Anda di halaman 1dari 13

TUGAS EPIDEMIOLOGI

Elisa Emayani

STIKES HANG TUAH PEKANBARU


TAHUN AJARAN 2017

Penyakit Tidak Menular adalah penyakit kronik atau bersifat kronik


menahun alias berlangsung lama, tapi ada juga yang kelangsungannya
mendadak (misalnya saja keracunan), sementara yang berlangsung lama
misalnya penyakit kanker, tubuh yang terpapar unsur kimia dan lain-lain.
Penyakit tidak menular adalah Penyakit non Infeksi karena penyebabnya
bukan

mikroorganisme,

namun

tidak

berarti

tidak

ada

peranan

mikroorganime dalam terjadinya penyakit tidak menular misalnya luka


karena tidak diperhatikan bisa terjadi infeksi. Penyakit tidak menular adalah
Penyakit

degeneratif Karena

berhubungan

dengan

proses

degenerasi

(ketuaan). Dan Penyakit Tidak Menular adalah New comminicable disease


karena dianggap dapat menular melalui gaya hidup, gaya hidup dapat
menyangkut pola makan, kehidupan seksual dan komunikasi global.

Faktor yang Menerangkan Distribusi Penyakit


Dalam epidemiologi ada tiga faktor yang dapat menerangkan penyebaran (distribusi)
penyakit atau masalah kesehatan yaitu orang (person), tempat (place), dan waktu (time).
Informasi ini dapat digunakan untuk menggambarkan adanya perbedaan keterpaparan dan
kerentanan. Perbedaan ini bisa digunakan sebagi petunjuk tentang sumber, agen yang
bertanggung jawab, transisi, dan penyebaran suatu penyakit.

1. Faktor Orang (Person)


Faktor orang atau person adalah karakteristik dari individu yang mempengaruhi keterpaparan
atau kepekaan mereka terhadap penyakit. Orang yang karakteristiaknya mudah terpapar atau
peka terhadap penyakit akan mudah terkena sakit.
Karakteristik orang bisa berupa faktor genetik, umur, jenis kelamin, pekerjaan, kebiasaan dan
status sosial ekonomi. Seorang individu yang mempunyai faktor genetik pembawa penyakit
akan mudah terpapar faktor genetic tersebut dan peka untuk sakit. perbedaan

Berdasarkan umur, terdapat kemungkinan dalam mendapat keterpaparan berdasarkan


perjalanan hidup. Demikian pula dengan karakteristik lain yang akan membedakan dalam
kemungkinan mendapat keterpaparan.

2. Faktor Tempat (place)


Faktor tempat berkaitan dengan karakteristik geografis. Informasi ini dapat batas alamiah
seperti sungai, gunung, atau bisa dengan batas administrasi dan histori.
Perbedaan distribusi menurut tempat ini memberikan petunjuk pola perbedaan penyakit yang
dapat menjadi pegangan dalam mencari faktor-faktor lain yang belum diketahui.

3. Faktor Waktu (Time)


Waktu kejadian penyakit dapat dinyatakan dalam jam, hari, bulan, atau tahun. Informasi ini
bisa dijadikan pedoman tentang kejadian yang timbul dalam masyarakat.
Berikut ini penjelasan lebih rinci tentang hal ini :
1. Orang (Person)
Disini akan dibicarakan peranan umur, jenis kelamin, kelas sosial,
pekerjaan, golongan etnik, status perkawinan, besarnya keluarga, struktur
keluarga dan paritas.
1. Umur
Umur adalah variabel yang selalu diperhatikan didalam penyelidikanpenyelidikan

epidemiologi.

Angka-angka

kesakitan

maupun

kematian

didalam hampir semua keadaan menunjukkan hubungan dengan umur.


Dengan cara ini orang dapat membacanya dengan mudah dan melihat
pola kesakitan atau kematian menurut golongan umur. Persoalan yang
dihadapi adalah apakah umur yang dilaporkan tepat, apakah panjangnya
interval didalam pengelompokan cukup untuk tidak menyembunyikan
peranan

umur

pada

pola

kesakitan

atau

kematian

dan

apakah

pengelompokan umur dapat dibandingkan dengan pengelompokan umur


pada penelitian orang lain.
Didalam mendapatkan laporan umur yang tepat pada masyarakat
pedesaan yang kebanyakan masih buta huruf hendaknya memanfaatkan
sumber

informasi

seperti

catatan

petugas

agama,

guru,

lurah

dan

sebagainya. Hal ini tentunya tidak menjadi soal yang berat dikala
mengumpulkan keterangan umur bagi mereka yang telah bersekolah.
2. Jenis Kelamin
Angka-angka dari luar negeri menunjukkan bahwa angka kesakitan
lebih tinggi dikalangan wanita sedangkan angka kematian lebih tinggi
dikalangan pria, juga pada semua golongan umur. Untuk Indonesia masih
perlu dipelajari lebih lanjut. Perbedaan angka kematian ini, dapat disebabkan
oleh faktor-faktor intinsik.
Yang pertama diduga meliputi faktor keturunan yang terkait dengan jenis
kelamin atau perbedaan hormonal sedangkan yang kedua diduga oleh
karena berperannya faktor-faktor lingkungan (lebih banyak pria mengisap
rokok, minum minuman keras, candu, bekerja berat, berhadapan dengan
pekerjaan-pekerjaan berbahaya, dan seterusnya).
Sebab-sebab adanya angka kesakitan yang lebih tinggi dikalangan
wanita, di Amerika Serikat dihubungkan dengan kemungkinan bahwa wanita
lebih bebas untuk mencari perawatan. Di Indonesia keadaan itu belum
diketahui. Terdapat indikasi bahwa kecuali untuk beberapa penyakit alat
kelamin, angka kematian untuk berbagai penyakit lebih tinggi pada kalangan
pria.
3. Kelas Sosial
Kelas sosial adalah variabel yang sering pula dilihat hubungannya
dengan angka kesakitan atau kematian, variabel ini menggambarkan tingkat
kehidupan seseorang. Kelas sosial ini ditentukan oleh unsur-unsur seperti
pendidikan, pekerjaan, penghasilan dan banyak contoh ditentukan pula oleh
tempat tinggal. Karena hal-hal ini dapat

mempengaruhi berbagai aspek kehidupan termasuk pemeliharaan kesehatan


maka tidaklah mengherankan apabila kita melihat perbedaan-perbedaan
dalam angka kesakitan atau kematian antara berbagai kelas sosial.
Masalah yang dihadapi dilapangan ialah bagaimana mendapatkan
indikator tunggal bagi kelas sosial. Di Inggris, penggolongan kelas sosial ini
didasarkan atas dasar jenis pekerjaan seseorang yakni I (profesional), II
(menengah), III (tenaga terampil), IV (tenaga setengah terampil) dan V (tidak
mempunyai keterampilan).
Di Indonesia dewasa ini penggolongan seperti ini sulit oleh karena jenis
pekerjaan tidak memberi jaminan perbedaan dalam penghasilan. Hubungan
antara kelas sosial dan angka kesakitan atau kematian kita

dapat

mempelajari pula dalam hubungan dengan umur, dan jenis kelamin.


4. Jenis Pekerjaan
Jenis pekerjaan dapat berperan didalam timbulnya penyakit melalui
beberapa jalan yakni
a. Adanya faktor-faktor lingkungan yang langsung dapat menimbulkan
kesakitan
seperti bahan-bahan kimia, gas-gas beracun, radiasi, benda-benda fisik
yang dapat menimbulkan kecelakaan dan sebagainya.
b. Situasi pekerjaan yang penuh dengan stress (yang telah dikenal sebagai
faktor
yang berperan pada timbulnya hipertensi, ulkus lambung).
c. Ada tidaknya gerak badan didalam pekerjaan; di Amerika Serikat
ditunjukkan
bahwa penyakit jantung koroner sering ditemukan di kalangan mereka
yang
mempunyai pekerjaan dimana kurang adanya gerak badan.
d. Karena berkerumun di satu tempat yang relatif sempit maka dapat terjadi
proses
penularan penyakit antara para pekerja.

e. Penyakit karena cacing tambang telah lama diketahui terkait dengan


pekerjaan
di tambang.
Penelitian mengenai hubungan jenis pekerjaan dan pola kesakitan
banyak dikerjakan di Indonesia terutama pola penyakit kronis misalnya
penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan kanker.Jenis pekerjaan apa saja
yang hendak dipelajari hubungannya dengan suatu penyakit dapat pula
memperhitungkan pengaruh variabel umur dan jenis kelamin.
5. Penghasilan
Yang
penghasilan

sering

dilakukan

dengan

ialah

menilai

pemanfaatan

hubungan

pelayanan

antara

kesehatan

tingkat
maupun

pencegahan. Seseorang kurang memanfaatkan pelayanan kesehatan yang


ada mungkin oleh karena tidak mempunyai cukup uang untuk membeli obat,
membayar transport, dan sebagainya.
6. Golongan Etnik
Berbagai golongan etnik dapat berbeda didalam kebiasaan makan,
susunan genetika, gaya hidup dan sebagainya yang dapat mengakibatkan
perbedaan-perbedaan didalam angka kesakitan atau kematian.
Didalam mempertimbangkan angka kesakitan atau kematian suatu
penyakit antar golongan etnik hendaknya diingat kedua golongan itu harus
distandarisasi menurut susunan umur dan kelamin ataupun faktor-faktor lain
yang dianggap mempengaruhi angka kesakitan dan kematian itu.
Penelitian

pada

golongan

etnik

dapat

memberikan

keterangan

mengenai pengaruh lingkungan terhadap timbulnya suatu penyakit. Contoh


yang klasik dalam hal ini ialah penelitian mengenai angka kesakitan kanker
lambung.
Didalam penelitian mengenai penyakit ini di kalangan penduduk asli di
Jepang dan keturunan Jepang di Amerika Serikat, ternyata bahwa penyakit ini
menjadi kurang prevalen di kalangan turunan Jepang di Amerika Serikat. Ini
menunjukkan bahwa peranan lingkungan penting didalam etiologi kanker
lambung.

7. Status Perkawinan
Dari penelitian telah ditunjukkan bahwa terdapat hubungan antara
angka kesakitan maupun kematian dengan status kawin, tidak kawin, cerai
dan janda; angka kematian karena penyakit-penyakit tertentu maupun
kematian karena semua sebab makin meninggi dalam urutan tertentu.
Diduga bahwa sebab-sebab angka kematian lebih tinggi pada yang
tidak

kawin

dibandingkan

dengan

yang

kawin

ialah

karena

ada

kecenderungan orang-orang yang tidak kawin kurang sehat. Kecenderungan


bagi orang-orang yang tidak kawin lebih sering berhadapan dengan
penyakit, atau karena adanya perbedaan-perbedaan dalam gaya hidup yang
berhubungan secara kausal dengan penyebab penyakit-penyakit tertentu.
8. Besarnya Keluarga
Didalam keluarga besar dan miskin, anak-anak dapat menderita oleh
karena penghasilan keluarga harus digunakan oleh banyak orang.
B. Tempat (Place)
Pengetahuan

mengenai

distribusi

geografis

dari

suatu

penyakit

berguna untuk perencanaan pelayanan kesehatan dan dapat memberikan


penjelasan mengenai etiologi penyakit.
Perbandingan pola penyakit sering dilakukan antara :
1. Batas daerah-daerah pemerintahan
2. Kota dan pedesaan
3. Daerah atau tempat berdasarkan batas-batas alam (pegunungan, sungai,
laut
atau padang pasir)
4. Negara-negara
5. Regional
Untuk kepentingan mendapatkan pengertian tentang etiologi penyakit,
perbandingan menurut batas-batas alam lebih berguna daripada batas-batas
administrasi pemerintahan.

Hal-hal yang memberikan kekhususan pola penyakit di suatu daerah


dengan batas-batas alam ialah : keadaan lingkungan yang khusus seperti
temperatur, kelembaban, turun hujan, ketinggian diatas permukaan laut,
keadaan tanah, sumber air, derajat isolasi terhadap pengaruh luar yang
tergambar dalam tingkat kemajuan ekonomi, pendidikan, industri, pelayanan
kesehatan, bertahannya tradisi-tradisi yang merupakan hambatan-hambatan
pembangunan, faktor-faktor sosial budaya yang tidak menguntungkan
kesehatan atau pengembangan kesehatan, sifat-sifat lingkungan biologis
(ada tidaknya vektor penyakit menular tertentu, reservoir penyakit menular
tertentu, dan susunan genetika), dan sebagainya.
Pentingnya peranan tempat didalam mempelajari etiologi suatu
penyakit menular dapat digambar dengan jelas pada penyelidikan suatu
wabah, yang akan diuraikan nanti.
Didalam membicarakan perbedaan pola penyakit antara kota dan
pedesaan, faktor-faktor yang baru saja disebutkan diatas perlu pula
diperhatikan. Hal lain yang perlu diperhatikan selanjutnya ialah akibat
migrasi ke kota atau ke desa terhadap pola penyakit, di kota maupun di desa
itu sendiri.
Migrasi antar desa tentunya dapat pula membawa akibat terhadap
pola dan penyebaran penyakit menular di desa-desa yang bersangkutan
maupun desa-desa di sekitarnya.
Peranan migrasi atau mobilitas geografis didalam mengubah pola
penyakit di berbagai daerah menjadi lebih penting dengan makin lancarnya
perhubungan darat, udara dan laut; lihatlah umpamanya penyakit demam
berdarah.
Pentingnya pengetahuan mengenai tempat dalam mempelajari etiologi
suatu penyakit dapat digambarkan dengan jelas pada penyelidikan suatu
wabah

dan

pada

menyelidikan-penyelidikan

mengenai

kaum

migran.

Didalam memperbandingkan angka kesakitan atau angka kematian antar


daerah (tempat) perlu diperhatikan terlebih dahulu di tiap-tiap daerah
(tempat) :

1. Susunan umur
2. Susunan kelamin
3. Kualitas data
4. Derajat representatif dari data terhadap seluruh penduduk.
Walaupun telah dilakukan standarisasi berdasarkan umur dan jenis
kelamin, memperbandingkan pola penyakit antar daerah di Indonesia
dengan menggunakan data yang berasal dari fasilitas-fasilitas kesehatan,
harus dilaksanakan dengan hati-hati, sebab data tersebut belum tentu
representatif dan baik kualitasnya.
Variasi geografis pada terjadinya beberapa penyakit atau keadaan lain
mungkin berhubungan dengan 1 atau lebih dari beberapa faktor sebagai
berikut :
1. Lingkungan fisis, kemis, biologis, sosial dan ekonomi yang berbeda-beda
dari
suatu tempat ke tempat lainnya.
2. Konstitusi genetis atau etnis dari penduduk yang berbeda, bervariasi
seperti
karakteristik demografi.
3. Variasi kultural terjadi dalam kebiasaan, pekerjaan, keluarga, praktek
higiene
perorangan dan bahkan persepsi tentang sakit atau sehat.
4. Variasi administrasi termasuk faktor-faktor seperti tersedianya dan
efisiensi
pelayanan medis, program higiene (sanitasi) dan lain-lain.
Banyaknya

penyakit

hanya

berpengaruh

pada

daerah

tertentu.

Misalnya penyakit demam kuning, kebanyakan terdapat di Amerika Latin.


Distribusinya disebabkan oleh adanya reservoir infeksi (manusia atau
kera), vektor (yaitu Aedes aegypty), penduduk yang rentan dan keadaan
iklim yang memungkinkan suburnya agen penyebab penyakit. Daerah
dimana vektor dan persyaratan iklim ditemukan tetapi tidak ada sumber
infeksi disebut receptive area untuk demam kuning.

Contoh-contoh penyakit lainnya yang terbatas pada daerah tertentu


atau

yang

frekuensinya

tinggi

pada

daerah

tertentu,

misalnya

Schistosomiasis di daerah dimana terdapat vektor snail atau keong (Lembah


Nil, Jepang), gondok endemi (endemic goiter) di daerah yang kekurangan
yodium.
C. Waktu (Time)
Mempelajari

hubungan

antara

waktu

dan

penyakit

merupakan

kebutuhan dasar didalam analisis epidemiologis, oleh karena perubahanperubahan penyakit menurut waktu menunjukkan adanya perubahan faktorfaktor etiologis. Melihat panjangnya waktu dimana terjadi perubahan angka
kesakitan, maka dibedakan :
1. Fluktuasi jangka pendek dimana perubahan angka kesakitan berlangsung
beberapa jam, hari, minggu dan bulan.
2. Perubahan-perubahan secara siklus dimana perubahan-perubahan angka
kesakitan terjadi secara berulang-ulang dengan antara beberapa hari,
beberapa
bulan (musiman), tahunan, beberapa tahun.
3. Perubahan-perubahan angka kesakitan yang berlangsung dalam periode
waktu
yang panjang, bertahun-tahun atau berpuluh tahun yang disebut secular
trends.
FREKUENSI, DISTRIBUSI, DETERMINAT
A. FREKUENSI
Frekwensi yang dimaksudkan disini menunjuk pada besarnya
masalah kesehatan yang terdapat pada sekelompok manusia/masyarakat.
Untuk dapat mengetahui frekwensi suatu masalah kesehatan dengan
tepat, ada 2 hal yang harus dilakukan yaitu :
Menemukan masalah kesehatan yang dimaksud.
Melakukan pengukuran atas masalah kesehatan yang ditemukan
tersebut.

B. DISTRIBUSI
Yang dimaksud dengan Penyebaran / Distribusi masalah kesehatan
disini adalah menunjuk kepada pengelompokan masalah kesehatan
menurut suatu keadaan tertentu. Keadaan tertentu yang dimaksudkan
dalam epidemiologi adalah menurut Ciri ciri manusia ( PERSON), tempat
( PLACE ), dan waktu ( TIME )
PINTU KELUAR
Pintu keluar adalah jalan yang dilalui oleh hama penyakit sewaktu
keluar/dikeluarkan dari tubuh host. Penyakit tidak menular memiliki pintu
keluar yang tidak jelas.
PINTU MASUK
Yang dimaksud dengan pintu masuk adalah bagian-bagian badan yang
dilalui oleh hama penyakit sewaktu masuk ke dalam tubuh calon penderita.
Pintu masuk itu disebut juga pintu infeksi. Penyakit tidak menular memiliki
pintu masuk yang tidak jelas.
Karakteristik penyakit tidak menular :
a. Tidak ditularkan
b. Etiologi sering tidak jelas
c. Agent penyebab : non living agent
d. Durasi penyakit panjang (kronis)
e. Fase subklinis dan klinis panjang untuk penyakit kronis.
5. Rute dari keterpaparan Melalui sistem pernafasan, sistem digestiva,
sistem integumen/kulit dan sistem vaskuler.
KESIMPULAN
Kesimpulan yang perlu diketahui dari epidemiologi penyakit tidak
menular dan factor resiko adalah dimulai dari pemahaman tentang
Epidemiologi yaitu ilmu atau dalam ilmu terapan adalah study atau kajian

tentang

kejadian

penyakit

atau

masalah

kesehatan

pada

kelompok

masyarakat. Penyakit yang dikaji bisa penyakit menular, bisa juga penyakit
tidak menular. Intinya kajian adalah ditemukan penyebab. Pada penyakit
menular diistilakan dengan etiologi dan pada penyakit tidak menular di
istilahkan dengan faktor resiko yaitu karakteristik, tanda atau kumpulan
gejala pada penyakit yang diderita induvidu yang mana secara statistic
berhubungan dengan peningkatan kejadian kasus baru berikutnya (beberapa
induvidu lain pada suatu kelompok masyarakat). Dari factor resiko inilah
dapat ditentukan tindakan pencegahan dan penanggulangan.

Telah terjadi peningkatan penyakit tidak menular yang memerlukan


perhatian serius oleh semua pihak baik pemangku kebijakan maupun
masyarakat. Peningkatan PTM dapat ditekan melalui pengendalian factor
risiko yaitu pengurangan konsumsi rokok, alcohol, gula dan garam,
peningkatan konsumsi buah dan sayur, meningkatkan aktifitas fisik melalui
olah raga, mencegah kegemukan, pengendalian stress dengan kegiatan
rekreasisertamelakukan pemeriksaan tekanan darah, kadar gula darah
secara teratur. Upaya pencegahan PTM dapat dilakukan oleh masyarakat
secara mandiri melalui kegiatan Posbindu.

DAFTAR PUSTAKA
1. Budiarto, eko.2003. Pengantar epidemiologi.jakarta: penerbit buku
kedokteran egc
2. Bustan mn ( 2002 ). Pengantar epidemiologi, jakarta, rineka cipta
3. Nasry, nur dasar-dasar epidemiologi
4. Arsip mata kuliah fkm unhas 2006
5. Dewi sandra dan Sri Rahma Yuli. Makalah Konsep Epidemiologi dan Penerapannya pada
Kesehatan Haji.