarakat untuk menggunakan moda transportasi
pribadi. Penggunaan kendaraan pribadi setiap hari menyebabkan
peningkatan kadar polutan di udara akibat gas emisi kendaraan
bermotor. Kendaraan bermotor yang merupakan sumber emisi gas
SO2 mengeluarkan gas pencemar yang buruk bagi kesehatan.
Menurut

Mukono

(1997)

Semakin

padatnya

lalu

lintas

oleh

kendaraan bermotor, akan menghasilkan bahan pencemar yang


terbuang dalam bentuk partikel dan gas semakin besar.
Rekapitulasi Data kualitas udara ambien pada Indeks Standar
Pencemar Udara (ISPU) tahun 2012 di Pekanbaru, Riau.
No.

Bulan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Januari
Pebruari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
Nopember
Desember

Parameter (hari)
PM 10
SO2
13
18
3
4
0
0
1
5
4
7
19
3
12
12
23
2
16
2
13
0
11
1
9
0

Sumber: Badan Lingkungan Hidup, Pekanbaru Riau, 2012

B. RUMUSAN MASALAH
a. Bagaimana konsentrasi polutan udara berupa kadar PM10 dan
SO2 di Pekanbaru, Riau selama periode tahun 2012-2014?
b. Bagaimana tingkat keluhan kesehatan pernapasan pada
masyarakat dari berbagai tingkatan usia (usia < 5 tahun, usia
5- 30 tahun, dan usia > 30 tahun) di Pekanbaru, Riau periode
tahun 2012- 2014?
c. Bagaimana dampak paparan PM 10 dan SO2 terhadap keluhan
kesehatan pernapasan pada masyarakat Pekanbaru, Riau
periode tahun 2012- 2014? Seberapa signifikan?
3

C. TUJUAN
a. Identifikasi konsentrasi polutan udara berupa kadar PM10 dan
SO2 di Pekanbaru, Riau selama periode tahun 2012-2014.
b. Identifikasi keluhan kesehatan pernapasan pada masyarakat
dari berbagai tingkatan usia (usia < 5 tahun, usia 5- 30 tahun,
dan usian > 30 tahun) di Pekanbaru, Riau periode tahun 20122014.
c. Identifikasi signifikasi dampak paparan PM 10 dan SO2
terhadap keluhan kesehatan pernapasan pada masyarakat
Pekanbaru, Riau periode tahun 2012- 2014.
D. METODE PENELITIAN
a. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan studi ekologi untuk melihat status
keterpaparan suatu populasi terhadap suatu penyakit. Penelitian ini
diharapkan untuk mengetahui dampak paparan PM10 dan SO2 di
keluhan kesehatan pernapasan pada masyarakat Pekanbaru, Riau.
b. Pengumpulan Data
a. Pengumpulan data konsentrasi PM10 dan SO2
Data konsentrasi PM10 dan SO2 di Pekanbaru, Riau, didapat
berdasarkan pengukuran dan pencatatan oleh BMKG perhari dan per
jam. Nilai Ambang Batas (NAB) adalah batas konsentrasi polusi
udara yang diperbolehkan berada dalam udara ambien. NAB PM10=
150ugram/m3.

Sumber

data

informasi

partikulat:

(http://www.bmkg.go.id/BMKG_Pusat/Kualitas_Udara/Informasi_Partik
ulat.bmkg) .
b. Pengumpulan data Jumlah Penderita Keluhan
Pernapasan
Data

penderita

keluhan

pernapasan

diambil

dari

Dinas

Kesehatan Pekanbaru, Riau. Laporan kasus penderita keluhan


pernapasan merupakan hasil rekapitulasi dari seluruh Puskesma di
wilayah Peknbaru Riau untuk periode 2012 hingga 2014.

Data yang digunakan untuk membuktikan dampak kualitas udara


terhadap risiko kematian pada masyarakat Pekanbaru, Riau adalah
sbb:
1. Identifikasi konsentrasi polutan udara berupa kadar PM10 dan
SO2 di wilayah Pekanbaru Riau periode 2012-2014.
2. Identifikasi keluhan kesehatan pernapasan pada masyarakat
dari berbagai tingkatan usia (usia < 5 tahun, usia 5- 30 tahun,
dan usian > 30 tahun) di wilayah Pekanbaru Riau periode
2012-2014.
c. Analisis Data
Data harian per jam PM 10 dan SO2 yang diperoleh dari BMKG
di tabulasi dan diolah menjadi data perbulan. Data penderita
keluhan pernapasan dari Dinas Kesehatan Pekanbaru Riau juga
ditabulasi dalam bentuk data bulanan. Data tersebut kemudian
dianalisis dengan menggunakan metode statistik untuk melihat:
1. Rata-rata konsentrasi polutan udara

berupa kadar PM 10

dan SO2 di Pekanbaru, Riau selama periode tahun 20122014.


2. Rata-rata tingkat keluhan kesehatan pernapasan pada
masyarakat dari berbagai tingkatan usia (usia < 5 tahun,
usia 5- 30 tahun, dan usian > 30 tahun) di Pekanbaru, Riau
periode tahun 2012- 2014.
3. Signifikansi dampak paparan PM 10 dan SO2 terhadap
keluhan

kesehatan

pernapasan

pada

masyarakat

Pekanbaru, Riau periode tahun 2012- 2014.


Daftar Pustaka
Clean Air Initiative for Asian Cities. 2010. Particulate Matter (PM)
Standards in Asia. Dunduh tanggal 01 April 2015
http://cleanairinitiative.org/2_[articulate_matter_PM_standard
s_in_Asia_Fact_Sheet_26_August_2010_1.pdf
Environtmental Protection Agency (EPA). 2010. Characteristics of
Particles- particle Size Categories. Diunduh tanggal 01 April
2015
http://www.epa.gov/apti/bces/module3/category/category.ht
ml .
5

Masters, G.M. 1991. Introduction to Engineering and Science.


London: Printice International.
Mukono. 1997. Pencemaran Udara dan Pengaruhnya Terhadap
Gangguan Saluran Pernafasan. Surabaya: Airlangga
University Press.
World Health Organization Air Quality Guidelines for Particulate
Matter, Ozone, Nitrogen Dioxide and Sulfur Dioxide Global
Udate. 2005. Summary of Risk Assessment. Diunduh tanggal
01 April 2015. http://www.euro.who.int/document/e90038.pdf