Anda di halaman 1dari 9

KONVERGENSI STANDAR AKUNTANSI

International Financial Reporting Standar (IFRS) merupakan pedoman


penyusunan laporan keuangan yang diterima secara global dan mendunia, sedangkan
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) merupakan pedoman standar
akuntan di Indonesia untuk membuat laporan keuangan. Indonesia sebagai sebuah
negara berkembang yang menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi dunia telah
merespon

perubahan-perubahan

sistem

pelaporan

keuangan

terkini

dengan

melakukan konvergensi IFRS. Pada Desember 2008, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI)
telah mencanangkan konvergensi PSAK ke IFRS secara penuh pada tahun 2012 (full
adoption). International Financial Reporting Standards (IFRS) merupakan
kesepakatan global mengenai standar akuntansi yang didukung oleh banyak Negara
dan badan-badan internasional di dunia. Konvergensi PSAK menuju IFRS juga tidak
lepas dari keikutsertaan Indonesia dalam forum G-20. Dalam kesepakatan G-20 di
Pittsburg pada tanggal 24-25 September 2009, menyatakan bahwa otoritas yang
mengawasi aturan akuntansi internasional harus meningkatkan standar global untuk
mengurangi kesenjangan aturan di antara negara-negara anggota G-20. Kesepakatan
telah diputuskan pada pertemuan yang diadakan oleh forum G-20 di London, 2 April
2009. Pertemuan tersebut menghasilkan 29 kesepakatan, kesepakatan tersebut
mengharuskan negara anggota untuk meningkatkan penggunaan nilai wajar
(Wirahardja, 2010 dalam Intan, 2012).

Indonesia sebagai anggota forum G-20 harus mengikuti kesepakatan tersebut,


sehingga pembuatan Standar Akuntansi Keuangan pun mengarah pada konvergensi
IFRS yang dahulunya International Accounting Standar (IAS).
Globalisasi seharusnya mendorong pengakuan atas perbedaan kemampuan
yang dimiliki masing-masing negara dan bukannya suatu negara harus mengikuti
negara yang lain. Tentu saja, ini tidak akan adil bagi negara-negara yang sedang
berkembang dan belum berkembang yang sangat jauh tertinggal dari negara-negara
yang sudah maju. Konvergensi mengakui adanya perbedaan antar negara, sehingga
konvergensi standar akuntansi sangat sesuai untuk kondisi tertentu pula. Konvergensi
sangat bermanfaat khususnya bagi perusahaan-perusahaan yang melakukan cross
border listing. Suatu saat konvergensi standar akan berlaku untuk semua kondisi
perusahaan di suatu Negara (Giri, 2008).
Cara untuk mengatasi kelemahan perbedaan standar tersebut adalah
standardisasi akuntansi internasional atau dengan harmonisasi. Standardisasi
akuntansi internasional adalah proses membuat satu standar yang umum untuk semua
negara. Usaha untuk membuat satu standar untuk semua negara ini sangatlah sulit
oleh karena itu alternatif lain adalah melakukan harmonisasi standar akuntansi
internasional. Harmonisasi adalah suatu usaha atau proses untuk meningkatkan
keserupaan atau kecocokan antara praktik akuntansi antarnegara dengan batasanbatasan tertentu, nasional, metoda, dan format pelaporan keuangan. Harmonisasi
standar akuntansi menjadi sangat penting bagi perusahaan-perusahaan Multinasional
(Giri, 2008).

The International Organization of Securities Commissions (IOSCO) sebagai


suatu organisasi pasar modal dunia secara aktif mendorong dan mempromosikan
harmonisasi standar akuntansi. Selain itu, The International Accounting standard
Committee (IASC) yang dibentuk pada tahun 1973 merupakan oganisasi profesi
akuntansi internasional penyusun standar yang bertujuan mencapai keseragaman
praktik akuntansi yang digunakan oleh perusahaan-perusahaan untuk pelaporan
keuangan di seluruh dunia. Produk standar yang dihasilkan oleh IASC adalah
International Accounting Standards (IAS). IASC sudah mengeluarkan 41 IAS. Sudah
Mulai tanggal 1 April 2001, IASC digantikan oleh The International Accounting
Standard Board (IASB). Standar akuntansi yang dikeluarkan oleh IASB adalah
International Financial Reporting Standars (IFRS). IASB telah menerbitkan 7 IFRS.
Baik IASC dan penerusnya IASB memainkan peranan penting dalam proses
harmoniasi standar akuntansi internasional. Oleh karena IASB merupakan penerus
IASC yaitu sebagai standard setting body, maka semua standar yang diterbitkan oleh
IASC menjadi standar keluaran IASB.Indonesia telah sepakat dengan IASB untuk
mengadopsi secara penuh (fully adoption) dan melakukan full compliant dengan
IFRS, namun standar ini tidak berlaku untuk perusahaan perusahaan domestik yang
terdaftar di Indonesia Stock Exchange (Bursa Efek Indonesia).
Konvergensi

yang

ditawarkan

IASB

(sebelumnya

IASC)

adalah

menginginkan seluruh negara anggotanya agar standar akuntansi yang dikeluarkan


oleh badan penyusun standar nasional konvergen dengan IFRS. Definisi
convergence yang diinginkan IASB adalah the same word by word in English.

Jadi, idealnya langsung menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengaturan. Hal
ini dilakukan oleh IASB dengan dasar pertimbangan bahwa pengaturan yang
konvergen akan meningkatkan daya banding pelaporan keuangan di seluruh dunia.
Dengan demikian, dalam pemahaman IASB juga tidak akan ada masalah time lags
dalam implementasinya karena langsung menggunakan aturan dalam bahasa Inggris.
Begitu IFRS disahkan IASB maka badan penyusun standar nasional langsung
menerapkan. Maka harapannya, komparabilitas dalam pelaporan keuangan juga akan
menjadi lebih Baik (Cahyono, 2011).
IAI perlu melakukan pemetaan IFRS/IAS yang belum diadopsi, atau yang
sudah direvisi di IASB, namun belum direvisi di Indonesia. Sampai dengan akhir
tahun 2004 ada 24 standar yang harus dikerjakan Dewan Standar Akuntansi
Keuangan (DSAK) untuk mencapai status full compliant dengan IFRS, yaitu: 6 IFRS
yang belum diadopsi dan 18 standar yang perlu direvisi. Ada 11 interpretasi yang
dikeluarkan IASB, namun baru satu yang sudah diadopsi oleh DSAK_IAI.
FASB mengabaikan IASC sampai awal tahun 1990-an, periode di mana IASC
mulai bekerja dengan IOSCO, di mana FASB mulai berkepentingan dengan IASC.
Usaha IOSCO membuat paspor tunggal bagi secondary listing, serta peranan IASC
sebagai pembuat standarnya, yang dimaksudkan untuk beroperasi di seluruh dunia,
memiliki arti terpenting bagi penerbit asing berkenaan dengan pasar AS. Komisi
Eropa kemudian memberi dorongan yang besar bagi IASB ketika mengumumkan di
bulan Juni 2000 yang mewajibkan seluruh perusahaan yang terdaftar di seluruh Uni
Eropa untuk menggunakan IFRS yang dimulai tahun 2005 sebagai bagian dari

inisiatif untuk membangun suatu pasar keuangan tunggal Eropa. Dimulai 1 Januari
2005, seluruh perusahaan Uni Eropa yang memiliki sekuritas yang terdaftar pada
suatu pasar modal Uni Eropa harus menyiapkan catatan-catatan konsolidasi (grup)
yang sesuai dengan IFRS. Tujuan ini dikonkritkan dengan persetujuan atas Regulasi
IFRS di bulan Juni 2002 oleh the European Council of Ministers (otoritas pembuat
keputusan tertinggi Uni Eropa) (Panggabean, 2010).

PROGRAM STANDARDISASI AKUNTANSI INTERNASIONAL


FASB mengabaikan IASC sampai awal tahun 1990-an, periode di mana IASC
mulai bekerja dengan IOSCO, di mana FASB mulai berkepentingan dengan IASC.
Usaha IOSCO membuat paspor tunggal bagi secondary listing, serta peranan IASC
sebagai pembuat standarnya, yang dimaksudkan untuk beroperasi di seluruh dunia,
memiliki arti terpenting bagi penerbit asing berkenaan dengan pasar AS.
Komisi Eropa kemudian memberi dorongan yang besar bagi IASB ketika
mengumumkan di bulan Juni 2000 yang mewajibkan seluruh perusahaan yang
terdaftar di seluruh Uni Eropa untuk menggunakan IFRS yang dimulai tahun 2005
sebagai bagian dari inisiatif untuk membangun suatu pasar keuangan tunggal Eropa.
Dimulai 1 Januari 2005, seluruh perusahaan Uni Eropa yang memiliki sekuritas yang
terdaftar pada suatu pasar modal Uni Eropa harus menyiapkan catatan-catatan
konsolidasi (grup) yang sesuai dengan IFRS. Tujuan ini dikonkritkan dengan
persetujuan atas Regulasi IFRS di bulan Juni 2002 oleh the European Council of
Ministers (otoritas pembuat keputusan tertinggi Uni Eropa).

PROSES KONVERGENSI IFRS DI INDONESIA


IFRS merupakan pedoman penyusunan laporaan keuangan yang diterima
secara global. Sejarah terbentuknya pun cukup panjang dari terbentuknya IASC/
IAFC, IASB, hingga menjadi IFRS seperti sekarang ini. Jika sebuah negara
menggunakan IFRS, berarti negara tersebut telah mengadopsi sistem pelaporan
keuangan yang berlaku secara global sehingga memungkinkan pasar dunia mengerti
tentang laporan keuangan perusahaan di negara tersebut berasal. Dengan mengadopsi
penuh IFRS, laporan keuangan yang dibuat berdasarkan pernyataan standar akuntansi
keuangan (PSAK) tidak memerlukan rekonsiliasi signifikan dengan laporan keuangan
berdasarkan IFRS. Saat ini DSAK (Dewan Standar Akuntansi Keuangan) sedang
melakukan proses adopsi IFRS sebanyak 18 standar dalam rangka proses konvergensi
ini. Tentu saja perubahan standar ini mempengaruhi seluruh perusahaan yang harus
menerapkan IFRS dalam pembuatan laporan keuangan, apalagi perusahaan yang
sudah Go Public.
PSAK akan dikonvergensikan secara penuh dengan IFRS melalui tiga
tahapan, yaitu tahap adopsi, tahap persiapan akhir dan tahap implementasi. Strategi
adopsi yang dilakukan untuk konvergensi ada dua macam, yaitu big bang strategy dan
gradual strategy. Big bang strategy mengadopsi penuh IFRS sekaligus, tanpa melalui
tahapan tahapan tertentu. Strategi ini digunakan oleh negara negara maju.
Sedangkan pada gradual strategy, adopsi IFRS dilakukan secara bertahap. Strategi ini
digunakan oleh negara negara berkembang seperti Indonesia. Selain IFRS, kutub
standar akuntansi yang berlaku di dunia saat ini adalah United States General

Accepted Accounting Principles (US GAAP). Negara-negara yang tergabung di Uni


Eropa, termasuk Inggris, menggunakan International Accounting Standard (IAS) dan
International Accounting Standard Board (IASB). Setelah berkiblat ke Belanda,
belakangan Indonesia menggunakan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan
(PSAK) yang disusun oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Mula-mula PSAK IAI
berkiblat ke Amerika Serikat dan nanti mulai tahun 2012 beralih ke IFRS. Saat ini,
berdasarkan data dari International Accounting Standard Board (IASB), terdapat 102
negara yang telah menerapkan IFRS dalam pelaporan keuangan entitas dinegaranya
dengan keharusan yang berbeda-beda. Sebanyak 23 negara mengizinkan penggunaan
IFRS secara sukarela, 75 negara mewajibkan untuk perusahaan domestik secara
keseluruhan, dan 4 negara mewajibkan hanya untuk perusahaan domestik tertentu
(Nurhayanto, 2010).
Untuk dapat segera mengaplikasikan IFRS di Indonesia, berbagai usaha
sosialisasi telah dilakukan termasuk oleh IAI seperti program sertifikasi PSAK
(CPSAK), sertifikasi pengajar IFRS, training IFRS, pertemuan forum dosen akuntansi
keuangan, dan upaya lainnya. Pendidikan akuntansi, di semua level, tidak luput
menjadi sasaran utama program penyuksesan konvergensi IFRS. Oleh karena itu,
banyak universitas yang mengubah kurikulumnya dengan memasukkan kandungan
IFRS dan melatih dosennya agar siap memberikan perkuliahan konvergensi IFRS
bahkan mengganti buku teks dengan edisi IFRS. Karena bagaimanapun juga
konvergensi IFRS merubah dengan sangat signifikan proses pembelajaran akuntansi
di Indonesia. Proses pembelajaran akuntansi harus disesuaikan dengan tujuan utama

agar mahasiswa memiliki pengetahuan dan ketrampilan tentang IFRS (Istiningrum,


2012).
MANFAAT MENGADOPSI IFRS
Dengan mengadopsi IFRS, Indonesia akan mendapatkan tujuh manfaat sekaligus.
1. Meningkatkan kualitas standar akuntansi keuangan (SAK)
2. .Mengurangi biaya SAK
3. Meningkatkan kredibilitas dan kegunaan laporan keuangan.
4. Meningkatkan komparabilitas pelaporan keuangan.
5. Meningkatkan transparansi keuangan.
6. Menurunkan biaya modal dengan membuka peluang penghimpunan dana
melalui pasar modal
7. Meningkatkan efisiensi penyusunan laporan keuangan.

REFERENSI
Giri, Efraim Ferdinan. 2008. Konvergensi Standar Akuntansi Dan Dampaknya
Terhadap Pengembangan Kurikulum Akuntansi Dan Proses Pembelajaran
Akuntansi Di Perguruan Tinggi Indonesia. Yogyakarta; Jurnal Pendidikan
Akuntansi Indonesia Vol. Vi. No. 2 Tahun 2008.
Panggabean, Rosinta Ria. 2010. Mengukur Tingkat Kesesuaian Antara Standar
Akuntansi Keuangan Dengan International Financial Reporting Standards Per
1 Januari 2008. Jakarta; Binus Business Review Vol.1 No.1 Mei 2010: 87-103.
Intan, Immanuela. 2012. Konsekuensi Adopsi Penuh IFRS Terhadap Pelaporan
Keuangan Di Indonesia. Widya Warta No. 02 Tahun XXXV I/ Juli 2012 ISSN
0854-1981. Hal 290-295.
Nurhayanto. 2010. Konvergensi dan Potensi Kendala Implementasinya di Indonesia.
Ciawi; Makalah Seminar Pusdiklatwas dan Satgas IFRS Deputi Akuntan
Negara BPKP.
Istiningrum, Andian Ari. 2012. Experiential Learning in Introducing IFRS at
Universities in Indonesia. Jurnal Economia, Vol 8 No 1, April. Fakultas
Ekonomi. Universitas Negeri Yogyakarta.
Cahyono. 2011. Meta Teori Standar Akuntansi Keuangan Di Indonesia - Menuju
Konvergensi Sak Di Masa Globalisasi. Jurnal Eksis Vol.7 No.2, Agustus 2011:
1816 2000.