Anda di halaman 1dari 24

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Mata merah merupakan keluhan penderita yang sering kita dengar. Keluhan ini

timbul akibat terjadinya perubahan warna bola mata yang sebelumnya putih menjadi
merah.1
Penglihatan merupakan salah satu dari panca indera kita selain pendengaran,
penciuman, sentuhan, dan pengecapan. Penglihatan sangat penting dalam kehidupan
manusia, tanpa penglihatan manusia akan mengalami kesulitan dan tidak dapat
menikmati kehidupannya dengan sempurna. Sepanjang tempo kehidupan manusia,
ternyata kebanyakan manusia menderita penyakit dan/atau kelainan pada organ
penglihatannya setidaknya sekali sepanjang hidupnya. Penyakit-penyakit dan
kelainan-kelainan yang melibatkan sistem penglihatan sangat banyak sehingga dapat
dikelompokkan secara umum kepada beberapa kelompok.1
Keluhan mata merah dalam disipilin ilmu penyakit mata dibagi menjadi mata
merah dengan penurunan visus dan mata merah tanpa penurunan visus. Pembagian
ini ditujukan untuk mempermudah diagnosis dan mengetahui letak anatomis
kelainan masing-masing penyakit. Pada makalah kali ini, penulis akan membahas
mengenai mata merah dengan visus normal.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Mata Normal
Pada mata normal sklera tampak berwarna putih karena sklera dapat terlihat
melalui bagian konjungtiva dan kapsul tenon yang tipis dan tembus sinar. Hiperemia
konjungtiva terjadi akibat bertambahnya asupan pembuluh darah ataupun
berkurangnya pengeluaran darah seperti pada pembendungan pembuluh darah. Bila
terjadi pelebaran pembuluh konjungtiva dan sklera maka akan terlihat warna merah
pada mata yang sebelumnya berwarna putih. 1
Sebelum memahami lebih jauh mengenai keluhan mata merah, terlebih dahulu
kita perlu mengetahui vaskularisasi konjungtiva. Pada dasarnya vaskularisasi pada
mata dan rongga orbita berasal dari A. Oftalmika yang merupakan percabangan dari
A. Carotis Interna, A. Oftalmika memiliki beberapa cabang utama antara lain
1. Sentralis retina
2. A. Siliaris yang kemudian akan bercabang menjadi A. Siliaris anterior, A.
Siliaris posterior brevis, A. Siliaris posterior longus. A. Siliaris anterior
bercabang menjadi A. Episklera dan A. Perikornea.
A. episklera yang masuk ke dalam bola mata dan bergabung dengan
A. posterior longus membentuk A. sirkular mayor atau pleksus siliar
yang akan memperdarahi iris dan korpus siliaris. A. Episklera yang
terletak di atas sklera, merupakan cabang yang memperdarahai bola
mata dalam.
A. perikornea yang memperdarahi kornea
3. A. Lakrimalis
4. Arteri-arteri yang memperdarahi otot
5. A. Supraorbita
6. A. Ethmoid anterior dan posterior
7. A. Palpebra
Pada konjungtiva terdapat A. konjungtiva posterior yang memperdarahi
konjungtiva bulbi. Mata terlihat merah akibat melebarnya pembuluh darah
konjungtiva yang terjadi pada peradangan mata akut, misalnya konjungtivitis,
keratitis atau iridosiklitis. Pada keratitis, pleksus arteri konjungtiva permukaan

melebar; sedangkan pembuluh darah arteri perikornea yang terletak lebih dalam akan
melebar pada iritis dan glaukoma akut kongestif. 1
Selain pelebaran pembuluh darah, mata merah juga disebabkan oleh pecah
pembuluh darah yang menimbulkan timbunan darah di bawah jaringan konjungtiva. 1
2.2. Mata Merah Visus Normal dan Tidak Kotor
2.2.1.
Pterigium
Pterigium merupakan suatu pertumbuhan fibrovaskular konjungtiva yang
bersifat degeneratif dan invasif, biasanya terletak pada celah kelopak bagian
nasal ataupun temporal konjungtiva yang meluas ke daerah kornea.1 Lesi
pterigium sendiri merupakan proses hiperplasia lapisan subepitelial konjungtiva
bulbi.2 Fibrovaskular yang terbentuk berupa segitiga dengan puncak dibagian
sentral di daerah kornea dan mudah terjadi infeksi dan bila terjadi iritasi maka
bagian pterigium akan berwarna merah.1,2
Puncak dari lesi pterigium dapat mengenai limbus kornea bahkan
progresif hingga destruksi membran Bowman.2 Pterigium dapat asimtomatik dan
simtomatik berupa mata iritatif, merah dan mingkin menimbulkan astigmatisma,
serta dapat disertai dengan keratitis pungtata dan dellen (penipisan kornea
karena kering) dan garis besi (iron line dari stocker) yang terletak diujung
pterigium. 1,2 Garis besi ini merupakan deposisi besi pada epitel kornea yang
dapat berhubungan dengan penipisan dan pengeringan kornea.2

Gambar 2.1. Pterigium


Tabel 2.1. Derajat Pterigium

Derajat
Derajat I
Derajat II

Keterangan
Hanya terbatas pada limbus
Sudah melewati limbus tetapi tidak

Derajat III

melebihi 2 mm melewati kornea


Jika telah melebihi derajat II tetapi tidak
melebihi pinggir pupil mata dalam
keadaan cahaya (pupil dalam keadaan

Derajat IV

normal sekitar 34 mm).


Jika pertumbuhan pterigium sudah
melewati pupil sehingga mengganggu
pengelihatan

Penatalaksanaan untuk pterigium adalah secara konservatif atau bahkan tidak


memerlukan medikamentosa karena sering bersifat rekuren terutama pada pasien
dengan usia muda. Namun apabila pterigium meradang dapat diberikan steroid
atau suatu tetes mata dekongestan. Pembedahan dilakukan jika telah terjadi
gangguan penglihatan akibat terjadinya astigmatisma irregular atau pterigium
yang telah menutupi media penglihatan. Sebagai tatalaksana rehabilitatif
penderita pterigium dapat melindungi matanya dari sinar matahari debu dan
udara kering dengan kaca mata pelindung. Bila terdapat delen, berikan air mata
buatan dalam bentuk salep. Penggunaan vasokonstriktor maka perlu kontrol 2
minggu. 1,2
2.2.2.

Pseudopterigium
Merupakan perlengketan konjungtiva dengan kornea yang cacat dan

serin terjadi pada proses penyembuhan tukak kornea. Letak pseudopterigium


adalah pada daerah konjungtiva yang terdekat dengan proses kornea
sebelumnya. Pada pseudopterigium, letaknya tidak harus pada celah kelopak
atau fisura palpebra dan tanda dari pseudoperigium yang khas adalah dapat
diselipkan sonde dibawahnya.1,2

Gambar 2.2

Pseudoterigium &

Sonde test (+)


Tabel 2.2 Perbedaan Pterigium dan Pseudopterigium
Lokasi
Progresifitas
Riwayat Penyakit
Test Sondenase
2.2.3.

Pterigium
Selalu di fisura Palpebra
Progresif atau stasioner
Ulkus kornea (-)
Negatif

Pseudopterigium
Sembarang lokasi
Stasioner
Ulkus kornea (+)
Positif

Pinguekula dan Pinguekula Iritans


Pinguekula merupakan benjolan yang terjadi di konjungtiva bulbi yang

ditemukan umumnya pada penderita usia tua, terutama yang sering mendapat
rangsangan sinar matahari, debu, dan angin panas. Letak bercak nya pada
kelopak bagian nasal. Hal ini terjadi akibat degenerasi hialin jaringan submukosa
konjungtiva. 1,2

Gambar 2.3 Pinguekula


Pembuluh darah tidak masuk kedalam pinguekula, namun bila tejadi
peradangan dan atau iritasi, maka sekitar bercak degeneratif ini akan terlihat
pelebaran pembuluh darah. 1,2

Gambar 2.4 Pingekuelitis


Tatalaksana khusus tidak dilakukan pada pinguekula. Namun bila terjadi
perdangan atau pingekuelitis dapat diredakan dengan obat anti radang.
2.2.4.

Hematoma Subkonjungtiva
Hematoma subkonjungtiva dapat terjadi pada pembuluh darah yang rapuh

akibat trauma, yang terkadang menyebabkan perforasi jaringan bola mata. Pada
fraktur basis kranial akan terlihat hamtoma berbentuk kaca mata yang berwarna
biru.1

Gambar 2.5 Hematoma Subkonjungtiva


Ukuran hematoma ini dapat luas maupun sebagian. Warna merah pada
konjungtiva penderita menimbulkan perasaan khawatir dan was-was sehingga
pasien akan segera minta pertolongan kepada dokter. Namun warna merah ini
akan menghilang dan berubah menjadi hitam setelah beberapa waktu, seperti
pada hematoma pada umumnya yaitu 1 sampai dengan 3 minggu.1
2.2.5.
Episkleritis
Episkleritis merupakan reaksi radang jaringan ikat vaskular yang terletak
antara konjungtiva dan permukaan sklera.1

Radang episklera dan sklera mungkin disebabkan reaksi hipersensitivitas


terhadap penyakit sistemik seperti tuberkulosis, reumatoid artritis, SLE, dan
lainnya. Merupakan suatu reaksi toksik, alergik, atau merupakan bagian
daripada infeksi. Dapat saja kelainan ini terjadi secara spontan dan idiopatik.1,2
Episkleritis umumnya mengenai satu mata dan terutama perempuan usia
pertengahan dengan penyakit bawaan reumatik. Keluhan pasien dengan
episklertis berupa mata terasa kering, dengan rasa sakit yang ringan,
mengganjal, dengan konjungtiva yang kemotik. 1,2
Bentuk radang yang terjadi pada episkleritis mempunyai gambaran
khusus, yaitu berupa benjolan setempat dengan batas tegas dan warna merah
ungu di bawah konjungtiva. Bila benjolan ini ditekan dengan kapas atau ditekan
pada kelopak diatas benjolan, akan memberikan rasa sakit, rasa sakit akan
menjalar ke sekitar mata. 1,2
Pada episkleritis bila dilakukan pengangkatan konjungtiva diatasnya,
maka akan mudah terangkat atau dilepas dari pembuluh darah yang meradang.
Perjalanan penyakit mulai episode akut dan terdapat riwayat berulang dan dapat
berminggu-minggu atau beberapa bulan. 1,2
Terlihat mata merah satu sektor yang disebabkan melebarnya pembuluh
darah di bawah konjungtiva. Pembuluh darah ini mengecil bila diberi fenil efrin
2.5% topikal.1
Pengobatan yang diberikan pada episkleritis adalah vasokonstriktor. Pada
keadaan yang berat diberi kortikosteroid tetes mata, sistemik atau salisilat.
Kadang-kadang merupakan kelainan berulang yang ringan. Pada episkleritis
jarang terlibat kornea dan uvea, penglihatan tetap normal.1
Episkleritis dapat sembuh sempurna atau bersifat residif yang dapat
menyerang tempat yang sama ataupun berbeda-beda dengan lama sakit
umumnya berlangsung 4-5 minggu. Penyulit yang dapat timbul adalah
terjadinya peradangan lebih dalam pada sklera yang disebut sebagai skleritis.1
Gejala episkleritis meliputi sakit mata dengan rasa nyeri ringan, mata
kering, mata merah pada bagian putih mata, kepekaan terhadap cahaya, tidak
mempengaruhi visus, tanda objektif pada episkleritis seperti kelopak mata
bengkak, konjungtiva bulbi kemosis disertai dengan pelebaran pembuluh darah

episklera dan konjungtiva. Bila sudah sembuh, warna sklera berubah menjadi
kebiru-biruan. Pada pemeriksaan mata memperlihatkan hiperemia lokal sehingga
bola mata tampak berwarna merah atau keunguan yang menunjukkan pembuluh
darah episklera yang melebar. Pembuluh darah episklera dapat mengecil bila
diberikan fenilefrin 2,5%.1,2

Gambar 2.6 Episkleritis


Episkleritis adalah penyakit self-limiting menyebabkan kerusakan yang
sedikit permanenatau sembuh total pada mata. Oleh karena itu, sebagian besar
pasien dengan episkleritistidak akan memerlukan pengobatan apapun.
1. Terapi pada mata
Air mata buatan berguna untukpasien dengan gejala ringan sampai
sedang. Selain itu dapat juga diberikan vasokonstriktor. Pasien dengan
gejala lebih parah atauberkepanjangan mungkin memerlukan air mata
buatan (misalnya hypromellose) dan ataukortikosteroid topikal.
Episkleritis nodular lebih lama sembuh dan mungkin memerlukan
obat tetes kortikosteroidlokal atau agen anti-inflamasi.Topikal oftalmik
prednisolon 0,5%, deksametason 0,1%, atau 0,1% betametason
hariandapat digunakan.
2. Terapi sistemik
Jika episkleritis nodular yang tidak responsif terhadap terapi topikal,
sistemik agen antiinflamasimungkin berguna.Flurbiprofen (100 mg)

biasanya efektif sampai peradangan ditekan.Jika tidak ada respon


terhadap flurbiprofen, indometasin harus digunakan, 100 mg setiaphari
dan menurun menjadi 75 mg bila ada respon.Banyak pasien yang tidak
merespon satu agen nonsteroidal anti-inflammatory (NSAID) tetapi
dapat berespon terhadap NSAID lain.
2.2.6.

Skleritis
Skleritis didefinisikan sebagai gangguan granulomatosa kronik yang

ditandai oleh destruksi kolagen, sebukan sel dan kelainan vaskular yang
mengisyaratkan adanya vaskulitis.1,2
Inflamasi yang mempengaruhi sklera berhubungan erat dengan penyakit
imun sistemik dan penyakit kolagen pada vaskular. Disregulasi pada penyakit
auto imun secara umum merupakan faktor predisposisi dari skleritis. Proses
inflamasi bisa disebabkan oleh kompleks imun yang berhubungan dengan
kerusakan vaskular (reaksi hipersensitivitas tipe III dan respon kronik
granulomatous (reaksi hipersensitivitas tipe IV). Interaksi tersebut adalah
bagiandari sistem imun aktif dimana dapat menyebabkan kerusakan sklera
akibatdeposisi kompleks imun pada pembuluh di episklera dan sklera yang
menyebabkan perforasi kapiler dan venula post kapiler dan respon imun sel
perantara. 1,2
Skleritis diklasifikasikan menjadi skleritis anterior dan skleritis posterior.
a. Skleritis Anterior
Difus
Bentuk ini dihubungkan dengan artritis rematoid, herpes zoster
oftalmikus dan gout.
Nodular
Bentuk ini dihubungkan dengan herpes zoster oftalmikus.
Necrotizing
Bentuk ini lebih berat dan dihubungkan sebagai komplikasi
sistemik atau komplikasi okular pada sebagian pasien. 40%

menunjukkan penurunan visus. 29% pasien dengan skleritis


nekrotik meninggal dalam 5 tahun.

Gambar 2.7. Nodular Sklerosis

a.

Skleritis Posterior
Biasanya skleritis posterior ditandai dengan rasa nyeri dan

penurunan kemampuan melihat. Dari pemeriksaan objektif didapatkan


adanya perubahan fundus, adanya perlengketan massa eksudat di
sebagian retina, perlengketan cincin koroid, massa di retina, udem
nervus optikus dan udem makular. Inflamasi skleritis posterior yang
lanjut dapat menyebabkan ruang okuli anterior dangkal, proptosis,
pergerakan ekstra ocular yang terbatas dan retraksi kelopak mata
bawah. 1,2
Terapi skleritis disesuaikan dengan penyebabnya. Terapi awal
skleritis adalah obat anti inflamasi non-steroid sistemik. Obat-obat
imunosupresif lain juga dapat digunakan. 1,2
2.3. Mata Merah dengan Visus Normal dan Kotor
Umumnya berupa konjungtivitis (pink eye), yaitu suatu peradangan pada
konjungtiva (lapisan luar mata dan lapisan dalam kelopak mata) yang disebabkan

10

oleh mikroorganisme (virus, bakteri, jamur, chlamidia), alergi, dan iritasi bahanbahan kimia.
Konjungtivitis adalah peradangan selaput bening yang menutupi bagian putih
mata dan bagian dalam kelopak mata. Peradangan tersebut menyebabkan timbulnya
berbagai macam gejala, salah satunya adalah mata merah. Konjungtivitis adalah
peradangan konjungtiva yang ditandai oleh dilatasi vaskular, infiltrasi selular dan
eksudasi. Konjungtivitis dapat disebabkan oleh virus, bakteri, alergi, atau kontak
dengan benda asing, misalnya kontak lensa.
Kerusakan jaringan akibat masuknya benda asing ke dalam konjunctiva akan
memicu suatu kompleks kejadian yang dinamakan respon radang atau inflamasi.
Tanda-tanda terjadinya inflamasi pada umumnya adalah kalor (panas), dolor (nyeri),
rubor (merah), tumor (bengkak) dan fungsiolesa. Masuknya benda asing ke dalam
konjungtiva tersebut pertama kali akan di respon oleh tubuh dengan mengeluarkan
air mata.
Terjadinya suatu peradangan pada konjungtiva juga akan menyebabkan
vasokonstriksi segera pada area setempat, peningkatan aliran darah ke lokasi
(vasodilatasi) dalam hal ini adalah a. ciliaris anterior dan a.palpebralis sehingga
mata terlihat menjadi lebih merah, terjadi penurunan velocity aliran darah ke lokasi
radang (lekosit melambat dan menempel di endotel vaskuler), terjadi peningkatan
adhesi endotel pembuluh darah (lekosit dapat terikat pada endotel pembuluh darah),
terjadi peningkatan permeabilitas vaskuler (cairan masuk ke jaringan), fagosit masuk
jaringan (melalui peningkatan marginasi dan ekstravasasi), pembuluh darah
membawa darah membanjiri jaringan kapiler jaringan memerah (RUBOR) dan
memanas (KALOR), peningkatan permeabilitas kapiler, masuknya cairan dan sel
dari kapiler ke jaringan terjadi akumulasi cairan (eksudat) dan bengkak (edema),
peningkatan permeabilitas kapiler, penurunan velocity darah dan peningkatan adhesi,
dan migrasi lekosit (terutama fagosit) dari kapiler ke jaringan.
Gejala yang timbul pada pasien:
a. Subjektif

11

Seperti ada benda asing, berpasir, pedih, panas,, gatal, kadang kabur, lengket
waktu pagi.
b. Objektif
Injeksi Konjungtiva: Pelebaran pembuluh a. konjungtiva posterior,
yang memberi gambaran berkelok-kelok, merah dari bagian perifer
konjungtiva bulbi menuju kornea dan ikut bergerak apabila konjungtiva
bulbi digerakkan.
Folikel: Kelainan berupa tonjolan pada jaringan konjungtiva, besarnya
kira-kira 1mm. tonjolan ini mirip vesikel. Gambaran permukaan folikel
landai, licin abu-abu kemerehan karena adanya pembuluh darah dari
pinggir folikel yang naik kearah puncak folikel.
Papil raksasa (Coble-stone): Cobble-stone berbentuk polygonal
tersusun berdekatan dengan permukaan datar. Pada coble-stone
pembuluh darah berasal dari bawah sentral.
Flikten: Tonjolan berupa sebukan sel-sel radang kronik di bawah epitel
konjungtiva atau kornea, berupa suatu mikro-abses, dimana permukaan
epitel mengalami nekrosis.
Membran: Massa putih padat yang menutupi sebagian kecil, sebagian
besar, atau seluruh konjungtiva. Paling sering menutupi konjungtiva
tarsal. Massa puth ini dapat berupa endapan secret, sehingga mudah
diangkat, dan disebut pseudomembran. Selain massa putih yang
menutupi konjungtiva dapat berupa koagulasi dan nekrosis konjungtiva,
sehingga sukar diangkat, disebut membran.
Gejala lainnya: mata berair, mata terasa nyeri, mata terasa gatal,
pandangan kabur,peka terhadap cahaya, terbentuk keropeng pada
kelopak mata ketika bangun pada pagi hari.
Diagnosa Banding

Tabel 2.3. Diagnosis Banding berdasarkan Penyebab


Manifestasi

Virus

Bakteri
Purulen

Non purulen

Fungus dan parasit

Alergi

12

Sekret
Air mata
Gatal
Injeksi
Nodul pre-aurikular
Pewarnaan
Swab
Sakit tenggorokan

Sedikit
Banyak
Sedikit
Umum
Sering
Monosit
Limfosit
Kadang

Banyak
Sedang
Sedikit
Umum
Jarang
Bakteri
PMN
Kadang

Sedikit
Sedang

Sedikit
Sedikit

Lokal
Sering
Bakteri
PMN

Lokal
Sering
Biasanya
Negatif

Sedikit
Sedang
Hebat
Umum
Eosinofil

dan panas yang


menyertai

13

Tabel 2.4. Diagnosis Banding berdasarkan Gejala Klinis


Tanda
Injeksi

Bakterial
Mencolok

Viral
Sedang

Alergik
Ringan-sedang

konjungtivitis
Hemoragi
Kemosis
Eksudat

+
++
Purulen atau

+
+/Jarang, air

++
Berserabut,

mukopurulen
+/- (strep, C. diph)
+/+
-

+/+
++
-

(lengket) putih
+
-

Pseudomembran
Papil
Folikel
Nodus preaurikular
Panus
(kecuali vernal)

2.3.1. Konjungtivitis Bakterial


Merupakan inflamasi konjungtiva diakibatkan Staphylococcus aureus
(berhubungan dengan blefaritis), Staphylococcus epidermidis, Streptococcus
pneumonia, dan Haemophilus influenza (khususnya pada anak-anak).
Gejala nya berupa mata merah, pedih, nyeri, mengganjal, eksudat,
lakrimasi. Penyakit ini ditandai dengan papila konjungtiva, kemosis konjungtiva,
injeksi konjungtiva, tidak terdapat adenopati preaurikuler.
Prinsip terapi dengan obat topical spectrum luas. Pada 24 jam pertama
obat diteteskan tiap 2 jam kemudian pada hari berikutnya diberikan 4 kali sehari
selama 1 minggu. Pada malam harinya diberikan salep mata untuk mencegah
belekan di pagi hari dan mempercepat penyembuhan.
Konjungtivitis bakteri akut hampir selalu sembuh sendiri, infeksi dapat
berlangsung selama 10-14 hari; jika diobati dengan memadai, 1-3 hari, kecuali
konjungtivitis stafilokokus (yang dapat berlanjut menjadi blefarokonjungtivitis

dan memasuki tahap menahun) dan konjungtivitis gonokokus (yang bila tidak
diobati dapat berakibat perforasi kornea dan endoftalmitis).
Karena konjungtiva dapat menjadi gerbang masuk bagi meningokokus ke
dalam darah dan meninges, hasil akhir konjungtivitis meningokokus adalah
septicemia dan meningitis.Konjungtivitis bacterial menahun mungkin tidak dapat
sembuh sendiri dan menjadi masalah pengobatan yang menyulitkan.
2.3.2. Konjungtivitis Viral Akut
Demam Faringokonjungtiva
Demam Faringokonjungtival ditandai oleh demam 38,3-40 C, sakit
tenggorokan, dan konjungtivitis folikuler pada satu atau dua mata.
Folikuler sering sangat mencolok pada kedua konjungtiva dan pada
mukosa faring. Mata merah dan berair mata sering terjadi, dan kadangkadang sedikit kekeruhan daerah subepitel. Tanda lain yang khas adalah
limfadenopati preaurikuler (tidak nyeri tekan).
Demam faringokonjungtival umumnya disebabkan oleh
adenovirus tipe 3 dan kadang-kadang oleh tipe 4 dan 7. Virus itu dapat
dibiakkan dalam sel HeLa dan ditetapkan oleh tes netralisasi. Dengan
berkembangnya penyakit, virus ini dapat juga didiagnosis secara
serologic dengan meningkatnya titer antibody penetral virus. Diagnosis
klinis adalah hal mudah dan jelas lebih praktis.
Kerokan konjungtiva terutama mengandung sel mononuclear, dan
tak ada bakteri yang tumbuh pada biakan. Keadaan ini lebih sering pada
anak-anak daripada orang dewasa dan sukar menular di kolam renang
berchlor.

Keratokonjungtivitis Epidemi
Keratokonjungtivitis epidemika umumnya bilateral. Awalnya

sering pada satu mata saja, dan biasanya mata pertama lebih parah.
Pada awalnya pasien merasa ada infeksi dengan nyeri sedang dan
berair mata, kemudian diikuti dalam 5-14 hari oleh fotofobia, keratitis
epitel, dan kekeruhan subepitel bulat. Sensai kornea normal. Nodus

preaurikuler yang nyeri tekan adalah khas. Edema palpebra, kemosis,


dan hyperemia konjungtiva menandai fase akut. Folikel dan
perdarahan konjungtiva sering muncul dalam 48 jam. Dapat
membentuk pseudomembran dan mungkin diikuti parut datar atau
pembentukan symblepharon.

Gambar 2.10 Konjungtivitis Virus


Konjungtivitis berlangsung paling lama 3-4 minggu. Kekeruhan
subepitel terutama terdapat di pusat kornea, bukan di tepian, dan
menetap berbulan-bulan namun menyembuh tanpa meninggalkan
parut. Pada orang dewasa terbatas pada bagian luar mata. Namun, pada
anak-anak mungkin terdapat gejala sistemik infeksi virus seperti
demam, sakit tenggorokan, otitis media, dan diare.
Transmisi nosokomial selama pemeriksaan mata sangat sering
terjadi melalui jari-jari tangan dokter, alat-alat pemeriksaan mata yang
kurang steril, atau pemakaian larutan yang terkontaminasi. Larutan
mata, terutama anestetika topical, mungkin terkontaminasi saat ujung
penetes obat menyedot materi terinfeksi dari konjungtiva atau silia.
Virus itu dapat bertahan dalam larutan itu, yang menjadi sumber
penyebaran.
2.3.3. Konjungtivitis Herpetik
Konjungtivitis Herpes Simpleks
Konjungtivitis virus herpes simplex biasanya merupakan penyakit
anak kecil, adalah keadaan yang luar biasa yang ditandai pelebaran

pembuluh darah unilateral, iritasi, bertahi mata mukoid, sakit, dan


fotofobia ringan. Pada kornea tampak lesi-lesi epithelial tersendiri
yang umumnya menyatu membentuk satu ulkus atau ulkus-ulkus
epithelial yang bercabang banyak (dendritik).
Konjungtivitisnya folikuler. Vesikel herpes kadang-kadang muncul
di palpebra dan tepian palpebra, disertai edema hebat pada palpebra.
Khas terdapat sebuah nodus preaurikuler yang terasa nyeri jika
ditekan.

Konjungtivitis Varisela Zoster


Hiperemia dan konjungtivitis infiltrate disertai dengan erupsi

vesikuler khas sepanjang penyebaran dermatom nervus trigeminus


cabang oftalmika adalah khas herpes zoster. Konjungtivitisnya
biasanya papiler, namun pernah ditemukan folikel, pseudomembran,
dan vesikel temporer, yang kemudian berulserasi. Limfonodus
preaurikuler yang nyeri tekan terdapat pada awal penyakit. parut pada
palpebra, entropion, dan bulu mata salah arah adalah sekuele.
2.3.4. Konjungtivitis Hemoragik Epidemik Akut
Konjungtivitis ini disebabkan oleh coxackie virus A24. Masa inkubasi
virus ini pendek (8-48 jam) dan berlangsung singkat (5-7 hari). Mata terasa sakit,
fotofobia, sensasi benda asing, banyak mengeluarkan air mata, merah, edema
palpebra, dan hemoragi subkonjungtival. Kadang-kadang terjadi kemosis.
Hemoragi subkonjungtiva umumnya difus, namun dapat berupa bintik-bintik
pada awalnya, dimulai di konjungtiva bulbi superior dan menyebar ke bawah.
Kebanyaka pasien mengalami limfadenopati preaurikuler, folikel konjungtiva,
dan keratitis epithelial. Uveitis anterior pernah dilaporkan, demam, malaise,
mialgia, umum pada 25% kasus.
2.3.5. Konjungtivitis Menahun

Konjungtivitis Vernal
Tahap awal konjungtivitis vernalis ini ditandai oleh fase

prehipertrofi. Dalam kaitan ini, akan tampak pembentukan


neovaskularisasi dan pembentukan papil yang ditutup oleh satu lapis
sel epitel dengan degenerasi mukoid dalam kripta di antara papil serta
pseudomembran milky white. Pembentukan papil ini berhubungan
dengan infiltrasi stroma oleh sel- sel PMN, eosinofil, basofil dan sel
mast.
Tahap berikutnya akan dijumpai sel- sel mononuclear lerta
limfosit makrofag. Sel mast dan eosinofil yang dijumpai dalam jumlah
besar dan terletak superficial. Dalam hal ini hampir 80% sel mast
dalam kondisi terdegranulasi. Temuan ini sangat bermakna dalam
membuktikan peran sentral sel mast terhadap konjungtivitis vernalis.
Keberadaan eosinofil dan basofil, khususnya dalam konjungtiva sudah
cukup menandai adanya abnormalitas jaringan.
Fase vaskular dan selular dini akan segera diikuti dengan deposisi
kolagen, hialuronidase, peningkatan vaskularisasi yang lebih
mencolok, serta reduksi sel radang secara keseluruhan. Deposisi
kolagen dan substansi dasar maupun seluler mengakibatkan
terbentuknya deposit stone yang terlihat secara nyata pada
pemeriksaan klinis. Hiperplasi jaringan ikat meluas ke atas membentuk
giant papil bertangkai dengan dasar perlekatan yang luas. HornerTrantas dots yang terdapat di daerah ini sebagian besar terdiri dari
eosinofil, debris selular yang terdeskuamasi, namun masih ada sel
PMN dan limfosit.

Konjungtivitis Iatrogenik
Konjungtivitis folikular toksik atau konjungtivitis non-spesifik

infiltrate, yang diikuti pembentukan parut, sering kali terjadi akibat


pemberian lama dipivefrin, miotika, idoxuridine, neomycin, dan obatobat lain yang disiapkan dalam bahanpengawet atau vehikel toksik

atau yang menimbulakan iritasi. Perak nitrat yang diteteskan ke dalam


saccus konjungtiva saat lahir sering menjadi penyebab konjungtivitis
kimia ringan. Jika produksi air mata berkurang akibat iritasi yang
kontinyu, konjungtiva kemudian akan cedera karena tidak ada
pengenceran terhadap agen yang merusak saat diteteskan kedalam
saccus conjungtivae.
Kerokan konjungtiva sering mengandung sel-sel epitel berkeratin,
beberapa neutrofil polimorfonuklear, dan sesekali ada sel berbentuk
aneh. Pengobatan terdiri atas menghentikan agen penyebab dan
memakai tetesan yang lembut atau lunak, atau sama sekali tanpa
tetesan. Sering reaksi konjungtiva menetap sampai berminggu-minggu
atau berbulan-bulan lamanya setelah penyebabnya dihilangkan.
2.3.6. Trakoma
Trakoma merupakan konjungtivitis folikular kronis yang disebabkan oleh
Chlamydiatrachomatis. Penyakit ini terutama mengenai anak-anak walaupun
dapat mengenai semua umur. Cara penularan trakoma adalah melalui kontak
langsung dengan sekret penderita atau handuk, saputangan, dan kebutuhan alat
sehari-hari. Masa inkubasi 5- 14 hari
Secara histopatologik pada pemeriksaan kerokan konjungtivitis dengan
pewarnaan giemsa terutama terlihat reaksi sel-sel PMN tetapi sel plasma, sel
leber dan sel folikel (limfoblas) dapat juga ditemukan. Sel leber menyokong
diagnosis trakoma tetapi sel limfoblas adalah tanda diagnosis yang penting bagi
trakoma. Terdapat badan inklusi Halber StatlerProwazeck di dalam sel epitel
konjungtiva yang bersifat basofil berupa granul, biasanya berbentuk cungkup
seakan-akan menggenggam nukleus. Kadang-kadang ditemukan lebih dari satu
badan inklusi dalam satu sel.
Keluhan pasien adalah fotofobia, mata gatal, dan mata berair. Menurut
klasifikasi Mac Callan, penyakit ini berjalan melalui empat stadium:
1. Stadium insipien

2. Stadium established (dibedakan atas dua bentuk)


3. Stadium parut
4. Stadium sembuh.
Stadium 1 (hiperplasi limfoid): Terdapat hipertrofi papil dengan folikel
yang kecil-kecil pada konjungtiva tarsus superior, yang memperlihatkan
penebalan dan kongesti pada pembuluh darah konjungtiva. Sekret yang sedikit
dan jernih bila tidak ada infeksi sekunder. Kelainan kornea sukar ditemukan
tetapi kadang-kadang dapat ditemukan neovaskularisasi dan keratitis epitelial
ringan.
Stadium 2: Terdapat hipertrofi papilar dan folikel yang matang (besar)
pada konjungtiva tarsus superior. Pada stadium ini dapat ditemukan pannus
trakoma yang jelas. Terdapat hipertrofi papil yang berat yang seolah-olah
mengalahkan gambaran folikel pada konjungtiva superior. Pannus adalah
pembuluh darah yang terletak di daerah limbus atas dengan infiltrat.
Stadium 3 : Terdapat parut pada konjungtiva tarsus superior yang terlihat
sebagai garis putih yang halus sejajar dengan margo palpebra. Parut folikel pada
limbus kornea disebut cekungan Herbert. Gambaran papil mulai berkurang.
Stadium 4 : Suatu pembentukan parut yang sempurna pada konjungtiva
tarsus superior hingga menyebabkan perubahan bentuk pada tarsus yang dapat
menyebabkan enteropion dan trikiasis.
Pengobatan trakoma dengan Tetrasiklin 1-1,5 gr/hari, peroral dalam 4
takaran yang sama selama 3-4 mingu, Doksisiklin 100 mg, 2 x/hari p.o selama 3
minggu, Eritromisin 1 gr/hari p.o dibagi dalam 4 takaran selama 3-4 minggu, dan
salep mata atau tetes mata termasuk sulfonamid, tetrasiklin, eritromisin dan
rifampisin 4x/hari selama 6 minggu.Pencegahan dilakukan dengan vaksinasi dan
makanan yang bergizi dan higiene yang baik mencegah penyebaran.Penyulit
trakoma adalah enteropion, trikiasis, simblefaron, kekeruhan kornea, dan
xerosis/keratitis sika.
2.3.7. Konjungtivitis Berdasarkan Gambaran Klinis
Konjungtivitis Mukopurulen

Penyebabnya adalah stafilokokus, konjungtiva hiperemis, sekret


berlendir kedua mata melekat terutama pada pagi hari, sering ada
gambaran Halo atau pelangi yang harus dibedakan dengan glaukoma.
Berat terutama pada hari ke tiga. Komplikasi keratitis dan ulkus kornea
marginal.

Konjungtivitis Membranosa
Membranosa adalah konjungtivitis dengan pembentukan membran

yang menempel erat pada jaringan dibawah konjungtiva. Pengangkatan


pada membran ini akan menyebabkan perdarahan. Penyebabnya adalah
difteri, pneumokokus, stafilokokus, dan infeksi yang disebabkan oleh
adenovirus selain dari pada yang disebabkan penyakit steven johnson.
Biasanya ditemukan pada anak yang tidak mendapakan imunisasi. Bila
ringan akan didapatkan kelopak yang bengkak dan sekret mukopurulen
sedangkan jika berat akan ditemukan nekrosis konjungtiva, dapat pula
terjadi tukak kornea akibat infeksi sekunder, simblefaron juga bisa
terjadi, sangat jarang terjadi paralisis pasca difteri seperti gangguan
akomodasi, diobati sebagai difteri, berupa penisilin, serum antidifteri.

Konjungtivitis Folikular
Konjungtivitis folikular dapat terjadi akut ataupun kronik dimana

gejala utamanya adalah terbentuknya folikel pada konjungtiva tarsal


superior atau inferior.
Konjungtivitis folikel merupakan.reaksi terhadap infeksi virus
atau alergen toksik seperti iododioksiuridin, fisostigmin dan klamida,
yang terlihat sebagai folikel kecil. Folikel terlihat sebagai benjolan
kecil mengkilat dengan pembuluh darah kecil diatasnya, sering terjadi
pada anak-anak tidak pernah pada bayi baru lahir, kecuali sudah
berusia beberapa bulan.
Pada pemeriksaan histopatologi terdapat penimbunan limfosit,
terdapat benjolan kecil berwarna kemerahan pada lipatan retrotarsal.

Gejala ,mata merah, berair, iritasi dengan rasa sakit, fotofobia ringan
sampai berat. Pengobatan: higiene,air mata buatan, antibiotik lokal.

2.4. Penyakit Konjungtiva etiologi tidak jelas


2.4.1. Sistemik Lupus Eritematosus
Lupus eritematosis adalah suatu penyakit autoimun yang mengenai
seluruh sistem dalam tubuh ditandai dengan kenaikan antibodi yang bersirkulasi,
dimana kelainan patologik pada jaringan sebagian besar merupakan akibat
penimbunan, kompleks imun pada pembuluh darah kecil. pada pemeriksaan
sediaan hapusan darah tepi dapat ditemui sel LE yaitu makrofag yang memakan
inti sel leukosit yang rusak. Terutama ditemukan pada wanita usia muda sampai
usia pramenopause.
Pada lupus eritematosis ditemukan kelainan pada mata berupa kelainan
palpebra inferior dapat merupakan bagian dari erupsi kulit. yang tak jarang
mengenai pipi dan hidung. Awalnya konjungtiva menunjukan sekret yang sedikit
mukoid, disusul dengan hiperemi intensif dan edema membran mukosa. Reaksi
ini dapat lokal ataupun difus. Reaksi konjungtiva yang berat dapat menyebabkan
pengkerutan konjungtiva. Kornea dapat menunjukan erosi kornea pungtata.
Kelainan ini dapat menyatu menjadi tukak kornea yang dalam ataupun
merupakan keratitis diskoid. Kekeruhan kornea dapat terjadi akibat tukak
marginal dan infiltrat lokal dan vaskularisasi, pada sklera dapat ditemukan
skleritis anterior yang difus atau nodular yang makin lama makin sering kambuh
dan setiap kambuh keadaannya semakin berat. Dengan berkembangnya penyakit
skleritis berubah menjadi skleritis nekrotik yang berlanjut dari tempat lesi semula
ke segala jurusan sampai dihentikan dengan pengobatan. Terdapat kelainan retina
pada 25% penderita. gambaran fundus dapat dibagi menjadi 2 bentuk LE murni.
Pada retina ditemukan cotton wool patches yang merupakan gejala utama
pada masa toksis, perdarahan superficial, eksudat putih abu-abu, dan edema

papil. Bila ditemukan badan steroid saat penderita subfebril, anemia dan
leukopenia maka dicurigai adanya LE diseminata. Akibat hipertensi yang
berlangsung lama LE menyebabkan nepropati sehingga menyebabkan hipertensi
sehingga dapat ditemukan gambaran fundus hipertensi, pengobatan yang
diberikan salisilat, fenilbutazol, kortikosteroid, dan obat-obat imunosupresif.
2.4.2. Keratokonjungtivitis limbus superior
Merupakan peradangan konjungtiva bulbi dan tarsus superior yang tidak
diketahui penyebabnya. Biasanya bilateral terdapat pada limbus sekitar jam 12.
Dapat juga unilateral lebih sering terdapat pada wanita. Dapat mengenai usia 4 81 tahun. Kelainan ini bersifat menahun. Disertai remisi dan eksaserbasi dan
diduga ada hubungannya dengan hipertiroid.
Prognosisnya baik. Dan padakasus yang telah sembuh biasanya tidak
dijumpai gejala sisa. Pada keadaan ringan ditemukan keadaan yang tidak enak
pada mata, pada keadaan berat dapat terjadi blefarospasme dan rasa seperti ada
benda asing. Pada keadaan yang ringan ditemukan peradangan papiler dan
hipertropi papil pada bagian tengah konjungtiva tarsus superior. Konjungtiva
tarsus inferior tidak ada kelainan. Injeksi konjungtiva dan episklera ditemukan
pada konjungtiva bulbi. Pada konjungtiva bulbi yang terkena terdapat
bendungan, penebalan dan hipertropi, daerah limbus. Pada keadaan yang berat
seolah-olah terdapat pembentukan lengkung limbus yang baru. Dapat ditemukan
filamen-filamen pada kornea pada pewarnaan. Dapat terjadi remisi spontan dan
dapat menghilang dalam waktu satu hari. Pengobatan yang jelas belum ada
pengobatan diberikan simptomatik.
2.4.3. Konjungtivitis Dry Eyes
Keratokonjungtivitis sika adalah suatu keadaan keringnya permukaan
kornea dan konjungtiva yang diakibatkan berkurangnya fungsi airmata kelain ini
terjadi pada penyakit yang mengakibatkan

Defisiensi komponen lemak mata. Misalnya blefaritis menahun,


distikiasis dan akibat pembedahan kelopak mata.

Defisiensi kelenjar air mata. Misalnya sindrom Sjogren, sindrom


Riley Day, alakrimia kongenital, aplasi kongenital saraf trigeminus,
sarkoidosis, limfoma kelenjar air mata, obat-obat diuretik, atropin

dan usia tua.


Defisiensi komponen musin. Misalnya benign ocular pemfigoid.
Akibat penguapan yang berlebihan seperti pada keratitis

neuroparalitik, akibat tinggal di gurun pasir, keratitis logoftalmus.


Karena parut pada kornea atau menghilangnya mikrovili kornea.
Pasien akan mengeluh gatal, mata seperti berpasir, silau dan
penglihatan kabur. Mata akan memberikan gejala sekresi mukus yang
berlebihan, sukar menggerakkan kelopak mata, mata tampak kering
dan terdapat erosi kornea. Konjungtiva bulbi edema, hiperemik
menebal dan kusam. Kadang-kadang terdapat benang mukus
kekuning-kuningan pada forniks konjungtiva bagian bawah.
Pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain seperti pemeriksaan uji
Scheimer dimana bila resapan air mata pada kertas Scheimer kurang
dari 5 menit dianggap abnormal. Pengobatan tergantung pada
penyebabnya dan air mata buatan yang diberikan selamanya. Penyulit
yang dapat terjadi adalah ulkus kornea, infeksi sekunder oleh bakteri,
dan parut kornea dan neovaskularisasi kornea.