Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

PRAKTIKUM FISIKA DASAR

OLEH
Ahmad Apandi ( 05061181419043 )

UNIVERSITAS SRIWIJAYA
FAKULTAS PERTANIAN
TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN
2014

Kata Pengantar
Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah SWT yang telah mengaruniakan
rahmat dan petunjuk-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas Praktikum
Fisika Dasar membuat makalah yang berjudul elastisitas ini.
Pada kesempatan yang baik ini, tidak lupa penulis sampaikan terima kasih
kepada para asisten dosen praktikum Fisika Dasar yang telah membimbing
melakukan praktikum serta semua pihak yang turut membantu dalam pembuatan
makalah ini.
Penulis menyadari makalah ini belum mencapai kesempurnaan maka
penulis mengharapkan saran dan kritik dari pembaca sehingga makalah ini dapat
tampil lebih baik lagi.

Indralaya, 3 November 2014


Penulis

Daftar Isi
Judul Makalah......................................................................................................1
Kata Pengantar.....................................................................................................2
Daftar isi...........................................................................................................3
Bab 1 Pendahuluan............................................................................4
1.1 Latar Belakang...................................................4
1.2 Tujuan Penulisan................................................................4
1.3 Manfaat..............................................................................4
1.4 Rumusan Masalah..............................................................................................4
Bab 2 Tinjauan Pustaka...................................................................5
Bab 3 Data Hasil Pengamatan....................................................16
Bab 4 Pengolahan Data..........................................17
Bab 5 Pembahasan.....................................................................18
Bab 6 Kesimpulan dan Saran.................................................................................19
6.1 Kesimpulan..............................................19
6.2 Saran....................................................19
Daftar Pustaka...................................................20

Bab 1
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan
1.3 Manfaat
1.4 Rumusan Masalah

Bab 2
Tinjauan Pustaka
2.1 Elastisitas
Elastisitas adalah sifat atau kemampuan suatu benda untuk kembali pada
keadaan semula apabila gaya yang mengubah atau terdapat pada benda itu telah
menghilang. Elastisitas dapat juga bararti kecenderungan yang terjadi pada suatu
benda untuk berubah dari keadaan semula baik berupa perubahan panjang , lebar,
maupun tinggi.
Elastisitas adalah kecenderungan pada suatu benda untuk berubah dalam
bentuk baik panjang, lebar maupun tingginya, tetapi massanya tetap, hal itu
disebabkan oleh gaya-gaya yang menekan atau menariknya, pada saat gaya
ditiadakan bentuk kembali seperti semula.
Benda - benda yang memiliki sifat elestisitas antara lain pada umumnya
adalah karet dan pegas , karena karet dan pegas dapat kembali kepada keadaaan
sebelumnya jika gaya yang terjadi pada benda benda tersebut telah dihilangkan.
Namun pada sifat elastisitas ini benda benda mempunyai batas batas elastisitas
yang berbeda beda yang disebut modulus redigius, misalnya jika sebuah karet
ditarik terlalu keras akan dapat putus karena gaya tarik atau yang diterimanya
terlalu besar sehingga melebihi batas elastisita karet tersebut.
Elastisitas adalah sifat bahan yang dapat kembali ke bentuk awal setelah
gaya yang dikenai padanya dihilangkan, misalnya karet ditarik sampai mulur
setelah gaya tarik dihilangkan ukuranpanjang karet tidak mengalami perubahan.
Apabila karet yang ditarik sampai mulur (memanjang)dan setelah gaya
dihilangkan pemuluran ini tetap terjadi dengan panjang awal karet sebelum
percobaan menjadi tidak sama dengan panjang karet setelah percobaan, maka sifat
elastis karet tersebut dapat dinyatakan telah berubah. Akibatnya karet yang telah
mengalami permukaan telah berubah batas elastisitasnya. Sifat berlawanan dari
elastis disebut plastis.
Hubungan linier antara gaya dengan pertambahan panjang , menurut hooks
tidak hanya berlaku untuk batang benda padat saja , tetapi berlaku juga untuk
benda benda elastis contohnya seperti: pegas, karet pentil dan karet gelang.

Ketika menarik karet mainan sampai batas tertentu, karet tersebut


bertambah panjang. Jika tarikanmu dilepaskan, maka karet akan kembali ke
panjang semula. Demikian juga ketika dirimu merentangkan pegas, pegas tersebut
akan bertambah panjang. tetapi ketika dilepaskan, panjang pegas akan kembali
seperti semula. Apabila di laboratorium sekolah anda terdapat pegas, silahkan
melakukan pembuktian ini. Regangkan pegas tersebut dan ketika dilepaskan maka
panjang pegas akan kembali seperti semula. Hal itu disebabkan karena bendabenda tersebut memiliki sifat elastis. Elastis atau elastisitas adalah kemampuan
sebuah benda untuk kembali ke bentuk awalnya ketika gaya luar yang diberikan
pada benda tersebut dihilangkan. Jika sebuah gaya diberikan pada sebuah benda
yang elastis, maka bentuk benda tersebut berubah. Untuk pegas dan karet, yang
dimaksudkan dengan perubahan bentuk adalah pertambahan panjang.
Sebuah karet bisa putus jika gaya tarik yang diberikan sangat besar,
melawati batas elastisitasnya. Demikian juga sebuah pegas tidak akan kembali ke
bentuk semula jika diregangkan dengan gaya yang sangat besar.
Banyak sekali peralatan yang digunakan manusia yang memanfaatkan
sifatelastis bahan. Neraca Newton (neraca pegas) merupakan pemanfaatan yang
sangatsederhana, di mana pertambahan panjang pegas digunakan untuk mengukur
massabenda yang digantung di ujung neraca. Contoh lainnya adalah pada tali
busursebuah pana. Ketika tali busur tersebut ditarik, tali busur yang bersifat
elastik akanmenegang dan menyimpan energi potensial elastik. ketika anak panah
dilepaskan,energi potensial elastik ini akan berubah menjadi energi kinetik anak
panahsehingga sehingga anak panah dapat melesat. pada sepedah motor dan
mobilketika bergerak dijalan yang tidak rata, Inilah yang meyebabkan kita
merasanyaman dan aman walaupun motor atau mobil yang kita tumpangi
bergerak dijalan yang tidak rata.
Dalam

ilmu

bangunan,

bahan-bahan

elastik

digunakan

sebagai

rangkaataupun sebagai penyangga untuk menahan getaran yang besar, misalnya


gempabumi. Bayangkan jika pada sebuah jembatan, bahan utama yang digunakan
bukanbahan elastis. Ketika beban yang agak banyak lewat diatas jembatan,
makajembatan itu akan tertekan sedikit kebawah. Karena tidak elastik, jembatan

tidakdapat kembali ke posisinya semula. Lama-kalamaan, jembatan itu akan


patah.Itulah sebabnya pengetahuan mengenai sifat elastisitas bahan sangat penting
dalam kehidupan ini.
Pada dasarnya osilasi alias getaran dari pegas yang
digantungkan secara vertikal sama dengan getaran pegas yang
diletakan horisontal. Bedanya, pegas yang digantungkan secara
vertikal lebih panjang karena pengaruh gravitasi yang bekerja
pada benda (gravitasi hanya bekerja pada arah vertikal, tidak
pada arah horisontal). Mari kita tinjau lebih jauh getaran pada
pegas yang digantungkan secara vertical.
Pada pegas yang kita letakan horisontal (mendatar), posisi
benda disesuaikan dengan panjang pegas alami. Pegas akan
meregang atau mengerut jika diberikan gaya luar (ditarik atau
ditekan). Nah, pada pegas yang digantungkan vertikal, gravitasi
bekerja pada benda bermassa yang dikaitkan pada ujung pegas.
Akibatnya, walaupun tidak ditarik ke bawah, pegas dengan
sendirinya meregang sejauh x0. Pada keadaan ini benda yang
digantungkan pada pegas berada pada posisi setimbang.
Energi potensial elestis berhubungan dengan benda-benda yang elastis,
misalnya pegas. Mari kita bayangkan sebuah pegas yang ditekan dengan tangan.
Apabila kita melepaskan tekanan pada pegas, maka pegas tersebut melakukan
usaha pada tangan kita. Efek yang dirasakan adalah tangan kita terasa seperti di
dorong. Apabila kita menempelkan sebuah benda pada ujung pegas, kemudian
pegas tersebut kita tekan, maka setelah dilepaskan benda yang berada di ujung
pegas pasti terlempar. Jika dirimu mempunyai koleksi pegas, baik di rumah
maupun di sekolah, silahkan melakukan percobaan ini untuk membuktikannya.
Setiap benda yang bergerak memiliki energi. Ketapel yang ditarik lalu
dilepaskan sehingga batu yang berada di dalam ketapel meluncur dengan

kecepatan tertentu. Batu yang bergerak tersebut memiliki energi. Jika diarahkan
pada ayam tetangga maka kemungkinan besar ayam tersebut lemas tak berdaya
akibat dihajar batu. Pada contoh ini batu melakukan kerja pada ayam. Kendaraan
beroda yang bergerak dengan laju tertentu di jalan raya juga memiliki energi
kinetik. Ketika dua buah kendaraan yang sedang bergerak saling bertabrakan,
maka bisa dipastikan kendaraan akan digiring ke bengkel untuk diperbaiki.
Kerusakan akibat tabrakan terjadi karena kedua mobil yang pada mulanya
bergerak melakukan usaha / kerja satu terhadap lainnya. Ketika tukang bangunan
memukul paku menggunakan martil, martil yang digerakan tukang bangunan
melakukan kerja pada paku.
Setiap benda yang bergerak memberikan gaya pada benda
lain dan memindahkannya sejauh jarak tertentu. Benda yang
bergerak

memiliki

kemampuan

untuk

melakukan

kerja,

karenanya dapat dikatakan memiliki energi. Energi pada benda


yang bergerak disebut energi kinetik. Kata kinetik berasal dari
bahasa yunani, kinetikos, yang artinya gerak. ketika benda
bergerak, benda pasti memiliki kecepatan. Dengan demikian,
kita dapat menyimpulkan bahwa energi kinetik merupakan
energi

yang

dimiliki

benda

karena

gerakannya

atau

kecepatannya.
Tujuan adanya pegas ini adalah untuk meredam kejutan ketika sepeda
motor yang dikendarai melewati permukaan jalan yang tidak rata. Ketika sepeda
motor melewati jalan berlubang, gaya berat yang bekerja pada pengendara (dan
gaya berat motor) akan menekan pegas sehingga pegas mengalami mampatan.
Akibat sifat elastisitas yang dimilikinya, pegas meregang kembali setelah
termapatkan. Perubahan panjang pegas ini menyebabkan pengendara merasakan
ayunan. Dalam kondisi ini, pengendara merasa sangat nyaman ketika sedang
mengendarai sepeda motor. Pegas yang digunakan pada sepeda motor atau
kendaraan lainnya telah dirancang untuk mampu menahan gaya berat sampai

batas tertentu. Jika gaya berat yang menekan pegas melewati batas elastisitasnya,
maka lama kelamaan sifat elastisitas pegas akan hilang. Disarankan agar tidak
ditumpangi lebih dari tiga orang. Para perancang motor telah memperhitungkan
beban maksimum yang dapat diatasi oleh pegas (biasanya dua orang).
Pegas bukan hanya digunakan pada sistem suspensi sepeda motor tetapi
juga pada kendaraan lainnya, seperti mobil, kereta api, dkk. (gambar kiri per
mobil) . Pada mobil, terdapat juga pegas pada setir kemudi. Untuk menghindari
benturan antara pengemudi dengan gagang setir, maka pada kolom setir diberi
pegas. Berdasarkan hukum I Newton (Hukum Inersia), ketika tabrakan terjadi,
pengemudi (dan penumpang)cenderung untuk terus bergerak lurus. Nah, ketika
pengemudi bergerak maju, kolom setir tertekan sehingga pegas memendek dan
bergeser miring. Dengan demikian, benturan antara dada pengemudi dan setir
dapat dihindari.
Contoh yang sangat sederhana dan mungkin sering ditemui adalah ketapel.
Ketika hendakmenembak burung dengan ketapel misalnya, karet ketapel terlebih
dahulu diregangkan (diberi gaya tarik). Akibat sifat elastisitasnya, panjang karet
ketapelakan kembali seperti semula setelah gaya tarik dihilangkan. Contoh lain
adalah kasur pegas. Ketika dirimu duduk atau tidur di atas kasur pegas, gaya
beratmu menekan kasur. Karena mendapat tekanan maka pegas kasur
termampatkan. Akibat sifat elastisitasnya, kasur pegas meregang kembali. Pegas
akan meregang dan termampat, demikian seterusnya. Akibat adanya gaya gesekan
maka suatu saat pegas berhenti bergerak. Dirimu yang berada di atas kasur merasa
sangat empuk akibat regangan dan mampatan yang dialami oleh pegas kasur. Di
dalam dinamometer terdapat pegas. Pegas tersebut akan meregang ketika dikenai
gaya luar. Misalnya anda melakukan percobaan mengukur besar gaya gesekan.
Ujung pegas anda kaitkan dengan sebuah benda bermassa. Ketika benda ditarik,
maka pegas meregang. Regangan pegas tersebut menunjukkan ukuran gaya, di
mana besar gaya ditunjukkan oleh jarum pada skala yang terdapat pada samping
pegas. Untuk mengukur berat badan (dalam fisika, berat yang dimaksudkan di
sini adalah massa)juga memanfaatkan bantuan pegas.
9

Gaya tarik yang terlalu keras dan besar dapat menyebabkan suatu benda
tidak dapat kembali lagi seperti semula. keadaan seperti ini dapat dikatakan
mengalami bentuk plastis. Sifat kelentingan atau elastisitas suatu benda berbentuk
batang dapat direntangkan dengan dua macam pengertian , yaitu tegangan (stress)
dan regangan (strain).
2.2. Tegangan (Stress)
Tegangan adalah besarnya gaya yang bekerja pada setiap satuan luas
penampamg suatu benda atau batang. Suatu batang dikatakan dalam keadaan
tegang apabila masing masing ujung batang tersebut mengalami gaya tarik yang
sama besarnya dan berlawanan arah. Apabila batang tersebut diiris tegak lurus
sama besar, maka masing masing potongannya dalam keadaan setimbang.
Potongan akan mengerjakan tarikan terhadap potongan yang berlawanan arah
yang terdistribusi merata pada luas penampang (A) dengan gaya F. Tegangan ini
merupakan tegangan normal bukan merupakan besaran vector. Hal ini dika
renakan oleh kita tidak memberi arah tertentu. Tegangan yang berbeda pada zat
padat merupakan tekanan hidrostatis asalkan teganngan disemua titik permukaan
itu adalah sama.
2.3 Regagan (strain)
Regangan adalah peubahan yang relative dimensi atau bentuk benda yang
mengalami tegangan. Regangan yang dapat berarti pertambahan panjang untuk
tiap tiap satu satuan panjang. Jika diketahui pertambahan panjang dan panjang
mula mula sebelum benda itu diberi gaya, maka dapat ditentukan regangannya
dengan persamaan berikut ini rumus 1 (terlampir).
Sebuah batang yang mengalami regangan , panjang aslinya dari l o berubah
menjadi l, Hal ini terjadi karena pada ujung ujungnya dilakukan gaya tarikan
yang sama besar dan berlawanan arahnya.
Perpanjangan ini menjadi kecil hanya pada ujung ujungnya sama . Setiap
unsur batang itu bertambah panjang sebanding dengan pertambahan panjang

10

batang secara keseluruhan. Regangan akibat tarikan pada batang tersebut dapat
ditulis dengan persamaan seperti berikut ini rumus 2 (terlampir).
Regangan akibat kompresiang didefenisikan dengan cara yang sama,
yaitu sebagai perbandingan berkurangnya panjan terhadap panjang awalnya.
2.4. Regangan luncur
Regangan luncur merupakan perbandingan perubahan sudut b terhadap
dimensi melintang. Regangan luncur terjadi pada balok yang pada salah satu
diagonalnya mengalami pertambahan panjang dan yang lainnya berkurang. Hal ini
terjadi karena bekerjanya tegangan tangensial, maka dapat ditulis pada rumus 3
(terlampir). Regangan lain yang dihasilkan oleh tekanan hidrostatis adalah
regangan volume.
2.5 Regangan Volume
Regangan volume adalah perbandingan antara perubahan volume pertama
dan volume sesudahnya pada rumus 4 (terlampir). Dan juga grafik hubungan
antara tegangan dengan regangan (terlampir).
Dari 1 ke 2 grafik menunjukkan garis lurus berarti pertambahan panjang
berbanding lurus dengan tegangan atau jika gaya tegangan dijadikan dua kali lebih
besar dan seterusnya.
Jadi, gaya tegangan sebanding dengan pertambahan panjang. Dalam hal
ini, bahan yang mengalami peribahan bentuk panjang atau elastisitas berarti
apabila tegangan atau bebannya tidak ada maka akan kembalikebentuk semula.
Sedangkan pada titik 3 merupakan batas elastisitas dan mulai terjadi perubahan
bentuk plastis. Jika tegangan sudah tidak ada lagi, maka mengembalikan kebentuk
semula tidak akan sempurna lagi. Karena itulah, mulai dari titik 3 grafik hubungan
antara tegangan dan regangan tidak berupa garis yang lurus, melainkan
melengkung.
2.6 Modulus Elastis / Modulus Young

11

Modulus young adalah perbandingan tegangan tarik terhadap regangan tarik


untuk benda yang berbahan tertentu dan sama dengan perbandingan tegangan
kompresi terhadap regangan kompresi. Modulus Elastis dapat ditulis pada rumus
5 (terlampir).
Konstanta dinamakan modulus young (E). Harga E tergantung pada sifat
bahan dan tidak tergantung pada ukuran atau dimensi bahan.
Untuk menahan pegas agar panjangnya tigak bertambah dengan x,
dibutuhkangaya F pada salah satu ujung pegas yang besarnya sama
tetapiberlawanan arah dengan gaya pada ujung lainnya .
2.7. Konstanta Gaya Modulus Elastis
Konstanta gaya modulus elastis merupakan gaya yang menyatakansifat
elastis suatu bahan tertentu dan dukan menunjukkan langsung seberapa jauh
sebuah batang atau pegas yang terbuat dari bahan yang bersangkutan mengalami
perubahan akibat pengaryh beban atau gaya. Konstanta ini tidak tergantung
kepada ukuran atau dimensi bahan, melainkan tergantung kepada bahan yang
memiliki sifat sifat tertentu.
Hukum Hooke : Jika gaya tarik tidak melampaui batang elastisitas pegas, maka
pertambahan panjang pegas berbanding lurus atau sebanding dengan gaya
tariknya.
Berikut grafik hubungan antara gaya dan pertambahan panjang pada
pegas (terlampir). Menurut Hukum Hooke, Pertambahan panjang itu berbanding
lurus dengan F/
HUKUM HOOKE
Hukum Hooke pada Pegas
Misalnya kita tinjau pegas yang dipasang horizontal, di mana pada ujung
pegas tersebut dikaitkan sebuah benda bermassa m. Massa benda kita abaikan,
demikian juga dengan gaya gesekan, sehingga benda meluncur pada permukaan
horisontal tanpa hambatan. Terlebih dahulu kita tetapkan arah positif ke kanan dan
arah negatif ke kiri. Setiap pegas memiliki panjang alami, jika pada pegas tersebut

12

tidak diberikan gaya. Pada kedaan ini, benda yang dikaitkan pada ujung pegas
berada dalam posisi setimbang (lihat gambar a). Untuk semakin memudahkan
pemahaman dirimu,sebaiknya dilakukan juga percobaan.
Apabila benda ditarik ke kanan sejauh +x (pegas diregangkan), pegas akan
memberikan gaya pemulih pada benda tersebut yang arahnya ke kiri sehingga
benda kembali ke posisi setimbangnya (gambar b).
Sebaliknya, jika benda ditarik ke kiri sejauh -x, pegas juga memberikan
gaya pemulih untuk mengembalikan benda tersebut ke kanan sehingga benda
kembali ke posisi setimbang (gambar c).
Besar gaya pemulih F ternyata berbanding lurus dengan simpangan x dari
pegas yang direntangkan atau ditekan dari posisi setimbang (posisi setimbang
ketika x = 0).
Persamaan ini sering dikenal sebagai persamaan pegas dan merupakan
hukum hooke. Hukum ini dicetuskan oleh paman Robert Hooke (1635-1703). k
adalah konstanta dan x adalah simpangan. Tanda negatif menunjukkan bahwa
gaya pemulih alias F mempunyai arah berlawanan dengan simpangan x. Ketika
kita menarik pegas ke kanan maka x bernilai positif, tetapi arah F ke kiri
(berlawanan arah dengan simpangan x). Sebaliknya jika pegas ditekan, x berarah
ke kiri (negatif), sedangkan gaya F bekerja ke kanan. Jadi gaya F selalu bekeja
berlawanan arah dengan arah simpangan x. k adalah konstanta pegas. Konstanta
pegas berkaitan dengan elastisitas sebuah pegas. Semakin besar konstanta pegas
(semakin kaku sebuah pegas), semakin besar gaya yang diperlukan untuk
menekan atau meregangkan pegas. Sebaliknya semakin elastis sebuah pegas
(semakin kecil konstanta pegas), semakin kecil gaya yang diperlukan
untukmeregangkan pegas. Untuk meregangkan pegas sejauh x, kita akan
memberikan gaya luar pada pegas, yang besarnya sama dengan F = +kx. Hasil
eksperimen menunjukkan bahwa x sebanding dengan gaya yang diberikan pada
benda.

Hukum Hooke untuk Benda Non Pegas


13

Hukum hooke ternyata berlaku juga untuk semua benda padat, dari besi
sampai tulang tetapi hanya sampai pada batas-batas tertentu. Mari kita tinjau
sebuah batang logam yang digantung vertikal, seperti yang tampak pada gambar
di bawah (gambar d terlampir).
Pada benda bekerja gaya berat (berat = gaya gravitasi yang bekerja pada
benda),yang besarnya = mg dan arahnya menuju ke bawah (tegak lurus
permukaan bumi). Akibat adanya gaya berat, batang logam tersebut bertambah
panjang sejauh (delta L).
Jika besar pertambahan panjang (delta L) lebih kecil dibandingkan dengan
panjang batang logam, hasil eksperimen membuktikan bahwa pertambahan
panjang (delta L) sebanding dengan gaya berat yang bekerja pada benda.
Persamaan ini kadang disebut sebagai hukum Hooke. Kita juga bisa
menggantikan gaya berat dengan gaya tarik, seandainya pada ujung batang logam
tersebut tidak digantungkan beban.
Besarnya gaya yang diberikan pada benda memiliki batas-batas tertentu.
Jika gaya sangat besar maka regangan benda sangat besar sehingga akhirnya
benda patah. Hubungan antara gaya dan pertambahan panjang (atau simpangan
pada pegas) dinyatakan melalui grafik di samping.
Jika sebuah benda diberikan gaya maka hukum Hooke hanya berlaku
sepanjang daerah elastis sampai pada titik yang menunjukkan batas hukum hooke.
Jika benda diberikan gaya hingga melewati batas hukum hooke dan mencapai
batas elastisitas, maka panjang benda akan kembali seperti semula jika gaya yang
diberikan tidak melewati batas elastisitas. tapi hukum Hooke tidak berlaku pada
daerah antara batas hukum hooke dan batas elastisitas. Jika benda diberikan gaya
yang sangat besar hingga melewati batas elastisitas, maka benda tersebut akan
memasuki daerah plastis dan ketika gaya dihilangkan, panjang benda tidak akan
kembali seperti semula; benda tersebut akan berubah bentuk secara tetap. Jika
pertambahan panjang benda mencapai titik patah, maka benda tersebut akan
14

patah. Berdasarkan persamaan hukum Hooke di atas, pertambahan panjang (delta


L)suatu benda bergantung pada besarnya gaya yang diberikan (F) dan materi
penyusun dan dimensi benda (dinyatakan dalam konstanta k). Benda yang
dibentuk oleh materi yang berbeda akan memiliki pertambahan panjang yang
berbeda walaupun diberikan gaya yang sama, misalnya tulang dan besi. Demikian
juga,

walaupun

sebuah

benda

terbuat

dari

materi

yang

sama (besi,

misalnya), tetapi memiliki panjang dan luas penampang yang berbeda maka benda
tersebut akan mengalami pertambahan panjang yang berbeda sekalipun diberikan
gaya yang sama. Jika kita membandingkan batang yang terbuat dari materi yang
sama tetapi memiliki panjang dan luas penampang yang berbeda, ketika diberikan
gaya yang sama.

Bab 3
Data Hasil Pengamatan

15

Bab 4
Pengolahan Data

16

Bab 5
Pembahasan

17

Bab 6
Kesimpulan dan Saran
6.1 Kesimpulan
6.2 Saran

18

Daftar Pustaka
Giancoli, Douglas C. 2001. Fisika Jilid I (terjemahan). Jakarta : Erlangga
Halliday dan Resnick. 1991. Fisika Jilid I (terjemahan). Jakarta : Erlangga
Tipler, P.A.1998. Fisika untuk Sains dan TeknikJilid I (terjemahan). Jakarta :
Erlangga
Young, Hugh D. & Freedman, Roger A. 2002. Fisika Universitas (terjemahan).
Jakarta : Erlangga

19

Lampiran
Rumus 1

e=

Object 5

Rumus 2
l lo
lo

l
lo
=

Rumus 3
x
h
Regangan luncur =
Rumus 4

20

Regangan volume =

V
V

Rumus 5

E=

l
F

l
A

Fl
Al

E=

(N/m2)

Grafik 1
35
30

25

20
tegangan

15
10

5
0 0
0

regangan

Grafik 2

21

50
45
40
35
30
gaya (N)

25
20
15
10
5
0
1

pertambahan panjang (cm)

Gambar a
Gambar b

Gambar c

22

Gambar d

23