Anda di halaman 1dari 4

Tradisi Haul

Peringatan haul (kata "haul" dari bahasa Arab, berarti setahun) adalah peringatan kematian
seseorang yang diadakan setahun sekali dengan tujuan utama untuk mendoakan ahli kubur agar
semua amal ibadah yang dilakukannya diterima oleh Allah SWT. Biasanya, haul diadakan untuk
para keluarga yang telah meninggal dunia atau para tokoh untuk sekedar mengingat dan
meneladani jasa-jasa dan amal baik mereka.
Haul yang penting diadakan setiap setahun sekali dan tidak harus tepat pada tanggal tertentu alias
tidak sakral sebagaimana kita memperingati hari ulang tahun. Hari dan tanggal pelaksanaan
ditentukan berdasarkan pertimbangan tertentu yang berhubungan acara-acara lain yang
diselenggarakan bersamaan dengan peringatan haul itu.
Para keluarga mengadakan acara haul pada hari dan tanggal yang telah disepakati bersama
keluarga, pada saat mereka mempunyai waktu senggang dan bisa berkumpul bersama. Di
pesantren-pesantren, haul untuk para pendiri dan tokoh-tokoh yang berjasa terhadap
perkembangan pesantren dan syiar Islam diadakan bersamaan dengan acara tahunan pesantren,
semisal khataman kitab akhir tahun, pertemuan wali santri, atau dzikir akbar tahunan.
Tradisi haul diadakan berdasarkan hadits Rasulullah SAW. Diriwayatkan: Rasulullah berziarah
ke makam Syuhada (orang-orang yang mati syahid) dalam perang Uhud dan makam keluarga
Baqi. Beliau mengucap salam dan mendoakan mereka atas amal-amal yang telah mereka
kerjakan. (HR. Muslim)
Hadits lain diriwayatkan oleh Al-Wakidi bahwa Rasulullah SAW mengunjungi makam para
pahlawan perang Uhud setiap tahun. Jika telah sampai di Syiib (tempat makam mereka),
Rasulullah agak keras berucap: Assalmualaikum bim shabartum fanima uqb ad-dr.
(Semoga kalian selalu mendapat kesejahteraan ats kesabaran yang telah kalian lakukan. Sungguh
akhirat adalah tempat yang paling nikmat). Abu Bakar, Umar dan Utsman juga malakukan hal
yang serupa. (Dalam Najh al-Balghah, hlm. 394-396)
Para ulama menyatakan, peringatan haul tidak dilarang oleh agama, bahkan dianjurkan. Ibnu
Hajar dalam Fatwa al-Kubr Juz II hlm. 18 menjelaskan, para sahabat dan ulama tidak ada yang
melarang peringatan haul sepanjang tidak ada yang meratapi mayyit atau ahli kubur sambil
menangis. Peringatan haul sedianya diisi dengan menuturkan biorafi orang-orang yang alim dan
saleh guna mendorong orang lain untuk meniru perbuatan mereka
Peringatan haul yang diadakan secara bersama-sama menjadi penting bagi umat Islam untuk
bersilaturrahim satu sama-lain; berdoa sembari memantapkan diri untuk menyontoh segala
teladan dari para pendahulu; juga menjadi forum penting untuk menyampaikan nasihat-nasihat
keagamaan. (A. Khoirul Anam)
*Kutipan hadits dan qoul ulama dalam tulisan ini diambil dari buku "Tradisi Orang-Orang NU"
yang ditulis oleh H. Munawwir Abdul Fattah yang telah ditashhih oleh KH. A. Muhith Abdul
Fattah, KH Maghfoer Utsman, dan KH. Masdar Farid Masudi, Diterbitkan oleh Pustaka
Pesantren, Yogyakarta: 2006.

Diwaktu senja petang seorang ibu duduk di teras dengan


memandang matahari senja, Nak, besok sudah masuk hari haul
ayahmu, kita harus siap-siap untuk mempersiapkan acara buat haul
ayahmu. Ketika mendengar perkataan sang ibu, raut muka si anak
merah sayu dan seakan-akan matanya berkaca-kaca mau
meneteskan air mata, ternyata ungkapan ibunya itu telah
mengingatkannya akan masa di mana sang ayah telah pergi jauh,
yang takkan mungkin kembali hadir ditengah-tengah kehidupan
mereka lagi, tapi hati mereka akan selalu merasakan kehadiran
ayahnya walaupun bukan dengan secara kasat mata.
Seseorang bertanya: Mengapa kita harus memeperingati haul orang
yang sudah meninggal, apa ada landasan hukum tersebut di dalam
al Quran dan al-Hadits?
Ketika kita memperhatikan cerita deskripsi diatas, kita diingatkan
akan sebuah kejadian yang berkaitan antara orang yang hidup
dengan orang yang sudah wafat, yaitu tentang hari dimana genap
satu tahun orang yang sudah wafat, seberapa pentingkah kita
memeperingati hal tersebut? Sebelum kita membahas pentingnya
peringatan haul, alangkah baiknya kita mengetahui terlebih dahulu
apa itu haul dilihat dari kacamata agama Islam.
Para pembaca yang budiman, jika kita meninjau ulang dalam lintas
sejarah kata Haul berasal dari Bahasa Arab al Haulu ) ) atau
al-Haulaini ( ) artinya kekuatan, kekuasaan, daya, upaya,
perubahan, perpindahan, setahun, dua tahun, pemisah, dan
sekitar[1]. Sedang al haul dalamarti dalam satu tahun, dapat
ditemukan dalam Al Quran dan Al Hadits, yaitu:
a) Surat Al Baqarah: 240, berbentuk mufrad, dalam arti satu tahun
dalam arti satu tahun untuk kasus perceraian, yaitu:

(240: )

Artinya: Dan orang-orang yang akan meninggal dunia diantaramu


dan meninggalkan istri, hendaklah berwasiat untuk istri-istrinya
(yaitu) diberi nafkah hingga satu tahun lamanya. (QS. al-Baqarah:
240)

b) Al Hadits berbentuk mufrad dalam kasus zakat, yaitu:


.

Tidak wajib zakat terhadap harta yang belum haul (berumur satu
tahun)[2] (hadits riwayat turmudzi )
Kemudian kata haul tersebut berkembang menjadi istilah Bahasa
Indonesia, yang lazim di pakai komunitas masyarakat muslim di
indonesia, dan dari istilah indonesia inilah, kata haul memiliki dua
pengertian, yaitu:
1) Haul berarti berlakunya waktu dua belas bulan, tahun Hijriyyah
terhadap harta yang wajib dizakati di tangan pemilik (Muzzaki)[3]
arti ini berkaitan erat dengan masalah zakat.
2) Haul berati upacara peringatan ulang tahun wafatnya seseorang
(terutama tokoh agama islam), dengan berbagai acara, yang
puncaknya menziarahi kubur almarhum atau almarhumah
Dari dua pengetian tersebut, yang akan diuraikan dalam tulisan ini
hanya yang menyangkut pengertian yang kedua, yaitu yang
berhubungan dengan peringatan genap satu tahun dari wafatnya
almarhum atau almarhumah, sebab haul dengan arti: Peringatan
genap satu tahun,sudah berlaku bagi keluarga siapa saja, tidak
terbatas bagi orang orang yang ada di Indonesia saja, tetapi berlaku
pula bagi komunitas masyarakat atau negara lainnya, sekalipun
bukan muslim.
Masalah haul ini, akan lebih bernuansa agamis dan terasa dahsyat
ketika yang meninggal itu seorang tokoh yang kharismatik, ulama
besar, pendiri sebuah pesantren, dan lain sebagainya. Bahkan lebih
dari itu, haul diaplikasikan oleh banyak institusi pemerintah dalam
bentuk peringatan hari jadi kota atau daerah. Hal ini bisa dikemas
dalam berbagia acara, mulai dari pentas budaya, seni dan hasil
produk andalan daerah itu sendiri, bahkan pada puncaknya sering
diisi penyampaian mauidzatul hasanah dari tokoh masyarakat, yang
sebelumnya diawali bacaan istighatsah, tahlil, dan sebagainya.
Adapun rangkaian acara dapat bervariatif ada pengajian, tabligh
akbar, istighatsah akbar, mujahadah, musyawarah, halaqah,

mengenang dan menceritakan riwayat, orang yang di haul-i dengan


cerita cerita yang baik yang sekiranya bisa dijadikan sebagai suri
tauladan, bersedekah dan lain lain.
Yang hadir dalam acara haul sangat dipengaruhi oleh besar kecilnya
ketokohan yang dihauli, kalau yang dihauli ketokohan tingakat
nasional maka yang hadir hingga mencapai ribuan bahkan puluhan
ribu bahkan jutaan orang yang mayoritas adalah orang islam,
bahkan sekarang sudah merambah sampai tingkat kelompok
keluarga (Jamiyyatul Usyrah), dan dari banyaknya umat yang hadir
para penyelenggara lazimnya perlu memandang perlu diadakan
pengajian sebagai santapan rohani, boleh jadi mereka berbalik yang
terpenting mereka mendengarkan mauidzatul hasanah, diacara
pengajian itu ketimbang ziarah ke makam yang bersangakutan
padahal disana ada nasihat, misalnya tentang kematian dan lain
sebagainya.

[1] Dewan redaksi, Ensiklopedi Islam, (Jakarta PT Ichtiyar Bbaru Van


Hoeve, 1994), hal: 104 105
[2] At- Turmudzi, Sunan Atturmudzi, Juz I , ( Semarang, Maktabah
Wa Mathbaah Taha Putra, tth) , hal
[3] Dewan Redaksi, Ensiklopedi Op cit, hal 105

Anda mungkin juga menyukai