Anda di halaman 1dari 11

TUGAS 3

NAMA: ANTO HERIANTO


NIM

: 017525345

ISIP4213

MILITER YANG PROFESIONAL SEPERTI DI AS BISA DIBENTUK DI


INDONESIA
BAB 1
PENDAHULUAN
Sebagaimana Kita tahu Bahwa TNI adalah sebuah Istilah yang sangat identik dengan Militer.
Dan seperti kita tahu bahwa Militer yang di Negara Indonesia berupa Kelembagaan dalam
wadah TNI (Tentara Nasioal Indonesia) adalah Lembaga dimana dibawah Komando
department Pertahanan serta Pemerintahan Presiden. Tentara dibentuk agar bisa melindungi
rakyat dan negaranya dari berbagai ancaman, itu sudah sering kita dengar . Namun tidak
hanya itu, diluar Tujuan dan fungsi fungsi TNI sebagai alat pertahanan Negara serta
melindungi Stabilitas bangsa dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),
tentunya didalam internal TNI terdapat berbagai macam hal hal Principal didalam kubu TNI
yang dituntut menjalankan Tanggung jawab dan tugasnya mulai dari Ideologi, nilai nilai yang
diagungkan, Budaya, Pola kerja, serta Identitas TNI yang harus terus dijunjung tinggi. Seperti
yang kita ketahui bahwa TNI sangat menjunjung tinggi jiwa kebangsaan, semangat
Nasionalisme, serta seniorias (taat terhadap atasan), semuanya telah mendarah daging
didalam Tentara Indonesia. Selain itu, didalam TNI juga hidup berbagai budaya yang
berkembang yang tentunya memiliki fungsi fungsi pendukung didalam Perjuangan Militer
melaksanakan tugas tugasnya menjaga keamanan Negara, Stabilitas bangsa, serta keutuhan
NKRI dari anacaman ancaman Negara lain. Mungkin sudah menjadi asumsi umum, bahwa
Seorang Angkatan bersenjata termasuk TNI (Tentara Nasional Indonesia) senantiasa bersikap
Tegas, Disiplin tinggi, kerja Keras, serta Senantiasa bersikap sigap.
Menurut Pendapat Penulis, dari kesekian banyak Budaya budaya yang berkembang, system
system nilai yang dikembangkan , serta Pola Pola kerja yang ditanamkan kuat didalam
Militer dikarenakan sebuah Pandangan Bersama yang itu diagung agungkan dan
diprimordialkan , yakni sebuah Profesionalisme. Profesionalismelah yang Dasar dari setiap

budaya serta nilai nilai yang dikembangkan idalam TNI. Budaya Kedisiplinan. Kerja Keras,
kepatuhan terhadap atasan, serta kecepatan dan ketepatan militer didalam setiap tindakannya.
Sehingga, kesemuanya itulah yang menunjang tingkat kesuksesan dan keberhasilan TNi
dialam melaksanakan tanggung jawabnya menjamin keamanan stabilitas Negara Indonesia
ini Samuel P Huntington, menjelaskan bahwa pembentukan militer profesional merupakan
prasyarat untuk menegakkan kontrol demokrasi (hlm 15), turut memengaruhi negara-negara
donor terhadap bantuan militer untuk negara-negara yang berada dalam masa transisi.
Sebagian besar dana itu diperuntukkan untuk pelatihan militer klasik, dengan harapan ia akan
menanamkan tingkat kepentingan yang memadai dalam profesi militer dan pada masa yang
sama mengurangi hasrat mereka untuk terlibat dalam politik. Namun, profesionalisme di sini
tidak menghilangkan kemungkinan bahwa militer memperoleh kemampuan yang bisa
mendorong untuk terlibat dalam politik.
Bagi Beberapa Negara , baik Negara maju maupun berkembang, Pembentukan Lembaga dan
keorganisasian Militer merupakan hal yang sangat penting demi mewujudkan apa yang
menjadi cita cita bangsa, untuk membasmi dan menjaga keamanan dari Negara Negara
musuh ataupun musuh dari dalam (gerakan separatis). Bagi Amerika Misalnya, hal ini
menjadi penting melakukan gerakan gerakan Internasionalnya, misalnya dengan adanya CIA.
Pada masa Sukarno seorang ahli netralisme yang menjadi duri untuk politik
luar negeri AS, CIA banyak melakukan operasi rahasia melawan Indonesia saat
itu termasuk pada waktu revolusi 1965 pada saat Suharto mulai berkuasa
dengan menggulingkan Sukarno melalui bloody pogrom pembunuhan orang-orang
local secara terorganisir dan dengan hasutan resmi (dari pemerintah) untuk
membasmi orang-orang berhaluan kiri diseluruh nusantara. Kemudian baru pada
tahun 1998 campur tangan rahasia AS kembali, pada saat lengser berdarahnya
Suharto yang menjadi diktator kesukaan AS di Asia adalah suatu kasus studi
tentang bahaya-bahaya dari program-program JCET. Lebih kurang 1200 orang
terbunuh dalam hura-hara Jakarta antara tanggal 13-15 Mei 21, 2000, paling
tidak 168 perempuan dan gadis (umumnya keturunan Tionghoa) diperkosa dan 20
diantara mati setelah perkosaan. Banyak orang Indonesia menduga Kopasus terlibat dalam
perkosaan ini.
Sedangkan Indonesia, Pada Semasa berkuasa Suharto misalnya, sudah lama mempunyai
reputasi dalam menggunakan Kopasus, yang sejak tahun 1995 dipimpin oleh menantunya
Letjen Prabowo Sumitro Subianto, untuk menculik, menyiksa, dan membunuh pembangkang
dan saingan politiknya. Sebagai contoh, Aceh dinyatakannya sebagai DOM military
operation zone. Kemudian setelah Kopasus dikirim ke Aceh, ratusan bahkan mungkin ribuan
orang Aceh hilang dan diperkirakan telah dieksekusi oleh Kopassus. Atas perintah Suharto
Kopassus juga dikirim ke Timor Timur dan Irian Jaya untuk tugas yang sama. Setelah

pasukan Kopassus dari Aceh dan Irian dimutasi ke Jakarta, paling tidak 14 aktivis yang
melawan Suharto hilang.
Tentunya, semua itu dilaksanakan atas dasar Perlindungan Keamanan dan Stabilitas Negara
dari ancaman baik luar Negeri maupun anacaman dari dalam Negara sendiri . Namun
Ternyata , apabila kita hendak menguji Konsistensi Kepribadian dan Profesionalisme TNI
didalam setiap Kinerjanya dan perjuangan membangun dan melindungi Negara, maka kita
juga dapat melihatnya pada bagaimana Sepak terjang didalam Politik . Karena seperti kita
tahu bahwa, dalam konteks Indonesia TNI tidak hanya focus terhadap persoalam persoalan
Kemiliteran yang menkaga keamanan Negeri ini dari anacaman anacaman baik yang berasal
dari dalam maupun dari luar Negara, tetapi juga sudah menjadi hal yang lazim bahwa TNI
juga terlibat didalam urusan Politik , bagaimana TNI meleburkan dirinya ,menjadi Anggota
Partai Tertentu, mencalonkan diri sebagai Pemimpin Politik, bahkan masuk didalam jajaran
Parlemen ataupun Kabinet Pemerintahan. Namun , sebelumnya akan kita perdalam Terlebih
dahulu bagaimana jejak jekak Profesionalisme TNI didalam Kemiliteran.
BAB II

Rumusan Dan Pembahasaan

Jejak Profesionalisme TNI dalam Dunia Militer.


Sebelum mendalami Bagaimana Jejak serta dinamika Profesionlaisme TNI didalam Militer,
maka terlebih dahulu kita perdalam mengenai asumsi Profesionalisme yang dimkasudkan
disini. Hal ini dimaksdukan agar nantinya tidak akan terjadi Bias makna antara
Profesionalisme yang dimaksud dengan makna makna Profesionalisme yang selainnya.
Secara Umum kita tahu bahwa kata Profesional sangat dekat maknanya dengan sebuah
Keahlian di bidang tertentu, dimana segala sesuatu harus berjalan sesuai aturan, Prosedural,
Protokoler, dan hanya terfokus pada pekerjaan sesuai dengan tugas dan wewenang masing,
dan kesemuanya itu dikerjakan dengan seoptimal optimalnya sehingga mecapai hasil kerja
sesuai dengan Target. Dan kata Profesionalisme seperti bisa dilekatkan dengan bidang
pekerjaan apapun, misalnya dalam bidang perkenomian, pembangunan, hokum, ataupun
pekerjaan pekerjaan teknik dan praktis sekalipun., karena hal inibersifat Universal. Namun,
yang didalami disini adalah Profesionalisme yang kita bicarakan dalam ranah Militer,
khususnya didalam keorganisasian TNI sendiri. DImana tentunya ada perbedaan perbedaan
yang sedikit menonjol pada konteks Profesionalisme TNI meskipun sebenarnya tidak

merubah substansi dari Profesionalisme itu sendiri. Didalam Kubu Militer TNI tentunya
sangat ditekankan budaya budaya Profesional yang medukung Kinerja yang Profesional,
dimana dalam setiap Kepemimpinan, Hirarkis Kemiliteran, dan Presseing pressing atasan
yang menuntut setiap Tentara hendaknya bekerja dan bertugas dengan kedisplinan aturan
aturan mengikat, prosedur, serta perintah perintah atasan dalam wadah keorganisasian dan
almamaterisme yang dijunjung tinggi.
Seorang Pakar mengatakan , militer di setiap Negara merepresentasikan kelompok yang
terorganisasi dan sangat disipliner yang disatukan oleh tradisi , kebiasaan, lingkungan kerja,
dan terutama oleh kebutuhan untuk bekerja sama dan membantu satu sama lain pada masa
konflik dan krisis suatu ketergantungan yang secara literal berarti perbedaan anatara hidup
dan mati. Ketergantungan semacam ini menciptakan ikatan dan loyalitas yang kuat serta
memerlukan kadar kohesi dan koherensi yang tinggi dan hanya sedikit profesi lain dapat
melakukannya.
Pakar militer lainnya mengatakan, apa yang membuat militer berbeda (dari institusi lain)
adalah bahwa ia tidak hanya institusi yang sangat otokratik yang menuntut loyalitas dan
komitmen secara penuh, tetapi juga suatu organisasi yang didesain sebagai kekuatan yang
kokoh untuk bekerja seefisien mungkin kapan saja Negara membutuhkannya. Militer
memiliki organisasi yang lebih solid dan unggul, kata Samuel Finer (The Man On Horseback:
The Role of the Military in Politics, 1988 )
TNI kita sendiri sangat memahami dan meyadari benarnya tuntutan tersebut, bahkan
kesadaran itu sesungguhnya telah menyembul sejak zaman Orde Baru, setidaknya dalam
beberapa kalangan personel TNI. Kesadaran ini didasarkan pada kenyataan sejarah akibat
terlalu lamanya TNI berada dalam kolam Politik praktis, sehingga fenomena Politik pun
masuk ke dalam tubuh TNI yang menakibatkan terjadinya fragmentasi.
Namun, terlepas dari Keterlibatan itu semua, Yang pertama tama kita fokusi adalah
Bagaimana Sebuah Profesionalisme yang begitu hebat tumbuh kembang didalam tubuh TNI ,
yang melahirkan semangat kebangsaan tinggi, kedidsiplinan dan keteraturan yang besar, dan
semangat kerja keras yang luar biasa. Kita coba melihat pada bagaimana Pendidikan militer,
treatmen treatmen yang dilakukan selama masa pendidikan, nilai nilai yang dikondisikan,
budaya budaya yang dibentuk,
Pertama, Hal yang paling substansi didalam pendidikan MIliter adalah Penanaman Basic
Nilai yang nantinya didjunjung tinggi. Hal ini lah yang pertama kali didengungkan dan
disuarakan didalam lembaga Pendidikan Militer yang mencetak Perwira perwira tinggi TNI
kita. Kalau dahulu kita mengetahui AKABRI sebagai Lembaga Pendidikan yang mencetak
tentara tentara kita, maka Lembaga Pendidikan ini pulalah yang menyuntikan tanaman

tanaman Nilai yang nantinya akan mendarah daging didalam jiwa jiwa tentara tentara kita
nantinya. Secara umum, Lembaga Pendidikan Yang mencetak mencetak tenaga tenaga ahli
keamanan Negara ini tentunya tetap sadar akan nilai penting dan untuk apa Para tentara ini
dilahirkan, Sehingga ia tetap memahamai secara esensial dan substansial akan keudukan
berdirinya Lembaganya ini. Hal ini dapat kita lihat akan Komitemen yang ia dengungkan
kepada Para Calon calon Perwira pada tahap awal pelantikan para lulusannya sebelum terjun
ke lapangan dalam operasi operasi penjagaan keamanan NAsional. Salah satunya dapat kita
lihat pada Petikan isi Himne Taruna Akmil berikut :
Biar badan hancur lebur Kita kan bertempur Membela keadilan suci kebenaran
murni. Di Bawah dwiwarna panji Kita kan berbakti Mengorbankan jiwa dan raga
Membela Ibu Pertiwi. Demi Allah Maha Esa Kami kan bersumpah Setia membela Nusa
dan Bangsa Tanah tumpah darah (Aku hanya tentara)
Itulah Kutipan dari beberapa Komitmen yang Sosialisasikan dan ditanamkan didalam tubuh
para TNI, dan sekilas apabila kita melihat Isi dari Himne tersebut, maka dapat kita
menangkap bahwa Nilai nilai yang mencerminkan dari Isinya adlah sebuah Pembelaan
terhadap keadilan, kebenaran, dan berjuang hanya untuk kepentingan Negara, bangsa yang
menjadi tumpah darah bersama, yang akan dibela hingga mati. Itulah Yang menjadi Pokok
Substansi yang dituangkan dari setiap Komitmen yang dibangun dalam setiap jiwa seorang
TNI.
Kedua, System Pendidikan yang tentunya dengan Pola Kedisplinan yang tinggi, dan system
reinforcement membuat Para Tentara Ini menjadi prajurit yang sensntiasa patuh terhadap
Pimpinan.Segala bentuk Kesalahan yang dilakukan, maka tidak aka nada toleransi untuk
menghindari sanksi dan hukuman. Mulai dari Sanksi yang bersifat Fisik hingga tekanan
tekanan mental. Maka, dari itu wajar saja apabila kita melihat mereka yang lulus bukan lah
orang orang sembarangan, para calon calon Tentara ini adalah orang orang pilihan dengan
mentalitas baja, keberanian yang sungguh luar biasa, dan berotot besi.
Ketiga, Budaya budaya Kebangsaan, dimana kepentingan Nasional adalah nomor wahid,
diatas segalanya. Sehingga hal inilah yang membuat TNI seolah seolah sebagai mesin yang
senantiasa siap membel;a Dan mempertahankan Negara kapanpun apabila ancaman itu
datang. Setiap perjuangan dan Operasi operasi militer TNI hanyalah diorentasikan atas nama
kepentingan bangsa dan Negara. Kedisplinan, kerja keras, pantang menyerah semuanya
ditumbuh suburkan didalam tubuh TNI tak lain demi utuhnya Stabilitas Negara dalam setiap
perjuangan TNI.
Maka, dari itulah, setelah Para Calon tentara ini diturunkan di lapangan, Maka mereka sudah
siap dengan segala keahlian, keterampilan, dan mental yang tinggi. Mereka telah memahami

segala resiko dan siap menghadapinya. Setiap derap langkah kaki seorang Tentara mulai dari
penyusuran Sungai, gunung, perbukitan, hutan , desingan Peluru dan mortar baik dalam ajang
Pelatihan ataupun pertempurang semuanya penuh dengan ancaman regangan nyawa. Maka
dari itulah, Sikap ketegasan, kepatuhan, Kedisplinan, dan sikap sikap Profesionalisme sangat
dituntut dalam kubu TNI. KArena apabila tidak, maka Strategi Militer akan kalah, yang juga
berarti akan berdampak pada Kekalahan TNI dalam bidang pertempuran, yang dimana nyawa
para Tentara adalah taruhannya dan yang lebih massiv lagi adalah ancaman keamanan
Nasional bagi Negara. Muali dari Zaman Orde lama hingga Orde baru, Para TNI kita cukup
banyak menorehkan Pestasi Operasi Pemberontakan G30S PKI, Operasi Timor TImur,
operasi tempur di irian barat, pemberantasan Komunis Kalbar, Operasi GAM di aceh, juga
beberapa aksi kemanusiaan di Timur Tengah. Sunatullah sunatullah kesuksesan TNI tersebut
tentunya karena sikap Profesionalisme TNI yang tidak pernah ada matinya. Seperti kita tahu
bahwa Pada masa masa Orde Lama maupun Orde Baru dimana Rezim Soeharto berkuasa
selama 32 tahun, TNI murni dikuasai oleh Pemerintah, sehingga TNI pun dengan mudah
dikendalikan. Maka dengan demikian, tidak ada alasan bagi TNI untuk tidak mengikuti dan
takluk terhadap segala Insttruksi 2 Pemimpinnya yang dibawah Departmen Pertahanan. Ya,
dizaman Orde baru adalah zaman dimana TNI telah menghegomoni Negeri ini, tidak hanya
ranah Militer tetapi juga ranah Politik, dan disinilah dwifungsi tenatara dimulai . Dwifungsi
ABRI, adalah sebagai ideologi korporat dan unsurnya se-bagai ideologi politik. Karena
keduanya adalah strategi yang sebenarnya digunakan oleh tentara untuk melempangkan
ambisinya untuk menjadi penguasa. Dengan menggunakan analisis sosiologi pengetahuan
(Mannheim, Berger, Luckmann, sampai Habermas), seorang Ilmuan menunjukkan adanya
bias kekuasaan dalam wacana Dwifungsi ABRI, yang digunakan untuk membangun sebuah
hegemoni. Setidaknya inilah sedikit Gambaran bagaimana Hirarkis kekuasaan Militer
dibangun dengan Kendaraan Parpol Pemenang Pemilu selama berpuluh puluh tahun, dimana
hal ini menjadi titik awal keberadaan Dwifungsi TNI, yang pada akhirnya Keprofesionalisme
TNI pun dipertanyakan atau mungkin dapat dikatakan sikap Profesionalisme itu telah terbagi
menjadi dua bagian (dwifungsi).

Munculnya DwiFungsi Militer


Salah satu yang mnjadi factor didalam keterlibatan Militer didalam ranah Politik karena
adanya reformasi Militer, yang menjadi salah satu paket Pmerintaha Soeharto, militer sudah
melangkah terlalu jauh. Memasuki semua bilik yang seharusnya menjadi ranah sipil. Tak
hanya di eksekutif, para serdadu juga merambah legislatif. Bahkan di bidang yudikatif,
sejumlah hakim agung adalah perwira militer. Keterlibatan militer yang terlalu jauh inilah
yang membuat anatomi negara dalam bentuk otoriter. ABRI bukan lagi menjadi alat negara
yang mengabdi ke konstitusi, tapi menjadi alat pemerintahan yang mengabdi kekuasaan.

Karena itu, tuntutan reformasi militer sudah tak bisa ditawar lagi begitu Soeharto lengser.
Sama kuatnya dengan tuntutan pemberantasan korupsi dan reformasi ekonomi. Dan
meskipun, pada saat lengsernya Soeharto, Reformasi ABRI (sebelum menjadi TNI) menjadi
salah satu tuntutan para demonstran -yang dimotori mahasiswa saat menumbangkan
kekuasaan Orde Baru (Orba). Para demonstran meminta militer tidak terlibat dalam politik.
Kaum reformis menginginkan pasukan berkonsentrasi dalam fungsinya sebagai alat
pertahanan negara. Militer harus kembali ke barak.
Dasar Pemikiran Militer.
Apakah TNI benar-benar bersedia meninggalkan dunia politik yang selama ini mereka
bungkus dengan legitimasi dwifungsi? Apakah Gerangan yang menjadi dasar Pemikiran
mereka ?
Apakah TNI benar-benar siap menjadi institusi yang hanya mengurus persoalan pertahanan
seperti yang dikatakan Samuel Huntington bahwa profesionalisme militer ditentukan oleh
ketidakterlibatan mereka dalam panggung politik. Militer semata-mata menjadi alat
pertahanan negara. TNI masih enggan keluar dari ranah politik. Ini terlihat dengan masih
dipertahankannya institusi teritorial seperti Kodam, Korem, Kodim, hingga Koramil. Institusi
militer di daerah yang paralel dengan berbagai level di pemerintah daerah itu tetap
berpotrensi menjadi pintu gerbang militer untuk menjangkau bilik non-pertahanan.
Rupanya, tentara merasa berhak dalam mengelola persoalan non-militer karena ada legitimasi
masa lampau. Sejumlah momentum sejarah telah menempatkan angkatan bersenjata merasa
menjadi superior. Misalnya, di awal kemerdekaan, para anggota militer membangun
pemerintahan sipil dengan cara menjadi kepala desa atau lurah. Sebuah debut militer untuk
mendapatkan pengakuan manunggal dengan rakyat sebagai tentara rakyat dan tentara
pejuang.
Konsepsi jalan tengah yang dilontarkan Jenderal Nasution memberi roh bagi militer untuk
memasuki wilayah sipil. Nasution menyebut militer tidak boleh hanya jadi penonton dalam
akrobatik panggung politik nasional. Dia menilai kristalisasi dwifungsi TNI dengan
pandangan bahwa, Posisi TNI bukanlah sekadar alat sipil seperti di negara barat, tapi juga
bukan rezim militer yang memegang kekuasaan. Dia adalah sebagai kekuatan sosial,
kekuatan rakyat yang bahu-membahu dengan kekuatan rakyat lainnya
Jika Nasution memberi landasan moral bahwa militer tak boleh diam mengontrol panggung
politik, sedangkan Soeharto yang berkuasa di era Orba melakukan aplikasi yang mendalam.
Bila Nasution memberi spirit, Soeharto melegalisasi.

UU no. 20 Tahun 1982 tentang Pertahanan Keamanan memberi basis legitimasi kepada
militer untuk berkiprah di bidang sosial politik. Soeharto yang merancang sekaligus
mengaplikasi aturan itu telah memberi lapangan seluas-luasnya kepada militer untuk
memainkan peran-peran politik, ekonomi, sosial, dan birokrasi dengan bungkus dinamisator
dan stabilisator.
Militer menikmati madu sebagai penguasa di era Orba, baik sebagai menteri, kepala
daerah, diplomat, dan berbagai jabatan sipil lainnya, hingga menguasai unit bisnis pemerintah
dan swasta. Inilah yang disebut kenikmatan yang sulit dilepas sebagian petinggi militer.
Sebuah langkah yang melebihi batas jalan tengah dan telah menjadi syahwat politik dan
ekonomi.
Langkah TNI melakukan reformasi internal seperti merombak nama ABRI menjadi TNI,
menghapus Fraksi TNI/Polri di parlemen maupun penghapusan Kasosspol (Kepala Staf
Sosial Politik) -kemudian diganti dengan Kaster (Kepala Staf Teritorial) belum memuaskan
kelompok-kelompok yang menginginkan tentara cukup berada di barak. TNI masih dianggap
di luar rel.
Apalagi TNI menerjemahkan profesionalisme sangat berbeda dengan negara yang
menganggap militer hanya mesin perang. Simak pandangan Jenderal Ryamrizard Ryacudu
saat menjabat KSAD: Yang menyebut TNI profesional adalah parjurit yang tidak hanya
mahir perang dan menembak, tapi juga manunggal dengan rakyat dan berada di tengah
rakyat.
Itulah sebabnya Ryamrizard menolak penghapusan komando teritorial yang dia sebut sebagai
bagian untuk manunggalnya TNI dengan rakyat.
Perbedaan pandangan Ryamrizard dengan kelompok yang menginginkan TNI kembali ke
barak, tak akan pernah selesai. Sebuah perdebatan yang tak akan menemukan pintu tengah.
TNI juga melihat persoalan di lapangan seperti rendahnya kesejahteraan prajurit, doktrin serta
kultur TNI. Dan, arah perkembangan profesionalisme TNI memang berbeda dengan negara
lain.Kalau dilacak secara historis, pergeseran dan keanehan di tubuh militer bukanlah hal
baru. Inilah realita dunia militer yang terkadang sulit dibingkai dalam sebuah analisis.
Sejak masa demokrasi terpimpin, militer melakukan balas dendam terhadap sipil. Militer
secara terang-terangan meminta kepada Bung Karno untuk membubarkan parlemen. Bahkan
sejak usaha nasionalisasi perusahaan-perusahaan kolonial Belanda dilakukan, intervensi dan
dominasi militer semakin mencengkram. Ia tidak hanya mengendalikan politik, tapi juga
ekonomi.Tradisi dominasi dan intervensi militer terhadap wilayah sipil ini terus dipelihara
oleh Orde Baru. Militer menjadi kekuatan yang menggurita yang menggerakkan nafas negeri
ini. Benih dominasi yang tertanam pada akhir Orde Lama tumbuh subur selama

pemerintahan Orde Baru. Pembatasan jumlah partai politik dan penerapan asas tunggal
Pancasila merupakan salah satu wujud intervensi militer terhadap hak-hak sipil.

Profesionalisme Dwifungsi TNI dari Orba hingga reformasi


Dan apabila kita melihat setelah runtuhnya Pemerintahan Soeharto, maka Hegemoni Tentara
pun tetap tidak dapat dilepaskan dari ranah Politis. Bahkan, Pada Pemerintahan Abdurrahman
wahid, yang dimaa Gus Dur pada saat itulah orang yang tidak mendukung Tentara, begitu
pula dengan dirinya yang sama sekali tidak didukung oleh Tentara. Namun, kesalahan Fatal
Gus Dur adalah ia sama sekali tidak mengakomodasi kepentingan Tentara. Sehingga,
kalangan tentara, yang selama ini bertekad mewujudkan profesionalisme di bidang
pertahanan dan keamanan dan menjauhi wilayah politik, kenyataannya sengaja atau tidak,
ikut berperan dalam percepatan penjatuhan politik atas Presiden Abdurrahman Wahid (Gus
Dur). Penolakan dukungan TNI dan Polri atas keinginan lama Gus Dur untuk mengeluarkan
dekrit, sebaliknya mendukung Sidang Istimewa (SI) MPR dipercepat, merupakan titik politik
signifikan bagi penciptaan momentum naiknya Megawati Soekarnoputri sebagai presiden,
didampingi Hamzah Haz sebagai wapres. Akomodasi kalangan tentara dalam pemerintahan
Megawati, sebenarnya bukan hal yang tidak wajar. Secara politik, Megawati agaknya tak
bisa lepas dari dukungan tentara. Seperti diakui Sekjen PDI Perjuangan Pramono Anung,
selain kubu Nasionalis dan agama (Islam), tentara (militer) adalah salah satu pilar utama riil
politik di Indonesia saat ini. Ini berarti, secara eksplisit kubu Megawati mengakui,
bagaimanapun eksistensi politik tentara tak bisa diabaikan. Cuma yang perlu dicermati
adalah, sejauh mana keterlibatan kalangan tentara dalam bingkai reformasi, penegakan
supremasi sipil, dan demokratisasi.Sehingga, secara gambaran TNI secara sistematis berusaha
mengerdilkan peranan para politisi sipil dalam arena politik. Langkah ini dibarengi dengan
usaha mereka menangkal setiap intervensi sipil dalam pembenahan tubuh militer,
khususnya dalam pengangkatan pimpinan mereka. Hal ini tentunya sudah menunjukkan
perbedaannya pada saat Orde BAru, dimana militer telah menekankan pada peran mereka
sebagai Pembela Pnacasil;a terhadap ancaman ancaman baik dari dalam maupun dari luar.
(ketika sejarah beragam). Bahkan Harold Crouch, seorang Penulis Asal singapura dengan
karyanya MILITARY-CIVILIAN RELATIONS IN SOUTHEAST ASIA, pernah menulis bahwa
konsep Dwifungsi ABRI di Indonesia, yang mencakup fungsi sospol di samping fungsi
hankam. Bahkan ia mengatakan tidak ada kekuatan sipil yang dapat menggantikan ABRI,
Namun, menjelang era era reformasi ini pulalah dengan kebebesan Pers dan ruang
berpendapat dibuka selebar lebarnya, Konsep DwiFungsi ABRI ini tenyata juga banyak
menuai Pro Konta, tentunya ada beberapa Pihak yang sangat tidak sepakat dengan KOnsep
Dwifungsi ABRI. Secara umum mereka berpendapat akan beberapa hal ; pertama, Dwi

Fungsi ABRI telah mendorong tentara untuk terlalu jauh terlibat dalam pemerintahan. Bahkan
keterlibatan ini mengebiri kekuatan sipil. Dalam kenyataannya, dampak negatif seringkali
lebih muncul. Kekuatan yang kuat di politik telah merangsang ABRI mengurusi atau
menentukan bisnis di masyarakat. Bisnis ini dalam perkembangannya semakin memperkuat
posisi tentara dalam pemerintahan, dan memperiferikan hak-hak ekonomi masyarakatnya.
Kedua, Dwi Fungsi ABRI nyata telah membuka penderitaan rakyat sipil. Tak jarang dengan
kekuatannya, tentara melakukan penyiksaan, penculikan, pemenjaraan, penggusuran dan lainlain. Sejarah politik di negeri ini sarat dengan keterlibatan tentara dalam setiap pengambilan
kebijakan yang berhubungan dengan rakyat. Anehnya, tentara memihak ke negara bukan ke
rakyat.Ketiga, jika Dwi Fungsi ABRI itu masih dipertahankan, selama itu pula demokrasi
berada dalam ancaman. Penulis mencatat bahwa sejarah negeri ini memperkuat dugaan
tersebut. Dalam tataran praktis, tentara sulit diajak untuk hidup berdemokrasi.

BAB III

Kesimpulan dan Saran


Apabila kita melihat Kembali Bagaimana dari sebenarnya dari Esensial dan Substansial dari
keberadaan TNI, dimana hal tersebut sudah cukup dibahasa secaa Lugas, dimana TNI secara
esensi dan substansi adalah alat Negara didalam menjaga Kemanan dan Stabilitas bangsa dan
Negara.Sebagaimana kita tahu Lembaga Pendidikan AKABRI yang mencetak Para Tentara
dengan segala bentuk Skill dan kemampuan Militer, yang nantinya siap didalam segala
medan pertempuran di lapangan. Sehingga, secara tujuan dan Proses Pendidikan , bahkan
sejak awal Negara membangun Lembaga Pendidikan Semacam AKABRI, semuanya memang
doarahkan untuk mencetak Tentara yang ahli di bidang Militer, bukan di bidang yang
selainnya. Maka, dengan demikian Para TNI secara Spesifik adalah orang orang yang ahli
pada bidang kemiliteran dengan keahlian Strategi perang, mentalitas herosime, dan kecintaan
dan ketundukan hanya kepada Bangsa dan Negaranya.
Sehingga, apabila kita menumpai TNI yang terjuan pada bidang yang selainnya, seperti di
Indonesia dengan paham Dwifungsi, dimana banyaknya para TNI yang terjun di dunia
Politik, dengan terlibat pada bidang Parlemen bahkan menjadi Pemimpin Pemerintahan
ataupun masuk di Jajaran kabinet. Maka, Layaklah apabila kita pertanyakan tentang
Profesionalisme TNI saat ini? Karena dengan paham dwifungsi tersebut, dimana TNI
tidaklagi fokus dengan apa yang seharusny menjadi Tujuan dan tanggug jawab dirinya, maka
menurut Penulis hal ini sudah menjadi satu Indikasi akan resistensi keprofesionalan TNI.

Karena dengan Dwifungsi TNI tersebut, maka akan berimplikasi pada Pelemahan dalam sisi
Militer sendiri, dan juga akan memberikan warna lain pada Perpolitikab kita, seperti yang
sudah terjadi saat ini. Karen seperti kita tahu , bahwa Para TNI sama sekali tidak dibekali
dengan kemampuan Politik, dimana bidang ini sangat menuntut kemampuan managemen
managemen di bidang soaial, karena mereka dituntut untuk mengelola Negara, hajat hidup
orang banyak di segala bidang didalam kabinetnya nanti, sedangkan Tentara sama sekali tidak
dibekali kemampuan tersebut. Maka, hal inilah yang saya maksud TNI pada akhirnya akan
memberikan warna lain pada Perpolitikan kita, yang mungkin akan menjadi sangat
Pragmatis, karena hanya berbekal kemauan keras, semngat kepemilikan terhadap negara
karena mereka yang dulunya berjuang habisa habisan demi Negara, namun tanpa dibekali
kemampuan memadai, maka tentunya hal ini akan berdampak Fatal. Maka, hal inilah yang
akan menghancurkan Profesionalisme TNI itu sendiri. Dan hal ini sudah lama terjadidi
Indonesia semenjak Orde baru hingga reformasi bergulir. Sehingga, hal inilah yang menjadi
PR dan renungan kita bersama sebagai bangsa Indoenesia, namun bukan berarti Penulis
hendak menghapuskan Paham Dwifungsi TNI, akan tetapi ada baiknya kita senantiasa
mengevaluatif terhadap system system dan kebijakan Pemimpin kita agar Indonesia lebih
baik.