Anda di halaman 1dari 26

1

BAB I
STATUS PASIEN
1.1.

1.2.

Identifikasi Pasien
Nama

: Nn. Trio Safitri

Jenis Kelamin

: Perempuan

Tanggal Lahir

: 11 Maret 1996

Umur

: 19 tahun

Alamat

: Kertapati

Warga Negara

: Indonesia

Agama

: Islam

No. Rekam Medik

: 894031

MRS

: 23 Mei 2015

Anamnesis (Autoanamnesis, 25 Mei2015)

1.2.1. Keluhan Utama


Penderita merasa nyeri dan sakit saat membuka mulut setelah kecelakaan
lalu lintas.
1.2.2. Riwayat Perjalanan Penyakit
15 jam sebelum masuk rumah sakit (SMRS), pasien dibonceng oleh
temannya dengan sepeda motor di daerah Kertapati, tiba-tiba kendaraan pasien
menabrak motor dari sisi samping. Pasien terjatuh dengan kepala membentur
benda keras. Nyeri kepala (+), pusing (-), mual (-), muntah (-), mati rasa bibir dan
pipi (-), keluar darah dari hidung (-), keluar cairan dari telinga (-), pandangan
kabur (-), kelemahan anggota gerak (-). BAB dan BAK tidak ada keluhan. Pasien
merasa nyeri dan sulit menggerakkan rahang.
Dalam keadaan sadar, pasien ditolong dan dibawa ke RSUD Bari
kemudian dirujuk ke IGD RSUP dr. Moh. Hoesin Palembang
.

1.2.3. Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat gangguan pembekuan darah, alergi, asma disangkal

Riwayat merokok dan konsumsi alkohol disangkal.

Riwayat alergi obat disangkal

Riwayat kencing manis, hipertensi, jantung disangkal

Riwayat trauma disangkal

1.2.4. Riwayat Penyakit Dalam Keluarga


Disangkal
1.3.

Pemeriksaan Fisik (5 Maret 2015)


PRIMARY SURVEY

Airway
= Baik
Breathing
RR
= 18x/menit
Jejas di region thorax (-), retraksi (-) : breathing adekuat
Circulation
Nadi
= 80x/menit, isi dan tegangan cukup
TD
= 130/80mmHg
Temperatur
= 36,8 oC
CRT
= <2 detik
Warna kulit
= normal
Turgor kulit
= baik
Disability
Respon
= alert
Pupil
= isokor
Refleks cahaya = +/+
GCS
= 15 (E4V5M6)
Skala nyeri 4

SECONDARY SURVEY
Status Generalis
Keadaan Umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos mentis

Tekanan Darah

: 130/80 mmHg

Nadi

: 80 x/menit

Pernafasan

: 18 x/menit

Suhu

: 36,8C

Kepala
:
Normocefali, simetris, hematom (-)
Mata
:
Konjungtiva palpebra pucat (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor,
refleks cahaya (+/+)
Telinga :
Sekret (-), cairan bening (-), hematom periaurikuler (-)
Mulut
:
Mukosa mulut dan bibir kering (-), sianosis (-) dan lidah pucat (-).
Leher
:
Pembesaran kelenjar getah bening (-)
Thoraks
o Paru
Inspeksi: pergerakan dinding dada simetris saat statis dan
dinamis, retraksi (-)
Palpasi: stem fremitus kanan dan kiri sama
Perkusi: sonor pada kedua lapangan paru
Auskultasi: Vesikuler (+), ronki (-), wheezing (-)
o Jantung
Inspeksi: Iktus kordis tidak terlihat.
Palpasi: Iktus kordis tidak teraba
Perkusi: Batas atas jantung ICS II batas kanan jantung ICS V
linea parasternalis sinistra, batas kiri jantung ICS V linea

midaksilaris anterior sinistra.


Auskultasi: HR:80x/menit, BJ I dan II normal, murmur (-), dan

gallop (-)
Abdomen
o Inspeksi: datar
o Palpasi: nyeri tekan (-), hepar tidak teraba, lien tidak teraba, massa
(-), defans muskular (-)
o Perkusi: Timpani
o Auskultasi : Bising usus (+) normal
Genitalia Eksterna :
Tidak ada kelainan

Ekstremitas superior : akral dingin (-/-), sianosis (-./-), pucat (-/-),

fraktur (-)
Ekstremitas inferior : akral dingin (-/-), sianosis (-./-), pucat (-/-),
fraktur (-)

Status Lokalis

Regio Frontal
Inspeksi : tampak luka lecet ukuran 2x1 cm
Regio Zigomatic dextra
Inspeksi : tampak luka lecet ukuran 3x2 cm
Regio mandibula

Inspeksi: Deformitas (+), maloklusi (+), trismus (+).


Palpasi : Step off (+), maloklusi (+), nyeri tekan (+)
1.4.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium (23 Mei2015)
Hematologi :

Hemoglobin
Eritrosit
Leukosit
Hematokrit
Trombosit
Differential count

: 11,9 g/dl
: 3,56x106/mm3*
: 13.000/mm3*
: 35%*
: 261.000/L
: 0/1/67/26/6`

(11,7-15,5 g/dL)
(4,20-4,87 x106/mm3)
(4.500 - 11.000/ mm3)
(43-49%)
(150.000 450.000/L)
(0-1/1-6/2-6/50-70/25-40/2-8)

Kimia Klinik :

BSS
: 94mg/dl (<200)
Elektrolit
o Natrium (Na) : 143 mEq/L (135-155)
o Kalium (K) : 3,1 mEq/L (3,5-5,5)

Rontgent Cranium AP/Lateral (22 Mei 2015)


Kesan : Fraktur segmental mandibula, Angulus mandibula dextra dan
parasimphisis mandibula sinistra.

Gambar 1. Rontgent Cranium AP

Gambar 2. Rontgent Cranium Lateral


1.5.

Diagnosis Kerja
Fraktur segmental mandibula

1.6.

Penatalaksanaan

1.7.

IVFD NaCl 0,9% XXV/menit (1800cc/24jam)


Head up 30
Ceftriaxon 2x1 g IV
Ketorolac 3x30 mg IV
ATS 1500 IU M
Pro ORIF mandibule elektif

Prognosis

Quo ad vitam
Quo ad functionam

: bonam
: dubia ad bonam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Pendahuluan
Fraktur mandibula adalah putusnya kontinuitas tulang mandibula.

Hilangnya kontinuitas mandibula dapat berakibat fatal bila tidak ditangani dengan

benar. Fraktur mandibula merupakan fraktur kedua tersering pada kerangka wajah
karena posisinya yang menonjol sehingga rentan terhadap benturan. Diagnosis
fraktur mandibula dapat ditunjukkan dengan adanya rasa sakit, pembengkakan,
nyeri tekan, dan maloklusi. Patahnya gigi, adanya gap, tidak ratanya gigi, tidak
simetrisnya arcus dentalis, gigi yang longgar, trismus dan krepitasi juga
menunjukkan kemungkinan adanya fraktur mandibula.2
Secara khusus penanganan fraktur mandibula dan tulang pada wajah
(maksilofasial) mulai diperkenalkan oleh Hipocrates (460-375 SM) dengan
menggunakan panduan oklusi sebagai dasar diagnosis fraktur mandibula. Pada
perkembangan selanjutnya, para klinisi juga menggunakan oklusi sebagai konsep
dasar penanganan fraktur mandibula dan tulang wajah. Hal ini diikuti dengan
perkembangan teknik fiksasi mulai dari penggunaan pengikat kepala (head
bandages), pengikat rahang atas dan bawah dengan kawat (intermaxilary
fixation), serta fiksasi dan imobilisasi fragmen fraktur dengan menggunakan plat
tulang (plate and screw).3

2.2.

Definisi
Fraktur mandibula adalah putusnya kontinuitas tulang mandibula.

Hilangnya kontinuitas pada rahang bawah (mandibula), dapat disebabkan oleh


trauma baik secara langsung atau tidak langsung. Fraktur mandibula dapat terjadi
pada bagian korpus, angulus, ramus maupun kondilus.4

2.3.

Anatomi
Mandibula merupakan tulang yang besar dan paling kuat di daerah muka.

Dibentuk oleh dua bagian simetris yang mengadakan fusi dalam tahun pertama
kehidupan. Tulang ini terdiri dari korpus, yaitu suatu lengkungan tapal kuda dan
sepasang ramus yang pipih dan lebar yang mengarah keatas pada bagian belakang
dari korpus. Pada ujung dari masing-masing ramus didapatkan dua buah
penonjolan disebut prosesus kondiloideus dan prosesus koronoideus. Prosessus
kondiloideus terdiri dari kaput dan kolum. Permukaan luar dari korpus mandibula

pada garis median, didapatkan tonjolan tulang halus yang disebut simfisis mentum
yang merupakan tempat pertemuan embriologis dari dua buah tulang.
Bagian korpus mandibula membentuk tonjolan disebut prosesus alveolaris
yang mempunyai 16 buah lubang untuk tempat gigi. Bagian bawah korpus
mandibula mempunyai tepi yang lengkung dan halus. Pada pertengahan korpus
mandibula kurang lebih 1 nchi dari simfisis didapatkan foramen mentalis yang
dilalui oleh vasa dan nervus mentalis. Permukaan dalam dari korpus mandibula
cekung dan didapatkan linea milohiodea yang merupakan origo m. Milohioid.
Angulus mandibula adalah pertemuan antara tepi belakang ramus mandibula dan
tepi bawah korpus mandibula. Angulus mandibula terletak subkutan dan mudah
diraba pada 2-3 jari dibawah lobulus aurikularis.5
Secara keseluruhan tulang mandibula ini berbentuk tapal kuda melebar di
belakang, memipih dan meninggi pada bagian ramus kanan dan kiri sehingga
membentuk pilar, ramus membentuk sudut 1200 terhadap korpus pada orang
dewasa. Pada yang lebih muda sudutnya lebih besar dan ramusnya nampak lebih
divergens.
Dari aspek fungsinya, merupakan gabungan tulang berbentuk L bekerja
untuk mengunyah dengan dominasi (terkuat) m. Temporalis yang berinsersi disisi
medial pada ujung prosesus koronoideus dan m. Masseter yang berinsersi pada
sisi lateral angulus dan ramus mandibula. M. Pterigodeus medial berinsersi pada
sisi medial bawah dari ramus dan angulus mandibula. M masseter bersama m
temporalis merupakan kekuatan untuk menggerakkan mandibula dalam proses
menutup mulut. M pterigoideus lateral berinsersi pada bagian depan kapsul sendi
temporo-mandibular, diskus artikularis berperan untuk membuka mandibula.
Fungsi m pterigoid sangat penting dalam proses penyembuhan pada fraktur
intrakapsuler.5,6
Pada potongan melintang tulang mandibula dewasa level molar II
berbentuk seperti U dengan komposisi korteks dalam dan korteks luar yang
cukup kuat. Ditengahnya ditancapi oleh akar-akar geligi yang terbungkus oleh
tulang kanselus yang membentuk sistem haversian (osteons) diantara dua korteks
tersebut ditengahnya terdapat kanal mandibularis yang dilewati oleh syaraf dan

10

pembuluh darah yang masuk dari foramen mandibularis dan keluar kedepan
melalui foramen mentalis.
Lebar kanalis mandibula tersebut sekitar 3 mm ( terbesar) dan ketebalan
korteks sisi bukal yang tertipis sekitar 2.7mm sedang pada potongan level gigi
kaninus kanalnya berdiameter sekitar 1mm dengan ketebalan korteks sekitar 2.53mm. Posisis jalur kanalis mandibula ini perlu diingat dan dihindari saat
melakukan instrumentasi waktu reposisi dan memasang fiksasi interna pada
fraktur mandibula.6

Gambar 3. Anatomi Tulang Mandibula7


Mandibula mendapat nutrisi dari arteri alveolaris inferior yang merupakan
cabang pertama dari arteri maxillaris yang masuk melalui foramen mandibula
bersama vena dan nervus alveolaris inferior berjalan dalam kanalis alveolaris.
Arteri alveolaris inferior memberi nutrisi ke gigi-gigi bawah serta gusi sekitarnya
kemudian di foramen mentalis keluar sebagai a. Mentalis. Sebelum keluar dari
foramen mentalis bercabang menuju incisivus dan berjalan sebelah anterior ke
depan didalam tulang. Arteri mentalis beranastomosis dengan arteri facialis, arteri
submentalis dan arteri labii inferior. Arteri submentalis dan arteri labii inferior
merupakan cabang dari arteri facialis. Arteri mentalis memberi nutrisi ke dagu.
Aliran darah balik dari mandibula melalui vena alveolaris inferior ke vena facialis

11

posterior. Daerah dagu mengalirkan darah ke vena submentalis, yang selanjutnya


mengalirkan darah ke vena facialis anterior. Vena facialis anterior dan vena
facialis posterior bergabung menjadi vena fascialis communis yang mengalirkan
darah ke vena jugularis interna.8

2.4.

Klasifikasi
Secara umum, fraktur diklasifikasikan menjadi beberapa kategori, yakni:
a. Menurut hubungan dengan jaringan sekitar

Fraktur simple/tertutup, disebut juga fraktur tertutup, oleh


karena kulit di sekeliling fraktur sehat dan tidak sobek.

Fraktur terbuka, kulit di sekitar fraktur sobek sehingga


fragmen tulang berhubungan dengan dunia luar (bone expose) dan
berpotensi

untuk menjadi

infeksi.

Fraktur

terbuka dapat

berhubungan dengan ruangan di tubuh yang tidak steril seperti rongga


mulut.

Fraktur komplikasi, fraktur tersebut berhubungan dengan


kerusakan jaringan atau struktur lain seperti saraf, pembuluh darah,
organ visera atau sendi.

b. Menurut bentuknya

Fraktur komplit, garis fraktur membagi tulang menjadi dua


fragmen atau lebih. Garis fraktur bisa transversal, oblik atau spiral.
Kelainan ini dapat menggambarkan arah trauma dan menentukan
fraktur stabil atau unstabil.

Fraktur inkomplit, kedua fragmen fraktur terlihat saling


impaksi atau masih saling tertancap.

Fraktur komunitif, fraktur yang menimbulkan lebih dari dua


fragmen.

12

Fraktur kompresi, fraktur ini umumnya terjadi di daerah


tulang kanselus.

c. Fraktur menurut posisi fragmen


Fraktur undisplaced, garis patah komplit tetapi kedua fragmen tidak

bergeser, periosteumnya masih utuh.


Fraktur displaced, terjadi pergeseran fragmen-fragmen fraktur yang
disebut juga dislokasi fragmen.9

Sedangkan klasifikasi fraktur mandibula, di antaranya;


a

Berdasarkan Lokasi
Klasifikasi fraktur mandibula berdasarkan pada letak anatominya dibagi
menjadi;
Fraktur dento-alveolar
Daerah ini berada di atas korpus mandibula, yang pada orang dewasa
berisi 16 lubang untuk akar-akar gigi. Fraktur dento-alveolar terdiri
dari afusi, subluksasi atau fraktur gigi dengan maupun tanpa disertai
fraktur alveolar. Fraktur ini dapat saja ditemukan sebagai satu-satunya
fraktur yang terjadi pada mandibula, dapat pula berkombinasi atau

berhubungan dengan fraktur dibagian lain pada mandibula


Fraktur kondilus
Terjadi pada segitiga daerah temporo-mandibular joint. Fraktur
condilus dapat terjadi secara intracapsul, tetapi lebih sering terjadi
secara ekstracapsul (dibawah titik sigmoid/ bentuk U pada kondilus
dan koronoid), dengan atau tanpa dislokasi kepala kondilus. Fraktur
pada daerah ini biasanya gagal terdeteksi melalui pemeriksaan

sederhana.
Fraktur processus koronoid
Fraktur processus koronoid jarang terjadi, dan biasanya ditemukan
saaat dilakukannya operasi kista besar. Fraktur ini sulit terdiagnosis

secara pasti pada pemeriksaan klinis.


Fraktur ramus
Dibatasi pada aspek superior oleh sudut dua garis apikal pada sigmoid
notch dan aspek inferior berbatasan langsung dengan angulus. Otot

13

pterygiomasseter menghasilkan efek splinting yang kuat sehingga

fraktur pada daerah ramus jarang terjadi.


Fraktur angulus
Daerah ini umumnya terjadi karena tulang pada daerah ini lebih tipis
jika dibandingkan dengan tulang pada daerah korpus. Relatif tingginya

insiden impaksi molar ke tiga menyebabkan daerah ini menjadi lemah.


Fraktur korpus
Fraktur ini terjadi diantara gigi caninus dan molar kedua. Keberadaan
gigi kaninus pada kasus fraktur korpus menyebabkan daerah ini
menjadi lemah. Tidak bererupsinya gigi molar ke tiga juga

berhubungan dengan kejadian fraktur ini.


Fraktur simfisis dan parasimfisis.
Fraktur simfisis terjadi pada daerah anterior diantara gigi caninus.
Ketebalan mandibula pada daerah ini menjamin bahwa fraktur pada
daerah simfisis dan parasimfisis hanyalah berupa keretakan halus.
Keadaan ini akan menghilang jika posisi tulang tetap stabil dan oklusi
tidak terganggu.

Gambar 4. Lokasi Fraktur Mandibula10


c.

Berdasarkan ada tidaknya gigi


Klasifikasi berdasarkan gigi pasien penting diketahui karena akan
menentukan jenis terapi yang akan kita ambil. Dengan adanya gigi,
penyatuan fraktur dapat dilakukan dengan jalan pengikatan gigi dengan

14

menggunakan kawat. Berikut derajat fraktur mandibula berdasarkan ada


tidaknya gigi :
Fraktur kelas 1 : gigi terdapat di 2 sisi fraktur, penanganan pada fraktur
kelas 1 ini dapat melalui interdental wiring (memasang kawat pada

gigi)
Fraktur kelas 2 : gigi hanya terdapat di salah satu fraktur
Fraktur kelas 3 : tidak terdapat gigi di kedua sisi fraktur, pada keadaan
ini dilakukn melalui open reduction, kemudian dipasangkan plate and
screw, atau bisa juga dengan cara intermaxillary fixation.10

2.5.

Frekuensi
Secara umum, paling sering terjadi pada korpus mandibula, angulus dan

kondilus, sedangkan pada ramus dan prosesus koronoideus lebih jarang terjadi.
Berdasarkan penelitian, dapat diurutkan seperti berikut (Gambar 2) :

Kondilus 36%
Korpus 21%
Angulus 20%
Simfisis 14%
Ramus 3%
Alveolar 3%
Proc.Koronoid 2%4

Gambar 5. Lokasi Fraktur Mandibula4

15

2.6.

Etiologi
Fraktur mandibula dapat disebabkan oleh trauma maupun proses

patologik, Berdasarkan penelitian didapatkan data penyebab tersering fraktur


mandibula adalah :
a Fraktur traumatik
Fraktur traumatik dapat disebabkan oleh :
Kecelakaan kendaraan bermotor (43%)
Kekerasan atau perkelahian (34%)
Kecelakaan kerja (7%)
Terjatuh (7%)
Kecelakaan berolahraga (4%)
Kecelakaan lainnya (5%)
b Fraktur patologik
Fraktur patologik dapat disebabkan oleh kista, tumor tulang, osteogenesis
imperfekta, osteomyeleitis, osteoporosis, atropi atau nekrosis tulang.11
2.7.

Manifestasi Klinis
Klinis dimulai dengan adanya masalah dalam mengigit. Inspeksi dan

palpasi pada wajah sepanjang batas inferior dan sendi temporomandibular yang
mungkin menunjukkan titik kelunakan dan mengarah ke deformitas. Secara oral,
maloklusi dan disrupsi dari gigi dan bentuk arcus gigi mungkin muncul. Range of
motion mandibula mungkin juga terganggu. Traksi anterior pada mandibula,
dengan mengengam lembut gigi seri mandibula dan dagu, akan sering
menyebabkan nyeri pada tempat fraktur. Sama halnya, jika mendorong ke dalam
angulus mandibula akan terdapat nyeri pada lokasi fraktur.12
Tanda-tanda patah pada tulang rahang meliputi :
1. Dislokasi, berupa perubahan posisi rahang yg menyebabkan maloklusi
atau tidak berkontaknya rahang bawah dan rahang atas
2. Pergerakan rahang yang abnormal, dapat terlihat bila penderita
menggerakkan rahangnya atau pada saat dilakukan
3. Rasa sakit pada saat rahang digerakkan
4. Pembengkakan pada sisi fraktur sehingga dapat menentukan lokasi daerah
fraktur.
5. Krepitasi berupa suara pada saat pemeriksaan akibat pergeseran dari ujung
tulang yang fraktur bila rahang digerakkan

16

6. Laserasi yg terjadi pada daerah gusi, mukosa mulut dan daerah sekitar
fraktur.
7. Discolorisasi perubahan warna pada daerah fraktur akibat pembengkakan
8. Disability, terjadi gangguan fungsional berupa penyempitan pembukaan
mulut.
9. Hipersalivasi dan halitosis, akibat berkurangnya pergerakan normal
mandibula dapat terjadi stagnasi makanan dan hilangnya efek self
cleansing karena gangguan fungsi pengunyahan.
10. Numbness, kelumpuhan dari bibir bawah, biasanya bila fraktur terjadi di
bawah nervus alveolaris.12
2.8.

Diagnosis
Diagnosis fraktur mandibula berdasarkan atas anamnesa, pemeriksaan

fisik, dan pemeriksaan penunjang.


a. Anamnesis
Pada kasus trauma, pemeriksaan penderita dengan kecurigaan
fraktur mandibula harus mengikuti kaidah ATLS, dimana terdiri dari
pemeriksaan awal (primar survey) yang meliputi pemeriksan airway,
breathing, circulation dan disability. Pada penderita trauma dengan fraktur
mandibula harus diperhatikan adanya kemungkinan obstruksi jalan nafas
yang bisa diakibatkan karena fraktur mandibula itu sendiri ataupun akibat
perdarahan intraoral yang menyebabkan aspirasi darah dan bekuan darah.
Jika pasien stabil, perlu diketahui riwayat

trauma. Mekanisme

trauma merupakan informasi penting sehingga dapat menggambarkan tipe


fraktur yang

terjadi. Bila trauma ragu-ragu atau tidak ada maka

kemungkian fraktur patologis tetap perlu dipikirkan. Riwayat penderita


harus dilengkapi apakah ada

trauma daerah

lain

(kepala,

torak,

abdomen, pelvis dan lain-lain).


Pertanyaan-pertanyaan kepada penderita maupun pada orang yang
lebih mengetahui harus jelas dan terarah, sehingga diperoleh informasi
mengenai; keadaan kardiovaskuler maupun sistem respirasi, apakah
penderita merupakan penderita diabetes, atau riwayat alergi.

17

b.

Pemeriksaan fisik

Inspeksi
Inspeksi dimulai dari ektraoral kemudian ke intraoral. Perhatikan
adanya deformitas. Pembengkakan preaurikular sering menunjukkan
adanya fraktur kondilus. Kulit di sekitar wajah dan leher perlu
diperhatikan apakah hiperemis, ekimosis, laserasi, atau hematom.
Pada luka yang mengarah ke fraktur terbuka harus diidentifikasi
dan

ditentukan menurut

derajatnya menurut klasifikasi Gustillo.

Dilihat juga apakah terdapat gigi yang hilang. Perhatikan juga apakah
terdapat maloklusi.

Palpasi
Pada palpasi dievaluasi daerah TMJ dengan jari pada daerah TMJ
dan penderita disuruh buka-tutup mulut, menilai ada tidaknya nyeri,
deformitas atau dislokasi. Untuk memeriksa apakah ada fraktur
mandibula dengan palpasi dilakukan evaluasi false movement dengan
kedua ibujari di intraoral, korpus mandibula kanan dan kiri dipegang
kemudian digerakkan keatas dan kebawah secara berlawanan sambil
diperhatikan disela gigi dan gusi yang dicurigai ada frakturnya. Bila
ada pergerakan yang tidak sinkron antara kanan dan kiri maka false
movement +.
Periksa juga status gusi, apakah terdapat ekimosis, perdarahan,
atau hematom, bila terdapat hal tersebut, menunjukkan adanya fraktur.

c.

Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan rontgen
Pada

fraktur

mandibula

dapat

dilakukan

pemeriksaan

penunjang foto Rontgen untuk mengetahui pola fraktur yang terjadi.


Timbulnya kecurigaan fraktur mandibula tergantung dari jenis

18

frakturnya, apakah cedera tunggal atau multipel. Jika dicurigai cedera


tunggal, pemeriksaan dapat dimulai dengan foto AP, Towne, dan oblik.
Pemeriksaan penunjang, yang paling penting untuk dilakukan
adalah adalah rontgen panoramik, sebab dengan foto panoramik kita
dapat melihat keseluruhan tulang mandibula dalam satu foto. Namun
pemeriksaan ini memberikan gambaran yang kurang detil untuk
melihat temporo-mandibular joint, regio simfisis dan alevolar.
Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah dengan foto
rontgen polos. Dapat dilakukan untuk melihat posisi oblik-lateral,
oklusal, posteoanterior dan periapikal. Foto oblik-lateral dapat
membantu mendiagnosa fraktur ramus, angulus dan korpus posterior.
Namun regio kondilus, bikuspid dan simfisis seringkali tidak jelas.
Foto oklusal mandibula dapat memperlihatkan adanya diskrepansi
pada sisi medial dan lateral fraktur korpus mandibula. Posisi
posteroanterior Caldwell dapat memperlihatkan adanya dislokasi
medial atau lateral dari fraktur ramus, angulus, korpus maupun
simfisis.

CT Scan
CT scan dapat digunakan untuk mengidentifikasi fraktur
kondilus kompleks, terutama fraktur sagital atau dislokasi fossa
glenoid. CT scan juga berguna pada pasien dengan cedera serius,
seperti luka tembak atau fraktur komunitif.
CT-scan dapat membantu untuk melihat adanya fraktur lain
pada daerah wajah termasuk os.frontal, kompleks naso-ethmoidorbital, orbital dan seluruh pilar penopang kraniofasial baik horizontal
maupun vertikal.13

2.9.

Penatalaksanaan
Prinsip penanganan fraktur mandibula pada langkah awal bersifat

kedaruratan seperti jalan nafas (airway), pernafasan (breathing), sirkulasi


darah termasuk penanganan syok (circulaation), penaganan luka jaringan

19

lunak dan imobilisasi sementara serta evaluasi terhadap kemungkinan cedera


otak.

Tahap

kedua

adalah

penanganan

fraktur

secara

definitif

yaitu

reduksi/reposisi fragmen fraktur (secara tertutup (close reduction) dan secara


terbuka (open reduction).
a.

Reposisi tertutup
Adapun indikasi untuk reposisi tertutup di antaranya:

Fraktur displace atau terbuka derajat ringan sampai sedang.

Fraktur kondilus

Fraktur pada anak

Fraktur komunitif berat atau fraktur dimana suplai darah menurun.

Fraktur eduntulous mandibula

Fraktur mandibula yang terdapat hubungan dengan fraktur panfacial

Fraktur patologis
Tehnik yang digunakan pada terapi fraktur mandibula secara

closed reduction adalah fiksasi intermaksiler. Fiksasi ini dipertahankan 3-4


minggu pada fraktur daerah condylus dan 4-6 minggu pada daerah lain
dari mandibula. Beberapa teknik fiksasi intermaksila diantaranya:
a) Ivy loop
Penempatan Ivy loop menggunakan kawat 24-gauge antara 2
gigi yang stabil, dengan penggunaan kawat yang lebih kecil untuk
memberikan fiksasi maxillomandibular (MMF) antara loop Ivy.

Gambar 6. Ivy loop14

20

Gambar 7. Fiksasi Maksilomandibular14


b) Teknik arch bar
Indikasi pemasangan arch bar antara lain gigi kurang/ tidak
cukup untuk pemasangan cara lain, disertai fraktur maksila, didapatkan
fragmen dentoalveolar pada salah satu ujung rahang yang perlu
direduksi sesuai dengan lengkungan rahang sebelum dipasang fiksasi
intermaksilaris
c) Reduksi tertutup pada edentulous mandibula
Pada edentulous mandibula, gigi palsu dapat ditranfer ke
rahang dengan kabel circummandibular. Gigi tiruan rahang atas
dapat ditempelkan ke langit-langit. (Setiap screw dari maxillofacial
set dapat digunakan sebagai lag screw). Arch bar dapat ditempatkan
dan intermaxillary fixation (IMF) dapat tercapai. Gunning Splints
juga telah digunakan pada kasus ini karena memberikan fiksasi dan
dapat

diberikan

asupan makanan. Pada kasus fraktur

kominitif,

rekonstruksi mandibula mungkin diperlukan untuk mengembalikan


posisi anatomis dan fungsi.
b.

Reposisi terbuka
Indikasi reposisi terbuka di antaranya:

Fraktur terbuka atau displace derajat sedang sampai berat

Fraktur yang tidak tereduksi dengan reposisi tertutup

21

Unfavorable fracture
Reposisi terbuka pada fraktur mandibula memiliki pendekatan intra

dan

ekstraoral.

Pendekatan

ekstraoral

dapat

dilakukan

melalui

submandibula, submental, atau preaurikular.

Gambar 8. Approach Ekstraoral14

Gambar 9. Insisi Retromandibular14


Dengan pendekatan intraoral, regio mandibula dicapai melalui
insisi vestibular di mukosa. Jika dibandingkan dengan pendekatan
ekstraoral, .pendekatan intraoral lebih cepat dilakukan, tidak memiliki
parut ekstraoral, dan risiko lebih kecil untuk mengenai saraf wajah.
Adapun material yang bisa digunakan pada reposisi terbuka
diantaranya wire, wire mesh, plat dan screw, dan lain-lain.

Wiring (kawat)

22

Kawat dibuat seperti mata, kemudian mata tadi dipasang disekitar dua
buah gigi atau geraham dirahang atas ataupun bawah. Rahang bawah
yang patah difiksasi pada rahang atas melalui mata di kawat atas dan
bawah. Jika perlu ikatan kawat ini dipasang di berbagai tempat untuk
memperoleh fiksasi yang kuat.

Plating
Pemasangan plat bertujuan untuk memberi tahanan pada daerah
fraktur, sehingga dapat menyatukan bagian fraktur dengan alveolus
superior. Setelah plat tepasang, maka tidak dibutuhkan lagi fiksasi
maksila. Dengan catatan pemasangan screw pada plat tidak dengan
penekanan yang terlalu kuat. Karena dengan pemasangan screw yang
terlalu kuat akan mengkibatkan terjadinya kesulitan pada saat
pelepasan, oleh karena itu, pemasangan dengan teknik yang tidak
terlalu menekan lebih dipilih dalam pemasangan plat pada fraktur
mandibula.14

Tindak lanjut Post operasi dapat dilakukan dengan memberikan analgesik


pada periode postoperasi. Serta berikan antibiotik spectrum luas pada pasien
fraktur terbuka dan re-evaluasi kebutuhan nutrisi. Pantau IMF selama 4-6 minggu.
Kencangkan wire setiap 2minggu. Setelah wire di buka, evaluasi dengan foto
panoramik untuk memastikan fraktur telah menyatu.15
2.10.

Komplikasi
Komplikasi setelah dilakukannya perbaikan pada fraktur mandibula

umumnya jarang terjadi. Komplikasi yang paling umum terjadi pada fraktur
mandibula adalah infeksi atau osteomyelitis, yang nantinya dapat menyebabkan
berbagai kemungkinan komplikasi lainnya.
Tulang mandibula merupakan daerah yang paling sering mengalami
gangguan penyembuhan fraktur baik itu malunion ataupun non-union. Ada
beberapa faktor risiko yang secara spesifik berhubungan dengan fraktur

23

mandibula dan berpotensi untuk menimbulkan terjadinya malunion ataupun nonunion. Faktor risiko yang paling besar adalah infeksi, kemudian aposisi yang
kurang baik, kurangnya imobilisasi segmen fraktur, adanya benda asing, tarikan
otot yang tidak menguntungkan pada segmen fraktur. Malunion yang berat pada
mandibula akan mengakibatkan asimetri wajah dan dapat juga disertai gangguan
fungsi. Kelainan-kelainan ini dapat diperbaiki dengan melakukan perencanaan
osteotomi secara tepat untuk merekonstruksi bentuk lengkung mandibula.
Faktor faktor lain yang dapat mempengaruhi kemungkinan terjadinya
komplikasi antara lain sepsis oral, adanya gigi pada garis fraktur, penyalahgunaan
alkohol dan penyakit kronis, waktu mendapatkan perawatan yang lama, kurang
patuhnya pasien dan adanya dislokasi segmen fraktur.13

BAB III
ANALISIS KASUS

24

Seorang perempuan, Nn. Trio Safitri berumur 19 tahun yang beralamat di

Kertapati, datang ke RSMH dengan keluhan mengalami nyeri dan sakit membuka
mulut sejak kecelakaan lalu lintas 15 jam (SMRS). Tidak didapatkan tanda
fraktur basis kranii. Ada riwayat pingsan. Dari pemeriksaan fisik didapatkan GCS
15 dan tidak ditemukan adanya defisit neurologis.
Saat datang ke RSMH, dilakukan pemeriksaan umum yang meliputi survei
primer, survei sekunder. Pasien datang dengan sensorium kompos mentis, tidak
ada gangguan jalan napas, nadi 80x/m, isi dan tegangan cukup. Tidak terdapat
gangguan pergerakan dinding dada, frekuensi napas 18x/m. Hasil pemeriksaan
survey primer tersebut masih dalam batas normal.
Pada survey sekunder, didapatkan mekanisme trauma dari anamnesis.
Menurut pasien motor yang ditumpanginya menabrak sisi samping motor lain,
kemudian pasien terjatuh dengan kepala membentur benda keras. Dari
pemeriksaan fisik didapatkan asimetris pada wajah dan vulnus excoratio pada
regio frontal dan regio zigomatic dextra. Selain itu, pada pemeriksaan mulut juga
ditemukan adanya maloklusi pada rahang, nyeri tekan pada mandibula, dan step
off pada mandibula.
Untuk mengetahui letak fraktur, maka dilakukan pemeriksaan penunjang
radiologi. Dari pemeriksaan tersebut didapatkan adanya fraktur segmental pada
angulus mandibula dextra dan parasimpisis mandibula sinistra.
Penatalaksanaan

pada

pasien

ini

dengan

pemberian

antibiotik

(ceftriaxone). Pada pasien ini, tubuh kehilangan kulit sebagai protective barrier
akibat vulnus excoratio sehingga rentan terhadap infeksi, oleh karena itu diberikan
antibiotik spektrum luas sebagai profilaksis dan diberikan ATS pada pasien ini.
Untuk mengurangi rasa sakit, analgetik diberikan pada pasien ini.
Berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang,
maka dapat disimpulkan diagnosis kerja pasien ini adalah fraktur segmental
mandibula. Adapun penatalaksanaan dari pasien ini adalah penanganan fraktur
secara definitif. Penatalaksanaan definitif berupa ORIF Mandibule.

25

DAFTAR PUSTAKA
1. Schwartzs. Principles of Surgery, Trauma of The Head and Neck, 9th Ed,
McGraw Hills Access Surgery, 2010;937-938

26

2. Adams G. L, Boies L. R, Higler P. A, (2005) Boies Buku Ajar penyakit THT.


Edisi 6. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta.
3. Thaller S.R., McDonald W.S, Facil Trauma. Mandible Fracture. Marcel
Dekker Inc, 2004;381-384
4. Schwartzs. Principles of Surgery, Trauma of The Head and Neck, 9th Ed,
McGraw Hills Access Surgery, 2010;937-938
5. Sugiharto Setyo, Hardjowasito Widanto, Penanganan Fraktur Mandibula pada
Anak dengan pemasangan Arch-Bar., Majalah Kedokteran Unibraw, 1996;
12:39-41.
6. Wijayahadi R Yoga, Murtedjo Urip, et all, Trauma Maksilofasial Diagnosis
dan Penatalaksanaannya, Surabaya, Divisi Ilmu Bedah Kepala & Leher
SMF/Lab Ilmu Bedah RSDS/FK Unair Surabaya, 20006:25-26, 58-63, 71-71,
89-95, 98,100,125-132.
7. Snell R.S, Anatomi Klinik, Kepala dan Leher, Ed. 6, EGC, 2006, hal: 735
8. Spateholz W. Handatlas und lehrbuch der anatomie des menschen, sheltema &
holkema N.V Amsterdam, 1953 ; 500-510.
9. Chakranarayan SL, Menon C, Sinha R, Tapliyal G, Management of
Mandibular Fracture, MJAVI, Vol 6, 2008, 219-220
10. Laub D, R. Facial Trauma, Mandibular Fractures, WebMD LLC, 2010\
11. Archer Harry., Oral And Maxillofacial Surgery, 5 th Edition, W.B Saunders
Company, Philadelphia,1978, 1045-1052.
12. Sjamsuhidajat, R: de Jong, Wim. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi ketiga. EGC.
Jakarta. 2010;420-421.
13. Wijayahadi R Yoga, Murtedjo Urip, et all, Trauma Maksilofasial Diagnosis
dan Penatalaksanaannya, Surabaya, Divisi Ilmu Bedah Kepala & Leher
SMF/Lab Ilmu Bedah RSDS/FK Unair Surabaya, 2006: 100-132
14. Chakranarayan SL, Menon C, Sinha R, Tapliyal G, Management of
Mandibular Fracture, MJAVI, Vol 6, 2008, 219-220
15. Robert W Dolan. Facial plastic, reconstructive, and trauma surgery. New york
inc. 2004