Anda di halaman 1dari 20

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatomi dan Fisiologi Sistem Perkemihan
Sistem perkemihan merupakan suatu sistem dimana terjadinya proses
penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak dipergunakan oleh
tubuh dan menyerap zat-zat yang masih dipergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang
tidak dipergunakan oleh tubuh larut dalam air dan dikeluarkan berupa urin (air
kemih).2 Susunan sistem perkemihan terdiri dari: a) dua ginjal (ren) yang
menghasilkan urin, b) dua ureter yang membawa urin dari ginjal ke vesika
urinaria (kandung kemih), c) satu vesika urinaria tempat urin dikumpulkan, dan d)
satu uretra urin dikeluarkan dari vesika urinaria.3

Gambar 2.l Anatomi Saluran Kemih


1. Ginjal (Ren)
3

Ginjal terletak pada dinding posterior di belakang peritoneum pada


kedua sisi vertebra torakalis ke-12 sampai vertebra lumbalis ke-3. Bentuk
ginjal seperti biji kacang. Ginjal kanan sedikit lebih rendah dari ginjal kiri,
karena adanya lobus hepatis dextra yang besar.1,2,3,4
2. Fungsi ginjal
Fungsi ginjal adalah memegang peranan penting dalam pengeluaran
zat-zat toksis atau racun, mempertahankan suasana keseimbangan cairan,
mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan tubuh, dan
mengeluarkan sisa-sisa metabolisme akhir dari protein ureum, kreatinin dan
amoniak.1,2,3,4
3. Fascia renalis
Fascia renalis terdiri dari: a) fascia (fascia renalis), b) jaringan lemak
perirenal, dan c) kapsula yang sebenarnya (kapsula fibrosa), meliputi dan
melekat dengan erat pada permukaan luar ginjal. 1,2,3,4
4. Stuktur ginjal
Setiap ginjal terbungkus oleh selaput tipis yang disebut kapsula
fibrosa, terdapat korteks renalis di bagian luar, yang berwarna cokelat gelap,
medulla renalis di bagian dalam yang berwarna cokelat lebih terang
dibandingkan korteks. Bagian medulla berbentuk kerucut yang disebut
piramides renalis, puncak kerucut tadi menghadap kaliks yang terdiri dari
lubang-lubang kecil yang disebut papilla renalis. 1,2,3,4

Hilum adalah pinggir medial ginjal berbentuk konkaf sebagai pintu


masuknya pembuluh darah, pembuluh limfe, ureter dan nervus. Pelvis renalis
berbentuk corong yang menerima urin yang diproduksi ginjal. Terbagi
menjadi dua atau tiga calices renalis majores yang masing-masing akan
bercabang menjadi dua atau tiga calices renalis minores. Struktur halus ginjal
terdiri dari banyak nefron yang merupakan unit fungsional ginjal.
Diperkirakan ada 1 juta nefron dalam setiap ginjal. Nefron terdiri dari:
glomerulus, tubulus proximal, ansa henle, tubulus distal dan tubulus
urinarius.3
5. Proses pembentukan urin4
Tahap pembentukan urin
a. Proses filtrasi, di glomerulus.
Terjadi penyerapan darah yang tersaring adalah bagian cairan darah
kecuali protein. Cairan yang tersaring ditampung oleh simpai bowmen yang
terdiri dari glukosa, air, sodium, klorida, sulfat, bikarbonat dll, diteruskan ke
tubulus ginjal. Cairan yang disaring disebut filtrat glomerulus.
b. Proses reabsorbsi
Pada proses ini terjadi penyerapan kembali sebagian besar dari
glukosa, sodium, klorida fosfat dan beberapa ion bikarbonat. Prosesnya
terjadi secara pasif (obligator reabsorbsi) di tubulus proximal. Sedangkan
pada tubulus distal terjadi kembali penyerapan sodium dan ion bikarbonat
bila diperlukan tubuh. Penyerapan terjadi secara aktif (reabsorbsi fakultatif)
dan sisanya dialirkan pada papilla renalis.

c. Proses sekresi
Sisa dari penyerapan kembali yang terjadi di tubulus distal dialirkan
ke papilla renalis selanjutnya diteruskan ke luar.
6. Pendarahan1,2,3,4
Ginjal mendapatkan darah dari aorta abdominalis yang mempunyai
percabangan arteri renalis, arteri ini berpasangan kiri dan kanan. Arteri renalis
bercabang menjadi arteri interlobularis kemudian menjadi arteri akuarta.
Arteri interlobularis yang berada di tepi ginjal bercabang manjadi arteriole
aferen glomerulus yang masuk ke gromerulus. Kapiler darah yang
meninggalkan gromerulus disebut arteriole eferen gromerulus yang kemudian
menjadi vena renalis masuk ke vena cava inferior.
7. Persarafan ginjal.4
Ginjal mendapatkan persarafan dari fleksus renalis (vasomotor). Saraf
ini berfungsi untuk mengatur jumlah darah yang masuk ke dalam ginjal, saraf
ini berjalan bersamaan dengan pembuluh darah yang masuk ke ginjal.
8. Ureter4
Terdiri dari 2 saluran pipa masing-masing bersambung dari ginjal ke
vesika urinaria. Panjangnya 25-34 cm, dengan penampang 0,5 cm. Ureter
sebagian terletak pada rongga abdomen dan sebagian lagi terletak pada
rongga pelvis. Lapisan dinding ureter menimbulkan gerakan-gerakan
peristaltik yang mendorong urin masuk ke dalam kandung kemih.
Lapisan dinding ureter terdiri dari:

a. Dinding luar jaringan ikat (jaringan fibrosa)


b. Lapisan tengah lapisan otot polos
c. Lapisan sebelah dalam lapisan mukosa
9. Vesika urinaria (kandung kemih) 1,2,3,4
Vesika urinaria bekerja sebagai penampung urin. Organ ini berbentuk
seperti buah pir (kendi). Letaknya di belakang simfisis pubis di dalam rongga
panggul. Vesika urinaria dapat mengembang dan mengempis seperti balon
karet.
10. Uretra3
Merupakan saluran sempit yang berpangkal pada vesika urinaria yang
berfungsi menyalurkan air kemih ke luar. Pada laki-laki panjangnya kira-kira
13,7-16,2 cm, terdiri dari:
a. Uretra pars prostatika
b. Uretra pars membranosa
c. Uretra pars spongiosa.
Uretra pada wanita panjangnya kira-kira 3,7-6,2 cm. sphincter uretra
terletak di sebelah atas vagina (antara clitoris dan vagina) dan uretra disini
hanya sebagai saluran ekskresi.
11. Urin. 1,2,3,4
Sifat fisis air kemih, terdiri dari:
a. Jumlah ekskresi dalam 24 jam 1.500 cc tergantung dari pemasukan
(intake) cairan dan faktor lainnya.

b. Warna bening kuning muda dan bila dibiarkan akan menjadi keruh.
c. Warna kuning tergantung dari kepekatan, diet, obat-obatan dan sebagainya.
d. Bau, bau khas air kemih bila dibiarkan lama akan berbau amoniak.
e. Berat jenis 1,015-1,020.
f. Reaksi asam, bila lama-lama menjadi alkalis, juga tergantung daripada diet
(sayur menyebabkan reaksi alkalis dan protein member reaksi asam).
Komposisi air kemih, terdiri dari:
a. Air kemih terdiri dari kira-kira 95% air.
b. Zat-zat sisa nitrogen dari hasil metabolisme protein, asam urea, amoniak
dan kreatinin.
c. Elektrolit natrium, kalsium, NH3, bikarbonat, fosfat dan sulfat.
d. Pigmen (bilirubin dan urobilin).
e. Toksin.
f. Hormon.
12. Mikturisi1,2,3,4
Mikturisi ialah proses pengosongan kandung kemih setelah terisi
dengan urin. Mikturisi melibatkan 2 tahap utama, yaitu:
a. Kandung kemih terisi secara progesif hingga tegangan pada dindingnya
meningkat melampaui nilai ambang batas, keadaan ini akan mencetuskan
tahap ke-2.
b. Adanya refleks saraf (disebut refleks mikturisi) yang akan mengosongkan
kandung kemih. Pusat saraf miksi berada pada otak dan spinal cord (tulang
belakang). Sebagian besar pengosongan diluar kendali tetapi pengontrolan

dapat dipelajari latih. Sistem saraf simpatis : impuls menghambat vesika


urinaria dan gerak spinchter interna, sehingga otot detrusor rel2 dan
spinchter interna konstriksi. Sistem saraf parasimpatis : impuls
menyebabkan otot detrusor berkontriksi, sebaliknya spinchter relaksasi
terjadi mikturisi.
13. Ciri-ciri urin normal.2,3
a. Rata-rata dalam satu hari l-2 liter tapi berbeda-beda sesuai dengan jumlah
cairan yang masuk.
b. Warnanya bening tanpa ada endapan.
c. Baunya tajam.
d. Reaksinya sedikit asam terhadap lakmus dengan pH rata-rata 6.

Gambar 2.2 Fisiologi Sistem Perkemihan

10

B. Striktur Uretra
Striktur uretra adalah penyempitan lumen uretra akibat adanya jaringan
parut dan kontraksi. Penyakit ini lebih banyak terjadi pada pria daripada wanita
karena adanya perbedaan panjang uretra. Uretra pria dewasa berkisar antara 23-25
cm, sedangkan uretra wanita sekitar 3-5 cm. 5 Karena itulah uretra pria lebih rentan
terserang infeksi atau terkena trauma dibanding wanita. Beberapa faktor resiko
lain yang diketahui berperan dalam insiden penyakit ini, diantaranya adalah
pernah terpapar penyakit menular seksual, ras orang Afrika, berusia diatas 55
tahun, dan tinggal di daerah perkotaan.5,6
Striktur dapat terjadi pada semua bagian uretra, namun kejadian yang
paling sering pada orang dewasa adalah di bagian pars bulbosa-membranasea,
sementara pada pars prostatika lebih sering mengenai anak-anak.5 Infeksi yang
paling sering menimbulkan striktur uretra adalah infeksi oleh kuman gonokokus,
yang sempat menginfeksi uretra sebelumnya. Trauma yang dapat menyebabkan
striktur uretra adalah trauma tumpul pada selangkangannya (straddle injury),
fraktur tulang pelvis, atau cedera pasca bedah akibat insersi peralatan bedah
selama operasi transurethral, pemasangan kateter, dan prosedur sitoskopi. 6 Striktur
kongenital sangat jarang terjadi. Striktur ini disebabkan karena penyambungan
yang tidak adekuat antara ureta anterior dan posterior, tanpa adanya faktor trauma
maupun peradangan.6,7
Proses radang akibat trauma atau infeksi pada uretra akan menyebabkan
terbentuknya jaringan parut pada uretra. Jaringan parut ini berisi kolagen dan
fibroblast, dan ketika mulai menyembuh jaringan ini akan berkontraksi ke seluruh

11

ruang pada lumen dan menyebabkan pengecilan diameter uretra, sehingga


menimbulkan hambatan aliran urine. Karena adanya hambatan, aliran urine
mencari jalan keluar di tempat lain dan akhirnya mengumpul di rongga periuretra.
Karena ekstravasasi urine, daerah tersebut akan rentan terjadi infeksi akan
menimbulkan abses periuretra yang kemudian bisa membentuk fistula uretrokutan
(timbul hubungan uretra dan kulit).5
Selain itu resiko terbentuknya batu buli-buli juga meningkat, timbul gejala
sulit ejakulasi dan gagal ginjal. Derajat penyempitan lumen uretra dibagi menjadi
3 tingkatan. Termasuk tingkat ringan jika oklusi yang terjadi kurang dari 1/3
diameter lumen, tingkat sedang jika terdapat oklusi mencapai lumen uretra, dan
tingkat berat oklusi lebih dari diameter lumen uretra.5,6,7
C. Penyebab Striktur Uretra
Striktur uretra dapat disebabkan oleh setiap peradangan kronik atau
cedera. Radang karena gonore merupakan penyebab penting, tetapi radang lain
yang kebanyakan disebabkan penyakit kelamin lain, juga merupakan penyebab
uretritis dan periuretritis. Kebanyakan striktur ini terletak di uretra pars
membranasea, walaupun juga bisa ditempat lain. 5,6,7
Trauma uretra dapat terjadi pada fraktur panggul dan karena cedera
langsung, misalnya pada anak yang naik sepeda dan kakinya terpeleset dari pedal
sepeda sehingga jatuh dengan uretra pada bingkai sepeda lelaki sehingga terjadi
cedera kangkang. Yang juga tidak jarang terjadi ialah cedera iatrogenik akibat
kateterisasi atau instrumentasi. 5,6,7

12

Tabel 2.1 Letak Striktur Uretra dan Penyebabnya


Letak Uretra

Penyebab

Pars membranasea

Trauma panggul, kateterisasi salah Jalan.

Pars bulbosa

Trauma/ cedera kangkang, uretritis.

Meatus

Balanitis, instrumentasi kasar.

Penyebab lain terjadinya striktur uretra ialah tindakan-tindakan bedah


seperti bedah rekonstruksi uretra terhadap hipospadia, epispadia, kordae, dan
bedah urologi. 5,6,7
Striktur uretra paling sering terjadi pada pria karena uretra pria lebih
panjang daripada uretra wanita. Penyebab lainnya ialah tekanan dari luar uretra
seperti tumor pada hipertrofi prostat benigna, atau pun juga bisa diakibatkan oleh
kelainan congenital, namun jarang terjadi. Resiko striktur uretra meningkat pada
orang yang memiliki riwayat penyakit menular seksual, episode uretritis berulang,
atau hipertrofi prostat benigna. 5,6,7

13

Gambar 2.3 Lokasi striktur (1,2,3). 1. Pars membranasea, 2. Pars bulbosa, 3.


Meatus uretra, 4. Kandung kemih, 5. Prostat, 6. Rectum, 7. Diafragma urogenital,
8. Simfisis.

D. Gejala Klinis
Gejala dan tanda striktur biasanya mulai dengan hambatan arus kemih dan
kemudian timbul sebagai sindrom lengkap obstruksi leher kandung kemih seperti
digambarkan pada hipertrofi prostat. 5,6,7
Gejala klinis yang sering ditimbulkan oleh striktur antara lain disuria,
kesuliran berkemih, pancaran kemih yang menurun, frekuensi kemih yang
abnormal, rasa tidak nyaman, hematuria, nyeri pelvis atau bagian bawah perut,
pengosongan kantung kemih yang tidak puas. 5,6,7
E. Komplikasi
Striktur uretra menyebabkan retensi urin di dalam kantung kemih.
Penumpukan urin dalam kantung kemih beresiko tinggi untuk terjadinya infeksi,
yang dapat menyebar ke kantung kemih, prostat, dan ginjal. Abses di atas lokasi
striktur juga dapat terjadi, sehingga menyebabkan kerusakan uretra dan jaringan
di bawahnya.7,8
Selain itu, resiko terjadinya batu kandung kemih juga meningkat, timbul
gejala sulit ejakulasi, fistula uretrokutaneus (hubungan abnormal antara uretra
dengan kulit), dan gagal ginjal (jarang).7
F. Diagnosis
Diagnosis striktur uretra dapat kita tegakkan dengan cara anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Gejala penyakit ini mirip seperti

14

gejala penyebab retensi urine tipe obstruktif lainnya. Diawali dengan sulit kencing
atau pasien harus mengejan untuk memulai kencing namun urine hanya keluar
sedikit-sedikit. Gejala tersebut harus dibedakan dengan inkontinensia overflow,
yaitu keluarnya urine secara menetes, tanpa disadari, atau tidak mampu ditahan
pasien. Gejala-gejala lain yang harus ditanyakan ke pasien adalah adanya disuria,
frekuensi kencing meningkat, hematuria, dan perasaan sangat ingin kencing yang
terasa sakit. Jika curiga penyebabnya adalah infeksi, perlu ditanyakan adanya
tanda-tanda radang seperti demam atau keluar nanah.5,8 Pemeriksaan fisik
dilakukan lewat inspeksi dan palpasi. Pada inspeksi kita perhatikan meatus uretra
eksterna, adanya pembengkakan atau fistel di sekitar penis, skrotum.7
perineum, dan suprapubik. Kemudian kita palpasi apakah teraba jaringan
parut sepanjang uretra anterior pada ventral penis, jika ada fistel kita pijat
muaranya untuk mengeluarkan nanah di dalamnya. Pemeriksaan colok dubur
berguna untuk menyingkir diagnosis lain seperti pembesaran prostat. 8
G. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang berguna untuk konfirmasi diagnosis dan
menyingkirkan diagnosis banding. Uroflowmetri adalah alat untuk mengetahui
pancaran urine secara obyektif. Derasnya pancaran diukur dengan membagi
volume urine saat kencing dibagi dengan lama proses kencing. Kecepatan
pancaran normal adalah 20 ml/detik. Jika kecepatan pancaran kurang dari 10
ml/detik menandakan adanya obstruksi. Namun pemeriksaan foto Retrograde
Uretrogram dikombinasikan dengan Voiding Cystouretrogram tetap dijadikan
standar pemeriksaan untuk menegakan diagnosis. Radiografi ini dapat

15

menentukan panjang dan lokasi dari striktur. Penggunaan ultrasonografi (USG)


cukup berguna dalam mengevaluasi striktur pada pars bulbosa. Dengan alat ini
kita juga bisa mengevaluasi panjang striktur dan derajat luas jaringan parut,
contohnya spongiofibrosis. Ini membantu kita memilih jenis tindakan operasi
yang akan dilakukan kepada pasien. Kita dapat mengetahui jumlah residual urine
dan panjang striktur secara nyata, sehingga meningkatkan keakuratan saat operasi.
Pemeriksaan yang lebih maju adalah dengan memakai uretroskopi dan sistoskopi,
yaitu penggunaan kamera fiberoptik masuk ke dalam uretra sampai ke buli-buli.
Dengan alat ini kita dapat melihat penyebab, letak, dan karakter striktur secara
langsung.7,9

Gambar 2.4 Hasil pemeriksaan urethrogram. Tampak adanya striktur pada uretra
bulbar sepanjang 4 cm7.

16

Pemeriksaan yang lebih maju digunakan sistoskopi, yaitu penggunaan


kamera fiberoptik pada uretra. Dengan sitoskopi dapat dilihat penyebab striktur,
letaknya, dan karakter dari striktur.8,9

Gambar 2.5 Prosedur sistoskopi.

Pencitraan menggunakan magneting resonance imaging bagus dilakukan


sebelum operasi karena dapat mengukur secara pasti panjang striktur, derajat
fibrosis, dan pembesaran prostat. Namun alat ini belum tersedia secara luas dan
biayanya sangat mahal sehingga jarang digunakan. Pemeriksaan laboratorium
seperti urinalisis atau cek darah lengkap rutin dikerjakan untuk melihat
perkembangan pasien dan menyingkirkan diagnosis lain.5,6,9
H. Tatalaksana

17

Tujuan dari pengobatan striktur uretra adalah kesembuhan permanen, tidak


hanya sembuh sementara. Pengobatan terhadap striktur uretra tergantung pada
lokasi striktur, panjang/pendek striktur, dan kedaruratannya. Contohnya, jika
pasien datang dengan retensi urine akut, secepatnya lakukan sistostomi
suprapubik untuk mengeluarkan urine dari buli-buli. Sistostomi adalah tindakan
operasi dengan membuat jalan antara buli-buli dan dinding perut anterior. Jika
dijumpai abses periuretra, kita lakukan insisi untuk mengeluarkan nanah dan
berikan antibiotika.5 Jika lokasi striktur di uretra pars bulbosa dimana terdapat
korpus spongiosum yang lebih tebal daripada di uretra pars pedularis, maka angka
kesuksesan prosedur uretrotomi akan lebih baik jika dikerjakan di daerah tersebut.
Penanganan konvensional seperti uretrotomi atau dilatasi masih tetap
dilakukan, walaupun pengobatan ini rentan menimbulkan kekambuhan. Hasil
sebuah studi mengindikasikan 80% striktur yang ditangani dengan internal
uretrostomi mengalami kekambuhan dalam 5 tahun berikutnya. Pemasangan stent
adalah alternatif bagi pasien yang sering mengalami rekurensi striktur. Namun
tidak menutup kemungkinan untuk terjadi komplikasi seperti hiperplasia jaringan
uretra sehingga menimbulkan obstruksi sekunder.6,7
Beberapa pilihan terapi untuk striktur uretra adalah sebagai berikut:
1. Dilatasi uretra
Ini merupakan cara yang paling lama dan paling sederhana dalam
penanganan striktur uretra. Direkomendasikan pada pasien yang tingkat
keparahan striktur masih rendah atau pasien yang kontra indikasi dengan
pembedahan. Dilatasi dilakukan dengan menggunakan balon kateter atau busi

18

logam dimasukan hati-hati ke dalam uretra untuk membuka daerah yang


menyempit.1 Pendarahan selama proses dilatasi harus dihindari karena itu
mengindikasikan terjadinya luka pada striktur yang akhirnya menimbulkan
striktur baru yang lebih berat. Hal inilah yang membuat angka kesuksesan
terapi menjadi rendah dan sering terjadi kekambuhan.6
2. Uretrotomi interna
Teknik bedah dengan derajat invasive minim, dimana dilakukan
tindakan insisi pada jaringan radang untuk membuka striktur. Insisi
menggunakan pisau otis atau sasche. Otis dikerjakan jika belum terjadi
striktur total, sedangkan pada striktur lebih berat pemotongan dikerjakan
secara visual menggunakan kamera fiberoptik dengan pisau sasche.8 Tujuan
uretrotomi interna adalah membuat jaringan epitel uretra yang tumbuh
kembali di tempat yang sbelumnya terdapat jaringan parut. Jika tejadi proses
epitelisasi sebelum kontraksi luka menyempitkan lumen, uretrotomi interna
dikatakan berhasil. Namun jika kontraksi luka lebih dulu terjadi dari
epitelisasi jaringan, maka striktur akan muncul kembali. Angka kesuksesan
jangka pendek terapi ini cukup tinggi, namun dalam 5 tahun angka
kekambuhannya mencapai 80%.6 Selain timbulnya striktur baru, komplikasi
uretrotomi interna adalah pendarahan yang berkaitan dengan ereksi, sesaat
setelah prosedur dikerjakan, sepsis, inkontinensia urine, dan disfungsi ereksi.7
3. Pemasangan stent
Stent adalah benda kecil, elastis yang dimasukan pada daerah striktur.
Stent biasanya dipasang setelah dilatasi atau uretrotomi interna. Ada dua jenis

19

stent yang tersedia, stent sementara dan permanen. Stent permanen cocok
untuk striktur uretra pars bulbosa dengan minimal spongiofibrosis. Biasanya
digunakan oleh orang tua, yang tidak fit menjalani prosedur operasi. Namun
stent permanen juga memiliki kontra indikasi terhadap pasien yang
sebelumnya menjalani uretroplasti substitusi dan pasien straddle injury
dengan spongiosis yang dalam. Angka rekurensi striktur bervariasi dari 40%80% dalam satu tahun. Komplikasi sering terjadi adalah rasa tidak nyaman di
daerah perineum, diikuti nyeri saat ereksi dan kekambuhan striktur.8
4. Uretroplasti
Uretroplasti merupakan standar dalam penanganan striktur uretra,
namun masih jarang dikerjakan karena tidak banyak ahli medis yang
menguasai teknik bedah ini. Sebuah studi memperlihatkan bahwa uretroplasti
dipertimbangkan sebagai teknik bedah dengan tingkat invasif minimal dan
lebih efisien daripada uretrotomi.7 Uretroplasti adalah rekonstruksi uretra
terbuka berupa pemotongan jaringan fibrosis. Ada dua jenis uretroplasti yaitu
uretroplasti anastomosis dan substitusi. Uretroplasti anastomosis dilakukan
dengan eksisi bagian striktur kemudian uretra diperbaiki dengan mencangkok
jaringan atau flap dari jaringan sekitar. Teknik ini sangat tepat untuk striktur
uretra pars bulbosa dengan panjang striktur 1-2 cm. Uretroplasti substitusi
adalah mencangkok jaringan striktur yang dibedah dengan jaringan mukosa
bibir, mukosa kelamin, atau preputium. Ini dilakukan dengan graft, yaitu
pemindahan organ atau jaringan ke bagian tubuh lain, dimana sangat
bergantung dari suplai darah pasien untuk dapat bertahan.8

20

Proses graft terdiri dari dua tahap, yaitu imbibisi dan inoskulasi.
Imbibisi adalah tahap absorsi nutrisi dari pembuluh darah paien dalam 48 jam
pertama. Setelah itu diikuti tahap inoskulasi dimana terjadi vaskularisasi graft
oleh pembuluh darah dan limfe. Jenis jaringan yang bisa digunakan adalah
buccal mucosal graft, full thickness skin graft, bladder epithelial graft, dan
rectal mucosal graft. Dari semua graft diatas yang paling disukai adalah
buccal mucosal graft atau jaringan mukosa bibir, karena jaringan tersebut
memiliki epitel tebal elastis, resisten terhadp infeksi, dan banyak terdapat
pembuluh darah lamina propria. Tempat asal dari graft ini juga cepat sembuh
dan jarang mengalami komplikasi.2 Angka kesuksesan sangat tinggi
mencapai 87%. Namun infeksi saluran kemih, fistula uretrokutan, dan
chordee bisa terjadi sebagai komplikasi pasca operasi.9
5. Prosedur rekonstruksi multiple
Prosedur rekonstruksi multiple adalah suatu tindakan bedah dengan
membuat saluran uretra di perineum. Indikasi prosedur ini adalah
ketidakmampuan mencapai panjang uretra, bisa karena fibrosis hasil operasi
sebelumnya atau teknik substitusi tidak bisa dikerjakan. Ketika terjadi infeksi
dan proses radang aktif sehingga teknik graft tidak bisa dikerjakan, prosedur
ini bisa menjadi pilihan operasi. Rekonstruksi multiple memang memerlukan
anestesi yang lebih banyak dan menambah lama rawat inap pasien, namun
berguna bila pasien kontra indikasi terhadap teknik lain.9,10

21

Gambar 2.6 Algoritme penanganan pre-operatif dan intra-operatif.


Karena rentannya kekambuhan dan komplikasi pasca operasi, ada
beberapa hal yang harus diperhatikan para ahli medis agar operasi berjalan
baik. Pertama saat pre-operasi kita perkirakan panjang striktur dan derajat
fibrosis yang terjadi. Gunakan pemeriksaan radiologi seperti yang disebutkan
di atas. Analisis urine dan kultur harus dikerjakan sebelum operasi, karena
urine harus steril saat kita melakukan intervensi, untuk mencegah infeksi.
Riwayat seksual pasien juga harus ditanyakan. Saat operasi, menjaga sfingter dan
inervasinya dengan cara memotong jaringan konektif antara sfingter dan uretra
berguna dalam mencegah kontinesia dan gangguan ereksi pasca operasi. Eksisi
seluruh jaringan parut, mencegah mobilisasi uretra yang berlebih, dan drainase

22

urine sebelum operasi adalah hal-hal penting yang harus diperhatikan untuk
meningkatkan angka kesuksesan terapi.10
Antibiotik diberikan pada pasien yang dicurigai mengalami infeksi
saluran kemih dan jenisnya diberikan sesuai dengan hasil tes kepekaan. Jika hasil
kepekaan steril, maka dapat diberikan antibiotik profilaksis seperti ampicillin
atau cephalosporin.10