Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL BAYI ATAU


INFANT (0-18 BULAN)
(Basic Trust Vs Miss Trust)
A.

Pengertian
Infant adalah tahap perkembangan bayi usia 0-18 bulan dimana pada usia bayi belajar
terhadap kepercayaan dan ketidakpercayaan.Masa ini merupakan krisis pertama yang dihadapi
oleh bayi. Perkembangan psikososial bayi yang normal adalah proses perkembangan yang
ditandai dengan pemupukan rasa percaya pada orang lain dan diawali dengan kepercayaan
terhadap orang tua, khususnya ibu. Rasa aman secara fisik dan psikologis berperan penting
dalam pembentukan rasa percaya bayi. Jika rasa percaya tidak terpenuhi, akan terjadi
penyimpangan berupa rasa tidak percaya dan setelah dewasa akan menjadi orang yang mudah
curiga dan tidak dapat menjalin hubungan baru (Keliat et.al, 2011).

B.

Batasan Karakteristik Perilaku infant


Menurut Keliat et.al (2011) karakteristik perilaku bayi atau infant antara lain:
1. Perkembangan yang normal (Berkembangnya rasa percaya)
a. Tidak langsung menangis saat ketemu dengan orang lain
b. Menolak saat akan digendong orang yang tidak dikenalnya
c. Menangis saat digendong orang yang tidak dikenalnya
d. Menangis saat merasa tidak nyaman (basah,lapar, haus, sakit, panas)
e. Bereaksi senang ketika ibunya datang menghampiri
f. Menangis ketika ditinggalkan ibunya
g. Memperhatikan/memandang wajah ibu/orang yang mengajak berbicara
h. Mencari suara ibu/orang lain yang memanggil namanya
2. Penyimpangan perkembangan (Berkembangnya rasa tidak percaya)
a. Menangis menjerit-jerit saat berpisah dengan ibunya
b. Tidak mau berpisah sama sekali dengan ibunya
c. Tidak mau berhubungan dengan orang lain

C.

Proses terjadinya masalah


Membangun rasa percaya adalah tugas pertama ego dan tugas tersebut tidak pernah
selesai. Keseimbangan antara trust dan mistrust sebagian besar ditentukan oleh kualitas
hubungan antara ibu dan anak. Salah satu parameter penilaian keberhasilan adalah bahwa anak
tidak marah atau cemas ditinggalkan sementara oleh ibunya (misalnya: ibunya bekerja) karena
keberadaan ibunya telah menjadi kepastian dan dapat diprediksi. Menurut Erikson, konflik trust
versus mistrust berlangsung seumur hidup. Bila konflik tersebut tidak diarahkan, diajarkan dan
ditangani secara benar ketika pertama kali dihadapi saat infancy, akan timbul efek negatif pada
individu tersebut sehingga ia tidak dapat berperan secara penuh di dunia sekitarnya. Contohnya
individu tersebut menghindar dari pergaulan sosial, tidak mampu membuna hubungan yang
sehat dan berlangsung lama dengan orang lain, dan tidak berdamai dengan dirinya. Bila individu

tidak belajar untuk mempercayainya, orang lain, dan dunia disekitarnya, ia akan kehilangan
harapannya, yang secara langsung terkait dengan konsep trust dan mistrust. Bila seseorang
kehilangan kepercayaan terhadap harapan, ia tidak akan mampu bangkit dari kegagalan yang
terjadi dan berkembang mencap;ai tingkat tertinggi perkembangan yang dimungkinkan oleh
sistem sosial-budayanya (Nurdin, 2011).
D.

Faktor Predisiposisi dan Presipitasi Perkembangan Infant


Faktor Presdisposisi
Menurut Stolte (2004) dan FIK (2011) faktor yang dapat menjadi predisposisi hambatan
perkembangan bayi atau infant adalah:
1. Biologis
a. Respon herediter: ada riwayat kembar monozigot, ada penyakit keturunan, ada kelainan
kromosom (sindrom down, sindrom turner)
b. Neuroendokrin: gangguan hormon pertumbuhan dan saraf
c. Penyakit infeksi
d. Riwayat kehamilan dan persalinan: ibu saat hamil menderita preeklamsia, kejang,
hipertensi, saat lahir bayi BBLR dan lahir sebelum waktunya
e. Status Gizi: BB 5 bulan < 2 x BB lahir, BB 1 tahun < 3 x BB lahir dan TB 1 th < 1,5 x TB
lahir
f. Kondisi kesehatan secara umum: riwayat imuniasi dasar
g. Pemanfaatan pelayanan kesehatan dilakukan secara rutin ketika bayi sakit panas / pilek
2. Psikologis:
a. Intelegensi /keterampilan verbal: 0-3 bulan dapat mengoceh dan memberikan reaksi
terhadap suara, 3-6 bulan: menengok ke arah sumber suara, 6-9 bulan tertawa./beteriak
gembira bila melihat benda yang menarik, 9-12 bulan mengucapkan perkataan yang
terdiri dari 2 suku kata dan 12-18 bulan bayi menguncapkan perkataan yang terdiri darei
2 suku kata yang sama
b. Moral: ketika diberikan makanan bayi kadang bisa arahkan menggunakan tangan kanan
c. Kepribadian: Bayi berusaha meraih mainan yang ada didekatnya dan tersenyum dan
memperhatikan ibunya ketika menirukan ocehannya (misalnya menina bobokan,
mengayun anak)
d. Pengalaman masa lalu: Prenatal (kehamilan yang tidak diharapkan), intranatal (ibu tidak
memberikan ASI eksklusif pada bayinya)
e. Konsep diri: Mulai dapat membedakan diri dari lingkungan dan mulai tidak percaya
ketika ditinggalkan dengan menagis
f. Motivasi: senang diajak bermain dan berbicara, bahagia ketika dipeluk atau dicium
g. Self kontrol: Menangis saat digandeng orang yang tidak dikenalnya atau menolak saat
hendak digendong
3. Sosial budaya: perkembangan sosial dipengaruhi oleh interaksi dengan orang lain di dalam
lingkungannya dan kesempatan belajar yang diberikan
a. Usia: 0-18 bulan
b. Gender : laki/[perempuan

c. Status sosial: anak kandung, anak adopsi


d. Latar belakang budaya: Ras/suku bangsa kulit putih mempunyai pertumbuhan somatik
lebih tinggi daripada bangsa Asia
e. Pengalaman sosial: digandeng, dipeluk dan dibuai saat menangis menjadi senang,
Diberi makan dan minum jika haus dan lapar, diselimuti jika kedinginan, diajak bermain
dan berbicara
f. Peran sosial: bayi diterima sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Faktor Presipitasi
1. Nature
a. Biologis
1) Pemberian ASI Esklusif
2) Nutrisi gizi seimbang
3) Makanan tambahan diberikan setelah bayi berusia 6 bulan
4) Makanan padat diberikan setelah usia 12 bulan
5) BB bayi sesuai dengan TB: BB 5 bulan = 2 x BB lahir, BB 1 tahun 3 x BB lahir
b. Psikologis
Menunjukkan rasa cinta, kasih sayang dan rasa aman pada bayi
1) Sering mengajak anak berbicara dengan lembut, panggil bayi dengan namanya
2) Sering memeluk dan mencium anak
3) Membuai, menimang dan menidurkan anak dan membacakan cerita
4) Membujuk ketika bayi rewel
5) Sering mengajak anak bermain
6) Memperlihatkan gambar yang lucu dan menarik
7) Mengajak melihat dirinya dikaca
8) Pada saat bayi menangis segera mencari tahu kebutuhan dasar yang terganggu
(lapar, haus, basah dan sakit)
c. Sosial budaya
1) Cuaca, musim, geographis mendukung tumbang
2) Sanitasi lingkungan: kebersihan perorangan baik
3) Keadaan rumah: struktur bangunan, ventilasi baik kepadatan hunian layak
4) Keluarga menerima anak dengan senang
5) Mengajak anak belajar bergaul, melambaikan tangan dan memberikan salam
6) Mengajak bermain anak bersama dan mangajak anak mengenal lingkungannya
2. Origin
Internal: Anak senang dan gembira menerima stimulasi dan pertumbuhan perkembangan
sesuai usia
Eksternal: Pola asuh dan stimulasi oleh keluarga dan masyarakat menerima kehadiran
anak dengan senang, ketersediaan dana dan fasilitas memadai
3. Timing
Stimulasi perkembangan dilakukan dari usia 0-1,5 tahun dan stimulasi diberikan secara
konsisten dan sesuai kebutuhan anak
4. Number

a. Stimulasi perkembangan dilakukan sesering mungkin dengan prinsip dilakukan


dengan rasa cinta, kasih sayang tanpa paksaan dan dengan menciptakan suasana
yang segar dan tidak membosankan
b. Setiap anggota keluarga memberikan stimulus perkembangan yang sesuai usia
c. Sesering mungkin memberikan pujian pada bayi
E.

Penilaian Terhadap Stressor


1. Kognitif
a. 0-3 bulan bayi dapat mengoceh dan memberikan reaksi terhadap suara
b. 3-6 bulan bayi dapat menengok kearaah sumber cahaya, suara
c. 6-9 bulan bayi dapat tertawa, berteriak bidak melihat benda yang menarik
d. 9-12 bulan bayi mengucapkan kata yang terdiri dari 2 suku kata mama papa
2. Afektif
a. Menunjukkan perasaan gembira dan senang
b. Tersenyum dan tertawa
c. Mengenali namanya
d. Membedakan orang asing dari orang yang dikenal dan berrespon terhadap keduanya
e. Tampak menikmati permainan sosial ( ciluk ba)
f. Menyukai aktivitas mengeksplorasi bagian tubuhnya sendiri (misalnya bermain kakinya
sendiri)
3. Fisiologi
a. Tinggi badan bertambah sesuai usia
b. Berat badan bertambah sesuai usia
c. Lingkar kepala normal
d. Temperatur 36 derajat sampai dengan 37 derajat celcius
e. Nadi : denyut jantung 80-130 kali per menit
f. Tekanan darah: 74/46 mmHg 110/36-72 mmHg\
g. Pernapasan: 20 50 x/menit
h. Kemampuan sensoris: reaksi otomatis, menelan, menghisap, menggenggam normal
i. Kemampuan berespon sesuai stimulus
j. Perkembangan motorik berlangsung terus secara stabil dari arah kepala ke kaki
4. Behaviour
a. 0-3 bulan bayi mulai menggerakkan kedua lengan dan tungkai sama mudahnya ketika
telentang dan memberikan reaksi dengan melihat ke sumber cahaya
b. 3-6 bulan mengangkat kepala dengan tegak pada posisi telungkup dan meraih benda yang
menarik atau terjangkau olehnya
c. 6-9 bulan bayi ketika didudukan dapat mempertahankan posisi duduk dengan kepala tegak
dan memindahkan benda dari tangan yang satu ke tangan yang lain
d. 9-12 bulan bayi dapat berjalan dengan merambat, meraup benda kecil dengan
menggunakan kelima jari tangannya
5. Sosial

F.

G.

a. 0-3 bulan bayi berhenti sejenak ketika melihat wajah seseorang, menatap wajah yang
bergerak, mengikuti pergerakan itu dengan pandangan mata dan membalas senyuman
b. 3-6 bulan bayi tertawa bersuara nyaring jika diajak bercanda, menunjukkan sikap yang
berbeda bila menghadapi orang yang dikenal dan orang yang asing bagi bayi dan Mencari
benda yang dipindahkan
c. 6-9 bulan bayi mengamati kegiatan pengasuh dengan seksama, bereaksi dengan gembira
dalam permainan cilukba, dengan jelas menunjukkan rasa canggung terhadap orang yang
tidak dikenal dan makan biskuit tanpa dibantu
Sumber Koping
1. Personal ability
a. Masa prenatal baik, tidak ada gangguan
b. Pertumbuhan dan perkembangan normal (sehat)
c. Senang menerima stimulasi
d. Tidak ada gangguan fungsu tubuh/kesehatan secara umum
2. Sosial support
a. Orang tua lengkap
b. Orang tua mempunyai komitmen dan motivasi yang tinggi untuk stimulasi
perkembangan
c. Sanitasi lingkungan baik
d. Masyarakat di sekitarnya baik
e. Orang tua mengetahui cara mnemberikan stimulasi pertumbuhan dan perkembangan
sesuai usia bayi
3. Material asset
a. Orang tua bekerja
b. Mempunyai Jamkesmas kartu atau Askes
c. Sosial ekonomi memadai
d. Sarana dan prasarana tersedia sesuai dengan usia perkembangan
4. Positif belief
a. Orang tua/keluarga memahami atau menrima perilaku anak yang sedang tidak
nyaman/negatif sebagai kebutuhan dasar yang tidak terpoenuhi
b. Orang tua/keluarga melakukan reward dan punishment sesuain usia perkembangan
c. Orang tua/keluarga memahami perbedanaan cara berkomunikasi sesuai dengan usia
perkembangan
d. Orang tua dan keluarga memahami kesehatan anak akan mempengaruhi tumbang anak
e. Keyakinan orang tua/keluarga bahwa anak adalah anugrah dan titipan Tuhan
Mekanisme Koping
a. Konstruktif: Berespon terhadap stimulus yang datang secara tepat, menangis jika kebutuhan
dasar tidak terpenuhi
b. Dektruktif: sering menangis hingga berontak ketika digendong, dan regreasi dan sering
mengompol

H.

Intervensi Keperawatan
1. Tujuan
Untuk bayi :
a. Merasa aman dan nyaman
b. Dapat mengembangkan rasa percaya
Untuk keluarga
a. Menjelaskan perilaku yang menggambarkan bayi yang normal dan menyimpang.
b. Menjelaskan cara menstimulasi perkembangan rasa percaya anaknya.
c. Mendemonstrasikan dan melatih cara memfasilitasi perkembangan rasa percaya anak.
d. Merencanakan tindakan untuk menstimulasi perkembangan rasa percaya anaknya.
2. Tindakan Keperawatan
Untuk perkembangan psikososial bayi yang normal:
a. Panggil bayi sesuai namanya.
b. Gendong dan memeluk saat bayi menangis
c. Identifikasi kebutuhan dasar bayi yang terganggu (lapar, haus, basah, sakit) saat menangis
dan penuhi kebutuhan tersebut
1) Buai saat bayi menangis
2) Beri minum atau makan saat bayi lapar
3) Selimuti bayi saat kedinginan
d. Bicara dengan bayi saat merawatnya.
e. Bayi menangis saaat berpisah dengan ibu, tetapi tidak lama.
f. Ajak bayi bermain (bersuara yang lucu, memeprlihatkan benda berwarna menarik,
menggerakan benda)
Untuk penyimpangan perkembangan (rasa tidak percaya)
a. Penuhi kebutuhan dasar rasa aman dan nyaman
b. Fokuskan perhatian pada bayi saat menyusui,jangan sambil melakukan pekerjaan lainnya
c. Tidak membiarkan bayi tidur sendiri, tetapi tetap bersama orang tua
d. Kontak dengan bayi sesering mungkin
e. Tidak membiatrkan bayi bermain sendirian, tidajk memainkan bayi dengan cara mengganti
antara puting dan empeng
f. Tetap memberi ASI sampai 1,5 tahun
g. Tidak mengganti pengasuh bayi terlalu sering (bayi bingung karena harus memupuk
kepercayaan pada banyak orang)
Untuk keluarga
Tujuan:
a. Keluarga mampu menjelaskan perilaki yang menggambarkan perkembangan yang normal
dan menyimpang
b. Keluarga mampu menjelaskan cara menstimulasi perkembangan anaknya
c. Keluarga mampu mendemonstrasikan cara menstimulasi perkembangan anaknya
d. Keluarga mampu merencanakan tindakan untuk menstimulasi perkembangan anaknya
Intervensi keperawatan keluarga
a. Perkembangan psikososial yang normal (rasa percaya)
1) Jelaskan pengertian perkembangan psikososial karakteristik perilaku bayi yang
normal dan menyimpang
2) Jelaskan cara memupuk rasa percaya bayi pada ibu/keluarga
a) Panggil bayi dengan sebutan namanya
b) Berespons secara konsisten terhadap kebutuhan bayi:
Susui segera saat bayi menangis

Lindungi dari bahaya jatuh


Ganti popok/celana jika basah/kotor
Kurangi stres bayi bayi dengan cara merawat bayi dengan kasih sayang,
memeluk, menggendong, mengeloni dengan tulus dan sepenuh hati
c) Berikan lingkungan yang aman dan nyaman bagi bayi
d) Ajak bayi bermain
e) Ajak bayi bicara saat sedang merawatnya
f) Segera bawa kepelayanan kesehatan terdekat jika terdapat masalah kesehatan
(bayi)
3) Demosntrasikan cara memupuk rasa percaya bayi
4) Rencanakan tinfakan untuk memupuk rasa percaya bayi
b. Penyimpangan perkembangan (rasa tidak percaya)
1) Informasikan penyebab rasa tidak percaya bayi
2) Ajarkan cara menjalin hubungan saling percaya dengan bayi
a) Penuhi kebutuhan dasar: makan, minum, kebersihan , buang air besar/buang air
kecil, istirahat/tidur, bermain
b) Penuhi rasa aman dan nyaman: lindungi bayi dari rasa sakit dab panas, cedera
jatuh tidak membiarkan sendirian, berikan kasih sayang
3) Egera bawa ke pelayanan kesehatan saat bayi sakit
a. Informasikan pada keluarga perilaku bayi yang menggambarkan bayi normal dan
menyimpang, karakteristik perilaku bayi normal :
1) Tersenyum atau tertawa senang ketika ibunya datang menghampiri.
2) Menangis ketika ditinggalkan oleh ibunya.
3) Menangis saat merasa tidak nyaman ( basah, lapar, haus, sakit dan gerah)
4) Memperhatikan/memandang wajah ibu/orang yang mengajak bicara
5) Mencari suara ibu/orang lain yang memanggilnya.
6) Memeluk tubuh ibu/orang lain saat digendong
7) Menangis saat digendong orang yang tidak dikenalnya.
8) Menolak saat akan digendong orang yang tidak dikenalnya.

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL BAYI ATAU


INFANT (0-18 BULAN)
(Basic Trust Vs Miss Trust)
I.

Pengertian
Infant adalah tahap perkembangan bayi usia 0-18 bulan dimana pada usia bayi belajar
terhadap kepercayaan dan ketidakpercayaan.Masa ini merupakan krisis pertama yang dihadapi

oleh bayi. Perkembangan psikososial bayi yang normal adalah proses perkembangan yang
ditandai dengan pemupukan rasa percaya pada orang lain dan diawali dengan kepercayaan
terhadap orang tua, khususnya ibu. Rasa aman secara fisik dan psikologis berperan penting
dalam pembentukan rasa percaya bayi. Jika rasa percaya tidak terpenuhi, akan terjadi
penyimpangan berupa rasa tidak percaya dan setelah dewasa akan menjadi orang yang mudah
curiga dan tidak dapat menjalin hubungan baru (Keliat et.al, 2011).
J.

Batasan Karakteristik Perilaku infant


Menurut Keliat et.al (2011) karakteristik perilaku bayi atau infant antara lain:
3. Perkembangan yang normal (Berkembangnya rasa percaya)
i. Tidak langsung menangis saat ketemu dengan orang lain
j. Menolak saat akan digendong orang yang tidak dikenalnya
k. Menangis saat digendong orang yang tidak dikenalnya
l. Menangis saat merasa tidak nyaman (basah,lapar, haus, sakit, panas)
m. Bereaksi senang ketika ibunya datang menghampiri
n. Menangis ketika ditinggalkan ibunya
o. Memperhatikan/memandang wajah ibu/orang yang mengajak berbicara
p. Mencari suara ibu/orang lain yang memanggil namanya
4. Penyimpangan perkembangan (Berkembangnya rasa tidak percaya)
d. Menangis menjerit-jerit saat berpisah dengan ibunya
e. Tidak mau berpisah sama sekali dengan ibunya
f. Tidak mau berhubungan dengan orang lain

K.

Proses terjadinya masalah


Membangun rasa percaya adalah tugas pertama ego dan tugas tersebut tidak pernah
selesai. Keseimbangan antara trust dan mistrust sebagian besar ditentukan oleh kualitas
hubungan antara ibu dan anak. Salah satu parameter penilaian keberhasilan adalah bahwa anak
tidak marah atau cemas ditinggalkan sementara oleh ibunya (misalnya: ibunya bekerja) karena
keberadaan ibunya telah menjadi kepastian dan dapat diprediksi. Menurut Erikson, konflik trust
versus mistrust berlangsung seumur hidup. Bila konflik tersebut tidak diarahkan, diajarkan dan
ditangani secara benar ketika pertama kali dihadapi saat infancy, akan timbul efek negatif pada
individu tersebut sehingga ia tidak dapat berperan secara penuh di dunia sekitarnya. Contohnya
individu tersebut menghindar dari pergaulan sosial, tidak mampu membuna hubungan yang
sehat dan berlangsung lama dengan orang lain, dan tidak berdamai dengan dirinya. Bila individu
tidak belajar untuk mempercayainya, orang lain, dan dunia disekitarnya, ia akan kehilangan
harapannya, yang secara langsung terkait dengan konsep trust dan mistrust. Bila seseorang
kehilangan kepercayaan terhadap harapan, ia tidak akan mampu bangkit dari kegagalan yang
terjadi dan berkembang mencap;ai tingkat tertinggi perkembangan yang dimungkinkan oleh
sistem sosial-budayanya (Nurdin, 2011).

L.

Faktor Predisiposisi dan Presipitasi Perkembangan Infant


Faktor Presdisposisi

Menurut Stolte (2004) dan FIK (2011) faktor yang dapat menjadi predisposisi hambatan
perkembangan bayi atau infant adalah:
4. Biologis
h. Respon herediter: ada riwayat kembar monozigot, ada penyakit keturunan, ada kelainan
kromosom (sindrom down, sindrom turner)
i. Neuroendokrin: gangguan hormon pertumbuhan dan saraf
j. Penyakit infeksi
k. Riwayat kehamilan dan persalinan: ibu saat hamil menderita preeklamsia, kejang,
hipertensi, saat lahir bayi BBLR dan lahir sebelum waktunya
l. Status Gizi: BB 5 bulan < 2 x BB lahir, BB 1 tahun < 3 x BB lahir dan TB 1 th < 1,5 x TB
lahir
m. Kondisi kesehatan secara umum: riwayat imuniasi dasar
n. Pemanfaatan pelayanan kesehatan dilakukan secara rutin ketika bayi sakit panas / pilek
5. Psikologis:
h. Intelegensi /keterampilan verbal: 0-3 bulan dapat mengoceh dan memberikan reaksi
terhadap suara, 3-6 bulan: menengok ke arah sumber suara, 6-9 bulan tertawa./beteriak
gembira bila melihat benda yang menarik, 9-12 bulan mengucapkan perkataan yang
terdiri dari 2 suku kata dan 12-18 bulan bayi menguncapkan perkataan yang terdiri darei
2 suku kata yang sama
i. Moral: ketika diberikan makanan bayi kadang bisa arahkan menggunakan tangan kanan
j. Kepribadian: Bayi berusaha meraih mainan yang ada didekatnya dan tersenyum dan
memperhatikan ibunya ketika menirukan ocehannya (misalnya menina bobokan,
mengayun anak)
k. Pengalaman masa lalu: Prenatal (kehamilan yang tidak diharapkan), intranatal (ibu tidak
memberikan ASI eksklusif pada bayinya)
l. Konsep diri: Mulai dapat membedakan diri dari lingkungan dan mulai tidak percaya
ketika ditinggalkan dengan menagis
m. Motivasi: senang diajak bermain dan berbicara, bahagia ketika dipeluk atau dicium
n. Self kontrol: Menangis saat digandeng orang yang tidak dikenalnya atau menolak saat
hendak digendong
6. Sosial budaya: perkembangan sosial dipengaruhi oleh interaksi dengan orang lain di dalam
lingkungannya dan kesempatan belajar yang diberikan
g. Usia: 0-18 bulan
h. Gender : laki/[perempuan
i. Status sosial: anak kandung, anak adopsi
j. Latar belakang budaya: Ras/suku bangsa kulit putih mempunyai pertumbuhan somatik
lebih tinggi daripada bangsa Asia
k. Pengalaman sosial: digandeng, dipeluk dan dibuai saat menangis menjadi senang,
Diberi makan dan minum jika haus dan lapar, diselimuti jika kedinginan, diajak bermain
dan berbicara
l. Peran sosial: bayi diterima sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Faktor Presipitasi

5. Nature
d. Biologis
6) Pemberian ASI Esklusif
7) Nutrisi gizi seimbang
8) Makanan tambahan diberikan setelah bayi berusia 6 bulan
9) Makanan padat diberikan setelah usia 12 bulan
10) BB bayi sesuai dengan TB: BB 5 bulan = 2 x BB lahir, BB 1 tahun 3 x BB lahir
e. Psikologis
Menunjukkan rasa cinta, kasih sayang dan rasa aman pada bayi
9) Sering mengajak anak berbicara dengan lembut, panggil bayi dengan namanya
10) Sering memeluk dan mencium anak
11) Membuai, menimang dan menidurkan anak dan membacakan cerita
12) Membujuk ketika bayi rewel
13) Sering mengajak anak bermain
14) Memperlihatkan gambar yang lucu dan menarik
15) Mengajak melihat dirinya dikaca
16) Pada saat bayi menangis segera mencari tahu kebutuhan dasar yang terganggu
(lapar, haus, basah dan sakit)
f. Sosial budaya
7) Cuaca, musim, geographis mendukung tumbang
8) Sanitasi lingkungan: kebersihan perorangan baik
9) Keadaan rumah: struktur bangunan, ventilasi baik kepadatan hunian layak
10) Keluarga menerima anak dengan senang
11) Mengajak anak belajar bergaul, melambaikan tangan dan memberikan salam
12) Mengajak bermain anak bersama dan mangajak anak mengenal lingkungannya
6. Origin
Internal: Anak senang dan gembira menerima stimulasi dan pertumbuhan perkembangan
sesuai usia
Eksternal: Pola asuh dan stimulasi oleh keluarga dan masyarakat menerima kehadiran
anak dengan senang, ketersediaan dana dan fasilitas memadai
7. Timing
Stimulasi perkembangan dilakukan dari usia 0-1,5 tahun dan stimulasi diberikan secara
konsisten dan sesuai kebutuhan anak
8. Number
d. Stimulasi perkembangan dilakukan sesering mungkin dengan prinsip dilakukan
dengan rasa cinta, kasih sayang tanpa paksaan dan dengan menciptakan suasana
yang segar dan tidak membosankan
e. Setiap anggota keluarga memberikan stimulus perkembangan yang sesuai usia
f. Sesering mungkin memberikan pujian pada bayi
M.

Penilaian Terhadap Stressor


6. Kognitif

e. 0-3 bulan bayi dapat mengoceh dan memberikan reaksi terhadap suara
f. 3-6 bulan bayi dapat menengok kearaah sumber cahaya, suara
g. 6-9 bulan bayi dapat tertawa, berteriak bidak melihat benda yang menarik
h. 9-12 bulan bayi mengucapkan kata yang terdiri dari 2 suku kata mama papa
7. Afektif
g. Menunjukkan perasaan gembira dan senang
h. Tersenyum dan tertawa
i. Mengenali namanya
j. Membedakan orang asing dari orang yang dikenal dan berrespon terhadap keduanya
k. Tampak menikmati permainan sosial ( ciluk ba)
l. Menyukai aktivitas mengeksplorasi bagian tubuhnya sendiri (misalnya bermain kakinya
sendiri)
8. Fisiologi
k. Tinggi badan bertambah sesuai usia
l. Berat badan bertambah sesuai usia
m. Lingkar kepala normal
n. Temperatur 36 derajat sampai dengan 37 derajat celcius
o. Nadi : denyut jantung 80-130 kali per menit
p. Tekanan darah: 74/46 mmHg 110/36-72 mmHg\
q. Pernapasan: 20 50 x/menit
r. Kemampuan sensoris: reaksi otomatis, menelan, menghisap, menggenggam normal
s. Kemampuan berespon sesuai stimulus
t. Perkembangan motorik berlangsung terus secara stabil dari arah kepala ke kaki
9. Behaviour
e. 0-3 bulan bayi mulai menggerakkan kedua lengan dan tungkai sama mudahnya ketika
telentang dan memberikan reaksi dengan melihat ke sumber cahaya
f. 3-6 bulan mengangkat kepala dengan tegak pada posisi telungkup dan meraih benda yang
menarik atau terjangkau olehnya
g. 6-9 bulan bayi ketika didudukan dapat mempertahankan posisi duduk dengan kepala tegak
dan memindahkan benda dari tangan yang satu ke tangan yang lain
h. 9-12 bulan bayi dapat berjalan dengan merambat, meraup benda kecil dengan
menggunakan kelima jari tangannya
10. Sosial
d. 0-3 bulan bayi berhenti sejenak ketika melihat wajah seseorang, menatap wajah yang
bergerak, mengikuti pergerakan itu dengan pandangan mata dan membalas senyuman
e. 3-6 bulan bayi tertawa bersuara nyaring jika diajak bercanda, menunjukkan sikap yang
berbeda bila menghadapi orang yang dikenal dan orang yang asing bagi bayi dan Mencari
benda yang dipindahkan
f. 6-9 bulan bayi mengamati kegiatan pengasuh dengan seksama, bereaksi dengan gembira
dalam permainan cilukba, dengan jelas menunjukkan rasa canggung terhadap orang yang
tidak dikenal dan makan biskuit tanpa dibantu

N.

Sumber Koping
5. Personal ability
e. Masa prenatal baik, tidak ada gangguan
f. Pertumbuhan dan perkembangan normal (sehat)
g. Senang menerima stimulasi
h. Tidak ada gangguan fungsu tubuh/kesehatan secara umum
6. Sosial support
f. Orang tua lengkap
g. Orang tua mempunyai komitmen dan motivasi yang tinggi untuk stimulasi
perkembangan
h. Sanitasi lingkungan baik
i. Masyarakat di sekitarnya baik
j. Orang tua mengetahui cara mnemberikan stimulasi pertumbuhan dan perkembangan
sesuai usia bayi
7. Material asset
e. Orang tua bekerja
f. Mempunyai Jamkesmas kartu atau Askes
g. Sosial ekonomi memadai
h. Sarana dan prasarana tersedia sesuai dengan usia perkembangan
8. Positif belief
f. Orang tua/keluarga memahami atau menrima perilaku anak yang sedang tidak
nyaman/negatif sebagai kebutuhan dasar yang tidak terpoenuhi
g. Orang tua/keluarga melakukan reward dan punishment sesuain usia perkembangan
h. Orang tua/keluarga memahami perbedanaan cara berkomunikasi sesuai dengan usia
perkembangan
i. Orang tua dan keluarga memahami kesehatan anak akan mempengaruhi tumbang anak
j. Keyakinan orang tua/keluarga bahwa anak adalah anugrah dan titipan Tuhan

O.

Mekanisme Koping
c. Konstruktif: Berespon terhadap stimulus yang datang secara tepat, menangis jika kebutuhan
dasar tidak terpenuhi
d. Dektruktif: sering menangis hingga berontak ketika digendong, dan regreasi dan sering
mengompol

P.

Intervensi Keperawatan
3. Tujuan
Untuk bayi :
c. Merasa aman dan nyaman
d. Dapat mengembangkan rasa percaya
Untuk keluarga
e. Menjelaskan perilaku yang menggambarkan bayi yang normal dan menyimpang.
f. Menjelaskan cara menstimulasi perkembangan rasa percaya anaknya.
g. Mendemonstrasikan dan melatih cara memfasilitasi perkembangan rasa percaya anak.

h. Merencanakan tindakan untuk menstimulasi perkembangan rasa percaya anaknya.


4. Tindakan Keperawatan
Untuk perkembangan psikososial bayi yang normal:
g. Panggil bayi sesuai namanya.
h. Gendong dan memeluk saat bayi menangis
i. Identifikasi kebutuhan dasar bayi yang terganggu (lapar, haus, basah, sakit) saat menangis
dan penuhi kebutuhan tersebut
4) Buai saat bayi menangis
5) Beri minum atau makan saat bayi lapar
6) Selimuti bayi saat kedinginan
j. Bicara dengan bayi saat merawatnya.
k. Bayi menangis saaat berpisah dengan ibu, tetapi tidak lama.
l. Ajak bayi bermain (bersuara yang lucu, memeprlihatkan benda berwarna menarik,
menggerakan benda)
Untuk penyimpangan perkembangan (rasa tidak percaya)
h. Penuhi kebutuhan dasar rasa aman dan nyaman
i. Fokuskan perhatian pada bayi saat menyusui,jangan sambil melakukan pekerjaan lainnya
j. Tidak membiarkan bayi tidur sendiri, tetapi tetap bersama orang tua
k. Kontak dengan bayi sesering mungkin
l. Tidak membiatrkan bayi bermain sendirian, tidajk memainkan bayi dengan cara mengganti
antara puting dan empeng
m. Tetap memberi ASI sampai 1,5 tahun
n. Tidak mengganti pengasuh bayi terlalu sering (bayi bingung karena harus memupuk
kepercayaan pada banyak orang)
Untuk keluarga
Tujuan:
e. Keluarga mampu menjelaskan perilaki yang menggambarkan perkembangan yang normal
dan menyimpang
f. Keluarga mampu menjelaskan cara menstimulasi perkembangan anaknya
g. Keluarga mampu mendemonstrasikan cara menstimulasi perkembangan anaknya
h. Keluarga mampu merencanakan tindakan untuk menstimulasi perkembangan anaknya
Intervensi keperawatan keluarga
c. Perkembangan psikososial yang normal (rasa percaya)
5) Jelaskan pengertian perkembangan psikososial karakteristik perilaku bayi yang
normal dan menyimpang
6) Jelaskan cara memupuk rasa percaya bayi pada ibu/keluarga
g) Panggil bayi dengan sebutan namanya
h) Berespons secara konsisten terhadap kebutuhan bayi:
Susui segera saat bayi menangis
Lindungi dari bahaya jatuh
Ganti popok/celana jika basah/kotor
Kurangi stres bayi bayi dengan cara merawat bayi dengan kasih sayang,
memeluk, menggendong, mengeloni dengan tulus dan sepenuh hati
i) Berikan lingkungan yang aman dan nyaman bagi bayi
j) Ajak bayi bermain
k) Ajak bayi bicara saat sedang merawatnya
l) Segera bawa kepelayanan kesehatan terdekat jika terdapat masalah kesehatan
(bayi)

7) Demosntrasikan cara memupuk rasa percaya bayi


8) Rencanakan tinfakan untuk memupuk rasa percaya bayi
d. Penyimpangan perkembangan (rasa tidak percaya)
4) Informasikan penyebab rasa tidak percaya bayi
5) Ajarkan cara menjalin hubungan saling percaya dengan bayi
c) Penuhi kebutuhan dasar: makan, minum, kebersihan , buang air besar/buang air
kecil, istirahat/tidur, bermain
d) Penuhi rasa aman dan nyaman: lindungi bayi dari rasa sakit dab panas, cedera
jatuh tidak membiarkan sendirian, berikan kasih sayang
6) Egera bawa ke pelayanan kesehatan saat bayi sakit
b. Informasikan pada keluarga perilaku bayi yang menggambarkan bayi normal dan
menyimpang, karakteristik perilaku bayi normal :
9) Tersenyum atau tertawa senang ketika ibunya datang menghampiri.
10) Menangis ketika ditinggalkan oleh ibunya.
11) Menangis saat merasa tidak nyaman ( basah, lapar, haus, sakit dan gerah)
12) Memperhatikan/memandang wajah ibu/orang yang mengajak bicara
13) Mencari suara ibu/orang lain yang memanggilnya.
14) Memeluk tubuh ibu/orang lain saat digendong
15) Menangis saat digendong orang yang tidak dikenalnya.
16) Menolak saat akan digendong orang yang tidak dikenalnya.
1. Tujuan
Untuk keluarga
1) Menjelaskan perilaku yang menggambarkan perkembangan psikososial
2) Menjelaskan cara menstimulasi perkembangan anaknya (kemandirian)
3) Mendemonstrasikan dan melatih cara memfasilitasi perkembangan kemandirian
anak
4) Merencanakan tindakan untuk menstimulasi perkembangan kemandirian
anaknya.
Tindakan keperawatan untuk keluarga
Tugas Perkembangan
Tindakan Keperawatan
Perkembangan yang
Informasikan pada keluarga cara yang dapat dilakukan untuk
normal :
:
Kemandirian
a) memfasilitasi perkembangan psikososial anaknya.
Berikan aktivitas bermain yang menggali rasa ingin
tahu anak seperti bermain tanah, pasir, lilin,
membuat mainan kertas, mencampur warna,
menggunakana cat air, melihat
barang/binatang/tanaman/orang yang menarik
perhatiannya dengan tetap menjaga keamanannya.
Berikan kebebasan pada anak untuk melakukan
sesuatu yang diinginkan tetapi tetap memberi
batasan. Misalnya membolehkan anak memanjat
dengan syarat ada yang mendampingi/mengawasi
atau mengajarkan cara agar tidak jatuh.
b) Menstimulasi /latihan perkembangannya :
Melatih anak melompat ke depan dengan

kedua kaki diangkat bersamaan.


Mengajak anak bermain menumpuk dan
menyusun balok /kubus/ kotak menjadi
menara, jembatan dan lain-lain.
Melatih anak memilih dan mengelompokkan
benda menurut jenisnya. (kancing, kelereng,
uang logam dan lain-lain)
Melatih anak menghitung jumlah benda
Melatih anak mencocokan gambar dengan
benda sesungguhnya, bicaralah tentang
sifatnya, bentuk , warna dan sebagainya.
Melatih anak menyebut namanya
Melatih anak menyebut nama benda dan
mengenal sifatnya.
Melatih mencuci tangan/kaki dan
mengeringkannya sendiri.
Memberi kesempatan kepada anak, untuk
memilih baju yang akan dipakai

Laporan Pendahuluan

ASUHAN KEPERAWATAN PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL ANAK


PRA SEKOLAH (3-6 TAHUN)
Inisiatif Vs Rasa Bersalah
A. PENGERTIAN
Perry dan Potter (2005) menyebutkan usia anak prasekolah merupakan masa kanakkanak awal, yaitu berada pada usia 3 sampai 6 tahun. Anak usia prasekolah merupakan fase
perkembangan individu sekitar 2-6 tahun, ketika anak mulai memiliki kesadaran tentang dirinya
sebagai pria atau wanita, dapat mengatur diri dalam buang air (toilet training), dan mengenal
beberapa hal yang dianggap berbahaya (mencelakakan dirinya). Potensial mengembangkan rasa
inisiatif adalah tahap perkembangan anak usia 3-6 tahun dimana pada usia ini anak akan belajar
berinteraksi dengan orang lain, berfantasi dan berinisiatif, pengenalan identitas kelamin, meniru.
Perkembangan psikososial adalah proses perkembangan kemampuan anak dalam berinisiatif
menyelesaikan masalahnya sendiri sesuai dengan pengetahuannya. Kemampuan ini diperoleh
jika konsep diri anak positif karena anak mulai berkhayal dan kreatif serta meniru peran-peran di
sekelilingnya. Anak berinisiatif melakukan sesuatu dan memberi hasil. Anak merasa bersalah jika
tindakannya berdampak negatif. Sikap lingkungan yang suka melarang dan menyalahkan,
membuat anakn kehilangan inisiatif. Pada saat dewasa, anak akan mudah mengalami rasa
bersalah jika melakukan kesalahan dan tidak kreatif (Keliat et.al, 2011).
B. KARAKTERISTIK PERILAKU ANAK PRA SEKOLAH
Menurut Keliat et.al (2011) perilaku psikososial anak pra sekolah antara lain:
1. Perkembangan yang normal: inisiatif

a. Mengkhayal dan kreatif.


b. Berinisiatif untuk bermain dengan alat-alat yang ada di rumah
c. Belajar keterampilan fisik baru
d. Menikmati bermain bersama dengan anak seusianya.
e. Mudah dipisahkan dengan orang tua
f. Mengetahui hal-hal yang salah dan benar serta mengikuti aturan
g. Mengenal minimal empat warna
h. Merangkai kata-kata dalam bentuk kalimat
i. Mampu melakukan pekerjaan yang sederhana
j. Mengenal jenis kelamin.
2. Penyimpangan perkembangan : rasa bersalah
a. Tidak percaya diri, malu untuk tampil
b. Pesimis, tidak memiliki minat dan keinginan
c. Takut salah dalam melakukan sesuatu
d. Sangat membatasi aktivitasnya sehingga terkesan malas dan tidak mempunyai inisiatif.
C. PROSES TERJADINYA
Inisiatif adalah kelanjutan autonomi. Parameternya adalah kualitas usaha, perencanaan,
dan kegiatan dengan tujuan motorik melakukan sesuatu. Melalui cara ini, anak belajar menguasai
dunia di sekitarnya, mempelajari keterampilan dasar dan hukum alam. Contohnya: benda jatuh ke
bawah, bola dan roda menggelinding, aritmatika sederhana seperti tambah dan kurang, bertanya
dan menjawab pertanyan dengan baik dan lain-lain. Setelah penguasaan pada hal-hal ini mulai
berkembang, anak mulai beraktivitas dengan tujuan nyata. Contohnya: anak berusia 3 tahun mulai
menyusun pasir di pantai untuk membuat rumah. Suatu emosi baru yaitu rasa bersalah (guilt) mulai
timbul dan dapat membingungkan anak bila upayanya gagal. Pengertian guilt tersebut sangat
berbeda dengan konsep rasa bersalah pada orang dewasa, yang selain bersifat emosional juga
bernuansa kognitif, sedangkan pada tingkat perkembangan ini, pemahaman guilt lebih mendekati
pemahaman emosi kecewa pada orang dewasa. Karena itu, bila ia menyusun pasir terlalu tinggi
sehingga rumah tersebut runtuh, ia merasa bersalah dan marah atau menangis. Karena itu, kita
tidak boleh mengatakan kepada si anak, itulah, karena tidak mau mendengar perkataan orang tua,
rumahnya runtuh. Rasa bersalah yang sangat kuat akan timbul pada anak. Ia merasa bahwa
dirinya anak nakal karena rumah tersebut runtuh. Ia tidak berani lagi berinisiatif menyusun pasir
tinggi-tinggi untuk membuat rumah yang tinggi. Ia terhambat dalam mengembangkan jeberanian
dan kemandirian. Ia bergantung pada ide orang lain. Ia tidak mengembangkan kompetensi menjadi
orang berprestasi, konseptor, atau pemimpin dan tidak bercita-cita tinggi (Nurdin, 2011).
Pada tahap perkembangan ini, kompetensi penilaian (judgement) mulai berkembang
melalui krisis initiative versus guilt. Berdasarkan penilaian awal tersebut, anak mulai
mengembangkan perilaku kepemimpinan, konseptor, dan pencapaian tujuan (goal oriented
behaviour). Namun, perilaku tersebut harus kita kendalikan agar tidak menjadi risk taking behavior.
Contohnya: nekad menyeberang jalan raya, memanjat di tempat berbahaya, bermain api, dan
sebagainya. Anak tetap harus merasakan rasa bersalah bila ia melakukan aktivitas yang tidak
dapat ditoleransi. Karena itu, keseimbangan antara inisiatif dan rasa bersalah sangat penting pada
tahap perkembangan ini (Nurdin, 2011).

D. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Potensial (Normal): Potensial mengembangkan inisiatif
Risiko (penyimpangan): Risiko mengembangkan rasa bersalah
E. INTERVENSI KEPERAWATAN GENERALIS
1. Anak sekolah
a. Tujuan
1) Anak pra sekolah mengidentifikasi peran gender
2) Anak pra sekolah mencapai keterampilan motorik, kognitif, sikap tertentu
3) Anak pra sekolah mengidentifikasi peran di keluarga
b. Intervensi tindakan
1) Perkembangan yang normal : inisiatif
a) Beri kesempatan kepada anak untuk mencapai kemampuan tertentu yang dapat
dipelajarinya, seperti naik sepeda, menulis, menggambar, menyusun balok, puzzle
b) Dukung anak untuk bermain berkelompok
c) Beri kesempatan kepada anak untuk bermain peran menggunakan alat-alat yang
sesuai (memasak, sekolah, berperan sebagai orang tua)
d) Beri tugas yang sesuai dengan kemampuan anak
e) Jadi role model bagi anak mengenai cara menerima keunikan orang lain
2) Penyimpangan perkembangan : rasa bersalah
a) Beri waktu pada anak untuk bermain/beraktivitas secara berkelompok
b) Ajarkan anak mengenai permainan sederhana yang membutuhkan kerja sama dan
koordinasi (puzzle, susun balok)
c) Sampaikan harapan yang sesuai dengan kemampuann anak
d) Beri pujian terhadap keberhasilan yang dicapai oleh anak
e) Dengarkan seluruh keluhan anak dan diskusikan cara mengatasi rasa tidak
mampu yang dialami anak
2. Keluarga
a. Tujuan
1) Keluarga mampu menjelaskan perilaku yang menggambarkan perkembangan yang
normal dan menyimpang
2) Keluarga mampu menjelaskan cara menstimulasi perkembangan anaknya
3) Keluarga mampu mendemonstrasikan dan melatih cara memfasilitasi perkembangan
anak
4) Keluarga mampu merencanakan tindakan untuk menstimulasi perkembangan anaknya
b. Intervensi
1) Perkembangan yang normal: Inisiatif
a) Informasikan pada keluarga mengenai cara yang dapat dilakukan keluarga untukm
memanfasilitasi perkembangan psikososial anak
b) Diskusikan dengan keluarga mengenai cara yang akan digunakan keluarga untuk
menstimulasi inisiatif anak
Bersikap positif dan dorong usaha anak untuk mandiri
Bantu anak menyelesaikan masalah yang dialami jika tindakan yang dilakukan
anak berakibat negatif/buruk
Tidak menentang tindakan yang dilakukan anak
Gunakan bahasa yang positif dalam melarang anak
Berikan pendapat yang positif terhadap perilaku yang ditampilkan
Beri pujian terhadap keberhasilan yang dicapai oleh anak

Berikan suasana disiplin dalam rumah pada waktu belajar, menonton TV,
bermain, makan
c) Latih keluarga untuk melakukan cara tersebut dan dampingi saat keluarga
menstimulasi inisiatif anak
2) Penyimpangan perkembangan: rasa bersalah
a) Beri waktu pada anak untuk bermain
b) Ajarkan anak mengenal permainan sederhana
c) Berikan harapan sesuai dengan kemampuan anak
d) Tidak memaksakan kehendak pada anak
e) Beri pujian terhadap keberhasilan yang dicapai oleh anak
f) Jadi pendengar baik
g) Bersikap positif terhadap kemampuan anak dan dorong anak untuk mandiri
h) Tidak menentang tindakan yang dilakukan anak
i) Tidak melarang anak
j) Gunakan bahasa yang mudah dimengerti
LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL ANAK USIA


SEKOLAH (6-12 TAHUN)
INDUSTRI vs HARGA DIRI RENDAH
A. Pengertian
Perkembangan kemampuan psikososial anak usia sekolah (6-12 tahun) adalah
kemampuan menghasilkan karya, berinteraksi, dan berprestasi dalam belajar berdasarkan
kemampuan diri sendiri. Pencapaian kemampuan ini akan membuat anak bangga terhadap
dirinya. Hambatan atau kegagalan dalam mencapai kemampuan ini menyebabkan anak merasa
rendah diri sehingga pada masa dewasa, anak dapat mengalami hambatan dalam bersosialisasi
(Keliat et.al, 2011). Dalam istilah Freudian periode perkembangan psikososial ini digambarkan
sebagai periode laten. Tenaga anak disalurkanm ke dalam pembelajaran keterampilan tertentu,
bermain aktif, dan memperoleh pengetahuan. Erikson (1963) menguraikan hal ini sebagai suatu
masa untuk perkembangan kerajinan. Pada usia ini, anak belajar untuk bekerja dengan orang lain,
hubungan sosial menjadi menonjol, dan terjadi rasa persaingan. Aturan-aturan dipelajari dan anak
menginginkan dan mengembangkan keberhasilan. Banyak pembelajaran terjadi melalui guru dan
teman sebaya daripada terutama melalui keluarga (Stolte, 2004). Plaget (1975) menguraikan
tahap ini sebagai masa operasional konkret. Proses berpikir meningkat menjadi kompleks dan
logis. Anak ini dapat memilah dan mengelola fakta-fakta. Pemecahan masalah tetap konkret dan
merefleksikan pengalaman anak itu sendiri. Akan tetapi, pikiran menjadi kurang berpusat pada diri
sendiri dan anak ini dapat mempertimbangkan pandangan orang lain (Stolte, 2004).
B. Karakteristik Perilaku Anak Sekolah
Menurut Keliat et.al (2011) karakteristik perilaku anak usia sekolah dibagi menjadi dua
antara lain:
1. Perkembangan yang normal (Produktif)
a. Menyelesaikan tugas (sekolah dan rumah) yang diberikan

b. Mempunyai rasa bersaing (kompetisi)


c. Senang berkelompok dengan teman sebaya dan mempunyai sahabat karib
d. Berperan dalam kegiatan kelompok
2. Penyimpangan perkembangan (Harga diri rendah)
a. Tidak mau mengerjakan tugas sekolah
b. Membangkang pada orang tua untuk mengerjakan tugas
c. Tidak ada kemauan untuk bersaing dan terkesan malas
d. Tidak mau terlibat dalam kegiatan kelompok
e. Memisahkan diri dari teman sepermainan dan teman sekolah
C. Proses terjadinya masalah
Tujuan realistik untuk menyelesaikan sesuatu yang produktif secara bertahap dan
menggantikan permainan. Pemahaman dasar dikembangkan pada tahap ini. Dalam tahap ini,
kemampuan berprestasi sangat penting pada sesuatu yang produktif. Untuk itu, anak harus
berkompetisi pada suatu lingkungan sosial. Kekalahan pada tahap ini akan mengembalikan
hubungan sosialnya ke tahap sebelumnya, dengan kompetisi diantara saudara sekandung ( sibling
rivalry). Pada tahap ini, anak semakin lama semakin menyadari dirinya sebagai individu. Mereka
berupaya melakukan apa saja secara benar untuk mencapai hasil yang baik. Rasa tanggung
jawab berkembangan pada tahap ini. Mereka sangat bangga diberi tanggung jawab. Perasaan
duty consious mulai berkembang pada tahap ini. Untuk mendukung upaya tersebut, mereka mulai
berbagi rasa, membina kerja sama dan sikap kooperatif untuk mencapai tujuan bersama.
Kompetensi ini timbul karena untuk mencapai ciri persepsi kognitif spesifik pada tahap ini. Ciri
tersebut adalah konsep waktu dan ruang (jauh-dekat-lama-sebentar) dalam simbol aritmatika,
hubungan sebab-akibat, waktu kalender, jam, dan konsep kronologi. Perkembangan persepsi
kognitif ini merangsang rasa ingi tahu yang bersifat kognitif. Anak teransang belajar untuk
menguasai kompetisi kompleks seperti membaca, menulis, matematika, dan pengaturan waktu.
Mereka mulai mampu menyusun nilai-nilai moral (baik-buruk, benar-salah). Mereka mulai
memahami perbedaan kultural dan individual (toleransi). Parameter kognitif dan motorik adalah
kemampuan manajemen personal, seperti pemilihan pakaian, sabun mandi, menyusun pakaian
dan buku, menyusun jadwal harian serta berbagai kemampuan lain yang menunjukkan kerapian.
Parameter emosi adalah mampu berbagi rasa. Bila ia mendapatkan sesuatu (misalnya kue), aia
akan bertanya apakah teman atau adik juga mendapatkannya. Pada tahap ini, anak belajar
mengutamakan prestasi melalui usaha sendiri (industry). Bila gagal berprestasi (di salah satu
bidang), ia akan merasa inkompeten (inferiority). Namun, terdapat suatu bahaya laten pada tahap
ini. Orang tua yang terlalu ambisius sering kali memaksa anaknya untuk lebih mencapai prestasi
di banyak bidang sekaligus. Industry yang berlebihan akan menyempitkan atau malah
menghilangkan minat. Situasi ini disebut situasi anak tidak boleh menjadi anak. Kompetensi hanya
mungkin tercapai dalam situasi keseimbangan antara industry dengan inferiority. Karena itu, pola
asuh (nurture) orang tua untuk mengembangkan nilai diri (self esteem) dan keuletan sangat
beragam, yang ditentukan kemampuan inheren biologis pada anak (Nurdin, 2011).
D. Diagnosa Keperawatan
Potensial (normal) : Potensial Berkarya
Resiko (penyimpangan) : Risiko harga diri rendah

E. Intervensi Keperawatan
Menurut Nurdin (2011) ada beberapa prinsip dasar dalam mengoptimalkan perkembangan
psikososial anak sekolah antara lain:
1. Pahami dan terima masalah pada pembelajaran anak, bila ia merasa lemah di suatu hal
tunjukkanlah hal lain yang merupakan kekuatannya (highligiht strengths)
2. Tunjukkan kepada anak mekanisme pemecahan masalah
3. Tunjukkan kepada anak mekanisme perumusan tujuan
4. Lakukan proses penguatan (reinforcement) rasa tanggung jawab
5. Lakukan penekanan bahwa kegagalan dan kesalahan adalah hal yang biasa dan bukanlah
kekalahan. Hal tersebut penting sebagai titik tolak pembelajaran agar kesalahan yang sama
tidak berulang
6. Ciptakan suatu kondisi ketika anak merasa berharga perihal sesuatu saat ia mampu
berprestasi. Misalnya, luangkan hari khusus untuk anak yang pintar bermain catur ketika ia
dapat bertanding catur dengan ayahnya.
Menurut Keliat et.al (2011) tindakan keperawatan yang dapat dilakukan untuk perkembangan
psikososial anak usia sekolah bertujuan untuk:
1. Anak
a. Tujuan
1) Anak mengenal kemampuan dirinya
2) Anak mengikuti kegiatan sosial
3) Anak meras puas terhadap keberhasilan yang dicapai
b. Intervensi keperawatan
1) Perkembangan yang normal (Industri)
a) Diskusikan kemampuan/kelebihan diri anak dan target pencapaian tugas
b) Berikan tugas sesuai kemampuan anak
c) Beri pujiann terhadap keberhasilan anak di sekolah dan di rumah
d) Fasilitiasi kegiatan kelompok: bermain, les, kegiatan keagamaan
e) Libatkan anak dalam kegiatan sehari-hari, seperti memasak, membuat kue,
membersihkan mobil, merapikan tempat tidur
2) Penyimpangan perkembangan (Harga diri rendah)
a) Diskusikan penyebab anak merasa tidak mampu
b) Berikan tugas sesuai dengan kemampuan anak
c) Beri pujian trhadap keberhasilan yang dicapai
d) Bantu anak agar berhasil
e) Libatkan dalam kegiatan yang mudah/sederhna
2. Keluarga
a. Tujuan
1) Keluarga mampu memahami pengertian perkembangan anak usia sekolah
2) Keluarga memahami ciri perkembangan anak usia sekolah yang normal dan
menyimpang
3) Keluarga mampu menyusun rencana stimulasi agar anak mampu berkarya
4) Keluarga mampu menstimulasi kemampuan anak berkarya
b. Intervensi keperawatan
1) Jelaskan ciri perkembangan anak usia sekolah yang normal dan anak yang
menyimpang
2) Jelaskan kepada keluarga mengenai cara menstimulasi kemampuan anak berkarya
a) Libatkan anak dalam kegiatan sehari-hari yang sederhana di rumah seperti
membuat kue, merapikan tempat tidur

b) Puji keberhasilan yang dicapai oleh anak


c) Diskusikan dengan anak mengenai harapannya dalam berinteraksi dan belajar
d) Tidak menuntut anak untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan
kemampuannya (menerima anak apa adanya), membantu kemampuan belajar
anak
e) Tidak menyalahkan dan menghina anak
f) Beri contoh cara menerima orang lain apa adanya
g) Beri kesempatan untuk mengikuti aktivitas kelompok yang terorganisasi
h) Buat/tetapkan aturan/disiplin di rumah bersama anak
3) Demonstrasikan dan latih cara menstimulasi kemampuan anak untuk berkarya
4) Bersama keluarga susun rencana stimulasi kemampuan berkarya anak
LAPORAN PENDAHULUAN

PONTENSIAL PEMBENTUKAN IDENTITAS DIRI PADA REMAJA (12-18 TAHUN)


(Pembentukan Identitas Diri VS Bingung Peran)

A. PENGERTIAN
Masa remaja adalah suatu masa peralihan yang melibatkan perubahan fisik dan biologis nyata.
Perjuangan konsep diri dan citra tubuh (bagaimana seseorang tampak bagi orang lain, khususnya sebaya)
dan kebutuhan untuk mengembangkan beberapa rencana hiduo mengkonstribusi peralihan di dalam diri.
Kebutuhan untuk hubungan yang intim adalah kuat dan percaya kepada persetujuan sebaya adalah
dominan (Stolte, 2004). Perkembangan psikososial remaja adalah kemampuan remaja untuk mencapai
identitas dirinya yang meliputi peran, tujuan pribadi, dan keunikan atau ciri khas diri. Kemampuan ini
tercapai melalui serangkaian tugas perkembangan yang harus diselesaikan oleh remaja. Jika tidak dapat
mencapai kemampuan tersebut, remaja akan mengalami kebingungan peran yang berdampak pada
rapuhnya kepribadian sehingga terjadi gangguan konsep diri (Keliat et.al, 2011).

B. KARAKTERISTIK PERILAKU REMAJA


Menurut Keliat et.al (2011) karakteristik perilaku remaja dibagi menjadi dua antara lain:
1. Perkembangan yang normal (Pembentukan identitas diri)
a. Menilai diri secara objektif
b. Merencanakan masa depannya
c. Dapat mengambil keputusan
d. Menyukai dirinya sendiri
e. Berinteraksi dengan lingkungannya
f. Bertanggung jawab
g. Mulai memperlihatkan kemandirian dalam keluarga
h. Menyelesaikan masalah dengan meminta bantuan orang lain yang menurutnya mampu
2. Peyimpangan perkembangan (bingung peran)

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Tidak menemukan ciri khas (kekuatan dan kelemahan) dirinya


Merasa bingung, bimbang
Tidak mempunyai rencana untuk masa depan
Tidak mampu berinteraksi dengan lingkungannya
Memiliki perilaku antisosial
Tidak menyukai dirinya
Sulit mengambil keputusan
Tidak mempunyai minat
Tidak mandiri

C. PROSES TERJADINYA MASALAH


Pada tahap ini anak remaja sangat mementingkan penampilannya luar. Bila ia memiliki nilai diri
(self esteem) yang rendah, perilaku kompensasi sering ditunjukkan. Tujuan perilaku kompensasi adalah
meningkatkan harga dirinya (self perfect) di hadapan rekan-rekan sebayanya. Karena itu, perilaku
kompensasi selalu dilakukan dalam kelompok. Perilaku kompensasi tersebut bertitik tolak dari kerancuan
siapa aku ini. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ia menampilkan ke orang lain bahwa apa aku ini
adalah seperti apa kalian (teladan,model). Pola perilaku kompensasi tersebut sangat ditentukan oleh
kecenderungan dominan dalam kelompok karena ia tidak mengetahui apa dirinya (role confusion). Begitu
hebatnya motivasi asertif ini sehingga superego dapat dimodifikasi. Untuk remaja muda dengan nilai diri
yang tinggi (berprestasi), tahap ini merupakan tahap tahap paling berkesan sepanjang hidupnya. Ia
mengetahui bahwa dirinya adalah individu unggul di bidang tertentu (identitas). Ia mengetahui, melalui
insting, pola perilaku yang harus ditampilkan, waktu dan tempat melakukannya. Karena itu, ia telah
membentuk dasar kesuksesan untuk masa depan. Mereka adalah penentu kelanggengan sistem sosialbudaya di masa depan. Baik karena usia maupun jumlah (Nurdin, 2011).
D. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Menurut Keliat et.al (2011) diagnosa keperawatan sehat yang dapat muncul tergantung dari tugas
perkembangan yang sudah dapat dilakukan oleh remaja antara lain:
1. Potensial (normal): Potensial pembentukan identitas diri
2. Risiko (penyimpangan): Risiko bingung peran

E. RENCANA TINDAKAN
Menurut Keliat et.al (2011) tindakan keperawatan yang dapat dilakukan untuk perkembangan
psikososial remaja antara lain:
1. Remaja
a. Tujuan:
1) Remaja mampu menyebutkan karakteristik perkembangan psikososial yang normal dan
menyimpang
2) Remaja mampu menjelaskan cara mencapai perkembangan psikososial yang normal
3) Remaja mampu melakukan tindakan untuk mencapai perkembangan psikososial yang normal
b. Tindakan
1) Perkembangan yang normal (Pembentukan identitas)
a) Diskusikan ciri perkembangan psikososial remaja yang normal dan menyimpang

b) Diskusikan cara untuk mencapai perkembangan psikososial yang normal


(1) Anjurkan remaja untuk berinteraksi dengan orang lain yang membuatnya nyaman
mencurahkan perasaan, perhatian dan kekhawatiran
(2) Anjurkan remaja untuk mengikuti organisasi yang mempunyai kegiatan positif (olah
raga, seni, bela diri, pramuka, keagamaan)
(3) Anjurkan remaja untuk melakukan kegiatan di rumah sesuai dengan perannya
c) Bimbing dan motivasi remaja dalam membuat rencana kegiatan dan melaksanakan
rencana yang telah dibuatnya.
2) Penyimpangan perkembangan (Bingung peran)
a) Diskusikan aspek positif/kelebihan yang dimiliki remaja
b) Bantu mengidentifikasi berbagai peran yang dapat ditampilkan remaja dalam
kehidupannya
c) Diskusikan penampilan peran yang terbaik untuk remaja
d) Bantu remaja mengidentifikasi perannya di keluarga
2. Keluarga
a. Tujuan
1) Keluarga mampu memahami perilaku yang menggambarkan perkembangan remaja yang
normal dan menyimpang
2) Keluarga mampu mampu memahami cara menstimulasi perkembangan remaja
3) Keluarga mampu mendemonstrasikan tindakan untuk menstimulasi perkembangan remaja
4) Keluarga mampu merencanakan tindakan untuk mengembangkan kemampuan psikososial
remaja
b. Tindakan
1) Jelaskan ciri perkembangan remaja yang normal dan menyimpang
2) Jelaskan cara yang dapat dilakukan keluarga untuk memfasilitasi perkembangan remaja yang
normal
a) Fasilitasi remaja untuk berinteraksi dengan kelompok sebaya
b) Anjurkan remaja untuk bergaul dengan orang lain yang membuatnya nyaman
mencurahkan perasaan, perhatian, dan kekhawatiran
c) Anjurkan remaja untuk mengikuti organisasi yang mempunyai kegiatan yang positif (olah
raga, seni, bela diri, pramuka, pengajian)
d) Berperan sebagai teman curhat bagi remaja
e) Berperan sebagai contoh bagi remaja daam melakukan interaksi sosial yang baik
f) Beri lingkungan yang nyaman bagi remaja untuk melakukan aktivitas bersama dengan
kelompoknya
3) Diskusikan dan demonstrasikan tindakan untuk membantu remaja memperoleh identitas diri
4) Diskusikan rencana tindakan yang akan dilakukan keluarga untuk memfasilitasi remaja
memperoleh identitas diri

Daftar Pustaka

Keliat,Budi Dkk.(2011).Manajemen keperawatan Psikososial dan Kader Kesehatan Jiwa.Jakarta EGC

Stuart,(2009).Principle and Practice of Psychiatric Nursing.9th edition.Mosby

Suliswati Dkk.(2005).Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa.Jakarta EGC

........................(2011).Draf Standard Asuhan Keperawatan Program Pendidikan Kekhususan Keperwatan Jiwa


Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia

Nurdin, A.E.(2011). Tumbuh kembang Perilaku Manusia. Cetakan I. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Stolte, K.M. (2004). Diagnosa Keperawatan Sejahtera (Wellness Nursing Diagnosis). Cetakan 1. Jakarta:
penerbit buku kedokteran EGC

LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL DEWASA MUDA
(18-25 TH)
INTIM VERSUS ISOLASI

A.

Pengertian
Perkembangan psikososial dewasa muda (18-25 tahun) adalah tahapan perkembangan individu
mampu melakukan interaksi yang akrab dengan orang lain, terutama lawan jenis dan mempunyai pekerjaan.
Pada tahap ini, individu mencoba untuk mandiri dan mencukupi kebutuhannya dengan bekerja. Interaksi
yang dilakukan mengarah pada bekerja, perkawinan dan mempunyai keluarga yang menjadi bagian dari
masyarakat. Kegagalan dalam berhubungan akrab dan memperoleh pekerjaan dapat menyebabkan individu
menjauhi pergaulan dan merasa kesepian kemudian menyendiri (Keliat et.al, 2011).

B.

Karakteristik perilaku Dewasa Muda

TUGAS PERKEMBANGAN
Perkembangan yang normal : akrab
dengan orang lain

PERILAKU DEWASA MUDA

a. Menjalin interaksi yang hangat dan akrab


dengan orang lain
b. Mempunyai hubungan dekat dengan orang
orang tertentu (pacar, sahabat)
c. Mempunyai hubungan heteroseksual dan
membentuk keluarga

d. Mempunyai komitmen yang jelas dalam


bekerja dan berinteraksi
e. Merasa mampu mandiri untuk kehidupan
(sudah bekerja)
f. Memperlihatkan tanggung jawab secara
ekonomi, sosial dan emosional
g. Mempunyai konsep diri yang realistis/
sesuai kenyataan
h. Menyukai dirinya dan mengetahui tujuan
hidupnya
i. Berinteraksi baik dengan keluarga
j. Mampu mengatasi stress akibat perubahan
dirinya
k. Menganggap
kehidupan
sosialnya
bermakna
l. Mempunyai nilai yang menjadi pedoman
hidupnya
Penyimpangan perkembangan :
menyendiri/isolasi

C.

a. Ketakutan / tidak siap menerima akibat


perbuatannya
b. Sulit untuk memulai suatu hubungan
c. Tidak mempunyai teman dekat
d. Menghindari komitmen dalam berinteraksi
e. Mudah beralih dalam bekerja/karier atau gaya
hidup, mudah terpengaruh
f. Tidak mempunyai nilai sebagai pedoman hidup
g. Tidak mempunyai hubungan akrab dengan orang
lain
h. Tidak mampu mengatasi stress

Proses Terjadinya Masalah


Pada tahap ini fisik dan ego harus mampu menguasai mekanismen reaksi somatis dan berbagai konflik
internal lainnya dalam upaya mengatasi ketakutan terhadap kehilangan ego sehingga timbul situas dari
kenyataan (self abandon). Pencegahan timbulnya situasi ini akan mengembangkan keterbukaan dan
kepuasan diri (self absorption). Intimacy Vs isolation ini segera dimulai saat tahap masih mengandung
konflik tahap ke 5 yang memberi nuansa dewasa muda masih ingin menggabungkan identitas dirinya
dengan kelompok. Mereka ingin diterima dan diakui dalam kelompok sebayanya. Kecenderungan ini
berlanjut terus sampai masa dewasa bahkan sampai masa tua. Namun dalam tahap ini, individu harus siap
untuk memahami intimacy (hubungan antarpersonal yang sangat dekat), dan juga isolation (kenyataan
bahwa kita adalah kita, dia adalah dia, sendirian dan terpisah dari yang lain). Kemampuan untuk
menyeimbangkan intimacy dengan isolation adalah prasyarat cinta pada pasangan hidup. Kita harus
mengetahui cara mencapai kesendirian dan belajar mencintai seseorang secara intim untuk melebur
menjadi bagian diri kita yang tidak terpisahkan. Nilai terpenting dalam tingkat perkembangan ini adalah
kesetiaan absolut terhadap keluarga yang terdiri atas suami, istri, anak (fidelity). Nilai fidelity ini
mencerminkan tingkat peradapan. Semakin rendah tingkat suatu peradapan, pemuasan motivasi banal,

seperti seksualitas semakin diutamakan. Semakin tinggi tingkat peradapan nilai estetik dan kesetiaan
semakin diutamakan. Karena itu, suatu sistem sosial-budaya yang masih membenarkan poligami berarti
masih berada dalam tahap perkembangan semi-primitif.
Ego harus siap bila intimacy harus berakhir (perceraian,pasangan hidup meninggal, dikhianati,dll).
Karena pada usia inilah, manusia dapat hidup berpasangan. Pada kehidupan suami istri, fungsi seksualitas
terdiri atas seksualitas banal (ketertarikan fisik) dan seksualitas estetik (ketertarikan berdasarkan sifat-sifat
internal). Fungsi seksualitas banal hanya penting pada usia produktif. Semakin dewasa usia perkawinan,
semakin tinggi usia kronologis, dan semakin tinggi tingkat peradapan seseorang, kepentingan fungsi
seksualitas estetik semakin bertambah. Pada tahap dewasa, fungsi seksualitas estetik mendominasi fungsi
seksualitas banal, dan pada usia tua, fungsi seksualitas estetik merupakan satu-satunya fungsi seksualitas
karena fungsi biologis telah sangat menurun.
D.

Diagnosa Keperawatan
Potensial (Normal): Potensial berhubungan akrab dengan orang lain
Resiko (Penyimpangan): Risiko isolasi sosial

E.

Tindakan keperawatan
Menurut Keliat et.al (2011) tindakan keperawatan untuk perkembangan psikososial dewasa muda
bertujuan :
1. Dewasa Muda
a. Tujuan
1) Individu dewasa muda mampu memahami karakteristik perkembangan psikososial yang
normal dan menyimpang
2) Individu dewasa muda mampu memahami cara mencapai perkembangan psikososial yang
normal :
Berinteraksi dengan banyak orang termasuk lawan jenis
M empunyai pekerjaan
3) Individu dewasa muda mampu melakukan tindakan untuk mencapai perkembangan psikososial
yang normal
b. Intervensi
Tindakan keperawatan untuk perkembangan psikososial dewasa muda:
a. Diskusikan tentang perkembangan psikososial yang normal dan menyimpang
b. Diskusikan cara mencapai perkembangan psikososial yang normal :
a) Menetapkan tujuan hidup
b) Berinteraksi dengan banyak orang termasuk lawan jenis
c) Berperan serta/ melibatkan diri dalam kegiatan di masyarakat
d) Memilih calon pasangan hidup
e) Menetapkan karier/pekerjaan
f) Mempunyai pekerjaan
c. motivasi dan berikan dukungan pada individu untuk melakukan tindakan yang dapat memenuhi
perkembangan psikososialnya.
2. Keluarga

a. Tujuan
1) Keluarga mampu memahami perilaku yang menggambarkan perkembangan dewasa muda
yang normal dan menyimpang
2) Keluarga mampu memahami cara menstimulasi perkembangan dewasa muda
3) Keluarga mampu mendemonstrasikan tindakan untuk menstimulasi perkembangan dewasa
muda
4) Keluarga mampu merencanakan cara menstimulasi perkembangan dewasa muda
b. Intervensi
1) Jelaskan kepada keluarga tentang perkembangan dewasa muda yang normal dan
menyimpang
2) Diskusikan dengan keluarga mengenai cara memfasilitasi perkembangan psikososial dewasa
muda yang normal
3) Latih keluarga untuk memfasilitasi perkembangan psikososial dewasa muda yang normal

Daftar Pustaka

Keliat,Budi Dkk.(2011).Manajemen keperawatan Psikososial dan Kader Kesehatan Jiwa.Jakarta EGC

Stuart,(2009)Principle and Practice of Psychiatric Nursing.9th edition.Mosby

Suliswati Dkk.(2005).Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa.Jakarta EGC

........................(2011).Draf Standard Asuhan Keperawatan Program Pendidikan Kekhususan Keperwatan Jiwa


Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia

Nurdin, A.E.(2011). Tumbuh kembang Perilaku Manusia. Cetakan I. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Stolte, K.M. (2004). Diagnosa Keperawatan Sejahtera (Wellness Nursing Diagnosis). Cetakan 1. Jakarta:
penerbit buku kedokteran EGC

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL DEWASA


PERTENGAHAN (25-60 TAHUN)
Generatity/Menyiapkan Generasi berikutnya Vs terhambat/Stagnasi
A. Pengertian Usia Dewasa Pertengahan
Individu yang berada pada rentang usia 25 s.d 65 tahun, dimana memiliki tugas
perkembangan yaitu memiliki identitas personal yang matang (fisik dan psikologis) di dalam
kehidupan keluarga, masyarakat, dan pekerjaan. Individu yang berada pada usia dewasa lanjut
(middle adulthood) berada pada rentang usia 25 s.d 65 tahun, mencerminkan kemajuan dan
pencapaian tujuan hidup yang sebelumnya ditetapkan. Pernikahan, gaya hidup, anak, pekerjaan,
dan kualitas hidup merupakan subjek yang perlu dikaji dengan cermat. Stressor seperti perubahan
didalam karir (promosi jabatan, PHK. Perubahan jenis pekerjaan), perubahan didalam unit
keluarga (kematian, depresi, atau gangguan psikosomatis(Stuart & Sundeen, 1991; Townsend,
2008; Varcarolis, 2010).
Perkembanga individu dewasa adalah individu mampu terlibat dalam kehidupan keluarga,
masyarakat, pekerjaan dan mampu membimbing anaknya. Masa dewasa ditandai dengan
kebebasan pribadi, kestabilan keuangan dan interaksi sosial yang baik karena pada masa ini

individu mulai beranjak dewasa dan berkeluarga. Individu dewasa akan menyadari bahwa
tanggung jawab bertambah pada masa ini. Kegagalan dalam mencapai kemampuan tersebut
dapat menyebabkann ketergantungan baik dalam pekerjaan maupun keuangan (Keliat.et.al,
2011).
B. Karakteristik Perilaku
1. Karakteristik perilaku normal
Karakteristik perilaku normal pada individu ditahap usia perkembangan dewasa antara lain:
a. Membimbing dan menyiapkan generasi penerus
b. Memperhatikan kebutuhan orang lain/lingkungan
c. Kreatif (mampu mengambil alternatif penyelesaian masalah).
d. Produktif (dapat mengisi waktu luang dengan hal positif).
e. Menerima perubahan fisik dan psikologis
f. Menyesuaikan diri dengan orang tuanya yang sudah lanjut usia.
g. Menrasa nyaman dengan pasangannya
h. Menilai pencapaian hidupnya
2. Karakteristik perilaku menyimpang
a. Tidak dapat melakukan hal yang berguna
b. Bertindak sesuka hati/semaunya sendiri
c. Hanya memperhatikan diri sendiri
d. Kurang mempunyai keinginan bekerja dan berkeluarga
e. Tidak mempunyai komitmen pribadi
C. Proses Terjadi Masalah
Istilah generativity per definisi adalah membangung (establishing) dan menuntun (guiding)
generasi mendatang. Generativity adalah parameter peradapan dan pengertiannya jauh lebih luas
dari membesarkan dan mengasuh anak, yang hanya merupakan sebagian dari generativity. Kita
juga mengetahui bahwa kelompok, institusi, bahkan bangsa terdiri dari individu-individu. Dalam
cakupan institusi, kelompok, atau bangsa, generativity berekspresi sebagai kaderisasi yang bersifat
estetik. Kita dapat menilai kematangan individu dari generativity, dengan mengetahui apakah sang
anak mewarisi beberapa keunggulan orang tuanya dan mampu mengembangkan secara estetik
dan bukan dari anggapan bahwa anak seseorang dokter akan menjadi dokter juga yang bersifat
banal. Kita dapat menilai kematangan dari seseorang individu Apakah yang telah dicapainya
dapat menjadi titik tolak untuk dikembangkan generasi mendatang yang bersifat estetik dan bukan
dari banyaknya warisan yang ditinggalkan untuk keturunannya yang bersifat banal. Kita dapat
menilai kematangan suatu kelompok, institusi, atau bangsa dari berhasil tidaknya pencapaian
suatu bangsa pada era berikutnya yang bersifat estetik dan bukan dari gedung-gedung yang
ditinggalkan pada suatu era yang bersifat banal. Kita juga menilai generativity dari nilai estetika
budaya yang berlaku dalam suatu sistemn poendidikan tinggi, yaitu orang yang lebih muda, tetapi
lebih berprestasi secara akademis yang mengacu pada sistem nilai dan bukan dari lama bekerja,
pangkat kepegawaian, dan hal-hal lain yang bersifat banal. Pada keadaan-keadaan tersebut,
hanya terdapat dua pikihan, generativity dan stagnasi. Kita dapat menilai tingkat peradaban
individu atau kelompok dari tingkat generativity. Bila individu, kelompok, institusi atau bahkan
bangsa mengalami stagnasi, berarti masih belum mencapai tingkat peradaban tinggi atau bahkan
tingkat peradabannya menurun atau mengalami dekadensi.

D. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Potensial (normal): Potensial untuk produktif
Risiko (penyimpangan): Risiko terjadi stagnasi/terhambat
E. TINDAKAN KEPERAWATAN
1. Dewasa
a. Tujuan
1) Individu dewasa mampu memahami perkembangan psikososial yang normal dan
menyimpang
2) Individu dewasa mampu memahami tindakan untuk mencapai perkembangan
psikososial yang normal
3) Individu dewasa mampu melakukan tindakan untuk mencapai perkembangan
psikososial yanng normal
b. Tindakan
1) Perkembangan yang normal: generativity/menyiapkan generasi berikutnya
a) Diskusikan dengan individu dewasa mengenai perkembangan psikososial yang
normal dan menyimpang
b) Diskusikan cara mencapai perkembangan psikososial yang normal
Menerima proses penuaan dan perubahan peran yang terjadi di keluarga
Menikmati kebebasan dan kemandirian, seperti dapat mengatur kegiatannya,
melakukan hal-hal yang disenangi, membeli barang yang disukai
Berinteraksi dengan baik dan berbagi aktivitas rumah tangga dan pasangan
Memperluas dan memperbarui minat dan kesenangan.
Melakukan aktivitas sampingan(hobi) yang diminati
c) Motivasi dan berikan dukungan untuk melakukan tindakan yang dapat memenuhi
perkembangan psikososial dewasa
d) Motivasi dan dorong dalam membimbing generasi berikutnya.
2) Penyimpangan perkembangan (Stagnasi/terhambat)
a) Diskusikan dengan individu dewasa mengenai penyebab hambatan dalam
mencapai tugas perkembangannya, seperti sakit kronis/terminal, tugas
perkembangan sebelumnya tidak tercapai, perpisahan/kehilangan dalam keluarga
b) Diskusikan cara mengatasi hambatan tersebut
Mengobati penyakit fisik yang dialami anggota keluarga
Memenuhi tugas perkembangan anggota keluarga secara optimal
Motivasi dan dampingi individu dalam menyelesaikan masalah
Motivasi atau berikan dukungan pada individu untuk melakukan tindakan yang
dapat memenuhi perkembangan psikososialnya
2. Keluarga
a) Tujuan
1) Keluarga mampu menjelaskan perilaku yang menggambarkan perkembangan individu
dewasa yang normal dan menyimpang
2) Keluarga mampu menjelaskan cara memfasilitasi perkembangan psikososial dewasa
3) Keluarga mampu memfasilitasi perkembangan psikososial dewasa

4) Keluarga mampu merencanakan tindakan untuk mencapai perkembangan psikososial


dewasa normal
b) Intervensi
1) Perkembangan yang normal (generativity/menyiapkan generasi berikutnya)
a) Diskusikan dengan keluarga mengenai cara memfasilitasi perkembangan individu
dewasa yang normal
Menerima proses penuaan dan perubahan peran yang terjadi di keluarga
Menikmati kebebasan dan kemandirian
Berinteraksi dengan baik dan berbagi aktivitas rumah tangga dengan
pasangan
Memperluas dan memperbarui minat dan kesenangan
Melakukan aktivitas sampingan (hobi) yang diminati
b) Latih keluarga untuk memfasilitasi perkembangan psikososial individu dewasa.
2) Penyimpangan perkembangan (Stagnasi/terhambat)
a) Diskusikan dengan keluarga mengenai penyebab hambatan dalam mencapai tugas
perkembangannya saat ini, seperti tidak mencapai tugas perkembangan
sebelumnya, penyakit fisik, perpecahan keluarga.
b) Diskusikan dengan keluarga mengenai cara menyelesaikan masalah anggota
keluarga dewasa.
c) Diskusikan dengan keluarga mengenai cara mengatasi hambatan
Mengobati penyakit fisik yang dialami anggota keluarga.
Memenuhi tugas perkembangan anggota keluarga secara optimal.
d) Diskusikan denga keluarga mengenai cara mencapai perkembangan psikososial
anggota keluarga dewasa.
Menerima proses penuaan dan perubahan peran yang terjadi di keluarga
Menikmati kebebasan dan kemandirian
Berinteraksi dengan baik dan berbagi aktivitas rumah tangga dengan
pasangan.
Memperluas dan memperbarui minat dan kesenangan
Melakukan aktivititas sampingan(hobi) yang diminati.
Daftar Pustaka
Keliat,Budi Dkk.(2011).Manajemen keperawatan Psikososial dan Kader Kesehatan Jiwa.Jakarta EGC
Stuart,(2009)Principle and Practice of Psychiatric Nursing.9th edition.Mosby
Suliswati Dkk.(2005).Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa.Jakarta EGC
........................(2011).Draf Standard Asuhan Keperawatan Program Pendidikan Kekhususan Keperwatan
Jiwa Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia
Nurdin, A.E.(2011). Tumbuh kembang Perilaku Manusia. Cetakan I. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Stolte, K.M. (2004). Diagnosa Keperawatan Sejahtera (Wellness Nursing Diagnosis). Cetakan 1. Jakarta:
penerbit buku kedokteran EGC

Laporan Pendahuluan
Diagnosa Keperawatan Sehat
POTENSIAL BERKEMBANGNYA INTEGRITAS DIRI (LANSIA)
A.

Pengertian
Dalam perkembangan psikososial menurut Erickson, Lansia (> 65 tahun ke atas) atau
sering disebut Integrity versus despair/putus asa (Nurdin, 2011). Perkembangan psikososial lanjut
usia adalah tercapainya integritas diri yang utuh. Pemahaman terhadap makna hidup secara
keseluruhan membuat lansia berusaha menuntun generasi berikutnya (anak dan cucunya)
berdasarkan sudut pandangnya. Lansia yang tidak mencapai integritas diri akan merasa putus asa
dan menyesali masa lalunya karena tidak merasakan hidupnya bermakna. Walaupun tidak ada
batasan yang pasti mengenai lanjut usia, beberapa gerontologist menggunakan pembagian yang
paling sederhana yaitu membagi lansia dalam 3 klasifikasi, yaitu young old (60-74 thn), middle old
(75-84 thn) dan old old (>85 thn) (Townsend, 2009).
Kita dapat bangga dengan keberhasilan yang telah dicapai, gembira dalam masa bahagia,
menerima kegagalan dan bangga karena berhasil mengatasinyanya, dan yang terpenting kita
memaafkan diri sendiri atas kesalahan dan dosa kita. Dengan demikian, kita akan mencapai
integritas. Bila sang maut datang, kita dapat mengalami penyesalan dan kekecewaan karena
merasa gagal dalam kehidupan. Untul memperkuat integritas, keyakinan tentang tentang
kehidupan di alam lain setelah kematian diperlukan. Hal yang penting bukanlah ritual, melainkan
pemahaman konsep kita tentang entitas metafisika tersebut. Untuk mencapai integritas tersebut,
kita harus senantiasa berpikir positif, terlepas dari perbuatan-perbuatan yang telah kita lakukan di
masa silam (Nurdin, 2011). Tugas perkembangan masa lansia adalah integritas ego, bagian dari
tugas ini adalah menerima apa yang telah dilakukan seseorang dengan bijak tanpa
memperhatikan masa sakit dan perjuangan yang terjadi sepanjang perjalanannya. Banyak
penyesuaian yang mungkin timbul yang menghasilkan dari masa pensiun, kematian orang yang
dicintai, penurunan kesehatan dan kekurangan penghasilan (Stolte, 2004).

B.

Karakteristik Perilaku Perkembangan Lansia


Menurut Keliat (2011) Tugas perkembangan yang normal dari lansia adalah dapat dicapainya
integritas diri atau dicapainya keutuhan konsep diri
1. Mempunyai harga diri tinggi, atau tidak mempunyai penilaian yang negatif tentang dirinyan
sendiri
2. Menilai kehidupan yang dilalui adalah hal yang berarti
3. Menerima nilai dan keunikan orang lain dan menerima
4. Menyesuaikan kematian pasangan
5. Menyiapkan diri untuk menerima datangnya kematian
6. Melaksanakan kegiatan agama secara rutin
7. Merasa dicintai dan berarti dalam keluarga
8. Berpartisipasi dalam kegiaan sosial dan kelompok masyarakat
9. Menyiapkan diri ditinggalkan anak yang telah mandiri

C.

D.
1.

Tugas perkembangan yang menyimpang adalah putus asa (Keliat, et.al, 2011) antara lain:
Memandang rendah/menghina atau mencela orang lain, Merasa kehidupannya selama ini tidak
berarti, Merasakan kehilangan dan masih ingin berbuat banyak akan tetapi takut tidak mempunyai
waktu lagi
Diagnosa Keperawatan
Potensial (*Normal)
: Potensial berkembangnya Integritas Diri
Risiko (Penyimpangan) : Risiko Keputusasaan
TINDAKAN KEPERAWATAN

Tujuan
Lansia dapat menyebutkan karakteristik perkembangan psikososial yang normal dan
menyimpang, merasa disayangi dan dibutuhkan keluarganya dan mampu mengikuti kegiatan
social dan keagamaan di lingkungannya.
2)
Lansia dapat menjelaskan cara mencapai perkembangan psikososial yang normal
dan merasa hidupnya bermakna.
3)
Lansia mampu melakukan tindakan untuk mencapai perkembangan psikososial
yang normal.
2.
Tindakan Keperawatan
Tindakan Keperawatan bagi Perkembangan Psikososial Lansia yang normal (Integritas
diri/keutuhan konsep dir)i
a. Jelaskan ciri perilaku perkembangan lansia yang normal dan menyimpang
b. Diskusikan cara yang dapat dilakukan oleh lansia untuk mencapai integritas diri yang utuh :
a)
Mendiskusikan makna hidup lansia selama ini
b)
Melakukan life review (menceritakan kembali masa lalunya, terutama keberhasilannya)
c)
Mendiskusikan keberhasilan yang telah dicapai lansia
d)
Mengikuti kegiatan sosial di lingkungannya
e)
Melakukan kegiatan kelompok
c. Bimbing lansia membuat rencana kegiatan untuk mencapai integritas diri yang utuh.
d. Motivasi lansia untuk menjalankan rencana yang telah dibuatnya
Tindakan Keperawatan bagi perkembangan Psikososial yang menyimpang
(keputusasaan) antara lain:
a. Diskusikan penyebab dan hambatan dalam mencapai tugas perkembangan lansia seperti
adanya penyakit dan putus asa
b. Diskusikan cara mengatasi hambatan dan motivasi keinginan lansia untuk mengobati
penyakitnya fisik yang dialaminya
c. Bantu lansia bersosialisasi secara bertahap
d. Fasilitasi untuk ikut kegiatan kelompok lansia
Keluarga
a. Tujuan
1)
Keluarga dapat menjelaskan perilaku lansia yang menggambarkan perkembangan
psikososial yang normal dan menyimpang
2)
Keluarga dapat menjelaskan cara memfasilitasi perkembangan psikososial lansia
3)
Keluarga melakukan tindakan untuk memfasilitasi perkembangan psikososial lansia
4)
Keluarga merencanakan stimulasi untuk mengembangkan kemampuan psikososial
lansia
b. Tindakan Keperawatan
1)

a)
b)
c)
d)
e)

Tindakan Keperawatan bagi Perkembangan Psikososial Lansia yang normal (Integritas


diri/keutuhan konsep diri:i
1) Jelaskan perkembangan psikososial yang normal dan menyimpang pada keluarga
2) Mendiskusikan cara memfasilitasi perkembangan psikososial lansia yang normal dengan
keluarga
Bersama lansia mendiskusikan makna hidupnya selama ini
Mendiskusikan keberhasilan yang telah dicapai lansia
Mendorong lansia untuk mengikuti kegiatan sosial (arisan, menengok yang sakit, dll) di
lingkungannya
Mendorong lansia untuk melakukan kegiatan kelompok.
Mendorong lansia untuk melakukan life review (menceritakan kembali masa lalunya
terutama keberhasilannya)
3) Melatih keluarga untuk memfasilitasi perkembangan psikososial lansia
4) Membuat stimulasi perkembangan psikososial lansia
Tindakan Keperawatan bagi Perkembangan Psikososial Lansia yang menyimpang
(keputusasaan)
1) Diskusikan dengan keluarga mengenai penyebab hambatan dalam mencapai tugas
perkembangan lansia saat ini, seperti penyakit fisik
2) Motivasi dan dampingi keluarga dalam menyelesaikan masalah tersebut
3) Diskusikan cara mengatasi hambatan tersebut dengan cara mengobati penyakit fisik yang
dialami dan memenuhi tugas perkembangan secara optimal
4) Diskusikan cara mencapai tugas perkembangan psikososial lansia

DAFTAR PUSTAKA
Potter, Patricia A. and Perry, Anee G. (1985). Fundamentals of Nursing concept, process, and practice.
St. Louis : The C.V. Mosby Compan
Spesialis Jiwa FIK 2005-2007 dan tim pengajar spesialis jiwa (2008). Draft Standar Asuhan
Keperawatan Program Spesialis Jiwa. Jakarta : Progaram Magister Keperawatan Jiwa FIK UI
Stolte, K. (2004), Diagnosa Keperawatan Sejahtera. Jakarta: EGC.
Stuart. (2009). Principles and Practice of Psychiatric Nursing. 9th ed. Canada: Mosby Elsevier.
Townsend. (2009). Psychiatric Mental Health Nursing. 6th ed. Philadelphia : FA Davis Company.
Kelia, B.A, Helena, N dan Farida, P. (2011). Manajemen Keperawatan Psikosial & Kader Kesehatan
Jiwa. Cetakan I, Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC