Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH GIZI IKANI

KANDUNGAN GIZI RUMPUT LAUT DAN BERBAGAI


OLAHANNYA

Kelompok 1
Jemi Alfi
05061181520006
M. Ramdhoni Aldino 05061181520015
Saputriani
05061181520003
Sintya Dwika Putri
05061181520009
Yuslita Rinika
05061181520022

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2016

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia di samping sandang, perumahan,
dan pendidikan. Pengembangan bahan pangan bergizi dapat dilakukan dengan
memanfaatkan sumber daya alam laut yang pemanfaatannya belum optimal. Sumber
daya alam laut merupakan sumber pangan yang sangat potensial. Pemanfaatan dan
pengembangan sumber daya ini sangat didukung oleh kondisi perairan Indonesia.
Kurang lebih 70% wilayah Indonesia terdiri dari laut, yang pantainya kaya berbagai
jenis sumber daya hayati. Sebagai negara kepulauan, Indonesia mempunyai panjang
pantai kurang lebih 81.000 km dengan luas perairan pantai sekitar 6.846.000 km2.
Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia mempunyai potensi yang baik untuk
mengembangkan dan memanfaatkan kekayaan laut yang ada, termasuk rumput laut
(Sulistyowati, 2003).
Prospek rumput laut di masa mendatang cukup baik, mengingat potensi
perairan Indonesian masih cukup besar untuk pembudidayaan komoditas tersebut.
Rumput laut merupakan salah satu komoditas hasil laut yang penting, serta tumbuh
dan tersebar hampir di seluruh perairan laut Indonesia. Tumbuhan ini bernilai
ekonomi tinggi dalam bidang industri makanan maupun bukan makanan (industri
kosmetik, tekstil, dan farmasi), untuk memenuhi permintaan dalam negeri maupun
luar negeri (Indriani dan Sumiarsih, 1992).
Manfaat rumput laut sebagai bahan pangan sudah lama diketahui. Di
Indonesia rumput laut sudah lama dimanfaatkan penduduk pantai untuk sayur,
lalapan, acar, kue, puding, dan manisan. Salah satu rumput laut yang dapat dimakan
adalah Eucheuma sp yang merupakan golongan ganggang merah (Rhodopisiae)
terbesar di laut tropis. Rumput laut ini mempunyai kemelimpahan dan sebaran yang
sangat tinggi, terdapat hampir di seluruh wilayah laut Indonesia (Atmadja, 1996).

1.2. Tujuan
Yang menjadi tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.
2.

Untuk mengetahui kandungan gizi pada rumput laut


Mengetahui produk-produk yang di hasilkan oleh rumput laut serta kandungan
gizinya

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Rumput Laut
Rumput laut (seaweed) adalah ganggang berukuran besar (macroalgae) yang
merupakan tanaman tingkat rendah dan termasuk kedalam divisi thallophyta. Dari
segi morfologinya, rumput laut tidak memperlihatkan adanya perbedaan antara akar,
batang dan daun, Secara keseluruhan, tanaman ini mempunyai morfologi yang mirip,

walaupun sebenarnya berbeda. Bentuk-bentuk tersebut sebenarnya hanyalah thallus


belaka. Bentuk thallus rumput laut ada bermacam-macam, antara lain bulat, seperti
tabung, pipih, gepeng, dan bulat seperti kantong dan rambut dan lain sebagainya
(Aslan, 1998).
Rumput laut merupakan salah satu jenis tanaman tingkat rendah dalam
golongan ganggang yang hidup di air laut. Rumput laut merupakan salah satu
komoditas laut yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi. Indonesia memiliki luas
area untuk kegiatan budidaya rumput laut seluas 1.110.900 ha, tetapi pengembangan
budidaya rumput laut baru memanfaatkan lahan seluas 222.180 ha (20% dari luas
areal potensial) (Diskanlut Sulteng dan LP3L TALINTI, 2007).
Rumput laut merupakan salah satu sumber devisa negara dan sumber
pendapatan bagi masyarakat pesisir dan merupakan salah satu komoditi laut yang
sangat populer dalam perdagangan dunia, karena pemanfaatannya yang demikian luas
dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai sumber pangan, obat-obatan dan bahan
baku industri (Indriani dan Sumiarsih, 2003).
2.2. Jenis-Jenis Rumput Laut
Thallophyta adalah tanaman yang morfologinya hanya terdiri dari thallus,
tanaman ini tidak mempunyai akar, batang dan daun sejati. Fungsi ketiga bagian
tersebut digantikan oleh thallus. Tiga kelas utama rumput laut dari thallophyta adalah
Rhodophyceae (ganggang merah), Phaeophyceae (ganggang coklat), Chlorophyceae
(ganggang hijau) yang ketiganya dibedakan oleh kandungan pigmen dan klorofil.
Rhodophyceae yang umumnya berwarna merah, coklat, nila dan bahkan hijau
mempunyai sel pigmen fikoeritrin. Phaeophyceae umumnya berwarna kuning
kecoklatan karena selselnya mengandung klorofil a dan c. Chlorophyceae umumnya
berwarna hijau karena sel-selnya mengandung klorofil a dan b dengan sedikit karoten
(Direktorat Jenderal Perikanan, 1990).
Eucheuma merupakan jenis yang banyak dicari. Ini disebabkan karena industri
makanan, kosmetika, dan farmasi memerlukan carrageenin yang terkandung dalam
Eucheuma untuk dijadikan sebagai bahan campuran. Eucheuma dikelompokkan

menjadi beberapa spesies yaitu Eucheuma edule, Eucheuma spinosum, Eucheuma


cottoni, Eucheuma cupressoideum dan masih banyak lagi yang lain. Kelompok
Eucheuma yang dibudidayakan di Indonesia masih sebatas pada Eucheuma cottoni
dan Eucheuma spinosum (Nontji, 2002).
2.3. Komposisi Nutrisi Berbagai Jenis Rumput Laut
Rumput laut memiliki kandungan karbohidrat, protein, sedikit lemak, dan abu
yang sebagian besar yang merupakan senyawa garam natrium dan kalium. Rumput
laut juga mengandung vitamin-vitamin, seperti vitamin A, B1, B2, B6, B12, C, D, E,
dan K ; betakaroten; serta mineral, seperti kalium, kalsium, fosfor,
natrium, zat besi, dan yodium. Bebarapa rumput laut mengandung lebih banyak
vitamin dan dan mineral penting, seperti kalsium dan zat besi bila dibandingkan
dengan sayuran dan buah-buahan (Anggadiredja et.al. 2006).
Tabel 2.3.1. Kandungan Beberapa Jenis Rumput Laut

Tingginya kandungan serat rumput laut tidak terlepas dari komponen


karbohidratnya yangmencapai 3350% bk (Ruprez & Saura-Calixto, 2001). Jenis
dan kandungan serat rumput laut berbeda antara satu kelompok dengan kelompok
lainnya, begitu juga dengan kondisi lingkungan tempat rumput laut tumbuh. Secara
umum,

rumput

laut

dikelompokkan

menjadi

berdasarkan

kandungan

polisakaridanya, yaitu rumput laut penghasil agar-agar (agarofit), karaginan


(karaginofit), dan alginat (alginofit). (Fennema, 1976). Dari penelitian Matanjun et al.
(2009) disebutkan bahwa kandungan serat larut air E. cottonii jauh lebih tinggi
(18,3%) dibandingkan serat tidak larutnya (6,8%)

Tabel 2.3.2. Kandungan Serat Beberapa Jenis Rumput Laut

*Ket : STL = Serat Tidak Larut, SLA = Serat Larut Air, ST = Serat Total, TAD =
Tidak Ada Data
2.3.1. Rumput Laut Eucheuma cottonii
Eucheuma cottonii adalah rumput laut penghasil karaginan (carragenophyte).
Jenis karaginan yang dihasilkan dari rumput laut ini adalah kappa karagenan
(Winarno, 2008).
Ciri-ciri

Eucheuma

cottonii

yaitu

thallus

silinder;

permukaan

licin;

cartilageneus (menyerupai tulang rawan/muda); serta berwarna hijau terang, hijau


olive dan cokelat kemerahan. Percabangan thallus berujung runcing atau tumpul,
ditumbuhi nodulus (tonjolan-tonjolan) dan duri lunak/tumpul untuk melindungi
gametangia.

Percabangan

bersifat

dichotomus

(percabangan

dua-dua)

atau

trichotomus (sistem percabangan tiga-tiga). Habitat rumput laut Eucheuma cottonii

memerlukan sinar matahari untuk proses fotosintesis. Oleh karena itu, rumput laut ini
hanya mungkin hidup pada lapisan fotik, yaitu kedalaman sejauh sinar matahari
masih mampu mencapainya (Anggadireja, et al., 2008).
Tabel 2.3.1.1. Hasil Uji Laboratorium Kandungan Nutrisi Rumput Laut
(Eucheuma cottonii)Kering
No. Parameter
Satuan
Hasil Uji
Metode Uji
Asin
Tawar
Alkali
1.
Air
%
26,77
18,62
21,75 SNI. 01-28911992 Butir 5.1
2.
Abu
%
34,38
15,13
15,77 SNI. 01-28911992 Butir 6.1
3.
Lemak
%
0,51
0,58
0,55
SNI. 01-28911992 Butir 8.2
4.
Protein
%
1,87
2,09
1,71
Kjeldahl
5.
Serat Kasar
%
0,90
5,29
19,64 SNI. 01-28911992 Butir 11
6.
Karbohidrat
%
35,57
58,29
40,58 Perhitungan
7.
Energi
Kkal/100gr 154,4
246,7
174,1 Perhitungan
8.
Karagenan
%
23,68
20,97
18,23
Sumber : Restiana Wisnu dan Diana Rahmawati , 2009
Rumput laut kering tawar mempunyai nilai nutrisi pokok (karbohidrat, lemak,
dan, protein) lebih tinggi dari rumput laut kering asin dan rumput laut kering alkali,
yaitu sebesar 58,29 % karbohidrat, 0,58 % lemak, dan 2,09 % protein dan mempunyai
kadar air (18,62 %) dan abu (15,13 %) paling rendah dibandingkan dua produk yang
lain. Selain itu rumput laut kering tawar juga mempunyai nilai energi paling tinggi
(246,7 %) dibanding rumput laut kering asin dan kering alkali. Hal tersebut
dikarenakan dalam proses pengeringannya rumput laut basah terlebih dahulu dicuci
dengan menggunakan air tawar hingga bau spesifik rumput laut berkurang. Air tawar
menyebabkan kandungan garam dan kotoran yang menyelimuti rumput laut menjadi
hilang. Air tawar mengikat cairan yang terkandung dalam air laut sehingga selama
proses penjemuran kadar air dalam rumput laut cepat berkurang. Air tawar juga
berfungsi sebagai pelapis yang melindungi rumput laut dalam proses pengeringan
berikutnya sehingga rumput laut basah tersebut menjadi kering tanpa kehilangan nilai
nutrisi penting dari dalam tubuhnya. Oleh karena kandungan nutrisi penting dalam
rumput laut kering tawar paling tinggi sehingga nilai energi yang terkandung

didalamnya juga tinggi. Rumput laut kering tawar ini merupakan hasil olahan rumput
laut yang paling sesuai untuk dikonsumsi sebagai bahan makanan (Restiana Wisnu
dan Diana Rahmawati , 2009).
Rumput laut kering asin mempunyai kadar abu dan kadar air yang paling tinggi
yaitu 34,38 % kadar abu dan 26,77 % kadar air, sedang kandungan karbohidrat, serat
kasar, lemak, dan energi yang paling rendah dibanding dengan rumput laut kering
tawar dan kering alkali, yaitu 35,57 % karbohidrat, 0,90 % serat kasar, dan 1, 87 %
lemak. Oleh karena kandungan karbohidrat rumput laut kering asin paling rendah
dibanding dengan dua produk lainnya maka kandungan energi dalam rumput laut
kering asin juga yang paling rendah yaitu 154,4 Kkal/100gr rumput laut. Akan tetapi
rumput laut kering asin ini mempunyai kandungan karagenan yang paling tinggi,
yaitu mencapai sebesar 23,68%. Rumput laut kering asin lebih cocok digunakan
sebagai bahan baku industri tepung karagenan. Rumput laut kering alkali mempunyai
kandungan serat kasar paling tinggi dibandingkan dengan rumput laut kering tawar
dan kering asin, yaitu sebesar 19,64 %. Rumput laut kering alkali mempunyai kadar
protein dan karagenan yang paling rendah, yaitu 1,71 % protein dan 18,23 %
karagenan. Meskipun diproses dengan menggunakan bahan kimia rumput laut kering
alkali masih mempunyai kadar air, karbohidrat, dan energi yang cukup tinggi, yaitu
sebesar 21,75 % air, 40,58 % karbohidrat, dan energi 174,1 Kkal/100gr rumput laut.
Rumput laut kering alkali ini biasanya digunakan sebagai bahan baku industri ATC
(alkali treated cottonii). ATC tersebut selanjutnya dapat diproses lebih lanjut sebagai
bahan pengikat dan penstabil dalam industri pakan ternak bagi pasaran Eropa,
Amerika, dan Asia Pasifik (DKP, 2002).
2.3.2. Rumput Laut Caulerpa racemossa dan Gracillaria verrucosa
C.racemosa merupakan alga yang banyak dijumpai pada pantai dengan rataan
terumbu karang. Rumput laut jenis ini tersebar merata diperairan Indonesia
(Poncomulyo et al., 2006). Sedangkan Gracillaria verrucosa merupakan jenis rumput
laut yang tumbuh baik di perairan dangkal berintensitas cahaya yang lebih
tinggi.Rumput laut ini mempunyai ciri-ciri thalus berbentuk silindris atau gepeng

dengan percabangan. Di atas percabangan umumnya bentuk thalli agak mengecil


dengan warna thalli yang beragam mulai dari warna hijau-coklat, merah, pirang, dan
merah coklat (Aslan, 1998).
Tabel 2.3.2.1.Kandungan Proksimat Rumput Laut (Berdasarkan Berat Kering)
(Widodo Farid, et al., 2013)

Ket: G. verrucosaa = Tumbuh substrat berlumpur; G. verrucosab = Tumbuh substrat berpasir


Tabel 2.3.2.2. Kandungan Mineral Berdasarkan Berat Kering (DW) (Widodo Farid, et
al., 2013)

Tabel 2.3.2.3. Kandungan Asam Amino Rumput Laut (Widodo Farid, et al., 2013)

2.3.3. Rumput Laut Sargassum crassifolium


Manfaat rumput laut sebagai bahan pangan sudah lama diketahui. Di Indonesia
rumput laut sudah lama dimanfaatkan penduduk pantai untuk sayur, lalapan, acar,
kue, puding, dan manisan. Salah satu rumput laut yang dapat dimakan adalah

Sargassum sp., yang merupakan golongan ganggang coklat (Phaeophyta) terbesar di


laut tropis. Rumput laut ini mempunyai kemelimpahan dan sebaran yang sangat
tinggi, terdapat hampir di seluruh wilayah laut Indonesia. (Atmadja dkk., 1996).
Secara umum, rumput laut Sargassum sp. belum banyak dikenal dan dimanfaatkan.
Padahal dari beberapa penelitian, dilaporkan bahwa ini mempunyai kandungan
nutrisi/zat gizi cukup tinggi, seperti protein dan beberapa mineral esensial, hanya saja
analisis komposisi nutrisinya masih belum lengkap. (Mursyidin dkk., 2002).
Tabel 2.3.3.1. Kadar Nutrisi Talus S. crassifolium (Tri Handayani, et al., 2004)

Tabel 2.3.3.1. Kadar Asam Amino Talus S. crassifolium (Tri Handayani, et al., 2004)

Tabel 2.3.3.3. Kadar Asam Lemak Talus S. crassifolium (Tri Handayani, et al., 2004)

2.4. Pemanfaatan dan Potensi Rumput Laut


2.4.1. Potensi Dalam Industri
Rumput laut memiliki banyak peranan penting bagi manusia. Ilalqisny dan
Widyartini (2000) melaporkan bahwa sejak tahun 2700 SM, rumput laut telah
dimanfaatkan sebagai bahan pangan manusia. Perancis, Normandia, dan Inggris pada
abad 17 mulai merintis pemanfaatan rumput laut untuk pembuatan gelas (Soegiarto et
al., 1978). Namun, pemanfaatan rumput laut secara ekonomis baru dimulai tahun
1670 di Cina dan Jepang, yaitu sebagai bahan obat-obatan, makanan tambahan,
kosmetika, pakan ternak, dan pupuk organik. Pada tahun 2005 dilaporkan bahwa
konsumsi rumput laut bagi masyarakat Cina, Jepang, dan Korea mencapai 2 milyar

US$. Setiap hari sekitar 168 spesies alga telah dikomersilkan, di Jepang, Cina,
Taiwan, dan Korea, diantaranya porphyra (nori), laminaria (kombu), undaria
(wakame). Porphyra atau nori merupakan rumput laut yang adalah yang paling
populer di Jepang (Steinman, 2006). Salah satu contoh kelp di Indonesia adalah
Sargassum sp. Di berbagai belahan dunia, Sargassum sp merupakan jenis rumput laut
di perairan tropis yang terkenal sebagai alginofit (penghasil alginat). Filipina, India
dan Vietnam merupakan negara-negara yang mulai memanfaatkan rumput laut jenis
ini.
Menurut Atmadja et al., (1996) pada awal 1980 perkembangan permintaan
rumput laut di dunia meningkat seiring dengan peningkatan pemakaian rumput laut
untuk berbagai keperluan antara lain di bidang industri, makanan, tekstil, kertas, cat,
kosmetika, dan farmasi (obat-obatan). Di Indonesia, pemanfaatan rumput laut untuk
industri dimulai untuk industri agar-agar (Gelidium dan Gracilaria) kemudian untuk
industri kerajinan (Eucheuma) serta untuk industri alginat (Sargassum).

2.4.2. Manfaat Dalam Bidang Kesehatan


Kandungan

nutrisi

dalam

rumput

laut

merupakan

dasar

pemanfaatan laut di bidang kesehatan. Berikut manfaat rumput laut


ditinjau dari nutrisi yang terkandung dalam rumput laut antara lain:
2.4.2.1.Polisakarida dan Serat

Rumput laut mengandung sejumlah besar polisakarida. Polisakarida tersebut


antara lain alginat dari rumput laut coklat, karagenan dan agar dari rumput laut merah
dan beberapa polisakarida minor lainnya yang ditemukan pada rumput laut hijau
(Anggadiredja et al, 2002). Kebanyakan dari polisakarida tersebut bila bertemu
dengan bakteri di dalam usus manusia, tidak dicerna oleh manusia, sehingga dapat
berfungsi sebagai serat. Kandungan serat rumput laut dapat mencapai 30-40% berat
kering dengan persentase lebih besar pada serat larut air. Kandungan serat larut air
rumput laut jauh lebih tinggi dibanding dengan tumbuhan daratan yang hanya
mencapai sekitar 15% berat kering (Burtin, 2003).
Kandungan polisakarida yang terdapat di dalam rumput laut berperan dalam
menurunkan kadar lipid di dalam darah dan tingkat kolesterol serta memperlancar
sistem pencernaan makanan. Komponen polisakarida dan serat juga mengatur asupan
gula di dalam tubuh, sehingga mampu mengendalikan tubuh dari penyakit diabetes.
Beberapa polisakarida rumput laut seperti fukoidan juga menunjukkan beberapa
aktivitas biologis lain yang sangat penting bagi dunia kesehatan. Aktivitas tersebut
seperti antitrombotik, antikoagulan, antikanker, antiproliferatif (antipembelahan sel
secara tak terkendali), antivirus, dan antiinflamatori (antiperadangan) (Burtin, 2003;
Shiratori et al, 2005).
2.4.2.2. Mineral
Kandungan mineral rumput laut tidak tertandingi oleh sayuran yang berasal dari
darat. Fraksi mineral dari beberapa rumput laut mencapai lebih dari 36% berat kering.
Dua mineral utama yang terkandung pada sebagian besar rumput laut adalah iodin
dan kalsium (Fitton, 2005). Laminaria sp., rumput laut jenis coklat merupakan
sumber utama iodin karena kandungannya mampu mencapai 1500 sampai 8000 ppm
berat kering. Rumput laut juga merupakan sumber kalsium yang sangat penting.
Kandungan kalsium dalam rumput laut dapat mencapai 7% dari berat kering dan 2534% dari rumput laut yang mengandung kapur (Ramazanov, 2006).
Kandungan mineral seperti yang telah disebutkan di atas memberikan efek yang
sangat baik bagi kesehatan. Iodin misalnya, secara tradisional telah digunakan untuk

mengobati penyakit gondok. Iodin mampu mengendalikan hormon tiroid, yaitu


hormon yang berperan dalam pembentukan gondok. Mereka yang telah membiasakan
diri mengkonsumsi rumput laut terbukti terhindar dari penyakit gondok karena
kandungan iodin yang tinggi di dalam rumput laut. Kandungan mineral lain yang juga
tak kalah penting adalah kalsium. Konsumsi rumput laut sangat berguna bagi ibu
yang sedang hamil, para remaja, dan orang lanjut usia yang kemungkinan dapat
terkena risiko kekurangan (defisiensi) kalsium (Fitton, 2005).
2.4.2.3. Protein
Kandungan protein rumput laut coklat secara umum lebih kecil dibanding
rumput laut hijau dan merah. Pada rumput laut jenis coklat, protein yang terkandung
di dalamnya berkisar 5-15% dari berat kering, sedangkan pada rumput laut hijau dan
merah berkisar 10-30% dari berat kering. Beberapa rumput laut merah, seperti
Palmaria palmate (dulse) dan Porphyra tenera (nori), kandungan protein mampu
mencapai 35-47% dari berat kering (Mohd Hani Norziah et al, 2000). Kadar ini lebih
besar bila dibandingkan dengan kandungan protein yang ada di sayuran yang kaya
protein seperti kacang kedelai yang mempunyai kandungan protein sekitar /35% berat
kering (Almatsier, 2005).
2.4.2.3. Lipid dan Asam Lemak
Lipid dan asam lemak merupakan nutrisi rumput laut dalam jumlah yang kecil.
Kandungan lipid hanya berkisar 1-5% dari berat kering dan komposisi asam lemak
omega 3 dan omega 6 (Burtin, 2003). Asam lemak omega 3 dan 6 berperan penting
dalam mencegah berbagai penyakit seperti penyempitan pembuluh darah, penyakit
tulang, dan diabetes (Almatsier, 2005). Asam alfa linoleat (omega 3)banyak
terkandung dalam rumput laut hijau, sedangkan rumput laut merah dan coklat banyak
mengandung asam lemak dengan 20 atom karbon seperti asam eikosapentanoat dan
asam arakidonat (Burtin,2005).
Kedua asam lemak tersebut berperan dalam mencegah inflamatori (peradangan)
dan penyempitan pembuluh darah. Hasil penelitian membuktikan bahwa ekstrak lipid

beberapa rumput laut memiliki aktivitas antioksidan dan efek sinergisme terhadap
tokoferol (senyawa antioksidan yang sudah banyak digunakan) (Anggadiredja et al.,
1997; Shanab, 2007).
2.4.2.5. Vitamin
Rumput laut dapat dijadikan salah satu sumber Vitamin B, yaitu vitamin
B12 yang secara khusus bermanfaat untuk pengobatan atau penundaan efek penuaan
(antiaging), Chronic Fatique Syndrome (CFS), dan anemia (Almatsier, 2005). Selain
vitamin B, rumput laut juga menyediakan sumber vitamin C yang sangat bermanfaat
untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh, meningkatkan aktivitas penyerapan usus
terhadap zat besi, pengendalian pembentukan jaringan dan matriks tulang, dan juga
berperan sebagai antioksidan dalam penangkapan radikal bebas dan regenerasi
vitamin E (Soo-Jin Heo et al, 2005).
Kadar vitamin C dapat mencapai 500-3000 mg/kg berat kering dari rumput laut
hijau dan coklat, 100-800 mg/kg pada rumput laut merah. Vitamin E yang berperan
sebagai antioksidan juga terkandung dalam rumput laut. Vitamin E mampu
menghambat oksidasi Low Density Lipoprotein (LDL) atau kolesterol buruk yang
dapat memicu penyakit jantung koroner (Ramazanov, 2005). Ketersediaan vitamin E
di dalam rumput laut coklat lebih tinggi dibanding rumput laut hijau dan merah. Hal
ini dikarenakan rumput laut coklat mengandung , , dan -tokoferol, sedangkan
rumput laut hijau dan merah hanya mengandung - tokoferol (Fitton, 2005).
Di antara rumput laut coklat, kadar paling tinggi yang telah diteliti adalah pada
Fucuceae, Ascophyllum dan Fucus sp yang mengandung sekitar 200-600 mg
tokoferol/kg berat kering (Ramazanov, 2006).
2.4.2.6. Polifenol
Polifenol rumput laut dikenal sebagai florotanin, memiliki sifat yang khas
dibandingkan dengan polifenol yang ada dalam tumbuhan darat. Polifenol dari
tumbuhan darat berasal dari asam galat, sedangkan polifenol rumput laut berasal dari

floroglusinol (1,3,5-trihydroxybenzine). Kandungan tertinggi florotanin ditemukan


dalam rumput laut coklat, yaitu mencapai 5-15% dari berat keringnya (Fitton, 2005).
Polifenol dalam rumput laut memiliki aktivitas antioksidan, sehingga mampu
mencegah berbagai penyakit degeneratif maupun penyakit karena tekanan oksidatif,
di antaranya kanker, penuaan, dan penyempitan pembuluh darah. Aktivitas
antioksidan polifenol dari ekstrak rumput laut tersebut telah banyak dibuktikan
melalui uji in vitro sehingga tentunya kemampuan antioksidannya sudah tidak
diragukan lagi (Soo-Jin Heo et al, 2005; Shanab, 2007). Selain itu, polifenol
jugaterbukti memiliki aktivitas antibakteri, sehingga dapat dijadikan alternatif bahan
antibiotik. Salah satunya terbukti bahwa rumput laut mampu melawan bakteri
Helicobacter pylori, penyebab penyakit kulit (John dan Ashok, 1986; Fitton, 2005).
2.5. Produk Dari Rumput Laut
2.5.1. Cendol Rumput Laut, Manisan Rumput Laut, Selai Rumput Laut, dan
Produk Semi Karagenan
Alkalied Treated Caragen (ATC) yang dihasilkan masih dalam bentuk talus
/batang asli belum mengalami pemotongan atau penepungan dan ATC tersebut
mempunyai penampilan yang bersih karena adanya perlakuan perendaman kapur
1,5% dan kaporit 1,25% (Miftah Dewi, et al., 2003).
Diagram 2.5.1.1. Alur Pembuatan ATC

Cendol yang dihasilkan mempunyai penampilan putih kekuningan dan siap


untuk dikonsumsi dengan campuran santan dan air gula merah (Miftah Dewi, et al.,
2003).
Diagram 2.5.1.2. Alur Pembuatan Cendol Rumput Laut

Manisan yang dihasilkan mempunyai warna hijau pandan karena adanya


tambahan pewarna buatan dari swalayan serta manisan tersebut terasa asam karena
adanya tambahan asam sitrat yang ditambahkan selama proses. Manisan tersebut
memiliki masa simpan 2 minggu pada suhu kamar (Miftah Dewi, et al., 2003).
Tabel 2.5.1.1. Komposisi Bahan Pembuatan Manisan Rump

Diagram 2.5.1.3. Pembuatan Manisan Rumput Laut

Selai rumput laut adalah selai yang dibuat dari 3 kg rumput laut dengan 1 kg
nanas yang telah diparut, mempunyai rasa khas selai dan lebih kenyal karena adanya
kandungan karagenan yang memang sudah terdapat pada rumput laut. Selai rumput
laut mampu tahan selama 2 minggu pada suhu kamar (Miftah Dewi, et al., 2003).
Tabel 2.5.1.2. Komposisi Bahan Pembuatan Selai

Diagram 2.5.1.4. Alur Pembuatan Selai Rumput Laut

Tabel 2.5.1.2. Nilai Gizi Berbagai Produk Rumput Laut