Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tujuan

setiap

warga

Negara

terhadap

kehidupannya

adalah

mendapatkan kehidupan yang layak tercapai seperti apa yang di cita-citakan


sebagai sebuah bangsa. Tujuan keluarga tentunya menginginkan keluarga yang
sehat dan bahagia, dimana setiap anggota keluarganya mendapatkan pendidikan
yang bermutu bagi anak anaknya. Harapan hidup lainnya tentunya mendapatkan
sandang dan pangan yang berkecukupan serta memiliki sebuah rumah yang layak
untuk dihuni oleh seluruh anggota keluarganya.
Delapan tujuan MDGs yang harus di laksannakan oleh setiap Negara
yang mendeklarasikannya yaitu menanggulangi kemiskinan dan kelaparan,
mencapai pendidikan dasar untuk semua, mendorong kesetaraan gender dan
pemberdayaan perempuan, menurunkan angka kematian ibu, memerangi
HIV/AIDS malaria dan penyakit menular lainnya, memastikan kelestarian
lingkungan hidup, dan mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan.
Indionesia sebagai salah satu Negara yang ikut dalam mendeklerasikan tujuan
MDGS memiliki kewajiban untuk melaksanakan upaya untuk mencapai target
MDGS

dan

memonitoring

perkembangan

kemajuan

pencapaian.

Upaya

pencapaian MDGS merupakan sebuah rangkaian proses jangka panjang


berkesinambungan. (afrina Sari. 2015)
Salah satunya yaitu menurunkan angka kematian ibu setiap menit
seorang ibu meninggal karena penyebab yang berkaitan dengan kehamilan dan
persailan. Ia biasanya berusia muda, sudah menjadi ibu dan hidup di Negara
berkembang. Dari setiap ibu yang meninggal tersebut, diperkirakan ada 100 wanita
yang selamat yang selamat akan bersalin tetapi mengalami kesakitan, cacat atau
kelainan fisik akibat komplikasi kehamilan. Secara keseluruhan diperkirakan
setiap tahunnya 585.000 wanita meninggal akibat kehamilan dan persalinan. 99%
dari kematian tersebut terjadi di negara berkembang. Wanita di afrika barat dan
1

timur menghadapi resiko kematian ibu paling tinggi demikian pula wanita
dinegara ASIA berisiko tinggi.
Sebagian besar (60 80%) kematian ibu yang disebabkan oleh
perdarahan saat melahirkan, persalinan macet, sepsis, tekanan darah tinggi pada
kehamilan dan komplikasi dari aborsi yang tidak aman. Kemudian seorang ibu
sangatlah berpenggaruh terhadap kesehatan dan kehidupan anak anak yang
ditinggalkkannya. Jika seorang ibu meninggal maka anak anak ditinggalkannya
mempunyai kemungkinan tiga hari sepuluh kali lebih besar untuk meninggal
dalam waktu dua tahun bila dibandingkan dengan mereka yang masih mempunyai
kedua orang tua. Disamping itu anak anak yang ditinggalkan ibunya seringkali
tidak mendapatkan pemeliharaan kesehatan serta pendidikan yang memadai
seiring pertumbuhannya. Kematian seorang ibu mempunyai dampak yang lebih
luas sampai diluar lingkungan keluarganya ia adalah pekerja produktif yang
hilang, yang memelihara, dan membimbing generasi penerus merawat para
lanjutan usia dan menyumbangkan stabilitas masyarakat. (Out Look. Keselamatan
ibu, keberhasilan dan tantangan)
Upaya keselamatan ibu di canangkan oleh badan badan internasional,
pemerintah, terutama pada organisasi profesi guna meningkatkan kesadaran
pengaruh kematian dan kesakitan ibu agar bias di pecahkan dan bagaimana
organisasi profesi dalam menanggapi tuntutan masyarakat.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka dirumuskan beberapa masalah
yang akan dibahas yaitu:
1.
Apa pengertian organisasi, profesi, organisasi profesi?
2.
Apa tantangan masyarakat?
3.
Bagaimana peran Bidan?
4.
Bagaimana peran organisasi profesi?

C. Tujuan
1.

Untuk mengetahui pengertian organisasi, profesi, dan organisasi profesi.


2

2.
3.
4.

Untuk mengetahui apa tantangan masyarakat.


Untuk mengetahui peran bidan.
Untuk mengetahui peran organisasi profesi.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
1. Pengertian Organisasi
Perkataan organisasi berasal dari istilah Yunani organon dan istilah
Latin organum yang berarti alat, bagian, anggota, atau badan. Dalam literature
dewasa ini, arti organisasi beraneka ragam, tergantung dari sudut mana ahli
yang bersangkutan melihatnya. Berikut ini beberapa pendapat berbagai ahli
tentang pengertian organisasi, antara lain:
a. Oliver Sheldon (1923)
Organisasi adalah proses penggabungan pekerjaan yang para individu
atau kelompok harus melakukan dengan bakat-bakat yang diperlukan
untuk melakukan tugas-tugas sedemikian rupa, memberikan saluran
terbaik untuk pemakaian yang efisien, sistematis, positif, dan
b.

terkoordinasi dari usaha yang tersedia.


Chester I Barnard
Organisasi adalah suatu sistem tentang aktivitas-aktivitas kerjasama dari
dua orang atau lebih sesuatu yang tak berwujud dan tak bersifat pribadi,

c.

sebagian besar mengenai hal hubungan-hubungan.


James D. Mooney (1947)
Organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk pencapaian
suatu tujuan bersama. (Madya, 2016)

2.

Pengertian Profesi
Profesi berasal dari kata to profession yang berarti suatu pekerjaan.
Adapun ciri-ciri pekerjaan professional, menurut Schein (1972), adalah
pekerjaan seumur hidup, motivasi kuat/panggilan, serta memiliki komitmen
yang mantap. Merupakan suatu kelompok ilmu pengetahuan dan keterampilan
khusus melalui pendidikan dan pelatihan yang luas dan teliti. Pekerjaan yang
dilakukan adalah untuk kepentingan klien dengan mengaplikasikan prinsip
dan teori. Profesi berorientasi pada pelayanan serta tidak memiliki
kepentingan pribadi. Pelayanan yang diberikan berdasarkan kebutuhan klien

serta bersifat otonomi dalam menentukan tindakan, namun tetap sesuai


dengan standar etik dan profesi yang kuat.
Pengertian profesi adalah suatu pekerjaan yang memiliki pengetahuan
khusus dari beberapa bidang ilmu, melaksanakan peran yang bermutu,
melaksanakan cara yang disepakati oleh anggota profesi (etika), merupakan
suatu ideologi, terikat pada suatu kesetiaan yang diyakini, diperoleh melalui
pendidikan tinggi, serta memiliki wadah organisasi. Disamping itu, beberapa
ahli mengatakan bahwa pengertian profesi adalah suatu pekerjaan yang
memerlukan pengathuan khusus dengan beberapa bidang ilmu yang
mencakup ilmu sosial dan ilmu eksakta dengan melaksanakan peran bermutu
di masyarakat serta melaksanakan cara-cara yang disepakati sebagai pedoman
dalam bekerja. Profesi terikat pada suatu keyakinan dalam mengesahkan nilai
pelayanan serta responsive dan sensitive terhadap kritik umum yang bersifat
3.

rasional (Nurhayati dkk, 2012)


Pengertian Organisasi Profesi
Organisasi profesi adalah organisasi yang anggotanya para praktis
yang menetapkan diri mereka sebagai profesi dan bergabung bersama untuk
melaksanakan fungsi-fungsi sosial yang tidak dapat mereka laksanakan dalam
kapasitas mereka sebagai individu (Tjanggi, 2014)

Karakteristik Profesi
Karakteristik profesi menurut Abraham Flexner (1915) merupakan
aktivitas intelektual yang berdasarkan ilmu dan belajar dengan tujuan untuk
praktik dan pelayanan dan ilmu serta keterampilan dapat diajarkan dan
anggotanya

berorganisasi

secara

internal

menganut

paham

Altruisme.

Professional adalah sifat, sikap, dan tingkah laku seorang professional.


Tidak semua pekerjaan adalah profesi. Profesi mempunyai keistimewaan
yang membedakannya dari pekerjaan lain. profesi mempunyai tujuan untuk
kesejahteraan manusia yang berdasrakan pada ilmu dan keterampilan khusus.
Adapun ilmu dan keterampilan tersebut dikembangkan secara terus-menerus,
mempunyai kode etik, serta bisa dikerjakan secara mandiri (memiliki otonomi).
5

Profesi ditekuni seumur hidup dengan ciri aktivitas bersifat intelektual


(berdasarkan ilmu dan seni) yang bertujuan untuk praktik pelayanan.
Ciri-ciri Profesi
1.

Pekerjaan profesi didukung oleh batang tubuh pengetahuan (body of

2.

knowledge).
Keahlian diperoleh melalui pendidikan dan latihan terarah, terencana,

3.

terus-menerus, serta berjenjang.


Pekerjaan profesi diatur oleh kode etik, diakui undang-undang, dan bersifat

4.

altruisme.
Peraturan profesi diatur oleh warga profesi (professional regulationself

5.
6.
7.
8.
9.
10.

regulation)
Pekerjaan seumur hidup.
Mempunyai motivasi kuat.
Memiliki kelompok ilmu pengetahuan dan keterampilan khusus.
Mengambil keputusan berdasarkan aplikasi prinsip-prinsip dan teori.
Berorientasi pada pelayanan.
Pelayanan berdasarkan kebutuhan objektif dan saling percaya antara

11.

profesi dan klien.


Mempunyai otonomi dalam menentukan tindakan.

Karakteristik Organisasi Profesi


1.
2.

Mengembangkan pelayanan yang unik kepada masyarakat.


Anggota-anggotanya dipersiapkan melalui program pendidikan profesi

3.
4.

tersebut.
Memiliki serangkaian pengetahuan ilmiah.
Anggota-anggotanya menjalankan tugas profesinya sesuai dengan kode

5.

etik yang berlaku.


Anggota-anggotanya bebas mengambil keputusan dalam menjalankan

6.
7.

profesinya.
Anggota-anggotanya wajar menerima imbalan jasa.
Senantiasa meningkatkan kualitas anggotanya

dalam

memberikan

pelayanan masyarakat.
(Nur hayati. 2013)
B. Tantangan Masyarakat

Ada banyak sekali tantangan di masyarakat kita. Coba kita perhatikan fakta
berikut:
1.
Angka Kematian Ibu (AKI) Indonesia sebesar 359 per 100.000 kelahiran
2.

hidup (Depkes RI, 2010)


Angka Kematian Bayi (AKB) sebesar 40 per 1.000 kelahiran hidup (Depkes

3.

RI, 2010)
Angka Kematian Neonatus (AKN) adalah sebesar 23 per 1.000 kelahiran

4.
5.
6.

hidup.
Penyebab tertinggi angka kematian ibu adalah perdarahan sebanyak 27%
Kematian ibu karena eklamsia sebanyak 23%
Kematian ibu disebabkan infeksi 11%, komplikasi puerperium 85%, partus

7.

lama 5%, emboli obstetric 5%, abortus 5%, dan lain-lain 11%.
Pada tahun 2010 kejadian ibu meninggal akibat perdarahan adalah 3.114 jiwa

8.

sedang eklamsia 2.653 jiwa (Depkes RI, 2010)


Penyebab utama kematian bayi adalah gangguan pernapasan (35,9%) dan
berat lahir rendah (32,4%) (Riskesdas, 2007)
Tantangan masyarakat saat ini sangat ironis, pelayanan pemerintah
berupa obat-obatan dan alat kontrasepsi mulai tahun 2004 hanya antara 2030% artinya, antara 70-80% harus di layani masyrakat sendiri atau swasta.
Oleh karena itu, perlu di lakukan advokasi agarbidan dengan kerjasama tim
dokter dan akademisi pendidikan dapat meningkatkan mutu bidan sehingga
kesehatan ibu dan anak dapat di deteksi secara dini (Tjanggi, 2014)
Kinerja penurunan angka kematian ibu secara global masih rendah. Di
Indonesia, Angka Kematian Ibu (AKI) menurun dari 390 pada tahun 1991
menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007. Target pencapaian
MDGs pada tahun 2015 adalah sebesar 102 per 100.000 kelahiran hidup,
sehingga diperlukan kerja keras untuk mencapai target tersebut. Walaupun
pelayanan antenatal dan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan telah
cukup tinggi, beberapa faktor seperti resiko tinggi pada saat kehamilan dan

aborsi perlu mendapat perhatian. (tjanggi. 2014)


C. Peran Bidan

Sebagai salah satu profesi dalam bidang kesehatan, bidan memiliki


kewenangan untuk memberikan pelayanan kebidana (kesehatan Reproduksi)
kepada perempuan remaja putri, calon pengantin,ibu hamil,bersalin, nifas, masa
interval,klimakterium dan menopause, bayi baru lahir, anak balita dan
prasekolah. Selain itu bidan juga berwenang untuk memberikan pelayanan
keluarga berencana dan kesehatan masyarakat.
Peran aktif bidan dalam pelayanan kesehatan reproduksi dan keluarga
berencana sudah sangat di aukui oleh semua pihak. Berbagai penelitian
menunjukkan bahwa 665 persalinan, 93% kunjungan ante natal (K1), 80% dari
pelayanan keluarga berencana di lakukan oleh bidan. Perana bidan dalam
pencapaian 53% prevalensi pemakaian kontrasepsi, 58% pelayanan kontrasepsi
suntik di lakukan oleh Bidan Praktek Swasta, dan 25% pemakai kontrasepsi pil,
25% IUD dan 25%implant dilayani oleh Bidan Praktek Swasta (Statistik
Kesehatan 2001)
Bidan merupakan tenaga kesehatan yang ada pada sistem kesehatan di
Indonesia dan juga di dunia internasional bidan berkonstribusi dalam
peningkatan kesejahteraan masyarakat khususnya perempuan dan anak. Dalam
memberikan pelayanan, bidan harus mampu menghadapi tuntutan yang terus
berubah seiring dinamika kemajuan pengetahuan dan teknologi. Juga demikian
Profesi Kebidanan di Indonesia harus bersiap untuk menghadapi tuntutan global
akan pelayanan kesehatan yang aman dan berkualitas khususnya perempuan dan
anak. Bidan semakin di akui sebagai petugas kesehatan kunci dalam mengurangi
kesakitan dan kematian ibu dan bayi. The world needs midwifes now more than
ever, pesan initelah di akui oleh pemerintah di berbagai negara dan mitra global
dalam pencapaian 2015 millenium development goals.
Dari tahun ke tahun permintaan masyarakat terhadap peran aktif bidan
dalam memberikan pelayanan terus meningkat. Ini merupakan bukti bahwa
eksistensi bidan di tengah masyarakat semakin memperoleh kepercayaan,
pengakuan dan penghargaan.
8

Berdasarkan hal inilah, bidan di tuntut untuk selalu berusaha


meningkatkan kemampuan sekaligus mempertahankan dan meningkatkan
kualitas pelayanannya termasuk pelayanan keluarga Bencana dan Kesehatan
Reproduksi. Karena hanya melalui pelayanan berkualitas pelayanan yang terbaik
dan terjangkau yang di berikan oleh bidan, kepuasan pelanggang baik kepada
individu, keluarga dan masyarakat dapat tercapai.
Dalam melayani masyarakat terkadang banyak suka maupun duka yang
dihadapi oleh bidan itu sendiri, banyak tantangan serta kejadian-kejadian yang
tidak dapatdi hindari bahkan di selesaikan oleh seorang bidan itu sendir, oleh
karena itu perlunya sebuah organisasi untuk melindungi profesi bidan serta
memperjuangkan hak dan kewajiban mereka (Tjanggi, 2014).
Tiga Faktor yang Dapat Mendukung Kepercayaan Masyarakat Terhadap
Profesi Kebidanan
Terdapat tiga faktor yang dapat mendukung kepercayaan masyarkat
terhadap profesi kebidanan. Faktor pertama adalah keyakinan akan diri sendiri
sebagai tenaga professional. Keyakinan adalah kepercayaan yang dimiliki oleh
setiap bidan bahwa ia mempunyai kemampuan professional dalam
menjalankan peran dan fungsi bidan. Keyakinan ini timbul karena bidan
mempunyai pandangan bahwa pekerjaan bidan merupakan pekerjaan yang
mulia karena menyangkut kehidupan atau kelangsungan hidup manusia.
Untuk melaksanakan tugas mulia ini, bidan harus mempunyai
tanggung jawab moral, menjiwai profesi kebidanan dalam memberikan asuhan,
serta memiliki landasan pengetahuan dan nilai-nilai yang dianut. Nilai-nilai
tersebut meliputi kebenaran, kebaikan, dan seni. Kebenaran adalah hal yang
berhubungan dengan aktivitas intelektual. Bidan harus memupuk kejujuran,
kesetiaan, kesatuan, dan saling menghargai satu sama lain. sedangkan yang
dimaksud seni adalah hal terkait kemampuan hubungan interpersonal yang
bertujuan untuk kesejahteraan klien.

Bidan yakin bahwa mereka sebagai tenaga kebidanan mandiri yang


mempunyai ciri professional seperti kemampuan, penampilan, dan sikap
professional, serta etika profesi kebidanan yang didasari oleh pendidikan.
Dengan demikian, masyarakat akan menilai bidan secara positif serta
menerima/mengakui keberadaan bidan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh bidan dalam meyakinkan dirinya
sebagai tenaga professional antara lain dengan pengembangan diri sendiri.
Pengembangan diri sendiri dilakukan agar dapat menyesuaikan diri seiring
dengan perkembangan ilmu pengtahuan dan teknologi (iptek) serta dapat
memenuhi tuntutan masyarakat, dimana masyarakat semakin kritis (mampu
berpikir secara rasional) dan mempunyai kemampuan financial yang lebih
memadai. Perubahan ini membuat masyarakat cenderung menuntut pelayanan
kebidananyang lebih baik. Oleh sebab itu, bidan dituntut untuk belajar terusmenerus mengikuti perkembangan zaman. Pengembangan diri dapat dilakukan
dengan cara belajar mandiri, mengikuti seminar/symposium, penataran, dan
pelatihan, atau dengan kegiatan lainnya.
Cara lain untuk meyakinkan diri sendiri adalah dengan katif mengikuti
organisasi profesi kebidanan (IBI). Sebgaia organisasi kebidanan yang ada di
Indonesia, IBI merupkan wadah untuk meyakinkan peran dan fungsi bidan. IBI
juga haru mampu memperkenalkan profesi kebidanan kepada masyarakat dan
profesi lain. IBI harus secara rutin mengadakan pertemuan untuk
mendiskusikan pengembangan profesi kebidanan di Indonesia dan bekerja
sama dengan profesi lain untuk memperkenalkan bahwa bidan merupakan
suatu pekerjaan professional.
Faktor kedua meyakinkan masyarakat mengenai profesi kebidanan.
Sikap dan perilaku professional memberikan dampak positif terhadap profesi
kebidanan, sehingga bidan menjadi harapan dari masyarakat dan diakui
keberadaannya. Untuk memperoleh pengakuan tersebut, bidan harus
mempunyai ciri cirri antara lain: mandiri, aseprtif, mampu mempromosiakan
10

diri, mampu menjadi panutan yang bertanggung jawab, membimbing, mampu


bersaing secara sehat dalam meningkatkan pelayanan yang bermutu.
Disamping ciri ciri tersebut, bidan juga harus berpartisipasi didalam anggota
masyarakat, seperti mengikuti kegiatan yang bersifst khusus maupun umum
terutama dikegiatan kesehatan.
Cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keyakinan terhadap
bidan adalah dengan memperkenalkan dirinya dengan peristiwa penting seperti
kegiatan social, serta menjadi anggota, tim kesehatan dan mengemukakan ide
dalam perencanaan kesehatan. Bidan juga dituntut ahli untuk menulis buku
atau bulleting serta mengadakan seminar, khususnya tentang kebidanan.
Cara lain yang dipakai untuik meyakinkan masyarakat yaitu dengan
memanfaatkan media massa kebidanan. Film ,TV, radio, majalah, Koran,
artikel,

dan

brosur

adalah

contoh

media

yang

bertujuan

untuk

mempublikasikan kebidanan serta menciptakan hubungan baik dengan


masyarakat.dengan demikian, penilaian masyarakat terhadap bidan menjadi
lebih baik dan diterima. Untuk memanfaatkan media masa ini, bidan harus
membentuk komite pengamat media yang bertugas untuk memonitor media
dari luar dan dari dalam yang dapat mempengaruhi publikasi organisasi
kebidanan (IBI).
Faktor ketiga adalah memberikan dampak positif dalam perilaku
professional. Agar dapat memberikan dampak positif kepada masyarakat,
bidan mencari alternative pemecahan masalah, memanipulasi orang lain, tidak
menunjukkan sikap bermusuhan, percaya akan kemampuan diri sendiri,
bertanggung jawab, menggerakkan segala daya dan pikiran, serta dapat
memanfaatkan orang-orang yang berpengaruh. Apabila semua bidan telah
menunjukkan perilaku tersebut dan dengan bantuan orang-orang yang
berpengaruh maka akan mempunyai dampak positif terhadap organisasi
kebidanan. Hal ini dapat memengaruhi pandangan yang baikdari masyarakat,
terhadap profesi kebidanan.
11

Masyarakat mengharapkan profesi kebidanan dapat memberikan


pelayanan yang baik sehingga dapat menunjang tujuan pembangunan
kesehatan untuk tercapainya kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk.
Pelayanan dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal sebagai salah
satu unsur kesejahteraan umum dari tujuan nasional. (Nurhayati, 2013)
D. Peran Organisasi Profesi
Adapun peran organisasi profesi itu sendiri merujuk dari kriteria profesi
yakni profesi adalah mengabdi untuk masyarakat,bukan untuk dirinya sendiri.
Mengabdi pada kepentingan masyarakat artinya setiap pelaksana profesi harus
meletakkan kepentingan pribadi di bawah kepentingan masyarakat. Setiap profesi
memiliki organisasi yang melindungi hak dan kewajiban setiap anggota
profesinya, misalnya Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Persatuan Dokter Gigi
Indonesia (PDGI),Ikatan Bidan Indonesia (IBI),Persatuan Guru Republik
Indonesia(PGRI), Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), dan lain sebagainya.
Bidan sebagai profesi memiliki peran dalam organisasi profesi, yaitu
sebagai berikut:
1.
Ikatan Bidan Indonesia (IBI)
Organisasi bidan di Indonesia adalah Ikatan Bidan Indonesia (IBI), IBI
dibentuk berlandaskan Pancasila dengan didasari oleh rasa keprihatinan dan
kesadaran untuk membela dan mempertahankan kepentingan bangsa dan
masyarakat umumnya, serta kepentingan perempuan dan bidan khususnya. IBI
berdiri pada tanggal 15 September 1950 yang beranggotakan seluruh bidan di
Indonesia. Dalam sejarah Bidan Indonesia, tanggal 24 Juni 1951 dipandang
sebagai hari jadi IBI. Pengukuhan hari lahirnya IBI tersebut didasarkan atas
hasil konferensi bidan pertama yang diselenggarakan di Jakarta 24 Juni 1951.
Konferensi ini merupakan prakarsa bidan-bidan senior yang berdomisili di
Jakarta (Aticeh dkk, 2014)
Tujuan IBI adalah sebagai berikut:
a. Menggalang persatuan dan persaudaraan antar bidan serta kaum
perempuan pada umumnya, dalam rangka memperkokoh persatuan
bangsa.
12

b.

Membina pengetahuan dan keterampilan anggota dalam profesi

c.

kebidanan, khususnya dalam pelayanan KIA serta kesejahteraan keluarga.


Membantu pemerintah dalam pembangunan nasional, terutama dalam

d.

meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.


Meningkatkan martabat dan kedudukan bidan dalam masyarakat.

Nilai-nilai IBI
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Mengutamakan kebersamaan.
Mempersatukan diri dalam satu wadah.
Pengayoman terhadap anggota.
Pengembangan diri.
Peran serta dalam komunitas.
Mempertahankan citra bidan.
Sosialisasi pelayanan berkualitas.

Visi IBI
Mewujudkan bidan professional berstandar global.
Misi IBI
a.
b.
c.
d.
e.

Meningkatkan kekuatan organisasi.


Meningkatkan peranIBI dalam mutu pendidikan bidan.
Meningkatkan mutu pelayanan.
Meningkatkan kesejahteraan anggota.
Mewujudkan kerja sama dengan jejaring kerja.
Upaya-upaya yang dilaksanakan untuk mencapai visi dan misi tersebut

adalah sebagai berikut:


a.

Pengembangan

standarisasi

pendidikan

bidan

dengan

standar

b.
c.
d.

Internasional.
Meningkatkan pelatihan anggota IBI.
Membangun kerjasama dan kepercayaan dari donor dan mitra IBI.
Peningkatan advokasi kepada pemerintah untuk mendukung
pengembangan profesi bidan serta monitoring dan evaluasi pasca

e.

pelatihan yang berkesinambungan.


Peningkatan pembinaan terhadapa anggota berkaitan dengan peningkatan

f.
g.

kompetensi, profesionalisme, dan aspek hokum.


Peningkatan pengumpulan data dasar.
Peningkatan akses organisasi profesi IBI terhadap pelayanan dan
pendidikan kebidanan.
13

h.
i.
j.

Capacity building bagi pengurus IBI.


Peningkatan pengadaan sarana prasarana.
Membangun kepercayaan anggota IBI, donor, dan mitra dengan tetap
menjaga

mutu

pengelolaan

keuangan

yang

akuntabel

(http:www.bidanindonesia.org).
Selanjutnya untuk melaksanakan profesi tersebut agar pengabdian
profesinya sesuai dengan harapan masyarakat dan profesi, IBI terusmenerus mengembangangkan dokumen, antara lain standar profesi bidan,
rencana strategis (strategis planning), etika kebidanan dan kode etik
bidan, pembentukan Majelis Pertimbangan Etika Bidan (MPEB),
pembentukan Majelis Pembelaan Anggota (MPA), Kompetensi Inti (Core
Competency), Buku Sistem Informasi IBI, Standar Pelayanan Kebidanan,
Pedoman

Pendidikan

Berkelanjutan,

Modul

Pelatihan

Kesehatan

Reproduksi bagi Bidan Praktik Swasta, Pelatihan Motivator, Pelatihan


Konseling, dan penerbitan majalah bidan.
2. Internasional Confederation of Midwives (ICM)
The International Confederation of Midwives (ICM) mendukung,
mewakili, dan bekerja untuk memperkuat asosiasi profesi bidan di seluruh
dunia. Saat ini, terdapat 108 asosiasi bidan nasional yang mewakili 95 negara
di setiap benua. ICM akan dibagi dalam empat wilayah, yaitu Afrika,
Amerika, Asia Pasifik, dan Eropa. ICM bersama asosiasi ini mewakili lebih
dari 300.000 bidan secara global.
ICM adalah sebuah organisasi nonpemerintah terakreditasi dan
mewakili di tingkat dunia untuk mencapa tujuan bersama dalam perawatan
ibu dan anak, mempromosikan dan memperkuat profesi kebidanan, serta
meningkatkan kesehatan perempuan secara global. Organisasi-organisasi
tingkat dunia yang menjadi rekan kerja ICM termasuk WHO dan badan PBB
lain, organisasi profesi kesehatan global termasuk Federasi Internasional
Ginekologi dan Obstetri (FIGO), Asosiasi Pediatri Internasional (IPA), Dewan

14

Perawat Internasional (ICN), organisasi nonpemerintah, serta kelompok


masyarakat sipil dan bilateral.
ICM sangat berperan sebagai perintis Organisasi Kesehatan Dunia
Safe Motherhood, yang turut membantu menurunkan angka kematian ibu dan
bayi di dunia. Setiap tiga tahun ICM mengadakan kongres di negara-negara
berbeda di dunia. Banyak cabang dari organisasi kebidanan berusaha
mengirimkan satu atau dua orang bidan untuk mengikuti kongres
internasional dan di sana mereka melaporkan keadaan wilayah.
Pada tahun 1993 kongres di Kanada, ICM menyampaikan kode
internasional untuk etika kebidanan sebagai petunjuk dalam pendidikan,
praktik, dan penelitian dalam kebidanan. Kebijaksanaan ini merupakan
pengakuan status perempuan sebagai individu, persamaan hak untuk setiap
orang, serta persamaan dalam akses untuk menerima pelayanan kesehatan dan
hubungan kekeluargaan (Aticeh dkk, 2014)
Visi
ICM mempunyai visis setiap perempuan subur memiliki akses untuk
mendapatkan asuhan kebidanan untuk dirinya sendirinya dan bayinya.
Misi
Yaitu untuk memperkuat asosiasi bidan dan memajukan profesi kebidanan
secara global dengan mempromosikan bidan yang otonom sebagai pemberi
asuhan yang paling tepat untuk perempuan yang akan bersalin, serta menjaga
persalinan tetap normal dalam rangka meningkatkan kesehatan reproduksi
perempuan, kesehatan bayi, dan keluarga mereka.
Tujuan dari Internasional Confederation of Midwives (ICM) adalah
untuk meningkatkan standar asuhan yang diberikan kepada perempuan, bayi,
dan keluarga di seluruh dunia melalui pemanfaatan, pengembangan, dan
pendidikan bidan professional. Sesuai dengan tujuan ini, ICM menetapkan
beberapa aturan untuk memandu pendidikan, praktik, dan penelitian bidan.
Dalam aturan tersebut, ICM mengakui perempuan sebagai seseorang yang
15

memiliki hak asasi, mencari keadilan bagi semua orang, dan pemerataan akses
ke perawatan kesehatan yang didasarkan pada hubungan saling menghormati
dan kepercayaan, serta martabat semua anggota masyarakat.
ICM berkomitmen untuk memperkuat kontribusi profesi kebidanan
dalam meningkatkan kualitas dan kapasitas asuhan kebidanan yang lebih
professional selama kehamilan, persalinan, nifas, dan keluarga berencana.
ICM bekerja sama dengan Bidan dan Asosiasi Bidan secara global untuk
menjamin hak-hak perempuan dan akses terhadap asuhan kebidanan selama,
dan setelah melahirkan. ICM berusaha untuk meningkatkan kesehatan ibu dan
bayi baru lahir, serta memastikan bahwa Asosiasi Bidan memiliki alat-alat
yang diperlukan untuk menjadi organisasi yang efektif.
Harapan ICM terhadap kebidanan adalah sebagai berikut:
1.

Bidan memberikan asuhan dalam dan untuk seluruh perempuan yang

2.

membutuhkan asuhan kebidanan.


Bidan harus berkualifikasi dan berkompeten, serta menjunjung tinggi

3.

profesi.
Bidan mempunyai otonomi sebagai pemberi asuhan yang menghargai
kerja sama tim dalam memberikan asuhan untuk seluruh kebutuhan

4.
5.

perempuan dan keluarga.


Bidan harus memahami dan mekanisme yang valid.
Pendidikan kebidanan harus melalui jalur dan kompetensi inti dasar

6.

sehubungan dengankebutuhan dari negara/wilayah bidan berada.


Bidan harus mempunyai tanggung jawab untuk pelatihan dan pendidikan

7.

sendiri.
Semua bidan yang berkualitas harus mampu melakukan praktik sesuai

8.
9.

dengan praktik dan pengalamannya.


Bidan dikenal sebagai ahli dalam memberikan asuhan.
Bidan memegang peranan kunci dalam menentukan asuhan di masa

10.

mendatang.
Bidan aadalah bagian internal dalam usaha pengembangan praktik
kebidanan.

16

11.

Bidan terlibat dalam penelitian dan perumusan kebijakan yang valid dan

12.

mempromosikan asuhan kebidanan kepada public.


Bidan percaya bahwa menstruasi, kehamilan, persalinan, dan menopause
adalah kejadian kehidupan yang normal dan tidak memerlukan intervensi

13.

medis.
Bidan bekerja sama dengan perempuan dalam memberikan asuhan sesuai
dengan harapan perempuan.
Jadi peran organisasi amatlah dibutuhkan dalam menghadapi

tantangan masyarakat, baik dalam wilayah indonesia maupun international. Di


negara kita IBI berperan mendukung dan melindungi segenap anggotanya,
sedangkan secara global, para bidan di seluruh dunia menjalin ikatan
organisasi di dalam ICM atau International confederation of midwifes.

17

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1.
Organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk pencapaian suatu
tujuan bersama. Pengertian profesi adalah suatu pekerjaan yang memiliki
pengetahuan khusus dari beberapa bidang ilmu, melaksanakan peran yang
bermutu, melaksanakan cara yang disepakati oleh anggota profesi (etika).
Organisasi profesi adalah organisasi yang anggotanya para praktis yang
menetapkan diri mereka sebagai profesi dan bergabung bersama untuk
melaksanakan fungsi-fungsi sosial yang tidak dapat mereka laksanakan dalam
2.

kapasitas mereka sebagai individu.


Tantangan masyarakat pada profesi kebidanan adalah kinerja penurunan angka

3.

kematian ibu secara global masih rendah.


Bidan memiliki kewenangan untuk memberikan pelayanan kebidana
(kesehatan Reproduksi) kepada perempuan remaja putri, calon pengantin,ibu
hamil,bersalin, nifas, masa interval,klimakterium dan menopause, bayi baru

4.

lahir, anak balita dan prasekolah.


Peran organisasi profesi amatlah dibutuhkan dalam menghadapi tantangan
masyarakat, baik dalam wilayah indonesia maupun international. Di negara
kita IBI berperan mendukung dan melindungi segenap anggotanya, sedangkan
secara global, para bidan di seluruh dunia menjalin ikatan organisasi di dalam

B.

ICM atau International confederation of midwifes.


SARAN
1. Dengan terbentuknya suatu organisasi profesi diharapkan, dapat
meningkatkan kualitas dan mutu SDM dari masing masing profesi yang
bermutu dan berkualitas
2. Dapat memecahkan dan memberi solusi dari setiap kendala yang di dapatkan
dalam bidang profesi melalui musyawarah melalui wadah organisasi

18

3. Organisasi profesi dapat menjembatani pertukaran informasi yang lebih akurat


DAFTAR PUSTAKA
Aticeh, dkk. 2014. Konsep Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika
Ekarini Sri Madya. 2016. Organisasi Dan Manajemen Pelayanan Kebidanan Dalam
Kebidanan. Yogyakarta: Thema Publishing
Klien susan. 2015. Buku Bidan Asuhan Asuhan Pada Kehamilan, Kelahiran, Dan
Kesehatan Wanita. Jakarta: Buku Kedokteran EGC
Keselamatan

ibu,

keberhasilan

dan

tantangan.

Out

Look

volume

16.

https://www.path.org/publications/files/Indonesian_16-special.pdf.
Nurhayati, dkk. 2013. Konsep Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika
Sari Afrina. 2015. Strategi dan inovasi pencapaian MDGS 2015 di Indonesia.
https://www.academia.edu/3170396/strategi_dan_inovasi_pencapaian_mdgs
_2015_di_indonesia
Tjanggi, H. Nurbajani. 2014. Kumpulan konsep kebidanan lanjut.

19