Anda di halaman 1dari 16

TUGAS INDIVIDU

IMMUNOLOGI IKAN

IMMUNOSTIMULAN PADA IKAN DAN


UDANG

OLEH :

REZKY NURHIDAYAH
L 221 14 312

PROGRAM STUDY BUDIDAYA PERAIRAN


JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR

2016
A. Prinsip Dasar Kekebalan
Sistem kekebalan pada ikan terbagi atas sistem pertahanan non spesifik dan
spesifik. Proses pertahanan tubuh yang sederhana ditampilkan oleh organisme
sebagai bentuk pertahanan dengan mengandalkan struktur fisik, kerja mekanik
alat pertahanan dan pengeluaran substansi kimiawi yang sangat sederhana. Pada
ikan, fagositosis adalah bentuk respon pertahan tubuh yang paling sederhana,
namun sangat penting, sebagai wujud sistem petahanan non spesifik. Ketika ikan
mengalami infeksi mikroba patogen, mekanisme kekebalan non-spesifik akan
bekerja untuk menghentikan proses infeksi tersebut. Jika mekanisme tersebut
tidak bekerja efektif, maka infeksi akan berlanjut dan mampu menimbulkan gejala
klinis penyakit. Pada saat itu respon kekebalan spesifik akan mulai terjadi dan jika
ikan mampu bertahan hidup maka akan terbentuk antibodi spesifik terhadap agen
infeksi pada level titer protektif dan terbentuk pula sel-sel memori. Jika terjadi
reinfeksi oleh agen penyakit sejenis, maka ikan tersebut akan kebal, mampu
menahan infeksi karena respon kekebalan sekunder akan terjadi, sebagai efek
booster.
Mekanisme kekebalan non-spesifik juga dikenal sebagai kekebalan alamiah
(innate immunity), merupakan mekanisme pertahanan inang yang responnya tidak
bergantung pada frekuensi kontak terhadap antigen tertentu. Berbeda dengan
respon kekebalan spesifik (humoral mediated immunity maupun cellular mediated
immunity) yang responnya sangat tergantung pada frekuensi kontak induk semang
dengan antigen tertentu sebelumnya (sering pula disebut adaptive immunity).
Meskipun demikian, beberapa fungsi dari sistem kekebalan non-spesifik juga

terlibat dalam sistem kekebalan spesifik. Sistem pertahanan pada ikan akan
terbentuk sempurna saat ikan telah dewasa. Pada benih ikan sistem kekebalan
tubuh sudah terbentuk tetapi belum berfungsi optimal sehingga kurang efisien
dalam menahan nfeksi patogen. Pada tahap ini, ikan rentan terhadap penyakit.
Sistem pertahanan non spesifik merupakan pertahanan tubuh yang terdepan ketika
menghadapi paparan patogen karena memberikan respon langsung terhadap
antigen. Sistem pertahanan tubuh non spesifik terdiri dari kulit dan selaput
mukosa. Sistem pertahanan tubuh spesifik adalah sistem kekebalan tubuh khusus
yang membuat limfosit peka untuk segera menyerang patogen tertentu.
Ikan bertulang belakang secara umum memiliki sistem pertahanan berupa
sel-T, sel-B dan immunoglobulin-like. Sedangkan ikan bertulang rawan
mempunyai imunoglobulin, sel-T, sel plasma dan IgM. Amphibia memiliki sel-T,
IgG, IgM dan nodulus limfatikus, sedangkan reptilia memiliki sel-T, IgG, dan
IgM.
B. Sistem kekebalan non-spesifik
Kekebalan non-spesifik adalah suatu sistem pertahanan tubuh yang
berfungsi untuk melawan segala jenis patogen yang menyerang dan bersifat alami.
Kekebalan non-spesifik merupakan imunitas bawaan (innate immunity),yaitu
respon perlawanan terhadap zat asing yang dapat terjadi walaupun tubuh
sebelumnya tidak pernah terpapar oleh zat tersebut.
Sistem kekebalan non-spesifik mencakup pertahanan pertama dan
pertahanan kedua. Pertahanan pertama yaitu pertahanan fisik meliputi, sisik, kulit,
dan

mukus.

Mukus

memiliki

kemampuan

menghambat

kolonisasi

mikroorganisma pada kulit, insang dan mukosa. Mukus ikan mengandung


imunoglobulin (IgM) alami dan bukan sebagai respon dari pemaparan antigen.
Imunoglobulin merupakan antibodi yang dapat menghancurkan patogen yang
menyerang tubuh. Adapun sisik dan kulit berperan dalam melindungi ikan dari
kemungkinan luka dan sangat penting peranannya dalam mengendalikan
osmolaritas tubuh. Kerusakan pada sisik atau kulit dapat mempermudah patogen
menginfeksi inang.
Sel-sel fagosit menghancurkan antigen melalui tiga tahap, yaitu pelekatan,
fagosit dan pencernaan. Proses fagosit sendiri dapat terjadi apabila sel-sel fagosit
berada dalam jarak dekat dengan antigen, atau antigen tersebut harus melekat
pada permukaan sel fagosit. Sel makrofag dan netrofil juga masih memiliki
kemampuan untuk melakukan mekanisme pertahanan non-spesifik melalui proses
chemotaksis dan pinocytosis. Chemotaksis adalah proses dimana sel fagosit
dipancing oleh berbagai jenis molekul untuk melakukan migrasi ke lokasi
terjadinya inflamasi, kerusakan jaringan atau reaksi antigen-antibodi (immune
reactions). Fenomena ini ditandai oleh proses pembukaan membran sel
membentuk lubang (vakuola) kecil melalui proses endocytosis.
C. Sistem kekebalan spesifik pada ikan
Ada beberapa substansi sel dan organ yang berperan dalam sistem
pertahanan tubuh suatu organisme. Elemen-elemen tersebut sering disebut dengan
sistem kekebalan (immune system). Organ yang termasuk dalam sistem kekebalan
adalah sistem Reticulo Endothelial, limfosit, plasmosit, dan fraksi serum protein
tertentu.

Sel yang berperan dalam sistem tanggap kebal terdiri dari dua jenis sel
limfosit yaitu limfosit-B dan limfosit-T. Aktivitas yang pasti dari sel-T pada ikan
belum banyak diketahui tapi yang jelas peran utamanya adalah dalam sitem
kekebalan seluler dan biasanya disebut dengan imun perantara sel (cell mediated
immunity). Sel-B berperan dalam produksi imunoglobulin melalui rangsangan
antigen tertentu dan imunoglobulin diproduksi oleh sel tertentu pada limpa dan
mungkin juga pada organ hati.
Faktor-faktor yang berperan pada sistem kekebalan pada tubuh ikan
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi respon kekebalan tubuh pada ikan
antara lain: suhu, kondisi stress, keseimbangan nutrisi, pollutan, mikro-nutrien,
dan unsur-unsur immunomodulator. Pada gambar tersebut sangat jelas bahwa
kekebalan tubuh sangat beragam, dan beberapa diantaranya bersifat alamiah
sehingga relatif sulit untuk dikendalikan.
1. Suhu
Ikan merupakan hewan poikilotermik. Proses fisiologi yang terjadi dalam
tubuh ikan sangat dipengaruhi oleh suhu lingkungannya. Sebagian besar
mekanisme pertahanan tubuh adalah sangat bergantung pada suhu (temperaturedependent), dan berkembang lebih cepat pada suhu lingkungan yang optimal
untuk organsime bersangkutan. Suhu rendah diketahui sebagai faktor pembatas
dalam proses metabolisme organisme, termasuk proses induksi kekebalan tubuh.
Namun demikian, suhu yang terlalu tinggi juga dapat menekan fungsi kekebalan
tubuh. Proses reaksi antigen-antibodi yang dimulai dengan cellular co-operation

antara sel makrofag dengan sel limfosit adalah sangat dipengaruhi oleh suhu
(temperature-sensitive). Fungsi normal sel limfosit ikan sangat tergantung pada
adaptasi homoviscous dari kondisi lipid membrane sel. Komposisi asam lemak
dan suhu lingkungan merupakan faktor yang akan sangat berpengaruh terhadap
fluidity dan permeabilitas membrane sel, dan juga terhadap aktivitas antara
membrane-associated receptors dengan enzyme. Beberapa hasil kajian juga telah
membuktikan bahwa respon kekebalan tubuh (CMI dan humoral) ikan
berlangsung relative lambat pada suhu rendah.
2. Kondisi stress
Stress sangat berpengaruh terhadap status kesehatan ikan. Stress dapat
disebabkan oleh faktor biologis, kimiawi maupun fisik. Respon stress akan diikuti
dengan penurunan kadar limfosit dalam darah, dan juga di dalam organ-organ
limfoid.
Beberapa respon (stress alarms) yang terjadi apabila ikan mengalami
tekanan: (1). Peningkatan gula darah akibat sekresi hormon dari kelenjar
adrenalin. Persediaan gula, seperti glycogen dalam hati dimetabolisme sebagai
persediaan energi untuk emergensi. (2).Osmoregulasi kacau akibat perubahan
metabolisme mineral. Pada kondisi tersebut, ikan air tawar cenderung
mengabsorbsi air dari lingkungan (over-hydrate). Ikan air laut cenderung
kehilangan air dari dalam tubuh (dehydrate). Kondisi ini perlu energi ekstra untuk
memelihara keseimbangan osmoregulasi. (3). Pernafasan meningkat, tensi darah
meningkat, dan persediaan sel darah merah direlease ke sistem resirkulasi, dan

(4). Respon inflamasi ditekan oleh hormon yang dikeluarkan dari kelenjar
adrenalin.

3. Polutan dan logam berat


Unsur-unsur polutan dan logam berat diketahui memiliki potensi yang besar
terhadap sistem kekebalan tubuh, dengan akibat yang sangat variatif tergantung
pada jenis (kualitas) dan kuantitas dari polutan atau logam berat tersebut. Obatobatan atau bahan kimia/antibiotik juga dapat berperan sebagai unsur
immunosupressive.
Jenis bahan kimia tertentu (pestisida, insektisida, pollutan limbah industri,
limbah rumah tangga, dll.) dapat menyebabkan ikan sakit dengan berbagai
kondisi. Kolam-kolam ikan di daerah dataran rendah, umumnya memperoleh
sumber air dari aliran sungai yang melewati daerah pemukiman, daerah industri
atau pertanian. Sebelum masuk ke kolam budidaya, air tersebut membawa segala
limbah eksternal yang terkandung di dalamnya. Limbah tersebut dapat berupa
padatan terlarut hasil pengikisan/erosi tanah permukaan akibat pengelolaan lahan
yang kurang baik atau unsur-unsur kimia yang berbahaya bagi kehidupan ikan,
terutama logam berat.
Logam berat yang cukup berbahaya bagi kehidupan ikan karena sifat
toksisitasnya, berturut-turut antara lain meliputi: Hg, Cd, Cu, Zn, Ni, Pb, Cr, Al
dan Co. Sifat racun dari masing-masing logam berat tersebut dapat meningkat
apabila komposisi ion-ion di dalam air terdiri dari jenis-jenis ion yang sinergetik,
dan sebaliknya melemah apabila kandungan ion-ion tersebut bersifat antagonistik.

Nilai pH air juga berpengaruh pada tingkat kelarutan ion-ion logam, umumnya
tingkat kelarutan dan aktivitas ion logam akan meningkat pada pH air yang
rendah. Sebagai gambaran, pengaruh unsur Hg terhadap ikan dapat meracuni
sistem syaraf ikan; dan unsur Cd bersifat cyto-toksikan terhadap jaringan insang
ikan.
Kontaminasi ringan unsur logam berat di lingkungan perairan akan
dideposit oleh ikan-ikan induk kemudian dikonsentrasikan dalam minyak yang
tersimpan dalam telur-telur mereka. Kontaminasi demikian pada akhirnya akan
mematikan telur-telur tersebut pada saat berkembang sebelum menjadi larva, dan
lain-lain.
4. Keseimbangan nutrisi
Kecukupan pakan (kualitas dan kuantitas) sesuai dengan kebutuhan optimal
ikan sangat berpengaruh terhadap sistem kekebalan tubuh ikan. Kondisi ini juga
sangat nyata terhadap optimalisasi pertumbuhan serta menjamin kualitas pangan
asal ikan bagi kebutuhan konsumsi manusia.
5. Mikro nutrien
Anti oksidan seperti vitamin C dan E vitamin E (a-tocopherol) dan unsur
imunostimulan lainnya seperti Glukan, Lipopolisakarida, dll.; dimana materi
biologis tersebut telah terbukti dapat meningkatkan daya tahan tubuh ikan
terutama

sistem

pertahanan

non-spesifik(cellular

immunity).Unsur-unsur

imunostimulan tersebut telah terbukti sangat potensial sebagai unsur yang


memiliki pengaruh sangat baik (immunomodulatory) terhadap sistem kekebalan
tubuh ikan apabila diberikan pada dosis yang tepat dan berkelanjutan. Kandungan

unsur karotin dalam diet pakan ikan juga menunjukkan pengaruh yang baik
terhadap status kesehatan ikan, terutama ikan-ikan berpigmen.
6. Immunomodulators
Adjuvant merupakan unsur yang apabila dicampur dengan antigen untuk
keperluan vaksinasi akan meningkatkan efektivitas vaksin (meningkatkan level
respon kekebalan spesifik), dan juga dapat melipatgandakan produksi sel-sel
fungsional yang berperan dalam sistem kekebalan non-spesifik. Umumnya unsur
adjuvant berperan sebagai materi yang dapat memperlambat proses pelepasan
antigen, sehingga antigen akan kontak lebih lama dengan sel makrofag dan
limfosit; sehingga akan meningkatkan kualitas respon kekebalan spesifik
(antibodi) yang dihasilkannya. Prinsip pemberian unsur adjuvan ke dalam vaksin
adalah untuk tujuan tersebut.
Seperti

halnya

mikro-nutrient,

beberapa

unsur

yang

bersifat

immunostimulator seperti vitamin C dan E vitamin E (a-tocopherol) dan unsur


imunostimulan lainnya seperti Glukan, Lipopolisakarida, muramil peptida,
lipopolisakarida, dll. juga telah terbukti sangat bermanfaat sebagai unsur
imunomodulator; terutama sistem pertahanan non-spesifik.

MEKANISME IMUN PADA UDANG


Udang mempunyai daya tahan alami yang bersifat non spesifik terhadap
organisme patogen berupa pertahanan fisik (mekanik), kimia, seluler dan humoral.
Daya tahan alami ini dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan, sehingga
terdapat tingkatan yang berbeda-beda tergantung strain, lingkungan pemeliharaan,
spesies maupun famili (Bellanti, 1989 dalam Ridlo A, Pramesti R, 2009).
Sistem pertahanan pada udang masih sangat primitif dan tidak memiliki sel
memori, tidak sama halnya dengan hewan vertebrata lainnya yang sudah
mempunyai antibodi spesifik dan komplemen. Sistem kekebalan tubuh pada
udang tidak mempunyai immunoglobulin yang berperan dalam mekanisme
kekebalan, udang hanya mempunyai sistem kekebalan alami.
Sistem imun udang tergantung pada proses pertahanan non spesifik sebagai
pertahanan terhadap infeksi (Lee et al., 2004). Pertahanan pertama terhadap
penyakit pada udang dilakukan oleh hemosit melalui fagositosis, enkapsulasi dan
nodule formation. Aktifitas fagositosis dapat ditingkatkan dengan mengaktifkan
sistem prophenol oksidase (Pro-PO) yang berada dalam hemosit semigranular dan
granular (Selvin et al., 2004 dalam Ridlo A, Pramesti R, 2009).
Sel hemosit pada udang berperan dalam berbagai hal yang berkaitan dengan
pertahanan tubuh, meliputi:

Fagositosis

Proses koagulasi dan pelepasan Prophenoloksidase

Sintesis 2 macroglobulin, agglutinin dan antibacterial peptide

Haemogram, yang meliputi :

a.

Total Haemocyte Count (THC)

b.

Differential Haemocyte Count (DHC)

Hemosit udang yang berperan untuk sistim kekebalan tubuh, dibedakan


menjadi tiga yaitu, sel hyaline, semigranular dan granular, yang terdiri dari sistem
pertahanan seluler serta sistem pertahanan tubuh hormonal. Hemosit merupakan
faktor pertahanan seluler dan humoral yang penting sebagai pertahanan tubuh
melawan serangan organisme patogen yang dimiliki udang.
Biasanya sel hemosit memiliki hubungan yang erat dengan lingkungan,
dimana jika udang hidup didaerah yang buruk maka aktivitas hemositnya akan
meningkat dan sebaliknya, jika udang hidup pada kondisi lingkungan yang normal
maka aktivitas hemositnya akan normal juga.
Respon seluler atau pertahanan seluler pada sel hemosit yakni pertama,
hemosit mengeluarkan partikel asing dalam hemocoel melalui fagositosis,
enkapsulasi

dan

aggregasi nodular. Kedua, hemosit berperan

dalam

penyembuhan luka melalui cellular clumping serta membawa dan melepaskan


prophenoloxidase system (proPO). Hemosit juga berperan dalam sintesa dan
pelepasan molekul penting hemolim seperti

2-macroglubulin (2M),

agglutinin, dan peptida antibakteri. Sel hyalin merupakan tipe sel yang paling
kecil dengan ratio nukleus sitoplasma tinggi dan tanpa atau hanya sedikit granula
sitoplasma; sel granular merupakan tipe sel paling besar dengan nukleus yang
lebih kecil dan terbungkus dengan granula sel semi granular merupakan tipe sel
diantara hyalin dan granular. Masing-masing tipe sel aktif dalam

reaksi

kekebalan tubuh, sebagai contoh, sel hyalin terlibat dalam fagositosis, sel semi
granular aktif dalam enkapsulasi, sel granular aktif dalam penyimpanan dan
pelepasan proPO system dan sitotoksisiti.
Selain itu, respon seluler juga terjadi pada sistem pertahanan tubuh pada
udang adalah fagositosis. Proses fagositosis dimulai

dengan perlekatan

(attachment) dan penelanan (ingestion) partikel mikroba ke dalam sel fagosit. Sel
fagosit

kemudian membentuk vacuola pencernaan (digestive vacuola) yang

disebut fagosom. Lisosom (granula dalam sitoplasma fagosit) kemudian menyatu


dengan

fagosom

membentuk

fagolisosom.

Mikroorganisme

selanjutnya

dihancurkan dan debris mikroba dikeluarkan dari dalam sel melalui proses
egestion (Gambar 1).

Pemusnahan partikel mikroba yang difagosit melibatkan

pelepasan enzim ke dalam fagosom dan produksi ROI (reactive oxygen


intermediate) yang kini disebut respiratory burst.
Hemosit berfungsi dalam enkapsulasi. Hal ini, terjadi pada organisme yang
memiliki tubuh terlalu besar untuk fagositosis. Pada saat hemosit mengelilingi
tubuh benda asing yang besar, bagian sel terluar dari hemosit tetap berbentuk oval
atau bulat sedangkan bagian tengah sel menjadi datar dan pada fase berikutnya
dilisis membentuk kapsul tebal berwarna coklat dan keras. Kapsul tersebut tidak
diserap kembali dan tetap sebagai tanda enkapsulasi meskipun sudah tidak ada

hemosit yang dikenal disitu. Hemosit juga berfungsi dalam formasi melanin pada
fase akhir penyembuhan atau perbaikan luka. Enzim yang terlibat dalam formasi
melanin adalah phenoloxidase (PO) dan telah ditemukan terdapat dalam hemolim
dan kulit arthropoda .

Gambar 1. Proses fagositosis


Sumber:http://www.cliffsnotes.com/WileyCDA/CliffsReviewTopic/Phagocytosis.
Selain peroses selular, pertahanan tubuh pada udang juga terjadi proses
hormonal, proses imun pertama pada udang adalah pengenalan mikroorganisme
penyerang yang dimediasi oleh hemosit dan plasma

protein. Beberapa tipe

modulator protein telah diketahui dapat mengenal komponen dinding


mikroorganisme

seperti

-1,3-glucan-

binding

protein

sel
(BGBP),

lipopolysaccharide-binding protein (LPS- BP), hemosit receptor yang mengikat

plasmatic glucan-binding protein (PGBP) setelah PGBP bereaksi dengan -1,3glukan;

peptidoglycan

recognition

protein

yang

mampu

mengaktifkan

phenoloxidase.
Enzim phenoloxidase (PO) terdapat dalam hemolim sebagai inactive proenzyme yang disebut proPO. Transformasi proPO menjadi
beberapa

PO

melibatkan

reaksi dikenal sebagai proPO activating system (sistem aktivasi

proPO). Sistem ini terutama diaktifkan oleh beta glukan, dinding sel bakteri
dan LPS. Sistem aktivasi proPO dipertimbangkan sebagai bagian dari sistem
imun

yang

mungkin

bertanggung jawab terhadap proses pengenalan benda

asing dalam sistem pertahanan krustase

dan insekta. Sistem proPO dapat

digunakan sebagai marker kesehatan udang dan lingkungan karena perubahan


sistem proPO berkorelasi dengan tahap infeksi dan variasi lingkungan.
Enzim phenoloxidase

(PO) bertanggung jawab terhadap proses

melanisasi pada artropoda. Enzim ini mengkatalis hidroksilasi monophenol dan


oksidasi phenol menjadi quinones yang

diperlukan untuk proses melanisasi

sebagai respon terhadap penyerang asing dan selama proses penyembuhan.


Quinone

selanjutnya diubah melalui suatu reaksi non-enzymatic menjadi

melanin dan sering dideposit pada benda yang dienkapsulasi, dalam nodul
hemosit, dan pada daerah kulit

yang terinfeksi jamur. Produksi reactive oxygen

species seperti superoxide anion dan hydroxyl radical selama pembentukan


quonoid juga memainkan peranan penting sebagai antimikroba. Reaksi biologi
seperti fagositosis, enkapsulasi dan nodulasi juga diaktifkan.

Vaksinasi mungkin dapat meningkatkan aktivitas hemosit, fagositosis


dan aktivitas opsonin. Pada invertebrata yang tidak

memiliki antibodi, lektin

berfungsi sebagai molekul pengenal (recognition molecules) untuk aktivitas


pertahanan seperti agregasi dan opsonisasi. Lektin merupakan suatu set protein
yang secara spesifik mengikat pada molekul gula termasuk glikoprotein dan
glikolipid. Hasil uji coba Namikoshi et al. (2004), menunjukkan bahwa
penggunaan formalin-inactivate WSSV vaksin dapat meningkatkan resistensi P.
japonicus

terhadap WSSV sepuluh hari setelah divaksinasi dengan metoda

vaksinasi intramuskular. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Wittevelt et al.


(2003) juga memperlihatkan bahwa penggunaan WSSV subunit vaksin dapat
meningkatkan resistensi udang windu terhadap
memiliki respon imun spesifik.

WSSV meskipun udang tidak

DAFTAR PUSTAKA
Dr.Ir. Gunanti Mahasri, M.Si. 2010. Sistem Pertahanan Tubuh Udang. [Bahan
Kuliah] Bioteknologi Perikanan Dan Kelautan Fakultas Perikanan
Dan Kelautan Universitas Airlangga
Mahasri G. 2008. Respon imun udang windu (Penaeus Monodon Fabricus) Yang
diimunisasi dengan protein membran imunogenik mp 38 Dari
Zoothamnium penaei. Makalah disampaikan pada Seminar
Nasional Hasil Riset Kelautan danPerikanan, Fakultas Perikanan
dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya, Malang, 08 November
2008. Program Studi Budidaya Perairan, FKH-Unair, Email :
mahasri@unair.ac.id
Manoppo H, Magdalena E.F. Kolopita. 2014. Respon imun krustase. Review
Artikel Budidaya Perairan. Vol. 2 No. 2: 22 26
Putri Famelia Meta, Sarjito, Suminto. 2013. The Effect of Spirulina sp. Addition
to Artificial Diet on the Total Haemocyte Count and Phagocytosis
Activity of White Shrimp (Litopenaeus vannamei). Journal of
Aquaculture Management and Technology Volume 2, Nomor 1,
Tahun 2013, Halaman 102-112 Online di : http://ejournals1.undip.ac.id/index.php/jfpik
Ridlo A, Pramesti R. 2009. Aplikasi Ekstrak Rumput Laut Sebagai Agen
Imunostimulan Sistem Pertahanan Non Spesifik Pada Udang
(Litopennaeus vannamei). Ilmu Kelautan. September 2009. Vol.
14 (3): 133-137
Supriyadi, H.; Taukhiddan G. Moekti. 1997. SistimKekebalan (Imunitas)
padaIkan

Suprapto. 2006. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Sistem Kekebalan dan


Aplikasi Imunostimulan Pada Udang. Bidang Pengembangan
Teknologi Budidaya