Anda di halaman 1dari 17

1

PROPOSAL
ANALISA STABILITAS DINDING PENAHAN TANAH
AKIBAT TEGANGAN HIDROSTATIS
Oleh
Ferdion Absari

1801440963
Dosen :

Ir. Juliastuti, M.T

D1772

FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK SIPIL
UNIVERSITAS BINA NUSANTARA
JAKARTA
2017

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Dinding penahan tanah adalah struktur yang didesain dan dibangun untuk menahan
tekanan lateral (horizontal) tanah ketika terdapat perubahan dalam elevasi tanah yang
melampaui sudut at-rest dalam tanah. Faktor penting dalam mendesain dan membangun
dinding penahan tanah adalah mengusahakan agar dinding penahan tanah tidak bergerak
ataupun tanahnya longsor akibat gaya gravitasi.
Tekanan tanah dan gaya-gaya yang bekerja pada dinding penahan tanah sangat
mempengaruhi stabilitas dinding penahan tanah itu sendiri. (Suryolelono, 1994). Tekanan
tanah lateral di belakang dinding penahan tanah bergantung kepada sudut geser dalam tanah
(phi) dan kohesi (c).
Tekanan lateral meningkat dari atas sampai ke bagian paling bawah pada dinding
penahan tanah. Tekanan lateral ini cukup berbahaya jika tidak di perhitungkan dengan baik,
yang dapat menyebabkan kelongsoran atau gagalnya konstruksi dinding penahan tanah.
Selain tekanan lateral ada juga faktor lain yang dapat menyebabkan ketidakstabilan
pada dinding penahan tanah, yaitu disebabkan oleh air yang berada di belakang dinding
penahan tanah yang tidak terdisipasi secara sempurna oleh sistem drainase. Air ini memiliki
tegangan hidrostatis yang dapat mendorong dinding penahan tanah, sehingga dapat
menyebabkan geser, guling (overturning), dan juga mengurangi daya dukung tanah itu
sendiri. Tegangan hidrostatis dipengaruhi oleh perbedaan muka air tanah yang terdapat di
daerah tersebut.
Oleh karena itu, dari penelitian ini akan diketahui besar pengaruh tegangan hidrostatis
air tanah yang dapat menyebabkan berkurangnya kestabilan dari dinding penahan tanah.

3
1.2

Rumusan Masalah
Dalam perencanaan dan pembuatan dinding penahan tanah harus memenuhi 3 syarat
kestabilan, yaitu: stabil terhadap geser, stabil terhadap guling (overturning), dan daya dukung
dari tanah. Oleh karena itu, ada beberapa faktor yang harus diperhatikan, seperti:
karakteristik tanah (sudut geser dan nilai kohesi), tekanan lateral tanah, tekanan hidrostatis,
dan beban dinamis (contoh: gempa). Tekanan hidrostatis air akan ditinjau untuk menentukan
desain dinding penahan tanah yang sesuai.

1.3

Tujuan dan Manfaat Penelitian


Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mendapatkan besar pengaruh
tegangan hidrostatis yang berasal dari air terhadap konstruksi dinding penahan tanah.
Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah untuk mendesain dinding penahan tanah
yang memiliki kestabilan terhadap geser dan guling akibat tegangan hidrostatis air.

4
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Tinjauan Pustaka
Dinding penahan tanah adalah sebuah struktur yang didesain dan dibangun untuk

menahan tekanan lateral (horisontal) tanah ketika terdapat perubahan dalam elevasi tanah yang
melampaui sudut at-rest dalam tanah. Dinding penahan tanah merupakan suatu struktur yang
direncanakan dan dibangun untuk menahan tekanan tanah lateral yang ditimbulkan oleh tanah
urug atau tanah asli yang labil, sehingga dinding penahan tanah aman terhadap pergeseran,
penggulingan dan keruntuhan kapasitas dukung tanah. Faktor penting dalam mendesain dan
membangun dinding penahan tanah adalah mengusahakan agar dinding penahan tanah tidak
bergerak ataupun tanahnya longsor akibat gaya gravitasi
Fungsi utama dari konstruksi penahan tanah adalah menahan tanah yang berada dibelakangnya
dari bahaya longsor akibat :
1. Benda-benda yang ada atas tanah (perkerasan dan konstruksi jalan, jembatan, kendaraan,
dll);
2. Berat tanah;
3. Berat air (tanah).
Jenis konstruksi dapat dikonstribusikan jenis klasik yang merupakan konstruksi dengan
mengandalkan berat konstruksi untuk melawan gaya-gaya yang bekerja. Berdasarkan cara untuk
mencapai stabilitasnya, makan dinding penahan tanah digolongkan sebagai berikut (Sudarmanto,
1992) :
1. Dinding gravitasi (gravity wall)
Dinding ini biasanya terbuat dari beton tak bertulang atau pasangan batu kali, untuk
mencapai stabilitasnya hanya mengandalakan berat sendiri.
2. Dinding penahan kantilever (kantilever retaining wall)
Dinding ini sering dipakai dan terbuat dari beton bertulang yang memanfaatkan sifat
kantileverya untuk menahan massa tanah yang ada di belakang dinding. Untuk mencapai

5
stabilitas dinding penahan ini mengandalkan berat tanah yang berada di atas tumit (heel).
Yang berfungsi disini adalah 3(tiga) bagian balok konsol yaitu bagian badan (steem),
tumit (heel) dan kaki (foot).
3. Dinding conterfort (counterfort wall)
Apabila tekanan pada tumit cukup besar maka bagian badan dan tumit diperlukan
counterfort yang berfungsi sebagai pengikat dan di tempatkan pada bagian-bagian
interval tertentu, serta berfungsi mengurangi momen lentur dan gaya lintang yang besar
di dalam menahan badan dinding.
4. Dinding butters (butters Wall)
Dinding ini hampir sama dengan dinding counterfort, hanya bagian counterfort diletakan
berlawanan dengan bahan yang di sokong sehingga memikul gaya tekan. Yang di
maksud butters adalah bagian di antara couterfort dan pada dinding ini bagian tumit lebih
pendek dari pada bagian kaki, dan bagian ini pula yang menahan tanah untuk mencapai
stabilitasnya, dinding ini sebagai element tekan lebih efisien dan ekonomis.
5. Abutment jembatan (bridge abutment)
Struktur seperti ini berfungsi sama dengan dinding cantilever yang memberikan tahanan
horizontal pada badan dinding, sehingga pada bagaian perencanaannya di anggap
sebagai balok yang dijepit pada dasar dan di tumpu pada bagian atasnya.
2.2

Tekanan Tanah Lateral


Analisis tekanan tanah lateral digunakan untuk perencanaan dinding penahan tanah.

Tekanan tanah lateral adalah gaya yang ditimbulkan oleh akibat dorongan tanah di belakang
struktur penahan tanah. Besarnya tekanan lateral sangat dipengaruhi oleh perubahan letak
(displacement) dari dinding penahan dan sifat-sifat tanahnya.

Gambar 2.1 Tegangan terhadap dinding


Analisis tekanan tanah lateral ditinjau pada kondisi keseimbangan plastis, yaitu pada saat
masa tanah pada kondisi tepat akan runtuh (Rankine,1857). Kedudukan keseimbangan plastis ini
hanya dapat dicapai bila terjadi diformasi yang cukup pada massa tanahnya. Besar dan distribusi
tekanan tanah adalah fungsi dari perubahan letak (displacement) dan regangan (strain). (Hary
Christday Hardiyatmo, 2007)
2.3

Tekanan Tanah Aktif dan Pasif


Konsep tekanan tanah aktif dan pasif sangat penting untuk masalah-masalah stabilitas

tanah, pemasangan batang-batang penguat pada galian. Desain dinding penahan tanah, dan
pembentukan penahanan tarik dengan memakai berbagai jenis peralatan pengukur. Permasalahan
disini hanyalah semata-mata untuk menentukan faktor keamanan terhadap keruntuhan yang di
sebabkan oleh gaya lateral.

7
Gaya I adalah gaya yang cenderung mengahancurkan. Gaya pengancur disini misalnya gayagaya lateral yang bekerja horizontal atau mendatar.
Gaya II adalah gaya yang cenderung mencegah keruntuhan. Gaya penghambat misalnya berat
dari bangunan/struktur gaya berat dari bangunan ini arah bekerja vertical sehingga dapat
mengahambat gaya lateral atau gaya yang bekerja horizontal.
2.3.1 Tekanan tanah aktif (dengan kohesi nol, c = 0)
Suatu dinding penahan tanah dalam keseimbangan menahan tanah horizontal tekanan ini
dapat di evaluasi dengan menggunakan koefisien tanah Ka jadi jika berat suatu tanah sampai
kedalaman H maka tekanan tanahnya adalah H dengan adalah berat volume tanah, dan arah
dari tekanan tersebut adalah arahnya vertikal keatas. Sedangkan untuk mendapatkan tekanan
horizontal maka Ka adalah konstanta yang fungsinya mengubah tekanan vertikal tersebut
menjadi tekanan horizontal. Oleh karena itu tekanan horizontal dapat dituliskan sebagai berikut :
Pa = Ka H2 kN/m (1)
Ka untuk tanah datar adalah:
1sin

2
Ka=
=tan (90 )
1+sin
2
Ka untuk tanah miring adalah:
cos
2

sin sin ( )
1+
cos
Ka=

Keterangan:
= sudut gesek tanah
= kemiringan tanah
Ka = koefisien aktif
= berat volume tanah
H = berat suatu tanah sampai kedalaman
2.3.2 Tekanan tanah aktif berkohesi
Kohesi adalah lekatan antara butir-butir, sehingga kohesi mempunyai pengaruh mengarungi
tekanan aktif tanah sebesar 2c

Ka

Pa = KaH2 (4)
Keterangan:

8
c = kohesi dalam kN/m .
2

2.3.3 Tekanan tanah pasif


Dinding penahan tanah Dalam hal tertentu dapat terdorong kearah tanah yang ditahan dan
arah dari tekanan pasif ini berlawanan dengan arah tekanan aktif. Kp adalah koefisien untuk
tanah datar.
Tekanan tanah pasif :
Pp1 = . w . h12 (5)
Pp2 = . . h22 . Kp + 2 . c .
Kp=

Kp . h2 (6

1sin Q
Q
2
=tan (45+ )
1+sin Q
2

Maka tekanan pasif suatu tanah datar tanpa kohesi (c = 0)


Pp = Kp H (8)
Tekanan pasif suatu tanah datar dengan kohesi
Pp = Kp H

Kp (9)

2.3.4 Tekanan tanah lateral akibat pengaruh Muka Air Tanah


a. Dinding penahan tanah sama dengan MAT

Gambar 2.2 Dinding penahan tanah sama dengan MAT


Tekanan tanah aktif yang bekerja pada dinding penahan tanah :
(a). Ea1 = .H2..Ka
= berat vol. tanah terendam
b1 = H. .Ka, garis kerja gaya 1/3 H

9
(b). Ea2 = .H2. w
w = berat vol. air
b1= H2. w, garis kerja gaya 1/3 H
b. Dinding penahan tanah beda tinggi dengan MAT

Gambar 2.3 Dinding penahan tanah berbeda dengan MAT


2.4

Stabilitas Dinding Penahan Tanah


Tekanan tanah dan gaya-gaya yang bekerja pada dinding penahan tanah sangat

mempengaruhi stabilitas dinding penahan tanah itu sendiri, secara umum pemampatan atau
penggunaan bahan dalam konstruksi dinding penahan tanah yang berarti memberikan perkuatan
pada massa tanah, memperbesar timbunan di belakang dinding penahan tanah. Perkuatan ini,
juga mengurangi potensi gaya lateral yang menimbulkan perpindahan kearah horizontal dari
pada dinding tersebut sebagai akibat adanya beban vertikal yang dipindahkan menjadi tekanan
horizontal yang bekerja dibelakang dinding penahan tanah atau biasa dikenal sebagai tekanan
tanah aktif. (Suryolelono, 1994) :
Analisis yang perlu dilakukan pada konstruksi dinding penahan tanah adalah:
2.4.1 Stabilitas Terhadap Guling
Kestabilan struktur terhadap kemungkinan terguling dihitung dengan persamaan berikut :
SF=

M
2
MH

10
Keterangan :
M = Jumlah dari momen-momen yang menyebabkan struktur terguling dengan titik pusat
putaran di titik 0. M disebabkan oleh tekanan tanah aktif yang bekerja pada elevasi H/3.
MH = jumlah dari momen-momen yang mencegah struktur terguling dengan titik pusat putaran
di titik 0. MH merupakan momen-momen yang disebabkan oleh gaya vertikal dari struktur dan
berat tanah diatas struktur.
Nilai angka keamanan minimum terhadap geser dalam perencanaan digunakan adalah 1,3.
2.4.2 Stabilitas Terhadap Geser
Gaya aktif tanah (Ea) selain menimbulkan terjadinya momen juga menimbulkan gaya
dorong sehingga dinding akan bergeser, bila dinding penahan tanah dalam keadaan stabil, maka
gaya-gaya yang bekerja dalam keadaan seimbang (F = 0 dan M =0) .perlawanan terhadap
gaya dorong ini terjadi pada bidang kontak antara tanah dasar pondasi. (Sumber : Suryolelono,
1994)
Ada dua kemungkinan gaya perlawanan ini diidasarkan pada jenis tanahnya.
a. Tanah dasar pondasi berupa tanah non-kohesif
Besarnya gaya perlawanan adalah F = N . f, dengan f adalah koefisien gesek antar dinding
beton dan tanah dasar pondasi, sedangkan N dapat di cari dari keseimbangan gaya-gaya vertical
(Fv = 0), maka diperoleh N= V. besarnya f diambil bila alas pondasi relative kasar maka f = tg
dimana merupakan sudut gesek dalam tanah, sebliknya bila alas pondasi relative halus
permukaannya maka diambil f = tg (2/3 ) sehingga dalam hitungan angka keamanan (SF).
(sumber : Suyolelono, 1994)
SF=

gaya lawan V . f
=
gaya dorong Ea

SF 1,5 digunakan untuk jenis tanah non-kohesif, misal: tanah pasir.


Keterangan :
SF = safety factor (angka keamanan)
V = gaya vertical
f = koefisien gesek antara dinding beton dan tanah dasar
pondasi
Ea = gaya aktif tanah

11
Bila mana pada konstruksi tersebut dapat diharapkan bahwa tanah pasif dapat dipertanggung
jawabkan keberadaannya, maka besarnya gaya pasif tanah (Ep) perlu diperhitungkan, sehingga
gaya lawan menjadi : (sumber : Suyolelono, 1994)
V . f + Ep (30)
Keterangan :
Ep = gaya pasif tanah.
b. Tanah dasar pondasi berupa tanah kohesif.
Gaya perlawanan yang terjadi berupa lekatan antara tanah dasar pondasi dengan alas pondasi
dinding penahan tanah. Besarnya lekatan antara alas ponadsi dinding penahan tanah dengan
dasar pondasi adalah (0,5 0,75) c, di mana c adalah kohesi tanah. Dalam analisis biasanya
diambil sebesar 2/3 c. besarnya gaya lekat yang merupakan gaya lawan adalah luas alas pondasi
dinding penahan tanah di kalikan dengan lekatan diperoleh gaya lawan = 2/3 c (b x 1) bila mana
di ambil dinding 1 m. (sumber : Suryolelono, 1994)
SF=

2
. c +b+ Ep
3
Ea

Keterangan :
c = kohesi tanah
b = alas pondasi dinding penahan tanah
SF 2 digunakan untuk jenis tanh kohesif, misal: tanah lempung.
2.4.3 Daya Dukung Ijin Tanah
Tekanan yang disebabkan oleh gaya-gaya yang terjadi pada dinding penahan ke tanah harus
dipastikan lebih kecil dari daya dukung ijin tanah.
Eksentrisitas dari gaya-gaya ke pondasi dapat dihitung dengan rumus berikut :
e = (0,5. B) - x
Tekanan ke tanah dihitung dengan rumus :
qmax=

2V
B
3 ( e )
2

Keterangan :
e = eksentrisitas
B = alas pondasi dinding penahan tanah

12
= tekanan
Jika nilai eks > B/6 maka nilai akan lebih kecil dari 0. Hal tersebut adalah sesuatu yang tidak
diharapkan. Jika hal ini terjadi maka lebar dinding penahan B perlu di perbesar Angka keamanan
terhadap tekanan maksimum ke tanah dasar dihitung dengan rumus
SF=

q ultimate
qmax

Nilai minimum dari angka keamanan terhadap daya dukung yang biasa digunakan dalam
perencanaan adalah 3.
2.5

Tekanan Uplift
Hukum Archimedes berlaku pula untuk konstruksi bendungan, yang gaya teka keatas

sama dengan berat dari volume benda yang dipindahkan. Jadi akan sangat mengurangi berat
beton, padahal makin berat betonnya akan makin stabil terhadap gaya geseran.

Gambar 2.4 Pengaruh tekanan uplift pada dinding penahan tanah.


Uf1 = w . H . B . 1 (13)
Uf2 = . w . H . B . 1 (14)
Besarnya momen akibat tekanan uplift :
MUf = Uf . (jarak lengan yang ditinjau) (15)

13

Keterangan :
H = tinggi permukaan air dari dasar fondasi
w = berat volume air t/m3
B = lebar pondasi
2.6

Tekanan hidrostatis berdasarkan pengaruh Muka Air Tanah


Akibat adanya muka air, akan muncul tegangan hidrostatis yang besarnya pada perbedaan

tinggi muka air tersebut.


2.6.1 Muka Air Tanah sama tinggi

Gambar 2.5 MAT sama tinggi dengan tekanan lateral


Tegangan hidrostatis akan saling menghilangkan. Tekanan lateral akibat tanah yang
berada di bawah permukaan air adalah tegangan efektif.
2.6.2 Muka Air Tanah beda tinggi

14
Gambar 2.6 Tegangan hidrostatis dan tegagan lateral akibat beda tinggi muka air
Tekanan lateral mendapatkan tambahan akibat perbedaan tinggi muka air. Tekanan lateral
akibat tanah yang berada di bawah permukaan air adalah tegangan aktif.
2.6.3 Muka Air Tanah di satu sisi

Gambar 2.7 Tegangan hidrostatis dan tegagan lateral akibat muka air satu sisi
Tegangan lateral mendapat tambahan akibat adanya muka air. Tekanan lateral akibat
tanah yang berada di bawah permukaan air adalah tegangan efektif.

15

BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN
3.1

Metodologi Penelitian
Dalam penelitian ini perlu dilakukan beberapa tahapan sehingga menjadikan penelitian

ini memiliki proses yang jelas dan juga sistematis untuk memperoleh hasil yang sesuai. Berikut
skema metodologi penelitian:

16

Ya
Tidak

Gambar 3.1 Skema Metodologi Penelitian

17
3.2

Pengumpulan Data Tanah


Pertama melakukan pengumpulan data tanah, seperti: water content, gradasi tanah,

triaxial test, dan juga nilai SPT dari tanah tersebut. Setelah semua terkumpul selanjutkan akan
dilanjutkan ke tahap pengolahan data.
3.3

Pengolahan Data
Pengolahan data bertujuan untuk menentukan design dinding penahan tanah yang sesuai

dengan keadaan tanah. Pengolahan data ini dapat menggunakan aplikasi Plaxis ataupun hitung
manual.
3.4

Analisa Dinding Penahan Tanah terhadap Tegangan Hidrostatis


Untuk mengetahui akibat dari tegangan hidrostatis air, harus dilakukan analisa terhadap

stabilitas dinding penahan tanah yang sudah di design. Selanjutnya hasil analisa akan di plot
dalam grafik hubungan antara tegangan terhadap stabilitas.