Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN KASUS

I.

Status penderita
Identitas pasien
Nama
Umur
Jenis kelamin
Agama
Pekerjaan
Alamat
Nomor CM

II.

: Tn. S
: 77 tahun
: Laki-laki
: Islam
: Petani
: Jati Kulon 4/4
: 549511

Anamnesis
Autoanamnesis dilakukan pada tanggal 4 Juni 2014 pk. 16.00 WIB
Keluhan Utama :
Penglihatan mata kanan berkabut
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke Poliklinik Mata RSUD dengan keluhan penglihatan mata kiri
berkabut 3 tahun yang lalu. Penglihatan berkabut dirasakan terus-menerus dan
muncul perlahan sehingga mengganggu aktifitas.
Awalnya penglihatan pasien tidak berkabut, dapat melihat jauh maupun dekat,
kemudian pasien merasa kabut semakin lama semakin terasa tebal hingga
menghalangi pandangan. Saat ini mata kiri pasien hanya dapat melihat cahaya. Pasien
juga mengeluh silau jika melihat sinar matahari.
4 tahun yang lalu, pasien pernah mengalami keluhan yang sama pada mata
kanannya dan telah dilakukan operasi. Setelah dilakukan operasi, pasien mengaku
keluhan penglihatan berkabut mata kanan membaik.
Keluhan penglihatan mata kiri berkabut tidak disertai dengan mata merah,
nyeri maupun gatal, tidak ada pusing maupun mual.
Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat keluhan yang sama (+) pada mata kanan 4 tahun yang lalu
Riwayat operasi katarak (+) pada mata kanan 4 tahun yang lalu
Riwayat diabetes melitus (-)
Riwayat hipertensi (-)
Riwayat kolesterol (-)
Riwayat kacamata (-)
Riwayat trauma (-)
Riwayat alergi (-)
Riwayat Penyakit Keluarga

Keluarga pasien tidak ada yang menderita penyakit serupa


Riwayat diabetes melitus (-)
Riwayat hipertensi (-)
Riwayat kolesterol (-)
Riwayat alergi (-)
Riwayat Sosial Ekonomi
Biaya pengobatan pasien ditanggung oleh Kartu Kudus Sehat (KKS). Kesan
ekonomi kurang.

III.

Pemeriksaan fisik
Status Generalis
Tekanan Darah
Nadi
Laju Nafas
Suhu
Keadaan Umum
Kesadaran
Status Gizi

:
:
:
:
:
:
:

120/ 80 mmHg
82 x / menit
24 x / menit
afebris
Baik
Compos mentis
Baik

Status Ophtalmologi

OD

Tidak

tampak

OS

Lensa keruh merata


Shadow test (-)

adanya

kelainan
OCULI
DEXTRA(OD)

PEMERIKSAAN

OCULI SINISTRA(OS)

4/60
Tidak dikoreksi

Visus
Koreksi

1/~
Tidak dikoreksi

Baik

Proyeksi sinar

Baik

Baik

Persepsi warna

Baik

Gerak bola mata normal

Bulbus okuli

Gerak bola mata normal,

Enoftalmus (-)

Enoftalmus (-),

Eksoftalmus (-)

Eksoftalmus (-),

Strabismus (-)
Edema (-)

Palpebra

Strabismus (-)
Edema (-)

Hiperemis(-)

Hiperemis(-)

Nyeri tekan (-)

Nyeri tekan (-)

Blefarospasme (-)

Blefarospasme (-)

Lagoftalmus (-)

Lagoftalmus (-)

Ektropion (-)

Ektropion (-)

Entropion (-)
Edema (-)

Konjungtiva

Entropion (-)
Edema (-),

Injeksi konjungtiva (-)

Injeksi konjungtiva (-)

Injeksi siliar (-)

Injeksi siliar (-)

Infiltrat (-)

Infiltrat (-)

Hiperemis (-)
Putih
Oedem (-)

Hiperemis (-)
Putih
Oedem (-)

Sklera
Kornea

Ulkus (-)

Ulkus (-)

Sikatriks (-)

Sikatriks (-)

Infiltrat (-)

Infiltrat (-)

Arcus senilis (-)


Jernih

Camera Oculi Anterior

Arcus senilis (-)


Jernih

Kedalaman cukup

(COA)

Kedalaman cukup

Hipopion (-)

Hipopion (-)

Hifema (-)
Kripta(-)

Hifema (-)
Kripta(-)

Iris

Edema(-)

Edema(-)

Synekia (-)
Bulat, diameter 3mm, letak

Synekia (-)
Bulat, diameter 3mm, letak

sentral, refleks pupil L/TL (+/+)

Pupil

sentral, refleks pupil L/TL (+/+)

Jernih
(-)
Jernih
Pendarahan (-),

Lensa
Shadow test
Vitreous
Retina

Keruh merata
(-)
Tidak dapat dinilai
Tidak dapat dinilai

Fundus Refleks
TIO
Sistem Lakrimasi

Tidak dapat dinilai


Tidak dilakukan
Epifora (-)
Lakrimasi(-)

Neovaskularisasi (-), Ablasio (-),


Eksudat (-), Sikatriks (-)
Positif (+)
Tidak dilakukan
Epifora (-)
Lakrimasi(-)

IV.

Resume
Subyektif
Pasien datang ke Poliklinik Mata RSUD dengan keluhan penglihatan mata kiri
berkabut 3 tahun yang lalu. Penglihatan berkabut dirasakan terus-menerus dan
muncul perlahan sehingga mengganggu aktifitas. Saat ini mata kiri pasien hanya bisa
melihat cahaya. Pasien juga mengeluh silau jika melihat sinar matahari. 4 tahun yang
lalu, pasien pernah mengalami keluhan yang sama pada mata kanannya dan telah
dilakukan operasi.
Keluhan penglihatan mata kiri berkabut tidak disertai dengan mata merah,
nyeri maupun gatal, tidak ada pusing maupun mual.
Obyektif
OCULI DEXTRA(OD)
4/60
Jernih
(-)

V.

PEMERIKSAAN
Visus
Lensa
Shadow test

OCULI SINISTRA(OS)
1/~
Keruh merata
(-)

Diagnosis banding
OS katarak senilis matur
OS katarak senilis imatur
OS katarak senilis hipermatur

VI.

Diagnosis kerja
OS katarak senilis matur

VII.

Dasar diagnosa
Pada anamnesa
OS
: Pasien umur 77 tahun, mengeluh penglihatan mata kiri berkabut,
sering merasa silau jika melihat sinar matahari
Pada pemeriksaan fisik

OS

VIII.

: visus 1/~, lensa keruh merata, shadow test (-)

Terapi
Medikamentosa
Glaucon (acetazolamid 250 mg)
2 x tablet
Cendo LFX (Levofloxacin 5 mg)
3 x 2 tetes OS
Homatro (Homatropine 2%)
2 x 2 tetes OS
Operatif
EKEK + IOL OS

IX.

Prognosis
Okuli dekstra

X.

Okuli sinistra

Ad vitam

Ad bonam

Ad bonam

Ad sanam

Ad bonam

Dubia ad bonam

Ad kosmetikam

Ad bonam

Dubia ad bonam

Ad functionam

Ad bonam

Dubia ad bonam

Usul dan Saran


Usul

Pengawasan progesivitas penyakit


Pengawasan keluhan pasien
Dilakukan operasi EKEK + IOL OS untuk menangani keadaan katarak senilis
matur

Saran

Gunakan tetes mata secara teratur


Minum obat secara teratur
Kontrol teratur (1 minggu)
Edukasi pasien mengenai katarak bahwa katarak merupakan penyakit
degeneratif

TINJAUAN PUSTAKA
KATARAK
Definisi
Katarak berasal dari yunani Katarrhakies, inggris cataract, dan latin cataracta yang
berarti air terjun. Dalam bahasa Indonesia disebut bular dimana pengelihatan seperti tertutup

air terjun akibat lensa yang keruh. Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang
dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa terjadi akibat
kedua-keduanya.

Perbandingan Lensa mata normal dan katarak

Etiologi
Katarak umumnya merupakan penyakit pada usia lanjut, akan tetapi dapat juga akibat
kelainan congenital, atau penyulit penyakit mata local menahun. Bermacam-macam penyakit
mata dapat mengakibatkan katarak seperti glaucoma, ablasi, uveitis, dan retinitis pigmentosa.
Katarak dapat berhubungan dengan proses penyakit intraocular lainnya.
Katarak dapat disebabkan oleh bahan toksisk khusus (kimia dan fisik). Keracunan
beberapa jenis obat dapat menimbulkan katarak, seperti ; eserin (0,25%-0,5%),
kortikosteroid, ergot, dan asetilkolinesterase topical.
Kelainan sistemik atau metabolic yang dapat menimbulkan katarak adalah diabetes
militus, galaktosemia, dan distrofi miotonik. Katarak dapat ditemukan dalam keadaan tanpa
adanya kelainan mata atau sistemik (katarak senile, juvenile, dan herediter) atau kelainan
congenital mata.
Katarak dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti : fisik, kimia, penyakit
predisposisi, genetik dan gangguan perkembangan, infeksi virus dimasa pertumbuhan janin,
dan usia.
Patofisiologi
Terdapat 2 teori yang menyebabkan terjadinya katarak yaitu teori hidrasi dan sklerosi :

1. Teori hidrasi terjadi kegagalan mekanisme pompa aktif pada epitel lensa yang berada di
subkapsular anterior, sehingga air tidak dapat dikeluarkan dari lensa. Air yang banyak ini
akan menimbulkan bertambahnya tekanan osmotik yang menyebabkan kekeruhan lensa.
2. Teori sklerosis lebih banyak terjadi pada lensa manula dimana serabut kolagen terus
bertambah sehingga terjadi pemadatan serabut kolagen di tengah. Makin lama serabut
tersebut semakin bertambah banyak sehingga terjadilah sklerosis nukleus lensa.
Perubahan yang terjadi pada lensa usia lanjut:
1.Kapsula
a.
b.
c.
d.

Menebal dan kurang elastis (1/4 dibanding anak).


mulai presbiopi
Bentuk lamel kapsul berkurang atau kabur
Terlihat bahan granular

2.Epitel-makin tipis
a. Sel epitel (germinatif pada ekuator bertambah besar dan berat)
b. Bengkak dan vakuolisasi mitokondria yang nyata
3.Serat lensa.
a. serat irregular
b. Pada korteks jelas kerusakan serat sel
c. Brown sclerotic nucleu, sinar UV lama kelamaan merubah proteinnukelus lensa,
sedangwarna coklat protein lensa nucleusmengandung histidin dan triptofan
disbanding normal
d. Korteks tidak berwarna karenai kadar asam askorbat tinggi dan menghalangi
fotooksidasi.
e. Sinar tidak banyak mengubah protein pada serat muda.
Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya transparasi, akibat
perubahan pada serabut halus multipel yang memanjang dari badan siliar ke sekitar daerah di
luar lensa, misalnya menyebabkan penglihatan mengalami distorsi. Pada protein lensa
menyebabkan koagulasi, sehingga mengakibatkan pandangan dengan penghambatan jalannya
cahaya ke retina.
Klasifikasi Katarak Senilis
Katarak senilis semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut, yaitu diatas usia
50 tahun keatas. Katarak senilis merupakan katarak yang sering dijumapai. Satu-satunya
gejala adalah distorsi penglihatan dan pengihatan yang semakin kabur. Katarak ini biasanya
berkembang lambat selamabeberapa tahun, dan pasien mungkin meninggal sebelum timbul
indikasi pembedahan. Apabila diindikasikan pembedahan, maka ekstraksi lensa secara

definitif akan memperbaikiketajaman penglihatan pada lebih dari 90% kasus. Sisanya (10%)
mungkin telah mengalamikerusakan retina atau mengalami penyulit pasca bedah serius
misalnya glaukoma, ablasi retina,perdarahan korpus vitreum, infeksi atau pertumbuhan epitel
ke bawah kamera okuli anterior yangmenghambat pemulihan visual.

Katarak Senilis

Perubahan lensa pada usia lanjut :

Kapsul : menebal dan kurang elastis (1/4 dibanding anak), mulai presbiopia, bentuk

lamelkapsul berkurang atau kabur, terlihat bahan granular.


Epitel makin tipis : sel epitel pada equator bertambah berat dan besar
Serat lensa : lebih iregular, pada korteks jelas kerusakan serat sel, brown slerosis
nucleus, sinar UV lama kelamaan merubah protein nukleus lensa, korteks tidak
bewarna.
1. Stadium insipien
Pada stadium ini akan terlihat kekeruhan mulai dari tepi ekuator berbentuk
jeriji menuju korteks anterior dan posterior (katarak kortikal). Vakuol mulai
terlihat didalam korteks, katarak subkapsular posterior, kekeruhan mulai
terlihat anterior subkapsular posterior, celah terbentuk antara serat lensa dan
korteks berisi jaringan degenerative (benda morgagni) pada katarak insipient.
Kekeruhan ini dapat menimbulkan poliopia oleh karena indeks refraksi yang
tidak sama pada semua bagian lensa. Bentuk ini kadang-kadang menetap
untuk waktu yang lama.
2. Stadium imatur
Sebagian lensa keruh tetapi belum mengenai seluruh lapis lensa. Visus pada
stadium ini 6/60 - 1/60. Kekeruhan ini terutama terdapat dibagian posterior
dan bagian belakang nukleus lensa. Kalau tidak ada kekeruhan di lensa, maka
sinar dapat masuk ke dalam mata tanpa ada yang dipantulkan.Oleh karena
kekeruhan berada di posterior lensa, maka sinar oblik yang mengenai bagian

yang keruh ini, akan dipantulkan lagi, sehingga pada pemeriksaan terlihat di
pupil, ada daerah yang terang sebagai reflek pemantulan cahaya pada daerah
lensa yang keruh dan daerah yang gelap, akibat bayangan iris pada bagian
lensa yang keruh. Keadaan ini disebut shadow test (+). Pada stadium ini
mungkin terjadi hidrasi korteks yang mengakibatkan lensa menjadicembung,
sehingga indeks refraksi berubah karena daya biasnya bertambah dan mata
menjadi

miopia.

Keadaan

ini

dinamakan

intumesensi.

Dengan

mencembungnya lensa iris terdorong kedepan, menyebabkan sudut bilik mata


depan menjadi lebih sempit, sehingga dapat menimbulkan glaukoma sebagai
penyulitnya.
3. Stadium matur
Kekeruhan telah mengenai seluruh massa lensa, sehingga semua sinar yang
melalui pupil dipantulkan kembali ke permukaan anterior lensa. Kekeruhan
bisa terjadi akibat deposit dari ion Ca yang menyeluruh, kekeruhan seluruh
lensa yang bila lama akanmengakibatkan kalsifikasi lensa. Visus pada stadium
ini 1/300. Bilik mata depan akan berukurankedalaman normal kembali, tidak
terdapat bayangan iris pada lensa yang keruh, sehingga ujibayangan iris
negatif (shadow test (-) ). Di pupil tampak lensa seperti mutiara.
4. Stadium hipermatur
Katarak hipermatur, katarak yang mengalami proses degenerasi lanjut, dapat
menjadi keras atau lembek dan mencair. Massa lensa yang berdegenerasi
keluar dari kapsul lensa sehingga lensa menjadi mengecil, berwarna kuning
kering, pada pemeriksaan terlihat bilik mata dalam dan lipatan kapsul lensa.
Kadang-kadang pengkerutan berjalan terus sehingga hubungan dengan zonula
zinn menjadi kendor. Bila proses katarak berjalan lanjut disertai dengan kapsul
yang tebal, maka korteks yang berdegenerasi dan cair tidak dapat keluar. Maka
korteks akan memperlihatkan bentuk sekantong susu disertai dengan nucleus
yang terbenam didalam korteks lensa karena lebih berat. Keadaan ini disebut
katarak morgagni.

Gambaran Klinis
Gejala Subjektif

Penglihatan seperti berasap dan tajam penglihatan yang mnurunsecara progresif


Penurunan tajam penglihatan
tergantung dari tipe katarak:

o Katarak polar kortikal dan anterior


kelainan tampak mencolok namun gangguan penglihatan biasanya ringan
o Katarak polar posterior dan subkapsul posterior
kelainan tampak ringan,gangguan penglihatan biasanya berat
o Katarak sklerosis nukleus
menyebabkan peningkatan miopia

Peningkatan sensitivitas terhadap cahaya: terutama pada katarak subkapsularposterior

dan katarak kortikal


Pergeseran miopi (myopic shift ) perjalanan katarak dapat meningkatkankekuatan
dioptri lensa sehingga menyebabkan terjadinya miopia ringan sampaisedang atau

pergeseran miopia.
Pada pasien dengan presbiopi bisa terjadi peningkatan kemampuan membacadekat

sehingga tidak memerlukan kacamata bacanya, disebut second sight .


Penglihatan ganda (diplopia) monokular
Rabun senja

Gejala objektif

Tampak kekeruhan lensa dalam bermacam bentuk dan tingkat.Kekeruhan ini juga
ditemukan pada berbagai lokalisasi di lensa seperti korteks dan nukleus.

Pemeriksaan Fisik
Setelah

anamnesis

yang

teliti,

pemeriksaan

fisik

harus

dilakukan

untuk

menyingkirkan penyakit sistemik yang berpengaruh pada mata dan juga perkembangan
katarak.
Pemeriksaan Oftalmologis
Pemeriksaan

mata

lengkap

dimulai

dari

pemeriksaan

visus.Jika

pasien

mengeluhkanglare,visus juga harus diperiksa di ruangan yang sangat terang. Pemeriksaan


sensitivitas terhadap kontras juga harus dilakukan, terutama jika ada keluhan. Tes shadow
akanmenunjukkan hasil positif pada stadium katarak imatur.Pemeriksaan slit lamptidak hanya
dikonsentrasikan untuk melihat kekeruhan lensa, namun juga menilai struktur okular lainnya
seperti konjungtiva, kornea, iris dan bilik mata depan. Penampakan lensa harus dilihat secara
seksama sebelum dan sesudah dilatasi pupil. Posisi lensa dan keutuhan serat zonular juga
harus diperiksa karena subluksasio lensa dapat mengindikasikan trauma pada mata
sebelumnya, kelainan metabolik, atau katarak hipermatur.
Pemeriksaan Lain
Diagnosis katarak senilis dibuat berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan oftalmologis. Pemeriksaan laboratorium diperlukan sebagai bagian skrining

preoperative untuk mendeteksi penyakit penyerta (misalnya diabetes mellitus, hipertensidan


kelainan jantung). Pemeriksaan radiologis seperti USG, CT Scan dan MRIdiperlukan jika
dicurigai adanya kelainan di daerah posterior dan kurangnya gambaranpada bagian belakang
mata karena katarak yang sudah sangat padat. Pemeriksaan ini membantu dalam perencanaan
tatalaksana bedah.
Penatalaksanan
Non-Bedah
Hanya efektif dalam memperbaiki fungsi visual untuk sementara waktu.Di samping
itu,walaupun banyak penelitian mengenai tatalaksana medikamentosa bagi penderita katarak,
hingga saat ini belum ditemukan obat-obatan yang mampu memperlambat atau
menghilangkan pembentukan katarak pada manusia.Bebebrapa agent yang mungkin dapat
memperlambat

pertumbuhan

katarak

adalah

penurunan

kadar

sorbitol,pemberian

penglihatan

merupakan

indikasi

aspirin,antioksidan vitamin c dan E


Bedah
Indikasi pembedahan pada katarak senilis :
-

Meningkatkan

untuk ekstraksi katarak


Katarak disertai komplikasi seperti glaukoma dan uveitsi
Katarak stadium matur/hipermatur

fungsi

paling

umum

Teknik Operasi
1. EKIK (Ekstraksi Katarak Intra Kapsular)
EKIK adalah teknik operasi yang membuang lensa dan kapsul secara keseluruhan.
Metode ini dilakukan di tempat yang tidak dijumpai fasilitas operasi katarak yang
lengkap seperti mikroskop operasi.
Cara ini dipilih pada kondisi katarak yang tidak stabil, menggembung, hipermatur,
dan terluksasi. Kontraindikasi mutlak untuk EKIK adalah katarak pada anak-anak dan
ruptur kapsul karena trauma. Sedangkan kontraindikasi relatif EKIK adalah pasien
menderita miopia tinggi, sindrom Marfan, katarak Morgagni, dan vitreus masuk ke
COA.
Keuntungan EKIK dibandingkan dengan EKEK antara lain :

Tidak memerlukan operasi tambahan karena membuang seluruh

kapsul dan lensa tanpa meninggalkan sisa


Menggunakan peralatan yang lebih sederhana

Pemulihan penglihatan segera karena menggunakan kacamata +10


dioptri

Kerugian EKIK dibandingkan EKEK :


Penyembuhan luka yang lama
Pencetus astigmatisma
Dapat menimbulkan iris dan vitreus inkarserata
2. EKEK (Ekstraksi Katarak Ekstra Kapsular)
EKEK adalah teknik operasi yang membuang nukleus dan korteks lensa melalui

kapsula anterior. Sebagian kapsul anterior dan seluruh kapsul posterior ditinggal
sebagai tempat untuk lensa tanam. Cara ini umumnya dilakukan pada katarak dengan
lensa mata yang sangat keruh sehingga sulit dihancurkan dengan teknik
fakoemulsifikasi. Keuntungan dari teknik ini karena melakukan insisi kecil sehingga
astigmatisma lebih kecil daripada EKIK dan menimbulkan luka yang lebih stabil atau
lebih kecil. Teknik ini dihindari pada penderita dengan zonulla zinii yang rapuh.
3. Fakoemulsifikasi
Pada fakoemulsifikasi (disintegrasi ultrasonic dari nukleus) dilakukan insisi kecil
untuk mengeluarkan lensa. Teknik ini memerlukan jarum yang diarahkan dengan
gelombang ultrasonik ke arah nukleus untuk mengaspirasi substratlensa .Teknik ini
memiliki beberapa kelebihan dibandingkan ekstraksi ekstrakapsularyaitu insisi lebih
kecil, rehabilitasi yang lebih cepat dan komplikasi post operatif yanglebih jarang.
Namun operasi ini tergantung mesin dan operator serta lebih mahal.
Persiapan Operasi :
1. Keadaan umum
a. Pemeriksaan laboratorium darah rutin, waktu pembekuan, waktu perdarahan,
kadar gula darah dalam batas normal
b. Tanda-tanda vital dalam batas normal
c. Pada penderita DM dan hipertensi, keadaan penyakit tersebut harus terkontrol
2. Status opthalmologik
a. Tidak dijumpai tanda infeksi
b. Tekanan intraokuler normal
c. Saluran air mata lancar
Perawatan pasca operasi :
a.
b.
c.
d.

Mata dibebat
Obat tetes mata kombinasi antibiotik dengan antiinflamasi
Tidak boleh mengedan/angkat berat
Bila tanpa pemasangan IOL, perlu dikoreksi denegan lensa S +10D untuk melihat
jauh. Koreksi diberikan 3 bulan pasca operasi.

Komplikasi post operasi :

a.
b.
c.
d.

Astigmatisma
Ablatio retina
Katarak sekunder
Endoftamitis

Komplikasi
a. Glaukoma
Glaukoma dapat timbul akibat intumesenensi atau pembengkakan lensa. Jika
katarak dengan komplikasi glaukoma maka diindikasikan ekstraksi lensa.
b. Uveitis kronik
Uveitis kronik pasca operasi katarak telah dilaporkan. Hal ini berhubungan
dengan terdapatnya bakteri patogen

PROGNOSIS
Saat operasi tidak disertai dengan penyakit mata lain sebelumnya, yang akan
mempengaruhi hasil secara signifikan seperti degenerasi makula atau atropi saraf optik,
standar ECCE yang berhasil tanpa komplikasi atau fakoemulsifikasi memberikan prognosis
penglihatan yang sangat menjanjikan mencapai sekurang-kurangnya 2 baris snellen
chart.Penyebab faktor resiko utama yang mempengaruhi prognosisnvisual adalah adanya
diabetes melitus dan retnopati diabetik.

DAFTAR PUSTAKA
1. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata. Edisi 3. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. 2007.
2. Suhardjo SU, Hartono. Ilmu Kesehatan Mata. Edisi 1. Jogjakarta : Bagian Ilmu
Penyakit Mata FK UGM. 2007
3. Brown NP. Mechanism of Cataract Formation. Diunduh dari :
4. Ocampo VVD, Foster CS. Senile Cataract. Diunduh dari : http://emedicine.
medscape.com /article/ 1210914-overview. 2012
5. Cataract. Diunduh dari : http://www.ncbi.nlm.nih.gov/ pubmedhealth/ PMH00
01996/. 2011

Anda mungkin juga menyukai