Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Di era yang penuh teknologi seperti sekarang ini, banyak sekali halhal baru ataupun hasil dari produk teknologi yang sering bahkan wajib kita
gunakan untuk menunjang aktivitas kita. Salah satunya adalah alat-alat
kelistrikan, alat-alat ini secara langsung ataupun tidak langsung dapat
memberikan pengaruh positif yang sangat besar dalam memaksimalkan dan
merealisasikan tujuan dari kegiatan kita, alasan efisiensi waktu adalah tajuk
utama mengapa alat-alat kelistrikan digunakan.
Dari banyak alat-alat kelistrikan tersebut, penggunaan dan
pemanfaatan baterai tidak mungkin dilepaskan dari aktivitas manusia di era
sekarang ini, handphone, laptop, televisi, bahkan kendaraan bermotor
seperti mobil sekalipun tidak mungkin terlepas dari peran sebuah baterai.
Baterai pada mobil (aki) merupakan salah satu komponen terpenting. Tanpa
adanya baterai mobil tidak bisa hidup. Tapi, apakah kita semua tahu
bagaimana cara perawtan baterai pada mobil. Tentu pemahaman dan
informasi tentang perawatan baterai pada mobil masih banyak diantara kita
yang belum memahami. Karena jika terjadi kerusakan pada baterai mobil
tidak bisa hidup bahkan bisa membuat konsleting sehingga terjadi
kebakaran pada mobil dan bisa mengakibatkan kematian.
Oleh karena alasan tersebut, maka dalam penulisan makalah ini,
penulis akan mengangkat judul Perawatan Baterai Mobil.
B. Batasan Masalah
Karena adanya keterbatasan waktu dan kemampuan, maka penulis
memandang perlu memberi batasan masalah secara jelas dan terfokus.
Selanjutnya masalah yang menjadi objek penyusunan makalah dibatasi
hanya penggunaan baterai pada mobil, penyebab kerusakan baterai mobil,
dan cara menghindari kecelakaan akibat kerusakan baterai mobil.

A.

C. Rumusan Masalah
1. Bagaimana penggunaan baterai mobil?
2. Apa saja penyebab kerusakan baterai mobil?
3. Bagaimana cara menghindari kecelakaan akibat kerusakan baterai

mobil?
D. Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memberi pengetahuan


mengenai:
1. penggunaan baterai mobil,
2. penyebab kerusakan baterai mobil, dan
3. cara menghindari kecelakaan akibat kerusakan baterai mobil.
E.

Manfaat
Manfaat dari penulisan makalah ini agar:
1. penulis dan pembaca mengetahui cara penggunaan baterai pada mobil,
2. penulis dan pembaca mengetahui penyebab kerusakan baterai mobil, dan
1

3. penulis dan pembaca mengetahui cara menghindari kecelakaan akibat

kerusakan baterai pada mobil.


F.

Metode Penulisan
Dalam pembuatan makalah ini penulis menggunakan metode studi
literatur yang bersumber dari referensi buku tentang Pengetahuan Baterai
Mobildan menggunakan metode searching melalui internet.

BAB II
PEMBAHASAN
A.

Kajian Teoritis
Baterai merupakan sumber utama kelistrikan pada mobil. Daryanto
(2001) mengatakan bahwa baterai yang baru ada 2 yaitu baterai tertutup dan
terbuka, pada baterai yang terbuka bisa langsung dipakai, tapi pada baterai
tertutup harus melakukan bebrapa hal seperti menempatkan baterai pada
tempat yang aman, buka tutup lubang pengisian elektrolit pada masingmasing sel baterai, gunakan corong plastik dan letakkan pada saluran
pengisian, isikan larutan asam pada masing-masing sel sampai ketinggian
10-15 mm diatas pelat-pelat baterai, periksa kembali larutan elektrolit
baterai, tutup kembali saluran pengisian dengan rapat, bersihkan baterai dari
kemungkinan tumpahan elektrolit, baterai siap digunakan..
Gambar 1. Baterai

Sedangkan baterai yang pernah dipakai harus melakukan


pemeriksaan dan perawatan, yaitu:
ketinggian elektrolit,
kondisi isi baterai (tegangan dan berat jenis), dan
kondisi fisik baterai seperti retak/bocor, endapan putih disekitar kutub
baterai, karat pada terminal baterai dan kutub pelat.
Penyebab kerusakan pada baterai mobil disebabkan oleh pemakaian,
pembentukan sulfat, dan pengisian berlebihan.

Adapun cara penggunaan baterai supaya aman harus memperhatikan


hal-hal seperti pemasangan baterai, penyimpanan baterai, pemeliharaan
baterai dan tes baterai.
Hari Yanto (2012) mengemukakan bahwa perawatan baterai pada
kendaraan adalah dengan cara:
a. memeriksa isi baterai
Kondisi bagian dalam baterai dapat diketahui dengan mengukur
nilai berat jenis cairan elektrolit. Selain itu, dilakukan juga
pengujian beban. Dengan melaksanakan kedua pengujian itu,
maka kondisi baterai dapat diketahui dengan pasti.
Gambar 2. Pengisian Baterai

b. cairan elektrolit

Berat jenis cairan elektrolit baterai diukur dengan perangkat


hidrometer. Cara menggunakan alat ini, masukan ujungnya ke
dalam salah satu sel baterai, isap cairan elektrolitnya, lalu lihat
indikasinya. Melihat indikatornya harus dilakukan pada posisi
yang sejajar dengan mata. Pada indicator yang mengapung
tersebut, tertera sejumlah angka yang menandakan tingkat
kesehatan baterai. Biasanya, indicator hydrometer mempunyai
tiga ukuran kesehatan baterai, yaitu kondisi good, average, dan
poor. Posisi good ditandai dengan warna hijau, average warna
putih, dan poor berkelir merah, yang artinya baterai perlu di
charge ulang.
Sebaiknya, penambahan cairan elektrolit tidak dilakukan
menjelang pengukuran berat jenis. Sebab konsentrasi larutan akan
berubah, sehingga menghasilkan pengukuran yang kurang akurat.
Bila akan melakukan penambahan cairan elektrolit, terlebih dulu
lakukanlah pengisian ulang baterai untuk menetralisir elektrolit
agar didapatkan keseimbangan.
Bila hasil pengukuran berat jenis senilai 1,300 atau lebih,
berarti baterai berada dalam kondisi kelebihan berat jenis.
Tambahkan segera air suling untuk menurunkan berat jenis. Posisi
berat jenis 1,2290-1,220 menunjukan baterai dalam keadaan baik,
tidak perlu diapa-apakan.
Sebaiknya, jika berat jenis baterai berkisar 1,210 atau
kurang, maka segera lakukan pengisian perlu agar nilainya
kembali normal. Jika tetap tidak berubah dari 1210 setelah
diberikan pengisian ulang, berarti kemampuan aki telah mencapai
masa purnabakti. Karena itu, lebih baik baterainya diganti.
c. tes beban

Untuk melakukan pengetesan dengan aman, dibutuhkan


peralatan dan pengalamanan yang memadai. Karena itu, sebaiknya
tes dilakukan di bengkel baterai. Kalau ingin melakukan, buanglah
arus dari baterai sebanyak empat kali dari kapasitasnya. Setelah
itu, diamkan baterai selama lima detik, kemudian ukur tegangan
baterai. Tegangan terminal harus 9,6 volt atau lebih. Jika kurang
ganti baterainya.
d. pengisian baterai

Kondisi baterai mengharuskan pengisian arus ulang, ada


dua metode yaitu pengisian cepat dan lambat. Pengisian cepat atau
quick charge umumnya dilakukan oleh bengkel baterai yang punya
peralatan memadai. Baterai di charge dengan arus listrik searah
sebesar 10 ampere atau lebih dalam waktu singkat. Gunanya
adalah untuk mendapatkan kemampuan menstater mesin dalam
waktu singkat/cepat. Setelah itu, pengisian akan dilakukan oleh
sistim kelistrikan mobil selama kendaraan dijalankan.
Karena menggunakan arus listrik yang besar, maka aplikasi
pengisian baterai dengan metode cepat ini relative terbatas.
Metode pengisian cepat ini mengakibatkan umur baterai menjadi
pendek. Sebab dalam waktu cepat baterai dihujani dengan arus
listrik dalam jumlah besar. Suhu baterai pun meningkat cepat dan
elektrolit pun menjadi panas.
Untuk mengatasi kelemahan dan bahaya metode pengisian
cepat, kini lebih banyak digunakan cara pengisian lambat. Disebut
pengisian lambat, karena baterai dicas dengan arus listrik kecil
dalam waktu yang panjang.
Besarnya arus listrik maksimum pada pengisian lambatharus kurang dari 10% kapasitas baterai. Misalnya, sebuah baterai
mempunyai kapasitas 50 ampere, maka arus listrik untuk
pengisian lambatnya harus kurang dari lima ampere (10% dari 50
ampere).
Karena arus listriknya kecil, maka proses pengisian baterai
bisa ditinggalkan semalaman. Apabila jika menggunaklan
peralatan baterai charge yang memiliki sistim trickle down. Pada
pengisian baterai sistim trickle down, jika kondisi baterai sudah
cukup baik, proses pengisian akan berhenti secara otomatis.
Tips cara merawat baterai agar lebih awet adalah sebagai
berikut:
Periksa secara rutin kondisi baterai, minimmal 1 bulan sekali.
Kadang di terminal terdapat kotoran berwarna putih maupun
warna kuning seperti belerang. Lepas klem terminal dan
bersihkan menggunakan amplas atau sikat baja. (Dalam
pemasangan klem terminal tidak boleh dipukul loh, nanti malah
dapat menyebabkan kerusakan pada aki) .

Periksa pula isi dari elektrolit baterai, isi dari elektrolit baterai
harus antara tanda Full an Low, tidak boleh di bawah Low dan
juga tak baik kalau di atas Full (sebab kalau terlalu penuh nanti
tidak ada ruang kosong untuk reaksi kimia. Kalau isi kurang
tambahkan dengan menggunakan air murni atau air aki (kalau beli
tutup botol warnanya yang warna biru, jangan yang merah: air
zur)
Periksa juga BJ elektrolit dengan menggunakan hidrometer (BJ
elektrolit: 1,25 1,27) kalau kurang harus discharge. Yang paling
penting lagi agar baterai awet; jangan memberikan beban yang
terlalu besar kepada baterai istilahnya over loud.
Anonim menyebutkan beberapa penyebab aki mobil cepat rusak
diantaranya:
hubungan pendek dalam kelistrikan,
suplai arus listrik berlebih dari alternator,
pemasangan peranti di kendaraan yang memerlukan suplai listrik
besar, seperti: audio, lampu tambahan, dan lainnya (jika beban
pemakaian melebihi kapasitas aki mobil),
alternator lemah, sehingga suplai listrik tidak maksimal,
V-belt alternator kendur
B.

Pembahasan
1. Baterai baru
Baterai baru diartikan sebagai baterai yang sama sekali belum
pernah digunakan. Perlakuan terhadap baterai baru tergantung dari jenis
baterai tersebut, apakah jenis terbuka atau tertutup.
a. Baterai tertutup
Karena baterai jenis ini terisi elektrolit dan sudah ada daya
listriknya. Maka baterai jenis ini merupakan baterai bebas
perawatan dalam artian dapat langsung digunakan.
b. Baterai terbuka

Gambar 3. Bagian-bagian baterai

Pada baterai jenis ini belum ada daya listriknya sama sekali
karena pada baterai ini belum berisi elektrolit meskipun pada pelat
negatif maupun pelat positif sudah terisi penuh bahan aktif.
Sehingga baterai ini tidak dapat digunakan langsung, tetapi ada halhal yang perlu dilakukan terlebih dahulu, diantaranya:
1) menempatkan baterai pada tempat yang aman,
2) Buka tutup lubang pengisian elektrolit pada masing-masing sel
baterai,
3) gunakan corong plastik dan letakkan pada saluran pengisian,
4) isikan larutan asam pada masing-masing sel sampai ketinggian
10-15 mm diatas pelat-pelat baterai atau berada diantara tanda
batas atas dan bawah apabila pebrik pembuatnya memberikan
tanda,
5) biarkan 20 menit sehingga larutan meresap pada pelat-pelat
maupun separatornya,
6) periksa kembali larutan elektrolit baterai, jika berkurang maka
tambahkan lagi larutan asamnya sehingga ketinggiannya
sesuai,
7) tutup kembali saluran pengisian dengan rapat,
8) bersihkan baterai dari kemungkinan tumpahan elektrolit,
9) baterai siap digunakan.
2. Baterai pernah terpakai

Pada baterai yang pernah dipakai harus melakukan pemeriksaan


dan perawatan.
a. Ketinggian elektrolit
Ketinggian elektrolit harus berada pada ketinggian 10-15
diatas pelat. Dengan ketinggian elektrolit yang tepat akan membuat
reaksi kimia elektrolit terhadap pelat-pelat dengan sempurna dan
hasil reaksi yang maksimal.
Apabila tinggi elektrolit kurang dari tanda yang ada,
tambahlah dengan air suling (air murni) secukupnya dan jangan
jangan menggunakan air biasa, air sumur, PDAM, atau air hujan.
Penggunaan air yang tidak murni akan membuat kotoran yang
terbawa akan mengendap di bagian bawah pelat-pelat disamping
juga dapat menghalangi terjadinya proses reaksi kimia antara
elektrolit dengan bahan aktif yang ada pada pelat positif dan pelat
negatif dalam baterai.
b. Kondisi isi muatan baterai
Kondisi muatan baterai yaitu kondisi dari daya listrik
baterai yang memungkinkan untuk pengisian atau tidak. Adapun
tenaga listrik yang dihasilkan sangat tergantung dari kondisi fisik
yang ada di dalam baterai itu sendiri, seperti kondisi elektrolit,
berat jenis elektrolit yang dipakai, ketinggian elektrolit yang
diberikan, serta kondisi pelat-pelatnya (kondisi kisi-kisi dan kondisi
bahan aktif).

Untuk mengetahui seberapa besar tenaga listrik yang ada


pada baterai dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1) Tes daya listrik baterai dengan melihat tegangan baterai
Menggunakan Voltmeter atau tester sel dapat digunakan
untuk mengetahui daya listrik baterai dilihat dari kondisi
tegangannya. Pada pengetesan daya dengan Voltmeter
dilakukan dengan memberikan beban terhadap baterai atau
mengambil arusnya selama proses pengukuran berlangsung.
Adapun penggunaan tester sel dengan melihat tegangan baterai
pada setiap selnya maupun tegangan totalnya sehingga dapat
dipastikan perlu atau tidak dilakukan pengisian. Kesulitan
tester ini adalah pada berbagai baterai tentu tidak selalu ada
kutub-kutubnya pada masing-masing sel, melainkan hanay ada
2 kutub yaitu kutub plus dan kutub negatif sudah merupakan
total tegangan.

Gambar 4. Voltmete

Gambar 5. Tester sel


2) Tes berat jenis elektrolit

Gambar 6. Hidrometer

Untuk mengukur berat jenis elektrolit dapat dilakukan


dengan menggunakan alat ukur hidrometer.
Tidak jarang juga dijumpai hasil pengukuran yang tidak
sesuai dengan kondisi sebenarnya seperti berikut ini.

1) Tegangan baterai yang tetap tinggi maupun rendah

meskipun baterai sudah penuh, keadaan ini disebabkan


oleh bahan aktif yang digunakan pada baterai tersebut
memang tidak sama ataupun karena salah satu dari bahan
aktif yang dipakai tersebut berbeda atau bahkan juga oleh
penggunaan elektrolit yang berat jenisnya tidak sama.
2) Tegangan baterai tidak sama antara satu sel dengan sel
yang lainnya. Hal ini disebabkan oleh penggunaan
elektrolit yang berat jenisnya berbeda pada bebrapa sel.
sehingga diperoleh tegangan yang berbeda.
3) Tegangan yang lebih rendah pada beberapa sel dapat
dipengaruhi oleh perbedaan aktivitas ion dalam elektrolit.
Artinya, dengan adanya hambatan gas-gas akibat reaksi
yang berbeda pada tiap-tiap sel, maka berakibat pula
jumlah ion yang dapat bereaksi menjadi lebih sedikit dan
tegangannya lebih kecil pula.
Gas yang ditimbulkan oleh reaksi kimia pada baterai
merupakan gas yang sangat mudah terbakar, jangan mencoba
mengukur tegangan dengan tester sel atau voltmeter dari pelatpelat atau sel-sel baterai di dalam ruang baterai atau melalui
lubang pengisian. Hal ini disebabkan karena jika terkena
letikan bunga api sedikit saja akan mudah terjadi kebakaran.

c.

Tes berat jenis


Kondisi muatan baterai dengan mudah dapat dilihat dari
berat jenis elektrolinya dan pemeriksaan ini adalah yang paling
sering dilakukan. Alat untuk mengetahui berat jenis elektrolit
adalah dengan hidrometer.
Pengetesan dengan hidrometer ini sebaiknya dilakukan pada
saat baterai baru selesai digunakan. Ini disebabkan karena baterai
tersebut baru saja terjadi reaksi kimia sehingga dimungkinkan
sedang bercampur dengan baik.
Perlu dikatahui bahwa pada saat pengukuran berat jenis
elektrolit terdapat faktor lain yang juga sangat berpengaruh yaitu
faktor suhu, setiap kenaikan 1oC, berat jenis akan turun 0,007
kg./liter, untuk daerah tropik seperti negara Indonesia adalah 1,225
kg./liter.

Penggunaan elektrolit baterai dengan berat jenis yang


berbeda antara daerah nontropik dengan daerah tropik disababkan
kecepatan reaksi kimia bahan aktif pada daerah panas lebih cepat
dibandingkan daerah dingin sehingga perlu berat jenis yang lebih
rendah, artinya dengan penggunaan elektrolit yang mempunyai
berat jenis yang lebih rendah pada daerah tropik, maka reaksi kimia
yang terjadi akibat pengaruh suhu, tidak terlalu cepat. Jika raksi
kimia berlangsung terlalu cepat akan berakibat pelat-pelat menjadi
cepat atau mudah bengkok dan rusak.
Dalam pengukuran berat jenis elektrolit baterai ada
beberapa hal yang mungkin dapat terjadi yaitu sebagai berikut.
1) Berat jenis terlalu tinggi ataupun terlalu rendah pada
keseluruhan sel meskipun baterai penuh. Hal ini bisa
disebabkan karena penggunaan elektrolit yang tidak sesuai atau
salah (lebih besar atau lebih kecil dari 1,225 kg./liter). Peristiwa
pensulfatan yang tidak sama pada masing-masing sel baterai
berakibat pula pada reaksi kimia yang terjadi juga akan berbeda
sehingga berat jenisnya akan berbeda pula.
2) Berat jenis yang berbeda pada beberapa sel saja, bisa terjadi
karena pada sel yang diketahui berat jenisnya rendah, pelatpelatnya telah rusak atau mengalami pensulfaan sehingga ion
SO4 tidak mau lepas dari pelatnya dan yang tersisa pada
elektroliotnya hanyalah air (sedikit asam sulfat) walaupun
sudah melakukan pengisian. Kerusakan yang lebih besar pada
gejala ini dapat dilihat dari lubang pengisian, yakni adanya
gelembung-gelembung yang banyak sekali pada saat terjadinya
raksi kimia elektrolit pada baterai.
3) Berat jenis yang tinggi pada beberpa sel dapat terjadi karena
kesalahan perawatan seperti menambah asam sulfat pada
bagian sel yang telah berkurang elektrolitnya, karena dengan
menambah asam sulfat berarti menambah konsentrasi atau
menambah berat jenis dari larutan elektrilit tersebut.
d.

Kondisi fisik baterai


Merupakan perawatan dan pemeriksaan dari bentuk fisik
baterai yang meliputi kondisi kotak baterai dari kemungkinan
retak/bocor, endapan putih di sekitar kutub baterai, aanya karat
pada kutub dan terminal baterai, serta pipa ventilasi.
1) Kondisi dari kotak baterai dari kemungkinan bocor atau retak
Jika terjadi demikian maka elektrolit akan cepat habis
sehingga berakibat rusaknya sel-sel baterai. Jika keadaan tidak
terlalu parah maka kotak baterai dapat diperbaiki dengan
memberikan perekat atau lem yang tahan terhadap asam pada
tempat yang retak.
2) Endapan putih disekitar kutub baterai

10

Keadaan ini dimungkinkan oleh adanya elektrolit atau air


pada pelat bereaksi dengan arus pada tempat tersebut. Untuk
menghilangkannya bersihkan dengan air hangat dan carilah
sebab-sebab terjadinya hal yang demikian (retak, tutup tidak
rapat, air, dan lain-lain). Untuk menghindari keadaan ini maka
berika lapisan vaselin pada kutub-kutub baterai sebelum baterai
dipakai.
3) Adanya karat pada kutub dan terminal baterai
Oleh karena suatu hal maka antara kutub dan terminal
baterai terdapat karat sehingga kemungkinan antara keduanya
tidak dapat dilepaskan, bersihkan dengan campiran air dan
bikarbonat atau soda atau air sabun.
Bikarbonat atau soda NaHCO3 maupun air sabun atau
deterjen apabila dicampur dengan air akan menghasilkan
molekul NaOH yang dapat menetralkan larutan yang bersifat
asam.
Hindarkan pelepasan terminal dengan cara memutarnya
(terhadap kutub) ataupun dengan memukulnya karena bahan
aktif dari pelat-pelat sangat lemah dan tidak tahan terhadap
getaran serta kemungkinan kutub juga terlepas dari kotaknya.
Setelah keduanya terlepas, bersihkan kutub-kutub dan
terminalnya dengan ampelas atau kikir, atau dengan cara lain.
4) Pipa ventilasi
Baterai yang menggunakan pipa ventilasi umumnya
digunakan pada baterai sepeda motor. Kegunaan ventilasi udara
adalah untuk memungkinkan elektrolit tidak keluar jika terjadi
goncangan dan sebagai tempat mengalirnya gas sewaktu reaksi
kimia baterai terjadi. Oleh sebab itu, periksalah selalu panas
dari kemungkinan lepas dan tersumbat, karena jika tersumbat
dapat menyebabkan baterai meledak oleh gas reaksi.
3. Penyebab kerusakan pada baterai mobil
Kerusakan pada baterai dapat disebabkab oleh:
akibat pemakaian,
akibabat pembentukan sulfat, dan
akibat pengisian berlebihan.
a. Akibat pemakain
Selama baterai mengeluarkan daya (saat pengosongan),
bahan aktif pada pelat positif maupun pelat negatif berubah menjadi
timah sulfat (PbSO4) dan berwarna putih. Timah sulfat ini dapat
berubah lagi menjadi bahan aktif jika baterai diisi kembali.
Yang terjadi pada pelat selama proses pengisian dan
pengosongan baterai yaitu sebagai berikut.
1) Pelat negatif (sisi luar) : terjadi konsentrasi bahan aktif sehingga
ada bagian-bagian pada pelat yang menggelembung.
2) Pelat negatif (sisi dalam) : terjadi bintik-bintik putih akibat
reaksi dan mudah terlepas dari pelat dan mengandung elektrolit

11

yang akhirnya bergerombol seperti dibagian atas pelat negatif


dan memungkinkan terjadinya hubungan singkat dengan pelat
positif.
3) Pelat positif : karena pengaruh reaksi kimia akan bersifat sangat
rapuh dan lembek. Keadaan ini menyebabkan bahan aktif
terlepas dari pelat dan jika terjadi dalam jumlah yang banyak
akan mengendap pada bagian bawah baterai sehingga
memungkinkan terjadinya hubungan singkat antara pelat positif
dan pelat negatif.
b. Akibat pembentukan sulfat
Jika baterai dibiarkan terlalu lama dan tidak diisi kembali,
maka akan terjadi reaksi dengan sendirinya (pengosongan diri),
mula-mula pada pelatnya timbul kristal timah sulfat halus dan lamakelamaan akan mengeras disebut kristal sulfat. Peristiwa tersebut
dikenal dengan istilah pensulfatan. Pensulfatan dapat
menghalangi terjadinya proses reaksi karena proses pensulfatan
membuat pelat-pelat cenderung bengkok dan kisi-kisi cenderung
patah, pensulfatan juga akan mengubah warna pelat positif menjadi
putih susu dan pelat negatif menjadi putih abu-abu.
Adapun tanda-tanda terjadinya pensulfatan adlah sebagai
berikut.
1) Penurunan kapasitas baterai, karena adanya sulfat keras akan
mengakibatkan luas permukaan bahan aktif pada pelat-paelat
yang bereaksi dengan elektrolit menjadi bekurang.
2) Terjadinya panas yang berlebihan. Proses reaksi kimia pada
baterai akan menimbulkan panas pada ruang baterai dan ini
memerlukan pendinginan. Namun, proses pendinhinan yang
terhalang oleh kristal sulfat sementara proses kimia berjalan
terus akan menyebabkan ruang baterai panas berlebihan.
3) Pembentukan gas yang sangat cepat saan diberi arus pengisian
yang besar. Gas terbentuk sebagai akibat dari adanya reaksi
kimia dalam baterai. Dengan adanya pengisian berarti akan
mempercepat bahan-bahan aktif untuk bereaksi. Semakin besar
arus yang diberikan selama pengisian berarti semakin
mempercepat proses reaksi kimia dan semakin cepat pula
terbentuk gas.
Untuk menghindari pensulfatan maka dilakukan hal sebagai
berikut.
1) Pelat-pelat harus selalu terendam pada cairan elektrolit.
2) Pengisian baterai yang teratur meskipun tidak sedang dipakai
antara 1-2 bulan sejali dengan cara:
pengisian normal (arus pengisian sebesar 10% dari nilai
kapasitasnya),
pengisian terus menerus (arus pengisian sebesar 1%-2%
dari nilai kapasitasnya).
c. Akibat pengisian yang berlebihan

12

Pengisian dengan arus berlebihan dapat mengakibatkan


rusaknya baterai akibat suhu yang tinggi. Suhu yang tinggi
mebmbuat pelat positif mengembang dan oksigen dbebas masuk.
Hal ini mengakibatkan PbSO4 seluruhnya berubah menjadi PbO2.
Apabila hal ini terus berlangsung, maka O 2 akan masuk pada kisikisi pelat sehingga PbO2 memerlukan ruangan lagi. Akibatnya
riangan pada baterai terbatas, pelat-pelat akan bengkok dan bahan
mendesak menekan ke atas sehingga mampu mengangkat kutub sel.
Disamping itu, pengisian berlebihan akan merusakkan separator
akibat sushu dan reaksi kimia, dan juga pelat negatif rusak akibat
bahan aktif yang bersifat menyerap dikenai suhu dan arus yang
tinggi.
Untuk menghindari rusaknya baterai akibat pengisian
berlebihan maka:
aturlah tegangan regulator,
usahakan untuk tidak mengisi baterai lemah dengan pengisian
secar cepat,
mengisi baterai sesuai dengan kapasitanya dengan pengisian
lambat atau normal.
d. Akibat kerusakan baterai
1) Tegangan rendah
Kemungkinan kendaraan sulit dihidupkan, penyebabnya
adalah sistem pengisian salah yang menyebabkan baterai bahkan
tidak terisi selama mesin hidup. Kemungkinan lain adalah
baterai sudah berusia tua yang sudah/hampir mati atau melebihi
masa pemakaian. Ciri-ciri baterai tua adalah baterai cepat
menjadi kosong meskipun baru diisi penuh. Perkiraan umur
baterai adalah 2-3 tahun, tetapi akan menjadi lebih pendek lagi
jika pelat yang terendam elektrolit terlalu rendah, pemakain
elektrolit yang salah atau kotor, baterai dibiarkan terlalu lama
tanpa diisi, dan baterai dipakai dengan beban melebisi batas.
2) Pengosongan sendiri
Meskipun baterai tidak digunakan ia akan tetap
melakukan reaksi sendiri. Reaksi ini menyebabkan berat jenis
berarti semakin lama menjadi turun dan daya yang disimpan
turun pula. Penurunannya bisa mencapai 1% dari nilai kapasitas
perharinya.
3) Elektrolit cepat habis
Dengan cepat habisnya elektrolit naka berakibat tenaga
listrik yang dihasilkan oleh baterai berkurang dari ketentuannya
dan mengakibatkan pula daya baterai menjadi rendah. Faktor
penyebabnya adalah baterai bocor dan akibat pengisian yang
berlebihan.
4. Cara menghindari kecelakaan akibat baterai

13

Untuk menghindari kecelakaan akibat baterai maka perlu


diperhatikan beberapa faktor pada saat kita sedang menggunakan baterai
ataupun tidak sedang menggunakan baterai.
a. Pemasangan baterai
1) Baterai dipasang pada kendaraan
a) Tempatkan baterai pada posisi dengan sistem starter dan
sistem pengapian sehingga tidak memuingkinkan terjadinga
banyak kerugian tegangan akibat penempatan yang jauh.
b) Jauhkan dari tempat yang panas seperti saluran buang.
c) Hubungkan terlebih dahulu klem kabel positif, kemudian
klem kabel negatif.
d) Jangan lupa memberika vaselin (yang besifat asam) pada
masing-masing klem kabel dan terminal kabel.
e) Berikan ventilasi secukupnya pada ruangan baterai untuk
sirkulasi udara.
f) Pastikan baterai terpasang denga kuat pada pada
dudukannya sehingga tidak bergeta hebat atau jatuh akibat
goncangan kendaraan.
g) Pastikan pula tutup-tutup lubang pengisian elektrolit
tertutup rapat serta sambungan-sambungan kabel pada
baterai terpasang kuat pada kutub-kutubnya.
h) Hindarkan adanya air maupun kotoran yang terjebak pada
dudukan baterai dengan memberikan saluran pada baterai
bagian bawah
i) Periksalah baterai secara teratur dari ketinggian elektrolit
dan dari kemungkina baterai retak atau bocor.
j) Bersihkan baterai dari kotoran, endapan putih pada kotak
maupun karat pada kutub dan terminal baterai.
2) Baterai tidak terpasang pada kendaraan
a) Tempatkan baterai pada tempat/ruangan yang dingin karena
panas bisa mempercepatterjadinya reaksi pada baterai.
b) Hindarkan penempatan baterai pada daerah yang miring
atau bergelombang yang memungkinkan elektrolit
mengarah pada satu tempat.
c) Jauhkan dari tempat pekerjaanpanas seperti pekerjaan las.
d) Berika alas yang rata (seperti dari kayu) untuk
menghindarkan kemingkinan tumpahnya elektrolit pada
lantai karena akan merusak lantai.
e) Hindarkan rokok atau bara rokok di dekat baterai atau
ruangan yang penuh dengan baterai (ruang pengisian).
f) Lakukan pengontrolan terhadap tinggi elektrolit baterai, jika
tinggi bekurang tambahkan hanya air suling/murni.
b. Penyimpanan baterai
Hal-hal yang harus diperjatikan dari baterai yang tidak
digunakan untuk jangka waktu yang lama adalah sebagai berikut.

14

1) Apabila baterai tidak segera digunakan dan masih dalam keadaan

kering (pada jenis baterai terbuka) maka jagalah agar lubang


pengisian tertutup rapat.
2) Simpan bateri ditempat yang sejuk dan kering.
3) Apabila baterai berada pada mesin, lepaskan kedua belah kabel
dari kutub-kutubnya agar tidak terjadi hubungan singkat.
4) Lakukan pemeriksaan ketinggian elektrolit baterai, jika tingginya
menurun, tambahkan dengan air suling dan jangan menambah
asam belerang.
5) Jika baterai tidak digunakan untuk yang lama sekali maka
simpan baterai dengan kondisi baterai diisi dengan cara atau
sistem pengisian terus-menerus dengan arus 1-2% kapasitas
bnaterai.
c. Pemeliharaan baterai
Hal rutin dari baterai yang harus mendpatkan perhatian
adalah memlihara baterai itu sendiri. Secara umum pemeliharaan
baterai meliputi hal berikut.
1) Periksa kotak baterai dari kebocoran.
2) Apabila terminal berkarat, cucilah dengan menggunakan
campuran air dan deterjen pada tempat tersebut dan keringkan
sebelum dupakai kembali.
3) Bersihkan endapan putih disekitar terminal baterai dengan
menggunakan air hangat, keringkan dan berikan sedikit lapisan
vaselin.
4) Kontrol secara teratur tinggi elektrolit, jika permukaan elektrolit
mendekati garis batas bawah tambahkan hanya dengan air suling,
jangan menamambahkan asam belerang.
5) Lakukan segera pengisian daya listrik pada baterai, jika didapat
kekurangan muatan maka isi dengan cara pengisian normal atau
pengisian cepat.
6) Jangan sampai saluran ventilasi lubang udara tersumbat.
d. Tes baterai
1) Buka tutup lubang pengisian dan lihat gelembung-gelembung
gas saat reaksi kimia terjadi, misalnya saan baterai diisi dengan
cara pengisian normal.jika gelembung gas yang terjadi sedikit
saja berarti baterai masih baik dan jika gelembung banyak sekali
berarti ada masalah dalam baterai tersebut
2) Dengan menggunakan alat Voltmeter periksa penurunan
tegangan tegangan baterai saat mesin distarter. Baterai yang
masih baik jika tegangan turun menjadi tidak kurang dari 1,75
volt persel selama pemakaina 10 detik dan tidak turun dibawah
1,5 volt persel selama 30 detik.

15

BAB III
PENUTUP
A.

Simpulan
Baterai mobil dalam segi penggunaannya ada dua jenis yaitu baterai
baru dan baterai pernah pakai. Baterai baru dibedakan menjadi dua yaitu
baterai terbuka dan baterai tertutup. Baterai terbuka bisa langsung
digunakan karena muatan dan cairan elektrolitnya sudah ada. Sedangkan
baterai terbuka harus melakukan hal-hal berikut sebelum digunakan:
menempatkan baterai pada tempat yang aman,
Buka tutup lubang pengisian elektrolit pada masing-masing sel
baterai,
gunakan corong plastik dan letakkan pada saluran pengisian,
isikan larutan asam pada masing-masing sel sampai ketinggian 1015 mm diatas pelat-pelat baterai atau berada diantara tanda batas
atas dan bawah apabila pebrik pembuatnya memberikan tanda,
biarkan 20 menit sehingga larutan meresap pada pelat-pelat
maupun separatornya,
periksa kembali larutan elektrolit baterai, jika berkurang maka
tambahkan lagi larutan asamnya sehingga ketinggiannya sesuai,
tutup kembali saluran pengisian dengan rapat,
bersihkan baterai dari kemungkinan tumpahan elektrolit,
baterai siap digunakan.
Pada baterai yang pernah dipakai harus melakukan pemeriksaan dan
perawatan diantaranya ketinggian elektrolit, kondisi muatan, tes berat jenis,
kondisi fisik baterai.

Ketinggian elektrolit harus berada pada ketinggian 10-15 diatas pelat.


Dengan ketinggian elektrolit yang tepat akan membuat reaksi kimia
elektrolit terhadap pelat-pelat dengan sempurna dan hasil reaksi yang
maksimal.

Kondisi muatan baterai yaitu kondisi dari daya listrik baterai yang
memungkinkan untuk pengisian atau tidak. Adapun tenaga listrik yang

16

dihasilkan sangat tergantung dari kondisi fisik yang ada di dalam baterai itu
sendiri, seperti kondisi elektrolit, berat jenis elektrolit yang dipakai,
ketinggian elektrolit yang diberikan, serta kondisi pelat-pelatnya (kondisi
kisi-kisi dan kondisi bahan aktif).

Untuk mengetahui seberapa besar tenaga listrik yang ada pada baterai
dapat dilakukan dengan cara tes daya listrik baterai dengan melihat
tegangan baterai menggunakan Voltmeter atau tester sel.

Kondisi muatan baterai dengan mudah dapat dilihat dari berat jenis
elektrolinya dan pemeriksaan ini adalah yang paling sering dilakukan. Alat
untuk mengetahui berat jenis elektrolit adalah dengan hidrometer.

Pengetesan dengan hidrometer ini sebaiknya dilakukan pada saat


baterai baru selesai digunakan. Ini disebabkan karena baterai tersebut baru
saja terjadi reaksi kimia sehingga dimungkinkan sedang bercampur dengan
baik.

Perlu dikatahui bahwa pada saat pengukuran berat jenis elektrolit


terdapat faktor lain yang juga sangat berpengaruh yaitu faktor suhu, setiap
kenaikan 1oC, berat jenis akan turun 0,007 kg./liter, untuk daerah tropik
seperti negara Indonesia adalah 1,225 kg./liter.

17

Kondisi fisik baterai merupakan perawatan dan pemeriksaan dari


bentuk fisik baterai yang meliputi kondisi kotak baterai dari kemungkinan
retak/bocor, endapan putih di sekitar kutub baterai, adanya karat pada kutub
dan terminal baterai, serta pipa ventilasi.

Kerusakan

pada

baterai

dapat

diakibatkan

oleh

pemakaian,

pembentukan sulfat, dan pengisian berlebihan.

Akibat

pemakain,

selama

baterai

mengeluarkan

daya

(saat

pengosongan), bahan aktif pada pelat positif maupun pelat negatif berubah
menjadi timah sulfat (PbSO4) dan berwarna putih. Timah sulfat ini dapat
berubah lagi menjadi bahan aktif jika baterai diisi kembali.

Akibat pembentukan sulfat, apabila baterai dibiarkan terlalu lama dan


tidak diisi kembali, maka akan terjadi reaksi dengan sendirinya
(pengosongan diri), mula-mula pada pelatnya timbul kristal timah sulfat
halus dan lama-kelamaan akan mengeras disebut kristal sulfat. Peristiwa
tersebut

dikenal

dengan

istilah

pensulfatan.

Pensulfatan

dapat

menghalangi terjadinya proses reaksi karena proses pensulfatan membuat


pelat-pelat cenderung bengkok dan kisi-kisi cenderung patah, pensulfatan
juga akan mengubah warna pelat positif menjadi putih susu dan pelat negatif
menjadi putih abu-abu.

18

Akibat pengisian yang berlebihan arus dapat mengakibatkan rusaknya


baterai akibat suhu yang tinggi. Suhu yang tinggi mebmbuat pelat positif
mengembang dan oksigen dbebas masuk. Hal ini mengakibatkan PbSO4
seluruhnya berubah menjadi PbO2. Apabila hal ini terus berlangsung, maka
O2 akan masuk pada kisi-kisi pelat sehingga PbO2 memerlukan ruangan lagi.
Akibatnya riangan pada baterai terbatas, pelat-pelat akan bengkok dan
bahan mendesak menekan ke atas sehingga mampu mengangkat kutub sel.
Disamping itu, pengisian berlebihan akan merusakkan separator akibat
sushu dan reaksi kimia, dan juga pelat negatif rusak akibat bahan aktif yang
bersifat menyerap dikenai suhu dan arus yang tinggi.

Untuk menghindari rusaknya baterai akibat pengisian berlebihan dapat


melakukan hal-hal seperti: aturlah tegangan regulator, usahakan untuk tidak
mengisi baterai lemah dengan pengisian secar cepat, mengisi baterai sesuai
dengan kapasitanya dengan pengisian lambat atau normal.

Akibat kerusakan baterai diantaranya diakibatkan tegangan rendah.


Kemungkinan kendaraan sulit dihidupkan, penyebabnya adalah sistem
pengisian salah yang menyebabkan baterai bahkan tidak terisi selama mesin
hidup. Kemungkinan lain adalah baterai sudah berusia tua yang
sudah/hampir mati atau melebihi masa pemakaian. Ciri-ciri baterai tua
adalah baterai cepat menjadi kosong meskipun baru diisi penuh. Perkiraan
umur baterai adalah 2-3 tahun, tetapi akan menjadi lebih pendek lagi jika
pelat yang terendam elektrolit terlalu rendah, pemakain elektrolit yang salah

19

atau kotor, baterai dibiarkan terlalu lama tanpa diisi, dan baterai dipakai
dengan beban melebisi batas.

Pengosongan sendiri muatan baterai. Meskipun baterai tidak


digunakan ia akan tetap melakukan reaksi sendiri. Reaksi ini menyebabkan
berat jenis berarti semakin lama menjadi turun dan daya yang disimpan
turun pula. Penurunannya bisa mencapai 1% dari nilai kapasitas perharinya.

Untuk menghindari kecelakaan akibat baterai maka perlu diperhatikan


beberapa faktor pada saat kita sedang menggunakan baterai ataupun tidak
sedang menggunakan baterai. Adapun factor-faktornya adalah factor
pemasangan baterai, penyimpanan baterai, dan cara pemeliharaan baterai

B.

Saran
Demikian makalah yang saya susun, semoga dapat bermanfaat bagi
pembaca. Apabila ada saran dan kritik yang ingin di sampaikan, silahkan
sampaikan kepada penulis.
Apabila terdapat kesalahan, mohon dapat memaafkan dan
memakluminya, karena kami adalah hamba Allah yang tak luput dari salah
khilaf, Alfa dan lupa.

20

DAFTAR PUSTAKA
Daryanto. 2001. Pemeliharaan Baterai Mobil. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Toyota Astra Motor. 1978. Dasar-Dasar Otomobil. Jakarta.
Yanto, Hari. 2012. Bagaimana Cara Perawatan pada Baterai. [Online]. Tersedia:
http://hariyanto0513.blogspot.com/. [2014, Maret 30].
Anonim. 2011. Baterai. [Online]. Tersedia:
http://www.akibaterai.com/tentang.php. [2014, Maret 30].