Anda di halaman 1dari 10

MINERAL-TEMBAGA

SIFAT-SIFAT TEMBAGA
1
2
3
4
5

Sifat Fisika
Tembaga memiliki warna kuning kemerah-merahan.
Unsur ini sangat mudah dibentuk, lunak, sehingga mudah
dibentuk menjadi pipa, lembaran tipis, kawat.
Bersifat sebagai konduktor panas dan listrik yang bagus untuk
aliran elektron.
Tembaga bersifat keras bila tidak murni.
Memiliki titik leleh pada 1084,62 C, sedangkan titik didih pada
2562 C.

1.

2.

3.

4.

5.

6.

Sifat Kimia
Tembaga merupakan unsur yang relatif tidak reaktif
Tembaga dalam
sehingga tahan terhadap korosi.
berbagai bentuknya
Pada udara yang lembab, permukaan tembaga ditutupi oleh suatu lapisan yang
berwarna hijau yang menarik dari tembaga karbonat basa, Cu(OH)2CO3.
Pada suhu sekitar 300C tembaga dapat bereaksi dengan oksigen membentuk CuO
yang berwarna hitam. Sedangkan pada suhu yang lebih tinggi, sekitar 1000C, akan
terbentuk tembaga (I) oksida (Cu2O) yang berwarna merah.
Tembaga tidak diserang oleh air atau uap air dan asam-asam non-oksidator encer
seperti HCl encer dan H2SO4 encer, tetapi HCl pekat dan mendidih menyerang logam
tembaga dan membebaskan gas hidrogen.
Tembaga tidak bereaksi dengan alkali, tetapi larut dalam amonia oleh adanya udara
membentuk larutan yang berwarna biru dari kompleks Cu(NH3)4+.
Tembaga panas dapat bereaksi dengan uap belerang dan halogen. Bereaksi dengan
belerang membentuk tembaga(I) sulfida dan tembaga(II) sulfida dan untuk reaksi
dengan halogen membentuk tembaga(I) klorida.

KEGUNAAN TEMBAGA

1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)

8)
9)

1)
2)
3)
4)
5)

Logam Tembaga, kegunaan:


Sebagai campuran untuk membuat perunggu (Cu 90% dan Sn10%) untuk membuat
patung, indutri arloji, atau ornamen
Sebagai campuran untuk membuat monel (Ni 70% dan Cu 30%)
Sebagai campuran membuat duralium (Al 96% dan Cu 4%) untuk komponen pesawat
Sebagai campuran untuk membuat perhiasan (Cu 45% dan Au 55%)
Sebagai campuran untuk membuat kuningan (Cu 70% dan Zn 30%) untuk membuat
aksesoris, alat musik, atau ornamen
Sebagai campuran membuat kupronikel, (Cu 75% dan Ni 25%) untuk membuat uang
koin logam (contoh logam Amerika) dan logam-logam senjata mengandung tembaga
Alat-alat listrik seperti, kabel istrik, kumparan dinamo dan komponen berbagai alat
elektronik, alnico, pipa, motor listrik, generator, kabel transmisi, instalasi listrik
rumah dan industri, kendaraan bermotor, konduktor listrik, kabel dan tabung coaxial,
tabung microwave, sakelar, reaktifier transsistor, kawat, pematrian, alat-alat dapur
Sebagai bahan penahan untuk bangunan dan beberapa bagian kapal
Serbuk tembaga digunakan sebagai katalisator untuk mengoksidasi metanol menjadi
metanal.
Senyawa Tembaga, kegunaan:
Tembaga (II) Oksida (CuO), sebagai insektisida, bahan baterai, bahan penyepuh dan
bahan pewarna hitam untuk keramik, bahan gelas, porselen dan rayon
Tembaga (II) Sulfat (CuSO4), sebagai antilumut pada kolam renang dan memberikan
warna biru pada air, pengawet kayu, penyepuhan dan zat aditif dalam radiator
Tembaga (II) Klorida (CuCl2), sebagai pewarna keramik dan gelas, pabrik tinta, untuk
menghilangkan kandungan belerang pada pengolahan minya, dan fotografi serta
pengawet kayu dan katali
Campuran CuSO4 dan Ca(OH)2, disebut bubur boderiux banyak digunakan untuk
mematikan serangga atau hama tanaman, pencegah jamur pada sayur dan buah
Cu(OH)2 yang larut dalam larutan NH4OH membentuk ion kompleks cupri tetramin
(dikenal sebagai larutan schweitser), digunakan untuk melarutkan selulosa pada
pembuatan rayon (sutera buatan).

DAMPAK POSITIF PENAMBANGAN TEMBAGA


1.
2.

Menambah pendapatan negara cukup besar


Membuka lapangan pekerjaan

DAMPAK NEGATIF PENAMBANGAN TEMBAGA


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Perubahan bentang alam


Erosi dan sedimentasi
Gangguan stabilitas lereng
Hilangnya habitat flora dan fauna
Abrasi pantai
Perubahan peruntukan lahan
Penurunan kualitas air dan kerusuhan sosial.

TAHAP EKSPLORASI TEMBAGA


Eksplorasi tembaga adalah keseluruhan urutan kegiatan mulai mencari letak
mineralisasi sampai menentukan cadangan insitu hasil temuan mineral tembaga yang ada.
Tahap-tahap dalam perencanaan kegiatan eksplorasi secara umum:
1.
Tahap Eksplorasi Pendahuluan
Menurut White (1997), dalam tahap eksplorasi pendahuluan ini tingkat ketelitian yang
diperlukan masih kecil sehingga peta-peta yang digunakan dalam eksplorasi
pendahuluan juga berskala kecil 1:50.000 sampai 1:25.000. Adapun yang dilakukan
pada tahap ini adalah:
2.
Studi Literatur
Dalam tahap ini, sebelum memilih lokasi eksplorasi dilakukan studi terhadap data dan
peta-peta yang sudah ada (dari survey terdahulu), catatan lama, laporan temuan dan
lain-lain, lalu dipilih daerah yang akan disurvei. Setelah itu, studi faktor-faktor
geologi regional dan provinsi metalografi dari peta geologi regional sangat penting
untuk memilih daerah eksplorasi, karena pembentukan endapan bahan galian
dipengaruhi dan tergantung pada proses-proses geologi yang pernah terjadi, dan
tanda-tandanya dapat dilihat di lapangan.
3.
Survei dan Pemetaan
Jika peta dasar (peta topografi) dari daerah eksplorasi sudah tersedia, maka survei dan
pemetaan singkapan (outcrop) atau gejala geologi lainnya sudah dapat dimulai (peta
topografi skala 1:50.000 atau 1:25.000). Tetapi jika belum ada, perlu dilakukan
pemetaan topografi lebih dahulu. Kalau di daerah tersebut sudah ada peta geologi,
maka hal ini sangat menguntungkan, karena survei bisa langsung untuk mencari
tanda-tanda endapan yang dicari (singkapan), melengkapi peta geologi dan
mengambil contoh dari singkapan yang penting.
Selain singkapan batuan pembawa bahan galian, yang perlu juga diperhatikan adalah
perubahan/batas batuan, orientasi lapisan batuan sedimen (jurus dan kemiringan),
orientasi sesar dan tanda-tanda lainnya. Hal-hal penting tersebut harus diplot pada
peta dasar dengan bantuan alat-alat seperti kompas geologi, inklinometer, altimeter,
serta tanda-tanda alami seperti bukit, lembah, belokan sungai, jalan, kampung, dan
lain-lain. Dengan demikian peta geologi dapat dilengkapi atau dibuat baru (peta
singkapan).
Tanda-tanda yang sudah diplot pada peta tersebut kemudian digabungkan dan dibuat
penampang tegak atau model penyebarannya (model geologi). Dengan model geologi
hepatitik tersebut kemudian dirancang pengambilan contoh dengan cara acak,
pembuatan sumur uji (test pit), pembuatan paritan (trenching), dan jika diperlukan
dilakukan pemboran. Lokasi-lokasi tersebut kemudian harus diplot dengan tepat di
peta (dengan bantuan alat ukur, teodolit, BTM, dan lain-lain).
Dari kegiatan ini akan dihasilkan model geologi, model penyebaran endapan,
gambaran mengenai cadangan geologi, kadar awal, dan lain-lain yang dipakai untuk
menetapkan apakah daerah survei yang bersangkutan memberikan harapan baik
(prospek) atau tidak. Kalau daerah tersebut mempunyai prospek yang baik maka dapat
diteruskan dengan tahap eksplorasi selanjutnya.

4.

Tahap Eksplorasi Detail


Menurut (White, 1997), kegiatan utama dalam tahap ini adalah sampling dengan jarak
yang lebih dekat (rapat), yaitu dengan memperbanyak sumur uji atau lubang bor untuk
mendapatkan data yang lebih teliti mengenai penyebaran dan ketebalan cadangan
(volume cadangan), penyebaran kadar/kualitas secara mendatar maupun tegak. Dari
sampling yang rapat tersebut dihasilkan cadangan terhitung dengan klasifikasi terukur,
dengan kesalahan yang kecil (<20%), sehingga perencanaan tambang yang dibuat
menjadi lebih teliti dan resiko dapat dihindarkan.
Pengetahuan atau data yang lebih akurat mengenai kedalaman, ketebalan, kemiringan,
dan penyebaran cadangan secara 3-Dimensi (panjang-lebar-tebal) serta data mengenai
kekuatan batuan sampling, kondisi air tanah, dan penyebaran struktur (kalau ada) akan
sangat memudahkan perencanaan kemajuan tambang, lebar/ukuran bahwa bukaan
atau kemiringan lereng tambang. Juga penting untuk merencanakan produksi
bulanan/tahunan dan pemilihan peralatan tambang maupun prioritas bantu lainnya.

5.

Studi Kelayakan
Pada tahap ini dibuat rencana produksi, rencana kemajuan tambang, metode
penambangan, perencanaan peralatan dan rencana investasi tambang. Dengan
melakukan analisis ekonomi berdasarkan model, biaya produksi penjualan dan
pemasaran maka dapatlah diketahui apakah cadangan bahan galian yang bersangkutan
dapat ditambang dengan menguntungkan atau tidak.

TAHAP EKSPLOITASI/PENAMBANGAN TEMBAGA


Menurut Sukandarrumidi (2009), penambangan dilakukan dengan cara tambang
terbuka (open pit), apabila endapan bijih ditemukan tidak terlalu dalam. Dapat juga dilakukan
dengan penambangan dalam (underground) dengan membuat terowongan atau pengangkutan
dengan menggunakan alat-alat berat.
Khusus untuk tambang tembaga Grasberg dan Batu Hijau (Indonesia) adalah tipe
porfiri. Cebakan tembaga tipe porfiri mempunyai dimensi besar dan kadar relatif rendah
sehingga atas pertimbangan keekonomian, penambangan hanya dapat dilakukan dengan cara
tambang terbuka (open pit mining). Pengupasan lapisan penutup (overburden) dan
penambangan bijih dilakukan dengan sistem jenjang (benches). Cebakan bijih tembaga yang
sangat tebal memerlukan banyak jenjang, dengan lebar dan tinggi jenjang diupayakan untuk
dapat menahan batuan yang berhamburan saat peledakan, dan menyediakan ruang gerak yang
memadai untuk alat pembongkar (excavator) dan unit pemuat (haulage).
Tahapan eksploitasi tambang terbuka tembaga:
6
Pengeboran
Pengeboran merupakan tahap awal untuk menghasilkan lubang siap ledak (blast
holes). Lubang siap ledak kemudian diledakkan dengan menggunakan bahan peledak
yang sudah ditentukan di bagian peledakan (blasting group) untuk menghasilkan
material hancur hasil peledakan (broken muck) yang selanjutnya digali oleh alat gali
dan dimuat oleh alat angkut (dump truck). Tahapan inti dalam proses pengeboran
adalah:
Persiapan dan pembersihan lokasi pengeboran
Kegiatan utamanya adalah menyiapkan rencana lokasi pengeboran yang rata untuk
mesin bor, membuat tanggul yang aman untuk memisahkan posisi mesin bor dari alat
lainnya, dan membersihkan batas material atau lumpur dari sisa peledakan
sebelumnya. Disini ditentukan tanda batas lokasi pengeboran yang umumnya
berbentuk kotak/persegi empat atau berbatasan langsung dengan hasil peledakan yang

sudah dilakukan sebelumnya. Proses persiapan dan pembersihan lokasi pengeboran


dengan menggunakan dozer Caterpillar seri D10 atau seri D11.
7

Pelaksanaan pengeboran produksi


Pengeboran dilakukan dengan menggunakan mesin bor. Pola pengeboran
bisa menggunakan pola pengeboran manual atau pola pengeboran dengan sistem
Aquila. Pola pengeboran manual menggunakan patok-patok kayu sebagai tanda
posisi lubang yang harus dibor yang diletakkan di tanah dan dilengkapi dengan
keterangan survey mengenai kedalaman lubang yang harus dibor. Sementara
pengeboran dengan sistem Aquila sudah terpasang pada semua mesin bor
mengandalkan sistem pandu satelit (Global Positioning System atau GPS) yang
terhubung langsung ke antenna mesin bor untuk memandu operator mengikuti pola
dan kedalaman pengeboran.
Setelah proses pengeboran, mesin bor dipindahkan ke lokasi pengeboran lainnya
atau menunggu sampai proses peledakan lubang bor tersebut selesai. Pemindahan
mesin bor untuk jarak lebih dari 500 meter diangkut dengan alat bantu yang disebut
mesin lowboy.

Peledakan
Setelah lubang bor dibuat, juru ledak akan memeriksa setiap lubang bor untuk
memastikan kedalaman lubang tersebut sebelum dilakukan pengisian bahan peledak
(explosive). Setelah lubang disetujui, lubang diisi dengan primer (detonator+booster)
dan bahan peledak sesuai dengan kandungan air di dalamnya.

Pengisian lubang ledakan dengan explosive berupa Powergel.

9 Penggalian
Proses penggalian dilakukan dengan menggunakan alat gali atau shovel untuk
menggali material hasil peledakan atau material lepas yang berupa bijih atau batuan
penutup.

Ada dua jenis shovel yang digunakan dalam operasi penambangan tambang tembaga:
yaitu:
a) Shovel listrik, yaitu alat gali yang digerakkan dengan tenaga listrik.
b) Shovel hidraulik, yaitu alat gali yang digerakkan dengan sistem hidraulik.
Ada dua metode proses penggalian, yaitu:
a) Single side loading, yaitu metode penggalian di mana ketika menerima muatan, truk
berada pada satu sisi shovel. Dengan demikian ketika salah satu truk sedang diberi
muatan, truk kedua dalam posisi antri atau pre-spot. Hidraulik shovel umumnya
menggunakan metode single side loading dan dilakukan di sisi kiri shovel. Shovel
listrik dilakukan bila loading area hanya bisa untuk maneuver satu truk saja.
b) Double side loading, yaitu metode penggalian di mana ketika menerima muatan, truk
berada pada kedua sisi shovel sehingga ketika salah satu truk sedang diberi muatan,

truk kedua berada pada posisi menerima muatan di sisi lain. Metode ini pada
umumnya diterapkan untuk shovel listrik dengan lebar area loading yang memenuhi
syarat dua kali radius putar truk yang ditugaskan di shovel tersebut.
10 Pengangkutan
Bijih atau batuan penutup yang sudah digali kemudian diangkut ke dalam alat
angkut yang dikenal sebagai truk angkut tambang (dump truck). Setelah dilakukan
pengisian oleh shovel, truk akan menuju ke tempat pembuangan yang telah ditentukan
sesuai dengan materialnya. Jika truk mengangkut bijih, material yang diangkut akan
dibuang ke crusher bijih atau stockpile bijih. Jika material yang diangkut adalah bahan
penutup, material akan dibuang ke crusher overburden (OHS:Overburden Handling
System) atau ke overburden pump.

11 Penggerusan bijih atau batuan


Saat ini Grasberg ditambang dengan metode tambang terbuka. Namun karena bukaan
yang semakin dalam, sekitar tahun 2015, cara penambangan akan diubah menjadi tambang
bawah tanah. Jika semua terwujud, tambang bawah tanah Grasberg akan menjadi salah satu
yang terbesar.

PENGOLAHAN BIJIH TEMBAGA


Pengolahan bijih tembaga melalui beberapa tahap, yaitu:
A. Pengapungan (flotasi)
Proses pengapungan atau flotasi di awali dengan pengecilan ukuran bijih
kemudian digiling sampai terbentuk butiran halus. Bijih yang telah dihaluskan
dimasukkan ke dalam campuran air dan suatu minyak tertentu. Kemudian udara
ditiupkan ke dalam campuran untuk menghasilkan gelembung-gelembung udara. Bagian
bijih yang mengandung logam yang tidak berikatan dengan air akan berikatan dengan
minyak dan menempel pada gelembung-gelembung udara yang kemudian mengapung ke
permukaan. Selanjutnya gelembung-gelembung udara yang membawa partikel-partikel
logam dan mengapung ini dipisahkan kemudian dipekatkan.
B. Pemanggangan
Bijih pekat hasil pengapungan selanjutnya dipanggang dalam udara terbatas pada
suhu dibawah titik lelehnya guna menghilangkan air yang mungkin masih ada pada saat
pemekatan dan belerang yang hilang sebagai belerang dioksida.

Campuran yang diperoleh dari proses pemanggangan ini disebut calcine, yang
mengandung Cu2S, FeO dan mungkin masih mengandung sedikit FeS. Setelah itu calcine
disilika guna mengubah besi(II) oksida menjadi suatu sanga atau slag besi(II) silikat yang
kemudian dapat dipisahkan. Reaksinya sebagai berikut.

Tembaga(I) sulfida yang diperoleh pada tahap


kemungkinan masih mengandung sedikit besi(II) sulfide

ini

disebut matte dan

C. Reduksi
Cu2S atau matte yang yang diperoleh kemudian direduksi dengan cara dipanaskan
dengan udara terkontrol, sesuai reaksi
2Cu2S(s) + 3O2(g) 2Cu2O(s) + 2SO2(g)
Cu2S(s) + 2Cu2O(s) 6Cu(s) + SO2(g)
Tembaga yang diperoleh pada tahap ini disebut blister atau tembaga lepuhan sebab
mengandung rongga-rongga yang berisi udara.
D. Elektrolisis
Blister atau tembaga lepuhan masih mengandung misalnya Ag, Au, dan Pt
kemudian dimurnikan dengan cara elektrolisis. Pada elektrolisis tembaga kotor (tidak
murni) dipasang sebagai anoda dan katoda digunakan tembaga murni, dengan elektrolit
larutan tembaga(II) sulfat (CuSO4). Selama proses elektrolisis berlangsung tembaga di
anoda teroksidasi menjadi Cu2+ kemudian direduksi di katoda menjadi logam Cu.
Katoda : Cu2+(aq) + 2e Cu(s)
Anoda : Cu(s) Cu2+(aq) + 2e
Pada proses ini anoda semakin berkurang dan katoda (tembaga murni) makin
bertambah banyak, sedangkan pengotor-pengotor yang berupa Ag, Au, dan Pt
mengendap sebagai lumpur.

PENDAHULUAN
Tembaga adalah unsur kimia yang diberi lambang Cu (Latin: Cuprum). Logam ini
merupakan penghantar listrik dan panas yang baik. Penggunaan tembaga dapat dilacak
sampai 10,000 tahun yang lalu. Sebelum tembaga, diperkirakan hanya besi dan emas, logam
yang terlebih dahulu digunakan manusia.
Menurut data tahun 2005, Chili merupakan penghasil tembaga terbesar di dunia,
disusul oleh AS dan Indonesia. Tembaga dapat ditambang dengan metode tambang terbuka
dan tambang bawah tanah. Kandungan tembaga dinyatakan dalam % (persen). Jadi jika satu
tambang berkadar 2,3%, berarti dari 100 kg bijih akan dihasilkan 2,3 kg tembaga.
Selain sebagai penghasil no.1, tambang tembaga terbesar juga dipunyai Chili.
Tambang itu terdapat di Chuquicamata, terletak sekitar 1.240 km sebelah utara ibukota
Santiago. Sedang tambang tembaga terbesar di Indonesia adalah yang diusahakan PT
Freeport Indonesia di area Grasberg, Papua. Freeport juga mengoperasikan beberapa tambang
bawah tanah besar, meski dengan kemampuan produksi yang masih berada di bawah
Grasberg.
Saat ini Grasberg ditambang dengan metode tambang terbuka. Namun karena bukaan
yang semakin dalam, sekitar tahun 2015, cara penambangan akan diubah menjadi tambang
bawah tanah. Jika semua terwujud, tambang bawah tanah Grasberg akan menjadi salah satu
yang terbesar.
Tembaga dimanfaatkan untuk berbagai keperluan dari komponen listrik, koin, alat
rumah tangga, hingga komponen biomedik. Tembaga juga dapat dipadu dengan logam lain
hingga terbentuk logam paduan seperti perunggu atau monel.

MAKALAH TEMBAGA
ILMU BAHAN DAN TENOLOGI BAHAN

DI SUSUN OLEH
AMIRUR RAKHMAN AL-KHAQ (15210003)

INSTITUT TEKHNOLOGI YOGYAKARTA