Anda di halaman 1dari 16

TUGAS IV

GEOLOGI MINYAK & GAS BUMI


CEKUNGAN TARAKAN, KALIMANTAN UTARA

Disusun oleh:
Kelompok 9 :
1. Merlinda Soares Mf
2. Dimas Nur A.
3. Akbar Ali L.
4. Anri Putra N.
5. David Andre B.
6. Yogi Pratama
7. Agung Yudha P.
8. Oknis Puspitasari
9. Abdul Azis H.
10. Auliya Shabrina

(121.101.167)
(131.101.078)
(131.101.)
(141.101.013)
(141.101.042)
(141.101.0)
(141.101.1
)
(141.101.1125)
(141.101.1
)
(141.101.170)

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
INSTITUT SAINS& TEKNOLOGI AKPRIND
YOGYAKARTA
2016
SISTEM PETROLEUM POTENSI MINYAK & GAS BUMI DAN
EVALUASI CEKUNGAN TARAKAN, KALIMANTAN UTARA
INDONESIA

1. FISIOGRAFI

Cekungan Tarakan secara fisiografi dibagi menjadi 4 bagian diantaranya SubCekungan Berau, Sub-Cekungan Tidung, Sub-Cekungan dan Sub-Cekungan
Tarakan. Menurut Heryanto et.al, 1992 elemen tektonik Cekungan Tarakan
(Gambar 1) dapat dibagi menjadi :

Cretaceous/Eosen Awal zona mlange Kalimantan Tengah yang terletak


dibagian barat. Tersusun oleh batuan yang terkena tektonik kuat dan
batuan metamorf, berumur Permo-Carbonaceous atau Jurasic-Cretaceous

(Achmad dan Samuel, 1984 dalam Heryanto et.al, 1992).


Sampoerna Peninsula terletak dibagian utara yang merupakan batas
Negara Indonesia-Malaysia, menurut Hamilton 1979 komplek ini
merupakan busur Sulu. Sedangkan menurut beberapa peneliti area ini
berhubungan dengan obduksi kontak lempeng Filipina dengan Borneo/
Kalimantan Timurlaut. Batuan beku muda dan Paleogen tersingkap di area

ini.
Mangkalihat Peninsula dibagian selatan merupakan tinggian batuan dasar
dan sedikit batuan sedimen Tersier. Area ini merupakan batas pusat
pengendapan yang memisahkan Cekungan Tarakan dengan Cekungan

Kutai.
Selat Makassar merupakan batas bagian timur pengendapan, yang terletak
dibagian timur. Susah untuk menentukan batas cekungan secara jelas dan
cekungan ini merupakan tipe cekungan passive margin.

Menurut penelitian dari Biantoro (1996) dalam cekungan Tarakan terbagi


menjadi 4 sub-cekungan bagian, yaitu:

Sub-cekungan Tidung

Sub-cekungan Berau

Sub-cekungan Tarakan

dan Sub-cekungan Muara

Gambar 1. Pembagian Sub Cekungan (Biantoro : 1996)

Gambar 2. Fisiografi Cekungan Tarakan (Penulis, 2016)

2. TEKTONIK

Sejarah Tektonik Cekungan tarakan dimulai pada saat awal pembukaan


Cekungan yang dimulai pada umur Eosen Akhir sampai Oligosen dengan adanya
proses spreading di Selat Makassar pada Tersier Tengah (Heryanto et.al, 1992).
Tektonik ekstensi membuka cekungan dibagian timur yang mengindikasikan
adanya blok sesar en-echelon yang miring ke arah timur. Kondisi stabil dimulai
pada Miosen Tengah sampai Pliosen dimana terendapkan sedimen delta yang
berarah dari barat menuju timur. Pada fase ini banyak terbentuk sesar tumbuh
yang diakibatkan cepatnya sedimentasi pada sistem delta. Sesar tumbuh
mengindikasikan pergerakan sedimentasi delta sebelum terbentuknya batuan
karbonat pada saat kondisi stabil.
Akhir fase terdiri dari tektonik kompresi pada Pliosen Akhir sampai
Pleistosen, refleksi dari tumbukan antara lempeng Filipina dengan Borneo/
Kalimantan Timurlaut. Hal ini mengakibatkan terbentuknya sesar naik pada sesar
tumbuh sebelumnya tetapi hal ini tidak terlihat begitu kuat pada bagian utara
cekungan, dimana sedimen Miosen sampai Pliosen terlipat dan tersesarkan dengan
orientasi arah baratlaut-tenggara sampai barat, timurlaut - timur, tenggara di pulau
Nunukan dan Sebatik (Heryanto et.al, 1992). Dibagian timur cekungan fase
kompresi ini membentuk struktur tinggian yang tersusun oleh endapan sedimen
plastis pada siklus 3 dan 4 (Antiklin Bunyu dan Tarakan).

Gambar 3. Kerangka Tektonik Cekungan Tarakan dan Distribusi Sub-Cekungan


(Modifikasi PERTAMINA BEICIP, 1985 dalam PERTAMINA BPPKA, 2005).

3. STRATIGRAFI
Batuan dasar tersusun oleh batuan sedimen tua Formasi Danau,
Sembakung dan batulumpur Formasi Malio yang diharapkan menjadi batuan
induk hidrokarbon. Sedimen ini mengalami kompkasi yang kuat dengan
intensitas sesar dan lipatan yang tinggi. Formasi danau merupakan batuan
yang tua tersusun oleh batuan metamorf, slate, serpih, spillite, breksi
serpentinit, rijang radiolaria. Diatas formasi ini terendapkan secara tidak
selaras Formasi Sembakung yang tersusun oleh batuan volkanik dan sedimen
klastik berumur Paleosen/Eosen Awal. Selanjutnya terendapkan batulumpur,
batulumpur berfosil, karbonan dan kadang mikaan Formasi Malio yang
berumur Esoen Tengah.

Formasi Danau
Formasi Danau terdeformasi kuat dan sebagian termetamorfosa,
mengandung breksi terserpentinitisasi, rijang radiolaria, spilit, serpih,slate,
dan kuarsa.

Formasi Sembakung dan Batulempung Malio


Formasi Sembakung diendapkan di atas Formasi Danau secara
tidak selaras. Formasi ini terdiri dari sedimen volkanik dan klastik yang
berumur Eosen Awal-Eosen Tengah. Di atas Formasi Sembakung
diendapkan batulempung berfosil, karbonatan, dan mikaan yang dikenal
dengan Batulempung Malio yang berumur Eosen Tengah.

Formasi Sujau
Formasi Sujau terdiri dari sedimen klastik (konglomerat dan
batupasir), serpih, dan volkanik.

Formasi Selor
Formasi Selor terdiri dari lapisan-lapisan batubara dan
Batugamping mikritik yang diendapkan secara tidak selaras di atas
Formasi Sujau.

Formasi Mangkabua
Formasi Mangkabua yang terdiri dari serpih laut dan napal yang
berumur Oligosen.

Formasi Tempilan
Formasi Tempilan terdiri dari fasies klastik basalt.

Formasi Taballar
Formasi Taballar terdiri dari batugamping mikritik yang
merupakan sikuen paparan karbonat dengan perkembangan reef lokal
Oligosen Akhir sampai Miosen Awal.

Formasi Mesalai
Formasi ini secara gradual cekungan menerus dari formasi Taballar
menipis ke arah formasi mesalai. Pada formasi ini terdiri dari napal.

Formasi Naintupo
Formasi ini terdiri dari batulempung dan serpih.

Formasi Meliat
Formasi ini diendapkan secara tidak selaras dengan Serpih
Naintupo. Formasi ini terdiri dari batupasir kasar, serpih karbonatan, dan
batugamping tipis. Di beberapa bagian, Formasi Meliat terdiri dari
batulanau dan serpih dengan sedikit lensa-lensa batupasir.

Formasi Tabul
Formasi ini terdiri dari batupasir, batulanau, dan serpih yang
kadang disertai dengan kemunculan lapisan batubara dan batugamping.

Formasi Santul
Pada formasi ini sering dijumpai lapisan batubara tipis yang
berinterkalasi dengan batupasir, batulanau, dan batulempung.

Formasi Tarakan
Formasi ini terdiri dari interbeding batulempung, serpih, batupasir,
dan lapisan-lapisan batubata lignit, dasar dari Formasi Tarakan pada
beberapa ditepresentasikan oleh ketidakselarasan.

Formasi Bunyu
Formasi Bunyu terdiri dari batupasir tebal, berukuran butir medium
sampai kasar, kadangkala konglomeratan dan interbeding batubara lignit
dengan serpih. batupasir formasi ini lebih tebal, kasar, dan kurang
terkonsilidasi jika dibandingkan dengan batupasir Formasi Tarakan.

Cekungan Tarakan dapat dibagi menjadi 5 siklus stratigrafi menurut Heryanto


et.al, 1992 ( Gambar 4) yang terdiri dari :

Siklus 1
Pada siklus satu yang berumur Eosen Akhir Oligosen
terendapkan Formasi Sajau, Seilor dan Mangkabua. Tersusun oleh sedimen
klastik berupa konglomerat, batupasir, serpih, dan batuan volkanik
Formasi Sajau yang menumpang secara tidak selaras pada blok sesar
batuan dasar. Sedimen klastik Formasi Sujau terendapkan pada daerah
rendahan seperti graben yang dimungkinan reflekasi spreading Selat
Makassar pada umur Eosen. Batuan asal sedimen ini berasal dari produk
erosi paparan sunda dibagian barat yang terendapkan bersamaan dengan
batuan volkanik dan piroklastik. Adanya batubara dan batulanau dibagian
dasar mengindikasikan lingkungan pengendapan danau yang bergradasi
berubah menjadi lingkungan laut. Batugamping mikrit Formasi Seilor
terendapkan secara tidak selaras diatas Formasi Sajau dan menjari kearah
laut dengan batuserpih dan lanau Formasi Mangkabua yang berumur
Oligosen. Sedimen siklus 1 terangkat dan tererosi dibatas bagian barat

cekungan.
Siklus 2
Sedimen siklus-2 tersusun oleh Formasi Tempilan di bagian bawah
dan Formasi Naintupo di bagian atas. Formasi Tempilan menumpang
secara tidak selaras diatas batuan sedimen yang lebih tua dan secara umum
tersusun oleh batupasir dengan ketebalan dari 1,7 kaki hingga 80 kaki, dan
telah mengalami silifikasi. Berdasarkan data nannofosil di interpretasikan
berumur Oligosen Akhir sampai Miosen Awal diendapkan pada
lingkungan supralitoral-litoral berupa endapan meandering fluvial dan
tidal flat. Formasi Naintupo secara umum tersusun oleh batulempung,

batulanau dengan sisipan batupasir.


Siklus 3
Sedimen siklus-3 terdiri dari Formasi Meliat, Formasi Tabul dan
Formasi Santul yang diendapkan mulai dari Formasi Meliat yang tertua

kemudian Formasi Tabul dan Formasi Santul. Formasi Meliat menumpang


secara tidak selaras diatas sedimen siklus-2 dan secara umum terdiri dari
batulanau, batulempung/serpih, batupasir, dibeberapa tempat berkembang
batubara dan batugamping. Berdasarkan data Foraminifera dan palinologi,
Formasi Meliat berumur Miosen Tengah bagian bawah, secara umum
diendapkan pada lingkungan transisi (litoral) sampai laut terbuka (inner
sublitoral). Formasi Tabul menumpang secara selaras diatas Formasi
Meliat. Penebalan terjadi pada jalur Sembakung-Bangkudulis. Secara
umum Formasi Tabul, didominasi oleh batupasir, batulempung/serpih,
karbonan dan beberapa tempat berkembang batubara. Kearah tengah
batupasir berkembang baik terutama dibagian tengah dan bawah formasi
membentuk endapan-endapan channel dengan ketebalan bervariasi dari 3
kaki hingga 140 kaki. Batubara pada bagian utara dan tengah tidak
berkembang, namun dibagian tepi barat batubara berkembang sebagai
perselingan dengan batulempung dan batupasir dengan tebal antara 0,7-6
kaki. Di bagian selatan jalur ini perkembangan batupasir menjadi tipistipis dan berkembang batubara sebagai perselingan dengan batulempung,
batulanau dan batupasir, ketebalan batubara antara 1,7-10 kaki. Formasi
Santul menumpang secara selaras di atas Formasi Tabul dan dicirikan oleh
perselingan batupasir, batulempung dan batubara. Batupasir sebagian

menunjukkan ciri endapan channel.


Siklus 4
Sedimen siklus 4 berumur Pliosen yang terdiri dari Formasi
Tarakan tersusun oleh batupasir, serpih dan perselingan batulempung serta
lapisan batubara. Di interpretasikan terendapkan pada lingkungan delta,
Kontak bagian dasar dari Formasi Tarakan dibeberapa area
memperlihatkan ketidakselarasan. Seperti di pulau Bunyu kontak Formasi
Tarakan dan Santul menununjukan batas transisi.

Siklus 5
Batuan sedimen kuarter Formasi Bunyu menjadi penyusun siklus 5
yang terendapkan pada lingkungan delta plain sampai fluviatil. Terusun
oleh litologi batupasir berbutir kasar-sedang yang tebal dan beberapa
konglomerat serta perselingan batubara dan serpih. Batupasir umumnya
tebal, berbutir kasar, sedikit terkonsolidasi seperti batupasir Formasi
Tarakan. Kontak dibagian bawah menunjukan ketidakselarasan atau
transisi.

Gambar 4. Stratigrafi Regional Cekungan Tarakan (Modifikasi Heryanto et.al, 1992,


LAPI ITB, 2015)

4. SISTEM PETROLEUM
1. Batuan Induk dan Migrasi
Menurut Subroto et.al 2005 terdapat dua sikuen yang berpotensi
menjadi batuan induk di Cekungan Tarakan Formasi Naintupo dan
Formasi Meliat. Dua Formasi lain yaitu Formasi Santul dan Formasi

10

Tabul yang mungkin penting sebagai batuan induk dibagian Cekungan


yang dalam. Proses migrasi terjadi sepuluh juta tahun yang lalu, melalui
struktur sesar yang teridiri dari migrasi lateral dan vertikal. Berdasarkan
variasi pada komposisi isotopic dan sterane sepertinya menunjukan variasi
pada lingkungan delta (Gambar 5). Pada sampel batubara Formasi
Naintupo menunjukan kandungan TOC yang tinggi mencapai 72% dengan
nilai HI mencapai 450 yang mengindikasikan potensi minyak serta gas.
Pada analisis kerogen menunjukan kelimpahan intertinit, sikuen serpih
umumnya mempunyai kandungan organik yang sedang sampai baik.
Kandungan HI memperlihatkan potensi menengah minyak dan gas, yang
terdiri dari kerogen tipe III dan beberapa tipe II.
Batulempung Formasi Meliat mempunyai kandungan organik
karbon berkisar 0.7% sampai 6.5% dengan nilai HI yang mengindikasikan
karkateristik gas. Pada sikuen ini lapisan batubara yang ditembus sumur
mempunyai kandungan organik karbon mencapai 70% dengan nilai HI
diatas 417, berpotensi menggenerasikan campuran minyak dan gas.
Analisis kerogen pada batubara dan batulempung menunjukan tipe
kerogen III. Kandungan TOC pada serpih Formasi Tabul mencapai 72%
dan mempunyai kandungan organik yang baik sampai sangat baik (0.5% 4%). Kerogen terdiri dari percampuran tipe II dan tipe III dengan nilai HI
60 - 280 serta diinterpretasikan menggenerasikan gas dan sedikit minyak.
Sementara kandungan TOC pada serpih Formasi Santul berkisar dari 0,6%
- 4,5% dan nilai TOC pada batubara mencapai 69%. Nilai HI berkisar 30
238 yang cenderung menggenerasikan gas dan sedikit minyak,
berdasarkan nilai HI terjadi percampuran tipe kerogen II dan III yang
diinterpretasikan terjadi degradasi yang tinggi dari material tumbuhan
darat.

11

Gambar 5. Diagaram Segitiga C27-29 Huang dan Meinschein 1979 Untuk Analisis
Minyak Mentah a. dan c. Koleksi dari Sampel Batuan Sedimen Cekungan Tarakan. B dan
d X-plott Stable Isotope Karbon Data Pada Diagram Sofers (Subroto et.al, 2005)

2. Batuan Reservoir
Batuan reservoir pada interval Bunyu mempunyai tebal yang
bervariasi, berkisar dari 1m - 20m. Terdiri dari batupasir tidal sandbar dan
distributary mouthbar (Akuabatin et.al 1984). Batupasir yang mempunyai
reservoir yang baik terdapat pada kedalaman 500m 2500m yang tersusun
oleh Formasi Tarakan, Santul dan Tabul dengan porositas rata-rata
mencapai 25% dan permeabilitas 1darcy. Batuan reservoir lain terdapat
pada kedalaman 2500m 3500m dengan lingkungan distal delta front dan
prodelta dari Formasi Tabul. Paparan karbonat Formasi Tabalar terdiri

12

secara setempat-setempat fasies terumbu mempunyai nilai porositas 12%


pada sumur Tabular-1 dan 22% pada sumur Karang Besar-1, reservoir
karbonat ini mempunyai ketebalan mencapai 1200m dimana fasies
terumbu sebagai reservoir yang baik (Pertamina-BEICIP, 1992).

Gambar 6. a. X-plott Nilai Porositas dan Kedalaman Batupasir Pliosen b. Batupasir


Miosen (Modifikasi PERTAMINA BPPKA, 2005)

3. Perangkap
Pada bagian selatan Cekungan Tarakan beberapa potensi perangkap
terdiri dari perangkap stratigrafi dan struktur. Perangkap stratigrafi terdiri
oleh sembulan batugamping terumbu Formasi Domaring. Jenis terumbu
pinnacle tumbuh di atas tinggian struktur atau pinggir paparan. Fasies
batugamping terumbu lain seperti Taballar dan Seilor berada pada tinggian
batuan dasar (PERTAMINA BPPKA, 2005). Struktur antiklin dibagian
barat dan utara delta sungai Berau kemungkinan adalah jenis wrench.
Kenampakan struktur pada bagian barat terdiri dari regime tektonik
kompresi dan tarikan dibagian timur, efek dari tektonik ini mempengaruhi
distribusi sedimen dan berhubungan dengan terciptanya perangkap
hidrokarbon dibagian utara Cekungan Tarakan. Cekungan Tarakan
merupakan daerah yang kompleks dengan kombinasi regime tektonik
13

kompresi Pliosen dan pusat sedimentasi regresi saat inversi pada umur
Pleistosen. Roll over antiklin terjadi pada Formasi Bunyu dan Tarakan
dengan kemiringan bidang sesar kearah timur cekungan. Perangkap
bongkah sesar pada bagian atas sesar, perangkap serpih diapir dibagian
timur kemungkinan produk perangkap yang terbentuk bersamaan dengan
roll over antiklin. Generasi komplek perangkap struktur terbentuk saat
terjadi inversi dengan kombinasi struktur sesar mendatar. Perangkap
karbonat terdiri dari kombinasi sesar dan fasies batugamping terumbu
dibagian pinggir paparan.
4. Batuan Tudung
Dibagian selatan sub-cekungan batulumpur Oilogosen Miosen
Formasi Birang yang tebal dapat menjadi batuan tudung yang efektif untuk
batugamping Taballar. Untuk sedimen klastik pada bagian utara dari
cekungan, batulumpur laut, delta plain dan prodelta dapat bertindak
sebagai batuan tudung (Gambar 7).

Gambar 7. a. Konsep Play Hidrokarbon di Sub-Cekungan Tidung dan Tarakan b. SubCekungan Berau dan Muara (Modifikasi PERTAMINA BPPKA, 2005)

14

DAFTAR PUSTAKA
Biantoro, E., and Kusuma, I.M., 1996 Tarakan Sub-Basin Growth Faults, NorthEast Kalimantan: Their Roles in Hydrocarbon Entrapment;
Proceedings Indonesian Petroleum Association, Jakarta.
Heryanto, N., Satoto, W., I.M., and Sardjono, S., 1992 An Overview of
hydrocarbon Maturity and its Migration Aspects in Bunyu island,
Tarakan Basin; Proceedings Indonesian Petroleum Association,
Jakarta.
Laporan Internal LAPI ITB., 2015 Geological, Geophysical Reservoir Study
Reserve Certification; Bandung.
PERTAMINA BPPKA., 2005 Tarakan Basin Northeast Kalimantan, Volume V;
Jakarta.
Soebroto, E., Nuridnoi, B,P., Priyono, A., Sukowitono., Noeradi, D., Djuhaeni.,
2005, Petroleum Geochemistry Studi in A Sequence Stratigraphic
Framework in The Simenggaris Block, Tarakan Basin East
Kalimantan, Indonesia, Procceding of Indonesia Petroleum
Association 33th Annual Convention, Jakarta.

15