Anda di halaman 1dari 14

1

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tingkat kesuburan tanah dipengaruhi beberapa factor antara lain
keanekaragaman mikroba tanah; faktor iklimseperti suhu, curah hujan,
kelembaban; faktor nutrisi dan lingkungan, serta populasi mikroba yang
merupakan indikator tingkat kesuburan tanah (Allen, 1981).
Banyak jenis mikroba tanah mampu meningkatkan kesuburan tanah,
misalnya Rhizobium. Bakteri ini mampu menambat nitrogen udara menjadi unsur
hara nitrogen yang diperlukan tumbuhan untuk tumbuh dan berkembang. Di
samping itu bakteri tersebut mempunyai dampak positif, baik secara langsung
maupun tidak langsung terhadap sifat fisik dan kimia tanah, sehingga mampu
meningkatkan kesuburan tanah, namun kehidupan dan populasi bakteri ini sangat
dipengaruhi beberapa factor seperti pH, kelembaban, iklim, kondisi fisik, dan
kimia tanah (Sprent, 1976).
Dalam simbiosisnya dengan tanaman legum, Rhizobium diperkirakan
mampu menambat nitrogen sebanyak hampir 2 juta ton per tahun di Amerika
Serikat. Di Selandia Baru kemampuan penambatannya dapat mencapai 800 kg per
hektar dalam setahun. Penambatan secara biologis diperkirakan mampu
menyumbang lebih dari 170 juta ton nitrogen ke biosfer per tahun, 80% di
antaranya merupakan hasil simbiosis antara bakteri Rhizobium dengan tanaman
legum. Suatu jumlah yang pantas dipertimbangkan dalam upaya pengembangan
kesuburan tanah (Prayitno dkk., 2000)
Tanaman leguminosa mempunyai daya adaptasi pada tanah yang miskin
unsur hara dengan didukung oleh kemampuannya bersimbiosis secara mutualistik

dengan bakteri rhizobium sp yang tumbuh di daerah perakarannya . Rhizobium


merupakan bakteriberbentuk batang dan bulat, tidak menghasilkan spora, waktu
generasi 2-4 jam (fast growing) dan 4-6 jam (slow growing), bersifat gram
negatif, tumbuh cepat pada medium YMA (yeast mannitol agar), diameter koloni
1-5 mm, setelah hari ketiga - kelima pada suhu 25 280C dapat menggunakan
gula dan alkohol serta beberapa asam sebagai sumber energi (Vincent, 1970).
Terdapat tiga golongan legum berdasarkan selektifitasnya terhadap
kebutuhan rhizobium. Golongan-golongan legume tersebut adalah 1) tidak selektif
yaitu Calopo, Vigna, Siratro, Puero, Stylo; 2) selektif moderat yaitu Centro,
Desmodium, Glycine; dan 3) sangat selektif yaitu Lotononis, Leucaena, Medicago
(Soekartadiredja, 1992).
Rhizobium merupakan mikrob penambat N2 yang hidup bersimbiosis pada
tanaman inang dari famili Leguminoceae dengan membentuk bintil pada akarnya.
Bintil akar ini merupakan organ simbiosis yang aktif dalam melakukan fiksasi N2
dari udara. Untuk menunjang simbiosis yang efektif antara Rhizobium dan
tanaman kedelai, maka dapat dilakukan dengan menginokulasikan Rhizobium
pada pembibitan kedelai (Waksman, 1952).
Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk meng-isolasi dan mem-furifikasi
bakteri Rhizobium.
Kegunaan Praktikum
Adapun kegunaan dari penulisan laporan ini adalah sebagai salah satu
syarat untuk dapat mengikuti praktikum di laboratorium Ekologi dan Biologi
Tanah Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera
Utara.

TINJAUAN PUSTAKA
Isolasi adalah suatu usaha bagaimana caranya memisahkan senyawa yang
bercampur sehingga kita dapat menghasilkan senyawa tunggal yang murni.
Tumbuhan mengandung ribuan senyawa sebagai metabolit primer dan metabolit
sekunder. Biasanya proses isolasi senyawa dari bahan alami mengisolasi senyawa
metabolit sekunder,karena dapat memberikan manfaat bagi kehidupan manusia
(Pelczar and Chan, 1988).
Purifikasi adalah proses pemisahan mikroorganisme yang diinginkan dari
populasi campuran ke media biakan (buatan) untuk mendapatkan kultur murni.
Inokulasi merupakan perpindahan inokulum dari sumbernya ke dalam tanaman
inang. Dengan dilakukan inokulasi dan purifikasi, berarti patogen memiliki
peluang yang besar untuk menyerang inangnya dan menimbulkan penyakit
(Prescott, et al., 2008).
Kultur murni atau biakan murni sangat berguna didalam mikrobiologi,
yaitu untuk menelaah dan mengidentifikasi mikroorganisme, termasuk penelaahan
ciri-ciri cultural, morfologis, fisiologis, maupun serologis, memerlukan suatu
popolasi yang terdiri dari satu macam mikroorganisme saja. Untuk beberapa
bakteri yang yang ada dan tersebar dimana sangat membantu dalam hal biokimia
dan biofisika lingkungan (Hadioetomo,1993).
Rhizobium merupakan jenis mikrob penambat N yang mampu
bersimbiosis dengan tanaman legum. Berdasarkan taksonominya, Rhizobium
masuk ke dalam divisi Protophyta, kelas Schizomycetes, ordo Eubacteriales,
famili Rhizobiceae dan genus Rhizobium. Klasifikasi Rhizobium berdasarkan
pengelompokkan inokulasi silang. Prinsip pengelompokkan inokulasi silang

didasarkan pada kemampuan suatu isolat Rhizobium untuk membentuk bintil


pada genus-genus yang terbatas dari spesies legum yang satu sama lain berkerabat
dekat. Rhizobium hidup bebas dalam tanah dan dalam daerah perakaran tumbuhtumbuhan legum maupun bukan legum. Walaupun demikian, bakteri Rhizobium
dapat bersimbiosis hanya dengan tumbuh-tumbuhan legum, hanya dengan
menginfeksi akarnya dan membentuk bintil akar di dalamnya (Subba Rao, 1994).
Bintil akar tanaman legum memiliki bentuk dan ukuran yang berbedabeda. Bintil dapat berbentuk bola, silindris, datar dan sering bundar atau dengan
cabang seperti karang atau dapat juga memiliki bentuk tidak beraturan. Sebagian
lagi disebabkan karakteristik dari interaksi antara strain bakteri terutama dengan
varietas tanaman. Tidak semua legum dapat membentuk bintil pada akarnya. 1012% tanaman legum telah diuji berkaitan pada pembentukan bintil (nodulasi),
diketahui bahwa 10% Mimosoideae, 65% Caesalpinoideae dan 6% Papilionoideae
tidak memiliki bintil pada akarnya (Subba Rao, 1982).
Kedelai merupakan salah satu tanaman kacang-kacangan yang bersimbisis
dengan bakteri rhizobium yang membentuk koloni sebagai bintil akar dan
berfungsi dalam penyediaan hara nitrogen. Bakteri ini terdapat pada tanah-tanah
yang pernah ditanami kedelai dan sebaliknya pada tanah yang belum pernah
ditanami kedelai atau kacang-kacangan lainnya. Untuk itu, pada tanah-tanah yang
belum pernah ditanami kedelai perlu dilakukan penularan (inokulasi) bakteri
kedalam tanah dengan cara mencampurkan benih kedelai kedalam inokulasi
buatan (nitragin atau legin) sebanyak 5- 10 g inokulum/kg benih. Jika inokulum
buatan tidak tersedia, benih kedelai dapat dicampur dengan bekas tanah yang
ditanami kedelai sebanyak 100-250 g/kg benih (Roja, 2005).

Simbiosis pada tanaman kedelai dengan inokulum yang tersedia sekarang


umumnya tidak mengandung strain Rhizobium sp yang mampu membentuk enzim
hydrogenase, sehingga tidak memiliki kemampuan untuk mendaur ulang
hidrogen. Perbaikan kemampuan mendaur ulang hidrogen pada tanaman akan
dapat memperbaiki aktivitas biofertilisasi nitrogen. Hal ini dapat ditempuh
melalui seleksi simbion yang dapat menggunakan energi yang disediakan
fotosintesis secara efisien. Pendekatan ini dimulai oleh schubert dan evans (1976)
dengan hasil yang positif. Pendekatan lain yang mungkin dapat dilakukan dengan
bioteknologi melalui introduksi segmen gen yang mengontrol sintesis enzim dari
suatu jenis simbion ke yang lain (Bahri, 2003).
Simbiosis antara legum dengan Rhizobium mempunyai spesifikasi tertentu
artinya bakteri yang diisolasi dari suatu tanaman belum tentu dapat membentuk
nodula pada tanaman legum lainnya. Isolasi akan mendapatkan beberapa strain
Rhizobium dengan berbagai keefektifan. Dari suatu tanaman legum mungkin
terisolasi bakteri yang tidak menodulasi tetapi menyerupai bakteri Rhizobium
(Madigan, et al,. 2000).
Faktor-faktor yang mempengaruhi purifikasi antara lain : (1) temperatur
dan cahaya, Rentang temperatur yang paling menguntungkan untuk pembentukan
jaringan bakteroid di dalam bintil adalah 20-300C (2) zat pengatur tumbuh, Zat
pengatur tumbuh berupa asam indol asetat (IAA) dan giberelin telah dapat
dideteksi dalam bintil akar

(3) Kemasaman tanah, Pada pH yang rendah,

beberapa jenis kacang-kacangan tidak dapat berkembang walaupun Rhizobium


cukup toleran, sehingga proses pembentukan bintil terhambat (Hassanudin, 2002)

BAHAN DAN METODE


Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum ini dilaksankan pada hari Rabu, 28 September 2016 pukul
13.00 WIB sampai dengan selesai di Laboratorium Ekologi dan Biologi Tanah
Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara,
Medan dengan ketinggian tempat 25 m di atas permukaan laut.
Bahan Dan Alat
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah media biakan
sebagai tempat pembiakan bakteri Rhizobium, bintil akar kedelai yang
mengandung bakteri Rhizobium yang berfungsi sebagai objek yang akan
dibiakkan, kertas label sebagai penanda pada petridish, air yang
berfungsi untuk membersihkan bintil akar dan cling warp sebagai
bahan untuk membungkus petridish, media biakan bakteri Rhizobium
yang berhasil sebagai bahan yang akan di purifikasi.

Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah botol semprot
alkohol yang berfungsi untuk sterilisasi, petridish yang berfungsi sebagai wadah
pembiakan Rhizobium, pembakar bunsen yang berfungsi untuk mencegah
terjadinya kontaminasi, batang pengaduk yang berfungsi untuk mengambil bakteri
Rhizobium, gunting dan cutter yang berfungsi untuk memisahkan bintil akar dari
tanaman kedelai, jarum inokulum yang berfungsi untuk mengambil biakan murni
untuk dikembangbiakan ke media yang lain.
Prosedur Percobaan
Adapun prosedur percobaan isolasi media yakni
-

Disiapkan alat dan bahan yang diperlukan


Dipisahkan bintil akar dari tanaman kedelai lalu dibersihkan
Diletakkan bintil akar ke dalam petridish

Dipecah bintil akar hingga mengeluarkan cairan merah


Dipanaskan pembakar bunsen
Dipanaskan batang pengaduk lalu diambil cairan merah bintil akar
Digoreskan cairan pada petridish yang berisi media tumbuh. Proses ini

dilakukan di atas pembakar bunsen


Ditutup kembali petridish lalu dibungkus dengan cling warp
Diberi label pada masing-masing petridish
Adapun prosedur percobaan dari purifikasi bakteri Rhizobium yakni

Disiapkan alat dan bahan yang ada

Dipanaskan media YEM hingga mencair menggunakan kompor

Dituang media kedalam petridish baru yang kosong di dalam laminar air flow

Didiamkan media hingga memadat sekitar 15 menit

Diambil media biakan rhizobium yang berhasil di isolasi dengan jarum


innokulum

Digoreskan cairan media biakan rhizobium ke dalam petridish yang berisi


media YEM. Proses ini dilakukan diatas pembakaran bunsen

Ditutup kembali petridish laludibungkus dengan cling warp

Diberi label pada masing-masing petridish.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil

Pembahasan

10

Dari hasil percobaan diketahui bahwa presentase keberhasilan purifikasi


adalah 100 % hal ini karena proses purifaksi dilakukan dengan benar dan
memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi purifikasi. Hal ini sesuai
dengan literatur Hassanudin (2002) yang menyatakan bahwa Faktor-faktor yang
mempengaruhi purifikasi antara lain : (1) temperatur dan cahaya, Rentang
temperatur yang paling menguntungkan untuk pembentukan jaringan bakteroid di
dalam bintil adalah 20-300C (2) zat pengatur tumbuh, Zat pengatur tumbuh berupa
asam indol asetat (IAA) dan giberelin telah dapat dideteksi dalam bintil akar (3)
Kemasaman tanah, Pada pH yang rendah, beberapa jenis kacang-kacangan tidak
dapat berkembang walaupun Rhizobium cukup toleran, sehingga proses
pembentukan bintil terhambat.
Isolasi merupakan cara memisahkan mikroorganisme yang bercampur
sehingga dapat menghasilkan mikroorganisme yang murni. Hal ini sesuai dengan
literature Pelczar and Chan (1988) yang menyatakan bahwa Isolasi adalah suatu
usaha bagaimana caranya memisahkan senyawa yang bercampur sehingga kita
dapat menghasilkan senyawa tunggal yang murni. Tumbuhan mengandung ribuan
senyawa sebagai metabolit primer dan metabolit sekunder.
Purifikasi berfungsi untuk memisahkan mikroorganisme yang diinginkan
dan mikroorganisme yang ambil hanya satu jenis. Hal ini sesuai literatur
Hadioetomo (1993) yang menyatakan bahwa kultur murni atau biakan murni
sangat berguna didalam mikrobiologi, yaitu untuk menelaah dan mengidentifikasi
mikroorganisme, termasuk penelaahan ciri-ciri cultural, morfologis, fisiologis,
maupun serologis, memerlukan suatu popolasi yang terdiri dari satu macam
mikroorganisme saja.

11

Ada berbagai macam bentuk bintil akar pada tanaman legume diantaranya
bola, slinder, dan ada juga yang tidak beraturan. Hal ini sesuai dengan litertur
Subba Rao (1982) yang menyatakan bahwa bintil akar tanaman legum memiliki
bentuk dan ukuran yang berbeda-beda. Bintil dapat berbentuk bola, silindris, datar
dan sering bundar atau dengan cabang seperti karang atau dapat juga memiliki
bentuk tidak beraturan. Sebagian lagi disebabkan karakteristik dari interaksi
antara strain bakteri terutama dengan varietas tanaman.
Inokulasi bakteri rhizobium dapat dilakukan dengan cara mencapurkan
benih inokulan rhizobium ke benih yang belum terinokulasi rhizobium. Hal sesuai
dengan literatur Roja (2005) yang menyatakan bahwa pada tanah yang belum
pernah ditanami kedelai atau kacang-kacangan lainnya. Untuk itu, pada tanahtanah yang belum pernah ditanami kedelai perlu dilakukan penularan (inokulasi)
bakteri kedalam tanah dengan cara mencampurkan benih kedelai kedalam
inokulasi buatan (nitragin atau legin) sebanyak 5- 10 g inokulum/kg benih. Jika
inokulum buatan tidak tersedia, benih kedelai dapat dicampur dengan bekas tanah
yang ditanami kedelai sebanyak 100-250 g/kg benih

KESIMPULAN

12

1. Dari hasil percobaan diketahui bahwa presentase keberhasilan purifikasi


adalah 100 % hal ini karena proses purifaksi dilakukan dengan benar dan
memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi purifikasi.
2. Isolasi merupakan cara memisahkan mikroorganisme yang bercampur
sehingga dapat menghasilkan mikroorganisme yang murni.
3. Purifikasi berfungsi untuk memisahkan mikroorganisme yang diinginkan dan
mikroorganisme yang ambil hanya satu jenis.
4. Ada berbagai macam bentuk bintil akar pada tanaman legume diantaranya
bola, slinder, dan ada juga yang tidak beraturan.
5. Inokulasi bakteri rhizobium dapat dilakukan dengan cara mencapurkan benih
inokulan rhizobium ke benih yang belum terinokulasi rhizobium.

DAFTAR PUSTAKA
Allen, O.N. and E.K. Allen. 1981. The Leguminosa. A source book of
characteristics. Uses and Nodulation. Winconsin: The University of
Winconsin Press.

13

Bahri, A. T. 2003. Bagian Ilmu Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara,


E-Usu Repository digitized by USU digital library
Hadioetomo, R.S. 1993. Mikrobiologi Dasar dalam Praktek : Teknik dan Prosedur
Dasar Laboratorium. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Hassanudin. 2002. Peningkatan Kesuburan Tanah dan Hasil Kedelai Akibat
Inokulasi Mikrobia Pelarut Fosfat dan Azotobacter pada Ultisol. JurnalJurnal Pertanian Indonesia Vol. 4. No. 2 : 97-103.
Madigan, M. T. , J. M. Martinko and J. Parker. 2000. Biology of Microorganism.
9 ed.Prentice Hall. New Jersey.
th

Pelczar, M.J.Jr, and E. Chan.1988. Dasar-dasar Mikrobiologi. Penerbit UI Press.


Jakarta. p:23-24.
Prayitno. J., J.J. Weinman, M.A. Djordjevic, dan B.G. Rofle. 2000. Pemanfaatan
protein pendar hijau (green fluorescent protein) untuk mempelajari
kolonisasi bakteri Rhizobium. Prosiding Seminar NasionalBiologi XVI:
372-377.
Prescott, L. M, J. P. Harley, dan D. A. Klein. 2008. Microbiology. 7th Ed.
McGraw-Hill Book Company Inc. USA, p: 113-116
Soekartadiredja, E.M. 1992. Perubahan Inefektivitas dan Efektivitas Penambatan
Nitrogen pada Galur Rhizobium setelah Perlakuan Pasasi in Vivo.[Tesis].
Bandung: Universitas Pajajaran.
Sprent, J.L. 1976. Symbiotic Nitrogen Fixation in Plants. In: Nutman, P.S. (ed).
London: Cambridge University Press.
Subba Rao, N. S. 1982. Soil Microorganisms and Plant Growth. Oxford and IBH
Publishing Co. New Delhi.
. 1994. Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman.
Jakarta Univertas Indonesia-Press.
Roja, A. 2009. Ubikayu : Varietas dan Teknologi Budidaya. Penelitian Madya
pada Balai Pengkajian teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Barat; 15 hlm.
Vincent, J.M. 1970. A manual for the Practical Study of the Root Nodule Bacteria.
London: International Biological Programme Handbook. No 15.
Waksman, S.A. 1952. Soil Microbilogy. New York.: John Willey and Sons Inc

14