Anda di halaman 1dari 24

DUNIA FARMASI DAN KESEHATAN

03.53

iky pistol

1 comment

MENCARI PBF (PEDAGANG BESAR FARMASI) YANG


DISUKAI APOTEK
Istilah PBF yang merupakan kepanjangan dari Pedagang Besar Farmasi tentu sudah tak asing
lagi bagi para pharmapreneur dan pebisnis apotek. Sejatinya PBF sama juga dengan distributor,
hanya saja karena dia bergerak di bidang pendistribusian produk kefarmasian, maka disebutlah
sebagai PBF. Peran PBF dalam kancah bisnis apotek tentu sangat vital, maka dari itu antara PBF
dan apotek sama sama membutuhkan. Fungsi PBF adalah kepanjangan tangan dari pabrik
farmasi (principal) untuk mendistribusikan segala produk farmasi ke seluruh daerah yang telah
diliputnya (coverage). Apotek adalah salah satu customer dari sebuah PBF. Mengingat semakin
tingginya tingkat penyebaran apotek ke berbagai daerah, maka hal ini juga diikuti pula oleh
tumbuh suburnya keberadaan PBF. Para PBF biasanya akan membawa beragam produk dari
beragam principal. Hal ini bergantung pada kontrak antar PBF dan principal tersebut. Kontrak
antara PBF dan principal akan memengaruhi beberapa hal berikut ini : ragam item, harga, diskon,
kelangsungan produk (life cycle), cara pembayaran, dan lainnya. Misalnya, pada suatu periode
produk obat puyeng 16 milik principal Bintang Toegoe di distribusikan oleh PBF Mantjur,
namun pada periode lain PBF Mantjur sudah tidak mendistribusikan obat puyeng 16 itu lagi
karena kontraknya dengan dengan principal Bintang Toegoe telah habis. Begitu pula terkait
dengan masalah harga, bisa jadi produk tersebut ketika dibawa oleh PBF Mantjur sering ada
program promosi, dan ketika dibawa oleh PBF lain ternyata program promosinya jarang ada. Hal
itu sangat mungkin terjadi, bergantung kontrak antara PBF dengan principal.
Pharmapreneur dan pebisnis apotek tak jarang juga menemui nama suatu PBF di daerah tertentu
namun tidak ditemui nama PBF tersebut di daerah lainnya. Hal ini memang wajar adanya, karena
PBF ada yang bersifat lokal dan nasional (utama).
PBF LOKAL
Keberadaan PBF lokal biasanya hanya meliput satu daerah tertentu saja. Dengan demikian,
apotek yang berada di luar ring daerah tersebut tidak akan terliput oleh PBF tersebut. Alasan
adanya PBF lokal ini sebenarnya dikarenakan daya jangkau PBF utama tidak mencukupi daerah
tersebut untuk diliputnya. Untuk membentuk kepanjangan tangan, agar produk prinsipal tetap
terdistribusi merata, maka PBF utama akan menggandeng beberapa PBF lokal tersebut. PBF
lokal ini memiliki kerjasama dengan PBF utama dan biasanya tidak berhubungan kontrak
langsung dengan principal. Keberadaan stock dan aneka program promo yang dijalankan

biasanya akan dikontrol oleh PBF utama. Selain itu, adanya beberapa principal lokal juga sering
memanfaatkan keberadaan PBF lokal ini. Hal ini tentu saja dengan pertimbangan adanaya
efisiensi biaya distribusi.
PBF NASIONAL (UTAMA)
Peliputan daerah yang luas ke seluruh penjuru tanah air dan adanya perwakilan kantor cabang di
tiap area menjadikan suatu PBF tersebut bersifat nasional. Biasanya principal yang bonafid akan
mempercayakan produknya ke PBF semacam ini. Principal juga berharap bahwa berbagai item
produknya akan terdistribusi merata ke seluruh pelosok nusantara. Dengan
demikian principaltersebut akan mengukuhkan posisinya dalam memperebutkan market
share yang ada. Keuntungan bagi apotek dalam berhubungan dengan PBF utama adalah adanya
jaminan ketersediaan produk, dan kemudahan proses return (pengembalian) produk. Selain itu,
kepastian produk tersebut adalah produk asli tentu tak perlu diragukan lagi. Hal ini karena
memang supply produk PBF utama berasal dari gudang principal secara langsung. Disisi lain,
principal biasanya dalam membuat program promo akan bekerjasama dengan PBF utama,
sehingga bagi apotek yang loyal akan mendapatkan beragam program promo.
Lantas bagaimana menciri PBF dalam pengadaan produk kefarmasian untuk apotek,
pertimbangan apa sajakah yang diperlukan ? Perilaku tiap apotek dalam hal alasan untuk
memilih bertransaksi terhadap PBF tentu akan beraneka ragam, bergantung tujuan & latar
belakangnya. Berbagai pengalaman empiris yang telah dialami, setidaknya ada beragam alasan
untuk bertransaksi dengan suatu PBF, yaitu :
1. Produk yang dimiliki PBF
2. Tanggapan PBF dan pelayanannya
3. Citra & reputasi PBF
4. Sikap & kemampuan salesman PBF
5. Pengiriman
6. Pelayanan salesman
7. Sifat & penampilan salesman
8. Jaminan PBF atas produk yang dijual
9. Kemudahan bertransaksi dengan PBF
10.
11.
12.

Diskon & bonus


Informasi & lokasi PBF dengan apotek
Hubungan jangka panjang yang telah terjalin

13.
14.
15.
16.
17.

Faktor harga
Faktor pembayaran
Komisi & entertainment
Batas nilai pemesanan (credit limit)
Masalah return (pengembalian) produk

Faktor faktor tersebut diatas merupakan pertimbangan dalam mempengaruhi terjadinya


hubungan bisnis antara apotek dan PBF. Semakin banyak faktor yang mampu dipenuhi PBF,
tentu apotek akan menciri bahwa PBF tersebut memang layak untuk dijadikan mitra bisnisnya.
Hubungan bisnis yang seimbang antara apotek dengan PBF demikianlah yang diharapkan terjadi
antar keduanya.

Pedagang Besar Farmasi Tidak


Boleh Impor Obat
Pedagang Besar Farmasi (PBF) tidak boleh lagi mengimpor obat dari luar negeri. Registrasi
obat impor hanya boleh dilakukan industri farmasi dalam negeri yang mendapat
persetujuan tertulis dari industri farmasi di luar negeri. Ketentuan ini dituangkan dalam
Keputusan Menteri Kesehatan RI 1010/MENKES/PER/XI/2008 tanggal 3 November 2008
tentang Registrasi Obat.
Hal itu disampaikan Menkes Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP (K) dalam wawancara
dengan Majalah TRUST dan Reuters berkaitan dengan penolakan Gabungan Perusahaan
Farmasi Internasional (IPMG) terhadap Kepmenkes No. 1010 Tahun 2008 di Jakarta
tanggal 26 November 2008.
Menurut Menkes, dalam keputusan sebelumnya yakni Keputusan Menkes No. 1191 Tahun
2002, Pedagang Besar Farmasi (PBF) adalah perusahaan yang memiliki izin untuk
pengadaan, penyimpanan, dan penyaluran perbekalan farmasi. Penanggung jawabnya
seorang apoteker dan dibantu asisten apoteker.
Pada Keputusan Menteri Kesehatan No. 1010/MENKES/ PER/XI/2008, PBF yang
mempunyai kompetensi seperti itu tidak layak mengimpor obat dari luar negeri. Yang boleh
mengimpor obat dari luar negeri adalah industri farmasi karena obat impor harus
diregistrasi lagi di Indonesia untuk menjamin keamanan, khasiat dan mutunya sampai
dengan pasca pemasaran, ujar dr. Siti Fadilah Supari.
Sistem organisasi PBF anggota IPMG tidak memenuhi syarat ketentuan sebagaimana

diatur dalam Kepmenkes No. 1010 Tahun 2008, yakni tidak memiliki fasilitas produksi di
Indonesia. Itu sangat merugikan. Seharusnya obat diimpor oleh industri obat. Kalau PBF
bisa begitu, semua memilih menjadi PBF saja dan para investor di sini bisa lari semua.
Justru dengan Keputusan Menkes No. 1010 Tahun 2008 ini diharapkan investor datang ke
Indonesia, ungkap Menkes.
Saya menginginkan keadilan. Saya tidak anti bekerja sama dengan asing. Tetapi saya
ingin bekerja sama dengan adil. Indonesia punya pangsa pasar paling besar di ASEAN,
mungkin terbesar setelah India dan China. Penduduk Indonesia 220 juta, sementara 30%
dari jumlah itu masih membeli obat yang mahal. Bangunlah pabrik di Indonesia agar
keuntungannya mengalir ke rakyat, karena bisa mengurangi pengangguran, ujar Dr. Siti
Fadilah Supari.
Berdasarkan Permenkes No. 1010 Tahun 2008 tentang registrasi obat, registrasi obat baik
produksi dalam negeri, obat impor, obat khusus untuk ekspor, maupun obat yang dilindungi
paten hanya bisa dilakukan industri farmasi. Impor obat diutamakan untuk obat program
kesehatan masyarakat, obat penemuan baru dan obat yang dibutuhkan tetapi tidak dapat
diproduksi di dalam negeri, ujar Menke

CONTOH LAPORAN PBF


BAB 1
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Seiring perkembang ilmu pengetahuandan teknologi dalam bidang
kefarmasian serta semakin tingginya kesadaran masyarakat dalam
meningkatkan kesehatan, maka dituntut juga kemampuan dan kecakapan para
petugas dalam angka mengatasi permasalahan yang mungkin timbul dalam
pelaksanaan pelayana kefarmasian kepada masyaraka . Dengan demikian pada
dasarnya kaitan tugas pekerjaan Farmasis dalam melangsungkan berbagai
proses kefarmasian bukannya sekedar membuat obat, melainkan juga menjamin
serta meyakinkan bahwa produk kefarmasian yang diselenggarakan adalah
bagian yang tidak terpisahkan dari proses penyembuhan penyakit yang diderita
pasien.Mengingat kewenangan keprofesian yang dimilikanya, maka dalam
menjalankan tugasnya harus berdasarkan prosedur-prosedur kefarmasian demi
dicapainya produk kerja yang memenuhi: syarat ilmu pengetahuan kefarmasian,
sasaran jenis pekerjaan yang dilakukan, serta hasil kerja akhir yang seragam
tanpa mengurangi pertimbangan keprofesian secara pribadi.

Praktek kerja lapangan merupakan wujud aplikasi terpadu antara sikap,


kemampuan dan keterampilan yang diperoleh siswa dibangku sekolah. Dengan
mengikuti praktek kerja lapangan diharapkan dapat menambah pengetahuan,
keterampilan dan pengalaman siswa dalam mempersiapkan diri memasuki
dunia kerja
Pembangunan sarana distribusi sediaan farmasi sebagai salah satu upaya
pembangunan nasional di arahkan guna mencapai terpenuhinya kebutuhan
sediaan farmasi yang tepat untuk setiap masyarakat. Untuk mencapai tujuan
tersebut di perlukan dukungan sumber daya manusia di bidang kesehatan
termasuk di dalamnya adalah tenaga farmasis.
Farmasis adalah tenaga ahli yang mempunyai kewenangan di bidang
kefarmasian melalui keahlian yang diperolehnya selama pendidikan tinggi
kefarmasian. Sifat kewenangan yang berlandaskan ilmu pengetahuan ini
memberinya semacam otoritas daam berbagai aspek obat atau proses
kefarmasian yang tidak dimiliki oleh tenaga kesehatan lainnya. Farmasis sebagai
tenaga kesehatan yang dikelompokan profesi, telah diakui secara universal.
Lingkup pekerjaan meliputi semua aspek tenaga obat, melalui pemilihan bahan
baku obat dalam arti luas, membuat sedian jadinya, sampai dengan pelayanan
kepada pasien
Pedagang besar farmasi sebagai salah salah satu tempat pengabdian
profesi seorang asisten apoteker merupakan alur terpenting dalam
mendistribusikan sediaan farmasi melalui apotek, rumah sakit atau toko obat ke
tangan konsumen. Perbekalan farmasi meliputi obat, bahan obat,dan alat
kesehatan. Obat adalah salah satu bahan atau paduan bahan yang di maksud
untuk di gunakan dalam menetapkan diagnosa, mencegah, mengurangkan,
menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit, luka atau kelainan badaniah dan
rohaniah pada manusia atau hewan. Selain menyalurkan obat-obatan, Pedagang
besar farmasi juga menyalurkan kosmetik. Berdasarkan permenkes RI NO.
445/Menkes/per/V/1998 yang di maksud dengan kosmetik adalah sediaan ataun
paduan bahan yang siap un tuk di gunakan pada bagian luar badan ( epidermis,
rambut, kuku, bibir,dan organ kelamin luar), gigi dan rongga mulut untuk
membersihkan, menambah daya tarik, mengubah, penampakan, melindungi
supaya tetap dalam keadaan baik, memperbaiki bau badan tetapi tidak di
maksudkan untuk mengobati atau menyembuhkan suatu penyakit.
Dengan demikian sebagai seorang asisten apoteker dirasa perlu
membekali diri dengan pengetahuan mengenai Pedagang Besar Farmasi. Oleh
sebab itu, pelaksanaan Praktek Karja Lapangan (PKL) di Pedagang Besar Farmasi

bagi siswa-siswi SMK Farmasi sangatlah perlu dilakukan dalam rangka


mempersiapkan diri untuk berperan langsung dalam pengelolaan Pedagang
Besar Farmasi sesuai fungsi dan ketentuan.
B.TUJUAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
1. Tujuan Umum
a. Sebagai bahan perbandingan antara teori-teori yang telah di dapatkan dalam
Praktek Kerja Lapangan.
b.Sebagai pengalaman belajar dan keterampilan bagi siswa-siswi yang melakukan
praktek kerja lapangan.
c. Sebagai bentuk laporan hasil Praktek Keja Lapangan di PT. Medindo Surya Tama.
d.Untuk menambah pengetahuan mengenai seluk beluk pendistribusian
perbekalan farmasi.
e. Untuk menambah pengetahuan mengenai cara mendokumentasiakan segala
pendataan yang berhubungan di bidang ke farmasian.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk meningkatkan ilmu pengetahuan dalam hal mengelola obat-obatan,
perbekalan farmasi, dan pemasarannya.
b.Meningkatkan pengetahuan tentang ruang lingkup serta tanggung jawab
asisten apoteker di bidang farmasi khususnya di Pedagang Besar Farmasi.
C. Manfaat PKL
1. Menambah Ilmu pengetahuan dalam hal mengelola obat, perbekalan
farmasi & pemasarannya.
2. Dapat mengetahui secara langsung tata laksana pendistribusian dan
pengelolaansediaan farmasi lainnya pada Pedagang Besar Farmasi yang
sebelumnya hanya di ketahui secara teoritis.
3. dapat menyesuaikan atau mengembangkan teori yang sudah di terima
dengan keadaan di lapangan untuk di jadikan sebagai pembelajaran.
4. dapat mengetahui bentuk-bentuk sedian farmasi yang belum pernah kita
lihat di laboratorium sekolah
5. Dapat menjalin kerja sama antara perusahaan pedagang besar farmasi
dengan dunia pendidikan terutama dalam menyalurkan tenaga kerja
profesional
D.RUANG LINGKUP
Ruang lingkup dalam pengertiannya merupakan batasan-batasan seorang
Asisten Apoteker di dalam melakukan pekerjaannya Asisten Apoteker
Penanggung Jawab (AAPJ). Kegiatan yang di lakukan oleh AAPJ ialah menirama
surat pesanan dari sales maupun via telfon dari pelanggan, menandatangani
faktu,menerima sp untuk golongan daftar G (keras). Tugas AA yang lain adalah

memeriksa faktur penjualan dengan memperhatikan tanda tangan, stempel, dan


SIK (surat izin kerja) Seorang AA atau apoteker pemesan , itu di lakukan agar
tidak tejadi penyelewengan dan terjadi pendistribusian yang jelas, serta
membuar DINO (Dinamika Obat) setiap Triwulan untuk di laporkan ke Balai POM,
badan POM pusat ,Dinas kesehatan provinsi tingkat 1, Mentri kesehatan,
Pengarsipan.
1.Tempat Pelaksanaan
Sebagai syarat untuk melengkapi kurikulum progam pendidikan 3 tahun di
SMK Farmasi Samarinda maka di laksanakan Praktek Kerja Lapangan ( PKL )
yang di laksanakan masing-masing ditempat yang berbeda dan tempat
pelaksanaan kami dalam Praktek Kerja Lapangan ( PKL ) ini adalah PBF PT.
Medindo Surya Tama.
2.Waktu pelaksanaan
Waktu pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan ( PKL ) di PBF PT. Medindo
Surya Tama adalah selama kurang lebih 2 minggu terhitung sejak tanggal 26
juni s/d 13 juli dimana setiap harinya waktu kerja di PT. Medindo Surya Tama
adalah :
Senin s/d Jumat : 08.00 12.00
13.00 16.00
Sabtu
: 08.00 12.00
13.00 14.00
Istirahat
: 12.00 13.00
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Pedagang Besar Farmasi.
Menurut keputusan Mentri Kesehatan RI nomor: 1191/MENKES /IX/2002.
Tentang perubahan mentri kesehatan nomer : 918/MENKES/PER/X/1993 tentang
Pedagang Besar Farmasi adalah badan hukum perseorangan terbatas atau
koperasi yang memiliki izin untuk pengadaan, penyimpanan, penyaluran
perbekalan farmasi dalam jumlah besar sesuai ketentuan perundang-undangan
yang berlaku.
Dalam permenkes tersebut juga memberikan batasan terhadap beberapa hal
yang berkaitan dengan kegiatan Pedagang Besar Farmasi yaitu batasan
mengenai:
1. Petbekalan Farmasi adalah perbekalan yang meliputi obat,bahan
obat,dan alat kesehatan.

2. Sarana pelayanan kesehatan adalah apotek, umah sakit, atau unit


kesehatan lainnya yang di tetapkan Mentri kesehatan ,toko obatdan
pengecer lainnya.
Sesuai dengan pp No 51 tahun 2009 bahwa sejak di keluarkannnya
peraturan ini PBF penanggung jawab teknis adalah Apoteker dalam waktu 2
tahun kedepan PBF harus menyesuaikan dengan peraturan tersebut.
B. Kegunaan Pedagang Besar Farmasi.
Untuk melakukan pengadaan, penyimpanan, dan penyaluran perbekalan
farmasi dalam jumlah kecil ataupun jumlah besar sesuai ketentuan perundangundangan yang berlaku. Pedagang Besar Famasi dapat menyalurkan perbekalan
farmasi ke apotek, rumah sakit, atau unit pelayanan kesehatan lainnya yang di
tetapkan mentri kesehatan, toko obat dan pengecer lainnya.
3. Izin usaha Pedagang Besar Farmasi.
Mengingat pada batasan Pedagang Besar Farmasi, maka perlu di ketahui
oleh mentri Kesehatan melimpahkan wewenang pemberian izin usaha Pedagang
Besar farmasi Kepada Direktur Jendral Pengawas Obat dan Makanan.

1.

4.
5.
6.
7.

Izin usaha Pedagang Besar Farmasi berlaku untuk seterusnya selama


perusahaan Pedagang Besar Farmasi yang bersangkutan masih aktif melakukan
kegiatan usahanya dan berlaku seluruh wilayah Republik Indonesia.
D.Persyaratan Pedagang Besar Farmasi
Pedagang Besar farmasi wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut :
Dilakukan oleh badan hukum, perseroan terbatas,Koperasi, Perusahaan
nasiaonal, Maupun perusahaan patungan antara penanam modal asing yang
telah memperoleh izin usaha industrial Farmasi di Indonesia dengan perusahaan
nasional.
2. Memiliki nomor wajib pajak ( NPWP)
3. Memiliki izin asisten apoteker yang bekerja penuh
Anggota di reksi tidak pernah terlibat pelanggaran ketentuan perundangundangan di bidang farmasi.
Pedagang besar farmasi / Pedagang Besar farmasi cabang wajib mengadakan,
menyimpan dan menyalurkan perbekalan farmasi yang memenuhi syarat mutu.
PBF wajib melaksanakan pengadaan obat, bahan baku obat dan alkes dari
sumber yang sah.
Bangunan atau sarana memadai untuk melaksanakan pengadaan ,
pengelolaan, penyimpanan, dan penyaluran perbekalan farmasi.

a.

Gudang di lengkapi dengan kelengkapan yang dapat menjamin mutu


keamanan perbekalan farmasi yang di simpan.
b. Gudang dan kantor dapat di pisah asal pengawasan intern direksi dan
penanggung jawab tetap efektif
c. PBF wajib melaksanakan dokumentasi pengadaan, penyimpanan dan
penyaluran secara tertib.
E.Peraturan Perundang-undangan
Peraturan perundang-undangan tentang PBF di indonesia telah beberapa
kali mengalami perubahan.
Dulu pedagang besar faramasi di larang menyalurkan Psikotropika tanpa izin
khusus dari Mentri Kesehatan, tetapi sejak di serahkannya Undang-Undang RI
No 5 tahun 1997 tentang Psikotropika maka pedagang besar farmasi yang
menyalurkan psikotropika tidak memerlukan izin khusus lagi.
Ketentuan-ketentuan umum yang berlaku yang berlaku tentang
pendistribusian
Farmasi
sesuai
Keputusan
Mentri
Kesehatan
No.
1332/MENKES/SK/X/2002 adalah sebagai berikut
1. Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus dan telah mengucapkan
sumpah jabatan apoteker, mereka yang berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku berhak melakukan pekerjaan kefarmasian di indonesia
sebagai apoteker
2. Surat Izin Apoteker (SIA) adalah surat izin yang di berikan oleh mentri kepada
apoteker atau apoteker bekerja sama dengan Pemilik Sarana Apotek ( PSA)
untuk menyelanggarakan apotek di suatu tempat tertentu.
3. Asisten Apoteker adalah mereka yang berdasarakan peraturan perundangundangan yang berlaku berhak melakukan pekerjaan kefarmasian sebagai
asisten apoteker.
4. Sediaan farmasi adalah obat,bahan obat, obat asli indonesia, alat
kesehatan dan kosmetik.
5. Alat kesehatan adalah instrumen, aparatus, mesin, implant yang tidak
mengandung obat yang di gunakan untuk mencegah, mendiagnosis,
menyembuhkan, dan meringankan penyakit, merawat orang sakit,serta
pemulihan kesehatan manuasia, dan membentuk struktur serta
memperbaiki fungsi tubuh.
6. Perbekalan kesehatan adalah semua bahan dan peralatan yang di
perlukan untuk melaksanakan pengelolaan apotek

1.

2.

3.

4.

Dalam melakukan pekerjaan kefarmasian di PBF Asisten Apoteker


Penanggung jawab PBF harus memiliki surat izin kerja. Keputusan Mentri
kesehatan Apoteker. :
Asisten apoteker adalah tenaga kesehatan yang berijazah sekolah asisten
apoteker atau sekolah menengah farmasi, Akademi Farmasi, Akademi farmasi,
dan Jurusan farmasi politeknik kesehatan,akademi analisis farmasi dan
makanan, Jurusan analisis farmasi serta makanan, Politeknik kesehatan sesuai
peraturan perundang-undangan yang berlaku
Surat Izin Asisten Apoteker adalah bukti tertulis atas kewenangan yang di
berikan kepada pemegang ijazah sekolah Asisten Apoteker atau sekolah
menengah Farmasi dan jurusan farmasi politeknik kesehatan, Akademi Analisis
farmasi dan Makanan, Jurusan, Analisis Farmasi serta Makanan Politeknik
kesehatan untuk menjalankan pekerjaan Kefarmasian sebagai asisten Apoteker.
Surat Izin Asisten Apoteker adalah bukti tertulis yang di berikan kepada
pemegang Surat Izin Asisten Apoteker untuk melakukan pekerjaan kefarmasian
di srana kefarmasian.
Sarana Kefarmasian adalah tempat yang di gunakan untuk melakukan
pekerjaan kefarmasian antara lain industri farmasi, apotek, dan toko Obat.
Peraturan Di Bidang farmasi
PEKERJAAN KEFARMASIAN DALAM DISTRIBUSI ATAU PENYALURAN (PBF)
SEDIAAN FARMASI
Pasal 14 PP No.51 th 2009 ttg pekerjaan kefarmasian
Ayat (1)
Setiap fasilitas distribusi atau penyaliuran sediaan farmasi (PBF) harus
memiliki seorang Apoteker sebagai penanggung jawab.
Ayat (2)
Apoteker sebagai penanggung jawab sebagaimana diatur dalam ayat (1) dapat
dibantu oleh Apoteker pendamping dan/atau Tenaga Tehnis Kefarmasian
Pasal 17
~Pasal 17 PP No.51 tahun 2009 ttg Pekerjaan Kefarmasian
Pekerjaan kefarmasian yang barkaitan dengan proses distribusi atau penyaluran
sediaan farmasi pada fasilitas Distribusi atau Pnyaluran sediaan farmasi (PBF)
wajib dicatat oleh Tenaga kefarmasian sesuai tugas dan fungsinya
Pasal 18

~Tenaga Kefarmasian dalam melakukan Pekerjaan kefarmasian dalam fasilitas


Distribusi atau Penyaluran sediaan farmasi (PBF) harus mengikuti
perkembangan IPTEK dibidang farmasi dan penyaluran

F. Kewajiban Pedagang Besar Farmasi


PBF wajib melakukan pembukuan, sebagai beriku :
1. Pengarsipan Surat Pesanan
2. Faktur Penerimaan barang dari pusat
3. Faktur Pengiriman dan penyerahan barang
4. Kartu persediaan
PBF wajib membuat laporan pendistribusian obat pertriwulan, sehingga bila
di lakukan pemeriksaan dapat di pertanggung jawabkan.
Pencatatan jumlah obat pada kartu stock harus sesuai dengan jumlah barang
yang masuk atau keluar sesuai dengan faktur penjualan/ penyerahan
barang.Jumlah penerimaannya harus sesuai dengan dokumen penerimaan
barang
G.Tata cara penyaluran
Pedagang Beasar Farmasi hanya dapat melaksanakan penyaluran obat keras
kepada :
1. Pedagang Besar Farmasi lainnya berdasarkan surat pesanan yang di
tandatangani oleh penanggung jawab PBF.
2. Apotek berdasarkan surat pesanan yang di tanda tangani oleh Apoteker
Pengelola Apotek
3. Rumah sakit berdasarkan surat pesanan yang di tandatangani oleh Apoteker
Kepala instalasi farmasi rumah sakit.
4. Instalasi lain yang di izinkan menkes

A. Alur Pendistribusian Perbekalan Farmasi


Bentuk-bentuk atau system saluran distribusi perbekalan farmasi.

4.
5.

Bentuk atau sistem distribusi perbekalan farmasi adalah sesuai


kebijaksanaan/peraturan farmasi seperti yang tercantum dalam undang-undang
kesehatan. Yang di maksud dengan Perbekalan Farmasi menurut undang-undang
kesehatan adalah perbekalan farmasi meliputi :
Obat
Bahan baku obat.
Obat tradisional dan bahan tradisional ( obat asli indonesia) dan (bahan obat
asli indonesia)
Alat-alat kesehatan
Kosmetik

a.
b.
c.
d.

Sedangkan obat terdiri dari 4 golongan yaitu:


Obat narkotik
Obat daftar G dan obat keras tertentu (OKT) psikotropika
Obat daftar W
Obat daftar bebas

1.
2.
3.

B. Bentuk saluran distribusi obat daftar G


Secara umum bentuk saluran distribusi obat G dapat di tempuh salah satu dari
bentuk saluran distribusi yang ada.
Produsen

Pedagang besar
Produsen

Agen

Pengecer

Konsumen

Pedagang Besar

Pengecer
Konsumen
Secara khusus bentuk saluran disrtibusi obat daftar G ialah :

~ Bentuk Saluran Distribusi obat W.


Produsen
Pengecer

PedagangBesar

Konsumen
Produsen

Pengecer

Agen

Pedagang Besar

Secara khusus bentuk saluran distribusi Obat W adalah sebagai berikut:


~ Bentuk saluran distribusi daftar obat bebas :
Produsen
Produsen

Pedagang Besar
Agen

Pengecer

Pedagang Besar

Konsumen
Pengecer

Konsumen
Secara umum distribusi obat bebas adalah sebagai berikut :
H. Larangan Bagi Pedagang Besar Farmasi.
Pedagang Besar Farmasi di larang :
1. Menjual Perbekalan Farmasi secara eceran baik di tempat kerjanya atau di
tempat lain.
2. Melayani Resep Dokter
3. Melakukan pengadaan, penyimpanan, dan penyaluran narkotika tanpa izin
khusus dari Mentri kesehatan.
I. Pencabutan Izin Usaha.
Izin Usaha Pedagang Besar Farmasi akan di cabut jika :
1. Tidak mempekerjakan Apoteker penanggung jawab yang memiliki surat izin
kerja
2. Tidak aktif lagi dalam penyaluran obat selama satu tahun.
3. Tidak agi memenuhi persyaratan usaha sebagaimana di tetapkan dalam
peraturan
4. Tidak lagi menyampaikan informasi Pedagang Besar Farmasi tiga kali berturutturut
5. Tidak memenuhi ketentuan tata cara penyaluran perbekalan farmasi
sebagaimana yang di tetapkan.
BAB III
PT.MEDINDO SURYA TAMA
1. Sejarah PT. Medindo Surya Tama
PT. Medindo Surya Tama adalah salah satu perusahaan jasa distribusi
produk farmasi dan medical equipment dengan 3 orang karyawan. PT. Medindo

Surya Tama meupakan PBF tunggal yang didirikan pada tahun 2007 bertempat
di jalan Ramania dalam No. 63 F, keluarga sidodadi samarinda.
Selama kurang lebih 4 tahun PT. Medindo Surya Tama telah membangun
reputasinya dengan para pelanggan dan dapat mendistribusikan produk yang di
milikinya pada sasaran yang tepat, sehigga sampai sekarang PT. Medindo Surya
Tama dapat tetap berdiri menjadi salah satu perusahaan PBF dan dapat bersaing
dengan pedagang besar farmasi lainnya.
PT. Medindo Surya Tama merupakan penyalur produk farmasi dari PT. Erita
Farma, PT. Balatif,dan PT. Saparindo. Obat-obat yang di salurkan adalah obatobat generic, paten, jamu atau obat tradisional dan juga alkes

Dasar budaya kerja di PT. Medindo Surya Tama adalah :


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Jujur, bertanggung jawab dan iklas


Di siplin dan dapat di andalkan
Ramah, terbuka dan Royal
Motivasi dan Inofatif
Saling menghargai dan kerja sama
Berbakti kepada negara di bidang distribusi
Bersyukur dan berterima kasih kepada Allah
Filosofi PT. Medindo Surya Tama
1. Sekecil apapun konstribusi kami untuk perusahaan akan di hargai.
2. Konstribusi kami yang besar adalah konstribusi yang membangun perusahaan
3. Konstribusi kami yang besar dan member aura positif akan membuat exis dan
langgeng.
4. Membangun,Mempetahankan dan mengembangkan perusahaan adalah impian
kami
2. Bagan Organisasi PT. Medindo Surya Tama
Adapun pembagian tugas dan kewajiban dari struktur organisasi di PT. Medindo
Surya Tama antara lain :
1. Pimpinan
Memimpin dan Mengkordinir seluruh karyawan
1. Membuat Laporan berkala tiap 3 bulan kepada badan POM dan instalasi
terkait
2. Menerima surat pesanan dari sales maupun via telpon dan fax.
3. Wajib memberikan informasi mengenai produk kepada pelanggan yang
membutuhkan.
4. Menandatangani Faktur

5. Menangani Komplein Pelanggan dengan sabar.


Fungsi pokok bagian asisten apoteker antara lain menerima laporan hasil
penjualan barang dari salesman, serta melaporkan kepada bagian operator
komputer dan pembukuan.
Selain itu di PT. Medindo Surya Tama seorang AA juga memiliki tugas yang
rangkap seperti :
1)
a.

Kepala Administrasi
Membuat dan Menyusun rencana kebutuhan dan dana operasional,estimasi
tagihan dan budget biaya.
b. Memberikan laporan-laporan yang di minta oleh pimpinan.
c. Melakukan Pemeriksaan atas keabsahan bukti-bukti penarikan dan
pengeluaran uang sesuai standar Operasional.
2) Kasir
a. Mengeluarkan uang sesuai bukti-bukti dan syarat transaksi dengan benar,
b. Entry penerimaan dan pengeluaran uang sesuai SOP
c. Mencatat laporan kas harian serta saldo akhir kas secara rinci.

a.
b.
c.
d.
a.
b.
c.
d.
e.
a.
b.
c.

3) Pool Faktur
Melakukan entry penerimaan faktur
Melengkapi syarat-syarat penagihan
Menyusun perancanaan penagihan.
Membuat daftar penagihan piutang
4) Fakturis
Melakukan entry diskon
Melakukan cetak faktur dan potongan pembelian
Entry retur penjualan
Melakukan pemeriksaan isi faktur, retur dan potongan.
Mencetak register faktur
5) Entry data
Melakukan entry data sesuai penagihan tugas yang telah di tentukan
Menyusun faktur
Mengecek stok.
3. kepala Gudang
a.

Mengecek barang yang datang dan menyusunnya di gudang

b.

a.
b.
c.
d.
e.

Mencatat pengeluaran dan pemasukan di kartu stok berdasarkan barang yang


datang.

4. Salesman
Menyusun rencana kunjungan
Memperkenalkan produk baru dan meningkatkan sales produk lama
Memonitor dan melaporkan kegiatan-kegiatan pesaing
Mencari pengalaman baru, untuk meningakatkan penjualan
Memelihara hubungan baik baik dengan pelanggan

Fungsi pokok bagian salesman adalah mencari dan memasarkan barang


yang telah dipesan serta melaporkan hasil penjualan barang kepada asisten
apoteker.
Tata ruang
PT. Medindo Surya Tama terdiri dari empat ruangan, yaitu tempat
administrasi dan merupakan tempat AA, satu rauangan tempat pimpinan,
satu ruang gudang obat dan satu ruang gudang alkes
Jenis produk
Obat-obatan yang di distibusiakan di PT. Medindo Surya Tama antara lain :
PT. Saparindo
Contohnya : Amoxicillin
PT. Balatif
Contohnya : Arkavit dan Betalgin
Eritra farma
Contohnya : Etamol, Etagesik, Etaflusin
Alkes yang didistribusikan oleh PT. Medindo Surya Tama anatara lain ;
Alat Glucosure
Glucosure Touch in strip

UA Sure Blood Urid Acid Strip


Multicare Meter
Handscun latex
Dan alat-alat kedokteran linnya.

D. Denah PBF PT. Medindo surya tama


Keterangan :
1. Gudang Alat Kesehatan
2. Gudang Obat
3. Ruang Administrasi AA
4. Ruang Pimpinan PBF
5. Lemari pengarsipan
6. Lemari Penyimpanan
7. Meja computer
8. Meja kerja AA
9. Meja karyawan
10.
Meja Pimpinan

BAB IV
KEGIATAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
1. Pengertian
Yang di maksud kegiatan PKL di sini adalah suatu kegiatan praktek
langsung ke lapangan yang di lakukan di suatu tempat atau instansi terkait
sesuai bidangnya yang bertujuan untuk menambah keterampilan dan ilmu
pengetahuan dan mengetahui secara mendalam aktifitas secara langsung dari
pada instansi / tempat kerja tersebut.
2. Aktifitas PBF
Pada PBF untuk pengelola obat, pada dasarnya mencangkup kegiatan
perencanaan, pengadaan, penyimpanandan distribusi.
Selama di PT. MedindoSurya Tama banyak sekali kegiatan-kegiatan yang
kami lakukan serta ilmu-ilmu pengetahuan baru yang kami peroleh. Selain
mengetahui tugas seorang asisten apoteker di PBF serta kewajiban dan

larangan-larangannya, kami juga mendapat pengetahuan baru mengenai seluk


beluk PBF yang lebih jelas dan terperinci.
Kegiatan Yang kami lakukan selama PKL anatara lain:
1. Kegiatan di bagian administrasi, meliputi :
Menyusun faktur berdasarkan tanggal, nomer faktur, dan nama barang yang di
pesan oleh outlet. Dimana faktur obat di bedakan dengan faktur alkes.
Mencatat Barang keluar sesuai faktur yang kemudian dicatat kembali ke buku
penjualan obat maupun alkes.
Selain menyusun faktur kami di beri kesempatan untuk membuat faktur secara
langsung di komputer, baik faktur obat, alkes maupun faktur pajak.
Membuat laporan dinamika obat dengan memisahkan surat pesanan, yang di
laporkan tiap tiga bulan sekali ke instalasi pemerintah yang bersangkutan,
antara lain Badan POM, Dinas Kesehatan, Badan POM Pusat, Mentri Kesehatan,
dan PT. Medindo Suya Tama sebagai arsip.
Menulis surat setoran pajak
2.Kegiatan di bagian gudang obat maupun alkes :
Melakukan pengecekan barang ( stock opname)
Pengecekan barang di lakukan untuk mengetahui pas atau tidaknya barang
yang ada di gudang, misalkan kurang akibat pecah atau rusak karena
kadaluarsa. Pengecekan barang dilakukan dengan cara melihat kartu gudang
untuk mengetahui jumlah yang ada. Selain itu kartu stok juga di samakan
dengan sisa jumlah barang yang ada di komputer.
Menyiapkan barang pesanan
Barang di siapkan sesuai faktur yang telah di cetak. Kemudian barang di ambil
berdasarkan jumlah, no batch dan ex.date nya.
Sebelum di antar ke pelanggan barang sebaiknya di cek ulang agar tidak
tertukar dan ketinggalan.
Mencatat pengeluaran dan pemasukan obat dan alkes di kartu stok
Barang yang telah keluar maupun masuk kemudian di catat di kartu stok
gudang, agar apabila di lakukan pengecekan semua barang yang ada di gudang
pas.

o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o

Kartu stok tersebut antara lain berisi :


Nama barang
Bentuk sediaan
Kemasan
Nama pabrik
No. Registrasi
No. Faktur
Dari siapa barang tersebut di terima atau untuk siapa barang tersebut di
keluarkan
Tanggal masuk atau keluarnya barang
Jumlah masuk atau keluarnya barang
No. Batch
Ex.Date
Jumlah sisa stok obat atau alkes yang ada.

Selain itu kami juga sesekali ikut serta mendistribusikan atau mengantar
barang kepada outlet. Kegiatan penyaluran tersebut merupakan suatu
rangakaian kegiatan yang penting karena di sini obat-obatan atau alkes harus di
salurkan kepada pemesan yang sah dan tepat. Perencanaan jadawal dan
pengirimannya pun harus di kondisikan sedemikian rupa sehingga tidak akan
terjadi penumpukan yang melebihi kapasitas gudang atau sarana lain yang di
tuju. Untuk dokumentasi pelakasanaan penyaluran di buat dengan dengan
lengkap sehingga setiap penyerahan obat atau alkes dapat di pertanggung
jawabkan setiap saat dim lakukan pemeriksaan dan evaluasi. Kami juga banyak
bertama mengenai suatu hal yang kami kurang mengerti kepada seluruh
karyawan di PT. Medindo Surya Tama yang telah banyak membantu
mengarahkan dan membimbing kami selama melakukan praktek kerja
lapangan. Dan inilah kegiatan yang kami kerjakan selama di PT. Medindo Surya
Tama.

BAB V
PEMBAHASAN

Pedagang besar farmasi adalah badan hukum perseroan terbatas atau


koperasi yang memiliki izin untuk pengadaan, penyimpanan, penyaluran
perbekalan farmasi dalam jumlah besar sesuai ketentuan perundang-undangan
yang berlaku. Selain itu Pedagang Besar Farmasi juga sangat di butuhkan
masyarakat sekaligus membantu pemerintah dalam pengwasan dan
pengendalian obat yang beredar di masyarakat, karena di samping fungsinya
sebagai sarana untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, obat dapat pula
membahayakan kesehatan apabila penggunaan yang tidak tepat. Dalam
pemberian pelayanan kefarmasiaan,Pedagang Besar Farmasi senantiasa
berpegang pada peraturan pemeintah disamping adanya tanggung jawab moral
untuk senantiasa mementingkan kepentingan social.
Kegunaan Pedagang Besar Farmasi adalah Untuk melakukan pengadaan,
penyimpanan, dan penyaluran perbekalan farmasi dalam jumlah kecil ataupun
jumlah besar sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Pedagang
Besar Famasi dapat menyalurkan perbekalan farmasi ke apotek, rumah sakit,
atau unit pelayanan kesehatan lainnya yang di tetapkan mentri kesehatan, toko
obat dan pengecer lainnya.
Farmasis adalah tenaga ahli yang mempunyai kewenangan di bidang
kefarmasian melalui keahlian yang diperolehnya selama pendidikan tinggi
kefarmasian. Sifat kewenangan yang berlandaskan ilmu pengetahuan ini
memberinya semacam otoritas daam berbagai aspek obat atau proses
kefarmasian yang tidak dimiliki oleh tenaga kesehatan lainnya. Farmasis sebagai
tenaga kesehatan yang dikelompokan profesi, telah diakui secara universal.
Lingkup pekerjaan meliputi semua aspek tenaga obat, melalui pemilihan bahan
baku obat dalam arti luas, membuat sedian jadinya, sampai dengan pelayanan
kepada pasien

BAB VI
PENUTUP
A.Kesimpulan
Dari hasil Praktek Kerja Lapngan ( PKL ) di pedagang besar farmasi yaitu PT.
Medindo Surya Tama selama kurang lebih dua minggu dapat kami simpulkan :

1. Pedagang Besar Farmasi melayani pendistribusian perbekala farmasi


seperti obat-obatan, Alkes dan sebagainya. Selain itu yang perlu di
ketahui yaitu pedagang besar farmasi hanya dapat mendistribusikan
barang-barangnya kepada apotek, rumah sakit, balai pengobatan, PBF
lain, took obat berizin dan instalasi lain yang telah di tentukan dalam
peratuan pemerintah yang berlaku.
2. Adapun tugas seorang asisten apoteker dalah menjadi penanggung jawab
penuh dalam sega;la kegiatan pendistribusian di dalam Pedagang Besar
Farmasi yang berlaku sesuai peraturan yang telah di tetapkan oleh
pemerintah dan instalasi terkait.
3. Pelaksanaan PKL di Pedagang Besar Farmasi PT. Medindo Surya Tama
sangat bermanfaat bagi calon asisten apoteker menyangkut berbagai
aspek pengelolaan perbekalan farmasi meliputi perencanaan, pengadaan
dan distribusi.
4. Adapun skema pemesanan barang dari pedagang besar farmasi yaitu :
Alur penjualan/pemesanan barang.
Pelanggan memesan barang

Pengecekan sediaan barang

Pencetakan faktur ( Rangkap 4)


Dan di tanda tangani oleh AA

Di siapkan barang yang di minta

Dilakukan pengecekan kembali


Sebelum barang di antar

Barang di antar di sertai tanda bukti faktur

Faktur di tanda tangani oleh penerima / pelanggan

B. Saran
Sebagai akhir dari penulisan ini maka kami ingin menyampaikan saransaran yang di harapkan dapat berguna untuk perusahaan, sekolah dan siswasiswi SMK Farmasi. Adapun saran yang dapat kami berikan antara lain
Saran untu PBF
1. PT. Medindo Surya Tama di harapkan dapat meningkatkan pelayan dalam
penjualan dan pendistribusian obat, alkes atau yang lainnya di seluruh
instalasi kesehatan atau instalasi terkait lainnya.
2. Sebaiknya Fasilitas penunjang yang sekiranya belum di lengakapi
hendaknya segera di lengkapi.
3. Semoga PT. Medindo Surya Tama dapat mempertahankan serta
mengembangkan usahanya, sehingga dapat menjadi distributor yang
lebih besar dan di kenal anyak pihak.
4. Sediaan farmasi yang penyimpanannya di atur oleh ketentuan suhu
tertentu hendaknya di simpan sesuai suhunya agar sekiranya sediaannya
tetap terjaga kualitasnya dan bentuk sediaanya.
5. Semoga kerja sama antara PT. Medindi Surya Tama dengan pihak SMK
Farmasi samarinda dapat terus di pertahankan untuk tahun-tahun
selanjutnya.
Saran untuk sekolah

1. Sebaiknya pembekalan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan


kegiatan PKL lebih di perbanyak dan di perluas sehingga siswa dan siswi
dapat lebih mantap lagi dalam melaksanakan PKL.

Saran untuk siswa-siswi yang melaksanakan PKL.


1.Sebaiknya siswa/ siswi yang hendak melaksanakan PKL kiranya bisa
menguasai pelajaran kefarmasian khususnya sinonim, mengetahui nama-nama
obat baik generic maupun paten serta pengetahuan mengenai cara pemakaian
komputer.
2.Hendaknya siswa/siswi PKL dapat lebih disiplin, menjaga sikap dan mengikuti
segala atruran yang telah di tetapkan oleh instalasi yang menjadi tempat PKL.

PBF Alat Kesehatan | PAK &


Toko ALKES
Pembahasan kali ini bukanlah mengenai PBF yang berdasar pada Permenkes
148/MENKES/PER/VI/2011. Berbeda dengan jenis PBF tersebut, kali ini saja menulis
tentang Pedagang Besar Farmasi Alat Kesehatan serta Toko ALKES berdasar Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor 1191/MENKES/PER/VIII/2010 tentang Penyaluran Alat
Kesehatan. Alasan saya menulis artikel ini dikarenakan ada informasi terbaru sebagaimana
disampaikan Ibu Emy dari Departemen Organisasi Kaderisasi & Keanggotaan Pengurus
Pusat PAFI, sekaligus memberikan poin-poin penting yang mungkin bisa kita ingat
bersama. Yuk mari kita mulai saja bahas keterkaitannya dengan Tenaga Teknis
Kefarmasian.
Sebenarnya istilah PBF ALKES bila dikaji dengan dasar Permenkes 1191/2010 sudahlah
tidak tepat lagi. Disebut dalam perundangan tersebut, perusahaan berbentuk badan hukum
yang memiliki izin untuk pengadaan, penyimpanan, penyaluran alat kesehatan dalam
jumlah besar sesuai ketentuan perundangundangan disebut sebagai Penyalur Alat
Kesehatan atau yang disingkat sebagai PAK. Tentunya juga terdapat Cabang Penyalur Alat
Kesehatan, dimana Cabang PAK ini adalah unit usaha dari PAK yang telah diakui. Jadi,
mari kita mulai biasakan bersama agar tidak terjadi kesalahpahaman antara kenyataan

dilapangan dan peraturan.


Terlepas dari kedua istilah tersebut, juga berbeda dengan pedagang eceran obat (toko obat
berizin), diatur pula dalam Permenkes ini mengenai Toko Alat Kesehatan. Pengertiannya
sendiri adalah unit usaha yang diselenggarakan oleh perorangan atau badan untuk
melakukan kegiatan pengadaan, penyimpanan, penyaluran alat kesehatan tertentu secara
eceran sesuai ketentuan peraturan perundangundangan. Yah, sebagaimana kita bisa tebak
bahwa baik PAK, Cabang PAK, maupun Toko ALKES; hanya bisa menyalurkan alat
kesehatan yaitu instrumen, aparatus, mesin dan/atau implan yang tidak mengandung obat
yang digunakan untuk mencegah, mendiagnosis, menyembuhkan dan meringankan
penyakit, merawat orang sakit, memulihkan kesehatan pada manusia, dan/atau membentuk
struktur dan memperbaiki fungsi tubuh