Anda di halaman 1dari 3

Saat itu matahari sedang tinggi-tingginya.

Seorang budak hitam dari habasyah,


tengah terbaring tak berdaya di padang pasir. Di dadanya, sebongkah batu besar
cukup menyesakkan nafasnya. Udara padang pasir terasa membakar dengan
perlahan. Umayyah bin khalaf tengah terkekeh sombong, ketika melihat bilur-bilur
di badan Bilal bin Rabah akibat cambukan yang menderanya. Setiap kali Umayyah
mengangkat cambuknya, maka yang terangkat tak cuma cambuk itu saja, kulit dan
daging Bilal yang tercerabut akibat cambukan itupun ikut terangkat, bersamaan
dengan darah segar yang menyembur dari lukanya.
Hanya satu yang diminta oleh majikan kafir itu, yaitu agar Bilal kembali kepada
agama nenek moyangnya. Agar bilal kembali menyembah tiga ratus enam puluh
berhala yang dipasang di sekeliling ruangan dalam kabah. Alangkah perihnya
cambukan itu. Alangkah sakitnya ketika kulit dan daging tercerabut. Alangkah
panasnya terik mentari kala itu. Tetapi, setiap kali Umayyah memaksanya untuk
kembali kafir, Bilal hanya menjawabnya dengan Ahad, Ahad seolah cambukan
umayyah tak sedikitpun menggentarkannya.
Alangkah menakjubkan. Seorang budak yang belum lama beriman, ternyata mampu
mempertahankan keimanannya meskipun harus dipanggang di bawah terik
matahari. Tentu saja umayyah juga bingung, kenapa bisa begitu? Ada kekuatan apa
yang sebenarnya berada di balik ketegaran Bilal bin Rabah.
Kekuatan yang aneh. Kekuatan yang menurut orang-orang kafir Quraisy mampu
memisahkan orangtua dengan anaknya, mampu memisahkan suami dengan
isterinya. Kekuatan yang melebihi sihirnya para tukang tenung. Kekuatan yang
begitu menggugah, jauh melampaui syair-syair perang yang didendangkan oleh
suku Aus dan Khazraj di Yatsrib. Kekuatan itulah yang membuat Bilal bin Rabah
seperti tidak merasakan apa-apa saat cambuk umayyah berkali-kali menderanya.
Jika kita masih belum mampu menemukan jawab rahasia kekuatan Bilal bin Rabah,
maka fragmen menyejarah berikut ini, insya Allah mampu menjelaskannya pada
kita.
Saat itu perang Mutah tengah berkecamuk dengan ganasnya. Dari segi jumlah
pasukan, perang ini jelas tidak seimbang. Tiga ribu pasukan Islam, harus
menghadapi pasukan gabungan Romawi yang jumlahnya dua ratus ribu pasukan.
Bisa dibayangkan. Secara hitungan matematis saja, jika jatuhnya korban dari
masing-masing pasukan sama-sama tiga ribu orang, itu berarti telah menghabiskan
seluruh pasukan Islam, tetapi masih menyisakan seratus sembilan puluh tujuh ribu
pasukan Romawi. Dari perbandingan itu, setiap Mukmin harus menghadapi tujuh
orang kafir. Bisa dibayangkan betapa tidak seimbangnya perang itu.
Adalah wajar, jika sebelum keberangkatan mereka, Rasulullah sampai menyebutkan
tiga orang panglima perang. Panglima pertama adalah Zaid bin Haritsah, jika dia
syahid, maka pasukan dipimpin oleh Jafar bin Abdul Muthallib. Jika Jafar syahid,
maka pasukan diambil-alih oleh Abdullah bin Rawahah, seorang ahli syair yang
gubahannya begitu menggugah.
Dan benar saja. Tak berapa lama setelah perang dimulai, Zaid bin Haritsah telah
gugur sebagai syuhada. Segera setelah itu, ar-rayah dipegang oleh Jafar bin Abdul
Muthallib. Tak lama berselang, Jafar segera menyusul Zaid. Maka sesuai perintah

Rasulullah, pasukan dipimpin oleh Abdullah bin Rawahah, itupun tak sempat lama.
Karena Abdullah bin Rawahah-pun segera menyusul kedua pendahulunya menuju
Allah.
Beruntung, dalam pasukan itu ada seorang lelaki yang belum lama memeluk Islam.
Abu Sulaiman nama Kuniyahnya, Pedang Allah nama laqabnya, dan Khalid bin Walid
nama sebenarnya. Lelaki inilah yang saat masih kafir berhasil mengalahkan kaum
Muslimin pada perang Uhud. Kini, Ia berada bersama pasukan yang dulu
diperanginya. Menarik sekali. Tetapi justeru karena dulu ia pernah memerangi kaum
Muslimin, ia merasa malu dan tidak layak menjadi panglima perang menggantikan
Abdullah bin Rawahah yang telah pergi menuju Allah. Namun, para shahabat
mempercayakan kepemimpinan padanya.
Dan keadaanpun berubah. Dengan strateginya yang cerdik, ia berhasil mengelabui
pasukan romawi. Ia menukar posisi para mujahidin. Pasukan yang sebelumnya
berada disayap kanan, ditukar dengan pasukan dari sayap kiri. Begitupun pasukan
di barisan depan, ditukarnya dengan pasukan yang berada di belakang. Pasukan
yang kini berada di barisan belakang, diperintahnya membuat suara berisik,
menghamburkan debu ke udara, dan membuat kuda-kuda meringkik kencang.
Cerdas. Strategi itu menimbulkan kesan bahwa kaum Muslimin mendapat tambahan
pasukan. Karena posisi pasukan yang satu ditukar dengan pasukan yang di sisi
lainnya, maka pasukan musuh menemukan wajah-wajah baru dari pasukan Muslim.
Mereka berpikir bahwa itu adalah pasukan tambahan dari Madinah. Debu-debu yang
beterbangan, suara berisik dan ringkikan kuda, membuat kesan pasukan Mukmin
bertambah banyak.
Melihat itu, balatentara Romawi berpikir logis. Jika dengan jumlah pasukan yang
hanya tiga ribu saja, mereka sudah kewalahan menghadapinya, apalah lagi jika
kaum Muslimin mendapat tambahan pasukan. Tentu mereka akan kehabisan nafas
untuk menghadapi kaum Muslimin. Tanpa memikirkan gengsi, mereka lebih memilih
lari tunggang langgang meninggalkan medan perang. Hal itu menjadikan
kemenangan berada di pihak kaum Muslimin, tanpa harus meneruskan peperangan.
Sungguh cerdik Khalid bin Walid.
Ada banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah heroik tersebut. Kita ita perlu
mencermati syair Abdullah bin Rawahah yang sangat bersejarah. Wahai manusia.
Tidaklah kita memerangi mereka karena banyaknya jumlah kita, atau karena
persenjataan kita. Demi Allah, kita hanya memerangi mereka karena Islam ini, yang
mana Allah telah memuliakan kita dengannya.
Syair Abdullah bin Rawahah ini seolah menjawab kebingungan kita tentang
kekuatan rahasia Bilal bin Rabah. Ummat Islam tidaklah mampu bertahan karena
banyaknya pasukan atau canggihnya persenjataan, melainkan hanya karena
keimanan itu sendiri. Keimanan itulah yang membuat deraan cambuk Umayyah bin
Khalaf jadi tak berarti. Keimanan itu jugalah yang menjadikan sesaknya nafas
karena terhimpit batu seolah tak terasa. Keimanan itu jugalah yang membuat
sobekan-sobekan daging Bilal seolah tak berbekas. Kekuatan itulah, Iman.
Tapi bagaimana ceritanya, keimanan mampu menjadi kekuatan yang teramat
dahsyat? Bagaimana ceritanya, sebuah doktrin bisa menggugah hati seorang budak

untuk menahan siksaan berat untuk mempertahankannya? Kita bisa saja


mengatakan bahwa kita meyakini sesuatu, tetapi keyakinan itu mungkin akan
luntur jika dihadapkan pada kalungan celurit di leher kita. Kita bisa saja mengklaim
bahwa kita beriman, tapi jika harus berhadapan dengan moncong senapan, belum
tentu bisa mempertahankannya. Kita bisa saja mengaku memeluk Islam, tapi jika
harus berhadapan dengan kursi listrik, atau alat pencabut kuku, atau tiang
gantungan, mungkin keislaman itu akan tergadai. Tidak usah jauh-jauh, dengan
sekardus mie instan pun, sudah banyak keimanan yang tergadai.
Memang, keimanan kita mungkin akan tergadai dengan berbagai rintangan
tersebut. Tetapi itu hanya terjadi jika keimanan kita adalah keimanan yang rapuh.
Tapi tentu saja kita akan mempertahankannya meski harus mempertaruhkan
nyawa, jika keimanan yang kita miliki, dibangun di atas pondasi yang kokoh, yang
bisa dipertanggungjawabkan secara logis. Keimanan seperti ini haruslah mampu
bertahan jika dihadapkan dengan logika orang waras.
Jika kita saja tak bisa menemukan bukti bahwa Islam adalah agama yang benar, lalu
bagaimana mungkin kita siap mengorbankan nyawa kita untuk
memperjuangkannya? Kisah heroik Bilal bin Rabah, Zaid bin Haritsah, Jafar bin
Abdul Muthallib, Abdullah bin Rawahah dan Khalid bin Walid, tentu tidak akan terjadi
seandainya mereka tidak menemukan bukti kebenaran risalah Islam ini.
Juga, tidak mungkin orang dari suku Ghifar dan suku Aslam datang berbondongbondong untuk memeluk Islam, jika mereka tidak menemukan bukti kebenaran
Islam. Tidak mungkin Abu Sufyan berbalik menjadi pembela Islam jika ia tidak
menemukan bukti kebenaran akidah Islam. Tentulah, keputusan mereka untuk
berbalik membela agama yang dulu diperanginya, dikarenakan akal mereka tak
mampu menolak bukti kebenaran Islam.
Sungguh, Islam adalah akidah yang tidak hanya benar menurut al-Quran. Tetapi ia
juga pasti benar menurut standar-standar universal. Orang non-muslim pun, jika
saja mau menggunakan standar-standar universal, tentu akan mengakui kebenaran
akidah Islam. Hanya saja kebanyakan dari mereka bersembunyi di balik slogan
kebenaran relatif. Sayang sekali.