Anda di halaman 1dari 15

5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Anatomi dan Fisiologi Mata


Mata merupakan organ kecil yang mempunyai fungsi yang penting yaitu

organ penglihatan. Penglihatan merupakan salah satu dari lima organ indera yang
sering digunakan dan menjadi tempat kita mendapatkan informasi dari lingkungan
sekitar. Lebih dari 75% informasi yang kita dapatkan adalah dari mata yang
memberi informasi visual.1
Mata sering dibandingkan dengan kamera yang mengumpulkan cahaya
dan mengubahnya menjadi gambar.Kedua mata dan kamera memiliki lensa yang
memfokuskan cahaya yang masuk. Seperti kamera yang memfokuskan cahaya ke
film untuk membuat gambar, mata memfokuskan cahaya yang masuk ke retina
yang merupakan lembaran jaringan saraf berlapis tipis yang akan membuat
gambar.1
Gambar 2.1 Anatomi Mata

Sumber :(http://catatanmahasiswafk.blogspot.com/2012/06/anatomi-mata.html)

Yang termasuk media refraksi adalah antara lain kornea, pupil, lensa dan
vitreous. Media refraksi mempunyai target di retina sentral (makula). Gangguan
pada media refraksi menyebabkan visus menurun baik mendadak maupun
perlahan.2
2.2

Media Refraksi
Hasil pembiasan sinar pada mata ditentukan oleh media penglihatan yang

terdiri atas kornea, cairan mata, lensa, benda kaca, dan panjangnya bola mata.
Pada orang normal susunan pembiasan oleh media penglihatan dan panjangnya
bola mata sedemikian dibiaskan tepat di daerah makula lutea. Mata yang normal
disebut sebagai mata emetropia yang berasal dari kata Yunani emetros yang
berarti ukuran normal atau dalam keseimbangan wajar dengan tanpa adanya
kelainan refraksi dan akan menempatkan bayangan benda tepat di retinanya pada
keadaan mata tidak melakukan akomodasi atau istirahat melihat jauh.3
2.2.1

Kornea
Kornea adalah jaringan transparan yang ukuran dan strukturnya sebanding

dengan kristal sebuah jam tangan kecil. Transparansi kornea disebabkan oleh
strukturnya yang seragam, avaskularitas, dan deturgensinya. Kornea dewasa ratarata mempunyai tebal 550 m di pusatnya, diameter horizontal sekitar 11,75 mm
dan vertikalnya 10,6 mm. Dari anterior ke posterior, kornea mempunyai lima
lapisan yang terdiri dari:4
1. Epitel
Lapisan yang berbatasan dengan konjungtiva bulbaris. Lapisan ini
mempunyai mempunyai tebal 50 m dengan 5 lapis sel yang saling
tumpang tindih.
2. Membran Bowman
Lapisan jernih aselular, yang merupakan bagian stroma yang
berubah. Terletak di bawah membran basal epitel kornea yang merupakan

kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian
depan stroma.
3. Stroma
Stroma menyusun sekitar 90% ketebalan kornea yang tersusun atas
jalinan lamella serat-serat kolagen dengan lebar sekitar 10-250 m dan
tinggi 1-2 m yang mencakup hampir seluruh diameter kornea.
4. Membran Descemet
Merupakan lamina basalis endotel kornea, memiliki tampilan yang
homogendengan mikroskop cahaya tetapi tampak berlapis-lapis. Bersifat
elastik dan berkembang terus seumur hidup, mempunyai tebal 40 m. Saat
lahir tebalnya sekitar 3 m dan terus menebal selama hidup mencapai 1012 m.
5. Lapisan Endotel
Hanya memiliki satu lapisan dan rentan terhadap trauma dan
kehilangan sel-selnya seiring dengan penuaan. Kegagalan fungsi endotel
akan menimbulkan edema kornea.3,4
Sumber-sumber nutrisi untuk kornea adalah pembuluh-pembuluh darah
limbus, humor aqueous, dan air mata. Kornea superficial juga mendapatkan
sebagian besar oksigen dari atmosfer. Saraf-saraf sensorik kornea didapati dari
cabang pertama (ophtalmicus) nervus kranialis V (trigeminus).5
Kornea merupakan jendela paling depan dari mata dimana sinar masuk
dan difokuskan ke dalam pupil. Kornea dapat membiaskan atau memfokuskan
sinar yang masuk sebanyak 80% serta memiliki kekuatan bias 40 dioptri.5

2.2.2

Iris
Iris atau selaput pelangi yang berwarna coklat akan menghalai sinar masuk

ke dalam mata yang akan mengatur jumlah sinar masuk ke dalam pupil melalui
besarnya pupil. Iris merupakan bagian yang berwarna pada mata.
2.2.3

Pupil
Pupil adalah bagian yang berwarna hitam pekat pada sentral iris yang

mengatur jumlah sinar masuk ke dalam bola mata. Seluruh sinar yang masuk
melalui pupil diserab sempurna oleh jaringan dalam mata dan tidak ada sinar yang
keluar melalui pupil. Ukuran pupil dapat mengatur reflex mengecil dan
membesarkan untuk jumlah masuknya sinar atau bayangan. Pada penerangan
yang cerah pupil akan mengecil untuk mengurangkan rasa silau.
Pada tepi pupil terdapat M. Sfingter pupil yang bila berkontraksi akan
mengakibatkan mengecilnya pupil (miosis-konstriksi). Miosis terjadi apabila kita
melihat dekat atau merasa silau dan pada saat berakomodasi. Terdapat M.
Dilatators pupil yang apabila berkontraksi akan mengakibatkan pupil membesar
(midriasis). Midriasis terjadi apabila kita berada ditempat yang gelap atau pada
waktu kita melihat jauh.6
2.2.4

Lensa
Lensa adalah suatu struktur bikonveks, avaskular, tak berwarna, dan

hampir transparan sempurna.Tebalnya sekitar 4 mm dan diameternya 9 mm.


Lensa tergantung pada zonula di belakang iris, zonula menghubungkannya dengan
corpus ciliare. Di sebelah anterior lensa terdapat aqueous humor; disebelah
posteriornya, vitreus. Kapsul lensa adalah suatu membrane semipermiabel yang
akan memperbolehkan air dan elektrolit masuk.
Enam puluh lima persen lensa terdiri atas air, sekitar 35% nya protein
(kandungan proteinnya tertinggi di antara jaringan-jaringan tubuh). Kandungan
kalium lebih tinggi di lensa daripada di kebanyakan jaringan lain. Tidak ada serat
nyeri, pembuluh darah atau saraf di lensa.4

Lensa yang jernih mengambil peranan membiaskan sinar 20% atau 10


dioptri. Peranan lensa yang terbesar adalah pada saat melihat dekat atau
berakomodasi. Lensa akan menjadi kaku dengan bertambahnya umur sehingga
akan terlihat sebagai presbiopia.6
2.2.5

Aqueous Humor (Cairan Mata)


Aqueous humor dibentuk dengan kecepatan 5 ml/hari oleh jaringan kapiler

di dalam korpus siliaris.7 Setelah memasuki bilik mata belakang, aqueous humor
melalui pupil dan masuk ke bilik mata depan, kemudian ke perifer menuju sudut
bilik mata depan.4 Aqueous humor yang tidak dikeluarkan sama cepatnya dengan
pembentukannya (sebagai contoh, karena sumbatan pada saluran keluar),
kelebihan cairan akan tertimbun di rongga anterior dan menyebabkan peningkatan
tekanan intraokular (di dalam mata) yang dikenal sebagai glaukoma.7
2.2.6

Badan Vitreous (Badan Kaca)


Vitreous adalah suatu badan gelatin yang jernih dan avaskular yang

membentuk dua pertiga volume dan berat mata yang mengadung air sekitar 99%.
Vitreous mengisi ruangan yang dibatasi oleh lensa, retina, dan diskus optikus.4
Vitreous humor penting untuk mempertahankan bentuk bola mata yang sferis.7
2.3

Akomodasi
Mata mengubah-ubah daya bias untuk menetapkan fokus pada objek dekat

melalui proses yang disebut akomodasi.4 Kekuatan akomodasi akan diatur oleh
refleks akomodasi dan akan bangkit apabila mata melihat kabur dan pada waktu
melihat dekat. Dengan berakomodasi maka benda pada jarak yang berbeda-beda
akanterfokus ke retina.3 Batas melihat terdekat adalah 10 Dioptri 4 inci (10,2
cm)(Alpern and David, 1958). Dioptri merupakan kekuatan lensa, fokus lensa 10
cm = kekuatan lensa 5 diopti.5 Seiring bertambahnya usia maka akan berkurang
daya akomodasi diakibatkan berkurangnya elastisitas lensa sehingga lensa suka
mencembung yang disebut dengan prebiopia.6

10

2.4

Mata Normal
Emetropia adalah tidak adanya kelainan refraksi dan ametropia adalah

adanya kelainan refraksi.4 Emetropia berasal dari kata Yunani emetros yang berarti
ukuran normal atau dalam keseimbangan wajar. Mata dengan dengan sifat
emetropia adalah mata tanpa adanya kelainan refraksi pembiasan sinar mata dan
berfungsi normal. Bila sinar sejajar tidak difokuskan maka macula lutea disebut
ametropia.
Mata emetropia akan mempunyai penglihatan normal atau 6/6 atau 100%.
Bila media penglihatan seperti kornea, lensa, dan badan kaca keruh maka sinar
tidak dapat diteruskan ke makula lutea. Kornea mempunyai daya pembiasan sinar
terkuat disbanding bagian mata lainnya. Lensa memegang peranan membiaskan
sinar terutama pada saat melakukan akomodasi atau bila melihat benda yang
dekat.
2.5

Ametropia (Kelainan Refraksi)


Dalam bahasa Yunani ametros berarti tidak sebanding atau tidak seimbang.

Ametropia adalah keadaan pembiasan mata dengan panjang bola mata yang tidak
seimbang.3
Ametropia dapat dibagi menjadi :
1. Miopia
2. Hipermetropia
3. Astigmat

11

Gambar 2.2 Kelainan refraksi

Sumber : (http://www.preventblindness.info/superspecs/glasses/glasses.html)
2.6

Miopia
Bila bayangan benda yang terletak jauh difokuskan didepan retina oleh

mata yang tidak berakomodasi, mata tersebut mengalami miopia, atau


nearsighted.4 Miopia disebut dengan rabun jauh akibat berkurangnya kemampuan
untuk melihat jauh akan tetapi dapat melihat dekat dengan lebih baik.6
2.6.1

Klasifikasi Miopia
Dikenal beberapa bentuk miopia :

a. Miopia refraktif : lensa menjadi lebih cembung sehingga pembiasan lebih


kuat
b. Miopia aksial : akibat panjangnya sumbu bola mata dengan kelengkungan
kornea dan lensa yang normal
Menurut derajat beratnya miopia dibagi dalam :
a. Miopia ringan, miopia lebih kecil daripada 1-3 dioptri.
b. Miopia sedang, miopia lebih antara 3-6 dioptri.
c. Miopia berat atau tinggi, miopia lebih besar dari 6 dioptri.

12

Menurut perjalan miopia dikenal bentuk :


a. Miopia stasioner, miopia yang menetap setelah dewasa.
b. Miopia progresif, miopia yang bertambah terus pada usia dewasa akibat
bertambahnya panjangnya bola mata.
c. Miopia

maligna,

miopia

yang

berjalan

progresif,

yang

dapat

mengakibatkan ablasi retina dan kebutaan atau sama dengan Miopia


pernisiosa = miopia maligna = miopia degeneratif.3
2.6.2

2.6.3

Gejala Miopia
-

Melihat jelas bila dekat atau melihat terlalu dekat

Melihat jauh kabur

Keluhan sakit kepala sering disertai dengan juling

Mempunyai kebiasaan mengerinyitkan mata.5

Diagnosis Miopia
Tujuan pemeriksaan adalah untuk mengetahui derajat lensa negatif yang

diperlukan untuk memperbaiki tajam penglihatan sehingga tajam penglihatan


menjadi normal atau tercapai tajam penglihatan terbaik.
Alat yang digunakan:
a. Kartu Snellen
b. Bingkai percobaan
c. Set lensa coba.
Teknik pemeriksaan:
1. Pasien duduk menghadap kartu Snellen pada jarak 6 meter.
2. Pada mata dipasang bingkai percobaan.

13

3. Satu mata ditutup.


4. Pasien diminta membaca kartu Snellen mulai huruf terkecil yang masih
bisa dibaca.
5. Lensa negatif terkecil dipasang pada tempatnya dan bila tajam penglihatan
menjadi lebih baik ditambah kekuatannya perlahan-lahan hingga dapat
dibaca huruf pada baris terbawah.
6. Sampai terbaca baris 6/6.
7. Mata yang lain dikerjakan dengan cara yang sama.9
2.6.4

Penatalaksanaan Miopia
Lensa sferis konkaf (minus) biasanya digunakan untuk mengoreksi

bayangan pada miopia. Lensa ini memundurkan bayangan ke retina.4,10


2.7

Hipermetropia
Hipermetropia atau rabun dekat merupakan keadaan gangguan kekuatan

pembiasan mata dimana sinar sejajar jauh tidak cukup dibiaskan sehingga titik
fokusnya terletak di belakang retina. Pada hipermetropia sinar sejajar difokuskan
di belakang makula lutea. Penyebab utama hipermetropia adalah panjangnya bola
mata yang lebih pendek. Akibat bola mata yang lebih pendek bayangan benda
akan difokuskan di belakang retina.
Hipermetropia dapat disebabkan :
a. Hipermetropia sumbu atau hipermetropia aksial merupakan kelainan
refraksi akibat bola mata pendek.
b. Hipermetropia kurvatur, dimana kelengkungan kornea atau lensa kurang
sehingga bayangan difokuskan di belakang retina.
c. Hipermetropia refraktif, dimana terdapat indeks bias yang kurang pada
sistem optik mata.3

14

2.7.1

Klasifikasi Hipermetropia

1. Hipermetropia manifest : hipermetropia ini terdiri atas hipermetropia


absolut dan hipermetropia fakultatif yang dikoreksi dengan kacamata
positif maksimal.
2. Hipermetropia absolut : perjalan dari hipermetropia laten yang
memerlukan kacamata positif untuk melihat jauh.
3. Hipermetropia fakultatif : pasien yang hanya mempunyai hipermetropia
fakultatif akan melihat normal tanpa kacamata dan apabila diberi kacamata
positif yang memberikan penglihatan normal maka otot akomodasi akan
mendapatkan istirahat.
4. Hipermetropia laten : hipermetropia yang dapat diukur hanya dengan
diberikan sikloplegia.
5. Hipermetropia total : hipermetropia yang ukurannya didapati setelah diberi
sikloplegia.3,6
2.7.2

Gejala Hipermetropia
-

Pengelihatan dekat dan jauh kabur

Sakit kepala, mata lelah akibat harus terus menerus berakomodasi

Silau

Kadang rasa juling atau lihat ganda.3,5

Pada pasien muda dengan hipermetropia tidak akan memberikan keluhan


karena matanya masih mampu melakukan akomodasi kuat untuk melihat benda
dengan jelas. Pada pasien yang banyak membaca atau mempergunakan matanya,
terutama pada usia yang telah lanjut, akan memberikan keluhan kelelahan setelah
membaca.3

15

2.7.3

Diagnosis Hipermetropia
Tujuan pemeriksaan adalah untuk mengetahui derajat lensa positif yang

diperlukan untuk memperbaiki tajam penglihatan sehingga tajam penglihatan


menjadi normal atau tercapai tajam penglihatan yang terbaik.
Alat yang digunakan:
a. Kartu Snellen
b. Bingkai percobaan
c. Set lensa coba.
Teknik pemeriksaan:
1. Pasien duduk menghadap kartu Snellen pada jarak 6 meter.
2. Pafa mata dipasang gagang lensa coba.
3. Satu mata ditutup, biasanya mata kiri ditutup terlebih dahulu untuk
memeriksa mata kanan.
4. Pasien diminta membaca kartu Snellen mulai huruf terbesar (teratas) dan
diteruskan pada baris bawahnya sampai pada huruf terkecil yang masih
dapat dibaca.
5. Lensa positif terkecil ditambah pada mata yang diperiksa dan bila tampak
jelas oleh pasien lensa postif tersebut ditambah kekuatannya perlahanlahan dan diminta membaca huruf-huruf pada baris lebih bawah.
6. Ditambah kekuatan lensa sampai terbaca huruf-huruf pada baris 6/6.
7. Ditambah lensa positif + 0.25 lagi dan ditanyakan apakah masih dapat
melihat huruf-huruf di atas.9

16

2.7.4

Penatalaksanaan hipermetropia

a. Kacamata
Pada pasien dengan hipermetropia sebaiknya diberikan kacamata kacamata
sferis positif terkuat atau lensa positif terbesar yang masih memberikan tajam
penglihatan maksimal. Bila pasien dengan + 3.0 ataupun dengan + 3.25
memberikan ketajaman penglihatan 6/6, maka diberikan kacamata + 3.25. Hal ini
untuk memberikan istirahat pada mata. Pada pasien dengan akomodasi masih
sangat kuat atau pada anak-anak, maka sebaiknya pemeriksaan dilakukan dengan
memberikan

sikloplegik

atau

melumpuhkan

otot

akomodasi.

Dengan

melumpuhkan otot akomodasi, maka pasien akan mendapatkan koreksi


kacamatanya dengan mata yang istirahat.
Penyulit yang dapat terjadi pada pasien dengan hipermetropia adalah
esotropia dan glaukoma. Esotropia atau juling ke dalam menjadi akibat pasien
selamanya melakuakan akomodasi. Glaukoma sekunder terjadi akibat hipertrofi
otot siliar pada badan siliar yang akan mempersempit sudut bilik mata.3
2.8

Astigmat
Pada astigmat berkas sinar tidak difokuskan pada satu titik dengan tajam

pada retina akan tetapi pada 2 garis titik api yang saling tegak lurus yang terjadi
akibat kelainan kelengkungan permukaan kornea. Astigmat merupakan akibat
bentuk kornea yang oval seperti telur, makin lonjong bentuk kornea, makin tinggi
astigmat mata tersebut.3
2.8.1

Klasifikasi Astigmat
Berdasarkan posisi garis fokus dalam retina astigmatisme dibagi menjadi:
1. Astigmatisme Reguler: didapatkan dua titik bias pada sumbu
mata karena adanya dua bidang yang saling tegak lurus pada
bidang yang lain sehingga pada salah satu bidang memiliki
daya bias yang lebih kuat dari pada bidang yang lain.

17

a. Astigmatisme With the Rule: bila pada bidang vertical


mempunyai daya bias yang lebih kuat dari pada bidang
horizontal.
b. Astigmatisme Against the Rule: bila pada bidang horizontal
mempunyai daya bias yang lebih kuat dari pada bidang
vertical.
2. Astigmatisme Irreguler: dimana titik bias didapatkan tidak
teratur atau orientasi meridian-meridian utamanya berubah
disepanjang lubang pupil.
Berdasarkan letak titik vertikal dan horizontal pada retina, astigmatisme
dibagi sebagai berikut:
a. Simple Astigmatism
1. Simple Myopic Astigmatism: garis fokus pertama ada didepan
retina, garis fokus kedua tepat di retina.
2. Simple Hypermetropic Astigmatism: garis fokus pertama ada
pada retina, garis fokus kedua terletak dibelakang retina.
b. Compound Astigmatism
1. Compound Myopic Astigmatism: kedua jalur fokus terletak
didepan retina.
2. Compound Hypermetropic Astigmatism: kedua jalur fokus
terletak dibelakang retina.
c. Astigmatisma campuran : garis fokus berada dikedua sisi retina.4,8
2.8.2

Gejala Astigmat
Seseorang dengan astigmat akan memberikan keluhan melihat jauh kabur

sedang melihat dekat lebih baik, melihat ganda dengan satu atau kedua mata,

18

melihat benda yang bulat menjadi lonjong, penglihatan akan kabur untuk jauh
ataupun dekat, bentuk benda yang dilihat berubah, sakit kepala, mata tegang dan
pegal, mata dan fisik lelah.6
2.8.3

Diagnosis Astigmat
Tujuan pemeriksaan adalah untuk mengetahui derajat lensa silinder yang

diperlukan dan sumbu silinder yang dipasang untuk memperbaiki tajam


penglihatan menjadi normal atau tercapai tajam penglihatan terbaik.
Alat yang digunakan:
a. Kartu Snellen
b. Bingkai percobaan
c. Kipas astigmat
d. Set lensa coba.
Teknik pemeriksaan:
1. Pasien duduk menghadap kartu Snellen pada jarak 6 meter.
2. Pada mata dipasang bingkai percobaan.
3. Satu mata ditutup.
4. Dengan mata yang terbuka pada pasien dilakukan terlebih dahulu
pemeriksaan dengan lensa (+) atau (-) sampai tercapai ketajaman
penglihatan terbaik, dengan lensa positif atau negative tersebut.
5. Pada mata tersebut dipasang lensa (+) positif yang cukup besar (misal S +
3.00) untuk membuat pasien mempunyai kelainan refraksi astigmat
mioptikus.
6. Pasien diminta melihat kartu kipas astigmat
7. Pasien ditanya tentang garis pada kipas yang paling jelas terlihat.

19

8. Bila pasien terlihat perbedaan tebal garis kipas astigmat maka lensa S +
3.00 diperlemah sedikit demi sedikit sehingga pasien dapat menentukan
garis mana yang terjelas dan mana yang terkabur.
9. Lensa silinder negatif diperkuat sedikit demi sedikit dengan sumbu
tersebut hingga pada satu saat tampak garis yang mula-mula terkabur sama
jelasnya dengan garis yang sebelumnya terlihat terjelas.
10. Bila sudah tampak sama jelas garis pada kipas astigmat, dilakukan tes
melihat kartu Snellen.
11. Bila penglihatan belum 6/6 sesuai kartu Snellen, maka mungkin lensa
positif (+) yang diberikan terlalu berat, sehingga perlu secara perlahanlahan dikurangi kekuatan lensa positif tersebut atau ditamabah lensa
negatif.
12. Pasien diminta membaca kartu Snellen pada saat lensa negatif (-) ditambah
perlahan-lahan sampai tajam penglihatan menjadi 6/6.9
2.8.4

Penatalaksanaan astigmat
Kelainan astigmat dapat dikoreksi dengan lensa silindris, sering
kali dikombinasi dengan lensa sferis.4