Anda di halaman 1dari 124

LAPORAN PRAKTIK PERENCANAAN PROGRAM GIZI

Pengumpulan Data Dasar Di Desa Candibinangun


Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman

DISUSUN OLEH:
Anindita Nuthaf Fajry

(P07131114004)

Diah Sekar Herdayani

(P07131114011)

Faridha Wahyu Hidayati

(P07131114017)

Hilda Zakiyya Zamzamy

(P07131114022)

Mella Edwinda Risdiana

(P07131114025)

Nurnisa Fitriana

(P07131114028)

Vivi Oktavia

(P07131114036)

Yuni Ambarwati

(P07131114040)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA
JURUSAN GIZI
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Berbagai permasalahan gizi di Indonesia sangat beragam. Dari masalah
gizi pada ibu hamil, balita, sampai dengan permasalahan gizi pada lansia.
Masalah gizi secara garis besar di Indonesia diantaranya adalah KEP (kurang
energy kronis), KVA (kurang vitamin A), GAKI, Anemia.
Masalah kurang gizi lain yang dihadapi anak usia balita adalah
kekurangan zat gizi mikro seperti vitainin A, zat besi, iodium dan sebagainya.
Lebih dan 50% anak balita mengalami defisiensi vitamin A subklinis yang
ditandai dengan serum retinol <20 mcg/dL dan satu diantara dua (48.1%) dari
mereka menderita anemia kurang zat besi . Seperti telah diketahui bahwa
anak-anak yang kurang vitainin A meskipun pada derajat sedang mempunyai
risiko tinggi untuk mengalami gangguan pertumbuhan, menderita beberapa
penyakit infeksi seperti campak, dan diare (Hadi et. al., 2000).
Defisiensi iodium dinyatakan sebagai gangguan akibat kekurangan
iodium (GAKI) yang menunjukan luasnya pengaruh defisiensi iodium
tersebut. Menurut laporang WHO tahun 1990, di negara yang sedang
berkembang hampir 1 miliar penduduk mempunyai resiko mengalami GAKI,
diantaranya dua ratus juta mengalami gondok, lima ratus juta mengalami
kretin dengan keterlambatan mental dan lima belas juta mengalami gangguan
mental yang lebih besar (Almatsier, 2001). Masalah GAKI di Indonesia
menurun dari 27.7% pada tahun 1990 menjadi 9.8% pada tahun 1998
(Aritonang, 2004).
Anemia merupakan masalah kesehatan lain yang paling banyak
ditemukan pada Ibu hamil. Kurang lebih 50% atau 1 diantara 2 ibu hamil di
Indonesia menderita anemia yang sebagian besar karena kekurangan zat besi.
Kontribusi anemia terhadap kematian Ibu di Indonesia diperkirakan lebih
tinggi lagi yaitu mencapai 50% hingga 70%. Dengan kata lain bahwa 50%
hingga 70% kematian ibu di Indonesia sesungguhnya dapat dicegah apabila

prevalensi anemia pada ibu hamil dapat ditekan sampai serendah-rendahnya.


Selain anemia, permasalahan gizi pada ibu hamil adalah kekurangan energy
kronik. Prevalensi ibu hamil KEK mengalami kenaikan selama krisis ekonomi
yaitu mencapai 24,9%. Meski mengalami penurunan yang cukup signifikan
dengan adanya perbaikan ekonoini Indonesia pasca krisis, sampai dengan saat
ini prevalensi BUMIL KEK masih cukup tinggi yaitu 16,7% (Hadi, 2002).
Masalah

gizi

adalah

masalah

kesehatan

masyarakat

yang

penanggulangannya tidak dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan


pelayanan kesehatan saja. Masalah gizi merupakan akhir dari berbagai
masalah yang kompleks. Masalah gizi merupakan dampak langsung dari
konsumsi zat gizi yang salah serta adanya kejadian infeksi penyakit.
Konsumsi zat gizi yang salah serta adanya kejadian infeksi penyakit erat
kaitannya dengan rendahnya perekonomian di tingkat rumah tangga yang
merupakan imbas dari krisis ekonomi dan politik serta SDM yang rendah.
Akibat masalah gizi yang dihadapi bangsa Indonesia telah mengancam
kualitas generasi muda bangsa Indonesia yang merupakan generasi penerus
bangsa, sehingga perlu upaya penanggulangan yang serius. Anak yang
menderita gizi buruk akan mempengaruhi sumber daya manusia, karena gizi
merupakan salah satu penentu kualitas sumber daya manusia.

Akibat

kekurangan gizi pada anak akan menyebabkan beberapa efek serius seperti
kegagalan pertumbuhan fisik serta tidak optimalnya perkembangan dan
kecerdasan. Akibat lainnya adalah terjadinya penurunan produktivitas,
menurunnya daya tahan tubuh terhadap penyakit yang akan meningkatkan
risiko kesakitan dan kematian (Soekirman, 2000).
Salah satu upaya yang dilakukan untuk menanggulangi masalah gizi di
masyarakat adalah intervensi gizi.

Intervensi yang baik dan tepat harus

didasarkan pada perencanaan yang tepat. Proses perencanaan memerlukan


data yang ada di masyarakat, sehingga perlu dilakukan kegiatan pengumpulan
data dasar. Dalam hal ini, kami akan melakukan pengambilan data di
kecamatan pakem.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah ada masalah gizi balita di desa Candibinangun?
2. Apakah ada masalah gizi WUS (wanita usia subur) di desa
Candibinangun?
3. Apakah ada masalah gizi ibu hamil di desa Candibinangun?
4. Apakah ada masalah gizi lansia di desa Candibinangun?
5. Berapa tingkat kecukupan energi balita di desa Candibinangun?
6. Berapa tingkat kecukupan protein balita di desa Candibinangun?
7. Berapa tingkat kecukupan lemak balita di desa Candibinangun?
8. Berapa tingkat kecukupan energi ibu hamil di desa Candibinangun?
9. Berapa tingkat kecukupan protein ibu hamil di desa Candibinangun?
10. Berapa tingkat kecukupan lemak ibu hamil di desa Candibinangun?
11. Berapa tingkat kecukupan karbohidrat ibu hamil di desa Candibinangun?
12. Berapa tingkat kecukupan Fe ibu hamil di desa Candibinangun?
13. Berapa tingkat kecukupan energi lansia di desa Candibinangun?
14. Berapa tingkat kecukupan protein lansia di desa Candibinangun?
15. Berapa tingkat kecukupan lemak lansia di desa Candibinangun?
16. Berapa tingkat kecukupan karbohidrat lansia di desa Candibinangun?
17. Berapa tingkat kecukupan energi WUS (wanita usia subur) di desa
Candibinangun?
18. Berapa tingkat kecukupan protein WUS (wanita usia subur) di desa
Candibinangun?
19. Berapa tingkat kecukupan lemak WUS (wanita usia subur) di desa
Candibinangun?
20. Berapa tingkat kecukupan karbohidrat WUS (wanita usia subur) di desa
Candibinangun?
21. Berapa tingkat pencapaian keluarga Sadar Gizi di desa Candibinangun?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum

Mengetahui jenis dan besar masalah gizi serta faktor-faktor terkait


terlaksananya kegiatan penanggulangan masalah gizi dan kesehatan di Desa
Candibinangun, Kecamatan Pakem
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui status gizi balita berdasarkan antropometri.
b. Mengetahui status gizi WUS (wanita usia subur) berdasarkan
antropometri.
c. Mengetahui status gizi ibu hamil berdasarkan antropometri.
d. Mengetahui status gizi lansia berdasarkan antropometri.
e. Mengetahui tingkat kecukupan energi pada balita di desa Candibinangun
f. Mengetahui tingkat kecukupan protein pada balita di desa Candibinangun
g. Mengetahui tingkat kecukupan lemak pada balita di desa Candibinangun
h. Mengetahui tingkat kecukupan energi ibu hamil di desa Candibinangun
i. Mengetahui tingkat kecukupan protein ibu hamil di desa Candibinangun
j. Mengetahui tingkat kecukupan lemak ibu hamil di desa Candibinangun
k. Mengetahui tingkat kecukupan karbohidrat ibu hamil di desa
Candibinangun
l. Mengetahui tingkat kecukupan Fe ibu hamil di desa Candibinangun
m. Mengetahui tingkat kecukupan energi lansia di desa Candibinangun
n. Mengetahui tingkat kecukupan protein lansia di desa Candibinangun
o. Mengetahui tingkat kecukupan lemak lansia di desa Candibinangun
p. Mengetahui tingkat kecukupan karbohidrat lansia di desa Candibinangun
q. Mengetahui tingkat kecukupan energi WUS (wanita usia subur) di desa
Candibinangun
r. Mengetahui tingkat kecukupan protein WUS (wanita usia subur) di desa
Candibinangun
s. Mengetahui tingkat kecukupan lemak WUS (wanita usia subur) di desa
Candibinangun
t. Mengetahui tingkat kecukupan karbohidrat WUS (wanita usia subur) di
desa Candibinangun

u. Mengetahui tingkat pencapaian keluarga Sadar Gizi (Pemberian ASI


Eksklusif dan ASI sampai 2 tahun yang diikuti makanan pendamping
ASI, penggunaan garam beryodium, menggunakan suplemen sesuai
dengan kondisi, dan sarapan pagi) di desa Candibinangun
D. Manfaat
Pengambilan data di Desa Candibinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten
Sleman ini dikumpulkan sebagai bahan untuk menyusun rencana intervensi
gizi

BAB II
METODE PENGUMPULAN DATA
A. Lokasi Pengumpulan Data
Pengumpulan data dasar ini dilaksanakan di Desa Candibinangun,
Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, D.I Yogyakarta.
B. Waktu Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilaksanakan pada tanggal 31 Oktober 2016 sampai
dengan 4 November 2016.
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi dalam pengumpulan data dasar ini adalah semua balita, WUS,
ibu hamil dan lansia yang berada di Desa Candibinangun, Kecamatan Pakem,
Kabupaten Sleman, D.I Yogyakarta.
2. Sampel
Sampel dalam pengumpulan data dasar ini adalah sebagian dari warga
masyarakat yang bertempat tinggal di Desa Candibinangun, Kecamatan
Pakem, Kabupaten Sleman, D.I Yogyakarta.
Rincian Subyek dalam sampel pengumpulan data dasar:
a. Balita
Sampel WUS adalah sebagian WUS di desa Candibinangun, kecamatan
Pakem sebanyak 10 orang
b. WUS
Sampel WUS adalah sebagian WUS di desa Candibinangun kecamatan
Pakem, sebanyak 5 orang.
c. Ibu hamil
Subyek ibu hamil adalah sebagian ibu hamil di desa Candibinangun
Kecamatan Pakem sebanyak 2 orang
d. Lansia

Subyek ibu hamil adalah semua lansia di desa Candibinangun


Kecamatan Pakem sebanyak 2 orang
3. Responden
Responden pengumpulan data dasar adalah adalah ibu balita, WUS, ibu
hamil dan lansia, atau orang yang mendampingi sasaran utama.
D. Definisi Operasional Variabel
1. Balita
No
1

Variabel
Penyakit
eksklusi dan
balita dengan
perawatan

2
3

Keadaan
cacat fisik
Usia

Jenis kelamin

Pengasuh

Pelaksanaan
IMD

Masih
minum ASI

Terakhir
minum ASI

Pemberian
makanan
padat

DOV
Balita dirawat atau
menderita penyakit
hidosefalus/jantung
bawaan/nefrotik
syndrome
Ketidaknormalan
kondisi fisik balita
Rentang waktu hidup
balita dihitung dengan
bulan penuh
Perbedaan laki-laki
dan perempuan secara
biologis (Hungu,
2007)
Orang yang merawat
balita sehari-harinya
Usaha aktif bayi
menyusu yang
pertama dalam 1 jam
pertama kelahiran
Cairan putih hasil
sekresi dari payudara
ibu kandung/pendonor
Usia balita saat
berhenti minum ASI
dan alasannya
Substansi padat yang
memiliki zat gizi dan
diberikan pada balita
pada saat
pengumpulan data

Parameter

Skala
Nominal

1. Ya
2. Tidak

1. Ada cacat fisik


2. Tidak
.......Bulan

Nominal

1. Laki-laki
2. Perempuan

Nominal

1. Ibu
2. Anggota keluarga lain
3. Baby sitter
4. Lainnya, ........
1. Ya IMD
2. Tidak IMD

Nominal

1. Ya
2. Tidak

Nominal

Interval

Nominal

.......... Bulan
Alasan
1. Ya
2. Tidak

Nominal

10

11

12

13

14

15

16

Awal
pemberian
makanan
padat
Makanan
yang
diberikan
pertama kali
Bentuk
makanan
yang
diberikan
pertama kali
Pemberian
minuman
selain ASI
Awal
pemberian
cairan
Minuman
yang
diberikan
pertama kali
ASI
Eksklusif

17

Masalah
nafsu makan

18

Sakit 1 bulan
terakhir

19

Keikut
sertaan
Posyandu

Substansi padat yang


memiliki zat gizi dan
diberikan pada balita
dan alasannya
Substansi padat yang
diberikan untuk balita
pertama kali

.. Bulan

Interval

Alasan
...........

Nominal

Konsistensi yang
diberikan pertama kali

1. Cair
2. Saring
3. Lunak

Nominal

Substansi cair yang d


ikonsumsi balita
selain ASI pada saat
pengumpulan data
Substansi cair yang d
ikonsumsi balita
selain ASI dan
alasannya
Substansi cair selain
ASI yang dikonsumsi
balita pertama kali

1. Ya
2. Tidak

Nominal

.. Bulan

Interval

Alasan
............

Nominal

Pemberian cairan
putih hasil sekresi dari
payudara ibu
kandung/pendonor 0-6
bulan pertama
kehidupan bayi tanpa
makanan dan
minuman lain
Keinginan alami balita
untuk memuaskan
kebutuhan tubuh
terhadap makanan
rasa tidak nyaman di
tubuh atau bagian
tubuh karena
menderita sesuatu.

1. Ya
2. Tidak

Nominal

1. Baik
2. Tidak Baik

Ordinal

1. Demam
2. Batuk
3. Pilek
4. Muntah
5. Diare
6. Lainnya, .........
1. Rutin setiap bulan
2. Tidak rutin

Nominal

Kehadiran setiap
bulan di posyandu
setempat

Nominal

20

Imunisasi
Balita

Kegiatan injeksi
antivirus pada anak

21

Kapsul
vitamin A
Februari
2016
Kapsul
vitamin A
Agustus 2016

Imunisasi di posyandu
sebagai pencegahan
penyakit KVA pada
Bulan Februari 2016
Imunisasi di posyandu
sebagai pencegahan
penyakit KVA pada
Bulan Agustus 2016
Ukuran antropometri
massa tubuh sampel
saat lahir
Data sampai satu
angka dibelakang
koma
Ukuran antropometri
sampel saat lahir dari
ujung kepala sampai
kaki
Data sampai satu
angka dibelakang
koma
Ukuran antropometri
massa tubuh balita
saat pengambilan data
Diukur dengan
timbangan digital
Hasil sampai satu
angka dibelakang
koma
Ukuran antropometri
seseorang dari ujung
kepala sampai kaki
saat pengambilan data
Diukur dengan
infantometer (sampel
dibawah 2 tahun) dan
microtoise (sampel
diatas 2 th/sdh bisa
berdiri)
Hasil sampai satu

22

23

Berat Badan
Lahir

24

Panjang
Badan Lahir

25

Berat Badan

26

Panjang/Ting
gi Badan

1. Polio
2. Hepatitis B
3. DPT
4. Campak
5. BCG
6. Lainnya ......
1. Ya
2. Tidak

Nominal

1. Ya
2. Tidak

Nominal

Kg

Rasio

Cm

Rasio

Kg

Rasio

Cm

Rasio

Nominal

10

27

Status gizi
anak BB/U

28

Status gizi
anak TB/U

29

Asupan Zat
Gizi

angka dibelakang
koma
Hasil keseimbangan
zat-zat gizi yang
masuk dalam tubuh
dan penggunaannya
yang dihitung
berdasarkan Z score
dengan BB/U
Hasil keseimbangan
antara zat-zat gizi
yang masuk dalam
tubuh dan
penggunaannya yang
dihitung berdasarkan
Z score dengan TB/U
Jumlah intake zat gizi
energi, protein, lemak,
karbohidrat, vitamin A
Data diperoleh dari
recall 24 jam yang
diambil selama 3 hari

1. Gizi lebih (>+2 SD)


2. Gizi baik (+2SD s/d -2
SD)
3. Gizi kurang (<-2SD s/d
-3SD)
4. Gizi buruk (<-3SD)

Ordinal

1. Tinggi (>+2 SD)


2. Normal (+2SD s/d -2 SD)
3. Pendek (<-2SD s/d -3
SD)
4. Sangat pendek (<-3 SD)

Ordinal

1. kkal
2. gram
3. g

Rasio

2. Wanita Usia Subur


No
1

Variabel
Wanita Usia
Subur (WUS)

DOV

Parameter

Wanita yang masih dalaim


usia reproduktif yaitu antara
usia 15-49 tahun, dengan
status belum menikah,
menikah, atau janda.
(Depkes RI, 2004)

Subur (sudah
menstruasi)

Skala
Nominal

Tidak subur (belum


menstruasi dan
sudah menopause)

Umur

Rentang kehidupan manusia


yang diukur dengan tahun

Tahun

Interval

Tingkat
Pendidikan

Tahapan pendidikan yang


ditetapkan berdasarkan
tingkat perkembangan
peserta didik, tujuan yang
akan dicapai dan kemauan
yang dikembangkan

Tidak Sekolah

Ordinal

SD
SMP
SMA

11

Perguruan Tinggi
4

Agama

Ajaran,sistem yang
mengatur tata keimanan
(kepercayaan dan
peribaatan) kepada Tuhan
Yang Maha Kuasa serta
kaidah yang berhubungan
dengan pergaulan manusia
serta linkungan (KKBI)

Islam

Nominal

Katolik
Kristen
Hindu
Budha
Lain-lain

Pekerjaan

Aktivitas manusia yang


dilakukan sehari-hari untuk
mendapatkan upah

PNS/ ABRI/ Polisi

Nominal

Karyawan swasta
Wiraswasta
Petani
Buruh
Pelajar
Lain-lain

LILA

Hasil pengukuran lengan


atas yang diukur pada
pertengahan antara tulang
akromium hingga siku
menggunakan metlin dan
pita lila

Cm

Nominal

Status KEK

Keadaan tubuh dimana


kekurangan energi secara
kronis

KEK = <23,5

Ordinal

Tidak KEK

Asupan makan

Semua jenis makanan dan


minuman yang dikonsumsi
tubuh setiap hari

Gram

Nominal

Asupan Zat Gizi

Semua zat gizi yang


dikonsumsi tubuh setiap
hari

Energi = kkal
Protein = gram
Lemak = gram
Karbohidrat =
gram

Nominal

12

3. Ibu Hamil
No

Variabel

DOV

Parameter

Keterangan

Skala

13

1.

Umur

2.

Agama

3.

Pendidikan

4.

Pekerjaan

Rentang
Tahun
kehidupan ibu
hamil yang
diukur dengan
tahun(Harlock,
2004)
Sistem yang
1. Islam
mengatur tata
2. Kristen
keimanan
3. Katolik
(kepercayaan)
4. Budha
dan
peribadatan
5. Hindu
kepada Tuhan
Yang Maha
Kuasa serta
tata kaidah
yang
berhubungan
dengan
pergaulan
manusia dan
manusia serta
lingkungannya.
Proses
1. Tidak
perubahan
sekolah
sikap dan tata
2. SD
laku seseorang
3. SMP
atau kelompok
orang dalam
4. SMA /SMK
usaha
5. Perguruan
mendewasakan
Tinggi
manusia
melalui upaya
pengajaran.
Suatu kegiatan 1. Ibu rumah
aktif yang
Tangga
dilakukan oleh
2. PNS
ibu hamil dan
3. Karyawan
menghasilkan
uang

Interval

Nominal

Ordinal

Nominal

14

swasta
4. Wirausaha
5. TNI/ POLRI
5.

Usia
kehamilan

6.

Kehamilan
anak ke-

7.

Keluhan
kehamilan
yang
diderita

Taksiran usia
janin yang
dihitung dari
hari pertama
masa haid
normal.
Masa di mana
seorang ibu
mengandung
seorang janin
berdasarkan
urutan lahir
Yang di
rasakan oleh
ibu saat
mengandung
janin

6. Lain-lain....
Bulan

Nominal
.....

1. Mual

Riwayat
penyakit
selama
kehamilan

1. Ya

Nominal

2. Tidak
2. Muntah
3. Pusing
4. Lainnya, . . .

9.

Interval

1. Ya
2. Tidak
1. Ya
2. Tidak

.
Sesuatu yang
Berdasarkan
menyebabkan
catatan informasi
gangguan
ibu
kesehatan pada 1. Penyakit gula 1.
ibu hamil
darah
2.
selama
2. Tekanan
1.
mengandung
darah tinggi
2.
janin

Nominal

Ya
Tidak
Ya
Tidak

3. Asam urat

1. Ya

4. Lainnya, . . . .

2. Tidak

.
10.

Ngidam

Keinginan ibu
hamil terhadap
makanan

1. Ya,..
2. Tidak

15

11.

Pantangan
makanan

12.

Kadar Hb

13.

Konsumsi
tablet tablet
tambah
darah

14.

tertentu
Sesuatu yang
tidak boleh
dimakan dan
diminum
karena
terlarang
menurut adat
atau
kepercayaan
ibu hamil di
daerah
setempat
Ukuran protein
yang
mengandung zat
besi dalam sel
darah merah
yang membawa
oksigen satu
bulan terakhir

Asupan tablet
penambah
darah dari
pemerintah
yang
dikonsumsi ibu
hamil
Cara minum Kebiasaan ibu
tablet
dalam
tambah
mengkonsumsi
darah
minuman
tablet tambah
darah

1. Ya, . . . . .
karena . . . . .
2. Tidak,
karena . . . . .

Normal pada ibu


hamil 11 g/dl
Rendah < 11 g/dl

Interval

1. Ya

Nominal

2. Tidak,
karena . . . . .

1. Air putih

Frekuensi
konsumsi
tablet
tambah

Kekerapan
dalam
mengkonsumsi
tablet tambah

1. Ya

Nominal

2. Tidak
2. Teh
3. Jamu
4. Lainnya, . . .

15.

Nominal

..
Ibu hamil
mengkonsumsi
tablet tambah
darah 1 x per

1. Ya
2. Tidak
1. Ya
2. Tidak
Ordinal

16

16.

17.

18.

darah dari
pusat
pelayanan
kesehatan
Konsumsi
the

Frekuensi
konsumsi
the

darah

hari

Minuman yang
berasal dari
puncuk yang
dilayukan dan
dikeringkan
dikonsumsi ibu
hamil
Kekerapan
dalam
mengkonsumsi
teh oleh ibu
hamil dalam
sehari

1. Ya

Cara minum Kebiasaan ibu


teh
dalam
mengkonsumsi
minuman teh

2. Tidak

Ordinal
.....

1. Dua jam
sebelum

makan
3. Dua jam
setelah

19.

Konsumsi
jamu

Frekuensi
konsumsi
Jamu

Asupan
minuman obat
tradisional
terbuat dari
bahan-bahan
herbal yang di
konsumsi ibu
hamil
Kekerapan
dalam
mengkonsumsi
obat tradisional
terbuat dari

1. Ya

Nominal

2. Tidak

makan
2. Bersama

17.

Nominal

makan
1. Ya, . . . . .

1. Ya
2. Tidak
1. Ya
2. Tidak
Nominal

2. Tidak

Ibu hamil
tidak
diperbolehka
n
mengkonsu

Ordinal

17

bahan-bahan
herbal oleh ibu
hamil

20.

Lingkar
lengan atas

Gambaran
tentang
keadaan
jaringan otot
dan lapisan
lemak bawah
kulit lengan
atas

21

Lingkar
lengan atas

Gambaran
tentang

msi jamu.
Ibu yang
mengonsums
i jamu
selama hamil
mempunyai
risiko 7 kali
lebih besar
untuk
melahirkan
bayi asfiksia
dibandingka
n ibu yang
tidak
mengonsums
i jamu
selama
kehamilan
(Purnamawa
ti dalam
Kesmas,
Jurnal
Kesehatan
Masyarakat
Nasional
Vol. 6, No.
6, Juni 2012)
Centi meter

1. Resiko KEK

Interval

Nominal

(< 23,5cm)

18

22.

Status gizi

keadaan
jaringan otot
dan lapisan
lemak bawah
kulit lengan
atas

2. Tidak

Hasil
keseimbangan
antara zat-zat
gizi yang
masuk dalam
tubuh dan
penggunaanny
a diukur
dengan
menggunakan
estimasi
perhitungan
prosentase
LILA, yaitu

1. > 85% = gizi


baik
2. 70%- 85%=
gizi kurang
3. <70% = gizi
buruk

beresiko
KEK (
23,5cm)

Ordinal

( LLA pengukuran)
LLA standar
24

Asupan
Energi

25

Asupan
Protein

26

Asupan
Lemak

x 100%
jumlah zat gizi
energi yang
masuk melalui
konsumsi
makanan
dalam sehari
jumlah zat gizi
energi yang
masuk melalui
konsumsi
makanan
dalam sehari
jumlah zat gizi
energi yang
masuk melalui

Kkal

Rasio

Gram

Rasio

Gram

Rasio

19

27

Asupan
Karbohidrat

28

Asupan
Vitamin C

29

Asupan Fe

konsumsi
makanan
dalam sehari
jumlah zat gizi
energi yang
masuk melalui
konsumsi
makanan
dalam sehari
jumlah zat gizi
vitamin C yang
masuk melalui
konsumsi
makanan
dalam sehari
jumlah zat gizi
mikro (zat
besi) yang
masuk melalui
konsumsi
makanan
dalam sehari

Gram

Rasio

Mg

Rasio

Mg

Rasio

4. Lansia
N

Variable

o
1

Usia

DOV
Masa

hidup

Parameter
subyek Tahun

Skala
Interval

penelitian sejak lahir hingga


dilakukan

penelitian,

dihitung dari ulang tahun


terakhir dengan alat bantu
kartu tanda penduduk(KTP)
2

Jenis
kelamin

atau akta kelahiran


Ciri biologis yang dimiliki Laki-laki
Perempuan
subyek penelitian

Nomina
l
20

Agama

Pendidika
n

Pekerjaan

Riwayat
penyakit
saat ini

Aktivitas
agama

Aktivitas
sosial

Aktivitas
rumah
tangga

Keyakinan

yang

dianut Islam
Kristen
subyek penelitian
Katolik
Hindu
Budha
Konghuchu
Jenjang pendidikan formal Tidak Sekolah
subyek
penelitian SD
SLTP
berdasarkan ijazah
SLTA
Perguruan Tinggi
Aktivitas
yang
dimiliki Wiraswasta
Swasta
subyek penelitian sebagai
Pensiunan
tumpuan untuk mendapatkan Tidak bekerja
Lain-lain,
penghasilan
sebutkan..
Gangguan kesehatan yang Tidak ada
dialami subyek penelitian Ada
saat ini
- Diabetes
mellitus
- Hipertensi
- Asam urat
- Lainya,
sebutkan.
Kegiatan yang berhubungan Tidak ada
dengan kepercayaan
Ada
- Pengajian
- Misa
- Lainya,
sebutkan.
Kegiatan yang berhubungan Tidak ada
dengan interaksi masyarakat Ada
- Arisan
- Kerja bakti
- Lainya,
sebutkan.
Kegiatan yang berhubungan Tidak ada
dengan kehidupan dalam Ada
rumah
- Memasak
- Mencuci
- Menyapu,

Nomina
l

Ordinal

Nomina
l

Nomina
l

Nomina
l

Nomina
l

Nomina
l

21

Lainya,
sebutkan.
Tidak ada
Ada
- Jalan jalan
- Senam lansia
- Lainya,
sebutkan
Tidak ada
Ada
- Pedagang
- Petani
- Berkebun
- Tukang ojek
- Lainya,
sebutkan
Baik
Kurang

10

Aktivitas
Olahraga

Kegiatan yang bertujuan


untuk
menguatkan
dan
menyehatkan tubuh

11

Aktivitas
wiraswast
a

Kegiatan yang bertujuan


untuk menghasilkan uang

12

Nafsu

Keingnan

13

makan
Asupan

mengkonsumsi makanan
Asupan energy, protein, Kkal
Gram
lemak,
karbohidrat
dan
mg
kalium dalam sehari yang

zat gizi

diambil

untuk

selama

tiga

Nomina
l

Nomina
l

Ordinal
Rasio

hari

14

Tinggi
badan

15

Berat

berturut-turut
Panjang tubuh diukur dari Cm
ujung kepala sampai tumit
dengan cara berdiri pada
bidang datar dan diukur
menggunakan microtoise
Masa
tubuh
diukur Kg

badan

menggunakan

Rasio

Rasio

timbangan

digital dengan ketelitian 0,01


16

Status
gizi

kg
Keadaan fisik yang diukur Kurus (IMT <18,5)
secara
antropometri Normal (IMT 18,5
22,9)
menggunakan indicator IMT
Gemuk (IMT 2326,9)
Obesitas (IMT >27)

Ordinal

22

5. Demografi
No Variabel
1.

Nama

2.

Umur
Kepala
Keluarga
Jenis
Kelamin

3.

DOV
Pangilan atau sebutan yang
diberikan orang tua sejak lahir
Rentang kehidupan seseorang
yang diukur dengan tahun
Perbedaan bentuk, sifat, dan
fungsi biologi laki-laki dan
perempuan yang menentukan
perbedaan peran mereka dalam
menyelenggarakan upaya
meneruskan garis keturunan.
Kepercayaan yang dianut setiap
orang

Parameter

Nominal
Tahun

Agama

5.

Pendidika
n

Pembelajaran pengetahuan,
keterampilan, dan kebiasaan
sekelompok orang yang
diturunkan dari satu generasi ke
generasi berikutnya melalui
pengajaran, pelatihan, atau
penelitian.

6.

Pekerjaan
kepala
keluarga

1. Petani
2. Buruh
Sebuah kegiatan aktif yang
3. PNS
dilakukan oleh manusia.
4. Swasta
5. Wiraswasta
6. Lain-lain
Semua individu yang menetap di Orang
rumah

8.
9.

10.
11.

Jumlah
anggota
keluarga
Jumlah
Balita
Jumlah
Wanita
Usia
Subur
Jumlah
Ibu Hamil
Jumlah

Interval

1. Laki-laki
2. Perempuan

4.

7.

Skala

1.
2.
3.
4.
5.
6.
1.
2.
3.
4.
5.

Nominal

Islam
Katholik
Kristen
Hindu
Budha
Konghuchu
Tidak sekolah
SD
SMP
SMA
Perguruan Tinggi

Nominal

Ordinal

Ordinal

Rasio

Bayi uang berada pada rentang


usia 0-5 tahun.
Wanita yang keadaan organ
reproduksinya berfungsi dengan
biak antara umur 20-45 tahun.

1.
2.
1.
2.

Ada
Tidak
Ada
Tidak

Nominal

Tumbuhnya janin dalam rahim


seorang ibu
Tahap akhir perkembangan pada

1. Ada
2. Tidak
1. Ada

Nominal

Nominal

Nominal

23

Lansia

daur kehidupan manusia,


seseorang yang telah mencapai
usia > 60 tahun
Kepemilikan hunian yang
ditempati oleh keluarga

12.

Status
Tempat
Tinggal

13.

Luas
Rumah
Material
pembuata
n dinding
rumah
Material
pembuata
n lantai

Luas bangunan yang digunakan


untuk tempat tinggal
Struktur buatan manusia yang
terdiri atas dinding dan atap
yang didirikan secara permanen
di suatu tempat
Bagian dari bangunan sebagai
tempat dilakukannya aktivitas

Material
pembuata
n langitlangit
rumah
Atap

Permukaan interior atas yang


berhubungan dengan bagian atas
sebuah ruangan

18.

Jendela
rumah

19.

Peneranga
n
Pemanfaat
an
pekaranga
n

Bagian rumah tinggal atau


bangunan yang berfungsi
sebagai penghantar cahaya dan
udara masuk kedalam bangunan
Alat untuk menerangi

14.

15.

16.

17.

20.

Benda yang digunakan untuk


menutup atas rumah

Areal tanah yang biasanya


berdekatan dan menjadi bagian
tak terpisahkan dengan suatu
bangunan

2. Tidak
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Milik sendiri
Kontrak
Sewa
Bebas sewa
Dinas
Rumah milik
orang tua/sanak
saudara
7. Lain lain..

Nominal

Rasio

1. Permanen
2. Semi permanen

Nominal

1.
2.
3.
4.
1.
2.
3.

Tanah
Semen
Keramik
Marmer
Genteng
Ternit
Kayu

Nominal

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Beton
Genteng
Seng
Asbes
Ijuk/rumbia
Lain lain

Nominal

Nominal

1. Ada
2. Tidak

Nominal

1.
2.
1.
2.
3.
4.

Nominal

Lampu tempel
Lampu listrik
Sayuran
Kolam ikan
Ternak kaki dua
Ternak kaki
empat

24

Nominal

21.

22.

23.

24.

25.
26.

27.
28.
29.
30.

31.

Higiene
sanitasi
lingkunga
n rumah
Sumber
air bersih

Keadaan bebas dari kotoran


termasuk diantaranya sampah,
bau dan debu

Tempat untuk mendapatkan air


1. Ledeng
yang digunakan dalam keperluan 2. Sumur
sehari-hari yang kualitasnya
bor/pompa
memenuhi syarat kesehatan
3. Mata air
4. Sungai
5. Air hujan
6. Lain lain

Nominal

Jarak
sumber air
dengan
septic tank
Fasilitas
untuk
buang air
besar

Jauh dekatnya antara tempat


untuk mendapatkan air dengan
tempat penampungan

..

Rasio

Sendiri
Bersama
Umum
Tidak ada

Nominal

Sarana untuk melancarkan hajat

Sawah

Tanah yang digarap dan diairi


untuk tempat menanam
tumbuhan
Kebun
Sebidang lahan biasanya
ditempat terbuka yang mendapat
perlakuan tertentu oleh manusia
khususnya sebagai tempat
tumbuh tanaman
Kebiasaan Perilaku mengonsumsi makanan
sarapan
pada pagi hari
Konsumsi Penggunaan garam yang
garam
mengandung yodium dalam
beryodium konsumsi
Status
Kedudukan atau posisi
ekonomi
seseorang didalam masyarakat
Bahan
Suatu materi apapun yang bisa
bakar
diubah menjadi energi,
untuk
mengandung energi panas yang
memasak dapat dilepaskan dan
dimanipulasi
Pengeluar
an

Pembayaran yang dilakukan saat


ini untuk kewajiban pada masa
akan datang dalam rangka
memperoleh beberapa

1. Bersih
2. Tidak bersih

1.
2.
3.
4.

Ordinal

1. Ada
2. Tidak

Nominal

1. Ada
2. Tidak

Nominal

1.
2.
1.
2.

Ya
Tidak
Ya
Tidak

Nominal

1.
2.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Gakin
Tidak Gakin
Listrik
Kayu
Gas
Arang
Minyak tanah
Lain lain

Ordinal

..

Rasio

Nominal

Nominal

25

keuntungan
E. Jenis Data yang Dikumpulkan
1.

Data Sekunder:
a. Jumlah penduduk berdasarkan agama
b. Jumlah penduduk berdasarkan pendidikan
c. Jumlah sarana kesehatan
d. Jenis atau sarana kesehatan masyarakat
1) Jumlah posyandu
2) Jumlah pos lansia
3) Jumlah PAUD
4) dll

2.

Data Primer:
a. Jenis data untuk menjaring masalah gizi pada batita, data yang
dikumpulkan meliputi data :
1) Status gizi balita.
2) Data konsumsi makanan balita.
3) Data kesehatan balita.
4) ASI dan pola makan balita.
5) Data demografi balita.
b.

Jenis data untuk mengukur masalah gizi


WUS
1)

Status gizi WUS.

2)

Data kesehatan WUS.

3)

Data konsumsi makanan WUS.

4)

Data demografi ibu WUS.

c. Jenis data untuk mengukur masalah gizi Ibu Hamil


1) Status gizi ibu hamil.
2) Data kesehatan ibu hamil.
3) Data konsumsi makanan ibu hamil.
4) Data demografi ibu hamil.

26

d. Jenis data untuk mengukur masalah gizi lansia


1)

Status gizi ibu lansia.

2)

Data kesehatan ibu lansia.

3)

Data konsumsi makanan ibu lansia.

4)

Data demografi ibu lansia.

F. Instrumen Pengumpulan Data


1. Kuesioner demografi subyek penelitian
2. Kuesioner subyek penelitian
3. Form identitas subyek penelitian
4. Form status gizi (IMT)
5. Form food record 3x24 jam
6. Form Recall 24 jam yang lalu
7. Dacin dengan kapasitas maksimum 25 kg dengan ketelitian 0,25 kg.
8. Timbangan berat badan dengan kapasitas 200 kg,dengan ketelitian 0,1 kg
9. Microtoise dengan kapasitas 200 cm dan ketelitian 0,1 cm
10. Menggunakan metlin dengan kapasitas 150 cm dengan ketelitian 1 mm
11. Tabel standar antropometri WHO 2005 menurut Permenkes RI 2010
12. Tabel Komposisi Bahan Makanan (TKPI)
13. Faktor Konversi Bahan Mentah Masak dan Konversi Minyak Terserap
14. Alat ukuran rumah tangga (sendok makan, sendok teh, sendok sayur,
mangkuk, piring, dan gelas belimbing).
I.

Instrumen
(terlampir)
J. Jenis dan Cara Pengumpulan Data
Tabel 3. Jenis dan Cara Pengumpulan Data
Cara
Jenis data

Sumber

pengumpulan

Instrumen

data
Data primer
1. Tinggi badan atau

Responden

Pengukuran

2. Tinggi badan usila

Responden

Pengukuran

3. Berat badan

Responden

Pengukuran

panjang badan balita

Microtoise,
infantometer
Microtoise dan
metlin
Timbangan injak

27

4.
5.
6.
7.
8.

LILA
Umur
Jenis kelamin
Data Demografi
Asupan
makanan

Responden
Responden
Responden
Responden

Pengukuran
Wawancara
Wawancara
Wawancara

Responden
balita dan ibu hamil
9. Data Kesehatan
Responden
Data sekunder
Gambaran umum lokasi Kelurahan

Wawancara

pengambilan data

Nogotirto

digital
Pita ukur
Kuesioner
Kuesioner
Kuesioner
Form food recall

Wawancara

2 x 24 jam
Kuesioner

Pengamatan

K. Pengolahan Data
Tahap tahap pengolahan data meliputi editing, koding, pemasukan data
dan tabulasi data. Pengolahan dan analisi data dilakukan dengan bantuan
computer.
1.

Editing
Dilakukan untuk mengoreksi data yang meliputi kelengkapan
pengisian atau jawaban yang tidak jelas yang dilakukan ditempat
pengumpulan data sehingga dapat dilakukan perbaikan

2.

Coding
Merupakan usaha mengklasifikasikan jawaban atau hasil yang ada
menurut macamnya dengan menandai masing-masing jawaban dengan code
berupa angka kemudian dalam lembar kerja untuk mempermudahkan
pembacaan. Masing-masing variabel diberi kode sesuai dengan urutan

pertanyaan dalam kuesioner. Kuesioner terlampir.


2.
Entry
Memasukkan data hasil penelitian kedalam tabel sesuai dengan kriteria
yang telah ditentukan.
L. Analisa Data
Analisa dilakukan dengan mengkaji data menggunakan tabel silang.

28

BAB III
HASIL

A. Gambaran Umum Desa Candibinangun


Gambaran umum kondisi Desa Candibinangun Kecamatan Pakem
Kabupaten Sleman tahun 2016 adalah sebagai berikut :
1. Gambaran umum Kabupaten Sleman
Jumlah penduduk: 1.067.448. jiwa. Luas Wilayah: 547.82 Km2, teridiri 17
kecamatan, 86 desa dan 1212 dusun, RW 2.890 dan 6.961 RT. Tingkat
kepadatan penduduk 1.575 jiwa/km2,
2. Gambaran Umum Desa Candibinangun
Gambaran umum kondisi Desa Candibinangun Kecamatan Pakem
Kabupaten Sleman tahun 2016 adalah sebagai berikut :
a. Keadaan Geografis
Secara administratif terbagi dalam 12 Dusun yaitu : Dusun Baratan, Dusun
Bulus I, Dusun Bulus II, Padukuhan Cemoroharjo terdiri atas 4 dusun yaitu:
Cemoroharjo, Tapansari, Maknorejo, Gunungsari, Dusun Kembangan,
Padukuhan Kemput terdiri atas 2 dusun yaitu : Kemput dan Kuweron,
Padukuhan Kumendung terdiri atas 2 dusun yaitu : Kumendung, Kalireso,
Padukuhan Nepen terdiri atas 2 dusun yaitu : Nepen dan Magerjo,
Padukuhan Pagerjurang terdiri atas 2 dusun yaitu Pagerjurang dan
Magersari, Padukuhan Pakisaji terdiri atas 2 dusun yaitu : Pakisaji dan
Candirejo, Padukuhan Sumberan terdiri atas 2 dusun yaitu : Sumberan dan
Potrowangsan, Padukuhan Samberembe terdiri atas 2 dusun yaitu :
Samberembe dan Pelem.
b. Luas Lahan
1) Luas Lahan
Luas lahan wilayah Desa Candibinangun
Luas lahan menurut status kepemilikan
Luas tanaman dan produktivitas panen
2) Peternakan dan Perikanan
a) Ketersediaan pakan ternak dan jumlah dokter hewan
Luas tanaman pakan ternak
: ha
29

Produksi hijauan makanan ternak : Luas lahan gembalaan


: ha
Jumlah dokter hewan
: orang
b) Jumlah ternak dan produksi
c) Jenis dan produksi ikan
d) Sumber Air Minum
e) Kependudukan
f) Fasilitas Sosial dan Ekonomi
g) Organisasi Kemasyarakatan
h) Fasilitas Kesehatan
3. Kondisi Geografis Candibinangun
1. Keadaan Demografi Wilayah
1) Dusun yang ada di Desa Candibinangun
2) Pemanfaatan Pekarangan
3) Jenis-jenis Pemanfaatan Pekarangan
4) Sumber air
5) Pembuangan sampah
6) Pembuanagan air limbah
7) Pendapatan KK

B. Kondisi Geografis Candibinangun

30

1.

Usia Kepala Keluarga


12%1%

23%

64%

19-29

30-49

50-64

65-80

Usia

Kepala

Keluarga

Gambar 1.1 Distribusi Usia Kepala Keluarga


Data demografi dari 97 KK yang menjadi sampel usia kepala
keluarga di desa candibinangun paling banyak KK berusia 30-49 tahun,
yaitu pada usia produktif. 22 KK atau sekitar 23% berusia 19-29 tahun, 62
KK atau 64% berusia 30-49 tahun, 12 KK atau sekitar 12% berusia 50-64
tahun, dan 1 KK berusia 65-80 tahun.

31

2.

Jenis Kelamin Kepala Keluarga

Jenis Kelamin Kepala Keluarga


3%

97%

Laki-laki

Perempuan

Gambar 1.2 Distribusi Jenis Kelamin Kepala Keluarga


Data demografi dari 97 KK yang menjadi sampel jenis kelamin
kepala keluarga di desa candibinangun, sebagian besar yaitu 94 KK atau
sekitar 97% kepala keluarga di desa candibinagun adalah laki-laki, hanya 3
KK atau sekitar 3% kepala keluarga perempuan.
3.

Agama Kepala Keluarga

32

Agama Kepala Keluarga


2% 2%

96%

Islam

Katholik

Kristen

Gambar 1.3 Distribusi Agama Kepala Keluarga


Data demografi dari 97 KK yang menjadi sampel agama yang
dianut oleh kepala keluarga di desa candibinangun, sebanyak 9 KK atau
sekitar 96% beragama islam, 2 KK atau sekitar 2% beragama katholik, dan
2 KK atau sekitar 2 % beragama kristen.
4.

Pendidikan Kepala Keluarga

Pendidikan Kepala Keluarga


63.9
17.5

gi

8.2

ru
a

Ti
ng

SM
A

SM
P

9.3

Pe
rg
u

Ti
da

Se

ko
la
h

SD

70
60
50
40
30
20
10
0

Pendidikan Kepala Keluarga

Grafik 1.1 Distribusi Pendidikan Kepala Keluarga


Data demografi dari 97 KK yang menjadi sampel oendidikan
kepala keluarga di desa candibinangun, sebanyak 62 KK atau 63,9%
berpendidikan terakhir SMA, 17 KK atau 17,5% berpendidikan terakhir
SMP, 9 KK atau 9,3% berpendidikan terakhir SD, 8 KK atau 8,2%
berpendidikan terakhir Perguruan Tinggi, dan 1 KK tidak sekolah.

33

5.

Pekerjaan Kepala Keluarga

Pekerjaan Kepala Keluarga

ta
sw
as

PN

S/

W
ira

TN

Pe
t

an

I/P
O
LR
I

30%
25%
20%
15%
10%
5%
0%

Column2

Grafik 1.2 Distribusi Pekerjaan Kepala Keluarga


Data demografi dari 97 KK yang menjadi sampel pekerjaan kepala
keluarga di desa candibinangun, sebanyak 26 KK atau 26,8% adalah
buruh, 26 KK atau 26,8% adalah buruh, 13 KK atau 13,4% adalah petani,
13 KK atau 13,4% adalah wiraswasta, 13 KK atau 13,4% adalah lain-lain,
dan 6 KK adalah PNS/TNI/POLRI.
6.

Jumlah anggota keluarga

Jumlah Anggota Keluarga

g
or
an

g
11

or
an

g
8

or
an

g
7

or
an

g
6

or
an

g
5

or
an

g
or
an
4

or
an

50
40
30
20
10
0

Grafik 1.3 Distribusi Jumlah Anggota Keluarga


Data demografi dari 97 KK yang menjadi sampel jumlah anggota
keluarga di desa candibinangun, Sebanyak 13 KK atau 13,4% anggota

34

keluarga berjumlah 3 orang, 39 KK atau 40,2% anggota keluarga


berjumlah 4 orang, 22 KK atau 22,7% anggota keluarga berjumlah 5
orang, 13 KK atau 13,4% anggota keluarga berjumlah 6 orang, 3 KK atau
3,1% anggota keluarga berjumlah 7 orang, 1 KK atau 1% angota keluarga
berjumlah 8 orang, 5 KK atau 5,2% anggota keluarga berjumlah 9 orang, 1
KK atau 1% anggota keluarga berjumlah 11 orang.
C.

Jumlah Balita dalam Satu Rumah

Jumlah Balita dalam Satu Rumah


6% 1%

13%

80%

Gambar 1.4 Distribusi Jumlah Balita dalam Satu Rumah


Data demografi dari 97 KK yang menjadi sampel jumlah balita
dalam satu rumah di desa candibinangun, sebanyak 12 KK atau sekitar
13% tidak memiliki balita, 78 KK atau 80% memiliki balita 1 orang, 6 KK
atau 6% memiliki balita 2 orang, dan 1 KK atau 1% memiliki balita 3
orang.

35

Jumlah WUS dalam Rumah


1% 3%
10%
86%

D.

Jumlah

WUS

dalam satu rumah

Gambar 1.5 Distribusi Jumlah WUS dalam satu rumah


Data demografi dari 97 KK yang menjadi sampel jumlah WUS
dalam satu rumah di desa candibinangun, sebanyak 3 KK atau sekitar 3%
tidak terdapat WUS, 83 KK atau 86% terdapat WUS dengan jumlah 1
orang, 10 KK atau sekitar 10% terdapat WUS dengan jumlah 2 orang, dan
1 KK atau 1% memiliki WUS 3 orang.
E.
Jumlah Ibu Hamil dalam satu rumah

36

Jumlah Ibu Hamil dalam Rumah

17%

84%

Gambar 1.6 Distribusi Jumlah Ibu Hamil dalam satu rumah


Data demografi dari 97 KK yang menjadi sampel jumlah ibu hamil
dalam satu rumah di desa candibinangun, sebanyak 81 KK atau 83,5%
tidak terdapat Ibu Hamil, 16 KK atau 16,5% terdapat Ibu hamil dengan
jumlah 1 orang.

Jumlah Lansia dalam Rumah


19%

2%
55%

24%

F.

Jumlah

Lansia

dalam Satu Rumah

37

Gambar 1.7 Distribusi Jumlah Lansia dalam satu rumah


Data demografi dari 97 KK yang menjadi sampel jumlah lansia
dalam satu rumah di desa candibinangun Sebanyak 54 KK atau sekitar
55% tidak terdapat lansia, 23 KK atau 24% terdapat lansia dengan jumlah
1 orang, 18 KK atau 19% terdapat Lansia dengan jumlah 2 orang, dan 2
KK atau 2% memiliki lansia 3 orang.

G.

Status Tempat Tinggal

Status Tempat Tinggal


26%
2%
72%

Milik Sendiri
Kontrak
Milik Orang tua/ sanak saudara

Gambar 1.8 Distribusi Status Tempat Tinggal


Data demografi dari 97 KK yang menjadi status tempat tinggal di
desa candibinangun, sebanyak 70 KK atau 72% rumah milik sendiri, 25
KK atau 26% rumah milik orang tua/sanak saudara, 2 KK atau 2% rumah
kontrak.

38

H.

Material dinding rumah

Material Dinding Rumah

49%

52%

bata

batako

Gambar 1.9 Distribusi Material dinding rumah


Data demografi dari 97 KK yang menjadi sampel material dinding
rumah di desa candibinangun Sebanyak 47 KK atau 48,5% material
dinding rumah berupa bata, 50 KK atau 51,5% material dindind rumah
berupa batako.
I.

Material lantai rumah

39

Material Lantai Rumah


7% 1%
43%
49%

Tanah

Semen

Keramik

Ubin

Gambar 1.10 Distribusi Material lantai rumah


Data demografi dari 97 KK yang menjadi sampel material lantai
rumah di desa candibinangun, sebanyak 47 KK atau 48,5% material lantai
rumah berupa keramik, 42 KK atau 43,3% material lantai rumah berupa
semen, 7 KK atau 7,2% material lantai rumah berupa ubin, dan 1 KK atau
1,0% material lantai rumah berupa tanah.
J.

Material langit-langit rumah

40

Material Langit-langit Rumah


4% 1%

18%

77%

Ternit

Kayu

Bambu

Lain-lain

Gambar 1.11 Distribusi Material langit langit rumah


Data demografi dari 97 KK yang menjadi sampel material langitlangit rumah di desa candibinangun Sebanyak 17 KK atau sekitar 18%
material langit-langit berupa ternit, 75 KK atau 77% material langit-langit
berupa kayu, 4 KK atau 4% material langit-langit rumah berupa bambu,
dan 1 KK atau 1,0% material langit-langit rumah berupa lain-lain.

41

Jenis Atap Rumah


5%

95%

Genteng

K.

Asbes

Jenis atap rumah

Gambar 1.12 Distribusi Jenis atap rumah


Data demografi dari 97 KK yang menjadi sampel jenis atap rumah
di desa candibinangun, sebanyak 92 KK atau sekitar 95% atap rumah
terbuat dari genteng, dan 5 KK atau sekitar 5% atap rumah terbuat dari
asbes.

42

L.

Terdapat jendela di dalam Rumah

Jendela dalam Rumah


2%

98%

Ada

Tidak

Gambar 1.13 Distribusi Terdapat jendela di dalam Rumah


Data demografi dari 97 KK yang menjadi sampel rumah yang
terdapat jendela di desa candibinangun Sebanyak 98% rumah memiliki
jendela, dan 2% tidak terdapat jendela.
M.

Higiene Sanitasi Lingkungan Rumah

43

Higiene Sanitasi Lingkungan Rumah


18%

83%

Bersih

Tidak Bersih

Gambar 1.14 Distribusi Higiene Sanitasi Lingkungan Rumah


Data demografi dari 97 KK yang menjadi sampel mengenai
higiene sanitasi lingkungan rumah di desa candibinangun, sebanyak 80
KK atau 82,5% higiene sanitasi lingkungan rumah bersih, dan 17 KK atau
17,5% higiene sanitasi lingkungan rumah tidak bersih.
N.

Sumber Air Bersih

Sumber Air Bersih


29%
2%

Sumur bor/pompa

69%

Mata air

Lain-lain

44

Gambar 1.15 Distribusi sumber air bersih


Data demografi dari 97 KK yang menjadi sampel sumber air bersih
keluarga di desa candibinangun Sebanyak 67 KK atau 69% sumber air
bersih berasal dari sumur bor/pompa, 28 KK atau 29% berasal dari sumber
air lainnya dan 2 KK atau 2% bersumber dari mata air.
O.

Luas Rumah

Luas Rumah (m2)


80
70
60
50
40
30
20
10
0

0-100

101-200 201-300 301-400 401-500

>500

Grafik 1.4 Distribusi Luas Rumah


Sebanyak 68 KK atau sekitar 70,1% luas rumah 0-100 m2, 21 KK
atau sekitar 21,6% luas rumah 101-200 m2, 3 KK atau sekitar 3,1% luas
rumah 201-300 m2, 2 KK atau sekitar 2,1% luas rumah 301-400 m2, dan 3
KK mempunyai luas rumah lebih dari 500 m2.
P.

Pendidikan Ibu Balita

45

Pendidikan Ibu Balita


13

2 12

58

SD

SMP

SMA

Perguruan Tinggi

Gambar 1.16 Distribusi Pendidikan Ibu Balita


Sebanyak 58 KK atau sekitar 2,1% ibu balita berpendidikan SMA,
13 KK atau sekitar 13,4% ibu balita berpendidikan Perguruan Tinggi, 12
KK atau sekitar 12,4% ibu balita berpendidikan SMP, dan 2 KK atau
sekitar 2,1% ibu balita berpendidikan SD. Sebanyak 12 KK tidak memiliki
balita.
Q.

Fasilitas Buang air Besar

46

Fasilitas Buang Air Besar


7

90

Sendiri

Umum

Gambar 1.17 Distribusi Fasilitas Buang Air Besar


Grafik di atas menunjukkan bahwa penggunaan fasilitas buang air
besar di desa Candibinangun dari 97 keluarga yang dijadikan sampel,
sebanyak 90 keluarga (92,78%) menggunakan milik sendiri, sedangkan 7
keluarga (7,22%) menggunakan fasilitas umum.
R.

Pemanfaatan Pekarangan Rumah

47

Pemanfaatan Pekarangan Rumah

44

53

Ya

Tidak

Gambar 1.18 Distribusi Pemanfaatan Pekarangan Rumah


Grafik di atas menujukkan bahwa untuk distribusi pemanfaatan
pekarangan, 53 keluarga (54,6%) sudah memanfaatkan pekarangan
rumahnya, sedangkan 44 keluarga (45,4%) belum atau tidak memnfaatkan
pekarangannya.
S.

Pemanfaatan Pekarangan untuk Sayuran

Pemanfaatan Pekarangan untuk Sayuran

27

70

Ya

Tidak

Gambar 1.19 Distribusi Pemanfaatan Pekarangan untuk sayuran


Dari 97 keluarga yang dijadikan sampel, terdapat 27 keluarga
(27,8%) memanfaatkan pekarangan untuk menanam sayuran, dan 70
keluarga (72,2%) tidak memanfaatkan pekarangan untuk menanam
sayuran.
T.

Pemanfaatan Pekrangan untuk Buah

48

Pemanfaatan Pekarangan untuk Buah

29
68

Ya

Tidak

Gambar 1.20 Distribusi Pemanfaatan Pekarangan untuk buah


Dari 97 keluarga yang dijadikan sampel, terdapat 29 keluarga
(29,9%) memanfaatkan pekarangan untuk menanam tanaman buah, dan 68
keluarga (70,1%) tidak memanfaatkan pekarangan untuk menanam
tanaman buah.
U.

Pemanfaatan Pekarangan untuk Kolam Ikan

Pemanfaatan Pekarangan untuk Kolam Ikan

21

76

Ya

Tidak

49

Gambar 1.21 Distribusi Pemanfaatan Pekarangan untuk kolam


ikan
Dari 97 keluarga yang dijadikan sampel, terdapat 21 keluarga
(21,6%) memanfaatkan pekarangan untuk kolam ikan, dan 76 keluarga
(78,4%) tidak memanfaatkan pekarangan untuk kolam ikan.
V.

Pemanfaatan Pekarangan untuk Ternak Hewan Kaki Dua

Pemanfaatan Pekarangan untuk Ternak Hewan Kaki Dua


13

84

Ya

Tidak

Gambar 1.22 Distribusi Pemanfaatan Pekarangan untuk ternak hewan


kaki dua
Dari 97 keluarga yang dijadikan sampel, terdapat 13 keluarga
(13,4%) memanfaatkan pekarangan untuk ternak hewan kaki dua, dan 84
keluarga (86,6%) tidak memanfaatkan pekarangan untuk ternak hewan
kaki dua.
W.
Pemanfaatan Pekarangan untuk ternak Hewan Kaki Empat

50

Pemanfaatan Pekarangan untuk Ternak Hewan Kaki Empat

88

Ya

Tidak

Gambar 1.23 Distribusi Pemanfaatan Pekarangan untuk ternak hewan


kaki empat
Dari 97 keluarga yang dijadikan sampel, terdapat 9 keluarga
(9,3%) memanfaatkan pekarangan untuk ternak hewan kaki empat, dan 88
keluarga (90,7%) tidak memanfaatkan pekarangan untuk ternak hewan
kaki empat.
X.
Pemanfaatan Pekarangan Untuk Tanaman Obat

Pemanfaatan Pekarangan untuk Tanaman Obat

17

80

Ya

Tidak

51

Gambar 1.24 Distribusi Pemanfaatan Pekarangan untuk tanaman obat


Dari grafik diatas diketahui terdapat 17 keluarga (17,5%)
memanfaatkan pekarangan untuk menanam tanaman obat, dan 80 keluarga
(82,5%) tidak memanfaatkan pekarangan untuk menanam tanaman obat.
Y.

Anggota Keluarga Memiliki Sawah

40
57

Ya

Tidak

Gambar 1.25 Distribusi Kepemilikan Sawah


Grafik diatas menunjukkan bahwa terdapat 57 keluarga (58,8%)
yanga nggota keluarganya memiliki sawah, dan 40 keluarga (41,2%) tidak
memiliki sawah.

52

Anggota Keluarga Memiliki kebun

42
55

Ya

Tidak

Gambar 1.26 Distribusi Kepemilikan Kebun


Grafik diatas menunjukkan bahwa terdapat 42 keluarga (43,3%)
yang anggota keluarganya memiliki kebun, dan 55 keluarga (56,7%) tidak
memiliki kebun.
Z.

Kebiasaan Sarapan

24

73

Ya

Tidak

Gambar 1.27 Distribusi Kebiasaan Makan


Pada grafik diatas diketahui bahwa sebanyak 73 keluarga (75,26%)
memiliki kebiasaan sarapan setiap pagi, sedangkan 24 Keluarga (24,7%)
tidak memiliki kebiasaan makan.

53

AA.

Penggunaan Garam Beryodium

96

Ya

Tidak

Gambar 1.28 Distribusi Penggunaan Garam Beryodium


Grafik diatas menunjukkan bahwa hampir semuanya yaitu 96
keluarga (98,97%) sudah menggunakan garam beryodium, sedangkan 1
keluarga (1,3%) belum menggunakan garam beryodium.
AB.

Status Ekonomi

37
60

Gakin

Tidak Gakin

Gambar 1.29 Distribusi Status Ekonomi


Grafik di atas menunjukkan bahwa sebanyak 37 keluarga (38,14%)
dari 97 sampel merupakan keluarga dengan status ekonomi kategori
Gakin, sedangkan 60 keluarga (61,86%) lainnya bukan merupakan Gakin.

54

Sumber penerangan

97

Listrik

Total

Gambar 1.30 Distribusi Sumber Penerangan


Semua keluarga yang dijadikan sampel (100%) menggunakan
listrik sebagai sumber penerangan.

Bahan Bakar

89

Gas

Kayu

Gambar 1.31 Distribusi Bahan Bakar


Dari grafik di atas diketahui bahwa bahan bakar yang digunakan
oleh 89 keluarga (91,8%) adalah bahan bakar gas, sedangkan 8 keluarga
(8,2%) menggnakan kayu sebagai bahan bakar.

55

Pengeluaran Bahan Pangan


8
29
60

Pengeluaran Bahan Pangan

Rp0-Rp500.000

Rp500.001-Rp1000.000

>Rp1.000.000

Gambar 1.32 Distribusi Pengeluaran Bahan Pangan


Dari grafik di atas diketahui bahwa pengeluaran bahan pangan
sejumlah 8 keluarga (8,2%) adalah kategori 1 yaitu pengeluaran Rp0,sampai dengan Rp500.000,-. Sebanyak 29 keluarga (29,9%) pengeluaran
bahan

pangannya

masuk

kategori

yaitu

Rp500.001,-

sampai

Rp1.000.000,-. Sedangkan untuk kategori 3 dengan pengeluaran


>Rp1000.000,- sebanyak 60 keluarga (61,9%).
terendah

sebesar Rp100.600,-

dan

Dengan Pengeluaran

pengeluaran

tertinggi

sebesar

Rp4.004.500,-.

Pengeluaran Non Bahan Pangan


17

7
73

Pengeluaran Bahan Non Pangan

Rp0-Rp500.000

Rp500.001-Rp1000.000

>Rp1.000.000

56

Gambar 1.33 Distribusi Pengeluaran Non Bahan Pangan


Dari grafik di atas diketahui bahwa pengeluaran non bahan pangan
yang terdiri dari aneka biaya barang dan jasa, biaya kesehatan, biaya
pendidikan, biaya transportasi, kategori 1 dengan pengeluaran Rp0,sampai Rp500.000,- sebanyak 73 keluarga (75,26%), kategori 2 dengan
pengeluaran Rp500.002,- sampai Rp1.000.000,- sebanyak 17keluarga
(17,53%), kategori 3 dengan pengeluaran >Rp1.000.000,- sebanyak 7
keluarga (7,22%), dengan pengeluaran terendah sebesar Rp13.000,- dan
pengeluaran tertinggi sebesar Rp4.270.000,-.
AC.

Masalah Gizi Pada Balita


AD.

Jenis Kelamin Balita

Gambar 2.1. Distribusi Balita Berdasarkan Jenis Kelamin


Berdasarkan data jenis kelamin balita, diketahui bahwa 55,00 % balita
berjenis kelamin laki-laki dan 45,00 % balita berjenis kelamin
perempuan.
AE.

Pengasuh Balita

57

Gambar 2.2. Distribusi Balita Berdasarkan Pengasuh


Sebagian besar balita di Desa Candibinangun diasuh oleh ibu yaitu
sebesar 83 %. Balita yang diasuh oleh baby sitter sebesar 1% dan yang
diasuh oleh anggota keluarga lain sebesar 16%.
AF.

Status Inisiasi Menyusui Dini

Gambar 2.3. Distribusi Balita Berdasarkan Status Inisiasi


Menyusui Dini
Ibu balita yang melakukan inisiasi menyusui dini sebesar 81,25%
sedangkan ibu balita yang tidak melakukan inisiasi menyusui dini
sebesar 18,75%.
AG.

Status Asi Eksklusif

58

Gambar 2.4. Distribusi Balita Berdasarkan Status Asi Eksklusif


Cakupan ASI eksklusif di Desa Candibinangun yaitu 61,25 %,
sedangkan balita yang sudah diberi makanan/minuman selain ASI
sebelum bayi berumur 6 bulan cukup tinggi yaitu sebesar 38,75 %.
AH.

Nafsu Makan Balita

Gambar 2.5. Distribusi Balita Berdasarkan Nafsu Makan


Dari hasil analisis data nafsu makan, diketahui bahwa dari 80 balita
yang menjadi sampel, sebanyak 76,25 % balita memiliki nafsu makan
baik dan 23,75 % balita memiliki nafsu makan tidak baik.
AI.

Riwayat Penyakit 1 Bulan Terakhir

59

Gambar 2.6. Distribusi Balita Berdasarkan Riwayat Penyakit 1


Bulan Terakhir
Berdasarkan hasil analisis data riwayat penyakit 1 bulan terakhir,
diketahui bahwa penyakit yang paling banyak diderita yaitu pilek sebesar
37 %, batuk sebesar 36% dan demam 18%.
AJ.

Kehadiran di Posyandu

Gambar 2.7. Distribusi Balita Berdasarkan Kehadiran di


Posyandu
Sebagian besar balita sudah mengikuti kegiatan posyandu secara rutin
yaitu sebesar 77,50%, sedangkan 22,50% balita belum hadir di posyandu
secara rutin.
AK.

Imunisai Polio
60

Gambar 2. 8. Distribusi Balita Berdasarkan Riwayat Imunisasi


Polio
Berdasarkan analisis data riwayat imunisasi polio, diketahui bahwa
sebagian besar balita sudah melakukan imunisasi polio yaitu sebesar
88,75%, sedangkan 11,25% balita tidak melakukan imunisasi polio.

AL.

Imunisasi Hepatitis B

Gambar 2.9. Distribusi Balita Berdasarkan Riwayat Imunisasi


Hepatitis B
Berdasarkan analisis data riwayat imunisasi hepatitis B,
diketahui bahwa sebagian besar balita sudah melakukan imunisasi
hepatitis B yaitu sebesar 95,25%, sedangkan 3,75% balita belum
melakukan imunisasi hepatitis B.

61

AM.

Imunisasi DPT

Gambar 2. 10. Distribusi Balita Berdasarkan Riwayat Imunisasi


DPT
Berdasarkan analisis data riwayat imunisasi DPT, diketahui bahwa
sebagian besar balita sudah melakukan imunisasi DPT yaitu sebesar
90%, sedangkan 10% balita belum melakukan imunisasi DPT
AN.

Imunisasi Campak

Gambar 2.11. Distribusi Balita Berdasarkan Riwayat Imunisasi


Campak
Berdasarkan analisis data riwayat imunisasi campak, diketahui bahwa
sebagian besar balita sudah melakukan imunisasi campak yaitu sebesar
87,50%, sedangkan 12,50% balita belum melakukan imunisasi campak

62

AO.

Imunisasi BCG

Gambar 2. 12. Distribusi Balita Berdasarkan Riwayat Imunisasi


BCG
Berdasarkan analisis data riwayat imunisasi BCG, diketahui bahwa
sebagian besar balita sudah melakukan imunisasi BCG yaitu sebesar
98,75%, sedangkan 1,25% balita belum melakukan imunisasi BCG.
AP.

Pemberian Kapsul Vit A Bulan Februari 2016

Gambar 2.13. Distribusi Balita Berdasarkan Riwayat Pemberian


Kapsul Vit A Bulan Februari 2016
Berdasarkan analisis data riwayat pemberian kapsul vit A, diketahui
bahwa sebagian besar balita sudah mendapatkan kapsul vit A pada bulan
Februari 2016 yaitu sebesar 86,25%, sedangkan 13,75% balita tidak
mendapatkan kapsul vit A pada bulan Februari 2016

63

AQ.

Pemberian Kapsul Vit A Bulan Agustus 2016

Gambar 2 .14. Distribusi Balita Berdasarkan Riwayat Pemberian


Kapsul Vit A Bulan Agustus 2016
Berdasarkan analisis data riwayat pemberian kapsul vit A, diketahui
bahwa sebagian besar balita sudah mendapatkan kapsul vit A pada bulan
Agustus 2016 yaitu sebesar 88,75%, sedangkan 11,25% balita tidak
mendapatkan kapsul vit A pada bulan Agustus 2016.
AR.

Distribusi Balita Berdasarkan Kelompok Umur

Gambar 2. 15. Distribusi Balita Berdasarkan Kelompok Umur


Berdasarkan analisis data balita berdasarkan kelompok umur,
diketahui bahwa sebesar 37,50% balita berusia 12 sampai 36 bulan,
36,25% balita berusia 37 sampai 60 bulan, 18,75% balita berusia 0
sampai 6 bulan, dan 7,50% balita berusia 7 sampai 11 bulan

64

AS.

Status Gizi Balita Berdasarkan Indeks BB/U

Grafik 2.1. Distribusi Balita Berdasarkan Status gizi BB/U


Dari hasil analisis data BB/U, diketahui bahwa dari 80 balita yang
menjadi sampel, prosentase terbesar adalah balita dengan status gizi baik
yaitu sebesar 90%. Sedangkan prosentase balita dengan status gizi
kurang sebesar 5%, balita dengan status gizi lebih 3,75% dan balita
dengan status gizi buruk sebesar 1,25%.
AT.

Status Gizi Balita Berdasarkan Indeks TB/U

Grafik 2.2. Distribusi Balita Berdasarkan Status gizi TB/U


Dari hasil analisis data BB/U, diketahui bahwa dari 80 balita yang
menjadi sampel, prosentase terbesar adalah balita dengan status gizi
normal yaitu sebesar 76,25%. Sedangkan prosentase balita dengan status
gizi pendek sebesar 15%, balita dengan status gizi sangat pendek sebesar
3,75 % dan balita dengan status tinggi sebesar 5%.
AU.

Grafik Asupan Energi

65

Tdak mencukupi; 49
Mencukupi; 20

Btw iki jumlah balitane ya udu persen, kui totale ora 80 karang
sik urung mam ra tak katutke
Grafik 2.3. Distribusi Balita Berdasarkan Jumlah Asupan Energi
Dari hasil analisis data asupan energi, diketahui bahwa dari 80 balita
yang menjadi sampel, asupan energi dari 49 balita tidak mencukupi,
kemudian asupan energi dari 20 balita sudah mencukupi, dan asupan
energi dari 11 balita yang lain tidak dilakukan perhitungan karena balita
masih ASI sehingga tidak ada perhitungan sumbangan energi dari
makanan
AV.

Grafik Asupan Protein

Tdak mencukupi; 45
Mencukupi; 24

Grafik 2.4. Distribusi Balita Berdasarkan Jumlah Asupan Protein


Dari hasil analisis data asupan protein, diketahui bahwa dari 80 balita
yang menjadi sampel, asupan protein dari 45 balita tidak mencukupi,
kemudian asupan protein dari 24 balita sudah mencukupi, dan asupan
protein dari 11 balita yang lain tidak dilakukan perhitungan karena balita

66

masih ASI sehingga tidak ada perhitungan sumbangan protein dari


makanan.
AW.

Grafik Asupan Lemak

Tdak mencukupi; 43
Mencukupi; 26

Grafik 2.5. Distribusi Balita Berdasarkan Jumlah Asupan Lemak


Dari hasil analisis data asupan lemak, diketahui bahwa dari 80 balita
yang menjadi sampel, asupan lemak dari 43 balita tidak mencukupi,
kemudian asupan lemak dari 26 balita sudah mencukupi, dan asupan
lemak dari 11 balita yang lain tidak dilakukan perhitungan karena balita
masih ASI sehingga tidak ada perhitungan sumbangan lemak dari
makanan.
AX.

Grafik Asupan Karbohidrat

Tdak mencukupi; 54
Mencukupi; 15

Grafik 2.6. Distribusi Balita Berdasarkan Jumlah Asupan


Karbohidrat
Dari hasil analisis data asupan karbohidrat, diketahui bahwa dari 80
balita yang menjadi sampel, asupan karbohidrat dari 54 balita tidak
mencukupi, kemudian asupan karbohidrat dari 15 balita sudah

67

mencukupi, dan asupan karbohidrat dari 11 balita yang lain tidak


dilakukan perhitungan karena balita masih ASI sehingga tidak ada
perhitungan sumbangan karbohidrat dari makanan
AY.

Grafik Asupan Vit A

Mencukupi; 39

Tdak mencukupi; 30

Grafik 2.7. Distribusi Balita Berdasarkan Jumlah Asupan Vit A


Dari hasil analisis data asupan vit A, diketahui bahwa dari 80 balita
yang menjadi sampel, asupan vit A dari 39 balita sudah mencukupi,
kemudian asupan vit A dari 30 balita tidak mencukupi, dan asupan vit A
dari 11 balita yang lain tidak dilakukan perhitungan karena balita masih
ASI sehingga tidak ada perhitungan sumbangan vit A dari makanan.
AZ.

Status gizi BB/U dan kelompok usia

Grafik 2.8. Status gizi BB/U dan kelompok usia


Status gizi buruk ditemukan pada kelompok usia 37-60 sebesar
1,25%. Status gizi kurang ditemukan pada kelompok usia 0-6 sebesar
68

1,25%, kelompok usia 12-36 bulan sebesar 2,50% dan kelompok usia
37-60 sebesar 1,25%. Status gizi lebih ditemukan pada kelompok usia 711, 12-36 dan 37-60 masing-masing sebesar 1,25%.
BA.

Status gizi BB/U dan kelompok usia

Grafik 2.9. Status gizi BB/U dan kelompok usia


Berdasarkan analisis data status gizi TB/U berdasarkan kelompok
usia, diketahui terdapat balita dengan status gizi sangat pendek pada
kelompok umur 0-6, 12-36 dan 37-60 masing-masing sebesar 1,25 %.
Balita dengan status gizi pendek ditemukan pada kelompok usia 7-11
sebesar 1,25%, kelompok usia 12-36 sebesar 8,25% dan kelompok usia
37-60 sebesar 7,50%.
BB.

Status gizi BB/U dan kelompok usia

69

Grafik 2.10. Status gizi BB/U dan kelompok usia


Berdasarkan grafik diatas, dapat diketahui bahwa asupan energi tidak
mencukupi paling banyak pada balita kelompok usia 12-36.
BC.

Status gizi BB/U dan kelompok usia

Grafik 2.11. Status gizi BB/U dan kelompok usia


Berdasarkan grafik diatas, sebanyak 1,45 % balita gizi lebih yang
asupan energinya tidak mencukupi. Sebanyak 85,22% balita dengan
status gizi baik namun asupan energinya tidak mencukupi.
BD. Masalah Gizi Pada Lansia
1. Karakteristik usila
Tabel 1. Karakteristik Lansia
No Karakteristik
1. Kelompok Umur Lansia
a. 51-74 (lanjut usia)
b. 75-90 (lanjut usia tua)
c. > 90 (usia sangat tua)
Total
2.

(%)

12
4
0
16

75
25
0
100

Jenis Kelamin

70

3.

4.

a. Laki-laki
b. Perempuan
Total

1
15
16

6.2
93.8
100

Pekerjaan
a. Wiraswasta
b. Petani
c. Pensiunan
d. Tidak bekerja
e. Lain lain
Total

1
6
1
4
4
16

6.2
37.5
6.2
25
25
100

Riwayat Penyakit 1 bulan


terakhir
a. Tidak sakit
b. Hipertensi/ darah tinggi
c. Darah rendah
d. Asam urat
e. Batuk pilek
f. Pusing
g. Jimpe pada kaki

8
3
1
1
1
1
1

50
18.6
6.2
6.2
6.2
6.2
6.2

Berdasarkan Tabel 1. Karakteristik lansia menunjukkan dari 16


lansia terdapat 1 lansia (6,2%) berjenis kelamin laki-laki dan 15 lansia
berjenis kelamin perempuan (93,8%). Dari 16 lansia, 8 diantaranya
mempunyai riwayat penyakit degenerative (50%) antara lain hipertensi,
darah rendah, asam urat, batuk pilek, pusing, dan jimpe pada kaki.
2. Aktivitas usila
a. Distribusi aktivitas rumah tangga

71

Aktivitas Rumah Tangga Lansia


6%

Ya

Tidak
94%

Gambar 3.1. Distribusi Aktivitas Rumah Tangga Lansia


Berdasarkan Gambar 3.1. Distribusi aktivitas rumah tangga
lansia menunjukkan dari 16 lansia, 15 lansia (94%) masih dapat
melakukan aktivitas rumah tangga seperti memasak dan menyapu,
sedangkan 1 lansia (6%) tidak dapat melakukan aktivitas rumah
tangga.
b. Distribusi aktivitas sosial
Aktivitas Sosial Lansia
25%

Ya

Tidak
75%

Gambar 3.2. Distribusi Aktivitas Sosial Lansia


Berdasarkan Gambar 3.2. Distribusi aktivitas sosial lansia
menunjukkan dari 16 lansia, terdapat 12 lansia (75%) melakukan
aktivitas sosial dan 4 lansia (25%) tidak melakukan aktivitas
sosial.
c. Distribusi aktivitas keagamaan

72

Aktivitas Keagamaan Lansia


13%

Ya

Tidak
88%

Gambar 3.3. Distribusi aktivitas keagamaan lansia


Berdasarkan Gambar 3.3. Distribusi

aktivitas

keagamaan lansia menunjukkan dari 16 lansia, terdapat 14 lansia


(87%) melakukan aktivitas keagamaan dan 2 lansia (13%) tidak
melakukan aktivitas keagamaan.
d. Distribusi aktivitas olahraga
Aktivitas Olahraga Lansia

38%

Ya

63%

Tidak

Gambar 3.4. Distribusi Aktivitas Olahraga Lansia


Berdasarkan Gambar 3.4. Distribusi aktivitas olahraga
lansia menunjukkan dari 12 lansia, terdapat 6 lansia (37%)
melakukan aktivitas olahraga dan 10 lansia (63%) tidak
melakukan aktivitas olahraga.
3. Nafsu Makan Lansia

73

Nafsu Makan Lansia


19%

Baik
Tidak
81%

Gambar 3.5. Distribusi Nafsu Makan Lansia


Berdasarkan Gambar 3.5.

distribusi nafsu makan lansia

menunjukkan dari 16 lansia terdapat 13 lansia (81%) memiliki nafsu


makan yang baik dan 3 lansia (19%) mengalami tidak nafsu makan.

4. Asupan Lansia
a. Asupan energy lansia

Asupan Energi Lansia


19%
Cukup

Kurang
81%

Gambar 3.6. Distribusi Asupan Energi Lansia

74

Berdasarkan Gambar 6. distribusi asupan energi lansia


menunjukkan dari 16 lansia terdapat 13 lansia (81%) memiliki
asupan energi yang kurang, dan 3 lansia (19%) memiliki asupan
energi cukup.
b. Asupan protein lansia

Asupan Protein Lansia


13%
Cukup

Kurang
88%

Gambar 3.7. Distribusi Asupan Protein Lansia


Berdasarkan Gambar 7. distribusi asupan protein lansia
menunjukkan dari 16 lansia terdapat 14 lansia (88%) memiliki
asupan protein yang kurang, dan 2 lansia (12%) memiliki asupan
protein cukup.
c. Asupan lemak lansia

Asupan Lemak Lansia


Cukup

38%Kurang

63%

Gambar 3.8. Distribusi Asupan Lemak Lansia

75

Berdasarkan Gambar 8. distribusi asupan lemak lansia


menunjukkan dari 16 lansia terdapat 10 lansia (63%) memiliki
asupan lemak yang kurang, dan 6 lansia (37%) memiliki asupan
lemak cukup.
d. Asupan kharbohidrat lansia

Asupan Kharbohidrat Lansia


6%
Cukup

Kurang

94%

Gambar 3.9. Distribusi Asupan Kharbohidrat Lansia


Berdasarkan Gambar 9. distribusi asupan kharbohidrat
lansia menunjukkan dari 16 lansia terdapat 15 lansia (94%)
memiliki asupan kharbohidrat yang kurang, dan 1 lansia (6%)
memiliki asupan kharbohidrat cukup.

5. Status Gizi Lansia

76

Status Gizi Lansia di Desa Candibinangun


6%

25%

Kurus
Normal
Gemuk
Obese

31%

38%

Gambar 3.10. Distribusi status gizi lansia di Desa Candibinangun


Berdasarkan Gambar 10. status gizi lansia menurut IMT
menunjukkan dari 16 lansia terdapat 4 lansia (25%) memiliki status
gizi kurus, 6 lansia (38 %) memiliki status gizi normal, 5 lansia
(31%) memiliki status gizi gemuk dan 1 lansia (6%) memiliki
status gizi obese.
6. Distribusi Asupan Energy Dengan Sataus Gizi
Grafik Asupan Energi dengan Status Gizi
5

4
1

>2
7
(IM
T
be
sit
as

23
(IM
T
Ge
mu
k

18
,5
(IM
T

or
ma
l

Kurang

-2
2,
9)

5)

18
,
<

-2
6,
9)

Mencukupi

ur
us
(IM
T
K

6
5
4
3
2
1
0

Grafik 3.11. Distribusi Asupan Energi Lansia dengan Status Gizi

Berdasarkan Grafik 1. distribusi asupan energy lansia dengan


status gizi menunjukkan dari 16 lansia terdapat 4 lansia yang asupannya

77

kurang dan memiliki status gizi kurus, 1 lansia yang asupannya


mencukupi dan memiliki status gizi normal, 5 lansia yang asupannya
kurang tetapi memiliki status gizi normal, 2 lansia yang asupannya
mencukupi tetapi memiliki status gizi gemuk, 3 lansia yang asupannya
tidak mencukupi tetapi memiliki status gizi gemuk, dan 1 lansia yang
asupannya kurang tetapi memiliki status gizi obesitas.

78

BE.

Masalah Gizi Pada Ibu Hamil


1. Karakteristik Ibu Hamil

Tabel Karakteristik Ibu Hamil


No.
1.
a.
b.
c.
Total
2.
a.
b.
c.
d.
e.
Total

Karakteristik
Kelompok Umur Ibu Hamil
< 19 (usia rawan hamil&melahirkan)
20-35 (usia ideal hamil&melahirkan)
> 35 (usia rawan hamil&melahirkan)
Pendidikan Ibu Hamil
Tidak sekolah
SD
SMP
SMA/K
Perguruan Tinggi

3.
a.
b.
c.
d.
e.

Pekerjaan Ibu Hamil


Ibu rumah tangga
PNS/TNI/POLRI
Karyawan swasta
Wirausaha
Lainnya
Total

4.
a.
b.
c.

Trimester Kehamilan
I (1-3 bulan)
II (4-6 bulan)
III (7-9 bulan)
Total

(%)

0
13
3
16

0
81,25
18,75
100

0
2
1
10
3
16

0
12,5
6,25
62,5
18,75
100

12
1
1
2
0
16

75
6,25
6,25
12,5
0
100

5
5
6

31,25
31,25
37,5
100

Berdasarkan tabel karakteristik, dapat diketahui bahwa terdapat 16


ibu hamil di Desa Candibinangun yang berusia antara 20-37 tahun. Ibu
hamil yang berusia 20, 22, 24, 34, dan 36 tahun masing-masing 1 orang
sedangkan ibu hamil berusia 23 tahun sebanyak 4 orang.

Ibu hamil

berusia 26 tahun sebanyak 3 orang dan 29 tahun serta 37 tahun masing79

masing sebanyak 2 orang. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat ibu hamil
yang berada di usia tidak ideal untuk hamil dan melahirkan karena
menurut BKKBN usia yang ideal untuk hamil dan melahirkan adalah 2030 tahun.
Ibu hamil yang merupakan lulusan SMA/SMK sebanyak 10 orang
atau 62,5 %, lulusan SD sebanyak 2 orang atau 12,5 %, lulusan SMP
sebanyak 1 orang atau 6,25 %, dan lulusan Perguruan Tinggi sebanyak 3
orang atau 18,75 %.
Mayoritas ibu hamil merupakan ibu rumah tangga sebanyak 75 %
atau 12 orang sedangkan 4 lainnya bekerja. Ibu hamil yang bekerja sebagai
TNI dan karyawan swasta masing-masing 1 orang dan 2 ibu hamil sisanya
menjalankan wirausaha.
Sebanyak 5 ibu hamil atau 31,25 % berada pada trimester I dan II
sedangkan 6 ibu hamil lainnya atau 37,5 % telah masuk pada trimester III.

80

2. Usia Kandungan Ibu

Grafik 4.1 distribusi Usia Kandungan Ibu


Ibu hamil yang berada di Desa Candibinangun berada di usia kandungan
yang bervariasi dari 1 bulan hingga 9 bulan. Usia kandungan ibu 1 bulan, 6
bulan, 7 bulan, dan 8 bulan masing-masing terdapat 1 orang. Usia
kandungan ibu 2 bulan hingga 5 bulan masing-masing terdapat 2 orang
dan usia kandungan ibu 9 bulan merupakan yang paling banyak yaitu 4
orang.
3. Paritas

Gambar 4.1 distribusi paritas ibu hamil


Ibu hamil di Desa Candibinangun mayoritas pernah memiliki anak
sebelumnya sehingga ibu hamil dan keluarga telah memiliki pengalaman
81

dalam penanganan kehamilan. Hanya 4 ibu hamil atau 25 % yang


mengandung anak pertama sedangkan 12 ibu hamil lainnya 10 kehamilan
atau 62,5 % merupakan anak ke dua dan 2 kehamilan atau 12,5 %
merupakan anak ke tiga.

4. Keluhan Kehamilan
Trimester * Keluhan mual Crosstabulation
Count
Keluhan mual
ya

Total

tidak

Trimester 2

10

16

Total

Tabel 2.2. Distribusi Keluhan Mual pada Ibu Hamil


Ibu hamil di Desa Candibinangun memiliki keluhan mual tidak
hanya yang berada di trimester I kehamilan akan tetapi ibu hamil pada
trimester III juga terdapat ibu yang masih mengalami mual. Ibu hamil
yang berada di trimester I dan II masing-masing sebanyak 3 orang
mengaku mengalami mual sedangkan ibu hamil pada trimester III terdapat
4 orang yang mengalami mual.

Trimester * Keluhan muntah Crosstabulation


Keluhan muntah
ya

Total

tidak

82

Trimester 2

16

Total

Tabel 2.3. Distribusi Keluhan Muntah pada Ibu Hamil


Ibu hamil yang mengalami keluhan muntah sebanyak 8 orang dan
8 orang lainnya tidak mengalami muntah. Dari delapan orang yang
memiliki keluhan muntah, hanya 1 orang yang berada di trimester I. Ibu
hamil yang berada pada trimester II sebanyak 3 orang mengalami muntah
dan ibu hamil yang berada pada trimester III sebanyak 4 orang mengalami
muntah.
Trimester * Keluhan pusing Crosstabulation
Keluhan pusing
ya

Trimester

Total

tidak

16

Total

Tabel 2.4. Distribusi Keluhan Pusing pada Ibu Hamil

Ibu hamil yang mengalami keluhan pusing di Desa Candibinangun


sebanyak 7 orang sedangkan 9 orang lainnya tidak mengalami keluhan
pusing. Dari 7 orang, ibu hamil pada trimester I dan II masing-masing
sebanyak 2 orang yang mengalami pusing sedangkan 3 orang ibu hamil
lainnya berada pada trimester III.
Trimester * Keluhan lainnya Crosstabulation

83

Keluhan lainnya
nyeri

Total
pegal-pegal

punggung
1

Trimester 2

14

16

Total

Tabel 2.5. Distribusi Keluhan Nyeri Punggung pada Ibu Hamil


Terdapat ibu hamil yang mengalami nyeri punggung tetapi tidak
mengeluhkan mual, muntah, atau pusing sebanyak 1 orang. Akan tetapi
terdapat ibu hamil yang mengalami mual, muntah, dan pusing
mengeluhkan pegal-pegal sebanyak 1 orang.

5. Penyakit Selama Hamil

84

Gambar 4.2. distribusi penyakit gula darah tinggi saat hamil


Ibu hamil di Desa Candibinangun sebanyak 16 orang
menyatakan mereka tidak memiliki penyakit gula darah tinggi. Pernyataan
ini berdasarkan pemeriksaan yang rutin dilakukan di Puskesmas atau
rumah sakit. Hal ini menunjukkan bahwa ibu hamil tidak mengalami
diabetes gestasional.

Gambar 4.3. distribusi penyakit tekanan darah tinggi saat hamil


Ibu hamil yang melakukan cek rutin baik di Puskesmas maupun
rumah sakit selalu dilihat tekanan darahnya dan dapat diketahui bahwa
pada saat pengambilan data hasil cek terakhir ibu hamil 100 % tidak ada
yang memiliki tekanan darah tinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa ibu
85

hamil tidak beresiko mengalami placental abortion dan eklamsi yang


berbahaya baik bagi ibu maupun janin.

Gambar 4.4. distribusi penyakit asam urat saat hamil


Sebanyak 100 % atau 16 ibu hamil tidak memiliki kadar asam urat
yang tinggi. Kadar asam urat yang tinggi dapat menyebabkan gagal ginjal,
peyakit gout, otot menjadi lemah, kejang, terjadi gerakan inkoordinasi,
rasa nyeri, terkena pirai, dan yang paling parah adalah jantung coroner.
Akan tetapi tingginya asam urat dapat pula mempengaruhi janin karena
adanya gangguan perkembangan dan dapat menyebabkan autis pada anak
sehingga kadar asam urat juga penting untuk diperhatikan ibu hamil.

86

Gambar 4.5. distribusi penyakit lainnya saat hamil


Penyakit seperti nyeri-nyeri, pusing, dan tekanan darah rendah
turut dirasakan oleh 3 ibu hamil yang mengalami mual dan muntah. Hal ini
perlu diperhatikan lebih lanjut karena dapat mempengaruhi asupan makan
ibu hamil dan secara tidak langsung dapat mempengaruhi tumbuh
kembang janin.

87

6. Kadar Hb Dan Hubungannya Dengan Tablet Tambah Darah

Kadar Hb sebulan trakir * Konsumsi tablet tambah darah


Crosstabulation
Count
Konsumsi tablet tambah

Total

darah
ya

tidak

11.0

11.2

11.8

Kadar Hb sebulan

12.0

trakir

12.5

12.6

12.8

13.0

12

15

Total

Tabel 2.6. Distribusi Kadar Hb sebulan terakhir Dan Hubungannya


Dengan Tablet Tambah Darah
Sebanyak 3 ibu hamil yang tidak mengonsumsi tablet tambah
darah memiliki kadar Hb yang normal karena berada pada range 11-14
gr/dL. Sebanyak 12 ibu hamil yang mengonsumsi tablet tambah darah, 4
ibu hamil berada pada batas bawah kadar Hb normal ibu hamil. Hal ini
merupakan indikasi bahwa ibu hamil perlu mengonsumsi tablet tambah
darah secara berkelanjutan agar tidak mengalami anemia. Terdapat 1 ibu
hamil yang tidak melakukan pemeriksaan Hb sehingga tidak diketahui

88

kadar Hbnya namun ibu tersebut mengonsumsi tablet tambah darah secara
rutin.
Kadar Hb sebulan trakir * Konsumsi tablet Fe dlm seminggu
Crosstabulation
Count
Konsumsi tablet Fe dlm

Total

seminggu
1

Kadar Hb sebulan
trakir

Total

11.0

11.2

11.8

12.0

12.6

12.8

13.0

12

Tabel 2.7. Distribusi Kadar Hb sebulan terakhir Dan Hubungannya


Dengan konsumsi Tablet Tambah Darah
Konsumsi tablet Fe dalam seminggu oleh 12 ibu hamil yang rutin
dalam seminggu 7 kali yaitu 6 orang dengan kadar Hb 11 gr/dL sebanyak 3
orang, kadar Hb 11,8 gr/dL, 12 gr/dL, dan 13 gr/dL masing-masing
sebanyak 1 orang. Ibu hamil yang mengonsumsi tablet Fe 3 kali seminggu
sebanyak 1 orang dengan kadar Hb 12 gr/dL. Sedangkan ibu hamil yang
mengonsumsi tablet Fe hanya sekali dalam seminggu sebanyak 5 orang
dengan kadar Hb masing-masing 11 gr/dL, 11,2 gr/dL, 12 gr/dL, 12,6
gr/dL, dan 12,8 gr/dL. Hasil ini menunjukkan bahwa 1 ibu hamil beresiko
mengalami anemi apabila konsumsi tablet Fe dalam seminggu tidak

89

dilakukan secara rutin. Terdapat satu ibu hamil yang tidak memeriksakan
kadar Hb akan tetapi telah mengonsumsi tablet Fe 7 kali dalam seminggu.

Gambar 4.6. distribusi alasan tidak mengkonsumsi tablet fe saat hamil


Tiga ibu hamil yang tidak mengonsumsi tablet Fe memiliki alasan
belum diberi oleh bidan, mengonsumsi asam folat terlebih dahulu, dan
konsumsi pregnacare proglata serta osteocare. Akan tetapi kadar Hb ibu
hamil berada pada kadar normal Hb sehingga konsumsi tablet Fe tidak
mendesak.

7. Cara Minum Tablet Fe

90

Gambar 4.7. distribusi Cara Minum Tablet Fe pada Ibu Hamil


Sebanyak 11 ibu hamil atau 68,75 % terbiasa mengonsumsi tablet
Fe menggunakan air putih tanpa tambahan apapun sedangkan 5 ibu hamil
memilih mengonsumsi tablet Fe dengan cara lain.

Gambar 4.8. distribusi Cara Minum Tablet Fe dengan Teh pada Ibu Hamil
Sebanyak 1 ibu hamil atau 6,25 % dari 16 ibu hamil di Desa
Candibinangun terbiasa mengonsumsi tablet Fe menggunakan teh. Ibu
hamil ini mengandung anak pertama sehingga konsumsi tablet Fe
menggunakan teh dimungkinkan karena kurangnya pengetahuan dan
pengalaman ibu.

91

Gambar 4.9. distribusi Cara Minum Tablet Fe dengan jamu pada Ibu Hamil
Seluruh ibu hamil atau 100 % ibu hamil di Desa Candibinangun
tidak mengonsumsi tablet Fe menggunakan jamu.

Gambar 4.10. distribusi Cara Minum Tablet Fe dengan Lainnya


pada Ibu Hamil
Tiga ibu hamil memilih mengonsumsi tablet Fe menggunakan air
jeruk dan pisang. Sebanyak 1 ibu hamil atau 6,25 % menggunakan air
jeruk sedangkan 2 ibu hamil lain atau 12,5 % menggunakan pisang untuk
membantu dalam mengonsumsi tablet Fe.

92

Sebanyak 2 ibu hamil dari 16 ibu hamil di Desa Candibinangun


mengalami ngidam sedangkan 14 lainnya tidak. Ibu hamil yang
mengalami ngidam merupakan ibu yang sebelumnya telah memiliki anak
bahkan kehamilan yang sekarang merupakan anak ke tiga.
8. Konsumsi Ibu Hamil

Gambar 4.11. distribusi Mengidam saat Hamil


Dua ibu hamil mengalami ngidam makanan yang berupa lotek dan
martabak telur. Selain itu 14 ibu hamil lainnya tidak mengalami ngidam
makanan.

Gambar 4.12. distribusi Pantangan makan


Ibu hamil yang memiliki pantangan makan sebanyak 9 orang dan
yang tidak memiliki pantangan makan sebanyak 7 orang.
93

Gambar 4.13. distribusi Pantangan makan apa saat hamil


Ibu hamil yang memiliki pantangan makan mayoritas berpantang
pada sayur pahit dan jamu. Sebanyak 4 ibu hamil pantang memakan sayur
pahit berupa daun papaya, pare maupun sayur pahit lain. Sebanyak 4 ibu
hamil memiliki pantangan mengonsumsi jamu apapun jenisnya. Selain
sayur pahit dan jamu, terdapat ibu hamil yang pantang megonsumsi jamur,
durian, nanas, nangka, dan tape. Akan tetapi terdapat 1 ibu hamil yang
tidak memantang semua makanan tersebut melainkan memiliki pantangan
mengonsumsi segala macam makanan yang diolah dengan cara dibakar
dan memantang semua makanan mentah.

94

Tabel 2.8. Distribusi Ibu Hamil mengkonsumsi teh


Sebanyak setengah dari ibu hamil di Desa Candibinangun terbiasa
mengonsumsi teh yang dikarenakan kondisi lingkungan berhawa dingin.
Kadar Hb ibu hamil yang mengonsumsi teh tidak semuanya berada pada
batas bawah kadar normal Hb.

95

Tabel 2.9. Distribusi Ibu Hamil mengkonsumsi jamu


Satu dari 16 ibu hamil mengonsumsi jamu. Akan tetapi konsumsi
jamu ini tidak untuk membantuk konsumsi tablet Fe.

Tabel 2.10. Distribusi Ibu Hamil mengkonsumsi jamu beras kencur


Jamu yang dikonsumsi oleh 1 ibu hamil yaitu jamu beras kencur
karena menghangatkan badan.
96

Tabel 2.11. Distribusi Ibu Hamil mengkonsumsi jamu kunir asam


Tidak ada ibu hamil yang mengonsumsi jamu kunir asam. Konsumsi kunir
asam dapat menyebabkan kontraksi pada perut sehingga tidak baik apabila
dikonsumsi ibu hamil.

Tabel 2.12. Distribusi Ibu Hamil mengkonsumsi pahitan


Tidak ada ibu hamil yang mengonsumsi jamu pahitan.

97

Tabel 2.13. Distribusi Ibu Hamil mengkonsumsi jamu lainnya


Ibu hamil yang mengonsumsi jamu hanya 1 orang dan jamu yang
dikonsumsi yaitu beras kencur sehingga selain itu tidak ada yang
mengonsumsi jamu lain.
9. Lila Dan Resiko Lila Ibu Hamil
Resiko LILA * LILA Crosstabulation
LILA
24.0
Resiko
LILA
Total

tidak resiko

24.5

25.0

27.0

28.1

29.0

98

LILA
30.5
Resiko

tidak

LILA

resiko

Total

31.2

31.5

31.6

31.7

33.0

Total

Resiko LILA

tidak resiko

Total

16
16

Tabel 2.14. Distribusi Lila Dan Resiko Lila Ibu Hamil


Ibu hamil di Desa Candibinangun memiliki LILA yang bervariasi
dari 24,0 hingga 33,0. LILA normal berada yaitu berada di atas 23,5
sehingga dapat diketahui bahwa keenam belas ibu hamil tidak memiliki
resiko KEK. LILA ibu hamil dapat mempengaruhi janin karena ibu hamil
yang memiliki LILA di bawah 23,5 dapat menyebabkan anak BBLR dan
menjadi stunting apabila tidak mendapatkan pendampingan.

10. Asupan Zat Gizi Ibu Hamil

99

KECUKUPAN ASUPAN ENERGI


Mencukupi; 31%
Tidak mencukupi; 69%

Gambar 4.14. distribusi asupan energy pada ibu hamil


Dari diagram asupan energy ibu hamil, dapat diketahui bahwa 31
% asupan energy ibu hamil sudah mencukupi lebih dari 80 % kebutuhan
asupan. Sedangkan 69 % ibu hamil masih memiliki asupan yang kurang
dari 80 %. Asupan zat gizi yang kurang dalam jangka waktu tertentu dapat
menyebabkan janin tidak berkembang sempurna.

KECUKUPAN ASUPAN PROTEIN


Mencukupi; 38%
Tidak mencukupi; 63%

Gambar 4.15. distribusi asupan protein pada ibu hamil


Berdasarkan diagram lingkaran kecukupan asupan protein, dapat diketahui
bahwa 37 % ibu hamil di Desa Candibinangun telah memenuhi lebih dari
80 % kebutuhan asupan protein. Sedangkan 63 % sisanya masih belum
mencukupi kebutuhan akan zat gizi protein.

100

KECUKUPAN ASUPAN LEMAK


Mencukupi; 13%

Tidak mencukupi; 88%

Gambar 4.16. distribusi asupan lemak pada ibu hamil


Diagram lingkaran tentang kecukupan asupan lemak menunjukkan bahwa
12 % ibu hamil sudah memenuhi lebih dari 80 % asupan zat gizi lemak.
Sebanyak 88 % ibu hamil sisanya masih belum memenuhi standar asupan
80 %.

KECUKUPAN ASUPAN KH
Mencukupi; 31%
Tidak mencukupi; 69%

Gambar 4.17. distribusi asupan kh pada ibu hamil


Diagram lingkaran kecukupan asupan karbohidrat menunjukkan
bahwa 31 % ibu hamil di Desa Candibinangun telah mencukupi kebutuhan
karbohidrat dengan asupan di atas 80 %. Sedangkan sisanya sebanyak 69
% ibu hamil masih belum memenuhi kebutuhan asupan.

101

KECUKUPAN ASUPAN FE
Tidak mencukupi; 19%

Mencukupi; 81%

Gambar 4.18. distribusi asupan fe pada ibu hamil


Berdasarkan diagram lingkaran kecukupan asupan Fe dapat
diketahui bahwa 81 % ibu hamil telah mencukupi kebutuhan Fe.
Sedangkan 19 % ibu hamil lainnya masih belum memenuhi kecukupan
asupan Fe.

KECUKUPAN ASUPAN VIT C


Mencukupi; 31%
Tidak mencukupi; 69%

102

Gambar 4.19. distribusi asupan vit c pada ibu hamil


Diagram lingkaran kecukupan asupan vit c menunjukkan bahwa
asupan vitamin C 31 % ibu hamil telah memenuhi 80 % kebutuhan.
Sedangkan 69 % ibu hamil lain masih belum memenuhi kebutuhan asupan
vitamin C mereka.

BF.

Masalah Gizi Pada Wanita Usia Subur (WUS)


1. Distribusi Umur WUS

Umur WUS
1= 15 - 18 th

3%
2= 19
- 29 th
30%

3= 30 - 49 th

68%

Gambar 5.1 Distribusi Umur WUS


Berdasarkan gambar yang disajikan tentang umur
WUS yang termasuk dalam kategori umur 1 yaitu rentang
umur 15-18 tahun, kategori umur 2 yaitu rentang umur 1929 tahun dan kategori umur 3 yaitu rentang umur 30-49
tahun. Penggolongan ini berdasar dari penggolongan umur
AKG 2013. Persentase umur WUS terbanyak yaitu kategori
umur 3 (umur 30-49 tahun) sebanyak 27 orang atau sekitar
57,50%, kedua yaitu rentang umur kategori umur 2 (umur
19-29 tahun) sebanyak 12 orang atau sekitar 30,0%, dan
persentase paling sedikit yaitu kategori umur 1 (rentang
umur 15-18 tahun) sebanyak 1 orang atau sekitar 2,50% .
Dapat disimpulkan jika ibu WUS di wilayah Candibinangun

103

mayoritas

berumur

antara

30-49

tahun

dan

masih

mempunyai anak bayi maupun balita.


2. Distribusi Status Pernikahan WUS

Status Pernikahan
menikah

belum menikah

5%

95%

Gambar 5..2 Distribusi Status Pernikahan WUS


Berdasarkan gambar yang disajikan tentang status
pernikahan WUS, dengan total WUS 40 orang yang sudah menikah
sebanyak 38 orang atau sekitar 95%. Sedangkan WUS yang belum
menikah sebanyak 2 orang atau sekitar 5%%. Dapat disimpulkan jika
ibu WUS di wilayah Candibinangun mayoritas sudah
menikah dan mempunyai suami dan anak.

3. Distribusi Pendidikan WUS

Pendidikan
80.00%

57.50%

60.00%
40.00%
20.00%
0.00%

25.00%

15.00%

2.50%
Pendidikan
SD

SMP

SMA

PT

Gambar 5.3 Distribusi Pendidikan WUS

104

Berdasarkan

gambar

yang

disajikan

tentang

pendidikan distribusi WUS, terdapat 6 orang atau sekitar


15% yang berpendidikan terahir Perguruan Tinggi (PT),
berpendidikan Sekolah Menegah Atas (SMA) 23 orang atau
sekitar 57,5%, berpendidikan Sekolah Menengah Pertama
(SMP) 10 orang atau sekitar 25%, dan Berpendidikan
Sekolah Dasar (SD) ada 1 orang atau sekitar 2,5%. Dapat
disimpulkan ibu WUS di wilayah Candibinangun terdiri dari
ibu yang memiliki tingkat pendidikan cukup baik.

4. Distribusi Pekerjaan WUS


70.0%

57.5%

60.0%

PNS/ABRI/Polisi

50.0%

Karyawan swasta

40.0%

Wiraswasta

30.0%

Petani

20.0%
10.0%

Buruh

7.5%7.5%10.0%5.0%7.5%5.0%

Pelajar
Pekerjaan lain

0.0%

Pekerjaan

Gambar 5.4 Distribusi Pekerjaan WUS


Berdasarkan
distribusi

WUS

gambar

yang

bekerja

yang

disajikan

sebagai

tentang

PNS/ABRI/Polisi,

karyawan swasta, buruh masing-masing sebanyak 3 orang


atau sekitar 7,5%. WUS yang bekerja sebagai wiraswasta
sebanyak 4 orang atau sekitar 10%, yang bekerja sebagai

105

petani

dan

masih

berstatus

pelajar

masing-masing

sebanyak 2 orang atau sekitar 5%. Sedangkan WUS yang


mempunyai pekerjaan lain selain yang sudah digolongkan
sebanyak 23 orang atau sekitar 57,5%. Pekerjaan lain yaitu
sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT) sebanyak 22 orang dan
bekerja part time sekaligus IRT sebanyak 1 orang. Dapat
disimpulkan jika mayoritas WUS di Candibinangun bekerja
sebagai ibu rumah tangga.
5. Distribusi Konsumsi Vitamin atau Suplemen pada WUS

Konsumsi Suplemen
10%

Ya

Tidak

90%

Gambar5.5. Distribusi Vitamin atau Suplemen WUS

Berdasarkan

gambar

yang

disajikan

distribusi

konsumsi vitamin/suplemen pada WUS, sebanyak 36 orang


atau sekitar 90% tidak mengkonsumsi vitamin/suplemen
selama

satu

bulan

terakhir,

sedangkan

yang

mengkonsumsi vitamin/suplemen sebanyak 4 orang atau


sekitar 10%. Vitamin atau suplemen yang dikonsumsi yaitu
Tablet tambah darah yang dikonsumsi oleh 3 orang
(frekuensi berbeda dalam satu bulan yaitu 1 orang minum
tablet tambah darah sebanyak 3 kali, 1 orang minum tablet
tambah darah sebanyak 7 kali dan 1 orang minum tablet
tambah darah sebanyak 30 kali) dan vitamin C sebanyak 1
orang (frekuensi 1 kali dalam sebulan). Dapat disimpulkan

106

WUS

di

Candibinangun

jarang

mengkonsumsi

vitamin/suplemen dalam satu bulan terakhir.

6. Distribusi Konsumsi Jamu pada WUS

Konsumsi Jamu
Ya

30%

Tidak

70%

Gambar 5.6. Distribusi Konsumsi Jamu


Berdasarkan

gambar

yang

disajikan

distribusi

konsumsi jamu pada WUS, sebanyak 28 orang atau sekitar


70% tidak mengkonsumsi jamu selama satu bulan terakhir
ini, sedangkan yang mengkonsumsi jamu

sebanyak 12

orang atau sekitar 30%. Jenis jamu yang dikonsumsi yaitu


beras kencur, beras kencur kunir asem, galian singset dan
paitan/jamu jawa dengan frekuensi berbeda-beda yaitu
antara

1-30

kali

dalam

satu

bulan

terakhir.

Dapat

disimpulkan WUS di Candibinangun jarang mengkonsumsi


jamu dalam satu bulan terakhir.
7. Distribusi Makanan dan Minuman Pantangan WUS

107

Makanan Pantangan
Ya

10%

Tidak

90%

Gambar 5.7. Distribusi Makanan Pantangan


Berdasarkan gambar yang disajikan distribusi makanan pantangan
pada WUS, sebanyak 4 orang atau sekitar 10% memiliki makanan
pantangan, sedangkan WUS yang tidak memiliki pantangan makanan yaitu
sebanyak 36 orang atau sekitar 90%. Makanan yang dipantang antara lain
gorengan, jamur, seafood dan makanan tinggi yodium dengan alasan
gangguan kesehatan dan bukan dikarenakan adanya kepercayaan tertentu
mengenai makanan tersebut. Dapat disimpulkan bahwa WUS di
Candibinangun sebagian besar tidak memiliki pantangan terhadap
makanan apapun.

Minuman Pantangan
Ya

5%

Tidak

95%

Gambar 5.8. Distribusi Minuman Pantangan


Berdasarkan gambar yang disajikan distribusi makanan pantangan
pada WUS, sebanyak 2 orang atau sekitar 5% memiliki minuman
pantangan, sedangkan WUS yang tidak memiliki minuman pantangan

108

yaitu sebanyak 38 orang atau sekitar 95%. Minuman yang dipantang yaitu
kopi dan minuman bersoda dengan alasan gangguan kesehatan dan bukan
dikarenakan adanya kepercayaan tertentu mengenai minuman tersebut.
Dapat disimpulkan bahwa WUS di Candibinangun sebagian besar tidak
memiliki pantangan terhadap minuman apapun.
8. Distribusi Asupan Energi

Asupan Energi
10%

Cukup
Tidak Cukup

90%

Gambar 5.9 Distribusi Asupan Energi


Berdasarkan gambar yang disajikan distribusi asupan energi pada
WUS, sebanyak 4 orang atau sekitar 10% memiliki asupan energi yang
cukup, sedangkan sebanyak 36 orang atau sekitar 90% memiliki asupan
energi yang tidak cukup. Kecukupan zat gizi dibandingkan dengan
menggunakan batas Widyakarya Gizi 2004 yaitu asupan cukup apabila
memenuhi 80-110% dan asupan kurang bila <80%. Dapat disimpulkan
bahwa WUS di Candibinangun sebagian besar memiliki asupan energi
yang tidak mencukupi kebutuhan.

9. Distribusi Asupan Protein

109

Asupan Protein
Cukup
25%

Tidak Cukup

75%

Gambar 5.10 Distribusi Asupan Protein


Berdasarkan gambar yang disajikan distribusi asupan protein pada
WUS, sebanyak 10 orang atau sekitar 25% memiliki asupan protein yang
cukup, sedangkan sebanyak 30 orang atau sekitar 75% memiliki asupan
protein yang tidak cukup. Kecukupan zat gizi dibandingkan dengan
menggunakan batas Widyakarya Gizi 2004 yaitu asupan cukup apabila
memenuhi 80-110% dan asupan kurang bila <80%. Dapat disimpulkan
bahwa WUS di Candibinangun sebagian besar memiliki asupan protein
yang tidak mencukupi kebutuhan.
10. Distribusi Asupan Lemak

Asupan Lemak
25%

Cukup
Tidak Cukup

75%

Gambar 5.11. Distribusi Asupan Lemak


Berdasarkan gambar yang disajikan distribusi asupan lemak pada
WUS, sebanyak 10 orang atau sekitar 25% memiliki asupan lemak yang
cukup, sedangkan sebanyak 30 orang atau sekitar 75% memiliki asupan
110

lemak yang tidak cukup. Kecukupan zat gizi dibandingkan dengan


menggunakan batas Widyakarya Gizi 2004 yaitu asupan cukup apabila
memenuhi 80-110% dan asupan kurang bila <80%. Dapat disimpulkan
bahwa WUS di Candibinangun sebagian besar memiliki asupan lemak
yang tidak mencukupi kebutuhan.

11. Distribusi Asupan Karbohidrat

Asupan Karbohidrat
5%

Cukup
Tidak Cukup

95%

Gambar 5.12 Distribusi Asupan Karbohidrat


Berdasarkan gambar yang disajikan distribusi asupan karbohidrat
pada WUS, sebanyak 2 orang atau sekitar 5% memiliki asupan karbohidrat
yang cukup, sedangkan sebanyak 38 orang atau sekitar 95% memiliki
asupan karbohidrat yang tidak cukup. Kecukupan zat gizi dibandingkan
dengan menggunakan batas Widyakarya Gizi 2004 yaitu asupan cukup
apabila memenuhi 80-110% dan asupan kurang bila <80%. Dapat
disimpulkan bahwa WUS di Candibinangun sebagian besar memiliki
asupan karbohidrat yang tidak mencukupi kebutuhan.
12. Distribusi Status Gizi Berdasarkan Lingkar Lengan Atas (LLA)

111

Status Gizi Berdasarkan LLA


KEK

10%

Non KEK

90%

Gambar 5.12 Distribusi Status Gizi Berdasarkan LLA


Berdasarkan

gambar

yang

disajikan

distribusi

status

gizi

berdasarkan LLA pada WUS, sebanyak 4 orang atau sekitar 10% memiliki
status gizi Kurang Energi Kronis (KEK), sedangkan sebanyak 36 orang
atau sekitar 90% berstatus gizi non KEK. Status gizi dibandingkan dengan
batas LLA di Indonesia yaitu KEK jika LLA <23,5 cm. Dapat disimpulkan
bahwa WUS di Candibinangun sebagian besar memiliki status gizi
berdasarkan LLA yaitu non KEK.
13. Distribusi Status Gizi Berdasarkan Indeks Masa Tubuh (IMT)
25.0%

20.0%

27.5%

17.5%

al
(1
8,
5Pr
22
a
O
,9
be
)
si
ta
s
(2
324
O
,9
be
)
si
ta
s
I(
25
-2
9,
9)
O
be
si
ta
s
2
(>
30
)

10.0%

or
m
N

Ku
ru
s

(<
18
,5
)

30.0%
25.0%
20.0%
15.0%
10.0%
5.0%
0.0%

Status Gizi Berdasarkan IMT

Grafik 5. 1 Distribusi Status Gizi Berdasarkan IMT


Berdasarkan

gambar

yang

disajikan

distribusi

status

gizi

berdasarkan IMT pada WUS, sebanyak 4 orang atau sekitar 10% memiliki
status gizi Kurus, sebanyak 10 orang atau sekitar 25% berstatus gizi
Normal, sebanyak 8 orang atau sekitar 20% berstatus gizi Pra Obesitas,

112

sebanyak 11 orang atau sekitar 27,5% berstatus gizi Obesitas 1 dan


sebanyak 7 orang atau sekitar 17,5% berstatus gizi Obesitas 2. Status gizi
dibandingkan dengan batas IMT menurut WHO tahun 2000.

14. Distribusi Status Gizi Berdasarkan LLA dan IMT dengan Asupan Energi

Asupan Energi

33

KEK

Non KEK

Mencukupi

Tidak Mencukupi

Grafik 5. 2. Distribusi Status Gizi Berdasarkan LLA


dengan Asupan Energi
Berdasarkan

gambar

yang

disajikan

distribusi

status

gizi

berdasarkan LLA dengan Asupan Energi. WUS yang berstatus gizi KEK
berjumlah 4 orang, dari 4 orang tersebut sebanyak 1 orang memiliki
asupan energi yang cukup dan 3 orang memiliki asupan energi yang tidak
cukup, sedangkan pada WUS yang berstatus gizi Non KEK berjumlah 36
orang, dari 36 orang tersebut sebanyak 3 orang memiliki asupan energi
cukup dan 33 orang memiliki asupan energi yang tidak cukup.

113

Asupan Protein
29

1
KEK

Non KEK

Mencukupi

Tidak Mencukupi

Grafik 5.3. Distribusi Status Gizi Berdasarkan LLA


dengan Asupan Protein
Berdasarkan

gambar

yang

disajikan

distribusi

status

gizi

berdasarkan LLA dengan Asupan Protein. WUS yang berstatus gizi KEK
berjumlah 4 orang, dari 4 orang tersebut sebanyak 3 orang memiliki
asupan protein yang cukup dan 1 orang memiliki asupan protein yang
tidak cukup, sedangkan pada WUS yang berstatus gizi Non KEK
berjumlah 36 orang, dari 36 orang tersebut sebanyak 7 orang memiliki
asupan protein cukup dan 29 orang memiliki asupan protein yang tidak
cukup.

Asupan Energi

Pr
a

Mencukupi

1
0

O
be
si
ta
s

al
or
m
N

Ku
ru
s

O
be
si
ta
s

10

O
be
si
ta
s

Tidak Mencukpi

Grafik 5.4 Distribusi Status Gizi Berdasarkan IMT

114

dengan Asupan Energi

Berdasarkan

gambar

yang

disajikan

distribusi

status

gizi

berdasarkan IMT dengan Asupan Energi. WUS yang berstatus gizi Kurus
berjumlah 4 orang, dari 4 orang tersebut sebanyak 0 orang memiliki
asupan energi yang cukup dan 4 orang memiliki asupan energi yang tidak
cukup, kemudian pada WUS yang berstatus gizi Normal berjumlah 10
orang, dari 10 orang tersebut sebanyak 2 orang memiliki asupan energi
cukup dan 8 orang memiliki asupan energi yang tidak cukup. Selanjutnya
pada WUS yang berstatus gizi Pra Obesitas berjumlah 8 orang, dari 8
orang tersebut sebanyak 1 orang memiliki asupan energi cukup dan 7
orang memiliki asupan energi yang tidak cukup, kemudian pada WUS
yang berstatus gizi Obesitas 1 berjumlah 11 orang, dari 11 orang tersebut
sebanyak 1 orang memiliki asupan energi cukup dan 10 orang memiliki
asupan energi yang tidak cukup serta pada WUS yang berstatus gizi
Obesitas 2 berjumlah 7 orang, dari 0 orang tersebut sebanyak 7 orang
memiliki asupan energi cukup dan 10 orang memiliki asupan energi yang
tidak cukup

Asupan Protein

Mencukupi

1
O
be
si
ta
s

Pr
a

O
be
si
ta
s

or
m
al

Ku
ru
s

O
be
si
ta
s

Tidak Mencukui

Grafik 5.5. Distribusi Status Gizi Berdasarkan IMT


dengan Asupan Protein

115

Berdasarkan

gambar

yang

disajikan

distribusi

status

gizi

berdasarkan IMT dengan Asupan Protein. WUS yang berstatus gizi Kurus
berjumlah 4 orang, dari 4 orang tersebut sebanyak 3 orang memiliki
asupan protein yang cukup dan 1 orang memiliki asupan protein yang
tidak cukup, kemudian pada WUS yang berstatus gizi Normal berjumlah
10 orang, dari 10 orang tersebut sebanyak 3 orang memiliki asupan protein
cukup dan 7 orang memiliki asupan protein yang tidak cukup. Selanjutnya
pada WUS yang berstatus gizi Pra Obesitas berjumlah 8 orang, dari 8
orang tersebut sebanyak 1 orang memiliki asupan protein cukup dan 7
orang memiliki asupan protein yang tidak cukup, kemudian pada WUS
yang berstatus gizi Obesitas 1 berjumlah 11 orang, dari 11 orang tersebut
sebanyak 2 orang memiliki asupan protein cukup dan 9 orang memiliki
asupan protein yang tidak cukup serta pada WUS yang berstatus gizi
Obesitas 2 berjumlah 7 orang, dari 1 orang tersebut sebanyak 6 orang
memiliki asupan protein cukup dan 10 orang memiliki asupan protein yang
tidak cukup.

116

BG.

Prioritas Masalah
Penentuan prioritas masalah gizi mengunakan teori Hanlon Kualitatif
dengan 3 pendekatan yaitu U (Urgency), S (seriousiess), G
(Growth).
Tabel 2.24 U (Urgency)
Jenis

Gizi

Asupan

Penyakit

masalah

Seimban

Bumil

degenerativ

e lansia

Gizi

Asupa

Horizonta

WUS

seimbang
Asupan
bumil
Penyakit
degenerati
f
Asupan

WUS
Vertical

Horizontal

Total

Tabel Tabel 2.25 S (Seriously)


Jenis

Gizi

Asupa

Penyakit

masalah

Seimban

degenerativ

Bumil

e lansia

Gizi

Asupa

Horizonta

WUS

seimbang
Asupan

117

bumil
Penyakit

degenerativ
e
Asupan

WUS
Vertical

Horizontal

Total

Tabel 2.2.5 G (Growth)


Jenis

Gizi

Asupan

Penyakit

masalah

Seimban

Bumil

degenerativ

g
Gizi

e lansia
-

Asupa

Horizonta

WUS

seimbang
Asupan
bumil
Penyakit
degenerati
f
Asupan

WUS
Vertical

Horizontal

Total

Tabel 2.2.6 Rekapitulasi

118

MASALAH

TOTAL

PRIORITAS

Gizi

II

IV

III

seimbang
Asupan
bumil
Penyakit
degeneratif
Asupan WUS

Berdasarkan analisis prioritas masalah dengan metode tersebut dapat


disimpulkan prioritas masalah sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.

Asupan Ibu Hamil


Gizi seimbang pada Balita
Asupan defisit pada WUS
Penyakit degenerative

119

BAB IV
RENCANA INTERVENSI
A.
B.
C.
D.

Masalah Utama
Prioritas Masalah
Alternatif Pemecahan Masalah
Rencana Intervensi Gizi

120

Plan Of Action (POA) Desa Candibinangun

68

N Kegiat
o
an

Tujua
n

1 Musya
warah
Masyar
akat
Desa
(MMD
)

Mens
Kep
epakat ala
i
Desa
kesep
,
akatan Kep
kegiat
ala
an
Dus
yang
un,
akan
Ibudi
Ibu
lakuk
Kad
an
er
oleh
mahas
iswa
meng
enai
renca
na
interv
ensi
yang
akan
dilaks
anaka
n.

2 Penyul a.
uhan
menge
nai
1000
HPK
Ibu
Hamil
dan
Pember
ian
Biskuit
Pada
Ibu
Hamil

Men
ingk
atka
n
pen
geta
hua
n
dan
kesa
dara
n
ibu
ham
il
dala
m
upa
ya
kese
hata
n
dan
pent
ingn
ya

Sasa
ran Waktu

Ibu
Ham
il

Met
ode

Target

Pelak
sana

Lok
asi

Proses

Out
put

Menye
suaika
n

Maha
siswa

Bala Cera Ting a. Kela


ncar
i
mah kat
an
Desa dan keha
pros
Disk dira
es
usi n
mus
tam
yaw
u
arah.
und b. Disk
usi
anga
Tany
n
a
60%
jawa
b
berj
alan
lanc
ar
atau
tida
k

Ada
kes
epa
kata
n
dari
tok
oh
mas
yar
akat

Menye
suaika
n

Maha
siswa

Rum Disk Ting a. Disk


usi
ah
usi kat
Tany
ibu
keha
a
hami
dira
Jawa
l
n
b
pese
berja
rta
lan
lanc
60%
ar
atau
tidak

Tin
gka
t
keb
erh
asil
an
pro
ses
kon
sult
asi
gizi
,dik
etah
ui
dari
pen
gaj
uan
pert
ann

Inp
ut

69

DAFTAR PUSTAKA

Arisman. 2004. Gizi dalam Daur Kehidupan. Jakarta : EGC.


Aritonang, Irianton. 2012. Menilai Status Gizi untuk Mencapai Sehat Optimal.
Yogyakata : Leutikabooks.
Kementerian Kesehatan RI Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu
Anak. Panduan Penyelenggaraan Pemberian Makanan Tambahan
Pemulihan Bagi Balita Gizi Kurang (Bantuan Operasional). Jakarta :
Kementerian Kesehatan RI.
http://skripsikesehatanmasyarakat123.blogspot.com/2013/12/kek-pada-ibuhamil.html diakses pada 8 januari 2016
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/135/jtptunimus-gdl-emilianaay-6720-3babii.pdf diakses pada 8 januari 2016
Notoatmodjo. 2002. Pendidikan dan prilaku kesehatan. Rineka cipta. Jakarta
Notoatmodjo. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta
Paath, Erna Francin, dkk. 2004. Gizi dalam Kesehatan Reproduksi. Jakarta : EGC.
Sediaoetama, Achmad Djaeni. 2006. Ilmu Gizi untuk Mahasiswa dan Profesi Jilid
I. Jakarta : PT. Dian Rakyat.
Supariasa, ID. (2001). Penilaian status gizi. EGC : Jakarta.
Sirajuddin, Saifuddin. 2012. Penuntun Praktikum Penilaian Satus Gizi Secara
Biokimia dan Antropometri. Makassar : Universitas Hasanuddin

70

71