Anda di halaman 1dari 18

Hidrolika Sumur

Sejumlah persamaan dalam penentuan hidrolika sumur hanya dapat


digunakan dalam kondisi yang ideal, maka penerapan pada akuifer di
lapangan perlu dibuat anggapan/asumsi hasil yang diperoleh
merupakan pendekatan yang masih diijinkan.
Anggapan/asumsi tersebut :

akuifer bersifat homogen maupun isotropis, dan

akuifer mempunyai penyebaran luas tidak terbatas.

Pola Aliran

Aliran Tetap (Steady)


Aliran tetap satu arah.
Aliran tetap memusat menuju sumur.
Masing-masing berlaku, baik pada akuifer bebas maupun akuifer
tertekan.
Aliran Tidak Tetap (Unsteady)
Aliran tidak tetap pada akuifer bebas dengan hasil tunda & akuifer
setengah bebas.
Aliran tidak tetap pada akuifer setengah tertekan (Semi-con-fined
aquifer).
Aliran tidak tetap memusat menuju sumur

Pengaliran pada suatu sumur

Pengaliran sumur, pada akuifer tertekan maupun akuifer bebas


dapat diakibatkan oleh pemompaan.

Pemompaan dengan debit tetap (konstan) pada suatu sumur dapat


menyebabkan terjadinya dua kondisi berikut :
1) Tingkat kesetimbangan (Steady Stage/Equilibrium Stage) mulamula muka airtanah (bidang pisometrik) turun sampai batas
tertentu hingga tidak terjadi penurunan lagi.
2) Tidak setimbang (Unsteady Stage/Non Equilibrium Stage)
terjadinya penurunan muka airtanah (bidang pisometrik) pada saat
dipompa dengan debit tetap.

Oleh adanya kondisi tersebut, nilai debit (Q) pada akuifer bebas maupun
tertekan dapat ditentukan berdasarkan :

1) Teori Equilibrium Steady analisis dapat dilakukan apabila telah


tercapai kesetimbangan dan pemompaan dilakukan dengan debit
tetap.
Dikemukakan, antara lain oleh Theim, Hantush-Yacob, Ernst dsb.
2) Teori Non Equilibrium Unsteady analisis dilakukan sebelum
tercapainya kesetimbangan dan pemompaan dilakukan dengan debit
tetap.
Dikemukakan, antara lain oleh Theis, Yacob, Chow, Hantush,
Walton, Boulton dsb.

Aliran Tetap (Steady)


Aliran tetap dengan satu arah pada akuifer bebas

Berdasarkan Du Poit, kondisi akuifer diasumsikan :

lapisan bersifat isotropis dan dalam kondisi tidak tertekan;

kecepatan aliran berbanding lurus dengan landaian hidrolika (i);

aliran harus horisontal dan seragam di seluruh bagian penampang


tegak.

-A K

dh
dl

-K h

dh
dx

A V

Q dx = - K h dh
h

Qx

-K

Qx

hdh
a

K
2

h2 + C1 ; dengan h = ho & x = 0

C1

parabolik.

Kho2
2
K
2x

( ho 2 -h 2 ) ............................................ persamaan

Aliran tetap dengan satu arah pada akuifer tertekan

Arah X positif, berlawanan arah dengan arah kecepatan aliran tetap.


2h
2

= 0 h = C1x + C2;

dengan h : tinggi pisometrik dan C1, C2 : konstanta integral.


Apabila :

=0

C2

=0

-K

h
x

Vx
K

V
K

C2
C1

C2
C1

........................................... persamaan linier.

Aliran tetap memusat menuju sumur (steady radial flow to a well)


berlaku pada akuifer bebas maupun akuifer tertekan.
Aliran tetap memusat menuju sumur pada akuifer bebas

Persamaan Theim
Q

A. V

-2rhK

dh
dr

h = hw, r = rw
h = ho, r = ro
Q

ho2hw 2
lnro/rw

Pada sumur pengamat, nilai (Q)


diperoleh melalui persamaan :
2

h2 h 1
lnr 2/ r 1

Persamaan Theim, se-bagaimana diuraikan


sebelumnya tidak ber-laku apabila :

a) diameter sumur ter-lampau besar;


b) penetrasi sumur bor tidak penuh;
dan
c) aliran turbulen di dekat lubang bor.

Aliran tetap memusat menuju sumur pada akuifer tertekan


Persyaratan :
sumur
menembus
seluruh akuifer
tertekan;
akuifer tertekan
bersifat
homogen & isotropis; dan
anggapan Du
Poit berlaku.

dh

A. V

-2rbK

ho

dh
hw

Q
2rb K
Q
2rb K

h = hw, r = rw
h = ho, r = ro
Q
ho hw = 2 b K

dh
dr
dr
r

ro

drr
rw

ln

Persamaan Theim

ro
rw

hohw
ln ro/rw

2Kb

Jari-jari pengaruh akibat pemompaan (ro) menjadi tidak terbatas


jauhnya, dengan demikian setiap harga r menjadi :
hhw
ln r /rw

Q=2Kb

Persamaan di atas disubstitusikan dengan persamaan Theim diperoleh :


ln r /rw
ln ro/rw

h - hw = (ho - hw)

Apabila terdapat adanya sumur pengamat sumur pisometri, maka :


drawdown = s1 : s2 dengan
Q
2T

ln

r1
rw

s1 s2 =

Q
2T

ln

s1 =

dan s2 =

Q
2T

ln

r2
rw

r1
r2

Diasumsikan r dan h ho.


Berdasarkan persamaaan Theim, harga (K ) dapat ditentukan dengan :
K=

Q
2 b (h 2h 1)

ln

r2
r1

r1, r2 :

jarak sumur pengamat ke sumur pompa;

h1 , h2 :

ketinggian bidang pisometrik pada masing-masing sumur


pengamat.

Hal yang perlu diperhatikan :

pemompaan berlangsung kontinyu/terus menerus dengan debit


konstan dan drawdown tetap,

letak sumur pengamat cukup dekat dengan sumur pompa, dan

terpenuhinya anggapan Du Poit.

Aliran Tidak Tetap (Unsteady)


Aliran tidak tetap pada akuifer bebas dengan hasil tunda dan akuifer
setengah bebas

Metode yang digunakan Metode Boulton kurva baku yang dapat


dibagi menjadi tiga bagian, yaitu :
1) Bagian kiri

perilaku muka airtanah pada awal


pemompaan akan sama dengan perilaku muka airtanah pada
akuifer tertekan.
Pada sumur pengamat yang dekat dengan sumur pompa analisis
dapat dengan menggunakan Metode Theis.
2) Bagian tengah
penurunan kemiringan kurva disebabkan
adanya pengisian kembali akuifer oleh pengaliran gaya berat di atas
kerucut penurunan muka airtanah.
3) Bagian kanan
perilaku muka airtanah beberapa saat
setelah pemompaan dimulai. Pada bagian ini, kurva akan kembali
menyerupai kurva baku Theis kesetimbangan antara pengaliran
gaya berat dengan kecepatan penurunan muka airtanah.

Aliran tidak tetap


pd akuifer bebas
dgn

Metode Boulton
Bagian kiri

perilaku muka airtanah pada awal pemompaan


akan sama dengan perilaku muka airtanah pada akuifer tertekan.
Bagian tengah
penurunan kemiringan kurva disebabkan adanya
pengisian kembali akuifer oleh pengaliran gaya berat di atas kerucut
penurunan muka airtanah.
Bagian kanan
perilaku muka airtanah beberapa saat setelah
pemompaan dimulai. Pada bagian ini, kurva akan kembali menyerupai
kurva baku Theis kesetimbangan antara pengaliran gaya berat dengan
kecepatan penurunan muka airtanah.
Penentuan koefisien cadangan efektif berdasarkan persamaan :
ySA = SA + Sy

y = 1 + Sy/SA
SA

: banyaknya air yang dilepaskan dari cadangan per satuan


draw-down per satuan luas horisontal (koefisien cadangan efektif
waktu awal).

Sy

: volum total hasil tunda per satuan drawdown per satuan luas
horisontal (specific
yield).

Analogi dengan persamaan Theis :


s=

Q
4T

w (A, r/B); dengan A =

r SA
4T t

Pada bagian paling kanan dari Kurva Baku Boulton, nilai (s) diperoleh
berdasarkan persamaan :
s=

Q
4 T w (y, r/B); dengan y =

r Sy
4T t

Persamaan diatas berlaku apabila y tidak terhingga atau y > 100.


Apabila 10 > y > 100, maka bagian tengah kurva baku Boulton hanya
akan sedikit horisontal (pendek).
Apabila y maka penentuan nilai (s) berdasarkan kurva bagian tengah
dengan persamaan :
s=

Q
4 T Ko (r/B)

Faktor kebocoran/leakage (L) pada akuifer setengah tertekan dapat


digantikan dengan elemen B, dengan
B=

T
Sy

dinyatakan dalam meter.

1/ Indeks Tunda Boulton tetapan empiris dan dinyatakan dalam


hari.
Indeks Tunda Boulton menentukan waktu twt hasil tunda
mempengaruhi drawdown (s).
Aliran tidak tetap pada akuifer setengah tertekan (semi-confined aquifer)
Pada aliran tidak tetap pada akuifer setengah tertekan, nilai (s) diperoleh
dengan persamaan :

Q
4 T w (, r/L), dengan L faktor kebocoran (leakage factor)

r2 S
4T

(Berdasarkan Hantush & Jacob)


Metode Walton relatif sama dengan Metode Theis.
Pada metode ini terdapat beberapa kurva baku tergantung dari harga
r/L.
Apabilai r/L = 0 digunakan Kurva Baku Theis, analisis selanjutnya sama
dengan Metode Theis.
L=

D1

T c , dengan C = K 1

L : faktor kebocoran; T : koefisien keterusan air; c : tahanan hidrolika


pada lapisan setengah lulus air; D1 : tebal bagian jenuh air dari lapisan
setengah lulus air; dan K1 : koefisien kelulusan air pada lapisan setengah
lulus air
Pada metode ini, nilai (T) dan (S) diperoleh berdasarkan persamaan :
T=

Q
4 s w (, r/L) dan S =

4T t
2

Harga r/L diperoleh berdasarkan hasil penghimpitan kurva data dengan


kurva bakunya. r : jarak sumur pengamat, sehingga harga L dapat
ditentukan.

Aliran tidak tetap memusat menuju sumur (unsteady radial flow to a wall)

Pada suatu sumur yang menembus akuifer yang cukup luas


dilakukan pemompaan dengan debit tetap, maka pengaruh
drawdown akan meluas sesuai dengan waktu pemompaan.

Kecepatan pelengkungan dari tinggi tekan (head) apabila dikalikan


dengan koefisien daya simpan air (S) sama dengan debit
(discharge).

Pelengkungan tinggi tekan (head) akan terus turun hingga mencapai


kesetimbangan.

Keadaan sebelum mencapai kesetimbangan aliran tidak tetap.

Persamaan differensial pada aliran tidak tetap memusat menuju


sumur :

2h
r2

1
r

h
r

Sh
T t , dengan

h : tinggi tekan (head); r : jari-jari pengaruh; S : koefisien daya simpan


air; T : koefisien keterusan air; dan t : waktu sejak pemompaan.
Pada kondisi batas :
h = ho t = 0 dan h = ho, r = t > 0, maka persamaan Theis :
Drawdown (s) ho - h =

Q
2T

edu

, dengan

r S
2T t

Integral dari persamaan Theis , diperoleh :

s=

Q
4T

2
2
2
+
+
+ ..
2 .2 ! 3 .3 ! 4 . 4 !
0,5772ln

Persaman integral digunakan secara luas pada uji pompa dengan


kondisi :
1) harga S mudah ditentukan;
2) diperkenankan hanya dengan satu sumur pengamat;
3) waktu uji pompa lebih pendek; dan
4) tidak diperlukan persyaratan untuk aliran tetap.
Akan tetapi harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
1) akuifer homogen, isotropis, dan ketebalan seragam;
2) sebelum dipompa, bidang pisometrik harus datar;
3) debit pemompaan konstan;
4) penetrasi sumur penuh pada akuifer, sehingga aliran yang menuju
sumur bersifat datar (horisontal);
5) diameter sumur kecil, sehingga cadangan air pada sumur dapat
diabaikan; dan
6) air yang keluar dari cadangan air (storage) dikeluarkan seketika itu
juga sebesar penurunan tinggi tekan (head loss).
Persamaan Theis :

s
r2
t

Q
4 T w(), dengan w() : fungsi sumur

( 4ST )

Persamaan di atas menunjukkan hubungan antara (w()) dan () dengan


(s) dan (r2/t). (s) akan berubah sesuai dengan perubahan (w()), begitu
pula dengan () berubah seiring perubahan (r2/t).
Pada persamaan Theis harga (T) dan (S) dapat diperoleh melalui
dengan metode grafik.
Harga (w()) dan () diplot terhadap harga pada kertas log yang
memiliki ukuran sama dengan kurva baku Theis.
Ploting data berhimpitan terhadap kurva baku dengan sumbusumbu ordinat kedua kurva selalu sejajar dan usahakan seluruh
titik-titik yang diplot dapat jatuh dalam kurva.
Suatu titik sembarang dipilih dalam segmen yang berhimpitan
(match point) harga (s), (r2/t), (), dan (w()) dapat ditentukan
dari grafik tersebut.
Selanjutnya, menggunakan persamaan di atas dapat ditentukan
harga (T) dan (S).
Contoh soal dengan metode Theis.
Suatu sumur menembus penuh pada akuifer tertekan, dipompa
dengan debit konstan sebesar 2.500 m3/hari. Drawdown sejak
pemompaan dicatat pada sumur pengamat yang berjarak 60 meter dari
sumur yang dipompa.

Tabel 10. Data uji pompa pada sumur pengamat


yang berjarak (r) = 60 m dari sumur yang dipompa adalah sebagai berikut
:
t (menit)

s (meter)

0
1
1.5
2.0
2.5
3.0
4
5
6
8
10
12
14

0
0.20
0.27
0.30
0.34
0.37
0.41
0.45
0.48
0.53
0.57
0.60
0.63

r2/t(m2/men
it)
~
3600
2400
1800
1440
1200
900
720
600
450
360
300
257

t (menit)

s (meter)

18
24
30
40
50
60
80
100
120
150
180
210
240

0.67
0.72
0.76
0.81
0.85
0.90
0.93
0.96
1.00
1.04
1.07
1.10
1.12

Dari grafik didapatkan harga :


w () = 1,
r2/t

= 1 x 10-2

= 159 m2/menit
= 216.000 m2/hari

Jadi

T = w ()
T = = 1110 m2/hari
S=
S = = 0,000206

s = 0,18

r2/t(m2/men
it)
200
150
120
90
72
60
45
36
30
24
20
17
15

Metode Cooper-Jacob
Prinsip penerapan relatif sama dengan Metode Theis meng-gunakan
Integral dari persamaan Theis :

s=

Q
4T

2
2
2
+
+
+ ..
2 .2 ! 3 . 3 ! 4 . 4 !
0,5772ln

Pada kondisi harga (r) kecil dan (t) besar, maka harga () kecil
yang diperoleh berdasarkan persamaan :
2

( )
r S
4T t

Dengan demikian, harga () pada persamaan Theis dapat diabaikan.


Harga drawdown (s) dapat diperoleh berdasarkan :
s=

Q
4T

0,5772ln

r S
4T t

atau s =

2,30 Q
4T

log

2,25 T t
r2 S

Apabila (s) = 0 dan t = to, maka diperoleh :


0=

2,30 Q
4T

S=

2,25 T

2
r

2,25T
log 2
r S

1=

2,25 T

2
r S

Harga (T) dapat diperoleh dengan mengambil 1 siklus log log t/to = 1,
sehingga (s) = (s) drawdown per log siklus dari (t). Dengan demikian
harga (T) :
T=

2,30 Q
4s

Metode Jacob dapat dilakukan pula dengan prosedur lain apabila


sumur pengamat lebih dari satu.
Data dari beberapa sumur pengamat diplotkan pada 1 grafik semi
log, dengan data drawdown (s) pada sumbu tegak dan (t/r2) pada
sumbu datar (sumbu logaritma).

Selanjutnya, diterapkan prosedur yang sama dengan sebelumnya


hanya saja perpotongan kurva dengan sumbu datar di titik (t/r2)o.
Persamaan yang digunakan :
T=

2,30 Q
4s

S = 2,25 T (t/r2)o

Metode Chow menggunakan grafik Chow yang menunjukkan hubungan


antara F (), w () dan ().
Data drawdown (s) dan waktu (t) diplotkan pada kertas semi log.
Selanjutnya, dipilih titik A pada kurva dan dibaca drawdown A (sA),
( sA) dan waktu A (tA).
Harga F () diperoleh berdasarkan persamaan :
F () = sA/ sA
Selanjutnya, harga w () dan () dapat diperoleh dengan persamaan :
T=

Q
4 sA

S=

4 AT
2
r

w () A

tA

Metode Theis Recovery


Pencatatan data terjadinya drawdown setelah pompa dimatikan
hanya dapat untuk menghitung harga T saja.
Data diplotkan pada kertas grafik semi log harga S1 (terjadinya
drawdown kembali) pada sumbu tegak dan harga t/t1 pada sumbu
datar (sumbu logaritma).
t:
waktu dimulainya pemompaan hingga pengukuran terjadinya
kembali drawdown.
t1:
waktu sejak pompa dimatikan hingga pengukuran terjadinya
kembali drawdown.
Selanjutnya, ditentukan harga s1 (1 siklus log) berdasarkan kurva
yang telah diperoleh ditentukan dengan persamaan :

T=

2,30 Q
1
4s

Efisiensi Sumur
Pemompaan pada sumur dan penurunan muka airtanah (bidang
pisometrik) tidak hanya disebabkan besarnya pemompaan, tetapi
disebabkan pula oleh adanya well loss.
Well Loss akibat dari sebagian aliran airtanah tertahan oleh pipa
saringan yang dipasang pada konstruksi sumur bor maupun aliran
turbulen di sekitar sumur di dekat pompa.

Hubungan well loss dengan drawdown (s) pada akuifer tertekan


sw : drawdown;
BQ : aquifer-loss;
CQ2 : well-loss;
Q : debit pemompaan;
B : koefisien aquifer-loss; dan
C : koefisien well-loss.

sw=

Q
2 T ln

ro
rw

+ CQ2

aliran tetap

sw

BQ + CQ2

ln ro/rw
2T

Sumur yang efisien sumur yang mempunyai well loss kecil.


Bierschenk bahwa efisiensi sumur tergantung besarnya pemompaan yang terdiri atas : Efficiency of Pumping (Ep) dan Factor of
Development (Fd).
Ep =

BQ / sw

(100 %) Ep minimal 50 % efisien

Fd = C/B (100 %)

Klasifikasi sumur berdasarkan Factor of Development (Fd)


No
1

Factor of
Development (Fd)
< 0,1

Kelas
Sangat baik

2
3
4

0,1 0,5
0,5 - 1
>1

Baik
Sedang
Jelek

Walton bahwa kondisi sumur dapat ditentukan dengan harga koefisien


well-loss (C).
No
1

Koefisien well-loss (C)


menit2/m5
< 0,5

2
3
4

0,5 1
1-4
>4

Kondisi Sumur
Konstruksi sumur tepat dengan pencucian
cukup bersih
Mengalami penyumbatan sedikit
Penyumbatan di beberapa tempat
Sulit dikembalikan seperti semula