Anda di halaman 1dari 2

4 Tahapan Pengharaman Khamar dalam Islam

Khamar atau lebih identik dengan minuman yang memabukkan telah diketahui oleh umat Muslim sebagai
minuman yang haram untuk dikonsumsi. Bahkan tidak hanya sebatas pengharaman, tetapi juga memberikan sanksi
di dunia bagi peminumnya, penjualnya, dan pembuatnya.
Jika dilihat dari kacamata sejarah pembentukan tasyri (hukum Islam) pada dasarnya pemberian label
hukum haram pada khamar tidaklah sekaligus. Setidaknya ada 4 tahap yang dilalui sampai terbentuknya label
haram. 4 tahap tersebut dapat kita ketahui melalui pengkajian terhadap Asbab An-Nuzul ayat-ayat yang berkaitan
dengan khamar.
1. Tahap pertama

Dan dari buah kurma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan (QS. an-Nahl
67)

Pada ayat di atas Allah sama sekali tidak menyinggung tentang dosa dan juga keharaman bagi peminum
khamar. Dengan kata lain pada saat awal Islam yang di bawa oleh Nabi Muhammad SAW datang khamar bukanlah
minuman yang haram untuk dikonsumsi.
2. Tahap kedua


...





Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan
beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.... (QS. al-Baqarah 219)

Mudjab Mahalli dalam bukunya Asbabun Nuzul (Studi Pendalaman Alquran) menyebutkan bahwa ayat
tersebut adalah ayat pertama yang menyinggung tentang khamar. Ayat itu turun ketika Nabi Muhammad SAW
pertama kali memasuki kota Madinah. Pada saat itu Beliau mendapati penduduk Madinah gemar meminum arak
(minuman yang memabukkan) dan makan dari hasil perjudian.
Kemudian mereka menanyakan tentang kebiasaan tersebut. Sehubungan dengan hal itu Allah menurunkan
ayat ke-219 dari Surah Albaqarah tentang mereka yang menanyakan khamar. Setelah mendapat jawaban mereka
berkata Tidak diharamkan kita meminum khamar, hanya saja berdosa besar. Oleh sebab itu mereka meneruskan
kebiasaan tersebut.
3. Tahap Ketiga

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu salat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu
mengerti apa yang kamu ucapkan... (QS.an-Nisa 43)
Ayat di atas merupakan tahapan selanjutnya sebelum pemberian label haram pada khamar. Imam Alqurtubhi
dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ayat tersebut turun dilatar belakangi suatu kejadian dimana ada seorang lakilaki yang meminum khamar kemudian maju untuk mengimami shalat. Karena khamar yang diminum

yang seharusnya dibaca




. Sehubungan dengan itu turunlah ayat ke-43 dari surah an-Nisa.
menyebabkan ia mabuk, bacaan yang dibacanya pun menjadi keliru. Ia keliru membaca ayat

Meskipun demikian ternyata masyarakat Muslim bulumlah dapat meninggalkan kebiasaan mereka
meminum minuman keras. Di samping itu memang belum ada larangan tegas tentang keharaman meminumnya.
4. Tahap Keempat













(90)Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala,
mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatanperbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (91) Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan
permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu
dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). (QS.al-Maidah
90-91)
Salah satu hikmah yang dapat kita ambil dari tahapan-tahapan pengharaman khamar ialah hal ini
membuktikan bahwa Islam bukanlah Agama yang memberatkan umatnya. Islam mengajarkan bahwa untuk
mencapai suatu tujuan yang besar diperlukan tahapan yang tidak sebentar. Ini juga menunjukan bahwa untuk

membiasakan suatu hal yang baru haruslah dimulai dari tahap yang paling mudah tidak langsung kepada tahap
yang sulit.

Anda mungkin juga menyukai