Anda di halaman 1dari 9

Konferensi Internasional Promosi Kesehatan di Ottawa-Canada (1986) menghasilkan piagam

Ottawa Charter yang rumusan strateginya dikelompokkan menjadi 5 butir,yaitu:


a) Kebijakan Berwawasan Kesehatan (Health Public Policy)
Adalah kegiatan yang ditujukan kepada para pembuat keputusan/ penentu kebijakan yang
berwawasan

kesehatan.

Setiap

kebijakan

pembangunan

di

bidang

apa

saja

harus

mempertimbngkan dampak kesehatannya bagi masyarakat. Misalnya, orang yang mendirikan


pabrik/ industri, sebelumnya harus dilakukan analisis dampak lingkungan agar tidak tercemar
dan tidak berdampak kepada masyarakat. Dalam proses pembangunan adakalanya aspek
kesehetan sering diabaikan, oleh karena itu adanya kebijakan yang berwawasan kesehatan,
diharapkan bisa mengedepankan proses pembangunan dengan tetap memperhatikan aspek-aspek
kesehatan. Kegiatan ini ditujukan kepada para pengambil kebijakan ( policy makers) atau
pembuat keputusan (decision makers) baik di institusi pemerintah maupun swasta. Sebagai
contoh ; adanya perencanaan pembangunan PLTN di daerah jepara, para penagmbil kebijakan
dan pembuat keputusan harus benar-benar bisa memperhitungkan untung ruginya. harus
diperhatikan kemungkinan dampak radiasi yang akan ditimbulkan, serta kemungkinankemungkinan lain yang bisa berdampak pada kesehatan.
b) Lingkungan Yang Mendukung (Supportive environtment)
Adalah kegiatan untuk mengembangkan jaringan kemitraan dan suasana yang mendukung
yang
-pemimpin
-pengelola

ditujukan
organisasi
tempat

pada:
masyarakat

tempat

umum

Diharapkan memperhatikan dampak terhadap lingkungan, baik lingkungan fisik maupun


lingkungan non fisik mendukung atau kondusif terhadap kesehatan masyarakat.
Contoh : perlunya jalur hijau didaerah perkotaan, yang akhir-akhir ini sering diabaikan
pemanfaatannya oleh oknum-oknum tertentu. perlunya perlindungan diri pada kelompok
terpapar pencemaran udara , seperti penggunaan masker pada penjaga loket jalan tol, petugas
polantas, dsb.

c) Reorientasi Pelayanan Kesehatan (Reorient Health Services)


Adanya kesalahan persepsi mengenai pelayanan kesehatan, tanggung jawab pelayanan
kesehatan kadang hanya untuk pemberi pelayanan (health provider ), tetapi pelayanan
kesehatan juga merupakan tanggung jawab bersama antara pemberi pelayanan kesehatan
( health provider ) dan pihak yang mendapatkan pelayanan. Bagi pihak pemberi pelayanan
diharapkan tidak hanya sekedar memberikan pelayanan kesehatan saja, tetapi juga bisa
membangkitkan peran serta aktif masyarakat untuk berperan dalam pembangunan kesehatan. dan
sebaliknya bagi masyarakat, dalam proses pelayanan dan pembangunan kesehatan harus
menyadari bahwa perannya sangatlah penting, tidak hanya sebagai subyek, tetapi sebagai obyek.
Sehingga peranserta masyarakat dalam pembangunan kesehatan sangatlah diharapkan.
Melibatkan masyarakat dalam pelayanan kesehatan untuk memelihara dan meningkatkan
kesehatannya sendiri. Bentuk pemberdayaan masyarakat yaitu LSM yang peduli terhadap
kesehatan baik dalam bentuk pelayanan maupun bantuan teknis (pelatihan-pelatihan) sampai
upaya swadaya masyarakat sendiri.
Contoh : semakin banyaknya upaya-upaya kesehatan yang bersumberdaya masyarakat (UKBM),
seperti posyandu, UKGMD, Saka bhakti Husada, poskestren, dll.
d) Gerakan Masyarakat(Community Action)
Derajat kesehatan masyarakat akan efektif apabila unsur-unsur yang ada di masyarakat
tersebut bergerak bersama-sama. Dari kutipan piagam Ottawa, dinyatakan bahwa: Promosi
Kesehatan adalah upaya yang dilakukan terhadap masyarakat sehingga mereka mau dan mampu
untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan sendiri.
Adanya gerakan ini dimaksudkan untuk menunjukan bahwa kesehatan tidak hanya milik
pemerintah, tetapi juga milik masyarakat. Untuk dapat menciptakan gerakan kearah hidup sehata,
masyarakat perlu dibekali dengan pengetahuan dan ketrampilan. selain itu masyarakat perlu
diberdayakan agar mampu berperilaku hidup sehat. Kewajiban dalam upaya meningkatkan
kesehatan sebagai usaha untuk mewujudkan derajat setinggi-tingginya, teranyata bukanlah
semata-mata menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan. Masyarakat justru yang berkewajiban

dan berperan dalam mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Hal ini sesuai yang tertuang
dalam Pasal 9 , UU N0. 36 tahun 2009 Tentang kesehatan, yang berbunyi :
Setiap orang berkewajiban ikut mewujudkan, mempertahankan, dan meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.
Untuk Memerkuat kegiatan-kegiatan komunitas (strengthen community actions) promosi
kesehatan bekerja melalui kegiatan komunitas yang konkret dan efisien dalam mengatur
prioritas, membuat keputusan, merencanakan strategi dan melaksanakannya untuk mencapai
kesehatan yang lebih baik. Inti dari proses ini adalah memberdayakan komunitas -kepemilikan
mereka dan kontrol akan usaha dan nasib mereka. Pengembangan komunitas menekankan
pengadaan sumber daya manusia dan material dalam komunitas untuk mengembangkan
kemandirian dan dukungan sosial, dan untuk mengembangkan sistem yang fleksibel untuk
memerkuat partisipasi publik dalam masalah kesehatan. Hal ini memerlukan akses yang penuh
serta terus menerus akan informasi, memelajari kesempatan untuk kesehatan, sebagaimana
penggalangan dukungan. Gerakan Masyarakat merupakan suatu partisifasi masyarakat yang
menunjang kesehatan. Contoh adanya gerakan 3 M dalam program pemberantasn DBD, gerakan
jumat bersih, perlu diketahuai di negeri tetangga malaysia ada gerakan jalan seribu langkah (hal
ini bisa kita contoh), bahkan untuk mengukurnya disana sudah dijual alat semacam speedometer.
e) Keterampilan Individu (Personal Skill)
Kesehatan masyarakat adalah kesehatan agregat yang terdiri dari kelompok, keluarga dan
individu- individu. Meningkatnya keterampilan setiap anggota masyarakat agar mampu
memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri ( personal skill) sangat penting. Dalam
mewujudkan kesehatan masyarakat secara keseluruhan, ketrampilan individu mutlak diperlukan.
Dengan harapan semakin banyak individu yang terampil akan pelihara diri dalam bidang
kesehatan, maka akan memberikan cerminan bahwa dalam kelompok dan masyarakat tersebut
semuanya dalam keadaan yang sehat. ketrampilan individu sangatlah diharapkan dalam
mewujudkan keadaan masyarakat yang sehat. Sebagai dasar untuk terapil tentunya individu dan
masyarakat perlu dibekali dengan berbagai pengetahuan mengenai kesehatan, selain itu
masyarakata juga perlu dilatih mengenai cara-cara dan pola-pola hidup sehat.

Masing-masing individu seyogyanya mempunyai pengetahuan dan kemampuan yang baik


terhadap :
-cara cara memelihara kesehatannya
-mengenal penyakit2 dan penyebabnya
-mampu mencegah penyakit
-mampu meningkatkan kesehatannya
-mampu mencari pengobatan yang layak bilamana sakit
Promosi kesehatan mendukung pengembangan personal dan sosial melalui penyediaan
informasi, pendidikan kesehatan, dan pengembangan keterampilan hidup. Dengan demikian, hal
ini meningkatkan pilihan yang tersedia bagi masyarakat untuk melatih dalam mengontrol
kesehatan dan lingkungan mereka, dan untuk membuat pilihan yang kondusif bagi kesehatan.
Memungkinkan masyarakat untuk belajar melalui kehidupan dalam menyiapkan diri mereka
untuk semua tingkatannya dan untuk menangani penyakit dan kecelakaan sangatlah penting. Hal
ini harus difasilitasi dalam sekolah, rumah, tempat kerja, dan semua lingkungan komunitas.
Keterampilan Individu adalah kemapuan petugas dalam menyampaikan informasi kesehatan dan
kemampuan dalam mencontohkan (mendemostrrasikan). Contoh : melalui penyuluhan secra
indicidu atau kelompok seperti di Posyandu, PKK. Adanya pelatihan kader kesehatan, pelatihan
dokter kecil, pelatihan guru UKS, dll.

BAB II
PEMBAHASAN
Strategi Promosi Kesehatan Menurut Piagam Ottawa

Konferensi Internasional Promosi Kesehatan di Ottawa Canada pada tahun 1986


menghasilkan piagam Otawa (Ottawa Charter). Di dalam piagam Ottawa tersebut dirumuskan
pula strategi baru promosi kesehatan, yang mencakup 5 butir, yaitu:
a.

Kebijakan Berwawasan Kebijakan (Health Public Policy)

Suatu strategi promosi kesehatan yang di tujukan kepada para penentu atau pembuat
kebijakan, agar mereka mengeluarkan kebijakan-kebijakan publik yang mendukung atau
menguntungkan kesehatan.
Dengan perkataan lain, agar kebijakan- kebijakan dalam bentuk peraturan,
perundangan, surat-surat keputusab dan sebagainya, selalu berwawasan atau berorientasi kepada
kesahatan publik. Misalnya, ada peraturan atau undang-undang yang mengatur adanya analisis
dampak lingkingan untuk mendirikan pabrik, perusahaan, rumah sakit, dan sebagainya. Dengan
katalain, setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh pejabat publik, harus memperhatikan
dampaknya terhadap lingkungan (kesehatan masyarakat).
Misalnya, orang yang mendirikan pabrik/ industri, sebelumnya harus dilakukan
analisis dampak lingkungan agar tidak tercemar dan tidak berdampak kepada masyarakat. Dalam
proses pembangunan adakalanya aspek kesehetan sering diabaikan, oleh karena itu adanya
kebijakan yang berwawasan kesehatan, diharapkan bisa mengedepankan proses pembangunan
dengan tetap memperhatikan aspek-aspek kesehatan. Kegiatan ini ditujukan kepada para
pengambil kebijakan ( policy makers) atau pembuat keputusan (decision makers) baik di institusi
pemerintah maupun swasta. Sebagai contoh ; adanya perencanaan pembangunan PLTN di daerah
jepara, para

penagmbil kebijakan

dan pembuat keputusan

harus

benar-benar bisa

memperhitungkan untung ruginya. harus diperhatikan kemungkinan dampak radiasi yang akan
ditimbulkan, serta kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa berdampak pada kesehatan.
b.

Lingkungan yang mendukung (Supportive Environment)


Strategi ini ditujukan kepada para pengelola tempat umum, termasuk pemerintah kota,
agar mereka menyediakan sarana-prasarana atau fasilitas yang mendukung terciptanya perilaku
sehat bagi masyarakat, atau sekurang-kurangnya pengunjung tempat-tempat umum tersebut.
Lingkungan yang mendukung kesehatan bagi tempat-tempat umum antara lain: tersedianya
tempat sampah, tersedianya tempat buang air besar/kecil, tersedianya air bersih, tersedianya
ruangan bagi para perokok dan non-perokok dan sebagainya.
Contoh : perlunya jalur hijau didaerah perkotaan, yang akhir-akhir ini sering diabaikan
pemanfaatannya oleh oknum-oknum tertentu. perlunya perlindungan diri pada kelompok
terpapar pencemaran udara , seperti penggunaan masker pada penjaga loket jalan tol, petugas
polantas, dsb.

c.

Reorientasi Pelayanan Kesehatan (Reorient Health Service)

Sudah menjadi pemahaman masyarakat pada umumnya bahwa dalam pelayanan kesehatan
itu ada provider dan consumer. Penyelenggara (penyedia) pelayanan kesehatan adalah
pemerintah dan swasta, dan masyarakat adalah sebagai pemakai atau pengguna pelayanan
kesehatan. Pemahaman semacam ini harus diubah dan harus diorientasi lagi, bahwa masyarakat
bukan sekedar pengguna atau penerima pelayanan kesehatan, tetapi sekaligus juga sebagai
penyelenggara, dalam batas-batas tertentu. Realisasi dari reorientasi pelayanan kesehatan ini,
adalah para penyelenggara pelayanan kesehatan baik pemerintrah maupun swasta harus
melibatkan diri, bahkan memberdayakan masyarakat agar mereka juga dapat berperan bukan
hanya sebagai penerima pelayanan kesehatan, tetapi juga sekaligus sebagai penyelenggara
pelayanan kesehatan. Dalam meorientasikan pelayanan kesehatan ini peran promosi kesehatan
sangat penting.
Adanya kesalahan persepsi mengenai pelayanan kesehatan, tanggung jawab pelayanan
kesehatan kadang hanya untuk pemberi pelayanan (health provider ), tetapi pelayanan
kesehatan juga merupakan tanggung jawab bersama antara pemberi pelayanan kesehatan
( health provider ) dan pihak yang mendapatkan pelayanan. Bagi pihak pemberi pelayanan
diharapkan tidak hanya sekedar memberikan pelayanan kesehatan saja, tetapi juga bisa
membangkitkan peran serta aktif masyarakat untuk berperan dalam pembangunan kesehatan. dan
sebaliknya bagi masyarakat, dalam proses pelayanan dan pembangunan kesehatan harus
menyadari bahwa perannya sangatlah penting, tidak hanya sebagai subyek, tetapi sebagai obyek.
Sehingga peranserta masyarakat dalam pembangunan kesehatan sangatlah diharapkan.
Melibatkan masyarakat dalam pelayanan kesehatan untuk memelihara dan meningkatkan
kesehatannya sendiri.
Bentuk pemberdayaan masyarakat yaitu LSM yang peduli terhadap kesehatan baik dalam
bentuk pelayanan maupun bantuan teknis (pelatihan-pelatihan) sampai upaya swadaya
masyarakat sendiri. Contoh : semakin banyaknya upaya-upaya kesehatan yang bersumberdaya
masyarakat (UKBM), seperti posyandu, UKGMD, Saka bhakti Husada, poskestren, dll.
d.

Keterampilan Individu (Personnal Skill)


Kesehatan masyarakat adalah kesehatan agregat yang terdiri dari individu, keluarga, dan
kelompok-kelompok. Oleh sebab itu, kesehatan masyarakat akan terwujud apabila kesehatan
indivu-individu, keluarga-keluarga dan kelompok- kelompok tersebut terwujud. Strategi untuk
mewujudkan keterampilan individu-individu (personnels kill) dalam memelihara dan

meningkatkan kesehatan adalah sangat penting. Langkah awal dari peningkatan keterampilan
dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka ini adalah memberikan pemahamanpemahaman kepada anggota masyarakat tentang cara-cara memelihara kesehatan, mencegah
penyakit, mengenal penyakit, mencari pengobatan ke fasilitas kesehatan profesional,
meningkatkan kesehatan, dan sebagainya. Metode dan teknik pemberian pemahaman ini lebih
bersifat individual daripada massa.
Dalam mewujudkan kesehatan masyarakat secara keseluruhan, ketrampilan individu
mutlak diperlukan. Dengan harapan semakin banyak individu yang terampil akan pelihara diri
dalam bidang kesehatan, maka akan memberikan cerminan bahwa dalam kelompok dan
masyarakat tersebut semuanya dalam keadaan yang sehat. ketrampilan individu sangatlah
diharapkan dalam mewujudkan keadaan masyarakat yang sehat. Sebagai dasar untuk terapil
tentunya individu dan masyarakat perlu dibekali dengan berbagai pengetahuan mengenai
kesehatan, selain itu masyarakata juga perlu dilatih mengenai cara-cara dan pola-pola hidup
sehat.
Masing-masing individu seyogyanya mempunyai pengetahuan dan kemampuan yang baik
terhadap :

cara cara memelihara kesehatannya


mengenal penyakit2 dan penyebabnya
mampu mencegah penyakit
mampu meningkatkan kesehatannya
mampu mencari pengobatan yang layak bilamana sakit
Promosi kesehatan mendukung pengembangan personal dan sosial melalui penyediaan
informasi, pendidikan kesehatan, dan pengembangan keterampilan hidup. Dengan demikian, hal
ini meningkatkan pilihan yang tersedia bagi masyarakat untuk melatih dalam mengontrol
kesehatan dan lingkungan mereka, dan untuk membuat pilihan yang kondusif bagi kesehatan.
Memungkinkan masyarakat untuk belajar melalui kehidupan dalam menyiapkan diri mereka
untuk semua tingkatannya dan untuk menangani penyakit dan kecelakaan sangatlah penting. Hal
ini harus difasilitasi dalam sekolah, rumah, tempat kerja, dan semua lingkungan komunitas.
Keterampilan Individu adalah kemapuan petugas dalam menyampaikan informasi kesehatan dan
kemampuan dalam mencontohkan (mendemostrrasikan). Contoh : melalui penyuluhan secra

indicidu atau kelompok seperti di Posyandu, PKK. Adanya pelatihan kader kesehatan, pelatihan
dokter kecil, pelatihan guru UKS, dll.
e.

Gerakan masyarakat (Community Action)


Untuk mendukung perwujudan masyarakat yang mau dan mampu memelihara dan
meningkatkan kesehatannya seperti tersebut dalam visi promosi kesehatan ini, maka di dalam
masyarakat itu sendiri harus ada gerakan atau kegiatan-kegiatan untuk kesehatan. Oleh karenaitu,
promosi kesehatan harus mendorong dan memacu kegiatan-kegiatan di masyarakat dalam
mewujudkan kesehatan mereka. Tanpa adanya kegiatan masyarakat di bidang kesehatan, maka
akan terwujud perilaku yang kondusif untuk kesehatan atau masyarakat yang mau dan mampu
memelihara serta meningkatkan kesehatan mereka.
Derajat kesehatan masyarakat akan efektif apabila unsur-unsur yang ada di masyarakat
tersebut bergerak bersama-sama. Dari kutipan piagam Ottawa, dinyatakan bahwa: Promosi
Kesehatan adalah upaya yang dilakukan terhadap masyarakat sehingga mereka mau dan mampu
untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan sendiri.
Adanya gerakan ini dimaksudkan untuk menunjukan bahwa kesehatan tidak hanya milik
pemerintah, tetapi juga milik masyarakat. Untuk dapat menciptakan gerakan kearah hidup sehata,
masyarakat perlu dibekali dengan pengetahuan dan ketrampilan. selain itu masyarakat perlu
diberdayakan agar mampu berperilaku hidup sehat. Kewajiban dalam upaya meningkatkan
kesehatan sebagai usaha untuk mewujudkan derajat setinggi-tingginya, teranyata bukanlah
semata-mata menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan. Masyarakat justru yang berkewajiban
dan berperan dalam mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Hal ini sesuai yang tertuang
dalam Pasal 9 , UU N0. 36 tahun 2009 Tentang kesehatan, yang berbunyi :
Setiap orang berkewajiban ikut mewujudkan, mempertahankan, dan meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.
Untuk Memerkuat kegiatan-kegiatan komunitas (strengthen community actions) promosi
kesehatan bekerja melalui kegiatan komunitas yang konkret dan efisien dalam mengatur
prioritas, membuat keputusan, merencanakan strategi dan melaksanakannya untuk mencapai
kesehatan yang lebih baik. Inti dari proses ini adalah memberdayakan komunitas -kepemilikan
mereka dan kontrol akan usaha dan nasib mereka. Pengembangan komunitas menekankan
pengadaan sumber daya manusia dan material dalam komunitas untuk mengembangkan
kemandirian dan dukungan sosial, dan untuk mengembangkan sistem yang fleksibel untuk

memerkuat partisipasi publik dalam masalah kesehatan. Hal ini memerlukan akses yang penuh
serta terus menerus akan informasi, memelajari kesempatan untuk kesehatan, sebagaimana
penggalangan dukungan. Gerakan Masyarakat merupakan suatu partisifasi masyarakat yang
menunjang kesehatan. Contoh adanya gerakan 3 M dalam program pemberantasn DBD, gerakan
jumat bersih, perlu diketahuai di negeri tetangga malaysia ada gerakan jalan seribu langkah (hal
ini bisa kita contoh), bahkan untuk mengukurnya disana sudah dijual alat semacam speedometer.

Dalam piagam Ottawa tersebut juga mencantumkan ada 9 (sembilan) faktor sebagai
prasyarat untuk kesehatan, yaitu:
1.

Perdamaian/keamanan.

2.

Tempat tinggal.

3.

Pendidikan.

4.

Makanan.

5.

Pendapatan.

6.

Ekosistem yang stabil dan seimbang.

7.

Sumber daya yang berkesinambungan.

8.

Keadilan sosial.

9.

Pemerataan.